Anda di halaman 1dari 33

PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji dan syukur pada Dzat yang Maha Rahman dan Rahim, karena berkat
hidayah dan inayah-Nya, bahan-bahan laporan hasil kegiatan praktik lapangan di Balai
Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang dapat kami selesaikan.
Dalam menyusun bahan-bahan ini, kami menyadari masih terdapat kekurangan, tiada lain
karena keterbatasan kemampuan yang kami miliki. Oleh karena itu, mohon maaf yang
sebesar-besarnya, mudah-mudahan Tuhan SWT mengampuni segala kekhilafan kita semua.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada para dosen yang telah
memberikan materi pada masa perkuliahan berlangsung yang manfaatnya bisa diaflikasikan
dalam kegiatan praktik ini. Dan pada kesempatan ini pula, kami mengucapkan terimaksih
kepada :
1. Bapak Khoroni, Spi. Msi. selaku Kepala Departemen Perikanan Budidaya PPPPTK/P3G
Pertanian dan penanggung jawab bidang peminatan akuakultur program Diploma IV Guru
Kejuruan Pertanian.
2. Bapak Dede Suhendar selaku kepala BPBPLAPU Karawang yang telah menerima kami
untuk melakukan praktik lapangan.
3. Bapak Yusuf selaku Kepala Tata Usaha yang selalu memberikan arahan dan dukungannya.
4. Bapak Adang Solihin selaku pembimbing lapangan dalam bidang budidaya Udang
Vanamei, udang windu dan bandeng.
5. Bapak Eddy Supriady selaku pembimbing lapangan dalam bidang budidaya rumput laut.
6. Bapak Iwan Riswan selaku pembimbing lapangan dalam bidang budidaya udang galah.
7. bapak Eddy Sutrisno selaku pendamping dari Diploma Vedca Cianjur dalam praktik
lapangan di BPBPLAPU.
8. Para staf dan teknisi BPBPLAPU yang telah memberikan arahannya dan memberikan
sedikit pengalamamnya dilapangan dalam masa praktik berlangsung.
9. Seluruh keluarga yang selalu memberikan dukungan motivasi dan doa.
10. Serta semua pihak yang telah membantu sehingga terlaksananya kegiatan magang serta
terciptanya laporan ini.
Penulis menyadari dengan sepenuh hati, bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak

terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, besar harapan penulis menerima saran
dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca guna kesempurnaan dalam pembuatan
laporan selanjutnya.
Akhir kata Penulis sangat mengharapkan laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca
umumnya serta Penulis sendiri khusunya.

Cianjur, Desember 2008

Kelompok 2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR

BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...............
B. Tujuan ..............
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
A. Taksonomi Udang Vaname ..............................................
B. Morfologi
1. Kepala (Thorax) .
2. Perut (Abdomen) ...
C. Moulting .....
1. Proses Moulting .
2. Faktor-Faktor Moulting .
3. Kegagalan Moulting dan Pencegahannya ..
D. Tingkah Laku Makan
E. Pigmentasi ..
BAB 3. METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat ..
B. Metode Praktek Pembesaran ..
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi ....................
1. Latar Belakang .............
2. Lokasi ..............................
3. Sumber Daya Alam .....................
B. Hasil .....................................
C. Pembahasan ........
1. Persiapan Lahan .......................................................................
2. Pemilihan Benur ......................................................................
3. Penebaran Benur ......................................................................
4. Pemberian Pakan .....................................................................
5.Sampling ..................................................................................
6. Pemberantasan Hama Penyakit ................................................
7. Pengelolaan Kualitas Air ..........................................................
8. Pemanenan dan Penanganan Hasil ..........................................

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan ..................................
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel
1. Fase Moulting Udang Vaname Dewasa
2. Interval Moulting dan Penambahan Bobot Badan
3. Tabel Pemberian Pakan (Blind Feeding)
4. Jenis Hama Tambak Udang Vaname menurut Golongannya
5. Jenis dan Cara Pencegahan/Penanggulangan Hama

DAFTAR GAMBAR

Gambar
1. Udang Vaname
2. Bagian Kepala (Thorax)
3. Bagian Perut (Abdomen)
4. Pengangkatan Lumpur
5. Pengeringan Dasar Tambak
6. Proses Penebaran dan Pembakaran Jerami
7. Pemasangan Kincir Air
8. Pemasangan Jembatan Anco
9. Prosedur Aklimatisasi Benur
10. Pemanenan dengan Jala
11. Pemanenan dengan Sudu

BAB 1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Akuakultur merupakan sektor yang cukup produktif saat ini dan terus berkembang, dan
produktivitasnya mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan pangan manusia. Komoditas
akuakultur yang menjanjikan saat ini adalah udang vaname (Litopeneaus vannamei). Udang
vaname memiliki beberapa nama, seperti whiteleg shrimp (Inggris), crevette pattes blances
(Perancis), dan camaron patiblanco (Spanyol).
Udang vaname ini berasal dari perairan Amerika dan mulai masuk ke Indonesia pada tahun
2001. Sampai saat ini komoditas ini sudah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia dan
dikembangkan oleh para petani dan pemerintah melalui suatu balai penelitian mengenai
bagaimana cara budidaya tentang udang vannamei.
Permintaan udang jenis ini sangat besar baik pasar lokal maupun internasional, karena
memiliki keunggulan nilai gizi yang sangat tinggi serta memiliki nilai ekonomis yang cukup
tinggi menyebabkan pesatnya budidaya udang vaname.
Salah satu dari balai yang melakukan kegiatan budidaya udang vaname dalam usaha
pembesaran adalah Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut Air Payau dan Udang

(BPBPLAPU) Karawang. Balai ini tidak melakukan pembenihan udang vaname karena
masih belum didukung oleh sarana dan prasarana untuk pembenihan, terutama untuk
bangunan hatchery masih dalam tahap perencanaan dan tahap pembangunan. Oleh karena itu,
balai ini hanya melakukan kegiatan pembesaran udang vaname saja yang dilakukan pada
sebuah tambak. Proses pembesaran udang vannamei yang dilakukan di Balai Pengembangan
Budidaya Perikanan Laut Air Payau dan Udang (BPBPLAPU) Karawang, pada mulanya
tidak seperti yang diharapkan. Akan tetapi, setelah dilakukan terus menerus pada akhirnya
jenis udang vaname ini dapat diadaptasikan dan dibesarkan menjadi lebih baik dan berhasil.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan praktikum tentang pembesaran udang vannamei di Balai
Pengembangan Budidaya Perikanan Laut Air Payau dan Udang (BPBPLAPU), diantaranya
sebagai berikut :
1. Mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan pembesaran udang
vaname secara sistematis.
2. Mengetahui sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam kegiatan pembesaran udang
vaname serta hal lain yang berkaitan erat dengan kegiatan pembesaran.
3. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan penalaran dalam berbagai aspek teknik
usaha pembesaran udang vaname.
4. Mampu menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan
mengaplikasikannya ditempat praktek lapangan (turut aktif dalam proses pembesaran udang
vaname).

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

A. Taksonomi Udang Vaname


Udang vaname digolongkan ke dalam genus Penaeid pada filum Arthropoda. Ada ribuan
spesies di filum ini. Namun, yang mendominasi perairan berasal dari subfilum Crustacea.
Ciri-ciri subfilum Crustacea yaitu memiliki 3 pasang kaki berjalan yang berfungsi untuk
mencapit, terutama dari ordo Decapoda, seperti Litopenaeus chinensis, L. indicus, L.
japonicus, L. monodon, L. stylirostris, dan Litopenaeus vannamei.

Berikut tata nama udang vaname menurut ilmu taksonomi.


Kingdom : Animalia
Subkingdom : Metazoa
Filum : Arthropoda
Subfilum : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Subkelas : Eumalacostraca
Superordo : Eucarida
Ordo : Decapoda
Subordo : Dendrobrachiata
Famili : Penaeidae Gambar 1. Udang Vaname
Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei

B. Morfologi
Tubuh udang vaname dibentuk oleh dua cabang (biramous), yaitu exopodite dan endopodite.
Vaname memiliki tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar atau eksoskeleton
secara periodik (moulting). Bagian tubuh udang vaname sudah mengalami modifikasi
sehingga dapat digunakan untuk keperluan sebagai berikut .
1) Makan, bergerak, dan membenamkan diri ke dalam lumpur (burrowing).
2) Menopang insang karena struktur insang udang mirip bulu unggas.
3) Organ sensor, seperti pada antena dan antenula.
1. Kepala (thorax)
Kepala udang vaname terdiri dari antena, antenula, mandibula, dan 2 pasang maxillae. Kepala
udang vaname juga dilengkapi dengan 3 pasang maxilliped dan 5 pasang kaki berjalan
(periopoda) atau kaki sepuluh (decapoda). Maxilliped sudah mengalami modifikasi dan
berfungsi sebagai organ untuk makan. Endopodite kaki berjalan menempel pada
chepalothorax yang dihubungkan oleh coxa. Bentuk perioda beruas-ruas yang berujung di
bagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit (kaki ke-1, ke-2, dan ke-3) dan tanpa
capit (kaki ke-4 dan ke-5). Di antara coxa dan dactylus, terdapat ruang yang berturut-turut
disebut basis, ischium, merus, carpus, dan cropus. Pada bagian ischium terdapat duri yang
bisa digunakan untuk mengidentifikasi beberapa spesies Pennaeid dalam taksonomi.

Gambar 2. Bagian Kepala (Thorax)


2. Perut (abdomen)
Abdomen terdiri dari 6 ruas. Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan
sepasang uropods (mirip ekor) yang membentuk kipas bersama-sama telson.

Gambar 3. Bagian Perut (Abdomen)


C. Moulting
Genus Pennaeid mengalami pergantian kulit (moulting) secara periodik untuk tumbuh,
termasuk udang vaname. Proses moulting berlangsung dalam 5 tahap yang bersifat kompleks,
yaitu postmoulting awal, postmoulting lanjutan, intermoult, persiapan moulting (premoult),
dan moulting (ecdysis) (Tabel 1). Proses moulting diakhiri dengan pelepasan kulit luar dari
tubuh udang. Proses moulting sangat menentukan waktu ablasi (pengangkatan) induk udang
di hatchery dan waktu panen yang tepat.
Tabel 1. Fase Moulting Udang Vaname Dewasa
Fase Lama Ciri-ciri
Postmoulting awal 6 9 jam
Kulit luar licin, lunak, dan membentuk semacam membran yang tipis dan transparan.
Udang berada did asar tambak dan diam.
Lapisan kulit luar hanya terdiri dari epikutikula dan eksokutikula.
Endoskutikula belum terbentuk.
Postmoulting lanjutan 1- 1,5 hari
Epidermis mulai mensekresi endoskutikula.
Kulit luar, mulut, dan bagian tubuh lain tampak mulai mengeras.
Udang mulai mau makan.
Intermoult 4 5 hari
Kulit luar mengeras permanen.
Udang sangat aktiv dan nafsu makan kembali normal.
Persiapan (Moulting Premoult) 8 10 hari
Kulit luar lama mulai memisah dengan lapisan epidermis dan terbentuk kulit luar baru, yaitu
epitelkutikula dan eksokutikula baru dibawah lapisan kulit luar yang lama.

Sel-sel epidermis membesar.


Pada tahap akhir, kulit luar mengembang seiring peningkatan volume cairan tubuh udang
(haemolymp) karena menyerap air.
Moulting ( ecdysis) 30 40 detik
Terjadi pelepasan atau ganti kulit luar dan tubuh udang.
Kulit udang yang lepas disebut exuviae.
1. Proses Moulting
Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan moulting tergantung jenis dan umur udang. Saat
udang masih kecil (fase tebar atau PL 12), proses moulting terjadi setiap hari. Dengan
bertambahnya umur, siklus moulting semakin lama, antara 7 20 hari sekali.
Nafsu makan udang mulai menurun pada 1 2 hari sebelum moulting dan aktivitas
makannya berhenti total sesaat akan moulting. Persiapan yang dilakukan udang vaname
sebelum mengalami moulting yaitu dengan menyimpan cadangan makanan berupa lemak di
dalam kelenjar pencernaan (hepatopankreas).
Umumnya, moulting berlangsung pada malam hari. Bila akan moulting, udang vaname sering
muncul ke permukaan air sambil meloncat-loncat. Gerakan ini bertujuan membantu
melonggarkan kulit luar udang dari tubuhnya. Pada saat moulting berlangsung, otot perut
melentur, kepala membengkak, dan kulit luar bagian perut melunak. Dengan sekali hentakan,
kulit luar udang terlepas.
Gerakan tersebut merupakan salah satu cara mempertahankan diri karena cairan moulting
(semacam lendir) yang dihasilkan dapat merangsang udang lain untuk mendekat dan
memangsa (kanibalisme). Udang vaname akan tampak lemas dan berbaring di dasar perairan
selama 3 4 jam setelah proses moulting selesai.
2. Faktor faktor Moulting
Moulting akan terjadi secara teratur pada udang yang sehat. Bobot badan udang akan
berambah setiap kali mengalami moulting (Tabel 2). Faktor-faktor yang mempengaruhi
moulting massal yaitu kondisi lingkungan, kejala pasang, dan terjadi penurunan volume air
atau surut.
Tabel 2. Interval Moulting dan Penambahan Bobot Badan
Bobot (gr) Moulting (hari)

2578
6989
10 - 15 9 12
16 22 12 13
23 40 14 - 16
Sumber : Chanratcakool, 1995
a. Air pasang dan surut
Air pasang yang disebabkan oleh bulan purnama bisa merangsang proses moulting pada
udang vaname. Hal ini terutama banyak terjadi pada udang vaname yang dipelihara di tambak
tradisional. Di alam, moulting biasanya terjadi berbarengan dengan saat bulan purnama. Saat
itu, air laut mengalami pasang tertinggi sehingga perubahan lingkungan tersebut sudah cukup
merangsang udang untuk melakukan moulting. Oleh karena itu, di tambak tradisional tampak
jelas karena air di tambak hanya mengandalkan pergantian air dari pasang surut air laut.
Penambahan volume air pada saat bulan purnama dapat menyebabkan udang melakukan
moulting.
Penurunan volume air tambak saat persiapan panen juga dapat menyebabkan moulting.
Moulting sebelum panen bisa menyebabkan persentase udang yang lembek (soft shell)
meningkat.
b. Kondisi lingkungan
Proses moulting akan dipercepat bila kondisi lingkungan mengalami perubahan. Namun
demikian, perubahan lingkungan secara drastis dan disengaja justru akan menimbulkan
trauma pada udang. Beberapa tindakan tersebut diantaranya terlalu sering mengganti air
tambak, tidak hati-hati saat menyipon (membersihkan tambak), dan pemberian saponin yang
berlebihan.
3. Kegagalan Moulting dan Pencegahannya
Proses moulting dapat berjalan tidak sempurna atau gagal bila kondisi fisioligis udang tidak
normal. Kegagalan tersebut menyebabkan udang menjadi lemah karena tidak mempunyai
cukup energi untuk melepas kulit lama menjadi kulit baru. Udang yang tidak melakukan
moulting dalam waktu lama menunjukkan gejala kulit luar ditumbuhi lumut dan protozoa.
Usaha pencegahan kegagalan bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti lebih sering
mengganti air tambak.
D. Tingkah Laku Makan

Udang termasuk golongan omnivora atau pemakan segala. Beberapa sumber pakan udang
antara lain udang kecil (rebon), phytoplankton, copepoda, polyhaeta, larva kerang, dan
lumut.
Udang vaname mencari dan mengidentifikasi pakan menggunakan sinyal kimiawi berupa
getaran dengan bantuan organ sensor yan terdiri dari bulu-bulu halus (setae). Organ sensor ini
terpusat pada ujung anterior antenula, bagian mulut, capit, antena, dan maxilliped. Dengan
bantuan sinyal kimiawi yang ditangkap, udang akan merespon untuk mendekati atau
menjauhi sumber pakan. Bila pakan mengandung senyawa organik, seperti protein, asam
amino, dan asam lemak maka udang akan merespon dengan cara mendekati sumber pakan
tersebut.
Untuk mendekati sumber pakan, udang akan berenang menggunakan kaki jalan yang
memiliki capit. Pakan langsung dijepit menggunakan capit kaki jalan, kemudian dimasukkan
kedalam mulut. Selanjutnya, pakan yang berukuran kecil masuk kedalam kerongkongan dan
oesophagus. Bila pakan yang dikonsumsi berukuran lebih besar, akan dicerna secara kimiawi
terlebih dahulu oleh maxilliped di dalam mulut.
E. Pigmentasi
Pigmentasi atau perubahan warna kulit berhubungan dengan kesehatan udang. Warna kulit
juga bisa digunakan sebagai acuan kualitas udang yang akan dipanen, seperti nilai gizi,
kesegaran dan rasa. Warna udang dipengaruhi chromatophore yang terdapat pada sel-sel
epidermis di dalam tubuh. Pigmen utama pada udang vannamei yaitu karotenoid yang
dominan terdapat di eksoskeleton. Kadar karotenoid semakin berkurang seiring pertumbuhan
udang akibat proses moulting. Namun demikian, kehilangan pigmen pada udang yang
dibudidayakan dapat diganti dengan sumber karotenoid yang berasal dari pakan alam atau
pakan pabrik.
Karotenoid udang menimbulkan warna merah, kehijauan, kecokelatan, dan kebiruan. Warnawarna tersebut dipengaruhi oleh lingkungan budidaya. Udang yang dibudidayakan dalam
dengan tingkat kecarahan yang sangat tinggi dalam waktu yang lama akan berwarna kusam.
Sebaliknya, udang yang dipelihara dalam air yang banyak mengandung lumut usus
(enteromorpha) akan berwarna kehijauan. Kekurangan karotenoid pada udang vannamei bisa
menyebabkab eksoskeleton tampak kusam dan pudar.
Beberapa penelitian menunjukan bahwa karotenoid merupakan provitamin A yang

membentuk jaringan epidermis dan mukosa sehingga udang lebih tahan terhadap serangan
bakteri dan jamur. Selain itu, karotenoid juga berfungsi untuk menjaga permeabilitas
membran sel dan meningkatkan daya tahan tubuh (imunologi).

BAB 3.METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat


Hari/ tanggal : 18 - 29 November 2008
Waktu : 08.00 WIB s/d selesai
Tempat : Tambak Udang Vannamei di Balai Pengembangan
Budidaya Laut Air Payau dan Udang (BPBPLAPU)
Karawang
B. Metode Praktek Pembesaran
Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini dilakukan dengan metode :
1. Mendapatkan informasi tentang fasilitas pembesaran udang vaname yang meliputi sarana
utama dan sarana pendukung.
2. Melakukan dan mengikuti proses produksi dari kegiatan pembesaran udang vaname yang
meliputi pemeliharaan induk, pemijahan induk, penetasan telur, pemeliharaan larva dan
kultur pakan alami.
3. Melakukan wawancara untuk memahami metode praktis dalam kegiatan pembesaran
udang vaname.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi


1. Latar Belakang
Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang (BPBPLAPU)
Karawang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) di Lingkungan Dinas
Perikanan Propinsi Jawa Barat.
BPBPLAPU Karawang berdiri pada tahun 1975 dengan nama Unit Pembinaan Budidaya Air
Payau (UPBAP), kemudian berubah menjadi Balai Pengembangan Budidaya Air Payau
(BPBAP) pada tahun 1998. Berdasarkan Keputusan Gubernur Propinsi Jawa Barat Nomor
821.2/SK.860 G/Peg/2002 tanggal 2 Juli 2002 tentang alih tugas/alih jabatan di lingkungan
Sinas Perikanan Propinsi Jawa Barat, Maka UPBAP berubah manjadi Balai Pengembangan
Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang ( BPBPLAPU ) dengan status Eselon III.
Sebagai salah satu lembaga pengkajian, penerapan dan pengembangan teknologi perikanan
ikan laut dan air payau, maka BPBPLAPU Karawang memiliki Tugas Pokok dan Fungsi
(TUPOKSI) yang telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur Propinsi Jawa Barat
nomor 45 tahun 2002 tentang tugas pokok, fungsi dan rincian tugas Unit Pelaksana Teknis
Dinas di Lingkungan Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat yaitu melaksanakan sebagian
fungsi dinas di bidang pengembangan budidaya perikanan laut dan air payau.
2. Lokasi
Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang (BPBPLAPU) terletak
di jl. Raya cipucuk No.13 15, Dusun Sukamulya, Desa Pusaka Jaya Utara Kecamatan
Pedes, Kabupatan Karawang dengan ketinggian 1 2 m diatas permukaan laut (dpl) pada
surut rata rata terendah.
3. Sumber Daya Alam
Dari awal pembentuknnya, instansi ini bernama Unit Pembinaan Budidaya Air Payau
(UPBAP) mempunyai lahan dengan luas 15 ha denga rincian 12 ha merupakan lahan
pertambakan, sedangkan 3 ha lainnya merupakan lahan perumahan dan perkantoran.

B. Hasil
Hasil yang didapatkan dalam kegiatan Pembesaran Udang Vaname (Litopeneaus vannamei)
selama melakukan kegiatan praktik di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air
Payau dan Udang (BPBPLAPU) Karawang sejak tanggal 18 November 29 November 2008
adalah sebagai berikut.
Kegiatan yang dilakukan dalam Pembesaran Udang Vaname (Litopeneaus vannamei) :
1. Persiapan lahan.
2. Pemilihan benur.
3. Penebaran benur.
4. Pemberian pakan.
5. Sampling.
6. Pemberantasan hama penyakit.
7. Pengelolaan kualitas air.
8. Pemanenan dan penanganan hasil.
C. Pembahasan
Adapun pembahasan dari hasil praktikum pembesaran udang vannamei (Litopenaeus
vannamei) di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut Air Payau dan Udang
(BPBPLAPU), diantaranya sebagai berikut :
1. Persiapan Lahan
Persiapan lahan merupakan awal dari kegiatan pembesaran yang bertujuan agar produksi atau
budidaya berjalan dengan baik. Persiapan lahan dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu
pengangkutan lumpur, pengeringan, pembakaran jerami, pemasangan kincir, pemasangan
jembatan anco, pengisian air.
Persiapan lahan yang kurang baik, akan meningkatkan resiko kegagalan produksi udang,
karena siklus pathogen dalam tambak tidak terputus secara sempurna. Berikut ini merupakan
tahapan tahapan persiapan tambak di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut Air
Payau dan Udang (BPBPLAPU), diantaranya sebagai berikut :
a. Pengangkutan Lumpur
Lumpur yang terdapat pada petakan merupakan limbah yang berasal dari pakan yang tersisa
dan kotoran udang pada produksi terdahulu, biasanya lumpur mengumpul ditengah petakan
hal ini disebabkan karena pengadukan oleh kincir.

Gambar 4. Pengangkatan Lumpur


Pengangkutan lumpur dilakukan setelah beberapa hari setelah panen agar lumpur tidak terlalu
basah. Pengangkutan lumpur dilakukan dalam kondisi tanah kering total, terbelah-belah
sehingga pada saat pengangkutan tidak sulit. Biasanya pengangkutan lumpur dilakukan
bergantung pada kondisi alam dan target produksi, ada kalanya pengangkutan masih dalam
keadaan standar untuk mengejar target produksi. Pada proses pengangkutan lumpur ini juga
dilakukan pembenahan tanggul dan pematang agar tanggul dan pematang dalam kondisi baik
saat digunakan dalam produksi.
Pengangkatan lumpur dilakukan dengan cara membolak-balikan tanah dasar tambak secara
manual dengan menggunakan cangkul dimana tanah tersebut digunakan untuk pembenahan
tanggul. Pengangkatan lumpur ini dilakukan pada tambak yang sudah lama beroperasi dan
sudah banyak mengandung bahan organik, dari sisa pakan yang terbuang dan hasil feses
udang.
b. Pengeringan
Pengeringan adalah pengeluaran air dari tambak hingga kandungan air tanah tambak
mencapai 20 50%. Pengeringan dilakukan selama 10 hari atau sampai tanah terlihat retakretak atau bergantung pada musim. Pengeringan bertujuan untuk memutus siklus hidup
pathogen dengan cara menghambat sistem tranmisinya, menguapkan gas-gas beracun seperti
H2S, dan membantu mikroba melakukan penguraian bahan organik.

Gambar 5. Pengeringan Dasar Tambak


c. Pembakaran Jerami
Tambak yang sudah kering, selanjutnya dilakukan penebaran jerami di seluruh dasar dan
pinggir tambak secara merata. Setelah penebaran dilakukan sampai menutupi seluruh
permukaan tambak, jerami tersebut dibakar sampai menjadi abu. Tujuan dari pembakaran
jerami tersebut adalah agar bakteri-bakteri di dalam tambak ini mati, sehingga tidak ada bibit
penyakit yang akan menyebabkan udang menjadi sakit. Perlu kita ketahui bahwa bakteri tidak
dapat hidup pada suhu yang tinggi di atas 100 0C. Maka dari pada itu hal yang paling tepat
untuk mengatasi bakteri adalah dengan cara pembakaran jerami.

Hasil dari pembakaran jerami tersebut akan menghasilkan abu yang dapat bermanfaat
menjadi pupuk untuk kesuburan tanah dan juga membunuh hama-hama yang berada di
sekeliling tambak.

Gambar 6. Proses Penebaran dan Pembakaran Jerami


d. Pemasangan Kincir
Pemasangan kincir dilakukan setelah pembakaran jerami. Jumlah kincir dalam 1 petak
tambak dengan luas 4.600 m2 yaitu sebanyak 7 unit. Pengoperasian kincir dilakukan secara
bergantian, yaitu 4 kincir selama 12 jam dan 3 kincir selama 12 jam juga. Hal ini dilakukan
untuk menghindari terjadinya kerusakan pada kincir tersebut.
Penggunaan kincir ditambak bertujuan untuk mensuplai kebutuhan udang akan oksigen
terlarut (dissolved oksygen) dalam tambak. Perbandingan jumlah kincir yang akan digunakan
dengan jumlah benur yang akan ditebar adalah 1 unit : 50.000 ekor.

Gambar 7. Pemasangan Kincir Air


e. Persiapan Tambak
Sebelum kegiatan pengolahan dasar tambak dilakukan hal pertama yaitu dilakukan
pemasangan jembatan anco agar memudahkan dalam pemberian pakan dan pada waktu
sampling.

Gambar 8. Pemasangan Jembatan Ancho


Setelah persiapan tambak selesai dan pembakaran jerami sudah sempurna, maka diisi air
setinggi 10 cm agar kotoran-kotoran yang ada dalam tambak dapat terangkat dan dapat
diserok. Lalu naikkan lagi ketinggian air sampai 30 cm. Setelah itu, pemberian probiotik
Thiobacillus sp. sebanyak 5 liter dan bakteri Bacillus sp. sebanyak 20 liter yang diencerkan
dalam 100 liter air. Setelah terbuat larutan probiotik lalu disebarkan secara merata ke dalam

tambak. Agar penyebaran probiotik dapat merata ke seluruh tambak, maka digunakan kincir
air.
Ketinggian air dalam tambak yaitu setinggi 60 cm, maka ketinggian air yang tadinya setinggi
30 cm ditambahkan. Air yang akan digunakan untuk media kelangsungan hidup udang di
tambak, adalah air yang berasal dari laut yang sudah melalui petakan tandon. Fungsi utama
dari tandon adalah untuk mengendapkan bahan-bahan organik sehingga dapat memperbaiki
kualitas. Pemasukan air pertama kali dilakukan pada petak penampungan/ tandon 1 yang
dialirkan dengan menggunakan pompa submersible 6. Dimana pada petakan tandon pertama
terdapat pohon bakau atau mangrove, yang berfungsi sebagai biofilter. Air dari tandon 1
dialirkan lagi ke tandon 2 melalui pipa saluran air, dimana pada tandon ini juga terdapat
rumput laut (Glacilaria), dan ikan nila merah sebagai biofilter salah satunya untuk menyerap
NH3, dan sebagai suplai oksigen terlarut (Dissolved Oxygen). Kemudian air dari tandon 2
dilanjutkan ke tandon 3 melalui pipa paralon dimana pada pada saluran ini di pasang
membran yang berfungsi sebagai alat pemecah DNA yang berasal dari alam. Alat ini mampu
memecahkan DNA dari positif menjadi negatif. Air dari tandin 3 inilah yang yang akan
dialirkan ke petak petak pemeliharaan.
Petakan tambak yang akan ditebari benur harus bebas dari hama agar tingkat kelangsungan
hidup udang dapat dicapai seoptimal mungkin (minimal 70%). Untuk itu, air tambak perlu
disucihamakan dengan menggunakan pestisida organik yaitu samponin sebanyak 30 ppm
kemudian air diaduk dengan pengoperasian kincir.

2. Pemilihan Benur
Persyaratan kualitatif benur yang dapat dilihat dan diuji adalah :
Warna : warna tubuh transparan, kecoklatan atau kehitaman, punggung tidak berwarna
keputihan atau kemerahan.
Gerakan : gerakan berenang aktif, menentang arus, cenderung mendekat ke arah cahaya
(fototaksis positif).
Kesehatan dan kondisi tubuh : kondisi tubuh benur yang sehat setelah mencapai ukuran PL
10, organ tubuhnya lengkap, maxilla, mandibula, antenulla dan ekor membuka,
hepatopankreas transparan, usus penuh dan gelap.

Responsif terhadap rangsangan : benur akan menjentik menjauh dengan adanya kejutan atau
jika wadah sampel benur diketuk, dan akan berenang mendekati sumber cahaya jika ada
rangsangan cahaya, serta responsif terhadap pakan yang diberikan.
3. Penebaran Benur
Penebaran benur akan dilaksanakan pada pagi hari pukul 06.00 09.00 dengan pertimbangan
sebagai berikut:
- Benur akan mendapat lingkungan media penebaran yang kadar oksigen (DO)nya semakin
membaik, penebaran sore hari akan sebaliknya yaitu akan menurunkan kadar oksigen terlarut
dalam air tambak;
- Pengamatan terhadap benur yang baru disebarkan akan lebih mudah dilaksanakan.
Untuk mencegah tingginya tingkat kematian (mortalitas) benur pada saat dan setelah
penebaran, dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu terhadap benur yang akan ditebar, baik
aklimatisasi salinitas, suhu, maupun pH. Padat penebaran benur udang vaname yaitu 50 75
ekor/m2. Benur yang digunakan berasal dari Pangandaran.
Adapun prosedur kerja yang harus dilakukan untuk melakukan penebaran benih dengan cara
aklimatisasi, diantaranya sebagai berikut :
Lakukan penebaran pada pagi hari mulai pukul 05.00 WIB
Apungkan kantong plastik benur dalam kondisi benur dalam kondisi tertutup 30 menit di
dalam tambak
Pasang pembatas (tali, bambu) di salah satu sudut tmbak agar kantong plastik tidak
berhamburan
Buka ikatan kantong plastik
Ukur suhu, pH, serta kadar garam dari air media benur dan juga air media tambak
Perbedaan salinitas tidak boleh lebih dari 5 ppt, suhu tidak boleh lebih dari 2 0C, dan pH
tidak boleh lebih dari 0,5
Masukan air tambak sedikit demi sedikit hingga perbedaan suhu, salinitas, dan pH tidak
terlalu jauh dan relatif sama
Masukan kantong plastik ke dalam baskom sebanyak 5 kantong untuk setiap baskom yang
telah diberi lubang di dasar dan di bagian samping, amati benur yang telah ditebar kedalam
tambak. Apakah benur merata ke semua areal tambak atau masih mengumpul di satu tempat
Lalukan penghitungan sampling udang untuk mengetahui berapa jumlah udang yang ditanam
setelah dikurangi kematian
Padat penebaran udang vannamei adalah 50-75 ekor/ m2.

Gambar 9. Prosedur Aklimatisasi Benur

4. Pemberian pakan
Berdasarkan spesifikasi teknologi yang akan diterapkan yaitu intensif, maka penyediaan
pakan berasal dari pakan tambahan yang telah diolah dalam bentuk Fine crumble dan pellet.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan maupun skala laboratorium, pakan udang
komersial di Indonesia mengandung protein minimal 30%. Lingkungan budidaya yang
dikelola dengan baik sangat dinamis dan mampu menyediakan pakan alami bagi udang dalam
tambak.

Pemberian pakan yang diberikan yaitu mempunyai nilai Feeding rate (FR) yaitu 3% dari total
biomassa dan pemberian pakan dilakukan secara bertingkat tergantung dari umur udang.
Frekuensi pemberian pakan yaitu 4 5 kali sehari yag dimulai pada hari pertama dengan
dosis disesuaikan dengan ABW dan populasi udang selama pemeliharaan.
Tabel 3. Tabel Pemberian Pakan (Blind Feeding)
Umur Pakan (kg)
1-5 2
6-10 4
11-15 6
16-20 8
21-25 10
26-30 12
31-40 14
Program pemberian pakan tersebut bersifat fleksibel, dimana jumlah pakan dapat berubah
ubah tergantung pada tingkat nafsu makan udang. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
tingkat nafsu makan udang adalah: (1) kondisi tanah dasar tambak; (2) kualitas air; dan (3)
tingkat kesehatan udang. Secara praktis, tingkat nafsu makan udang dapat diketahui dengan
pengontrolan anco yang dilakukan setiap 1 dan 2 jam setelah pemberian pakan.

5. Sampling
Kegiatan sampling pertama akan dilakukan pada saat udang mencapai umur 40 hari
pemeliharaan di tambak. Sedangkan sampling berikutnya dilakukan 10 hari sekali dari
sampling sebelumnya. Adapun maksud dilakukan sampling adalah untuk mengetahui
kepadatan (populasi) udang, laju pertumbuhan, dan sekaligus sebagai dasar dalam
menetapkan jumlah yang dibutuhkan oleh udang selama pemeliharaan.
Sampling dilakukan mengunakan jala tebar (Felling gear) seluas 4 m2 sebanyak 6 titik.
Udang yang tertangkap segera dihitung dan ditimbang untuk menggetahui kepadatan dan
berat rata rata. Setelah itu, udang hasil sampling dikembalikan ke tambak pemeliharaan.
6. Pemberantasan Hama Penyakit
Hama yang bisaa ditemukan di tambak udang Vanname terdiri dari 3 (tiga) golongan, yaitu:

pemangsa (predator), penyaing (kompetitor), dan pengganggu (lihat Tabel 4).


Hama merupakan salah satu faktor yang dapat mengganggu dan bahkan dapat mengancam
kehidupan udang Vanname. Untuk itu, hama tersebut harus diantisipasi sedini mungkin agar
tingginya mortalitas udang Vanname yang disebabkan oleh hama dapat ditekan serendah
mungkin. Pencegahan dan penanggulangan hama dapat dilakukan dengan cara tertentu,
tergantung pada jenis hama yang menjadi sasaran.
Tabel 4. Jenis Hama Tambak Udang Vanname menurut Golongannya
Golongan
Jenis Hama Spesifikasi
Predator:
a. Ikan

b. Ketam
c. Ular dan Belut
d. Burung

e. Manusia
Kakap (Lates calcalifer), Payus (Elops hawaiensis), Kuro (Polynemus sp), Kerong kerong
(Therapon sp), dan Keting (Arius maculates).
Kepiting bakau (Scylla serrata), ketam bulu (Sesarma sp).
Ular kadut (Cereberus rhynchops), dan Belut (Synbranchus bengalensis).
Blekok (Ardeola ralloides speciosa), Cangak (Ardea cinerea rectirostis), Pecuk Gagakan
(Phalocrocorax carbo sinensis), dan Pecuk Ulo (Anhinga rufa melanogaster)
Pencuri.
Kompetitor:
a. Ikan Liar
b. Siput
c. Udang Liar
d. Ketam
Mujair (Tilapia mossambica), Belanak (Mugil sp), Pernet (Aplocheilus javanicus), Rekrek

(Ambasis gynocephalus).
Trisipan (Cerithidea alata; C. quadrata; C. djadjariensis).
Udang api, jerbung, mentil, putih, peletok.
Ketam (Saesarina sp).
Pengganggu:
a. Udang Liar
b. Ketam
c. Penggerek
d. Siput
e. Manusia
Udang tanah (Thalassina anomala), Udang Kerongkong/ Pletok (Thalassina scorpionoides).
Ketam Bulu (Saesarina sp)
Remis (Teredo navalis)
Tritip (Balanus sp), Tiram (Classatrea sp)
Perusak

Tabel 5. Jenis dan Cara Pencegahan/Penanggulangan Hama


No. Jenis Hama Cara Pencegahan/ Penanggulangan
1.
2.
3.
4.
5. . Ikan Liar
Udang Liar
Ketam ketaman
Siput dan Penggerek
Burung dan Manusia Pemberian pestisida organik (saponin).
Pemasangan saringan pada pintu pemasukan dan pengeluaran air secara ketat.
Pemasangan pagar plastik di sekeliling tambak.
Pemberian pestisida anorganik (Brestan 60 WP).
Memperketat penjagaan/pengotrolan.
Jenis penyakit yang sering ditemukan menyerang udang Vanname di tambak akhir akhir ini

adalah Bacterial White Spot Syndrome (BWSS), Taura Syndrome Virus (TSV), Fouling
Disease (FD), Black Gill Disease (BGD), dan Infectious Hypodermal Hematopoeitic
Necrosis Virus (IHHNV). Beberapa kasus membuktikan bahwa penyakit tersebut belum
dapat ditanggulangi secara efektif sehingga tindakan yang tepat dapat dilakukan adalah
preventif (pencegahan), seperti:
- Manajemen kualitas air secara teratur dan kontinyu;
- Monitoring dan pengelolaan tanah dasar tambak secara intensif;
- Ketepatan dalam pemberian pakan, baik jumlah, waktu, frekuensi jenis, ukuran, maupun
kualitas pakan;
- Kepadatan penebaran benur dibatasi berdasarkan spesifikasi teknologi yang diterapkan; dan
- Mendeteksi adanya gejala serangan pathogen baik secara fisik (manual) maupun dengan
Polymerase Chain Reaction (PCR) di laboratorium secara teratur.
7. Pengelolaan kualitas air
Selama proses pemeliharaan dilakukan pengelolaan kualitas air untuk mencegah dan
mengatasi adanya penurunan kualitas air. Jenis kegiatan yang dilakukan tergantung pada hasil
monitoring. Monitoring kualitas air dilakukan 3 kali setiap sehari, yaitu pagi, siang, dan sore
hari. Adapun kualitas air yang dimonitor meliputi salinitas, suhu, pH. Kecerahan, warna,
kadar oksigen terlarut (DO), jenis plankton, dsb.
8. Pemanenan dan penanganan hasil
Pemanenana akan dilakukan setelah udang mencapai umur 120 hari pemeliharaan di tambak
atau disesuaikan dengan laju pertumbuhan udang. Apbila berat rata rata (ABW) telah
mencapai standard permintaan pasar (30 ekor/kg) maka panen dapat dilaksanakan walaupun
masa pemeliharaan belum mencapai 120 hari. Proses pemanenan akan dimulai pada malam
hari sampai dini hari untuk mencegah hal hal yang tidak diinginkan. Petak tambak yang
akan dipanen dikuras airnya terlebih dahulu mengunakan pintu pengeluaran dan pompa
submersible 6. Setelah air tambak mencapai 50% dari volume semula maka udang segera
ditangkap menggunakan jala lempar (felling gear) dan sudu. Kemudian udang ditampung ke
dalam wadah yang telah disiapkan sebelumnya.

Gambar 10. Pemanenan dengan Jala

Gambar 11. Pemanenan dengan Sudu

Sejalan dengan penangkapan udang menggunakan jala lempar dan sudu, pengurasan air
tambak terus dilakukan sampai tambak menjadi kering. Setelah itu, sisa udang yang masih
dalam tambak segera dikumpulkan menggunakan tangan kosong (ngegogo). Udang hasil
panen langsung dicuci dengan air bersih kemudian direndam dalam wadah tertentu
(fibreglass) yang telah diisi dengan air es. Setelah itu, udang disortir (dikelompokkan
berdasarkan ukuran) kemudian ditimbang dan dipasarkan.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari hasil kegiatan praktikum pembesaran udang
vannamei (Litopenaes vannamei) di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut Air
Payau dan Udang (BPBPLAPU), diantaranya sebagai berikut :
1. Kegitan pembesaran Udang Vaname meliputi :
a. Persiapan tambak.
b. Pemilihan benih.
c. Penebaran benih.
d. Sampling udang vaname di tambak.
e. Monitoring kesehatan.
f. Pemberian pakan.
g. Monitoring lingkungan.
h. Panen dan pasca panen.
2. Pembesaran udang vaname dapat dilakukan pada tambak yang intensif, semi intensif,
maupun tambak tradisional.
3. Pada pembesaran udang vannamei secara intensif memiliki padat penebaran yang cukup
tinggi yaitu 50-75 ekor/ m2, jumlah kincir yang digunakan lebih banyak dari tambak
tradisional (7 buah), pemberian pakan yang digunakan cukup banyak dan lebih banyak dari
pakan buatan, serta pengelolaan kualitas air yang intensif dibandingkan dengan pembesaran
udang vannamei secara semi intensif dan tradisional.
B. Saran
Adapun saran yang dapat direkomendasikan dalam kegiatan praktikum pembesaran udang
vannamei diantaranya sebagai berikut :

1. Pada kegiatan praktikum tentang pembesaran udang Vannamei di Balai Pengembangan


Budidaya perikanan Laut air Payau dan Udang (BPBPLAPU), kurang efektif dikarenakan
waktu yang digunakan untuk kegiatan praktikum sangat singkat, untuk itu maka diperlukan
tambahan waktu agar diperoleh ilmu pengetahuan, dan keterampilan yang lebih banyak.
2. Minimnya informasi yang didapat agar dapat disampaikan secara jelas dan lengkap.
3. Untuk mempermudah proses pemanenan, sebaiknya dasar tambak dibuat dengan model
gravitasi atau dasar lebih menjorok ke arah pintu pengeluaran air agar penggunaan pompa air
tidak terlalu boros.

DAFTAR PUSTAKA

Haliman, Rubiyanto. W dan Dian Adijaya. 2006. Udang Vannamei. Jakarta : Penebar

Swadaya.
Kanna, Iskandar. 2004. Petunjuk Teknis Budidaya Udang Vaname Sistem Resirkulasi Semi
Tertutup. Karawang : BPBPLAPU.
Supriady, Eddy. 2008. Kupas Tuntas Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air
Payau, dan Udang Karawang. Karawang : BPBPLAPU.
Standar Prosedur Operasional (SPO) Budidaya Udang Vannamei di Tambak BPBPLAPU
Karawang. 2008.
Standar Prosedur Operasional Pembesaran Udang Vannamei. 2007. Departemen Kelautan
dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

PKL PEMBESARAN UDANG WINDU DESA TONGGOLOBIBI

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perikanan di Indonesia merupakan salah satu sumber devisa Negara yang sangat
potensial. Pengembangan budidaya air payau di Indonesia untuk waktu yang akan datang
sangat penting bagi pembangunan di sektor perikanan, serta merupakan salah satu prioritas
yang diharapkan menjadi sumber pertumbuhan di sektor perikanan.
Udang windu (Penaeus monodon) merupakan salah satu jenis udang perairan laut
yang mempunyai nilai jual yang tinggi dan menduduki tempat penting disektor perikanan,
baik sebagai komuditi eksport maupun sebagi sumber protein untuk konsumsi dalam negeri,
sehingga udang windu sangat berpotensi untuk dikembangkan baik melalui pembenihan
di hatchery maupun pembesarannya.

(http://www.warintek.ristek.go.id/perikanan/Ikan%20Laut/udang_windu.pdf)
Secara umum, budidaya udang windu di Indonesia telah dilakukan sejak lamadan
berkembang pesat dari tahun ke tahun, berbagai upaya untuk meningkatkan produksi udang
windu yang ada di Indonesia, salah satunya penerapan sistem budidaya secara intensif.
Namun masyarakat pembudidaya yang ada di Indonesia khususnya di Sulawesi Tengah
memiliki modal yang terbatas, sehingga penerapan sistem budaya dilakukan secara semi
intensif.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Praktek Kerja Lapang (PKL) bertujuan untuk mengetahui teknik pembesaranudang
windu (Penaeus monodon).
Kegunaan dari Praktek Kerja Lapang adalah menambah wawasan dan sebagaibahan
informasi bagi mahasiswa dan masyarakat dalam kegiatan pembesaran udang windu dengan
sistem budidaya semi intensif, serta sebagai bahan masukan untuk meningkatkan
keterampilan bagi para pembudidaya udang windu khususnya pada kegiatan pembesaran.
II. METODE PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANG
2.1 Waktu dan Tempat
Praktek Kerja Lapang (PKL) dilaksanakan mulai tanggal 1 Oktober sampai 4
Desember 2011 dan bertempat di Tambak Percontohan dinas Kelautan dan Perikanan
di Desa Tonggolobibi, Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesih Tengah.
2.2 Metode Pelaksanaan Praktek
Metode pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yaitu dengan
mengumpulakn data sebagai berikut :
Pengamatan langsung
Data primer
Wawancara
Praktek langsung di lapangan
informasi instansi terkait
Data sekunder
literatur

2.3 Kegiatan yang dilaksanakan


Kegiatan yang dilaksanakan pada Praktek Kerja Lapang (PKL) di Tambak
Percontohan dinas Kelautan dan perikanan di Desa Tonggolobibi adalah :
v Persiapan tambak
Pemupukan
Pengapuran
Pembasmian hama
v Pembesaran
Pemberian pakan

Pemupukan susulan
Penyamplingan
Pengontrolan kualitas air
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapangan (PKL)
3.1.1 Tata Letak dan Lokasi
Tambak Percontohan Dinas Kelautan dan Perikanan terletak di Desa Tonggolobibi,
Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala. Lokasi bangunan terletak disebelah utara pantai
yang jaraknya sekitar 20 meter dari garis pantai. Keadaan perairan berupa struktur dasar
perairan berpasir dan pantai yang berombak. Secara umum kondisi perairan dilokasi tambak
cukup baik seperti salinitas yang berkisar 29 32 ppm dan suhu perairan pada pagi dan
malam hari berkisar 27o 29o C sedangkan pada siang hari berkisar 30o 32o C.
v Tambak Percontohan dinas Kelautan dan perikanan di Desa Tonggolobibi dilengkapi dengan
sarana dan prasarana anatara lain :
Sarana
Kolam Pembesaran
Prasarana
Perumahan Pegawai
Ruangan Pembuatan Pakan
Ruangan Penyimpanan Perlengkapan
Ruangan Mesin
3.2 Kegiatan yang Dilakasanakan
v Mengenal Udang Windu (Penaeus monodon)
Klasifikasi Udang
Windu
(Penaeus
monodon) menurut Soetomo
adalahsebagai berikut :
Filum
: Arthropoda
Klas
: Crustaceae
Sub klas
: Malacostraca
Ordo
: Decapoda
Sub ordo
: Natantia
Famili
: Penaeidea
Genus
: Penaeus
Spesies
: Penaeus monodon

(2000),

Tubuh udang windu (Penaeus monodon) dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu
kepala-dada (cephalothorax) yang tertutup oleh satu kelopak yang disebut karapas. Lebih
rinci,

karapas

mempunyai

yaiturostrum (cucuk). Rostrum tampak

tonjolan
bergerigi

yang
pada

meruncing

kedepan,

tepi-tepinya,

di

belakangcephalothorax ada bagian badan (abdomen) dan ekor. Pada kepala terdiri lima ruas
dan delapan ruas di bagain dada. Masing-masing ruas mempunyai sepasang anggota badan,
seluruh ruas-ruas tersebut tertutup oleh kulit keras tetapi tipis pada setiap sambungannya
sehingga memungkinkan udang bergerak lebih fleksibel (Suyanto dan Takarina, 2009).
Pada bagian perut (abdomen) terdapat 5 pasang kaki renang (pleopoda) yaitu pada
ruas ke-1 sampai ke-5. Sedangkan pada ruas ke-6, kaki renang mengalami perubahan bentuk
menjadi ekor kipas atau ekor (europoda). Ujung ruas ke-6 ke arah belakang membentuk
ujung ekor (teleson), di bawah pangkal ujung ekor terdapat lubang dubur (anus) (Suyanto dan
Mujiman, 1989).
v Persiapan Tambak.
Tambak yang digunakan berbentuk empat persegi panjang dengan luas 1
hektar. Sebelum digunakan tambak dikeringkan dengan cara mengeluarkan semua air melalui
pintu pengeluaran (outlet) sampai keadaan tambak benar-benar kering, setelah itu tanah dasar
tambak dijemur selama 7 hari sampai keadaan tanah retak-retak, ini bertujuan agar tambak
bebas dari hama pengganggu dan pemangsa, selain itu pengeringan berfungsi untuk
memperbaiki kondisi tanah dan mengeluarkan gas-gas metan amoniak dari dalam tanah. Hal
ini sesuai dengan pendapat Suyanto dan Takarina (2009), bahwa tanah dasar tambak dijemur
sampai retak-retak atau selama kurang lebih 7 hari. Tujuannya, untuk menghilangkan
senyawa beracun yang masih terdapat pada tanah dasar tambak.
Selama proses penjemuran dasar tambak, dilakukan pembasmian hama
trisipan menggunakan pestisida jenis Pegasus. Pegasus adalah jenis bahan kimia yang berupa
cairan berwarna kuning keemasan. Penggunaanya dilakukan dengan cara penyemprotan pada
dasar tambak secara merata, penyemprotan dilakukan pada saat tambak keadaan tanah
tambak lembab dan cauaca tidak hujan, dosis yang diberikan pada tambak dengan luas 1 ha
yaitu 5 botol atau 400 ml. Suyanto dan Mujiman (1989), menyatakan untuk memberantas
hama yang hidup di dalam air, kita dapat menggunakan bahan-bahan beracun atau peptisida.
Selain pembasmian hama trisipan juga dilakukan pembasmian hama werang tambak
atau hama penyaing berupa udang renik yang tersisa pada caren yang masih tergenang air,
cara memberantasnya yaitu dengan cara meracuninya dengan peptisida jenis Decis dengan
dosis 80 ml. penggunaannya ialah, decis 80 ml dicampur dengan air sebanyak 20 liter, lalu
diaduk merata, kemudian ditebarkan ketambak yang masih tergenag air. Wareng tambak
adalah binatang bangsa udang renik yang hanya berukuran 8-10 mm. udang renik dapat
menimbulkan gangguan di tambak. Udang renik ini memakan diatom dan alga bersel satu
lainnya yang juga menjadi makanan udang windu (Suyanto dan Mujiman, 1989).
Selain trisipan dan udang renik, ikan pemangsa adalah hama yang sangat merugikan,
karena dapat memangsa udang windu secara langsung. Untuk memberantas hama ini dapat
dilakukan dengan pestisida organik diantaranya saponin. Cara penggunaanya yaitu
terlebihdahulu saponin direndam dengan air lalu diaduk dan didiamkan selama 10 menit,
kemudian saponin yang telah direndam disaring terlebih dahulu, dipisahkan ampas dan

airnya, air saponin ditebar pada permukaan air. Sesuai pernyataan Suyanto dan Mujiman
(1989), ikan-ikan liar dan buas dapat diberantas dengan bungkil biji teh yang mengandung zat
racun yang disebut saponin. Saponin merupakan pepstisida organik atau pestisida alami.
Setelah pencucian tambak, air tambak dalam keadaan kering maka kegiatan
selanjutnya adalah pemupukan. Pupuk yang dugunakan adalah Urea sebanyak 7 sak/ha dan
TSP 3 sak/ha, ini bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami. Cara pemupukan dilakukan
secara manual menggunakan tangan yang ditebar secara merata, setelah pupuk ditebar
didiamkan selama satu hari. Menurut Amri (2003), dosis pupuk yang digunakan adalah urea
dan TSP dengan perbandingan 3:1, yakni urea 2,5 g/m 3 air tambak dan TSP 1 g/m3 air
tambak. Dosis seperti itu memberikan pengaruh positif bagi pertumbuhan diatome.
Tahap selanjutnya adalah pengapuran yang berguna untuk memperbaiki keasaman
(pH) dasar tambak, dosis kapur yang diberikan adalah jenis kapur pertanian sebanyak 25
sak/ha, 1 sak kapur seberat 17 kg, pengapuran dasar tambak juga dilakukan secara manual
dengan alat yang sederhana menggunakan ember dan ditebar langsung menggunakan tangan.
Keesokan harinya dilakukan pemasukan air mulai dari ketinggian 10 cm, lalu 30 cm dan 60
cm dari pelataran. Sesuai pernyataan Amri (2003), setelah pemupukan, dilakukan pengisian
air sedalam 10 cm selanjutnya ketinggian air dinaikkan menjadi 20 cm, air dimasukkan lagi
hingga 60 cm.
v Penebaran Benih
Benur udang windu didatangkan dari kota Makassar. Benur ditebar dengan umur 20
hari (PL 20) dengan kepadatan 10 ekor/m2 atau 100.000 ekor/ha. Sebelum benur ditebar
dilakukan proses aklimatisasi agar benur udang tidak stres sehingga tingkat kematian atau
mortalitas rendah, pada saat proses aklimatisasi wadah benur berupa kantung plastik yang
diletakkan di air diberikan penutup berupa terpal agar tidak bersentuhan langsung dengan
sinar matahari. Penebaran benur dilakukan pada sore hari agar suhu air tambak tidak terlalu
tinggi. Sesuai pernyataan Soetarno (1992), penebaran benur dilakukan pada sore atau pagi
hari karena pada keadaan tersebut suhu air relatif rendah sehingga tidak menimbulkan
gangguan tekanan pada udang dan untuk menghindari gangguan tekanan (stres), sebaiknya
sebelum ditebarkan, benur udang diaklimatisasikan dengan air tambak.
v Pengaturan dan Pemberian Pakan
Pengaturan jumlah pakan yang diberikan pada benur disesuaikan dengan berat tubuh
udang dari berat saat pertama tebar dan dihitung kembali kenaikan berat badannya pada
minggu ke tiga. Cara perhitungan pemberian pakan yaitu dilakukan sampling terhadap 50
ekor udang windu. Penimbangan berat badan udang dilakukan dengan cara menangkap
udang menggunakan bagan kecil kemudian udang diletakkan di dalam wadah yang berisi air
yang telah ditimbang sebelumnya, lalu ditimbang setelah mendapatkan jumlah berat
keseluruhan, kemudian dikurangi berat air, maka hasil yang didapatkan adalah berat sampel
udang keseluruhan dan dirata-ratakan.
Penimbangan dilakukan tiap minggu karena udang windu memiliki laju pertumbuhan
yang
cepat. sampling
dilakukan
tiap
7-10
hari
sekali,
(http://teknisbudidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-udang.html), disamping itu kegiatan sampling

dilakukan dalam rangka mengontrol peningkatan berat tubuh udang dan menduga jumlah
udang yang hidup, ini sesuai dengan pernyataan Amri (2003), sampling atau pengambilan
contoh selain untuk menduga jumlah udang yang terdapat ditambak, sampling juga
digunakan untuk melihat laju pertumbuhan dan status kesehatan udang. Dosis pemberian
pakan dan pertambahan berat badan udang windu tertera pada Tabel 1.

Tabel 1.

1.
2.
3.
4.

Dosis Pemberian Pakan yang disesuikan dengan Berat benur udang windu.
Berat
Rata-rata
(gram/ek
or)

Berat
Populasi
(biomas
sa) = kg

Persent
ase
Pakan

Ransum/h
ari (kg)

Jumlah
Pakan
(kg)/min
ggu

I/II/1-14
III/15-21
IV/22-28
V/29-35
VI/36-42
VII/43-49

100,00
0
96,000
92000
88000
84000
82000

0.02
0.1
1
2
4
8

2
9.6
46
176
336
656

20%
15%
12%
10%
8%
6%

0.4
1.44
5.52
17.6
26.88
39.36

2.8
10.08
38.64
123.2
188.16
275.52

VIII/50-56

80000

11

880

5%

44

Umur
(Minggu/H
ari)

Jumla
h
(Ekor)

Jenis
Pakan

Starter I

Starter
II
Grower
308 II

Pekerjaan rutin yang dilakukan adalah pengontrolan, pergantian air dan pemupukan
susulan. Pengontrolan dilakukan pada saat air surut dengan cara mengelilingi tambak melihat
apa ada air yang merembes keluar, apabila air merembes berarti ada kebocoran dan dilakukan
penempelan.
Pergantian air dilakukan pada saat air pasang tertinggi yang terjadi 15 hari satu kali
siklus air pasang. Air tambak dikeluarkan melalui outlet atau pintu pengeluaran pada saat
pagi hari, lalu pemasukan air dilakukan padasaat sore hari. Pemupukan susulan dilakukan
pada saat setelah pemasukan air, pupuk yang digunakan adalah pupuk organik 1 liter yang
berwarna coklat sebanyak 5 liter/ha. Pupuk dicampur dengan air lalu ditebar di permukaan air
tambak.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapang yang dilakukan, dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
Tehnik pembesaran yang dilakukan di tambak percontohan dinas Kelautan dan Perikanan
adalah secara semi intensif.
Pakan yang diberikan berupa pakan alami yang melalui pemupukan dan pakan buatan
berupa pelet.
Pengontrolan kualitas air selain menggunakan kincir sebagai penyuplai oksigen terlarut,
juga dilakukan pergantian air secara rutin pada saat air pasang tertinggi.
Udang yang windu mudah lebih cepat pertumbuhanya dibandingkan udang yang tua,
pertumbuhan udang windu dari awal penebaran seberat 0,02g hingga 15 hari mencapai 0,1g
berarti selisihnya 0,08g, jadi pertumbuhan berat badan/harinya adalah 0,005g atau 25%
pertumbuhan dari berat badan semula. Sedangkan pada umur 43 berat/ekor 8g hingga
mencapai umur 50 hari beratnya 11g berarti selisih pertumbuhannya 3g jadi pertumbuhan
berat badan/harinya adalah 0,375g atau 4,7% pertumbuhan dari berat badan semula.

4.2 Saran
Udang windu yang dibudidayakan sebaiknya dalam pemilihan benur benar-benar
diperhatikan kualitasnya, karena apabila benur kurang berkualitas akan menyebabkan
mortalitas yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Amri, K., 2003. Budidaya Udang Windu Secara Intensif. Agromedia Pustaka, Jakarta
http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-udang.html diakses
Desember 2011

pada

tanggal

20

http://www.warintek.ristek.go.id/perikanan/Ikan%20Laut/udang_windu.pdf diakses pada tanggal 20


Desember 2011
Soetarno., 1992. Budidaya Udang. Aneka Ilmu, Semarang
Soetomo, M.,2000. Teknik Budidaya Udang Windu. Sinar Baru, Bandung
Suyanto, R dan A. Mujiman., 1989. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya, Jakarta
Suyanto, R dan E.P Takarina., 2009. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya, Jakarta