Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU HAMA TANAMAN


Rearing (PerbanyakanSerangga)

Disusunoleh :
Nama

:Gerald Kevin B.H

NIM

:135040200111226

Kelompok : Senin (13.00)

JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

BAB III

METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan

Alat:
Bahan
-

Toples plastic
Kuas gambar
Kain kasa
Lup
Timbangan
Hand sprayer

: sebagai wadah beras dan imago Sitophilus oryzae


: untuk mengambil imago Tribolium spp
: sebagai penutup toples
: untuk mengamati imago Trinolium sp
: untuk menimbang bobot beras
: untuk menyemprotkan alcohol

20 imago Triboium
250 gr tepung
Alcohol
Tissue

: sebagai manifestasi
: sebagai bahan pakan Tribolium sp
: untuk bahan sterilisasi toples
: untuk alat pembersih

3.2 Cara Kerja


Menyiapkan alat dan bahan
sterilkan toples yang akan digunakan dengan alkohol
timbang beras 250 gr dan Masukkan beras ke dalam toples
Infestasi 20 Tribolium ke dalam toples berisi beras dan tutup dengan kain kasa
Setelah 7 hari infestasi, 20 imago Tribolium diambil dari toples
tepung yang terdapat telur ditunggu hingga menetas menjadi imago
Setiap 7 hari selama 4 minggu, julah telur, larva, pupa dan imago dihitung
hasil dicatat dalam tabel pengamatan
setelah 4 minggu beras ditimbang kembali
Siapkan alat dan bahan yang digunakan seperti toples, beras, kain kasa, imago
Tribolium dan alcohol. Sterilkan toples dengan alcohol dengan kapas. Timbang tepung
sebesar 250 gr dan masukkan beras ke dalam toples yang sudah disterilkan. Sebagai
infestasi, masukkan imago Tribolium sebanyak 20 ekor. Untuk memudahkan
pengambilan, dapat menggunakan kapas. Tutup toples dengan kasa agar imago

Tribolium sp dapat bernafas. Tepung digunakan sebagai pakan alami Tribolium sp.
Setiap 7 hari selama 4 minggu, lakukan pengamatan untuk menghitung jumlah telur,
larva, pupa dan imago dari Tribolium sp. Catat dalam table. Pada penngamatan minggu
terakhir, timbang kembali bobot terakhir beras.

3.3 Analisis Perlakuan


Dalam praktikum rearing dilakukan perlakuan yaitu menginfestasikan imago
Tribolium sp ke dalam toples yang berisi beras jatah sebagai pakan alaminya. Infestasi
ini bertujuan untuk mengetahui teknik perbanyakan serangga dan pemeliharaan
serangga, serta untuk mengetahui perkembangan dari siklus hidupnya. Selain itu,
perlakuan tersebut dilakukan guna mengetahui seberapa besar jenis ketahanan beras
varietas padi yang digunakan sebagai bahan pakan dari imago Tribolium sp.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Tabel Hasil Pengamatan Sitophilus oryzae

Stadia Serangga
Telur
Larva
Pupa
Imago baru yang hidup
Imago mati
4.2

Lama Per Stadia (hari)


Tidak ditemukan
16
15
204
8

Hasil Pengamatan dengan Litelatur


Berdasarkan tabel pengamatan, dari jumlah imago awal 20 serangga Tribolium

sp menghasilkan 16 larva, 15 pupa, serta 204 imago baru. Pada pengamatan tidak
ditemukan telur dalam pengamatan, yang dimungkinkan telur tersebut sudah menetas
menjadi larva. Lamanya penyimpanan aerta jumlah makanan yang tersedia berbanding
lurus dengan banyaknya jumlah telur atau imago yang dihasilkan (Dharmaputra.2004).
Tribolium sp khusunya Tribolium castaneum memiliki tingkat keperidian yang tinggi.
Pada waktu 1 bulan sejak dilakukan infestasi dapat memiliki telur hingga dua kali lipat
dari jumlah awal serangga.

4.3

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Siklus Hidup Serangga


Menurut Jumar (2000), menyatakan perkembangan serangga di alam

dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor dalam yang dimiliki serangga itu sendiri dan
faktor luar yang berda di lingkungan sekitarnya. Tinggi rendahnya populasi suatu jenis
serangga pada suatu waktu merupakan hasil antara kedua fakor tersebut:

4.3.1 Faktor Dalam


a. Kemampuan berkembang biak
Kemampuan berkembang biak suatu jenis serangga dipengaruhi oleh kepiridian dan
fekunditas serta waktu perkembangan (kecepatan berkembang biak). Kepiridian
(natalis) adalah besarnya kemampuan suatu jenis serangga untuk melahirkan keturunan
baru. Serangga umunya memiliki kepiridinan yang cukup tinggi. Sedangkan fekunditas
(kesuburan) adalah kemampuannya untuk memproduksi telur. Lebih banyak jumlah
telur yang dihasilkan oleh suatu jenis serangga, maka lebih tinggi kemampuan

berkembang biaknya. Biasanya semakin kecil ukuran serangga, semakin besar


kepiridinannya (Jumar, 2000).
b. Perbandingan Kelamin
Perbandingan kelamin adalah perbandingan antara jumlah individu jantan dan betina
yang diturunkan oleh serangga betina. Perbandingan kelamin ini umumnya adalah 1:1,
akan tetapi karena pengaruh-pengaruh tertentu, baik faktor dalam maupun faktor luar
seperti keadaan musim dan kepadatan populasi maka perbandingan kelamin ini dapat
berubah (Jumar, 2000).
c. Sifat Mempertahankan Diri
Seperti halnya hewan lain, serangga dapat diserang oleh berbagai musuh. Untuk
mempertahankan

hidup,

serangga

memiliki

alat

atau

kemampuan

untuk

mempertahankan dan melindungi dirinya dari serangan musuh. Kebanyakan serangga


akan berusaha lari bila diserang musuhnya dengan cara terbang, lari, meloncat,
berenang atau menyelam. Sejumlah serangga berpura-pura mati bila diganggu.
Beberapa serangga lain menggunakan tipe pertahanan perang kimiawi, seperti
mengeluarkan racun atau bau untuk menghindari musuhnya. Beberapa serangga
melakukan mimikri untuk menakut-nakuti atau mengelabui musuhnya. Mimikri terjadi
apabila suatu spesies serangga mimiknya menyerupai spesies serangga lain (model)
yang dijauhi atau dihindari sehingga mendapatkan proteksi sebab terkondisi sebelumnya
serupa predator (Jumar, 2000).
d. Siklus Hidup
Siklus hidup adalah suatu rangkaian berbagai stadia yang terjadi pada seekor serangga
selama pertumbuhannya, sejak dari telur sampai menjadi imago (dewasa). Pada
serangga-serangga yang bermetamorfosis sempurna (holometabola), rangkaian stadia
dalam siklus hidupnya terdiri atas telur, larva, pupa dan imago. Misalnya pada
kupukupu (Lepidoptera), kumbang (Coleoptera), dan lalat (Diptera). Rangkaian stadia
dimulai dari telur, nimfa, dan imago ditemui pada serangga dengan metamorfosis
bertingkat (paurometabola), seperti belalang (Orthoptera), kepik (Hemiptera), dan
sikada (homoptera) (Jumar, 2000).
e. Umur Imago

Serangga umumnya memiliki umur imago yang pendek. Ada yang beberapa hari,akan
tetapi ada juga yang sampai beberapa bulan. Misalnya umur imago Nilavarpata lugens
(Homoptera; Delphacidae) 10 hari, umur imago kepik Helopeltis theivora (Hemiptera;
Miridae) 5-10 hari, umur Agrotis ipsilon (Lepidoptera; Noctuidae) sekitar 20 hari,
ngengat Lamprosema indicata (Lepidoptera; Pyralidae) 5-9 hari, dan kumbang betina
Sitophillus oryzae (Coleoptera; Curculinoidae) 3-5 bulan (Jumar, 2000).
2.5.2 Faktor Luar
a. Suhu dan Kisaran Suhu
Serangga memiliki kisaran suhu tertentu dimana dia dapat hidup. Diluar kisaran suhu
tersebut serangga akan mati kedinginan atau kepanasan. Pengaruh suhu ini jelas terlihat
pada proses fisiologi serangga. Pada waktu tertentu aktivitas serangga tinggi, akan tetapi
pada suhu yang lain akan berkurang (menurun). Pada umunya kisaran suhu yang efektif
adalah suhu minimum 150C, suhu optimum 250C dan suhu maksimum 450C. Pada
suhu yang optimum kemampuan serangga untuk melahirkan keturunan besar dan
kematian (mortalitas) sebelum batas umur akan sedikit (Jumar, 2000).
b. Kelembaban/Hujan
Kelembaban yang dimaksud dalam bahasan ini adalah kelembaban tanah, udara, dan
tempat hidup serangga di mana merupakan faktor penting yang mempengaruhi
distribusi, kegiatan, dan perkembangan serangga. Dalam kelembaban yang sesuai
serangga biasanya lebih tahan terhadap suhu ekstrem. Pada umumnya serangga lebih
tahan terhadap terlalu banyak air, bahkan beberapa serangga yang bukan serangga air
dapat tersebar karena hanyut bersama air. Akan tetapi, jika kebanyakan air seperti banjir
da hujan deras merupakan bahaya bagi beberapa jenis serangga. Sebagai contoh dapat
disebutkan, misalnya hujan deras dapat mematikan kupu-kupu yang beterbangan dan
menghanyutkan larva atau nimfa serangga yang baru menetas (Jumar, 2000).
c. Cahaya/Warna/Bau
Beberapa aktivitas serangga dipengaruhi oleh responnya terdahap cahaya, sehingga
timbul jenis serangga yang aktif pada pagi hari, siang, sore atau malam hari. Cahaya
matahari dapat mempengaruhi aktivitas dan distribusi lokalnya. Serangga ada yang
bersifat diurnal, yakni yang aktif pada siang hari mengunjungi beberapa bunga,

meletakkan telur atau makan pada bagian-bagian tanaman dan lain-lain. Seperti contoh
Leptocorixa acuta. Selain itu serangga-serangga yang aktif dimalam hari dinamakan
bersifat nokturnal, misalnya Spodoptera litura. Sejumlah serangga juga ada yang tertarik
terhadap cahaya lampu atau api, seperti Scirpophaga innotata. Selain tertarik terhadap
cahaya, ditemukan juga serangga yang tertarik oleh suatu warna sepeti warna kuning
dan hijau. Sesungguhnya serangga memiliki preferensi (kesukaan) tersendiri terhadap
warna dan bau (Jumar, 2000).
d. Angin
Angin berperan dalam membantu penyebaran serangga, terutama bagi serangga yang
berukuran kecil. Misalnya Apid (Homoptera; Aphididae) dapat terbang terbawa oleh
angin sampai sejauh 1.300 km. Kutu loncat lamtoro, Heteropsylla cubana (Homoptera;
Psyllidae) dapat menyebar dari satu tempat ke tempat lain dengan bantuan angin. Selain
itu, angin juga mempengaruhi kandungan air dalam tubuh serangga, karena angin
mempercepat penguapan dan penyebaran udara (Jumar, 2000).
e. Faktor Makanan
Kita mengetahui bahwa makanan merupakan sumber gizi yang dipergunakan oleh
serangga untuk hidup dan berkembang. Jika makanan tersedia dengan kualitas yang
cocok dan kuantitas yang cukup, maka populasi serangga akan naik cepat. Sebaliknya,
jika keadaan makanan kurang maka populasi serangga juga akan menurun. Pengaruh
jenis makanan, kandungan air dalam makanan dan besarnya butiran material juga
berpengaruh terhadap perkembangan suatu jenis serangga hama. Dalam hubungannya
dengan makanan, masing-masing jenis serangga memiliki kisaran makanan (inang) dari
satu sampai banyak makanan (inang) (Jumar, 2000).
f. Faktor Hayati
Faktor hayati adalah faktor-fakor hidup yang ada di lingkungan yang dapat berupa
serangga, binatang lainnya, bakteri, jamur, virus dan lain-lain. Organisme tersebut dapat
mengganggu atau menghambat perkembangan biakan serangga, karena membunuh atau
menekannya, memarasit atau menjadi penyakit atau karena bersaing (berkompetisi)
dalam mencari makanan atau berkompetisi dalam gerak ruang hidup (Jumar, 2000).

BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan
dari Sitophilus oryzae yang diinvestasi tetap masih bisa berkembang dan mengalami
kenaikan serta tidak banyak mengalami pengurangan dari jumlah imago populasi awal.
Hal ini mengindikasikan bahwa Sitophilus oryzae memiliki potensi berkembangbiak
yang positif dengan kecenderungan populasi meningkat pada setiap generasi. Harapan
hidup telur lebih besar dari larva dan pupa. Hal ini disebabkan karena telur belum

banyak terkontaminasi dengan factor luar yang masih terbungkus dengan kulit telur
yang keras dan belum beraktivitas.

DAFTAR PUSTAKA
Borror, D. J., C. A. Triplehorn & N. F. Johnson. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga.
Ed. 6. Penerjemah: S. Partosoedjono. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Kartasapoetra. 1990. Hama Hasil Tanaman Dalam Gudang. Jakarta : PT RINKA
CIPTA
Kartasapoetra. 1991. Hama Hasil Tanaman Dalam Gudang. Jakarta: PT RINKACIPTA.

Mangundiharjo, S. 1978. Hama-hama Tanaman Pertanian Di Indonesia Jilid II (pada


bahan dalam simpanan). Yayasan Pembina Fakultas Pertanian Universitas
Gadjah Mada. Yoyjakarta.
Manuke, J., dkk. 2012. Tabel Hidup Sitophilus oryzae (Coleoptera: Curculionidae)
pada Beras. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian
Universitas Sam Ratulangi: Manado.