Anda di halaman 1dari 29

PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH PUPUK MO PLUS, GANDASIL, DAN GROW MORE


TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT PISANG BARANGAN
(Musa paradisiaca L.) HASIL KULTUR JARINGAN SECARA
HYDROPONIK DAN NON-HIDROPONIK.

Oleh:
A. IDA WIDYASARI
H411 12 313

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu


Syukur alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, kami panjatkan yang
telah melimpahkan rahmat, kesehatan, kesempatan,taufik, hidayah, dan inayahNya kepada kami sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan Skriah ini
guna melaksanakan kewajiban untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuakultur.
Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW yang
telah membawa kita dari alam kegelapan menuju alam yang terang-benderang.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang
Budidaya Ikan Nila, yang disajikan berdasarkan referensi dari internet. Dalam
penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, baik itu
datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun penulis
menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat
bantuan, dorongan, bimbingan dari dosen dan pertolongan dari Allah sehingga
kendala-kendala yang penulis hadapi dapat teratas dan tugas makalah ini dapat
terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa
Universitas Hasanuddin. kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini
masih banyak kekurangan serta masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan
kesempurnaan dalam penulisan makalah yang akan datang. Dan semoga makalah
ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin-min Ya Robbalalamin.
Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarakatu.
Makassar, 08 Maret 2016

A. Ida widyasari
H411 12 313

DAFTAR ISI
Halaman Sampul
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
I.2 Rumusan Masalah
I.3 Tujuan Pembahasan
I.4 Metode pembahasan
BAB II PEMBAHASAN
II.1 Deskripsi ikan nila.
II.2 Penyebab penyakit pada ikan nila
II.3 Ciri-ciri ikan yang terinfeksi penyakit
II.4 Cara penanggulangan
BAB III PENUTUP
III.1 Kesimpulan
III.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Taanaman pisang merupakan salah satu tanaman hortikultura buah
tropik yang memiliki potensi dan nilai ekonomi tinggi khususnya bagi
negara-negara di wilayah tropika seperti Indonesia. (Rodinah, 2009). Luas dan
Produksi Pisang selalu menempati posisi pertama (Pamungkas, 2015).
Peningkatan

produksi

pisang

Indonesia memerlukan

penanaman. Perkebunan pisang membutuhkan bibit yang

perluasan

bermutu dalam

jumlah besar. Perbanyakan pisang dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara
konvensional melalui anakan, bibit yang dihasilkan sedikit, tidak seragam dan
kesehatannya

tidak

terjamin,

sedangkan

teknik

kultur

jaringan

dapat

menghasilkan bibit pisang yang sehat dan seragam dalam jumlah besar, dalam
kurun waktu

yang

relative

singkat, sehingga ketersediaan bibit terjamin

(Maslukhah, 2008).
Teori yang melandasi pembiakan kultur jaringan adalah suatu konsep
yang dikemukakan oleh Schleider dan Swan (1938) yang meyatakan bahwa
sel tunggal dari suatu organisme adalah totipotensi yang artinya masingmasing sel dari suatu organisme mampu berkembang secara bebas, apabila
diberikan suatu kondisi lingkungan yang sesuai (Zulkarnain, 2009).
Tahapan akhir dari perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan
adalah aklimatisasi planlet. Aklimatisasi dilakukan dengan memindahkan planlet

ke media aklimatisasi dengan intensitas cahaya rendah dan kelembapan nisbi


tinggi, kemudian secara berangsur-angsur kelembapannya diturunkan dan
intensitas cahayanya dinaikkan (Yusnita 2003). Tahap ini merupakan tahap yang
kritis karena kondisi iklim di rumah kaca atau rumah plastik dan di lapangan
sangat berbeda dengan kondisi di dalam botol kultur (Marlina dan Dedi, 2007).
Pasca aklimatisasi adalah proses penanaman yang sudah dilakukan seperti
biasanya, yaitu dengan menanam langsung di polybag atau tanah secara langsung.
Namun disini akan diadakan percobaan pasca aklimatisasi dengan menggunakan
sistem hidroponik dan non hidroponik sebagai permbandingnya. Agar tanaman
pisang dapat melakukan pertumbuhan dan perbanyakan tunas secara cepat pada
tahap pasca aklimatisasi kultur jaringan dengan ditambahkannya berbagai macam
pupuk.
Pemberian pupuk organik dapat memperbaiki sifat - sifat tanah seperti
sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Bahan organik merupakan perekat butiran
lepas, sumber hara tanaman dan sumber energi dari sebagian besar organisme
tanah. Pemberian pupuk organik dapat meningkatkan daya larut unsur P, K, Ca
dan Mg, meningkatkan C-organik, kapasitas tukar kation, serta kapasitas tanah
memegang air (Pamungkas, 2015).
Menurut Raffar (1993), sistem hidroponik merupakan cara produksi
tanaman yang sangat efektif. Sistem ini dikembangkan berdasarkan alasan bahwa
jika tanaman diberi kondisi pertumbuhan yang optimal, maka potensi maksimum
untuk berproduksi dapat tercapai. Hal ini berhubungan dengan pertumbuhan
sistem perakaran tanaman, di mana pertumbuhan perakaran tanaman yang

optimum akan menghasilkan pertumbuhan tunas atau bagian atas yang sangat
tinggi. Pada sistem hidroponik, larutan nutrisi yang diberikan mengandung
komposisi garamgaram organik yang berimbang untuk menumbuhkan perakaran
dengan kondisi lingkungan perakaran yang ideal (Rosliani. R. dan Nani sumarni,
2005).
I.3 Tujuan dan Kegunaaan
Tujuan penelitian ini antara lain:
1. Untuk mengetahui efektifitas pertumbuhan tanaman pisang baik secaara
hidroponik maupun non hidroponik
2. Untuk mengetahui pengaruh terhadap pertumbuhan pisang baik secara
hidroponik maupun secara non hidroponik
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam
upaya pengembanga budidaya tanaman pisang daan sebagai bahan pembanding
terhadap efektifitas yang dilakukan secara hidronik dan non-hydroponik
III.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Maret - Mei 2016, yang akan
dilaksanakan di Green House Pusat Kegiatan dan Penelitian (PKP) Universitas
Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pisang
A. Sejarah Penyebaran tanaman Pisang
Pisang yang ada sekarang diduga merupakan hasil persilangan alami
dari

pisang

liar

dan

telah

mengalami

domestikasi.

Beberapa literatur

menyebutkan pusat keanekaragaman tanaman pisang berada di kawasan Asia


Tenggara (Satuhu dan Supriyadi, 1990).
Para ahli botani memastikan daerah asal tanaman pisang adalah India,
jazirah Malaya, dan Filipina. Penyebaran tanaman pisang dari daerah asal ke
berbagai wilayah negara di dunia terjadi mulai tahun 1000 SM. Penyebaran
pisang di wilayah timur antara lain melalui Samudera Pasifik dan Hawai.
Sedangkan penyebaran pisang di wilayah barat melalui Samudera Hindia,
Afrika sampai pantai timur Amerika. Sekitar tahun 500, orang-orang Indonesia
berjasa menyebarkan tanaman pisang ke pulau Madagaskar. Pada tahun 650,
pahlawan-pahlawan Islam di negara Arab telah menyebarkan tanaman pisang di
sekitar laut tengah.
Inventarisasi plasma nutfah pisang di Indonesia dimulai pada abad XVIII.
Dalam buku yang berjudul Herbarium Amboninese karangan Rumphius yang
diterbitkan tahun 1750, telah dikenal beberapa jenis pisang hutan dan pisang
budidaya yang terdapat di Kepulauan Maluku (Rukmana, 1999 : 13).

Pengembangan budidaya tanaman pisang pada mulanya terpusat di daerah


Banyuwangi, Palembang, dan beberapa daerah di Jawa Barat.
B. Kalsifikasi Tanaman Pisang
Menurut (Tjitrosoempomo, 2013), klasifikasi botani tanaman pisang
adalah sebagai berikut:
Divisio

: Spermatohyta

Sub divisio : Angiospermae


Classis

: Monocotyledoneae

Ordo

: Zingiberales

Familia

: Musaceae

Genus

: Musa

Spesies

: Musa paradisiaca L.

Tanaman pisang dalam taksonomi tumbuhan diklasifikasikan dalam ordo


Zingiberales dari familia Musaceae. Dalam golongan familia Musaceae ini
memiliki ciri-ciri yaitu merupakan tanaman terna yang besar, dengan batang semu
yang terdiri atas upih daun yang membalut, dengan daun yang lebar, bangun
jorong atau memanjang, ibu tulang daun tebal, beralur di sisi atasnya, jelas
berbeda dari tulang-tulang cabangnya yang menyirip. Familia ini terdiri dari 6
marga antara lain Musa Paradisiaca penghasil buah-buahan, M. Textillis (henep
Manila) penghasil serat, M. Chiliocaarpa pisang serbu, M. Brachycarpa pisang
batu, M. Zebrina pisang lilin, Ravenala madagascariensis, Stretlitzia reginae,
Heliclona indica yang merupakan tanaman pisang (Tritsosoepomo, 2013).

C. Morfologi Tanaman Pisang


Tanaman pisang termasuk dalam golongan terna monokotil tahunan
berbentuk pohon yang tersusun atas batang semu. Batang semu ini merupakan
tumpukan pelepah daun yang tersusun secara rapat teratur. Percabangan tanaman
bertipe simpodial dengan meristem ujung memanjang dan membentuk bunga
lalu buah. Bagian bawah batang pisang menggembung berupa umbi yang
disebut bonggol. Pucuk lateral (sucker) muncul dari kuncup pada bonggol
yang selanjutnya tumbuh menjadi tanaman pisang. Buah pisang umumnya
tidak berbiji atau bersifat partenokarpi.
Tanaman pisang dapat ditanam dan tumbuh dengan baik pada
berbagai macam topografi tanah, baik tanah datar atau pun tanah miring.
Produktivitas pisang yang optimum akan dihasilkan pisang yang ditanam pada
tanah datar pada ketinggian di bawah 500 m di atas permukaan laut (dpl) dan
keasaman tanah pada pH 4,5-7,5. Suhu harian berkisar antara 25 0C - 280C dengan
curah hujan 2000-3000 mm/tahun. Pisang merupakan tanaman yang berbuah
hanya sekali, kemudian mati. Tingginya antara 2-9 m, berakar serabut dengan
batang bawah tanah (bongol) yang pendek.
Dari mata tunas yang ada pada bonggol inilah bisa tumbuh tanaman baru.
Pisang mempunyai batang semu yang tersusun atas tumpukan pelepah daun
yang tumbuh dari batang bawah tanah sehingga mencapai ketebalan 20-50 cm.
Daun yang paling muda terbentuk dibagian tengah tanaman,
menggulung

dan

terus

tumbuh

memanjang, kemudian secara

keluarnya
progresif

membuka. Helaian daun bentuknya lanset memanjang, mudah koyak, panjang

1,5-3 m, lebar 30-70 cm, permukaan bawah berlilin, tulang tengah penopang
jelas disertai tulang daun yang nyata, tersusun sejajar dan menyirip, warnanya
hijau. Pisang mempunyai bunga majemuk, yang tiap kuncup bunga dibungkus
oleh seludang berwarna merah kecoklatan. Seludang akan lepas dan jatuh ke
tanah jika bunga telah membuka. Bunga betina akan berkembang secara normal,
sedang bunga jantan yang berada di ujung tandan tidak berkembang dan
tetap tertutup oleh seludang dan disebut sebagai jantung pisang. Tiap kelompok
bunga disebut sisir, yang tersusun dalam tandan. Jumlah sisir betina antara 5-15
buah.
Buah pisang termasuk buah buni, bulat memanjang, membengkok,
tersusun seperti sisir dua baris, dengan kulit berwarna hijau, kuning, atau coklat.
Tiap kelompok buah atau sisir terdiri dari beberapa buah pisang. Berbiji atau
tanpa biji. Bijinya kecil, bulat, dan warna hitam. Buahnya dapat dipanen
setelah 80-90 hari sejak keluarnya jantung pisang.
D. Manfaat Tanaman Pisang
Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin,
mineral dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure
pisang dan tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka
melalui proses fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang dipakai sebagi
pembungkus berbagai macam makanan trandisional Indonesia. Batang pisang
abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb.

Manfaat pisang bagi kesehatan cukup potensial karena buah pisang


mengandung makanan yang bergizi lengkap. Menurut ilmuwan dari Universitas
Johns Hopkins di Amerika Serikat bahwa potasium (kalsium) dalam pisang sangat
membantu memudahkan pemindahan garam (natrium) dalam tubuh, sehingga
akan cepat menurunkan tekanan darah (Mulyanti, 2005).
Kandungan gizi buah pisang mengandung energi, protein, lemak, berbagai
vitamin dan mineral, komposisi zat gizi pisang per 100 gram bahan (Mulyanti,
2005).

Pisang barangan merupakan jenis buah pisang yang sangat terkenal


sebagai pisang meja atau segar yang dinikamti setelah makan nasi. Ciri-ciri buah
pisang barangan adalah bentuk buah lurus,pangkal bulat, panjang buah 12-18 cm,
diameter buah 3-4 cm. Warna kulit buah kuning kemerahan dengan bintik-bintik

cokelat, warna daging buah agak orange. Rasa daging buah enak dan aromanya
harum (Mulyanti, 2005).
Pisang barangan termasuk buah meja yang populer di Indonesia. Pertandan
terdiri dari 6-12 sisir, dengan berat 12-20 kg. Setiap sisir terdiri dari 12-20 buah.
Bentuk buah lurus, pangkal bulat, panjang 11 cm, diameter 2,9 cm. Daging buah
kuning keputihan, tidak berbiji, manis, kering dan beraroma. Berat per buah 60
gram (Anonimus, 2005).
II.2 Perkembangan produksi
Kultur jaringan
B. Hidroponik
Hidroponik, budidaya tanaman tanpa tanah, telah berkembang sejak
pertama kali dilakukan

penelitian - penelitian

yang

berhubungan

dengan

penemuan unsur - unsur hara essensial yang diperlukan bagi pertumbuhan


tanaman. Penelitian tentang unsur - unsur penyusun tanaman ini telah dimulai
pada tahun 1600- an. Akan tetapi budidaya tanaman tanpa tanah ini telah
dipraktekkan lebih awal dari tahun tersebut, terbu kti dengan

adanya taman

gantung ( Hanging Gardens) di Babylon, taman terapung ( Floating Gardens) dari


suku Aztecs, Mexico dan Cina (Resh, 1998)
Istilah hidroponik yang berasal dari bahasa Latin yang berarti hydro (air)
dan ponos (kerja). Istilah hidroponik pertama kali dikemukakan oleh W.F. Gericke
dari University of California pada awal tahun 1930- an, yang melakukan
percobaan hara tanaman dalam skala komersial
nutrikultur

atau

hydroponics. Selanjutnya

yang

hidroponik

selanjutnya

disebut

didefinisikan secara

ilmiah sebagai suatu cara budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah, akan
tetapi menggunakan media inert

seperti gravel, pasir, peat, vermikulit,

pumice atau sawdust, yang diberikan larutan hara yang mengandung semua
elemen essensial yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan normal
tanaman (Resh, 1998).
Tanaman dapat tumbuh dengan baik dimana pun apabila nutrisi (unsur
hara) yang dibutuhkan selalu tercukupi. Dalam konteks ini fungsi dari tanah
adalah untuk penyangga tanaman dan air yang ada merupakan pelarut nutrisi,
untuk kemudian bisa diserap tanaman. Pola pikir inilah yang akhirnya melahirkan
teknikbertanam dengan hidroponik, di mana yang ditekankan adalah pemenuhan
kebutuhan nutrisi (Santoso, 2014).

Ada 6 system dalam Hydroponic (Santosa, 2014):


1.

Aeroponic system
Mungkin dari beberapa system hydroponic yang paling berteknologi tinggi

dan mungkin juga memberikan hasil terbaik serta tercepat dalam pertumbuhan
dalam berkebun Hydroponic. Hal ini dimungkinkan karena larutan nutrisi di

berikan atau disemprot ( berbentuk kabut ) langsung ke akar dan lebih mudah
menyerap dan juga larutan nutrisi banyak mengandung oksigen
2.

Drip system
Sistem Tetes adalah system hidroponik yang paling banyak digunakan.

Sistem operasinya simpel, timer mengontrol pompa. Pada saat nyala, pompa
meneteskan nutrisi ke masing-masing tanaman.
3.

NFT
Sistem ini adalah system yang paling orang ketahui ketika mendengar nama

hidroponik. Sistem NFT ini secara terus menerus mengalirkan nutrisi tanpa
menggunakan timer untuk pompanya. Nutrisi ini mengalir kedalam gully
melewati akar-akar tumbuhan dan kemudian kembali lagi ke penampungan air
4.

Ebb dan flow system


Sistem Ebb & Flow bekerja dengan cara membanjiri sementara wadah

pertumbuhan dengan nutrisi, dan kemudian mengembalikan nutrisi itu ke dalam


penampungan. Sistem ini memerlukan pompa yang dikoneksikan ke timer.
5.

Water Culture system


Walter Culture adalah system hidroponik yang paling simpel. Wadah yang

menyangga tumbuhan biasanya terbuat dari Styrofoam dan mengapung langsung


dengan nutrisi. Pompa udara memompa udara ke dalam air stone yang membuat
gelembung-gelembung dan memberikan oksigen ke akar-akar tanaman.
6.

Wick System

Wick system ini salah satu system hidroponik yang paling simpel. Sistem ini
termasuk pasif, karena tidakada part-part yang bergerak. Nutrisi mengalir ke
dalam media pertumbuhan dari dalam wadah menggunakan sejenis sumbu.
Sistem dari tanaman hidroponik ini adalah sebagai berikut (Roidah,
2014):
(1) Memberikan bahan makanan dalam larutan mineral atau nutrisi yang
diperlukan tanaman dengan cara siram atau diteteskan.
(2) Melalui teknik ini dapat dipelihara lebih banyak tanaman dalam satuan
ruang yang lebih sempit. Bahkan, tanpa media tanah dapat dipelihara
sejumlah tanaman lebih produktif.
(3) Sistem dari tanaman hidroponik ini harus bebas pestisida sehingga tidak
ada serangan hama dan penyakit.
(4) Aeroponik adalah modifikasi hidroponik terbaru, tanaman diletakkan diatas
Styrofoam hingga akarnya menggantung
Keuntungan Sistem Hidroponik (Roidah, 2014):
1. Keberhasilan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi lebih terjamin.
2. Perawatan lebih praktis dan gangguan hama lebih terkontrol.
3. Pemakaian pupuk lebih hemat(efisien).
4. Tanaman yang mati lebih mudah diganti dengan tanaman yang baru .
5. Tidak membutuhkan banyak tenaga kasar karena metode kerja lebih hemat
dan memiliki standarisasi.
6. Tanaman dapat tumbuh lebih pesat dan dengan keadaan yang tidak kotor
dan rusak.

7. Hasil produksi lebih continue dan lebih tinggi dibanding dengan penanama
ditanah.
8. Harga jual hidroponik lebih tinggi dari produk non-hydroponic.
9. Beberapa jenis tanaman dapat dibudidayakan di luar musim.
10.Tidak ada resiko kebanjiran,erosi, kekeringan, atau ketergantungan dengan
II.3 Pemupukan
Pupuk adalah bahan yang diberikan pada tanaman baik langsung
maupun tidak langsung, untuk mendorong pertumbuhan tanaman, meningkatkan
produksi atau memperbaiki kualitasnya,

sebagai

akibat

perbaikan

nutrisi

tanaman. Sedangkan pemupukan artinya pemberian pupuk pada tanaman atau


tanah dan substrat lainnya. Pemupukan bertujuan untuk memperoleh produksi
yang tinggi dan bernilai dengan memperbaiki penyediaan hara sambil
mempertahankan atau memperbaiki kesuburan tanah tanpa merusak lingkungan.
(Prihatini, 2012).
Penetapan macam dan jumlah pupuk sangat dipengaruhi oleh: 1) jenis
tanaman yang akan diusahakan, ini berhubungan dengan nilai ekonomi,
angkutan

hara

dan

kemampuan serap tanaman, 2) keadaan kimia tanah,

sehubungan dengan jumlah hara yang tersedia dan, 3) keadaan fisik tanah,
sehubungan dengan aerasi tanah. Keadaan fisik ini berpengaruh terhadap
pemakaian pupuk (Prihatini, 2012).
Bahan organik berfungsi sebagai penyimpan unsur hara yang secara
perlahan dan akan dilepaskan kedalam larutan tanah dan disediakan bagi tanah.
Bahan organik yang berada di dalam atau di atas permukaan tanah juga akan

melindungi dan membantu mengatur suhu dan kelembaban tanah (Prihatini,


2012).
Penambahan bahan organik ke dalam tanah liat berat dapat memperbaiki
drainase, dan pada tanah berpasir dapat memperbaiki daya simpan air. Bahan
organik juga dapat berfungsi sebagai stabilisator dengan jalan merangsang jasad
mikro mampu menghasilkan bahan yang dapat mengikat partikel-partikel tanah.
Bahan

organik

memberikan

beberapa

keuntungan meliputi pengurangan

toksisitas Al dan Mn dengan membentuk kompleks Albahan organik yang tidak


beracun, menyediakan dan menambah unsur hara N, P, K dan S melalui
mineralisasi, menurunkan fiksasi P, meningkatkan kapasitas tukar kation tanah,
meningkatkan sifat-sifat fisik tanah termasuk kapasitas ikat air dan stabilitas
agregat, meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah, mengurangi aliran
permukaan dan erosi tanah (Prihatini, 2012).
Bahan organik yang diberikan akan meningkatkan nilai kapasitas
tukar kation sehingga dari peningkatan nilai KTK yang akan semakin
memudahkan tanaman dalam menyerap unsur hara. Sedangkan peningkatan Ntotal di dalam tanah akan bertambah melalui proses dekomposisi bahan organik
dan juga berasal dari suplai N melalui pemupukan N, P, K yang berada dalam
bentuk tersedia. Bahan organik berperan penting untuk menciptakan kesuburan
tanah. Peranan bahan organik bagi tanah adalah dalam kaitannya dengan
perubahan sifat-sifat tanah, yaitu sifat fisik, biologis, dan sifat kimia tanah.
Bahan organik merupakan pembentuk granulasi dalam tanah dan sangat penting
dalam pembentukan agregat tanah yang stabil. Bahan organik adalah bahan

pemantap agregat tanah yang tiada taranya. Melalui penambahan bahan organik,
tanah yang tadinya berat menjadi berstruktur remah yang relatif lebih ringan.
Pergerakan air secara vertikal atau infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat
menyerap air lebih cepat sehingga aliran permukaan dan erosi diperkecil.
Demikian pula dengan aerasi tanah yang menjadi lebih baik karena ruang pori
tanah (porositas) bertambah akibat terbentuknya agregat (Prihatini, 2012).
Bahan organik memainkan beberapa peranan penting di tanah. Sebab
bahan organik berasal dari tanaman yang tertinggal, berisi unsur-unsur hara
yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Bahan organik mempengaruhi
struktur tanah dan cenderung untuk menjaga menaikkan kondisi fisik yang
diinginkan. Peranan bahan organik ada yang bersifat langsung terhadap tanaman,
tetapi sebagian besar mempengaruhi tanaman melalui perubahan sifat dan ciri
tanah (Prihatini, 2012).

BAB III
METODE PENELITIAN

III.1 Alat
Alat yang digunakan pada penelitin ini adalah mesin pompa air, pipa
polyethylene, hand sprayer, gelas plastik, gabus stryrofoam, cangkul, sekop,
mistar, dan alat tulis.

III.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaiu bibit pisang varietas
Barangan hasil kultur, pupuk Mo Plus, pupuk Gandasil daun, pupuk Grow msne,
tanah, media arang sekam, dan nutrisi LABIOTA (Tabel 2).
Tabel 2. Komposisi larutan LABIOTA
Bahan
Ca(NO3)24H2O
KH2PO4
KNO3
Fe-EDTA
Fertilion Combi:
MgO 9,0%
S 3,0%
Mn 4,0%
Fe 4,0%
Cu 1,5%
Zn 1,5%
B 0,5%
Mo 0,1%

III.3 Metode Percobaan

Gram/ 100 Liter


24
14
65
0,9
1,2

Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk percobaan faktorial dua faktor


dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari dua
faktor, yaitu faktor jenis tanam (P) dan factor pupuk (M).
Faktor Pertama adalah beberapa faktor tanam:
P1 : Hydroponik
P2 : Non- Hydroponik
Faktor kedua adalah faktor jenis pupuk:
M0 : Tanpa pupuk (Kontrol)
M1: Pemberian MO plus
M2: Pemberian Gandasil daun
M3 : Pemberian Grow msne
Tabel. 1. Kombinasi perlakuan yang dicobakan.
Kombinasi perlakuan
P1m0
P1m1
P1m2
P1m3
P2m0
P2m1
P2m2
P2m2

Jenis tanam
Hidroponik
Hidroponik
Hidroponik
Hidroponik
Non-Hidroponik
Non-Hidroponik
Non-Hidroponik
Non-Hidroponik

Jenis pupuk
Tanpa Pupuk
MO plus
Gandasil daun
Grow more
Tanpa Pupuk
MO plus
Gandasil daun
Grow more

Tiap kombinasi diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 24 unit


percobaan. Pada percobaan hidroponik (P1) terdapat 4 tanaman pada tiap 1
perlakuan, diketahui terdapat 4 perlakuan Mo, M1, M2, dan M3, sehingga
diperoleh 48 tanaman, sedangkan dengan cara non hidroponik (P2) terdapat 4
tanaman pada tiap 1 perlakuan, diketahui terdapat 4 perlakuan Mo, M1, M2, dan

M3, sehingga diperoleh 48 tanaman. Jadi total seluruh tanaman sebanyak 96


tanaman.
III.4 Prosedur Kerja
III.4.1 Instalasi Sistem Hidroponik Sistem NFT
Instalasi atau pemasangan system hidroponik NFT dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pipa tempat tanaman yang berukuran 3 m X 0,5 m, tinggi 30 cm dibuat dari
pipa yang dirangkai sehingga terbentuk satu wadah untuk menanam.
2. Kemudian Styrofoam dilubangi dengan jarak 15 cm. Lubang tersebut
merupakan tempat dimana akan dimasukkan gelas plastik tanaman bibit
pisang var. Barangan Musa paradisiaca L.
3. Pipa kemudian di sambungkan pada pompa dengan menggunakan pipa L
untuk memompa air dari tandon penampungan.
4. Setelah pipa NFT dialiri air, nutrisi dicairkan kemudian dimasukkan ke dalam
pipa yang berisi air.
5. Styrofoam yang telah dilubangi, diletakkan di antara sela-sela pipa bagian atas
untuk menopang tanaman bibit pisang var. Barangan Musa paradisiaca L.

Gambar 4. Skema system hidroponik NFT

A. Pipa Tanaman
B. Pipa Paralon 1,5
C. Pompa

Keterangan Gambar:
D. Tandon Air
E. Styrofoam
F. Tanaman

III.4.2 Persiapan Media tanam dan Pupuk


Pembuatan media tanam berupa campuran tanah : pupuk kandang: sekam
dengan perbandngan 1: 1: 1, campuran tersebut di letakkan di atas lahan seluas 5
m X 1 m dan dalam gelas ukuran sedang, lalu dijenuhkan dengan air.
Pupuk yang digunakan dalam penelitian ini didapat dari hasil pembelian
dan beberapa pupuk sudah terdapat di pusat kegiatan penelitian.
III.4.3 Penyiapan Bibit dan Penanaman Bibit
Bibit tanaman di dapatkan dari hasil bibit pasca aklimatisasi. Tanaman
yang telah dikultur secara in vitro, kemudian di aklimatisasi selama 1 minggu
kemudian dipilih tanaman sesuai dengan umur tanaman.

III.4.4 Penanaman Bibit


A. Penanaman Bibit Secara Hidroponik
Penanaman dilakukan dengan langkah langkah sebagai berikut:
1. Bibit tanaman Pisang Barangan hasil kultur di masukkan ke dalam gelas
plastik yang berisi media tanam.
2. Kemudian bibit tanaman pisang barangan dalam gelas plastik dimasukkan ke
dalam styrofoam.
B. Penanaman Bibit Secara Non-Hidroponik
Penanaman dilakukan dengan langkah langkah sebagai berikut:
1. Bibit tanaman Pisang Barangan hasil kultur di tanaman pada lahan yang telah
dibersihkan dan telah dicampurkan dengan media tanam
. Setelah itu dilakukan penyiraman secukupnya, kemudian polybag ditempatkan
ditempat penelitian.

III.4.5 Perlakuan
Pemberian perlakuan diberikan setelah tanaman beruisa 3 minggu setelah
tanam. Tiap media tanam baik Hidroponik (P1) maupun Non-Hidroponik (P2)
memperoleh perlakuan penambahan pupuk dengan perlakuan berupa M0, M1,
M2, dan M3. Dimana M0 (Tanpa pupuk), M1 (Pupuk MO Plus, M2 (Pupuk
Gandasil), M3 (Pupuk Grow More).

1. Pemberian MO Plus sebanyak 10 ml dicampurkan ke dalam 1 liter air


suling, lalu dibiarkan selama sehari

kemudian dimasukkan kedalam

handsprayer lalu diaplikasikan ke tanaman dengan cara disemprotkan pada


daun tanaman pisang var. Barangan.
2. Pemberian Gandasil sebanyak 10 ml dicampurkan ke dalam 1 liter air
suling, lalu dibiarkan selama sehari

kemudian dimasukkan kedalam

handsprayer lalu diaplikasikan ke tanaman dengan cara disemprotkan pada


daun tanaman pisang var. Barangan.
3. Pemberian Grow More sebanyak 10 ml dicampurkan ke dalam 1 liter air
suling, lalu dibiarkan selama sehari

kemudian dimasukkan kedalam

handsprayer lalu diaplikasikan ke tanaman dengan cara disemprotkan pada


daun tanaman pisang var. Barangan.

III.4.6 Pemeliharaan
Pemeliharaan

tanaman

secara

hidroponik

dilakukan

dengan

memperhatikan nutrisi dalam bak tendon secara berkala, serta memperhatikan


kebersihan bak nutrisi dan sekitarnya. Sedangkan pada tanaman non-hidroponik
dilakukan dengan teratur dengan menjaga agar tidak kekurangan air dan nutrisi.
kemudian diadakan kontrol untuk mengamati pertumbuhan tanaman.
III.4.6 Pengamatan
Pengamatan atau pengukuranm dilakukan 1 minggu sekali sampai
tanaman berumur 8 minggu.
Komponen pengamatan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Pertambahan tinggi tanaman (cm)


2. Pertambahan jumlah daun (Helaian)
3. Panjang daun (cm) diukur bagian terlebar daun (tengah)
4. Lebar daun (cm) diukur bagian terpanjang daun.
5. Diameter batang semu, diukur batang yang berada 1 cm di atas permukaan
tanah.
6. Pertambahan tunas tanaman bibit pisang var. Barangan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
.
V.2 Saran
Sebaiknya alat dan bahan lebih dilengkapi agar proses praktikum dapat
berjaaln dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2005. Berkebun Pisang Secara Intensif, Redaksi Trubus, Jakarta.


Marlina, N., dan Dedi rusnandi. 2007. Teknik aklimatisasi planlet anthurium pada
beberapa media tanam. Jurnal Teknik Pertanian Vol. 12 No. 1.
Maslukhah.U. 2008. Ekstrak Pisang Sebagai Supleman Media MS Dalam Media
Kultur. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Mulyanti S., 2005. Teknologi Pangan. Trubus Agri Sarana. Surabaya.


Pamungkas, Saktiyono S. T. 2015. Pengaruh Kombinasi Pemupukan Organik
Dan Anorganik Terhadap Pertumbuhan Pisang Kepok Kuning (Musa
Acuminata M. Balbisiana) Pada Lahan Kering Di Banyumas, Jawa
Tengah. Vol.1 No. 2.
Prihatini, S. 2012. Pengaruh Pupuk Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman
Pisang (Musa Paradisiaca) Di Lahan Kering. Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.
Rodinah. 2009. Kultur Jaringan Beberapa Kultivar Buah Pisang Barangan
(Musa. paradisiaca. L). Universitas Sumatra Utara. Medan. 58
halaman.
Satuhu, S. dan A. Supriadi. 1990. Pisang Budidaya Pengolahan dan Prospek
Pasar.PenebarSwadaya.Jakarta.
Tjitrosoepomo, G. 2013. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Yusnita. 2003. Kultur Jaringan. Cara memperbanyak tanaman secara efisien.
Agro Media Pustaka, Jakarta.
Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.
Roidah, I.S. 2014. Pemanfaatan Lahan Dengan Menggunakan Sistem Hidroponik.
Jurnal Universitas Tulungagung Bonorowo. Vol. 1.No.2.
Santosa. 2014. Prinsip Dasar Hidroponik. http://belajar.bebeha.org/2014/05/
prinsip-dasar-hidroponik.html.
Rosliani. R. dan Nani sumarni. 2005. Budidaya Tanaman Sayuran dengan Sistem
Hidroponik Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Pusat Penelitian Dan
Pengembangan Hortikultura, Badan Penelitian Dan Pengembangan
Pertanian. Bandung.
Rukmana, R. H. 1999. Budidaya Kacang Tanah. Kanisius, Yogyakarta.
Resh, H. M. 2004. Hydroponic Food Production: a definitive guidebook of
soilless food-growing methods. Sixth Edition. Newconcept Press, Inc.
New Jersey. 567 p.

Zafact, 2012. Japanese Medaka. http://zafact.blogspot.co.id/2012/04/japanesemedaka-oryzae-latipes-ikan.html, diakses pada tanggal 20 desember


2015, Makassar.
Environmental pollution with hexavalent chromium has become a
world-wide problem, and in recent there has been increasing concern
because of their toxicity to microorganisms, plants, and animals.
Phytoremediation uses plants to remove pollutans (such as heavy
metals) from environment. The effectiveness of a phytoremediation is
dependent on the selection of the appropriate plants. Phytoremediation
of chromium still have problems because less plant species
hyperaccumulator. In this study, physiological responses investigations

were carried out in Acalypha indica with different levels of hexavalent


chromium (as K2Cr2O7) in hydroponic culture. Different concentrations
of K2Cr2O7 (0, 2.5, 5, 10, 25 and 50 ppm) applied in Hoagland
medium. The experimet was conducted in completely randomized
block design with five replications. Plants growth (number of leaves
and plants height) were measured every 3 days from start of
experiment up to 33 days. Photosynthetic pigment, plants biomass,
length of roots and heksavalent chromium accumulation analysis were
conducted at the end of experiment (33 days). The growth of Acalypha
indica plants inhibited significantly at all level of hexavalent chromium
treatments, as indicated by reduced number of leaves, plants height,
plants biomass (shoot and root), and length of roots. Photosynthetic
pigment of A. indica declined significantly at higher level of hexavalent
chromium treatments (>10 ppm). Accumulation of hexavalent
chromium in A. indica was observed to be dependent on its
concentration and was greater in root ( 54 608 g Cr6+g-1DW) than
in leaves (66-157 g Cr6+g-1DW). The highest efficiency of hexavalent
chromium absorption by roots were showed at 50 ppm Cr6+ treatment
(97. 07%)