Anda di halaman 1dari 24

MONITORING PEMANTAUAN KESEHATAN IKAN DAN

LINGKUNGAN DI DESA Tg. BATU KECIL, KECAMATAN BURU,


KABUPATEN KARIMUN, PROVINSI KEPULAUAN RIAU

DISUSUN OLEH :

ROMI NOVRIADI
( PHPI PELAKSANA LANJUTAN )

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN


DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA
BALAI BUDIDAYA LAUT BATAM
2010

1
MONITORING PEMANTAUAN KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN DI DESA
Tg. BATU KECIL, KECAMATAN BURU, KABUPATEN KARIMUN, PROVINSI
KEPULAUAN RIAU

Romi Novriadi
Balai Budidaya Laut Batam
Jl. Barelang Raya Jembatan III, Pulau Setokok-Batam
PO BOX 60 Sekupang, Batam – 29422
E-mail : Romi_bbl@yahoo.co.id

Abstrak

Monitoring & pemetaan sebaran (geographical distribution) jasad patogen


pada ikan merupakan salah satu kegiatan dimana hasil kegiatan yang diperoleh
dapat digunakan sebagai pedoman dalam upaya pengendalian berbagai penyakit
ikan. Agar dapat dihasilkan pemetaan sebaran penyakit yang baik, maka
Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan dengan melibatkan berbagai Pejabat
Fungsional khususnya PHPI melalui anggaran DIPA tahun 2010 melakukan
kegiatan monitoring rutin khususnya di wilayah kerja Balai Budidaya Laut Batam.
salah satunya adalah Desa Tg. Batu kecil, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun,
Kepulauan Riau.

Kegiatan monitoring ini bertujuan untuk mengetahui kondisi keragaan kualitas


lingkungan perairan dan juga distribusi penyebaran penyakit ikan di desa Tg. Batu
kecil. Metoda pengambilan sampel dilakukan secara purposive (ditentukan) untuk
dianalisa baik secara kimiawi maupun biologi. Monitoring ini juga disertai dengan
pengumpulan data secara survey kepada para pembudidaya untuk mengetahui
kendala, hambatan, dan berbagai aspek teknis lainnya khususnya dalam hal
penanggulangan penyakit ikan dan lingkungan.

Dari hasil analisa baik di lapangan maupun di laboratorium diperoleh data


sebagai berikut : pH 7,45 – 7,58, salinitas 28 ‰, oksigen terlarut 5,0 – 5,1 mg/l,
Alkalinitas 90 mg/l, TDS 569 - 622 mg/l, NH3 = 0,11 - 0,14 mg/l, NO3 = 0,2 – 0,3
mg/l, PO4 = 0,07 – 0,09 mg/l dan Total Bakteri Umum 5,04 x 10 4 - 5,11 x 104
CFU/mL. Sementara dari hasil pengamatan biologi pada sampel ikan yang diperoleh
diketahui bahwa Vibrio sp ---telah menyerang komoditas ikan budidaya yang disertai
dengan gejala klinis exopthalmia, luka pada sirip dan hilang nafsu makan.
Sementara untuk analisa VNN (Viral Nervous Necrosis) menunjukkan hasil negatif.

Kata kunci : Monitoring, Kimia dan Biologi, Desa Tg. Batu kecil, Karimun

2
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Pendahuluan

Dalam beberapa tahun belakangan ini masalah kesehatan ikan dan


lingkungan menjadi salah satu masalah terbesar yang harus dihadapi oleh oleh para
pembudidaya ikan di seluruh dunia. Di negara-negara Asia Tenggara produksi ikan
telah sangat dipengaruhi oleh adanya berbagai wabah penyakit ikan seperti
misalnya wabah penyebaran virus KHV, VNN, maupun wabah yang disebabkan
oleh penyebaran parasit an bakteri. Khusus wabah yang disebabkan oleh bakteri
penyebarannya sangat beragam. Salah satu contoh diantaranya adalah wabah
Aeromonas hydrophila yang masih menjadi masalah yang serius terutama pada
peternakan lele dumbo (Clarias gariepinus) dan Ikan hias. Demikian pula infeksi
bakteri Mycobacterium sp. telah mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit pada
usaha budidaya ikan gurame. Kerugian yang diakibatkannya dapat mencapai 60%
kematian. Atau infeksi oleh bakteri pathogen Vibrio sp yang dapat menyebabkan
ikan laut ekonomis penting seperti Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus)
mengalami kematian.

Hingga kini belum tersedia data yang pasti tentang kerugian ekonomi akibat
penyakit ikan, biasanya angka yang tercatat lebih didasarkan pada laporan parsial
yang sangat mungkin hanya merupakan puncak “gunung es” dari kondisi yang
sesungguhnya. Sebagai gambaran, akibat infeksi “luminescent vibriosis” pada
udang windu telah mengakibatkan kerugian puluhan milyar rupiah pada awal tahun
1990-an. Sejak tahun 1994 hingga kini, kerugian akibat White Spot Syndrome Virus
(WSSV) pada budidaya udang windu diperkirakan mencapai lebih dari 100 milyar
rupiah/tahun. Akibat kasus penyakit Koi Herpesvirus (KHV) selama periode 2002
hingga akhir 2006, secara kumulatif diperkirakan telah menimbulkan kerugian lebih
dari 150 milyar rupiah. Kerugian tidak langsung yang berkaitan dengan kasus
penyakit ikan relatif sulit dihitung nilainya, karena hal ini terkait dengan kredit macet,
pengangguran, inefisiensi penggunaan lahan budidaya, terhambatnya investasi
baru, dan industri saprokan (pakan, mesin-mesin perikanan, dll.) menjadi terganggu.

Berbagai upaya dalam hal pengendalian penyakit pada perikanan budidaya


dapat dilakukan. Salah satunya adalah dengan melakukan kegiatan monitoring
secara rutin sehingga diharapkan dapat berperan sebagai Early warning system
pada kegiatan budidaya untuk tahun-tahun berikutnya. Beberapa kasus penyakit
ikan sering muncul secara temporer (musiman) sebagai akibat dari perubahan iklim
makro, musim pemijahan, atau penyebab lainnya. Apabila program monitoring telah
dilakukan dengan baik, akan diperoleh informasi yang akurat terkait dengan kasus
penyakit, hasil diagnosa, tindakan yang dilakukan serta hasil yang dicapai; sehingga
akan memudahkan untuk menyusun strategi pengelolaan kesehatan ikan secara
lebih dini dan antisipatif, efisien dan efektif agar peluang keberhasilannya lebih
tinggi.

3
Sebagai salah satu sentra produksi perikanan budidaya, Kabupaten Karimun
menyimpan potensi yang sangat besar untuk pengembangan berbagai komoditas
budidaya. Potensi sumberdaya perikanan dan kelautan yang terdapat di Kabupaten
Karimun ini terdiri dari berbagai hasil perikanan laut, wisata bahari dan pantai,
ekosistem mangrove, terumbu karang dan rumput laut serta beragam jenis biota laut
lainnya. Salah satu daerah yang diharapkan dapat tumbuh dan berkembang adalah
Kecamatan Buru. Oleh karena itu Tim Kesehatan Ikan dan Lingkungan
mengarahkan Monitoring ke Desa Tg. Batu kecil sebagai salah satu sentra
pengembangan produksi ikan laut dan payau di Kecamatan Buru, Kabupaten
Karimun.

I.2 Tujuan Kegiatan

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, maka tujuan kegiatan


pemantauan ini adalah:
1. Mengetahui sebaran jenis penyakit ikan di desa Tg.
Batu kecil, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun.
2. Mengetahui kondisi keragaan kualitas lingkungan di
desa Tg. Batu kecil., Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun, dalam upaya
mendukung produksi perikanan budidaya berkelanjutan.
3. Mengetahui pola manajemen pemeliharaan dan
penanganan penyakit ikan pada daerah budidaya khususnya di desa Tg.
Batu kecil, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun.

1.3 Manfaat Kegiatan

Hasil pengamatan ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam hal pengembangan


ilmu pengetahuan dan penerapan dimasyarakat serta sebagai bahan
pertimbangan bagi pengambil kebijakan di Kabupaten Karimun.
1. Dari segi pengembangan ilmu pengetahuan hasil penelitian
ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan bidang
pengelolaan manajemen budidaya.
2. Bagi masyarakat, hasil pengamatan ini diharapkan dapat
dijadikan rujukan dalam inventarisir dan penentuan lokasi budidaya
khususnya di ds. Tg. Batu kecil
3. Bagi pengambil kebijakan, hasil pengamatan ini dapat
dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengembangkan dan
mewujudkan kemajuan budidaya ikan di Kabupaten Karimun.

4
BAB III
METODA PENGAMATAN

III.1 Waktu Pelaksanaan

Kegiatan pemantauan Kesehatan Ikan dan Lingkungan ini dilaksanakan pada


hari Kamis – Jum’at, tanggal 8 – 9 Juli 2010 di satu lokasi titik sampling yakni di
KJA Milik Bp. A Ho (Bp. Sumanti), di desa Tg. Batu kecil, Kecamatan Buru,
Kabupaten karimun, Kepulauan Riau.

III.2. Bahan dan Alat Penelitian

Bahan dan alat yang dipergunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
A. Bahan:
− Kuisioner monitoring
− Media agar umum ( Triple Soya Agar )
− Media agar selektif ( TCBS )
− Alkohol 75%
− Spritus
− Ammonia salycilate
− Ammonia cyanurate
− NitriVer
− NitraVer
− Ammonium visicolor test kit
− Nitrit visicolor test kit
− Glyserol
− NaOH
− HCl
− Indikator phenolphtalein
− H2SO4
− Buffer pH 4,01
− Buffer pH 7,0
− Buffer pH 10,0
− Larutan elektrolit
− Aquadest
− IQ 2000 PCR analisis kit
− NaCl fisiologis
− Parafilm
− Agarose

5
B. Peralatan
− Hand Refraktometer
− DO meter
− pH meter
− HACH DR 890 Kolorimeter
− HANNA C203 Ion Specific meter
− Inkubator
− Oven
− Mikroskop
− Cawan petri
− Cool box
− Kamera digital
− Thermocycler
− Vortex
− UV dokumentasi
− Elektroforesis chamber
− Buret
− Statif dan klem
− Glassware
− Dissecting set

III.3 Metode Pengamatan

Pengamatan pada kegiatan pemantauan kesehatan ikan dan lingkungan di


desa Tanjung batu, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun dilakukan dengan
menggunakan beberapa tahapan, yakni :
1. Metoda Survey, pada tahapan ini metoda survey yang
dilakukan adalah metoda Report generation. Dimana responden langsung
menjawab pertanyaan yang diberikan. Jenis pertanyaan yang diajukan
mencakup tentang : manajemen budidaya ikan, manajemen kesehatan ikan
dan lingkungan.
2. Analisa di lapangan, pada tahapan analisa ini dilakukan
untuk pengamatan parameter –parameter yang mengharuskan analisa
dilakukan secara langsung. Pada tahapan ini mencakup kepada parameter :
Visual (Warna, bau dan rasa), pH (derajat keasaman), oksigen terlarut,
Temperatur, dan isolasi organ target untuk analisa bakteri dengan
menggunakan agar TSA dan TCBS, dikarenakan ikan memiliki borok dan
pembengkakan pada permukaan tubuh
3. Analisa di Laboratorium, pada tahapan ini analisa
mencakup parameter-parameter yang telah di preparasi sebelumnya.
Diantaranya adalah : unsur Nitrogen : Nitrit (NO2), Nitrat (NO3), Ammonium
(NH4), Ammonia (NH3), Posfat (PO4), alkalinitas, uji lanjutan bakteri isolasi
dan diagnosa Virus VNN (Viral Nervous Necrosis).

6
Didalam melakukan sampling, baik air atau ikan, patokan yang digunakan oleh
Tim Monitoring Pemantauan Kesehatan Ikan dan Lingkungan adalah SNI dan
juknis yang direkomendasikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Untuk sampling air digunakan SNI 6989.57:2008, dimana kegiatan yang


dilakukan meliputi :

1.1 Untuk penentuan tentang titik sampling, didasarkan pada prinsip tempat
pengambilan sampel dapat mewakili kualitas badan perairan.
1.2 Membuat persyaratan wadah contoh, diantaranya :
a) Menggunakan bahan gelas atau plastik Poli Etilen (PE) atau Poli
Propilen (PP) atau Teflon (Poli Tetra Fluoro Etilen, PTFE);
b) dapat ditutup dengan kuat dan rapat; tidak mudah pecah
c) bersih dan bebas kontaminan;
d) contoh/sampel tidak berinteraksi dengan wadah yang digunakan.
1.3 Persiapan Wadah Sampel
a) untuk menghindari kontaminasi contoh di lapangan, seluruh wadah
contoh harus benar-benar dibersihkan di laboratorium sebelum
dilakukan pengambilan contoh.
b) wadah yang disiapkan jumlahnya harus selalu dilebihkan dari yang
dibutuhkan, untuk jaminan mutu, pengendalian mutu dan cadangan.
c) Jenis wadah contoh dan tingkat pembersihan yang diperlukan
tergantung dari jenis contoh yang akan diambil.
1.4 Cara pengambilan contoh dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a) Disiapkan alat pengambil contoh yang sesuai dengan keadaan sumber
airnya;
b) Dibilas alat pengambil contoh dengan air yang akan diambil, sebanyak 3
(tiga) kali;
c) Diambil contoh sesuai dengan peruntukan analisis dan campurkan
dalam penampung sementara, kemudian homogenkan;
d) Dimasukkan ke dalam wadah yang sesuai peruntukan analisis;
e) Dilakukan segera pengujian untuk parameter suhu, kekeruhan dan daya
hantar listrik, pH dan oksigen terlarut yang dapat berubah dengan cepat
dan tidak dapat diawetkan;
f) Hasil pengujian parameter lapangan dicatat dalam buku catatan khusus;
g) Pengambilan contoh untuk parameter pengujian di laboratorium
dilakukan pengawetan

Sementara untuk pengamatan hama dan penyakit ikan, pengambilan


sampel metoda sampling yang digunakan dapat bervariasi menurut kondisi
tertentu seperti area budidaya, sistim budidaya atau jenis penyakit.
Sesungguhnya dalam pengambilan sampel (sampling) ada 2 teknik yaitu
probability sampling (random sampling) dan non probability sampling .

7
Non probability sampling dalam metode ini, probabilitas anggota
populasi hewan yang dipilih tidak diketahui dan ada kecenderungan
kelompok tertentu mendapat perhatian lebih dari kelompok lainnya. Contoh
metode ini yaitu:

1. metode Convenience sampling yang mendasari pemilihan sampel atas


alasan kemudahan mendapatkan
2. metode purposive sampling, yaitu pemilihan sampel ditujukan untuk
kepentingan tertentu

Adapun metoda sampling yang lebih menjamin akurasi dan mencegah


bias yaitu metoda random sampling. Random sampling dapat mengurangi
kemungkinan inferensi (asumsi bahwa status seluruh populasi sama
dengan sampel yang diamati) yang mungkin saja tidak tepat, dan
mencegah terjadinya bias.

Dalam pengambilan sampel, jumlah sampel yang diambil harus


“cukup” sesuai dengan tujuan monitoring yaitu mengetahui prevalensi
penyakit, estimasi insiden penyakit dan untuk deteksi penyakit atau
menentukan status freedom from disease pengambilan data sekunder
dengan mewawancarai pembudidaya mengenai kondisi budidaya,
lingkungan, kasus serangan penyakit, cara penanggulangan penyakit,
taksiran kerugian, obat-obatan yang dipakai, pakan, dan lain sebagainya.

8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil

A. Data Survey Monitoring

Beberapa point yang menjadi bahan survey


dengan metoda Report Generation pada
monitoring Kesling ini adalah : Luas
budidaya, tingkat teknologi, manajemen
budidaya dan manajemen kesehatan ikan
dan lingkungan. Beberapa kendala baik
aspek teknis dan non teknis juga menjadi
bahan masukan pada kegiatan monitoring
ini. Hasil survey yang kami lakukan
ditampilkan pada tabel berikut :

Nama Pemilik Bp. A Ho ( Bp. Sumanti )


Lokasi Desa Tanjung Batu
Kecamatan Buru
Kabupaten Karimun
Luas budidaya 40 hole dengan ukuran @ 3 x 3 meter
Tingkat Teknologi Madya
Dilengkapi dengan mesin penggiling pakan
dan penyemprot jaring
Pakan Pelet dan Rucah
Komoditas Bawal Bintang ( jumlah : 1700 ekor )
Kerapu macan ( jumlah : 1200 ekor )
Kakap Putih ( jumlah : 1.100 ekor )
Padat tebar 800 ekor/jaring
Asal Benih Balai Budidaya Laut Batam
Medan
Biosekuriti Negatif
Kematian Ikan Ada
Bobot serangan Ringan
Gejala klinis Exopthalmia
Luka di sirip
Luka di permukaan tubuh
Kurang nafsu makan
Upaya yang dilakukan Perendaman air tawar
Perendaman dengan Acriflavine

Waktu serangan April


Perubahan Lingkungan Diawali dengan adanya hujan lebat dan
limpasan air tawar dari sungai gunung papan

9
B. Data Analisa Kualitas Air

Pengambilan data dan analisa kualitas air dilakukan dengan dua (2) tahap,
yakni :
1. Pengambilan data langsung di lapangan, dilakukan untuk parameter
yang mengharuskan pengamatan secara In-situ, diantaranya adalah pH
(derajat keasaman), oksigen terlarut, temperatur, salinitas dan
Ammonium.
2. Pengambilan data secara laboratorium, dilakukan untuk sampel air
yang dapat dianalisa di laboratorium setelah mendapatkan perlakuan
preparasi sampel menurut SNI 6989.57:2008.

Adapun tabel hasil analisa kualitas air adalah sebagai berikut :

HASIL UJI
SATU TEST RESULT SPESIFIKASI METODE
PARAMETER
AN METHODE
PARAMETERS
UNIT TITIK A TITIK B SPESIFICATION

pH 7,45 7,58 SNI 06-6989.11-2004

Nitrat (NO3) 0,3 0,2 Kolorimetrik

Nitrit (NO2) 0 0 Kolorimetrik


Amoniak mg/L
0,14 0,11 Kolorimetrik
(NH3)
Phosphat
0,09 0,07 Kolorimetrik
(PO4)
o IKM/5.4.4/BBL-B
Salinitas /oo 28 28
(Refraktometrik)
Ammonium
0 0 Visicolor Test kit
(NH4)

Alkalinitas 90 90 Titrimetri
mg/l
Oksigen Elektrometri
5,1 5,0
terlarut

TDS 569 622 Elektrometri

0
Elektrometri
Temperatur c 29,4 29,3

Total Bakteri CFU/ 5,04 x 5,11 x Isolasi dan Identifikasi


Umum mL 104 104 Konvensional

10
C. Data Analisa Mikrobiologi

Berdasarkan isolasi organ target untuk analisa bakteri dan virus diperoleh
hasil sebagai berikut :

KODE SPESIFIKASI
PARAMETER HASIL UJI
N SAMPEL METODE
PARAMETER TEST
o SAMPLE METHODE
S RESULT
CODE SPESIFICATION
Isolasi dan
Bakteri Vibrio sp Identifikasi
Bawal
1 Konvensional
Bintang
IKM/5.4.1/BBL-B
VNN Negatif (-)
(PCR)
Isolasi dan
Bakteri Vibrio sp Identifikasi
2 Kerapu Konvensional
IKM/5.4.1/BBL-B
VNN Negatif (-)
(PCR)

Sampel 1 :
Bawal Bintang
( Trachinotus blochi, Lacepede)
Asal Benih :
Balai budidaya Laut batam
Gejala klinis :
1. Exopthalmia
2. Luka sirip
3. Berenang abnormal
4. Kurang nafsu makan

Sampel 2 :
Kerapu Lumpur
( Epinephelus coiodes)
Asal benih :
Medan, Tangkapan alam
Gejala klinis :
1. Luka di permukaan tubuh
2. Berenang abnormal

11
3. Kurang nafsu makan

IV.2 Pembahasan

A. Gambaran Umum Lokasi Monitoring

Kabupaten Karimun merupakan salah satu dari 12


Kabupaten dan Kota hasil pemekaran wilayah di
Propinsi Riau. Sebelumnya Kabupaten Karimun
adalah dari Kabupaten Kepulauan Riau dan
diresmikan sebagai Kabupaten yang berdiri sendiri
berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999, dan pada
awalnya hanya terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan yatiu
Kecamatan Karimun, Kecamatan Kundur dan
Kecamatan Moro. Selanjutnya dalam rangka mendekatkan dan meningkatkan
pelayanan umum maka Kabupaten Karimun dimekarkan menjadi 9 (sembilan)
Kecamatan antara lain Kecamatan Karimun, Kecamatan Meral , Kecamatan
Tebing, Kecamatan Buru, Kecamatan Kundur, Kecamatan Kundur Utara,
Kecamatan Kundur Barat, Kecamatan Moro dan Kecamatan Durai.
LOKASI MONITORING

Secara geografis, Kabupaten Karimun berada pada posisi 000 – 50’ – 25”
Lintang Utara, 010 – 10’ – 30” Lintang Selatan, 030 – 31’ – 20” Bujur Barat dan
1020 – 15’ – 15” Bujur Timur. Kabupaten Karimun mencakup wilayah seluas

12
7.984 Km2 , yang terdiri dari Wilayah Daratan seluas 1.524 Km2 dan Wilayah
Lautan seluas 6.460 Km2 serta memiliki tapal batas wilayah langsung dengan
Selat Singapura, Selat Malaka dan Semenanjung Malaysia.
Dengan batas – batas wilayah sebagai berikut :

• Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Singapura dan Semenanjung


Malaysia atau Selat Malaka;
• Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Kateman Kabupaten
Indragiri Hilir;
• Sebelah Timur berbatasan dengan Kota Batam; dan
• Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten
Bengkalis serta Kecamatan Kuala Kampar Kabupaten Pelalawan.

Karena terdiri dari wilayah perairan, seluruh wilayah Kabupaten Karimun


membentang di sepanjang 3 ( tiga ) gugusan kepulauan yang mencakup 251
buah Pulau. Dari keseluruhan jumlah pulau dimaksud, Pulau yang telah dihuni
sebanyak 54 buah dan sisanya sebanyak 197 buah masih belum berpenghuni.
Sedangkan 2 (dua) buah pulaunya merupakan pulau terluar sesuai PERPRES
Nomor 78/2005/2007; yaitu Pulau Tokong Hiu Besar dan Pulau Karimun Kecil.

Kondisi iklim Kabupaten Karimun dipengaruhi oleh Perubahan Musim Kemarau


terjadi pada bulan Maret hingga dengan bulan Mei, sebahagian musim hanya
terjadi pada bulan September sampai dengan bulan Desember, dengan suhu
rata – rata antara 300C dengan tingkat Kelembaban Udara sekitar80%.
Sedangkan curah hujan adalah sekitar 2.200 mm. Sebahagian besar wilayah
daerah ini terdiri dari daratan landai di Pesisir Pantai, dengan ketinggian yang
bervariasi antara 2 meter sampai dengan 500 meter diatas permukaan laut,
dengan tingkat kemiringan lebih kurang 40 derjat celcius

Dilihat dari kondisi geografis Kabupaten Karimun mempunyai potensi laut


sehingga disamping untuk kegiatan Perikanan juga dimanfaatkan untuk
kegiatan Transportasi dan kegiatan Penambangan Pasir Laut dan Timah.
Perairan laut Kabupaten Karimun mempunyai kedalaman yang bervariasi
dengan dasar perairan lumpur berpasir dan berkarang, Salinitas air laut
berkisar antara 28 – 32 0/00. Kecepatan arus bervariasi pada masing – masing
gugusan pulau di tiap Kecamatan. Tingkat kecerahan air laut bervariasi, hal ini
disebabkan kegiatan penambangan pasir laut dan timah, serta adanya
pengaruh air dari sungai Kampai terutama di disekitar perairan Kundur, Durai,
Buru dan Karimun.

Disamping Perairan Laut daerah ini memiiliki beberapa Selat yang berpotensi
untuk Pengembangan Usaha Perikanan di bidang Budidaya Keramba Jaring
Apung dan Budidaya Rumput Laut serta pertambakan. Selain itu juga memiliki

13
sungai namun tidak begitu berarti dalam pemanfaatan baik bagi Transportasi
maupun untuk Pengembangan Budidaya Perikanan.

B. Manajemen Budidaya

Manajemen budidaya ikan bila ditinjau


dari Penerapan better management
practices mencakup dua hal yaitu:
a. Good aquaculture practices
(pendederan), mencakup weaning,
padat penebaran, pemberian
pakan, grading, sampling,
penggantian waring dan panen.
b. Good feed management,
mencakup kegiatan peberian
pakan komersial, pakan alami atau
KJA milik Bp. A Ho ikan rucah, frekuensi pemberian
pakan dan waktu pemberian pakan

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan di KJA milik Bp. A Ho, beberapa


prinsip Better Management Practices telah dilakukan walaupun belum terlalu
baik. Untuk padat tebar dengan jumlah tebar yang diperoleh dari Staff KJA
Bp. A Ho dengan jumlah 800 ekor/hole untuk ukuran konsumsi tergantung
kepada komoditas budidaya yang dilakukan. Menurut Putro dan Sunaryat,
2008, penebaran benih kerapu macan untuk kegiatan pendederan (ukuran 2-
2,5 cm) berkisar antara 500-700 ekor/m3. dan kalau untuk kegiatan budidaya
jumlah 800 ekor/m3 ini sudah cukup padat. Akibat yang terjadi adalah stress
terhadap lingkungan dan kemungkinan terjadinya gesekan antar ikan dan
gesekan ikan dengan jaring cukup terbuka untuk terjadi. Oleh karena itu
saran yang diberikan adalah pengurangan jumlah padat tebar. Khusunya
untuk Bawal bintang yang merupakan ikan perenang cepat dan
membutuhkan ruang gerak yang cukup luas.

Untuk pengelolaan pakan, Pakan


yang digunakan hendaknya
mempunyai kandungan nutrisi
sesuai untuk benih dan dalam
kondisi baik. Pertumbuhan ikan
yang dipelihara dalam keramba
jaring apung dipengaruhi oleh
faktor biotik dan abiotik. Diantara
faktor tersebut mutu jenis pakan,
frekuensi pemberian pakan, dan

Pakan yang digunakan KJA A Ho


14
kepadatan ikan yang secara langsung akan mempengaruhi pertumbuhan,
produksi, konversi pakan, dan sintasan (Chua dan Tang, 1979). Lebih lanjut
dijelaskan oleh Putro (1997), bahwa jenis pakan yang sudah digunakan
dalam kegiatan pendederan antara lain: pelet, ikan rucah serta pakan hidup
seperti udang rebon, jambret dan artemia.
Berdasarkan pemantauan, pakan yang diberikan merupakan kombinasi
antara pelet (lihat gambar) dan rucah. Kombinasi yang efektif dan disertai
dengan frekuensi pemberian pakan yang optimal dapat mendukung
optimalisasi pertumbuhan komoditas ikan budidaya.
Pemberian pakan sebaiknya diberikan secara adlibitum (pemberian sampai
kenyang, sebanyak 4-5 kali dalam sehari, jam 06.00; 14.00; 18.00 atau jam
06.00, 09.00, 12.00 dan 18.00). Selama pemberian pakan diusahakan tidak
terjadi kelebihan pakan, karena dapat menimbulkan efek yang dapat
merugikan. Kelebihan pakan pada pendederan bak, akan mempercepat
proses penurunan kualitas air yang dapat menyebabkan turunnya nafsu
makan

C. Manajemen Kesehatan Ikan.

Penyakit ikan biasanya timbul karena adanya interaksi antara tiga faktor yaitu
lingkungan, inang dan adanya jasad penyebab penyakit. Apabila ketiga faktor
tersebut berada dalam keseimbangan maka tidak akan terjadi masalah
penyakit.
Penyakit yang muncul pada ikan selain di pengaruhi kondisi ikan yang
lemah juga cara penyerangan dari organisme yang menyebabkan penyakit
tersebut. Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit pada ikan antara lain :
1. Adanya serangan organisme parasit, virus, bakteri dan jamur.
2. Lingkungan yang tercemar (amonia, sulfida atau bahanbahan kimia
beracun)
3. Lingkungan dengan fluktuasi ; suhu, pH, salinitas, dan kekeruhan yang
besar
4. Pakan yang tidak sesuai atau Gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan
ikan
5. Kondisi tubuh ikan sendiri yang lemah, karena faktor genetik (kurang
kuat menghadapi perubahan lingkungan).
Berdasarkan hasil survey dan
wawancara yang
dilakukan, beberapa
kegiatan yang dilakukan
Bp. A Ho untuk
manajemen kesehatan
ikan dan lingkungan
adalah perendaman
dengan air tawar dan
perendaman

Obat yang digunakan oleh Bp. A Ho 15


menggunakan Acriflavine. Untuk pencegahan hal ini sudah cukup baik.
Hanya saja perlu ditingkatkan pemahaman tentang pentingnya
memperkuat sistem immun ikan, seperti : pemberian vaksin atau Vitamin
C

C. Kondisi Kualitas Air

1. pH (derajat keasaman)

pH suatu larutan mencerminkan aktivitas kation hidrogennya, dan dinyatakan


sebagai logaritma negatif dari aktivitas kation hidrogen dalam mole per liter pada
suhu tertentu. Istilah pH lazimnya digunakan untuk menyatakan intensitas
kondisi asam atau alkalin suatu larutan. Kalau pH antara 1 dan 7, ini merupakan
kisaran asam, dan kisaran alkalin adalah pH 7 - 14.
Untuk nilai pH pada lokasi monitoring, berada pada rentang 7,45 – 7,58. kondisi
ini menunjukkan bahwa sifat dasar perairan adalah alkalin. Namun kurang
optimal bagi pengembangan ikan Kerapu ataupun Bawal bintang yang
mempersyaratkan nilai pH berada pada rentang 7,8 – 8,2 ( Juknis BBL Batam).
Kualitas air yang ada, bila ditinjau dari nilai pH, harus dideskripsikan untuk suatu
kawasan pengembangan budidaya perikanan tertentu. Perhatian harus
diberikan kepada variasi pH-perairan secara musiman akibat peristiwa alamiah
ataupun karena aktivitas manusia.
Pengaruh nilai pH terhadap komunitas biologi perairan dapat dilihat pada table
berikut :

Nilai pH Pengaruh Umum


6,0 – 6,5 1. Keanekaragaman plankton dan bentos sedikit menurun
2. Kelimpahan total, biomassa, dan produktivitas tidak mengalami
perubahan
5,5 – 6,0 1. Penurunan keanekaragaman plankton dan bentos mulai
semakin tampak
2. Kelimpahan total, biomassa, dan produktivitas masih belum
mengalami perubahan yang berarti
3. Algae hijau berfilamen mulai tampak pada zona litoral
5,0 – 5,5 1. Penurunan keanekaragman dan komposisi jenis plakton,
perifilton dan bentos semakin besar
2. Terjadi penurunan kelimpahan total dan biom,assa zooplankton
dan bentos
Algae hijau berfilamen semakin tampak
Proses nitrifikasi terhambat
4,5 – 5,0 1. Penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis plankton,
perifilton dan bentos semakin besar
2. Penurunan kelimpahan totatl dan biomassa zooplankton dan
Bentos

16
3. Algae hijau berfilamen semakin banyak
4. Proses Nitrifikasi terhambat
Sumber : Modifikasi Baker et al., 1990- dalam Effendi, 2003

2. NH3 (Ammonia)
Amonia dan garam-garamnya bersifat mudah larut dalam air. Sumber
amonia di perairan adalah pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan
nitrogen anorganik yang banyak terdapat di dalam tanah dan air, yang berasal
dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati)
oleh mikroba dan jamur. Tinja dari biota akuatik yang merupakan limbah aktivitas
metabolisme juga banyak mengeluarkan amonia. Sumber amonia yang lain
adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi udara atmosfer,
limbah industri dan domestik. Amonia yang terdapat dalam mineral masuk ke
badan air melalui erosi tanah. Di perairan alami, pada suhu dan tekanan normal
amonia berada dalam bentuk gas dan membentuk kesetimbangan dengan gas
amonium.
Berdasarkan pengamatan, rentang konsentrasi NH3 (Ammonia) di
perairan KJA Bp. A Ho di wilayah ds. Tg. Batu, Kecamatan Buru berada pada
rentang konsentrasi 0,11 – 0,14 mg/l. Keadaan ini sudah jauh melampaui batas
ambang kelayakan konsentrasi Ammonia perairan yang mempersyaratkan
konsentrasi <0,02 mg/l. Bila dilihat kembali hasil analisa maka terdapat kenaikan
hingga 600%.
Amonia bebas (NH3) yang tidak terionisasi (Unionized) bersifat toksik
terhadap makhluk akuatik. Toksisitas amonia terhadap organisme budidaya
dapat meningkat jika terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, pH, dan suhu.
Ikan tidak dapat bertoleransi terhadap kadar amonia bebas yang tinggi di
perairan karena dapat mengganggu proses pengikatan oksigen oleh darah dan
pada akhirnya akan menyebabkan Sufokasi. (Hafni Effendi, 2003).

3. Alkalinitas
Alkalinitas secara umum menunjukkan konsentrasi basa atau bahan yang
mampu menetralisir keasaman dalam air. Secara khusus, alkalinitas sering
disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas pem - buffer -an dari ion
bikarbonat, dan sampai tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air.
Ketiga ion tersebut di dalam air akan bereaksi dengan ion hidrogen sehingga
menurunkan kemasaman dan menaikkan nilai pH.
Bila ditinjau dari hasil pengamatan di ds. Tg. Batu, nilai alkalinitas yang
diperoleh adalah 90 mg/l. Nilai alkalinitas yang baik adalah 100 mg/l. Hal ini
berarti perairan dapat diklasifikasikan sebagai perairan lunak (Soft water).
Alkalinitas biasanya dinyatakan dalam satuan ppm (mg/l) kalsium Karbonat
(CaCO3). Nilai alkalinitas berkaitan erat dengan korosivitas logam dan dapat
menimbulkan permasalahan pada kehidupan makhluk hidup. Terutama yang

17
berhubungan dengan iritasi pada sistem pencernaan (Gastro intestinal). Jika
dididihkan dalam waktu yang cukup lama, perairan dengan nilai alkalinitas yang
tinggi akan menghasilkan deposit dan menimbulkan bau yang kurang sedap.
Perairan dengan nilai alkalinitas tinggi (100-200 mg/l) lebih produktif bila
dibandingkan dengan nilai alkalinitas rendah. Tingkat produktivitas perairan ini
berkaitan dengan keberadaan Posfor dan elemen essensial lainnya yang
kadarnya meningkat dengan meningkatnya nilai alkalinitas.
4. T D S (Total Dissolved Solid)

Padatan Terlarut Total (Total Dissolved Solid atau TDS) adalah bahan-
bahan terlarut (Diameter <10-6 mm) dan koloid (Diamater 10-6 – 10-3 mm) yang
berupa senyawa-senyawa kimia dan bahan-bahan lain, yang tidak tersaring pada
kertas saring berdiameter 0,45 μm. TDS sangat penting karena pengaruhnya
terhadap palatabilitas dan efeknya untuk menyebabkan reaksi fisiologis yang
buruk. Air yang kaya mineral juga kurang bagus bagi aplikasi industri, dan juga
kualitasnya untuk irigasi agak terbatas.
TDS biasanya disebabkan oleh bahan anorganik yang berupa ion-ion
yang biasa ditemukan di perairan. Untuk air laut biasanya memiliki nilai TDS
yang cukup tinggi, karena banyak mengandung senyawa kimia, yang juga
mengakibatkan tingginya nilai salinitas dan daya hantar listrik / Konduktivitas.
Baku Mutu Lingkungan (BML) untuk TDS adalah <400 mg/l. Bila ditinjau
dari hasil analisa maka rentang konsentrasi yang diperoleh adalah 569 – 622
mg/l. Hal ini sudah jauh melampaui BML yang ditetapkan. Salah satu hal yang
patut menjadi perhatian bila nilai padatan terlarut ini tinggi adalah terganggunya
proses osmoregulasi pada ikan akibat banyakya partikel terlarut di dalam air.

5. Posfat (PO4)

Posfat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan


(Dugan, 1972). Karakteristik posfor sangat berbeda dengan unsur-unsur utama
lain yang merupakan penyusun biosfer karena unsur ini tidak terdapat di
atmosfer. Berdasarkan kadar posfat di perairan, maka perairan diklasifikasikan
menjadi 3, yaitu :
1. Perairan oligotrofik, yakni perairan dengan kadar ortofosfat 0,003 – 0,01 mg/l
2. Perairan mesotrofik, yakni perairan dengan kadar ortofosfat 0,011 – 0,03 mg/l
3. Perairan eutrofik, yakni perairan dengan kadar ortofosfat 0,031 – 0,1 mg/l
(Vollenweider dalam Wetzel, 1975).
Jika ditinjau dari hasil analisa di lokasi monitoring, konsentrasi Posfat yang
diperoleh adalah 0,07 – 0,09 mg/l. Hal ini berarti perairan tergolong kepada
perairan eutrofik, yang berarti tingkat kesuburannya dapat menstimulir ledakan
algae di perairan (algae bloom). Alga yang melimpah ini dapat membentuk
lapisan pada permukaan air, yang selanjutnya dapat menghambat penetrasi
cahaya matahari dan oksigen sehingga kurang menguntungkan bagi ekosistem
perairan. Disamping hal tersebut, tingkat kesubran tinggi ini juga dapat
menstimulir pertumbuhan bakteri yang cukup tinggi dan ini juga didukung dengan

18
data Total Bakteri Umum dalam perairan yang mencapai 5,04 x 104 - 5,11 x 104
CFU/ml.

6. Salinitas

Salinitas didefinisikan sebagai total


padatan dalam air setelah semua
karbonat dikonversi menjadi oksida,
semua bromida dan iodida diganti
dengan klorida, dan semua bahan
organik telah dioksidasi. Satuan untuk
salinitas lazimnya adalah g/kg atau satu
per seribu.

Salinitas menimbulkan tekanan-tekanan


osmotik. Pada umumnya kandungan
garam dalam sel-sel biota laut cenderung mendekati kandungan garam
kebanyakan air laut. Kalau sel-sel itu berada di lingkungan dengan salinitas
berbeda maka suatu mekanisme osmoregulasi diperlukan untuk menjaga
keseimbangan kepekatan antara sel dengan lingkungannya. Pada kebanyakan
binatang estuarin, penurunan salinitas biasanya dibarengi juga dengan
penurunan salinitas di dalam sel. Suatu mekanisme osmoregulasi baru terjadi
bila ada perubahan salinitas yang nyata.

Cara-cara osmoregulasi meliputi perlindungan luar dari perairan sekitarnya,


perlindungan membran sel dan mekanisme ekskresi untuk membuang kelebihan
air tawar dan sel dari badan. Bila ikan berada di lingkungan dengan salinitas
berbeda dikhawatirkan energi pakan yang masuk akan terbuang dikarnakan ikan
terus melakukan proses osmoregulasi untuk mengatur keseimbangan cairan
tubuh dengan lingkungan sehingga pakan yang diberikan tidak optimal untuk
mendukung pertumbuhan ikan.
Untuk konsentrasi salinitas pada
pemeliharaan ikan laut seperti Kerapu
dan Bawal Bintang yang dipersyaratkan
adalah 28-32‰. Berdasarkan hasil
pemantauan dimana konsentrasi
salinitas adalah 28‰, berarti masih
berada dalam BML yang ditetapkan
namun sudah berada di batas bawah.
Hal yang dikhawatirkan adalah bila
terjadi limpasan air dari Sungai gunung

19
papan dalam jumlah besar, dikhawatirkan perairan mengalami penurunan
konsentrasi salinitas yang menyebabkan ikan lebih sering melakukan
osmoregulasi, yang berarti energi yang diberikan melalui pakan akan habis untuk
menyesuaikan tekanan osmotik dalam tubuh dan lingkungan. Bila ini terjadi
dalam waktu yang cukup lama dan berkelanjutan dikhawatirkan ikan mengalami
kematian bila ada arus air yang berasal dari muara sungai gunung papan. Solusi
yang dapat diambil aalah memilih lokasi budidaya baru yang memiliki nilai
salinitas yang lebih stabil sepanjang tahun.

D. Analisa Bakteri dan Virus

Untuk mendapatkan hasil terbaik, isolasi


organ target dilakukan langsung di
lapangan dengan memperhatikan
tingkat sterilisitas tempat dan peralatan
yang dipakai. Untuk bakteriologi, organ
target langsung diisolasi di media umum
TSA (Triple Soya Agar) dan media
selektrif (TCBS). Pengamatan dan uji
lanjutan selanjutnya dilakukan di
laboratorium. Dari hasil pengamatan
bakteri yang ditemukan adalah Vibriosis
sementara hasil analisa virus
menunjukkan hasil negatif.

Penyakit Vibriosis pada ikan budidaya laut telah diketahui sebagai salah satu
penyebab rendahnya sintasan baik pada saat di pembenihan maupun pada saat
pembesaran. Ada beberapa bakteri Vibrio sp yang berperanan dalam
menyebabkan timbulnya penyakit pada ikan, namun menurut hasil penelitian
yang dilakukan oleh Murdjani (2002) yang paling dominan adalah V.
alginolyticus. Penanggulangan penyakit Vibriosis pada ikan kerapu sampai saat
ini masih tertumpu pada penggunaan obat-obatan atau antibiotika, namun
hasilnya belum memuaskan. Hal ini disebabkan singkatnya waktu inbukasi
bakteri tersebut sampai menyebabkan kematian. Dengan semikian pengobatan
dengan antibiotik sering mengalami keterlambatan dan akibatnya antibiotik
menjadi tidak efektif. Disamping itu, pembudidaya ikan, khususnya dan
pembudidaya ikan pada umumnya tidak melakukan monitoring penyakit secara
rutin dan benar, sehingga adanya penyakit sering diketahui sudah dalam
keadaan tidak bisa diobati atau sakitnya sudah terlalu lanjut
Tidak konsistennya pembudidaya dalam melakukan monitoring internal
menyebabkan terdapat beberapa sampel ikan yang mengalami berbagai gejala
Vibriosis. Pengobatan dengan perendaman ataupun Acriflavine tidak terlalu
efektif dalam menanggulangi penyakit ini. Saran yang diberikan adalah dengan
dilakukannya pemberian Vitamin sejak dini ataupun dengan pemberian vaksinasi
pada benih yang baru didatangkan.

20
Untuk hasil analisa VNN (Viral Nervous Necrosis) menunjukkan hasil negatif. Hal
ini juga didukung dengan kondisi di lapangan. Dimana tidak ditemukannya gejala
klinis yang memperlihatkan ikan terserang penyakit virus VNN.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan

1. Penerapan Good Aquaculture Practices pada KJA Bp. A Ho, sudah baik.
Namun beberapa hal yang harus diperhatikan adalah tingkat padat tebar,
pemberian pakan, grading dan Biosekuriti harus diaplikasikan sesuai dengan
petunjuk teknis budidaya ikan.
2. Lingkungan KJA Bp. A Ho sangat tidak optimal dalam mendukung budidaya
ikan berkelanjutan, hal ini terbukti dari hasil analisa untuk parameter pH,
NH3, salinitas, PO4, Alkalinitas, TDS dan Total Bakteri Umum yang
semuanya telah melampaui Ambang batas Baku Mutu Lingkungan baik
menurut Kepmen LH No.51/2004 untuk biota laut maupun menurut juknis
pemeliharaan ikan laut Kementerian Kelautan dan Perikanan.
3. Analisa Mikrobiologi pada sampel ikan menunjukkan bahwa penyakit
Vibriosis sudah mulai menyerang komoditas ikan budidaya sementara hasil
analisa virus negatif.

V.2 Saran

Berdasarkan hasil pengamatan tersebut diatas, maka disarankan untuk


dilakukan penelitian lanjutan tentang jenis Vibrio yang ditemukan baik di tubuh
ikan maupun yang ada di perairan.

21
UCAPAN TERIMA KASIH

Pada kesempatan yang berbahagia ini ijinkan kami mengucapkan terima kasih
kepada berbagai pihak yang telah membantu kelancaran tugas monitoring di
Desa Tanjung Batu, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.
Sehingga berjalan lancar dan tidak ada halangan satu apapun. Adapun pihak-
pihak yang ingin kami haturkan terima kasih adalah :

1. Bp. Ir. Hazmi Yuliansyah, M.Si selaku Kepala Dinas Kelautan dan
Perikanan Kabupaten Karimun
2. Ibu Nurjanah, S.Pi, selaku Kepala Bagian Budidaya Dinas Kelautan dan
Perikanan Kabupaten Karimun
3. Bp. Saiful, S.St.Pi, Selaku staff bagian budidaya Dinas Kelautan dan
Perikanan Kabupaten Karimun
4. Bp. Anton, selaku petugas PPL Kecamatan Buru Dinas Kelautan dan
Perikanan Kabupaten Karimun
5. Bp. Samad, selaku staff teknis KJA milik Bp. A Ho

Demikian ucapan terima kasih ini kami haturkan, semoga bantuan yang
Bapak/Ibu berikan menjadi amal jariyah dan diberikan balasan yang setimpal
dari Yang Maha Kuasa

22
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2002. Pedoman Umum Monitoring dan Surveilance Hama dan Penyakit
Ikan. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya. Direktorat Kesehatan Ikan Dan
Lingkungan

Cameron, A. 2002. Survey Toolbox for Aquatic Animal Diseases. A Practical Manual
and Software Package. ACIAR Monograph, No. 94, 375p.

Crosa, J.H., M.A. Walter, and S.A. Potter, 1983. The genetic of plasmid-mediated
virulence in the marine fish pathogen Vibrio anguillarum. Bacterial and viral
diseases of fish. Molecular studies. A Washington Sea Grant Pub. Univ. of
Washington, Seattle.

Effendi, Hefni, 2003, Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Egusa, S. 1983. Disease problem on Japanese Yellow tail (Seriola quinquiradiata),


culture : A riview. In Stewrt, J.E. (ed) Diseases of comercially important
Marine fish and Shellfish. Conseil International pour l'Exploration de la Mer,
Copenhagen p 10-18.

Evelyn, T.P.T., 1984. Immunization against pathogenic Vibrio. Symposium on fish


Vaccination. OIE, Paris 20-22 February 1984.

Ghufran, M. 2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Jakarta : Rineka


Cipta.

Glamuzina, B., N. Glavic, B. Skaramuca, V. Kozul and P. Turtman, 2001. Early


development of the hybrid Epinephelus costal (male) x E. marginatus
(female). Aquaculture 198 (1-2) 55-61

Iverson, J. B. (1971) Strontium chloride B and E. E. enrichment broth media for the
isolation of Edwardsiella, Salmonella and Arizona species from Tiger Snakes.
Journal of hygiene, Cambridge 69, 323-330

23
Johni F, Roza. D dan Zafran. 2005. Infeksi Bakteroal pada Ikan Laut Budidaya dan
Upaya Pengendaliannya. Dipresentasikan sebagai bahan Diseminasi
Budidaya Laut Berkelanjutan 10 – 13 April. BBRBL Gondol Bali. 11 hal

Kamiso, H.N., Triyanto dan Sri Hartati, 1992. Penanggulangan penyakit Motil
Aeromonas Septisemia (MAS) pada ikan lele (Clarias sp.). ARM Project,
Balitbang Pertanian, Deptan., 38 p.

Kasonchandra, J., 1999. Major viral bacterial diseases of marine fishes with
emphasison seabass and grouper. Paper contributed to the Fourth
Symposium on Diseases in Asian Aquaculture. Cebu International
Convention Centre, Waterfront Cebu City Hotel, Cebu Cyti Philippines.
Kitao T., T. Aoki, M. Fukudome, K. Kawano, Y. Wada dan Y. Mizuno, 1983.
Serotyping of Vibrio anguillarum isolated from diseased freshwater fishes in
Japan. J. Fish Diseases, 6:175-181.
Murdjani, M., 1997. Pembenihan ikan kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) dalam bak
terkendali di Loka BAP Situbondo. Ditjen Perikanan, Deptan., 9 hal.

Murdjani, M., 2002. Identifikasi dan patologi bakteri Vibrio alginolyticus pada ikan
kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Disertasi, Program Pasca Sarjana,
Universitas Brawijaya, Malang.

Taukhid, 2010, Dukungan Monitoring dan Pemetaan Sebaran Jasad Patogen Bagi
Upaya Pengendalian Penyakit Ikan, Makalah, Disampaikan di Hotel Salak
pada pertemuan : Penyusunan Pedoman Umum Monitoring dan Surveillance,
Bogor.

24