Anda di halaman 1dari 7

KATA PENGANTAR

Tak ada kata yang mulia selain ungkapan rasa syukur kehadirat Allah SWT. atas
karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini tanpa ada
suatu halangan apa pun.
Hasil pendidikan yang bermutu adalah mahasiswa yang sehat, mandiri, berbudaya,
beretos kerja yang tinggi. Berpengetahuan cinta tanah air dan berakhlak yang mulia.
Hakikat belajar adalah aktivitas perubahan tingkah laku pembelajar. Perubahan
tingkah laku akan tercapai melalui kerja keras dan usaha cerdas dari siapapun mereka
yang terlibat dalam proses belajar itu sendiri.
Akhirnya kita berharap kesungguhan dan ketekunan para mahasiswa dalam
belajar. Semoga menjadi kesuksesan bagi kita semua.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii
ISI : Pendidikan Islam Di Indonesia Setelah Kemerdekaan ........................................ 1

ii
3
PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
SETELAH KEMERDEKAAN

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka, tapi musuh-musuh Indonesia


tak tinggal diam, bahkan berusaha untuk menjajah kembali. Pada bulan Oktober 1945 para
ulama di jawa memproklamasikan perang JIHAD FI SABILILLAH terhadap
belanda/sekutu.

Hal ini berarti memberikan fatwa kepastian hokum terhadap perjuangan umat
Islam. Pahlawan sebagai syuhada perang. Isi fatwa tersebut adalah sebagai berikut :

a. Kemerdekaan Indonesia (17-08-1945) wajib di pertahankan.


b. Pemerintah RI adalah satu-satunya pemerintah yang sah yang wajib dibela dan
diselamatkan.
c. Musuh-musuh RI (Belanda/sekutu) pasti akan menjajah kembali bangsa Indonesia.
Karena itu kita wajib mengangkat senjata menghadapi mereka.
d. Kewajiban-kewajiban tersebut diatas adalah JIHAD FI SABILILLAH.

Di tinjau dari segi pendidikan rakyat, maka fatwa ulama tersebut besar sekali
artinya. Fatwa tersebut memberikan faidah sebagai berikut :

1. Para ulama dan santri-santri dapat mempraktekkan ajaran JIHAD FI


SABILILLAH yang sudah dikaji bertahun-tahun dalam pengajian kitab suci FIQIH di
Pondok atau di Madrasah.
2. Pertanggung jawaban mempertahankan kemerdekaan tanah air itu menjadi
sempurna terhadap sesama manusia dan terhadap Tuhan YME.
Ditengah-tengah berkobarnya revolusi fisik, pemerintah RI membina Pendidikan
Agama pada khususnya pembinaan Pendidikan Agama itu secara Formal Insitusional
dipercayakan kepada Departemen Agama dan Departemen D dan K (Dep Dik Dub). Oleh
karena itu maka dikeluarkan peraturan-peraturan bersama antara kedua Departemen
tersebut untuk mengelolah Pendidikan Agama disekolah-sekolah umum (Negeri dan
Swasta). Adapun pembinaan Pendidikan Agama disekolah Agama ditangani oleh
Departemen Agama sendiri.

Pendidikan Agama Islam untuk sekolah umum mulai diatur secara resmi oleh
Pemerintah pada bulan Desember 1946. Sebelum itu Pendidikan Agama sebagai pengganti
Pendidikan Budi Pekerti yang sudah ada sejak zaman jepang, berjalan sendiri-sendiri di
masing-masing Daerah.

Pada bulan Desember 1946 dikeluarkan peraturan bersama dua menteri yaitu
Menteri Agama dan Menteri Pendidikan yang menetapkan bahwa Pendidikan Agama
diberikan mulai kelas IV SR (sekolah rakyat) yang sekarang dikenal dengan SD sampai

4
kelas VI. Pada masa itu keadaan keamanan di Indonesia belum mantap sehingga Surat
Keputusan Bersama (SKB) Dua Menteri diatas belum dapat berjalan dengan semestinya.

Daerah-daerah diluar jawa masih banyak yang memberikan Pendidikan Agama


mulai kelas I SR. pemerintah membentuk majlis pertimbangan pengajaran agama islam
pada tahun 1947. yang dipimpin oleh KI HAJAR DEWANTORO dari departemen D dan
K dan prof. DRS. ABDULLAH sig II dari departemen. Tugasnya untuk mengatur
pelaksanaan dan materi pengajaran agama yg diberikan disekolah umum.

Pada tahun 1950 dimana kedaulatan Indonesia telah pulih untuk seluruh Indonesia
maka rencana Pendidikan Agama untuk seluruh wilayah Indonesia makin disempurnakan
dengan dibentuknya panitia bersama yang dipimpin oleh Prof. MAHMUD YUNUS dari
Departemen Agama dan Mr. HADI dari Departemen D dan K. Hasil dari panitia itu adalah
SKB yang dikeluarkan pada bulan Januari 1951. Isinya ialah :

a. Pendidikan Agama di perkirakan mulai kelas IV Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar).


b. Di daerah-daerah yang masyarakatnya agama kuat, misalnya di Sumatera,
Kalimantan, dll.
c. Di sekolah lanjutan tingkat pertama dan tingkat atas (umum dan kejuruan)
diberikan Pendidikan Agama sebanyak 2 jam seminggu.
d. Pendidikan Agama diberikan kepada murid-murid sedikitnya 10 orang dalam satu
kelas dan mendapat izin orang tua/walinya.
e. Pengangkatan Guru Agama, biaya Pendidikan Agama dan Menteri Pendidikan Agama
di tanggung oleh Departemen Agama.

Untuk menyempurnakan kurikulumnya maka di bentuk panitia yang dipimpin oleh


K.H. IMAM ZARKASYI dari Pondok Gontor Ponorogo. Kurikulum tersebut disahkan
oleh Menteri Agama pada tahun 1952.

Dalam ketatanegaraan kita dinyatakan bahwa Negara berdasarkan UUD 1945.


Kedaulatan ditangan rakyat yaitu di tangan MPR sebelum dibentuknya MPR menurut
UUD 1945. Di Indonesia pernah di bentuk MPRS pada tahun 1959.

Dalam sidang pleno MPRS pada bulan Desember 1960 diputuskan sebagai berikut:
“Melaksanakan manipol usdek di bidang mental/ agama/ kebudayaan dengan syarat
spiritual dan material agar setiap warga Negara dapat mengembangkan kepribadiannya
dan kebangsaan Indonesia serta menolak pengaruh-pengaruh buruk kebudayaan Asing
(BAB II pasal II : I)”.

Dalam ayat 3 dari pasal tersebut dinyatakan bahwa. “Pendidikan Agama menjadi
mata pelajaran disekolah-sekolah umum, mulai sekolah rendah (dasar) sampai
Universitas” dengan pengertian bahwa murid berhak ikut serta dalam Pendidikan Agama
jika wali murid/murid dewasa menyatakan keberatannya.

5
Pada tahun 1966 MPRS mengadakan sidang lagi. Suasana pada waktu itu ialah
membersihkan sisa-sisa mental G 30 S/PKI. Dalam keputusannya di bidang Pendidikan
Agama telah mengalami kemajuan yaitu dengan menghilangkan kalimat terakhir dari
keputusan yang terdahulu. Dengan demikian maka sejak tahun 1966 Pendidikan menjadi
hak wajib mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi Umum, Negeri di seluruh
Indonesia.

Kehidupan Sosial, Agama dan Politik di Indonesia sejak tahun 1966 mengalami
perubahan yang sangat besar. Periode ini disebut zaman orde baru dan zaman munculnya
angkatan yang disebut angkatan 66. pemerintah orde baru bertekad sepenuhnya untuk
kembali kepada UUD 1945 dan melaksanakannya secara murni pemerintah dan rakyat
akan membangun manusia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Yakni
membangun bidang Rohani dan Jasmani untuk kehidupan yang baik, dan di akhirat
sekaligus. Oleh karena itu, ordebaru disebut sebagai orde konsitusional dan orde
pembangunan.

Berdasarkan tekad dan semangat tersebut diatas maka kehidupan beragama dan
Pendidikan Agama khususnya makin memperoleh tempat yang kokoh dalam struktur
organisasi pemerintahan dan dalam pada masyarakat umumnya. Dalam sidang-sidang
MPR yang menyusun GBHN pada tahun 1973-1978 dan 1983 selalu ditegaskan bahwa
Pendidikan Agama menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah negeri dalam semua
tingkat pendidikan. Dalam GBHN-GBHN itu dirumuskan sebagai berikut:

“Bahwa bangsa dan pemerintah Indonesia bercita-cita menuju kepada apa yang
terkandung dalam pembukaan UUD 1945. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam
rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Hal ini berarti adanya keserasian,
keseimbangan dan keselarasan antara pembangunan bidang Jasmani dan Rohani, antara
bidang material dan spiritual, antara bekal keduniaan dan ingin berhubungan dengan
Tuhan YME, dengan sesama manusia dan dengan lingkungan hidupnya secara seimbang.
Pembangunan seperti tersebut diatas menjadi pangkat tolak pembangunan bidang
Agama”.
Dalam pola umum pelita IV bidang Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME
dinyatakan antara lain sebagai berikut:

“Kehidupan Keagamaan dan Kepercayaan tehadap Tuhan Yang Maha Esa makin
dikembangkan, dengan semakin meningkatnya dan meluasnya pembangunan, maka
kehidupan Keagamaan dan Kepercayaan tehadap Tuhan Yang Maha Esa harus semakin
diamalkan baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial kemasyarakatan. Di
usahakan supaya terus bertambah sarana- sarana yang diperlukan bagi pembangunan.
Kehidupan Keagamaan dan Kepercayaan tehadap Tuhan Yang Maha Esa termasuk

6
Pendidikan Agama yang dimasukkan kedalam kurikulum disekolah sekolah dasar sampai
Universitas-Universitas Negeri”.

Kesimpulannya adalah bahwa ditinjau dari segi falsafah Negara Pancasila dari
konsitusi UUD 1945, dan dari keputusan-keputusan MPR tentang GBHN, maka
kehidupan beragama dan Pendidikan Agama Islam di Indonesia sejak Proklamasi
Kemerdekaan pada tahun 1945 sampai tahap pelita IV tahun 1983 semakin
mantap.Teknik-teknik pelaksanaan Pendidikan Agama di Sekolah-Sekolah umum
mengalami perubahan-perubahan tertentu sehubungan dengan berkembangnya Cabang
Ilmu Pengetahuan dan Perubahan system proses mengajar, misalnya tentang materi
pendidikan agama diadakan Pengintegrasikan dan pengelompokan yang lebih terpadu dan
diadakan pengurangan alokasi waktu.