Anda di halaman 1dari 21

kCCkDINASI DALAM LNDIDIkAN

MAkALAn
un1uk MLMLnuPl 1uCAS MA1AkuLlAP
Mana[emen endldlkan ke[uruan yang dlblmblng oleh 1rl ALma[l S u8 Md



C|eh
MCn 2AINUL nA
100S33402637
CIILkING C







UNIVLkSI1AS NLGLkI MALANG
IAkUL1AS 1LkNIk
IUkUSAN 1LkNIk LLLk1kC
kCDI S1 LNDIDIkAN 1LkNIk INICkMA1IkA
Cktober 2011




PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Istilah koordinasi berasal dari bahasa inggris 'coordination` yang
terbentuk dari dua akar kata yaitu 'co` dan 'ordinate`, dengan demikian dalam
istilah koordinasi secara luas sudah terkandung makna pengaturan. Pengaturan
dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan dari Iungsi-Iungsi manajemen
itu. Unsur-unsur manajemen terdiri dari men, money, method, materials,
machines and market (6M). ke enam unsur manajemen tadi di atur agar lebih
berdaya guna, berhasil guna, terintegrasi dan terkoordinir dalam mencapai tujuan
yang optimal.
Fungsi pengkoordisasian merupakan bagian dari Iungsi-Iungsi
manajemen yaitu; planning (perencenaan), organi:ation (pengorganisasian),
coordinating (pengkoordinasian), leading (kepemimpinan), motivating
(motivasi), communication (komunikasi), controlling (pengawasan). Disamping
itu melalui koordinasi, berbagai masalah dan kendala administrasi serta teknis
operasional dapat diidentiIikasi, dan kemudian dapat dirumuskan solusinya.
Artinya, di dalam pelaksanaan koordinasi itu dapat dibahas berbagai hal yang
terkait atau dibutuhkan untuk memperlancar dan atau mengoptimalisasikan
teknis pelaksanaan suatu rangkaian pekerjaan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang dimaksud dengan koordinasi dalam pendidikan?
2. Bagaimanakah cara melaksanakan koordinasi dalam pendidikan?
3. Bagaimanakah koordinasi pendidikan di Indonesia?

C. TUJUAN
1. Memahami pengertian koordinasi dalam pendidikan.
2. Memahami pelaksanaan koordinasi pendidikan.
3. Memahami perkembangan koordinasi pendidikan di Indonesia.



A1IAN

A. Pengertian
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Koordinasi adalah perihal
mengatur suatu organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yang
akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau simpang siur. Menurut G.R.
Terry koordinasi adalah suatu usaha yang sinkron dan teratur untuk
menyediakan jumlah dan waktu yang tepat, dan mengarahkan pelaksanaan untuk
menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan harmonis pada sasaran yang
telah ditentukan.
Sedangkan menurut E.F.L. Brech, koordinasi adala h mengimbangi dan
menggerakkan tim dengan memberikan lokasi kegiatan pekerjaan yang cocok
dengan masing-masing dan menjaga agar kegiatan itu dilaksanakan dengan
keselarasan yang semestinya di antara para anggota itu sendiri (Hasibuan,
2007:85). Menurut Mc. Farland (Handayaningrat, 1985:89) koordinasi adalah
suatu proses di mana pimpinan mengembangkan pola usaha kelompok secara
teratur di antara bawahannya dan menjamin kesatuan tindakan di dalam
mencapai tujuan bersama.
Sementara itu, Handoko (2003:195) mendeIinisikan koordinasi
(coordination) sebagai proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan-
kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah (departemen atau bidang-bidang
Iungsional) suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara eIisien.
Menurut Handoko (2003:196) kebutuhan akan koordinasi tergantung pada siIat
dan kebutuhan komunikasi dalam pelaksanaan tugas dan derajat saling
ketergantungan bermacam-macam satuan pelaksananya. Hal ini juga ditegaskan
oleh Handayaningrat (1985:88) bahwa koordinasi dan komunikasi adalah
sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Selain itu, Handayaningrat juga
mengatakan bahwa koordinasi dan kepemimpinan (leadership) adalah tidak bisa
dipisahkan satu sama lain, karena satu sama lain saling mempengaruhi.




Menurut James D. Thompson (Handoko, 2003:196) Terdapat tiga
macam saling ketergantungan di antara satuan-satuan organisasi, yaitu:
1. Saling ketergantungan yang menyatu (pooled interdependence), bila satuan-
satuan organisasi tidak saling tergantung satu dengan yang lain dalam
melaksanakan kegiatan harian tetapi tergantung pada pelaksanaan kerja setiap
satuan yang memuaskan untuk suatu hasil akhir.
2. Saling ketergantungan yang berurutan (sequential interdependece), di mana
suatu satuan organisasi harus melakukan pekerjaannya terlebih dulu sebelum
satuan yang lain dapat bekerja.
3. Saling ketergantungan timbal balik (reciprocal interdependence), merupakan
hubungan memberi dan menerima antar satuan organisasi.
Lebih lanjut Handoko (2003:196) juga menyebutkan bahwa derajat
koordinasi yang tinggi sangat bermanIaat untuk pekerjaan yang tidak rutin dan
tidak dapat diperkirakan, Iaktor-Iaktor lingkungan selalu berubah-ubah serta
saling ketergantungan adalah tinggi. Koordinasi juga sangat dibutuhkan bagi
organisasi-organisasi yang menetapkan tujuan yang tinggi.
Berdasarkan pendapat para pakar dapat Disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan koordinasi ialah proses mengintegrasikan (memadukan),
menyinkronisasikan, dan menyederhanakan pelaksanaan tugas yang terpisah-
pisah secara terus-menerus untuk mencapai tujuan secara eIektiI dan eIesien.
Dengan koordinasi terjadi keseimbangan sejumlah bagian yang berlainan dengan
menyelaraskan interaksinya sehingga keseluruhan organisasi bergerak ke suatu
tujuan yang sudah di tentukan secara eIektiI dan eIesien sebagai suatu sistem.
Koordinasi adalah bagian penting di antara anggota-anggota atau unit-
unit organisasi yang pekerjaannya saling bergantung. Orang-orang yang
berkoordinasi di lingkungan sekolah adalah mereka yang termasuk dalam
sumber daya pendidikan. Sumber daya pendidikan meliputi :
1. Sumber daya manusia (kepala sekolah, guru, pegawai TU, siswa, pengawas
termasuk aparat Dinas Pendidikan, lainnya).
2. Sumber daya lain. Seperti peralatan, perlengkapan, uang dan bahan,
perangkat lunak (struktur organisasi, peraturan perundang-undangan,


deskripsi tugas, rencana, program), dan harapan-harapan (visi, misi, tujuan,
dan sasaran yang ingin dicapai pendidikan).
Kepala sekolah dalam mengelola sekolahnya menggunakan sejumlah
input manajemen, yaitu :
1. kebijakan,
2. rencana kerja yang rinci dan sistematis,
3. prosedur kerja,
4. rapat,
5. taklimat,
6. surat keputusan bersama / surat edaran bersama,
7. tim, satuan tugas, kelompok kerja, gugus tugas,
8. komite sekolah
9. teknik pengendalian mutu

Hakikat pekerjaan seorang manajer menurut Gibson, et al (2003: 16-17)
adalah mengoordinasikan tugas individu, kelompok dan organisai dengan empat
Iungsi manajemen, yaitu planning, organizing, leading, dan contolling untuk
mencapai tujuan secara eIektiI. Digambarkan sebagai berikut:





Gambar 1. 4ntribusi manajemen terhadap keefektifan (Gibs4n, 09 ,.
2003:17)
Asas koordinasi dalam suatu organisasi sangat penting terutama untuk
menjaga keselarasan, keseimbangan tugas dari masing-masing bagian, dan
ketepatan distribusi para pekerja dalam suatu organisasi. Hal ini dapat
menghindari adanya bagian yang kelebihan tenaga sedangkan di pihak lain ada
bagian yang tidak mencukupi petugasnya.
Koordinasi itu sendiri merupakan salah satu komponen dari manajemen
pendidikan, berbagai upaya telah diusahakan untuk menganalisa proses
ungsl mana[emen
- erencanaan
- engorganlsasla
n
-
Mengoordlnaslkan
perllaku
- lndlvldu
- kelompok
MendapaLkan
- keefekLlfan lndlvldu
- keefekLlfan kelompok
- keefekLlfan organlsasl


manajemen salah satunya yaitu dilakukan oleh Henry Fayol atau lebih dikenal
dengan sebutan unsur - unsur Fayol, yaitu:
O Merencana : mempelajari masa yang akan dating dan menyusun
rencana kerja;
O Mengorganisasi: membuat organisasi usaha bahan dan manusia,
pengorganisasian tenaga kerja dan bahan;
O Memerintah: menjuruskan para pegawai untuk melaksanakan pekerjaan
mereka
O Mengkoordinasi: menyatukan dan mengkorelasi semua kegiatan;
O Mengawasi: memeriksa bahwa segala sesuatu dikerjakan sesuai dengan
peraturan-peraturan yang telah ditetapkan dan instruksi-instruksi yang
telah diberikan.

Dalam Iungsi pengarahan, Pengkoordinasian diartikan sebagai usaha
untuk menyatu padukan kegiatan dari berbagai individu agar kegiatan mereka
berjalan selaras dengan anggota dalam usaha mencapai tujuan. Usaha
pengkoordinasian dapat dilakukan melalui berbagai cara,seperti:
(a)melaksanakan penjelasan singkat (brieIing).
(b)mengadakan rapat kerja.
(c) memberikan unjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis.
(d) memberikan balikan tentang hasil sutu kegiatan.(Soetjipto:137:2004)

Adanya bermacam-macam tugas/pekerjaan yang dilakukan oleh banyak
orang, memerlukan adanya koordinasi dari seorang pemimpin. Adanya
koordinasi yang baik dapat menghindarkan kemungkinan terjadinya persaingan
yang tidak sehat dan atau kesimpangsiuran dalam tindakan. Dengan adanya
koordinasi yang baik, semua bagian dcan personel dapat bekerja sama menuju
ke satu arah tujuan yang telah ditetapkan.
Rencana atau program-program pendidikan yang harus dilaksanakan di
sekolah-sekolah siIatnya sangat kompleks dan mengandung banyak segi yang
saling bersangkut paut antara yang satu dengan yang lain. SiIat kompleks yang


dimiliki oleh program pendidikan di sekolah menunjukkan sangat perlunya
tindakan-tindakan yang dikoordinasikan.
Winardi berpendapat bahwa koordinasi dibagi dua jenis, yaitu koordinasi
vertical dan koordinasi horizontal. Koordinasi vertical yaitu mengkoordinasikan
aktiviatas-aktivitas para individu dan kelompok-kelompok ke atas dan kebawah
para hirarki otoritas organisasi. Sedangkan koordinasi horizontal proses
mengkoordinasikan aktivitas melintas melalui organisai yang bersangkutan dalm
tindakan individu-individu dan kelompok yang bekerja atau dekat satu sama lain
dalam hirarki yang ada.
Di dalam sebuah organisasi yang kompleks, setiap bagiannya harus
bekerja secara terkoordinir agar masing-masing dapat menghasilkan apa yang
diharapkan. Bahkan, koordinasi jelas bergantung pada pemahaman masing-
masing anggota organisasi sekolah tentang tujuan-tujuan dan rencana-rencana
system sekolah secara keseluruhan, penerimaannya oleh mereka akan kesediaan
mereka untuk menyumbang kepadanya.

Menurut Sondang P.Siagiaan, koordinasi memiliki beberapa Iungsi, yaitu:
1.Pencegahan konIlik dan kontradiksi
2.Pencegahan persaingan yang tidak sehat
3.Pencegahan pemborosan
4.Pencegahan kekosongan ruang dan waktu, dan pencegahan terjdinya
perbedaan pendekatan dari pelaksanaan.

Untuk melakukan koordinasi yang eIektiI diperlukan adanya komunikasi.
Proses komunikasi itu akan menentukan eIektiI tidaknya koordinasi dalam
organisasi pendidikan. Untuk itu, melalui komunikasi yang eIektiI akan tercipta
koordinasi pelaksanaan yang memuaskan. (Menurut engkoswara) Koordinasi
dipandang penting karena memberikan beberapa manIaat bagi organisasi itu
(dalam hal ini pendidikan) antara lain:
1. Dapat menghindari perasaan saling lepas antara bagian dan petugas dan
suatu organisasi.


2. Dapat menghindari saling mengandalkan posisi dan pertengkaran antara
sesama pejabat dari antar bagian dalam organisasi.
3. Dapat menghindari terjadinya kekembaran tugas dan kekosongan
pelaksanaan bagian tertentu dalam organisasi
4. Mendorong pejabat untuk saling membantu dan memberitahukan masalah
yang dihadapi kepada bagian-bagian lain dalam suatu organisasi.

Disamping itu kurangnya koordinasi dapat menimbulkan pengaruh yang
kurang baik seperti:
1. Saling lempar tanggung jawab jika terjadi kekeliruan pada bagian-bagian
organisasi
2. Pencapaian tujuan organisasi tidak lancar karena situasi dalam organisasi
serba kacau balau.

. Sifat-Sifat 44rdinasi
Menurut Hasibuan (2007:87) terdapat 3 (tiga) siIat koordinasi, yaitu:
1. Koordinasi adalah dinamis bukan statis.
2. Koordinasi menekankan pandangan menyeluruh oleh seorang koordinator
(manajer) dalam rangka mencapai sasaran.
3. Koordinasi hanya meninjau suatu pekerjaan secara keseluruhan.

. iri-iri 44rdinasi
Menurut Handayaningrat (1985:89-90) koordinasi mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut:
1. Bahwa tanggung jawab koordinasi adalah terletak pada pimpinan.
Oleh karena itu, koordinasi adalah merupakan tugas pimpinan. Koordinasi
sering dicampur-adukkan dengan kata koperasi yang sebenarnya mempunyai arti
yang berbeda. Sekalipun demikian pimpinan tidak mungkin mengadakan
koordinasi apabila mereka tidak melakukan kerjasama. Oleh kaerna itu, maka
kerjasama merupakan suatu syarat yang sangat penting dalam membantu
pelaksanaan koordinasi.



2. Adanya proses (continues process).
Karena koordinasi adalah pekerjaan pimpinan yang bersiIat
berkesinambungan dan harus dikembangkan sehingga tujuan dapat tercapai
dengan baik.

3. Pengaturan secara teratur usaha kelompok.
Oleh karena koordinasi adalah konsep yang ditetapkan di dalam kelompok,
bukan terhadap usaha individu, maka sejumlah individu yang bekerjasama, di
mana dengan koordinasi menghasilkan suatu usaha kelompok yang sangat
penting untuk mencapai eIisiensi dalam melaksanakan kegiatan organisasi.
Adanya tumpang tindih, kekaburan dalam tugas-tugas pekerjaan merupakan
pertanda kurang sempurnanya koordinasi.

4. Konsep kesatuan tindakan.
Hal ini adalah merupakan inti dari koordinasi. Kesatuan usaha, berarti
bahwa harus mengatur sedemikian rupa usaha-usaha tiap kegiatan individu
sehingga terdapat adanya keserasian di dalam mencapai hasil.

5. Tujuan koordinasi adalah tujuan bersama.
Kesatuan dari usaha meminta suatu pengertian kepada semua individu, agar
ikut serta melaksanakan tujuan sebagai kelompok di mana mereka bekerja.

D. Macam 44rdinasi
Terdapat tiga macam keadaan yang saling bergantungan di antara unit-unit
organisasi, yaitu:
1) Keadaan saling bergantungan yang disatukan,
2) Keadaan saling bergantungan berurutan, dan
3) Keadaan saling bergantungan timbal balik.
Keadaan saling bergantungan yang disatukan adalah apabila individu-
individu atau unit-unit organisasi tidak tergantung satu sama lainnya untuk
melaksanakan tugasnya sehari-hari, tetapi bergantung kepada pelaksanaan
pekerjaan yang memadai dari masing-masing individu atau unit organisasi untuk


kelangsungan hidupnya. Masing-masing bagian memberikan sumbangan
terpisah kepada keseluruhan dan dibantu oleh keseluruhan. Contoh, Kepala
Sekolah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan, dan Dinas Tenaga Kerja
dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya siswa di sekolah. Kepala
Sekolah akan berIungsi dalam keadaan saling bergantung secara penuh kepada
Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Dinas Tenaga Kerja. Meskipun demikian,
pelaksanaan pekerjaan yang baik dari masing-masing dinas diperlukan untuk
kelangsungan hidup semua lembaga tersebut. Contoh gambar seperti berikut;









Gambar 2. eadaan saling bergantungan yang disatukan dan
kepala sek4lah sebagai k44rdinat4rnya

Keterangan:
1 wakil kepala sekolah
2 guru
3 siswa
4 orang tua/BP3
5 Tokoh-tokoh masyarakat
6 alumni
7 unsur proIesi
8 unsur pemerintah
9 unsur pengusaha
? unsur-unsur lain yang terkait
garis koordinasi
2 3 4 3 6 7 8 9 ?
kepala Sekolah


Keadaan saling bergantungan berurutan ialah individu-individu atau suatu
unit sekolah harus bertindak sebelum unit sekolah berikutnya atau lainnya dapat
bertindak. Contohny: penilaian kinerja menanti pelaksanaan kerja selesai,
sedangkan pelaksanaan kerja menanti perencanaan kerja selesai.









Gambar 3. eadaan saling bergantungan dan berurutan

Keadaan saling bergantungan timbal balik adalah individu-individu atau
unit-unit sekolah saling bergantung dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
Contohnya: untuk meningkatkan NEM siswa, SMP melaksanakan PBM dengan
sebaik-baiknya, bersamaan dengan itu Kepala Sekolah melalui bagian
perlengkapan menyediakan sarana dan prasarana KBM-nya untuk memenuhi
kebutuhan guru-guru dan siswa-siswanya, dan Pengurus BP3 memotivasi orang
tua/wali siswa agar mengawasi dan membina anak-anaknya agar rajin belajar.









Gambar 4. eadaan timbal balik
aglan erlengkapan
kepala Sekolah
engurus 3 SM
erencanaan ker[a
kepala Sekolah
enllalan ker[a elaksanaan ker[a



Koordinasi bukanlah bagian yang terpisah dari integrasi, sinkronisasi dan
simplikasi. Oleh karena itu, muncul singkatan KISS (Koordinasi, Integrasi,
Sinkronisasi, dan Simplikasi). Pengoordinasi perlu dilaksanakan sejak dari
proses perumusan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan sampai pada
pengawasan dan pengendaliannya. Seberapa jauh Kepala Sekolah mampu
berkoordinasi secara eIektiI dan eIisien dipengaruhi oleh sejumlah bawahan atau
stakeholders yang melaksanakan koordinasi. Sejumlah orang yang
melaksanakan dan melapor kegiatan masing-masing dikenal dengan sebutan
span of management atau span of control.
Pengalaman menunjukkan bahwa jumlah orang yang berkoordinasi
sebaiknya jangan lebih dari 10 orang untuk setiap kegiatan. Jika lebih dari 10
orang, koordinator biasanya mulai mengalami kesulitan dalam berkoordinasi.
Koordinasi tidak sama dengan kooperasi atau kerja sama (team work).
Koordinasi lebih luas dari kooperasi. Koordinasi selalu mengandung kooperasi,
sedangkan kooperasi tidak selalu bersiIat koordinatiI. Untuk mengeIektiIkan
koordinasi diperlukan adanya kooperasi, baik Iormal maupun nonIormal.
Koordinasi dapat dibedakan atas 1) koordinasi hierarkis (vertikal), yang
dilakukan oleh pejabat pimpinan dalam suatu instansi terhadap pejabat atau
instansi di bawahnya; 2) koordinasi Iungsional, yang dilakukan oleh pejabat atau
suatu instansi terhadap pejabat atau instansi lainnya yang tugasnya saling
berkaitan berdasarkan asas Iungsionalisasi. Koordinasi ini dapat dibedakan atas
koordinasi Iungsional horizontal, diagonal, dan teritorial.
Koordinasi Iungsional horizontal dilakukan oleh seorang atau suatu instansi
terhadap pejabat atau instansi lain yang setingkat. Koordinasi Iungsional
diagonal dilakukan oleh seorang pejabat atau instansi terhadap pejabat atau
instansi lain yang lebih rendah tingkatannya, tetapi bukan bawahannya.
Koordinasi Iungsional teritorial dilakukan oleh seorang pejabat atau instansi
terhadap pejabat atau instansi lainnya yang berada dalam suatu wilayah tertentu
di mana semua urusan yang ada dalam wilayah tersebut menjadi tanggung
jawabnya.



E.Pendekatan 44rdinasi
Terdapat tiga pendekatan untuk mencapai koordinasi yang eIektiI dan
eIisien, yaitu sebagai berikut:
1. Menggunakan Teknik Manajemen yang Asasi
Masalah-masalah koordinasi yang sederhana sering dipecahkan melalui
penggunaan mekanisme manajerial yang asasi untuk mencapai pengoordinasian.
Mekanisme koordinasi diuraikan sebagai berikut :
a) Hierarki Manajerial
Rangkaian komando organisasi menguraikan hubungan-hubungan di
antara individu-individu dan unit-unit yang diawasi. Dengan cara demikian akan
membantu arus inIormasi dan pekerjaan di antara unit-unit.
b)Peraturan dan Prosedur
Peraturan dan prosedur suatu organisasi dibuat untuk menangani
kejadian-kejadian sehari-hari sebelum hal-hal tersebut terjadi.
c) Rencana dan Tujuan
Rencana dan tujuan mencapai koordinasi harus menjamin bahwa semua
individu atau unit-unit mengarahkan dan mengerahkan upaya-upayanya ke arah
sasaran yang luas dan sama.

2. Meningkatkan Kesanggupan Koordinasi
Jika unit lebih banyak dan lebih saling bergantung, maka diperlukan
lebih banyak inIormasi bagi organisasi untuk mencapai tujuannya. Dengan
demikian, kesanggupan berkoordinasi juga harus ditingkatkan. Koordinasi ini
dapat di tingkatkan melalui dua cara, yaitu:

a) Sistem inIormasi vertikal.
Adalah peralatan melalui mana data disalurkan melewati tingkatan-
tingkatan organisasi. Komunikasi dapat terjadi di dalam atau di luar rantai
perintah. Sistem inIormasi manajemen telah dikembangkan dalam kegiatan-
kegiatan seperti pemasaran, keuangan, produksi, dan operasi-operasi
internasional untuk meningkatkan inIormasi yang tersedia bagi perencanaan,
koordinasi, dan pengawasan.



b)Hubungan-hubungan lateral (harizontal).
Melalui pemotongan rantai perintah, hubungan-hubungan lateral
membiarkan inIormasi dipertukarkan dan keputusan dibuat pada tingkat hirarki
dimana inIormasi yang dibutuhkan ada. Beberapa hubungan lateral, yaitu:
a.Kontak langsung antara individu-individu yang dapat meningkatakan
eIektivitas dan eIisiensi kerja.
b.Peranan penghubung, yang menangani komunikasi antar departemen sahingga
mengurangi panjangnya saluran komunikasi.
c.Panitia dan satuan tugas. Panitia biasanya diorganisasi secara Iormal dengan
pertemuan yang dijadwalkan teratur. Satuan tugas dibentuk bila dibutuhkan
untuk masalah-masalah khusus.
d.Pengintegrasian peranan-peranan, yang dilakukan oleh misal manajer produk
atau proyek, perlu diciptakan bila suatu produk, jasa atau proyek khusus
memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi dan perhatian yang terus menerus
dari seseorang.
e.Peranan penghubung manajerial, yang mempunyai kekuasaan menyetujui
perumusan anggaran oleh satuan-satuan yang diintegrasikan dan
implementasinya. Ini diperlukan bila posisi pengintegrasian yang dijelaskan
pada d di atas tidak secara eIektiI mengoordinasikan tugas tertentu.

Organisasi matriks, suatu mekanisme yang sangat baik bagi penanganan
dan penyelesaian proyek-proyek yang kompleks.

3. Mengurangi Kebutuhan Berkoordinasi
a. menciptakan sumber-sumber tambahan, yaitu memberikan Iasilitas kepada
individu-individu atau unit-unit dalam memenuhi kebutuhannya, contoh
kepala sekolah menambah OHP bagi kebutuhan mengajar guru.
b. Menciptakan unit-unit bebas, memberikan kebebasan kepada individu atau
unit-unit untuk bekreasi sehingga tidak perlu lagi berkoordinasi, contoh


c. kepala sekolah dibebaskan dalam mengajukan proposal sekolah sesuai
dengan kebutuhan dan kemampuan sekolah masing-masing sehingga tidak
perlu lagi berkoordinasi dengan stakeholders-nya








Gambar 5. Tiga pendekatan k44rdinasi yang efektif dan efesien (St4ner
& Freeman, 1992)


F. 44rdinasi Sumber Daya Pendidikan Dalam Mencapai Tujuan
Pendidikan
Koordinasi Proses Belajar mengajar:
(1)Kepala sekolah, pengawas sekolah, dan wakil kepala sekolah urusan
kurikulum bersama-sama membuat program kegiatan supervisi Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) lengkap dengan administrasi yang rinci. Pembagian
tugas harus belajar.
(2)Usahakan adanya koordinasi dengan kepala sekolah misalnya kebenaran dan
ketelitian dalam penerimaan dan kelulusan siswa.
(3)Kepala sekolah setiap bulan mengadakan pertemuan misalnya pertemuan staI,
kepal sekolah, BP3 dan pengawas untuk membahas upaya-upaya peningkatan
kualitas pendidikan.

Koordinasi Kesiswaan:
(1)Untuk memperlancar kegiatan Penerima Siswa Baru (PSB), maka perlu
dibentuk panitia PSB.
MenlngkaLkan kesanggupan
unLuk pengoordlnaslan
SlsLem verLlkal
SlsLem horlzonLal
Mengurangl kebuLuhan
pengoordlnaslan
Sumber Lambahan
unlLunlL bebas
Plerarkl Mana[erlal
eraLuran dan prosedur
8encana dan 1u[uan
1ekn|ktekn|k Mana[emen yang Asas|


(2)Kepala sekolah selalu mengadakan koordinasi dengan Kepala Dinas
Pendidikan terhadap rencana pungutan sekolah yang akan dilakukannya
sehingga pemecahan masalah sekolah dapat diselesaikan secara dini sebelum
masalah menjadi berlarut-larut dan dapat mempengaruhi sekolah-sekolah
lainnya.
(3)Pertemuan kepala sekolah dengan guru, BP3, dan pengawas dilakukan secara
berkala guna membahas permasalahan kesiswaan.
Koordinasi Ketenagaan:
Dalam rangka kegiatan administrasi ketenagaan seperti kebutuhan
tenaga, kekurangan tenaga, kenaikan pangkat maka kepala sekolah
menugaskan kepal seksi kepegawaian di sekolah untuk menyelesaikan tugas
tersebut.
Koordinasi Keuangan:
Pembuatan DaItar Usulan Kegiatan (DUK), DaItar Isian Proyek (DIP),
dan membuat proposal block grant memerlukan koordinasi dengan seluruh
staI sekolah yang terkait.
Koordinasi Sarana dan Prasarana
(1)Kepala sekolah selalu berkoordinasi dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang
Sarana dan Prasarana untuk pengadaan, penyimpanan, dan pendistribusian
sarana dan prasarana sekolah untuk kegiatan kurikuler maupun
ekstrakurikuler
(2)Wakil Kepala Sekolah Bidang sarana dan prasarana berkoordinasi dengan
Kepala Bagian Perlengkapan Dinas Pendidikan dalam memenuhi kebutuhan
sarana dan prasarana sekolah.
(3)Untuk memperlancar proses pengadaan semua kebutuhan sarana dan
prasarana sekolah maka kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang saran
adan prasarana serta kepala bagian perlengkapan, kepala seksi keuangan
sekolah, dan kepala bagian keuangan bagian keuangan dinas mengadakan
koordinasi.




G. 44rdinasi Sekt4r Pendidikan dengan Pengembangan Sekt4r-Sekt4r
Lain.
Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap kebijakan pembangunan sektor
pendidikan di tingkat sekolah. Pembangunan sektor pendidikan sangat erat
kaitannya dengan kesehatan siswa. Oleh karena itu, kepala sekolah harus
berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan misalnya dalam menangani
makanan tambahan bagi siswa, vaksinasi, dan pencegahan penyakit.
Pembangunan sektor pendidikan sangat erat kaitannya dengan peningkatan
keterampilan lulusannya. Oleh karena itu, kepala sekolah harus berkoordinasi
dengan Kepala Dinas Tenaga Kerja, Balai Latihan Tenaga Kerja, dan Badan
Diklat Daerah. Pembangunan sektor pendidikan juga erat kaitannya dengan
masyarakat terutama dengan Paket Kejar A, B, dan C. Oleh karena itu, kepala
sekolah harus berkoordinasi dengan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat.
Pembangunan sektor pendidikan sangat erat kaitannya dengan Dinas
Pekerjaan Umum terutama yang berkenaan dengan Iasilitas bangunan sekolah
dan Surat Ijin Mendirikan Bangunan. Oleh karena itu, kepala sekolah harus
berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pekerjaan Umum. Pembangunan sektor
pendidikan sangat erat kaitannya dengan perkoperasian sekolah. Oleh karena itu,
kepala sekolah harus berkoordinasi dengan Kepala Dinas Koperasi.
Pembangunan sektor pendidikan sangat erat kaitannya dengan lingkungan hidup.
Oleh karena itu, kepala sekolah harus berkoordinasi dengan Kepala Dinas
Lingkungan Hidup. Pembangunan sektor pendidikan sangat erat kaitannya
dengan kepolisian terutama dalam mengatasi kenakalan remaja. Oleh karena itu,
kepala sekolah harus berkoordinasi dengan Kepala Kepolisian setempat.
Pembangunan sektor pendidikan sangat erat kaitannya dengan iman dan takwa.
Oleh karena itu, kepala sekolah harus berkoordinasi dengan departemen Agama,
dan sebagainya.







H. Masalah-Masalah dalam 44rdinasi
Peningkatan spesialisasi akan menaikkan kebutuhan akan koordinasi.
Tetapi semakin besar derajat spesialisasi, semakin sulit bagi manajer untuk
mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan khusus dari satuan-satuan yang berbeda.
Paul R. Lawrence dan Jay W. Lorch (Handoko, 2003:197) mengungkapkan 4
(empat) tipe perbedaan dalam sikap dan cara kerja yang mempersulit tugas
pengkoordinasian, yaitu:
1. Perbedaan dalam orientasi terhadap tujuan tertentu.
Para anggota dari departemen yang berbeda mengembangkan pandangan
mereka sendiri tentang bagaimana cara mencapai kepentingan organisasi yang
baik. Misalnya bagian penjualan menganggap bahwa diversiIikasi produk
harus lebih diutamakan daripada kualtias produk. Bagian akuntansi melihat
pengendalian biaya sebagai Iaktor paling penting sukses organisasi.
2. Perbedaan dalam orientasi waktu.
Manajer produksi akan lebih memperhatikan masalah-masalah yang
harus dipecahkan segera atau dalam periode waktu pendek. Biasanya bagian
penelitian dan pengembangan lebih terlibat dengan masalah-masalah jangka
panjang.
3. Perbedaan dalam orientasi antar-pribadi.
Kegiatan produksi memerlukan komunikasi dan pembuatan keputusan
yang cepat agar prosesnya lancar, sedang bagian penelitian dan pengembangan
mungkin dapat lebih santai dan setiap orang dapat mengemukakan pendapat
serta berdiskusi satu dengan yang lain.
4. Perbedaan dalam Iormalitas struktur.
Setiap tipe satuan dalam organisasi mungkin mempunyai metode-metode
dan standar yang berbeda untuk mengevaluasi program terhadap tujuan dan
untuk balas jasa bagi karyawan.







I. 44rdinasi Permasalahan etatalaksanaan
Permasalahan ketatalaksanaan yang perlu dikoordinasikan antara lain
adalah permasalahan pembagian pekerjaan. Adanya pembagian pekerjaan dalam
setiap organisasi tidak hanya menimbulkan perbedaan dalam melaksanakan
tugas pekerjaan, tetapi juga mempengaruhi individu dalam memandang
organisasi sekolah, memandang peranan dan tugas-tugasnya, dan memandang
bagaimana hubungan tugas yang satu dengan lainnya. Perbedaan-perbedaan ini
disebut diIerensiasi.
Ada empat macam diIerensiasi yang menjadi masalah dalam
pengoordinasian, yaitu;1) perbedaan dalam orientasi terhadap tujuan, 2)
perbedaan dalam orientasi waktu, 3) perbedaan dalam orientasi interpersonal, 4)
perbedaan dalam Iormalitas struktur
Penyebab Masalah Pengoordinasian:
1. Situasi Organisasi
Situasi organisasi yang menyebabkan timbulnya masalah:
(a) Apabila subsistem-subsistem organisasi menyilang batas-batas bagian.
(b)Apabila kegiatan-kegiatan yang saling bergantungan mempunyai jadwal waktu
yang berlainan.
(c) Apabila jarak geograIis diantara bagian-bagian sangat jauh.

2. Faktor Manusia
(a) Persaingan Sumber Daya
(b)Perbedaan dalam Status dan Arus Pekerjaan
(c) Tujuan-tujuan yang Bertentangan
(d)Pandangan,Sikap dan Nilai yang Berbeda









PENUTUP
esimpulan:
1. Koordinasi adalah aktivitas membawa orang-orang, material, pikiran-
pkiran, teknik-teknik dan tujuan-tujuan kedalam hubungan yang
harmonis dan produktiI dalam mencapai suatu tujuan.
2. Dalam koordinasi pendidikan harus d iperhatikan beerapa Iaktor seperti:
Koordinasi Proses Belajar mengajar.
Koordinasi Kesiswaan.
Koordinasi Keuangan.
Koordinasi Sarana dan Prasarana.
Koordinasi Ketenagaan.






















DAFTAR RU1UAN

Burhanuddin ,Yusak. 1998. Administrasi Pendidikan. Bandung: Pustaka
Setia.
Purwanto , M Ngalim. 1987. Administrasi dan Supervisi Pendidikan.
Bandung: PT. Remadja Karya CV.
Sutisna ,Oteng. 1989. Administrasi Pendidikan. Bandung :Angkasa.
SyaIaruddin, dkk. 2005. Administrasi Pendidikan. Medan :IAIN Press.
Engkoswara. 1987. Dasar-Dasar Administrasi Pendidikan. Bandung.
Sukiswa, Iwa. 1986. Dasar-Dasar Umum Menejemen Pendidikan. :
Bandung : TARSITO.
Koordinasi dasar-dasar manajemen pendidikan, (Online),
(http://rachmanIisika.blogspot.com/2011/05/tulisan-pertama.html , diakses 13
Oktober 2011).
Koordinasi dan manajemen , (Online), (http://warung-
wacana.blogspot.com/2009/06/koordinasi-dan-manajemen.html, diakses 14
Oktober 2011).
DeIinisi Koordinasi , (Online),
(http://kamusbahasaindonesia.org/koordinasi, diakses 14 Oktober 2011).