Anda di halaman 1dari 7

a) Lobus Parietal

Somatosensory symptoms terkait dengan kerusakan gyrus postcentral (area 1, 2, 3a, dan 3b) dan
korteks yang berdekatan (area PE dan PF):
a. Somatosensory Thresholds.
Kerusakan pada gyrus postcentral

biasanya

terkait

dengan

perubahan

batas

somatosensori. lesions of the postcentral gyrus menghasilkan symptom yang disebut


Afferent paresis, yaitu gerakan jari yang kikuk karena seseorang kehilangan feedback
yang diperlukan tentang posisi mereka dengan tepat
b. Somatoperceptual Disorders.
Gangguan somatoperceptual ini dapat mengalami extinction yang paling sering dikaitkan
dengan kerusakan pada korteks sekunder somatik (daerah PE dan PF), terutama di daerah
c.

lobus parietalis.
Blind Touch.
Orang yang menderita blind touch dapat mengidentifikasi lokasi dari stimulus visual
meskipun kadang mereka menyangkal apa yang dilihatnya. Memiliki kerusakan besar
pada area PE, PF, dan beberapa dari PG, menghasilkan anestesi lengkap dari sisi kanan
tubuh yang begitu parah bahwa ia bertanggung jawab untuk memotong atau membakar

dirinya sendiri tanpa menyadari hal itu.


d. Somatosensory Agnosia.
Ada 2 tipe yaitu Astereognosis yaitu ketidakmampuan untuk merekognisi secara natural
objek yang disentuhnya; Asomatognosia yaitu kehilangan kemampuan untuk mengenali
dirinya sendiri dan merasakan tubuhnya sendiri. Asomatognosia terbagi 4 yaitu
anosognosia adalah ketidaksadaran atau menolak terhadap penyakit; anosodia phoria
adalah acuh tak acuh terhadap penyakit yang diderita; autotopagnosia adalah
ketidakmampuan untuk mengetahui lokasi dan nama-nama dalam tubuhnya; asymbolia
for pain yaitu kurangnya reaksi yang normal terhadap penyakit.
Symptoms of Posterior Parietal Damage:
a. Balints Syndrome.
Balint menerangkan seseorang yang terkena balint syndrome memiliki kerusakan di
bilateral parietal yang berasosiasi dengan symptom peculiar visual. 3 symptom yang

biasa muncul pada pasien ini adalah pertama walaupun secara spontan dia melihat lurus
ke depan ke arah stimulus yang berada di depannya namun dia menatap 35-45 derajat ke
arah kanan dan mempersepsikan bahwa tatapannya sesuai dengan arah yang ia tuju. Yang
kedua ketika atensi telah tertuju pada satu objek maka tidak ada stimulus lain yang dapat
diterimanya. Ketiga adalah pasien yang sudah parah mengalami penurunan dalam
mencapai kendali atas panduan visual.
b. Collateral neglect dan symptom lain dari kerusakan lobus parietal kanan.
Perceptual disorder yang mengikuti kerusakan parietal kanan dideskripsikan oleh John
HughlingsJackson pada tahun 1874. Biasanya terdapat kerusakan pada visual, auditori,
dan stimulasi somaesthetic (somatosensory) pada sisi tubuh dan/atau ruang yang
berseberangan dengan lesion, yang diikuti dengan adanya penyangkalan terhadap
kekurangan yang dirasakan. Kesembuhan melewati dua tahapan. Tahap pertama,
allesthesia, dikarakteristikkan dengan individu mulai merespon stimulus pada sisi yang
rusak, tetapi merespon stimulus tersebut seakan-akan stimulus tersebut berada pada sisi
yang baik. Tahap kedua adalah simultaneous extinction: individu merespon stimulus pada
sisi yang rusak sampai sekarang ini kecuali kedua sisi distimulasi secara bersamaan,
dimana individu menyadari hanya stimulasi pada sisi ipsilateral pada lesion. Symptom
lain yang lazim dari lesion lobus parietal kanan telah dijelaskan oleh Warringtondan
koleganya, pasien dengan lesion parietal kanan sangat buruk dalam mengenali objek yang
tidak terlihat dari gambaran yang familiar, walaupun mereka dapat mengenali objekobjek dengan gambaran yang familiar. Warrington menyimpulkan bahwa kekurangan
tidak dalam bentuk gestalt, atau konsep, melainkan klasifikasi perceptual, mekanisme
untuk mengkategorikan informasi sebagai bagian dari konsep.
c. Gerstmann syndrome dan symptom lain parietal kiri.
Pada tahun 1924, Joseph Gerstmann mendeskripsikan seorang pasien dengan symptom
yang tidak biasa mengikuti stroke parietal kiri: finger agnosia, pasien tidak mampu untuk
mengenali jari-jari pada tangan yang lain. Penemuan ini sangat menarik perhatian dan
dalam tahun-tahun berikutnya symptom lain dilaporkan terkait dengan finger agnosia,
termasuk right-left confusion, agraphia (ketidakmampuan untuk menulis) dan acalculia
(ketidakmampuan untuk menampilkan operasi matematika). Keempat symptom ini secara
bersama dikenal dengan Gerstmann syndrome.
d. Apraxia dan lobus parietal.

Apraxia adalah suatu gangguan pergerakan dimana terdapat kehilangan keterampilan


gerakan yang tidak disebabkan oleh kelemahan, ketidakmampuan untuk bergerak,
abnormal posture, kemunduran intelektual, pemahaman yang buruk, atau gangguan lain
dalam gerakan misalnya tremor. Terdapat banyak jenis dari apraxia, tetapi hanya akan
disebutkan dua diantaranya yaitu: ideomotor apraxia (pasien tidak mampu meniru
gerakan atau membuat gesture) dan constructional apraxia (gangguan visuomotor dimana
pasien tidak dapat menampilkan aktivitas seperti menyusun, membangun, dan
menggambar). Kedua gangguan ini dapat dilihat sebagai gangguan pergerakan yang
berasal dari gangguan koneksi parieto-frontal kendali gerakan.
b) Lobus Temporal
- Kerusakan Dominan
a. Cortical deafness : kerusakan pada primary visual atau somatic cortex yang
menuju pada kehilangan kesadaran akan sensasi, sehingga hal ini cukup masuk
akan untuk memprediksi bahwa kerusakan bilateral pada auditory cortex akan
menghasilkan tuli kortikal.
b. Auditory Agnosia : ketidakmampuan untuk menginterpretasi suara nonverbal
-

tetapi dapat menginterpretasi ungkapan.


Kerusakan Non-Dominan
a. Amusia : tidak dapat membedakan antara nada musik yang berbeda, dan beberapa
juga mengalami kesulitan membedakan antara pola berirama yang berbeda.
o Congenital amusia : kekurangan pada musik yang kebanyakan orang telah
memiliki kemampuan ini sejak lahir. Cirinya adalah tidak dapat mengenali
atau bersenandung lagulagu yang dikenali, kurang peka terhadap nada yang
disonan.
o Acquired amusia : mempunyai ciri yang sama seperti amusia bawaan, tapi
tidak diperoleh karena diwariskan, amusia jenis ini adalah akibat dari
kerusakan otak.
Ada 8 simptom yang diasosiasikan dengan penyakit pada lobus temporal, yaitu :
a. Gangguan sensasi auditory dan persepsi : kerusakan pada auditoryperceptual
terletak pada bagian kiri lobus temporal . Bagian kiri lobus temporal penting
untuk membedakan ucapan. Pada bagian ini juga terdapat gangguan yang
disebut dengan aphasia dimana seseorang sulit untuk mengenali kata-kata

( terletak pada Wernickes area). Selain itu, ketika terjadi kerusakan pada
bagian kanan lobus temporal, maka seseorang akan mengalami kemunduran
dalam mepersepsi karakteristik tertentu dari musik (loudness, quality dan
pitch)
b. Gangguan selective attention input auditory dan visual: kerusakan pada bagian
kanan lobus temporal akan mengakibatkan ketidakmampuan seseorang dalam
mengenali dan me-recall wajah maupun gambar-gambar.
c. Kelainan persepsi visual : luka pada bagian kiri lobus temporal akan
mengakibatkan
ketidakmampuan untuk fokus karena sistem syarafnya terluka. Begitu juga
dengan bagian kanan lobus temporal.
d. Kerusakan pengorganisasian dan pengkategorisasian materi verbal : kerusakan
lobus

temporal

juga

mengakibatkan

seseorang

tidak

dapat

mengkategorisasikan sebuah kata, gambar, maupun objek yang familiar.


e. Gangguan pemahaman bahasa : Seseorang dengan kerusakan

ini

mengakibatkan ia
selalu keluar dari konteks, apakah itu kalimat, gambar , maupun ekspresi
wajah.
f. Kerusakan memori jangka panjang: kerusakan pada lobus temporal
mengakibatkan

seseorang

mengalami

amnesia.

Kerusakan

pada

inferotemporal cortex mengakibatkan ketidak sadaran dalam me-recall


informasi. Luka pada bagian kiri lobus temporal mengakibatkan seseorang
tidak dapat me-recall materi verbal, sebaliknya jika bagian kanan rusak, akan
mengakibatkan ketidakmampuan me-recall materi non-verbal.
g. Perubahan kepribadian dan perilaku afektif: kerusakan lobus temporal
mengakibatkan gangguan pada emosi (karena amygdala terstimulasi).
h. Perubahan perilaku seksual
c) Lobus Frontalis
Simptom-simptom dari kerusakan lobus frontalia
a. Disturbance of motor function
Fine movements, speed and strength
Kerusakan pada primary motor cortex biasanya diasosiasikan dengan kehilangan
kemampuan untuk melakukan gerakan tangan yang baik, biasanya disebabkan oleh
-

adanya kehilangan proyeksi langsung dari cortocospinal ke motor neuron


Movement Programming

Kerusakannya menyebabkan adanya gangguan pada gerakangerakan lengan dan


wajah. Kerusakan pada kedua bagian lobus frontal, yaitu bagian kiri dan kanan
menyebabkan adanya gangguan dalam menganalisis gerakan-gerakan wajah, karena
lobus frontal juga berpengaruh terhadap pengendalian gerakan-gerakan wajah.
Voluntary Gaze : Kesulitan pasien dengan luka frontal jumpai dalam tugas visual
-tugas pencarian menunjukkan pentingnya korteks frontal untuk aspek-aspek
tertentu dari kontrol oculomotor. Hanya studi oleh Guitton dan rekan memiliki
efek lokal di bidang frontal, tetapi kemungkinan bahwa defisit paling parah dalam
melaksanakan tugas-tugas seperti diasosiasikan dengan kerusakan pada bidangbidang tersebut.
Corollary Discharge : Teuber mengusulkan bahwa harus ada sinyal atau tanda,
untuk menghasilkan gerakan dan juga sinyal yang menandakan bahwa suatu
gerakan akan terjadi. Gerakan yang sengaja dilakukan melibatkan dua set sinyal
lebih dari satu. Ada perintah gerakan, melalui system motorik untuk efek gerakan,
dan ada Corollary Discharge dari asosiasi korteks lobus frontal parietal dan
temporal yang mengatur system sensori untuk mengantisipasi tindakan motorik.
Jadi, sistem sensorik seseorang dapat menginterpretasikan perubahan dalam dunia
eksternal dalam hal informasi tentang dirinya atau gerakannya.
Speech : Ada dua area berbicara di lobus frontal: Broca daerah, yang dia anggap
sebagai perpanjangan dari area lateral premotor dan area pelengkap berbicara,
yang dia anggap sebagai perpanjangan dari area motorik tambahan. Dilihat
dengan cara ini, area Broca memilih kata-kata berdasarkan isyarat. Sebaliknya,
area berbicara tambahan diperlukan untuk mengambil katakata tanpa isyarat
eksternal, yang juga konsistent dengan fungsi umum area motorik tambahan.
b. Loss of different thinking
Salah satu akibat dari luka yang ada pada lobus frontal adalah berkurangnya
kemampuan dalam melakukan divergent thinking. Beberapa hal yang mendukung
pernyataan tersebut adalah:
- Behavioral Spontaneity : Seseorang yang mengalami luka pada lobus frontal (baik
bagian kiri maupun kanan-nya) kehilangan spontanitas dalam berbicara serta
kesulitan dalam mengeluarkan kata atau fase yang tepat.

Strategy Formation : Seseorang dengan luka pada lobus frontal mengalami


kesulitan untuk melakukan rencana atau strategi kognitif untuk menyelesaikan

masalah.
c. Lemahnya Respon terhadap Hambatan dan Tingkah laku yang tidak fleksibel
Sifat yang paling umum yang dapat diamati dari seorang pasien lobus forntal adalah
mereka memiliki kesulitan dalam menggunakn informasi (umpan balik) dari isyarat
yang ada di lingkungannya untuk meregulasi atau merubah perilaku mereka.
d. Response Inhibition
Pasien dengan luka pada lobus frontalis konsisten mengulang respon setelah
penghentian stimulus asli dalam respon pada berbagai situasi tes, khusunya ketika ada
perubahan tuntutan.
e. Rist Taking and Rule Baking
Lobus frontal pasien dibedakan dari pasien lainnya didalam kegagalan mereka untuk
mematuhi instruksi tugas. Subjek dengan luka pada lobus frontal cenderung
mengabaikan sinyal , sehingga terus jalan pada jalan yang salah dan membuat lebih
banyak kesalahan.
f. Associative Learning
Banyak yang mengklaim bahwa pasien dengan luka besar pada lobus frontal tidak
bisa meregulasi perilaku mereka dalam merespon internal stimuli.
Poor temporal memory: Berdasarkan penelitian-yang dilakukan Jacobsen,
menunjukkan pentingnya peran frontal cortex dalam beberapa jenis dari proses shortterm memory, dan beberapa bagian dari prefrontal cortes berhubungan dengan
penyimpanan jenis-jenis informasi yang berbeda. Corsi merancang suatu penelitian
tentang memori mengenai urutan hal-hal yang sudah terjadi, atau biasa disebut
recency memory. Penelitian ini mengindikasikan frontal lobe kanan penting untuk
recency memori nonverbal atau bergambar, sedangkan frontal lobe kiri penting untuk
verbal recency.
Impaired social and sexual behavior: Perilaku sosial dan seksual keduanya
membutuhkan tanggapan yang fleksibel yang sangat tergantung pada isyarat yang
kontekstual karena itu, luka pada lobus frontal akan mengganggu kedua perilaku
tersebut. Dari observasi pada beberapa pasien, ada dua perubahan kepribadian, yaitu
pseudepression dan pseudopsycopathy. Penderita pseudepression menunjukan
symptom seperti apatis dan tidak peduli, kehilangan inisiatif, penurunan minat
seksual, sedikit emosi berlebihan, dan sedikit atau tidak sama sekali verbal output.

Penderita pseudopsychopathy menunjukan perilaku yang kekanakan,, kurangnya


taktis dan pengendalian, bahasa kasar, perilaku seksual yang kacau, meningkatnya
aktivitas motorik, dan kurangnya keterampilan sosialnya
d) Lobus Occipitalis
a. Antons syndrome
Antons Syndrome disebabkan oleh kerusakan pada lobus oksipital yang memanjang
dari korteks visual primer ke korteks asosiasi visual. Hal ini umumnya terjadi karena
struk pada otak dimana adanya penyumbatan pada serebrovascular yang
menyebabkan tidak mengalirnya darah ke bagian otak. Antons syndrome ini
merupakan cortical blindness dimana seseorang kehilangan sebagian atau keseluruhan
penglihatannya meskipun sebenarnya fungsi penglihatannya normal. Hal ini
disebakan karena adanya kerusakan pada area visual di otak yaitu pada occipital
cortex. Kerusakan ini biasanya disebabkan karena kehilangan aliran darah yang
berasal dari posterior cerebral artery, baik yang unilateral atau bilateral, biasanya
disebut ischemic stroke, akibatnya tidak tehubung pada fungsi persepsi pada bagian
parietal. Pasien dengan cortical blindness ini biasanya hanya mengetahui sedikit atau
bahkan tidak mengetahui sama sekali bahwa mereka telah mengalami gangguan
penglihatan.
Seseorang yang mengalami Antons syndrome memiliki beberapa gejala sebagai
-

berikut:
Kehilangan sebagian atau keseluruhan penglihatan (Partial or complete vision

loss)
-

Penolakan atas kecacatan penglihatan (Denial of vision impairment)


Membuat alasan untuk penglihatan yang buruk (Makes excuses for poor vision)
Penolakan terhadap kebutaan (Denial of blindness)