Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN TUTORIAL KASUS 2

ASKEP PASIEN POST OP SECTIO CAESAREA

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
Vivi Nopriyanti

(G1B1133004)

Putrinugraha W. A. (G1B113022)

Ressy Muspianti

(G1B113005)

Ria Putri Utami

(G1B113042)

Shelmia Mitriani

(G1B113014)

Septia Erita

(G1B113043)

Cucup Pradila

(G1B113017)

Dwi ayu Permata L. (G1B112101)

Sintia Nofriska

(G1B113021)

Debri Krisnanda

(G1B112027)

DOSEN PENGAMPU :
Ns. Sri Mulyani, M.Kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN AJARAN 2015-2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT dimana atas
rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan laporan tutorial yang berjudul
Sectio Caesarea (Post Sectio Caesarea).
Adapun tujuan membuat laporan ini adalah untuk melengkapi tugas tutorial
blok Sistem Reproduksi. Laporan ini disusun dari hasil pengumpulan data serta
informasi yang kami peroleh dari buku panduan serta infomasi dari media massa
yang berhubungan dengan tema laporan ini.
Sesuai pepatah Tak ada gading yang tak retak, laporan ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca
agar laporan kami kedepan menjadi lebih baik. Akhirnya, kami berharap semoga
laporan ini dapat memberi manfaat bagi kita semua.

Jambi,

Maret 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Penulisan2
1.3 Rumusan Masalah
1.4 Manfaat
BAB II TINJAUAN TEORITIS
2.1 Anatomi fisiologi sistem reproduksi
2.2 Definisi
2.3 Etiologi
2.4 Klasifisikasi
2.5 Patofisiologi dan WOC

2.6 Manifestasi Klinis


2.7 Pemeriksaan Penunjang
2.8 Komplikasi
2.9 Penatalaksanaan
BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 Skenario Kasus
3.2 Pengkajian
3.4 Analisa Data
3.5 Diagnosa keperawatan
3.6 Nursing Care Planning25
BAB IV KESIMPULAN29
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA0
LAMPIRAN
Data Tutorial

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sectio caesarea berarti bahwa bayi dikeluarkan dari uterus yang utuh melalui
operasi abdomen. Di negara-negara maju, angka sectio caesarea meningkat dari 5 %
pada 25 tahun yang lalu menjadi 15 %. Peningkatan ini sebagian disebabkan oleh
mode, sebagian karena ketakutan timbul perkara jika tidak dilahirkan bayi yang
sempurna, sebagian lagi karena pola kehamilan, wanita menunda kehamilan anak
pertama dan membatasi jumlah anak (Jones, 2002).
Menurut statistik tentang 3.509 kasus sectio caesarea yang disusun oleh Peel dan
Chamberlain, indikasi untuk sectio caesaria adalah disproporsi janin panggul 21%,
gawat janin 14%, plasenta previa 11% pernah sectio caesaria 11%, kelainan letak
janin 10%, pre eklamsi dan hipertensi 7% dengan angka kematian ibu sebelum
dikoreksi 17% dan sesudah dikoreksi 0,5% sedangkan kematian janin 14,5%
(Winkjosastro, 2005).
Post partum dengan sectio caesaria dapat menyebabkan perubahan atau adaptasi
fisiologis yang terdiri dari perubahan involusio, lochea, bentuk tubuh, perubahan pada
periode post partum terdiri dari immiediate post partum, early post partum, dan late
post partum, proses menjadi orang tua dan adaptasi psikologis yang meliputi fase
taking in, taking hold dan letting go. Selain itu juga terdapat luka post op sectio
caesarea yang menimbulkan gangguan ketidaknyamanan : nyeri dan resiko infeksi
yang dikarenakan terputusnya jaringan yang mengakibatkan jaringan terbuka
sehingga memudahkan kuman untuk masuk yang berakibat menjadi infeksi. Dengan
demikian klien dan keluarga dapat menerima info untuk menghadapi masalah yang
ada, perawat juga diharapkan dapat menjelaskan prosedur sebelum operasi sectio
caesarea dilakukan dan perlu diinformasikan pada ibu yang akan dirasakan
selanjutnya setelah operasi sectio caesarea.

Dalam mencermati masalah-masalah tersebut maka penulis tertarik untuk


menyusun makalah dengan judul Asuhan Keperawatan Post Sectio Caesarea.

1.2.1

1.2 Tujuan penulisan


Tujuan umum.
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk mempelajari asuhan keperawatan
pada Sectio Caesarea (Post Sectio Caesarea).

1.2.2

Tujuan khusus
Setelah mempelajari teori dan konsep Asuhan keperawatan Sectio Caesarea
(Post Sectio Caesarea), mahasiswa mampu mengetahui:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Definisi Sectio Caesarea


Etiologi Sectio Caesarea
Klasifikasi Sectio Caesarea
Patofisiologi dan WOC Sectio Caesarea
Manifestasi Klinis Post op Sectio Caesarea
Pemeriksaan Penunjang Sectio Caesarea
Komplikasi Sectio Caesarea
Penatalaksanaan Sectio Caesarea
Asuhan keperawatan dari Luka Bakar

1.3 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Post
Sectio Caesarea ini adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Apa pengertian dari Sectio Caesarea?


Apa penyebab dari Sectio Caesarea?
Apa saja klasifikasi dari Sectio Caesarea?
Bagaimana patofisiologi dan WOC dari Sectio Caesarea?
Apa saja Manifestasi Klinis Post op Sectio Caesarea?
Apa saja pemeriksaan penunjang Sectio Caesarea?
Apa saja komplikasi dari Sectio Caesarea?
Bagaimana penatalaksanaan dari Sectio Caesarea?
Bagaimana asuhan keperawatan dari pada pasien dengan Sectio Caesarea (Post
Sectio Caesarea)?

1.4 Manfaat

Adapun manfaat dari makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Post Sectio
Caesarea ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Mahasiswa
Sebagai bahan materi pembelajaran mahasiswa khususnya dalam format Asuhan
Keperawatan Sectio Caesarea
2. Bagi Institusi Pendidikan
Pembuatan kasus pembelajaran mahasiswa dapat memanfaatkan inovasi dan daya
pikir kritis mahasiswa dalam memecahkan masalah keperawatan Asuhan
Keperawatan Sectio Caesarea

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Anatomi dan Fisiologi
1. Alat Genetalia Eksterna

Alat Genetalia Eksterna


Sumber : Elaine N. Marrieb, 2001
a. Mons Pubis
Adalah bantalan berisi lemak yang terletak di permukaan anterior simfisis
pubis. Mons pubis berfungsi sebagai bantalan pada waktu melakukan
hubungan seks.
b. Labia Mayora (bibir besar)
Labia mayora ialah dua lipatan kulit panjang melengkung yang menutupi
lemak dan jaringan ikat yang menyatu dengan mons pubis. Keduanya
memanjang dari mons pubis ke arah bawah mengelilingi labia monora,
berakhir di perineum pada garis tengah. Labia mayora melindungi labia
minora, meatus urinarius, dan introitus vagina (muara vagina).
c. Labia Minora (bibir kecil)
Labia minora, terletak di antara dua labia mayora, merupakan lipatan kulit
yang panjang, sempit dan tidak berambut yang memanjang ke arah bawah
dari bawah klitoris dan menyatu dengan fourchette. Sementara bagian
lateral dan anterior labia biasanya mengandung pigmen, permukaan
medial labia minora sama dengan mukosa vagina; merah muda dan basah.
Pembuluh darah yang sangat banyak membuat labia berwarna merah

kemurahan dan memungkinkan labia minora membengkak, bila ada


stimulus emosional atau stimulus fisik.
d. Klitoris
Klitoris adalah organ pendek berbentuk silinder dan erektil yang terletak
tepat dibawah arkus pubis. Dalam keadaan tidak terangsang, bagian yang
terlihat adalah sekitar 6 x 6 mm atau kurang. Ujung badan klitoris di
namai glans dan lebih sensitif daripada badannya. Saat wanita secara
seksual terangsang, glans dan badan klitoris membesar.
e. Vulva
Adalah bagian alat kandungan luar yang berbentuk lonjong, berukuran
panjang mulai dari klitoris, kanan kiri dibatasi bibir kecil, sampai ke
belakang dibatasi perineum.
f. Vestibulum
Vestibulum ialah suatu daerah yang berbentuk seperti perahu atau lonjong,
terletak di antara labia minora, klitoris dan fourchette. Vestibulum terdiri
dari muara utetra, kelenjar parauretra (vestibulum minus atau skene),
vagina dan kelenjar paravagina (vestibulum mayus, vulvovagina, atau
Bartholini). Permukaan vestibulum yang tipis dan agak berlendir mudah
teriritasi oleh bahan kimia (deodorant semprot, garam-garaman, busa
sabun), panas, rabas dan friksi (celana jins yang ketat).
g. Fourchette
Fourchette adalah lipatan jaringan transversal yang pipih dan tipis,terletak
pada pertemuan ujung bawah labia mayora dan minora di garis tengah
dibawah orifisium vagina. Suatu cekungan kecil dan fosa navikularis
terletak di antara fourchette dan himen.
h. Perineum
Perineum terletak diantara vulva dan anus, panjangnya rata-rata 4 cm.
Jaringan yang menopang perineum adalah diafragma pelvis dan
urogenital. Perineum terdiri dari otot-otot yang dilapisi, dengan kulit dan
menjadi penting karena perineum dapat robek selama melahirkan.
2. Alat Genetalia Interna

Alat Genetalia Interna


Sumber : Winkjosastro, 2007
a. Ovarium
Ovarium merupakan organ yang berfungsi untuk perkembangan dan
pelepasan ovum, serta sintesis dari sekresi hormone steroid. Ukuran
ovarium, panjang 2,5 5 cm, lebar 1,5 3 cm, dan tebal 0,6 1 cm.
Normalnya, ovarium terletak pada bagian atas rongga panggul dan
menempel pada lakukan dinding lateral pelvis di antara muka eksternal
yang divergen dan pembuluh darah hipogastrik Fossa ovarica waldeyer.
Ovarium melekat pada ligamentum latum melalui mesovarium. Dua
fungsi ovarium ialah menyelenggarakan ovulasi dan memproduksi
hormon. Ovarium juga merupakan tempat utama produksi hormon seks
steroid (estrogen, progesteron, dan androgen) dalam jumlah yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan fungsi wanita normal.
b. Vagina
Vagina, suatu struktur tubular yang terletak di depan rectum dan di
belakang kandung kemih dan uretra, memanjang dari introitus (muara
eksterna di vestibulum di antara labia minora vulva) sampai serviks
(portio). Vagina merupakan penghubung antara genetalia eksterna dan
genetalia interna. Bagian depan vagina berukuran 6,5 cm, sedangkan
bagian belakang berukuran 9,5 cm. Vagina mempunyai banyak fungsi
yaitu sebagai saluran keluar dari uterus dilalui sekresi uterus dan kotoran
menstruasi sebagai organ kopulasi dan sebagai bagian jalan lahir saat

persalinan. Vagina adalah suatu tuba berdinding tipis yang dapat melipat
dan mampu meregang secara luas. Ceruk yang terbentuk di sekeliling
serviks yang menonjol tersebut disebut forniks: kanan, kiri, anterior dan
posterior. Mukosa vagina berespons dengan cepat terhadap stimulasi
estrogen dan progesteron. Sel-sel mukosa tanggal terutama selama siklus
menstruasi dan selama masa hamil. Sel-sel yang diambil dari mukosa
vagina dapat digunakan untuk mengukur kadar hormon seks steroid.
Cairan vagina berasal dari traktus genitalia atas atau bawah. Cairan sedikit
asam. Interaksi antara laktobasilus vagina dan glikogen mempertahankan
keasaman. Apabila pH naik di atas lima, insiden infeksi vagina meningkat
(Bobak, Lowdermilk, Jensen, 2004).
c. Uterus
Uterus merupakan organ muskular yang sebagian tertutup oleh peritoneum
/ serosa. Bentuk uterus menyerupai buah pir yang gepeng. Uterus wanita
nullipara panjang 6-8 cm, dibandingkan dengan 9-10 cm pada wanita
multipara. Berat uterus wanita yang pernah melahirkan antara 50-70 gram.
Sedangkan pada yang belum pernah melahirkan beratnya 80 gram / lebih.
Uterus terdiri dari:
1) Fundus uteri, merupakan bagian uterus proksimal, kedua tuba
fallopi berinsensi ke uterus.
2) Korpus uteri, merupakan bagian uterus yang terbesar. Rongga yang
terdapat pada korpus uteri disebut kavum uteri. Dinding korpus
uteri terdiri dari 3 lapisan: serosa, muskula dan mukosa.
Mempunyai fungsi utama sebagai janin berkembang.
3) Serviks, merupakan bagian uterus dengan fungsi khusus, terletak
dibawah isthmus. Serviks memiliki serabut otot polos, namun
terutama terdiri atas jaringan kolagen, ditambah jaringan elastin
serta pembuluh darah.
4) Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan: endometrium, miometrium,
dan sebagian lapisan luar peritoneum parietalis.
d. Tuba Falopii
Tuba falopii merupakan saluran ovum yang terentang antara kornu uterine
hingga suatu tempat dekat ovarium dan merupakan jalan ovum mencapai
10

rongga uterus. Panjang tuba fallopi antara 8-14 cm. Tuba falopii oleh
peritoneum dan lumennya dilapisi oleh membran mukosa. Tuba fallopi
terdiri atas: pars interstialis : bagian tuba yang terdapat di dinding uterus,
pars ismika : bagian medial tuba yang sempit seluruhnya, pars ampularis :
bagian yang terbentuk agak lebar tempat konsepsi terjadi, pars
infudibulum : bagian ujung tuba yang terbuka ke arah abdomen
mempunyai rumbai/umbul disebut fimbria.
e. Serviks
Bagian paling bawah uterus adalah serviks atau leher. Tempat perlekatan
serviks uteri dengan vagina, membagi serviks menjadi bagian supravagina
yang panjang dan bagian vagina yang lebih pendek. Panjang serviks
sekitar 2,5 sampai 3 cm, 1 cm menonjol ke dalam vagina pada wanita
tidak hamil. Serviks terutama disusun oleh jaringan ikat fibrosa serta
sejumlah kecil serabut otot dan jaringan elastic (Evelyn, 2002).
3. Anatomi Tulang Panggul

Anatomi Tulang Panggul


Sumber : Syaifuddin, 2007
Tulang panggul (os sakrum) terdiri atas kiri dan kanan yang melekat
satu sama lain di garis medianus persambungan tulang rawan disebut simpisis
oseum pubis sehingga terbentuk gelang panggul yang disebut singulum
ekstremitas inferior. Os sakrum dibentuk oleh os ileum (tulang usus), os pubis
(tulang kemaluan), dan os iskii (tulang duduk). Di dalam os ileum terdapat

11

lekuk besar yang disebut fossa iliaka, di depan krisna iliaka terdapat tonjolan
spina iliaka anterior superior dan di belakang spina iliaka posterior superior.
Os iskii terdiri atas korpus ossis iskii, di belakang asetabulum korpus ossis
iskii mempunyai taju yang tajam disebut spina iskiadika yang terdapat
insisura iskiadika mayor dan dibawahnya spina iskiadika minor. Os pubis
terdiri dari pubis kanan dan kiri yang terdapat tulang rawan disebut simpisis
pubis. (Syaifuddin, 2007).

4. Anatomi Konjugata Obstetrika

Konjugata Obstetrika
Sumber : Harry, 2003
Konjugata vera yaitu jarak dari pinggir atas simfisis ke promontorium
panjangnya lebih kurang 11 cm. Jarak terjauh garis melintang pada pintu atas
panggul disebut diameter tranversa. Bila ditarik garis dari artikulasio
sakroiliaka ke titik persekutuan antara diameter transversa dan konjugata vera
dan diteruskan ke linea innominata, disebut diameter oblikua. Konjugata vera
sama dengan konjugata diagonalis dikurangi 1,5 cm. Konjugata obstetrika
merupakan konjugata yang paling penting yaitu jarak antara bagian tengah
dalam simfisis dengan promontorium.
12

5. Anatomi Kulit Abdomen

Anatomi Kulit Abdomen


Sumber : Winkjosastro, 2005
Kulit terdiri dari 3 lapisan, yaitu :
a. Lapisan epidermis, merupakan lapisan luar, terdiri dari epitel skuamosa
bertingkat. Sel-sel yang menyusunnya dibentuk oleh lapisan germinal
dalam epitel silindris dan mendatar, ketika didorong oleh sel-sel baru ke
arah permukaan, tempat kulit terkikis oleh gesekan. Lapisan luar terdiri
dari keratin, protein bertanduk, Jaringan ini tidak memiliki pembuluh
darah dan sel-selnya sangat rapat.
b. Lapisan dermis adalah lapisan yang terdiri dari kolagen, jaringan fibrosa
dan elastin. Lapisan superfasial menonjol ke dalam epidermis berupa
sejumlah papila kecil. Lapisan yang lebih dalam terletak pada jaringan
subkutan dan fasia. Lapisan ini mengandung pembuluh darah,
pembuluhlimfe dan saraf.
c. Lapisan subkutan mengandung sejumlah sel lemak, berisi banyak
pembuluh darah dan ujung saraf. Lapisan ini mengikat kulit secara longgar
dengan organ-organ yang terdapat dibawahnya. Dalam hubungannya
dengan tindakan SC, lapisan ini adalah pengikat organ-organ yang ada di
abdomen, khususnya uterus. Organ-organ di abdomen dilindungi oleh
selaput tipis yang disebut peritonium. Dalam tindakan SC, sayatan
dilakukan dari kulit lapisan terluar (epidermis) sampai dinding uterus.

B. Definisi Sectio Caesarea

13

Seksio secaria merupakan prosedur operatif, yang di lakukan di bawah anestesia


sehingga janin, plasentadan ketuban di lahirkan melalui insisi dinding abdomendan
uterus. Prosedurini biasanya di lakukan setelah viabilitas tercapai ( mis, usia
kehamilan lebih dari 24 minggu ).(Buku Ajar bidan,Myles,edisi 14.2011.hal:567).
Sectio sesarea adalah pengeluaran janin melalui insisi abdomen. Teknik ini
digunakan jika kondisi ibu menimbulkan distres pada janin atau jika telah terjadi
distres janin. Sebagian kelainan yang sering memicu tindakan ini adalah malposisi
janin, plasenta previa, diabetes ibu, dan disproporsi sefalopelvis janin dan ibu. Sectio
sesarea dapat merupakan prosedur

elektif atau darurat .Untuk sectio caesarea

biasanya dilakukan anestesi spinal atau epidural. Apabila dipilih anestesi umum,
maka persiapan dan pemasangan duk dilakukan sebelum induksi untuk mengurangi
efek depresif obat anestesi pada bayi .(Buku pre operatif .arif muttaqin.2010.hal:507)
Sectio caesarea adalah melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen
(laparotomi)dan dinding uterus (histerotomi).Definisi ini tidak mencakup pengeluaran
janin dari rongga abdomen pada kasus rupture uteri atau pada kasus kehamilan
abdomen. (obstetri williams,2005).
Kesimpulan dari ketiga pengertian diatas yaitu, Sectio caesarea adalah
pengeluaran janin melalui insisi dinding abdomen. Teknik ini digunakan jika kondisi
ibu menimbulkan distres pada janin atau jika telah terjadi distres janin. Sebagian
kelainan yang sering memicu tindakan ini adalah malposisi janin, plasenta previa,
diabetes ibu, dan disproporsi sefalopelvis janin dan ibu.

C. Etiologi Sectio Caesarea


Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan
menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang
perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan
normal ( Dystasia ).
1. Pada Ibu :
a. disproporsi kepala panggul
b. Disfungsi uterus

14

2.

c. Distosia jaringan lunak


d. Plasenta previa
e. His lemah / melemah
Pada Anak :
1. Janin besar
2. Gawat janin
3. Letak lintang
4. Hydrocephalus

Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan


menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-halyang
perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan
normal ( Dystasia ) berupa:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Fetal distress
His lemah / melemah
Janin dalam posisi sungsang atau melintang
Bayi besar ( BBL4,2 kg )
Plasenta previa
Kalainan letak
Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan

panggul)
8. Rupture uteri mengancam
9. Hydrocephalus
10. Primi muda atau tua
11. Partus dengan komplikasi
12. Panggul sempit
D. Klasifikasi Sectio Caesarea
1. Insisi Abdomen
a. InsisiVertikal
Insisi vertical garis tengah infra umbilikus adalah insisi yang paling cepat
dibuat.Insisi ini harus cukup panjang agar janin dapat lahir tanpa
kesulitan.Oleh karenanya, panjang harus sesuai dengan taksiran ukuran
janin
b. Insisi Transversal/Lintang
Kulit dan jaringan subkutan disayat dengan menggunakan insisi
transversal rendah sedikit melengkung.Insisi kulit transversal jelas
memiliki keunggulan kosmetik .walaupun sebagian orang beranggapan

15

bahwa insisi ini lebih kuat dan kecil kemungkinannya terlepas ,insisi ini
juga memiliki kekurangan,pada sebagian wanita pemajanan uterus yang
hamil dan apendiksnya tidak sebaik pada insisi vertical.
c. Insisi Uterus
Suatu insisi vertical kedalamkorpus uterus diatassegmenbawah uterus
danmencapai fundus uterus namun tindakan ini sudah jarang digunakan
saat ini.
Keuntungannya adalah menghindari risiko robekan ke pembuluh darah
uterus,kemampuan untuk memperluas insisi jika diperlukan ,hanya pada
segment bawah saja. Untuk presentasi kepala,insisi tranversal melalui
segment bawah uterus merupakan tindakan pilihan.secara umum,insisi
transversal:
Lebih mudah di perbaiki
Terletak ditempat yang paling kecil kemungkinannya rupture disertai
keluarnya janin ke rongga abdomen pada kehamilan berikutnya
Tidak menyebabkan perleketan usus atau omentum ke garis insisi..
d. Tekniki sisisesareaklasik
Kadang-kadang perlu dilakukan insisi klasik untuk melahirkan janin.
Beberapa indikasinya adalah :
Apabila segmen bawah uterus tidak dapat dipajankan atau dimasuki
dengan aman karena kandung kemih melekat atakibat pembedahan
sebelumnya, atau apabila sebuah mioma menempati segmen bawah

uterus atau apabila terdapat karsinoma invasive diserviks.


Apabila janin berukuran besar dan terletak melintang ,terutama

apabila selaput ketuban sudah pecah dan bahu terjepit jalan lahir.
Pada sebagian kasus plasenta previa dengan implantasi anterior
Pada sebagian kasus janin yang sengat kecil terutama dengan

presentasi bokong yang segment bawah uterusnya tidak menipis.


Pada sebagian kasus ibu dengan obesitas berat yang hanya

memungkinan untuk menakses bagianatas uterus saja.


e. Seksio sesarea ekstra peritoneum
Tujuan operasi adalah untuk membuka uterus secara ekstra peritoneum
dengan melakukan diseksi melalui ruang retzius dan kemudian
disepanjang salah satu dan di belakang kandung kemih untuk mencapai

16

segmen bawah uterus. Prosedur ini hanya berlangsung singkat sebagian


besar mungkin karena tersedianya berbagai obat antimikroba yang
efektif.
f. Seksio sesarea postmortem
Kadang-kadang seksio sesarea dilakukan pada seorang wanita yang baru
meninggal atau yang diperkirakan tidak lama lagi akan meninggal.pada
situasi seperti iniprognosis yang memuaskan pada bayi bergantung pada:
Antisipasi kematian ibu,bila mungkin
Usia gestasi janin
Ketersediaan petugas dan peralatan yang sesuai
Ketersediaan ventilasi perimortem dan masase jantung bagi ibu
Pelahiran segera dan resusitasi neonates yang efektif.
2. Vagina (sectio caesarea vaginalis)
Menurut arah sayatan pada rahim, sectio caesaria dapat dilakukan apabila :
a. Sayatan memanjang (longitudinal)
b. Sayatan melintang (tranversal)
c. Sayatan huruf T (T Insisian)
(obstetric wiliams.2006,vol.1,)
E. Patofisiologi dan WOC Sectio Caesarea
SC merupakan tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di atas 500 gr
dengan sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Indikasi dilakukan tindakan ini
yaitu distorsi kepala panggul, disfungsi uterus, distorsia jaringan lunak, placenta
previa dll, untuk ibu. Sedangkan untuk janin adalah gawat janin. Janin besar dan letak
lintang setelah dilakukan SC ibu akan mengalami adaptasi post partum baik dari
aspek kognitif berupa kurang pengetahuan. Akibat kurang informasi dan dari aspek
fisiologis yaitu produk oxsitosin yang tidak adekuat akan mengakibatkan ASI yang
keluar hanya sedikit, luka dari insisi akan menjadi post de entris bagi kuman. Oleh
karena itu perlu diberikan antibiotik dan perawatan luka dengan prinsip steril. Nyeri
adalah salah utama karena insisi yang mengakibatkan gangguan rasa nyaman.
Sebelum dilakukan operasi pasien perlu dilakukan anestesi bisa bersifat regional
dan umum. Namun anestesi umum lebih banyak pengaruhnya terhadap janin maupun
ibu anestesi janin sehingga kadang-kadang bayi lahir dalam keadaan upnoe yang
tidak dapat diatasi dengan mudah. Akibatnya janin bisa mati, sedangkan pengaruhnya
17

anestesi bagi ibu sendiri yaitu terhadap tonus uteri berupa atonia uteri sehingga darah
banyak yang keluar. Untuk pengaruh terhadap nafas yaitu jalan nafas yang tidak
efektif akibat sekret yan berlebihan karena kerja otot nafas silia yang menutup.
Anestesi ini juga mempengaruhi saluran pencernaan dengan menurunkan mobilitas
usus.
Seperti yang telah diketahui setelah makanan masuk lambung akan terjadi proses
penghancuran dengan bantuan peristaltik usus. Kemudian diserap untuk metabolisme
sehingga tubuh memperoleh energi. Akibat dari mortilitas yang menurun maka
peristaltik juga menurun. Makanan yang ada di lambung akan menumpuk dan karena
reflek untuk batuk juga menurun. Maka pasien sangat beresiko terhadap aspirasi
sehingga perlu dipasang pipa endotracheal. Selain itu motilitas yang menurun juga
berakibat pada perubahan pola eliminasi yaitu konstipasi. (Saifuddin, Mansjoer &
Prawirohardjo, 2002)
Indikasi Janin

Indikasi ibu

Gawat
janin,
kedudukan janin.

Kesempitan panggul, primigravida


pre eklampsia,ekuansia, kista

Secsio
Caesaria

Adaptasi
pskologis

Perubahan
psikologis

Luka
operasi

Jaringa
n
terputu

S.reprodu
ksi

Jaringa
n
terbuk

Efek
anaste
si

Kontraksi
uterus
Kerja
medulla
oblungata

18

Kerja
pons

involusi
Meransang
area sensorik

Gangguan
rasa
nyaman

Proteksi
kurang
Invansi
bakteri
MK:
Resiko

MK:
Nyeri

Refleksi
batuk
adekua
t
Pengeluar
an lokea

Kerja
Obat
eliminasi

Tidak
adeku

pendarah
an
Volume
cairan
elektrolit

Akumula
si batuk

Parastalti
k usus

MK:
bersihan
jalan nafas

Mk:
kontipasi

MK: Syok
Hipovole
mik

Kehadiran
anggota
baru

Hipotalam
us
Hipofisis
anterior

Perubaha
n peran

Hormone prolaktin
MK:
Ansietas
Produksi
kolestrum
Kurang
pengalaman

MK:
Ketidakefektifan
pemberian asi

Bayi tidak di
susui
19

MK: kurang
Kolestrum
Payudara
penetahuan
numpuk
didlm
bengkak

MK:
Nyeri

F. Manifestasi Klinis Post op Sectio Caesarea


Persalinan dgn Sectio Caesaria , membutuhkan perawatan yg lebih koprehensif
yaitu: perawatan post operatif & perawatan post partum.Manifestasi klinis
sectio caesarea menurut Doenges (2001), diantaranya :
1.
2.
3.
4.

Nyeri dampak ada luka pembedahan


Adanya luka insisi pada bagian abdomen
Fundus uterus kontraksi kuat & terletak di umbilicus
Aliran lokhea sedang & bebas bekuan

yg

berlebihan

(lokhea tak berlimpah)


5. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600800ml
6. Emosi

labil

perubahan

emosional

dgn

mengekspresikan

ketidakmampuan menghadapi situasi baru


7. Biasanya terpasang kateter urinarius
8. Auskultasi bising usus tak terdengar / samar
9. Pengaruh anestesi bisa memunculkan mual & muntah
10. Status pulmonary bunyi paru jelas & vesikuler
11. Pada kelahiran secara SC tak direncanakan kian bisanya minus paham
prosedur
12. Bonding & Attachment pada anak yg baru dilahirkan.

20

G. Pemeriksaan Penunjang Sectio Caesarea


Adapun pemeriksaan penunjang pada section caesarea adalah:
1. Pemantauan janin terhadap kesehatan janin
2. Pemantauan EKG
3. Elektrolit
4. Hemoglobin/Hematokrit
5. Golongan darah
6. Urinalisis / kultur urine
7. Amniosentesis terhadap maturitas paru janin sesuai indikasi
8. Pemeriksaan sinar x sesuai indikasi.
9. Ultrasound sesuai pesanan
10. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari
kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada
pembedahan.
11. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
12. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
13. Pemeriksaan elektrolit.

H. Komplikasi Sectio Caesarea


1. Infeksi Puerperalis
Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam
masa nifas atau dapat juga bersifat berat, misalnya peritonitis, sepsis dan lain-lain.
Infeksi post operasi terjadi apabila sebelum pembedahan sudah ada gejala - gejala
infeksi intrapartum atau ada faktor - faktor yang merupakan predisposisi terhadap
kelainan itu (partus lama khususnya setelah ketuban pecah, tindakan vaginal
sebelumnya). Bahaya infeksi dapat diperkecil dengan pemberian antibiotika,
tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali, terutama SC klasik dalam hal ini lebih
berbahaya daripada SC transperitonealis profunda.
2. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang arteria
uterina ikut terbuka atau karena atonia uteri
3. Komplikasi - komplikasi lain seperti:
Luka kandung kemih
Embolisme paru paru

21

Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya perut pada
dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri.
Kemungkinan hal ini lebih banyak ditemukan sesudah sectio caesarea klasik.
I. Penatalaksanaan Sectio Caesarea
1. Pemberian cairan
Karena 6 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian
cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar
tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh
lainnya. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%, garam fisiologi
dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan tergantung kebutuhan. Bila
kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan.
2. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus
lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral.Pemberian
minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 8 jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
3. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
1) Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 8 jam setelah operasi
2) Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur
telentang sedini mungkin setelah sadar
3) Hari pertama post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5
menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
4) Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi
setengah duduk (semifowler)
5) Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien
dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan
kemudian berjalan sendiri, dan pada hari ke-3 pasca operasi.pasien
bisa dipulangkan
4. Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak
pada penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan

22

perdarahan.Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi


tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.
5. Pemberian obat-obatan
1. Antibiotik
Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda
setiap institusi
2. Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam
Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila
perlu
3. Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat
diberikan caboransia seperti neurobian I vit. C.
6. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan
berdarah harus dibuka dan diganti.
7. Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu,
tekanan darah, nadi,dan pernafasan.

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Kasus
Ny. K 20 tahun, P1A0, agama Islam, IRT, pendidikan SD, suku Sunda dirawat
di RS dari 2 hari yang lalu. Saat dilakukan pengkajian, klien mengeluh nyeri
pada perut bagian bawah. Nyeri dirasakan terus menerus seperti disayat benda
tajam, nyeri bertambah saat bergerak atau batuk. Berdasarkan pengkajian TD
110/90 mmHg, Nadi 80 x/mnt, R 20 x/mnt, Suhu 37,5C. TFU 2 jari dibawah

23

pusat, kontraksi uterus kuat, diaktasis rektus abdominis 1 jari, bising usus 12
x/mnt. Tampak lokhea rubra, amis, terpasang kateter. Tampak balutan luka di
abdomen bagian bawah sekitar 10 cm, balutan tampak bersih tidak tampak
pus. Klien bedrest posisi supinasi, skala nyeri 8 (1-10). Menurut keterangan
suaminya, klien takut merubah posisi karena sakit di lukanya. Berdasarkan
instruksi dokter, bedrest dilakukan selama 24 jam karena telah dilakukan
anestesi spinal 12 jam yang lalu. Klien mengatakan ingi meneteki bayinya tapi
tidak tahu cara meneteki karena ini adalah anak pertamanya apalagi sambil
berbaring. Payudara tampak bengkak, kolostrum sudah keluar, puting
menonjol, aerola menghitam. Tampak bayi menangis dalam box bayi di
samping tempat tidur ibunya. Saat diperiksa popok bayi kering. Pemeriksaan
laboratorium Hb 11,2 gr/dL, leukosit 37.000 mm, trombosit 210.000 mm,
protein urine (-). Terapi ceftriazonr 2x1 gr IV, alinamin 2x1 ampul.. Terpasang
infus di ekstremitas atas kirir dengan ringer laktat 20 tts/mnt.
B. Pengkajian
A. IDENTITAS
1.
Nama
: Nn. V
2.
Umur
: 14 tahun
3.
Jenis kelamin
: Perempuan
4.
Agama
: Islam
5.
Pekerjaan
: IRT
6.
Pendidikan
: SD
7.
Suku
: Sunda
B. KELUHAN UTAMA
Nyeri pada perut bagian bawah, nyeri dirasakan terus-menerus seperti
disayat benda tajam, nyeri bertambah saat bergerak atau batuk
P: nyeri bertambah saat bergerak atau batuk
Q: terus-menerus seperti disayat benda tajam
R: pada perut bagian bawah
S: skala 8 (1-10)
T: saat bergerak atau batuk
C. RIWAYAT KESEHATAN
1.
Riwayat sekarang
: Nyeri pada perut bagian bawah, nyeri
dirasakan terus-menerus seperti disayat benda tajam, nyeri bertambah
saat bergerak atau batuk. Klien mengatakan ingi meneteki bayinya tapi
tidak tahu cara meneteki karena ini adalah anak pertamanya apalagi

24

sambil berbaring. Payudara tampak bengkak, kolostrum sudah keluar,


puting menonjol, aerola menghitam. Tampak bayi menangis dalam box
2.
3.
4.
D.
1.
2.

bayi di samping tempat tidur ibunya. Saat diperiksa popok bayi kering.
Riwayat dahulu
:Riwayat keluarga
:Riwayat Kehamilan
: G1P1A0
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
: Tanda-tanda vital
: TD 110/90 mmHg, Nadi 80x/menit, Suhu

3.

37,5 celcius, RR: 20x/menit.


Pemeriksaan abdomen
: Bising usus 12 x/mnt, TFU 2 jari
dibawah pusat, kontraksi uterus kuat,diaktasis rektus abdominis 1 jari,
tampak lokhea rubra, amis, terdapat balutan luka di abdomen bagian

bawah sekitar 10 cm, balutan tampak berish tidak ada pus.


PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Lab
Hb 11,2 gr/dL
leukosit 37.000 mm
trombosit 210.000 mm
protein urine (-)
F.
PENATALAKSANAAN, TERAPI DAN PENGOBATAN
Terpasang kateter
Bedrest 24 jam karena anestesi spinal 12 jam lalu
Post op SC
Terapi ceftriazone 2x1 gr IV
Alinamin 2x1 ampul
Infus di ekstremitas atas kiri dengan RL 20tetes/mnt
C. Analisa Data
E.

No
Data
1. DS:
Ny.K mengeluh nyeri
pada

perut

bagian

bawah. Nyeri dirasakan


terus-menerus

seperti

disayat

tajam,

nyeri

benda
bertambah

saat

Etiologi
Op Sectio Caesarea

Terputusnya kontinuitas

Masalah Keperawatan
Nyeri

jaringan

Merangsang area
sensorik

Nyeri

25

bergerak atau batuk


Ny. K mengeluh takut
mengubah posisi karena
sakit di lukanya
DO:
Tampak balutan
luka di abdomen
bagian bawah
sekitar 10 cm
Skala nyeri 8 (1-10)

2.

DS:
Ny.K mengatakan ingin
meneteki bayinya tapi
tidak tahu cara meneteki
karena itu adalah anak
pertamanya

apalagi

sambil berbaring
DO:
Bayi
tampak

Kurang terpapar
informasi

Kurang pengetahuan

Kurang berpengalaman

Ketidakefektifan

Ketidakefektifan
pemberian

asi

berhubungan dengan
kurang pengetahuan

pemberian asi

menangis dalam box


bayi

di

samping

tempat tidur
3.

DS:
Ny.K mengeluh nyeri
pada

perut

bagian

bawah. Nyeri dirasakan


terus-menerus

seperti

disayat

tajam,

nyeri

benda
bertambah

saat

bergerak atau batuk


Ny. K mengeluh takut

Luka Post Sectio

Resiko infeksi

Caesarea

Jaringan terbuka

Proteksi kurang

Invasi bakteri

Reasiko Infeksi

mengubah posisi karena


sakit di lukanya
26

DO:
Hasil

pemeriksaan

Lab:

Leukosit

37.000 mm
D. Diagnosa Keperawatan
1.
Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat
2.
3.

tindakan operasi
Ketidakefektifan pemberian asi berhubungan dengan kurang pengetahuan
Resiko Infeksi berhubungan dengan jaringan terbuka, perawatan teknik
non aseptik

E. Asuhan Keperawatan Post op SC


No
1

Diagnosa
Nyeri

Tujuan / KH
Setelah dilakukan

berhubungan

tindakan

dengan

keperawatan selama

terputusnya

1x24 jam diharapkan

kontinuitas

klien Klien dapat

jaringan

beradaptasi dengan

akibat

nyeri yang dialami

tindakan

Kriteria Hasil :

operasi

Mengungkapkan
nyeri dan tegang
di perutnya
berkurang
Dapat melakukan

Intervensi
Kaji intensitas,
karakteristik, dan derajat
nyeri
Pertahankan tirah baring
selama masa akut.
Terangkan nyeri yang
diderita klien dan
penyebabnya.
Ajarkan teknik distraksi
Kolaborasi pemberian
analgetika narkotik opiat
yang terjadwal sesuai

Rasional
Pengkajian yang spesifik
membantu memilih
intervensi yang tepat
Meminimalkan stimulasi
atau meningkatkan
relaksasi
Meningkatkan koping klien
dalam melakukan
guidance mengatasi
nyeri
Pengurangan persepsi nyeri
Mengurangi onset

indikasi misal tiap 4 jam

terjadinya nyeri dapat

selama 36 jam atau PCA

dilakukan dengan

tindakan untuk

pemberian analgetika

mengurangi

oral maupun sistemik

nyeri
Kooperatif

dalam spectrum
luas/spesifik

27

dengan tindakan
yang dilakukan
TTV dalam batas
normal ; Suhu :
36-37 0 C, TD :
120/80 mmhg,
RR :1824x/menit, Nadi :
2.

80-100 x/menit
Ketidakefekti Setelah diberikan

1. Berikan kesempatan ibu 1. Karena pada waktu ini

fan

tindakan

untuk menyusui dalam

akan terjadi pengeluaran

pemberian

keperawatan selama

waktu 1-2 jam setelah

kolostrum dari payudara

asi

1x24 jam klien

berhubungan

menunjukkan respon

dengan

breast feeding

kurang

adekuat dengan

pengetahuan

indikator:

melahirkan
2. Berikan
tentang

ibu
informasi

pemberian

membutuhkan

terjadi

setelah

agar terus memberikan

melahirkan
3. Berikan dukungan pada
ibu
dengan 4. Ajarkan

ibu

menyusui

kebutuhan untuk

dengan benar dan tidak

menyusui
Klien
dapat

menggaggu luka insisi

mandiri
Tetap

tentang isyarat menyusui

ibu
5.
Evaluasi pemahaman ibu
menyusui secara

asi

payudara
8. Kolaborasi

konseling

dan

pemahaman

tentang

perubahan

fisiologis postpartum
3. Agar ibu tidak takut
untuk menyusui bayinya
karena luka insisi
4. Untuk
menambah

dari bayi
mempertahankan 6. Pantau kemampuan untuk 5.
mengurangi
kongesti
laktasi
Ibu
mampu
payudara dengan benar
6.
mengumpulkan 7. Gunakan alat pemompa
dan menyimpan

bayi

asi

mengungkapkan
puas

juga

kehangatan dari ibu


dan perubahan-perubahan 2. Dapat mendukung ibu
yang

Klien

dan

pemahaman ibu tentang


isarat-isarat

dari

bayi

ketika ingin menyusui


Mengetahui pemahaman
ibu tentang menyusui
Kongesti/pembengkakan
payudara terjadi akibat
penimbunan asi

28

asi
Penyapihan
pemberian

laktasi : fasilitasi proses 7. Mencegah


bantuan interaktif untuk
asi:

diskontiunitas
pemberian asi
Tidak
ada
respon
3

Resiko
infeksi
berhubungan
dengan
perawatan
teknik non
aseptik

alergik

membantu

mempermudah
pengeluaran asi
8. Kolaborasi untuk bisa

mempertahankan
keberhasilan

dan

proses

pemberian asi

sharing

dengan

ibu

dalam

pemberian

asi

untuk bayi

sistemik
Setelah dilakuan

1. Monitor tanda-tanda vital 1. Untuk mengetahuitandaTanda infeksi


intervesi
seperti peningkatan suhu,
2. Membantu penanganan
keperawatan selama
RR, serta hasil lab seperti
pertama infeksi
2x24 jam infeksi
leukosit.
3. Mencegah terjadinya
2. Jelaskan pada klien cara
tidak menyebar
invasi
mengidentifikasi tanda
Bakteri pada luka
dengan kriteria hasil:
4. Makanan tinggi protein
infeksi
3.
Rawat luka infeksi
membantu mempercepat
Leukosit dalam
dengan teknik septik,
pertumbhan jaringan
rentan normal
5. Menjaga dari invasi
dan antisetik mulai hari
5.000-10.000
bakteri
Suhu normal
ke 3 setelah op
6. Mempercepat
Tidak terjadi
4. Anjurkan opasien untuk
penyembuhan infeksi
tanda-tanda
mengkonsmsi makanan
infeksi

tinggi protein dan intake


cairan yang adekuat
5. Anjurkan klien untuk
menjaga vulva atau
tubuh area op
6. Kolaborasi pemberian
antibiotik bila
dibuituhkan

29

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding
uterus melalui dinding depan perut. (Rustam Mochtar, 1992).
Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan
menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang
perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan
normal ( Dystasia ). Seperti disproporsi kepala panggul, Disfungsi uterus, Distosia
jaringan lunak, Plasenta previa, His lemah / melemah dan pada anak seperti Janin
besar. Gawat janin, Letak lintang dan Hydrocephalus.
30

B. Saran
Dari

kasus diatas yaitu Post Sectio Caesarea merupakan suatu keadaan

masalah kesehatan yang sangat kompleks. Oleh sebab itu diharapkan perawat
mampu menerapkan pola suhan keperawatan yang tepat dari pengkajian hingga
intervensi yang diberikan.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E, Mary Frances Moorhouse dan Alice C. Geisser. (1999).
Rencana

asuhan

keperawatan

pedoman

untuk

perencanaan

dan

pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran


(EGC).
Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. (1994). Patofisiologi, konsep klinis prosesproses penyakit. Jakarta: Penerbit EGC.
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. (2001). Keperawatan medikal bedah 2. (Ed
8). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Mansjoer, A. 2002. Asuhan Keperawatn Maternitas. Jakarta : Salemba Medika
Saifuddin, AB. 2002. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal. Jakarta : penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo

31

Sarwono Prawiroharjo. 2009. Ilmu Kebidanan, Edisi 4 Cetakan II. Jakarta : Yayasan
Bina Pustaka

LAMPIRAN
A. Data Tutorial
Pembimbing Tutuorial :

Ns. Sri Mulyani, M.Kep

Ketua

Dwiayu

Sekretaris

Putrinugraha Wanca Apatya

Hari, Tanggal

Pertemuan 1: 04 April 2016


Pertemuan 2: 08 April 2016

B.

Seven Jump
STEP 1 (Klarifikasi Istilah)

32

Lokae rubra adalah cairan secret yang berasal dari vagina selama masa
nifas bewarna merah segar berisi gumpalan darah sisa selaput ketuban,

sisa vernik dan lanugo


TFU adalah tinggi fundus uteri atau pengukuran tinggu fundus untuk

mengukur tuanya kehamilan dan BBJ (Berat Badan Janin)


Diaktasis Rektus Abdominis adalah permisahan otot rektus abdominis
lebih dari 2,5 cm, setinggi umbiculus sebagai pengaruh hormone terhadap

unea alba serta akibat peregangan mekanis dinding abdomen


Ringer Laktat adalah larutan sterol dari Natrium Klorida, Kalsium
Klorida, Kalium Klorida, Natrium Laktat dalam air untuk injeksi.
Komposisi (mmol/100ml) : Na = 130-140, K = 4-5, Ca = 2-3, Cl = 109110, Basa = 28-30 mEq/l. Kemasan : 500, 1000 ml. Cara Kerja Obat :
keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat adalah komposisi
elektrolit dan konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang dikandung
cairan ekstraseluler. Natrium merupakan kation utama dari plasma darah
dan menentukan tekanan osmotik. Klorida merupakan anion utama di
plasma darah. Kalium merupakan kation terpenting di intraseluler dan
berfungsi untuk konduksi saraf dan otot. Elektrolit-elektrolit ini
dibutuhkan untuk menggantikan kehilangan cairan pada dehidrasi dan
syok hipovolemik termasuk syok perdarahan. Indikasi : mengembalikan
keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi dan syok hipovolemik.
Ringer laktat menjadi kurang disukai karena menyebabkan hiperkloremia
dan asidosis metabolik, karena akan menyebabkan penumpukan asam
laktat

yang

tinggi

akibat

metabolisme

anaerob.

Kontraindikasi :

hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati, asidosis laktat.


Kolostrum adalah Air susu ib uyang keluar pertama kali pada ibu
menyususi bayi yang baru saja dilharikan, warna kekuningan, kental,

jumlah tidak banyak, konsentrasinya berisi gizi dan imunitas tinggi.


Anestesi spinal adalah teknik anestesi lokal dimana obat ditempatkan ke
dalam kanal tulang belakang dengan jarum yang sangat kecil; pembedahan
di perut, pinggul dan kaki

33

Terapi ceftriazone adlah golongan antibiotic untuk mengobati dan


mencegah infeksi yang disebabkan oleh bakteri seperti pneumonia, sepsis,
meningitis, infeksi kulit, gonore atau kencing nanah, dan infeksi pada
pasien dengan sel darah putih yang rendah. Selain itu, ceftriaxone juga
bisa diberikan kepada pasien yang akan menjalani operasi-operasi tertentu

untuk mencegah terjadinya infeksi.


Alinamin adalah obat penstimulus kontraksi, diberikan agar dalam
persalinan lebih kuat mengejan sehingga bayi cepat keluar dan tidak

menimbulkan sakit berkepanjangan


Uterus adalah Rahim; organ reproduksi betina pada mamalia; organ yang

melindungi dan mewadahi janin selama kehamilan


Aerola dalah daerah gelap disekitar putting payudara yang dapat melebar

atau lebih gelap selama kehamilan


Ampul adalah wadah gelas bening dengan bagian leher menyempit, berisi
obat tunggal dalam bentuk cair; botol kecil tersegel, berisi obat atau

1.
2.
3.
4.

larutan steril, siap digunakan.


STEP 2 (Identifikasi Masalah)
Adakah hubungan nyeri yang dirasakan Ny.K dengan lokea rubra?
Bagaimana Interprestasi dari pemeriksaan lab?
Mengapa protein urin negative (-)?
Apakah normal atau tidak apyudara bengkak pada ibu yang telah melahirkan?

Dan dampak apa yang akan terjadi?


5. Kapan kolustrum keluar pasca persalinan?
6. Apakah normal terdapat lokhea rubra pada ibu post partum? Bagaimana
mekanismenya pada ibu yang menjalani SC?
7. Apakah dalam kasus telah terjadi infeksi? Jika iya, bagaimana terjadinya?
8. Apa guna TFU 2 jari pada kasus? Menunjukkan apa untuk ibu yang telah
melahirkan? Bagaimana cara mengukurnya?
9. Bagaimana cara efektif menyusui pada kasus?
10. Apa penyebab kontraksi uterus kuat?
11. Mengapa Ny.K diberikan alinamin? Apakah semua ibu sebelum melahirkan
diberikan alinamin?
12. Apakah normal terjadi Diaktasis rektus Abdominis dan bising usus 12 x/mnt?
Apa penyebabnya?
13. Penatalaksanaan untuk bayi pada kasus?
14. Mengapa infus diapsang di ekstremitas atas kiri? Apa guna RL?
34

STEP 3 (Analisa Masalah)


1.

Seperti halnya menstruasi, lokhea rubara yang tampak pada pemeriksaan


Ny.K akan menimbulkan nyeri ketika Ny.K mengeluarkannya. Karena
terjadi peluruhan. Namun pada kasus Ny.K menyatakan nyeri lebih tertuju
pada nyeri sayatan Post SC yang menimbulkan nyeri. Peluruhan dinding
Rahim setelah melahirkan itu sendiri untuk memnentuk lapisan dinding
rahm baru ini disebut lokhea rubra. Jadi, yang dirasakan Ny.K ini dua hal
yaitu karena lokhea rubra dan karen luka sayatan bekas operasi. Perlu
dikaji lebih lanjut tentang karakteristik nyeri seperti lokasi secara spesifik,

3.

durasi, factor prespistasi dll pada Ny.K.


Hb normal: 12-16 gr/dL (kasus: 11,2 gr/dL)
Trombodit normal: 150.000-450.000/mm3 (kasus: 210.000/mm3)
Leukosit normal: 5.000-10.000/mm3 (kasus: 36.000/mm3)
Protein urin (-): normal (kasus: negative)
Protein negative dalam urin berarti tidak ada gangguan pada system

4.

perkemihan Ny.K, jika ada makan akan positive


Normal, mengisyaratkan bahwa ASI banyak. Jika menyusui maka

2.

payudara tidak akan bengkak. Akibat dari payudara bengkak adalah nyeri,
5.

terasa penuh, membesar, keras dan rasa tidak nyaman,


Dari hari pertama sampai dengan hari kelima dengan jumlah 150-300
cc/hari atau sampai 7 hari paling lama. Keluar sekali setelah persalinan,

6.

setelah itu akan keluar ASI biasa.


Normal. Karena lokea lubra merupakan cairan yg di keluarkan dari uterus
melalui vagina dpm msa nifas yang berbau amis dan terjadi perobekan

7.

pada plasenta. Durasi 1 hari sampai dengan 3 hari.


Kemungkinan terjadi infeksi karena leukosit meningkat. Namun pada ibu
post partum leukosit yang tinggi adalah normal. Jika dalam beberapa hari

8.

belum normal, maka bisa diambil kesimpulan infeksi.


Untuk melihat ukuran uterus dan pengecilan dari uterus. Kurang lebih 2
cm dari umbilicus berarti plasenta lahir.
TFU postpartum: 1 minggu: antara umbilicus dan pubis, 2 minggu: tidak

9.

teraba diatas simfisis, 3 minggu: sangat kecil


Posisi untuk ibu menyusui pasca SC
pastikan tubuh bayi dekat dengan ibu
35

lindungi luka bekas operasi dengan bantal sebagai alas


letakkan bayi disamping atau dibawah ketiak
mulut bayi mencakup sebanyak mungkin aerola tidak ahnya
putting susu saja
lidah bayi menopang putting susu dan aerola bagian bawah bibir
secara dalam, kadang-kadang berhenti sesaat
jika ibu merasa nyerim lepas perekatan dan menusukkan jari

10.

kelingking kearah gusi atau putting


bayi menyususi sekitar 5-40 menit
His (kontraksi) adalah serangkaian kontraksi rahim yang teratur karena
otot-otot polos rahim yang bekerja dengan baik dan sempurna secara
bertahap akan mendorong janin melalui serviks (rahim bagian bawah) dan
vagina (jalan lahir), sehingga janin keluar dari rahim ibu.Kontraksi
menyebabkan serviks membuka secara bertahap (mengalami dilatasi),
menipis dan tertarik sampai hampir menyatu dengan rahim. Perubahan ini
memungkinkan janin bisa lahir. His biasanya mulai dirasakan dalam
waktu 2 minggu (sebelum atau sesudah) tanggal perkiraan persalinan.
Penyebab yang pasti dari mulai timbulnya his tidak diketahui, mungkin
karena pengaruh dari oksitosin (hormon yang dilepaskan oleh kelenjar
hipofisa dan menyebabkan kontraksi rahim selama persalinan). Persalinan
biasanya berlangsung selama tidak lebih dari 12-14 jam (pada kehamilan
pertama) dan pada kehamilan berikutnya cenderung lebih singkat (6-8

11.

jam).
ALINAMIN- F 50 mg berisi Vitamin B1 dan B2 merupakan zat-zat
penting bagi fungsi sistem saraf dan metabolisme karbohidrat. Suplemen
vitamin B1 dan B2 dibutuhkan pada keadaan : Meningkatnya kebutuhan,
seperti pada saat kehamilan dan menyusui pada saat memerlukan banyak
energi, terjadi gangguan penyerapan, seperti pada diare dan gangguan
pencernaan lainnya. Alinamin-F tablet mengandung vitamin B1 dalam

12.

bentuk TTFD (Thiamini TetrahydroFurfuryl Disulfidi hydrochloridum)


Diastasis rekti adalah pemisahan otot rektus abdominis lebih dari 2,5 cm
pada

tepat

setinggi

umbilikus (Noble,

1995)

sebagai

akibat

36

pengaruh hormon terhadap linea alba serta akibat perenggangan mekanis


dinding abdomen. Diastasis rekti abdominalis umumnya terjadi di sekitar
umbilikus, tetapi dapat terjadi di mana saja antara proses Xifoideus dan
tulang kemaluan (pubis). Setelah melahirkan normalnya diastasis rekti
sekitar 5 cm dan akan menjadi 2 cm dan akan kembali normal setelah 6-8

13.

minggu.
Bising usus 12 x/mnt: normal
Bayi harus diberikan ASI. (beri pengetahuan pada ibu cara melakukannya)

14.

dan lihat kenyamanan bayi,


Dipasang kateter di ekstrmitas atas kiri agar memungkinkan pergerakan
lengan kanan, mudah dilihat dan dipalpasi.
Kegunaan RL: memiliki komposisi isotonis yang lebih fisiologis dengan
cairan tubuh, menghasilkan penggantuan elemen kalsium dan potassium,
ion sodium dan khlor yang dihasilkan juga secara fisiologis
STEP 5 (Learning Objective)
1. Apa definisi, klasifikasi, penyebab, patofisiologi, WOC, manifestasi
klinis, pemeriksaan diagnostik, komplikasi dari Sectio Caesarea?
2. Bagaimana asuhan keperawatan Pasien dengan Sectio Caesarea?

37