Anda di halaman 1dari 11

PENDIDIKAN ISLAM PADA ZAMAN PENJAJAHAN JEPANG Posted Desember 29, 2010 |

Oleh: Azhari Fadli, Handayani, Khairunnisa, Helda Erlena, Ariani

PENDAHULUAN

PEMBAHASAN A. Perkembangan Pendidikan dan Pengajaran Kejayaan penjajah Belanda lenyap setelah Jepang berada di Indonesia. Mereka bertekuk lutut tanpa syarat kepada Jepang. Tujuan Jepang ke Indonesia ialah menjadikan Indonesia sebagai sumber bahan mentah dan tenaga manusia yang sangat besar artinya bagi kelangsungan perang Pasifik. Hal ini sesuai dengan cita-cita politik ekspansinya. (H. A. Mustafa & Abdullah Aly, 1998: 97) Mengenai pendidikan zaman jepang disebut Hakko Ichiu, yakni mengajak bangsa Indonesia bekerjasama dalam rangka mencapai kemakmuran bersama Asia Raya. Oleh karena itu pelajar setiap hari terutama pada pagi hari harus mengucapkan sumpah setia kepada kaisar Jepang, lalu dilatih kemiliteran. Sistem persekolahan di zaman pendudukan Jepang banyak perbedaannya dibandingkan dengan penjajahan Belanda. (Hasbullah, 2001: 62) Sekolah-sekolah yang ada pada zaman Belanda diganti dengan sistem Jepang. Segala daya upaya ditujukan untuk kepentingan perang. Murid-murid hanya mendapat pengetahuan yang sedikit sekali, hampir sepanjang hari hanya diisi dengan kegiatan latihan atau bekerja. Kegiatan-kegiatan sekolah antara lain:

-bengkel, asrama-asrama militer; -ubian, sayur-sayuran di pekarangan sekolah untuk persediaan makanan;

Hasbullah, 2001: 62-63) Ada beberapa hal yang perlu dicatat pada zaman Jepang ini yaitu terjadinya perubahan yang cukup mendasar di bidang pendidikan, yaitu: a) Pelatihan guru-guru: Usaha penanaman Ideologi Hakko Ichiu melalui sekolah-sekolah dimulai dengan mengadakan pelatihan guru-guru. Guru-guru dibebani tugas sebagai penyebar ideologi baru tersebut. Pelatihan tersebut dipusatkan di Jakarta. Setiap kabupaten wajib mengirimkan wakilnya untuk mendapat gemblengan langsung dari pimpinan Jepang. Gemblengan ini berlangsung selama 3 bulan, jangka waktu tersebut dirasa cukup untuk menjepangkan para guru. (H. A. Mustafa & Abdullah Aly, 1998: 97) Dengan demikian, habislah riwayat susunan pengajaran Belanda yang dualistis itu, yang membedakan dua jenis pengajaran, yakni pengajaran Barat dan pengajaran Bumi Putra. Hanya satu jenis sekolah rendah yang diadakan bagi semua lapisan masyarakat, yaitu: Sekolah Rakyat 6 tahun, yang ketika itu populer dengan nama kokumin Gakko. Sekolah-sekolah desa masih tetap ada dan namanya diganti menjadi sekolah pertama. Jenjang pengajaran pun menjadi:

-nya pada zaman Jepang). (Hasbullah, 2001: 64) b) Perubahan-perubahan penting:

diselenggarakan pada zaman pemerintahan Belanda dihapuskan sama sekali;

sekolah. Bahasa Jepang dijadikan mata pelajaran wajib dan adat kebiasaan Jepang harus ditaati. c) Isi pengajaran:

perang;

-murid diharuskan membuat pupuk kompos atau beramai-ramai membasmi hama tikus di sawah. Sebagian waktu belajar dipergunakan untuk menanami halaman sekolah dan pinggir-pinggir jalan dengan tanaman jeruk; -pelatihan jasmani berupa pelatihan kemiliteran dan mengisi aktivitas murid sehari-hari; -murid harus mengucapkan sumpah pelajar dalam bahasa Jepang. Mereka harus menguasai bahasa dan nyanyian Jepang. Tiap-tiap pagi diadakan upacara, dengan menyembah bendera Jepang dan menghormati Istana Tokyo.

dan pegawai-pegawai, yang dibagi atas 5 tingkat. Pemilik ini akan mendapat tambahan upah. (H. A. Mustafa & Abdullah Aly, 1998: 98-99) B. Kebijakan Pendidikan Pemerintah Kolonial Jepang Kebijakan politik Jepang tampaknya tidak jauh dari skenario yang dibuat Snouck Hurgronje, yaitu memisahkan Islam dari politik praktisnya. Jepang mulai menerapkan pengawasan secara ketat terhadap organisasi-organisasi Islam, terutama terhadap pendidikan Islam. Namun, paradok dengan yang pertama, rezim pendudukan Jepang juga membuka peluang bagi pemimpin-pemimpin Islam terlibat dalam organisasiorganisasi politis yang diciptakannya. Dalam memobilisasi Islam Indonesia, pemerintah Jepang menciptakan hubungan yang sangat dekat dengan elit muslim. (Suwendi, 2004: 85)

C. Pertumbuhan dan Perkembangan Madrasah 1. Tujuan sekolah secara umum Dengan semboyan Asia untuk bangsa Asia, Jepang menguasai daerah yang berpenduduk lebih dari 400 juta jiwa, yang antara lain menghasilkan 50% produksi karet dan 70% produksi timah dunia, Indonesia yang kaya akan sumber bahan mentah merupakan sasaran yang perlu dibina dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan perang Jepang. Itulah sebabnya, Jepang menyerbu Indonesia, karena

tanah air Indonesia merupakan sumber bahan-bahan mentah dan tenaga manusia yang kaya raya sangat besar artinya bagi kelangsungan perang Pasifik. Hal ini sesuai pula dengan cita-cita politik ekspansinya. Tujuan pendidikan pada zaman Jepang tidaklah hanya memenangkan peperangan. Secara konkret tujuan yang ingin dicapai Jepang adalah menyediakan tenaga cumacuma (rumosha) dan prajurit-prajurit yang membantu peperangan bagi kepentingan Jepang. Oleh karena itu, para pelajar diharuskan mengikuti latihan fisik, kemiliteran dan indoktrinasi ketat. Pada akhir zaman Jepang tampak tanda-tanda tujuan menjepangkan anak-anak Indonesia. Maka dikerahkan barisan propaganda Jepang yang terkenal dengan nama sedenbu, untuk menanamkan ideologi baru, untuk menghancurkan ideologi Indonesia Raya. Untuk menyebarluaskan ideologi dan semangat Jepang, para guru digembleng secara khusus oleh pemimpin-pemimpin Jepang, selama tiga bulan di Jakarta. Mereka diwajibkan meneruskan materi yang telah diterima itu kepada teman-temannya. Untuk menanamkan semangat Jepang, murid-murid diajarkan bahasa Jepang, nyanyian-nyanyian semangat kemiliteran. (H. A. Mustafa & Abdullah Aly, 1998: 103-105) 2. Sikap Jepang terhadap Pendidikan Islam Tentang sikap penjajah Jepang terhadap pendidikan Islam ternyata lebih lunak, sehingga ruang gerak pendidikan Islam lebih bebas ketimbang pada zaman pemerintahan kolonial Belanda. Masalahnya, Jepang tidak begitu menghiraukan kepentingan agama, yang penting bagi mereka adalah demi keperluan memenangkan perang, dan kalau perlu pemuka agama lebih diberikan keleluasan dalam mengembangkan pendidikannya. Berlainan dengan kolonial Belanda, disamping bertindak sebagai kaum penjajah, tetapi ada misi lain yang tidak kalah penting yang mereka emban yaitu misi agama Kristen, dan untuk ini tentu saja agama Islam yang menjadi mayoritas penduduk pribumi sekaligus sebagai penentang pertama kehadirannya, harus ditekan dengan berbagai cara, dan kalau perlu dilenyapkan sama sekali. (Hasbullah, 2001: 64-65)

Karena berseberangan dengan Belanda itulah Jepang berusaha menarik simpati ummat Islam dengan menempuh beberapa kebijaksanaan, di antaranya: a. Kantor Urusan Agama yang ada pada zaaman belanda disebut Kantor Voor Islamistische Zaken yang dipimpin oleh orientalis Belanda, diubah oleh Jepang menjadi Kantor Sumubi yang dipimpin oleh ulama Islam sendiri yaitu KH. Hasyim Asyari, dan di daerah-daerah juga disebut Sumuka. b. Pondok Pesantren yang besar-besar seringkali mendapat kunjungan dan bantuan dari pembesar-pembesar Jepang. c. Sekolah Negeri diberi pelajaran budi pekerti yang isinya identik dengan ajaran agama. d. Disamping itu pemerintah Jepang mengizinkan pembentukan barisan Hizbullah untuk memberikan latihan dasar kemiliteran bagi pemuda Islam. Barisan ini dipimpin oleh KH. Zainal Arifin. e. Pemerintah Jepang mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang dipimpin oleh KH. Wahid Hasyim, Kahar Muzakar, dan Bung Hatta. f. Para ulama bekerja sama dengan pemimpin-pemimpin nasionalis diizinkan membentuk barisan Pembela Tanah Air (Peta). g. Umat Islam diizinkan meneruskan organisasi persatuan yang disebut Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI) yang bersifat kemasyarakatan. 3. Pertumbuhan dan Perkembangan Madrasah Pada masa pendudukan Jepang, ada satu hal istimewa dalam pendidikan sebagaimana telah dikemukakan, yaitu sekolah-sekolah telah diseragamkan dan dinegerikan meskipun sekolah-sekolah swasta lain, seperti Muhammadiyah, Taman Siswa dan lain-lain diizinkan terus berkembang dengan pengaturan dan diselenggarakan oleh pendudukan Jepang. Sementara itu khususnya pada awal-awalnya, madrasah dibangun dengan gencargencarnya selagi ada angin segar yang diberikan oleh Jepang. Walaupun lebih bersifat politis belaka, kesempatan ini tidak disia-siakan begitu saja dan umat Islam Indonesia memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Ini tampak di Sumatera dengan berdirinya madrasah Awaliyahnya, yang diilhami oleh Majelis Islam Tinggi.

Hampir seluruh pelosok pedesaan terdapat madrasah Awaliyah yang dikunjungi banyak anak-anak laki-laki dan perempuan. Madrasah Awaliyah ini diadakan pada sore hari dengan waktu kurang satu setengah jam. Materi yang diajarkan ialah membaca Alquran, ibadah, akhlak dan keimanan sebagai pelatihan pelajaran agama yang dilakukan di sekolah rakyat pagi hari. Oleh karena itu, meskipun dunia pendidikan secara umum terbengkalai, karena murid-muridnya setiap harinya hanya disuruh gerak badan, baris berbaris, bekerja bakti (romusha), bernyanyi dan sebagainya, madrasah-madrasah yang berada di dalam lingkungan pondok pesantren bebas dari pengawasan langsung pemerintah pendudukan Jepang. Pendidikan dalam pondok pesantren dapat berjalan dengan wajar.(H. A. Mustafa & Abdullah Aly, 1998: 110)

ANALISA SEJARAH Tahun 1938-1945 terjadi perang dunia II antara Jerman, Itali dan Jepang berhadapan dengan sekutu yang terdiri dari Inggris, Perancis, Rusia dan Amerika. Front Pasifik meletus tanggal 18 Desember 1941 ketika Amerika Serikat membuka front baru menghadapi Jepang yang menjatuhkan bom di Pearl Harbour, sebuah pangkalan militer Amerika. Hindia Belanda (nusantara) di bawah jajahan Belanda melalui pidato ratu Wilhelmina mengumumkan perang terhadap Jepang. Satu persatu wilayah Hindia Belanda dikuasai Jepang. Bandung sebagai pusat pertahanan Belanda dibombardir Jepang. Hindia Belanda menyerah tanpa syarat dan Hindia Belanda pun mulai dijajah Jepang. Berbeda dengan Belanda, imperiaslismenya terhadap negara jajahan adalah 3G (ekonomi, politik dan agama), imperialisme Jepang justru bertujuan demi kepentingan perang antara Jepang dengan sekutu. Berbagai upaya dilakukan untuk memperkuat kedudukan Jepang, mulai dari cara yang halus sampai yang paling kejam. Jepang berusaha mengendalikan sumber daya manusia dan sumber daya alam negara jajahannya Indonesia. Walaupun sikap Jepang terhadap umat Islam lebih lunak (ini dilihat dari kebijaksanaan-kebijaksanaan Jepang) dari Belanda, namun di balik semua itu tersembunyi maksud untuk menarik simpati umat Islam agar

mendukung dan membantu kepentingan perang Jepang, karena Jepang menyadari melalui agama dapat mempengaruhi masyarakat. Selain itu, jepang mempunyai tujuan me-nipponkan Indonesia, Jepang ingin menghilangkan kebangsaan Indonesia menjadi Nippon. Untuk mempercepat usaha tersebut segala cara ditempuh dalam segala segi kehidupan, yaitu dengan cara-cara sebagai berikut: (Musyrifah Sunanto, 2007: 36-40) 1. Membersihkan kebudayaan barat, kebudyaan Islam diganti kebudayaan Jepang. Langkah yang dilakukan berupa: menjadikan bahasa Jepang sebagai Lingua Franca (bahasa resmi) melalui pemakaian istilah-istilah resmi bahasa Jepang, penerbitan koran disediakan kolom pelajaran Jepang, buku-buku teks memakai bahasa Jepang. Madrasah yang bahasa pengantarnya bahasa Arab ditutup dan dilarang diajarkan di pesantren, walaupun akhirnya larangan itu dicabut akibat kerasnya tantangan umat Islam. 2. Mengubah sistem pendidikan. Oleh sebab itu, Jepang menguasai kurikulum baru, yang berlaku secara umum untuk semua sekolah. Dalam kurikulum ini bahasa Indonesia menjadi pelajaran utama, bahasa Jepang menjadi pelajaran wajib. Para pelajar harus mempelajari adat istiadat Jepang, taiso, melagukan lagu Jepang, melakukan penghormatan (selkerei) ke arah istana kaisar Tokyo. Guru-guru juga harus dilatih agar dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan Jepang. Selain itu, diberi pelajaran tentang dasar-dasar pertahanan dan kemiliteran. Dualisme pendidikan pada masa Belanda dihapus dan diganti dengan sekolah secara umum. Kelak kebijakan ini sangat menguntungkan Indonesia diantaranya dalam

penyeragaman kurikulum, bangsa Indonesia tidak lagi mengalami diskriminasi penyelenggaraan sekolah, juga menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan terbentuknya kader-kader muda masa depan. 3. Membentuk barisan pemuda (dengan latihan kemiliteran dan mobilisasi pemuda dan santri). Sehingga muncul barisan-barisan pemuda: Barisan Gerakan Asia Raya (1942), PETA (pembela tanah air/1943), PELOPOR (1944), Seinedan dan Keibodan, Hei-ho (1945) dan Hisbullah (1943).

4. Memobilisasi pemimpin Islam dengan cara mendoktrin ulama melalui latihanlatihan. Latihan-latihan para kiai melalui penataran selama 30 hari, sehingga mempunyai jiwa baru mempropagandakan ide-ide Jepang. Dalam latihan itu, ulama juga harus berseikerei, diasramakan di hotel-hotel, hidup dalam suasana kebiasaan dan ideologi Jepang, diusahakan juga untuk menghapus ide-ide Pan-Islamisme diganti dengan Pan-Asia (persaudaraan Asia). 5. Membentuk organisasi-organisasi baru untuk kepentingan Nipponisasi, Jepang membutuhkan suatu organisasi muslim yang menyeluruh, yang menghimpun muslim Indonesia. Organisasi buatan Jepang itu adalah sebagai berikut: a) Shumubu (Departemen Agama buatan Jepang / Maret 1942). Pada 1944 dibentuk kantor wilayah (Shumuka) di setiap karesidenan di Jawa dengan kepala pimpinannya adalah ulama terkemuka yang sudah didoktrinasi dengan ideologi Jepang. Jepang menggaet K. H. Hasyim Asyari (1944) pemimpin pesantren Tebu Ireng dan ketua Masyumi. Dengan kebijaksanaan menyatukan Shumub dengan Masyumi pada diri K. H. Hasyim Asyari dapat diduga bahwa Jepang bertujuan mempergunakan wibawa beliau untuk menundukkan dan mengawasi para ulama. b) Masyumi (1943) menggantikan MIAI yang tidak bisa dikendalikan Jepang. Dalam Masyumi semua organisasi muslim tergabung: MIAI, Muhammadiyah, NU, dan Persis. Di bali bentuk organisasi ini, sikap umat Islam terbagi dua: pertama, sikap keras dengan perang diperlihatkan oleh ulama secara individual, kedua, sikap lunak (moderat) yang diperlihatkan oleh pemimpin-pemimpin muslim melalui organisasiorganisasi. Keadaan rakyat Indonesia lebih menderita daripada Masa Belanda. Ketika Jepang terjepit dan mengalami kekalahan terhadap sekutu pada perang Asia Timur Raya, Jepang berusaha Meningkatkan kekuatannya dengan mengerahkan harta dan tenaga milik rakyat. Keadaan menderita tersebut diantaranya, 1. Untuk menyambung hidup, rakyat makan pisang muda atau hatinya batang pisang, untuk baju memakai goni, ketakutan terhadap polisi rahasia (Jepang kempetei) 2. Jika pada masa Belanda ada istilah kerja rodi, maka di zaman Jepang menjadi romusha, yang dikirim sampai ke pedalaman untuk membangun jalur kereta api. Para

romusha diperlakukan sangat buruk, makan kurang sementara tenaga dipaksa bekerja dengan keras. 3. Gadis-gadis Indonesia banyak yang dikerahkan untuk menghibur tentara Jepang, hingga ada yang meninggal atau menjadi gila. 4. Islam akan dihapus dan diganti dengan agama Shinto. Oleh karena itu, bahasa dan aksara Arab dilarang, dan perintah berseikerei.

KRITIK SEJARAH Keinginan menguasai dunia Islam tidak pernah hilang dari memori bangsa imperial sejak mereka masuk ke dunia Islam dan sejak mereka melihat aset kekayaan dunia Islam yang membuat orang mengeluarkan air liurnya ketika melihatnya langsung atau mendengarnya. Mereka berkeinginan untuk memperbudak manusia dan

memanfaatkan potensinya guna mengamankan kepentingannya di satu sisi dan di sisi lain guna melindungi tempat-tempat strategis yang memungkinkan mereka melindungi kepentingannya dan mengancam kepentingan bangsa lain. Begitu juga dengan bangsa Indonesia yang dijajah bangsa Jepang, pastinya mereka mempunyai kepentingan untuk memanfaatkan potensi alam dan manusia Indonesia sepenuhnya, yaitu memenangkan perang Pasifik melawan musuhnya. Nampaknya negara imperial telah menyiapkan segala-galanya. Mereka jauh-jauh hari telah menyiapkan dirinya menghadapi gelombang perlawanan rakyat negara yang dijajahnya dan bertekad memprematurkan seluruh upaya untuk mengusir mereka dari negeri-negeri yang telah dikuasainya. Hasil dari negara-negara jajahannya yang mereka tunggu-tunggu jauh lebih bernilai secara politis dan ekonomi daripada nyawa dan harta yang mereka curahkan dalam rangka menjaganya. Begitu juga dengan Jepang sebagai negara imperial telah menyusun strategi-strategi sebagai upaya mereka memperkuat kedudukannya di Indonesia. Mulai dari bersifat lunak terhadap umat Islam dengan membebaskan pengawasan terhadap pendidikan Islam, mengangkat tokoh-tokoh Islam seperti ulama-ulama yang sudah

diindoktrinkan Jepang sebagai anteknya, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah, menyediakan wadah khusus untuk umat Islam,

menyeragamkan pendidikan bagi rakyat, membekali guru-guru, melatih kemiliteran untuk rakyat Indonesia khususnya pemuda, serta masih banyak lagi yang lainnya. Akan tetapi semua itu bukan untuk kepentingan negara jajahannya, tetapi melainkan untuk kepentingan negaranya. Bahkan tidak tanggung-tanggung Jepang memaksakan doktrinnya terhadap bangsa Indonesia, seperti menyuruh para ulama berseikerei, menghapus bahasa dan tulisan Arab dari kurikulum. Belum lagi keadaan rakyat Indonesia yang sangat menderita sampai kelaparan dan mengalami kematian akibat penyiksaan dan pengeksploitasian yang tidak manusiawi, mereka dipaksa bekerja untuk kepentingan Jepang. Dalam upaya me-Nipponkan Indonesia, Jepang mencurahkan tenaganya guna memalingkan rakyat negara-negara jajahannya dari agamanya. Tujuan tersebut melibatkan politikus, pemimpin militer dan para pemikir karena mereka tahu bahwa komitmen dengan agama adalah rahasia kekuatan kaum muslimin dan karena Islam mendidik para pengikutnya untuk merdeka serta menumbuhkan jiwa kekerasan dan kemuliaan dalam diri pemeluknya, mulai dari berseikerei, hakkochiu, dan penataran untuk para kiai. Belum lagi yang terang-terangan yang dilakukan Jepang, melebur semua organisasi Islam dalam satu wadah. Dari uraian di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa tujuan utama imperialisme modern teringkas dalam point-point berikut. a. Menaklukkan Islam yang merupakan kekuatan penyeru pembebasan dan perlawanan melawan musuh. b. Membuka lahan baru untuk memasarkan hasil industri yang meledak pasca kebangkitan industri c. Memperluas jangkauan negara imperialis. d. Mengambil aset negara jajahan. e. Memanfaatkan potensi rakyat negara jajahan untuk kepentingan negara-negara imperialis. (Muhammad Sayyid Al-Wakil, 1998: 306)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Wakil, Muhammad Sayyid, Wajah Dunia Islam, (Jakarta: Pustaka Al-kautsar, 1998) H. A. Mustafa dan Abdullah Ally, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998) Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001) Sunanto, Musyrifah, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007) Suwendi, Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004)

Makalah disajikan pada Diskusi Kelas Sejarah Pendidikan Islam Indonesia, pada hari Selasa tanggal 19 Oktober 2010 Lokal 6 PAI Fak. Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin Jam 16.00 18.00 di bawah bimbingan Dosen : Abdul Khaliq, S.Pd.I, M.Pd