Anda di halaman 1dari 21

TUGAS MAKALAH KONSELING AGAMA

PERILAKU BERAGAMA MENURUT BEHAVIORISTIK

Di Susun Oleh :
1. Midha Azmilatul Ulfa

(1114500090)

2. Febi Yanuanto

(1114500120)

Kelas

: BK IVC

YAYASAN PENDIDIKAN PANCASAKTI TEGAL

UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
Jalan Halmahera KM. 1 (0283) 357122
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan

makalah

yang

berjudul

Perilaku

Beragama

Menurut

Behavioristik. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi syarat nilai


mata kuliah Konseling Agama. Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan
dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, baik menyangkut isi
maupun penulisan. Hanya dengan kearifan dan bantuan dari berbagai pihak untuk
memberikan kritik dan saran maka kekurangan-kekurangan tersebut dapat
diperkecil. Namun dalam penulisan makalah ini ada sepercik harapan semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, serta diridhai oleh Allah SWT
amin.
Atas perhatiannya penulis ucapkan terima kasih.

Tegal, 28 Maret 2016

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i


KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Behavioristik ............................................................................... 3
2.2 Pengertian Perilaku Beragama ...................................................................... 4
2.3 Pandangan Islam terhadap Aliran Behaviorisme (lingkungan) .................... 5
2.4 Pokok-Pokok Teori Pengkondisian ............................................................... 9
2.5 Pendapat Rolston Tentang Behaviorisme .................................................... 11
BAB IV PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 16
3.2 Saran ............................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 17

DAFTAR ISI

Halaman Judul..................................................................................................... i
Kata Pengantar .................................................................................................... ii
Daftar Isi.............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang .......................................................................................... 1
2. Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
3. Tujuan Masalah ......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
1. Pengertian Post Power Syndrome ............................................................. 3
2. Orang Yang Rentan Terkena Post Power Syndrome ................................ 9
3. Terjadinya Post Power Syndrome ............................................................. 11
4. Waktu Terjadinya Post Power Syndrome ................................................. 16
5. Cara Mengatasi dan Mencegah Post Power Syndrome............................. 24
BAB III KESIMPULAN
1. Kesimpulan ............................................................................................... 42
2. Saran.......................................................................................................... 42
Daftar Pustaka ........................................................................................... 43
Lampiran ................................................................................................... 45

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Aliran yang paling keras menantang psikoanalisa atas prilaku manusia dan
menekankan pada metode yang lebih objektif adalah madzhab yang biasa disebut
Behaviorisme (perilaku). Mereka yang bekerja dibawah label Behavioris tidak
memiliki metode yang sama, namun mereka memiliki pandangan yang sama
tentang hakikat manusia dan tujuan psikologi. Semua yang tergabung dalam aliran
Behaviorisme sependirian dengan kecurigaan mereka terhadap kesadaran
(consciousness) sebagai pegangan pengertian yang berguna dan melepaskan acuan
budi, psike, atau jiwa. Manusia didorong untuk berbuat oleh kekuatan-kekuatan
yang ada didalam lingkungannya, dan menggapainya sebagai makhluk fisiologi.
Dibawah naungan Behaviorisme terdapat banyak ahli Psikologi yang
menekankan bahwa Psikologi sebagai ilmu sosial perlu memurnikan metodenya
dengan belajar langsung dari ilmu-ilmu sejenisnya dan juga pengamatan,
peramalan, serta pengendalian perilaku manusia, sehingga dengan demikian
menjadi lebih empiris dan eksperimental dalam analisisnya terhadap perilaku
manusia. Para ahli psikologi ini diantaranya yaitu: J.B. Watson, B.F. Skinner,
Pavlov, William Sargant. Untuk lebih memahami Beragama Dalam Perspektif
Behaviourisme kelompok kami akan mempresentasikannya.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa itu behavioristik?
2. Apa itu perilaku beragama?
3. Bagaimana aliran behaviorisme dalam pandangan islam?
4. Apa saja pokok-pokok teori pengkondisian?
5. Bagaimana pendapat rolston tentang behaviorisme?

1.3. Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui pengertian behavioristik.
2. Untuk mengetahui pengertian perilaku beragama.
3. Untuk mengetahui aliran behavioristik dalam pandangan islam.
4. Untuk mengetahui pokok-pokok teori pengkondisian.
5. Untuk mengetahui pendapat rolston tentang behaviorisme.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Behavioristik


Psikologi Behavioristik adalah aliran psikologi yang menekankan teorinya
pada perubahan tingkah laku manusia. Psikologi behavioristik menolak struktur
kejiwaan manusia yang relative dan menetap. Manusia dilahirkan bukan
ditentukan menurut hukum deterministik (jabar), yang diprogram seperti mesin
atau robot, tetapi dilahirkan dalam kondisi kosong atau netral.
John B. Watson adalah seorang ahli psikologi Amerika yang pada awal
abad

ke-20

mulai

memperkenalkan

gerakan

Behaviourisme,

sejak

itu

Behaviuorisme telah dikenal dengan analisis perilakunya dengan mengembangkan


teknik-teknik guna mengamati perilaku dalam lingkungan yang dikendalikan
untuk mengukur tanggapan, dan untuk meramal pola perilaku selanjutnya.
Dengan menggunakan prosedur, misalnya seperti percobaan atau eksperimen
yang dikendalikan, analisis faktor, studi korelasi, analisis isi, dan pengukuran
tepat mengenai tanggapan neurologis dengan menggunakan satu atau lebih teknikteknik yang dipakai untuk pengamatan, cara itu adalah produk madzhab ini.
Behaviorisme amat mendalam dan berakar dalam psikologi Amerika, sehingga
madzhab ini paling berpengaruh luas.
Tidak mengherankan jika Behaviorisme tidak memberi perhatian banyak
kepada agama, hal ini dikarenakan pengandaian mereka bahwa perilaku
keagamaan adalah sama halnya dengan segala perilaku lain, yang merupakan
akibat dari proses tanggapan fisiologis manusia. Meskipun demikian madzhab
Behaviorisme penting bagi pengembangan psikologi agama yang komprehensif,
alasan pertama karena, perilaku keagamaan kadang-kadang ditafsirkan dari sudut
pandangnya.
kedua, karena Behaviorisme memiliki pengandaian tentnag manusia yang berat
bernada teologis. Melalui cipta (reason) orang dapat menilai membandingkan dan

memutuskan suatu tindakan terhadap stimulus tertentu. Perasaan intelek ini dalam
agama merupakan suatu kenyataan yang dapat dilihat, terlebih dalam agama
modern, peranan dan fungsi reason ini sangat menentukan.
Kaum Behavioris terdahulu seperti Watson, percaya bahwa perilaku
manusia ditentukan oleh pengaruh lingkungan. Teori Behavioral bersifat
deterministik, reduksionistik, atomistik, matrealistik, dan mekanistik; dalam artian
bahwa perilaku manusia dapat dijelaskan atau direduksi menjadi hubungan
stimulus-respons dan bahwa yang dianggap nyata hanyalah perilaku yang dapat
diamati.
Menurut Skinner, keyakinan manusia terhadap suatu agama dan upacara
ritual untuk mengagungkan Tuhan merupakan tingkah laku tahayul dari burung
dara yang kelaparan yang terus menerus mengulangi gerakan khusus berdasarkan
sistem penguatan (reinforcement). Uraian ini menunjukkan bahwa paham Skinner
anti terhadap agama. Kedua, dinamika struktur kepribadian manusia disamakan
dengan dinamika hewan. Padahal tingkah laku hewan itu sangat jauh berbeda
dengan tingkah laku manusia, baik dilihat dari sisi asumsi maupun makna tingkah
laku yang diperbuat. Ketiga, teori strukturnya diasumsikan dari konsep manusia
yang netral, tidak memiliki potensi bawaan apapun. Keempat, manusia
diibaratkan robot yang selalu diprogram secara deterministik. Teori inilah yang
mendapat kritikan dari Psiko-humanistik bahwa teori Psiko-behavioristik
memandang manusia sebagai suatu mesin, yaitu sistem kompleks yang bertingkah
laku menurut cara yang sesuai dengan hukum.

2.2. Pengertian Perilaku Beragama


Perilaku (behavior) adalah segala tindakan yang dilakukan oleh
organisme. Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsang atau
lingkungan. Menurut Hasan Langgulung dalam bukunya beberapa pemikiran
tentang pendidikan Islam mengatakan bahwa tingkah laku adalah segala aktivitas
seseorang yang dapat diamati.
Beragama berasal dari dasar kata agama dan berasal dari bahasa
Sansekerta, yaitu dari akar kata a yang berarti tidak, dan gama berarti kacau atau
kocar-kacir. Dengan demikian agama dapat berarti tidak kacau atau tidak kocar-

kacir. Pengertian serupa ini tampak sejalan dengan akal, karena dilihat dari segi
peranan yang dimainkannya, agama dapat memberikan pedoman hidup bagi
manusia agar memperoleh ketentraman, keterarutan, kedamaian dan jauh dari
kekacauan dalam hidupnya.
Menurut Ahmad Tafsir, beragama adalah masalah sikap. Di dalam Islam,
sikap beragama itu intinya adalah iman. Jadi yang dimaksud beragama pada
intinya adalah beriman. Jiwa beragama atau perilaku beragama merujuk kepada
aspek rohaniah individu yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah yang
merefleksikan

ke

dalam

peribadatan

kepada-Nya,

baik

yang

bersifat

hablumminallah maupun hablumminannas.


Dengan demikian perilaku beragama adalah segala aktivitas yang
dilakukan oleh seseorang yang berkaitan dengan kepercayaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian
dengan kepercayaan itu. Dengan kata lain, tingkah laku atas norma-norma, nilai
atau ajaran dan doktrin-doktrin agama yang dianutnya. Dalam ajaran Islam ,
perilaku agama merupakan perilaku yang didasarkan atas nilai-nilai agama Islam,
baik yang bersifat vertikal maupun yang bersifat horizontal.
Keberagamaan atau religiusitas diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan
manusia. Aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan
perilaku ritual (beribadah), tetapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang
didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya yang berkaitan dengan
aktivitas yang tampak dan dapat dilihat mata, tapi juga aktivitas yang tak tampak
dan terjadi dalam hati seseorang.

2.3.Pandangan Islam terhadap Aliran Behaviorisme (lingkungan)


Behaviorisme ini memandang bahwa terbentuknya perilaku manusia atas
dasar konsep stimulus respons yang berarti perilaku manusia sangat terkondisi
oleh lingkungan. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia yang
buruk, sebaliknya lingkungan yang baik menghasilkan manusia yang baik. Selain
itu aliran behaviourisme memandang bahwa perilaku manusia terbentuk karena
adanya pengaruh dari reinforcement. Dalam hal ini tidak diperbincangkan adanya
makna perilaku baik dan buruk, kecuali hasil dari reinforcement sebagai penguat

positif atau negatif. Konsep benar dan salah tidak diperhitungkan dalam kajian
tentang perilaku manusia.
Perilaku manusia mengikuti hukum sebab-akibat, di mana sebab-sebab itu
sendiri dapat dikontrol dan diciptakan. Para ahli aliran behaviouristik berhasil
menemukan kaidah-kaidah belajar yang melandasi perubahan perilaku. Hal ini
dapat dijadikan acuan dalam kegiatan pendidikan, psikoterapi, dan lain-lain.
Kaidah dan hukum belajar ini dapat dianggap sebagai keunggulan dari aliran
behavioristik dalam menelaah konsep manusia dikaitkan dengan salah satu
fenomena sunnatulah, yaitu bahwa manusia manusia dapat mengubah nasib
dirinya. Petun juk Tuhan bagi mereka yang ingin mengubah nasib dirinya
tentunya dapat menggunakan metode dan teknik belajar dengan memanfaatkan
temuan-temuan aliran behavioristik.
Harus diakui bahwa lingkungan sedikit - banyak dapat mempengaruhi
perilaku manusia, hal tersebut sebagaimana sabda Rasulallah saw :
Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang
menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan
yang dilahirkan oleh hewan, apakah kalian melihat pada anaknya ada yang
terpotong telinganya?(H.R Bukhari).
Berdasarkan pemahaman hadits tersebut di atas, ada hal yang dinafikan
oleh aliran behaviorisme, yakni fitrah (potensi) yang ada pada tiap individu.
Kenyataanya, manusia lahir dengan potensi ciri khasnya sendiri yang berbeda
antara yang satu dengan yang lain, dan inilah yang dilupakan oleh kaum
behavioris. Hasan Langgulung mengartikan fitrah tersebut sebagai potensi-potensi
yang dimiliki manusia. Potensi-potensi tersebut merupakan suatu keterpaduan
yang tersimpul dalam Asmaul Husna. Batasan tersebut memberikn arti, misalnya
sifat Allah Al-Ilmu maha mengetahui maka manusia pun memiliki potensi
untuk bersifat mengetahui dan begitu juga semuanya. Akan tetapi kemampuan
manusia tentu saja berbeda dengan Allah. Hal ini disebabkan karena berbeda
hakikat diantara keduanya. Allah memilki sifat kemaha sempurnaan sedangkan
manusia memiliki sifat keterbatasan. Keterbatasan itulah yang menyebabkan
manusia membutuhkan pertolongan dan bantuan untuk memenuhi segala
kebutuhan. Keadaan ini menyadarkan manusia tentang ke-Esaan Allah, sehingga

10

inilah letak fitrah beragama manusia sebagai manifestasi memenuhi kebutuhan


rohaniahnya.
Kritik yang dapat disampaikan adalah adanya kecenderungannya untuk
mereduksi nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini terlihat cara kaum behavioris
memperlakukan seorang anak. Mereka beranggapan bahwa seorang anak
berperilaku (memberikan respon) sesuai dengan stimulus yang diberikan. Ini
bararti dianggap sebagai sebuah mesin sehingga teorinya bersifat mekanistis.
Menurut Ibn Taimiyah sebagaimana disitir Juhaja S. Praja pada diri manusia juga
memiliki setidaknya tiga potensi fitrah yaitu:
Daya

intelektual

(quwwat

al-al-aql)

yaitu

potensi

dasar

yang

memungkinkan manusia dapat membedakan nilai intelektualnya, manusia


dapat mengetahui dan meng-Esakan Tuhannya.
Daya ofensif (quwwat al-syahwat) yaitu potensi yang dimiliki manusia
yang mampu menginduksi objek-objek yang menyenangkan dan
bermamfaat bagi kehidupannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniah
secara serasi dan seimbang.
Daya defensif (quwwat al-ghaddab) yaitu potensi dasar yang dapat
menghindarkan manusia dari perbuatan yang dapat membahayakan
dirinya.

Behaviourisme memusatkan perhatiannya pada wilayah objektivitas.


Behaviourisme memandang Psikoanalisa sebagai teori yang sangat spekulatif dan
tidak ilmiah. Penjelajahan terhadap wilayah unconsciousness (ketidaksadaran)
dengan menggunakan metode hipnotis, intropeksi, retropeksi, dan analisis mimpi
merupakan metode yang menggambarkan spekulatif-subjektif. Behaviourisme
yakin dan percaya bahwa seluruh tingkah laku manusia dapat dipahami
(understanding), dirumuskan (formulasi), dan diprediksi (prediction), berdasarkan
pandangan objektif. Maka rumusan tingkah laku bagi behaviourisme merupakan
hubungan stimulus-respon.
Sebagai contoh, karena sangat terpesona oleh teori refleks terkondisi dari
kaum behaviourisme, maka Faiz Al-Hajj, dalam disertasinya mencoba mencaricari beberapa pemikiran Al-Ghazali yang sesuai dengan teori refleks terkondisi

11

itu. Mengacu pada pandangan Al Ghazali tentang al-Quran mengenai manusia,


Hanna Djumhana Bastaman menandai wawasan islam mengenai manusia sebagai
berikut:
1. Al-Quran memberi penghargaan yang cukup tinggi terhadap martabat
umat manusia dengan julukan kehormatan yang diberikan kepada manusia
sebagai khalifah di bumi.
2. Fitrah manusia adalah suci dan beriman.Al-Quran menyatakan adanya
ruh pada manusia di samping raga dan jiwanya. Ruh ini sudah ada
sebelum manusia dilahirkan, selama ia masih hidup, dan setelah
berpulang.
Kedua hal ini yang membedakan antara wawasan Islami dengan wawasan
filsafat dan teori psikologi yang ada. Landasan ini menunjukkan bahwa kajian
Islami hendaknya meliputi dimensi ruhani (spiritual-imani) selain dimensi ragawi
(fisik-biologis), dimensi kejiwaan (psikologi edukasi) dan dimensi lingkungan
(sosio-kultural). Demikian pula dengan akal (al-aql), hati (al-qalb), dan an-nafs
yang keseluruhannya menjadi bagian tak terpisahkan dalam pengkajian perilaku
manusia dalam psikologi Islami.
Pelopor aliran behaviorisme ini adalah John Broadus Watson. Melalui
studi eksperimental, Watson menjelaskan konsep kepribadian dengan mempelajari
tingkah laku manusia yang mengacu pada konsep stimulus respons.
Aliran behaviorisme ini menolak pandangan dari aliran pendahulunya,
yaitu aliran psikoanalisa yang memandang bahwa manusia sangat dipengaruhi
oleh insting tak sadar dan dorongan-dorongan nafsu rendah. Aliran behaviorisme
ini lebih memandang aspek stimulasi lingkungan yang dapat membentuk perilaku
manusia dengan sesuka hati lingkungan eksternal itu. Aliaran behaviorisme ini
mengganti konsep kesadaran dan ketidaksadaran ala psikoanalisa dengan istilah
stimulus, response, dan habit. Stimulus selanjutnya dimaknakan sebagai sesuatu
yang dapat dimanipulasi atau direkayasa lingkungan sebagai upaya membentuk
perilaku manusia melalui respons yang muncul sebagaimana yang diharapkan
lingkungan, sedangkan habit adalah hasil pembentukan perilaku tersebut
(Koesma, 2000: 56).

12

Ivan Pavlov (1849-1936), ahli psikologi Rusia, meletakkan suatu tahapan


penting bagi psikologi behavioris lewat kajiannya tentang reaksi refleks. Pavlov
menuliskan bahwa ia dapat mengkondisikan anjing-anjing keluar air liur dengan
membunyikan sebuah bel, jika anjing tadi sebelumnya telah dilatih untuk
menghubungkan suara bel dengan tersediany makanan. Bapak behaviorisme
modrn, John B. Watson (1878-1958), senada dengan pavlov, menegaskan bahwa
tingkah laku manusia adalah dari refleks-refleks yang terkondisika.

2.4.Pokok-Pokok Teori Pengkondisian


1) Pengkondisian Klasik dan Pertobatan
William

Sargant,

seorang

praktisi

inggris

menunjukkan

bahwa

penggunaan teori pengkondisian di bidang agama ada peluangnya. Dalam buku


The battle for the maid, Sargant menyajikan teori yang menarik, meskipun
sempit, tentang pertobatan (conversion) berdasarkan teori Pavlov. Sargant
menggunakan dua konsep Pavlov yaitu: rangsangan transmarginal dan
penghambatan transmarginal dari exsperimennya itu ditarik kesimpulan bahwa,
Pavlov menemukan lontaran rangsangan yang berlebih dapat membahayakan
sistem neorologis binatang, dengan menciptakan pola tanggapan yang aneh.
Rangsangan yang klewat batas juga menghasilkan penghambatan yang melebihi
batas (transmarginal stimulation). Pavlov mau menyebut keterangsangan yang
melebihi ambang kemampuan binatang untuk membari tanggapan yang
dikondisikan.

Rangsangan

yang

diperpanjang

melebihi

kebutuhan

itu

memperlemah atau merusak pola tanggapan yang sudah biasa terjadi, gejala ini
oleh Pavlov disebut penghambatan transmarginal(Transmarginal Inhibition).
Sargant mengandaikan bahwa manusia memberi reasksi atau tanggapan menurut
pola yang disebut pavlov di atas. Dan berdasarkan pendapat itu Sargant
menafsirkan pertobatan keagamaan. Rangsangan transmarginal yang dibuat
melebihi batas dan prilaku yang diakibatkan, pada akhirnya dapat berakibat dalam
Kegiatan otak yang dapat menambah secara berarti kemampuan orang untuk
menerima saran sehingga orang itu menjadi mudah dipengaruhi oleh
lingkungannya.

13

Sargant

melihat

bahwa

rasa

takut

yang

ditimbulkan

seperti,

karena

membayangkan api neraka, yang diciptakan lewat khotbah-khotbah yanng berapiapi merupakan keadaan kebangkitan emosi yang hebat yang diciptakan secara
artifisial, buatan. Orang-orang yang bertobat adalah dibebaskan dari masa
kedosaan di masa lampau dan terbuka untuk peyakinan tentang hidup baru yang
harus mereka jalani, keadaan mereka yang mudah menerima saran membuat
mereka juga mudah menerima tanpa kritis tatanan ajaran dan praktik keagamaan
baru.
Sesungguhnya emosi memegang peranan penting dalam setiap tindakan agama,
tidak ada satu sikap atau tindakan agama seseorang dapat dipahami, tanpa
mengindahkan emosinya. Oleh karena itu dalam memahami perkembangan jiwa
agama pada seseorang, perlu diperhatikan seluruh fungsi-fungsi jiwanya
keseluruhan.
2) Pengkodisian Operan (Operant Conditioning)
B.F. Skinner membuat perubahan besar atas teori Pavlov tentang
Pengkondisian Klasik. Pengkondisian Operan, sama halnya dengan pengkondisian
klasik yang dibangun atas pendapat bahwa ganjaran (reward)menjadi penyebab
agar perbuatan diulang atau diperkuat. berbeda dengan Pengkondisian Klasik
bahwa lingkungan yang menanggapi makhluk, dalam Pengkondisian Operan
makhluk menanggapi lingkungan. Tanggapan itu merupakan cara untuk
mengubah lingkungan, guna mendapatkan kepuasan.
Skinner berpendapat bahwa manusia berbuat sesuatu dalam lingkungannya untuk
mendatangkan akibat-akibat, entah untuk mendatangkan pemenuhan kebutuhan
atau untuk menghindari datangnya hukuman atau pengalaman yang tidak enak.
Contohnya orang yang haus akan berusaha mendapatkan minuman, orang yang
terkena jarum disepatunya akan berusaha mengeluarkannya dari sepatunya agar
tidak tertusuk kakinya.
Mutu pemuas tindakan untuk memenuhi kebutuhan menambah kemungkinan
bahwa pada kesempatan lain tindakan yang sama diulang, dan sebaliknya,
tindakan yang mendatangkan akibat yang tidak enak, pada kesempatan lain
cenderung dihindari. Menurut skinner segala perbuatan dan tindakan manusia
dapat dimengerti dalam kerangka pemikiran itu, begitu pula manusia dalam

14

beragama. Ia juga berpendapat bahwa agama masih diperlukan oleh orang-orang


awam, terutama sebagai cara untuk mendorong mereka menangguhkan pemuasan
kebutuhan masa kini.
3) Tindakan Memperkuat
Pendekatan Skinner terhadap agama harus dibahas dengan hati-hati,
seperti Sargant, Skinner tidak menyajikan dalam tulisan-tulisannya uraian
sistematis tentang Agama. Meskipun demikian pendirian Skinner yang
Behavioristis itu merupakan kerangka dari berbagai pendapat yang tidak di
kembangkan, tetapi jelas berkaitan dengan hakikat prilaku keagamaan. Yang
paling menonjol adalah pengamatannya tentang pemikiran, pengetahuan, dan
pembicaraan keagamaan yang dia sempitkan dalam istilah-istilah Behavioristis.
Semua itu merupakan cara bagaimana cara manusia, seperti makhluk-makhluk
lain dengan Pengkondisian Operan belajar hidup di Dunia yang dikuasai oleh
hukum ganjaran (reward) dan hukuman.
Perasaan dan keadaan jiwa tidak lain hanyalah cara yang dianggap sesuai
untuk mengatakan prilaku yang diakibatkan oleh hukum Pengkondisian Operan.
Dalam pandangan Skinner kegiatan keagamaan diulangi karena menjadi faktor
penguat sebagai prilaku yang meredakan ketegangan. Kelembagaan agama itu
merupakan isme sosial yang lahir dari faktor penguat, lembaga sosial atau
kemasyarakatan menjaga dan mempertahankan prilaku dan kebiasaan masyarakat,
anak dilahirkan kedalam masyarakat itu seperti dia dilahirkan kedalam lingkungan
fisiknya.
Lembaga Keagamaan merupakan bentuk khusus dari tatanan sosial dimana
baik dan buruk menjadi suci dan berdosa. Jadi lembaga keagamaan
bertahan hidup karena fungsinya sebagai faktor penguat. Dalam pandangan
Behavioristis manusia sekarang dapat mengendalikan nasibnya sendiri karena
manusia tahu apa yang harus dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya.

2.5. Pendapat Rolston Tentang Behaviorisme


Mengenai logika behaviorisme, Rolston mengatakan apabila kita mencoba
untuk mengikuti logika berpikir behavioris, maka model behavioris memiliki sisi
kebenaran tertentu. Katakana saja, kalangan behavioris memuji rasionalitas.

15

Mereka bangga akan status ilmiah dari keyakinan mereka dan seringkali
menganggap perilaku keagamaan sebagai tindakan kasar. Namun keistimewaan
apa yang menjadi dasar kekhususan keyakinan mereka karena disini semua
keyakinan teolog dan ilmuwan harus dipampang agar bisa dikritisi teori-teorinya.
Dengan demikian Rolston mengatakan bahwa diantara sekian perilaku manusia
yang paling kompleks adalah pembelajaran dalam bidang ilmu dan agama, tetapi
menurutnya setelah mengusir fiksi kuno mengenai kehidupan mental, kalangan
behavioris justru kehilangan otoritas dalam menilai teori-teori mereka sendiri,
mereka justru dikritik tidak cukup berbicara bila bersaing dengan kritik ilmu
ataupun kritik agama.
Sedangkan mengenai behavioral dan agama, Rolston mengatakan bahwa
anugrah yang diterima manusia setelah rasionalitas, moralitas dan nilai adalah
kemampuan untuk mencintai. Kebajikan ini seringkali diidentikkan oleh teolog
sebagai tanda suci hadirnya Tuhan dalam diri manusia. Namun jika cinta yang
kita miliki satu sama lain direduksi menjadi output yang merespon stimulus
kausalitas, maka manusia nyaris sulit disebut manusia dan tak lagi tersisi kesucian
dalam dirinya. Tetapi menurut Rolston yang ingin dikemukakan adalah apa yang
oleh kalangan teolog disebut sebagai cinta tulus untuk bebas dipilih dan
dianugerahkan pada pihak lain? Menurutnya cinta semacam itu muncul dan
manusia mungkin saja merespon atas dasar panggilan perasaan saling
membutuhkan satu sama lian, suatu stimulus dan manusia lalu mencintai sebagai
wujud responnya. Manusia tidak menjalankan sumber daya sendiri namun dengan
mengambil doa suci. Maka untuk menghadirkan cinta tulus ini akan menjadi
kisah fiksi belaka. Tak ada doa kecil, tak ada bangsawan, yang ada hanyalah
kausalitas ilmiah. Rolston mengatakan menurut definisi Karl Barth yang nantinya
akan diuji, Tuhan adalah Yang Maha Suci yang bebas mencintai dan manusia
adalah anak-anak Tuhan yang membayangkan Tuhan karena mereka mencintai
dan bebas. Namun menurut Rolston ada gengsi bahwa behaviorisme berfikir dan
cinta harus dianggap tidak koheren dan karenanya perlu disingkirkan dari
manusia.
Suatu pandangan mekanis dan pasif tentang perbuatan manusia telah
mensekulerkan

hidup,

mengabaikan
16

atau

menyangkal

dimensi

yang

disakralkan. Pada sisi kausalitas, agama tampak seperti suatu penguat sejarah.
Fungsi ini telah dijalankan oleh bentuk-bentuk kelembagaan dimana agama
merupakan suatu pembentuk perilaku. Hal ini seperti suatu efek, bahwa agama
bagi seseorang merupakan respon terhadaop suatu stimulus sociorelijius. oleh
karena itu kepercayaan agama seperti keyakinan bahwa hidup itu sacral, adanya
ampunan dosa, yakin bahwa dunia adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa (tidak
bisa dipercaya secara rasional) karena kepercayaan-kepercayaan tersebut
merupakan peroduk penguatan-penguatan yang membentuk sebab-sebab yang
diperlukan oleh kepercayaan tersebut. Maka menurut Rolston, selama agama
klasik dianggap sebagai pembentuk prilaku dan penentu perbuatan normative,
maka agama-agama tersebut dinilai kaum behavioris telah berfungsi, tidak
sekedar menjadi ajaran naf yang tak efektif, tak ilmiah terutama karena
penekanannya pada penggunaan penjelasan mental dan tahayul, dank arena agama
dianggap sebagai dampak ide-ide ilusi dari agensi manusia dan tanggung jawab.
Maka Rolston menyatakan bahwa Skinner mengklaim Tuhan merupakan pola
arketip dengan suatu fiksi yang penjelas.
Menurut Rolston agama-agama klasik tidak memuat kode-kode moral
tertentu yang mempertahankan nilai-nilai kelompok dan dalam beberapa hal kodekode moral tersebut dipelihara keberadaannya. Agama klasik juga memuat taboo
dan dogma yang seskali terhubung dengan kode-kode tersebut atau
memberikan sangsi pada saat hilangnya penguatan yang lebih rasional. Rolston
mengatakan perilaku agama semacam itu bisa dieliminir dengan perilaku yang
lebih ilmiah. Tegasnya respon etika positif tidak tersambung dengan dukungan
keagamaan dan dapat dicapai oleh perbuatan manusia yang direkayasa secara
ilmiah, kehidupan yang lebih baik diupayakan dengan perilaku yang lebih baik
melalui ilmu behavioral. Disini ilmu behavioral cukup meloristic, melalui ilmu ini
kita dapat lebih cepat lagi mewujudkan masyarakat yang lebih humanis. Ilmu
behavioral menjadi penyelamat pengganti dan mengajukan utopia-utopianya serta
model-model kehidupan yang lebih baik dalam ajaran Tuhan. Menurut Skinner
kita memiliki teknologi fisik, biologi dan behavioral yang diperlukan untuk
menyelamatkan hidup kita.

17

Mengenai Psikologi Kognitif, manusia sebagai prosesor kognitif. Rolston,


menyatakan bahwa penyerdehanaan behaviorisme radikal belakangan ini telah
membelokkan psikologi pada kognisi. Menurutnya, bisa jadi hal ini masih terlalu
dini untuk menyebutkan tren ini sebagai suatu paradigma psikologi, apalagi
membahas dampaknya terhadap aqidah agama. Model psikologi perlu
digambarkan sebagai perangkat cibernetik, artinya psikologi dapat mengabaikan
kesadaran. Namun kita tetap bisa menerapakan model-model tersebut secara
empiris dan bisa memperlihatkan hasil kita berdasar rata-rata statistic dan
eksperimen yang berulang.
Namun Rolston tidak dapat mengabaikan proses kognisi, menurutnya teori
manapun harus melibatkan peta kognisi dalam manusia, sementara tak ada
tuntutan untuk memasukkan kesadaran. Rolston berkata, ini seperti layaknya
computer untuk menjelaskan berbagai program untuk mengolah dan menata tanpa
perlu mengasumsi adanya kesadaran dalam computer tersebut, tetapi tatap saja
ada perbedaan vital antara organisme hidup yang memiliki masalah psikologis
dengan computer yang diciptakan manusia sebagai modelnya. Komputer adalah
bikinin manusia, ia tetap saja mesin yang dirancang oleh kecerdasan manusia.
Sebaliknya organisme merupakan produk evolusi alam.
Dalam kognisi manusia, kita bisa bercerita mengungkapkan kembali dan
menggunakan pengetahuan. Manusai merupakan prosesor informasi yang sangat
umum. Michael G. Wessells menyebutkan bahwa sebagian besar teori kognitif
bersifat mekanis dan dalam rangka memperkuat asumsi bahwa kognisi manusia
adalah suatu spesies pemroses informasi. Namun manusia adalah prosesor
kognitif yang berkesadaran dan dalam banyak hal, dimensi sadarnya nampaknya
lebih menonjol dari pada daya kognisi yang terdapat pada mesin computer ciptaan
manusia. Jika demikian, kognisi tidak bisa lagi disebut behaviorisme karena
behaviorisme menuntut kita agar menghapuskan hal-hal yang telah kita terima
kembali.
Sejumlah pakar akan mengatakan bahwa sekalipun mengakui adanya
kesadaran, kita bisa tetap mengakui psikologi ilmiah. Melalui suatu pengalaman
campuran dan refleksi atas pengalaman, psikologi kognitif bisa menjelaskan
proses-proses tersebut sebagaia memori jangka panjang dan memori jangka
18

pendek, pengakuan pola, perhatian pola, perhatian selektif, pemecahan masalah,


pembentukan konsep dan pemakaian bahasa.
Namun apakah kita telah memiliki suatu model yang cukup competen
dengan seluruh isi manusiawi? Inilah keterbatasan dari model cybernetic. Bahkan
dalam model biologis sekalipun, prosesor kognitif tidak mengalami rasa sakit.
Maka menurut Rolston, di sini kita menginginkan agar lebih peduli dengan
psikologi yang memiliki dimensi pengalaman, yang menjadi bentuk paling
menonjol dalam kehidupan alami. Maka, lebih lanjut menurut Rolston, dalam
model manusiawi, prosesor kognisi tidak merasakan rasa malu atau bangga, tidak
memiliki marah harga diri, rasa takut ataupun harapan, tidak tertarik dengan
jabatan, mengalami perasaan gagal, mengalami krisis identitas atau menipu diri
sendiri demi mencegah kecaman diri, tidak bisa menyelesaikan perbedaan
pendapat dalam menghadapi praktek sosial yang tak bermoral, tak dapat
menghargai arti ketidak patuhan sipil yang diharapkan untuk direformasi , tidak
menangis atau membaca doa pada saat menyantap makanan.
Kata Rolston, prosesor kognitif tidak memiliki emosi atau perasaan, suatu
kategori yang oleh para psikolog lain dianggap sangat penting. Katakan saja, R.B
Zajonc, seorang psikolog, menyesalkan, psikologi kognisi kontemporer ternyata
mengabaikan afeksi. Istilah afeksi adalah tingkah laku, emosi, perasaan dan
sentiment tidak pernah muncul dalam indeks istilah karya-karya besar pakar
kognitifis. Prosesor kognitif tidak dapat dijalankan pada masalah cinta,
keimanan atau kebebasan, dorongan rasa bersalah, pencarian ampunan dan halhal lain yang sering dikemukakan oleh para teolog. Secara sosiologis, dikatakan
Rolston, bahwa prosesor tidak memiliki bentuk budaya, tidak memiliki karir unik
yang membentuk serangkaian kisah naratif, bahkan mereka tidak memiliki
pahlawan dan penyelamat, mereka tidak mati karena dosa-dosa di dunia, melawan
kerajaan Tuhan atau tertarik pada ideology lain dalam memaknai hidup dan sejara.
Dengan demikian, menurut rolston, bahwa model prosesor kognisi tidak cukup
layak untuk memahami kepribadian manusia.

19

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur,
diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan
terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif
terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan
dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan
menjelaskan tindakan yang diinginkan.
Menurut tokoh psikologi behavioristik yaitu B.F Skinner perilaku
terbentuk berdasarkan hasil dari pengalamannya yaitu intraksi individu dengan
lingkungan sekitarnya,sehingga tiap manusia mempunyai kepribadian yang
berbeda karena kepribadian mereka terbentuk karena adanya pengalaman yang
berbeda pula. Perilaku menjadi kuat jika mendapatkan ganjaran atau sebaliknya
perilakunya melemah jika mendapatkan hukuman. Kecenderungan tingkah
tertentu akan selalu terkait dalam hubungannya memperoleh pengalamannya.
Dari pandangan Behaviorisme kita memperoleh teori tentang yang disebut
Pengkondisian

Klasik,

yang

berisi

(transmarginal

stimulation)

dan

(Transmarginal Inhibition). Dan Pertobatan, yaitu perubahan perilaku yang


kurang lebih dari jahat menjadi baik, dari kenistaan menjadi kebenaran, dari
kegiatan acuh menjadi kegiatan rohani. Pengkondisian Operan makhluk
menanggapi lingkungan, tanggapan itu merupakan cara untuk mengubah
lingkungan, guna mendapatkan kepuasan. Tindakan Penguat, yaitu kegiatan
keagamaan diulangi karena menjadi faktor penguat sebagai prilaku yang
meredakan ketegangan.

3.2. Saran
Dari makalah ini penulis memberi saran kepada pembaca, agar kita dapat
mengintrospeksi diri terhadap tingkah laku kita sendiri maupun orang lain agar
menjadi lebih baik.

20

DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. H. Ramayulis, PSIKOLOGI AGAMA, 2004, Kalam Mulia.
Dr. jalaluddin, PSIKOLOGI AGAMA, 1996, PT Raja Grafindo Persada.
Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1966), cet. xv.
Hardjana, A.M., Dialog Psikologi dan Agama, (Jogjakartaa: Kanisius, 199), cet. I.
http://cintamerahputih.blogspot.com/2010/06/behaviorisme-dalam-islam.html
http://muchammadmashudan.wordpress.com/2013/03/12/psikologibehaviouristikdalam-perspektif-islam/

21