Anda di halaman 1dari 15

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas Rahmat dan
HidayahNya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Memahami konsep tentang Hope &
Optimism. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Positif.
Kepada dosen kami tercinta Siti Fatimah, S.Pdi, M.Si. yang mengampu mata kuliah
Psikologi Positif, kami ucapkan terima kasih karena telah membimbing dan mengajarkan
salah satu mata kuliah yang penting untuk kami sebagai calon Sarjana Psikologi. Kepada
kelompok 5 terima kasih atas waktu, kerjasama, kekompakan, dan semangat sehingga kita
dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah yang telah kami buat ini bisa bermanfaat serta menambah wawasan
dan pemahaman khususnya mengenai Pemahaman konsep tentang Hope & Optimism.
Amin
Malang, Maret 2015
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manusia sebagai makhluk yang berkembang dan aktif. Berbuat dan bertindak
sesuai dengan adanya faktor-faktor yang datang dari luar dirinya dan juga dari dalam
dirinya. Karena ltu faklor yang ada di dalam din manusia tersebut akan ikut
menentukan perbuatannya (Walgito, 1997). Dalam dirinya, manusia berbuat sesuatu
karena didorong oleh suatu kekuatan yang datang dalam dirinya yang menjadi
pendorong untuk berbuat. Salah satu dorongan yang ada dalam diri manusia itu adalah
berpikir. Seseorang berpikir bila menghadapi permasalahan atau persoalan. Tujuan
berpikir adalah memecahkan masalah tersebut. Karena itu sering dikemukakan bahwa
berpikir itu adalah merupakan aktivitas psikis yang iniensional, berpikir tentang
sesuatu. Dalam pemecahan masalah tersebut orang memungkinkan satu hal yang lain
hingga dapat mendapatkan pemecahannya (Walgito, WV7( Dalam berpikir ini,
seseorang bisa memunculkan suatu optimisme dan harapan dari dalam dirinya.
Seligman (1991) mendeflnisikan sikap optimis ( optimism ) sebagai suatu
sikap yang mengharapkan hasil yang positif dalam menghadapi masalah, dan
berharap untuk mengatasi stress dan tantangan sehari-hari secara efektif. Seligman
(1991) menjelaskan terbentuknya pola pikir optimis tergantung juga pada cara
pandang seseorang pada perasaan dirinya bernilai atau tidak. Perasaan bernilai dan
berarti biasanya tumbuh dari pengakuan oleh lingkungan. Optimisme yang tinggi
yang berasal dari dalam dalam individu dan dukungan yang berupa penghargaan dari
orang-orang tertentu membuat individu merasa dihargai dan berarti. Kebiasaan
berpikir optimis itu bisa dipclajari oleh siapa saja, sebab tidak ada seorang pun yang
ingin menjadi pesimis.
Selain itu, Harapan ( harapan ) berasal dari kata harap yaitu keinginan supaya
sesuatu terjadi atau suatu yang belum terwujud. Manusia tanpa harapan adalah
manusia yang mati sebelum waktu-nya. Bisa jadi, karena harapan adalah sesuatu yang
hendak kita raih dan terpampang dimuka. Maka bila manusia yang hidup tanpa
harapan pada hakekatnya dia sudah mati. Harapan bukanlah sesuatu yang terucap
dimulut saja tetapi juga berangkat dari usaha. Dia adalah ke-cenderungan batin untuk
membuat sebuah rencana aksi, peristiwa, atau sesuatu menjadi lebih bagus.
Sederhananya, harapan membuat kita berpikir untuk melakukan sesuatu yang lebih
baik untuk meraih sesuatu yang lebih baik.

Harapan dan rasa optimis juga memberikan kita kekuatan untuk melawan
setiap hambatan. Seolah kita selalu mendapatkan jalam keluar untuk setiap masalah.
Seolah kita punya kekuatan yang lebih untuk siap menghadapi resiko. Ini kita sebut
sebagai perlawanan. Orang yang hidup tanpa optimisme dan cenderung pasrah pada
realita maka dia cenderung untuk bersikap pasif. Sikap terbaik dalam menghadapi
suatu kendala adalah dengan menganggapnya sebagai tantangan atau peluang,
bukan rintangan atau halangan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian harapan ( harapan ) dan optimisme / rasa optimiis ( Optimism )
?
2. Bagaimana Karakteristik individu yang memiliki harapan dan optimisme tinggi ?
3. Apa dampak psikologis harapan & optimism bagi kesejahteraan ?
4. Bagaimana perbandingan konsep harapan & optimism dari perspektif psikologi
positif dan psikologi islam ?
5. Apa saja contoh penelitiannya dan alat ukur yang digunakan ?
C. TUJUAN
1. Mengetahui

pengertian harapan ( harapan ) dan optimisme / rasa optimiis

( Optimism ) .
2. Mengetahui Karakteristik individu yang memiliki harapan dan optimisme tinggi.
3. Menjelaskan dampak psikologis harapan & optimism bagi kesejahteraan.
4. Menjelaskan

perbandingan konsep harapan

&

optimism dari perspektif

psikologi positif dan psikologi islam.


5. Menjelaskan contoh penelitiannya dan alat ukur yang digunakan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN HARAPAN DAN OPTIMISM
1. Harapan
Penelitian Snyder dan rekan-rekannya memberikan kontribusi terbesar dalam
mengembangkan literatur-literatur tentang harapan (Gilman, Dooley, & Florell, 2006).
Snyder (1994) telah mengembangkan teori dan definisi dari harapan (Westerop,
2002). Snyder (1994) mendefinisikan harapan sebagai mental willpower plus
waypower for goals (p.5). Willpower, in this definition is the driving force to
hopeful thinking (p.6). It is a sense of mental energy that helps move a person
toward a goal. Waypower, the second component in the hope equation, is the mental
capacity used to find a way to reach your goals. It reflects the mental plans or road
maps that guide hopeful thought ( p.8). Berdasarkan definisi harapan di atas, harapan
terdiri dari komponen willpower dan waypower untuk mencapai tujuan (goals).
Kedua komponen tersebut bersifat timbal balik, saling melengkapi dan berkorelasi
positif.
Menurut teori harapan dari Snyder tersebut harapan merefleksikan persepsi
individu terhadap kemampuan untuk mendefinisikan tujuan dengan jelas, berinisiatif
dan mempertahankan motivasi untuk menggunakan berbagai strategi (willpower
thinking), dan mengembangkan strategi yang spesifik untuk mencapai tujuan tersebut
(waypower thinking).
Berdasarkan teori harapan, dapat dipahami bahwa harapan merupakan sesuatu
yang dapat dibentuk dan dapat digunakan sebagai langkah untuk perubahan.
Perubahan yang menguntungkan dapat menyebabkan individu mencapai hidup yang
lebih baik. Setiap individu memiliki kemampuan untuk membentuk harapan karena
mereka memiliki komponen dasar dalam kemampuan kognitif yang diperlukan untuk
menghasilkan pemikiran-pemikiran yang berhubungan dengan harapan. Perubahan
yang

berkaitan

dengan

harapan

tersebut

membutuhkan

pembentukan

dan

pemeliharaan kekuatan pribadi dalam konteks hubungan yang suportif/saling


membantu (Snyder, 1994).
Menurut Linley & Joseph (1994)harapan dapat dipahami sebagai gabungan
dari motivasi intrinsik, self-efficacy pribadi dan harapan akan hasil. Hal-hal yang

berhubungan dengan faktor eksternal tidak termasuk dalam teori harapan tersebut
(misalnya, individu menganggap dirinya pulih dari penyakit kronis karena dirawat
oleh dokter yang kompeten, bukan karena factor dalam dirinya)
2. Optimism
Optimisme adalah suatu rencana atau tindakan untuk menggali yang terbaik
dari diri sendiri, bertanggung jawab penuh atas hidup, membangun cinta kasih dalam
hidup dan menjaga agar antusiasme tetap tinggi (Mc. Ginnis, 1995). Mc. Ginnis
menjelaskan lebih lanjut bahwa seseorang harus mengubah dirinya dari pesimis
menjadi optimis melaiui rencana tindakan dan strategi yang ditetapkan sendiri untuk
menjaga agar dirinya terus termotivasi.
Bersikap optimis mcnurut Vaughan (2002) diartikan sebagai sikap percaya diri
bahwa individu mempunyai kemampuan menghasilkan sesuatu yang baik. Optimisme
sebenarnya adalah kemampuan memperkirakan kebahagian yang mungkin terjadi
berdasarkan reaksi individu terhadap suatu situasi, dengan kata lain, belajar
memandang hidup ini sebagai akibat dari tindakan individu sendiri. Berdasarkan
pendapat beberapa ahli di atas pengerlian optimisme adalah berpikir secara positif dan
mengharapkan hasil yang positif, mempunyai kepercayaan diri, serta berusaha
menggali yang terbaik dalam dirinya sendiri dan mengharapkan hasil yang terbaik
dari suatu situasi.
Dalam buku berjudul Positive Psychological Assesment a Handbook of
Models and Measures (Lopez dan Snyder, 2003), Carver dan Scheier mengatakan
bahwa optimism didasarkan pada harapan seseorang tentang masa depannya. Scheier
and Carver (1985, dalam Snyder, et. al., 1991) mendefinisikan optimisme sebagai
suatu harapan individu secara umum bahwa hal-hal yang baik akan terjadi.Hal ini
menunjukkan bahwa optimisme akan berhubungan dengan model-model nilai harapan
motivasi. Motivasi ini akan berpengaruh pada tingkat optimism seseorang karena
motivasi berisi tentang motif seseorang dan bagaimana motif ini dikeluarkan dalam
kebiasaan orang tersebut. Teori tentang nilai harapan mengasumsikan bahwa
kebiasaan dan sikap seseorang ditujukan pada proses pencapaian target-target hidup
orang tersebut. Dari pendapat ini sangat jelaslah bahwa motivasi seseorang dalam
proses untuk mencapai harapan yang diinginkan sangatlah berpengaruh pada
optimisme orang tersebut. Keyakinan atau rasa percaya diri seseorang dalam

menghadapai tekanan dan masalah akan muncul jika orang tersebut mempunyai
motivasi yang kuat untuk menghadapinya (Lopez and Snyder, 2003).
B. KARAKTERISTIK

INDIVIDU

YANG

MEMILIKI

HARAPAN

DAN

OPTIMISME TINGGI.
a. Aspek-Aspek Optimisme
Aspek-aspek sikap optimisme akan masa depan mengacu pada karakteristik
atau ciri-ciri orang optimis yang dituliskan oleh Seligman (Stein dan Howard, 2000),
meliputi:
1. Orang yang optimis memandang kemunduran dalam hidup sebagai garis
datar sementara dalam sebuah grafik. Memiliki pemikiran terbuka bahwa
masa masa sulit tidak berlangsung selamanya, tetapi hanya bersifat
sementara dan memiliki keyakinan bahwa situasi pasti akan berbalik
membaik. Pada dasarnya memandang kesulitan sebagai kesuksesan yang
tertunda, bukan sebagai kekalahan telak.
2.

Orang optimis cenderung memandang kemalangan sebagai masalah yang


situasional dan spesifik, bukan sebagai wujud petaka yang tidak terelakkan
dan akan berlangsung selamanya.

3.

Orang optimis tidak akan serta merta menimpakan semua kesalahan pada
dirinya sendiri.

b. Karakteristik
Snyder (1994) mengemukakan beberapa karakteristik psikologis individu yang
memiliki harapan tinggi, yaitu:
1.Optimisme
Optimisme diartikan sebagai perasaan memiliki energi mental untuk mencapai
suatu tujuan. Scheier and Carver (1985, dalam Snyder, et. al., 1991) mendefinisikan
optimisme sebagai suatu harapan individu secara umum bahwa hal-hal yang baik akan
terjadi. Penelitian menunjukkan bahwa harapan memiliki korelasi positif dengan
optimisme. Optimisme sendiri berkaitan kuat dengan willpower daripada komponen
waypower
2.Persepsi mengenai Kontrol
Umumnya, individu yang memiliki harapan lebih tinggi menginginkan untuk
menggunakan kontrol pribadi dalam kehidupan mereka. Harapan dapat dikorelasikan
dengan keinginan dalam kontrol, kemampuan untuk menentukan, menyiapkan diri

untuk melakukan antisipasi terhadap stres, kepemimpinan, dan menghindari


ketergantungan. Penelitian menunjukkanbahwa harapan memiliki hubungan yang
positif dengan persepsi seseorang mengenai kontrol. Penelitian lainnya menunjukkan
bahwa individu yang memiliki sumber internal dalam kontrol memiliki harapan
bahwa mereka dapat mengontrol nasib mereka sendiri. Sebaliknya, individu yang
memiliki sumber kontrol eksternal berharap untuk dikontrol oleh kekuatan atau
paksaan yang berasal dari luar dirinya.
3.Persepsi mengenai kemampuan pemecahan masalah
Karena salah satu komponen dari harapan adalah berpikir mengenai
waypower,

maka

harapan

berkaitan

dengan

persepsi

individu

mengenai

kemampuannya untuk menyelesaikan masalah. Kemampuan menyelesaikan masalah


yang berkaitan dengan harapan diperlukan ketika individu mengalami kesulitan untuk
mencapai tujuan. Dalam keadaan tersebut, individu yang memiliki harapan tinggi
cenderung terfokus pada tugas dan mencari berbagai cara alternatif untuk
mendapatkan apa yang mereka inginkan. Individu dengan harapan tinggi telah
mengantisipasi masalah dan memahami bahwa mereka akan mengalami rintangan
pada saat mencapai tujuan.
4.Daya Saing
Daya saing memiliki pengaruh terhadap perbandingan individu dengan orang
lain. Individu yang memiliki harapan tinggi akan memiliki daya saing yang lebih
besar. Individu tersebut menikmati bekerja keras dan memiliki perasaan bahwa
mereka dapat menguasai keadaan fisiknya. Penelitian menunjukkan bahwa individu
dengan harapan tinggi menyukai proses kompetisi karena proses tersebut
menyediakan tantangan yang baru bagi mereka. Dengan kata lain, mereka menikmati
proses daripada hasil yang diperoleh.
5.Self-Esteem
Individu dengan self-esteem tinggi akan memiliki harapan yang tinggi
danterbiasa untuk berpikir mengenai keinginan dan rencana untuk mencapai tujuan.
Individu tersebut akan berpikir positif mengenai diri mereka sendiri karena mereka
memahami bahwa mereka harus mencapai suatu tujuan. Westerop (2002) dalam
penelitiannya mengatakan bahwa remaja yang memiliki harapan lebih tinggi
cenderung memiliki self-esteem yang lebih tinggi juga. Evaluasi positif mengenai diri
mereka sendiri bukan merupakan suatu bentuk kebanggaan. Namun, hal tersebut
merupakan suatu penghargaan terhadap diri sendiri.

6.Afek Positif
Karakteristik yang berkaitan dengan harapan adalah afek positif. Afek positif
merupakan keadaan mental disertai dengan konsentrasi penuh, keterikatan, dan energi
tinggi. Afek positif merupakan suatu cara berpikir dimana pikiran kita tertarik,
senang, kuat, antusias, bangga, siaga, terinspirasi, menentukan, memperhatikan, dan
aktif. Individu dengan harapan tinggi akan terlibat sepenuhnya dan memiliki energi
dalam aktivitas mereka mencapai tujuan. Individu tersebut memiliki keinginan kuat
untuk mencoba berbagai solusi atau jalan untuk mencapai tujuan dengan
menggunakan konsentrasi dan perasaan tertarik mereka. Sebaliknya, afek negatif
merupakan keadaan subyektif yang secara umum bersifat negatif yang berkaitan
dengan kecemasan, kemarahan, ketakutan, dan rasa bersalah. Dalam teori harapan,
individu dengan perasaan marah dan rasa bermusuhan menunjukkan bahwa mereka
percaya mereka telah terhalang untuk mencapai tujuan mereka. Kekurangan pribadi
yang disertai dengan kemarahan pada individu dengan harapan yang rendah
disebabkan karena mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebaliknya,
kemarahan pada individu dengan harapan tinggi muncul karena ketidakmampuan
untuk menghadapi halangan tersebut. Secara umum, individu yang terhalang ketika
mencapai tujuan mereka akan mengalami perasaan marah dan putus asa. Perasaan
bersalah dialami karena individu dengan harapan rendah memiliki harapan untuk
mencapai tujuan, tetapi mereka tidak mampu melakukannya. Perasaan takut berasal
dari fakta bahwa mereka tidak menghadapi atau menghindari hal-hal negatif dalam
kehidupan mereka. Bagi mereka, masa depan merupakan hal yang menakutkan karena
dapat menyebabkan keadaan yang tidak menyenangkan bagi mereka. Emosi negatif
berasal dari evaluasi diri ketika mencoba untuk mencapai tujuan. Persepsi bahwa
mereka tidak memiliki kemampuan menyebabkan mereka terperangkap dalam
lingkaran evaluasi mengenai kekurangan mereka.
7.Tidak Merasakan Kecemasan dan Depresi
Kecemasan merupakan keadaan subyektif dimana individu mengkhawatirkan
kejadian tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki harapan
tinggi memiliki kecemasan yang lebih rendah. Depresi merupakan keadaan negatif
yang meresap dan biasanya tidak memiliki fokus. Individu dengan harapan tinggi
dipenuhi dengan energi mental dan ide-ide mengenai pencapaian tujuan sehingga
membuat mereka terhindar dari depresi. Individu dengan emosi negatif tidak memiliki
willpower dan willpower yang cukup. Namun, pada tingkat depresi yang lebih rendah,

individu memiliki tingkat waypower yang tinggi dengan willpower rendah. Individu
dengan karakteristik ini mengetahui bagaimana cara untuk mendapatkan sesuatu,
tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan perilaku mereka.
C. MENGANALISIS DAMPAK PSIKOLOGIS HARAPAN & OPTIMISM BAGI
KESEJAHTERAAN
Hope & Optimism dapat membantu meningkatkan kesehatan secara
psikologis, memiliki perasaan yang baik, melakukan penyelesaian masalah yang logis,
sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan meningkatkan emosi positif.
Dapat disimpulkan bahwa individu yang optimis akan memiliki kondisi fisik yang
lebih baik dan juga berpengaruh pada kondisi psikologisnya secara langsung maupun
tidak langsung pasti mempengaruhi psikologikal well being
Harapan yang rendah memiliki dampak bagi keseluruhan kehidupan individu.
Tanpa keinginan untuk bertindak dan perencanaan, individu dapat mengalami depresi.
Perasaan depresi tersebut muncul karena individu berpikir bahwa mereka tidak
memiliki kemampuan untuk mendapatkan tujuan mereka. Selain itu, emosi negatif
dapat semakin meningkat jika individu tidak memiliki kemampuan untuk
mendefinisikan tujuan secara jelas. sedangkan individu yang memiliki harapan yang
tinggi menyebabkan individu memperoleh berbagai keuntungan ketika menghadapi
hal yang sulit. Dalam beberapa situasi kehidupan, langkah individu seringkali
dirintangi oleh sesorang atau sesuatu. Namun, individu yang memiliki harapan tinggi
dapat memikirkan jalan alternatif menuju tujuan dan langsung diterapkan pada jalan
yang terlihat lebih efektif.
D. MENGKOMPARASIKAN KONSEP HARAPAN

&

OPTIMISM DARI

PERSPEKTIF PSIKOLOGI POSITIF DAN PSIKOLOGI ISLAM


1. Konsep hope & optimism dari perspektif psikologi positif
Harapan ( hope ) ditampilkan dalam bentuk keyakinan atas apa yang di
kerjakan akan memberikan hasil

yang terbaik,

memiliki gambaran yang jelas

mengenai apa yang hendak dilakukan dan ketika mengalami kegagalan akan berfokus
pada kesempatan lain untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Selain itu menurut teori harapan dari Snyder tersebut harapan merefleksikan
persepsi individu terhadap kemampuan untuk mendefinisikan tujuan dengan jelas,
berinisiatif dan mempertahankan motivasi untuk menggunakan berbagai strategi

(willpower thinking), dan mengembangkan strategi yang spesifik untuk mencapai


tujuan tersebut (waypower thinking). Berdasarkan teori harapan, dapat dipahami
bahwa harapan merupakan sesuatu yang dapat dibentuk dan dapat digunakan sebagai
langkah untuk perubahan. Perubahan yang menguntungkan dapat menyebabkan
individu mencapai hidup yang lebih baik. Setiap individu memiliki kemampuan untuk
membentuk harapan karena mereka memiliki komponen dasar dalam kemampuan
kognitif yang diperlukan untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran yang berhubungan
dengan harapan. Perubahan yang berkaitan dengan harapan tersebut membutuhkan
pembentukan dan pemeliharaan kekuatan pribadi dalam konteks hubungan yang
suportif/saling membantu (Snyder, 1994).
Sedangkan optimis ( optimism ) seringkali mengharapkan hasil positifnya.
Seorang yang optimis berharap untuk mengatasi stres dan tantangan sehari-hari secara
efektif (Scheier dan Carver dalam Matthews dkk, 1999). seorang yang optimis
cenderung percaya bahwa kegagalan hanyalah kemunduran sementara, yang
penyebabnya terbatas pada satu hal. Optimis juga percaya bahwa kegagalan bukanlah
kesalahan individu. Keadaan sekitar, nasib buruk atau orang Iain yang
mempengaruhinya dan jika dihadapkan pada nasib buruk, mereka merasakannya
sebagai tantangan dan akan berusaha keras (Seligman, 1991). Dalam garis besar
Konsep optimisme fokus kepada ekspektasi individu terhadap masa depan. Konsep ini
memiliki ikatan dengan teori psikologi mengenai motivasi, yang disebut dengan
expectancy-value theories, Expectancy-value theories, yaitu teori yang dimulai
dengan ide bahwa perilaku ditujukan untuk pencapaian tujuan (goal) yang dinginkan
(Carver & Scheier, 1998). Beberapa teori juga menyatakan optimisme mempengaruhi
perilaku dan emosi seseorang. Orang yang mempunyai rasa optimis yang besar akan
lebih siap dalam menghadapi masa depannya karena merasa lebih mampu dalam
memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dengan ketekunan dan
kemampuan berpikir dan sikap tidak mudah menyerah maupun putus asa.
2. Konsep harapan & optimism dari perspektif psikologi islam.
Optimis pada persepsi islam lebih suasana hati yang positif, hingga
menyebabkan seorang

menghayati sesuatu selalu dari segi yang baik dan

menyenangkan saja. Optimis juga dapat dikatakan sebagai suatu faham atas segala
sesuatu dari segi yang baik dan

menyenangkan, sikap yang selalu mempunyai

harapan baik dalam segala hal yang berdasarkan keyakinan terhadap segala hal
dengan harapan yang baik. Seseorang yang bersikap optimis melahirkan kepercayaan

diri yang dapat kita gunakan untuk meraih tujuan dalam mengatur diri, tanpa adanya
harapan manusia akan merasa tidak mampu dalam berbuat apa-apa dan cepat frustasi.
Orang yang bersikap optimis akan melihat mengapa sesuatu tidak dapat dilakukan.
Bersikap optimis merupakan suatu sikap manusia yang berfikiran aktif, maju, selalu
kretaif dan berpandang masa depan yang cemerlang. Suatu semangat yang tinggi
dalam bertindak menanggapi sebuah harapan. Sikap optimis menghindarkan manusia
berburuk sangka baik terhadap diri sendiri, lingkungan maupun kepada yang Maha
Kuasa. SIKAP OPTIMIS dijelaskan pada QURAN SURAT AL-INSYIRAH : 5 8.
Hal ini senada dengan pendapat Ramadhina (2007) yang mengemukakan bahwa
apabila individu selalu menghadapi masalah dan kesulitan hidup dengan sikap tenang
maka kehidupannya akan dipenuhi dengan harapan, antusiasme, dan optimisme.
Harapan dalam perspektif Islam, hal itu tentu saja bersinggungan dengan AlQuran dan Hadits sebagai sumber utamanya. Dalam Islam, harapan berasal dari kata
Rajaa Yarjuu Rajaun yang berarti harapan atau berharap. Raja atau harapan yang
dikehendaki oleh Islam adalah harapan yang ditujukan kepada Allah SWT sebagai
satu-satunya Dzat yang berkuasa di muka bumi, untuk mendapatkan ampunan-Nya,
memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta yang
terpenting adalah mengharap rahmat dan keridhaan Allah SWT.
Dalam konsep Islam, seseorang yang berharap untuk mendapatkan ridha dan
rahmat dari Allah SWT serta kebahagiaan di dunia dan akhirat, tentunya akan
berusaha melakukan perbuatan yang dapat mewujudkan harapannya tersebut. Namun
jika seseorang itu hanya berharap saja tanpa mau berusaha, maka hal itu disebut
berangan-angan pada suatu hal yang mustahil untuk diwujudkan, atau dalam istilah
bahasa Arabnya Tamanni (berangan-angan). Karena itu, seseorang yang berharap
tersebut juga tidak diperbolehkan untuk berputus asa jikalau apa yang diharapkannya
masih belum tercapai. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Quranul
Karim,
(87 : ). ,
...dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnyayang
berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir. (QS. Yusuf:
87)
Dalam ayat di atas juga secara jelas dapat dilihat bahwa harapan itu
berbanding lurus dengan keimanan, apabila ada iman maka ada harapan, begitu pun
sebaliknya, jika tidak ada iman maka tidak akan ada harapan. Dalam Islam, harapan

tidak hanya terpaku milik orang tertentu saja, tapi juga menjadi milik semua manusia
(Zulaiha).
Bagi seorang Muslim, harapan yang terbangun dalam dirinya untuk mencapai
cita-cita bersumber dari hati nurani, ditimbang dengan akal, serta disandarkan kepada
Sang pemberi Harapan, Allah SWT. Bukan hanya yang berasal dari angan-angan saja.
Harapan itu tidak lantas didiamkan begitu saja tanpa ada upaya untuk bekerja keras
melakukan hal yang bisa mewujudkan harapan. Usaha atau kerja keras menjadi jalan
dari tercapainya tujuan atau harapan itu. Allah SWT juga secara jelas mengatakan
dalam firman-Nya di Surah Al-Insyirah pada dua ayat terakhirnya,
Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah
hendaknya kamu berharap. (QS. Al-Insyirah: 7-8)
Hidayatullah, Ahmad dkk. Tanpa tahun. Makalah Agam Islam : Berperilaku
dengan Sifat-sifat Terpuji Taubat dan Raja. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta.
E. MEMBERIKAN

CONTOH

PENELITIAN

DAN ALAT UKUR YANG

DIGUNAKAN
Contoh penelitian :
Penelitian tentang pencarian hubungan psychological capital dengan kepuasan
kerja pada anggota polri yang sedang mengikuti pendidikan di perguruan tinggi ilmu
kepolisian (PTIK). PsyCap sendiri merupakan keadaan positif psikologis seseorang
yang berkembang dan terdiri dari karakteristik adanya kepercayaan diri (self efficacy)
dalam semua tugas, optimisme, harapan (hope), serta kemampuan untuk bertahan dan
maju ketika dihadapkan pada sebuah masalah (resiliency) (Luthans, Youssef, &
Avolio, 2007). Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik hubungan antara
PsyCap dengan kepuasan kerja pada anggota Polri yang sedang mengikuti pendidikan
di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK)?
Penelitian ini bersifat cross-sectional dimana hanya terjadi satu kali kontak
dengan populasi dalam penelitian (Kumar, 2005). Penelitian juga bersifat non
eksperimental karena tidak memberikan manipulasi atau perlakuan tertentu terhadap
subjek penelitian (Kerlinger & Lee, 2000). Berdasarkan ada tidaknya manipulasi dan
setting yang terkontrol atau tidak, maka penelitian ini masuk ke dalam tipe penelitian
ex-post facto field study, dimana tidak dilakukan manipulasi dan dilakukan pada

lingkungan sehari-hari tanpa adanya kontrol terlebih dahulu (Seniati, Yulianto, &
Setiadi, 2005).
Partisipan minimal telah bekerja selama 5 tahun di dalam organisasinya
(Polri), sebagai syarat untuk mengikuti pendidikan lanjutan ini. Jumlah partisipan
yang diinginkan sebanyak dua angkatan aktif yang sedang mengikuti pendidikan di
PTIK. Teknik pengambilan sampel pada penelitian menggunakan teknik nonprobability sampling, dimana tidak dilakukan randomisasi dalam pemilihan subjek
penelitian (Kerlinger & Lee, 2000). Teknik pengambilan sampel sendiri menggunakan
teknik purposive sampling, yaitu mencari subjek berdasarkan karakteristik yang
menurut peneliti memiliki informasi yang dibutuhkan dan bersedia untuk
membaginya (Kumar, 2005). Penelitian ini menggunakan try-out terpakai,
Penggunaan try-out terpakai digunakan karena adanya keterbatasan dan ketersediaan
populasi yang menjadi partisipan dalam penelitian untuk diambil datanya.
Untuk mengukur PsyCap pada subjek penelitian, digunakan alat ukur
Psychological Capital Questionnaire (PCQ). Alat ini menggunakan bahasa Inggris
kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Alat terdiri dari 24 item, yang terdiri
dari empat dimensi yang terdapat dalam PsyCap, yaitu self-efficacy, harapan,
resiliency, dan optimism. Selanjutnya untuk mengukur tingkat kepuasan kerja pada
subjek penelitian, digunakan alat ukur JSS (Job Satisfaction Survey) dari Spector,
yang terdiri dari 36 item, yang kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Alat
ukur ini memiliki pendekatan faset (aspek) dari kepuasan kerja, yang terdiri dari 9
faset,

yaitu:

faset

gaji,

kesempatan

promosi,

atasan,

fringe

benefits

(tunjangantunjangan yang didapat dalam pekerjaan di luar gaji), contingent rewards


(rewards yang didapat jika memiliki performa yang baik), kondisi perusahaan
(peraturan dan prosedur), rekan kerja, nature of work (tipe pekerjaan), serta
komunikasi dalam organisasi. Untuk pemberian makna nilai pada alat ukur ini, secara
umum norma yang akan digunakan adalah within group norms, dimana pemaknaan
nilai yang didapat oleh individu dibandingkan dengan keseluruhan nilai dari
kelompok acuannya (Anastasi & Urbina, 1997).
Untuk melihat bagaimana gambaran PsyCap dan kepuasan kerja pada anggota
Polri, digunakan teknik statistika deskriptif untuk melihat bagaimana tingkat tiap
dimensi dari konstruk pada anggota Polri. Teknik statistika korelatif menggunakan
Pearson Correlation, yang merupakan standar teknik korelasi yang baik dan yang

sering digunakan untuk mendapatkan koefisien korelasi (Guilford, 1956; Anastasi &
Urbina, 1997).

F. Daftar Pustaka
Yunita Sari, Vivi dan Syifaa Rachmahana, Ratna, 2007, Hubungan Antara
Optimisme Dengan Problem Focused Coping Pada Mahasiswa Pengambil
Skripsi.
Valentino, Rocky dan Indahria,Rr., 2007, Hubungan Antara Optimisme Akan
Masa Depan Dengan Motivasi Berprestasi Pada Mahasiswa Fakultas
Kedokteran Uii
Hedissa, Aldia Thirzady. Sukirman, Iman. Supandi, Andi.Vol 1.No1, Juni 2012.
Hubungan Psychological Capital Dengan Kepuasan Kerja Pada Anggota
Polri Yang Sedang Mengikuti Pendidikan Di Perguruan Tinggi Ilmu
Kepolisian (PTIK)
Rahman, Basuki, 2004, Konsep Sabar dalam Islam dan Implikasinya
terhadapPencegahan Stress

Makalah
Hope & Optimism
Mata kuliah Psikologi Positif

Oleh :
Duhita Sari

NIM 201310230311359

Dwi Januar W.B

NIM 201310230311391

Azza Febria N.

NIM 201310230311394

Rima Nur S.

NIM 201310230311410

Yogia Galih A.

NIM 201310230311419

Psikologi 4 G

Fakultas Psikologi
Universitas Muhammadiyah Malang