Anda di halaman 1dari 42

PENGARUH PEMBERIAN KUNYIT (CURCUMA DOMESTICA VAL)

DAN ASAM JAWA (TAMARINDUS INDICA L)


TERHADAP PENURUNAN NYERI HAID (DISMENORE) PRIMER
PADA MAHASISWI D3 KEBIDANAN ANGKATAN 2014
SEMESTER VI 2016 POLTEKKES KEMENKES BANJARMASIN

PROPOSAL

Lambang
almamater

Oleh :
ERLENIE DIA, S.ST
NIP.197803232006042025

PENGARUH PEMBERIAN KUNYIT (CURCUMA DOMESTICA VAL)


DAN ASAM JAWA (TAMARINDUS INDICA L)
TERHADAP PENURUNAN NYERI HAID (DISMENORE) PRIMER
PADA MAHASISWI D3 KEBIDANAN ANGKATAN 2014
SEMESTER VI 2016 POLTEKKES KEMENKES BANJARMASIN

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Seleksi


Penerimaan Mahasiswa Pasca Sarjana S2 Kebidanan
Pada Universitas Brawijaya Malang

Oleh :
ERLENIE DIA, S.ST
NIP.197803232006042025

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...
KATA PENGANTAR .
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
BAB 1 PENDAHULUAN .
1.1 Latar Belakang .
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian .
1.4 Manfaat Penelitian
1.5 Penelitian Terkait ..

Hal
i
iii
v
1
1
5
5
6
7

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .


2.1 Konsep Menstuasi
2.1.1 Pengertian
2.2 Konsep Dismenore ..
2.2.1 Pengertian .
2.2.2 Klasifikasi
2.2.3 Gambaran Klinis ..
2.2.4 Penyebab
2.2.5 Pengobatan .
2.2.6 Pencegahan .
2.2.7 Cara Mengukur Nyeri ..
2.3 Konsep Kunyit .
2.3.1 Pengertian
2.3.2 Komposisi Kimiawi .
2.3.3 Manfaat
2.4 Konsep Asam Jawa ..
2.4.1 Pengertian .
2.4.2 Komposisi Kimiawi .
2.4.3 Manfaat
2.5 Kerangka Konsep
2.6 Hipotisis ..

9
9
9
12
12
14
15
16
18
19
21
22
22
23
24
25
25
26
27
28
28

BAB 3 METODE PENELITIAN


3.1 Jenis da Rancangan penelitian .
3.2 Definisi Opeasional .
3.3 Populasi dan Sampel .
3.4 Jenis dan Sumber Data ..

29
29
29
30
31

3.5
3.6
3.7
3.8

Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data


Teknik Pengolahan dan Analisa Data
Waktu dan Lokasi Penelitian ..
Etika Penelitian ..

DAFTAR RUJUKAN .
LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

31
32
33
34
49

Hal
Tabel 1. Definisi Operasional . ..

30

Tabel 2. Waktu Penelitian .

33

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Menstruasi merupakan perdarahan bulanan yang berasal dari pelapis rahim
melalui vagina pada wanita yang seksual dewasa dan tidak hamil. Lamanya
perdarahan menstruasi rata-rata berlangsung 3-5 hari dengan siklus rata-rata
28 hari. Dalam kondisi normal, menstruasi tidak menyebabkan gangguan
yang cukup berarti (Soebachman dan Kissantie, 2006 : 213).
Hal ini karena fungsi menstruasi normal merupakan hasil interaksi antara
hipotalamus, hipofisis dan ovarium dengan perubahan-perubahan terkait pada
jaringan sasaran pada saluran reproduksi normal, ovarium memainkan
peranan penting dalam proses ini, karena tampaknya bertanggung jawab
dalam pengaturan perubahan-perubahan maupun lama siklus menstruasi (R.
Aden, 2010 : 71). Peluruhan endometrium secara siklis dan discharge cairan
tubuh dari uterus selama siklus menstruasi (Williams dan Wilkins, 2005 :
710).
Pada kondisi dan orang-orang tertentu, pada saat menstruasi dapat
menimbulkan nyeri, nyeri tersebut disebut dismenore. Nyeri haid(dismenore)
adalah rasa sakit saat menstruasi sampai dapat menggangu aktifitas seharihari. Sakit yang menusuk, nyeri yang hebat di sekitar bagian bawah dan
bahkan kadang mengalami kesulitan berjalan sering dialami

ketika haid

menyerang. Nyeri ini dapat berlangsung setengah hari sampai 5 hari dan
sering kali tampak seperti nyeri berkepanjangan. Banyak wanita terpaksa
harus berbaring karena terlalu menderita sehingga tidak dapat mengerjakan
sesuatu apapun. Ada yang pingsan, ada yang merasa mual, ada juga yang
benar -benar muntah. Ada dua jenis nyeri haid, yaitu primer dan sekunder.
Nyeri haid primer yaitu nyeri haid tanpa adanya kelainan anatomis genitalis
sedangkannyeri haid sekunder merupakan nyeri haid yang disertai dengan
kelainan anatomis genetalis (Manuaba, 2001 : 518). Nyeri haid ini disebut
juga dengan nyeri haid (dismenore).

Dismenore atau nyeri haid yang dirasakan bersifat subjektif. Dismenore


yang sering terjadi pada remaja adalah dismenore primer. Dismenore primer
adalah suatu nyeri haid yang tidak terdapat hubungan dengan kelainan
ginekologik (Simanjuntak, 2008). Remaja putri akan lebih sering merasakan
sakit akibat dismenorea primer karena siklus hormonal yang dialami belum
begitu stabil, dan remaja putri belum sering mengalami kontraksi uterus
seperti wanita dewasa muda. Dismenore primer ini akan sangat mengganggu
konsentrasi dan aktivitas para remaja putri (Junizar, et al., 2001). Remaja
yang mengalami dismenore pada saat menstruasi mempunyai lebih banyak
hari libur kerja dan prestasinyakurang begitu baik disekolah dibandingkan
remaja yang tidak terkena dismenore (Hacker and Moore, 2001). Kram,nyeri
dan ketidaknyamanan yang dihubungkan dengan menstruasi disebut
dismenore. Kebanyakan wanita mengalami tingkat kram yang bervariasi,
pada beberapa wanita hal itu muncul dalam bentuk rasa tidak nyaman ringan
dan letih, sedangkan beberapa yang lain menderita rasa sakit yang mampu
menghentikan aktifitas seharihari. Namun waspadaibila nyeri haid terjadi
terus-menerus setiap bulannya dalam jangka waktu yang lama karena kondisi
itu merupakan salah satu gejala endometriosis (penyakit kandungan yang
disebabkan timbulnya jaringan otot nonkanker sejenis tumor fibroid di luar
rahim)(Sastrowardoyo, 2007).
Sekitar 50 persen dari wanita yang sedang haid mengalami dismenore dan 10
persennya

mempunyai

istirahatditempat

tidur

gejala

yang

(Hacker,2001).

hebat
Untuk

sehingga
mengatasi

memerlukan
dismenore

diperlukanpemahaman yang benar tentang haid terutama untuk para remaja


yang belum mengetahui dan memahaminya (Nawawi,2006).
Angka kejadian dismenore di dunia sangat besar. Menurut beberapa
laporaninternasional prevalensi dismenore sangat tinggi dan setidaknya 4590% wanita mengalami dismenore sepanjang tahuntahun reproduktif. Rataratalebih dari 50%wanita disetiap negara mengalami nyeri haid. Penelitian

lain, di dunia dikatakan prevalensi dismenore primer masih mencapai angka


90% pada wanita yang aktif (Holder, et al., 2014). Di Amerika Serikat
angkapresentasenya sekitar 60%(Proverawati, 2014 : 82). Sedangkan
menurutAlzubaidi setengah dari wanita di Amerika Serikat mengalami
dismenore ketika menstruasi, dari 113 wanita yang melakukan konsultasi ke
praktekdokter, 2944% dari jumlah pasien tersebut mengalami dismenore
(Sulastri,2006), dan di Swedia sekitar 72%. Sementara di Indonesia angkanya
diperkirakan 55% perempuan usia produktif yang tersiksa oleh nyeri saat
menstruasi. Walaupun pada umumnya tidak berbahaya, namun acap kalidirasa
mengganggu bagi wanita yang mengalaminya. Angka kejadian dismenore tipe
primer di Indonesia adalah sekitar 54,89%, sedangkan sisanya adalah
penderita dengantipe sekunder (Proverawati,2014 : 82). Di Jakarta, dismenore
primer pada remaja masih sekitar 83,5% pada tahun 2001 (Riyanto, 2001).
Suatu studi menyatakan akibat dismenore tersebut sekitar 10% hingga 18%,
dismenoreadalah penyebab utama absen dan tergangguaktifitaslain. Halini
diperkuat adanyapenelitian bahwa akibat keluhan dismenore berdampak pada
gangguan aktivitas seharihari sehingga menyebabkan absensekolah/kuliah
3 hari. Hasil studi terbarumenunjukkan bahwa hampir 10% remajayang
dismenore mengalami absence rate 13hari perbulan atauketidakmampuan
wanita dalam melakukan tugasnya seharihari akibat nyeri hebat(Poureslami,
dkk dalam Sulastri, 2006). Tingkatan rasa sakit pada saat menstruasi adalah
sakit ringan 47,7% dan sakit berat sebanyak 47% (Jarret, dkk dalam Sulastri,
2006).
Mengurangi rasa nyeri pada dismenore primer dapat dilakukan dengan
beberapa cara,misalnya penggunaan kompres hangat, mengkonsumsi obatobatan analgetik, olahraga teratur, akupuntur dan mengkonsumsi produkproduk herbal yang telah dipercaya khasiatnya (Smith, 2003). Produk herbal
atau fitofarmaka saat ini memang sedang menjadi alternatif utama bagi para

remaja putri yang ingin mengurangi rasa nyeri tanpamendapat efek samping
(Kylenorton, 2010).
Salah satu produk herbal yang biasa dikonsumsi dan telah familiar di
masyarakat untuk mengurangi nyeri haid adalah minuman kunyit asam
(Wieser, et al, 2007). Sebagian besar masyarakat Indonesia hanya percaya
bahwa

memiliki

kebiasaan

mengkonsumsi

minuman

kunyit

asam

dapatmengurangi keluhan dismenore primer. Namun, masih jarang penelitian


secara empiris, baik observasional ataupun eksperimental di Indonesia
yangmengungkapkan bahwa kandungan minuman kunyit asam yang mampu
mengurangi rasa nyeri pada dismenorea primer.
Minuman kunyit asam adalah suatu minuman yang diolah dengan bahan
utama kunyit dan asam (Limananti dan Triratnawati, 2003). Secara
alamiahmemang kunyit dipercaya memiliki kandungan bahan aktif yang
dapatberfungsi sebagai analgetika, antipiretika dan antiinflamasi (Norton,
2008) begitu juga asam (asam jawa) yang memiliki bahan aktif
sebagaiantiinflamasi, antipiretika dan penenang (Nair, et al., 2004). Selain itu
dijelaskan bahwa minuman kunyit asam sebagai pengurang rasa nyeri pada
dismenore primer memiliki efek samping minimal dan tidak ada bahaya
jikadikonsumsi sebagai suatu kebiasaan (Limananti dan Triratnawati, 2003).
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 12 Februari 2015 di
Akademi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin pada 3 mahasiswi
didapatkan bahwa mahasiswi tersebut pernah mengalami nyeri haid
(dismenore) dan belum pernah menggunakan kunyit dan asam jawa atau
menggunakan ramuan herbal lainnya. Mereka mengatakanbahwa pada saat
menstruasi mereka mengalami nyeri. Fakta dan hasil penelitian serta
berdasarkan hasil data studi pendahuluan tersebut telah memberikan
penekanan lebih pada perawatsebagai pendidik. Pengetahuan tentang

dismenore sangat diperlukan supaya dapat menentukan tindakan apa yang


akan dilakukan selanjutnya (Smeltzer,2001).
Menurut sepengetahuan peneliti, di Akademi Kebidanan Poltekkes Kemenkes
Banjarmasin belum ada penelitian mengenai hal tersebut. Maka dari itu,
berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk mengetahui apakah benar
terdapat pengaruh pemberian kunyit dan asam jawa terhadap kejadian nyeri
haid (dismenore) pada mahasiswi Akademi Kebidanan Poltekkes Kemenkes
Banjarmasin.
1.2

RUMUSAN MASALAH
1.
Apakah ada pengaruh minum kunyit (curcuma domestica val) dan
asamjawa (Tamarindus indica L) terhadap penurunan nyeri haid
(dismenore) primer pada mahasiswi Akademi Kebidanan angkatan 2014
semester VI 2016 di Poltekkes Kemenkes Banjarmasin.

1.3

TUJUAN PENELITIAN
1.3.1 Tujuan Umum
Mengidentifikasi pengaruh pemberian kunyit (Curcuma

domestica

val) dan asam jawa (Tamarindus indica L) terhadap penurunan nyeri


haid (dismenore) primer pada mahasiswi Akademi Kebidanan angkatan
2014 semester VI 2016 di Poltekkes Kemenkes Banjarmasin.
1.3.2

Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi nyeri haid (dismenore) primer sebelum
pemberian kunyit (curcuma domestica val) dan asam jawa
(tamarindus indica l) pada mahasiswi Akademi Kebidanan
angkatan 2014 semester VI Poltekkes Kemenkes Banjarmasin.
1.3.2.2 Mengidentifikasi nyeri haid (dismenore) primer sesudah
pemberiankunyit (curcuma domestica val) dan asam jawa
(tamarindus indica l) pada mahasiswi Akademi Kebidanan
angkatan 2014 semester VI Poltekkes Kemenkes Banjarmasin.
1.3.2.3 Menganalisis pengaruh pemberian minum kunyit (curcuma
domestica val) dan asam jawa (Tamarindus indica L) terhadap

penurunan nyeri haid (dismenore) primer pada mahasiwsi


Akademi Kebidanan angkatan 2014 semester VI Poltekkes
Kemenkes Banjarmasin.
1.4

MANFAAT PENELITIAN
1.4.1 Bagi Mahasiswi
Dapat meningkatkan pengetahuan tentang nyeri haid (dismenore),
primer dansikap dalam mengatasi nyeri haid (dismenore) primer.
1.4.2

Bagi Peneliti
Sebagai sarana untuk mengembangkan pengetahuan serta dapat
digunakan untuk bahan penelitian selanjutnya.

1.4.3

Bagi Akademik
Diharapkan dapat membantu pihak akademik dalam mengenali masalah
kesehatan reproduksi bahwa dalam mengatasi nyeri haid (dismenore)
primer dapat menggunakan bahan herbal tanpa harus menggunakan
obat sentetis.

1.4.4

Bagi Perguruan Tinggi


Dapat digunakan sebagai informasi yang diberikan kepada mahasiswa
dalammeningkatkan kesadaran dan pengertian tentang pengetahuan.

1.5

PENELITIAN TERKAIT
Sepengetahuan peneliti belum ada penelitian yang berjudul pengaruh
pemberian kunyit (Curcuma domestica val) dan asam jawa (Tamarindus
indica L) terhadap kejadian nyeri haid (dismenore) primer pada mahasiswi
Akademi Kebidanan angkatan 2014 semester VI Poltekkes Kemenkes
Banjarmasin, maka peneliti tertarik meneliti hal tersebut.

Berdasarkan penelitian bahwa sebelumnya belum ada yang meneliti judul


diatas, namun ada litelatur lain yang membahas tentang cara mengatasi nyeri
haid antara lain:
1.5.1

Pengaruh pemberian teknik napas dalam dan terapi musik terhadap


nyeri haid (dismenore) pada remaja putri di Surabaya, hasilnya 1.07%1,71% jumlah penderita dismenore, memakai penelitian observasi
partisifasif yaitu suatumetode pengamatan ikut aktif berpartisipasi
dalam kegiatan yang dilakukan.Sampel 10 orang remaja putri yang
masih sekolah mengalami dismenore.

1.5.2

Dewi Yunita (2008). Peneliti terdahulu tentang gambaran karakterisktik


danpengetahuan remaja putrid tentang penanggulangan dismenore di
SMA 1 Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut, hasil penelitian 138 orang
responden yang terjaring ada 128 orang mengatakan nyeri haid (94%).
Dan dengan kejadian penanggulangan dismenore, populasinya seluruh
remaja putri SMA Negeri 1 Bati-Bati yang mengalami dismenore,
sampel penelitian ini adalah remaja SMA Negeri 1 Bati-bati yang
mengalami dismenore. Jenis pendekatan kuantitatif.

Sedangkan penelitian sekarang tentang pengaruh pemberian kunyit (Curcuma


domestica val) dan asam jawa (tamarindus indica L) terhadap penurunan
nyeri haid (dismenore) primer pada mahasiswi Akademi Kebidanan angkatan
2014 semester VI Poltekkes Kemenkes Banjarmasin.
Persamaan dengan penelitian sebelumnya variabel terikat sama yaitu tentang
penanggulangan nyeri haid (dismenore) primer dan ada juga populasi yang
sama yaitu remaja putri yang mengalami nyeri haid (dismenore) primer
walaupun tempatnya berbeda. Sedangkan pebedaan penelitian saya dengan
penelitian terdahulu adalah terletak pada tempat penelitiannya yaitu Poltekkes
Kemenkes Banjarmasin, sedangkan dalam penelitian Dewi Yunita di SMA
Negeri 1 Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut. Pada penelitian saya merupakan
penelitian eksperimental, memberikan perlakuan berupa kunyit (curcuma

domestica val) dan asam jawa (Tamarindus indica L), sedangkan penelitian
lain hanya pendekatan kuantitatif.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Konsep Menstruasi
2.1.1 Pengertian
Menstruasi atau haid adalah keluarnya darah dari dalam rahim melalui
vagina. Darah yang keluar sebagai akibat dari meluruhnya lapisan
dalam rahim yang mengandung pembuluh darah serta sel telur yang

dibuahinya. Menstruasi ini akan datang secara teratur setiap


bulan.Normalnya, setiap wanita pasti akan mengalami proses ini, meski
waktu menstruasi pertama kali serta lamanyamenstruasi pada setiap
wanita itu berbeda-beda (Nurchasanah, 2014 : 149).
Menstruasi adalah suatu proses pembersihan rahim terhadap pembuluh
darah, kelenjar dan sel-sel yang tidak terpakai karena tidak adanya
pembuahan ataukehamilan. Usia normal bagi seseorang perempuan
mendapatkan tamu bulanannyauntuk kali pertama adalah 12 atau 13
tahun. Namun kalau sampai usia 16 tahun belum juga datang bulan
perlu diwaspadai, mungkin ada kelainan. Menstruasi ini sendiri akan
berhenti saat perempuan memasuki masa menopause, yakni sekitar usia
15 tahun. Namun sebelum memasuki masa menopause, haid tetap
dating hanya jangka waktunya lebih lama dan prosesnya cepat, paling
hanya 2-3 hari (Pribakti B, 2010 : 100).
Haid atau menstruasi atau datang bulan merupakan salah sat ciri
kedewasaan perempuan. Haid biasanya diawali pada masa remaja, 9-12
tahun. Ada sebagian kecil yang mengalami lebih lambat dari itu,
13-15 tahun meski sangat jarang terjadi. Cepat atau lambatnya usia
untuk mulai hai d dipengartuhi oleh berbagai faktor, misalnya kesehatan
pribadi perempuan yang bersangkutan, nutrisi, berat badan, dan kondisi
psikologis serta emosionalnya (Anurogo dan Wulandari, 2011 : 10).
Haid adalah siklus alami yang terjadi secara regular untuk
mempersiapkan tubuh
kehamilan.

Siklus

haid

perempuan

setiap

inimelibatkan

bulannya

beberapa

terhadap

tahapan

yang

dikendalikan oleh hipotalamus, kelenjar dibawah otak sel rahim


akan mulai berkembang dan menebal. Lapisan ini berperan sebagai
penyokong bagi janin yang sedang tumbuh bila perempuan sedang
hamil (Anurogo dan Wulandari, 2011 : 12).

Satu siklus menstruasi di bagi atas 4 stadium, yaitu :


2.1.1.1 Stadium menstruasi
Luruhnya dan keluarnya dinding rahim dari tubuh. Hal ini
disebabkan berkurangnya kadar hormone seks. Hal ini secara
bertahap terjadi pada hari ke-1 sampai hari ke-7.
2.1.1.2 Stadium proliferasi
Masa pembentukan dan pematangan ovum dalam ovarium
yang dipicu oleh peningkatan kadar estrogen dalam tubuh. Hal
ini secara bertahap pada hari ke-7 sampai hari ke-13.
2.1.1.3 Stadium ovulasi
Keluarnya ovum matang dari ovarium atau yang biasa disebut
masa subur. Bila siklusnya tepat waktu, maka akan terjadi
pada hari ke -14 dari peristiwa menstruasi tersebut.
2.1.1.4 Stadium sekresi
Masa kemunduran ovum bila tidak terjadi fertilisasi. Pada
tahap

ini, terjadi kenaikan produksi progesterone sehingga

endometrium menjadi lebih tebal dan siap menerima embrio


untuk berkembang. Jika terjadi fertilisasi, maka hormon seks
dalam tubuh akan berulang dan terjadi fase menstruasi
kembali (R. Aden, 2010 : 72).
Siklus haid terdiri dari 3 fase, yaitu :
2.1.1.5 Fase Folikuler
Fase ini dimulai dari hari ke-1 hingga sesaat sebelum kadar
LH (Luteinizing Hormon), hormon gonadotropik yang
disekresi oleh kelenjar pituitary anterior serta berfungsi
merangsang pelepasan sel telur dan membantu pematangan
serta perkembangan sel telur, meningkat dan terjadi pelepasan
sel telur atau ovulasi. Dinamakan fase 3Folikuler karena pada
masa ini terjadi pertumbuhan folikel di dalam ovarium
2.1.1.6 Fase Ovulatoir

Fase ini dimulai ketika kadar LH meningkat. Pada fase inilah


sel telur dilepaskan. Padaumumnya, sel telur dilepaskan
setelah 16-32 jam terjadinya peningkatan kadar LH. Folikel
yang matang akan tampak menonjol dari permukaan indung
telur sehingga akhirnya pecah dan melepaskan sel telur. Pada
saat terjadi pelepasan sel telur ini, beberapa perempuan sering
merasakan nyeri yang hebat pada perut bagian bawah. Nyeri
ini akan terjadi beberapa menit hingga beberapa jam,
mengikuti proses pelepasan sel telur.
2.1.1.7 Fase Luteal
Fase ini terjadi setelah pelepasan sel telur dan berlangsung
selama 14 hari. Setelah melepaskan sel telur, folikel yang
pecah akan kembali menutup dan membentuk corpus luteum
(disebut juga yellow body, struktur anatomis yang kecil dan
berwarna kuning pada permukaan ovarium. Selama masa
subur atau reproduksi wanita, corpus luteum dibentuk setelah
setiap ovulasi atau pelepasan sel telur) yang menghasilkan
progesterone dalam jumlah cukup besar. Hormone Progesteron
ini akan menyebabkan suhu tubuh meningkat. Ini terjadi
selama fase luteal dan akan terus tinggi sampai siklus yang
barudimulai. Peningkatan suhu badan ini dapat digunakan
sebagai perkiraan terjadinya ovulasi. (Anurogo dan Wulandari,
2011 : 21).
2.2

Konsep Dismenore
2.2.1 Pengertian
Dismenore adalah rasa sakit akibat menstruasi yang sangat menyiksa
karena nyerinya luar biasa menyakitkan. Jika terjadi pada wanita tentu
saja akan sangat mengganggu aktivitas dan produktifitas (Nurchasanah,
2014 : 57). Beberapa perempuan mengalami sakit atau kram di daerah
perut bagian bawah saat haid berlangsung, bahkan ada yang sampai

pingsan karena tidak tahan menahan rasa sakitnya. Gangguan seperti ini
disebut Dismenore (Prabakti B, 2010 : 102).
Nyeri haid merupakan suatu gejala bukan penyakit. Istilah dismenore
biasa dipakai untuk nyeri haid yang cukup berat. Dalam kondisi ini,
penderita harus mengobati nyeri tersebut dengan analgesik dan
mmeriksakan diri ke dokter dan mendapatkan penanganan, perawatan
atau pengobatan yang tepat (Anurogo dan Wulandari, 2011 : 35).
Dismenore berat adalah nyeri haid yang disertai mual, muntah, diare,
pusing, nyeri kepala, dan kadang-kadang pingsan. Jika sudah demikian,
penderita

tidak

boleh

menganggap

remeh

dan

harus

segera

memeriksakan diri ke dokter. Penanganannya pun akan dilakukan


secara menyeluruh dan memeriksa kondisi kesehatan dan latar
belakang, serta riwayat penyakit dalam keluarga. Bisa jadi, kondisi
nyeri tersebut dipicu oleh penyakit lain (Anurogo dan Wulandari, 2011 :
35).
Dismenore adalah nyeri haid yang terjadi saat terjadinya haid. Keluhan
dismenore harus selalu dianggap serius dan harus dilakukan upaya
untuk mengurangi insidennya (Corwin, 2014 : 784). Dismenore
merupakan rasa sakit yang tidak enak diperut bawah sebelum dan
selama haid dan sering kali rasa mual sehingga memaksa penderita
untuk istirahat beberapa jam atau beberapa hari (Winkosastro, 2008 :
229).
Ketika haid intensitas nyeri yang dialami perempuan berbeda-beda dari
ringan sampai berat, ada yang menggangu aktivitas sehari-hari ada
juga yang tidak mengeluhkan nyeri haid yang demikian hebatnya
sehingga memaksa penderita untuk beristirahat dan meninggalkan
pekerjaan atau aktivitas sehari -hari selama beberapa

jam

atau

beberapa hari, dalam istilah medis nyeri haid disebutdismenore


(Wiknjosastro, 2008 : 229).
Dismenore merupakan nyeri perut seperti kram kadang terjadi selama
haid, khususnya pada wanita muda. Mungkin juga terjadi diare dan
mual. Penyebabnya diduga karena kontruksi yang berlebihan pada
otot-otot dinding rahim. Dismenore yang mengkramkan sering tidak
muncul setelah kehamilan, tetapi jika hal itu timbul untuk pertama
kalinya pada wanita yang lebih tua,penyakit radang panggul atau
endometriosis mungkin penyebab utamanya (Hardjana, 2000 : 177).
2.2.2

Klasifikasi
Secara klinis, dismenore dibagi menjadi dua yaitu :
2.2.2.1 Dismenore Primer
Dismenore Primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa
kelainanalat-alat genital yang nyata. Dismenore primer
biasanya terjadi dalam 6-12 bulan pertama setelah 2 bulan
haid pertama, segera setelah siklus ovulasi teratur ditentukan
(Anurogo dan Wulandari, 2011 : 44). Bila rasa sakit tidak
disertai riwayat infeksi pada panggul atau pada keadaan
panggul normal, dinamakan dismenore primer dan memiliki
gejala yang ditandai dengan rasa mual, ingin muntah, sakit
kepala, nyeri punggung dan pusing (Pribakti B, 2010 : 102).
Dismenore primer terjadi dua hari sebelum menstruasi tiba
dan biasanya

hilang

setelah memasuki masa menstruasi

(Nurchasanah 2014 : 57).


2.2.2.2 Dismenore Sekunder
Dismenore sekunder dapat terjadi kapan saja setelah haid
pertama,tetapi yang paling sering muncul di usia 20-30
tahunan, setelah tahun-tahun normal dengan siklus nyeri

(Anurogo dan Wulandari, 2011 : 48). Rasa sakit juga dapat


disebabkan oleh peradangan pada panggul, struktur panggul
yang tidak normal, pelekatan jaringan di dalam panggul,
endometriosis, tumor, polip, kista ovarium dan penggunaan
alat IUD, jenis ini dinamakan dismenore sekunder (Pribakti B,
2010 : 102). Dismenore sekunder mirip dengan dismenore
primer, tetapi akibatnya lebih parah dan biasanya lebih lama
daripada dismenore primer (Nurchasanah 2014 : 56).
2.2.3

Gambaran Klinis
2.2.3.1 Dismenore primer
Dismenore primer hampir selaluterjadi saat siklus ovulasi
(ovulatory cycles) dan biasanya muncul dalam setahun setelah
haid pertama. Pada dismenore klasik, nyeri dimulai bersamaan
dengan onset haid atau hanya sesaat sebelum haid dan bertahan
atau menetap selama 1-2 hari. Nyeri dideProposalkan sebagai
spasmodic dan menyebar ke bagian belakang (punggung) atau
paha atas atau tengah (Anurogo dan Wulandari, 2011 : 57).
Berhubungan dengan gejala-gejala umum, seperti malaise (rasa
tidak enak badan), fatigue (lelah), nausea (mual) dan vomiting
(muntah), nyeri punggung bawah, sakit kepala, kadang-kadang
dapat juga disertai vertigo atau sensasi jatuh, perasaan cemas,
gelisah hingga jatuhpingsan dansakit atau penyakit lain
(Anurogo dan Wulandari, 2011 :57).
Gambaran klinis dismenore primer termasuk onset segera
setelah haid pertama dan biasanya berlangsung sekitar 4872 jam, sering mulai beberapa jam sebelum atau sesaat setelah
haid. Selain itu juga terjadi nyeri perut atau nyeri seperti saat
melahirkan dan hal ini sering ditemukan pada pemeriksaan

pelvis yang biasa atau pada rectum (Anurogo dan Wulandari,


2011 : 57).
2.2.3.2 Dismenore Sekunder
Nyeri dengan pola berbeda didapat pada dismenore sekunder
yang terbatas pada onset haid. Ini biasanya berhubugan dengan
perut besar atau kembung, pelvis terasa berat dan nyeri
punggung. Secara khas nyeri meningkat secara progresif
selama fase luteal dan akan memuncak sekitar onset haid
(Anurogo dan Wulandari, 2011: 62).
Gambaran klinis dismenore sekunder sebagai berikut :
a.

Dismenore terjadi selama siklus pertama atau kedua setelah

b.
c.

haid pertama.
Dismenore dimulai setelah usia 25 tahun.
Terdapat ketidaknormalan pelvis dengan pemeriksaan fisik,
pertimbangan kemungkinan terjadinya endometriosis, pelvis
inflammatory disease (penyakit radang panggul)dan pelvis

d.

adhesion(perlengketan pelvis).
Sedikit atau tidak ada respons terhadap obat golongan
NSAID (nonsteroidal anti-inflamatory drug) atau obat antiinfalamasi nonsteroid, kontrasepsi oral, atau keduanya.
(Anurogo dan Wulandari, 2011 : 63).

2.2.4

Penyebab
Secara umum, nyeri haid muncul akibat kontraksi disritmik
miometrium yang menampilkan satu gejala atau lebih, mulai dari
nyeri ringan sampai berat di perut bagian bawah, bokong, dan nyeri
spasmodic di sisi medial paha (Anurogo dan Wulandari, 2011 : 49).
2.2.4.1 Dismenore primer
Beberapa penyebab dari dismenore primer, karena:

a. Faktor endometrium, Rendahnya kadar progesterone pada


akhir fase corpus luteum.
b. Kelainan organik, seperti kelainan letak-arah anatomis
rahim, perkembangan rahim yang tidak lengkap, sumbatan
saluran jalan lahir, tomur jinak yang terdiri dari jaringan
otot, dan polip endometrium.
c. Faktor kejiwaan atau gangguan psikis,seperti rasa bersalah,
ketakutan seksual, takut hamil, hilangnya tempat berteduh,
konflikdengan

masalah

lawan

jenis

kelaminnya,dan

imaturitas.
d. Faktor konstitusi, seperti anemia dan penyakit menahun
juga dapat mempengaruhi timbulnya dismenore.
e. Faktor alergi, peyebabnya adalah toksin haid. Menurut
riset, ada hubungan antara dismenore dengan urtikaria,
migrain, dan asma (Anugoro dan Wulandari, 2011 : 49).
2.2.4.2 Dismenore sekunder
Beberapa penyebab dismenore sekunder antara lain :
a. Intrauterine contraceptive devices (alat kontrasepsi dalam
rahim).
b. Adenomyosis (adanya endometrium selain di rahim).
c. Uterine myoma (tumor jinak rahim yang terdiri dari
jaringan otot), terutama mioma submukosum (bentuk
mioma uteri).
d. Uterine polyps (tumor jinak di rahim).
e. Adhesions (pelekatan).
f. Stenosis atau striktur serviks, striktur kanalis servikalis,
varikosis pelvic, dan adanya AKDR (alat kontrasepsi dalam
rahim).
g. Ovarian cysts (kista ovarium).
h. Ovarian torsion (sel telur terpelintir).
i. Pelvic congestion syndrome (gangguan atau sumbatan di
panggul).
j. Uterine leiomyoma (tumor jinak otot rahim).
k. Mittelschmerz (nyeri saat pertengahan siklus ovulasi).
l. Psychogenic pain (nyeri psikogenik).

m. Endometrium pelvis (jaringan endometrium yang berada


dipanggul).
n. Penyakit radang panggul kronis.
o. Tomur ovarium, polip endometrium.
p. Kelainan letak uterus seperti retrofleksi, hiperantefleksi,
dan retrofleksi terfiksasi.
q. Faktor psikis, seperti takut tidak punya anak, konflik
dengan pasangan, gangguan libido.
r. Allen-Masters syndrome (kerusakan lapisan otot di panggul
sehingga pergerakan serviks meningkat abnormal. Sindrom
ini ditandai dengan: nyeri perut bagian bawah yang
akut, nyeri saat bersenggama, kelelahan yang sangat, nyeri
panggul secara umum, dan nyeri punggung (Anugoro dan
Wulandari, 2011 : 52).
2.2.5

Pengobatan
Cara mengatasi dismenore adalah dengan :
2.2.5.1 Meminum obat pereda rasa sakit.
2.2.5.2 Beristirahat, menarik nafas panjang, menenangkan diri,
berolahraga ringan, mengonsumsi sayur, dan buah-buahan.
2.2.5.3 Mengompres bagian yang terasa sakit dengan air panas.
2.2.5.4 Mengonsumsi jamu kunyit asam, terutama menjelang haid.
(Nurchasanah, 2014 : 58).
Dismenore dapat di obati dengan cara sebagai berikut :
2.2.5.5 Pengobatan dengan herbal seperti mengonsumsi kunyit asam
pagi dan sore hari.
2.2.5.6 Penggunaan suplemen seperti minyak ikan, vitamin E.
2.2.5.7 Perawatan medis seperti diagnosa banding, pemeriksaan
laboratorium, imaging studies (pemeriksaan pencitraan),
prosedur

pemeriksaan

lainnya,

penanganan,

perawatan

pembedahan, dan konsultasi.


2.2.5.8 Relaksasi, penting untuk memberikan kesempatan bagi tubuh
memproduksi hormone yang penting untuk mendapatkan haid

tanpa rasa nyeri. Yoga merupakan salah satu teknik relaksasi


yang dianjurkan untuk mengurangi rasa nyeri haid.
2.2.5.9 Hipnoterapi, salah satunya adalah mengubah pola pikir dari
negatif ke positif.
2.2.5.10 Akupunktur, sangat efektif untuk mengatasi nyeri haid,
sebagian besar penanganan akupunktur yang ada di Indonesia
untuk menangani nyeri

haid

digabungkan

dengan

pengobatan medis. (Anugoro dan Wulandari, 2011 : 85).


2.2.6

Pencegahan
Langkah-langkah yang dilakukan untuk mencegah dismenore (nyeri
haid) adalah :
2.2.6.1 Hindari stress. Sebisa mungkin hidup tenang dan bahagia.
2.2.6.2 Memiliki pola makan yang teratur dengan asupan gizi yang
memadai, memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna.
2.2.6.3 Saat menjelang haid, sebisa mungkin menghindari makanan
yang cenderung asam dan pedas.
2.2.6.4 Istirahat yang cukup.
2.2.6.5 Tidur yang cukup, sesuai standar keperluan masing-masing 6-8
jam sehari sesuai dengan kebiasaan.
2.2.6.6 Rajin minum susu dengan kalsium tinggi.
2.2.6.7 Lakukan olahraga secara teratur setidaknya 30 menit tiap hari.
2.2.6.8 Lakukan peregangan antinyeri haid setidaknya 5-7 hari
sebelum haid.
2.2.6.9 Menjelang haid, cobalah beredam dengan menggunakan air
hangat yang diberi garam mandi dan beberapa tetes minyak
essensial bunga lavender atau sesuai selera masing-masing.
2.2.6.10 Usahakan tidak mengonsumsi obat antinyeri.
2.2.6.11 Selama masa nyeri jangan melakukan olahraga berat atau
bekerja berlebihan sehingga menyebabkan kelelahan.
2.2.6.12 Hindari mengomsumsi alkohol, rokok, kopi, maupun cokelat
karena akan memicu bertambahnya kadar estrogen.
2.2.6.13 Jangan makan segala sesuatu yang dingin secara berlebihan.
2.2.6.14 Perbanyak konsumsi buah-buahan dan sayur makanan
berkadar lemak rendah, konsumsi vitamin E, vitamin B6,
dan minyak ikan untuk mengurangi peradangan.

2.2.6.15 Suhu panas merupakan ramuan tua yang perlu dicoba, seperti
menggunakan bantal pemanas, kompres handuk atau botol
berisi air panas di perut dan punggung bawah serta minum
minuman yang hangat.
2.2.6.16 Pada kasus sangat jarang dan ekstrim, kadang diperlukan eksisi
pada saraf uterus.
2.2.6.17 Terapi alternative
2.2.6.18 Pijatan dengan aroma terapi juga dapat mengurangi rasa tidak
nyaman.
2.2.6.19 Mendengarkan musik, membaca buku atau menonton tv juga
bisa dapat membantu mengurangi rasa sakit. (Anugoro dan
Wulandari, 2011: 77).
2.2.7

Cara Mengukur Nyeri


Mengukur nyeri dapat dikaji dengan prilaku yang menarik diri dari
komunikasi, poster tubuh kaku, keluhan, dan ungkapan verbal
mengenai ketidaknyamanan (Muttaqin, 2008 : 521).
Mengukur nyeri dengan menggunakan pendekatan skala PQRST :
2.2.7.1 Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor
penyebab nyeri, apakah

nyeri

berkurang

apabila

beristirahat,apakahnyeri bertambah berat bila beraktifitas


(aggravation).

Faktor-faktor yang dapat meredakan nyeri

(misalnya gerakan, kurang bergerak, pengarahan tenaga,


istirahat, obat-obat bebas, dan sebagainya) dan apa yang
dipercaya klien dapat membantu mengatasi nyeriya.
2.2.7.2 Quality or quantityof pain: seperti apa nyeri yang dirasakan
ataudigambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut,
tajam, atau menusuk.
2.2.7.3 Region: radiation, relief: lokasi nyeri harus ditunjukkan dengan
tepat oleh klien, apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit
menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi. Tekanan
pada saraf atau akan memberikan gejala nyeri yang disebut

radiation painmisalnya pada skiatika dimana nyeri menjalar


mulai dari bokongsampai anggota gerak bawah sesuai dengan
distribusi saraf. Nyeri lain yang disebut nyeri kiriman atau
referred pain adalah nyeri pada suatu tempat yang sebenarnya
akibat kelainan dari tempat lain misalnya lain misalnyanyeri
lutut akibat kelainan pada sendi panggul.
2.2.7.4 Severity (scale) of pain: seberapa jauh rasa nyeri yang
dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri deskriptif (tidak
ada nyeri, nyeri ringan,nyeri sedang, nyeri berat, nyeri tak
tertahankan) dan klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit
memengaruhi kemampuan fungsi terhadap aktivitas kehidupan
sehari-hari (misalnya tidur,nafsu makan, konsentrasi, interaksi
dengan orang lain, gerakan fisik,bekerja, dan aktivitasaktivitas santai). Nyeri akut sering berkaitan dengan cemas
dan nyeri kronis dengan depresi.
2.2.7.5 Time : berapa nyeri berlangsung (bersifat akut atau kronis),
kapan, apakah ada waktu-waktu tertentu yang menambah
rasa nyeri. (Muttaqin, 2008 : 522).
2.3

Konsep Kunyit
2.3.1 Pengertian
Kunyit salah satu tamanan rempah dan obat, habitat asli tanaman ini
meliputi wilayah Asia khususnya Asia Tenggara. Tanaman ini
kemudian mengalami persebaran ke daerah Indo-Malaysia, Indonesia,
Australia bahkan Afrika. Hampir setiap orang Indonesia dan India serta
bangsa Asia umumnya pernah mengkonsumsi tanaman rempah ini,
baik sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga
kesehatan

dan

kecantikan. Nama lokal dari kunyit adalah saffron

(Ingris), kurkuma (Belanda), kunyit (Indonesia), kunir (Jawa),koneng


(Sunda), konyet (Madura) (Putri, 2011 : 91).

Kunir atau kunyit (curcuma longa Linn sinonim dengan Curcuma


domestica val.) termasuk salah satu tanaman rempah dan obat asli
dari wilayah Asia Tenggara. Penyebaran tanaman ini sampai ke
Malaysia, Indonesia, Asia Selatan, Cina Selatan, Taiwan, Filipina,
Australia, bahkan Afrika. Tanaman ini tumbuh dengan baik di
Indonesia. Tanaman tumbuh tegak dengan mencapai ketinggian 1,0-1,5
m. Memiliki batang semu yang dililit oleh pelepah-pelepah daun. Daun
tanaman runcing dan licin dengan panjang sekitar 30cm dan lebar 8cm.
Bunga muncul dari batang semu dengan panjang sekitar 10-15 cm.
Warna bunga putih atau putih bergaris hijau dan terkadang ujung bunga
berwarna merah jambu. Bagian utama dari tanaman adalah rimpangnya
yang berada dalam tanah.Rimpang ini biasanya tumbuh menjalar dan
rimpang induk biasanya berbentuk elips (Agoes, 2011 : 67).
Anggota family zingiberaceae ini dikenal dengan nama kunyet (Aceh),
kuning(Gayo), kuning himik (Batak), undre (Nias), kunyir, koneng,
koneng temen(Sunda), kunir, kunir bentis, temu kuning (Jawa),
konyek, temo koneng(Madura), guraci (Ternate). Kunyit banyak
tumbuh dihutan dan tinggi tanamannya bisa menncapai 1 meter. Lebar
daun sekitar 7-8 cm, warna daun hijau, bibir daun lirik kekuningan,
dan bunga berwarna putih (Pewe, 2006 : 35).
2.3.2

Komposisi Kimiawi
Kunyit kaya kandungan kimia seperti azadirachtin, minyak gliserida,
asam

asetiloksifuranil-dekahidrotetrametil-oksosiklopentanatolfuran

asetat (Keton) dan heksahidrohidroksitetrametilfenantenon (Nimbol)


(Permadi, 2008 : 36).
Komposisi utama penyusun kunyit yaitu minyak atsiri (d-alfapelandren, dsabinen, sineol, borneol, zingiberen,turmeton, seskuiterpen
alkohol, alfa atlanton, gamma atlanton), furmerol, karvon, kurkumin,

resin, selulosa, kurkuminoid, asam kafeat, protochatecluric acid, dan


tokanon A,B,C dan D (Agoes, 2010 : 67).
Rimpang kunyit mengandung curcumin, karbohidrat, protein, vitamin
C, kalsium, fosfor, besi, turmeron, sineol, borneol, karvon, damar, gom,
dan lemak (Pewe, 2006 : 36).
2.3.3

Manfaat
Umbi akar kunyit yang berumur lebih dari 1 tahun berkhasiat untuk
membersihkanperut, terutama lambung. Umbi juga dapat merangsang
danmelepaskan sisa gas di usus, serta mencegah penggumpalan darah.
Selain itu, kunyit juga digunakan sebagaiobat antigatal dan antikejang
serta dapat mengurangi pembengkakan selaput lender mulut. Kunyit
juga dapat mengobati bengkak dan menyembuhkan bidung yang
tersumbat. Rimpang kunyit sangat bermanfaat sebagai antikoagulan,
menurunkan tekanan darah, obat cacing, obat asma, penambah darah,
obat sakit perut, diare, usus buntu, rematik, bahan campuran kosmetik,
bakterisida, fungisida, dan stimulan otak (Agoes, 2010 : 68).
Kunyit dapat mengobati penyakit diabetes mellitus, tifus, keputihan,
melancarkanperedaran darah, menghilangkan flek diwajah, megatasi
pilek, gangguan haid, radang kulit, rematik, demam, sakit kuning,
hepatitis, diare, disentri dan gangguan pencernaan. Selain itukunyit juga
berkhasiat untuk mengata si radang, berfungsi

sebagai

analgesik,

karmianatif, peluruh haid serta dapat dipakai sebagai obat luar untuk
merawat kulit (astringen) (Murti dan Poerba, 2010: 55).
Penyakit yang dapat diobati oleh kunyit, yaitu demam, dyspepsia
(perut kembung, nyeri, mual, tidak nafsu makan), terlambat haid,
eksem, keputihan, radang rahim, radang usus buntu, hepatitis, sakit

kuing, gatal akibat cacar air, radang gusi, radang amandel, dan tekanan
darah tinggi (Permadi, 2008 : 37).
Di Jawa, kunyit banyak digunakan sebagai ramuan jamu karena
berkhasiat menyejukan, membersihkan, mengeringkan,menghilangkan
gatal, dan menyembuhkan kesemutan. Manfaat utama tanaman kunyit,
yaitu: sebagai bahan obat tradisional,haid tidak lancar, perut mulas
saat haid, memperlancar ASI, cangkrang (waterproken), amandel,
berak lender, morbili, bahan baku industri jamu dan kosmetik, bahan
bumbu masak, dan sebagainya (Dalimartha, 2008 : 92).
2.4

Konsep Asam Jawa


2.4.1 Pengertian
Asam jawa adalah tananaman yang hidup di daerah tropis dan
termasuk

jenis tumbuhan bebuah polong. Batang pohonnya cukup

keras dapat tumbuh menjadi besar. Biasanya buah ini digunakan


untuk masakan dan juga campuran minuman kesehatan seperti jamu
kunir asam (Hakimah, 2016 : 27).
Asam jawa merupakan salah satu bahan untuk memasak. Selain sebagai
bahan makanan, asam jawa juga dapat digunakan untuk membuat
minuman yang menyegarkan. Bukan hanya itu saja, tanaman yang
hidup di daerah tropis ini juga bisa digunakan sebagai ramuan herbal
yang dap at menyembuhkan berbagai macam penyakit (Murti dan
Peorba, 2010 : 24).
Asam jawa termasuk tumbuhan tropis. Asal-usulnya diperkirakan dari
savanna Afrika Timur, di mana salah satu jenis liarnya ditemukan di
Sudan. Sejak ribuan tahun, tanaman ini telah menjelajah ke Asia Tropis,
kemudian ke Karibia dan Amerika Latin. Di banyak tempat yang
bersesuaian, termasuk Indonesia, tanamanan ini sebagai tumbuhan liar

di hutan -hutan savanna. Pohon asam jawa dapat tumbuh baik hingga
ketinggian sekitar 1.000 m dpl pada tanah berpasir atau tanah liat,
khusussnya di wilayah yang musim keringnya jelas dan cukup panjang
(Agoes, 2010 : 108).
Asam jawa memiliki nama ilmiah Tamarindus indica L. Nama daerah
wit asem(Jawa), bak mee (Aceh), asam jawa (Kalimantan), tangkal
asam (Sunda), celagi (Bali) dan asang jawi (Gorontalo). Sedangkan
nama asingnya tamarind(Inggris), suan jiao (Cina) (Hariana, 2014 : 19)
2.4.2

Komposisi Kimiawi
Buah asam jawa mengandung gula invert, tartaric acid, citric acid,
serine, betaalanin, vitamin B3, geranial, limonene, peptin, proline,
leusin, phenylalanine dan pipecolic acid. Bagian daun mengandung
stexin, iovitexin dan isoorientin, sedang pada kulit kayu mengandung
zat tannin (Hariana, 2014 : 20).
Beberapa penelitian menyatakan, bahwa estrak biji asam jawa memiliki
antibakteri sangat kuat, terutama melawan bakteri Eshcherichia-Coli.
Dalam asam jawa terkandung protein, lemak, kalori, hidrat arang,
fosfor, zat besi, vitamin A, vitamin B1 dan vitamin C yang dipercaya
dapat meningkatkan kekebalan tubuh (Hakimah, 2016 : 27).
Daging buah mengandung gula invert, tartaric acid, citrit acid, nicotinic
acid, 1-malic acid, pipecolic acid, vitexin, isivitexin, orientin,
isoorientin, vitamin B, pectin, proline, phenylalanine, leucine, kalium,
dan lemak. Daun mengandung sitexin, isovitexin, orientin, isoorientin,
1-malic acid, tannin, glukosida dan peroksidase. Pada kulitkayunya
mengandung tannin, saponin, glukosida, peroksidase , dan lemak
(Dalimertha, 2008 : 10).

2.4.3

Manfaat
Tendi asam jawa dapat menyembuhkan sakit perut, asma, batuk,
demam, rematik (nyeri sendi), nyeri haid, alergi, sariawan, dan
menurunkan berat badan(Murti dan Peorba, 2010 : 24).
Manfaat dari buah asam jawa bermacam-macam seperti untuk asma,
batuk, demam, sakit panas, reumatik, sakit perut, morbili, alergi,
sariawa n, luka baru, luka borok, eksim, bisul, bengkak disengat
lebah, gigitan ular bisa, rambut rontok, dll (Hakimah, 2016 : 27).
Manfaat buah asam jawa yaitu sebagai antiseptik dapat menghilangkan
rasa sakit, peluruh kandungan, penurun panas, penambah

nafsu

makan, sebagai astrigen dan tonik Sedangkan menurut (Hariana,


2014 : 20).
Asam jawa bermanfaat sebagai demam, rematik, sakit kuning
(jaundice), cacingan, koreng, bisul, sariawan, keracunan alkohol,
radang payudara, kurang nafsu makan, mual dan muntah sewaktu
hamil, sesak nafas (asma), tidak datang haid (amenorea), nyeri haid
(dismenore), dll (Dalimartha, 2008 : 11).
2.5

Kerangka Konsep
Berdasarkan konsep-konsep teori tersebut, maka disusunlah kerangka konsep
ini yaitu sebagai berikut :

Faktor
penyebab:
F.
endometriu
m
F. kelainan
organik
F. kejiwaan

Pemberia
n kunyit
dan asam
jawa

Nyeri
haid
primer

Hilang/
berkura
ng
Tetap

Keterangan :
: Tidak diteliti
: Diteliti
2.6

Hipotesis
(Ha) Ada pengaruh pemberian kunyit (curcuma domestica val) dan asamjawa
(Tamarindus indica L) terhadap penurunan nyeri haid (dismenore) primer
pada mahasiswi Akademi Kebidanan angkatan 2014 semester VI 2016 di
Poltekkes Kemenkes Banjarmasin.

BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1

Jenis dan Rancangan Penelitian


Rancangan penelitian ini merupakan bentuk desain eksperimen. Rancangan
yang digunakan pada penelitian ini adalah pre test-post test desain.
Rancangan ini merupakan rancangan dengan memberikan pre test
(pengamatan awal) dengan mengukur tingkat nyeri siswa menggunakan
kuesioner terlebih dahulu sebelum diberikan intervensi atau perlakuan.
Setelah diberikan perlakuan, kemudian dilakukan post test (pengamatan
akhir).
Subjek

Pre test

Perlakuan

Post test

OI

Keterangan :
K = Subjek
O = Observasi sebelum dilakukan intervensi
I = Intervensi dilakukan dengan memberikan kunyit dan asam jawa 2 kali
sehari
OI = Observasi sesudah dilakukan intervensi
3.2

Definisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional
dan berdasarkan karakteristik yang diamati, memungkinkan peneliti untuk
melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu
obyek atau fenomena (Hidayat, 2007 : 38).

Table 3.1 Definisi Operasional


N
o

Variabel
Penurunan
nyeri haid
(disminore)
primer

Definisi
Parameter
operasional
Menurunnya 0 = tidak ada nyeri
skala nyeri 1 = haid yang nyeri
haid dari skala
yang berat
menjadi skala
yang ringan
atau bahkan
hilang

Alat ukur
Kuesioner

Skala
ukur
Ordinal

tidak

tanpa menghalangi

aktifitas normal
2 = mempengaruhi

tumbuh (sakit kepala,


kelelahan, muntah,

1
Nyeri
sedang:

menghalangi aktifitas,
gejala bersifat

ada:
0
Nyeri
ringan:

sekali pada aktifitas


harian
3 = sangat jelas

Hasil
ukur
Nyeri

2
Nyeri
berat:
3

pingsan)

3.3

Populasi dan Sampel


3.3.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang diteliti. Populasi
dalam penelitian ini adalah mahasiswi Akademi Kebidanan angkatan
2014 semester VI Poltekkes Kemenkes Banjarmasin 2016 yang
mengalami nyeri haid (dismenore) yaitu sebanyak 32 responden, dan
dilakukan dari bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2016
(Notoadmodjo, 2005).
3.3.2

Sampling
Teknik sampel dilakukan dengan mengunakan teknik

purposive

sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan syarat atau


pertimbangan tertentu yaitu sebanyak 32 responden dan dilakukan
dari bulan Juli sampai dengan bulan agustus. Adapun responden
yang menjadi sampel :
3.3.2.1 Mahasiswi yang nyeri haid dari hari pertama sampai hari ke-4
haid

3.3.2.2 Tidak minum obat-obatan analgesik.


3.4

Jenis dan Sumber data


3.4.1 Data primer
Data yang didapat dari kuesioner tentang nyeri haid pada mahasiswi
untuk mengatahui nyeri haid (dismenore) dengan skala Guttman.
3.4.2

Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari tempat penelitian di
Akademi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin angkatan 2014
semester VI yaitu berjumlah 32 orang mahasiswi.

3.5

Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data


3.5.1 Teknik pengumpulan data
Teknik pengambilan data untuk mengukur penurunan nyeri haid
(dismenore) pada mahasiswi dilakukan dengan membagikan kuesioner
kepada responden untuk dijawab.
3.5.2

Instrumen pengumpulan data


Data primer dikumpulkan menggunakan pedoman kuesioner untuk
mendapatkan data tentang nyeri haid (dismenore) dimodifikasi
berdasarkan Skala Guttman.
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur skala nyeri dibagi menjadi
4 kelompok yang masing-masing kelompok diberi bobot 0-3, yaitu :
0

= nyeri haid tidak mengganggu aktivitas sehari-hari

1 (ringan) = haid yang nyeri tanpa menghalangi aktifitas normal


2 (sedang) = mempengaruhi sekali pada aktifitas harian
3 (berat)

= sangat jelas menghalangi aktifitas, gejala bersifat tumbuh


(sakit kepala, kelelahan, muntah, pingsan)

3.6

Teknik Pengolahan dan Analisa data


3.6.1 Teknik Pengolahan Data

Data dari penelitian ini diolah secara manual dengan langkah:


3.6.1.1 Editing, yaitu upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data
yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dilakukan pada
tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul.
3.6.1.2 Coding, yaitu merupakan kegiatan pemberian kode numeric
(angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori.
Pemberian kode ini sangat penting bila pengolahan dan
analisis data menggunakan komputer.
3.6.1.3 Entri data, yaitu kegiatan memasukkan data yang telah
dikumpulkan kedalam master tabel atau database komputer,
kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau bisa
juga membuat tabel kontigensi.
3.6.1.4 Cleaning, yaitu kegiatan pengecekan kembali data yang sudah
di entri apakah ada kesalahan atau tidak.
3.6.2

Analisis Data
3.6.2.1 Analisa Univariat
Analisa Univariat adalah metode
menganalisis variabel

tunggal

yang digunakan untuk

secara

terpisah

sehingga

diperoleh gambaran atau deProposal mengenai variabel


tersebut dalam bentuk persentasi dan proporsi.
3.6.2.2 Analisa Bivariat
Analisa Bivariat adalah teknik analisis untuk menentukan
keterkaitan antara dua variabel dependent sebelum dan sesudah
diberikan perlakuan. Teknik analisis bivariat pada penelitian
ini dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer. Uji
hipotesis yang digunakan pada penelitian ini yaitu Wilcoxon
sign rank test yang digunakan untuk menganalisa hasil-hasil
pengamatan yang berpasngan dari 2 data apakah ada perbedaan
atau tidak.

3.7

Waktu dan Lokasi Penenlitian


3.7.1 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Juli sampai dengan bulan Agustus
tahun 2016.
Tabel 3.2 Waktu Penelitian
N
o
1
2
3
4
5
6

Kegiatan

Fe
b

Ma
r

Ap
r

2016
Me Jun Jul
i

Ag
t

Sep

Konsul bimbingan
Ujian proposal
Pengumpulan data
Analisa data
Penulisan Laporan
Seminar
hasil/ujian
Proposal

3.7.2

Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Akademi Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Banjarmasin di Banjarbaru.

3.8

Etika Penelitian
3.8.1 Surat Persetujuan (Informed Consent)
Diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar
persetujuan untuk menjadi responden. Jika responden bersedia, maka
mereka harus mendatangani lembar persetujuan. Jika responden tidak
bersedia, maka peneliti harus melindungi hak responden (Hidayat,
2007:39).
3.8.2

Tanpa Nama (Anonimity)


Peneliti tidak memberikan atau mancantumkan nama responden pada
lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan
data atau hasil penelitian yang akan disajikan (Hidayat, 2007:39).

3.8.3

Kerahasian (Confidentiality)
Peneliti memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik
informasi maupun masalah lainnya. Semua informasi yang telah
dikumpulkan dijamin kerahasiaanya oleh peneliti, hanya kelompok data
tertentu yang akan dilaporkan dalam hasil riset (Hidayat, 2007:39).

DAFTAR RUJUKAN
Agus H.A. (2011). Tanaman Obat Indonesia. Jakarta: Salemba Medika.
Anurogo D. dan Wulandari A. (2011). Cara Mengatasi Nyeri Haid. Yogyakarta:
CV. Andi.

Dalimartha S. (2008). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 4. Jakarta: Puspa


Swara.
Dr. Pribakti B,SpOG (K). (2010). Tips dan Trik Merawat Organ Intim. Jakarta:
Sagung Seto.
Elizabet J.C. (2014). Patofisiologi. Jakarta: EGC
Hacker N. dan Moore G. (2001). Esensial Obstetri dan ginekologi. Jakarta:
Hipokrates.
Hakimah I.A. (2016). 81 Macam Buah Berkhasiat Istimewa. Yogyakarta: In Azna
Books.
Hardjana. (2000). Tubuh Wanita Modern. Jakarta: Arcan
Hariana H.A (2014). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Seri 1. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Hidayat. A.Alimul Aziz. (2007). Riset KEBIDANAN dan Teknik Penulisan
Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika.
Hidayat. A.Alimul Aziz. (2014). Metode Penelitian KEBIDANAN dan Teknik
Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika.
Manuaba I.B.G. (2001). Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obsetri Ginekologi
dan KB. Jakarta: Buku Kedokteran.
Murti T.K. dan Astri. (2010). 101 Ramuan Tradisional untuk Mengatasi Berbagai
Penyakit. Yogyakarta: Bintang Pustaka Abadi.
Mutaqqin A. (2008). Asuhan KEBIDANAN Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Notoatmodjo S. (2005). Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Renika
Cipta .
Notoatmodjo. Soekidjo. (2007). Kesehatan Promosi Kesehatan dan Ilmu Prilaku.
Jakarta: Rineka Cipta.
Nurchasanah. (2014). Ensiklopedia Kesehatan Wanita. Yogyakarta: Familia.
Permadi A. (2008). Membuat Kebun Tanaman Obat. Jakarta: Pustaka Bunda.
Pewe E. (2006). Apotek Hidup untuk Kesehatan Manusia. Jakarta: Citra Cipta
Purwosari.

Proverawati A. (2014). Menarche Menstruasi Pertama Penuh. Yogyakarta: Muha


Medika.
Putri M. (2011). Tanaman Obat yang Harus Ada Dalam Pekarangan Rumah
Kita. Yogyakarta: Sinar Ilmu Publishing.
R. Aden. (2010). Ketika Remaja dan Pubertas Tiba. Yogyakarta: Hanggar Kreatif.
Sastrowardoyo. (2007). Sulit Hamil Akibat Nyeri Haid Endometrium. Yogyakarta:
Pustaka Abadi.
Soebachman S. dan Kissantie S.R. (2006). Rahasia Pintar Kesehatan Wanita.
Yogyakarta: In Azna Books.
Soetjiningsih. (2004). Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahnnya. Jakarta:
Sagung Seto.
Sulastri. (2006). Prilaku Pencarian Pengobatan Keluhan Dismenorea pada Remaja
di Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah Tesis. Yogyakarta: Univeritas
Gadjah Mada.
Winkosastro. (2008). Ilmu kandungan. Jakarta: YBP-SP.

Lampiran Pernyataan Menjadi Responden


Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama :

Umur :
Kelas :
Setelah saya membaca lembar informasi untuk responden dan mendapat
penjelasan dari peneliti mengenai penelitian yang akan dilakukan, maka saya
sudah memahami maksud dan tujuan penelitian ini sebagai responden secara
sukarela tanpa ada paksaan dari pihak manapun.
Adapun tanda tangan saya dibawah ini adalah sebagai bukti kesediaan saya untuk
turut berpartisipasi dalam penelitian ini.
Saya mengetahui dan menyadari bahwa informasi yang akan saya berikan ini
bermanfaat bagi saya sendiri, masyarakat, dan peneliti.
Banjarmasin,

2016

()

Lembar Informasi Untuk Responden


Kepada : Yang Terhormat Mahasiswi Responden

Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Erlenie Dia
NMP :
Status : ...
Bermaksud melaksanakan penelitian mengenai Pengaruh Pemberian Kunyit
(curcumina domestica val) dan asam jawa (tamarindus indica L) Terhadap
Penurunan Nyeri Haid (dismenore) pada Mahasiswi Akademi Kebidanan
Angkatan 2014 Semester VI Poltekkes Kemenkes Banjarmasin
Data yang diperoleh dari penelitian ini akan sangat bermanfaat baik bagi penliti,
masyarakat, dan mahasiswi yang menerima pengaruh langsung dari tindakan
tersebut. Hasil dari penelitian ini akan digunakan sebagai landasan untuk
dilakukan untuk pensosialisasian lebih lanjut mngenai pemberian kunyit dan asam
jawa terhadap penurunan nyeri haid.
Untuk itu, saya mohon penelitian responden untuk turut berpartisipasi dalam
menjawab berbagai pertanyaan dan menerima tindakan berupa pemberian kunyit
dan asam jawa yang akan diberikan oleh penliti. Informasi dan keterangan yang
akan diberikan nanti akan akan dijamin kerahasiaannya, dan hanya akan
diketahui oleh peneliti dan pihak yang bekompeten. Apabila responden
menyetujui permohonan ini, dipersilahkan untuk mendatangani lembar
pernyataan untuk menjadi responden (terlampir).
Peneliti

(Erlenie Dia)

LEMBAR KUESIONER
Data responden
Nama : ........................................

Kelas : ........................................
Umur : ...........tahun
Lama rata-rata menstruasi
: ......hari
Tanggal rata-rata mulai menstruasi : ...........................
No

Pertanyaan

Jawaban
Ya
Tidak

1 Apakah nyeri haid (dimenore) terjadi sesaat sebelum


haid?
2 Apakah nyeri haid (dismenore) bertahan / menetap
selama 1-2 hari?
Skala
0
1 (ringan)

Severity (scale) of pain


Nyeri haid tidak mengganggu aktivitas
Haid yang menyakitkan tetapi jarang menghalangi
aktivitas normal
2 (sedang) Aktivitas sehari-hari sangat terpengaruh
3 (berat) Aktivitas yang sangat jelas terhalangi

Pre

Post