Anda di halaman 1dari 5

PENGERTIAN CANDI

Candi adalah sebuah bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau yang
berasal dari agama Hindu-Buddha. Digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa. Namun
demikian, istilah 'candi' tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat
ibadah saja. Banyak situs-situs purbakala lain dari masa Hindu-Buddha atau Klasik Indonesia,
baik sebagai istana, pemandian/petirtaan, gapura, dan sebagainya, disebut dengan istilah candi.
Candi juga berasal dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu Dewa kematian (Durga).
Karenanya candi selalu dihubungkan dengan monumen untuk memuliakan Raja yang
meninggal.
Candi ada beeberapa banyak macamnya antara lain :
A. CANDI BOROBUDUR

1. Sejarah Candi Borobudur

Waktu didirikannya Candi Borobudur tidaklah dapat diketahui dengan pasti namun suatu
perkiraan dapat di peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki
asli Candi Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di
dapatkan dari prasati di akhir abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti tersebut
dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan sekitar tahun 800 M.

2. Letak dan Lokasi Candi Borobudur Candi

Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang yang letaknya sebelah


selatan + 15 km sebelah selatan kota Magelang dataran kedu yang berbukit hampir seluruhnya
di kelilingi pegunungan, pegunungan yang mengelilingi Candi Borobudur di antaranya di
sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi Barat, Laut Gunung Sumbing
dan Gunung Sindoro.

3. Nama Dan Arti Candi Borobudur

Nama Borobudur berasal dari gabungan kata Boro dan Budur, Boro berasal dari kata
Sangsekerta berarti “ Vihara” yang berarti komplek Candi dan Bihara atau juga asrama
( Menurut Purwacaraka Dan Stuten Herm ) sedangkan Budur dalam bahasa Bali “ Bedudur”
yang artinya di Atas. Jadi nama Borobudur berarti asrama atau bahasa ( Komplek Candi ) yang
terletak di atas bukit
B. CANDI PRAMBANAN

Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada
masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Menjulang setinggi 47 meter
(5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan
pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer dari
pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah.

Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini.
Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak
mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam.
Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan
membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat
membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa
dicurangi.

Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu,
Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu.
Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping
yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk
Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara,
halaman kedua memiliki 224 candi.

Memasuki candi Siwa yang terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, anda
akan menemui 4 buah ruangan. Satu ruangan utama berisi arca Siwa, sementara 3 ruangan
yang lain masing-masing berisi arca Durga (istri Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha
(putra Siwa). Arca Durga itulah yang disebut-sebut sebagai arca Roro Jonggrang dalam
legenda yang diceritakan di atas.

Di Candi Wisnu yang terletak di sebelah utara candi Siwa, anda hanya akan
menjumpai satu ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma yang terletak
di sebelah selatan Candi Siwa, anda juga hanya akan menemukan satu ruangan berisi arca
Brahma.

Candi pendamping yang cukup memikat adalah Candi Garuda yang terletak di dekat
Candi Wisnu. Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang
bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu yang bertubuh
emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan,
sosok itu adalah adaptasi Hindu atas sosok Bennu (berarti 'terbit' atau 'bersinar', biasa
diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno atau Phoenix dalam mitologi
Yunani Kuno. Garuda bisa menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda yang
terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci para dewa).
Kemampuan menyelamatkan itu yang dikagumi oleh banyak orang sampai sekarang
dan digunakan untuk berbagai kepentingan. Indonesia menggunakannya untuk lambang
negara. Konon, pencipta lambang Garuda Pancasila mencari inspirasi di candi ini. Negara lain
yang juga menggunakannya untuk lambang negara adalah Thailand, dengan alasan sama tapi
adaptasi bentuk dan kenampakan yang berbeda. Di Thailand, Garuda dikenal dengan istilah
Krut atau Pha Krut.

Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat kisah Ramayana. Menurut para
ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan. Relief lain
yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam agama Hindu dianggap sebagai pohon
kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief pohon Kalpataru
digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap
bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.

Sama seperti sosok Garuda, Kalpataru kini juga digunakan untuk berbagai
kepentingan. Di Indonesia, Kalpataru menjadi lambang Wahana Lingkungan Hidup (Walhi).
Bahkan, beberapa ilmuwan di Bali mengembangkan konsep Tri Hita Karana untuk pelestarian
lingkungan dengan melihat relief Kalpataru di candi ini. Pohon kehidupan itu juga dapat
ditemukan pada gunungan yang digunakan untuk membuka kesenian wayang. Sebuah bukti
bahwa relief yang ada di Prambanan telah mendunia.

C. CANDI TIKUS

Candi tukus terletak di dukuh Dinuk Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten
Mojokerto, Jawa Timur. Candi ini berukuran 29,5X28,25 meter dan tinggi keseluruhan 5,2
meter. Nama candi tikus diambil dari sejarah penemuannya yang ketika itu pertama kali
ditemukan di sana ditemukan banyak sekali tikus, dan hama tikus ini menyerang pertanian
desa di sekitarnya. Pertama kali ditemukan pada tahun 1914 kemudian baru dilakukan
pemugaran pada tahun 1983-1986.

Menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa Candi Tikus merupakan replika atau
lambang Mahameru. Candi ini disebut Candi Tikus karena sewaktu ditemukan merupakan
tempat bersarangnya tikus yang memangsa padi petani
Di tengah Candi Tikus terdapat miniatur empat buah candi kecil yang dianggap
melambangkan Gunung Mahameru tempat para dewa bersemayam dan sumber segala
kehidupan yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir dari pancuran-pancuran/jaladwara
yang terdapat di sepanjang kaki candi. Air ini dianggap sebagai air suci amrta, yaitu sumber
segala kehidupan.
Arsitektur bangunan melambangkan kesucian Gunung Mahameru sebagai tempat
bersemayamnya para dewa. Menurut kepercayaan Hindu, Gunung Mahameru merupakan
tempat sumber air Tirta Amerta atau air kehidupan, yang dipercaya mempunyai kekuatan
magis dan dapat memberikan kesejahteraan, dari mitos air yang mengalir di Candi Tikus
dianggap bersumber dari Gunung Mahameru.
Gunung meru merupakan gunung suci yang dianggap sebagai pusat alam semesta yang
mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan akan harus adanya suatu keserasian
antara dunia dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). Menurut konsepsi
Hindu, alam semesta terdiri atas suatu benua pusat yang bernama Jambudwipa yang dikelilingi
oleh tujuh lautan dan tujuh daratan dan semuanya dibatasi oleh suatu pegunungan tinggi. Jadi
Sangat mungkin Candi Tikus merupakan sebuah petirtaan yang disucikan oleh pemeluk Hindu
dan Budha, dan juga sebagai pengatur debit air di jaman Majapahit.

D. CANDI BAJANG RATU

Candi Bajangratu terletah di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan,


Kabupaten Mojokerto, sekitar 3,5 km dari Candi Wringinlawang dan sekitar 600 m dari Candi
Tikus. Candi ini masih menyimpan banyak hal yang belum diketahui secara pasti, baik
mengenai tahun pembuatannya, raja yang memerintahkan pembangunannya, fungsinya,
maupun segi-segi lainnya.

Nama Bajangratu pertama kali disebut dalam Oudheidkunding Verslag (OV) tahun
1915. Arkeolog Sri Soeyatmi Satari menduga nama Bajangratu ada hubungannya dengan Raja
Jayanegara dari Majapahit, karena kata 'bajang' berarti kerdil. Menurut Kitab Pararaton dan
cerita rakyat, Jayanegara dinobatkan tatkala masih berusia bajang atau masih kecil, sehingga
gelar Ratu Bajang atau Bajangratu melekat padanya.

Mengenai fungsi candi, diperkirakan bahwa Candi Bajangratu didirikan untuk


menghormati Jayanegara. Dasar perkiraan ini adalah adanya relief Sri Tanjung di bagian kaki
gapura yang menggambarkan cerita peruwatan. Relief yang memuat cerita peruwatan
ditemukan juga, antara lain, di Candi Surawana. Candi Surawana diduga dibangun
sehubungan dengan wafatnya Bhre Wengker (akhir abad ke-7).
Dalam Kitab Pararaton dijelaskan bahwa Jayanegara wafat tahun 1328 ('sira ta dhinar
meng Kapopongan, bhiseka ring csrenggapura pratista ring Antarawulan'). Disebutkan juga
bahwa Raja Jayanegara, yang kembali ke alam Wisnu (wafat) pada tahun 1328, dibuatkan
tempat sucinya di dalam kedaton, dibuatkan arcanya dalam bentuk Wisnu di Shila Petak dan
Bubat, serta dibuatkan arcanya dalam bentuk Amoghasidhi di Sukalila. Menurut Krom,
Csrenggapura dalam Pararaton sama dengan Antarasasi (Antarawulan) dalam
Negarakertagama, sehingga dapat disimpulkan bahwa 'dharma' (tempat suci) Raja Jayanegara
berada di Kapopongan alias Csrenggapura alias Crirangga Pura alias Antarawulan, yang kini
disebut Trowulan. Arca perwujudan sang raja dalam bentuk Wisnu juga terdapat di Bubat
(Trowulan). Hanya lokasi Shila Petak (Selapethak) yang belum diketahui.

Di samping pendapat di atas, ada pendapat lain mengenai fungsi Candi Bajangratu.
Mengingat bentuknya yang merupakan gapura paduraksa atau gapura beratap dengan tangga
naik dan turun, Bajangratu diduga merupakan salah satu pintu gerbang Keraton Majapahit.
Perkiraan ini didukung oleh letaknya yang tidak jauh dari lokasi bekas istana Majapahit.

Bajangratu diperkirakan didirikan antara abad ke-13 dan ke-14, mengingat: 1)


Prakiraan fungsinya sebagai candi peruwatan Prabu Jayanegara yang wafat tahun 1328 M ; 2)
Bentuk gapura yang mirip dengan candi berangka tahun di Panataran Blitar; 3) Relief
penghias bingkai pintu yang mirip dengan relief Ramayana di Candi Panataran; 4) Bentuk
relief naga yang menunjukkan pengaruh Dinasti Yuan. J.L.A. Brandes memperkirakan bahwa
Bajangratu dibangun pada masa yang sama dengan pembangunan Candi Jago di Tumpang,
Malang, ditilik dari adanya relief singa yang mengapit sisi kiri dan kanan kepala Kala, yang
juga terdapat di Candi Jago. Candi Jago sendiri diperkirakan dibangun pada abad ke-13.

Candi Bajangratu menempati area yang cukup luas. Seluruh bangunan candi dibuat
dari batu bata merah, kecuali anak tangga dan bagian dalam atapnya. Sehubungan dengan
bentuknya yang merupakan gapura beratap, Candi Bajangratu menghadap ke dua arah, yaitu
timur-barat. Ketinggian candi sampai pada puncak atap adalah 16,1 m dan panjangnya 6,74 m.
Gapura Bajangratu mempunyai sayap di sisi kanan dan kiri. Pada masing-masing sisi yang
mengapit anak tangga terdapat hiasan singa dan binatang bertelinga panjang. Pada dinding
kaki candi, mengapit tangga, terdapat relief Sri Tanjung, sedangkan di kiri dan kanan dinding
bagian depan, mengapit pintu, terdapat relief Ramayana. Pintu candi dihiasi dengan relief
kepala kala yang terletak tepat di atas ambangnya. Di kaki ambang pintu masih terlihat lubang
bekas tempat menancapkan kusen. Mungkin dahulu pintu tersebut dilengkapi dengan daun
pintu.

Bagian dalam candi membentuk lorong yang membujur dari barat ke timur. Anak
tangga dan lantai lorong terbuat dari batu. Bagian dalam atap candi juga terbuat dari balok
batu yang disusun membujur utara-selatan, membentuk ruang yang menyempit di bagian atas.

Atap candi berbentuk meru (gunung), mirip limas bersusun, dengan puncak persegi.
Setiap lapisan dihiasi dengan ukiran dengan pola limas terbalik dan pola tanaman. Pada bagian
tengah lapis ke-3 terdapat relief matahari, yang konon merupakan simbol kerajaan Majapahit.
Walaupun candi ini menghadap timur-barat, namun bentuk dan hiasan di sisi utara dan selatan
dibuat mirip dengan kedua sisi lainnya. Di sisi utara dan selatan dibuat relung yang
menyerupai bentuk pintu. Di bagian atas tubuh candi terdapat ukiran kepala garuda dan
matahari diapit naga.

Candi Bajangratu telah mengalami pemugaran pada zaman Belanda, namun tidak
didapatkan data mengenai kapan tepatnya pemugaran tersebut dilaksanakan. Perbaikan yang
telah dilakukan mencakup penguatan pada bagian sudut dengan cara mengisikan adonan
pengeras ke dalam nat-nat yang renggang dan mengganti balok-balok kayu dengan semen cor.
Beberapa batu yang hilang dari susunan anak tangga anak tangga juga sudah diganti.