Anda di halaman 1dari 63

Mata Kuliah Materi Praktikum Tempat Tanggal/Waktu Pembimbing

: Transfusi Darah : Pemisahan Serum dari sel darah merah dan pencucian sel darah merah : Laboratorium Poltekkes Denpasar : 16 Februari 2011 / 14.30 WITA : I Gede Putu Sudana Ni Made Darmasih Gusti Ayu ngurah Wardhani

I.

Judul : - Pemisahan Serum dari Sel Darah Merah - Pencucian Sel Darah Merah Pekat - Pembuatan Suspensi sel darah merah Tujuan: Untuk mendapatkan serum/plasma dari sel darah Untuk mendapatkan sel darah merah pekat yang bebas protein Untuk membuat kepekatan sel darah menjadi enceran tertentu guna mengoptimalkan reaksi antigen pada sel darah merah terhadap antibodi

II.

III.

Metode : Pada praktikum ini,untuk mendapatkan serum/plasma menggunakan metode sentrifugasi/pemutaran, dan untuk mendapatkan sel darah merah pekat menggunakan metode pencucian dengan larutan salin

IV.

Prinsip : Darah diputar dengan kecepatan 3000 rpm selama 3 menit untuk mendapatkan plasma/serum. Sel darah merah pekat,dicuci dengan larutan salin hingga mendapatkan sel darah merah pekat yang bebas protein untuk kemudian diencerkan menjadi beberapa suspensi.

V.

Dasar teori : Preparasi sampel adalah proses penyiapan sampel sebelum dilakukan analisis yang bertujuan untuk memisahkan atau menyingkirkan pengotor atau zat yang tidak diinginkan (selain analit) sehingga didapat hasil yang valid.
1

Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel darah. Sel darah terdiri dari tiga jenis yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit. Volume darah secara keseluruhan adalah satu per dua belas berat badan atau kira-kira lima liter. Sekitar 55% adalah plasma darah, sedang 45% sisanya terdiri dari sel darah Darah kita mengandung beberapa jenis sel yang terangkut di dalam cairan kuning yang disebut plasma darah. Plasma darah tersusun atas 90% air yang mengandung sari makanan, protein, hormon, dan endapan kotoran selain sel-sel darah. ( Evelyn C. Pearce, 2006) Ada tiga jenis sel darah, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Sel Darah Merah Sel darah merah berbentuk piringan pipih yang menyerupai donat. 45% darah tersusun atas sel darah merah yang dihasilkan di sumsum tulang. Dalam setiap 1 cm kubik darah terdapat 5,5 juta sel. Jumlah sel darah merah yang diproduksi setiap hari mencapai 200.000 biliun, rata-rata umurnya hanya 120 hari. Semakin tua semakin rapuh, kehilangan bentuk, dan ukurannya menyusut menjadi sepertiga ukuran mula-mula. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang kaya akan zat besi. Warnanya yang merah cerah disebabkan oleh oksigen yang diserap dari paru-paru. Pada saat darah mengalir ke seluruh tubuh, hemoglobin melepaskan oksigen ke sel dan mengikat karbon dioksida. Sel darah merah yang tua akhirnya akan pecah menjadi partikel-partikel kecil di dalam hati dan limpa. Sebagian besar sel yang tua dihancurkan oleh limpa dan yang lolos dihancurkan oleh hati. Hati menyimpan kandungan zat besi dari hemoglobin yang kemudian diangkut oleh darah ke sumsum tulang untuk membentuk sel darah merah yang baru. Persediaan sel darah merah di dalam tubuh diperbarui setiap empat bulan sekali. Whole Blood Whole blood adalah darah tanpa perlakuan. Istilah ini digunakan dalam transfusi obat.. Darah biasanya dikombinasikan dengan antikoagulan selama proses pengumpulan, tetapi pada umumnya dinyatakan belum diolah. Di AS, mengkapitalisasi "Darah Keseluruhan" berarti produk standar tertentu untuk transfusi atau diproses lebih lanjut, dimana "seluruh darah" adalah setiap darah yang dikumpulkan tidak dimodifikasi. Seluruh darah biasanya disimpan di bawah kondisi yang sama Darah Merah Sel dan dapat disimpan sampai 35 hari jika dikumpulkan dengan CPDA-1 solusi penyimpanan
2

atau 21 hari dengan lain solusi penyimpanan umum seperti CPD. Jika darah tersebut akan digunakan untuk membuat trombosit, itu disimpan pada suhu kamar sampai proses selesai. Hal ini harus dilakukan dengan cepat untuk meminimalkan penyimpanan sel darah merah hangat di unit. Plasma Darah Plasma darah adalah komponen darah berbentuk cairan berwarna kuning yang menjadi medium sel-sel darah, dimana sel darah ditutup. 55% dari jumlah/volume darah merupakan plasma darah. Volume plasma darah terdiri dari 90% berupa air dan 10% berupa larutan protein, glukosa, faktor koagulasi, ion mineral, hormon dan karbon dioksida. Plasma darah juga merupakan medium pada proses ekskresi. Plasma darah dapat dipisahkan di dalam sebuah tuba berisi darah segar yang telah dibubuhi zat anti-koagulan yang kemudian diputar sentrifugal sampai sel darah merah jatuh ke dasar tuba, sel darah putih akan berada di atasnya dan membentuk lapisan buffy coat, plasma darah berada di atas lapisan tersebut dengan kepadatan sekitar 1025 kg/m3 atau 1.025 kg/l. Serum darah adalah plasma tanpa fibrinogen, sel dan faktor koagulasi lainnya. Fibrinogen menempati 4% alokasi protein dalam plasma dan merupakan faktor penting dalam proses pembekuan darah. Plasmapheresis adalah jenis terapi medis yang menyuling plasma darah keluar dari kumpulan partikelnya untuk diolah lebih lanjut dan memasukkan kembali plasma darah tersebut pada akhir terapi. Serum Di dalam darah, serum (bahasa Inggris: blood serum) adalah komponen yang bukan berupa sel darah, juga bukan faktor koagulasi; serum adalah plasma darah tanpa fibrinogen, (bahasa Latin: serum) berarti bagian tetap cair dari susu yang membeku pada proses pembuatan keju. Serum terdiri dari semua protein (yang tidak digunakan untuk pembekuan darah) termasuk cairan elektrolit, antibodi, antigen, hormon, dan semua substansi exogenous. Rumusan umum yaitu: serum = plasma - fibrinogen - protein faktor koagulasi. Studi yang mempelajari serum disebut serologi. Serum digunakan dalam berbagai uji diagnostik termasuk untuk menentukan golongan darah.

VI.

Alat-alat dan bahan: Alat : Serological centrifuge Pipet pasteur Tabung reaksi ukuran 12 x 75 mm Rak tabung untuk tabung ukuran 12 x 75 mm

Bahan : Darah segar

VII.

Prosedur Kerja : Pemisahan Plasma/Serum dari sel darah : Dimasukkan darah kedalam tabung yang telah diberi tanda sesuai dengan sampel diputar/disentrifugasi dengan kecepatan 3000rpm selama 3 menit Pisahkan serum/plasma yang jernih dari sel darah merah dgn pipet pasteur kedalam tabung lain yg sudah diberi tanda sesuai dengan sampel Pencucian Sel Darah Merah pekat : Disiapkan tabung reaksi yang telah berisi sel darah merah pekat (sel darah merah hasil sentrifugasi yang telah dipisahkan plasma/serumnya) Ditambahkan NaCl 0,9% (saline) sebanyak 4ml 4,5 ml (Sampai tabung) Dikocok-kocok dengan pipet pasteur hingga tercampur rata Diputar tabung dengan kecepatan 3000 rpm selama 1,5 2 menit Dengan menggunakan pipet pasteur buang supernatan, hingga sel darah merah menjadi pekat (100%) Pencucian dilakukan sebanyak 3 kali

Pembuatan Suspensi sel darah merah : Suspensi Disiapkan sel darah merah pekat yang telah dicuci Dibuat suspensi sel darah merah seperti pada tabel berikut Persentase Perbandingan sdm pekat 100% 5% 10% 40% 50% 5 : 100 10 : 100 40 : 100 50 : 100 5 tetes 10 tetes 40 tetes 50 tetes 95 tetes 90 tetes 60 tetes 50 tetes 1 sdm : 19 saline 1 sdm : 9 saline 2 sdm : 3 saline 1 sdm : 1 saline NaCl 0,9 % Keterangan Diperkecil

VIII.

Hasil pengamatan : Pemisahan plasma menghasilkan plasma jernih dan sel darah merah pekat Pencucian sel darah merah pekat didapaktkan sel darah merah pekat berwarna merah yang telah bebas protein untuk kemudian diencerkan menjadi beberapa suspensi

IX.

Pembahasan : Plasma darah adalah komponen darah berbentuk cairan berwarna kuning yang menjadi medium sel-sel darah, dimana sel darah ditutup. 55% dari jumlah/volume darah merupakan plasma darah. Volume plasma darah terdiri dari 90% berupa air dan 10% berupa larutan protein, glukosa, faktor koagulasi, ion mineral, hormon dan karbon dioksida. Serum darah adalah plasma tanpa fibrinogen, sel dan faktor koagulasi lainnya. Fibrinogen menempati 4% alokasi protein dalam plasma dan merupakan faktor penting dalam proses pembekuan darah. Pencucian sel darah merah pekat,gunanya untuk melarutkan protein yang masih terkandung di dalam sel darah merah. Dengan mencucinya menggunakan larutan NaCl 0,9% diharapkan protein yang masih terkandung dapat larut bersama larutan NaCl 0,9 %

dan dapat dengan mudah dibuang sehingga didapatkan sel darah merah pekat yang bebaas dari protein/globulin. Pembuatan suspensi sel darah bertujuan untuk membuat kepekatan sel darah menjadi enceran tertentu guna mengoptimalkan reaksi antigen pada sel darah merah terhadap antibodi. Suspensi suspensi sel darah merah biasanya digunakan untuk uji penentuan golongan darah.

X.

Kesimpulan : Dari hasil pemutaran untuk memisahkan plasma dari sel darah merah didapatkan plasma yang jernih (bebas dari sel darah merah) dan Sel darah merah pekat Sel darah merah pekat setelah pencucian merupakan sel darah merah pekat yang bebas protein/globulin

XI.

Daftar pustaka : http://id.wikipedia.org/wiki/Serum_darah http://id.wikipedia.org/wiki/Plasma_darah Pearce C,Evelyn. 1999. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia Slide materi kuliah PRAKTIKUM BANK DARAH oleh dr.kadek mulyantari, Sp.PK

Mata Kuliah Materi Praktikum Tempat Tanggal/Waktu Pembimbing

: Transfusi Darah : Pemeriksaan Golongan Darah Sistem ABO Dan RHESUS (I) : Laboratorium Poltekkes Denpasar : 23 Februari 2011 / 14.30 WITA : I Gede Putu Sudana Ni Made Darmasih Gusti Ayu ngurah Wardhani

I.

Judul : Pemeriksaan Golongan Darah Sistem ABO Dan RHESUS (I) Tujuan: Untuk Mengetahui Golongan Darah seseorang

II.

III.

Metode : Pada praktikum ini,untuk memeriksa golongan darah menggunakan metode slide atau bloodgrouping plate.

IV.

Prinsip : Prinsip pemeriksaan golongan darah adalah reaksi antara antigen dengan antibode. Reaksi Antigen dengan Antibodi yang sesuai akan menghasilkan aglutinasi. Misalnya Antigen A + Antibodi A akan menghasilkan aglutinasi atau Aglutinasi (+). Antigen A + Antibodi B tidak akan menghasilkan aglutinasi atau Aglutinasi (-)

V.

Dasar teori : Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dengan kata lain, golongan darah ditentukan oleh jumlah zat (kemudian disebut antigen) yang terkandung di dalam sel darah merah. Ada dua jenis penggolongan darah yang paling penting, yaitu penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Selain sistem ABO dan Rh, masih ada lagi macam penggolongan darah lain yang ditentukan berdasarkan antigen yang terkandung dalam sel darah merah. Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai.
7

Salah satunya Diego positif yang ditemukan hanya pada orang Asia Selatan dan pribumi Amerika. Dari sistem MNS didapat golongan darah M, N dan MN yang berguna untuk tes kesuburan. Duffy negatif yang ditemukan di populasi Afrika. Sistem Lutherans mendeskripsikan satu set 21 antigen. Dan sistem lainnya meliputi Colton, Kell, Kidd, Lewis, Landsteiner-Wiener, P, Yt atau Cartwright, XG, Scianna, Dombrock, Chido/ Rodgers, Kx, Gerbich, Cromer, Knops, Indian, Ok, Raph dan JMH. Golongan Darah Sistem ABO Karl Landsteiner, seorang ilmuwan asal Austria yang menemukan 3 dari 4 golongan darah dalam sistem ABO pada tahun 1900 dengan cara memeriksa golongan darah beberapa teman sekerjanya. Percobaan sederhana ini pun dilakukan dengan mereaksikan sel darah merah dengan serum dari para donor. Hasilnya adalah dua macam reaksi (menjadi dasar antigen A dan B, dikenal dengan golongan darah A dan B) dan satu macam tanpa reaksi (tidak memiliki antigen, dikenal dengan golongan darah O). Kesimpulannya ada dua macam antigen A dan B di sel darah merah yang disebut golongan A dan B, atau sama sekali tidak ada reaksi yang disebut golongan O. Kemudian Alfred Von Decastello dan Adriano Sturli yang masih kolega dari Landsteiner menemukan golongan darah AB pada tahun 1901. Pada golongan darah AB, kedua antigen A dan B ditemukan secara bersamaan pada sel darah merah sedangkan pada serum tidak ditemukan antibodi. Penyebaran golongan darah A, B, O dan AB bervariasi di dunia tergantung populasi atau ras. Dalam sistem ABO, golongan darah dibagi menjadi 4 golongan: Golongan Sel Darah Merah A B AB O Antigen A Antigen B Plasma Antibodi B Antibodi A

Antigen A dan Antigen B ( - ) (-) Antibodi A dan Antibodi B

Rhesus Faktor Rh atau Rhesus (juga biasa disebut Rhesus Faktor) pertama sekali ditemukan pada tahun 1940 oleh Landsteiner dan Weiner. Dinamakan rhesus karena dalam riset digunakan darah kera rhesus (Macaca mulatta), salah satu spesies kera yang paling banyak dijumpai di India dan Cina. Pada sistem ABO, yang menentukan golongan darah adalah antigen A dan B, sedangkan pada Rh faktor, golongan darah ditentukan adalah antigen Rh (dikenal juga sebagai antigen D). Jika hasil tes darah di laboratorium seseorang dinyatakan tidak memiliki antigen Rh, maka ia memiliki darah dengan Rh negatif (Rh-), sebaliknya bila ditemukan antigen Rh pada pemeriksaan, maka ia memiliki darah dengan Rh positif (Rh+). Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan dengan penggolongan ABO. Golongan darah O+ adalah yang paling umum dijumpai, meskipun pada daerah tertentu golongan A lebih dominan, dan ada pula beberapa daerah dengan 80% populasi dengan golongan darah B. Kecocokan faktor Rhesus amat penting karena ketidakcocokan golongan. Misalnya donor dengan Rh+ sedangkan resipiennya Rh (-) dapat menyebabkan produksi antibodi terhadap antigen Rh(D) yang mengakibatkan hemolisis. Hal ini terutama terjadi pada perempuan yang pada atau di bawah usia melahirkan karena faktor Rh dapat mempengaruhi janin pada saat kehamilan. Transfusi Darah Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar disebabkan trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah. Singkatnya berdasarkan panduan dari apa yang telah dilakukan oleh Landsteiner, pada 1907 sejarah mencatat kesuksesan transfusi darah pertama yang dilakukan oleh Dr. Reuben Ottenberg di Mt. Sinai Hospital, New York. Berkat keahlian Landsteiner pula banyak nyawa dapat diselamatkan dari kematian saat terjadi Perang Dunia I, dimana transfusi darah dalam skala lebih besar mulai dilakukan. Kemudian, Karl Landsteiner memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang
9

Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara penggolongan darah ABO. Dalam transfusi darah, kecocokan antara darah donor (penyumbang) dan resipien (penerima) adalah sangat penting. Darah donor dan resipien harus sesuai golongannya berdasarkan sistem ABO dan Rhesus faktor. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Hemolisis adalah penguraian sel darah merah dimana hemoglobin akan terpisah dari eritrosit. Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditransfusi dengan darah rhesus positif. Jika dua jenis golongan darah ini saling bertemu, dipastikan akan terjadi perang. Sistem pertahanan tubuh resipien (penerima donor) akan menganggap rhesus dari donor itu sebagai benda asing yang perlu dilawan. Di dunia, pemilik darah rhesus negatif termasuk minoritas. Tabel kecocokan golongan darah Gol Darah Resipien Donor harus AB+ ABA+ AB+ BO+ OGolongan darah mana pun OOOOOOOAO+ A+ O+ BO+ BB+ BAABA+

VI.

Alat-alat dan bahan: Alat : Rak tabung Tabung reaksi Pipet Pasteur Ember kecil
10

Bloodgrouping plate

Bahan : Air NaCl 0,9% (Saline) Tes serum anti A, anti B monoklonal Suspensi tes sel golongan A,B dan O Suspensi sel darahnya sendiri Anti D dan BA

VII.

Prosedur Kerja :

A. Pembuatan Suspensi sel 1. Untuk membuat kepekatan sel darah menjadi eceran tertentu guna mengoptimalkan reaksi antara antigen pada sel darah merah terhadap antibodi : PERBANDINGAN SUSPENSI PERSENTASE SDM 100% 5% 10% 40% 50% 5 : 100 10 : 100 40 : 100 50 : 100 Catatan : Yang dibuat pada praktikum ini adalah suspensi 10% yang digunakan untuk 5 tetes 10 tetes 40 tetes 50 tetes 95 tetes 90 tetes 60 tetes 50 tetes PEKAT NaCl 0,9% KETERANGAN DIPERKECIL 1 SDM : 19 Saline 1 SDM : 9 Saline 2 SDM : 3 Saline 1 SDM : 1 Saline

pemeriksaan golongan darah ABO dan suspenie 40% digunakan untuk pemeriksaan golongan darah rhesus.

11

B. Pemeriksaan Golongan Darah Dengan Bloodgrouping Plate 1. Cell Grouping / Typing a) Darah diteteskan pada bloodgrouping plate masing-masing satu tetes pada 2 tempat b) Pada tetes darah pertama ditambahkan 2 tetes anti A, pada tetes darah kedua ditambahkan 2 tetes anti B. c) Digoyangkan bloodgrouping plate dengan digerakkan ke atas dan kebawah hingga tercampur dengan baik. d) Dibaca ada tidaknya aglutinasi. 2. Serum Grouping / Typing a) Serum / plasma diteteskan pada bloodgrouping plate masing-masing dua tetes pada 4 tempat. b) Pada tetes serum pertama ditambahkan 1 tetes sel A 10%, pada tetes serum kedua ditambahkan 1 tetes sel B 10%, pada tetes serum ketiga ditambahkan 1 tetes sel O 10% dan pada tetes serum keempat ditambahkan 1 tetes sel contoh darah yang diperiksa. c) Digoyangkan bloodgrouping plate dengan digerakkan ke atas dan kebawah hingga tercampur dengan baik. d) Dibaca ada tidaknya aglutinasi. 3. Pemeriksaan Rhesus a) Darah diteteskan pada bloodgrouping plate masing-masing satu tetes pada 2 tempat b) Pada tetes darah pertama ditambahkan 2 tetes anti D, pada tetes darah kedua ditambahkan 2 tetes BA. c) Digoyangkan bloodgrouping plate dengan digerakkan ke atas dan kebawah hingga tercampur dengan baik. d) Dibaca ada tidaknya aglutinasi.

VIII.

Hasil pengamatan : Hasil (+) = menggumpal atau terjadi reaksi aglutinasi Hasil (-) = Tidak menggumpal atau tidak terjadi reaksi aglutinasi
12

Sampel X3 Anti A Anti B Sel A + Sel B + Sel O Ser/Plas Anti D + BA -

Jadi diketahui bahwa pasien tersebut memiliki golongan darah O dengan rhesus positif Sampel X4 Anti A + Anti B + Sel A Sel B Sel O Ser/Plas Anti D + BA -

Jadi diketahui bahwa pasien tersebut memiliki golongan darah AB dengan rhesus positif.

IX.

Pembahasan : Transfusi darah pada hakekatnya adalah suatu proses pemindahan darah dari seorang donor ke resipien. Untuk memastikan bahwa transfusi darah tidak akan menimbulkan reaksi pada resipien maka sebelum pemberian transfusi darah dari donor kepada resipien, perlu dilakukan pemeriksaan golongan darah baik menurut sistem ABO maupun rhesus. Hal ini peru dilakukan untuk mencegah terjadinya aglutinasi. Aglutinasi darah adalah proses penggumpalan darah yang masif dari sel-sel darah merah. Aglutinasi ini berkaitan denagn keberadaan suatu antigen pada sel-sel darah merah dan suatu antibodi di dalam serum. Berdasarkan data hasil praktikum maka diketahui bahwa sampel darah untuk kode X3 memiliki golongan darah O dengan rhesus positif. Hal ini ditandai dengan terjadinya aglutinasi pada sel A dan sel B serta pada anti D. Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan golongan darah O dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut sebagai donor universal. Namun, orang dengan golongan darah O hanya dapat menerima darah dari sesama O. Sedangkan, untuk sampel X4 diketahui bahwa pasien tersebut memiliki golongan darah AB dengan rhesus positif. Hal ini ditandai dengan terjadinya aglutinasi pada anti A dan anti B serta anti D. Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut sebagai resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah AB
13

tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB. Karena itulah pemeriksaan golongan darah donor dan resipien sangat penting untuk dilakukan demi mencegah terjadinya resiko saat proses transfusi darah.

X.

Kesimpulan : Dari hasil praktikum,dapat disimpulkan sampel darah X3 yang diuji memiliki golongan darah O rhesus positif (+) sampel darah X4 yang diuji memiliki golongan darah AB rhesus positif (+)

XI.

Daftar pustaka : http://id.wikipedia.org/wiki/Golongan_darah. http://www.wikimu.com/News/Home.aspx. Slide materi kuliah GOLONGAN DARAH ABO oleh dr.kadek mulyantari, Sp.PK. Slide materi kuliah GOLONGAN DARAH RHESUS oleh dr.kadek mulyantari, Sp.PK. Slide materi kuliah PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH ABO oleh dr.kadek mulyantari, Sp.PK.

14

Mata Kuliah Materi Praktikum Tempat Tanggal/Waktu Pembimbing

: Transfusi Darah : Pemeriksaan Golongan Darah II : Laboratorium Poltekkes Denpasar : 9 Maret 2011 / 14.30 WITA : I Gede Putu Sudana Ni Made Darmasih Gusti Ayu ngurah Wardhani

II.

Judul : Pemeriksaan Golongan Darah Dengan Metode tabung Tujuan: Untuk Mengetahui Golongan Darah seseorang

XII.

XIII.

Metode : Pada praktikum ini,untuk memeriksa golongan darah menggunakan metode tabung

XIV.

Prinsip : Prinsip pemeriksaan golongan darah adalah reaksi antara antigen dengan antibode. Reaksi Antigen dengan Antibodi yang sesuai akan menghasilkan aglutinasi. Misalnya Antigen A + Antibodi A akan menghasilkan aglutinasi atau Aglutinasi (+). Antigen A + Antibodi B tidak akan menghasilkan aglutinasi atau Aglutinasi (-)

XV.

Dasar teori : Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dengan kata lain, golongan darah ditentukan oleh jumlah zat (kemudian disebut antigen) yang terkandung di dalam sel darah merah. Ada dua jenis penggolongan darah yang paling penting, yaitu penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Selain sistem ABO dan Rh, masih ada lagi macam penggolongan darah lain yang ditentukan berdasarkan antigen yang terkandung dalam sel darah merah. Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai.

15

Salah satunya Diego positif yang ditemukan hanya pada orang Asia Selatan dan pribumi Amerika. Dari sistem MNS didapat golongan darah M, N dan MN yang berguna untuk tes kesuburan. Duffy negatif yang ditemukan di populasi Afrika. Sistem Lutherans mendeskripsikan satu set 21 antigen. Dan sistem lainnya meliputi Colton, Kell, Kidd, Lewis, Landsteiner-Wiener, P, Yt atau Cartwright, XG, Scianna, Dombrock, Chido/ Rodgers, Kx, Gerbich, Cromer, Knops, Indian, Ok, Raph dan JMH. Golongan Darah Sistem ABO Karl Landsteiner, seorang ilmuwan asal Austria yang menemukan 3 dari 4 golongan darah dalam sistem ABO pada tahun 1900 dengan cara memeriksa golongan darah beberapa teman sekerjanya. Percobaan sederhana ini pun dilakukan dengan mereaksikan sel darah merah dengan serum dari para donor. Hasilnya adalah dua macam reaksi (menjadi dasar antigen A dan B, dikenal dengan golongan darah A dan B) dan satu macam tanpa reaksi (tidak memiliki antigen, dikenal dengan golongan darah O). Kesimpulannya ada dua macam antigen A dan B di sel darah merah yang disebut golongan A dan B, atau sama sekali tidak ada reaksi yang disebut golongan O. Kemudian Alfred Von Decastello dan Adriano Sturli yang masih kolega dari Landsteiner menemukan golongan darah AB pada tahun 1901. Pada golongan darah AB, kedua antigen A dan B ditemukan secara bersamaan pada sel darah merah sedangkan pada serum tidak ditemukan antibodi. Penyebaran golongan darah A, B, O dan AB bervariasi di dunia tergantung populasi atau ras. Dalam sistem ABO, golongan darah dibagi menjadi 4 golongan: Golongan Sel Darah Merah A B AB O Antigen A Antigen B Plasma Antibodi B Antibodi A

Antigen A dan Antigen B ( - ) (-) Antibodi A dan Antibodi B

16

Rhesus Faktor Rh atau Rhesus (juga biasa disebut Rhesus Faktor) pertama sekali ditemukan pada tahun 1940 oleh Landsteiner dan Weiner. Dinamakan rhesus karena dalam riset digunakan darah kera rhesus (Macaca mulatta), salah satu spesies kera yang paling banyak dijumpai di India dan Cina. Pada sistem ABO, yang menentukan golongan darah adalah antigen A dan B, sedangkan pada Rh faktor, golongan darah ditentukan adalah antigen Rh (dikenal juga sebagai antigen D). Jika hasil tes darah di laboratorium seseorang dinyatakan tidak memiliki antigen Rh, maka ia memiliki darah dengan Rh negatif (Rh-), sebaliknya bila ditemukan antigen Rh pada pemeriksaan, maka ia memiliki darah dengan Rh positif (Rh+). Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan dengan penggolongan ABO. Golongan darah O+ adalah yang paling umum dijumpai, meskipun pada daerah tertentu golongan A lebih dominan, dan ada pula beberapa daerah dengan 80% populasi dengan golongan darah B. Kecocokan faktor Rhesus amat penting karena ketidakcocokan golongan. Misalnya donor dengan Rh+ sedangkan resipiennya Rh (-) dapat menyebabkan produksi antibodi terhadap antigen Rh(D) yang mengakibatkan hemolisis. Hal ini terutama terjadi pada perempuan yang pada atau di bawah usia melahirkan karena faktor Rh dapat mempengaruhi janin pada saat kehamilan. Transfusi Darah Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar disebabkan trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah. Singkatnya berdasarkan panduan dari apa yang telah dilakukan oleh Landsteiner, pada 1907 sejarah mencatat kesuksesan transfusi darah pertama yang dilakukan oleh Dr. Reuben Ottenberg di Mt. Sinai Hospital, New York. Berkat keahlian Landsteiner pula banyak nyawa dapat diselamatkan dari kematian saat terjadi Perang Dunia I, dimana transfusi darah dalam skala lebih besar mulai dilakukan. Kemudian, Karl Landsteiner memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang
17

Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara penggolongan darah ABO.

Dalam transfusi darah, kecocokan antara darah donor (penyumbang) dan resipien (penerima) adalah sangat penting. Darah donor dan resipien harus sesuai golongannya berdasarkan sistem ABO dan Rhesus faktor. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Hemolisis adalah penguraian sel darah merah dimana hemoglobin akan terpisah dari eritrosit. Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditransfusi dengan darah rhesus positif. Jika dua jenis golongan darah ini saling bertemu, dipastikan akan terjadi perang. Sistem pertahanan tubuh resipien (penerima donor) akan menganggap rhesus dari donor itu sebagai benda asing yang perlu dilawan. Di dunia, pemilik darah rhesus negatif termasuk minoritas. Tabel kecocokan golongan darah Gol Darah Resipien Donor harus AB+ ABA+ AB+ BO+ OGolongan darah mana pun OOOOOOOAO+ A+ O+ BO+ BB+ BAABA+

XVI.

Alat-alat dan bahan: Alat : Pipet Pasteur Tabung reaksi beserta rak tabung

18

Bahan : Darah tanpa antikoagulan NaCl 0,9 % Aquadest Anti - A Anti B Sel A Sel B Sel O Antisera Anti D Bovine Albumin

XVII.

Prosedur Kerja : Pembuatan Suspensi sel darah merah : Disiapkan sel darah merah pekat yang telah dicuci Dibuat suspensi sel darah merah 5% seperti pada tabel berikut Persentase Perbandingan
sdm pekat 100%

Suspensi

Keterangan NaCl 0,9 % 95 tetes Diperkecil 1 sdm : 19 saline

5%

5 : 100

5 tetes

Pemeriksaan Golongan Darah : Disiapkan suspensi sel darah merah pekat 5% Disiapkan 8 tabung reaksi Dibuat campuran seperti pada gambar berikut Kedelapan tabung disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 detik atau dengan kecepatan 1000 rpm selama 1 menit atau didiamkan dalam suhu ruang selama 1 jam. Diperhatikan apakah terdapat reaksi aglutinasi atau tidak

19

XVIII.

Hasil pengamatan : Hasil (+) = menggumpal atau terjadi reaksi aglutinasi Hasil (-) = Tidak menggumpal atau tidak terjadi reaksi aglutinasi Anti A Anti B Sel A Sel B Sel O AutoKontrol Anti D :(+) :(-) :(-) :(+) :(-) :(-) :(+)

Bovine Albumin : ( - )

XIX.

Pembahasan : Dari hasil pengamatan diatas, dapat dilihat bahwa yang menghasilkan reaksi agluinasi yaitu dari tabung berisi anti A, sel B, dan Anti D. Reaksi Antigen dengan Antibodi yang sesuai akan menghasilkan aglutinasi. Dari praktikum ini,sel darah yang diuji memiliki antigen A, karena reaksi pada tabung yang berisi anti A menghasilkan reaksi agluinasi ( + ). Dan sel darah yang diuji pada praktikum ini memiliki antibodi B karena reaksi pada tabung berisi sel B menghasilkan reaksi aglutinasi ( + ). Karena sampel darah pada praktikum kali ini memiliki antigen A dan antibodi B, maka dapat disimpulkan bahwa sampel darah yang diuji bergolongan darah A. Sementara karena reaksi di tabung Anti D menghasilkan reaksi aglutinasi,dapat disimpulkan bahwa sampel darah yang diuji memiliki rhesus (+) Auto kontrol harus selalu bernilai negatif, karena di tabung autokontrol hanya berisi sel darah dan plasma dari sampel yang sama.

20

XX.

Kesimpulan : Dari hasil praktikum,dapat disimpulkan sampel darah yang diuji memiliki golongan darah A rhesus (+)

XXI.

Daftar pustaka : http://id.wikipedia.org/wiki/Golongan_darah. http://www.wikimu.com/News/Home.aspx. Slide materi kuliah GOLONGAN DARAH ABO oleh dr.kadek mulyantari, Sp.PK. Slide materi kuliah GOLONGAN DARAH RHESUS oleh dr.kadek mulyantari, Sp.PK. Slide materi kuliah PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH ABO oleh dr.kadek mulyantari, Sp.PK.

21

Mata Kuliah Materi Praktikum Tempat Tanggal/Waktu Pembimbing

: Transfusi Darah : Uji Silang Serasi (CrossMatch) I : Laboratorium Poltekkes Denpasar : 16 Maret 2011 / 14.30 WITA : I Gede Putu Sudana Ni Made Darmasih Gusti Ayu ngurah Wardhani

I.

Judul : Uji Silang Serasi (CrossMatch) I Tujuan: Untuk memastikan ada atau tidaknya aloantibodi pada darah resipien yang akan bereaksi dengan darah donor bila ditransfusikan atau sebaliknya.

II.

III.

Metode : Pada praktikum ini, pemeriksaan uji silang serasi menggunakan metode bovine albumin

IV.

Prinsip : Antibodi yang terdapat dalam serum atau plasma bila direaksikan dengan antigen pada sdm melalui inkubasi C dalam waktu tertentu dan dengan penambahan anti-

immunoglobulin akan terjadi reaksi aglutinasi.

V.

Dasar teori : Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar disebabkan trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah. Singkatnya berdasarkan panduan dari apa yang telah dilakukan oleh Landsteiner, pada 1907 sejarah mencatat kesuksesan transfusi darah pertama yang dilakukan oleh Dr. Reuben Ottenberg di Mt. Sinai Hospital, New York. Berkat keahlian Landsteiner pula banyak nyawa dapat diselamatkan dari kematian saat terjadi Perang Dunia I, dimana transfusi darah dalam skala lebih besar mulai dilakukan. Kemudian, Karl Landsteiner memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang
22

Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara penggolongan darah ABO. Dalam transfusi darah, kecocokan antara darah donor (penyumbang) dan resipien (penerima) adalah sangat penting. Darah donor dan resipien harus sesuai golongannya berdasarkan sistem ABO dan Rhesus faktor. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Hemolisis adalah penguraian sel darah merah dimana hemoglobin akan terpisah dari eritrosit. Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditransfusi dengan darah rhesus positif. Jika dua jenis golongan darah ini saling bertemu, dipastikan akan terjadi perang. Sistem pertahanan tubuh resipien (penerima donor) akan menganggap rhesus dari donor itu sebagai benda asing yang perlu dilawan. Di dunia, pemilik darah rhesus negatif termasuk minoritas. Uji silang serasi (Crossmatch) digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya

antibodi, baik antibodi komplet (IgM) maupun antibodi inkomplet (IgG) yang terdapat dalam serum atau plasma pasien (resipien) maupun dalam plasma donor, memastikan bahwa transfusi darah yang diberikan sesuai atau kompatibel dan tidak menimbulkan reaksi apapun pada pasien serta sel-sel darah dapat mencapai masa hidup maksimum setelah diberikan serta cek akhir uji kecocokan golongan darah ABO. Pemeriksaan ini dilakukan dalam tiga fase serta dilakukan pula uji validitas. Fase I ini dapat mendeteksi: Antibodi komplet (IgM /Antibodi dingin), seperti : anti- A, anti-B (ketidakcocokan pada penetapan golongan darah ABO serta adanya antibodi komplet lain seperti: anti-M,antiLewis,anti-N, anti-P1, anti-A1,anti-H, anti-I). Pada fase II, antibodi inkomplet dapat mengikat sel darah merah ,sehingga pada fase III dengan bantuan penambahan Coombs serum terjadi reaksi positip, contohnya : anti-D, anti-E, anti-e, anti-C, anti-c, anti-Kell, anti-Kidd, anti-S. Pada fase III, semua antibodi inkomplet yang terikat pada sel darah merah di fase II akan beraglutinasi (positip) setelah penambahan Anti Human Globulin (Coombs serum), contoh : anti-Fya , anti-Fyb, anti -Kell, anti- Rhesus. Bila reaksi silang Mayor dan Minor fase 1 sampai fase 3 tidak menunjukkan reaksi aglutinasi dan atau hemolisis, hasil diinterpretasikan kompatibel (cocok).. Bila
23

reaksi silang Mayor dan Minor fase 1 sampai fase 3 menunjukkan adanya reaksi aglutinasi dan atau hemolisis, hasil diinterpretasikan inkompatibel (tidak cocok).

Inkompatibel pada major crossmatch maka darah donor tidak dapat diberikan kepada pasien. Untuk UTD / Bank darah yang sudah mempunyai sel panel dapat melakukan skrining dan identifikasi antibodi terhadap darah pasien, kemudian baru mencari darah donor yang sesuai dengan darah pasien tersebut. Inkompatibel pada minor crossmatch maka darah donor masih dapat diberikan kepada pasien (Packed Red Cell). Bagi UTD yang sudah mempunyai sel panel dan sudah melakukan skrining darah donor terhadap allo antibodi, maka pemeriksaan minor test tidak perlu dilakukan lagi. Hasil positif atau negative palsu pada pemeriksaan crossmatch dapat dihindari dengan cara yaitu menggunakan saline yang bersih, jernih, tidak bewarna dan tidak terkontaminasi dengan serum, suhu inkubator harus 37C serta waktu inkubasi harus tepat.

VI.

Alat-alat dan bahan: Alat : Pipet Pasteur Test tube Centrifuge Incubator/ water bath

Bahan : Saline (NaCl 0,9%) Bovine Albumin 22% Coombs serum (AHG) Coombs control cells (CCC) Bovine Albumin

24

VII.

Prosedur Kerja : Croosmatching phase:

1. Diambil tiga buah tabung reaksi, dimasukkan kedalam tabung masing masing : Tabung I (Mayor) Tabung II (minor) : 2 tetes RS + 1 tetes DC : 2 tetes DP + 1 tetes RC

Tabung III (auto control) : 2 tetes RS + 1 tetes RC 2. Dikocok hingga homogen, diputar 3000 rpm 15 detik 3. Dibaca reaksi terhadap hemolisis atau adanya aglutinasi secara makroskopis Catatan : sentrifugasi dilakukan dengan kecepatan 1000rpm selama 1 menit Pembacaan hasil : Tidak terjadi hemolisis atau aglutinasi lanjutkan ke fase 2 Terjadi hemolisis dan aglutinasi tidak cocok/inkompatibel Pada mayor : lanjutkan cross match, pemeriksaan skrining dan identifikasi antibodi Pada minor : lanjutkan pemeriksaan golongan darah ABO & rhesus dan cross match

Croosmatching

phase:

1. Ke dalam masing- masing tabung ditambahkan 2 tetes BA 22% dan dikocok 2. Diinkubasi C selama 15 menit

3. Diputar 3000 rpm selama selama 15 detik 4. Dibaca makroskopis (hemolisis atau aglutinasi) Catatan : sentrifugasi dilakukan dengan kecepatan 1000rpm selama 1 menit Pembacaan hasil : Tidak terjadi hemolisis atau aglutinasi lanjutkan ke fase 3 Terjadi hemolisis dan aglutinasi tidak cocok/inkompatibel Pada mayor : lanjutkan pem. Golda ABO & Rh, pemeriksaan skrining dan identifikasi antibodi Pada minor : lanjutkan pemeriksaan golongan darah ABO & rhesus, DCT dan eluate.
25

Croosmatching

phase:

1. Eritrosit dalam masing- masing tabung dicuci 3 kali saline 2. Sedimen erotrosit ditambah 2 tetes coombs serum 3. Dikocok, diputar 3000 rpm selama 15 detik 4. Dibaca hasil reaksi makroskopis dan mikroskopis aglutinasinya positif(+) / negatif(-) Catatan : sentrifugasi dilakukan dengan kecepatan 1000rpm selama 1 menit Pembacaan hasil : Tidak terjadi hemolisis atau aglutinasi cocok / kompatibel, darah dapat diberikan kepada pasien Terjadi hemolisis dan aglutinasi tidak cocok/inkompatibel, darah tidak boleh diberikan Pada mayor : lanjutkan pemeriksaan skrining dan identifikasi antibodi Pada minor : lanjutkan DCT dan eluate. Uji Validitas Reaksi Silang CCC

1. Ke dalam tabung M dan m yang pada reaksi silang fase III memberi hasil (-), ditambahkan 1 tts CCC 2. Dikocok, dan diputar 3000 rpm selama 15 detik 3. Dibaca hasil reaksi makroskopis dan mikroskopis Catatan : sentrifugasi dilakukan dengan kecepatan 1000rpm selama 1 menit Pembacaan hasil Bila hasil (+)/ada aglutinasi : VALID (benar) Bila hasil (-)/tidak ada aglutinasi : INVALID perlu diulang kembali INTERPRETASI HASIL : Bila reaksi silang Mayor dan Minor fase 1 sampai fase 3 tidak menunjukkan reaksi aglutinasi dan atau hemolisis , hasil diinterpretasikan kompatibel (cocok) darah dapat keluar

26

Bila reaksi silang Mayor dan Minor fase 1 sampai fase 3 menunjukkan adanya reaksi aglutinasi dan atau hemolisis , hasil diinterpretasikan inkompatibel (tidak cocok) darah tidak dapat keluar VIII. Hasil pengamatan : Hasil (+) = menggumpal atau terjadi reaksi aglutinasi Hasil (-) = Tidak menggumpal atau tidak terjadi reaksi aglutinasi

1. Croosmatching 2. Croosmatching 3. Croosmatching 4. Penambahan CCC IX. Pembahasan :

phase : tidak terjadi aglutinasi (-) negatif phase : tidak terjadi aglutinasi (-) negatif phase : tidak terjadi aglutinasi (-) negatif : terjadi aglutinasi (+) positif

Pada praktikum ini dilakukan Uji silang serasi (Crossmatch) yang digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya antibodi, baik antibodi komplet (IgM) maupun antibodi inkomplet (IgG) yang terdapat dalam serum atau plasma pasien (resipien) maupun dalam plasma donor, memastikan bahwa transfusi darah yang diberikan sesuai atau kompatibel dan tidak

menimbulkan reaksi apapun pada pasien serta sel-sel darah dapat mencapai masa hidup maksimum setelah diberikan serta cek akhir uji kecocokan golongan darah ABO. Uji silang serasi dilakukan dengan menggunakan metode Bovine Albumindan dilakukan dalam tiga fase serta dilakukan pula uji validitas. Fase I ini dapat mendeteksi: Antibodi komplet (IgM /Antibodi dingin), seperti : anti- A, anti-B (ketidakcocokan pada penetapan golongan darah ABO serta adanya antibodi komplet lain seperti: anti-M,anti-Lewis,anti-N, anti-P1, anti-A1,anti-H, anti-I). Pada fase II, antibodi inkomplet dapat mengikat sel darah merah ,sehingga pada fase III dengan bantuan penambahan Coombs serum terjadi reaksi positip, contohnya : anti-D, anti-E, anti-e, anti-C, anti-c, anti-Kell, anti-Kidd, anti-S. Pada fase III, semua antibodi inkomplet yang terikat pada sel darah merah di fase II akan beraglutinasi (positip) setelah penambahan Anti Human Globulin (Coombs serum), contoh : anti-Fya , anti-Fyb, anti -Kell, anti- Rhesus. Dari praktikum yang dilakukan pada uji silang serasi pada fase 1, 2, dan 3 baik pada tabung mayor,minor dan autokontrol menunjukkan hasil yang negatif, dengan tidak
27

terjadinya aglutinasi, kemudian tabung Mayor dan minor dilanjutkan dengan pemeriksaan uji validitas (CCC), pada uji validitas ini ke dua tabung menunjukkan hasil positif dengan terjadinya aglutinasi. Terjadinya aglutinasi menunjukkan hasil valid dan tidak perlu diulang kembali lagi. Dalam uji silang serasi dapat memberikan hasil negatif palsu, oleh karena itu harus diperhatikan yaitu : NaCl 0,9%(saline) harus jernih, tidak berwarna dan tidak terkontaminasi dengan serum Temperature incubator harus 37oC Waktu inkubasi harus tepat Pencucian sel darah merah harus bersih Hasil negative harus dikontrol dengan menggunakan CCC (Combs control cells)

X.

Kesimpulan : Berdasarkan praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan yaitu : Uji silang serasi fase 1,2, dan 3 menunjukkan hasil yang negative (-) karena tidak terjadinya aglutinasi dan dilanjutkan dengan uji validitas reaksi silang dengan hasil positif (+) karena terbentuknya aglutinasi. Jadi dari reaksi uji silang serasi fase 1,2, dan 3 baik pada tabung mayor maupun minor menunjukkan hasil positif berarti hasilnya kompatibel atau cocok

XI.

Daftar pustaka :
http://en.wikipedia.org/wiki/Cross-matching

http://www.wikimu.com/News/Home.aspx. Slide materi kuliah Uji silang serasi oleh Sianny Herawati, dr. SpPK

28

Mata Kuliah Materi Praktikum Tempat Tanggal/Waktu Pembimbing

: Transfusi Darah : Uji Silang Serasi (CrossMatch) II : Laboratorium Poltekkes Denpasar : 23 Maret 2011 / 14.30 WITA : I Gede Putu Sudana Ni Made Darmasih Gusti Ayu ngurah Wardhani

I.

Judul : Uji Silang Serasi (CrossMatch) II Tujuan: Untuk memastikan ada atau tidaknya aloantibodi pada darah resipien yang akan bereaksi dengan darah donor bila ditransfusikan atau sebaliknya.

II.

III.

Metode : Pada praktikum ini, pemeriksaan uji silang serasi menggunakan metode bovine albumin

IV.

Prinsip : Antibodi yang terdapat dalam serum atau plasma bila direaksikan dengan antigen pada sdm melalui inkubasi C dalam waktu tertentu dan dengan penambahan anti-

immunoglobulin akan terjadi reaksi aglutinasi.

V.

Dasar teori : Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar disebabkan trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah. Singkatnya berdasarkan panduan dari apa yang telah dilakukan oleh Landsteiner, pada 1907 sejarah mencatat kesuksesan transfusi darah pertama yang dilakukan oleh Dr. Reuben Ottenberg di Mt. Sinai Hospital, New York. Berkat keahlian Landsteiner pula banyak nyawa dapat diselamatkan dari kematian saat terjadi Perang Dunia I, dimana transfusi darah dalam skala lebih besar mulai dilakukan. Kemudian, Karl Landsteiner memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang
29

Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara penggolongan darah ABO. Dalam transfusi darah, kecocokan antara darah donor (penyumbang) dan resipien (penerima) adalah sangat penting. Darah donor dan resipien harus sesuai golongannya berdasarkan sistem ABO dan Rhesus faktor. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Hemolisis adalah penguraian sel darah merah dimana hemoglobin akan terpisah dari eritrosit. Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditransfusi dengan darah rhesus positif. Jika dua jenis golongan darah ini saling bertemu, dipastikan akan terjadi perang. Sistem pertahanan tubuh resipien (penerima donor) akan menganggap rhesus dari donor itu sebagai benda asing yang perlu dilawan. Di dunia, pemilik darah rhesus negatif termasuk minoritas. Uji silang serasi (Crossmatch) digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya

antibodi, baik antibodi komplet (IgM) maupun antibodi inkomplet (IgG) yang terdapat dalam serum atau plasma pasien (resipien) maupun dalam plasma donor, memastikan bahwa transfusi darah yang diberikan sesuai atau kompatibel dan tidak menimbulkan reaksi apapun pada pasien serta sel-sel darah dapat mencapai masa hidup maksimum setelah diberikan serta cek akhir uji kecocokan golongan darah ABO. Pemeriksaan ini dilakukan dalam tiga fase serta dilakukan pula uji validitas. Fase I ini dapat mendeteksi: Antibodi komplet (IgM /Antibodi dingin), seperti : anti- A, anti-B (ketidakcocokan pada penetapan golongan darah ABO serta adanya antibodi komplet lain seperti: anti-M,antiLewis,anti-N, anti-P1, anti-A1,anti-H, anti-I). Pada fase II, antibodi inkomplet dapat mengikat sel darah merah ,sehingga pada fase III dengan bantuan penambahan Coombs serum terjadi reaksi positip, contohnya : anti-D, anti-E, anti-e, anti-C, anti-c, anti-Kell, anti-Kidd, anti-S. Pada fase III, semua antibodi inkomplet yang terikat pada sel darah merah di fase II akan beraglutinasi (positip) setelah penambahan Anti Human Globulin (Coombs serum), contoh : anti-Fya , anti-Fyb, anti -Kell, anti- Rhesus. Bila reaksi silang Mayor dan Minor fase 1 sampai fase 3 tidak menunjukkan reaksi aglutinasi dan atau hemolisis, hasil diinterpretasikan kompatibel (cocok).. Bila
30

reaksi silang Mayor dan Minor fase 1 sampai fase 3 menunjukkan adanya reaksi aglutinasi dan atau hemolisis, hasil diinterpretasikan inkompatibel (tidak cocok).

Inkompatibel pada major crossmatch maka darah donor tidak dapat diberikan kepada pasien. Untuk UTD / Bank darah yang sudah mempunyai sel panel dapat melakukan skrining dan identifikasi antibodi terhadap darah pasien, kemudian baru mencari darah donor yang sesuai dengan darah pasien tersebut. Inkompatibel pada minor crossmatch maka darah donor masih dapat diberikan kepada pasien (Packed Red Cell). Bagi UTD yang sudah mempunyai sel panel dan sudah melakukan skrining darah donor terhadap allo antibodi, maka pemeriksaan minor test tidak perlu dilakukan lagi. Hasil positif atau negative palsu pada pemeriksaan crossmatch dapat dihindari dengan cara yaitu menggunakan saline yang bersih, jernih, tidak bewarna dan tidak terkontaminasi dengan serum, suhu inkubator harus 37C serta waktu inkubasi harus tepat.

VI.

Alat-alat dan bahan: Alat : Pipet Pasteur Test tube Centrifuge Incubator/ water bath

Bahan : Saline (NaCl 0,9%) Bovine Albumin 22% Coombs serum (AHG) Coombs control cells (CCC) Bovine Albumin

31

VII.

Prosedur Kerja : Croosmatching phase:

4. Diambil tiga buah tabung reaksi, dimasukkan kedalam tabung masing masing : Tabung I (Mayor) Tabung II (minor) : 2 tetes RS + 1 tetes DC : 2 tetes DP + 1 tetes RC

Tabung III (auto control) : 2 tetes RS + 1 tetes RC 5. Dikocok hingga homogen, diputar 3000 rpm 15 detik 6. Dibaca reaksi terhadap hemolisis atau adanya aglutinasi secara makroskopis Catatan : sentrifugasi dilakukan dengan kecepatan 1000rpm selama 1 menit Pembacaan hasil : Tidak terjadi hemolisis atau aglutinasi lanjutkan ke fase 2 Terjadi hemolisis dan aglutinasi tidak cocok/inkompatibel Pada mayor : lanjutkan cross match, pemeriksaan skrining dan identifikasi antibodi Pada minor : lanjutkan pemeriksaan golongan darah ABO & rhesus dan cross match

Croosmatching

phase:

5. Ke dalam masing- masing tabung ditambahkan 2 tetes BA 22% dan dikocok 6. Diinkubasi C selama 15 menit

7. Diputar 3000 rpm selama selama 15 detik 8. Dibaca makroskopis (hemolisis atau aglutinasi) Catatan : sentrifugasi dilakukan dengan kecepatan 1000rpm selama 1 menit Pembacaan hasil : Tidak terjadi hemolisis atau aglutinasi lanjutkan ke fase 3 Terjadi hemolisis dan aglutinasi tidak cocok/inkompatibel Pada mayor : lanjutkan pem. Golda ABO & Rh, pemeriksaan skrining dan identifikasi antibodi Pada minor : lanjutkan pemeriksaan golongan darah ABO & rhesus, DCT dan eluate.
32

Croosmatching

phase:

5. Eritrosit dalam masing- masing tabung dicuci 3 kali saline 6. Sedimen erotrosit ditambah 2 tetes coombs serum 7. Dikocok, diputar 3000 rpm selama 15 detik 8. Dibaca hasil reaksi makroskopis dan mikroskopis aglutinasinya positif(+) / negatif(-) Catatan : sentrifugasi dilakukan dengan kecepatan 1000rpm selama 1 menit Pembacaan hasil : Tidak terjadi hemolisis atau aglutinasi cocok / kompatibel, darah dapat diberikan kepada pasien Terjadi hemolisis dan aglutinasi tidak cocok/inkompatibel, darah tidak boleh diberikan Pada mayor : lanjutkan pemeriksaan skrining dan identifikasi antibodi Pada minor : lanjutkan DCT dan eluate.

Uji Validitas Reaksi Silang (CCC) 1. Kedalam tabung mayor dan minor pada reaksi silang phase III yang memberi hasil negatif, maka ditambahkan 1 tetes CCC. 2. Dikocok, diputar 3000 rpm selama 15 menit. Catatan : Pada praktikum ini, diputar pada sentrifuge dengan kecepatan 1000 rpm selama 1 menit. 3. Dilakukan pembacaan hasil. 4. Bila hasil (+) : valid (benar) Bila hasil (-) : invalid (salah), sehingga perlu diulang kembali.

33

INTERPRETASI HASIL : Bila reaksi silang Mayor dan Minor fase 1 sampai fase 3 tidak menunjukkan reaksi aglutinasi dan atau hemolisis , hasil diinterpretasikan kompatibel (cocok) darah dapat keluar Bila reaksi silang Mayor dan Minor fase 1 sampai fase 3 menunjukkan adanya reaksi aglutinasi dan atau hemolisis , hasil diinterpretasikan inkompatibel (tidak cocok) darah tidak dapat keluar

VIII.

Hasil pengamatan : A. Crossmatching Phase I TABUNG Tabung I (Mayor) Tabung II (Minor) Tabung III (Autocountrol) HASIL Tidak terjadi aglutinasi (negatif) Tidak terjadi aglutinasi (negatif) Tidak terjadi aglutinasi (negatif)

B. Crossmatching Phase II TABUNG Tabung I (Mayor) Tabung II (Minor) Tabung III (Autocountrol) HASIL Tidak terjadi aglutinasi (negatif) Terjadi aglutinasi (positif) Terjadi aglutinasi (positif)

C. Crossmatching Phase III TABUNG Tabung I (Mayor) Tabung II (Minor) Tabung III (Autocountrol) HASIL Tidak terjadi aglutinasi (negatif) Terjadi aglutinasi (positif) Terjadi aglutinasi (positif)

34

D. Uji Validitas Karena hanya tabung I (Mayor) yang menunjukkan hasil negatif (tidak terjadi aglutinasi), maka hanya tabung I yang diuji dengan uji validitas. TABUNG Tabung I (Mayor) HASIL Terjadi aglutinasi (positif)

IX.

Pembahasan : Untuk memastikan bahwa transfusi darah tidak akan menimbulkan reaksi pada resipien maka sebelum pemberian transfusi darah dari donor kepada resipien, perlu dilakukan pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus serta uji silang serasi antara darah donor dan darah resipien. Walaupun golongan darah donor dan pasien sama, ternyata dapat terjadi ketidakcocokan (inkompatibilitas) pada uji silang serasi. Sehingga perlu dilakukan analisis penyebab ketidakcocokan pada uji silang serasi antara darah donor dan pasien. Uji silang serasi atau crossmatch dilakukan untuk mengetahui apakah sel darah merah donor bisa hidup didalam tubuh pasien serta untuk mengetahui ada/tidaknya antibodi komplit (IgM) dan antibodi inkomplit (IgG) dalam serum pasien (mayor) maupun dalam serum donor yang melawan sel pasien (minor) Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah metode Bolvine Albumin (BA) yang dilakukan berdasarkan reaksi antara.antibodi yang terdapat dalam serum atau plasma bila direaksikan dengan antigen pada sel darah merah melalui inkubasi 37C dan dalam waktu tertentu dan dengan penambahan anti imunoglobulin akan terjadi reaksi aglutinasi. Pemeriksaan ini dilakukan dalam tiga fase serta dilakukan pula uji validitas. Fase I ini dapat mendeteksi: Antibodi komplet ( IgM /Antibodi dingin), seperti : anti- A, anti-B (ketidakcocokan pada penetapan golongan darah ABO serta adanya antibodi komplet lain seperti: anti-M, anti-Lewis ,anti-N, anti-P1, anti-A1,anti-H, anti-I). Pada fase II, antibodi inkomplet dapat mengikat sel darah merah ,sehingga pada fase III dengan bantuan penambahan Coombs serum terjadi reaksi positip, contohnya : anti-D, anti-E, anti-e, anti-C, anti-c, anti-Kell, anti-Kidd, anti-S. Pada fase III, semua antibodi inkomplet yang terikat pada sel darah merah di fase II akan beraglutinasi (positip) setelah penambahan Anti Human Globulin (Coombs serum), contoh : anti-Fya , anti-Fyb, anti Kell, anti- Rhesus.
35

Berdasarkan data hasil praktikum, maka pada crossmatching fase I semua tabung baik mayor, minor maupun auto control menunjukkan hasil negatif karena tidak terjadi aglutinasi. Pada pemeriksaan crossmatching fase II dan III, tabung mayor menunjukkan hasil negatif, sedangkan tabung minor dan auto control menunjukkan hasil positif karena terjadi aglutinasi. Karena hanya tabung mayor yang menunjukkan hasil negatif, maka hanya tabung ini yang dilanjutkan dengan uji validitas. Pada uji ini apabila hasilnya positif maka pemeriksaan yang dilakukan valid sedangkan apabila negatif maka pemeriksaannya invalid sehingga perlu diulang. Pada praktikum ini, tabung mayor pada uji validitas menunjukkan hasil positif yang ditandai dengan terjadinya aglutinasi. Kemungkinan terjadinya positif palsu pada mayor crossmatch dapat terjadi karena: a. Golongan darah ABO pasien atau donor tidak benar b. Adanya allo antibodi dalam serum pasien yang bereaksi dengan antigen yang ada pada sel darah merah donor. Hasil auto kontrol harus negatip, kecuali pada pasien yang baru ditransfusi dengan sel yang inkompatibel. c. Adanya autoantibodi dalam serum pasien yang juga bereaksi dengan sel darah merah donor. d. Penyelubungan sel darah donor oleh protein, biasanya DCT positip e. Kelainan dalam serum pasien, pasien mendapat transfusi plasma ekspander (dextran) dengan berat molekul yang tinggi, multiple myeloma sehingga menyebabkan terjadinya positip palsu (rouleaux formasi). Semua test termasuk auto kontrol akan menunjukkan hasil positip. f. Kontaminasi pada pemeriksaan, misalnya tabung yang kotor, kontaminasi sampel dan reagen oleh bakteri. Sedangkan, kemungkinan terjadinya positif palsu pada minor crossmatch dapat terjadi karena: a. Golongan darah ABO pasien atau donor tidak benar b. Adanya antibodi dalam plasma donor yang bereaksi dengan antigen yang sesuai pada SDM pasien.

36

c. Penyelubungan SDM pasien oleh protein, sehingga hasil pemeriksaan anti human globulin (DCT) positip d. Adanya kontaminasi Dalam uji silang serasi dapat memberikan hasil negatif palsu, oleh karena itu harus diperhatikan yaitu : a. NaCl 0,9%(saline) harus jernih, tidak berwarna dan tidak terkontaminasi dengan serum b. Temperature incubator harus 37oC c. Waktu inkubasi harus tepat d. Pencucian sel darah merah harus bersih e. Hasil negative harus dikontrol dengan menggunakan CCC (Combs control cells) X. Kesimpulan : Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: Pemeriksaan uji silang serasi (crossmatch) dilakukan untuk memastikan ada tidaknya antibodi pada darah resipien yang akan bereaksi dengan darah donor bila dtransfusikan atau sebaliknya yang dapat dilakukan dengan metode bolvine albumin (BA). Berdasarkan data hasil praktikum, maka pada crossmatching fase I semua tabung baik mayor, minor maupun auto control menunjukkan hasil negatif karena tidak terjadi aglutinasi. Pada pemeriksaan crossmatching fase II dan III, tabung mayor menunjukkan hasil negatif, sedangkan tabung minor dan auto control menunjukkan hasil positif karena terjadi aglutinasi. Karena hanya tabung mayor yang menunjukkan hasil negatif, maka hanya tabung ini yang dilanjutkan dengan uji validitas. Pada uji ini apabila hasilnya positif maka pemeriksaan yang dilakukan valid sedangkan apabila negatif maka pemeriksaannya invalid sehingga perlu diulang. Pada praktikum ini, tabung mayor pada uji validitas menunjukkan hasil positif yang ditandai dengan terjadinya aglutinasi. XI. Daftar pustaka :
http ://www.mokotransequipment.blogspot.com/

Slide materi kuliah Uji silang serasi oleh Sianny Herawati, dr. SpPK
37

Mata Kuliah Materi Praktikum Tempat Tanggal/Waktu Pembimbing

: Transfusi Darah : Coomb Test dan Uji Validitas Reagen : Laboratorium Poltekkes Denpasar : 4 Mei 2011 / 14.30 WITA : I Gede Putu Sudana Ni Made Darmasih Gusti Ayu ngurah Wardhani

I.

Judul : Coomb Test dan Uji Validitas Reagen Tujuan: Tujuan dari praktikum Coomb Test adalah untuk mendeteksi sel darah merah yang tersensitisasi dengan antibodi atau komplemen in vivo (dalam tubuh pasien ). Tujuan dari praktikum uji validitas reagen adalah untuk menetapkan reagen yg digunakan apakah Valid atau Invalid

II.

III.

Metode : Pada praktikum ini menggunakan metode Blood grouping plate dan metode tabung.

IV.

Prinsip : Anti Human Globulin (AHG) yang diperoleh dari immunized nonhuman species berikatan dengan IgG atau komplemen yang bebas pada serum atau yang melekat pada antigen sel darah merah. Antigen yang sudah coated dengan antibody in vivo + anti human globulin membentuk aglutinasi.

V.

Dasar teori : Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel darah. Sel darah terdiri dari tiga jenis yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit. Volume darah secara keseluruhan adalah satu per dua belas berat badan atau kira-kira lima liter. Sekitar 55% adalah plasma darah, sedang 45% sisanya terdiri dari sel darah Darah kita mengandung beberapa jenis sel yang terangkut di dalam cairan kuning yang disebut plasma darah. Plasma darah tersusun atas 90% air yang mengandung sari makanan, protein, hormon, dan endapan kotoran selain sel-sel darah. ( Evelyn C. Pearce, 2006)

38

Ada tiga jenis sel darah, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Sel Darah Merah Sel darah merah berbentuk piringan pipih yang menyerupai donat. 45% darah tersusun atas sel darah merah yang dihasilkan di sumsum tulang. Dalam setiap 1 cm kubik darah terdapat 5,5 juta sel. Jumlah sel darah merah yang diproduksi setiap hari mencapai 200.000 biliun, rata-rata umurnya hanya 120 hari. Semakin tua semakin rapuh, kehilangan bentuk, dan ukurannya menyusut menjadi sepertiga ukuran mula-mula. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang kaya akan zat besi. Warnanya yang merah cerah disebabkan oleh oksigen yang diserap dari paru-paru. Pada saat darah mengalir ke seluruh tubuh, hemoglobin melepaskan oksigen ke sel dan mengikat karbon dioksida. Sel darah merah yang tua akhirnya akan pecah menjadi partikel-partikel kecil di dalam hati dan limpa. Sebagian besar sel yang tua dihancurkan oleh limpa dan yang lolos dihancurkan oleh hati. Hati menyimpan kandungan zat besi dari hemoglobin yang kemudian diangkut oleh darah ke sumsum tulang untuk membentuk sel darah merah yang baru. Persediaan sel darah merah di dalam tubuh diperbarui setiap empat bulan sekali. Antiglobulin Test Molekul antibodi dan komponen komplemen adalah globulin. Antibodi adalah globulin , komplemen adalah globulin . Bila globulin manusia diinjeksikan ke hewan akan terbentuk antihuman globulin (AHG). AHG akan bereaksi dg globulin yg terikat pada eritrosit sehingga menghasilkan aglutinasi eritrosit. Bila AHG bereaksi dg globulin bebas dalam serum maka tidak terjadi aglutinasi eritrosit. Perlu proses pencucian eritrosit untuk menghilangkan globulin bebas. Reagen AHG dapat polispesifik atau

monospesifik. Polispesifik AHG mengandung antibodi terhadap human IgG atau C3d, kadang-kadang juga mengandung anti komplemen lain dan anti imunoglobulin lain. Monospesifik AHG mengandung hanya satu antibodi apakah IgG saja atau anti C3b-C3d. Antiglobulin test mampu mendeteksi 150 sampai 500 molekul IgG tiap sel darah merah. Aglutinasi lengkap terjadi bila sel tersensitisasi oleh 1000 molekul IgG. Pada IAT, hasil reaksi positif bila terdapat 100 sampai 200 molekul IgG atau C3 pada sel. Bila pengikatan globulin pada eritrosit (sensitisasi) terjadi in vivo disebut uji antiglobulin

39

direk (Direct Coombs test). Bila sensitisasi dilakukan in-vitro disebut uji antiglobulin indirek (Indirect Coombs test). DAT digunakan untuk mendeteksi antibodi atau komplemen yang menyelubungi sel darah merah invivo dengan menggunakan AHG, terutama IgG dan C3d. Setelah sel darah merah dicuci dengan saline kemudian ditambahkan reagen AHG. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi , misalnya penyakit auto immune hemolytic anemia (AIHA), drug induced hemolisis, allo imun reaksi oleh karena reaksi tranfusi. Indirect Antiglobulin test (IAT) atau ICT digunakan untuk mendeteksi reaksi antara sel darah merah dengan antibodi atau komplemen yang melekat / menyelubungi pada sel darah merah invitro. Serum pasien diinkubasikan dengan sel darah merah, kemudian sel darah merah dicuci dengan saline dan ditambah AHG. Adanya aglutinasi setelah penambahan AHG menandakan, bahwa serum tersebut mengandung antibodi yang reaktif dengan antigen antigen yang terdapat pada sel darah merah. Pemeriksaan ICT dapat digunakan pada pemeriksaan skrining, identifikasi antibody dan uji silang serasi. Direct Antoglobulin Test (DAT) merupakan suatu test yang digunakan untuk mencari adanya globulin manusia pada permukaan sel-sel yang telah disensitasi.Sel yang tersensitasi merupakan sel yang diselubungi oleh antibodi tetapi bukan

teraglutinasi.Antibodi IgG tidak mengakibatkan aglutinasi sel-sel darah merah yang mempunyai antigen pasangannya bila berada dalam larutan fisiologis NaCl . akan tetapi hanya mampu menyelubungi atau mensensitasi . Masa hidup immunoglobulin IgG sekitar 60-70 hari. DAT(Direct Antiglobulin Test) digunakan untuk mendeteksi antibodi atau komplemen yang menyelubungi pada sel darah merah invivo dengan menggunakan AHG terutama IgG dan C3d . Setelah sel darah merah dicuci dengan saline kemudian ditambahkan dengan reagen AHG . Anti Human Globulin (Bovine Albumin22%) digunakan sebagai reagen untuk mereaksikan kelompok darah yang secara spesifik bereaksi dengan globulin manusia.Bila AHG bereaksi dengan globulin bebas dalam serum maka tidak menimbulkan aglutinasi eritrosit .Perlu proses pencucian eritrosit untuk menghilangkan globulin bebas. Antiglobulin test mampu mendeteksi 150 sampai 500 molekul IgG tiap sel darah merah .Aglutinasi lengkap terjadi bila sel tersensitisasi oleh
40

1000 molekul IgG. Pada DAT deteksi globulin sampai terikat, komponen darah yang diuji adalah eritrosit, sensitisasi terjadi didalam in-vivo, inkubasi dengan suspensi eritrosit menghasilkan nilai negatif, hasil positif ditunjukkan dengan aglutinasi . Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi misalnya penyakit Auto Immune Hemolytic Anemia (AIHA),drug induced hemolysis, allo imun reaksi oleh karena reaksi tranfusi.Jenis reagen yang digunakan dalam pemeriksaan ini adalah polyspesifik AHG yang mengandung antibodi terhadap IgG manusia dan anti komplemen C3d dari komplemen manusia .Selain mengandung anti-IgG dan anti-C4d.Anti bodi yang mempunyai arti klinis yang terpenting adalah dari AHG yang mendeteksi adanya IgG. Reagen ini disiapkan dan distandarisasi untuk mendeteksi berbagai macam IgG antibodi. Aktivitas Anti-C3d sangat penting artinya untuk pemeriksaan DCT pada pemeriksaan AIHA karena kemungkinan C3d merupakan globulin satu-satunya yang dapat dideteksi pada sel darah merah penderita AIHA.(Anonim,2011)

VI.

Alat-alat dan bahan: Alat : Blood grouping plate Tabung reaksi dan raknya Sentrifuge Pipet Pastur Botol semprot

Bahan : Suspensi sel 5% Coombs serum Larutan NaCl 0,9 % Anti-A Anti-B Anti-D Bovine albumin 32%
41

Sel A 10% Sel B 10% Sel O 10% Sel O Antisera Anti D Bovine Albumin

VII.

Prosedur Kerja :

A. Pemeriksaan Direct Antiglobulin Test 1. Disiapkan alat dan bahan. 2. Disiapkan 2 buah tabung reaksi kemudian pada masing-masing tabung diisi dengan 1 tetes suspensi sel 5% dan ditambahkan NaCl 0,9%. 3. Dicuci sel tersebut sebanyak 3kali dengan kecepatan 3000 rpm selama 1 menit. 4. Setelah selesai pencucian pada tabung 1 ditambahkan dengan 2 tetes Coombs serum dan pada tabung 2 ditambah dengan 2 tetes larutan NaCl 0,9%. 5. Dikocok kedua tabung dan disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 1 menit. 6. Dibaca reaksinya.

B. Test Validasi reagen anti-A, anti-B, anti-D : Reagen anti-A Identitas anti-A 2 tetes anti-A + 1 tetes 2 tetes anti-A + 1 tetes 2 tetes anti-A + 1 tetes suspensi sel A 10% suspensi sel B 10% suspensi sel O 10%

Goyang plate kedepan dan belakang hingga tercampur rata

Reagen anti-B Identitas anti-B 2 tetes anti-B + 1 tetes suspensi sel A 10% 2 tetes anti-B + 1 tetes suspensi sel B 10% 2 tetes anti-B + 1 tetes suspensi sel O 10%

Goyang plate kedepan dan belakang hingga tercampur rata

42

Reagen anti-D Identitas anti-D IgM


2 tetes anti-D Igm + 1 tetes suspensi sel A 10 % 2 tetes anti-D Igm + 1 tetes suspensi sel B 10 % 2 tetes BA 22% + 1 tetes suspensi sel A 10 % 2 tetes BA 22 % + 1 tetes suspensi sel A 10 %

Goyang plate kedepan dan belakang hingga tercampur rata

C. Test Validasi Reagen Bovin Albumin 22% dan anti human globulin Validasi Bovin Albumin 22% 1 tetes suspensi sel A 5% + 2 tetes BA 22% 1 tetes suspensi sel B 5% + 2 tetes BA 22% 1 tetes suspensi sel O 5% + 2 tetes BA 22%

Kocok agar homogen, kemudian inkubasi pada suhu 37oC. Putar 3000 rpm selama 15 detik kemudian baca reaksi Validasi Antihuman globulin Cuci 3 kali dengan menggunakan salin kemudian reaksi dilanjutkan dengan menambahkan ke dalam masing masing tabung 2 tetes anti human globulin. Kocok perlahan lahan, kemudian putar 3000 rpm selama 15 detik kemudian baca reaksi Coombs Control Cell (CCC)
Kontrol semua tabung bila hasil pemeriksaan negatif dengan CCC. Tambahkan ke dalam masing masing tabung dengan 1 tetes CCC Kocok perlahan lahan, kemudian putar 3000 rpm selama 15 detik kemudian baca reaksi

VIII.

Hasil pengamatan : Hasil (+) = menggumpal atau terjadi reaksi aglutinasi Hasil (-) = Tidak menggumpal atau tidak terjadi reaksi aglutinasi

Sampel sel darah pasien Direct Antiglobulin test : Makroskopis : tabung I = negatif ditandai dengan tidak terdapatnya gumpalan Tabung II = negatif ditandai dengan tidak terdapatnya gumpalan Mikroskopis : tabung I = negatif ditandai dengan tidak terdapatnya aglutinasi Tabung II = negatif ditandai dengan tidak terdapatnya aglutinasi Uji validasi dengan CCC = Positif ditandai dengan terdapatnya gumpalan.
43

Lembar kerja Test Validasi Reagen Anti-A, Anti-B, Anti-D Reagen anti-A Identitas anti-A 2 tetes anti-A + 1 tetes 2 tetes anti-A + 1 tetes 2 tetes anti-A + 1 tetes suspensi sel A 10% suspensi sel B 10% suspensi sel O 10%

Goyang plate kedepan dan belakang hingga tercampur rata Hasil Reaksi + -

Reagen anti-B Identitas anti-B 2 tetes anti-B + 1 tetes suspensi sel A 10% 2 tetes anti-B + 1 tetes suspensi sel B 10% 2 tetes anti-B + 1 tetes suspensi sel O 10%

Goyang plate kedepan dan belakang hingga tercampur rata Hasil Reaksi + -

Reagen anti-D Identitas anti-D IgM


2 tetes anti-D Igm + 1 tetes suspensi sel A 10 % 2 tetes anti-D Igm + 1 tetes suspensi sel B 10 % 2 tetes BA 22% + 1 tetes suspensi sel A 10 % 2 tetes BA 22 % + 1 tetes suspensi sel A 10 %

Goyang plate kedepan dan belakang hingga tercampur rata Hasil Reaksi + + -

Hasil Validasi Anti-A Anti-B Anti-D Bovine Albumin : valid/tidak valid : valid/tidak valid : valid/tidak valid : valid/tidak valid No Lot/Exp Anti-A No Lot/Exp Anti-B No Lot/Exp Anti-D No Lot/Exp BA Test Cell Standar A 10% Test Cell Standar B 10% Test Cell Standar O 10% : : : : : : :

Tanggal Pemeriksa Nama Pemeriksa

: : Dicek Oleh :

44

Lembar kerja Test Validasi Reagen Bovine Albumin 22% dan Anti Human Globulin Validasi Bovin Albumin 22% 1 tetes suspensi sel A 5% + 2 tetes BA 22% 1 tetes suspensi sel B 5% + 2 tetes BA 22% 1 tetes suspensi sel O 5% + 2 tetes BA 22%

Kocok agar homogen, kemudian inkubasi pada suhu 37oC. Putar 3000 rpm selama 15 detik kemudian baca reaksi Hasil Pemeriksaan Validasi Antihuman globulin + + +

Cuci 3 kali dengan menggunakan salin kemudian reaksi dilanjutkan dengan menambahkan ke dalam masing masing tabung 2 tetes anti human globulin. Kocok perlahan lahan, kemudian putar 3000 rpm selama 15 detik kemudian baca reaksi

Hasil Pemeriksaan

Coombs Control Cell (CCC)


Kontrol semua tabung bila hasil pemeriksaan negatif dengan CCC. Tambahkan ke dalam masing masing tabung dengan 1 tetes CCC Kocok perlahan lahan, kemudian putar 3000 rpm selama 15 detik kemudian baca reaksi

Hasil Pemeriksaan

Hasil Validasi BA 22% Anti Human Globulin : valid/tidak valid : valid/tidak valid No Lot/Exp BA No Lot/Exp AHG : :

Test Cell Standar A 5% : Test Cell Standar B 5% : Test Cell Standar O 5% : Coombs Control Cell :

Tanggal Pemeriksa Nama Pemeriksa

: : Dicek Oleh :

Keterangan : Untuk test validasi AHG hanya dengan dapat dilanjutkan, bila hasil Bovine Albumin 22% baik/valid

45

IX.

Pembahasan : Transfusi darah merupakan tindakan medis yang beresiko, karena itu pengelolaannya harus profesional dan sesuai standar. Melakukan transfusi bukannya tanpa resiko. Pasien dapat tertular penyakit infeksi yang mungkin terdapat pada darah donor, karena itu darah yang akan digunakan untuk transfusi haruslah aman. Darah aman apabila disumbangkan oleh donor yang sehat melalui seleksi donor yang seksama, Bebas dari agent yang dapat membahayakan pasien, Ditransfusikan hanya jika dibutuhkan dan ditujukan untuk kesehatan dan kebaikan pasien. Keamanan darah adalah dari vena ke vena Antihuman globulin test suatu tes in vitro untuk menetapkan ada atau tidaknya eritrosit yang coated oleh antibodi. Coombs serum atau antihuman globulin serum, sesuai dengan namanya akan bereaksi dengan globulin manusia (human globulin). antihuman globulin (AHG) yang diperoleh dari immunized nonhuman species berikatan dengan IgG atau komplemen yang bebas pada serum atau yang melekat pada antigen sel darah merah. Direct Coombs Test bertujuan untuk mendeteksi sel darah merah yang tersensitisasi dengan antibodi / komplemen in vivo (dalam tubuh pasien ). Kegunaan : pada kasus AIHA ( Auto Immune Hemolytic Anemia), Drug induced hemolysis, HDN ( Hemolytic Disease of the Newborn), Alloimmunisasi akibat transfusi / hemolytic

transfusion reaction (HTR). Prinsipnya yaitu antigen yang sudah coated dengan antibodi in vivo ditambahkan dengan anti human globulin akan menghasilkan aglutinasi. Metoda yang digunakan adalah metode aglutinasi langsung. Sampel yang digunakan sampel darah dengan antikoagulan lebih disukai karena mudah mendapatkan sel bebas, mencegah sensitisasi invitro oleh komplemen. Reagensia yang digunakan yaitu Antihuman globulin (coombs serum), anti-IgG, anti-C3d, saline, dan CCC. Pada praktikum kali ini menggunakan sel darah merah pasien, didapatkan hasil negatif ditandai dengan tidak adanya aglutinasi, ini menunjukkan tidak ada antibodi yang menempel pada sel darah merah. Pencucian dengan salin volume 20 kali, min 3 kali untuk membersihkan sisa antibodi yang dapat menetralisasi serum antihuman globulin sehingga dapat menimbulkan reaksi negatif palsu.

46

Karena hasil direct coomb test menghasilkan hasil negatif, maka perlu dilakukan uji validasi dengan menggunakan CCC. Coombs Control Cell merupakan eritrosit normal (O Rh+) yang sengaja dibuat coated dengan incomplete antibodi. Dibuat sedemikian rupa coatednya dan memberikan hasil 1+ sampai 2+ bila CCC direaksikan dengan Coombs serum yang dipakai sehingga pada uji validasi dengan CCC harus didapatkan hasil positif aglutinasi jika didapatkan hasil negatif berarti coomb serum tidak valid dan serta tes dianggap invalid. Pada praktikum ini, uji validasi menggunakan CCC didapatkan hasil positif aglutinasi sehingga test yang dilakukan valid.

X.

Kesimpulan : Dari praktikum uji saring menggunakan sampel serum wita dapat disimpulkan : Direct Coombs Test menghasilkan hasil negatif ditandai dengan tidak terdapatnya aglutinasi Uji validasi menggunakan CCC menghasilkan hasil positif aglutinasi sehingga test direct coombs test dinyatakan valid Dari praktikum test validasi reagen dapat disimpulkan : Reagen valid dan dapat digunakan dengan baik

XI.

Daftar pustaka : Pearce C,Evelyn. 1999. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia Slide Materi mata kuliah transfusi darah dengan judul 4 KP COOMB'S TEST POLTEKES 09022011 oleh dr. Tjok. Gede Oka, MS, SpPK Slide Materi mata kuliah transfusi darah dengan judul antiglobulin test oleh dr. Sianny Herawati, SpPK

47

Mata Kuliah Materi Praktikum Tanggal/Waktu Tempat Pembimbing

: Transfusi Darah : Uji Saring (HbsAg test dan sifilis Test) : 18 Mei 2011 / 14.30 WITA : Laboratorium Poltekkes Denpasar : I Gede Putu Sudana Ni Made Darmasih Gusti Ayu ngurah Wardhani

I.

Judul : Uji Saring (HbsAg test dan sifilis Test) Tujuan: Untuk mengetahui apakah di dalam darah donor terdapat penyakit infeksi berbahaya yang dapat menular pada saat darah ditransfusi untuk mendapatkan darah yang betul-betul aman bagi pengguna darah (orang sakit).

II.

III.

Metode : Pada praktikum ini,pada pemeriksaan HbsAg menggunakan metode rapid test (immunoassay) dan pada pemeriksaan sifilis menggunakan metode slide aglutinasi

IV.

Prinsip : Pemeriksaan Sifilis

Reagen yang digunakan adalah VDRL Carbon Antigen. Jika didalam darah donor terdapat antibodi terhadap sifilis maka antigen dan antibodi akan bereaksi membentuk aglutinasi atau pengendapan. Pemeriksaan HbsAG

Sampel serum direaksikan dengan antigen pada strip dan diinkubasi selama 10 menit. Hasil garis (+) ditunjukkan dengan munculnya dua garis merah pada area T & C, sedangkan nilai negative ditunjukkan dengan unculnya satu garis merah pada area C, dan hasil invalid apabila garis pada control C tidak terlihat.

48

V.

Dasar teori : Serum Di dalam darah, serum (bahasa Inggris: blood serum) adalah komponen yang bukan berupa sel darah, juga bukan faktor koagulasi; serum adalah plasma darah tanpa fibrinogen, (bahasa Latin: serum) berarti bagian tetap cair dari susu yang membeku pada proses pembuatan keju. Serum terdiri dari semua protein (yang tidak digunakan untuk pembekuan darah) termasuk cairan elektrolit, antibodi, antigen, hormon, dan semua substansi exogenous. Rumusan umum yaitu: serum = plasma - fibrinogen - protein faktor koagulasi. Studi yang mempelajari serum disebut serologi. Serum digunakan dalam berbagai uji diagnostik termasuk untuk menentukan golongan darah. Hepatitis B Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB), anggota famili Hepadnavirusyang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati. Pengobatan hepatitis B semakin lama semakin dikembangkan oleh berbagai Negara dan menjadi salah satu perhatian badan kesehatan dunia WHO. Penyebab Hepatitis ternyata bukan hanya semata-mata virus. Keracunan obat, dan paparan berbagai macam zat kimia seperti karbon tetraklorida, chlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat lain yang digunakan sebagai obat dalam industri modern, bisa juga menyebabkan Hepatitis. Zat-zat kimia ini mungkin saja tertelan, terhirup atau diserap melalui kulit penderita. Menetralkan racun yang beredar di dalam darah adalah pekerjaan hati. Jika banyak sekali zat kimia beracun yang masuk ke dalam tubuh, hati bisa saja rusak sehingga tidak dapat lagi menetralkan racun-racun lain. Virus Hepatitis B mengganggu fungsi hati dan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh, yang menghasilkan reaksi spesifik untuk memerangi virus. Sebagai konsekuensi dari kerusakan patologis, hati menjadi meradang. Sebagian kecil orang yang terinfeksi tidak dapat menyingkirkan virus dan menjadi infeksi kronis. Jika ada orang yang sedang menjalani pengobatan hepatitis B dalam keadaan seperti ini, patut diwaspadai karena orang-orang ini berisiko tinggi kematian akibat sirosis hati dan kanker hati.

49

Sifilis Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri spiroseta, Treponema pallidum. Penularan biasanya melalui kontak seksual, tetapi ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus). Gejala dan tanda dari sifilis banyak dan berlainan; sebelum perkembangan tes serologikal, diagnosis sulit dilakukan dan penyakit ini sering disebut "Peniru Besar" karena sering dikira penyakit lainnya. Bila tidak terawat, sifilis dapat menyebabkan efek serius seperti kerusakan sistem saraf, jantung, atau otak. Sifilis yang tak terawat dapat berakibat fatal. Orang yang memiliki kemungkinan terkena sifilis atau menemukan pasangan seks yang mungkin terkena sifilis dianjurkan untuk segera menemui dokter secepat mungkin. Sifilis dapat mempertinggi risiko terinfeksi HIV. Hal ini dikarenakan oleh lebih mudahnya virus HIV masuk ke dalam tubuh seseorang bila terdapat luka. Sifilis yang diderita juga akan sangat membahayakan kesehatan seseorang bila tidak diobati. Baik pada penderita lelaki maupun wanita, spirochaeta dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan rusaknya organ-organ vital yang sebagian besar tidak dapat dipulihkan. Sifilis pada ibu hamil yang tidak diobati, juga dapat menyebabkan terjadinya cacat lahir primer pada bayi yang ia kandung.

VI.

Alat-alat dan bahan: Alat : Serological centrifuge Pipet pasteur Mikropipet Yellow Tip HbsAg Kit Sifilis Diagnostic Kit

50

VII.

Prosedur Kerja : Pemisahan Plasma/Serum dari sel darah : 1. Dimasukkan darah kedalam tabung yang telah diberi tanda sesuai dengan sampel 2. diputar/disentrifugasi dengan kecepatan 3000rpm selama 3 menit 3. Pisahkan serum/plasma yang jernih dari sel darah merah dgn pipet pasteur kedalam tabung lain yg sudah diberi tanda sesuai dengan sampel

Pemeriksaan HbsAg ACON 1. Biarkan reagen pada suhu kamar 2. Masukkan 100 L sampel serum pada tabung reaksi 3. Inkubasi strip (arah tanda panah kebawah) pada sampel serum, sebatas garis dibawah tanda panah selama 10 menit 4. Baca hasil (Pembacaan hasil lebih dari 10 menit dianggap invalid)

Pemeriksaan Sifilis : 1. Siapkan test card pemeriksaan 2. Beri nomor dan tuliskan pada test card 3. 1 sampel memerlukan 1 tempat pada test card 4. Tambahkan 1 tetes (0,05 mL) bahan yang akan diperiksa dalam satu bulatan pada test card 5. Tambahkan 1 tetes (0,05 mL) kontrol positif pada bulatan lain 6. Tambahkan 1 tetes (0,05 mL) kontrol negatif pada bulatan lainnya 7. Lebarkan sampel dengan mengolesnya secara merata pada masing masing bulatan menggunakan lidi pengaduk yang berlainan 8. Getarkan test card agar antigen bercampur merata 9. Tambahkan 1 tetes reagen pada masing masing bulatan dalam test card dengan menggunakan pipet yang tersedia dalam kit 10. Goyangkan selama 8 menit 11. Baca hasil dalam waktu 3 menit

51

VIII.

Hasil pengamatan : Sampel serum pasien Pemeriksaan HbsAg : muncul satu garis pada area kontrol (Non Reaktif)

Pemeriksaan Sifilis : tidak terdapat pengendapan (negatif)

IX.

Pembahasan : Transfusi darah merupakan tindakan medis yang beresiko, karena itu pengelolaannya harus profesional dan sesuai standar. Melakukan transfusi bukannya tanpa resiko. Pasien dapat tertular penyakit infeksi yang mungkin terdapat pada darah donor, karena itu darah yang akan digunakan untuk transfusi haruslah aman. Darah aman apabila disumbangkan oleh donor yang sehat melalui seleksi donor yang seksama, Bebas dari agent yang dapat membahayakan pasien, Ditransfusikan hanya jika dibutuhkan dan ditujukan untuk kesehatan dan kebaikan pasien. Keamanan darah adalah dari vena ke vena Untuk mendapatkan darah yang aman, perlu dilakukan uji saring terhadap darah yang akan di donorkan. Uji saring terdiri dari uji infeksi terhadap Sifilis, HBsAg, AntiHIV dan Anti-HCV. Uji saring dilakukan sekali dan darah yang reaktif tidak boleh digunakan sama sekali. Selain itu reagen yang digunakan pada uji saring juga harus memenuhi persyaratan. Persayaratan reagensia : Sensitifitas >99% dan spesifisitas > 98% (Ditlabkes 2005), Reagen sudah dievaluasi LRN / UTDP PMI, Reagen mempunyai kontrol internal Dan Sudah disosialisasikan dan dilatihkan

52

Praktikum uji saring kali ini menggunakan sampel pasien. Pada Pemeriksaan HbsAg muncul satu garis pada area kontrol (Non Reaktif) ini menunjukkan bahwa darah tidak mengandung virus Hepatitis B atau non reaktif sehingga lulus uji saring HbsAg. Pada Pemeriksaan Sifilis tidak terdapat pengendapan (negatif) ini menunjukkan bahwa darah tidak mengandung sifilis atau negatif sifilis sehingga lulus uji saring sifilis. Darah donor melewati semua uji saring dengan hasil negatif dan non reaktif, berarti darah donor aman digunakan untuk transfusi karena tidak mengandung virus infektif yang dapat membahakan pasien.

X.

Kesimpulan : Dari praktikum uji saring menggunakan sampel serum wita dapat disimpulkan : Pemeriksaan HbsAg didapat hasil Non Reaktif Pemeriksaan Sifilis didapat hasil negatif

XI.

Daftar pustaka : http://id.wikipedia.org/wiki/Serum_darah http://id.wikipedia.org/wiki/Plasma_darah Pearce C,Evelyn. 1999. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia http://turunberatbadan.com/800/penularan-hepatitis-b-pengobatan-dan-cara-melindungidiri/ http://id.wikipedia.org/wiki/Sifilis http://poenyaqoe.wordpress.com/2007/06/26/ciri-ciri-sifilis/

53

Mata Kuliah Materi Praktikum Tempat Tanggal/Waktu Pembimbing

: Transfusi Darah : Uji Saring (anti HIV test, anti HCV test, HbsAg test, sifilis Test) : Laboratorium Poltekkes Denpasar : 25 Mei 2011 / 14.30 WITA : I Gede Putu Sudana Ni Made Darmasih Gusti Ayu ngurah Wardhani

I.

Judul : Uji Saring (anti HIV test, anti HCV test, HbsAg test, sifilis Test) Tujuan: Untuk mengetahui apakah di dalam darah donor terdapat penyakit infeksi berbahaya yang dapat menular pada saat darah ditransfusi untuk mendapatkan darah yang betul-betul aman bagi pengguna darah (orang sakit).

II.

III.

Metode : Pada praktikum ini,pada pemeriksaan anti HIV, anti HCV dan HbsAg menggunakan metode rapid test (immunoassay) dan pada pemeriksaan sifilis menggunakan metode slide aglutinasi

IV.

Prinsip : Pemeriksaan Anti HIV

Anti HIV tri line test intec dapat mendeteksi semua isotype (IgG,IgM,IgA) yang spesifik terhadap HIV1 termasuk subtype O dan HIV 2 secara bersamaan. Test terdiri dari 2 garis test dan 1 garis kontrol. Garis Test T1 mengandung rekombinan gp41, p24 dan gp120. Kebanyakan sampel yang reaktif terhadap HIV1 atau HIV2 akan bereaksi positif pada garis T1 tersebut. Garis T2 mengandung rekombinan gp36 yang spesifik terhadap HIV2. Garis kontrol merupakan kontrol terhadap prosedur kerja yang telah dilakukan dan sekaligus sebagai kontrol terhadap Colloidal Gold Conjugate. Pemeriksaan anti HCV

Sampel dan reagen akan melewati membran yang telah dilewati oleh antigen HCV yang dilemahkan pada membran immunofiltrasi. Bila dalam sampel terdapat anti HCV maka
54

antigen dan antibodi akan berikatan. Pada pencucian protein yang tidak terikat akan dilepaskan. Dengan penambahan Protein A Conjugate akan terbentuk bulatan berwarna ungu kemerahan dengan membran berwarna putih. Bila di dalam sampel terdapat anti HCV, maka akan terbentuk bulatan berwarna ungu kemerahan pada daerah T1, T2, atau keduanya. Pemeriksaan Sifilis

Reagen yang digunakan adalah VDRL Carbon Antigen. Jika didalam darah donor terdapat antibodi terhadap sifilis maka antigen dan antibodi akan bereaksi membentuk aglutinasi atau pengendapan. Pemeriksaan HbsAG

Sampel serum direaksikan dengan antigen pada strip dan diinkubasi selama 10 menit. Hasil garis (+) ditunjukkan dengan munculnya dua garis merah pada area T & C, sedangkan nilai negative ditunjukkan dengan unculnya satu garis merah pada area C, dan hasil invalid apabila garis pada control C tidak terlihat.

V.

Dasar teori : Serum Di dalam darah, serum (bahasa Inggris: blood serum) adalah komponen yang bukan berupa sel darah, juga bukan faktor koagulasi; serum adalah plasma darah tanpa fibrinogen, (bahasa Latin: serum) berarti bagian tetap cair dari susu yang membeku pada proses pembuatan keju. Serum terdiri dari semua protein (yang tidak digunakan untuk pembekuan darah) termasuk cairan elektrolit, antibodi, antigen, hormon, dan semua substansi exogenous. Rumusan umum yaitu: serum = plasma - fibrinogen - protein faktor koagulasi. Studi yang mempelajari serum disebut serologi. Serum digunakan dalam berbagai uji diagnostik termasuk untuk menentukan golongan darah. HIV HIV (human immunodeficiency virus) adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan dapat menyebabkan sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan

55

infeksi. Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun. HIV adalah anggota dari genus lentivirus, bagian dari keluarga retroviridae yang ditandai dengan periode latensi yang panjang dan sebuah sampul lipid dari sel-host awal yang mengelilingi sebuah pusat protein/RNA. Dua spesies HIV menginfeksi manusia: HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 adalah yang lebih virulen dan lebih mudah menular, dan merupakan sumber dari kebanyakan infeksi HIV di seluruh dunia; HIV-2 kebanyakan masih terkurung di Afrika barat. Kedua spesies berawal di Afrika barat dan tengah, melompat dari primata ke manusia dalam sebuah proses yang dikenal sebagai zoonosis. HIV-1 telah berevolusi dari sebuah simian immunodeficiency virus (SIVcpz) yang ditemukan dalam subspesies simpanse, Pan troglodyte troglodyte. HIV-2 merupakan spesies dari sebuah strain SIV yang berbeda, ditemukan dalam sooty mangabeys, monyet dunia lama Guinea-Bissau. HIV dapat ditularkan melalui injeksi langsung ke aliran darah, serta kontak membran mukosa atau jaringan yang terlukan dengan cairan tubuh tertentu yang berasal dari penderita HIV. Cairan tertentu itu meliputi darah, semen, sekresi vagina, dan ASI. Beberapa jalur penularan HIV yang telah diketahui adalah melalui hubungan seksual, dari ibu ke anak (perinatal), penggunaan obat-obatan intravena, transfusi dan transplantasi, serta paparan pekerjaan. Cara efektif lain untuk penyebaran virus ini adalah melalui penggunaan jarum atau alat suntik yang terkontaminasi, terutama di negara-negara yang kesulitan dalam sterilisasi alat kesehatan. Bagi pengguna obat intravena (dimasukkan melalui pembuluh darah), HIV dapat dicegah dengan menggunakan jarum dan alat suntik yang bersih. Penularan HIV melalui transplantasi dan transfusi hanya menjadi penyebab sebagian kecil kasus HIV di dunia (3-5%). Hal ini pun dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan produk darah dan transplan sebelum didonorkan dan menghindari donor yang memiliki resiko tinggi terinfeksi HIV. Penularan dari pasien ke petugas kesehatan yang merawatnya juga sangat jarang terjadi (< 0.0001% dari keseluruhan kasus di dunia). Hal ini dicegah dengan memeberikan pengajaran atau edukasi kepada petugas kesehatan, pemakaian pakaian pelindung, sarung tangan, dan pembuangan alat dan bahan yang telah terkontaminasi sesuai dengan prosedur.
56

Hepatitis C Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (HCV= Hepatitis C virus). Virus Hepatitis C masuk ke sel hati, menggunakan mesin genetik dalam sel untuk menduplikasi virus Hepatitis C, kemudian menginfeksi banyak sel lainnya. 15% dari kasus infeksi Hepatitis C adalah akut, artinya secara otomatis tubuh membersihkannya dan tidak ada konsekwensinya. Sayangnya 85% dari kasus, infeksi Hepatitis C menjadi kronis dan secara perlahan merusak hati bertahun-tahun. Dalam waktu tersebut, hati bisa rusak menjadi sirosis (pengerasan hati), stadium akhir penyakit hati dan kanker hati. Hepatitis berarti pembengkakan pada hati.Banyak macam dari virus Hepatitis C. Dalam banyak kasus, virus yang masuk ke dalam tubuh, mulai hidup di dalam sel hati, mengganggu aktivitas normal dari sel tersebut, lalu menggunakan mesin genetik dalam sel untuk menduplikasi virus Hepatitis C kemudian menginfeksi sel lain yang sehat. Jika anda penderita Hepatitis C, sangat penting untuk mengkonsumsi makanan sehat dan menghindari alkohol. Alkohol akan memperparah kerusakan hati anda, baik anda dalam pengobatan ataupun tidak. Salah satu gejala umum dari Hepatitis C adalah kelelahan kronis. Kelelahan juga bisa sebagai efek samping pengobatan Hepatitis C. Rasa lelah akibat Hepatitis C dapat diatasi dengan istirahat cukup dan menjalankan olah raga yang rutin. Virus Hepatitis C sangat pandai merubah dirinya dengan cepat. Sekarang ini ada sekurang-kurangnya enam tipe utama dari virus Hepatitis C (yang sering disebut genotipe) dan lebih dari 50 subtipenya. Hal ini merupakan alasan mengapa tubuh tidak dapat melawan virus dengan efektif dan penelitian belum dapat membuat vaksin melawan virus Hepatitis C. Genotipe tidak menentukan seberapa parah dan seberapa cepat perkembangan penyakit Hepatitis C, akan tetapi genotipe tertentu mungkin tidak merespon sebaik yang lain dalam pengobatan. Penularan Hepatitis C biasanya melalui kontak langsung dengan darah atau produknya dan jarum atau alat tajam lainnya yang terkontaminasi. Dalam kegiatan seharihari banyak resiko terinfeksi Hepatitis C seperti berdarah karena terpotong atau mimisan,
57

atau darah menstruasi. Perlengkapan pribadi yang terkena kontak oleh penderita dapat menularkan virus Hepatitis C (seperti sikat gigi, alat cukur atau alat manicure). Resiko terinfeksi Hepatitis C melalui hubungan seksual lebih tinggi pada orang yang mempunyai lebih dari satu pasangan. Hepatitis B Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB), anggota famili Hepadnavirusyang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati. Pengobatan hepatitis B semakin lama semakin dikembangkan oleh berbagai Negara dan menjadi salah satu perhatian badan kesehatan dunia WHO. Penyebab Hepatitis ternyata bukan hanya semata-mata virus. Keracunan obat, dan paparan berbagai macam zat kimia seperti karbon tetraklorida, chlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat lain yang digunakan sebagai obat dalam industri modern, bisa juga menyebabkan Hepatitis. Zat-zat kimia ini mungkin saja tertelan, terhirup atau diserap melalui kulit penderita. Menetralkan racun yang beredar di dalam darah adalah pekerjaan hati. Jika banyak sekali zat kimia beracun yang masuk ke dalam tubuh, hati bisa saja rusak sehingga tidak dapat lagi menetralkan racun-racun lain. Virus Hepatitis B mengganggu fungsi hati dan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh, yang menghasilkan reaksi spesifik untuk memerangi virus. Sebagai konsekuensi dari kerusakan patologis, hati menjadi meradang. Sebagian kecil orang yang terinfeksi tidak dapat menyingkirkan virus dan menjadi infeksi kronis. Jika ada orang yang sedang menjalani pengobatan hepatitis B dalam keadaan seperti ini, patut diwaspadai karena orang-orang ini berisiko tinggi kematian akibat sirosis hati dan kanker hati. Sifilis Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri spiroseta, Treponema pallidum. Penularan biasanya melalui kontak seksual, tetapi ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus).

58

Gejala dan tanda dari sifilis banyak dan berlainan; sebelum perkembangan tes serologikal, diagnosis sulit dilakukan dan penyakit ini sering disebut "Peniru Besar" karena sering dikira penyakit lainnya. Bila tidak terawat, sifilis dapat menyebabkan efek serius seperti kerusakan sistem saraf, jantung, atau otak. Sifilis yang tak terawat dapat berakibat fatal. Orang yang memiliki kemungkinan terkena sifilis atau menemukan pasangan seks yang mungkin terkena sifilis dianjurkan untuk segera menemui dokter secepat mungkin. Sifilis dapat mempertinggi risiko terinfeksi HIV. Hal ini dikarenakan oleh lebih mudahnya virus HIV masuk ke dalam tubuh seseorang bila terdapat luka. Sifilis yang diderita juga akan sangat membahayakan kesehatan seseorang bila tidak diobati. Baik pada penderita lelaki maupun wanita, spirochaeta dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan rusaknya organ-organ vital yang sebagian besar tidak dapat dipulihkan. Sifilis pada ibu hamil yang tidak diobati, juga dapat menyebabkan terjadinya cacat lahir primer pada bayi yang ia kandung.

VI.

Alat-alat dan bahan: Alat : Serological centrifuge Pipet pasteur Mikropipet Yellow Tip Anti-HIV kit Anti-HCV kit HbsAg Kit Sifilis VDRL Carbon antigen Kit

VII.

Prosedur Kerja : Pemisahan Plasma/Serum dari sel darah : 4. Dimasukkan darah kedalam tabung yang telah diberi tanda sesuai dengan sampel 5. diputar/disentrifugasi dengan kecepatan 3000rpm selama 3 menit

59

6. Pisahkan serum/plasma yang jernih dari sel darah merah dgn pipet pasteur kedalam tabung lain yg sudah diberi tanda sesuai dengan sampel Pemeriksaan Anti HIV 1. Biarkan sampel dan reagen pada suhu kamar 2. Diteteskan 1 tetes sampel (300 L) dengan menggunakan dropper atau pipet yang tersedia 3. Dibiarkan meresap 4. Diteteskan satu tetes diluent 5. Dibaca hasil dalam 15 menit Pemeriksaan Anti HCV 1. Biarkan reagen dan sampel pada suhu kamar 2. Buka kemasan lalu diberi identitas sampel pada membran 3. Diteteskan 2 tetes buffer solution di tengah tengah membran, biarkan menyerap 4. Dengan menggunakan disposable dropper yang tersedia pada kit, diteteskan 1 tetes serum, biarkan menyerap 5. Tambahkan 2 tetes buffer solution, biarkan menyerap 6. Ditambahkan 1 tetes protein A Conjugate, biarkan menyerap 7. Ditambahkan 3 tetes buffer solution, biarkan menyerap 8. Baca hasil dengan segera

Pemeriksaan HbsAg ACON 5. Biarkan reagen pada suhu kamar 6. Buka kemasan lalu beri identitas sampel pada membran 7. Gunakan disposable dropper yang tersedia dalam kit 8. Teteskan serum / plasma sebatas tanda garis (100 L) kelubang sampel 9. Tunggu dan biarkan menyerap 10. Lalu baca hasil 15 dan 30 menit (jangan melebihi 30 menit)

Pemeriksaan Sifilis : 12. Siapkan test card pemeriksaan 13. Beri nomor dan tuliskan pada test card
60

14. 1 sampel memerlukan 1 tempat pada test card 15. Tambahkan 1 tetes (0,05 mL) bahan yang akan diperiksa dalam satu bulatan pada test card 16. Tambahkan 1 tetes (0,05 mL) kontrol positif pada bulatan lain 17. Tambahkan 1 tetes (0,05 mL) kontrol negatif pada bulatan lainnya 18. Lebarkan sampel dengan mengolesnya secara merata pada masing masing bulatan menggunakan lidi pengaduk yang berlainan 19. Getarkan test card agar antigen bercampur merata 20. Tambahkan 1 tetes reagen pada masing masing bulatan dalam test card dengan menggunakan pipet yang tersedia dalam kit 21. Goyangkan selama 8 menit 22. Baca hasil dalam waktu 3 menit

VIII.

Hasil pengamatan : Sampel serum pasien Nama : wita Sampel number : 506Y7425 Pemeriksaan anti-HIV : muncul satu garis pada area kontrol (Non Reaktif)

Pemeriksaan anti HCV : muncul satu bulatan pada area c (Non Reaktif)

Pemeriksaan HbsAg : muncul satu garis pada area kontrol (Non Reaktif)

61

Pemeriksaan Sifilis : tidak terdapat pengendapan (negatif)

IX.

Pembahasan : Transfusi darah merupakan tindakan medis yang beresiko, karena itu pengelolaannya harus profesional dan sesuai standar. Melakukan transfusi bukannya tanpa resiko. Pasien dapat tertular penyakit infeksi yang mungkin terdapat pada darah donor, karena itu darah yang akan digunakan untuk transfusi haruslah aman. Darah aman apabila disumbangkan oleh donor yang sehat melalui seleksi donor yang seksama, Bebas dari agent yang dapat membahayakan pasien, Ditransfusikan hanya jika dibutuhkan dan ditujukan untuk kesehatan dan kebaikan pasien. Keamanan darah adalah dari vena ke vena Untuk mendapatkan darah yang aman, perlu dilakukan uji saring terhadap darah yang akan di donorkan. Uji saring terdiri dari uji infeksi terhadap Sifilis, HBsAg, AntiHIV dan Anti-HCV. Uji saring dilakukan sekali dan darah yang reaktif tidak boleh digunakan sama sekali. Selain itu reagen yang digunakan pada uji saring juga harus memenuhi persyaratan. Persayaratan reagensia : Sensitifitas >99% dan spesifisitas > 98% (Ditlabkes 2005), Reagen sudah dievaluasi LRN / UTDP PMI, Reagen mempunyai kontrol internal Dan Sudah disosialisasikan dan dilatihkan Praktikum uji saring kali ini menggunakan sampel pasien bernama wita dengan Sampel number : 506Y7425. Pemeriksaan anti-HIV muncul satu garis pada area kontrol, ini menunjukkan bahwa darah tidak mengandung virus HIV atau non reaktif sehingga lulus uji saring anti-HIV. Pada Pemeriksaan anti HCV hanya muncul satu bulatan pada area c (Non Reaktif) ini menunjukkan bahwa darah tidak mengandung virus Hepatitis C atau non reaktif sehingga lulus uji saring anti-HCV. Pada Pemeriksaan HbsAg muncul satu garis pada area kontrol (Non Reaktif) ini menunjukkan bahwa darah tidak mengandung virus Hepatitis B atau non reaktif sehingga lulus uji saring HbsAg. Pada
62

Pemeriksaan Sifilis tidak terdapat pengendapan (negatif) ini menunjukkan bahwa darah tidak mengandung sifilis atau negatif sifilis sehingga lulus uji saring sifilis. Darah donor melewati semua uji saring dengan hasil negatif dan non reaktif, berarti darah donor aman digunakan untuk transfusi karena tidak mengandung virus infektif yang dapat membahakan pasien.

X.

Kesimpulan : Dari praktikum uji saring menggunakan sampel serum wita dapat disimpulkan : Pemeriksaan anti-HIV didapat hasil Non Reaktif Pemeriksaan anti HCV didapat hasil Non Reaktif Pemeriksaan HbsAg didapat hasil Non Reaktif Pemeriksaan Sifilis didapat hasil negatif

XI.

Daftar pustaka : http://id.wikipedia.org/wiki/Serum_darah http://id.wikipedia.org/wiki/Plasma_darah Pearce C,Evelyn. 1999. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia http://id.wikipedia.org/wiki/HIV http://medicastore.com/hepatitis_c/infeksi_hepatitis.htm http://turunberatbadan.com/800/penularan-hepatitis-b-pengobatan-dan-cara-melindungidiri/ http://id.wikipedia.org/wiki/Sifilis http://poenyaqoe.wordpress.com/2007/06/26/ciri-ciri-sifilis/

63