P. 1
Dampak Investasi Air Minum terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan di DKI Jakarta

Dampak Investasi Air Minum terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan di DKI Jakarta

|Views: 72|Likes:

merupakan disertasi OSwar Mungkasa di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 2006

merupakan disertasi OSwar Mungkasa di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 2006

More info:

Categories:Types, Research
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2013

pdf

text

original

DAMPAK INVESTASI AIR MINUM TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN DI DKI JAKARTA

OLEH OSWAR MUADZIN MUNGKASA 860 0000 067

PROGRAM STUDI ILMU EKONOMI PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2006

DAMPAK INVESTASI AIR MINUM TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN DI DKI JAKARTA

OLEH

OSWAR MUADZIN MUNGKASA 860 0000 067

DISERTASI
Diajukan sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Doktor dalam bidang Ilmu Ekonomi pada Program Studi Ilmu Ekonomi Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

DEPOK 2006

PERSETUJUAN DISERTASI

Nama N.P.M. Kekhususan Judul Disertasi

: : : :

OSWAR MUADZIN MUNGKASA 860 0000 067 Ekonomi Publik DAMPAK INVESTASI AIR MINUM TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN DI DKI JAKARTA

Depok, 15 Agustus 2006 Promotor, Ketua tim penguji,

Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto Kopromotor,

Prof. Dr. Moh. Arief Djanin Penguji,

Dr. Mohamad Ikhsan

Dr. B. Raksaka Mahi

Dr. Montty Girianna

Dr. Arindra A. Zainal

Ketua Program Studi,

Dr. Luky Alfirman

Dr. Arindra A. Zainal

ABSTRAK DISERTASI DAMPAK INVESTASI AIR MINUM TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN DI DKI JAKARTA OSWAR MUNGKASA 860 0000 067 Program Studi Ilmu Ekonomi Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Klasifikasi JEL : C68, D31, D58, E22, E62 Kata Kunci: 1. Investasi air minum 2. Pertumbuhan ekonomi 3. Distribusi pendapatan

4. Pertumbuhan pro poor 5. DKI Jakarta 6. Computable General Equilibrium

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan yang terkait dengan penyediaan air minum bagi penduduk miskin di perkotaan dengan mengambil kasus DKI Jakarta. Pemerintah belum mampu menyediakan prasarana dan sarana pelayanan publik yang memadai, diantaranya, dalam bentuk pelayanan kebutuhan air minum. Pemenuhan kebutuhan air minum penduduk melalui air minum perpipaan khususnya penduduk miskin perkotaan, ditengarai dapat mengurangi beban pengeluaran air minum, beban pengeluaran bagi biaya pengobatan akibat penggunaan air minum yang tidak layak, dan mengurangi jumlah hari nonproduktif. Kondisi ini akan mendorong peningkatan produktivitas dan tabungan rumah tangga miskin yang mengarah pada meningkatnya pendapatan per kapita dan membaiknya kesenjangan pendapatan, yang akhirnya berdampak pada peningkatan kondisi perekonomian secara keseluruhan. Investasi air minum, baik secara teoritis maupun secara empiris, terbukti mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, pemenuhan kebutuhan air minum penduduk perkotaan, khususnya penduduk miskin, dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk yang berdampak pada perbaikan distribusi pendapatan. Kombinasi dari investasi air minum dan pemenuhan kebutuhan air minum penduduk miskin perkotaan akan menghasilkan pertumbuhan pro-poor, yaitu pertumbuhan

iii

ekonomi yang dapat mengurangi kesenjangan pendapatan dan kemiskinan. Dikaitkan dengan kondisi DKI Jakarta, investasi air minum yang bersifat pro poor merupakan suatu keniscayaan, dengan berbagai pertimbangan diantaranya (i) tingkat urbanisasi yang masih tinggi, dan (ii) proporsi penduduk yang belum mendapat akses air minum perpipaan masih cukup tinggi. Oleh karena itu, pertanyaan yang mengemuka adalah (i) apakah investasi air minum perpipaan di DKI Jakarta telah memicu pertumbuhan ekonomi yang bersifat pro-poor, (ii) apakah investasi air minum nonperpipaan di DKI Jakarta memicu pertumbuhan ekonomi pro-poor; (iii) apakah subsidi pemerintah dalam penyediaan air minum di DKI Jakarta memicu pertumbuhan ekonomi pro-poor. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, disertasi ini menggunakan model komputasi keseimbangan umum (Computable General Equilibrium/CGE) atau disingkat model CGE. Model CGE adalah suatu sistem persamaan simultan tak-linier yang mensimulasikan perilaku optimal dari semua konsumen dan produsen yang ada di dalam suatu perekonomian. Tiga skenario simulasi diterapkan dalam studi ini dengan menggunakan data SNSE DKI Jakarta Tahun 2000 untuk mengetahui skenario pembangunan air minum yang dapat mengarah pada pertumbuhan pro-poor, yaitu (i) simulasi investasi berupa peningkatan investasi air minum perpipaan dan air minum nonperpipaan, (ii) simulasi subsidi berupa penyediaan subsidi air minum bagi rumah tangga miskin yang bersumber dari peningkatan pajak air minum perpipaan maupun pemerintah pusat, (iii) simulasi investasi dan subsidi berupa peningkatan investasi air minum perpipaan yang disertai penyediaan subsidi air minum bagi rumah tangga miskin, baik dari peningkatan pajak air minum perpipaan maupun pemerintah pusat. Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan investasi air minum di DKI Jakarta berdampak pada pertumbuhan ekonomi tetapi tidak berpengaruh pada pengurangan kesenjangan, yang berarti pembangunan air minum di DKI Jakarta belum bersifat pro poor. Selain itu, agar terjadi pertumbuhan pro poor, investasi air minum perpipaan sebaiknya disertai dengan penyediaan subsidi dari pemerintah pusat. Semakin besar nilai investasi, semakin besar subsidi yang perlu diberikan.

iv

Beberapa rekomendasi penting, yaitu (i) pemerintah daerah sebaiknya menjadikan akses air minum bagi penduduk miskin sebagai salah satu target dan indikator keberhasilan pembangunan DKI Jakarta, (ii) penyediaan subsidi bagi rumah tangga miskin masih diperlukan jika proporsi rumah tangga miskin yang belum mendapat akses air minum perpipaan masih relatif besar. Sumber dana subsidi yang potensil diantaranya adalah dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan (iii) mengembangkan program pembangunan air minum berbasis

masyarakat, (iv) air minum nonperpipaan masih dapat menjadi alternatif sumber air minum jika dilakukan pembenahan aspek regulasi, penyediaan sumber dana investasi, dan peningkatan jumlah sumber air seperti kran umum sehingga harga air minum nonperpipaan menjadi terjangkau, dan (v) pembenahan kendala akses bagi rumah tangga miskin seperti biaya pemasangan yang terjangkau.

Background of this study is the existence of a number of problems in relation to provision of drinking water for poor people in urban area by taking case of the Jakarta Special Territory Administration (DKI Jakarta). Government is not yet able to provide proper public service facilities and infrastructures, among others are in the form service of drinking water need. Fulfillment of drinking water need for people through piped water especially poor people in urban area, is assumed to reduce drinking water expenses burden, medication costs are resulted from the use of unreasonable drinking water, and minimizing the number of non-productive days. This condition will boost productivity and poor family saving directing to the rise of income per capita and improving gap of income which finally produced impact on improvement of economic condition entirely. Investment on drinking water, either theoretically or empirically, is proven to encourage the economic growth. Meanwhile, fulfillment of drinking water need for people in urban area, especially poor people, can increase the people welfare that may result on improvement of income distribution. Combination between drinking water investment and fulfillment of drinking water need for poor people in urban area will produce a pro-poor growth that is the economic growth that will minimize income gap

v

and poverty. In relation to DKI Jakarta’s conditions, investment on drinking water which is pro-poor in nature is a certainty, with a number of considerations (i) urbanization level that remains high, and (ii) the number of people who have not yet obtained access of piped water remains high. Thus, the questions revealed are (i) does investment on piped water in DKI Jakarta trigger a pro-poor economic growth?, (ii) does investment on non-piped water in DKI Jakarta trigger a pro-poor economic growth?, (iii) does the government subsidy on provision of drinking water in DKI Jakarta trigger pro-poor economic growth? To answer those questions, this dissertation uses a Computable General Equilibrium (CGE) or shortened with CGE Model. CGE model is a non-linier simultaneous equation that simulates optimal attitude of all consumers and producers within economy. Three scenarios of simulation is implemented in this study using data of SNSE (social accounting matrices/SAM) DKI Jakarta year 2000 to know scenario of development of drinking water that directs to a pro-poor growth, that is (i) investment simulation in the form of increasing investment on piped water and non-piped water, (ii) subsidy simulation in the form of provision of drinking water subsidy for poor family derived from increasing piped water tax and the central government transfer, (iii) investment simulation and subsidy in the form of increasing investment of piped water along with provision of drinking water subsidy for poor family either from increasing tax on piped water or the central government transfer. Result of simulation indicates that drinking water investment increase in DKI Jakarta resulted on economic growth but it did not influence on income gap reduction, meaning that the drinking water development in DKI Jakarta has not yet reached a pro-poor nature. Besides, in order to establish a pro-poor growth, the piped water investment should be supported with provision of subsidy from the central government. The higher investment value, the more subsidy needed. Some important recommendations, i.e. (i) the local government should make access of drinking water for poor people as one of targets and indicators of successfulness of development in DKI Jakarta, (ii) provision of subsidy for poor people is still needed if the proportion of poor family who have not yet enjoyed piped water

vi

remains high. Potential subsidy fund source includes Corporate Social Responsibility (CSR) funds from the big company (iii) increase a community-based drinking water development program, (iv) non-piped water still become drinking water source alternative if there is improvement on regulation, provision of investment funds source, and adding water sources such as public service tapping so that non-piped water is affordable, and (v) improvement of access barrier for poor family such as affordable installment costs.

vii

KATA PENGANTAR

Pertama-tama puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas perkenanNya sehingga disertasi ini dapat terselesaikan untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai gelar Doktor dalam bidang Ilmu Ekonomi pada Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia. Bagi penulis, disertasi ini merupakan kulminasi dari kerja keras dan dukungan dari banyak pihak. Perjalanan penyusunannya melewati rentang waktu yang cukup lama, hampir 1,5 tahun sejak masih berbentuk pemikiran awal. Dikerjakan pada berbagai tempat dan kesempatan, mulai dari sepanjang malam setelah jam kantor di kantor Kelompok Kerja Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL), di tengah rapat yang membosankan, di bandara ketika menunggu pesawat yang sering terlambat, di mall sambil menunggu anak main game, di sela-sela kunjungan lapangan, di kampus pada akhir pekan, dan tentu saja di rumah ketika memungkinkan khususnya di akhir pekan. Disertasi ini merupakan buah dari bantuan berbagai pihak. Pertama-tama saya ucapkan penghargaan dan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto, selaku promotor, yang dengan sabar dan penuh perhatian memberi saran dan masukan bagi perbaikan disertasi ini, baik secara langsung maupun melalui email. Penghargaan dan rasa terima kasih yang sama juga penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Mohamad Ikhsan, selaku kopromotor I, yang dengan tekun memberi kritik dan saran bagi perbaikan disertasi saya, selain menyangkut model dan teori ekonomi, juga menyangkut tata cara penulisan, bahkan berkenan secara khusus membaca keseluruhan rancangan final disertasi ini sebelum menjadi naskah disertasi seperti saat ini. Selain itu, Bapak Dr. Montty Girianna, selaku kopromotor II, yang banyak memberi saran dan masukan terutama ketika penulis dalam kondisi mulai ‘putus asa’ dengan penyelesaian model yang tidak kunjung mendapatkan solusi serta penyempurnaan materi narasi. Proses penyusunan disertasi ini melalui empat tahapan penting yaitu ujian proposal, ujian seminar hasil, sidang tertutup, dan sidang promosi. Pada setiap tahapan

viii

tersebut, terdapat Tim Penguji yang melakukan evaluasi terhadap materi yang disampaikan oleh penulis. Tim penguji terdiri dari promotor, Kopromotor ditambah dengan empat penguji lain. Untuk itu, terima kasih dan penghargaan saya sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Moh. Arief Djanin, selaku ketua Penguji, yang dengan sabar memimpin sesi sidang dan memberi masukan penyempurnaan khususnya kesimpulan disertasi, Bapak Dr. Luky Alfirman, selaku anggota Penguji, yang banyak memberi masukan dari aspek ekonomi publik, Bapak Dr. B. Raksaka Mahi, selaku anggota Penguji, yang banyak memberi saran dan masukan bagi perbaikan model, Bapak Dr. Arindra A. Zainal, selaku anggota Penguji, yang memberi masukan perbaikan terutama pada materi kesimpulan dan juga selaku Ketua Program yang banyak memberi kemudahan bagi penyelesaian studi penulis. Selain itu, juga kepada Bapak Dr. Suahasil Nazara dan Bapak Dr. Sugiharso Safuan yang memberi masukan penyempurnaan proposal penulis pada saat ujian proposal. Bersekolah di UI pada awalnya tidak secara sengaja menjadi pilihan penulis. Ketika pada tahun 2000, setelah menyelesaikan tugas mengembangkan proyek Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi (PDMDKE) sebagai bagian dari program Jaring Pengaman Sosial (JPS), penulis terdorong mengambil kuliah setelah melihat sahabat penulis Hanggono T. Nugroho yang telah terlebih dahulu menjadi mahasiswa program S-3 Ekonomi UI. Proses kuliah kemudian tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, ternyata terasa sangat menyenangkan ditengah tugas dan beban kuliah yang berat terutama karena fakultas ekonomi UI terkenal dengan pameo ‘sulit masuk apalagi keluarnya’. Kesenangan ini terutama disumbangkan oleh keberadaan rekan-rekan program pascasarjana ekonomi angkatan 2000, yang sangat kompak dan saling mendukung. Beberapa diantara teman-teman tersebut adalah Edy Suratman, Djoni Hartono, ‘Mas Iwan’, Wildan, Tauhid, Pak Bambang, Esa, Ratna, Syarkawi, Mawardi, Bintoro dan banyak lagi yang lain. Masa bersama mereka semua menjadi bagian yang indah untuk dikenang. Bantuan rekan-rekan Angkatan 2000 yang mengingatkan penulis tentang tugas dan ujian yang kadangkala terlupakan karena kesibukan penulis, termasuk juga

meminjamkan catatan dan memberi penjelasan, sangat membantu melancarkan proses

ix

perkuliahan penulis. Tanpa bantuan dan dorongan mereka, masa-masa kuliah S-3 akan terasa sangat kering dan bahkan mungkin disertasi ini tidak terwujud. Terima kasih atas tahun-tahun yang penuh warna tersebut. Keeratan hubungan diantara rekan-rekan mahasiswa S-3 juga tentunya sangat membantu proses penyelesaian perkuliahan. Masa-masa belajar bersama menghadapi ujian preliminary sangat menyenangkan, bersama-sama kita saling mengisi kekurangan masing-masing. Penulis yang sangat tertolong dalam proses ini, karena latar belakang penulis yang bukan ekonomi menjadikan penulis sebagai ‘anak bawang’ dalam proses persiapan tersebut. Beberapa diantara rekan S-3 tersebut diantaranya Edy Suratman, Hanggono T. Nugroho, Sony, Pak Hasman, Willem, Andi Alfian, Beta, Jenny, Widyono, Wanto, dan banyak lagi yang lain. Terselesaikannya disertasi ini melengkapi kebersamaan kita yang menyenangkan tersebut. Proses awal penulisan disertasi ini merupakan langkah yang cukup berat, terutama setelah penulis mengambil cuti selama 2 tahun berturut-turut, yang kemudian disertai kesibukan penulis yang menyita waktu. Akan tetapi, rekan dan sahabat penulis Djoni Hartono banyak mendorong penulis melalui sms, email bahkan kunjungan langsung ke kantor, yang kemudian membangkitkan semangat penulis. Ide awal disertasi ini banyak didukung oleh hasil diskusi penulis dengan Djoni. Termasuk dalam proses ini juga penulis berhutang budi kepada Bapak Donny Azdan yang memperkenankan untuk mengadopsi model CGE-nya. Proses selanjutnya juga tidak kurang menariknya karena ternyata penyusunan model CGE sangat menyita waktu dan pikiran, apalagi penyusun bertekad untuk melakukannya sendiri. Walaupun demikian dalam proses ini, Djoni yang sedang menyelesaikan disertasi dan Dewi yang pada saat yang bersamaan dalam tahap akhir penyelesaiaan tesisnya, banyak membantu penulis untuk memahami model CGE sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan model CGE air minum ini. Terima kasih penulis pada keduanya atas pengorbanan waktunya. Tak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih pada Pak Pipit dari BPS, yang membantu penulis menyiapkan data SNSE Air Minum DKI Jakarta Tahun 2000. Tanpa data tersebut, model CGE air minum DKI Jakarta tak mungkin terselesaikan.

x

Bekerja dan bersekolah ternyata bukan sesuatu yang mudah. Namun, dorongan dan dukungan dari atasan, rekan sejawat, mitra kerja, dan sesama staf menjadikan hidup lebih mudah. Terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Herman Haeruman, yang pada saat itu selaku Deputi Regional Bappenas, dan Bapak Max Pohan yang pada saat itu selaku Kepala Biro Peningkatan Kapasitas Daerah Bappenas, yang memberi kesempatan penulis untuk mengikuti pendidikan S-3 Pascasarjana Ekonomi UI. Walaupun secara resmi sebenarnya penulis tidak mendapat tugas belajar dari Bappenas, tetapi hal tersebut tidak mengurangi semangat menyelesaikan perkuliahan. Kemudian di tengah proses perkuliahan, penulis berpindah tugas ke Direktorat Permukiman dan Perumahan Bappenas, yang menjadikan penulis lebih sibuk lagi terutama dengan tugas baru untuk juga menjadi anggota Pokja AMPL. Kerelaan dan dorongan Bapak Basah Hernowo selaku atasan penulis memberi kesempatan menyelesaikan sekolah sangat membantu mempercepat terselesaikannya disertasi ini. Tentunya termasuk juga kerelaan dan dorongan semangat kadang disertai ‘sindiran kapan selesainya’ dari rekan-rekan kantor Nugroho Tri Utomo, Pungki Sumadi, Bastary Pandji Indra, Salusra ‘Ilus’ Widya, Anti, Ita, Nurul, Andre, Mbak Mia, Sali yang ternyata memicu semangat penulis. Sindiran membawa berkah. Sebagian besar waktu penulisan disertasi ini dilakukan di kantor sekretariat Pokja AMPL. Pada beberapa kesempatan ketika sedang sibuk sekali, terpaksa penulis meminta bantuan rekan-rekan staf sekretariat Pokja. Untuk itu, terima kasih buat Rudi yang membantu merapikan grafik, Meddy, Adi, Puput yang merapikan tampilan narasi, Agus Suhada yang ketambahan tugas mengantar rancangan disertasi dan undangan ke pembimbing dan penguji, Andri yang selalu setia menemani ketika penulis begadang di kantor, Aini yang sibuk menghubungi pusat bahasa Depdiknas dalam rangka perbaikan tata bahasa disertasi ini, dan Reski yang membaca seluruh naskah disertasi sebelum dijilid. Terima kasih juga atas kesabaran semua staf sekretariat Pokja AMPL dan WASPOLA yang sedikit terganggu ritme kerjanya oleh kesibukan penulis menyelesaikan disertasi. Keterlibatan dalam Pokja AMPL yang intensif dalam 3 tahun terakhir memberi inspirasi penulis untuk mengambil topik disertasi ini. Air minum belum menjadi

xi

perhatian pengambil keputusan. Menjadikan air minum sebagai topik disertasi merupakan upaya penulis untuk meningkatkan profil air minum di Indonesia. Disamping itu, kekompakan dan kegembiraan yang selalu penulis rasakan selama bergabung dengan Pokja AMPL secara tidak langsung juga mendorong penulis menyumbang pemikiran bagi sektor air minum dan penyehatan lingkungan. Dorongan dan pengertian dari rekan-rekan anggota Pokja AMPL untuk menyelesaikan disertasi ini sangat terasa terutama kerelaan rekan pokja untuk sedikit terbebani tugas rutin pokja yang seharusnya menjadi porsi saya, sangat saya hargai. Dalam proses penetapan hari sidang, maupun proses administrasi lainnya, penulis sangat merasakan dukungan dari sekretariat program pascasarjana ekonomi UI khususnya bantuan dari Mirna. Tak lupa Ibu Niken, Sekretaris Pak Prijono di Jamsostek, juga sangat berperan membantu dalam proses penentuan waktu sidang tertutup, yang dapat terlaksana ditengah-tengah kepulangan Pak Pri dari Jepang untuk keperluan RUPS Jamsostek. Terima kasih atas bantuan yang diberikan. Salah satu hal yang menjadi prioritas dalam hidup penulis adalah dapat membahagiakan orang tua. Penulis berharap, terselesaikannya disertasi ini dapat melengkapi kebahagian bagi Ibu Mungkasa, nenek penulis, yang selalu berpuasa setiap kali penulis dapat melewati ujian, Bapak dan Mama yang selalu berdoa bagi keberhasilan penulis, adik-adik penulis yang selalu mendorong dan membantu dikala penulis sedang butuh bantuan, serta Mertua penulis yang selalu menemani cucunya di rumah ketika penulis harus berkutat dengan tugas sekolah. Semuanya pengorbanan tersebut sangat penulis hargai. Terakhir, yang paling utama bagi penulis adalah adanya dorongan dan dukungan dari istriku Verosya ‘Ade’ Zaina dan anakku Fakhrie Fadhlullah Mungkasa yang dengan sabar menunggu penulis dapat menyelesaikan sekolah S-3 ini. Setelah ini, Insya Allah tidak ada lagi hari-hari sibuk di akhir pekan. Depok, Agustus 2006.

Oswar Mungkasa

xii

DAFTAR ISI

Hal RINGKASAN ...................................................................................................... KATA PENGANTAR .......................................................................................... DAFTAR ISI ....................................................................................................... DAFTAR TABEL ............................................................................................... DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... DAFTAR KOTAK …………………………………………………………........ DAFTAR SINGKATAN …………………………………………………........... BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 BAB II Latar Belakang ………………………………………….......... Masalah Penelitian …………………………………………… Tujuan dan Hipotesis Penelitian ……………………………… Manfaat dan Kontribusi Penelitian …………………………… Pendekatan dan Ruang Lingkup Penelitian ………………….. Sistematika Penulisan ………………………………………… 1 5 6 9 10 12 iii viii xiii xvii xxi xxvi xxvii

KONDISI SEKTOR AIR MINUM DKI JAKARTA 2.1 Gambaran Umum DKI Jakarta ………………………………. 2.1.1 2.1.2 2.2 2.2.1 2.2.2 2.2.3 2.2.4 2.2.5 2.2.6 2.3 Administrasi …………………………………………. Kependudukan ………………………………………. Pangsa dan Pertumbuhan Sektor Ekonomi ………….. Pendapatan per Kapita ………………………………. Tingkat Kemiskinan …………………………………. Distribusi Pendapatan ……………………………….. Kebijakan Sektor Air Minum DKI Jakarta ………….. Pola Penyediaan Air Minum di DKI Jakarta ………… 14 14 14 15 15 17 17 19 21 21 22 22 26

Kondisi Perekonomian DKI Jakarta …………………………

Perkembangan dan Rencana Pengembangan Penyediaan Air Minum DKI Jakarta …………………………………………. 2.3.1 Praprivatisasi Pengeloalaan Air Minum DKI Jakarta . 2.3.2 Privatisasi Pengelolaan Air Minum DKI Jakarta …….

xiii

Hal 2.3.3 2.3.4 Kinerja Pengelolaan Air Minum DKI Jakarta Setelah Privatisasi ……………………………………………... Sistem Distribusi Pelayanan Air Minum Nonperpipaan 28 33 34

2.3.5 Program Penanggulangan Dampak Pengurangan Subsidi Energi untuk Penyediaan Prasarana Air Bersih ……….. BAB III PENYEDIAAN AIR MINUM, PERTUMBUHAN EKONOMI, DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN: SUATU TINJAUAN PUSTAKA 3.1 3.2

Karakteristik Air Minum ……………………………………….. 36 Penyediaan Air Minum (Publik, Swasta, Penyedia Skala Kecil) dan Penanggulangan Kemiskinan ……………………………… 3.2.1 3.2.2 Penyediaan Air Minum oleh Pemerintah dan Privatisasi Privatisasi Air Minum dan Penanggulangan Kemiskinan Keterbatasan Penyediaan Air Minum Skala Besar …….. Kategori Penyedia Air Minum Skala Kecil ……………. Peran Penyedia Air Minum Skala Kecil ………………. Beberapa Pengalaman Pengelolaan ……………………. Masa Depan Pelayanan Air Minum Skala Kecil …….... 38 38 42 48 48 49 50 51 53 54 54 60 61 61 63

3.3

Penyedia Air Minum Skala Kecil: Salah Satu Alternatif ……… 3.3.1 3.3.2 3.3.3 3.3.4 3.3.5

3.4

Kaitan Pembangunan Air Minum terhadap Kemiskinan, Distribusi Pendapatan, dan Pertumbuhan Eonomi ……………. 3.4.1 3.4.2 3.4.3 Pembangunan Air Minum dan Kemiskinan …………… Pembangunan Air Minum dan Pertumbuhan Ekonomi .. Pembangunan Air Minum dan Kesenjangan …………...

3.5 3.6 BAB IV

Pertumbuhan Pro Poor ………………………………………… Rangkuman …………………………………………………….

PEMODELAN DAMPAK INVESTASI AIR MINUM 4.1 4.2 Teori Keseimbangan Umum …………………………………... Model Komputasi Keseimbangan Umum (CGE) ……………... 4.2.1 Prinsip dan Kerangka Dasar …………………………… 67 68 68

xiv

Hal 4.2.2 Model Standar Komputasi Keseimbangan Umum ……. 69 82 82 82 84 84 89 89 98

4.3 Model CGE Air Minum DKI Jakarta …………………………. 4.3.1 Kebutuhan Data ………………………………….......... 4.3.2 Penyesuaian SNSE dalam Model CGE ……………….. 4.3.3 Beberapa Prinsip Dasar ……………………………….. 4.3.4 Aktor dan Perilakunya ……………………………….... 4.3.5 4.3.6 Variabel dan Skalar ……………………………………. Persamaan Model ……………………………………...

4.4 Perubahan Kesejahteraan ……………………………………... BAB V SKENARIO KEBIJAKAN DAN HASIL SIMULASI 5.1 5.2 5.3 Validasi Model CGE .................................................................. Skenario Simulasi ....................................................................... Hasil Simulasi …………………………………………………. 5.3.1 Simulasi I: Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan 5.3.2 Simulasi II: Peningkatan Investasi Air Minum Non Perpipaan ……………………………………………… 5.3.3 Simulasi III: Penyediaan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum ………………..…………………….. 5.3.4 Simulasi IV: Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat …….. 5.3.5 Simulasi V: Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan dan Penyediaan Subsidi dari Pajak Air Minum Perpipaan ……………………………………… Simulasi VI: Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan dan Penyediaan Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat …......................................………….. Pertumbuhan Ekonomi ………………………………… Distribusi Pendapatan …………………………………. Kelompok Penerima Manfaat ………………………….

100 100 109 109 111 112 118 120

5.3.6

126 132 132 146 154 154

5.4

Rangkuman ……………………………………………………. 5.4.1 5.4.2 5.4.3

5.4.4 Pertumbuhan Pro Poor ………………………………...

xv

Hal BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 6.1 6.2 Kesimpulan ………………………………………………….. Rekomendasi ……………..………………………………….. 6.3.1 6.3.2 6.4 Kelebihan dan Kekurangan Model CGE ……………. Kelemahan Model CGE Air Minum DKI Jakarta …... 157 160 164 164 166 168 169 181 185 187 193 196 203 206 208

6.3 Beberapa Catatan …………………………………………….

Studi Lanjutan ………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….. Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Konsep dan Definisi ………………………………………….. Fungsi Penting dalam Model CGE ………………………….. Sistem Neraca Sosial Ekonomi ………………………………. Sistem Neraca Sosial Ekonomi DKI Jakarta 2000 (45x45, Jutaan Rupiah) ........................................................................... Penyesuaian Sistem Neraca Sosial Ekonomi DKI Jakarta 2000 Deklarasi Indeks ........................................................................ Ukuran Distribusi Pendapatan ..................................................

BIOGRAFI SINGKAT ........................................................................................

xvi

DAFTAR TABEL hal Tabel 1.1 Tabel 2.1 Tabel 2.2 Tabel 2.3 Tabel 2.4 Tabel 2.5 Tabel 2.6 Tabel 2.7 Tabel 2.8 Tabel 2.9 Tabel 2.10 Tabel 2.11 Tabel 2.12 Tabel 2.13 Tabel 2.14 Tabel 3.1 Cakupan Layanan Air Minum di Jakarta Tahun 2002 (dalam persen) ……………………………………………………………..

4

Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk DKI Jakarta Tahun 1980-2004 ………………………………………………………… 15 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DKI Jakarta Tahun 2000 dan 2003 (Berdasar Harga Konstan 1993) dalam Rp. Juta …. 16 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per Kapita DKI Jakarta Periode 1996-2003 ………………………………………………... 17 Jumlah Penduduk Miskin DKI Jakarta Tahun 1996, 2000 dan 2003 18 Distribusi Pendapatan per Kapita DKI Jakarta Menurut Golongan Rumah Tangga, Tahun 2000 …………………………………….... Distribusi Pendapatan per Kapita DKI Jakarta Menurut Golongan Rumah Tangga Tahun 2000 …………………………………….... Target Teknis Tahun 1998-2002 ………………………………….. 19 20 27

Rencana Investasi PT. Thames PAM Jaya dan PT. PAM Lyonnaise Jaya, 1998-2002………………………………………... 28 Kinerja Privatisasi Pengelolaan Air Minum DKI Jakarta Tahun 2004 ………………………………………………………………… 29 Cakupan Layanan Air Minum di Jakarta Tahun 2002 …………...... 29 Klasifikasi Rumah Tangga Berdasar Sumber Air Minum Tahun 2003 ………………………………………………………………… 30 Peningkatan Layanan Air Minum bagi Penduduk Miskin di Jakarta (1998-2002) ……………………………………………………….. 31 Sistem Tarif Air Minum DKI Jakarta, Tahun 2005 ……………….. 32 Realisasi Dana Program Subsidi Energi Air Bersih (SE-AB) Tahun 2001-2004 …………………………………………………………. 35 Rangkuman Kaitan Ekonomi Makro antara Peningkatan Partisipasi Swasta dalam Pembangunan Infrastruktur dan Kesejahteraan Penduduk Miskin .........……………………………………………. 43 Rangkuman Kaitan Ekonomi Mikro antara Peningkatan Partisipasi Swasta dalam Pembangunan Infrastuktur dan Kesejahteraan Penduduk Miskin …………………….……………………………. 45

Tabel 3.2

xvii

DAFTAR TABEL hal Tabel 3.3 Tabel 3.4 Tabel 3.5 Tabel 3.6 Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Tabel 4.4 Tabel 4.5 Tabel 4.6 Tabel 4.7 Tabel 4.8 Tabel 5.1 Tabel 5.2 Tabel 5.3 Tabel 5.4 Tabel 5.5 Tabel 5.6 Tabel 5.7 Tabel 5.8 Tabel 5.9 Model Kemitraan Pemerintah Swasta yang Potensial Melayani Penduduk Miskin …..…………………………………………….... 47 Tipe dan Karakteristik Penyedia Air Minum Skala Kecil . .............. 50 Perbandingan Harga Air Minum Penjaja Keliling dan Perpipaan di Kota Besar Dunia .……………………………………………….... 56 Proporsi Pengeluaran Air Minum Rumah Tangga Miskin Perkotaan 57 Struktur Dasar SAM pada Model CGE …………………………..... 69 Penyesuaian Klasifikasi SNSE DKI Jakarta Tahun 2000 Ukuran 103x103 ..…………………………………………………………… 83 Persamaan Produksi …………………….………………………….. 91 Persamaan Ekspor dan Impor ………….………………………….. 92 Persamaan Modal ………………………………………………….. 93 Persamaan Pendapatan …………………….………………………. 94 Persamaan Pengeluaran ……………………………………………. 96 Persamaan Kliring Pasar …………………………………………… 97 Skenario Simulasi I dan II …………………………………………. 106 Skenario Simulasi III ..……………………………………………... 106 Skenario Simulasi IV ………………………….…………………... 106 Skenario Simulasi V ......................................................................... 106 Skenario Simulasi VI ....................................................................... 107 Perubahan PDRB dan Pendapatan Rumah Tangga berdasar Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan …………………….... 110 Perubahan PDRB dan Pendapatan Rumah Tangga berdasar Peningkatan Investasi Air Minum Non Perpipaan …..…………….. 111 Pengaruh Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan terhadap Indikator Ekonomi .............…….………………………………….. 114 Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan berdasar Skenario Penyediaan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan ………………................................................................... 117

xviii

DAFTAR TABEL hal Tabel 5.10 Tabel 5.11 Perubahan PDRB dan Pendapatan Rumah Tangga berdasar Penyediaan Subsidi dari Pemerintah Pusat ...............……………… 119 Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan berdasar Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan 10 Persen dan Penyediaan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan........................................................................................... Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan berdasar Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan 25 Persen dan Penyediaan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan …………………………………………………………. Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan berdasar Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan 50 Persen dan Penyediaan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan …………………………………………………………..

121

Tabel 5.12

123

Tabel 5.13

125

Tabel 5.14

Tabel 5.15

Tabel 5.16

Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan berdasar Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan 10 Persen dan Penyediaan Subsidi dari Pusat ..………………………………. 127 Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan berdasar Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan 25 Persen dan Penyediaan Subsidi dari Pusat ..………………………………. 129 Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan berdasar Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan 50 Persen dan Penyediaan Subsidi dari Pusat ..………………………………. 131 Rekapitulasi Pertumbuhan Ekonomi Simulasi Peningkatan Investasi Air Minum …….…………………………….................... 133 Rekapitulasi Pertumbuhan Ekonomi Simulasi Subsidi ………….. 138 Rekapitulasi Pertumbuhan Ekonomi Simulasi Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum ………. 144 Rekapitulasi Pertumbuhan Ekonomi Simulasi Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi dari Pemerintah Pusat …………………….. 145 Rekapitulasi Distribusi Pendapatan Simulasi Peningkatan Investasi Air Minum …………………………………………………………. 146

Tabel 5.17 Tabel 5.18 Tabel 5.19 Tabel 5.20 Tabel 5.21

xix

DAFTAR TABEL hal Tabel 5.22 Tabel 5.23 Tabel 5.24 Tabel 5.25 Rekapitulasi Dampak Subsidi terhadap Distribusi Pendapatan ....... Rekapitulasi Distribusi Pendapatan Simulasi Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum ............. Rekapitulasi Distribusi Pendapatan Simulasi Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi dari Pemerintah Pusat .................................. Rekapitulasi Pertumbuhan Pro Poor ............................................... 149 152 153 156

xx

DAFTAR GAMBAR hal Gambar 2.1 Gambar 2.2 Gambar 2.3 Gambar 2.4 Gambar 2.5 Gambar 2.6 Gambar 2.7 Gambar 2.8 Gambar 2.9 Gambar 3.1 Gambar 3.2 Gambar 3.3 Gambar 4.1 Gambar 4.2 Gambar 4.3 Gambar 4.4 Gambar 4.5 Gambar 4.6 Gambar 4.7 Gambar 5.1 Gambar 5.2 PDRB DKI Jakarta 2000-2003 Harga Konstan 1993 …………... Pertumbuhan PDRB/Kapita DKI Jakarta Harga Konstan 1993 Tahun 1996-2002 ……………………………………………….. Penyebaran Penduduk Miskin DKI Jakarta Tahun 1996, 2000, 2003 …........................................................................................... Distribusi Pendapatan DKI Jakarta 2000 ……………………...... Produksi dan Air Terjual PAM Jaya 1993-1997 ……………….. Penerimaan dan Biaya Operasional PAM Jaya 1993-1997 …….. Jumlah Sambungan PAM Jaya 1993-1997 …………………….. Sistem Jaringan Pipa Distribusi Air Minum DKI Jakarta ………. Distribusi Air Minum Nonperpipaan dari Sumber Air Minum Perpipaan Tahun 2005 ………………………………………….. Pengaruh Ketersediaan Air Minum terhadap Beragam Dimensi Kemiskinan ……………………………………………………... Jalur Utama Penularan Penyakit melalui Air ………………….... Kebijakan, Pertumbuhan, Perubahan Distribusi dan Penurunan Kemiskinan …………………………………................................ 15 16 18 20 24 24 25 25 33 55 58 63

Struktur Dasar Model CGE ............................................................ 70 Teknologi Produksi …..…………………………………………. 71 Aliran Komoditas yang Dipasarkan …………………………….. Struktur Fungsi Sektor Produksi ………………………………... Struktur Fungsi Konsumsi …………………………………….... Keterkaitan Antarsektor dalam Wilayah ………………………... Struktur Fungsi Sektor Produksi ………………………………... 75 77 81 88 90

Bagan Alir Skenario Simulasi ..........................………………….. 105 Bagan Alir Simulasi ....................................................................... 108

xxi

DAFTAR GAMBAR hal

Gambar 5.3 Gambar 5.4 Gambar 5.5 Gambar 5.6 Gambar 5.7 Gambar 5.8 Gambar 5.9

Pertumbuhan Ekonomi dan Rasio Gini Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan ..……………………………….. Peningkatan Pendapatan per Kapita Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan .........................………….......... Pangsa Pendapatan per Kelompok RT Miskin Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan ................................

110 110 110

Pertumbuhan Ekonomi dan Rasio Gini Skenario Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan Bersumber dari Pajak …………....... 112 Perubahan Pendapatan RT berdasar Skenario Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan.................................…………..………….. Pertumbuhan Ekonomi Skenario Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan .................................................................. Rasio Gini Skenario Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan ……………..…………………………………………. 112 117 117

Gambar 5.10 Perubahan Pendapatan RT berdasar Penyediaan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum ...................................................... 117 Gambar 5.11 Pertumbuhan Ekonomi Skenario Subsidi dari Pemerintah Pusat . 119 Gambar 5.12 Rasio Gini Skenario Subsidi dari Pemerintah Pusat .................…. 119 Gambar 5.13 Pertumbuhan Pendapatan RT/Kapita berdasar Skenario Subsidi dari Pemerintah Pusat .................................................................... 119 Gambar 5.14 Pertumbuhan Ekonomi Skenario Investasi (10%) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan ………….............. 121 Gambar 5.15 Rasio Gini Skenario Investasi (10%) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan ………..……………... 121 Gambar 5.16 Perubahan Pendapatan RT/Kapita Skenario Investasi (10%) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum .....................……... 121 Gambar 5.17 Pertumbuhan Ekonomi Skenario Investasi (25%) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan …………….......... 123 Gambar 5.18 Rasio Gini Skenario Investasi (25%) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan ………..………......…. 123 Gambar 5.19 Pertumbuhan Pendapatan RT/Kapita Skenario Investasi (25%) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum .………….......... 123

xxii

DAFTAR GAMBAR hal Gambar 5.20 Pertumbuhan Ekonomi Skenario Investasi (50%) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan .............................. Gambar 5.21 Rasio Gini Skenario Investasi (50%) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan ………..………..……. 125 125

Gambar 5.22 Pertumbuhan Pendapatan RT/Kapita berdasar Skenario Investasi (50%) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum .………… 125 Gambar 5.23 Pertumbuhan Ekonomi Skenario Investasi (10%) dan Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat ........................................................... 127 Gambar 5.24 Rasio Gini Skenario Investasi (10%) dan Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat ………..……………………………………... Gambar 5.25 Pertumbuhan Pendapatan RT/Kapita berdasar Skenario Investasi (10%) dan Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat .……………… 127 127

Gambar 5.26 Pertumbuhan Ekonomi Skenario Investasi (25%) dan Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat ………………………………........... 129 Gambar 5.27 Rasio Gini Skenario Investasi (25%) dan Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat ………..……………………………………... Gambar 5.28 Pertumbuhan Pendapatan RT/Kapita berdasar Skenario Investasi (25%) dan Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat ………………... 129 129

Gambar 5.29 Pertumbuhan Ekonomi Skenario Investasi (50%) dan Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat ………………………………........... 131 Gambar 5.30 Rasio Gini Skenario Investasi (50%) dan Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat ………..……………………………………... Gambar 5.31 Pertumbuhan Pendapatan RT/Kapita berdasar Skenario Investasi (50%) dan Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat ………………... 131 131

Gambar 5.32 Dampak Investasi Air Minum terhadap Pertumbuhan Ekonomi ... 133 Gambar 5.33 Keterkaitan Investasi Air Minum dengan Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan (Simulasi I dan II) ............................... 137 Gambar 5.34 Dampak Subsidi terhadap Pertumbuhan Ekonomi ....................... Gambar 5.35 Keterkaitan Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan dengan Distribsui Pendapatan dan Pertumbuhan Ekonomi ...................... 138 139

xxiii

DAFTAR GAMBAR

hal

Gambar 5.36 Keterkaitan Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan yang Dialokasikan untuk Subsidi dengan Distribusi Pendapatan dan Pertumbuhan Ekonomi (Simulasi III) ............................................ 141 Gambar 5.37 Keterkaitan Peningkatan Transfer Dana Pusat yang Dialokasikan untuk Subsidi terhadap Pertumbuhan Ekonomi serta Distribusi Pendapatan (Simulasi IV) .............................................................. 141 Gambar 5.38 Keterkaitan Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi terhadap Pertumbuhan Ekonomi serta Distribusi Pendapatan (Simulasi V - VI) ........................................................ 141 Gambar 5.39 Dampak Investasi 10% dan Subsidi dari Pajak Air Minum terhadap Pertumbuhan Ekonomi …………………………...……. 144 Gambar 5.40 Dampak Investasi 25% dan Subsidi dari Pajak Air Minum terhadap Pertumbuhan Ekonomi …………………………..……. Gambar 5.41 Dampak Investasi 50% dan Subsidi dari Pajak Air Minum terhadap Pertumbuhan Ekonomi ……………………………..…. Gambar 5.42 Dampak Investasi 10% dan Subsidi dari Pusat terhadap Pertumbuhan Ekonomi ……………………….............................. Gambar 5.43 Dampak Investasi 25% dan Subsidi dari Pusat terhadap Pertumbuhan Ekonomi ………………………………….............. Gambar 5.44 Dampak Investasi 50% dan Subsidi dari Pusat terhadap Pertumbuhan Ekonomi ………………………………….............. 144 144 145 145

145 Gambar 5.45 Dampak Investasi Air Minum terhadap Distribusi Pendapatan ..... 146 Gambar 5.46 Dampak Subsidi dari Pajak Air Minum Perpipaan terhadap Distribusi Pendapatan .................................................................... Gambar 5.47 Dampak Subsidi dari Pemerintah Pusat terhadap Distribusi Pendapatan ..................................................................................... Gambar 5.48 Dampak Investasi Air Minum Perpipaan (10%) dan Subsidi dari Pajak Air Minum Perpipaan terhadap Distribusi Pendapatan ....... Gambar 5.49 Dampak Investasi Air Minum Perpipaan (25%) dan Subsidi dari Pajak Air Minum Perpipaan terhadap Distribusi Pendapatan ....... Gambar 5.50 Dampak Investasi Air Minum Perpipaan (50%) dan Subsidi dari Pajak Air Minum Perpipaan terhadap Distribusi Pendapatan ....... 150 150 152 152 152

xxiv

DAFTAR GAMBAR hal

Gambar 5.51 Dampak Investasi Air Minum Perpipaan (10%) dan Subsidi dari Pemerintah Pusat terhadap Distribusi Pendapatan ........................ Gambar 5.52 Dampak Investasi Air Minum Perpipaan (25%) dan Subsidi dari Pemerintah Pusat terhadap Distribusi Pendapatan ........................ Gambar 5.53 Dampak Investasi Air Minum Perpipaan (50%) dan Subsidi dari Pemerintah Pusat terhadap Distribusi Pendapatan .......................

153 153 153

Gambar 5.54 Pertumbuhan Pro Poor Simulasi Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi ..................................................................................... 154

xxv

DAFTAR KOTAK

hal Kotak 4.1 Hukum Walras …………………………………………………….. 67

xxvi

DAFTAR SINGKATAN

ADB APF Bappenas BBM BOT Bodetabek BPS CES CET CGE CPI DKI FOC FGT HU KK LES LSM MCK MDG MPS PAM Jaya PDAM PDB PDRB PP PPD-PSE

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Asian Development Bank Aggregate Production Function Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bahan Bakar Minyak Build Operate Transfer Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi Badan Pusat Statistik Constant Elasticity of Substitution Constant Elasticity of Transformation Computable General Equilibrium Costumer Price Index Daerah Khusus Ibukota First Order Condition Foster-Greer-Thorbecke Hidran Umum Kepala Keluarga Linear Expenditure System Lembaga Swadaya Masyarakat Mandi, Cuci, Kakus Millenium Development Goals Marginal Propensity to Save Perusahaan Air Minum Jakarta Raya Perusahaan Daerah Air Minum Produk Domestik Bruto Produk Domestik Regional Bruto Peraturan Pemerintah Program Penanggulangan Dampak Pengurangan Subsidi Energi

PT

=

Perusahaan Terbatas

xxvii

PTO ROW RT SAM SE-AB SIPAS SNSE TA TFP TK TPJ UGM USD VA WHO WTP

= = = = = = = = = = = = = = = =

Penyesuaian Tarif Otomatis Rest of the World Rumah Tangga Social Accounting Matrix Subsidi Energi-Air Bersih Sistem Penyediaan Air Bersih Sederhana Sistem Neraca Sosial Ekonomi Terminal Air Total Factor Production Tenaga Kerja Thames Pam Jaya Universitas Gajah Mada United State Dollar Value Added World Health Organization Water Treatment Plant

xxviii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Memasuki Milenium baru, hampir setengah dari total penduduk dunia bertempat tinggal di daerah perkotaan1. Percepatan pertambahan penduduk perkotaan melampaui kemampuan pemerintah dalam menyediakan kebutuhan dasar penduduk. Akibatnya, sejumlah penduduk mengalami kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar untuk perumahan, air minum2, sanitasi, kesehatan, pekerjaan dan pendidikan. Mendekati 1,3 miliar penduduk dunia di negara berkembang, mayoritas penduduk miskin, kekurangan akses terhadap kecukupan air. Dampak ketidakcukupan air dan sanitasi terutama dirasakan oleh penduduk miskin. Akibat kualitas air minum yang tidak memadai, penduduk miskin kota menanggung dampak berupa berjangkitnya penyakit diare dan kolera3 yang mengharuskan mereka mengeluarkan dana untuk obat dan perawatan medis. Lebih lanjut, hal itu mengakibatkan anak-anak tidak sekolah, dan orang dewasa kehilangan waktu kerja. Akibatnya, selain berdampak pada besarnya pengeluaran untuk membeli air, kurangnya akses ke air minum yang memadai, aman, terjangkau juga berdampak langsung pada penghidupan dan pendapatan penduduk miskin kota4.

Pada tahun 2015, penduduk perkotaan akan bertambah dua kali lipat sehingga mencapai 3,5 miliar penduduk. Selain itu, 1 dari 5 penduduk akan berlokasi di kota besar berpenduduk lebih dari 10 juta dibanding 1 dari 9 saat ini (Dasgupta, 2002) Sementara sekitar 95 persen dari pertambahan penduduk perkotaan tersebut akan berlokasi di negara berkembang dan separuhnya merupakan penduduk miskin, serta bertempat tinggal di daerah kumuh (Annez, 1996). 2 Definisi air minum yang dipergunakan adalah air minum rumah tangga baik yang langsung dapat diminum maupun yang masih perlu diolah, yang berasal dari sumber yang aman dari pencemaran.Pengertian air minum disini sama dengan istilah air bersih yang sering dipergunakan ditambah dengan air yang langsung bias diminum tetapi tidak termasuk air kemasan maupun air isi ulang. 3 Diperkirakan 10 ribu penduduk meninggal setiap hari disebabkan penyakit terkait air dan sanitasi dan ribuan lainnya menderita. 4 Penghidupan dan pendapatan penduduk diartikan sebagai kemampuan terlibat dalam kegiatan menghasilkan uang, pendapatan dari kegiatan tersebut, dan pengeluaran yang ditimbulkannya. 1

1

Ketika penduduk termiskin tidak mendapat akses ke air sistem perpipaan, air dari penyedia air minum skala kecil (small scale water provider) atau air nonperpipaan5 menjadi alternatifnya. Besarnya tarif air minum nonperpipaan mengakibatkan biaya yang dikeluarkan menjadi jauh lebih mahal, sehingga ketidaktersediaan air minum menjadi salah satu penentu utama tingkat kemiskinan bagi sebagian besar rumah tangga. Sebagai contoh, Okun (1988) memperkirakan bahwa rumah tangga miskin yang tidak terlayani oleh sistem perpipaan menghabiskan sekitar 10-30 persen dari pendapatannya untuk kebutuhan air, sementara rumah tangga kaya umumnya hanya mengeluarkan kurang dari dua persen (Satterwaithe, 1998)6.

Akibatnya, air diperoleh dengan biaya mahal dalam jumlah jauh dari kebutuhan normal. Jadi, ketika kebutuhan air minum penduduk miskin terpenuhi, mereka terpaksa membayar dengan harga yang jauh lebih mahal7. Hal ini kemudian berujung pada penurunan kualitas hidup, pengurangan produktivitas, penambahan beban biaya kesehatan, dan polusi lingkungan yang tak terhindarkan. Keseluruhannya mengarah pada peningkatan kemiskinan di perkotaan. Diperkirakan pada tahun 2010 penduduk miskin perkotaan mencapai sekitar 47 persen dari total penduduk miskin Indonesia, meningkat dari sekitar 38 persen pada tahun 2000 (Dasgupta, 2002). Segala keuntungan dari keberadaan kota menjadi terhalangi oleh merebaknya kemiskinan di perkotaan. Mexico City, Beijing, dan Jakarta merupakan contoh nyata dengan permasalahan tidak memadainya akses air minum, khususnya bagi penduduk miskin (Black, 1996). Kondisi ini mempengaruhi langsung sebagian penduduk, tetapi pada akhirnya secara tidak langsung dapat berdampak pada keseluruhan kota.

Secara umum disepakati bahwa kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai penyedia air minum skala kecil ketika (i) melaksanakan kegiatan dengan menggunakan pegawai dalam jumlah kecil; (ii) melaksanakan kegiatan berdasar prinsip pemulihan biaya dan orientasi keuntungan; (iii) menggunakan modal sendiri tanpa bantuan dari pemerintah dan LSM; (iv) menyediakan air minum merupakan kegiatan utamanya (Conan, 2002). 6 Pada negara industri, pengeluaran air berkisar 0,5 sampai dua persen dari pendapatan rata-rata (1,3 persen di Jerman dan Belanda, 1,2 persen di Perancis) dan air minum dianggap mahal ketika pengeluaran melampaui tiga persen dari pendapatan rata-rata penduduk (Water Academy, 2004). 7 Sebagai gambaran, berdasar data Water Supply and Sanitation Collaborative Council (1999), tarif penjaja air keliling pada beberapa kota besar di negara berkembang mencapai sekitar 5 sampai 20 kali dari tarif air minum perpipaan. 2

5

Kemampuan mengatasi kondisi ini akan menentukan kelangsungan kota dan perekonomian. Hal ini didasari pada pertimbangan dampak utama pengurangan kemiskinan di perkotaan tidak hanya pada penduduk miskin, tetapi terjadi juga pada keseluruhan penduduk kota, dalam hal (i) mengurangi ketimpangan sosial, (ii) menghindari masalah lingkungan dan kesehatan skala besar, (iii) mendorong pembangunan ekonomi lokal, (iv) membantu pertumbuhan ekonomi nasional. Ketimpangan sosial dapat mengarah pada ketegangan sosial yang bermuara pada benturan antarkelompok. Masalah kesehatan dan lingkungan pada daerah kumuh dapat berdampak pada keseluruhan kota seperti merebaknya diare, kolera, demam berdarah. Ketidakcukupan air dan sanitasi dapat berdampak pada penurunan kualitas air permukaan dan air tanah dangkal. Perkembangan ekonomi lokal dapat membantu meningkatkan kondisi kehidupan penduduk miskin sehingga mendukung produktifitas dan pertumbuhan ekonomi. Perkembangan kota yang baik akan mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi nasional, karena kota berfungsi sebagai pusat pertumbuhan (Baharoglu, 2000) Jakarta sebagai salah satu kota yang dalam waktu dekat akan menjadi megacity8, juga mengalami masalah dengan akses air minum, khususnya bagi penduduk miskin. Meningkatnya urbanisasi menyebabkan peningkatan kebutuhan layanan infrastruktur termasuk air minum. Pada tahun 1996, sebelum privatisasi penyediaan air minum9, cakupan pelayanan air minum di Jakarta mencapai 41 persen dengan tingkat kebocoran 57 persen dan penggunaan air tanah berlebihan. Setelah empat tahun privatisasi (2002), mengabaikan banyaknya keluhan terhadap kualitas dan kuantitas pelayanan, kedua operator telah mencapai perkembangan yang nyata. Pelayanan telah bertambah menjadi 44 persen di bagian barat, dan 62 persen di bagian timur, yang secara keseluruhan mencapai 52,4 persen untuk seluruh Jakarta.

Megacity didefinisikan sebagai metropolitan dengan penduduk lebih dari 10 juta. Pada tahun 1998, PT. Palyja (Ondeo) dan PT. TPJ (Thames International, RWE) mendapatkan kontrak konsesi penyediaan air minum di Jakarta. Jakarta dibagi dalam 2 (dua) wilayah yaitu PT Palyja bertanggungjawab untuk pengembangan dan pengelolaan air minum di bagian Barat, dan PT. TPJ di bagian timur.
9

8

3

Tabel 1.1 Cakupan Layanan Air Minum di Jakarta Tahun 2002 (dalam persen)
Terlayani Air Perpipaan 39,7 12,7 52,4 Tak Terlayani Air Perpipaan 36,9 10,7 47,6 Total 76,6 23,4 100,0

Tidak Miskin Miskin Total Sumber: Anwar (2003)

Keberhasilan peningkatan cakupan tersebut masih menyisakan proporsi sekitar 10,7 persen penduduk miskin yang belum terlayani oleh air perpipaan. Penduduk miskin yang tidak terlayani oleh air perpipaan menggunakan beragam bentuk pelayanan air minum untuk memenuhi kebutuhannya, diantaranya berupa sumur dangkal, air tanah dalam, kran umum, penjaja keliling, sebagian penduduk menjual air ke tetangganya, truk air, dan air kemasan isi ulang. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena ternyata sebagian besar penduduk miskin menggunakan sumur tidak terlindungi dan fasilitas umum yang merupakan sumber pencemaran dan terjangkitnya wabah diare dan kolera. Selain itu, penduduk miskin yang tidak terlayani membeli air dengan harga jauh lebih mahal sampai 15 kali tarif air perpipaan (Anwar, 2003). Ketika tidak segera ditanggulangi, kondisi ini akan berdampak pada semakin terperangkapnya penduduk dalam kemiskinan, yang selanjutnya dapat berdampak tidak hanya pada penduduk miskin, tetapi berdampak juga pada seluruh penduduk kota dalam berbagai bentuk. Teori sederhana dan bukti empiris menunjukkan bahwa pengurangan kemiskinan dapat dicapai melalui percepatan pertumbuhan ekonomi dan/atau perubahan distribusi pendapatan. Ravallion (2001), melalui studi antarnegara, menunjukkan bahwa peningkatan satu persen pendapatan rata-rata rumah tangga atau konsumsi menghasilkan penurunan kemiskinan yang bervariasi antara 0,6 persen

4

sampai 3,5 persen. Ketika pertumbuhan ekonomi menghasilkan penurunan kemiskinan, pertumbuhan tersebut disebut pro-poor.10 Berkaitan dengan permasalahan kemiskinan perkotaan yang terkait dengan masih rendahnya ketersediaan air minum bagi penduduk miskin DKI Jakarta, dan investasi air minum yang secara teori dan empiris dapat berdampak pada penanggulangan kemiskinan, disertasi ini berusaha menjawab pertanyaan apakah investasi air minum di DKI Jakarta menghasilkan pertumbuhan pro-poor sehingga dapat dijadikan salah satu bagian dari kebijakan penanggulangan kemiskinan khususnya di perkotaan. 1.2 Masalah Penelitian Perkembangan perkotaan dunia dan Indonesia menunjukkan perubahan yang pesat. Dalam waktu singkat jumlah penduduk perkotaan meningkat tajam, bahkan dalam waktu tidak lama lagi proporsi penduduk perkotaan akan melampaui penduduk perdesaan. Diperkirakan pada tahun 2010, proporsi penduduk perkotaan Indonesia akan mencapai 54,2 persen, meningkat dari sekitar 35 persen (1990) dan 42 persen (2000) (Bappenas, 2005). Kondisi itu berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan perkotaan, diantaranya berupa tidak terpenuhinya kebutuhan air minum. Sebagian terbesar penduduk yang tidak terlayani adalah penduduk miskin. Telah menjadi kesepakatan bahwa peningkatan akses air minum dapat menjadi jalan menuju penanggulangan kemiskinan. Investasi yang ditanamkan di sektor air minum dapat memicu pertumbuhan ekonomi yang bersifat pro-poor. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi mengurangi kesenjangan pendapatan dan kemiskinan. Dikaitkan dengan kondisi Jakarta, investasi air minum yang bersifat pro-poor merupakan suatu keniscayaan, dengan berbagai pertimbangan di antaranya (i) tingkat
Terdapat dua definisi pertumbuhan pro-poor. Pada konsep pertama, pertumbuhan pro-poor terjadi ketika pendapatan penduduk miskin meningkat lebih cepat dari penduduk tidak miskin. Sementara konsep kedua menyatakan bahwa pertumbuhan pro-poor terjadi ketika jumlah absolut penduduk miskin berkurang (Vos, 2005). Dapat disimpulkan bahwa perbedaan mendasar hanya pada fokusnya yaitu (i) konsep pertama pada kesenjangan (White dan Anderson, 2000), (Kakwani dan Pernia, 2000) dan (ii) konsep kedua pada kemiskinan (Ravallion dan Chen, 2003).Studi ini menggunakan definisi pertama.
10

5

urbanisasi yang mengarah pada peningkatan jumlah penduduk miskin masih relatif tinggi, (ii) proporsi penduduk miskin yang belum terlayani oleh air minum masih cukup besar. Oleh karena itu, pertanyaan yang mengemuka adalah (i) apakah investasi air minum perpipaan di DKI Jakarta telah memicu pertumbuhan ekonomi yang bersifat pro-poor, (ii) apakah investasi air minum nonperpipaan di DKI Jakarta memicu pertumbuhan ekonomi pro-poor, (iii) apakah subsidi pemerintah dalam penyediaan air minum di DKI Jakarta memicu pertumbuhan ekonomi pro-poor. 1.3 Tujuan dan Hipotesis Penelitian Tujuan umum dari studi ini adalah menjawab pertanyaan apakah investasi air minum di DKI Jakarta sudah bersifat pro-poor yang ditunjukkan oleh terjadinya pertumbuhan yang mengurangi kesenjangan. Tujuan khusus dari studi adalah (i) mengembangkan model komputasi keseimbangan umum air minum, (ii) menganalisis dampak investasi air minum perpipaan terhadap pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan, (iii) menganalisis dampak penyediaan air minum nonperpipaan terhadap pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan, (iv) menganalisis dampak penyediaan subsidi air minum bagi rumah tangga berpendapatan rendah, dan (v) memberikan rekomendasi kebijakan pembangunan air minum di DKI Jakarta. Secara teoritis, terdapat empat faktor pertumbuhan, yaitu sumber daya manusia, sumber daya alam, pembentukan modal, dan teknologi (Nordhaus, 2004). Oleh karena itu, investasi infrastruktur, termasuk air minum yang berupa penambahan modal, merupakan salah satu penyumbang pertumbuhan ekonomi. Secara empiris, terdapat banyak studi yang membuktikan kebenaran pengaruh positif investasi infrastruktur, termasuk air minum, terhadap pertumbuhan ekonomi. (i) Barro (1995) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi jangka panjang tergantung pada langkah pemerintah dalam penyediaan infrastruktur. (ii) studi Bank Dunia pada 63 negara berkembang menunjukkan bahwa penambahan satu persen stok infrastruktur berkorelasi dengan pertumbuhan satu persen PDB. (iii) Canning (1999), dan Demetriades dan Mamuneas (2000) melaporkan kontribusi output yang signifikan dari infrastruktur. (iv) Stephen Yeaple dan Stephen S. Golub (2002) menyimpulkan bahwa

6

penambahan kapasitas pelayanan infrastruktur sebesar satu persen akan meningkatkan nilai produktivitas faktor total (TFP) sebesar 0,12. (v) Estache dkk (2002) menunjukkan bahwa penambahan stok infrastruktur sebesar 10 persen menghasilkan peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 1,5 persen. (vi) Kajian Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM (2003) menunjukkan bahwa investasi infrastruktur meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pemerataan. (vii) Kajian Bappenas (2004) menunjukkan bahwa penambahan kapasitas pelayanan infrastruktur memberikan dampak positif pada perekonomian nasional. Sementara kajian WHO (2004) melalui the Swiss Tropical Institute menyimpulkan bahwa investasi air minum dan sanitasi sebesar USD.1 akan memberikan pengembalian sebesar antara USD.3 sampai USD.34, bergantung pada lokasinya. Selain itu, beberapa analisis terbaru menunjukkan bahwa pengelolaan air berada pada peringkat kedua terbesar dalam investasi infrastruktur bagi kebangkitan ekonomi (Tan, 2000). Debat kaitan antara pertumbuhan pendapatan per kapita dan kesenjangan diprakarsai oleh Kutznets (1955) yang menemukan bahwa terdapat hubungan U terbalik antara pendapatan dan kesenjangan berdasar penelitian antarnegara. Pertumbuhan terjadi dahulu, kesenjangan melebar, lalu kemudian kesenjangan menurun (Anand dan Kanbur, 1993). Di pihak lain, literatur empiris terkini, seperti oleh Deininger dan Squire

(1996), Chen dan Ravallion (1997), Easterly (1999), dan Dollar dan Kraay (2002), seluruhnya menyatakan bahwa pertumbuhan tidak mempunyai dampak pada kesenjangan (World Bank Poverty Net). Pada kenyataannya, perbedaan pendapat tentang kaitan pertumbuhan dan kesenjangan lebih terlihat pada literatur teoritis, sementara literatur empiris secara seragam menyatakan bahwa pertumbuhan tidak mempunyai dampak sistematik pada kesenjangan. Perdebatan ini juga kemudian makin kontroversial ketika penyediaan air minum diserahkan pada swasta. Meskipun pengamatan secara internasional menunjukkan secara umum dampak privatisasi menguntungkan (Kikeri dan Nellis,

7

2001; Megginson dan Netter, 2001; Shirley dan Walsh, 2001), dampaknya di negara berkembang tetap kontroversial (Parker, 2003). Debat tentang peran swasta dalam penyediaan air minum telah berlangsung lama, sebagian mendukung dan selebihnya menentang. Pihak pendukung menyatakan privatisasi meningkatkan efisiensi (misalnya tingkat kebocoran air menurun dan tagihan macet berkurang), dan mendorong bertambahnya investasi. Pihak penentang menyatakan bahwa swasta hanya mementingkan keuntungan dengan mengabaikan kesejahteraan dan meningkatkan tarif tanpa mempedulikan kualitas layanan. Jika dikaitkan dengan pembangunan air minum di DKI Jakarta yang sejak tahun 1997 dilaksanakan oleh swasta melalui skema konsesi, hasilnya telah cukup memadai, seperti menurunnya tingkat kebocoran dan meningkatnya investasi yang tentunya mendorong pertumbuhan ekonomi. Di pihak lain, masih banyak penduduk miskin yang belum terlayani. Hal ini ditengarai oleh tidak tersedianya insentif yang memadai bagi perusahaan ketika penyediaan air minum diarahkan pada penduduk miskin. Bahkan, dalam tujuan kerja sama pemerintah dan swasta tersebut tidak secara eksplisit dicantumkan keberpihakan pada penduduk miskin. Kondisi ini kemudian mendasari hipotesis pertama dari studi ini yang menyatakan bahwa peningkatan investasi air minum perpipaan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi sebaliknya akan memperburuk distribusi pendapatan. Ketidaktersediaan akses air minum yang memadai bagi penduduk khususnya penduduk miskin, mendorong penduduk mencari alternatif sumber air minum. Salah satu sumber air minum yang menjadi pilihan bagi penduduk adalah penyedia air minum skala kecil (small scale water provider). Kebutuhan air minum perpipaan yang baru menjangkau sekitar 52,4 persen penduduk menjadikan investasi penyedia air minum skala kecil ini relatif siginifikan walaupun dalam bentuk investasi yang kecil dan tersebar dalam jumlah yang cukup banyak. Kondisi itu menjadikan investasi air minum nonperpipaan mendorong pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, karena harga air minum nonperpipaan relatif besar, bahkan mencapai sekitar 10 sampai 20 kali harga air minum perpipaan, secara umum porsi pengeluaran penduduk menjadi signifikan. Pendapatan yang dapat ditabung untuk keperluan lain menjadi jauh berkurang

8

sehingga kesejahteraan penduduk menjadi relatif berkurang. Tentunya pengurangan kesejahteraan itu menjadi suatu pilihan yang relatif lebih baik ketika pilihan lainnya, seperti sumur, dan air sungai, berpotensi menyebabkan meningkatnya biaya kesehatan akibat serangan penyakit yang diakibatkan oleh air (water-borne disease) yang jauh lebih besar dampaknya. Dalam memperhatikan kondisi itu, hipotesis kedua dari studi ini menjadi peningkatan penyediaan air minum nonperpipaan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memperburuk distribusi pendapatan Sebagaimana diketahui bahwa dari sisi pengeluaran, penanggulangan kemiskinan dan redistribusi pendapatan oleh pemerintah dapat dilaksanakan secara langsung melalui tiga instrumen, yaitu (i) subsidi langsung atau individual yang ditargetkan pada rumah tangga miskin, (ii) subsidi harga yang berupa pemberian subsidi harga pada kebutuhan dasar, dan (iii) pengeluaran pemerintah pada infrastruktur dan layanan publik khususnya kesehatan dan menguntungkan masyarakat miskin (Damuri, 2003). Ketika ketiadaan akses air minum menjadi salah satu penyebab semakin besarnya kemiskinan perkotaan, pemerintah dapat melakukan terobosan dengan memberikan subsidi penyediaan air minum kepada penduduk miskin yang belum memperoleh akses yang layak. Secara teoritis, terlepas dari besarnya kemungkinan kebocoran di lapangan, pemberian subsidi dalam jangka pendek akan sangat membantu dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin. Pengaruh subsidi air minum terhadap pertumbuhan ekonomi tidak akan sebesar pengaruh investasi air minum, tetapi dampaknya terhadap kesejahteraan akan signifikan. Hal ini akan memunculkan hipotesis ketiga yaitu subsidi pemerintah akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki distribusi pendapatan. 1.4 Manfaat dan Kontribusi Penelitian Manfaat studi ini adalah memberi pemahaman mendalam mengenai dampak kebijakan investasi air minum, baik berupa investasi maupun subsidi pemerintah, terhadap perekonomian daerah khususnya pertumbuhan ekonomi dan distribusi
9

pendidikan, yang

pendapatan. Diharapkan pengambil kebijakan dapat memahami bahwa investasi air minum bukan sekadar alat pemenuhan kebutuhan dasar, melainkan juga sebagai alat penanggulangan kemiskinan melalui pembenahan distribusi pendapatan. Kontribusi utama dari studi ini adalah sebagai berikut. (i) Pengembangan basis data (data base) SNSE Air Minum DKI Jakarta Tahun 2000. Basis data ini merupakan pengembangan dari SNSE DKI Jakarta 2000 skala 103x103. (ii) Pengembangan model komputasi keseimbangan umum air minum DKI Jakarta. Telah banyak studi yang meneliti dampak investasi infrastruktur dengan menggunakan model komputasi keseimbangan umum di Indonesia, tetapi belum terdapat model komputasi kesetimbangan umum yang secara khusus meneliti dampak investasi air minum di tingkat subnasional. (iii) Saran dan masukan bagi kebijakan pembangunan air minum DKI Jakarta. Hasil studi dapat dijadikan sebagai masukan bagi pengembangan kebijakan terkait dengan pembangunan air minum di DKI Jakarta. 1.5 Pendekatan dan Ruang Lingkup Penelitian Studi ini menggunakan model komputasi keseimbangan umum (Computable General Equilibrium). Pemilihan model ini dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan model untuk menyimulasikan, baik dampak langsung maupun tidak langsung, dari suatu kebijakan terhadap kondisi ekonomi makro dan kondisi sosial sehingga akibat suatu kebijakan dapat dievaluasi secara lebih baik dan menyeluruh. Penerapan model komputasi kesetimbangan umum (CGE) melalui beberapa tahap, yaitu sebagai berikut. a. Studi literatur. Fokus kegiatan awal ini adalah berupa penelusuran penerapan model CGE dalam analisis perekonomian. Keluaran dari tahapan ini adalah berupa pilihan model CGE yang berkesesuaian dengan tujuan studi berikut dasar-dasar spesifikasi model CGE yang akan dikembangkan agar dapat dipergunakan sebagai alat analisis sesuai dengan tujuan studi ini.

10

b.

Pengembangan basis data yang diperlukan. Data yang akan dipergunakan dalam penelitian ini sebagian besar akan berasal dari Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) DKI Jakarta Tahun 2000. SNSE ini kemudian dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan studi dengan melakukan (i) pembagian klasifikasi pada faktor produksi bukan tenaga kerja menjadi dua yaitu investasi air minum perpipaan (PAM Jaya) dan investasi air minum nonperpipaan dan investasi lainnya, dan (ii) pemecahan sektor produksi air bersih menjadi dua yaitu air minum perpipaan (PT. Thames Jaya dan PT. Palyja) dan air minum nonperpipaan (small scale provider, dan lainnya). SNSE ini kemudian disebut SNSE Air Minum DKI Jakarta 2000, yang kemudian diverifikasi dengan menggunakan data-data tambahan seperti data perekonomian DKI Jakarta (PDRB), data kemiskinan, dan lainnya.

c.

Pengembangan model. Pengembangan model mengadopsi Model Donny Azdan11 dengan melakukan beberapa perubahan yang mengacu pada perbedaan (i) sumber data yang dipergunakan. Model Azdan menggunakan basis data SNSE DKI Jakarta Tahun 1993, sementara model pada studi ini menggunakan SNSE DKI Jakarta Tahun 2000, (ii) dampak yang akan dihitung. Model Azdan menjelaskan dampak perubahan kebijakan harga air minum dan penggunaan air tanah sebagai sumber air minum terhadap pendapatan rumah tangga, sementara studi ini menjelaskan pengaruh peningkatan investasi air minum terhadap pertumbuhan ekonomi, dan distribusi pendapatan, (iii) simulasi kebijakan yang akan dilakukan. Simulasi model Azdan difokuskan pada aspek harga air minum dan substitusi air tanah. Sementara model dalam studi ini difokuskan pada investasi air minum perpipaan, air minum nonperpipaan, dan subsidi pemerintah.

d.

Pelaksanaan simulasi. Terdapat enam simulasi yang dilakukan yaitu sebagai berikut. (i) peningkatan investasi air minum perpipaan.

11

Azdan, M. Donny. Water Policy Reform in Jakarta, Indonesia: A CGE Analysis. Unpublished Dissertation. The Ohio State University 2001.

11

(ii)

peningkatan investasi air minum nonperpipaan.

(iii) peningkatan penyediaan air minum melalui subsidi pemerintah. Dalam hubungan dengan simulasi (iii), terdapat dua skenario pada simulasi ini, yaitu (a) sumber subsidi dari peningkatan pajak air minum dan (b) sumber subsidi dari pemerintah pusat. (iv) peningkatan investasi air minum perpipaan disertai penyediaan subsidi. Dalam hubungan dengan simulasi (iv), terdapat dua skenario pada simulasi ini, yaitu (a) sumber subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan dan (b) sumber subsidi dari pemerintah pusat. Selain itu, khusus untuk simulasi (iii) dan (iv), dilakukan pembedaan hasil simulasi berdasarkan kelompok penerima subsidi yaitu kelompok penerima rumah tangga termiskin (RT sangat miskin I) dan kelompok penerima seluruh RT miskin (kelompok rumah tangga sangat miskin I, sangat miskin II, miskin I, dan miskin II). e. Perumusan rekomendasi. Dalam menindaklanjuti hasil simulasi, beberapa rekomendasi kebijakan dapat dihasilkan. Lingkup studi adalah mengkaji dampak investasi air minum, baik perpipaan maupun nonperpipaan, dan dampak subsidi air minum di DKI Jakarta terhadap

pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan. Sebagaimana dipercayai selama ini, investasi merupakan pemicu terjadinya pertumbuhan ekonomi yang kemudian diharapkan dapat menjadi alat dalam menanggulangi kemiskinan. Secara harafiah, ketika penduduk miskin lebih banyak mendapat manfaat jika dibandingkan dengan yang lainnya dari pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan disebut ‘pro-poor’. Selain itu, untuk dapat disebut pertumbuhan pro-poor, pertumbuhan harus disertai pengurangan kesenjangan. Dengan kata lain, studi ini akan menguji apakah investasi air minum mendorong terjadinya pertumbuhan pro-poor. Untuk itu, dampak investasi difokuskan pada pertumbuhan ekonomi, dan distribusi pendapatan. 1.6 Sistematika Penulisan Penulisan disertasi ini dibagi dalam enam bagian, yaitu sebagai berikut.

12

Bab I

Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, masalah penelitian, tujuan dan hipotesis penelitian, manfaat dan kontribusi penelitian, pendekatan dan ruang lingkup, serta sistematika penulisan

Bab II

Kondisi Sektor Air Minum DKI Jakarta, yang menjabarkan kondisi umum dan perekonomian DKI Jakarta, kebijakan sektor air minum, sumbangan sektor air minum terhadap perekonomian DKI Jakarta, kondisi pelayanan air minum praprivatisasi dan pascaprivatisasi DKI Jakarta.

Bab III Penyediaan Air Minum,

Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi

Pendapatan, yang memerinci, baik tinjauan teoritis maupun empiris, tentang penyediaan air minum perpipaan dan nonperpipaan, keterkaitan kemiskinan perkotaan dan ketersediaan air minum, dampak ketersediaan air minum terhadap pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan dan kemiskinan, keterkaitan pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan, dan

penanggulangan kemiskinan. Bab IV Pemodelan Dampak Investasi Air Minum, yang menguraikan SNSE dan model komputasi keseimbangan umum (termasuk riset terdahulu yang menggunakan model dan bidang yang sama), menjabarkan proses pemodelan dampak investasi air minum terhadap pertumbuhan ekonomi, dan distribusi pendapatan di DKI Jakarta. Bab V Skenario Kebijakan dan Hasil Simulasi. Pada bagian ini dijelaskan tentang skenario kebijakan, simulasi, dan hasil simulasi. Bab VI Kesimpulan dan Rekomendasi. Sebagai bagian akhir diuraikan kesimpulan studi dan rekomendasi, beberapa kelemahan studi ini, dan kemungkinan studi lanjutan.

13

BAB II KONDISI SEKTOR AIR MINUM DKI JAKARTA 2.1 2.1.1 Gambaran Umum DKI Jakarta Administrasi Luas DKI Jakarta mencapai 662 km2 dan terbagi dalam 6 wilayah administrasi, yaitu Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu.
Peta DKI Jakarta

2.1.2

Kependudukan Penduduk DKI Jakarta pada

tahun 2004 sebanyak 8,72 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan 1,01

persen per tahun selama periode 2000 – 2004. Laju pertumbuhan penduduk DKI Jakarta pada periode 1980-1990

mencapai 2,42 persen per tahun, kemudian menurun tajam selama periode 1990-2000 yang menjadi hanya 0,16
Sumber: Situs Pemda DKI

persen per tahun. Laju pertumbuhan periode 2000-2004 relatif lebih besar daripada periode 1990-2000 walaupun masih lebih kecil daripada pertumbuhan periode 1980-1990. Jumlah penduduk sangat berbeda antara siang hari dan malam hari. Siang hari penduduk DKI Jakarta mencapai sekitar 11 juta sebagai akibat banyaknya penduduk pendatang khususnya asal Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Bodetabek) yang bekerja di Jakarta. Persebaran penduduk DKI Jakarta tahun 2004 relatif tidak merata. Sekitar 28 persen bertempat tinggal di Jakarta Timur, kemudian 23 persen di Jakarta Barat, dan

14

21 persen di Jakarta Selatan. Selebihnya, sekitar 10 persen bertempat tinggal di Jakarta Pusat dan 0,27 persen di Kepulauan Seribu. Kepadatan penduduk rata-rata DKI Jakarta tahun 2004 mencapai 13 ribu jiwa/km2. Jakarta Pusat mempunyai tingkat kepadatan tertinggi (18 ribu jiwa/km2), sementara daerah lainnya bervariasi antara 9 ribu sampai 15 ribu jiwa/km2.
Tabel 2.1 Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk DKI Jakarta Tahun 1980 - 2004
Jumlah Penduduk (Jiwa) Kota 1980 Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Selatan Kepulauan Seribu DKI Jakarta 1990 2000 2004 981.272 1.369.630 1.444.027 1.423.845 1.234.885 1.822.762 1.906.385 2.020.030 1.460.068 2.067.222 2.353.023 2.473.200 1.245.030 1.086.568 -** -** 893.198 -** 899.460 23.310 Laju Pertumbuhan (%) 19801990 3,39 3,97 3,54 -1,35 1,92 -** 2,42 19902000 0,55 0,46 1,35 -2,01 -0,69 -** 0,16 20002004 -0,36 1,50 1,27 0,17 1,34 -** 1,01

1.582.194 1.913.084 1.789.006 1.885.785

6.503.440 8.259.266 8.385.639 8.725.630

Sumber: BPS DKI Jakarta berbagai tahun

Keterangan: ** belum terbentuk

2.2 2.2.1

Kondisi Perekonomian DKI Jakarta Pangsa dan Pertumbuhan Sektor Ekonomi
Gambar 2.1 PDRB DKI Jakarta 2000-2003 Harga Konstan 1993 (Rp. Triliun)

Sektor PDRB yang dominan di DKI Jakarta pada tahun 2003 berdasarkan sumbangannya terhadap perekonomian adalah Perdagangan, Hotel dan Restoran (24,3 persen); Industri Pengolahan (21,1 persen); Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan (22,2 persen).

Jasa-Jasa Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Pengangkutan dan Komunikasi Perdagangan, Hotel dan Restoran Bangunan Listrik, Gas dan Air Bersih Industri Pengolahan

S umber: Tabel 2.2

0

5

10 2000 2003

15

20

15

Sementara Listrik, Gas dan Air Bersih hanya menyumbang sebesar 2,2 persen terhadap total PDRB. Pangsa tersebut relatif stabil jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2000. Pertumbuhan PDRB DKI Jakarta periode 2000-2003, berdasar harga konstan 1993, mencapai sekitar 4,17 persen per tahun. Ada tiga sektor yang pertumbuhannya relatif tinggi. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi mencapai 6,17 persen per tahun. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih mencapai 5,49 persen per tahun. Kemudian, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran mencapai 5,1 persen per tahun. Ketiga sektor tersebut mencapai tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata PDRB DKI Jakarta pada periode yang sama.
Tabel 2.2 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DKI Jakarta Tahun 2000 dan 2003 (Berdasar Harga Konstan 1993) dalam Rp. Juta
2000 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Kehutanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Total Sumber: BPS, berbagai tahun Absolut 115.742 0 12.875.191 1.245.846 6.535.392 14.166.037 5.736.012 13.285.022 5.735.176 59.694.418 (%) 0,2 0 21,6 2,1 10,9 23,7 9,6 22,3 9,6 100,0 2003 Absolut 107.430 0 14.172.360 1.450.360 7.068.180 16.334.370 6.797.170 14.946.130 6.286.710 67.162.710 (%) 0,2 0 21,1 2,2 10,5 24,3 10,1 22,2 9,4 100,0

Gambar 2.2 Pertumbuhan PDRB/Kapita DKI Jakarta Harga Konstan 1993 Tahun 1996-2002
10.00 5.00 0.00 Persen -5.00 -10.00 -15.00 -20.00 Periode 96/97 97/98 98/99 99/00 00/01 01/02

Pangsa sektor listrik, gas, dan air bersih relatif kecil terhadap total PDRB DKI Jakarta, tetapi laju pertumbuhannya relatif besar yang melebihi tingkat pertumbuhan ratarata DKI Jakarta.

16

2.2.2

Pendapatan per Kapita PDRB per Kapita DKI Jakarta Tahun 2002 berdasarkan harga konstan 1993

mencapai sekitar Rp. 7,6 juta. Pertumbuhan PDRB per Kapita me-nunjukkan peningkatan yang stabil sejak tahun 1999, dengan angka pertumbuhan sekitar 3,08 sampai 3,99 persen per tahun. PDRB per kapita DKI Jakarta berdasarkan harga konstan 1993 sempat mengalami pertumbuhan negatif sejak krisis ekonomi melanda Indonesia, dengan pertumbuhan negatif tertinggi mencapai –17,62 persen per tahun (1998/1999). Walaupun demikian tingkat pertumbuhan beberapa tahun terakhir belum menyamai tingkat pertumbuhan sebelum krisis. Hal itu selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per Kapita DKI Jakarta Periode 1996-2002
PDRB/Kapita (Rp.) Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Harga Berlaku 9.983.491 11.664.943 16.696.695 19.767.326 22.425.675 26.172.486 30.184.176 PertumbuhHarga Kons- an PDRB/ Kapita* tan 1993 7.998.277 8.393.272 6.914.252 6.883.322 7.095.199 7.364.777 7.658.911 4.94 - 17.62 - 0.45 3.08 3.80 3.99 96/97 97/98 98/99 99/00 00/01 01/02

Periode

Sumber: BPS DKI Jakarta, 2003

Keterangan: * harga konstan

2.2.3

Tingkat Kemiskinan Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin DKI Jakarta cenderung

meningkat setelah krisis ekonomi. Sebelum krisis ekonomi (tahun 1996), penduduk miskin mencapai 215 ribu jiwa (tingkat kemiskinan 2,4 persen), kemudian meningkat menjadi 284,7 ribu jiwa (2,9 persen) pada tahun 2000. Angka ini terlihat tetap meningkat pada tahun 2003 yaitu 314,7 ribu jiwa dengan tingkat kemiskinan mencapai 3,7 persen.

17

Daerah dengan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi melampaui tingkat kemiskinan rata-rata DKI Jakarta (3,7 persen) adalah Jakarta Utara (9,2 persen), Jakarta Pusat (5,2 persen), dan Kepulauan Seribu (11,3 persen).
Tabel 2.4 Jumlah Penduduk Miskin DKI Jakarta Tahun 1996, 2000 dan 2003
Kota Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Selatan Kepulauan Seribu DKI Jakarta INDONESIA Jumlah Penduduk Miskin (jiwa) 1996 2000 2003 73.300 103.570 129.196 31.500 68.957 59.159 54.100 44.014 55.486 32.000 37.135 45.333 24.800 31.033 23.392 -** -** 2.136 215.700 284.709 314.702 34.500.000 38.700.000 37.400.000 Tingkat Kemiskinan*) (%) 1996 2000 2003 4,6 5,3 9,2 1,4 3,1 3,0 2,2 1,9 2,3 3,3 3,8 5,2 1,2 1,5 1,3 -** -** 11,3 2,4 2,9 3,7 11,3 19,1 17,4

Sumber: BPS DKI Jakarta, 2004. Keterangan: *) Jumlah Penduduk Miskin dibagi Jumlah Penduduk ( x 100%) **) Belum terbentuk

Gambar 2.3 Penyebaran Penduduk Miskin DKI Jakarta Tahun 1996, 2000 dan 2003 50 40 persen 30 20 10 0
Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Timur
1996

Penduduk miskin terdistribusi tidak merata di DKI Jakarta, dengan konsentrasi terbesar di Jakarta Utara yang mencapai sekitar 41 persen dari total penduduk miskin. Sementara konsentrasi penduduk miskin di Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Ja-

Jakarta Pusat

Jakarta Selatan

Kepulauan Seribu

karta Pusat relatif berimbang. Kepulauan Seribu mempunyai tingkat kemiskinan ter-

2000

2003

tinggi di DKI Jakarta tetapi jumlahnya relatif kecil terhadap total jumlah penduduk miskin DKI Jakarta (0,7 persen) (Gambar 2.3). Namun, jumlah penduduk miskin sebagaimana yang dinyatakan oleh BPS masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan beberapa angka penduduk miskin dengan menggunakan indikator yang berbeda. Indikator lain yang digunakan untuk mengukur kemiskinan perkotaan di Jakarta adalah jumlah penduduk yang tinggal di kampung atau permukiman liar. Meskipun tidak semua yang tinggal pada lokasi tersebut miskin, terdapat kecen-

18

derungan penduduk miskin berlokasi di permukiman liar dan padat. Dengan menggunakan indikator ini diperkirakan sekitar 20-25 persen penduduk Jakarta dapat dikategorikan sebagai penduduk miskin. Termasuk dalam kategori ini adalah penduduk yang tinggal di tepi sungai (McCarthy, 2003). Perbedaan angka penduduk miskin pada dua indikator itu kemungkinan berasal dari banyaknya penduduk yang tidak tercatat sebagai penduduk DKI Jakarta walaupun kenyataannya mereka bertempat tinggal di DKI Jakarta. 2.2.4 Distribusi Pendapatan Data Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) DKI Jakarta Tahun 2000 mengklasifikasikan tingkat pendapatan ke dalam 10 kategori. Pada kategori terendah dengan tingkat pendapatan dibawah Rp1.691.380,00 per kapita per tahun atau sekitar Rp.141.000,00 per kapita per bulan12, ternyata proporsi penduduk pada kelompok tersebut mencapai 1.055.905 jiwa atau 12,6 persen dari total penduduk. Sementara semakin tinggi golongan pendapatan, semakin kecil proporsi penduduknya.
Tabel 2.5 Distribusi Pendapatan per Kapita DKI Jakarta Menurut Golongan Rumah Tangga, Tahun 2000
Golongan Rumah Tangga Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Golongan V Golongan VI Golongan VII Golongan VIII Golongan IX Golongan X Total Jumlah Penduduk (Jiwa) 1.055.905 1.020.618 985.015 946.080 849.298 792.495 735.012 696.575 675.782 628.073 8.384.853 (%) 12,6 12,2 11,7 11,3 10,1 9,4 8,8 8,3 8,1 7,5 100 Pendapatan rata-rata per Kapita per Tahun (Rp) 1.812.680 2.784.920 3.502.380 5.245.410 6.670.050 9.259.470 12.962.420 16.592.900 22.826.250 86.434.400 13.950.180

Sumber: BPS DKI Jakarta 2002

12

Tingkat pendapatan penduduk yang diklasifikasikan sebagai penduduk miskin di perkotaan berdasar standar BPS adalah Rp.139.000,00 per kapita per bulan.

19

Rata-rata pendapatan per kapita di DKI Jakarta pada tahun 2000 mencapai Rp.13.950.180,00 per tahun (berdasarkan harga berlaku) atau sekitar Rp.1.162.515,00 per bulan. Sementara pendapatan rata-rata per kapita antara golongan I dan golongan X terlihat berbeda jauh. Kesenjangan pendapatan mencapai rasio 1 : 47,7. Berdasarkan SNSE DKI
Gambar 2.4 Distribusi Pendapatan DKI Jakarta 2000 (%)

Jakarta 2000 ukuran 38x38, penggolongan rumah tangga diklasifikasikan dalam 3 golongan yaitu (i) golongan bawah yang merupakan 40 persen rumah tangga dengan pengeluaran konsumsi paling bawah, (ii) golongan menengah yang merupakan 40 persen rumah tangga dengan tingkat penge-

11.1

29.3 59.6

bawah

menengah

atas

luaran konsumsi di atas rumah tangga golongan bawah, (iii) golongan atas yang merupakan 20 persen rumah tangga dengan tingkat konsumsi tertinggi. Disini terlihat bahwa golongan atas yang hanya mencakupi 20 persen dari total penduduk menikmati pendapatan hingga mencapai 59,6 persen. Sementara golongan bawah dan golongan menengah masing-masing menikmati hanya sebesar 11,3 persen dan 29,1 persen. Data ini menunjukkan besarnya kesenjangan pendapatan di DKI Jakarta. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.6.
Tabel 2.6 Distribusi Pendapatan per Kapita DKI Jakarta Menurut Golongan Rumah Tangga, 2000
Golongan Rumah Tangga Golongan Bawah Golongan Menengah Golongan Atas Total Jumlah Penduduk (Jiwa) 4.007.619 3.073.380 1.303.854 8.384.853 Total Pendapatan (Rp. Juta) 13.168.827 34.088.680 69.712.680 116.970.187 (%) 11,3 29,1 59,6 100 Pendapatan per Kapita (Rp) 3.285.948 11.091.593 53.466.630 13.950.177

Sumber: BPS DKI Jakarta, 2000.

20

Berdasarkan kriteria Bank Dunia, jika penduduk golongan bawah yang merupakan 40 persen rumah tangga dengan pendapatan terendah menerima kurang dari 12 persen dari jumlah pendapatan, hal itu menunjukkan tingkat ketimpangan yang tinggi dari distribusi pendapatan. Jika penduduk tersebut menerima antara 12–17 persen, hal itu menunjukkan tingkat ketimpangan yang sedang dari distribusi pendapatan. Kemudian, jika penduduk tersebut menerima lebih besar dari 17 persen, hal itu menunjukkan tingkat ketimpangan yang rendah dari distribusi pendapatan. Setelah memperhatikan kriteria di atas, kita dapat mengatakan bahwa ketimpangan distribusi pendapatan di DKI Jakarta termasuk dalam kategori tinggi. Jika diukur dengan menggunakan rasio Gini, besaran rasio Gini DKI Jakarta pada tahun 2000 mencapai 0,59713 yang menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan tinggi (BPS DKI Jakarta, 2003). 2.2.5 Kebijakan Sektor Air Minum DKI Jakarta Sasaran pembangunan air minum DKI Jakarta adalah meningkatkan cakupan layanan air perpipaan, mengurangi penggunaan air tanah, dan mencapai sistem distribusi air minum yang merata dan terjangkau. Kebijakan utama pembangunan air minum DKI Jakarta adalah (i) menyediakan dan meningkatkan kualitas air baku instalasi pengolah yang ada, (ii) meningkatkan kapasitas instalasi pengolahan air minum dan jaringan distribusi, (iii) memprioritaskan daerah padat dan daerah dengan kualitas air tanah jelek, (iv) membenahi koordinasi diantara institusi terkait untuk melindungi kualitas air baku, dan (v) merehabilitasi jaringan perpipaan untuk mengurangi kebocoran. 2.2.6 Pola Penyediaan Air Minum di DKI Jakarta DKI Jakarta dilalui oleh 13 sungai, beberapa kanal dan 11 danau dengan luas sekitar 111 ha. Beberapa tahun terakhir, penggunaan air permukaan sebagai sumber air menjadi semakin terbatas14. Air sungai menjadi semakin kotor sehingga hanya berfungsi sebagai drainase dan pengendali banjir. Walaupun demikian, beberapa

13 14

Angka rasio Gini ini dihitung menggunakan pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income). Pemerintah DKI Jakarta mengklasifikasikan penggunaan sungai dalam kategori (i) sumber air minum; (ii) sumber air bersih; (iii) sesuai bagi tempat mancing; (iv) pengendali banjir.

21

bagian sungai masih menjadi sumber air bagi perusahaan air minum. Sumber air permukaan lainnya yang berupa danau hanya dipergunakan sebagai pengendali banjir (Argo, 1999). Pola penyediaan air minum di DKI Jakarta sejak zaman penjajahan Belanda tidak berubah banyak. Pada zaman Belanda, air minum perpipaan merupakan salah satu unsur pelayanan publik yang pendistribusiannya berdasar pembedaan

pengelompokan etnis. Permukiman yang mendapat akses air minum merupakan permukiman elite. Saat ini, penyediaan air minum cenderung memisahkan pengguna berdasar permukiman legal vs permukiman liar, permukiman mewah vs permukiman kumuh. Keputusan penyediaan air minum cenderung mengarah pada daerah elite, permukiman menengah ke atas dan daerah yang terencana baik. 2.3 2.3.1 A. Perkembangan dan Rencana Pengembangan Penyediaan Air Minum DKI Jakarta Praprivatisasi Pengelolaan Air Minum DKI Jakarta Perkembangan Awal Penyediaan air minum DKI Jakarta telah dimulai sejak tahun 1843, yang bersumber dari sumur dalam di beberapa lokasi. Kemudian, pada tahun 1918, Pemerintah Belanda meresmikan Water Leidingen Bedriff van Batavia (Local Water Supply Enterprise of Batavia) untuk mengelola distribusi air perpipaan yang menggunakan sumber air baku dari sungai. Salah satu maksud pendirian perusahaan ini adalah memperkenalkan penyediaan air minum yang bersifat egaliter15. Pada tahun 1922 Pemerintah Belanda membangun jaringan pipa dengan kapasitas 484 liter/detik bersumber dari mata air Ciomas-Ciburial, Bogor. Namun, dalam kenyataannya penduduk asing mendapat jauh lebih banyak air minum jika dibandingkan dengan pribumi. Pribumi memperoleh air minum dari sumber hidran dan membayar lebih mahal (Argo, 2000). Pada tahun 1953, Instalasi Pengolah Air Pejompongan I dibangun dengan kapasitas 2.000 liter/detik, kemudian disusul tahun 1964 dengan Water Treatment Plant (WTP) Pejompongan II dengan kapasitas 3.000 liter/detik. Cakupan pelayanan

15

Pada masa itu, penduduk asing mendapatkan keistimewaan (privilege) untuk mendapatkan air minum.

22

meningkat menjadi 12,5 persen dari total penduduk. Namun, banyak penduduk miskin yang tidak menggunakan air minum perpipaan karena tidak mampu membayar sehingga mereka tetap menggunakan sumur dan kanal. Pada tahun 1968, PDAM Jakarta dipisahkan dari Departemen Pekerjaan Umum dan menjadi PAM Jaya berdasar Peraturan Pemerintah Daerah No. 3 Tahun 1977. Sementara pemerintah mulai mempertimbangkan untuk menambah kapasitas penyediaan air minum bagi penduduk miskin. Pada tahun 1972, Rencana Induk Pengembangan Air Minum dan Saluran Air Limbah diselesaikan sebagai acuan dalam meningkatkan sistem penyediaan air minum DKI Jakarta. Rencana Induk tidak langsung dapat dilaksanakan. Pemerintah DKI Jakarta masih bergantung pada pemerintah pusat. Pembangunan sebagian besar fasilitas dibiayai pemerintah pusat. Kemampuan pemerintah kota menyediakan air minum masih tertinggal oleh kebutuhan penduduk akan air minum. Permintaan air minum dari rumah tangga, industri, perdagangan semakin meningkat. Akibatnya, sejak tahun 1970-an, volume air yang diambil dari sungai dan kanal bertambah dengan pesat. Pada saat bersamaan, sumur pompa mulai dipergunakan. Antara tahun 1968-1975, jumlah sumur dalam bertambah sebanyak 1.200 yang sekitar 60 persen melayani kebutuhan industri (Tirtomiharjo, 1996). Cakupan pelayanan air minum tahun 1975 meningkat menjadi 25 persen dari total penduduk. Kapasitas produksi meningkat menjadi 2.300 liter/detik. Selanjutnya, dengan semakin meningkatrnya kebutuhan air minum, dibangunlah WTP Pulogadung dengan kapasitas 4.000 liter/detik, WTP Buaran dengan kapasitas 5.000 liter/detik. Beberapa WTP dengan kapasitas kecil juga dibangun sehingga total kapasitas produksi air minum mencapai 18.000 liter/detik. Berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Air Minum DKI Jakarta, sampai tahun 2019, tercatat 83 persen penduduk Jakarta akan mendapat akses air minum. Hal ini berarti bahwa kapasitas produksi harus ditingkatkan menjadi 44.520 liter/detik dengan asumsi kebutuhan air 185 liter/kapita/hari dan tingkat kehilangan air 25 persen.

23

B.

Sumber Air Minum Rumah Tangga Sumber air minum penduduk DKI Jakarta bergantung pada tiga sumber utama

yaitu air perpipaan, air tanah dan penjaja air keliling. Pada kondisi tertentu, banyak penduduk yang mempunyai lebih dari satu sumber air minum. Pada tahun 1993, porsi terbesar sebagai sumber utama air minum adalah air tanah (55,7 persen), sementara porsi air perpipaan dan penjaja air keliling sebagai sumber air minum relatif berimbang masing-masing 22,6 persen dan 21,7 persen (Cestti, 1994). C. Produksi Air Perpipaan Pada tahun 1997, PAM Jaya memiliki
Gambar 2.5 Produksi dan Air Terjual PAM Jaya 1993-1997
450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 1993 1994 1995 1996 1997

enam instalasi pengolah, tujuh instalasi kecil dan satu instalasi transmisi mata air. Kapasitas produksi keseluruhan instalasi pengolahan mencapai 382 juta m3 tetapi hanya 191 juta m3 (46 persen) didistribusikan, sehingga terdapat 54 persen air terbuang (non revenue water). Diperkirakan
Gambar 2.6 Penerimaan dan Biaya Operasional PAM Jaya 1993-1997
300 250

Produksi (juta m3)

Terjual (juta m3)

kebocoran pipa mencapai 40 persen dan kebocoran karena sambungan liar dan kesalahan penagihan terdapat sekitar 10 persen. Rata-rata penyaluran air minum hanya mencapai 9 jam per hari sehingga sebagian konsumen mengalami kesulitan mendapatkan air pada jam tertentu (Shofiani, 2003). Produksi air terus meningkat tetapi ting-kat kebocoran tidak berubah, yaitu di sekitar angka 50 persen. Hal ini yang menyebabkan penerimaan bersih PAM Jaya relatif konstan dari tahun 1993 sampai tahun 1997 pada besaran sekitar 30 miliar Rupiah walaupun penerimaan kotor PAM Jaya terus meningkat (Azdan, 2001).

200 150 100 50 0 1993 1994 1995 1996 1997

Penerimaan (Rp. M) Biaya operasional (Rp. M) Sisa Penerimaan (Rp. M)

24

D.

Cakupan Pelayanan Air Perpipaan Jumlah sambungan domestik tahun 1997 mencapai 426.735 sambungan.

Penduduk yang terlayani mencapai 3,26 juta16 orang atau sekitar 33 persen dari total penduduk (Shofiani, 2003). Pada periode tahun 1993-1997 terjadi pertambahan sambungan sebanyak 101.000 sambungan, yang berarti terdapat
Gambar 2.7 Jumlah Sambungan PAM Jaya 19931997 450000

pertambahan rata-rata sambungan sebanyak 25.000 sambungan per tahun atau sekitar 7,8 persen per tahun (Azdan, 2001).

400000

Penduduk yang terlayani meningkat sebanyak 770.000 pada periode 1993-1997, yang berarti terdapat pertambahan rata-rata

350000

300000 1993 1994 1995 1996 1997

penduduk terlayani sebanyak 195.000 per tahun.

E.

Daerah Pelayanan Sistem penyediaan air minum DKI Jakarta mencakup daerah seluas 316 km2 (1995) yang berarti 48 persen dari luas DKI Jakarta. Daerah pelayanan dibagi dalam 6 zona teknis (Gambar 2.1). Sistem zona tidak menunjukkan sistem distribusi mandiri, tetapi hanya digunakan sebagai unit operasi dan manajemen. PT. Palyja beroperasi pa-

Gambar 2.8 Sistem Jaringan Pipa Distribusi Air Minum DKI Jakarta

da Zona 1, Zona 4 dan Zona 5

16

Berdasar perhitungan PAM Jaya yang mengasumsikan 1 sambungan melayani 7,6 penduduk.

25

(Wilayah Barat DKI Jakarta), sementara PT. Thames Jaya beroperasi pada Zona 2, Zona 3 dan Zona 6 (Wilayah Timur DKI Jakarta). F. Layanan Air Minum Nonperpipaan Penduduk daerah utara dan barat DKI Jakarta, umumnya membeli air dari kran umum yang dikelola oleh swasta atau penjaja air keliling. Penjaja air keliling memperoleh air dari kran umum yang dikelola swasta yang tersambung ke sambungan pipa milik PAM Jaya. Diperkirakan jumlah kran umum yang dikelola swasta tersebut mencapai 8.000 unit yang melayani sekitar 21,7 persen dari total penduduk pada tahun 1993 (Crane, 1994). 2.3.2 Privatisasi Pengelolaan Air Minum DKI Jakarta Pada tahun 1995, tingkat pertumbuhan penduduk mencapai 4 persen per tahun yang mengakibatkan tingginya kebutuhan akan ketersediaan air minum. Di pihak lain, PAM Jaya hanya dapat menyediakan akses air minum bagi sekitar 42 persen penduduk atau 340.000 sambungan rumah dan selebihnya menggunakan sumber sumur dalam dan penjaja keliling. Khusus pelayanan untuk daerah kumuh dan miskin, penyediaan air minum dilakukan melalui truk tangki, dan kran umum. Kran umum digunakan untuk beragam keperluan seperti hidran bagi penjaja keliling dan MCK umum. Untuk mempercepat peningkatan akses, dibutuhkan investasi yang cukup besar, sementara penerimaan yang ada tidak dapat memenuhi kebutuhan investasi tersebut. Salah satu alternatifnya adalah melibatkan partisipasi swasta dalam penyediaan air minum (Tutuko, 2001). Setelah melalui proses negosiasi selama dua tahun, sejak 1 Februari 1998, PT. Palyja (Ondeo) dan PT. TPJ (Thames International, RWE) mendapatkan kontrak konsesi penyediaan air minum di Jakarta. Jakarta dibagi dalam dua wilayah, yaitu PT Palyja bertanggungjawab untuk pengembangan dan pengelolaan air minum di bagian barat, dan PT. TPJ di bagian timur (Anwar, 2003). Perjanjian itu berlaku sejak tanggal 1 Februari 1998 dan berakhir pada tanggal 1 Februari 2023.

26

Perjanjian kerja sama17 menetapkan sasaran dari perjanjian tersebut yaitu (i) mendukung pembangunan sosial dan ekonomi di DKI Jakarta melalui pembangunan infrastruktur air, (ii) mencapai perluasan yang substansial dalam jaringan distribusi air minum, (iii) menyertakan partisipasi sektor swasta dalam memproduksi dan mendistribusikan air minum di wilayah DKI Jakarta dalam upaya mempercepat laju perpindahan simpanan persediaan air, dan meneruskan perbaikan kualitas pelayanan pelanggan, (iv) menyediakan sistem yang memungkinkan penduduk mengubah pola penggunaan air dari air tanah ke air perpipaan; (v) meningkatkan efisiensi dalam sistem penyediaan air; (vi) menjamin kuantitas, kualitas dan kontinuitas penyediaan air minum dari fasilitas produksi dan fasilitas distribusi, (vii) memenuhi target teknis dan standar pelayanan, (viii) meningkatkan pelayanan pelanggan, (ix) mengurangi angka kehilangan air, (x) memperbaiki kinerja operasional dan mempertinggi kemampuan pengelolaan perusahaan, dan (xi) meningkatkan rasio cakupan pelayanan dengan mempercepat penyediaan sambungan baru (Pemda DKI Jakarta, 2000 dan Gigacher, 2001) Berdasarkan perjanjian, pihak swasta berkewajiban menyusun program lima tahun yang kemudian diajukan ke PT. PAM Jaya untuk mendapat persetujuan. Selain itu, PAM Jaya kemudian difungsikan sebagai pemantau untuk memastikan bahwa aktivitas penyediaan air minum oleh kedua mitra swasta tersebut memenuhi kebutuhan air masyarakat sesuai standar yang ditetapkan.
Tabel 2.7 Target Teknis Tahun 1998-2002
1998 Kapasitas Produksi (juta l/det) Jumlah Sambungan (ribu) Cakupan pelayanan (%) Kebocoran air (%) Volume penjualan (ribu m3) 396 471 31-57 52-58 182 1999 407 511 34-57 52-58 207 2000 382 562 38-60 46-51 228 2001 383 597 40-54 45-49 236 2002 391 636 42-56 43-48 250 2003 392 675 45-60 41-45 258 2004 397 714 47-63 39-43 268

Sumber: Kantor Badan Regulator Jakarta dan Kontrak Kerjasama PAM Jaya dan PT. Palyja

Perjanjian ini merupakan hasil renegosiasi antara Pemda DKI Jakarta dengan perusahaan swasta yang mendapat konsesi pada Februari 2000

17

27

Berdasarkan target teknis yang ditetapkan, dalam waktu lima tahun setelah privatisasi, cakupan pelayanan akan meningkat menjadi 60 persen yang berupa 675.000 sambungan. Tingkat kebocoran18 menurun menjadi sekitar 45 persen dan volume penjualan meningkat menjadi 258 juta m3. Pada akhir kerjasama (tahun 2023), ditargetkan tingkat kebocoran air menjadi hanya 20 persen, dan cakupan pelayanan mencapai 100 persen. Untuk mendukung rencana teknis di atas, kedua perusahaan tersebut akan menginvestasikan sebesar USD. 1,17 miliar selama lima tahun pertama. Investasi setiap tahun berkisar antara USD. 168 juta sampai USD. 323 juta. Hal itu selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.8.
Tabel 2.8 Rencana Investasi PT. Thames PAM Jaya dan PT. PAM Lyonnaise Jaya

Tahun 1998-2002 (dalam USD 000)
1998 PT. Thames PAM Jaya PT. PAM Lyonnaise Jaya Total
Sumber: Tetuko, 2001.

1999 108.006 (33,4) 215.839 (66,6) 323.845

2000 146.686 (58,6) 103.571 (41,4) 250.257

2001 65.273 (38,8) 102.833 (61,2) 168.106

2002 70.173 (34,3) 134.448 (65,7) 204.621

Total 434.417 (37,1) 737.175 (62,9) 1.171.582

44.379 (19,7) 180.484 (80,3) 224.863

Keterangan : angka dalam kurung merupakan proporsi per tahun.

2.3.3

Kinerja Pengelolaan Air Minum DKI Jakarta Setelah Privatisasi Indikator kinerja privatisasi air minum DKI Jakarta tidak tersedia, tetapi

beberapa indikator yang secara umum sering dijadikan patokan diantaranya adalah produksi air, jumlah sambungan, cakupan pelayanan, dan tingkat kebocoran. Secara umum setelah privatisasi (2004), terjadi peningkatan kinerja pada keempat indikator, tetapi hanya produksi air dan cakupan pelayanan yang melampaui target. Sementara pencapaian jumlah sambungan masih berkisar 98 persen dari target. Kemudian, tingkat kebocoran masih melampaui target kebocoran, yaitu sekitar 112120 persen dari target.

18

Tingkat Kebocoran = [(Volume air terdistribusi – Volume air tertagih) / volume air terdistribusi] x 100 %

28

Tabel 2.9 Kinerja Privatisasi Pengelolaan Air Minum DKI Jakarta, Tahun 2004
No 1 2 3 4 Kriteria Produksi Air (juta m3) Jumlah sambungan (ribu) Cakupan pelayanan (%) Tingkat Kebocoran (%) Sebelum (1997) 382 426 38-42 53-57 Setelah (2004) 430 706 49-67 47-48 Target (2004) 397 715 47-63 39-43 Pencapaian (%) 108 98,7 104-106 112-120

Sumber: Diolah dari Argo (2004) dan BPS (2003)

Usaha peningkatan cakupan pelayanan, mengabaikan banyaknya keluhan terhadap kualitas dan kuantitas pelayanan19, kedua operator telah mencapai perkembangan yang nyata. Pelayanan telah bertambah menjadi 44 persen di bagian barat, dan 62 persen di bagian timur, yang secara keseluruhan mencapai 52 persen untuk seluruh Jakarta. Dari cakupan pelayanan tersebut, sebanyak 12,7 persen merupakan penduduk miskin. Sementara sekitar 10,7 persen penduduk miskin belum terlayani oleh air perpipaan (Anwar, 2003).
Tabel 2.10 Cakupan Layanan Air Minum di Jakarta Tahun 2002 Terlayani Air Perpipaan Tidak Miskin Miskin
Sumber: Alizar Anwar (2003)

Tidak Terlayani Air Perpipaan 36,9 10,7

39,7 12,7

Dari keseluruhan jumlah pelanggan, kelompok nonniaga (rumah tangga) merupakan pelanggan terbanyak mencapai 79 persen, kelompok niaga dan industri (5,6 persen), kelompok sosial (0,9 persen), dan kelompok khusus relatif kecil sekali.

19

Beberapa survei primer menunjukkan tingginya ketidakpuasan pelanggan terhadap kualitas air perpipaan, distribusi yang lebih mengutamakan lokasi yang mudah dijangkau seperti tepi jalan besar, tekanan air kecil dan air mengalir hanya pada jam tertentu saja. Sementara studi dalam rangka Ex-Post Evaluation for ODA Loan Projects (2001) menyatakan bahwa sekitar 40 persen responden tidak puas dengan layanan air perpipaan (Siregar dkk, 2004).

29

Terlepas dari usaha peningkatan cakupan pelayanan air minum, terlihat bahwa penggunaan sumber air minum nonperpipaan masih dominan pada tahun 2002 yang mencapai sekitar 54,3 persen dari total KK20. Sumber air nonperpipaan sebagian besar berasal dari penggunaan pompa yang dapat menyebabkan turunnya permukaan tanah dan terjadinya intrusi air laut. Sementara penggunaan sumur membahayakan kesehatan masyarakat karena berdasarkan penelitian sekitar 80-90 persen sumur yang ada tercemar oleh bakteri E. Coli (Argo, 1999).
Tabel 2.11 Klasifikasi Rumah Tangga berdasar Sumber Air Minum Tahun 2003
Sumber Air Minum Air kemasan Air Perpipaan Pompa Sumur Terlindungi Sumur Tak Terlindungi Mata Air Terlindung Lainnya Total
Sumber: BPS DKI Jakarta, 2003.

Rumah Tangga Jumlah (KK) 155.801 916.815 871.745 43.699 6.867 7.711 4.629 2.006.997 Proporsi (%) 7,8 45,7 43,4 2,3 0,3 0,3 0,2 100

Peningkatan cakupan pelayanan air minum di DKI Jakarta sampai tahun 2002 mencakup juga pembangunan fasilitas bagi penduduk miskin berupa kran umum sebanyak 49 unit21, yang berarti penambahan sekitar 3,1 persen, dan penambahan sambungan rumah sekitar 40.000 sambungan atau sekitar 133 persen. Berdasarkan data BPS DKI Jakarta (2003), dari jumlah rumah tangga miskin yang ada, sekitar 32,5 persen menggunakan sumber air sendiri, 35 persen menggunakan sumber bersama, 31,2 persen menggunakan sumber umum, dan sisanya 1,25 persen tidak mempunyai sumber22.

Data yang tersedia tidak memungkinkan mengetahui secara persisnya proporsi sumber air minum yang berasal dari penjaja keliling, dan truk tangki 21 Berdasarkan perjanjian kerjasama maka penambahan kran umum sama sekali tidak diprogramkan dengan pertimbangan untuk mendorong penduduk menggunakan sambungan rumah. 22 Penjelasan mengenai klasifikasi sumber air minum selengkapnya pada Lampiran 1

20

30

Tabel 2.12 Peningkatan Layanan Air Minum bagi Penduduk Miskin di Jakarta (1998-2002)
Tahun Fasilitas Kran Umum Sambungan Rumah (unit) Sumber: Anwar (2003) 1998 1.568 29.958 1999 1.576 41.258 2000 1.616 45.916 2001 1.597 59.227 2002 1.617 71.671 Perkembangan 1998-2002 (%) 3,1 133

Pada periode 1998-2002, peningkatan sambungan rumah ke penduduk miskin menunjukkan jumlah yang signifikan. Namun, diterapkannya pelarangan penggunaan sumur artesis dan sumber lainnya mengakibatkan beberapa komunitas permukiman miskin yang belum terlayani air perpipaan terpaksa membeli dari penjaja keliling dengan harga yang jauh lebih mahal dari air perpipaan. Selain itu, penduduk miskin juga menggunakan sumber seperti sumur dangkal, sebagian penduduk menjual air ke tetangganya, truk air, dan air kemasan isi ulang. Walaupun peningkatan cakupan akses air minum pada penduduk miskin meningkat, proporsi penduduk miskin yang belum terlayani masih relatif besar, yaitu sekitar 10 persen24. Sebagai usaha memberi akses air minum pada penduduk miskin, kran umum dibangun dahulu sebelum distribusi air perpipaan dibangun. Air dari kran tersebut dihargai sama dengan air perpipaan untuk tarif sosial. Namun, dalam kenyataannya karena jumlah kran umum yang masih kurang, penduduk tetap saja memperoleh air melalui penjaja keliling dengan tarif yang jauh lebih mahal, yaitu berkisar antara 6-20 kali. Selain itu, subsidi silang diperkenalkan. Untuk kelompok sosial dan penduduk miskin, konsumsi 20 m3 pertama dihargai murah. Tarif air yang diterapkan jauh dibawah biaya yang sebenarnya. Kendalanya adalah bahwa banyak penduduk miskin yang tidak terakses air minum karena biaya sambungan sangat berat. Akibatnya,
24

Berdasarkan data BPS (2004), rumah tangga miskin yang menggunakan air bersih mencapai 90,89 persen. Sementara definisi rumah tangga pengguna air bersih adalah persentase rumah tangga yang menggunakan air minum yang berasal dari air mineral, air ledeng/PAM, pompa air, sumur atau mata air terlindung (jarak ke sumber pencemaran lebih dari 10 meter). Kondisi ini menunjukkan belum terjaminnya sumber air minum yang terjangkau bagi penduduk miskin, karena sumber masih mencakup air mineral, dan juga penjual air keliling dan sejenisnya.

31

sebagian besar pelanggan yang terlayani itu berasal dari kelompok tidak miskin, sementara penduduk miskin yang tidak terlayani membeli air dengan harga jauh lebih mahal, yaitu sampai 25 kali tarif air perpipaan. Subsidi yang diberikan akhirnya sebagian besar dinikmati oleh penduduk tidak miskin (Anwar, 2003). Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 138/2005 tanggal 20 Januari 2005 tentang Penyesuaian Tarif Otomatis (PTO) Air Minum Semester I Tahun 2005 di DKI Jakarta, maka struktur tarif dibagi dalam 7 golongan. Golongan Kelompok I, Kelompok IV B, dan Kelompok Khusus memperoleh tarif flat masingmasing sebesar Rp.550,00/m3, Rp.9.750,00/m3 dan Rp.11.500,00/m3. Golongan lainnya berlaku tarif progresif untuk setiap penggunaan 0-10 m3, 11-20 m3 dan > 20m3. Secara lengkap dapat kita lihat pada Tabel 2.13.
Tabel 2.13 Sistem Tarif Air Minum DKI Jakarta, Tahun 2005
Blok Pemakaian dan Tarif Air (Rp./m3) Kelompok Pelanggan Kelompok I Kelompok II Kelompok III A Kelompok III B Kelompok IV A Kelompok IV B Kelompok V/Khusus
Sumber: PAM Jaya, 2005

0-10 550 550 2.450 3.500 5.100 9.750 11.500

11-20 550 550 3.350 4.400 6.200 9.750 11.500

>20 550 1.000 4.000 5.600 7.500 9.750 11.500

Secara rata-rata penduduk miskin DKI Jakarta memperoleh air dari berbagai sumber dengan pengeluaran total rata-rata sebesar Rp.182.000,00 per rumah tangga per bulan yang dapat diperinci sebagai berikut: untuk air kemasan (Rp.68.620,00 per rumah tangga per bulan), air perpipaan (Rp.86.419,00 per rumah tangga per bulan), air penjaja keliling (Rp.21.766,00 per rumah tangga per bulan), dan air tetangga (Rp.5.266,00 per rumah tangga per bulan)25. Secara rata-rata pengeluaran air minum

25

Data ini diperoleh dari survei primer

32

rumah tangga miskin relatif lebih besar dari pengeluaran untuk listrik dan sewa rumah (PPIAF, 2005) 2.3.4 Sistem Distribusi Pelayanan Air Minum Nonperpipaan Daerah yang tak terlayani dengan sambungan rumah sistem perpipaan oleh penyedia air minum perpipaan disediakan sarana stasiun air, terminal air, serta truk tangki air minum. Selain itu, daerah yang belum terlayani juga dilayani oleh penyedia air minum skala kecil yang berbentuk penjaja air yang sebagian besar sumbernya berasal dari air minum perpipaan, pelanggan air minum perpipaan yang menjual air ke tetangga, truk tangki air yang dikelola swasta, dan bahkan sumber air berupa sumur pompa dan sumur dalam. Tidak tersedia data yang pasti mengenai jumlah dan kapasitas penyedia air skala kecil. Akan tetapi, PAM Jaya menyediakan beberapa stasiun air baik untuk kebutuhan domestik maupun komersil.
Gambar 2.9 Distribusi Air Minum Nonperpipaan dari Sumber Air Minum Perpipaan Tahun 2005
Air Minum Perpipaan

Daerah Terlayani (60%)

Daerah Belum Terlayani

Sambungan Rumah (709 ribu)

Hidran Umum (2.280 unit)

Stasiun Air Domestik (7 unit)

Stasiun Air Komersil (3 unit)

Keterangan: Air minum non perpipaan Truk Tangki Air PAM Jaya (31 unit) Truk Tangki Air Bantuan Pusat (60 unit) ..

Terminal Air (56 unit)

Terminal Air (203 unit)

33

Pada tahun 2005, terdapat 7 unit stasiun air untuk kebutuhan domestik dan 3 unit stasiun air komersil untuk kebutuhan pabrik, industri, dan sejenisnya. Stasiun air domestik melayani 31 unit tangki air milik PAM Jaya yang melayani 56 terminal air PAM Jaya. Selain itu, terdapat 60 unit tangki air bantuan pusat yang melayani 203 unit terminal air yang dikelola oleh kelompok swadaya masyarakat. 2.3.5 Program Penanggulangan Dampak Pengurangan Subsidi Energi untuk Penyediaan Prasarana Air Bersih26 Sebagai kelanjutan dari kebijakan pemerintah untuk mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) secara bertahap, pemerintah menyiapkan program kompensasi pada penduduk miskin melalui beberapa sektor. Pemberian subsidi ini dimaksudkan untuk mengurangi dampak pengurangan subsidi untuk melindungi masyarakat miskin melalui program yang langsung dapat diterima manfaatnya. Program tersebut diberi nama Program Penanggulangan Dampak Pengurangan Subsidi Energi (PPD-PSE). Program ini terdiri dari 7 (tujuh) kegiatan yaitu ketahanan pangan, layanan kesehatan, bantuan pendidikan, angkutan, penyediaan air bersih perkotaan (Subsidi Energi Air Bersih atau SE-AB), penyediaan dana bergulir lembaga keuangan mikro, dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Program SE-AB dilaksanakan pada permukiman rawan air dan konsentrasi penduduk miskin perkotaan di seluruh Indonesia. Penanggungjawab program adalah Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah27. Sasaran utama program adalah masyarakat miskin perkotaan yang belum terlayani oleh PDAM dan menempati daerah yang rawan air bersih, yaitu daerah yang kondisi air tanah dangkalnya tidak laik minum dan/atau air permukaannya tercemar sehingga masyarakat terpaksa membeli air dengan harga mahal atau mengambil sendiri dari lokasi yang jauh. Tujuan program SE-AB adalah (i) mengurangi beban masyarakat miskin perkotaan akibat kenaikan harga energi, (ii) menyediakan prasarana air bersih yang lebih murah dan lebih mudah dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, (iii) mewujudkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan prasarana air bersih; (iv)
26 Keseluruhan sub bab ini dikutip dari dokumen PPD-PSE Tahun 2001 dan Pedoman Umum SE-AB Tahun 2002 27 Sebelumnya adalah Departemen Pekerjaan Umum, yang kemudian pada tahun 2005 berganti kembali menjadi Departemen Pekerjaan Umum

34

meningkatnya

kemandirian

kelembagaan

dan

organisasi

masyarakat

dalam

pengelolaan air bersih. Sementara indikator keberhasilan program adalah masyarakat sasaran membeli air bersih lebih murah dan lebih mudah dari sebelumnya. Pilihan jenis prasarana yang dibangun terdiri dari (i) hidran umum (HU), (ii) terminal air (TA), (iii) pembangunan sistem penyediaan air bersih sederhana (SIPAS) (iv) sambungan rumah (SR). Hidran Umum dapat dibangun jika lokasi berjarak kurang dari 3 km dari jaringan pipa PDAM terdekat. Terminal air dapat dibangun jika lokasi berjarak 3-10 km dari jaringan pipa PDAM terdekat. Sistem penyediaan air bersih sederhana (SIPAS), seperti sumur dalam atau saringan sederhana, akan dibangun jika lokasi berjarak lebih dari 10 km dari jaringan PDAM. Sambungan rumah (SR) akan dibangun jika lokasi masih terjangkau jaringan PDAM. Harga air yang dibayar ke PDAM sesuai dengan harga air yang berlaku (tarif HU, tarif sosial dan lainnya). Perubahan jumlah realisasi dana SE-AB tergantung pada ketersediaan dana pemerintah pada tahun yang bersangkutan. Hal itu terlihat pada perubahan realisasi dana yang berubah secara signifikan pada setiap tahun anggaran. Pada tahun pertama pelaksanaan program (2001), dana yang berhasil direalisasikan mencapai Rp.7,9 miliar, tetapi kemudian menurun tajam pada tahun berikutnya. Kemudian, meningkat kembali pada tahun 2003, dan menurun kembali pada tahun 2004. Hal itu selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.14.
Tabel 2.14 Realisasi Dana Program Subsidi Energi Air Bersih (SE-AB) Tahun 2001 – 2004 (dalam ribuan rupiah)
2001 Realisasi Dana SE-AB 7.905.887 2002 4.357.888 (- 44,9%) 2003 5.622.000 (29,0%) 2004 2.735.770 (- 51,3%)

Sumber: Sekretariat SE-AB, 2005 Keterangan: angka dalam kurung menunjukkan proporsi perubahan terhadap tahun sebelumnya.

35

BAB III PENYEDIAAN AIR MINUM, PERTUMBUHAN EKONOMI, DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN: SUATU TINJAUAN PUSTAKA

3.1

Karakteristik Air Minum Sistem penyediaan air minum adalah barang publik. Pada hampir semua

situasi, penyediaan air minum pada satu rumah tangga tidak menghalangi rumah tangga lain untuk mendapatkan layanan. Namun sampai saat ini, banyak kontroversi di seputar karakteristik dari air minum. Sebagian pihak menyatakan bahwa air minum adalah barang publik, sementara sebagian lainnya menyatakan air minum sebagai benda ekonomi. Bahkan kemudian terdapat istilah baru yang dikenakan pada air minum yaitu air minum sebagai benda sosial. Tidak terdapat pengertian yang jelas dan diterima luas tentang benda sosial. Sebagian menyatakan bahwa benda disebut benda sosial jika pemanfaatannya tidak hanya berdampak pada individu tetapi juga bagi lingkungannya (Gleick, 2000). Ketersediaan air minum yang terjangkau merupakan benda sosial menurut definisi ini. Hal ini didasari bahwa pemanfaatan air minum bermanfaat bagi individu dan masyarakat luas. Peningkatan kualitas air minum bagi seseorang berarti peningkatan buat seluruh komunitas yang mengkonsumsi air minum tersebut. Walaupun demikian, benda sosial dapat mempunyai karakteristik benda privat, yaitu jika air dikonsumsi oleh seseorang yang menyebabkan kekurangan air bagi orang lain yang menjadi pengguna sistem yang sama. Terlepas dari kontroversi tersebut, beberapa kombinasi karakteristik air minum yang membuat air minum merupakan benda ekonomi yang berbeda dari benda ekonomi lainnya adalah sebagai berikut (Savenije, 2001). • Air minum adalah kebutuhan dasar. Tidak ada kehidupan tanpa air, tanpa air tidak ada proses produksi, tanpa air tidak ada lingkungan. Tidak akan ada kegiatan manusia yang tidak tergantung pada air. Air merupakan sumber daya penting. Hal

36

ini membuat air menjadi khusus tetapi tidak unik. Sama halnya dengan udara, lahan, dan makanan. • • Air minum terbatas. Jumlah air terbatas. Hanya sebagian kecil saja air yang dapat dikonsumsi. Air minum adalah barang publik. Air minum tidak dapat dimiliki secara pribadi dan ketergantungan sosial terhadap air minum sangat tinggi. Hal ini merupakan konsekuensi dari sifat air minum yang penting dan tidak dapat disubstitusi. Pemerintah bertanggungjawab menyediakan air minum tetapi pemerintah tidak bertanggungjawab menyediakan air secara gratis sebagaimana sering disalah pahami. • • • Meskipun air mengalir tetapi sebenarnya dibatasi oleh lokasi dan sistem tertentu. Akibatnya, air minum sering menjadi sumber perseteruan politik antardaerah. Terdapat biaya produksi dan biaya transaksi yang besar bahkan jika pengaliran air menggunakan sistem gravitasi. Pasar air minum tidak homogen. Sebagian pengguna mempunyai kemampuan membayar yang tinggi dan mengkonsumsi dalam jumlah sedikit (pengguna domestik dan industri), lainnya mempunyai kemampuan membayar rendah dan menggunakan air dalam jumlah besar (petani), bahkan lainnya tidak mempunyai kemampuan membayar (lingkungan dan penduduk miskin). Semuanya tidak dapat digabung dalam satu pasar. Meskipun air minum yang dibutuhkan merupakan benda yang sama tetapi karakter permintaan berbeda. Pertukaran diantara kepentingan yang berbeda ini sebaiknya diselesaikan melalui jalur politis dan bukan pasar. • Terdapat ketergantungan ekonomi makro antara aktivitas pengguna air. Air digunakan oleh pertanian mempengaruhi industri. Akibatnya hubungannya menjadi rumit. • Selalu terdapat ancaman kegagalan pasar dalam penyediaan air minum. Untuk mencapai skala ekonomi, dibutuhkan investasi besar yang mengarah ke monopoli alamiah.

37

Air minum mempunyai nilai tertentu yang seringkali tidak dapat dinilai dengan uang.

3.2

Penyediaan Air Minum (Publik, Swasta, Penyedia Skala Kecil) dan Penanggulangan Kemiskinan

3.2.1

Penyediaan Air Minum oleh Pemerintah dan Privatisasi Air dipertimbangkan sebagai benda ekonomi sekaligus benda sosial. Air

sebagai benda sosial menunjukkan bahwa air mempunyai limpahan (spill over) manfaat dan biaya yang nyata. Air sebagai benda ekonomi menunjukkan bahwa air mempunyai nilai dan dialokasikan sesuai dengan keuntungan maksimal yang dapat diperoleh. Memperlakukan air hanya sebagai benda ekonomi akan mengakibatkan hilangnya fungsi sosial dari air dan dapat berakibat penduduk miskin terabaikan kebutuhannya akan air. Berdasarkan pada pandangan di atas, meningkatkan jangkauan pelayanan dan kualitas air minum dan sanitasi ke seluruh masyarakat, merupakan hak dasar bagi semua, dan merupakan tantangan utama bagi seluruh negara (Nigam dan Rasheed, 1998). Namun, dalam banyak kejadian, pengelolaan oleh pemerintah cenderung menerapkan harga rendah sehingga tidak mampu mempertahankan kualitas layanan jaringan yang ada, apalagi meningkatkan jangkauan pelayanan (Gray, 2000). Meskipun harga rendah yang dikatakan bermanfaat bagi penduduk miskin, dalam kenyataannya tidak membantu penduduk miskin karena mereka belum terlayani sehingga harus mencari sumber lain dengan harga yang jauh lebih mahal (Walker dkk, 2000). Kondisi ini kemudian menyuburkan pandangan agar swasta dapat terlibat dalam penyediaan air minum. Namun, alasan utama privatisasi28 air minum tidak

Definisi dan pengertian privatisasi akan sangat beragam tetapi secara umum tetap dapat dirangkum sebagai berikut. (i) Perubahan bentuk usaha dari “perusahaan negara” menjadi perusahaan berbentuk perseroan terbatas, (ii) Pelepasan sebagian (besar/kecil) atau seluruh saham dari suatu perusahaan yang dimiliki negara kepada swasta, (iii) Pelepasan hak atau aset milik negara atau perusahaan yang sahamnya dimiliki negara pada swasta, baik pelepasan untuk selamanya (antara lain melalui jual beli, hibah atau tukar guling) maupun pelepasan untuk sementara waktu (termasuk dengan cara Build Operate Transfer), (iv) Pemberian kesempatan pada swasta untuk menggeluti bidang usaha tertentu yang sebelumnya merupakan monopoli pemerintah, (v) Membuat usaha patungan atau kerjasama dalam

28

38

hanya menyangkut ketidakmampuan pemerintah menyediakan kebutuhan air minum bagi masyarakat; tetapi juga merupakan usaha perusahaan multinasional mengambil alih sebagian besar porsi pasar air minum (Gleick, 2002) serta memperkenalkan prinsip kompetisi (IWA dan UNEP, 2002). Gejala privatisasi kemudian mulai mewabah sejak tahun 1980-an. Berdasarkan penelitian empiris, partisipasi swasta di semua sektor meningkatkan efisiensi, mendorong perubahan teknologi, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya, partisipasi swasta juga meningkatkan transparansi penggunaan sumber daya publik, mengurangi kesenjangan pendapatan, memperbaiki operasi pasar modal, dan menyumbang pada kesejahteraan sosial (Mergos, 2002). Pada studi yang membandingkan kinerja 50 perusahaan penyedia air minum di negara berkembang Asia dan Pasifik ditemukan bahwa perusahaan swasta lebih efisien (Estache, 1999). Sementara di negara maju, dengan asumsi bahwa perusahaan pemerintah relatif lebih efisien, diharapkan keterlibatan swasta menjadi kurang signifikan. Namun, kenyataan menunjukkan sebaliknya. Ahli ekonomi Trent University meneliti 3 studi di AS sejak tahun 1970an. Studi pertama yang dilakukan terhadap 112 penyedia air menunjukkan bahwa produktivitas perusahaan pemerintah hanya 60 persen dari perusahaan swasta. Ketika sebuah perusahaan pemerintah menjadi perusahaan swasta, keluaran (output) per pegawai meningkat 25 persen. Sebaliknya, ketika perusahaan swasta menjadi perusahaan public, keluaran (output) per pegawai menurun 40 persen. Studi kedua yang dilakukan terhadap 143 penyedia air minum, ditemukan bahwa biaya lebih besar 15 persen pada perusahaan pemerintah. Studi ketiga menunjukkan bahwa perusahaan pemerintah lebih mahal 20 persen (Brubaker, 2001). Hasil studi di Eropa menunjukkan hal sebaliknya. Perbandingan antara perusahaan air minum milik pemerintah di Swedia dan swasta di Inggris untuk ukuran perusahaan yang sama menunjukkan bahwa biaya penyedia air minum swasta lebih besar. Kontrak manajemen di Puerto Rico, Trinidad, dan Budapest menunjukkan bahwa keterlibatan swasta tidak membawa perubahan berarti (PSI, 2000). Di Perancis,
bentuk lain dengan memanfaatkan aset pemerintah, (vi) Membuka dan meningkatkan adanya persaingan sehat dalam dunia usaha (Soebagjo, 1996).

39

perbandingan antara perusahaan yang dikelola swasta dan pemerintah menunjukkan bahwa perusahaan swasta menerapkan tarif yang 13 persen lebih tinggi (Hall, 2001). Meskipun pengamatan secara internasional menunjukkan secara umum dampak privatisasi menguntungkan (Kikeri dan Nellis, 2001; Megginson dan Netter, 2001; Shirley dan Walsh, 2001), dampaknya di negara berkembang tetap kontroversial (Parker, 2003). Di negara berkembang dampak privatisasi sedikit berseberangan dengan yang banyak ditemui di negara maju. Hal ini disebabkan beberapa hal. (i) Di negara maju, privatisasi mempunyai tujuan yang jelas, sementara di negara berkembang tidak jelas dan penuh konflik. (ii) Pemerintah berkeinginan menjual perusahaan yang merugi, sementara swasta mencari perusahaan yang menguntungkan yang disebut Paradoks privatisasi (Paradox of privatisation). (iii) Penilaian terhadap aset oleh pemerintah sering tidak realistis termasuk penilaian potensi keuntungan. (iv) Privatisasi tidak disertai perubahan iklim bisnis dan manajemen (Jusmaliani, 2003). Cabrera (2003) berdasarkan pengamatannya terhadap privatisasi di

Aguascalientes, Mexico menemukan beberapa kesimpulan diantaranya (i) pada beberapa aspek, keterlibatan swasta menguntungkan khususnya dalam bentuk peningkatan efisiensi dan akses, (ii) pada aspek keberlanjutan kurang mendapat perhatian seperti meningkatnya kesenjangan pendapatan. Khususnya dalam kondisi monopoli, dan keterbatasan sumber air, besar kemungkinan penduduk miskin akan mengalami kesulitan. Jika dibandingkan dengan sektor lain, seperti listrik dan telekomunikasi, pembiayaan swasta dalam sektor air minum dan sanitasi relatif lebih sedikit yang berhasil (Haarmeyer, 1998). Hal ini mungkin disebabkan oleh sifat dari sektor air minum dan sanitasi yang berbeda, yaitu sebagai berikut. Pertama, air minum dan sanitasi ditandai dengan tingkat monopoli alamiah yang tinggi. Meskipun kompetisi dimungkinkan pada kegiatan terbatas seperti peningkatan kapasitas dan penyediaan layanan plumbing, sulit untuk juga melakukan hal yang sama untuk distribusi yang merupakan bisnis inti air minum dan sanitasi. Kedua, air merupakan kebutuhan dasar manusia dan akses terhadap air harus diberikan pada semua orang. Ketiga, air minum

40

dan sanitasi lebih cocok dikelola oleh pemerintah daerah. Akibatnya, isu antardaerah harus lebih dahulu diselesaikan sebelum penanam modal masuk. Keempat, sebagian terbesar aset berada dibawah tanah yang mengakibatkan besarnya biaya untuk menilainya sehingga menambah biaya persiapan partisipasi swasta. Kelima, penyediaan yang kurang memadai dapat mengakibatkan terjadinya masalah kesehatan dan lingkungan sehingga pemerintah mempunyai minat yang kuat dalam meningkatkan akses pelayanan tanpa memperhitungkan kemampuan membayar. Keenam, risiko nyata dari perbedaan kurs sebab konsumen membayar dalam mata uang lokal sementara pinjaman dalam mata uang asing (Penelope, 1997). Debat tentang peran swasta dalam penyediaan air minum telah berlangsung lama, sementara bukti empiris sebagian mendukung dan selebihnya menentang. Pihak pendukung menyatakan bahwa privatisasi meningkatkan efisiensi (misalnya, tingkat kebocoran air menurun dan tagihan macet berkurang), dan mendorong pertambahan investasi. Pihak penentang menyatakan bahwa swasta hanya mementingkan keuntungan dengan mengabaikan kesejahteraan dan meningkatkan tarif tanpa mempedulikan kualitas layanan. Perdebatan ini telah salah kaprah. Pada kenyataannya, pendekatan terbaik untuk terlibat dalam diskusi ini adalah bersikap meragukan (agnostic) berdasar dua alasan. Pertama, sejarah penyediaan air minum bagi penduduk miskin di negara berkembang oleh pemerintah hasilnya mengecewakan. Pada sebagian besar negara berkembang, lebih dari setengah penduduk memperoleh air minum dari penyedia selain perusahaan air minum milik pemerintah (Snell, 1998). Jika kepedulian dalam debat ini adalah meningkatkan akses penduduk terhadap air minum perpipaan, sejarah menunjukkan bahwa menyandarkan diri pada sistem publik menciptakan hal yang tidak produktif. Kedua. sifat alami dari institusi penyedia air minum relatif sama, yaitu mengabaikan kepemilikan. Struktur biaya mengharuskan bahwa penyediaan air minum bagi komunitas dilakukan melalui sistem pengolahan dan distribusi tunggal, yaitu monopoli. Artinya, pilihannya adalah antara monopoli publik yang teregulasi atau monopoli swasta yang teregulasi, bukan antara institusi publik yang berniat mulia dan pemodal yang mencari untung. Kuncinya terletak pada regulasi. Ketika regulasi

41

tersedia dan berjalan baik, penyedian air minum publik akan sama saja dengan penyedia air minum swasta. Pesannya adalah membenahi regulasi lebih penting dari pada kepemilikan perusahaan (Olmstead, 2003). 3.2.2 Privatisasi Air Minum dan Penanggulangan Kemiskinan Terdapat tiga cara mengukur keberhasilan partisipasi swasta di infrastruktur dalam membantu penduduk miskin, dengan melalui peningkatan layanan, yaitu berupa (i) penambahan sambungan, (ii) meningkatkan keandalan layanan, dan (iii) pengurangan tunggakan (Tynan, 2000). Dari bukti empiris terlihat bahwa pengelolaan swasta meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan bagi pelanggan yang ada (Tynan, 2000). Namun, pada banyak kasus peningkatan jangkauan pelayanan tidak terjadi. Privatisasi gagal menjangkau penduduk miskin dan bahkan menjadi penghalang (Tynan, 2000). Sejauh ini, implementasi kemitraan publik dan swasta sering mengabaikan kebutuhan penduduk miskin (Gleick dkk., 2002). Bahkan, timbul kecenderungan dominasi pasar oleh sedikit perusahaan multinasional (IWA dan UNEP, 2002). Pada kasus Argentina, Chisari dkk (1999) dan Navajas (2000) menunjukkan bahwa privatisasi infrastruktur memberatkan golongan menengah jika dibanding dengan yang lainnya dengan dihilangkannya subsidi dan kemungkinan menguntungkan penduduk miskin dengan meningkatnya akses (Calderon, 2001). Penilaian ekonomi makro, pentingnya privatisasi infrastruktur bagi penduduk miskin diperlukan sebab pada banyak kasus air, energi, telekomunikasi, dan transportasi reformasi mempunyai dampak pada pasar lainnya (seperti pasar tenaga kerja dan pasar tabungan investasi) yang mempengaruhi penduduk miskin. Dampak ini berpotensi nyata terhadap penanggulangan kemiskinan sehingga dibutuhkan analisis ekonomi. Ini memerlukan model multikomoditi dan multiagen. Model CGE menjadi semakin berguna untuk menanggapi kebutuhan ini (Estache, 2004) Dari kacamata ekonomi makro, Estache (2002) menjelaskan bahwa terdapat tiga cara privatisasi mempunyai dampak pada kesejahteraan penduduk miskin.

42

(i)

Pertumbuhan ekonomi. Investasi infrastruktur merupakan faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi, yang kemudian menjadi pendorong utama bagi pengurangan kemiskinan.

(ii)

Pengurangan pegawai. Langkah pertama privatisasi adalah peningkatan efisiensi dan keuntungan melalui pengurangan pegawai. Dalam jangka panjang langkah ini menghasilkan pertumbuhan ekonomi.

(iii) Realokasi pengeluaran publik. Secara konvensional, infrastruktur menyerap dana pemerintah dalam jumlah besar untuk menutup subsidi dan membiayai pembangunan. Privatisasi mengurangi pengeluaran pemerintah pada kegiatan yang tadinya dibiayai pemerintah sehingga tersedia dana untuk membiayai kegiatan lain. Tabel 3.1 Rangkuman Kaitan Ekonomi Makro antara Peningkatan Partisipasi Swasta dalam Pembangunan Infrastruktur dan Kesejahteraan Penduduk Miskin
Dampak Ekonomi Makro Pertumbuhan ekonomi Potensi Kerugian Penduduk Miskin Perubahan tarif akan mempengaruhi konsumsi terutama ketika tidak tersedia jaring pengaman sosial Faktor Positip Jangka menengah, privatisasi seharusnya menyumbang pertumbuhan yang pada gilirannya cenderung mengurangi kemiskinan Tergantung pada tingkat ketergantungan kerja penduduk miskin, besarnya kompensasi pemutusan hubungan kerja, kemampuan pasar tenaga kerja menyerap pengangguran Penerimaan hasil privatisasi dan penetapan target yang lebih baik mungkin meringankan sumber pembiayaan penduduk miskin

Pengurangan pekerja

• •

Tenaga kerja dikurangi setelah privatisasi Gaji berkurang pada masa transisi

Realokasi pengeluaran publik

Pengurangan alokasi keseluruhan subsidi sebagai hasil penyesuaian fiskal

Sumber: Estache, Gomez-Lobo, Leipziger (2001) yang disarikan dari Foster (1999)

Sementara menurut Estache (2002), dari perspektif ekonomi mikro privatisasi mempengaruhi penduduk miskin dalam dua hal yaitu sebagai berikut. (i) Akses. Pengaruh terhadap akses melalui hal-hal berikut.

43

a. Peningkatan biaya sambungan. Biaya sambungan ditingkatkan sampai mencapai tingkatan yang sewajarnya setelah sebelumnya dipatok pada biaya yang minimum. Oleh karena itu, biaya sambungan kemungkinan tidak terjangkau oleh penduduk miskin kecuali disediakan pilihan membayar bertahap. b. Pengurangan insentif. Penduduk miskin biasanya berlokasi di daerah yang sulit dijangkau (padat, akses rendah, tak aman) sehingga biaya layanan lebih tinggi, sementara konsumsi air rendah dan sering tidak membayar. Hal ini mengurangi keinginan swasta melayani penduduk miskin. (ii) Keterjangkauan. Terdapat berbagai cara privatisasi dapat meningkatkan keterjangkauan. a. Peningkatan tarif. Sebelum privatisasi, tarif selalu lebih rendah dari biaya operasi sehingga perlu ditingkatkan agar dapat menutup biaya operasi. Ketika produksi telah efisien dan regulasi telah diterapkan dengan baik, terdapat kemungkinan tarif akan menurun setelah beberapa waktu. b. Pembayaran diformalkan. Perusahaan pemerintah cenderung membiarkan penunggakan dan

sambungan liar. Perusahaan swasta berlaku sebaliknya. Akibatnya, banyak penduduk miskin kemudian mulai membayar sesuai dengan pemakaiannya. Hal ini bukan sesuatu yang buruk dengan mempertimbangkan bahwa sambungan liar cenderung tidak stabil, bahkan membayar lebih mahal pada ‘mafia air’. c. Peningkatan kualitas. Kondisi ini membutuhkan biaya besar yang kemudian dibebankan pada konsumen, sehingga kemungkinan membebani penduduk miskin.

44

Tabel 3.2 Rangkuman Kaitan Ekonomi Mikro antara Peningkatan Partisipasi Swasta dalam Pembangunan Infrastruktur dan Kesejahteraan Penduduk Miskin
Dampak Privatisasi Biaya bertambahnya formalitas Kemungkinan Tambahan Beban bagi Penduduk Miskin Penagihan dan pencegahan sambungan liar kemungkinan lebih efektif dan menghasilkan peningkatan efektivitas penerimaan Faktor Pencegah dan Manfaat bagi Penduduk Miskin

• Sambungan resmi mungkin
merupakan aspirasi dari penduduk miskin • Keamanan menjadi lebih baik • Sambungan liar menjadi lebih mahal • Reformasi mungkin menghadirkan teknologi baru yang menurunkan biaya Peningkatan tarif rata-rata bergantung pada tingkat harga sebelumnya dan tersedianya cadangan yang disisihkan dari keuntungan Kompetisi memungkinkan penurunan tarif rata-rata dan dikompensasikan untuk penyeimbangan tarif yang menguntungkan penduduk miskin Ketersediaan layanan komunal meningkat

Biaya penyesuaian tarif rata-rata

Biaya penyesuaian struktur tariff

Biaya meningkatnya harga barang substitusi

Biaya meningkatnya harga barang komplementer

Tarif rata-rata dapat meningkat disebabkan kebutuhan pemulihan biaya dan pembiayaan investasi Struktur tarif mungkin disesuaikan yang dapat meningkatkan tarif marjinal bagi penduduk miskin Privatisasi mungkin menghambat akses ke layanan alternatif, khususnya jika sambungan ke jaringan publik suatu kewajiban Biaya sambungan menjadi meningkat tajam

Biaya memperoleh peralatan komplementer tidak terpengaruh tetapi biaya tetap tinggi

Sumber: Estache, Gomez-Lobo, Leipziger (2001) yang disarikan dari Foster (1999)

Terdapat beragam tipe dasar keterlibatan swasta dalam penyediaan air minum. Keterlibatan itu dapat diuraikan sebagai berikut. (i) Kontrak jasa (service contracts). Aspek individual dari penyediaan infrastruktur (pemasangan dan pembacaan meteran air, operasi stasiun pompa dan sebagainya) diserahkan kepada swasta untuk periode waktu tertentu (6 bulan sampai 2 tahun). Kategori ini kurang memberi manfaat bagi penduduk miskin. Kontrak jasa dipergunakan di banyak tempat seperti di Madras (India), dan Santiago (Chile).

45

(ii)

Kontrak manajemen. Manajemen swasta mengoperasikan perusahaan dengan memperoleh jasa menajemen baik seluruh maupun sebagian operasi. Kontrak bersifat jangka pendek (3 sampai 5 tahun) dan tidak terkait langsung dengan penyediaan jasa sehingga lebih fokus pada peningkatan mutu layanan daripada peningkatan akses penduduk miskin. Kontrak manajemen dilaksanakan di Mexico City, Trinidad, dan Tobago.

(iii) Kontrak sewa-beli (lease contracts). Perusahaan swasta melakukan lease terhadap aset perusahaan pemerintah dan bertanggungjawab terhadap operasi dan pemeliharaannya. Perusahaan swasta mendapat hak dari penerimaan dikurangi biaya sewa beli yang dibayarkan kepada pemerintah.. Konsep ‘enhanced lease’ diperkenalkan karena di negara berkembang dibutuhkan investasi pengembangan sistem distribusi, pengurangan kebocoran, dan peningkatan cakupan layanan. Perbaikan kecil menjadi tanggung jawab operator dan invetasi besar untuk fasilitas pengolahan menjadi tanggung jawab pemerintah. Kontrak sewa-beli banyak digunakan di Perancis, Spanyol, Ceko, Guinea, dan Senegal. (iv) Bangun-operasi-alih (build-operate-transfer/BOT). BOT dan beragam variasinya biasanya berjangka waktu lama tergantung masa amortisasi (25-30 tahun). Operator menanggung resiko desain, membangun dan mengoperasikan. Imbalannya adalah berupa jaminan aliran dana tunai. Pada akhir masa perjanjian, pihak swasta mengembalikan seluruh aset ke pemerintah Terdapat beragam bentuk BOT. Terkecuali secara khusus distribusi diarahkan ke daerah permukiman kumuh, BOT akan memberi manfaat bagi penduduk miskin. Pelaksanaan BOT terdapat di Australia, Malaysia, dan Cina. (v) Konsesi. Konsesi biasanya berjangka waktu 25 tahun yang berupa pengalihan seluruh tanggung jawab investasi modal dan pemeliharaan serta pengoperasian ke operator swasta. Aset tetap milik pemerintah dan operator membayar jasa penggunaannya. Tarif mungkin direndahkan dengan mengurangi jumlah modal

46

yang diamortisasi, yang dapat menguntungkan penduduk miskin jika mereka menjadi pelanggan. Konsesi dengan target cakupan yang jelas mengarah pada layanan bagi seluruh penduduk dapat menjadi alat yang tepat dalam memanfaatkan kemampuan swasta meningkatkan investasi, memberikan layanan yang baik, dan menetapkan tarif yang memadai. Melalui cara ini, pemerintah tetap mengatur tarif melalui sistem regulasi dan memantau kualitas layanan. Konsesi mempunyai sejarah panjang di Perancis, kemudian berkembang di Buenos Aires (Argentina), Macao, Manila (Pilipina), Malaysia, dan Jakarta.
Tabel 3.3 Model Kemitraan Pemerintah Swasta yang Potensial Melayani Penduduk Miskin
Potensial Melayani Penduduk Miskin XX XXX Kepemilikan Aset Rumah tangga Komunitas Swasta XXX X Publik Publik dan swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Publik Publik 1-2 tahun Johannesburg Gaza Mali Namibia Mozambique Manila Jakarta Australia Malaysia Cina Inggris Wales Operasi dan Pemeliharaan Rumah Tangga Komunitas Resiko Komersial Rumah tangga Publik dan komunitas Swasta

Pilihan

Investasi Modal Swasta dengan public Publik dan komunitas Swasta

Waktu

Contoh

Manajemen Rumah Tangga Manajemen Komunitas Penyedia independen skala kecil Kontrak Layanan Kontrak manajemen Lease Konsesi BangunOperasitransfer (BOT) Divestiture

Tidak terbatas Tidak terbatas Beragam

Jakarta

Indonesia Jakarta

Swasta

XX X XXX X

Publik Publik Publik Swasta dan Publik Swasta

Publik Publik Swasta Swasta

Publik Berbagi Swasta Swasta

3-5 tahun 8-15 tahun 25-30 tahun 20-30 tahun

XX

Swasta

Swasta

Swasta

Tidak terbatas

Sumber: Diadaptasi dari World Bank (1997) dan Stottmann (2000) Keterangan: X kurang potensil XX potensi sedang XXX sangat potensil

47

(vi) Pengalihan (divestiture). Kategori ini merupakan bentuk paling ekstrim dari privatisasi, yang berupa pengalihan aset dan operasi ke swasta, dapat berupa keseluruhan atau sebagian aset. Pemerintah hanya bertanggung jawab terhadap regulasi. Tidak banyak contoh dari divestiture, hanya Inggris dan Wales melakukan dalam skala besar (Weitz, 2002; Stottmann, 2000). Dari beragam jenis model kemitraan pemerintah swasta yang ada, hanya beberapa yang ditengarai berpotensi menguntungkan penduduk miskin, yaitu manajemen komunitas, penyedia independen skala kecil, dan konsesi. 3.3 3.3.1 Penyedia Air Minum Skala Kecil: Salah Satu Alternatif Keterbatasan Penyediaan Air Minum Skala Besar Penyediaan air minum skala besar oleh perusahaan air minum telah berlangsung beberapa dekade, tetapi hasilnya belum memuaskan. Struktur tarif dan bentuk pengelolaan saat ini tidak memungkinkan perusahaan air minum menyediakan air bagi seluruh penduduk. Beragam alasan bagi penduduk untuk tidak terjangkau oleh pelayanan air minum, yaitu sebagai berikut. Pertama, biaya sambungan terlalu tinggi dan pembayaran sekaligus di depan menghalangi penduduk miskin untuk berlangganan. Kedua, air yang tersedia tidak selamanya mencukupi kebutuhan; dan prioritas utama yang tidak mendapat layanan adalah penduduk miskin. Ketiga, struktur tarif dan rendahnya konsumsi air penduduk miskin mengakibatkan perusahaan air minum tidak tertarik melayani penduduk miskin. Keempat, jika penduduk bertempat tinggal di permukiman liar, mereka tidak akan mendapat layanan publik. Ketika perusahaan air minum berkeinginan melayani penduduk miskin, mereka kadang-kadang tidak mempunyai pengetahuan yang memadai. Hal itu akan menimbulkan beragam akibat, yaitu sebagai berikut. (i) Tingkat layanan sering tidak sesuai dengan kebutuhan, dan lebih mengutamakan standar teknis yang sering tidak terjangkau. (ii) Sistem pembayaran tepat waktu tidak sesuai dengan bentuk penerimaan penduduk miskin yang tidak teratur. (iii) Tidak terjadi komunikasi yang baik antara perusahaan air minum dan penduduk miskin (McIntosh, 2003 dan Gulyani dkk, 2005).

48

3.3.2

Kategori Penyedia Air Minum Skala Kecil Berdasarkan tinjauan terhadap beberapa studi empiris, penyedia air minum

skala kecil dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori yaitu sebagai berikut. a. Penyedia yang mempunyai hubungan permanen dengan perusahaan air minum, yang mendistribusikan air melalui kios atau hidran. Beberapa contoh adalah kios air di Nairobi (Kenya), Lilongwe (Malawi), Batam (Indonesia); hidran umum dikelola oleh komunitas di Dakar (Senegal), Mopti (Mali), Dhaka (Bangladesh); dan hidran umum dikelola oleh asosiasi komunitas skala kecil di Segou (Mali). b. Masyarakat yang menjual air perpipaan ke komunitas yang belum terlayani air perpipaan. Beberapa contoh adalah sistem air minum dibangun masyarakat Buenos Aires (Argentina); sistem air minum dibangun oleh wirausaha di Guatemala City (Guatemala) dan pusat penjualan air minum hasil pemurnian air sungai menggunakan sinar matahari di Manila (Pilipina); truk tangki air, gerobak air yang diambil dari air perpipaan pada waktu dan tempat dimana perusahaan air minum tidak dapat melayani. Sebagai contoh di Dakar (Senegal), Port-au-Prince (Haiti), dan Jakarta (Indonesia). c. Sistem air minum skala komunitas di Dhulikel (Nepal) (Snell, 1998 dan McIntosch, 2003). Selain kategori di atas, penyedia air minum skala kecil dapat dikenali dari pembedaan berdasarkan beberapa karakteristik diantaranya tingkat investasi, tingkat inisiatif, keterkaitan dengan perusahaan air minum, resiko keuangan dan tingkat layanan. Hal itu selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.4. Berdasarkan biaya yang harus dikeluarkan per satuan volume, penyedia air minum dapat dikategorikan sebagai berikut. (i) Kelompok harga termahal. Yang termasuk dalam kategori ini adalah truk tangki air dan gerobak air. Kelompok ini dapat menjual air dengan harga tertinggi karena mereka dapat menjangkau pembeli di mana saja dengan cepat dan dapat memenuhi kebutuhan pembeli setiap saat.

49

(ii)

Kelompok harga menengah. Yang temasuk dalam kategori ini adalah hidran umum dan kios air. Kedua fasilitas ini dapat melayani daerah dengan kualitas air jelek atau mahal.

(iii) Kelompok harga murah. Sambungan rumah merupakan sumber air minum yang murah jika biaya investasi tidak terhitung dalam tariff. Biaya sambungan dapat dicicil. (iv) Kelompok paling murah atau hampir gratis. Yang termasuk kategori ini adalah air sungai, danau dan sejenisnya. Biasanya digunakan untuk mandi dan mencuci.
Tabel 3.4 Tipe dan Karakteristik Penyedia Air Minum Skala Kecil
Tipe Tingkat Investasi Sangat rendah Sangat rendah Rendah Menengah sampai Tinggi Tingkat Inisiatif Sangat rendah Rendah Rendah Tinggi Kaitan dengan Perusahaan Air Minum Kuat Risiko Keuangan Sangat rendah Sangat rendah Rendah Menengah (truk dapat digunakan untuk kegiatan lain) Tinggi Tingkat Layanan

Kongsi dengan Perusahaan Air Minum Penjual kembali Penjaja keliling Truk Tangki Air

Rendah (air di luar rumah) Rata-rata (air diantar ke rumah) Rata-rata (air diantar ke rumah)

Kuat Lemah kuat Lemah kuat sampai sampai

Penyedia Air Minum Skala Komunitas

Menengah

Tinggi

Lemah kuat

sampai

Rata-rata sampai tinggi (air minum didistribusi ke rumah dengan selang atau sambungan rumah)

Sumber: McIntosch, 2003

3.3.3

Peran Penyedia Air Minum Skala Kecil Penduduk miskin perkotaan sebagian besar tidak mempunyai akses ke air

minum meskipun pembangunan air minum telah berlangsung lama. Hal ini mendorong timbulnya usaha swasta skala kecil dan informal dalam penyediaan air minum di

50

perkotaan. Usaha ini mempunyai potensi menyediakan layanan pada daerah berpenduduk miskin dengan biaya investasi yang relatif rendah. Beberapa alasan maraknya penyedia air minum skala kecil khususnya kios air di antaranya adalah (i) memungkinkan pengguna membeli dalam jumlah dan waktu yang sesuai kemampuan mereka; (ii) memungkinkan biaya modal rendah per rumah tangga yang terlayani; (iii) memungkinkan tingkat pemulihan biaya (cost recovery) perusahaan air minum lebih baik karena penyedia air minum skala kecil membayar sesuai dengan yang dipergunakannya. Dengan kata lain, kios air memberikan layanan fleksibel, sesuai kebutuhan bagi penduduk miskin dengan memungkinkan mereka membeli dalam jumlah kecil sesuai kemampuan. Penduduk miskin mendapat air dan perusahaan mendapat pengembalian biaya (Gulyani dkk, 2005). Karakteristik utama dari usaha ini adalah inisiatif individu, fleksibel, mudah mengadaptasi terhadap pasar dalam konteks pengaturan keuangan, dan pilihan teknis. Selain itu, dengan keterlibatan usaha ini maka beban sektor publik menjadi berkurang. Beberapa pihak memandang perlunya mendukung keberadaan usaha ini dengan mempertimbangkan hasil peningkatan cakupan pelayanan yang dihasilkan (Snell, 1998) Solo (1999) mengemukakan bahwa karakteristik yang mengesankan dari penyedia air skala kecil adalah dalam bentuk efisiensi operasi, yaitu (i) terpenuhinya pemulihan biaya, (ii) tidak terdapat kebocoran air, (iii) tidak membutuhkan subsidi publik dan pinjaman. Selain itu, penyedia air skala kecil dapat berkembang sesuai dengan situasi yang ada. Pada banyak kasus, penyedia air skala kecil dapat berkembang dari penjaja keliling menjadi truk tanki air bahkan menjadi sambungan pipa bawah tanah ke rumah. Walaupun demikian, keraguan akan kemampuan penyedia air skala kecil untuk berkembang menjadi besar dan beroperasi secara efisien tetap ada. 3.3.4 Beberapa Pengalaman Pengelolaan Berdasar studi “Small Scale Water Providers” yang didanai ADB, ditemukan bahwa pelayanan air minum skala komunitas mempunyai beberapa karakteristik, yaitu (i) strategi teknis dan manajemen harus fleksibel, (ii) patokan pelayanan mengikuti perusahaan air minum, (iii) pelayanannya kurang dihargai oleh pemerintah daerah dan

51

perusahaan air minum, (iv) tingkat pelayanan berkaitan erat dengan keabsahan. Hal itu dapat diterangkan sebagai berikut. (i) Strategi teknis dan manajemen harus fleksibel Hambatan investasi dan biaya operasi ditangani dengan memilih jenis teknologi yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Masyarakat yang dilayani sebagian besar merupakan pekerja harian sehingga penagihan dilakukan tidak sebulan sekali, tetapi lebih sering sesuai dengan kemampuan masyarakat. . (ii) Patokan pelayanan mengikuti perusahaan air minum Pelayanan skala kecil menganggap perusahaan air minum sebagai pesaing sehingga kualitas pelayanan diusahakan setingkat. (iii) Pelayanannya kurang dihargai oleh pemerintah daerah dan perusahaan air minum Kebutuhan investasi sulit terpenuhi karena dianggap usaha ilegal, tidak menguntungkan, dan asetnya tidak dapat dinilai. Akibatnya akses kredit terbatas dan berbunga tinggi sehingga resiko investasi menjadi tinggi. (iv) Tingkat pelayanan berkaitan erat dengan keabsahan. Kualitas pelayanan meningkat ketika pemerintah daerah memberi pengakuan. Berdasarkan pengalaman WaterAid29 di Malawi, keberadaan kios air sangat membantu penduduk miskin dalam memenuhi kebutuhannya. Namun, hambatan utama dalam pengelolaan kios air adalah tarif yang ditetapkan relatif tinggi sehingga tidak terjangkau oleh penduduk miskin. Kasus free rider30 yang dilakukan oleh pemuka masyarakat banyak terjadi sehingga menambah beban penduduk. (e-WaterAid, 2005). PT. Adhya Tirta Batam yang merupakan penyedia air minum di kota Batam yang bekerja sama dengan Otorita Batam membangun kios air di dekat perumahan liar. Pembangunan kios air ini didasari pertimbangan untuk mengurangi tingkat pencurian air, dan menyediakan air minum bagi penduduk yang bermukim di permukiman liar tanpa harus membangun jaringan distribusi. Secara umum keberadaan kios air
Sebuah LSM besar berbasis di Inggris yang bergerak dalam penyediaan air minum bagi penduduk miskin 30 Free rider diterjemahkan sebagai seseorang/sekelompok orang yang dalam penggunaan/konsumsi barang/jasa tidak membayar jasa/barang yang telah dikonsumsinya/digunakan sehingga beban pembayarannya menjadi tanggungan pengguna lainnya.
29

52

menguntungkan bagi masyarakat penghuni permukiman liar, walaupun tarifnya masih relatif tinggi jika dibandingkan dengan tarif air perpipaan31. (Virgiyanti, 2004). Walaupun penyedia air minum skala kecil diasosiasikan dengan investasi yang kecil, pada beberapa kasus usaha tersebut kemudian berkembang pesat dan membutuhkan investasi besar dan melayani pelanggan dalam jumlah besar32. 3.3.5 Masa Depan Pelayanan Air Minum Skala Kecil Pasar pelayanan air minum skala kecil sangat tergantung pada kondisi pelayanan air minum skala besar. Semakin baik dan terjangkau pelayanan air minum skala besar maka semakin kecil pasar pelayanan air minum skala kecil. Walaupun pada beberapa pengalaman (Pilipina, Vietnam) pelayanan air minum skala kecil kemudian berkembang menjadi pelayanan berskala besar, secara keseluruhan sebagian besar pelayanan air minum skala kecil bersifat pelengkap (komplementer) terhadap pelayanan skala besar. Penyediaan air minum yang hanya bergantung pada satu sumber, yaitu air perpipaan jarang terjadi khususnya di negara berkembang. Bahkan, di negara Amerika Latin, yang termasuk paling maju dalam urusan penyediaan air minum, dengan cakupan pelayanan air perpipaan mencapai 79 persen ternyata hanya 15 persen dari penduduk miskin yang terlayani (Idelovitch, 1997). Akibatnya tetap terjadi ketidakmerataan pelayanan air minum. Kondisi ini memungkinkan untuk mendorong pelayanan air minum skala kecil sebagai alternatif pencapaian Millenium Development Goals pada tahun 2015. Memasukkan penyedia air minum skala kecil dalam strategi investasi air minum akan dapat mempercepat peningkatan cakupan layanan, dengan memberi perhatian khusus

31

Kondisi ini terjadi disebabkan pengelola kios air menggunakan tarif penjaja air keliling sebagai pembanding, sehingga walaupun tarifnya lebih murah dari penjaja keliling tetapi masih lebih mahal dari tarif air perpipaan. Harga air perpipaan Rp.3.000,00 per m3, dan harga air kios Rp. 25.000,00 per m3. 32 Di Metro Manila, Pilipina, terdapat penyedia air minum skala kecil yang telah menginvestasikan USD. 350.000 dalam lima tahun dan melayani 25.000 rumah tangga melalui sambungan pipa atau selang air. Sementara di Ho Chi Minh City, Vietnam, terdapat penyedia air minum skala kecil yang melayani 400 rumah tangga melalui sambungan rumah dengan investasi USD. 80.000.

53

pada beberapa kendala tarif yang relatif mahal, dan kurangnya dana investasi (Conan, 2002). 3.4 Kaitan Pembangunan Air Minum terhadap Kemiskinan, Distribusi Pendapatan, dan Pertumbuhan Ekonomi. Pembangunan Air Minum dan Kemiskinan Abad ke-21 dimulai dengan sebuah kondisi pembangunan manusia yang mendasar yang belum tertanggulangi, yaitu akses kepada layanan air minum, khususnya bagi penduduk miskin di daerah kumuh perkotaan. Sementara akses ke air minum merupakan sumber daya atau modal dasar bagi keberlangsungan hidup. Akses ke air minum merupakan salah satu komponen dalam klasifikasi kemiskinan (Howard, 2004). Kegagalan dalam penyediaan air membawa dampak ke semua kelompok. Akan tetapi, yang paling besar dampaknya adalah terhadap penduduk miskin kota sehingga mereka semakin tidak mampu keluar dari siklus kemiskinan. Beberapa faktor ditengarai menjadi penyebab minimnya akses air minum, khususnya bagi penduduk miskin, yaitu sebagai berikut. a. Lahan yang ditempati merupakan miliknya yang sah. Pada daerah perkotaan, penyedia layanan air minum tidak melayani daerah permukiman liar, dengan pertimbangan akan memberi legitimasi dan alasan bagi penduduk untuk terus menempati lokasi tersebut. Walaupun kebijakan nasional menyatakan bahwa air minum diperuntukkan bagi semua orang, dalam praktiknya hal ini tidak akan terjadi pada penduduk di permukiman liar. b. Kemampuan penduduk miskin sangat terbatas untuk membayar biaya sambungan sekaligus di depan. Keterbatasan kemampuan untuk membayar biaya sambungan itu akan berakibat bahwa penduduk miskin tidak akan pernah memperoleh layanan air perpipaan. Harga satuan air perpipaan jauh lebih rendah dari air yang dijajakan keliling, tetapi biaya sambungan air perpipaan mahal (McIntosh, A. C, 2003).

3.4.1

54

c.

Ketika tanggung jawab penyediaan air minum dialihkan ke swasta, kepentingan penduduk miskin bukan menjadi perhatian. Perusahaan penyedia layanan air minum swasta tidak tertarik melayani penduduk miskin sebab penduduk miskin berkonsumsi rendah, mereka tidak mampu membayar biaya pemasangan sekaligus di depan. Disamping itu, mereka sering berlokasi di kawasan permukiman liar.

d.

Bagi sebagian besar pengambil keputusan, penduduk miskin dianggap tidak mampu dan/atau tidak mau membayar. Penduduk miskin dianggap tidak mampu untuk membayar. Walaupun demikian, pada saat tertentu seperti menjelang pemilihan umum, penduduk miskin perkotaan memperoleh perhatian berupa janji perbaikan lingkungan dan penyediaan air gratis..

e.

Lokasi tempat tinggal jauh dari jaringan perpipaan. Ketika penduduk berlokasi di kawasan kumuh, atau berjarak jauh dari jaringan perpipaan, akses air minum menjadi berkurang. Gambar 3.1 Pengaruh Ketersediaan Air Minum terhadap Beragam Dimensi kemiskinan Dimensi Kemiskinan Dampak Utama

Kesehatan Kekurangan Air Minum dan Sanitasi

- Penyakit terkait air dan sanitasi - Malnutrisi karena diare - Berkurangnya usia harapan hidup

Pendidikan

- Tingkat kehadiran berkurang karena sakit, atau antri air

Pendapatan/ Konsumsi -

Tingginya proporsi pengeluaran untuk air Berkurangnya potensi pendapatan karena sakit, berkurangnya kesempatan kerja yang memerlukan ketersediaan air.

Sumber: Bosch dkk (2000)

55

Kekurangan air dan sanitasi berdampak pada kemiskinan melalui empat dimensi, yaitu (i) kesehatan, (ii) pendidikan, (iii) jender, dan (iv) pendapatan dan konsumsi (Bosch, Hommann, Sadoff dan Travers, 2000). Hal itu selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 3.1. Ketika penduduk miskin tidak memperoleh akses air minum, penduduk miskin khususnya di perkotaan menanggung konsekuensinya, diantaranya berupa (Johnstone dan Wood, 1999) (i) meningkatnya biaya bagi yang tidak memperoleh akses, (ii) berkurangnya konsumsi air, dan (iii) bertambahnya beban kesehatan dan timbulnya biaya ekonomi karena hilangnya produktivitas. Satu persatu akan dijelaskan berikut ini.
Tabel 3.5 Perbandingan Harga Air Minum Penjaja Keliling dan Perpipaan di Kota Besar Dunia
Kota Abidjan Bandung Dhaka Ho Chi Minh, Vietnam Istanbul Yakarta Kampala Karachi Lagos Lima Manila Nairobi Onitsha, Nigeria Port-au-Prince, Haiti Surabaya Rasio harga air penjaja keliling terhadap perpipaan 5:1 62:1 12:1 – 25:1 19:1 10:1 14:1 – 20:1 4:1 – 9:1 28:1 – 83:1 4:1 – 10:1 17:1 13:1 7:1 – 11:1 35 :1 – 300:1 7:1 – 100:1 20:1 – 60:1 Sumber Data World Bank, 1998 ADB, 1993 World Bank, 1998 ADB, 1993 World Bank, 1998 Crane, 1994 World Bank, 1998 World Bank, 1998 World Bank, 1998 World Bank, 1998 David dan Ionesco, 1998 World Bank, 1998 Whittington dkk, 1991 World Bank, 1998 World Bank, 1998

Sumber: Diolah dari World Bank, 1998 dan Satterwaithe, 1998

a.

Meningkatnya biaya bagi yang tidak memperoleh akses. Ketika penduduk tidak memperoleh akses, mereka mencari alternatif lain yang lebih mahal. Masyarakat miskin membeli 5-30 liter air per kapita/hari melalui “perantara” seperti pemilik rumah, kios air, dan penjaja keliling dengan harga

56

yang jauh lebih mahal. Penduduk menghabiskan dana sekitar 10-40 persen dari pendapatan untuk air minum dan mungkin membayar 10-100 kali tarif rata-rata (Black, 1996). Sementara itu, RT pelanggan air perpipaan umumnya hanya mengeluarkan kurang dari 2 persen (Satterwaithe, 1998). Hal itu selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.5 dan Tabel 3.6. Sebagai perbandingan, di negara maju, pengeluaran air berkisar pada 0,5 sampai 2 persen dari pendapatan rata-rata (1,3 persen di Jerman dan Belanda, 1,2 persen di Perancis). Air minum dianggap mahal jika pengeluaran melampaui 3 persen dari pendapatan rata-rata penduduk (Water Academy, 2004).
Tabel 3.6 Proporsi Pengeluaran Air Minum Rumah Tangga Miskin Perkotaan
Lokasi Onitsha, Nigeria Manila, Filipina Addis Abeba, Ethiopia Port-au-Prince, Haiti Khartoum, Sudan Sumber: Satterwaithe, 1998 Proporsi Pengeluaran/Pendapatan 18 persen 8,2 persen 9 persen 3,2 – 10,6 persen 16,5 – 55,6 persen Sumber Whittington dkk, 1991 David dan Inocencio, 1998 Bahl dan Lihn, 1992 Fass, 1998 Cairneross dan Kinner, 1992

b.

Berkurangnya konsumsi air. Semakin besar biaya, waktu dan usaha yang dibutuhkan bagi konsumsi air, air yang dikonsumsi penduduk miskin kemungkinan semakin jauh dari kebutuhan minimal.

c.

Bertambahnya beban kesehatan dan timbulnya biaya ekonomi karena hilangnya produktivitas. Kekurangan akses ke air minum berkaitan ke penyakit baik yang langsung maupun yang tidak langsung33.

33

Tersedianya akses air minum berpotensi mengurangi angka kematian akibat penyakit terkait air telah lama diamati oleh WHO seperti kolera (potensi berkurang 80-100 persen), dan diare (40-50 persen) (WHO, 1992) Diare

mencapai 30 persen dari penyakit menular yang diderita anak-anak, yang mengakibatkan 2,2 juta kematian setiap tahun.

57

Gambar 3.2 Jalur Utama Penularan Penyakit melalui Air
konsumsi

Ikan
kontak

Air

Manusia
kontak langsung
Air permukaan dan pantai

Panen -------Tanah

pengolahan

dibuang

Limbah

dibuang

Air tanah dan permukaan dan pantai

siklus pendek Sumber: Bosch dkk (2000)

siklus panjang

Banyak penduduk miskin terjangkit penyakit disebabkan oleh kurang layaknya air yang dikonsumsi. Akibatnya, sebagian besar pendapatan habis untuk penanggulangan kesehatan sehingga tidak cukup tersedia dana untuk kegiatan produktif. Selain itu, penduduk yang menderita sakit diare atau yang merawat keluarga yang sakit tidak akan dapat bekerja, yang berarti hilangnya produktivitas34. (Surjadi, 2003) Karakteristik pasar air minum diantara komunitas miskin menunjukkan hal-hal sebagai berikut. (i) Kinerja penyedia air minum yang rendah lebih menyengsarakan penduduk miskin dibandingkan yang kaya. Penduduk miskin biasanya tergantung pada gaji harian sehingga waktu yang terbuang untuk memperoleh air akan mengurangi kesempatan memperoleh penghasilan. (ii) Penduduk miskin membayar lebih besar untuk air minum. Meskipun terdapat persepsi bahwa penduduk miskin tidak mampu membayar, kenyataannya mereka membayar lebih besar daripada penduduk kaya, seperti membeli air dari penjaja keliling dengan harga yang lebih mahal. (iii) Penyedia alternatif merupakan jalan keluar bagi penduduk miskin untuk mendapatkan layanan.

34

WHO memperkirakan 5,6 miliar hari kerja akan diperoleh per tahun kalau semua orang mempunyai akses ke air minum (Hansen, 2004)

58

Tingginya kebutuhan air yang tidak terlayani oleh penyedia air perpipaan memungkinkan penyedia skala kecil mengembangkan inovasi, seperti kios air, penjaja keliling, jaringan independent, dan lain-lain. (iv) Ketersediaan dana tunai merupakan isu dalam mendapatkan layanan air minum. Penduduk miskin cenderung membayar tidak teratur dan dalam jumlah kecil sesuai dengan ketersediaan dana mereka. (v) Pemilikan lahan merupakan kendala mendapatkan layanan (Kariuki, 2000). Program pembangunan air minum dapat menanggulangi kemiskinan melalui 2 cara, yaitu (i) mengurangi biaya layanan dasar, dan (ii) mengurangi beberapa resiko penyebab menurunnya kondisi kesehatan masyarakat yang dapat menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat (Cain, 1998). Namun, aspek pertama yang terkait langsung dengan kondisi ekonomi yang sering dikemukakan adalah berupa peningkatan pendapatan yang dapat digunakan untuk keperluan selain air minum. Kaitan ini dijelaskan secara nyata melalui ilustrasi berupa peningkatan pendapatan penduduk miskin setelah penduduk miskin tersebut beralih dari mengonsumsi air yang dibeli dari penjual keliling ke air perpipaan35. Ketika pemerintah maupun swasta berkeinginan memberikan layanan air minum pada penduduk miskin, faktor yang menjadi kepedulian penduduk miskin perlu mendapat perhatian. Terdapat tiga hal yang menjadi kepedulian utama dari penduduk miskin. Ketiga hal tersebut akan diuraikan berikut ini. (i) Harga air. Rumah tangga miskin lebih tertarik pada harga air yang rendah dan penerapan skema subsidi silang. (ii) Ekspansi sistem distribusi. Rumah tangga miskin akan lebih memberi perhatian pada besarnya biaya sambungan dan cara pembayaran biaya sambungan (sekali bayar vs dicicil). (iii) Tingkat layanan (kualitas air, lama layanan, sistem penagihan dan lainnya). Rumah tangga miskin cenderung membayar tagihan dalam jumlah kecil dengan frekuensi yang lebih sering.
35

Sebagai ilustrasi, penduduk Manila membayar 900 pesos setiap bulan untuk air minum dari penjaja keliling, tetapi hanya membayar 100 pesos per bulan jika tersambung ke perpipaan. Selisih 800 pesos akan berarti banyak ketika penghasilan sebulan hanya sekitar 6.000 pesos dan biaya sewa rumah sekitar 1.000 pesos(McIntosh,2000)

59

Selain itu, penyedia air minum harus memperhatikan beberapa hal, yaitu (i) desain penyediaan air minum harus tetap mempertahankan sasaran meningkatkan taraf kehidupan penduduk miskin, (ii) menghindari asumsi bahwa melayani penduduk miskin berisiko tinggi dan tingkat pengembalian rendah, (iii) memberikan kebijakan dan pengaturan yang jelas, (iv) mempersiapkan beragam pilihan akses air minum bagi penduduk miskin, dengan catatan bahwa penyedia air minum alternatif mungkin lebih sesuai dengan penduduk miskin, dan (v) memberikan subsidi ke penduduk miskin melalui tarif yang sering tidak berhasil. Penduduk miskin sebagian memperoleh air dari tempat umum bahkan penyedia skala kecil, sementara subsidi silang lebih mengarah pada sambungan rumah. Akibatnya, subsidi terhadap harga menguntungkan penduduk kaya daripada penduduk miskin36. Harga air yang murah tanpa didukung oleh akses air minum ke penduduk miskin hanya akan menguntungkan pedagang dan bukan penduduk miskin (McIntosch, 2003), (vi) perlu ditingkatkan keterlibatan penduduk miskin sehingga keinginan mereka dapat tersampaikan (Kariuki, 2000). 3.4.2 Pembangunan Air Minum dan Pertumbuhan Ekonomi Keterkaitan antara kinerja perekonomian dan infrastruktur telah memicu debat berkepanjangan diantara ahli ekonomi infrastruktur dan ekonomi pembangunan. Bukti empiris belum dapat menunjukkan secara jelas keterkaitan antara infrastruktur dan perekonomian. Bank Dunia dalam laporan tahunannya World Development Report Tahun 1994 menyatakan bahwa belum terdapat konsensus mengenai besaran pasti dari pengaruh infrastruktur pada pertumbuhan ekonomi, tetapi, sebagian besar studi menyimpulkan bahwa peran investasi infrastruktur pada pertumbuhan ekonomi sangat mendasar, signifikan, dan bahkan lebih dari pada investasi modal lainnya. Terlepas dari perdebatan di atas, sebagian ahli ekonomi berpendapat bahwa layanan infrastruktur yang memadai adalah kebutuhan dasar untuk pertumbuhan dan produktivitas. Terkait dengan pembangunan air minum, analisis terbaru menunjukkan bahwa pengelolaan air berada pada peringkat kedua terbesar dalam investasi infrastruktur
36

Di manila, penduduk miskin mengkonsumsi hanya 6 m3 per bulan dibanding penduduk kaya sebanyak 30 m3 per bulan, sementara penduduk miskin yang membeli air dari penjual keliling membayar hampir 5 kali lebih besar dari yang dibayar penduduk kaya.

60

bagi kebangkitan ekonomi (Tan, 2000). Sementara itu, WHO (2004) melalui the Swiss Tropical Institute melakukan kajian manfaat ekonomi dari investasi air minum dan sanitasi pada beberapa negara. Kesimpulannya adalah bahwa investasi air minum dan sanitasi sebesar USD 1 akan memberikan pengembalian sebesar antara USD 3 sampai USD 34, yang bergantung pada lokasinya. 3.4.3 Pembangunan Air Minum dan Kesenjangan Disamping dampak terhadap pertumbuhan pendapatan agregat, literatur terkini menunjukkan dampak pembangunan infrastruktur terhadap kesenjangan pendapatan. Hipotesis ini dibuktikan secara empiris dalam studi Lopez (2003) bahwa dalam kondisi tertentu, pembangunan infrastruktur dapat berdampak positip pada pendapatan dan kesejahteraan penduduk miskin dan pendapatan rata-rata. (Calderon, 2001). Secara khusus terkait dengan air minum, dalam literatur empiris sebagaimana dikemukakan oleh Brenneman dan Kerf (2002), Galiani, Gertler dan Schargrodsky (2002), ditunjukkan bahwa peran akses air dan sanitasi dalam mengurangi tingkat kesenjangan, terlihat melalui dampaknya pada modal manusia khususnya penduduk miskin (Calderon, 2004). Kajian Calderon (2004) menunjukkan bahwa pembangunan jaringan air minum mempunyai dampak negatif dan signifikan pada kesenjangan pendapatan. Beberapa kesimpulan studi adalah sebagai berikut. (i) Kuantitas infrastruktur mempunyai dampak positip signifikan pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang. (ii) Jumlah dan kualitas infrastruktur mempunyai dampak negatif terhadap kesenjangan pendapatan. Tanpa melihat pada tehnik yang digunakan dalam mengukur kesenjangan, ditemukan bahwa pengurangan kesenjangan tidak hanya dipengaruhi oleh kuantitas, tetapi dipengaruhi juga oleh kualitas infrastruktur. (iii) Infrastruktur meningkatkan pendapatan dan mengurangi kesenjangan berakibat bahwa pembangunan infrastruktur menjadi kunci pengurangan kemiskinan sehingga pembangunan infrastruktur seharusnya menjadi pendukung utama program pengurangan kemiskinan. 3.5 Pertumbuhan Pro-Poor Pertumbuhan pro-poor telah dikenal luas dan didefinisikan oleh lembaga internasional sebagai pertumbuhan yang mengarah pada penurunan kemiskinan secara

61

nyata (OECD, 2001 dan PBB, 2000). Terdapat dua definisi pertumbuhan pro miskin. Pada konsep pertama, pertumbuhan pro-poor terjadi ketika pendapatan penduduk miskin meningkat lebih cepat dari penduduk tidak miskin. Sementara itu, konsep kedua menyatakan bahwa pertumbuhan pro-poor terjadi ketika jumlah absolut penduduk miskin berkurang (Vos, 2005). Dapat disimpulkan bahwa perbedaan mendasar hanya pada fokusnya, yaitu (i) konsep pertama pada kesenjangan (White dan Anderson, 2000; Kakwani dan Pernia, 2000) dan (ii) konsep kedua pada kemiskinan (Ravallion dan Chen, 2003). Secara harafiah, ini berarti bahwa pertumbuhan pro-poor terjadi ketika penduduk miskin lebih banyak mendapat manfaat jika dibanding dengan lainnya. Selain itu, untuk dapat disebut pertumbuhan pro-poor, pertumbuhan harus disertai pengurangan kesenjangan. Terdapat cara lain mengartikan pertumbuhan pro-poor, yaitu pertumbuhan menurunkan angka kemiskinan (Ravallion dan Chen, 2003). Pertumbuhan disepakati baik untuk penduduk miskin dan dibutuhkan untuk penurunan kemiskinan berkelanjutan. Akan tetapi, apakah ini memadai?. Sulit dibantah bahwa penurunan kemiskinan berkelanjutan dapat dicapai melalui kebijakan redistribusi menyertai kemandekan ekonomi. Pertumbuhan yang dikaitkan dengan perubahan redistribusi akan mempunyai dampak yang lebih besar terhadap penurunan kemiskinan dari pertumbuhan tanpa perubahan distribusi (Bourgignon, 2001). Terdapat dua penjelasan tentang hal ini, yaitu (i) dampak positif langsung dari perubahan distribusi terhadap penurunan kemiskinan tanpa memperdulikan besaran pertumbuhan ekonomi; (ii) dampak positip dan tidak langsung dari penurunan kesenjangan. Bahkan ketika tidak terjadi perubahan distribusi, pertumbuhan ekonomi akan mempunyai dampak penurunan kemiskinan yang lebih besar kalau kesenjangan awal rendah. Perubahan distribusi dapat berdampak sekarang pada kemiskinan dan dampak kedepan berupa penurunan kemiskinan sebagai akibat pertumbuhan ekonomi di masa depan (Mosley, 2004) Jika pertumbuhan ekonomi baik untuk penduduk miskin, perubahan kesenjangan juga secara empiris sesuai untuk menjelaskan perubahan kemiskinan. Ravallion (2004) menyimpulkan bahwa pertumbuhan akan menjadi alat yang tidak

62

berarti bagi kemiskinan kecuali jika pertumbuhan terjadi bersamaan dengan penurunan kesenjangan. Gambar 3.3 Kebijakan, Pertumbuhan, Perubahan Distribusi dan Penurunan Kemiskinan

Pertumbuhan Pendapatan

Reformasi Kebijakan

Perubahan Kemiskinan

Perubahan Distribusi Pendapatan

Sumber: Lopez, 2004

Pertumbuhan ekonomi yang bermanfaat bagi penduduk miskin harus menjadi prioritas dari kebijakan publik di negara berpendapatan rendah. Pertumbuhan ekonomi dan kebijakan pro-growth adalah muatan utamanya, tetapi itu saja tidak mencukupi. Negara miskin harus mencari cara melaksanakan kebijakan yang meningkatkan manfaat pertumbuhan bagi penduduk miskin. Perubahan distribusi yang progresif (bahkan sekedar mengurangi percepatan peningkatan kesenjangan) dapat mempunyai dampak penting pada tingkat pertumbuhan pendapatan penduduk miskin (Mosley, 2004). 3.6 Rangkuman Air minum sebagai kebutuhan dasar telah disadari bersama. Sebagai konsekuensinya adalah penyediaan air minum tidak hanya memperhatikan segi ekonomis, tetapi juga memperhatikan segi sosial. Pengabaian fungsi sosial akan berakibat bahwa penduduk miskin terabaikan kebutuhannya akan air minum. Ketika air minum tidak terjangkau, penduduk miskin yang paling banyak menderita. Akses ke air minum merupakan salah satu komponen dalam klasifikasi kemiskinan. Hal ini telah

63

disadari sejak lama, tetapi masih banyak penduduk khususnya yang miskin yang belum terjangkau. Ketiadaan akses terhadap air minum mempengaruhi kondisi kesehatan, pendidikan, dan pendapatan dan konsumsi. Konsekuensi kurangnya akses terhadap air minum diantaranya berupa biaya penyediaan air yang lebih mahal, waktu yang tersita lebih banyak untuk mendapatkan air, konsumsi air berkurang, bertambahnya beban kesehatan dan pada akhirnya bermuara pada timbulnya biaya ekonomi disebabkan hilangnya produktivitas. Kesadaran bahwa air merupakan kebutuhan dasar kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan menyediakan air minum dengan harga yang terjangkau khususnya bagi penduduk miskin. Di pihak lain, harga yang terjangkau sering lebih rendah dari biaya produksi sehingga menyulitkan penyedia air minum untuk berkembang. Kemudian, harga terjangkau tidak dengan sendirinya membantu penduduk miskin karena dalam kenyataannya penduduk miskin masih banyak yang belum terlayani. Sebaliknya, kondisi ini malah mengurangi kemampuan pemerintah menyediakan air minum yang berkualitas dan menjangkau keseluruhan penduduk. Berdasarkan alasan ketidakmampuan pemerintah menyediakan kebutuhan air minum bagi masyarakat, swasta mulai berperan dalam penyediaan air minum. Secara empiris kinerja swasta dalam penyediaan air minum masih kontroversial. Beberapa studi di Asia Pasifik, dan Amerika Serikat, menunjukkan bahwa kinerja swasta lebih efisien. Sementara itu, di Swedia, Inggris, dan Perancis menunjukkan hasil yang berseberangan. Kondisi ini mengakibatkan sebagian pihak mendukung keterlibatan swasta dengan menyatakan keterlibatan swasta meningkatkan efisiensi dan mendorong bertambahnya investasi dan pertumbuhan ekonomi. Di pihak lain, pihak penentang menyatakan bahwa swasta mengedepankan keuntungan dengan

mengabaikan kepentingan penduduk miskin. . Keterlibatan swasta dalam penyediaan air minum dapat dilihat baik dari sudut pandang makro maupun mikro. Secara makro, peningkatan investasi air minum akan berdampak positip terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun secara mikro, penduduk miskin cenderung terabaikan disebabkan akses yang sulit (biaya sambungan meningkat,

64

berlokasi di permukiman liar), dan tidak terjangkau (tarif yang meningkat, subsidi yang berkurang). Ketidakmampuan pemerintah, dan kemudian juga swasta, mendorong penduduk terutama yang miskin untuk memperoleh air minum dari sumber alternatif, yang dikenal dengan istilah penyedia air minum skala kecil (small scale water provider). Biaya layanan penyedia skala kecil relatif lebih mahal dari sistem perpipaan, tetapi bentuk layanan yang diberikan oleh penyedia skala kecil bersifat fleksibel37 sehingga terjangkau oleh penduduk miskin. Walaupun demikian, penyedia skala kecil masih dianggap bersifat sementara sampai sistem air perpipaan dapat melayani. Sebagaimana investasi air minum perpipaan maka investasi air minum nonperpipaan (penyedia skala kecil) akan berdampak positip pada pertumbuhan ekonomi. Secara empiris belum diketahui dampak dari investasi air minum nonperpipaan terhadap distribusi pendapatan. Secara teoritis, dalam jangka menengah dampaknya tergantung pada harga air yang dikonsumsi dibandingkan dengan kemungkinan timbulnya dampak terhadap kesehatan jika mengkonsumsi air yang tidak layak. Sementara itu, dalam jangka pendek dampak dari harga akan lebih dominan. Keterkaitan isu akses terhadap air minum dengan pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan menjadi mengemuka ketika kondisi kemiskinan perkotaan menjadi perhatian. Akses terhadap air minum merupakan salah satu penyumbang terhadap kemiskinan perkotaan. Bahkan, ditengarai pembangunan air minum yang mengabaikan penduduk miskin akan berdampak pada semakin meningkatnya kesenjangan pendapatan di perkotaan. Keterkaitan antara kinerja perekonomian dan infrastruktur telah memicu debat berkepanjangan diantara ahli ekonomi infrastruktur dan ekonomi pembangunan. Belum terdapat konsensus mengenai besaran pasti dari pengaruh infrastruktur pada pertumbuhan ekonomi. Namun, sebagian besar studi menyimpulkan bahwa peran investasi infrastruktur pada pertumbuhan ekonomi sangat mendasar, signifikan dan bahkan lebih dari pada investasi modal lainnya.

37

Penduduk dapat membeli/membayar dalam jumlah dan pada waktu yang sesuai kemampuan mereka

65

Kaitan pertumbuhan dan kesenjangan lebih terlihat pada literatur teoritis. Sementara itu, berbeda dengan pandangan Kutznets, beberapa literatur empiris terkini secara seragam menyatakan bahwa pertumbuhan tidak mempunyai dampak sistematis pada kesenjangan. Teori sederhana dan bukti empiris menunjukkan bahwa pengurangan kemiskinan dapat dicapai melalui percepatan pertumbuhan ekonomi dan/atau perubahan distribusi pendapatan. Pada saat pendapatan rata-rata meningkat, proporsi populasi yang hidup dalam kemiskinan absolut akan berkurang, Meskipun bukti menunjukkan bahwa pertumbuhan dapat dikaitkan dengan meningkatnya kesenjangan pendapatan, penurunan kemiskinan didominasi oleh pengaruh langsung dari pertumbuhan. Terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa pertumbuhan .itu penting bagi penanggulangan kemiskinan. Berdasarkan riset terdahulu, Kraay (2004) menguraikan dampak pertumbuhan pada kemiskinan melalui tiga sumber pertumbuhan pro-poor, yaitu (i) pertumbuhan tinggi, (ii) kemiskinan yang sensitif terhadap pertumbuhan, dan (iii) pertumbuhan berpola mengurangi kemiskinan. Ketiadaan akses terhadap air minum khususnya bagi penduduk miskin perkotaan akan berdampak semakin parahnya distribusi pendapatan di perkotaan. Selanjutnya, hal itu akan berdampak terhadap menurunnya pertumbuhan ekonomi. Di pihak lain, pertumbuhan ekonomi dianggap sebagai syarat utama dalam mengatasi kemiskinan perkotaan. Penyediaan air minum secara teoritis dapat menjadi alat yang membantu menjembatani proses pertumbuhan ekonomi dengan pengurangan kesenjangan melalui dampak ketersediaan air minum terhadap tingkat pendapatan penduduk miskin. Kondisi ini kemudian dikenal sebagai fenomena pertumbuhan propoor, yaitu pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan pengurangan kesenjangan pendapatan dan/atau kemiskinan. Pembangunan air minum seharusnya disadari bukan suatu beban, tetapi suatu kesempatan untuk mengatasi kemiskinan khususnya di perkotaan. Pembangunan air minum seharusnya berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan sekaligus juga mengurangi kesenjangan pendapatan.

66

BAB IV PEMODELAN DAMPAK INVESTASI AIR MINUM

4.1

Teori Keseimbangan Umum Teori keseimbangan umum merupakan teori yang menjelaskan tentang

keberadaan beragam pasar yang saling terkait satu sama lain dalam suatu perekonomian. Sebagai akibatnya, perubahan pada satu pasar akan berpengaruh terhadap pasar lainnya. Kondisi keseimbangan akan terbentuk ketika permintaan dan penawaran pada masing-masing pasar berada pada kondisi keseimbangan simultan. Secara matematis, tingkat harga keseimbangan merupakan solusi dari sistem persamaan simultan yang menggambarkan perilaku dari setiap pelaku ekonomi dan keseimbangan di setiap pasar (Hartono, 2002). Model keseimbangan umum dikembangkan pertama kali oleh Leon Walras yang mengemukakan bahwa semua harga dan jumlah barang di semua pasar ditentukan secara simultan melalui proses interaksi satu dengan lainnya (Lewis, 1991). Untuk menjelaskan konsepnya, Walras menggunakan pendekatan matematis melalui konsep kelebihan permintaan sebagai berikut. Asumsi yang dipergunaKotak 4.1 Hukum Walras Suatu sistem yang terdiri atas n pasar, memiliki fungsi permintaan X (P ) , fungsi penawaran X (P ) dan fungsi kelebihan permintaan untuk pasar ke-j yang didefinisikan sebagai:
D S

kan dalam Hukum Walras adalah bahwa suatu perekonomian terdiri dari n pasar komoditi yang dibedakan atas dua keseimbangan yaitu keseimbangan parsial dan keseimbangan umum. Keseimbangan parsial terjadi pada sebuah pasar komoditi, sementara keseimbangan umum terjadi secara serentak pada semua

Z j ( P) = X D − X S j j
Dalam kondisi keseimbangan, untuk setiap pasar ke-i secara simultan berlaku X kondisi:
D

(P) = X (P) dan

S

∑P
j =1

n

j

• Z j = 0 , untuk setiap Pj ≥ 0 .

67

pasar. Jika terdapat n pasar parsial, keseimbangan umum akan tercapai ketika n-1 pasar parsial telah mencapai keseimbangan.
4.2 4.2.1 Model Komputasi Keseimbangan Umum (CGE)38 Prinsip dan Kerangka Dasar

Model komputasi keseimbangan umum (computable general equilibrium, CGE) merupakan suatu model kuantitatif yang berhubungan dengan keseimbangan perekonomian secara umum yang harga-harga dari semua barang dan jasa serta faktorfaktor produksi memiliki peranan yang sangat penting dalam menyeimbangkan antara permintaan (demand) dan penawaran (supply). Model keseimbangan umum disusun oleh persamaan-persamaan yang memuat perilaku-perilaku dari para pelaku ekonomi (rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan dunia internasional) dalam kerangka suatu model. Permintaan dan penawaran akan barang dan jasa serta faktor-faktor produksi oleh para pelaku ekonomi tersebut didasarkan kepada mekanisme pasar. Perilaku para pelaku ekonomi dalam suatu model komputasi keseimbangan umum (computable general equilibrium, CGE) dasar pada umumnya terdiri dari: rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan dunia internasional. Perilaku para pelaku ekonomi dalam model keseimbangan umum diasumsikan sangat rasional, yaitu

memaksimumkan keuntungan untuk para pelaku ekonomi yang membutuhkan faktor produksi atau memaksimumkan utilitas untuk pelaku ekonomi yang mengkonsumsi barang dan jasa serta faktor produksi. (Bappenas, 2004). Model CGE adalah sebuah model keseimbangan yang dibangun berdasarkan struktur sosial ekonomi dari Social Accounting Matrix (SAM), dengan disagregasi multisektor. Struktur dasar SAM yang dipergunakan dalam model CGE disajikan pada Tabel 4.1

38

Computable General Equilibrium (CGE) Model diterjemahkan menjadi Model Komputasi Keseimbangan Umum. Pada beberapa kajian kadang juga diterjemahkan menjadi Model Keseimbangan Umum Terapan

68

Tabel 4.1 Struktur Dasar SAM pada Model CGE
Pengeluaran Penerimaan Aktivitas Komoditi Faktor Rumah Tangga Perusahaan
Pajak produsen dan pajak nilai tambah Pajak penjualan, tarif, pajak ekspor Input Antara Nilai Tambah Pendapatan faktor untuk rumah tangga Pendapatan faktor untuk perusahaan Pendapatan faktor untuk pemerintah, pajak faktor Transfer antar rumah tangga Surplus untuk rumah tangga Transfer ke rumah tangga Transfer ke perusahaan Transfer ke pemerintah, pajak langsung rumah tangga Tabungan rumah tangga Impor Pengeluaran aktifitas Penawaran Pendapatan faktor ke sisa dunia Pengeluaran faktor Pengeluaran rumah tangga Surplus ke pemerintah, pajak langsung perusahaan Tabungan perusahaan Surplus untuk sisa dunia Pengeluaran perusahaan Tabungan pemerintah Transfer pemerintah untuk sisa dunia Pengeluaran pemerintah Investasi Foreign exchange inflow

Aktivitas

Komoditi
Output yang dipasarkan Biaya transaksi

Faktor

Rumah Tangga
Output yang dikonsumsi Konsumsi privat

Perusahaan

Pemerintah

TabunganInvestasi

Sisa Dunia

Total
Pendapatan aktivitas (output kotor)

Konsumsi pemerintah

Investasi

Ekspor Pendapatan faktor dari sisa dunia Transfer ke rumah tangga dari sisa dunia Transfer ke perusahaan dari sisa dunia Transfer ke pemerintah dari sisa dunia Tabungan Asing

Permintaan Pendapatan faktor Pendapatan rumah tangga Pendapatan perusahaan Pendapatan pemerintah Tabungan Foreign exchange outflow

Pemerintah TabunganInvestasi Sisa Dunia Total

Sumber: Lofgren dkk (2001)

69

Gambar 4.1 Struktur Dasar Model CGE
Tabungan Swasta Domestik Sumber: Lofgren dkk (2002). Tabungan Pemerintah Upah & Sewa Pajak Biaya Input Antara

Pasar Faktor
Biaya Faktor

Aktivitas

Rumah Tangga
Konsumsi Swasta Transfer

Pemerintah
Konsumsi Pemerintah

Tabungan/ Investasi

Penjualan

Pasar Komoditi
Ekspor

Permintaan Investasi Transfer dari Luar Negeri

Impor Tabungan dari Luar Negeri

Bagian Lain Dunia

70

4.2.2

Model Standar Komputasi Keseimbangan Umum39

Perilaku dalam mengambil keputusan untuk melakukan produksi dan konsumsi dalam model standar komputasi keseimbangan umum diasumsikan memiliki struktur yang tidak linier serta memenuhi kondisi syarat perlu dan cukup berupa optimisasi turunan pertama dan turunan kedua. Disamping itu, rangkaian-rangkaian

persamaan dalam model dasar kesetimbangan umum juga memuat beberapa kendala (constraints) yang harus dapat dipenuhi oleh sistem model dasar kesetimbangan umum secara keseluruhan dengan tidak perlu melihat kepada pertimbangan-pertimbangan dari masing-masing pelaku ekonomi.
• Aktifitas, Produksi dan Pasar Faktor Produksi

Masing-masing produsen yang direpresentasikan dengan suatu kegiatan diasumsikan untuk memaksimumkan keuntungan. Keuntungan merupakan selisih antara pendapatan (revenue) dengan seluruh biaya dari faktor-faktor produksi (factors of production) dan barang antara
Gambar 4.2 Teknologi Produksi

(intermediate inputs) yang diperluOutput Komoditas
(koefisien hasil tetap)

kan dalam seluruh kegiatan produksi. Kendala yang membatasi perilaku

Tingkat Aktifitas
(CES/Leontief)

memaksimumkan keuntungan dari produsen didasarkan kepada keadaan teknologi yang dimiliki dan

Nilai Tambah (CES)

Antara (Leontief)

dipergunakan proses produksi.

dalam

melakukan

Faktor Primer

Komoditas Komposit

Pada bagian yang paling atas dipergunakan persamaan produkDomestik

Impor

si berdasarkan constant elasticity of substitution (CES) atau fungsi

Sumber: Lofgren, 2001

39

Sub Bab ini merupakan terjemahan bebas dari A Standard Computable General Equilibrium Model in GAMS oleh Hans Lofgren dkk, IFPRI, 2001.

71

Leontief40 yang menggabungkan antara seluruh nilai tambah serta barang-barang input antara. Masing-masing kegiatan dapat memproduksi atau menghasilkan satu jenis komoditi atau lebih berdasarkan koefisien-koefisien hasil produksi yang tetap (fixed yield coefficients). Pendapatan (revenue) dari kegiatan dihitung berdasarkan tingkat proses kegiatan dan hasil produksi dengan berpatokan kepada harga jual yang ditawarkan oleh produsen. Sesuai dengan keinginan para produsen untuk memaksimumkan keuntungan dilihat dari sisi penggunaan faktor-faktor produksi, masing-masing kegiatan atau proses produksi yang dilakukan oleh para produsen akan mempergunakan faktor-faktor produksi sampai pada suatu titik yang pendapatan marjinal dari masing-masing hasil produksi (marginal revenue of factors production) sama dengan biaya perolehan masing-masing faktor produksi (factors price or rent) tersebut. Harga perolehan dari masing-masing faktor produksi tersebut akan berbeda-beda bergantung pada segmentasi dari pasar faktor-faktor produksi maupun pada mobilitas dari faktor-faktor produksi tersebut.
• Lembaga atau Para Pelaku Kegiatan Ekonomi

Lembaga atau pelaku ekonomi yang akan diakomodasi ke dalam model diantaranya berupa rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan bagian lain dunia (rest of the world, ROW). Rumah tangga yang didisagregasi sesuai dengan yang tercantum di SAM mendapatkan pendapatan (income) dalam bentuk upah tenaga kerja dari perusahaanperusahaan sebagai imbalan dari penggunaan faktor produksi (tenaga kerja) oleh perusahaan-perusahaan. Disamping itu, rumah tangga juga mendapatkan pendapatan lain yang berasal dari transfer dari pelaku-pelaku ekonomi lainnya. Transfer dari bagian lain dunia (rest of the world, ROW) ke rumah tangga memiliki nilai yang tetap dengan
Fungsi produksi CES sesuai untuk dipergunakan pada sektor-sektor yang secara empiris diketahui bahwa komposisi dari seluruh nilai tambah dan barang-barang input antara berubah-ubah. Sementara itu, fungsi produksi Leontief sangat sesuai dipergunakan pada sektor-sektor yang secara empiris diketahui bahwa komposisi dari seluruh nilai tambah dan barang-barang input antara relatif tidak berubah-ubah atau selalu tetap .
40

72

denominasi dalam nilai mata uang asing. Rumah tangga mempergunakan pendapatannya untuk membayar pajak langsung, keperluan tabungan, membiayai kegiatan konsumsi, serta melakukan transfer kepada para pelaku ekonomi lainnya. Dalam model yang paling sederhana, pajak langsung dan transfer kepada para pelaku ekonomi lainnya di dalam negeri didefinisikan memiliki proporsi yang tetap dari pendapatan yang diperoleh rumah tangga. Sementara itu, proporsi pengeluaran rumah tangga untuk keperluan simpanan didefinisikan fleksibel untuk sebagian rumah tangga. Proporsi pengeluaran rumah tangga untuk pembayaran pajak langsung dan simpanan tersebut didasarkan kepada pilihan closure antara neraca pemerintah serta neraca tabungan-investasi. Pendapatan rumah tangga setelah dikurangi pengeluaran pajak langsung dan keperluan tabungan merupakan disposable income yang dapat dipergunakan untuk keperluan konsumsi. Konsumsi yang dilakukan rumah tangga meliputi komoditi-komoditi yang dijual di pasar yang diperoleh dengan harga pasar termasuk pajak komoditi yang harus dibayar serta biaya-biaya transaksi yang timbul dari perpindahan komoditi dalam rantai pasokan perdagangan komoditi tersebut serta home commodities yang diperoleh dengan harga yang ditawarkan oleh produsen. Pengeluaran konsumsi rumah tangga diperuntukkan untuk membeli bermacam-macam komoditi (marketed and home

commodities) berdasarkan suatu fungsi yang dikenal dengan linear expenditure system (LES). Pendapatan dari faktor produksi tidak selamanya dibayarkan langsung kepada rumah tangga melainkan bisa juga dibayarkan melalui satu atau beberapa perusahaan. Perusahaan dapat juga memperoleh transfer dari para pelaku ekonomi lainnya. Pendapatan yang diperoleh oleh perusahaan dialokasikan untuk membayar pajak langsung, keperluan tabungan dan transfer kepada para pelaku ekonomi lainnya. Perusahaan-perusahaan diasumsikan tidak melakukan kegiatan konsumsi. Pembayaran yang dilakukan oleh dan kepada perusahaan dimodelkan sama dengan pembayaran yang dilakukan oleh dan kepada rumah tangga. Pemerintah mengumpulkan pajak dan mendapatkan transfer dari para pelaku ekonomi lainnya. Dalam model dasar, pajak yang diterapkan adalah digolongkan

73

kedalam ad valorem tax dengan tingkat pembayaran tetap. Pemerintah mempergunakan pendapatan yang berasal dari pajak tersebut disamping untuk membeli komoditi keperluan konsumsi juga untuk mendanai transfer yang diindeks dengan inflasi (consumer price index, CPI) kepada para pelaku ekonomi lainnya. Tabungan pemerintah diasumsikan fleksibel dan merupakan selisih dari pendapatan pemerintah atas pajak serta pengeluaran pemerintah untuk keperluan konsumsi dan transfer kepada para pelaku ekonomi lainnya. Bagian lain dunia merupakan salah satu pelaku ekonomi yang masih tersisa. Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa pembayaran transfer dari dan ke bagian lain dunia serta para pelaku ekonomi dalam negeri dan pembayaran faktor produksi dilakukan dalam mata uang asing. Perdagangan komoditi antara para pelaku ekonomi dalam negeri dengan bagian lain dunia akan diterangkan secara lebih terperinci dalam bagian berikutnya. Tabungan luar negeri atau current account deficit merupakan selisih antara pengeluaran dan penerimaan dalam mata uang asing tersebut.
• Pasar Komoditi

Seluruh komoditi untuk keperluan konsumsi dalam negeri dan ekspor (kecuali output produk yang dikonsumsi sendiri) diperdagangkan pada pasar-pasar komoditi. Produk yang dihasilkan di dalam negeri dapat diperdagangkan atau dikonsumsi sendiri. Tahapan pertama dalam rantai pasokan dari produk yang diperdagangkan adalah melakukan agregasi produk yang dihasilkan dalam negeri dari produk yang dihasilkan oleh beberapa kegiatan produksi untuk suatu jenis komoditi tertentu. Hasil produksi tersebut memiliki sifat substitusi tidak sempurna (imperfectly subsitution) yang diakibatkan oleh adanya perbedaan waktu, kualitas dan lokasi dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berbeda. Suatu fungsi constant elasticity of substitution (CES) dipergunakan sebagai fungsi untuk mengagregasi hasil-hasil produksi dari keseluruhan kegiatan. Permintaan dari masing-masing hasil produksi dari masing-masing kegiatan diturunkan berdasarkan upaya meminimisasi biaya dalam menawarkan output agregat dalam jumlah tertentu dengan memperhatikan batasan pada fungsi CES. Harga dari komoditas tertentu berperan sebagai patokan penentuan harga pada pasar yang implisit dari masing-masing komoditi yang didisagregasi.

74

Gambar 4.3 Aliran Komoditas yang Dipasarkan
Output Komoditas dari aktifitas 1 Output Komoditas dari aktifitas n

Kemudian pada tahap berikutnya, hasil-hasil negeri kegiatan produksi dalam

secara

agregat

dialokasikan

CES
Output agregat

masing-masing untuk keperluan ekspor dan penjualan di dalam negeri dengan
CET

asumsi maksimisasi keuntungan yang
Ekspor agregat

Impor agregat

Penjualan Domestik

dilakukan oleh pemasok untuk setiap kegiatan produksi dengan batasan kepada tingkatan transformasi tidak sempurna

CES
Komoditi Komposit

yang dinyatakan dengan suatu fungsi constant elasticity of transformation

Penggunaan Rumah Antara + Investasi + Pemerintah + Tangga

(CET). Jika dilihat dari sisi pasar internasional, permintaan akan komoditi ekspor diasumsikan bersifat elastik

Sumber: Lofgren, 2001

sempurna pada tingkat harga internasional yang berlaku. Harga yang diterima oleh para pemasok dalam negeri dari kegiatan ekspor dinyatakan dalam nilai mata uang domestik. Harga yang diterima oleh para pemasok tersebut telah mengakomodasi seluruh biaya transaksi dan pajak ekspor. Sementara itu, harga yang diterima oleh para pemasok dalam negeri yang memperdagangkan produknya di dalam negeri adalah harga yang dibayarkan oleh konsumen dalam negeri dikurangi dengan seluruh biaya transaksi pemasaran produk dalam negeri. Apabila produk yang dihasilkan di dalam negeri tidak diekspor, produk-produk tersebut akan dipasarkan di pasar dalam negeri atau dipergunakan sendiri. Permintaan komoditi dalam negeri merupakan gabungan antara permintaan komoditi untuk keperluan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, pengadaan barang antara serta input keperluan berbagai transaksi (kegiatan perdagangan dan transportasi).

75

Sistem Persamaan

Model CGE dari sebuah perekonomian nasional merupakan sistem persamaan yang mencerminkan perilaku semua pelaku ekonomi, yaitu perilaku konsumen dan produsen, serta kondisi kliring pasar (market-clearing condition) dari barang dan jasa dalam perekonomian tersebut. Sistem persamaan ini biasanya dibagi dalam enam blok persamaan. Blok-blok tersebut adalah sebagai berikut. Blok Produksi Persamaan-persamaan dalam blok ini mencerminkan struktur kegiatan produksi dan perilaku produsen. Blok Konsumsi Blok ini terdiri dari persamaan-persamaan yang mencerminkan perilaku rumah tangga dan institusi lainnya. Blok Ekspor-Impor Blok ini menggambarkan keputusan negara/daerah untuk mengekspor atau mengimpor barang dan jasa. Blok Investasi Persamaan-persamaan dalam blok ini menyimulasikan keputusan untuk melakukan investasi dalam perekonomian dan permintaan akan barang dan jasa yang dipergunakan dalam pembentukan modal baru. Blok Kliring Pasar Persamaan-persamaan dalam blok ini menentukan kondisi kliring pasar untuk tenaga kerja, barang dan jasa dalam perekonomian. Neraca pembayaran nasional juga termasuk dalam blok ini. Blok Antarwaktu (Intertemporal) Blok ini terdiri dari persamaan-persamaan dinamik yang menghubungkan kegiatan ekonomi tahun ini dengan kondisi ekonomi masa depan. Berikut ini akan dibicarakan blok tersebut secara satu per satu.

76

o Blok Produksi

Blok ini mencerminkan struktur kegiatan produksi dan perilaku produsen. Secara spesifik, perilaku produsen dalam suatu model CGE merupakan pusat yang menghubungkan antar pasar tenaga kerja, output, upah dan harga (Devarajan, 1988). Gambar
Gambar 4.4 Struktur Fungsi Sektor Produksi

4.4

di

bawah

ini

menunjukkan struktur dari fungsi sektor produksi.

Output X

Berdasarkan Gambar 4.4, terlihat bahwa output diproduksi
Nilai Tambah

CES Antara

dengan menggunakan kombinasi dari intermediate input dan value

Proporsi tetap

CES

added untuk semua sektor yang berasal dari faktor produksi. Di
modal

X1

Xn

Tenaga kerja

X2
Sumber: Lofgren, 2001

dalam gambar tersebut, diasumsikan hanya menggunakan dua

faktor produksi, yaitu tenaga kerja dan modal (termasuk tanah). Teknologi yang digunakan dalam proses produksi diasumsikan mengikuti fungsi produksi Nested CES (Constant Elasticity of Substitution). Output (X) didefinisikan sebagai fungsi CES yang merupakan komposit dari input antara (intermediate input/ IN) dan nilai tambah (value added/ VA). Disamping itu, input antara adalah fungsi dari barang dan jasa dalam perekonomian yang keduanya digunakan secara proporsi tetap (fixed proportion). Sebaliknya, nilai tambah sendiri merupakan fungsi dari faktor produksi, yang faktor tersebut diekspresikan sebagai fungsi CES sehingga fungsi produksi yang dimaksud di atas dapat dinyatakan dalam bentuk:

Xi = α

X i

X i

IN

− ρ iX i

+ 1 − β i VA
X

(

)

− ρ iX i

]

−1

ρ iX

persamaan

[3.1]

Parameter α adalah parameter efisiensi yang juga merupakan indikator untuk menjelaskan teknologi, parameter β adalah parameter distribusi yang menunjukkan faktor share di dalam produk secara relatif, sedangkan paramater ρ adalah parameter subs-

77

titusi yang menunjukkan nilai (konstanta) dari elastisitas substitusi. Nilai terendah dari
ρ adalah –1 yang menunjukkan bahwa elastisitas substitusi tersebut infinite.

Selanjutnya untuk nilai ρ yang terletak antara –1 dan 0 (nol) akan diperoleh elastisitas substitusi yang bernilai lebih besar dari satu. Kemudian untuk kasus nilai ρ = 0, akan dihasilkan nilai elastisitas sama dengan 1 yang pada akhirnya akan memberikan fungsi Cobb-Douglas. Sebaliknya, untuk nilai 0 < ρ < ∞, akan diperoleh nilai elastisitas substitusi yang lebih kecil daripada satu. Dengan uraian yang dipaparkan di atas, dapat dikemukakan proses optimisasi dari perilaku produsen, yaitu dengan meminimumkan biaya produksi dengan kendala fungsi produksi CES sebagai berikut: Minimumkan Dengan kendala TC = IN i .PINi + VAi PVAi
X i = α iX β i X IN i− ρ i + 1 − β i X VA i− ρ i
X

[

(

)

X

]

−1

ρ iX

First Order Condition (FOC):
X X ∂L = 0 ⇔ PVAi − λα iX β iX IN i− ρ i + (1 − β iX )VAi− ρi ∂VAi

[

]
]

−1

ρ iX

−1

(1 − β )VA
X i

− ρ iX −1 i

=0

………….
X X ∂L = 0 ⇔ PINi − λα iX β iX IN i− ρ i + (1 − β iX )VAi− ρ i ∂IN i

persamaan [3.2]
X i

[

−1

ρ iX

−1

β iX IN i− ρ

−1

=0

…………..

persamaan [3.3]

Dengan mengatur dan menata ulang kembali persamaan [3.2] dan [3.3] melalui proses substitusi nilai λ, akan diperoleh bentuk sebagai berikut:
X ⎤ ρ iX +1 IN i ⎡ PVAi β i =⎢ ⎥ VAi ⎢ PIN i 1 − β iX ⎥ ⎦ ⎣ 1

(

)

………

persamaan [3.4]

Persamaan [3.4] menunjukkan rasio input yang optimal. Dari persamaan ini, dapat diturunkan suatu proses yang menghasilkan input antara optimal yang dibutuhkan untuk memproduksi output domestik.

78

Disamping input antara, terdapat faktor produksi yang juga dibutuhkan untuk menghasilkan output domestik, yaitu nilai tambah. Nilai tambah didefinisikan sebagai fungsi Cobb-Douglas yang merupakan kombinasi dari faktor tenaga kerja, modal, dan tanah (FACDEM). Fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan kasus khusus dari fungsi CES ketika ρ = 0 sehingga dapat dinyatakan bahwa proses untuk mendapatkan nilai tambah yang optimal adalah dengan melakukan hal berikut. Maksimumkan:

Π = PVAi .VAi − ∑ WAif FACDEM if
f

Dengan kendala:

ρV ⎡ − V ⎤ i V VAi = α iV ⎢∑ β if FACDEM if ρ i ⎥ ⎣ f ⎦

−1

First Order Condition (FOC): ∂VAi ∂Π = 0 ⇔ PVAi . − WAif = 0 ∂FACDEM if ∂FACDEM if dengan ∂VAi ∂FACDEM if
ρV ⎡ − ρ iV ⎤ i − V V V V = α i ⎢∑ β if FACDEM if ⎥ β if FACDEM if ρi −1 ⎣ f ⎦
−1 −1

…persamaan [3.5]

…… persamaan dengan melakukan substitusi [3.6] ke [3.5] diperoleh bentuk sebagai berikut:
V ⎡ PVAi .β if ⎢ = V ⎢WA .WFDIST .(α V )ρ i if i ⎣ if

[3.6]

FACDEM if VAi

⎤ ρ iV +1 ⎥ ⎥ ⎦

1

…. persamaan

[3.7]

Persamaan [3.7] memperlihatkan tingkat yang optimal dari rasio antara faktor produksi primer dan nilai tambah untuk memproduksi sejumlah barang. Dalam studi ini selain fungsi yang telah dijelaskan di atas, terdapat fungsi lain yang juga digunakan untuk menjelaskan perilaku dari produsen, yaitu fungsi CET (Constant Elasticity of Transformation). Fungsi CET yang dimaksud disini adalah fungsi yang hampir sama dengan fungsi CES, hanya saja perbedaan yang mendasar dari

79

kedua fungsi tersebut terletak pada nilai parameter ρ, pada saat parameter tersebut bernilai tak-negatif yang menggantikan parameter negatif ρ di dalam fungsi CES. Fungsi ini diperkenalkan untuk digunakan dalam menentukan bagaimana output didistribusikan diantara pasar luar negeri (XEX) dan pasar domestik (XD). Adapun fungsi CET dapat dinyatakan sebagai berikut.
X i = α iX β iX XEX iρi + 1 − β iX XDiρi
X

[

(

)

X

]

1

ρ iX

dengan α, β dan ρ merupakan parameter. Parameter α adalah parameter efisiensi, parameter β adalah parameter distribusi yang menunjukkan faktor share di dalam produk secara relatif, sedangkan paramater ρ adalah parameter substitusi yang menunjukkan nilai (konstanta) dari elastisitas transformasi. Dengan demikian dapat dikemukakan proses optimisasi dari perilaku produsen, yaitu dengan memaksimumkan penerimaan dari penjualan dengan didasarkan kepada fungsi CET sebagai berikut. Maksimumkan: TR = PXEX i . XEX i + PXDi . XDi Dengan kendala: First Order Condition (FOC):
X X ∂L = 0 ⇔ PXEX i − λα iX β iX XEX iρi + 1 − β iX XDiρi ∂XEX i

Xi =α

X i

X i

XEX i

ρ iX

+ 1 − β i XDi
X

(

)

ρ iX ρ X i

]

1

[

(

)

]

1

ρ iX

−1

β iX XEX iρ

X i

−1

=0

…… persamaan
X X ∂L = 0 ⇔ PXDi − λα iX β iX XEX iρi + (1 − β iX )XDiρ i ∂XDi

[3.8]

[

]

1

ρ iX

−1

(1 − β iX ) XDiρ i

X

−1

=0

…..

persamaan

[3.9]

Dengan mengatur dan menata kembali persamaan [3.8] dan [3.9] serta melakukan proses substitusi di dalamnya diperoleh bentuk sebagai berikut.

80

X X XEX i ⎡ PXEX i .(1 − β i ) ⎤ ρ i −1 =⎢ ⎥ X XDi ⎥ ⎢ PXDi .β i ⎦ ⎣

1

..... . persamaan

[3.10]

Persamaan [3.10] di atas menunjukkan rasio penjualan yang optimal untuk produsen.
o Blok Konsumsi

Blok ini mencerminkan perilaku dari rumah tangga dan institusi lainnya, khususnya dalam mengkonsumsi barang domestik dan barang impor sehingga dalam blok ini, permintaan konsumen akan barang komposit (Q) yang memuat barang impor (M) dan barang domestik (D) dinyatakan sebagai suatu agregat CES dari barang impor dan domestik. Dalam studi ini, menggunakan
Gambar 4.5 Struktur Fungsi Konsumsi

formula

Armington

yang

memperlakukan suatu produk sejenis
Komposit (Q)

yang diproduksi di negara yang berbeda sebagai produk yang berbeda, Formula ini diambil untuk mengakomodasikan

CES

fenomena dalam suatu negara yang
Barang Domestik Barang Impor

mempunyai dua jenis barang, yaitu barang impor maupun domestik, sebagai

Sumber: Thorbecke, 1985

dua jenis barang yang sama (cross hauling).

Dengan demikian fungsi konsumsi dari barang komposit (Q) dengan asumsi mengikuti fungsi CES dinyatakan dalam bentuk sebagai berikut.

Qi = α

X i

X i

M

− ρ iX i

+ 1− βi

(

X

)D

− ρ iX i

]

−1

ρ iX

Berdasarkan fungsi di atas, dapat dikemukakan proses optimisasi dari perilaku konsumen, yaitu memaksimumkan kepuasan dengan kendala anggaran sebagai berikut.

81

Maksimumkan: Qi = α Dengan kendala:

X i

X i

M

− ρ iX i

+ 1− βi D
X

(

)

− ρ iX i

]

−1

ρ iX

B = M i .PM i + Di .PDi

Dengan melakukan proses kondisi turunan pertama dan mengatur persamaan yang dihasilkan dalam kondisi turunan pertama melalui proses substitusi akan diperoleh bentuk sebagai berikut.
M i ⎡ PDi .β i =⎢ Di ⎢ PM i . 1 − β iX ⎣
X

(

)

⎤ ⎥ ⎥ ⎦

1

ρ iX +1

……. Persamaan

[3.11]

Persamaan [3.11] menunjukkan rasio barang konsumsi yang optimal dari proses memaksimumkan kepuasan (utility) dari konsumen.
4.3 Model CGE Air Minum DKI Jakarta

4.3.1 Kebutuhan Data

Data dasar yang dibutuhkan untuk menyusun Model Komputasi Keseimbangan Umum Air Minum DKI Jakarta berasal dari Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) 2000 DKI Jakarta yang disusun oleh BPS DKI Jakarta. Kebutuhan data diperoleh langsung dari SNSE 2000 DKI Jakarta termasuk koefisien input output, pendapatan dan pengeluaran sektor, pajak impor dan pajak produksi, permintaan faktor per sektor, investasi, dan pangsa pemerintah dan rumah tangga.
4.3.2 Penyesuaian SNSE dalam Model CGE

Neraca yang terdapat dalam SNSE mengalami penyesuaian sesuai dengan kebutuhan studi. Dari 103 klasifikasi yang terdapat dalam SNSE DKI Jakarta 2000, diagregasi menjadi 45 klasifikasi. Beberapa perubahan mendasar yang dilakukan adalah sebagai berikut. (i) Faktor produksi. Tenaga kerja diagregasi menjadi satu saja. Modal dipecah menjadi dua klasifikasi yaitu modal air minum berupa (a) investasi air minum yang dilakukan oleh perusahaan penyedia air minum, (b) modal bukan air minum perpipaan berupa

82

investasi air minum yang dilakukan selain oleh perusahaan air minum dan modal lainnya. Klasifikasi awal 9 faktor berubah menjadi 3 faktor. (ii) Institusi. Tidak dilakukan perubahan terhadap klasifikasi yang ada sehingga klasifikasi tetap 12 institusi. (iii) Sektor produksi. Dilakukan penambahan klasifikasi sektor produksi dari 26 menjadi 27, yaitu berupa pemecahan sektor air minum menjadi air minum perpipaan dan air minum nonperpipaan. Air minum perpipaan adalah air minum yang diproduksi oleh perusahaan air minum, sedangkan air minum nonperpipaan adalah air minum, baik yang bersumber dari air minum perpipaan maupun non perpipaan, dikelola oleh pihak selain perusahaan penyedia air minum perpipaan (kran umum, kios air, truk tanki air, penjaja keliling dan lainnya). Marjin perdagangan, komoditas ekspor dan komoditas impor dilebur kedalam sektor produksi. Klasifikasi berubah dari 79 sektor menjadi 27 sektor.
Tabel 4.2 Penyesuaian Klasifikasi SNSE DKI Jakarta 2000 Ukuran 103x103
Neraca Faktor Produksi • • SNSE 103 x 103 Tenaga Kerja (8 klasifikasi) Modal • • • CGE Tenaga Kerja Modal Air Minum Modal Bukan Air Minum

Institusi

Sektor produksi

• • • • • • • • • •

Rumah tangga (10 golongan) Swasta/perusahaan Pemerintah Sektor produksi (26 sektor) Marjin perdagangan dan pengangkutan Komoditas domestik (26 sektor) Komoditas impor (26 sektor) Neraca Kapital Pajak tak langsung minus subsidi Neraca luar negeri

• • •

Rumah tangga (10 golongan) Swasta/perusahaan Pemerintah Sektor produksi (27 sektor)

Neraca Lainnya

• • •

Neraca Kapital Pajak tak langsung minus subsidi Neraca luar negeri

Sumber: diolah dari BPS DKI Jakarta (2002)

83

(iv) Neraca lainnya. Tidak dilakukan perubahan klasifikasi sehingga klasifikasi tetap 3.
4.3.3 Beberapa Prinsip Dasar

Model CGE yang dibangun dalam studi ini merupakan hasil pengembangan dari model yang dibangun oleh Azdan (2001) yang menjelaskan dampak kebijakan sumber daya air terhadap distribusi pendapatan di DKI Jakarta. Beberapa perbedaan mendasar adalah sebagai berikut. (i) Model Azdan yang menggunakan data SNSE DKI Jakarta tahun 1993, sementara studi ini menggunakan data SNSE DKI Jakarta tahun 2000. (ii) Model Azdan menambahkan air tanah sebagai salah satu faktor primer, sementara dalam studi ini modal dipecah menjadi modal air minum dan modal bukan air minum. DKI Jakarta dianggap mempunyai ekonomi terbuka. Aktifitas ekspor dan impor memegang peran utama dalam perekonomian dan dicakup dalam bagian lain dunia. Neraca bagian lain dunia mencakup perdagangan antarwilayah sebagaimana juga perdagangan internasional. Harga impor dan ekspor diukur dalam mata uang domestik. Sebagaimana dalam model Azdan (2001), CGE didasarkan pada beberapa asumsi penting. Pertama, RT memaksimalkan utilitasnya sebagai fungsi dari sejumlah konsumsi mereka pada tahun tertentu, mengikuti kendala anggaran pada tahun bersangkutan. Kedua, digunakan koefisien porsi tetap untuk menentukan jumlah modal baru yang diinvestasikan pada setiap sektor produksi. Ketiga, dibatasi jumlah sumber kemajuan teknologi yang dapat terjadi dalam perekonomian wilayah. Aktivitas sisi penawaran diwakili oleh pasar faktor dan produksi industri. Penawaran yang terdiri dari produksi domestik dan impor harus sama dengan permintaan termasuk permintaan RT, pemerintah, permintaan antara, permintaan investasi, dan ekspor. Sisi permintaan diwakili oleh pasar produk dan penghasil pendapatan.
4.3.4 Aktor dan perilakunya

Perekonomian DKI Jakarta dalam model diwakili oleh empat sektor, yaitu (i) sektor produsen, (ii) sektor rumah tangga, (iii) sektor pemerintah, dan (iv) sektor bagian lain dunia. Pada sektor produsen, sektor air minum memiliki dua pelaku, yaitu penyedia

84

air minum perpipaan, dan penyedia air minum nonperpipaan. Pada sisi produksi, teknologi diwakili oleh fungsi produksi, sementara pada sisi permintaan, model menggambarkan perilaku rumah tangga, pemerintah, industri dan bagian lain dunia. A.
Produsen/Industri

Sektor produksi memerlukan input dan menyediakan output. Produsen diasumsikan memaksimalkan keuntungan. Output sektor produksi nonair minum dapat digunakan sebagai input antara, dikonsumsi domestik atau ekspor. Output dari sektor air minum (perpipaan dan nonperpipaan) diproduksi dan digunakan oleh domestik. Faktor produksi primer adalah (i) tenaga kerja, dan (ii) modal yang diklasifikasikan dalam modal air minum dan modal nonair minum. Teknologi produksi yang digunakan untuk mengombinasikan faktor primer adalah bersifat constant return to scale. Terdapat substitusi antarfaktor dan kombinasi input primer ditentukan melalui harga relatif. Input antara diperlukan dalam porsi tetap terhadap output kotor. Industri menerima pembayaran dari rumah tangga, pemerintah, dan bagian lain dunia dengan menjual barang dan jasa di pasar produk. Total output sektor ditunjukkan melalui fungsi produksi nested. Fungsi produksi Constant Elasticity of Substitution (CES) digunakan untuk menggabungkan nilai tambah dan input antara (Azdan, 2001).
B. Rumah tangga (RT)

Kelompok rumah tangga diklasifikasikan dalam sepuluh tingkatan pendapatan. Setiap kelompok rumah tangga diasumsikan memaksimalkan utilitas. Setiap RT mempunyai modal dan tenaga kerja, dan memutuskan sejumlah tertentu dari pendapatan digunakan untuk tabungan dan investasi, seperti juga sejumlah pendapatan dihabiskan untuk barang nonair minum, air minum, dan jasa yang tersedia, sesuai harga berlaku. RT menyediakan sejumlah tetap tenaga kerja dan menerima pembayaran atas jasa tenaga kerja. Tenaga kerja dibayar berdasarkan asumsi bahwa nilai produk marjinal tenaga verja sama dengan tingkat upah nominal. Pengeluaran RT untuk barang dispesifikasikan sebagai fungsi dari pendapatan yang dapat dibelanjakan oleh RT dan pendapatan modal yang didistribusikan. Pada kasus ini, pendapatan yang dapat

85

dibelanjakan didefinisikan sebagai proporsi tenaga kerja RT dan pendapatan modal didistribusikan dikurangi dengan pajak netto dan harga. Untuk barang yang diperdagangkan dan diproduksi secara lokal, harga pasar domestik merupakan fungsi harga internasional ditambah biaya masuk dan harga produsen. Kepemilikan modal memberikan RT pengembalian modal. Proporsi tetap diambil dari pendapatan yang dapat dibelanjakan untuk barang sektor produksi. Porsi konsumsi privat sektor tetap. Fungsi CES digunakan untuk menunjukkan kombinasi barang nonair minum impor dan domestik maksimum yang tersedia yang RT, industri dan pemerintah mampu membeli, sesuai dengan teknologi yang tergambarkan dalam the product transformation frontier dan kendala neraca perdagangan (De Melo dan Tarr, 1992).
C. Pemerintah Daerah

Pada model ini, sektor publik diwakili oleh pemerintah daerah. Pendapatan diambil melalui transfer dari pemerintah pusat, yang termasuk dalam neraca bagian lain dunia, sebagaimana biaya masuk dan pajak langsung dan tidak langsung. Tingkat pajak dan biaya masuk dianggap tetap dan eksogen. Pengeluaran merupakan porsi tetap dari pendapatan, dan dialokasikan pada basis porsi-tetap pembelian barang dan jasa dari beragam sektor produksi. Tabungan pemerintah lokal terdiri dari perbedaan antara pendapatan dan pengeluaran.
D. Bagian Lain Dunia

Neraca bagian lain dunia menggabungkan neraca internasional dan antarwilayah yang tidak secara khusus diidentifikasi dalam model ini. Pemerintah pusat dimasukkan dalam neraca ini. Diasumsikan bahwa dalam sektor nonair minum terdapat pembedaan produk (product differentiation) sebagai contoh substitusi tidak sempurna bagi impor dan ekspor. Pada sisi impor, konsumen memilih antara barang impor dan ekspor yang ditentukan oleh harga relatif. Harga relatif menentukan pangsa pasar dari barang impor dan ekspor. Berdasar asumsi negara kecil, harga dunia tidak berubah sebagai akibat aktivitas negara. Harga dunia impor dan ekspor bersifat eksogen terhadap model. Exchange rate merupakan variabel yang menyeimbangkan (clear) neraca (current

86

account). Bagi keseluruhan ekonomi, diasumsikan total investasi dan tabungan adalah sama.
E. Kesetimbangan dan Solusi Akhir

Pada pasar domestik, kesetimbangan pasar menentukan harga domestik. Persamaan kelebihan permintaan produk dan pasar faktor memberikan kendala sistemik dan menentukan kesetimbangan di pasar yang ada. Variabel yang menyeimbangkan adalah harga produk dan harga faktor, yang memberikan tanda pada produsen dan RT dalam menentukan perilaku penawaran dan permintaan. Hukum Walras dipenuhi ketika jumlah nominal kelebihan permintaan di seluruh pasar produk dan faktor adalah nol. Ketika hanya harga relatif yang ditentukan, normalisasi harga diperlukan. Pada gambar berikut, model menunjukkan keterkaitan antara pemerintah, aktivitas produktif, rumah tangga, faktor primer (sumber daya) dan perdagangan. Setiap komponen dibagi dalam beberapa subkomponen. Keterkaitan di antara subkomponen diperlihatkan dengan panah. Aliran barang dan jasa ditunjukkan dengan panah terputus, sementara aliran dana dengan panah. Semua agen ekonomi (produsen, RT, dan pemerintah) bertindak bersama dan mengoptimalkan fungsi sasaran mereka. Sebagai hasilnya, seperangkat harga ketimbangan endogen ditentukan untuk menyeimbangkan semua pasar dalam ekonomi. Dalam model ini, RT memberikan jasa tenaga kerja dan modal ke produsen dan hasilnya RT menerima gaji sebagai pembayaran tenaga kerja dan sewa modal. Tenaga kerja, modal air minum dan modal lainnya adalah faktor primer untuk aktifitas produktif. Industri membutuhkan faktor primer bersama dengan input antara untuk memproduksi barang dan jasa dalam perekonomian. Hasilnya, industri memberikan pendapatan pada tenaga kerja, dan pendapatan modal. Untuk memaksimalkan

keuntungan, produsen harus mempertimbangkan teknologi, harga input, pajak pemerintah dan biaya produksi lainnya, tetapi mereka juga harus memutuskan tempat memasarkan produknya (domestik atau ekspor). Pemerintah menerima hasil dari pajak langsung dan tidak langsung dan hasil dari modal sendiri (pendapatan modal). Pengeluaran pemerintah termasuk konsumsi barang dan jasa dan tabungan pada neraca modal.

87

Gambar 4.6 Keterkaitan Antarsektor dalam Wilayah

Bagian lain dunia

Bagian lain dunia termasuk pemerintah t

Domestik

Pasar domestik

Institusi: Pemerintah lokal Neraca modal

Pemerintah

Aktivitas produktif Air perpipaan

Manufaktur Pertanian

Listrik dan gas

Air nonperpipaan

Pemerintahan

Jasa lainnya

Faktor Primer

Modal Air Minum

Tenaga kerja

Modal Lain

Rumah Tangga

Miskin (RT III –IV) Sangat Miskin (RT I-II)

Menengah Atas (RT VII-VIII) Pendapatan Tinggi (RT IX-X)

Menengah Bawah (RT V-VI)

aliran dana
Sumber: Diadopsi dari Azdan, 2001

aliran barang dan jasa

88

4.3.5

Variabel dan Skalar

Variabel dan skalar diklasifikasikan berdasar kategori (i) blok harga, (ii) blok produksi, (iii) blok faktor, (iv) blok pendapatan dan pengeluaran, (v) blok neraca pembayaran. Variabel selengkapnya pada Lampiran.
4.3.6 Persamaan Model

Persamaan model CGE air minum DKI Jakarta terdiri dari enam blok persamaan yaitu sebagai berikut. (i) Blok Persamaan Produksi. Persamaan-persamaan dalam blok ini mencerminkan struktur kegiatan produksi dan perilaku produsen (ii) Blok Persamaan Ekspor-Impor. Blok ini menggambarkan keputusan daerah untuk mengekspor atau mengimpor barang dan jasa. (iii) Blok Persamaan Kapital dan Investasi. Persamaan-persamaan dalam blok ini menyimulasikan keputusan untuk melakukan investasi dalam perekonomian dan permintaan akan barang dan jasa yang dipergunakan dalam pembentukan kapital (modal) baru. (iv) Blok Persamaan Pendapatan. Blok ini terdiri dari persamaan-persamaan yang mencerminkan aliran pendapatan aktifitas produksi ke rumah tangga, penerimaan pemerintah, dan tabungan. (v) Blok Persamaan Pengeluaran. Blok ini terdiri dari persamaan-persamaan yang menentukan permintaan barang komposit oleh berbagai pelaku. (vi) Blok Persamaan Kliring Pasar. Persamaan-persamaan dalam blok ini menentukan kondisi kliring pasar untuk tenaga kerja, barang dan jasa dalam perekonomian. Neraca pembayaran nasional juga termasuk dalam blok ini .
A. Blok Persamaan Produksi

Persamaan produksi terdiri dari 7

persamaan.

Persamaan (1) dan (2)

merupakan persamaan yang menentukan harga produsen dan harga input antara.

89

Persamaan (3) mengindikasikan bahwa output (X) diproduksi melalui kombinasi nilai tambah (VA) dan input antara (IN) dengan teknologi produksi CES untuk semua sektor (indeks I). Persamaan (4) menentukan rasio input optimal, yang dihasilkan dari kondisi orde pertama dari fungsi produksi (minimisasi biaya produksi).
Gambar 4.7 Struktur Fungsi Sektor Produksi
Output X

CES
Antara Nilai Tambah

Proporsi tetap
X1 Xn Tenaga kerja

CES
Modal non Air Modal Air Minum

Xair minum
perpipaan

Xair minum
nonperpipaan

Persamaan (5) menentukan nilai tambah dalam sektor produksi. Persamaan (6) menggambarkan kondisi orde pertama dari fungsi nilai tambah. Total angkatan kerja adalah jumlah tidak bekerja dan bekerja di sektor produksi dan ditandai pada persamaan (7). Jumlah pengangguran ditetapkan nol yang mengakibatkan bahwa total angkatan kerja dalam model ini sama dengan tenaga kerja yang bekerja dalam perekonomian. Persamaan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.3.

90

Tabel 4.3 Persamaan Produksi
PERSAMAAN PRODUKSI (1) PX (I) * X(I) * (1 – ITX(I)) (2) PN(I) (3) X(I) (4) IN(I) / VA(I) (5) VA (I) (6) FACDEM(I,F) /VA(I) (7) LABFOR = PV(I) * VA(I) + PN(I) * IN(I) = SUM (J, PQ(J) * IOMI (J,I)) = ALPHAX(I) * (BETAX(I) * IN(I) ** (-RHOX(I)) + (1 – BETAX(I)) * VA(I) ** (- RHOX(I))) ** (-1 / RHOX(I)) = (PV(I) / PN(I) * BETAX (I) / (1 - BETAX(I))) ** (1 / (1 + RHOX(I))) = ALPHAV(I) * (SUM (F, BETAV(I,F) * FACDEM(I,F) ** (- RHOV(I)))) ** ( -1 / RHOV(I)) = ((BETAV(I,F) * PV(I)) / ((ALPHAV(I) ** RHOV(I) * WA(F) * WFDIST(I,F))) ** (1 / (1 + RHOV(I))) = UNEMPL + SUM (FLAB, FD(FLAB)) KETERANGAN
PX (I) = harga output rata-rata PV (I) = harga nilai tambah PN (I) = harga input antara PQ (I) = harga permintaan domestik rata-rata X (I) = output sektor domestik komposit ITX (I) = tingkat pajak tidak langsung VA (I) = nilai tambah sektor komposit IN (I) = input antara sektor komposit WA (F) = harga input faktor rata-rata WFDIST (I,F) = harga input proporsional faktor sektor FACDEM (I,F) = permintaan faktor sektor LABFOR = total angkatan kerja SUM = jumlah I, J = Indeks seperangkat sektor produksi (27 sektor) F = Indeks seperangkat faktor primer FLAB = faktor produksi tenaga kerja IOMI (J,I) = koefisien tetap input barang ALPHAX (I) = parameter pergeseran fungsi produksi BETAX (I) = parameter pangsa fungsi produksi RHOX (I) = eksponen fungsi produksi ALPHAV (I) = parameter pergeseran fungsi nilai tambah BETAV (I,F) = parameter pangsa fungsi nilai tambah RHOV (I) = eksponen fungsi nilai tambah UNEMPL = total pengangguran FD (FLAB) = permintaan faktor tenaga kerja

B.

Blok Persamaan Ekspor dan Impor

Persamaan ekspor dan impor terdiri dari sepuluh persamaan yang menunjukkan hubungan antara perekonomian wilayah Jakarta dan bagian lain dunia melalui transaksi ekspor-impor. Persamaan memperlihatkan perilaku produsen dalam menentukan distribusi output pada pasar luar negeri dan/atau pasar domestik dengan menggunakan fungsi CET. Selain juga menjelaskan perilaku rumah tangga dan institusi lain dalam

91

mengonsumsi barang domestik dan barang impor. Fungsi konsumsi mengikuti fungsi CES. Selengkapnya hal itu dapat dilihat pada Tabel 4.4. Persamaan (8) dan (9) menentukan harga ekspor dan impor domestik. Persamaan (10) dan (11) menentukan nilai output dan penjualan domestik. Persamaan (12) menggambarkan agregasi ekspor sebagai fungsi CET. Fungsi ini menggambarkan cara produksi sektoral komposit ditransformasikan ke barang yang dijual di pasar domestik dan ekspor. Persamaan (13) menggambarkan penjualan domestik dari sektor bukan perdagangan. Persamaan (14) merupakan persamaan penawaran ekspor yang ditentukan dari kondisi orde pertama fungsi CET. Ini merupakan fungsi rasio harga ekspor terhadap domestik dan elastisitas transformasi antara dua penggunaan. Persamaan (15) dan (16) adalah fungsi agregasi Armington sektor perdagangan dan bukan perdagangan, diasumsikan bahwa tidak terdapat perfect sustainability antara barang domestik dan impor dalam setiap sektor. Persamaan ini menyimbolkan permintaan konsumen dari sebuah barang komposit, yang merupakan CES agregat dari barang domestik dan impor. Persamaan (17) adalah kondisi orde pertama bagi minimisasi biaya dalam pembelian sejumlah barang komposit yang tersedia.
Tabel 4.4 Persamaan Ekspor dan Impor
PERSAMAAN EKSPOR dan IMPOR (8) PM(IM) (9) PE(IE) (10) PQ(I) * Q(I) (11) PX(I) * X(I) (12) X(IE) (13) X(IEN) (14) XEX(IE)/XD(IE) (15) Q(IM) = PWM(IM) * EXR * (1 + TM(IM)) = PWE(IE) * EXR = PD(I) * XD(I) + (PM(I) * XIM(I)) $IM(I) = PD(I) * XD(I) + (PE(I) * XEX(I)) $IE(I) = ALPHAEX(IE) * (BETAEX(IE) * XEX(IE) ** RHOEX(IE) + (1 - BETAEX(IE)) * XD(IE) ** RHOEX(IE)) ** (1 / RHOEX(IE)) = XD(IEN); dimana IEN = barang produksi bukan ekspor = (PE(IE) / PD(IE) * (1 - BETAEX(IE)) / BETAEX(IE)) ** (1 / (RHOEX(IE) – 1)) = ALPHAIM(IM) * (BETAIM(IM) * XIM(IM) ** (-RHOIM(IM)) + (1 – BETAIM(IM)) * XD(IM) ** (-RHOIM(IM))) ** ( - 1 /RHOIM(IM)) = XD(IMN); dimana IMN = barang produksi bukan impor = (PD(IM) / PM(IM) * BETAIM(IM) / (1-BETAIM(IM))) ** (1 / (1 + RHOIM(IM)))

(16) Q(IMN) (17) (XIM(IM) / XD(IM))

92

KETERANGAN
PQ (I) = harga permintaan domestik rata-rata PX (I) = harga output rata-rata PD (I) = harga penawaran domestik PN (I) = harga input antara PE (IE) = harga domestik barang ekspor PE (I) $IE(I) = harga domestik barang ekspor PM (IM) = harga domestik barang impor PM (I) $IM(I) = harga domestik barang impor PD (IE) = harga penawaran domestik barang ekspor PWM (IM) = harga pasar impor (Rp.) PWE (IE) = harga pasar ekspor (Rp.) X (I) = output domestik komposit sektor X (IE) = output domestik sektor ekspor X (IEN) = output domestik sektor nonekspor XIM (IM) = impor sektor XIM (I) $IM = impor sektor XD (I) = penjualan domestik XD (IM) = penjualan domestik barang impor XD (IE) = penjualan domestik barang ekspor I = Indeks seperangkat sektor produksi (27 sektor) IE = sektor ekspor ke domestik dan luar negeri IEN = sektor bukan ekspor IM = sektor impor dari domestik dan luar negeri IMN = sektor bukan impor XD (IEN) = penjualan domestik barang nonekspor XD (IMN) = penjualan domestik barang nonimpor XEX (IE) = output ekspor sektor ke domestik XEX (I) $IE (I) = output sektor ekspor ke domestik Q (I) = penawaran barang komposit Q (IM) = penawaran barang impor Q (IMN) = penawaran barang bukan impor TM (IM) = pajak impor EXR = nilai tukar

ALPHAEX (IE) = parameter perubahan fungsi ekspor ALPHAIM (IM) = parameter perubahan fungsi impor BETAEX (IE) = parameter pangsa fungsi ekspor BETAIM (IM) = parameter pangsa fungsi impor RHOEX (IE) = ekspornen fungsi ekspor RHOIM (IM) = eksponen fungsi impor

C.

Blok Persamaan Modal

Persamaan modal terdiri dari 4 persamaan. Persamaan (18) menentukan harga barang modal. Persamaan (19) menentukan investasi tetap sektor tujuan. Persamaan (20) merupakan persamaan investasi tetap netto dari persediaan. Persamaan (21) menentukan jumlah investasi per sektor tujuan.
Tabel 4.5 Persamaan Modal
PERSAMAAN MODAL (18) PK(I) (19) ID(I) (20) FXDINV (21) PK(I) * DK(I) = SUM (J, ICAP(J,I) * PQ(J)) = SUM (J, ICAP(I,J) * DK (J) = INVEST – SUM (I, INV(I) * (X(I) + XIM (I)) * PQ(I)) = ZZ(I) * FXDINV

KETERANGAN
X (I) = output domestik komposit sektor XIM (I) = impor sektor INVEST = total investasi PK (I) = harga modal baru PQ (J) = harga permintaan domestik rata-rata ID (I) = permintaan akhir investasi produktif SUM = total ICAP (I,J) = komposisi modal DK (I) = investasi tetap per sektor tujuan INV (I) = parameter pangsa stok persediaan ZZ (I) = pangsa investasi per sektor FXDINV = total investasi tetap

93

D.

Blok Persamaan Pendapatan

Persamaan pendapatan menunjukkan aliran pendapatan dari aktivitas produksi, penerimaan pemerintah, dan tabungan. Persamaan (22.a) dan (22.b) menunjukkan jumlah total subsidi yang dialokasikan baik dari pajak maupun pemerintah pusat. Persamaan (23) menentukan distribusi subsidi air minum menurut kelompok rumah tangga penerima. Persamaan (24), (25) dan (26) menentukan pendapatan faktor primer, pendapatan rumah tangga, dan pendapatan perusahaan berturutan. Persamaan (27) sampai (30) menentukan pendapatan pemerintah dari biaya masuk, pajak tidak langsung produksi domestik, pajak pendapatan industri, dan pajak rumah tangga. Persamaan (31) merupakan jumlah penerimaan pemerintah. Persamaan (32), (33) dan (34) menentukan tabungan rumah tangga, tabungan perusahaan, dan total tabungan.
Tabel 4.6 Persamaan Pendapatan
PERSAMAAN PENDAPATAN (22.a) TOTSUBS1 (22.b) TOTSUBS2 (23) SUB (I, H) (24) YF(F) (25) YH(H) = (ITX("WATPAM") – ITXO("WATPAM")) * PX("WATPAM") * X("WATPAM") = TRANSF = TOTSUBS * CDO("WATPAM",GH) / (SUM(GJ,CDO("WATPAM",GJ))) = SUM (I, WA(F) * WFDIST(I,F) * FACDEM(I,F)) + FIROW(F) = SUM(FLAB, SEDW(H,FLAB) * YF(FLAB) + SHHCPAM(H) * YF(“CAPAM”) + SHHCNPAM(H) * YF(“CAPNAM”) + SUM(HH, THS(H,HH) * YH(HH) * (1- TH(HH)) * (1 – MPS(HH))) * (1 - TROWS(HH))) + CTH(H) * YCORP * (1 – CTAX) + TGOV(H) * GOVBUD + ROWHH(H)+ SUB("WATPAM",H) = SCORCPAM * YF(“CAPAM”) + SCORCNAM * YF(“CAPNAM”) + CORTCOR + ROWCOR + CORBOR – CORAMOR – CORINTR = SUM (I, TM(I) * XIM(I) * PWM(I)) * EXR = SUM (I, ITX(I) * PX(I) * X(I)) = YCORP * CTAX = SUM (H, TH(H) * YH(H)) = TARIFF + INDTAX + CORTAX + HHTAX +ROWTAX+ SGOVCPAM * YF(“CAPAM”) + SGOVCNAM * YF(“CAPNAM”) + ROWGOV + GOVGOV + GOVBOR = SUM (H, MPS(H) * YH(H) * (1 – TH(H))) = CSAV * YCORP * (1 – CTAX) = HSAV + CORSAV + GOVSAV – SAVROW + FORINV

(26) YCORP (27) TARIFF (28) INDTAX (29) CORTAX (30) HHTAX (31) GR

(32) HSAV (33) CORSAV (34) SAVING

94

KETERANGAN PX (I) = harga output rata-rata PX (”WATPAM”) = harga output air minum perpipaan PWM (I) = harga pasar impor (Rp) X (I) = output sektor domestik komposit X (”WATPAM”) = output air minum perpipaan XIM (I) = impor sektor ITX (I) = tingkat pajak tidak langsung ITX (”WATPAM” ) = tingkat pajak air minum perpipaan ITXO (”WATPAM”) = tingkat pajak awal air minum perpipaan TOTSUBS1 = total subsidi dari peningkatan pajak air minum TOTSUBS2 = total subsidi dari transfer dana pusat TRANSF = transfer dana pusat SUB (I,H) = subsidi air minum perpipaan per RT miskin CDO (I,GH) = permintaan akhir rumah tangga YF (F) = pendapatan faktor YH (H) = pendapatan rumah tangga YCORP = pendapatan perusahaan TARIFF = penerimaan biaya masuk INDTAX = pendapatan pajak tidak langsung komoditi CORTAX = pajak pendapatan perusahaan HHTAX = pajak pendapatan rumah tangga GR = pendapatan pemerintah lokal SAVROW = tabungan luar negeri GOVSAV = tabungan pemerintah lokal CSAV = patokan tingkat tabungan perusahaan HSAV = tabungan rumah tangga CORSAV = tabungan perusahaan SAVING = total tabungan WA (F) = harga input faktor rata-rata WFDIST (I,F) = harga input proporsional faktor sektor FACDEM (I,F) = permintaan faktor sektor FIROW (F) = pendapatan faktor dari bagian lain dunia SEDW (H,FLAB) = pangsa kepemilikan tenaga kerja dari RT SHHCNPAM (H) = pangsa modal air minum non perpipaan yang dimiliki rumah tangga SUM = jumlah I, J = Indeks seperangkat sektor produksi (27 sektor) F = Indeks seperangkat faktor primer H,HH = rumah tangga GH,GJ = rumah tangga penerima subsidi CAPAM = modal air minum perpipaan CAPNAM = modal air minum nonperpipaan WATPAM = air minum perpipaan FLAB = modal tenaga kerja THS (H,HH) = pangsa transfer antar rumah tangga TH (H,HH) = patokan pajak pendapatan rumah tangga MPS (HH) = patokan kecenderungan marjinal tabungan RT TROWS (HH) = pangsa transfer RT ke bagian lain dunia CTH (H) = pangsa transfer perusahaan ke rumah tangga CTAX = patokan tingkat pajak pendapatan perusahaan TGOV (H) = pangsa transfer pemerintah ke rumah tangga GOVBUD = total konsumsi pemerintah ROWHH (H) = pendapatan RT dari bagian lain dunia SCORCPAM = pangsa modal air minum perpipaan yang dimiliki perusahaan SCORCNAM = pangsa modal air minum nonperpipaan yang dimiliki perusahaan CORTCOR = transfer perusahan ke perusahaan ROWCOR = pendapatan perusahaan dari bagian lain dunia ROWGOV = pendapatan pemerintah dari bagian lain dunia GOVGOV = transfer pemerintah ke pemerintah GOVBOR = pinjaman luar negeri pemerintah CORBOR = pinjaman luar negeri perusahaan dari bagian lain dunia CORAMOR = pembayaran amortisasi hutang luar negeri perusahaan CORINTR = pembayaran bunga hutang luar negeri perusahaan CORTAX = pajak pendapatan perusahaan TM (I) = tingkat pajak impor EXR = nilai tukar HHTAX = pajak pendapatan rumah tangga ROWTAX = pendapatan pajak dari bagian lain dunia SGOVCNAM = pangsa modal air minum nonperpipaan yang dimiliki pemerintah FORINV = investasi asing dari bagian lain dunia

95

E.

Blok Persamaan Pengeluaran

Persamaan pengeluaran menunjukkan permintaan barang-barang komposit dari berbagai aktor. Persamaan pengeluaran terdiri dari tujuh persamaan. Persamaan (35) menunjukkan total barang antara yang digunakan untuk kebutuhan produksi. Persamaan (36) dan (37) menentukan perilaku konsumsi dari sektor pemerintah dan swasta. Persamaan (38) dan (39) menentukan PDB riil dan Nilai tambah domestik kotor. Persamaan (40) dan (41) masing-masing menunjukkan transfer perusahaan ke perusahaan dan bagian lain dunia.
Tabel 4.7 Persamaan Pengeluaran
PERSAMAAN PENGELUARAN (35) TOTINT(I) (36) PQ(I) * CD(I,H) (37) PQ(I) * CGOV(I) (38) RGDP = SUM (J, IOMI(I,J) * IN(J)) = CHS(I,H) * YH(H) * (1 – TH(H)) * (1 – MPS(H)) * (1 - TROWS(H)) = CGS(I) * GOVBUD = SUM (I, PQ(I) * (SUM (H, CD(I,H)) + INV(I) * (X(I) + XIM(I)) + ID(I) + CGOV(I))) + SUM (IE, PE(IE) * XEX(IE)) – SUM(IM, (PM(IM) – TM(IM) * PWM(IM) * EXR) * XIM(IM)) = SUM(I, PV(I) * VA(I)) + INDTAX + TARIFF = CCOR * YCORP * (1 - CTAX) = CTR * YCORP * (1 – CTAX) KETERANGAN
SUM = total I,J = Indeks seperangkat sektor produktif (27 sektor) IE = sektor ekspor ke domestik dan laur negeri IM = sektor impor dari domestik dan luar negeri H = rumah tangga TOTINT (I) = total penggunaan antara IOMI (I,J) = koefisien tetap dari input IN (J) = input antara sektor komposit PQ (I) = harga permintaan domestik rata-rata CD (I,H) = permintaan akhir konsumsi rumah tangga CHS (I,H) = parameter pangsa konsumsi rumah tangga YH (H) = pendapatan rumah tangga TH (H) = patokan pajak pendapatan rumah tangga MPS (H) = patokan kecenderungan marjinal tabungan RT TROWS (H) = pangsa transfer RT ke bagian lain dunia CGOV (I) = permintaan akhir konsumsi pemerintah CGS (I) = parameter pangsa konsumsi pemerintah GOVBUD = total komsumsi pemerintah RGDP = produk domestik regional bruto INV (I) = parameter pangsa stok persediaan X (I) = output sektor domestik komposit XIM (I) = impor sektor ID (I) = permintaan akhir investasi produktif PE (IE) = harga domestik barang ekspor XEX (IE) = ekspor sektor PM (IM) = harga domestik barang impor TM (IM) = pajak impor PWM (IM) = harga pasar impor (Rp.) EXR = nilai tukar XIM (IM) = impor sektor GDVA = nilai tambah domestik kotor PV (I) = harga nilai tambah VA (I) = nilai tambah sektor komposit INDTAX = pendapatan pajak tidak langsung komoditi TARIFF = penerimaan biaya masuk CORTCOR = transfer perusahaan ke perusahaan CCOR = patokan tingkat pendapatan perusahaan YCORP = pendapatan perusahaan CTAX = patokan tingkat pajak pendapatan perusahaan CORROW = transfer perusahaan ke bagian lain dunia CTR = pangsa pembayaran perusahaan ke bagian 96 lain dunia

(39) GDVA (40) CORTCOR (41) CORROW

F.

Blok Persamaan Kliring Pasar

Persamaan kliring pasar menunjukkan kendala sistem yang harus dipenuhi oleh model. Persamaan kliring pasar terdiri dari enam persamaan. Persamaan (42) merupakan pasar barang dalam kondisi seimbang yang berarti bahwa penawaran sektor dari komoditas komposit sama dengan permintaan. Persamaan (43) merupakan pasar faktor dalam kondisi seimbang. Penawaran faktor primer diasumsikan tetap secara eksogen. Kliring pasar memerlukan permintaan total faktor sama dengan total penawaran. Persamaan (44) merupakan current account balance (neraca keseimbangan). Karena nilai exchange rate (nilai tukar) tetap, current account akan ditentukan secara endogen. Persamaan (45) menggambarkan penerimaan pemerintah. Tabungan netto peme-rintah didefinisikan sebagai penerimaan pemerintah dikurangi konsumsi pemerintah dikurangi pembayaran hutang eksternal pemerintah (baik amortisasi dan pembayaran bunga). Persamaan (46) dan (47) merupakan indeks harga yang merupakan numeraire bagi model.
Tabel 4.8 Persamaan Kliring Pasar
PERSAMAAN KLIRING PASAR (42) Q(I) (43) FD(F) (44) CURRACW = TOTINT(I) + SUM(H, CD(I,H)) + CGOV(I) + ID(I) + INV(I) * X(I) + INV(I) * XIM(I) = SUM(I, FACDEM(I,F)) = SUM(F, FIROW(F)) + SUM (H, ROWHH(H)) + ROWGOV + ROWCOR + SUM (IE, PE(IE) * XEX(IE) + FORINV + ROWTAX + SUM(I,TM(I) * PWM(I) * XIM(I) + ROWTRW + GOVBOR + CORBOR – SUM (FLAB, SFROW(FLAB) * YF(FLAB) – SROWCPAM * YF(“CAPAM”) – SROWCNAM * YF(“CAPNAM” – SUM (I, PWM(I) * XIM(I) * EXR) – SUM (H, HHTRW(H)) – GOVROW – CORROW – SAVROW – GOVINTR – CORINTR – GOVAMOR – CORAMOR – ROWTRW = GOVBUD + GOVSAV + GOVROW + GOVGOV + GOVINTR + GOVAMOR = SUM (I, WTQ(I) * PQ(I)) = SUM (I, WTD(I) * PQ(I))

(45) GR (46) PINDEX (47) PINDOM

97

KETERANGAN
X (I) = output sektor domestik komposit XIM (I) = impor sektor XEX (IE) = ekspor sektor Q (I) = penawaran barang komposit PQ (I) = harga permintaan domestik rata-rata PE (IE) = harga domestik barang ekspor PWM (I) = harga pasar impor CD (I,H) = permintaan akhir konsumsi rumah tangga ID (I) = permintaan akhir investasi produktif INV (I) = parameter pangsa stok persediaan TOTINT (I) = total pengguna antara CGOV (I) = permintaan akhir konsumsi pemerintah FD (F) = permintaan faktor FACDEM (I,F) = permintaan faktor sektor CURRACW = neraca pembayaran FIROW (F) = pendapatan faktor dari bagian lain dunia ROWHH (H) = pendapatan RT dari bagian lain dunia ROWGOV = pendapatan pemerintah dari bagian lain dunia ROWCOR = pendapatan perusahaan dari bagian lain dunia FORINV = investasi asing dari bagian lain dunia ROWTAX = pendapatan pajak dari bagian lain dunia HHTRW (H) = transfer RT ke bagian lain dunia TM (I) = pajak impor ROWTRW = transfer dai bagian lain dunia ke bagian lain dunia GOVBOR = pinjaman luar negeri pemerintah CORBOR = pinjaman luar negeri perusahaan dari bagian lain dunia SFROW (FLAB) = pangsa pendapatan tenaga kerja ke bagian lain dunia SUM = total I,J = sektor H = rumah tangga IE = sektor ekspor F = faktor FLAB = faktor tenaga kerja CAPAM = modal air minum perpipaan CAPNAM = modal air minum nonperpipaan YF (F) = pendapatan faktor SROWCPAM = pangsa modal air minum perpipaan dimiliki oleh bagian lain dunia SROWCNAM = pangsa modal air minum nonperpipaan dimiliki oleh bagian lain dunia GOVROW = transfer pemerintah netto ke bagian lain dunia CORROW = transfer perusahaan ke bagian lain dunia SAVROW = tabungan luar negeri GOVINTR = pembayaran bunga hutang luar negeri pemerintah CORINTR = pembayaran bunga hutang luar negeri perusahaan GOVAMOR = pembayaran amortisasi hutang luar negeri pemerintah CORAMOR = pembayaran amortisasi hutang luar negeri perusahaan ROWTRW = transfer dari bagian lain dunia ke bagian lain dunia GR = pendapatan pemerintah lokal GOVBUD = total konsumsi pemerntah GOVSAV = tabungan pemerintah lokal GOVGOV = transfer pemerintah ke pemerintah PINDEX = indeks harga komposit PINDOM = indeks harga domestik WTQ (I) = indeks harga komposit tertimbang WTD (I) = indeks harga domestik tertimbang

4.4

Perubahan Kesejahteraan

Dalam analisis kesetimbangan umum, evaluasi dampak kebijakan pada kesejahteraan dan distribusinya memerlukan kriteria kesejahteraan. Kriteria yang digunakan dalam studi ini adalah pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable

98

income) per kapita. Distribusi pendapatan dihitung menggunakan rasio Gini. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan keseimbangan patokan (benchmark) dan

keseimbangan umum simulasi (counterfactual). Akan tetapi, mempertimbangkan perubahan nilai rasio Gini yang relatif kecil, perubahan distribusi pendapatan dikenali juga melalui perubahan rasio pendapatan RT terkecil (RT I) terhadap pendapatan RT terbesar (RT X) atau rasio pendapatan RT miskin (RT I-IV) terhadap pendapatan RT pendapatan tinggi (RT IX-X).

99

BAB V SKENARIO KEBIJAKAN DAN HASIL SIMULASI

5.1

Validasi Model CGE
Model CGE Air Minum DKI Jakarta telah memenuhi syarat uji konsistensi yang umum

digunakan (Mahi, 1997 dan 2003), yaitu (i) mampu mereplikasi data SAM yang menjamin tidak adanya kesalahan spesifikasi pada model, (ii) memenuhi syarat Walras yaitu tabungan sama dengan investasi, dan (iii) memperlihatkan kestabilan suatu model. Selain itu, juga telah memenuhi keseimbangan fiskal berupa keseimbangan tabungan pemerintah dengan selisih penerimaan pemerintah dan pengeluaran pemerintah.

5.2

Skenario Simulasi Secara umum, pertumbuhan perekonomian DKI Jakarta menunjukkan

perbaikan pada beberapa tahun terakhir. Walaupun demikian, pertumbuhan ekonomi yang terjadi ditengarai belum berupa pertumbuhan yang bersifat pro-poor karena masih tingginya tingkat kesenjangan pendapatan dan tingginya proporsi penduduk miskin. Beberapa studi empiris memperlihatkan bahwa pertumbuhan penduduk perkotaan yang tinggi, sebagaimana juga terjadi di DKI Jakarta, mengakibatkan ketidakmampuan pemerintah menyediakan prasarana dan sarana pelayanan publik yang memadai, diantaranya, dalam bentuk pelayanan kebutuhan air minum. Penduduk masih belum sepenuhnya dapat terlayani kebutuhan air minumnya, khususnya rumah tangga miskin, sehingga sebagian kebutuhan dipenuhi oleh air minum nonperpipaan dan bahkan dari sumber air yang kurang layak, seperti sumur dan sungai yang tercemar. Pemenuhan kebutuhan air minum penduduk melalui air minum perpipaan khususnya penduduk miskin perkotaan, ditengarai dapat mengurangi beban pengeluaran air minum, beban pengeluaran bagi biaya pengobatan akibat penggunaan air minum yang tidak layak, dan mengurangi jumlah hari nonproduktif. Kondisi ini akan mendorong peningkatan produktivitas dan tabungan penduduk miskin yang mengarah pada meningkatnya pendapatan per kapita dan membaiknya kesenjangan

100

pendapatan, yang akhirnya berdampak pada peningkatan kondisi perekonomian secara keseluruhan. Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian terdahulu (Bab I) bahwa investasi, termasuk investasi air minum, baik secara teoritis maupun secara empiris, terbukti mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, pemenuhan kebutuhan air minum penduduk perkotaan, khususnya penduduk miskin, dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk yang berdampak pada perbaikan distribusi pendapatan. Kombinasi dari investasi air minum dan pemenuhan kebutuhan air minum penduduk miskin perkotaan akan menghasilkan pertumbuhan pro-poor sehingga pembangunan air minum di DKI Jakarta akan dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi penanggulangan kemiskinan di DKI Jakarta. Untuk itu, dalam studi ini akan dilakukan beberapa simulasi secara bertahap untuk mengetahui skenario-skenario pembangunan air minum yang dapat mengarah pada pertumbuhan pro-poor. Langkah pertama adalah mengetahui dampak investasi air minum, baik air minum perpipaan maupun nonperpipaan, terhadap pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan (Simulasi I dan II). Jika investasi tersebut menghasilkan pertumbuhan ekonomi pro-poor, simulasi tidak akan dilanjutkan dengan pertimbangan bahwa pembangunan air minum di DKI Jakarta telah sesuai dengan yang diharapkan. Selanjutnya, jika hasil simulasi menunjukkan bahwa hanya pertumbuhan ekonomi yang meningkat sementara distribusi pendapatan cenderung memburuk, ditengarai subsidi harga yang diterapkan selama ini menjadi kurang efektif, karena penduduk miskin yang seharusnya mendapat subsidi kemungkinan tidak terlayani sehingga rumah tangga miskin menggunakan air minum nonperpipaan dengan harga yang jauh lebih mahal. Sementara itu, sebagian rumah tangga bukan miskin ditengarai tidak menggunakan sumber air minum perpipaan seperti sumur dalam. Akibatnya, pendapatan rumah tangga miskin cenderung berkurang dan distribusi pendapatan memburuk. Dapat disimpulkan bahwa penerapan sistem tarif progresif yang dimaksudkan agar terjadi subsidi silang terhadap rumah tangga miskin ternyata tidak menunjukkan hasil yang diharapkan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian subsidi harga kurang

101

berhasil dalam membantu rumah tangga miskin. Studi yang dilakukan oleh Rietveld dkk (2000) di PDAM Salatiga juga menunjukkan hal yang sama, yaitu bahwa kontribusi sistem tarif progresif terhadap perbaikan kesenjangan pendapatan tidak signifikan. Hal ini juga berkesesuaian dengan teorema kedua kesejahteraan (the second theorem of welfare) yang mengatakan bahwa pemberian subsidi langsung lebih efisien dari pemberian subsidi harga. Untuk itu, dibutuhkan alternatif lain yang memungkinkan terjadinya pertumbuhan pro-poor, yaitu dengan memberikan subsidi langsung air minum bagi rumah tangga miskin. Pada skenario berikutnya subsidi akan diberikan dari dua sumber yang berbeda, yaitu dari sumber (i) peningkatan pajak air minum perpipaan (simulasi III) dan (ii) transfer dana pusat atau sumber dana yang berasal dari luar DKI Jakarta (simulasi IV). Simulasi III dilakukan secara bertahap, yaitu pertama kali dilakukan peningkatan pajak air minum perpipaan. Kemudian, hasil pajak air minum perpipaan tersebut dialokasikan kepada rumah tangga miskin perkotaan. Peningkatan pajak pada awalnya yang tanpa penyediaan subisidi air minum akan menyebabkan menurunnya pertumbuhan ekonomi, tetapi di pihak lain menyebabkan membaiknya distribusi pendapatan. Subsidi air minum yang kemudian disediakan, dari hasil peningkatan pajak, bagi rumah tangga miskin akan menyebabkan membaiknya pertumbuhan ekonomi walaupun belum menjamin akan kembali pada posisi sebelum pengenaan pajak. Pada kondisi penyediaan dana pusat, diasumsikan dana tersebut merupakan suntikan dana dari luar perekonomian sehingga dampaknya terhadap perekonomian akan berbeda dengan peningkatan pajak air minum perpipaan, terutama tidak akan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi. Pada simulasi sebelumnya telah dilakukan simulasi peningkatan investasi air minum perpipaan (simulasi I), peningkatan investasi air minum nonperpipaan (simulasi II), penyediaan subsidi bagi rumah tangga miskin dari sumber pajak air minum perpipaan (simulasi III), dan penyediaan subsidi bagi rumah tangga miskin dari sumber transfer pemerintah pusat (simulasi IV). Keempat simulasi tersebut memberi gambaran

102

dampak dari investasi dan subsidi masing-masing terhadap pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan. Jika hasil simulasi awal menunjukkan belum terjadinya pertumbuhan pro-poor, yaitu pertumbuhan ekonomi yang disertai perbaikan distribusi pendapatan, skenario selanjutnya adalah berupa penggabungan antara investasi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan subsidi yang memperbaiki distribusi pendapatan. Skenario penggabungan ini terdiri dari simulasi V yang berupa peningkatan investasi air minum perpipaan sekaligus penyediaan subsidi langsung bagi rumah tangga miskin dari hasil peningkatan pajak air minum perpipaan dan simulasi VI yang berupa peningkatan investasi air minum perpipaan dan penyediaan subsidi langsung bagi rumah tangga miskin dari dana pusat. Dengan mempertimbangkan kenyataan adanya kemungkinan keterbatasan dana subsidi sehingga harus diterapkan prioritas penerima subsidi, penerima subsidi dibedakan antara kelompok penerima subsidi pertama adalah kelompok rumah tangga (RT) termiskin, yaitu kelompok RT sangat miskin I (RT I) dan kelompok penerima subsidi kedua adalah seluruh kelompok RT miskin yang merupakan empat kelompok RT dengan penghasilan terendah, yaitu RT sangat miskin I (RT I), RT sangat miskin II (RT II), RT miskin I (RT III), dan RT miskin II (RT IV). Keseluruhan skenario di atas dilaksanakan secara bertahap melalui beberapa simulasi seperti berikut. A. Simulasi Investasi (i) Simulasi I berupa peningkatan investasi air minum perpipaan masing-masing sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen. (ii) Simulasi II berupa peningkatan investasi air minum nonperpipaan masingmasing sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen. B. Simulasi Subsidi (iii) Simulasi III berupa peningkatan pajak air minum sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen, dan hasilnya dialokasikan untuk subsidi bagi kelompok rumah tangga miskin.

103

(iv) Simulasi IV berupa penyediaan dana dari pemerintah pusat masing-masing sebesar nilai peningkatan pajak 10 persen, 25 persen, dan 50 persen. C. Simulasi Gabungan (investasi dan subsidi) (v) Simulasi V berupa peningkatan investasi air minum perpipaan masing-masing sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen, dan penyediaan subsidi langsung bagi rumah tangga miskin dari hasil peningkatan pajak air minum perpipaan masing-masing sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen. (vi) Simulasi VI berupa peningkatan investasi air minum perpipaan masingmasing sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen, dan penyediaan subsidi langsung bagi rumah tangga miskin dari dana pusat yang nilainya setara dengan hasil peningkatan pajak air minum perpipaan masing-masing sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen. Keseluruhan skenario dan simulasi tersebut digambarkan selengkapnya pada Gambar 5.1 dan Tabel 5.1.

104

Gambar 5.1 Bagan Alir Skenario Simulasi

Peningkatan investasi air minum

Peningkatan Investasi Air Minum
Distribusi pendapatan membaik ?

Pajak Air Minum

Subsidi Bagi RT Miskin

tidak

Pertumbuhan Pro-poor?

tidak

Dana pusat tidak Subsidi bagi RT miskin
Pertumbuhan ekonomi meningkat ?

Pertumbuhan Ekonomi

Perubahan Rasio Gini +

+ + + +

Pangsa Pendadapatan RT Miskin + + -

Pertumbuhan Pendapatan /Kapita RT Miskin + + -

Pro-poor Pro-poor dst

Pajak air minum perpipaan

Peningkatan Investasi Air Minum Simulasi III Simulasi VI Simulasi IV

Dana Pusat

Simulasi I, II Simulasi V

Subsidi Bagi RT Miskin

105

Tabel 5.1 Skenario Simulasi I dan II
Simulasi Investasi air minum perpipaan Investasi air minum nonperpipaan Peningkatan pajak Dana pemerintah pusat Penerima subsidi RT I Penerima subsidi RT I – RT IV Simulasi 3.1 Investasi air minum perpipaan Investasi air minum nonperpipaan Peningkatan pajak Dana pemerintah pusat Penerima subsidi RT I Penerima subsidi RT I – RT IV Simulasi 4.1 Investasi air minum perpipaan Investasi air minum nonperpipaan Peningkatan pajak Dana pemerintah pusat* Penerima subsidi RT I Penerima subsidi RT I – RT IV 4.2 3.2 1.1 10 % 1.2 25 % Skenario 1.3 2.1 50 % 10 % 2.2 25 % 2.3 50 %

Tabel 5.2 Skenario Simulasi III
Skenario 3.3 3.4 3.5 3.6

10%

25%

50%

10%

25%

50%

Tabel 5.3 Skenario Simulasi IV
Skenario 4.3 4.4 4.5 4.6

10%

25%

50%

10%

25%

50%

Keterangan : * Dana pemerintah pusat setara dengan nilai peningkatan pajak masing-masing 10%, 25%, 50%.

Tabel 5.4 Skenario Simulasi V
Simulasi Investasi air minum perpipaan Investasi air minum nonperpipaan Peningkatan pajak Dana pemerintah pusat Penerima subsidi RT I Penerima subsidi RT I – RT IV 5.1 10% 10% 5.2 10% 25% Skenario 5.3 5.4 10% 10% 50% 10% 5.5 10% 25% 5.6 10% 50%

Lanjutan Tabel 5.4 Simulasi Investasi air minum perpipaan Investasi air minum nonperpipaan Peningkatan pajak Dana pemerintah pusat Penerima subsidi RT I Penerima subsidi RT I – RT IV 5.7 25% 10% 5.8 25% 25% Skenario 5.9 5.10 25% 25% 50% 10% 5.11 25% 25% 5.12 25% 50%

106

Lanjutan Tabel 5.4 Simulasi Investasi air minum perpipaan Investasi air minum nonperpipaan Peningkatan pajak Dana pemerintah pusat Penerima subsidi RT I Penerima subsidi RT I – RT IV 5.13 50% 10% 5.14 50% 25% Skenario 5.15 5.16 50% 50% 50% 10% 5.17 50% 25% 5.18 50% 50%

Tabel 5.5 Skenario Simulasi VI
Simulasi Investasi air minum perpipaan Investasi air minum nonperpipaan Peningkatan pajak Dana pemerintah pusat* Penerima subsidi RT I Penerima subsidi RT I – RT IV 6.1 10% 6.2 10% Skenario 6.3 6.4 10% 10% 6.5 10% 6.6 10%

10%

25%

50%

10%

25%

50%

Keterangan : * Dana pemerintah pusat setara dengan nilai peningkatan pajak masing-masing 10%, 25%, 50%.

Lanjutan Tabel 5.5 Simulasi Investasi air minum perpipaan Investasi air minum nonperpipaan Peningkatan pajak Dana pemerintah pusat* Penerima subsidi RT I Penerima subsidi RT I – RT IV 6.7 25% 6.8 25% Skenario 6.9 6.10 25% 25% 6.11 25% 6.12 25%

10%

25%

50%

10%

25%

50%

Keterangan : * Dana pemerintah pusat setara dengan nilai peningkatan pajak masing-masing 10%, 25%, 50%.

Lanjutan Tabel 5.5 Simulasi Investasi air minum perpipaan Investasi air minum nonperpipaan Peningkatan pajak Dana pemerintah pusat* Penerima subsidi RT I Penerima subsidi RT I – RT IV 6.13 50% 6.14 50% Skenario 6.15 6.16 50% 50% 6.17 50% 6.18 50%

10%

25%

50%

10%

25%

50%

Keterangan : * Dana pemerintah pusat setara dengan nilai peningkatan pajak masing-masing 10%, 25%, 50%.

107

Gambar 5.2 Bagan Alir Simulasi

SKENARIO INVESTASI SIMULASI I dan II

SKENARIO SUBSIDI SIMULASI III dan IV

Peningkatan investasi
10% - 25% - 50%

Dana pusat/pajak
10% - 25% - 50%

Investasi AM perpipaan

Investasi AM nonperpipaan

Subsidi RT I

Subsidi RT I - IV

SKENARIO GABUNGAN (INVESTASI dan SUBSIDI) SIMULASI V dan VI

Investasi air minum perpipaan

Subsidi dari pajak air minum/ dana pusat 10%

Subsidi ke RT I

Subsidi ke RT I – RT IV

10% 25% 50% 50% 25%

108

5.3

Hasil Simulasi Hasil dari simulasi ini akan dibagi menjadi tiga pokok bahasan, yaitu (i) dampak

terhadap pertumbuhan ekonomi, (ii) dampak terhadap pendapatan per kapita dan distribusi pendapatan, dan (iii) perbandingan dampak pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan. 5.3.1 Simulasi I: Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan Peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar masing-masing 10 persen, 25 persen, dan 50 persen mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan oleh peningkatan PDRB masing-masing sebesar 0,05 persen, 0,11 persen, dan 0,2 persen. Pendapatan rumah tangga per kapita juga meningkat pada semua kategori, tetapi terlihat bahwa kelompok pendapatan tinggi relatif lebih besar proporsi pertumbuhannya jika dibanding dengan kelompok pendapatan rendah. Pertumbuhan pendapatan kelompok menengah relatif seimbang dengan kelompok pendapatan rendah. Hal ini berakibat meningkatnya pangsa pendapatan kelompok RT pendapatan tinggi. Di pihak lain, pangsa pendapatan kelompok RT miskin dan menengah berkurang sehingga rasio Gini semakin besar, walaupun nilai pertambahan rasio Gini tersebut sangat rendah, yaitu masing-masing sebesar 0,0006 persen (investasi 10%), 0,001 persen (investasi 25%) dan 0,002 persen (investasi 50%). Jika membandingkan indikator perubahan rasio pendapatan kelompok RT berpendapatan terendah terhadap pendapatan kelompok RT berpendapatan tertinggi dari masing-masing skenario terhadap kondisi awal, yaitu -0,003 persen (investasi 10%), 0,006 persen (investasi 25%), dan -0,011 persen (investasi 50%), terlihat bahwa semakin besar investasi semakin besar kesenjangan. Selengkapnya, hal itu dapat dilihat pada Tabel 5.6, Gambar 5.3, Gambar 5.4, dan Gambar 5.5. Secara umum, semakin besar investasi air minum perpipaan, semakin meningkat pertumbuhan ekonomi. Di pihak lain, perubahan rasio Gini kecil sekali tetapi perubahan rasio pendapatan RT berpendapatan terendah terhadap RT berpendapatan tertinggi cukup signifikan. Akibatnya, investasi air minum perpipaan berdampak positip terhadap pertumbuhan ekonomi tetapi berakibat pada meningkatnya kesenjangan pendapatan.

109

Tabel. 5.6 Perubahan PDRB dan Pendapatan Rumah Tangga berdasar Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan
Simulasi 1.1 – 1.2 - 1.3 Pertumbuhan Ekonomi
• PDRB (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%)

Kondisi Awal

Skenario Peningkatan Investasi 10% 25% 50%

194.225

194.316 91,4 0,047

194.440 215,3 0,110

194.620 395,3 0,203

Pendapatan per Kelompok RT
Miskin • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Menengah • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Tinggi • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) 13.169 11,2583 3.285.949 13.175 6,3 11,2582 3.287.531 0.0482 34.105 16,4 29,1427 11.096.928 0,0481 69.748 34,8 59,5991 53.493.272 0,0499 13.184 14,9 11,2580 3.289.677 0.1135 34.127 38,6 29,1423 11.104.162 0,1133 69.795 82,0 59,5997 53.529.442 0,1176 13.196 27,4 11,2578 3.292.795 0.2083 34.160 70,9 29,1417 11.096.928 0,2081 69.863 150,5 59,6005 53.582.001 0,2159

34.089 29,1431 11.091.592

69.712 59,5987 53.466.585

Distribusi Pendapatan
• Rasio Gini • Pertumbuhan (%)* • Rasio Pendapatan RT terendah/RT tertinggi • Pertumbuhan (%)** 0,597198 0,035257 0,597202 0,0006 0,035256 - 0,003 0,597206 0,001 0,035255 - 0,006 0,597213 0,002 0,035253 - 0,011

Sumber: Hasil Simulasi * Perubahan positip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal ** Perubahan negatip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal

Gambar 5.3 Pertumbuhan Ekonomi dan Rasio Gini Skenario Investasi Air Minum Perpipaan
0.25 0.597216

Gambar 5.4 Peningkatan Pendapatan per Kapita berdasar Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan
Pangsa Pendapatan Klp RT (%)

Gambar 5.5 Pangsa Pendapatan per Kelompok RT Miskin berdasar Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan
11.2585

11.2583

P e r tu m b u h a n E k o n o m i (% )

0.2

0.25

R a s io G in i

0.2 0.15 0.1 0.05 0 Invest asi 10% invest asi 25% S k e na r i o I nv e st a si ( %) invest asi 50%

11.2581

0.15 0.597206 0.1 0.05 0 Investasi 10% Investasi 25% Investasi 50% PDRB Rasio Gini 0.597196

11.2579

11.2577

11.2575 RT Miskin Skenario Investasi (%)

RT Miskin

RT Menengah

RT Tinggi

Aw al

Investasi 10%

investasi 25%

investasi 50%

110

5.3.2

Simulasi II: Peningkatan Investasi Air Minum Nonperpipaan Peningkatan investasi air minum nonperpipaan masing-masing sebesar 10 persen,

25 persen, dan 50 persen menghasilkan pertumbuhan ekonomi dalam proporsi relatif sangat kecil yang ditunjukkan oleh peningkatan PDRB masing-masing sebesar 0,0003 persen, 0,0005 persen, dan 0,0008 persen.
Tabel. 5.7 Perubahan PDRB dan Pendapatan Rumah Tangga berdasar Peningkatan Investasi Air Minum Nonperpipaan
Simulasi 2.1 – 2.2 – 2.3 Pertumbuhan Ekonomi
• PDRB (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) 194.224,6 194.225,2 0,6 0,0003 194.225,7 1,1 0,0005 194.226,1 1,5 0,0008

Kondisi Awal

Skenario Peningkatan Investasi 10% 25% 50%

Pendapatan per Kelompok RT
Miskin • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Menengah • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Tinggi • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) 13.168,8 11,2583 3.285.949 13.168,9 10,9 11,2583 3.285.959 0.0003 34.088,8 29,4 29,1431 11.091.630 0,0003 69.712,9 59,8 59,5987 53.466.766 0,0003 13.168,9 11,0 11,2583 3.285.967 0.0006 34.088,9 27,8 29,1430 11.091.652 0,0005 69.713,1 61,2 59,5987 53.466.896 0,0006 13.168,9 11,0 11,2583 3.285.975 0.0008 34.089 28,4 29,1430 11.091.680 0,0008 69.713,3 60,6 59,5987 53.467.027 0,0008

34.088,7 29,1431 11.091.592

69.712,7 59,5987 53.466.585

Distribusi Pendapatan
• Rasio Gini • Pertumbuhan (%)* • Rasio Pendapatan RT terendah/RT tertinggi • Pertumbuhan (%)** Sumber: Hasil Simulasi 0,597198 0,03526 0,597198 0 0,03526 0 0,597198 0 0,03526 0 0,597198 0 0,03526 0

* Perubahan positip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal ** Perubahan negatip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal

111

Pendapatan rumah tangga per kapita juga meningkat pada semua kategori. Akan tetapi, terlihat bahwa pertambahannya sangat kecil dan relatif sama untuk seluruh kelompok RT. Akibatnya, pangsa pendapatan setiap kelompok RT relatif tetap, yang ditunjukkan oleh perubahan rasio Gini dan perubahan rasio pendapatan RT berpendapatan terendah terhadap RT berpendapatan tertinggi yang mendekati nol. Dengan demikian, pertambahan investasi air minum nonperpipaan tidak mengakibatkan perubahan distribusi pendapatan. Selengkapnya, hal itu dapat dilihat pada Tabel 5.7. Semakin besar investasi air minum nonperpipaan, semakin meningkat

pertumbuhan ekonomi walaupun dalam proporsi yang kecil sekali. Di pihak lain, investasi air minum nonperpipaan tidak berpengaruh terhadap perubahan kesenjangan pendapatan. Akibatnya, investasi air minum nonperpipaan tidak mempunyai dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi maupun distribusi pendapatan. 5.3.3 Simulasi III : Penyediaan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Secara ringkas, simulasi peningkatan
Gambar 5.6 Pertumbuhan Ekonomi dan Rasio Gini Skenario Peningkatan Pajak Air Minum
0 -0.0005 Pajak 10% Pajak 25% Pajak 50% 0.59719840 -0.001 -0.0015 -0.002 -0.0025 -0.003 -0.0035 -0.004 0.59719800

pajak air minum perpipaan dilakukan dalam dua tahap, yaitu (i) peningkatan pajak masingmasing sebesar 10 persen, 25 persen dan 50
R a s io G in i

P e rtu m b u h a n E k o n o m i (% )

0.59719820

persen, (ii) perolehan dana dari pajak kemudian dialokasikan dalam bentuk subsidi pada

0.59719780

kelompok rumah tangga miskin. Pada tahap awal, peningkatan pajak air

Pajak PDRB Rasio Gini

minum perpipaan masing-masing sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi

Gambar 5.7 Perubahan Pendapatan RT berdasar Skenario Peningkatan Pajak Air MInum Perpipaan
P e n in g k a t a n P e n d a p a t a n ( % ) 0 -0.0005 -0.001 -0.0015 -0.002 -0.0025 -0.003 -0.0035 -0.004 -0.0045 RT Miskin RT Menengah RT Tinggi Pajak 10% Pajak 25% Pajak 50%

masing-masing sebesar -0,0006 persen, -0,0017 persen dan -0,0036 persen. Di pihak lain, rasio Gini walaupun menunjukkan terjadinya

perbaikan distribusi pendapatan, perubahannya juga terjadi dalam proporsi yang sangat kecil

112

antara –0,00001 persen (pajak 10%) sampai –0,00008 persen (pajak 50%). Peningkatan pajak air minum perpipaan tidak berakibat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan rasio Gini. Secara umum, peningkatan pajak air minum perpipaan mempengaruhi beberapa indikator ekonomi yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan. Hal itu dimulai dengan peningkatan penerimaan pemerintah sebesar 0,0009 persen (pajak 10%) sampai 0,004 persen (pajak 50%). Peningkatan penerimaan pemerintah itu mempengaruhi peningkatan tabungan pemerintah, yaitu sebesar 0,015 persen (pajak 10%) sampai 0,074 persen (pajak 50%). Selanjutnya, konsumsi pemerintah meningkat walaupun kecil sekali sehingga pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi juga kecil. Peningkatan pajak mempengaruhi output yang berkurang sebesar –0,0006 persen (pajak 10%) sampai –0,0037 persen (pajak 50%). Selanjutnya, hal itu mempengaruhi penerimaan faktor, baik tenaga kerja maupun modal, sehingga pendapatan rumah tangga juga menurun. Akibatnya, konsumsi rumah tangga menurun yang berkisar –0,0006 persen (pajak 10 %) sampai –0,0039 persen (pajak 50%). Penurunan konsumsi rumah tangga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana diketahui bahwa peningkatan pajak mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dari dua jalur, yaitu (a) jalur konsumsi rumah tangga dan (b) jalur konsumsi pemerintah termasuk transfer ke rumah tangga. Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan pajak hanya mendorong konsumsi pemerintah yang sangat kecil. Sementara itu, pengaruhnya terhadap konsumsi rumah tangga, walaupun relatif kecil masih lebih besar dari pengaruh konsumsi pemerintah. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi menjadi negatip tetapi sangat kecil sehingga tidak signifikan. Akibat dari peningkatan pajak air minum perpipaan adalah bahwa seluruh kelompok rumah tangga mengalami penurunan pendapatan. Kelompok rumah tangga berpendapatan tinggi mengalami penurunan lebih besar daripada rumah tangga miskin. Hal ini merupakan akibat dari besarnya konsumsi air minum rumah tangga berpendapatan tinggi relatif terhadap penduduk miskin. Walaupun kemudian secara keseluruhan perbedaan tersebut tidak berpengaruh terhadap rasio Gini yang relatif konstan. Selengkapnya, hal itu dapat dilihat pada Tabel 5.8.

113

Tabel. 5.8 Pengaruh Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan terhadap Indikator Ekonomi
Simulasi 3.1 – 3.2 – 3.3 (Pra Subsidi) Pertumbuhan Ekonomi • PDRB (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Total Investasi • Jumlah (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Penerimaan Pemerintah • Jumlah (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Tabungan Total Tabungan • Jumlah (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Tabungan RT • Jumlah (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Tabungan Pemerintah • Jumlah (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Output • Total • Jumlah (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) • Air Minum Perpipaan • Jumlah (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) • Air Minum Non Perpipaan • Jumlah (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) 767,1 59.127,3 59.127,0 - 0,277 - 0,0005 5.538,5 - 0,035 - 0,0006 767,2 0,118 0,0154 59.126,4 - 0,840 - 0,001 5.538,5 - 0,1 - 0,002 767,4 0,287 0,037 59.125,5 - 1,800 - 0,003 5.538,4 - 0,2 - 0,004 767,7 0,57 0,074 13.991,4 13.991,5 0,125 0,0009 13.991,7 0,304 0,002 13.992,0 0,6 0,004 59.127,3 59.126,9 - 0,349 - 0,0006 59.126,3 - 1,0 - 0,002 59.125,1 - 2,2 - 0,04 194.225 194.224 - 1,1 - 0,0006 194.221 - 3,3 - 0,0017 194.218 - 7,0 - 0,0036 Kondisi Awal Skenario Peningkatan Pajak 10% 25% 50%

405.807,3

405.804,9 - 2,4 - 0,0006 472,73 - 0,004 - 0,0008 100,48 - 0,001 - 0,0006

405.800 - 7,1 - 0,0018 472,72 - 0,01 - 0,0023 100,48 - 0,002 - 0,0018

405.792 - 15 - 0,0037 472,71 - 0,02 - 0,0048 100,48 - 0,004 - 0,0038

472,73

100,48

114

Simulasi 3.1 – 3.2 – 3.3 (Pra Subsidi) Konsumsi Rumah Tangga • Total • Jumlah (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) • Air Minum Perpipaan • Jumlah (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) • Air Minum Non Perpipaan • Jumlah (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Pendapatan Faktor • Modal Air Minum perpipaan • Jumlah (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) • Modal Lainnya • Jumlah (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Pendapatan Rumah Tangga Miskin • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Menengah • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Tinggi • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Distribusi Pendapatan • Rasio Gini • Pertumbuhan (%)* Sumber: Hasil Simulasi

Kondisi Awal

Skenario Peningkatan Pajak 10% 25% 50%

99.492,9

99.492,3 - 0,627 - 0,00063 86,03 - 0,0005 - 0,00062 36,115 - 0,0002 - 0,00063

99.491,1 - 1,800 - 0,002 86,08 - 0,001 - 0,002 36,115 - 0,0007 - 0,002

99.489,1 - 3,9 - 0,0039 86,1 - 0,0030 - 0,0038 36,114 - 0,001 - 0,0039

86,104

36,116

175,6

175,5 - 0,086 - 0,049 128.734,1 - 0,666 - 0,0005

175,3 - 0,215 - 0,123 128.732,7 -1,9 - 0,002

175,2 - 0,432 - 0,246 128.730,6 - 4,1 - 0,003

128.735

13.168,8 11,2583 3.285.949

13.168,7 - 0,1 11,2583 3.285.929 - 0.0006 34.088,5 - 0,2 29,1431 11.091.527 - 0,00059 69.712,2 - 0,4 59,5987 53.466.244 - 0,00064

13.168,6 - 0,2 11,2583 3.285.891 - 0.00176 34.088,1 - 0,6 29,1431 11.091.398 - 0,00175 69.711,4 - 1,3 59,5986 53.465.577 - 0,00188

13.168,3 - 0,5 11,2584 3.285.826 - 0.00372 34.087,4 - 1,3 29,1430 11.091.179 - 0,00373 69.709,9 - 2,8 59,5986 53.464.465 - 0,00396

34.088,7 29,1431 11.091.592

69.712,7 59,5987 53.466.585

0,597198

0,597198 - 0,00001

0,597198 - 0,00004

0,597198 - 0,00008

* Perubahan positip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal

115

Sebagai catatan, pengaruh peningkatan pajak air minum perpipaan terhadap indikator ekonomi terlihat relatif kecil karena sumbangan sektor air minum terhadap PDRB DKI Jakarta sendiri relatif kecil, yaitu hanya berkisar pada angka 2 persen. Selain itu, cakupan layanan air minum perpipaan masih berada pada kisaran 50 persen dari total penduduk DKI Jakarta. Skenario berikutnya adalah bahwa hasil pajak air minum didistribusikan kembali ke penduduk miskin. Pemberian subsidi tidak diwujudkan dalam bentuk tunai, tetapi dalam model didistribusikan melalui penambahan konsumsi air minum untuk masingmasing kelompok yang mendapat subsidi sesuai dengan pangsa konsumsinya. Penduduk yang mendapat subsidi terdiri dari empat kelompok rumah tangga (RT) terbawah, yaitu (i) RT sangat miskin I (VEPOIHH), (ii) RT sangat miskin II (VEPOIIHH), (iii) RT miskin I (POORIHH), dan (iv) RT miskin II (POORIIHH). Dalam simulasi, penerima subsidi dibedakan berdasarkan jumlah kelompok penerima, yaitu sebagai berikut. Skenario I kelompok penerima terdiri dari hanya satu kelompok RT, yaitu RT sangat miskin I (VEPOIHH). Skenario II kelompok penerima terdiri dari seluruh kelompok RT yang dikategorikan miskin, yaitu empat kelompok RT terbawah. Penyediaan subsidi bagi rumah tangga miskin dari hasil peningkatan pajak air minum perpipaan yang masing-masing sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan yang sangat kecil, yaitu minimum –0,0001 persen (pajak 10%-subsidi bagi RT I) sampai –0,0008 persen (pajak 50%-subsidi bagi RT I-IV). Namun, tingkat pertumbuhan ini lebih baik dari kondisi awal ketika peningkatan pajak air minum perpipaan tidak disertai penyediaan subsidi. Pendapatan per kapita RT miskin meningkat antara 0,001–0,004 persen sementara pendapatan per kapita RT menengah dan RT pendapatan tinggi menurun antara 0,0001 persen sampai –0,001 persen sehingga pangsa pendapatan kelompok rumah tangga miskin meningkat walaupun dalam proporsi yang sangat kecil. Akibatnya, rasio Gini mengecil yang menunjukkan terjadinya perbaikan distribusi pendapatan walaupun proporsi perubahannya juga sangat kecil, yaitu antara –0,0003 persen (pajak 10%-subsidi RT I) sampai –0,002 persen (pajak 50%-subsidi RT I). Rasio Gini menjadi sedikit lebih

116

Tabel. 5.9 Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan Skenario Penyediaan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan
Simulasi 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 Pertumbuhan Ekonomi • PDRB (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Pendapatan per Kelompok RT Miskin • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Menengah • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Tinggi • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Distribusi Pendapatan • Rasio Gini • Pertumbuhan (%)* • Rasio Pendapatan RT miskin/RT tinggi • Pertumbuhan (%)** Sumber: Hasil Simulasi 13.168,8 11,2583 3.285.949 13.169 0,132 11,2584 3.285.982 0.001 34.088.6 - 0,044 29,1430 11.091.578 - 0.0001 69.712,6 - 0,08 59,5986 53.466.520 - 0.0001 13.169 0,122 11,2584 3.285.979 0,001 34.088,6 - 0,071 29.1430 11.091.569 - 0,0002 69.712,5 - 0,15 59,5986 53.486.467 - 0,0002 13.169,2 0,329 11,2586 3.286.031 0.003 34.088.6 - 0,102 29,1430 11.091.559 - 0.0003 69.712,4 - 0,22 59,5985 53.466.413 - 0,0003 13.169,1 0,302 11,2586 3.286.024 0,002 34.088,5 - 0,170 29,1430 11.091.537 - 0,0005 69.712,3 -0,38 59,5985 53.466.290 - 0,0006 13.169,5 0,659 11,2588 3.286.113 0.005 34.088.5 - 0,200 29,1429 11.091.527 - 0.0006 69.712,2 - 0,45 59,5983 53.466.308 - 0.0007 13.169,4 0,603 11,2588 3.286.099 0,004 34.088,3 - 0,354 29,1429 11.091.477 - 0,001 69.711,9 - 0,77 59,5983 53.465.991 - 0,001 194.225 194.224 - 0,1 - 0.0001 194.224 - 0,3 - 0,0002 194.224 - 0,3 - 0 ,0002 194.224 - 0,8 - 0,0004 194.224 - 0,7 - 0,0004 194.223 - 1,5 - 0,0008 Peningkatan Pajak 10% Kondisi Awal RT I RT I-IV Peningkatan Pajak 25% Penerima Subsidi RT I RT I-IV RT I RT I – IV Peningkatan Pajak 50 %

34.088,7 29,1431 11.091.592

69.712,7 59,5987 53.466.585

0,597198 0,1889

0,597196 - 0,0003 0,18890 0,001

0,597197 - 0,0002 0,18890 0,001

0,597194 - 0,0008 0,18891 0,003

0,597195 - 0,0006 0,18891 0,003

0,597189 - 0,0016 0,18891 0,006

0,597192 - 0,001 0,18891 0,006

* Perubahan positip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal ** Perubahan negatip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal

Gambar 5.8 Pertumbuhan Ekonomi Skenario Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan 0 P e rt u m b u h a n e k o n o m i (% ) Pajak 10% Pajak 25% Pajak 50%

Gambar 5.9 Rasio Gini Skenario Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan
P e r u b a h a n P e n d a p a ta n R T ( % )

Gambar 5.10 Perubahan Pendapatan RT berdasar Penyediaan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum (Skenario RT I dan RT I-IV)
0.005

0.597198 R a s io G in i 0.597196 0.597194 0.597192 0.59719

0.004

RT Miskin (RT I)
0.003

-0.0005

RT Miskin (RTI-IV)
0.002

RT Menengah (RT I) RT Menengah (RT I-IV) RT Tinggi (RT I)

0.001 0 -0.001 Pajak 10% Pajak 25% Pajak 50%

-0.001 Pajak pertumbuhan ekonomi RT I RT I-IV

0.597188 aw al Pajak 10% RT I Pajak 25% RT I-IV Pajak 50%

RT Tinggi (RT I-IV)

117

baik daripada kondisi awal sebelum hasil pajak dialokasikan untuk subsidi. Selengkapnya, hal itu dapat dilihat pada Tabel 5.9, Gambar 5.8, dan Gambar 5.9. Walaupun dampaknya tidak signifikan tetapi penyediaan subsidi dari hasil peningkatan pajak air minum perpipaan bagi kelompok RT miskin mengakibatkan laju pertumbuhan yang lebih baik daripada ketika peningkatan pajak diterapkan tanpa alokasi subsidi. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat dari subsidi lebih kecil daripada biaya peningkatan pajak yang harus ditanggung. Secara umum, pemberian subsidi baik pada RT termiskin maupun seluruh RT miskin hanya berdampak signifikan terhadap pertumbuhan rasio pendapatan RT miskin terhadap RT berpendapatan tinggi jika investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen. Hal ini menegaskan bahwa subsidi yang didistribusikan hanya bermanfaat bagi kelompok pendapatan rendah jika pajak yang diterapkan mencapai 50 persen. Pemberian subsidi pada lebih banyak kelompok RT miskin (RT I-IV) daripada hanya RT termiskin (RT I) tidak berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi maupun distribusi pendapatan. 5.3.4 Simulasi IV : Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat Berbeda dengan simulasi sebelumnya yang sumber dana berasal dari pajak, pada simulasi ini sumber dana berasal dari pemerintah pusat. Simulasi dilakukan dengan menyediakan dana subsidi yang setara dengan hasil pajak air minum perpipaan sebesar masing-masing Rp.0,149 miliar, Rp.0,37 miliar, dan Rp.0,74 miliar. Sebagaimana simulasi sebelumnya, pada simulasi ini dilakukan pembedaan terhadap penerima subsidi, yaitu kelompok RT miskin I dan kelompok RT miskin I sampai RT miskin IV. Penyediaan subsidi bagi penduduk miskin dari dana pemerintah pusat hanya mengakibatkan peningkatan laju pertumbuhan ekonomi yang sangat kecil, yaitu sebesar minimum 0,0009 persen dan maksimum 0,0042 persen (subsidi bagi RT I) dan minimum 0,0007 persen sampai 0,0035 persen (subsidi bagi RT I-IV). Penyediaan subsidi mengakibatkan laju pertumbuhan pendapatan kelompok RT miskin meningkat sebesar 0,002 sampai 0,01 persen. Sementara itu, laju pertumbuhan pendapatan kelompok RT menengah dan RT pendapatan tinggi hanya berkisar 0,0007 persen sampai 0,004 persen. Akibatnya, berbeda dengan pangsa pendapatan kelompok RT
118

Tabel. 5.10 Perubahan PDRB dan Pendapatan Rumah Tangga berdasar Penyediaan Subsidi dari Pemerintah Pusat
Simulasi 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 Pertumbuhan Ekonomi • PDRB (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Pendapatan per Kelompok RT Miskin • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Menengah • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Tinggi • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Distribusi Pendapatan • Rasio Gini • Pertumbuhan (%)* • Rasio Pendapatan RT miskin/RT tinggi • Pertumbuhan (%)** Sumber: Hasil Simulasi 0,597198 0,1889 0,597196 - 0,0003 0,18890 0,001 0,597197 - 0,0002 0,18890 0,001 0,597194 - 0,0007 0,18891 0,003 0,597195 - 0,0005 0,18891 0,003 0,597190 - 0,002 0,18891 0,005 0,597192 - 0,001 0,18891 0,005 13.168,8 11,2583 3.285.949 13.169,1 0,273 11,2584 3.286.017 0.002 34.089.0 0,320 29,1430 11.091.696 0.001 69.713,4 0,696 59,5986 53.467.119 0.001 13.169,1 0,238 11,2584 3.286.008 0.002 34.088.9 0,232 29,1430 11.091.668 0.0007 69.713,2 0,506 59,5986 53.466.973 0.0007 13.169,4 0,647 11,2585 3.286.110 0.005 34.089.4 0,720 29,1429 11.091.827 0.002 69.714,2 1,566 59,5985 53.467.736 0.002 13.169,4 0,592 11,2585 3.286.096 0.004 34.089.3 0,577 29,1429 11.091.780 0.002 69.713,9 1,256 59,5985 53.467.548 0.002 13.170,1 1,272 11,2588 3.286.266 0.01 34.090.1 1,380 29,1428 11.092.041 0.004 69.715,7 2,996 59,5984 53.468.883 0.004 13.170,4 1,183 11,2588 3.286.244 0.009 34.089.8 1,150 29,1428 11.092.098 0.003 69.715,2 2,486 59,5983 53.468.492 0.004 194.225 194.226,5 1,5 0.0009 194.226 1,0 0,0007 194.228,8 3,8 0 ,0022 194.228 3,0 0,0018 194.232,7 7,7 0,0042 194.231,4 6,4 0,0035 Subsidi Rp. 0,149 M Kondisi Awal RT I RT I-IV Subsidi Rp. 0,37 M Penerima Subsidi RT I RT I-IV RT I RT I – IV Subsidi Rp. 0,74 M

34.088,7 29,1431 11.091.592

69.712,7 59,5987 53.466.585

* Perubahan positip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal ** Perubahan negatip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal

Gambar 5.11 Pertumbuhan Ekonomi Skenario Subsidi dari Pemerintah Pusat
0.5972

Gambar 5.12 Rasio Gini Skenario Subsidi dari Pemerintah Pusat
0.014

Gambar 5.13 Pertumbuhan Pendapatan RT/Kapita berdasar Skenario Subsidi dariPemerintah Pusat

0.006 P e rt u m b u h a n e k o n o m i (% )

0.012

R a s io G in i

0.597195

0.01

0.004

RT Miskin (RT I)
0.008

RT Miskin (RT I-IV) RT Menengah (RT I) RT Menengah (RT I-IV) RT Tinggi (RT I)

0.59719

0.006

0.004

0.002 Rp. 0,149 M Rp.0,37 M Subsidi Subsidi RT I Subsidi RT I-IV Rp.0,74 M

0.597185 aw al Rp. 0,149 M Rp.0,37 M Rp.0,74 M
0.002

RT Tinggi (RT I-IV)
Rp. 0,149 M Rp.0,37 M Rp.0,74 M

Subsidi RT I RT I-IV

0

119

menengah dan RT pendapatan tinggi yang berkurang, pangsa pendapatan kelompok RT miskin menjadi bertambah sehingga kesenjangan pendapatan relatif membaik pada seluruh skenario. Hal ini terlihat dari meningkatnya rasio pangsa pendapatan RT berpendapatan terendah terhadap RT berpendapatan tertinggi. Walaupun terlihat distribusi pendapatan menjadi lebih baik jika subsidi diberikan pada RT I daripada jika diberikan pada RT I-IV, tetapi perubahannya tidak signifikan. Selengkapnya, hal itu dapat dilihat pada Tabel 5.10, Gambar 5.11, Gambar 5.12 dan Gambar 5.13. Secara umum, pemberian subsidi baik pada RT termiskin maupun seluruh RT miskin hanya berdampak signifikan terhadap pertumbuhan rasio pendapatan RT miskin terhadap RT berpendapatan tinggi jika subsidi pusat sebesar Rp.0,74 miliar. Kondisi rasio Gini yang membaik dan pangsa pendapatan kelompok RT miskin yang meningkat dengan semakin besarnya subsidi menegaskan peran subsidi yang signifikan dalam mengurangi kesenjangan pendapatan. 5.3.5 Simulasi V : Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan dan Penyediaan Subsidi dari Pajak Air Minum Perpipaan Simulasi V merupakan simulasi gabungan antara investasi air minum perpipaan dan subsidi. Simulasi dilakukan dengan memadankan kombinasi investasi air minum perpipaan sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen dengan subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen. Sebagaimana simulasi sebelumnya, pada simulasi ini dilakukan pembedaan penerima subsidi, yaitu kelompok penerima pertama (RT I) dan kelompok penerima kedua (RT I–IV). A. Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan (10 persen) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan Peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 10 persen disertai subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan menghasilkan laju pertumbuhan ekonomi yang meningkat sebesar minimum 0,0468 persen (pajak 50%, subsidi bagi RT I) dan maksimum 0,0470 persen (pajak 10%, subsidi bagi RT I) dan 0,0463 persen (pajak 50%, subsidi bagi RT I-IV) sampai 0,0469 persen (pajak 10%, subsidi bagi RT I-IV). Peningkatan subsidi dari pajak air minum perpipaan, baik untuk RT I maupun RT I-IV, tidak mengakibatkan perubahan yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
120

Tabel 5.11 Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan 10 Persen dan Penyediaan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan
Skenario 5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 5.6 Pertumbuhan Ekonomi • PDRB (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Pendapatan per Kelompok RT Miskin • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Menengah • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Tinggi • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Distribusi Pendapatan • Rasio Gini • Pertumbuhan (%)* • Rasio Pendapatan RT miskin/RT tinggi • Pertumbuhan (%)** Sumber: Hasil Simulasi 0,597198 0,1889 0,597200 0,0002 0,18890 0,597200 0,0003 0,18890 0,597197 - 0,0002 0,18890 0,597198 - 0,00001 0,18890 0,597192 - 0,001 0,18891 0,004 0,597195 - 0,0006 0,18891 0,004 13.168,8 11,2583 3.285.949 13.175,3 6,478 11,2583 3.287.565 0,049 34.105,0 16,367 29,1427 11.096.918 0,048 69.747,4 34,726 59,5990 53.493.218 0,050 13.175,3 6,466 11,2583 3.287.562 0,049 34.105,0 16,338 29,1427 11.096.908 0,048 69.747,3 34,656 59,5990 53.493.165 0,050 13.175,5 6,679 11,2584 3.287.615 0,051 34.105,0 16,312 29,1426 11.096.900 0,048 69.747,3 34,596 59,5989 53.493.118 0,050 13.1750,5 6,651 11,2584 3.287.608 0,050 34.104,9 16,234 29,1426 11.096.874 0,048 69.747,1 34,436 59,5987 53.492.996 0,049 13.175,8 7,010 11,2587 3.287.698 0,053 34.104,9 16,220 29,1426 11.096.870 0,048 69.747,1 34,386 59,5987 53.492.957 0,049 13.175,8 6,955 11,2587 3.287.684 0,053 34.104,7 16,064 29,1426 11.096.819 0,047 69.746,7 34,066 59,5987 53.4927128 0,049 194.225 194.315,9 90,9 0.0470 194.315,7 90,7 0,0469 194.315,7 90,7 0 ,0469 194.315,3 90,3 0,0467 194.315,4 90,4 0,0468 194.314,6 89,6 0,0463 Peningkatan Pajak 10% Kondisi Awal Investasi AM perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV Peningkatan Pajak 25% Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV Peningkatan Pajak 50% Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV

34.088,7 29,1431 11.091.592

69.712,7 59,5987 53.466.585

0,001 0,001 - 0,001 - 0,001 * Perubahan positip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal ** Perubahan negatip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal
Gamb ar 5.15 R asio Gini Skenario Invest asi ( 10 %) d an Sub sid i d ari Pening kat an Pajak A ir M inum Perp ip aan
0.597201
0.053 0.052

Gamb ar 5.14 Pert umb uhan Eko no mi Skenario Invest asi ( 10 %) d an Sub sid i d ari Pening kat an Pajak A ir M inum Perp ip aan
0.047

Gambar 5.16 Pertumbuhan Pendapatan RT/Kapita berdasar Skenario Investasi (10%) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum

RT Miskin (RT I) RT Miskin (RT I-IV) RT Menengah (RT I)

0.0468

0.597199
0.051

0.0466

0.597197

0.05 0.049

0.597195
0.0464

0.048 0.047

0.597193
0.0462 Pajak 10% Pajak 25% P aj ak Pajak 50%
0.046

RT Menengah (RT IIV) RT Tinggi (RT I)
Pajak 10% Pajak 25% Pajak 50%

0.597191 awal Paj ak 10% Pajak 25% Pajak 50%

0.045 0.044

RT Tinggi (RT I-IV)

Investasi dan Subsidi RT I

Investasi dan Subsi di RTI-IV

RT I

RT I-IV

121

Walaupun pada awalnya pertumbuhan pendapatan per kapita rumah tangga miskin lebih kecil daripada rumah tangga pendapatan tinggi, tetapi dengan semakin meningkatnya pajak air minum, pertumbuhan pendapatan per kapita rumah tangga miskin cenderung meningkat lebih besar daripada rumah tangga menengah dan rumah tangga pendapatan tinggi. Akibatnya, pangsa pendapatan rumah tangga miskin semakin meningkat sehingga rasio Gini semakin membaik. Walaupun demikian, peningkatan pangsa pendapatan rumah tangga miskin tidak mengakibatkan perubahan yang berarti terhadap rasio Gini maupun rasio pendapatan rumah tangga miskin terhadap rumah tangga pendapatan tinggi. Secara umum, peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 10 persen yang disertai penyediaan subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen, baik bagi RT I maupun RT I-IV, hanya berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, peningkatan subsidi dari pajak air minum perpipaan tidak berdampak signifikan terhadap perubahan pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan. B. Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan (25 persen) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan Peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 25 persen disertai subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan mengakibatkan laju pertumbuhan ekonomi yang meningkat sebesar minimum 0,1107 persen (pajak 50%, subsidi bagi RT I) dan maksimum 0,1111 persen (pajak 10%, subsidi bagi RT I) dan 0,1103 persen (pajak 50%, subsidi bagi RT I-IV) sampai 0,1110 persen (pajak 10%, subsidi bagi RT I-IV). Peningkatan subsidi dari pajak air minum perpipaan, baik untuk RT I maupun RT I-IV, tidak mengakibatkan perubahan yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Selengkapnya, hal itu dapat dilihat pada Tabel 5.12. Pertumbuhan pendapatan per kapita rumah tangga miskin meningkat dengan semakin meningkatnya pajak air minum, sementara pertumbuhan pendapatan per kapita rumah tangga pendapatan tinggi cenderung menurun. Sementara itu, pendapatan per kapita rumah tangga menengah cenderung tetap. Akibatnya, pangsa pendapatan rumah tangga miskin semakin meningkat sehingga rasio Gini semakin membaik. Walaupun demikian, peningkatan pangsa pendapatan rumah tangga miskin tidak mengakibatkan perubahan yang berarti terhadap rasio Gini maupun rasio pendapatan rumah tangga miskin terhadap

122

Tabel 5.12 Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan 25 Persen dan Penyediaan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan
Skenario 5.7 5.8 5.9 5.10 5.11 5.12 Pertumbuhan Ekonomi • PDRB (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Pendapatan per Kelompok RT Miskin • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Menengah • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Tinggi • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Distribusi Pendapatan • Rasio Gini • Pertumbuhan (%)* • Rasio Pendapatan RT miskin/RT tinggi • Pertumbuhan (%)** Sumber: Hasil Simulasi 0,597198 0,1889 0,597204 0,001 0,18890 - 0,003 0,597204 0,0011 0,18889 - 0,003 0,597201 0,0005 0,18890 - 0,001 0,597203 0,0007 0,18889 - 0,001 0,597197 0,0003 0,18890 0,002 0,597199 0,0002 0,18890 0,002 194.225 194.440,3 215,3 0.1111 194.440,2 215,2 0,1110 194.440,0 215,0 0 ,1109 194.439,6 214,6 0,1107 194.439,7 214,7 0,1107 194.438,8 213,8 0,1103 Peningkatan Pajak 10% Kondisi Awal Investasi AM perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV Peningkatan Pajak 25% Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV Peningkatan Pajak 50 % Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV

13.168,8 11,2583 3.285.949

13.183,9 15,117 11,2581 3.289.721 0,115 34.127,4 38,700 29,1423 11.104.184 0,113 69.794,8 82,096 59,5996 53.529.549 0,118

13.183,9 15,103 11,2581 3.289.717 0,115 34.127,3 38,660 29,1423 11.104.171 0,113 69.794,7 82,026 59,5996 53.529.495 0,118

13.184,1 15,304 11,2583 3.289.767 0,116 34.127,3 38,616 29,1422 11.104.157 0,113 69.794,6 81,916 59,5995 53.529.411 0,117

13.184,1 15,276 11,2583 3.289.760 0,116 34.127,2 38,538 29,1422 11.104.132 0,113 69.794,4 81,746 59,5995 53.529.280 0,117

13.184,5 15,635 11,2586 3.289.850 0,119 34.127,2 38,510 29,1421 11.104.122 0,113 69.794,4 81,686 59,5993 53.529.234 0,117

13.184,4 15,577 11,2586 3.289.836 0,118 34.127,0 38,364 29,1421 11.104.075 0,112 69.794,0 81,366 59,5993 53.528.989 0,117

34.088,7 29,1431 11.091.592

69.712,7 59,5987 53.466.585

* Perubahan positip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal ** Perubahan negatip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal

Gamb ar 5.17 Pert umb uhan Eko no mi Skenario Invest asi ( 2 5%) d an Sub sid i d ari Pening kat an Pajak A ir M inum Perp ip aan
0.1112

Gambar 5.18 Rasio Gini Skenario Investasi (25%) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan

Gambar 5.19 Pertum buhan Pendapatan RT/Kapita berdasar Skenario Investasi (25%) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum

0.597204
0.111

0.119

RT Miskin (RT I) RT Miskin (RT I-IV) RT Menengah (RT I)

0.1108

R asio G in i

0.597202 0.5972

0.117

0.1106

0.115

0.1104

0.597198
0.113

0.1102 Paj ak 10% Pajak 25% P aj ak Pajak 50%

RT Menengah (RT IIV) RT Tinggi (RT I)

0.597196 aw al Pajak 10% RT I Pajak 25% RT I-IV Pajak 50%
0.111 Pajak 10% Pajak 25% Pajak 50%

RT Tinggi (RT I-IV)

Investasi dan Subsidi RT I

Investasi dan Subsi di RTI-IV

123

rumah tangga pendapatan tinggi. Selengkapnya, hal itu dapat dilihat pada Tabel 5.12, Gambar 5.17, Gambar 5.18, dan Gambar 5.19. Secara umum, peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 25 persen yang disertai penyediaan subsidi dari pajak air minum perpipaan sebesar 10 persen, 25 persen dan 50 persen, baik bagi RT I maupun RT I-IV, hanya berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, peningkatan subsidi tidak memberi dampak yang berarti terhadap perubahan pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan. Jika dibandingkan dengan simulasi sebelumnya ketika investasi air minum perpipaan yang sebesar 10 persen, ternyata hasilnya tidak berbeda kecuali bahwa laju pertumbuhan ekonomi relatif lebih besar sementara tidak terjadi perubahan distribusi pendapatan yang signifikan. Hal itu menunjukkan bahwa subsidi yang disediakan walaupun tidak mengakibatkan membaiknya distribusi pendapatan tetapi tetap dapat mempertahankan distribusi pendapatan awal. C. Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan (50 persen) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan Peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen disertai subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan menghasilkan laju pertumbuhan ekonomi yang meningkat sebesar minimum 0,2036 persen (pajak 50%, subsidi bagi RT I) dan maksimum 0,2041 persen (pajak 10%, subsidi bagi RT I), dan 0,2032 persen (pajak 50%, subsidi bagi RT I-IV) sampai 0,2040 persen (pajak 10%, subsidi bagi RT I-IV). Peningkatan subsidi dari pajak air minum perpipaan, baik untuk RT I maupun RT I-IV, tidak mengakibatkan perubahan yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Selengkapnya, hal itu dapat dilihat pada Tabel 5.13. Ketika subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan sebesar 10 persen dan 25 persen, pangsa pendapatan RT miskin lebih rendah dari kondisi awal sehingga rasio pendapatan RT miskin terhadap RT pendapatan tinggi menjadi lebih rendah. Akibatnya, distribusi pendapatan menjadi semakin buruk secara signifikan. Walaupun pertumbuhan pendapatan per kapita RT miskin meningkat dengan semakin meningkatnya pajak air minum, sementara pertumbuhan pendapatan per kapita RT menengah dan RT pendapatan tinggi cenderung menurun, tetapi peningkatan subsidi sampai sebesar 50 persen hanya

124

Tabel 5.13 Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan 50 Persen dan Penyediaan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan
Skenario 5.13 5.14 5.15 5.16 5.17 5.18 Pertumbuhan Ekonomi • PDRB (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Pendapatan per Kelompok RT Miskin • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Menengah • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Tinggi • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Distribusi Pendapatan • Rasio Gini • Pertumbuhan (%)* • Rasio Pendapatan RT miskin/RT tinggi • Pertumbuhan (%)** Sumber: Hasil Simulasi 0,597198 0,1889 0,597211 0,002 0,18889 - 0,006 0,597211 0,0022 0,18889 - 0,006 0,597209 0,0016 0,18889 - 0,005 0,597209 0,0018 0,18889 - 0,005 0,597203 0,0008 0,18890 - 0,002 0,597206 0,0013 0,18890 - 0,002 194.225 194.621,1 396,1 0.2041 194.620,9 395,9 0,2040 194.620,7 395,7 0 ,2039 194.620,3 395,3 0,2037 194.620,1 395,1 0,2036 194.619,3 394,3 0,2032 Peningkatan Pajak 10% Kondisi Awal Investasi AM perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV Peningkatan Pajak 25% Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV Peningkatan Pajak 50 % Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV

13.168,8 11,2583 3.285.949

13.196,5 27,661 11,2579 3.292.851 0,210 34.159,8 71,132 29,1417 11.114.737 0,209 69.863,6 150,896 59,6005 53.582.316 0,216

13.196,5 27,647 11,2579 3.292.847 0,210 34.159,8 71,091 29,1417 11.114.724 0,209 69.863,5 150,826 59,6005 53.582.262 0,216

13.196,7 27,847 11,2581 3.292.897 0,211 34.159,7 71,034 29,1416 11.114.705 0,208 69.863,415 150,706 59,6003 53.582.170 0,216

13.196,6 27,819 11,2581 3.292.890 0,211 34.159,6 70,967 29,1416 11.114.683 0,208 69.863,2 150,546 59,6003 53.582047 0,216

13.197,0 28,162 11,2583 3.292.976 0,214 34.159,6 70,891 29,1415 11.114.658 0,208 69.863,1 150,396 59,6001 53.581932 0,216

13.196,9 28,104 11,2583 3.292.961 0,213 34.159,4 70,745 29,1415 11.114.611 0,208 69.862,7 150,056 59,6001 53.581.671 0,215

34.088,7 29,1431 11.091.592

69.712,7 59,5987 53.466.585

* Perubahan positip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal ** Perubahan negatip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal
Gambar 5.21 Rasio Gini Skenario Investasi (50%) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan
0.597211 0.597209 0.597207

Gamb ar 5.2 0 Pert umb uhan Eko no mi Skenario Invest asi ( 50 %) d an Sub sid i d ari Pening kat an Pajak A ir M inum Perp ip aan

Gambar 5.22 Pertumbuhan Pendapatan RT/Kapita berdasar Skenario Investasi (50%) dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum
0.217

0.2041 0.2039 0.2037

RT Miskin (RT I)
0.215

RT Miskin (RT I-IV)
0.213

0.597205

0.2035
0.597203

RT Menengah (RT I)
0.211
0.597201

0.2033 0.2031 Pajak 10% Pajak 25% P aj ak Pajak 50%
0.597199 0.597197 awal Pajak 10% Pajak 25% Pajak 50%

0.209

RT Menengah (RT IIV) RT Tinggi (RT I)

0.207 Pajak 10% Pajak 25% Pajak 50%

RT Tinggi (RT I-IV)

Investasi dan Subsidi RT I

Investasi dan Subsidi RTI-IV
RT I RT I-IV

125

dapat mengembalikan pangsa pendapatan RT miskin seperti kondisi awal. Selengkapnya, hal itu dapat dilihat pada Tabel 5.13, Gambar 5.20, Gambar 5.21, dan Gambar 5.22 Secara umum, peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen yang disertai penyediaan subsidi, baik bagi RT I maupun RT I-IV, berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi maupun distribusi pendapatan. Akan tetapi, dampaknya terhadap distribusi pendapatan hanya signifikan jika subsidi dari pajak air minum perpipaan sebesar 10 persen dan 25 persen. Jika dibandingkan dengan simulasi sebelumnya ketika investasi air minum perpipaan yang sebesar 10 persen dan 25 persen, ternyata hasilnya berbeda. Peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen yang disertai subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan sebesar 10 persen dan 25 persen mengakibatkan semakin memburuknya distribusi pendapatan. Hal itu menunjukkan bahwa subsidi yang disediakan tidak dapat mengimbangi pengaruh investasi air minum perpipaan. 5.3.6 Simulasi VI : Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan dan Penyediaan Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat Simulasi VI merupakan simulasi gabungan antara investasi air minum perpipaan dan subsidi. Subsidi dilakukan dengan memadankan kombinasi investasi air minum perpipaan sebesar 10 persen, 25 persen, 50 persen dengan subsidi dari dana pemerintah pusat yang setara dengan pajak air minum perpipaan 10 persen, 25 persen dan 50 persen, yaitu sebesar Rp.0,149 miliar, Rp.0,37 miliar, dan Rp.0,74 miliar. Sebagaimana simulasi sebelumnya, pada simulasi ini dilakukan pembedaan penerima subsidi, yaitu kelompok penerima tipe pertama (RT I) dan kelompok penerima tipe kedua (RT I-IV). A. Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan (10 persen) dan Subsidi dari Pemerintah Pusat Peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 10 persen disertai subsidi dari pemerintah pusat menghasilkan laju pertumbuhan ekonomi yang meningkat sebesar minimum 0,0493 persen dan maksimum 0,0522 persen (subsidi bagi RT I) dan minimum 0,0477 persen sampai maksimum 0,0504 persen (subsidi bagi RT I-IV). Peningkatan subsidi dari pemerintah pusat, baik untuk RT I maupun RT I-IV, tidak mengakibatkan perubahan yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

126

Tabel 5.14 Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan 10 Persen dan Penyediaan Subsidi dari Pemerintah Pusat
Skenario 6.1 6.2 6.3 6.4 6.5 6.6 Pertumbuhan Ekonomi • PDRB (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Pendapatan per Kelompok RT Miskin • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Menengah • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Tinggi • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Distribusi Pendapatan • Rasio Gini • Pertumbuhan (%)* • Rasio Pendapatan miskin/RT tinggi • Pertumbuhan (%)** Sumber: Hasil Simulasi 0,597198 RT 0,1889 0,597200 0,0003 0,1889 - 0,001 0,597200 0,0003 0,1889 - 0,001 0,597197 - 0,0002 0,1889 0,001 0,597198 - 0,0001 0,1889 0,001 0,597193 - 0,0009 0,18891 0,005 0,597194 - 0,0006 0,18891 0,005 194.225 194.320,4 95,4 0.0493 194.317,3 92,3 0,0477 194.322,4 97,4 0,0504 194.319,2 94,2 0,0487 194.326,0 101,0 0,0522 194.322,4 97,4 0,0504 Dana Pusat Rp. 0,149 M Kondisi Awal Investasi AM perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV Dana Pusat Rp. 0,370 M Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV Dana Pusat Rp. 0,74 M Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV

13.168,8 11,2583 3.285.949

13.175,6 6,790 11,2583 3.287.643 0,052 34.105,8 17,169 29,1427 11.097.179 0,050 69.749,1 36,456 59,5991 53.494.545 0,052

13.175,4 6,577 11,2583 3.287.590 0,050 34.105,3 16,622 29,1427 11.097.001 0,049 69.748,0 58,475 59,5990 53.493.640 0,051

13.176,0 7,141 11,2585 3.287.731 0,054 34.106,2 17,508 29,1426 11.097.209 0,051 69.749,9 37,186 59,5990 53.495.105 0,053

13.175,8 6,924 11,2585 3.287.676 0,053 34.105,6 16,942 29,1426 11.097.105 0,050 69.748,7 35,976 59,5989 53.494177 0,052

13.176,6 7,743 11,2587 3.287.881 0,059 34.106,8 18,110 29,1425 11.097.485 0,053 69.751,2 38,496 59,5988 53.496.110 0,055

13.176,3 7,502 11,2587 3.287.821 0,057 34.106,2 17,484 29,1425 11.097.281 0,051 69.749,8 37,146 59,5988 53.495.074 0,053

34.088,7 29,1431 11.091.592

69.712,7 59,5987 53.466.585

* Perubahan positip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal ** Perubahan negatip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal
Gamb ar 5.2 4 R asio Gini Skenario Invest asi ( 10 %) d an Sub sid i d ari D ana Pemerint ah Pusat
0.597201
0.06

Gamb ar 5.2 3 Pert umb uhan Eko no mi Skenario Invest asi ( 10 %) d an Sub sid i d ari D ana Pemerint ah Pusat
0.0525

Gambar 5.25 Pertumbuhan Pendapatan RT/Kapita berdasar Skenario Investasi (10%) dan Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat

0.0515

RT Miskin (RT I)
0.597199

0.0505
0.597197

0.055

RT Miskin (RT I-IV) RT Menengah (RT I)

0.0495
0.597195

0.0485
0.597193

0.05

0.0475 0,149 M 0,37 M P aj ak 0,74 M
0.597191 awal 0,149 M 0,37 M 0,74 M
0.045 0,149 M 0,37 M 0,74 M

RT Menengah (RT IIV) RT Tinggi (RT I) RT Tinggi (RT I-IV)

Investasi dan Subsidi RT I

Investasi dan Subsidi RTI-IV

RT I

RT I-IV

127

Walaupun pada awalnya pertumbuhan pendapatan per kapita rumah tangga miskin relatif sama dengan rumah tangga pendapatan tinggi, tetapi dengan semakin meningkatnya pajak air minum, pertumbuhan pendapatan per kapita rumah tangga miskin cenderung meningkat lebih besar daripada rumah tangga menengah dan rumah tangga pendapatan tinggi. Akibatnya, pangsa pendapatan rumah tangga miskin semakin meningkat sehingga rasio Gini semakin membaik. Walaupun demikian, peningkatan pangsa pendapatan rumah tangga miskin tidak mengakibatkan perubahan yang berarti terhadap rasio Gini dan rasio pendapatan rumah tangga miskin terhadap rumah tangga pendapatan tinggi. Secara umum, peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 10 persen yang disertai penyediaan subsidi dari pemerintah pusat sebesar Rp.0,149 miliar, Rp.0,37 miliar dan Rp.0,74 miliar, baik bagi RT I maupun RT I-IV, hanya berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, ketika subsidi sebesar Rp.0,74 miliar terjadi perubahan signifikan pada rasio pendapatan rumah tangga miskin terhadap rumah tangga pendapatan tinggi sehingga distribusi pendapatan semakin baik. B. Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan (25 persen) dan Subsidi dari Pemerintah Pusat Peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 25 persen disertai subsidi dari pemerintah pusat menghasilkan laju pertumbuhan ekonomi yang meningkat sebesar minimum 0,1134 persen dan maksimum 0,1163 persen (subsidi bagi RT I) dan minimum 0,1118 persen sampai maksimum 0,1144 persen (subsidi bagi RT I-IV). Peningkatan subsidi dari pemerintah pusat, baik untuk RT I maupun RT I-IV, tidak mengakibatkan perubahan yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Selengkapnya, hal itu dapat dilihat pada Tabel 5.15. Pada saat subsidi mencapai Rp.0,37 miliar, pertumbuhan pendapatan per kapita RT miskin cenderung meningkat lebih besar daripada RT menengah, tetapi masih lebih

rendah daripada RT pendapatan tinggi. Akan tetapi, setelah subsidi mencapai Rp.0,74 miliar, pertumbuhan pendapatan per kapita RT miskin telah melebihi pertumbuhan pendapatan per kapita RT menengah dan RT pendapatan tinggi. Akibatnya, pangsa pendapatan RT miskin semakin meningkat, dari kondisi yang lebih buruk menjadi lebih baik dari kondisi awal. Penambahan subsidi tersebut ternyata hanya mengakibatkan perubahan rasio Gini dan rasio pendapatan rumah tangga miskin terhadap rumah tangga

128

Tabel 5.15 Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan 25 Persen dan Penyediaan Subsidi dari Pemerintah Pusat
Skenario 6.7 6.8 6.9 6.10 6.11 6.12 Pertumbuhan Ekonomi • PDRB (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Pendapatan per Kelompok RT Miskin • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Menengah • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Tinggi • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Distribusi Pendapatan • Rasio Gini • Pertumbuhan (%)* • Rasio Pendapatan RT miskin/RT tinggi • Pertumbuhan (%)** Sumber: Hasil Simulasi 0,597198 0,1889 0,597204 0,001 0,1889 - 0,003 0,597205 0,001 0,1889 - 0,003 0,597201 0,0006 0,1889 - 0,001 0,597202 0,0007 0,1889 - 0,001 0,597197 - 0,0002 0,1889 0,001 0,597199 0,0001 0,1889 0,001 194.225 194.444,9 219,9 0.1134 194.441,7 216,7 0,1118 194.447,0 222,0 0,1145 194.443,6 218,6 0,1128 194.450,5 225,5 0,1163 194.446,8 221,8 0,1144 Dana Pusat Rp. 0,149 M Kondisi Awal Investasi AM perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV Dana Pusat Rp. 0,370 M Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV Dana Pusat Rp. 0,74 M Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV

13.168,8 11,2583 3.285.949

13.184,3 15,428 11,2581 3.289.798 0,117 34.128,2 39,505 29,1423 11.104.446 0,116 69.796,5 83,836 59,5996 53.530.883 0,120

13.184,0 15,213 11,2581 3.289.745 0,116 34.127,6 38,943 29,1423 11.104.263 0,114 69.795,3 82,646 59,5996 53.529.971 0,119

13.184,6 15,786 11,2583 3.289.888 0,120 34.128,5 39,854 29,1422 11.104.560 0,117 69.797,3 84,596 59,5995 53.531.466 0,121

13.184,4 15,560 11,2583 3.289.831 0,118 34.128,0 39,273 29,1422 11.104.371 0,115 69.796,0 83,336 59,5995 53.530500 0,120

13.185,2 16,383 11,2585 3.290.037 0,124 34.129,1 40,448 29,1421 11.104.753 0,119 69.798,6 85,886 59,5994 53.532.456 0,123

13.185,0 16,136 11,2586 3.289.975 0,122 34.128,5 39,811 29,1421 11.104.546 0,117 69.797,2 84,496 59,5994 53.531.390 0,121

34.088,7 29,1431 11.091.592

69.712,7 59,5987 53.466.585

* Perubahan positip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal ** Perubahan negatip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal

Gamb ar 5.2 6 Pert umb uhan Eko no mi Skenario Invest asi ( 2 5%) d an Sub sid i d ari D ana Pemerint ah Pusat
0.597206

Gamb ar 5.2 7 R asio Gini Skenario Invest asi ( 2 5%) d an Sub sid i d ari D ana Pemerint ah Pusat

Gambar 5.28 Pertumbuhan Pendapatan RT per Kapita berdasar Skenario Investasi (25%) dan Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat

0.11575
0.597204
0.123

RT Miskin (RT I) RT Miskin (RT I-IV)
0.597202

0.11475

0.11375
0.5972

RT Menengah (RT I)
0.118

0.11275
0.597198

0.11175 0,149 M 0,37 M P aj ak 0,74 M
0.597196 awal 0,149 M 0,37 M 0,74 M
0.113 0,149 M 0,37 M 0,74 M

RT Menengah (RT IIV) RT Tinggi (RT I) RT Tinggi (RT I-IV)

Investasi dan Subsidi RT I

Investasi dan Subsidi RTI-IV

RT I

RT I-IV

129

pendapatan tinggi yang sangat kecil. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.15, Gambar 5.26, Gambar 5.27, dan Gambar 5.28. Secara umum, peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 25 persen yang disertai penyediaan subsidi dari pemerintah pusat sebesar Rp.0,149 miliar, Rp.0,37 miliar dan Rp.0,74 miliar, baik bagi RT I maupun RT I-IV, hanya berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, peningkatan subsidi tidak memberi dampak yang berarti terhadap perubahan pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan. Jika dibandingkan dengan simulasi sebelumnya ketika investasi air minum perpipaan yang sebesar 10 persen, ternyata hasilnya sedikit berbeda. Selain bahwa laju pertumbuhan ekonomi relatif lebih besar, pada simulasi ini tidak terjadi perubahan

distribusi pendapatan yang signifikan. Hal itu menunjukkan bahwa subsidi yang disediakan walaupun tidak mengakibatkan membaiknya distribusi pendapatan tetapi tetap dapat mempertahankan distribusi pendapatan awal. C. Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan (50 persen) dan Subsidi dari Pemerintah Pusat Peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen disertai subsidi dari pemerintah pusat menghasilkan laju pertumbuhan ekonomi yang meningkat sebesar minimum 0,2065 persen dan maksimum 0,2094 persen (subsidi bagi RT I) dan minimum 0,2048 persen sampai maksimum 0,2075 persen (subsidi bagi RT I-IV). Peningkatan subsidi dari pemerntah pusat, baik untuk RT I maupun RT I-IV, tidak mengakibatkan perubahan yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Semakin besar subsidi dari pusat, pertumbuhan pendapatan per kapita rumah tangga miskin semakin meningkat. Pertumbuhan pendapatan per kapita rumah tangga miskin relatif lebih tinggi daripada pendapatan per kapita rumah tangga menengah tetapi masih lebih rendah daripada pendapatan per kapita rumah tangga pendapatan tinggi. Pertumbuhan pendapatan per kapita rumah tangga pendapatan tinggi cenderung tetap. Akibatnya, pangsa pendapatan rumah tangga miskin semakin meningkat dari kondisi lebih rendah dari kondisi awal menjadi kembali pada pangsa semula. Di pihak lain, pangsa pendapatan rumah tangga pendapatan tinggi menjadi lebih kecil. Peningkatan pangsa rumah tangga miskin tersebut ternyata tidak mengakibatkan perubahan rasio Gini yang

130

Tabel 5.16 Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan Skenario Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan 50 Persen dan Penyediaan Subsidi dari Pemerintah Pusat
Skenario 6.13 6.14 6.15 6.16 6.17 6.18 Pertumbuhan Ekonomi • PDRB (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pertumbuhan (%) Pendapatan per Kelompok RT Miskin • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Menengah • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Tinggi • Total pendapatan (Rp. M) • Perubahan (Rp. M) • Pangsa (%) • Pendapatan/kapita (Rp.) • Pertumbuhan (%) Distribusi Pendapatan • Rasio Gini • Pertumbuhan (%)* • Rasio Pendapatan RT miskin/RT tinggi • Pertumbuhan (%)** Sumber: Hasil Simulasi 0,597198 0,1889 0,597211 0,002 0,18889 - 0,007 0,597211 0,002 0,18889 - 0,006 0,597208 0,0017 0,18889 - 0,005 0,597209 0,0018 0,18889 - 0,005 0,597204 0,0009 0,1889 - 0,002 0,597205 0,0012 0,1889 - 0,002 194.225 194.625,7 400,7 0.2065 194.622,5 397,5 0,2048 194.627,8 402,8 0,2076 194.624,4 399,4 0,2058 194.631,3 406,3 0,2094 194.627,6 402,6 0,2075 Dana Pusat Rp. 0,149 M Kondisi Awal Investasi AM perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV Dana Pusat Rp. 0,370 M Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV Dana Pusat Rp. 0,74 M Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I Investasi AM Perpipaan dan Subsidi RT I-IV

13.168,8 11,2583 3.285.949

13.196,8 27,978 11,2579 3.292.930 0,212 34.160,6 71,946 29,1416 11.115.002 0,211 69.865,3 152,676 59,6005 53.583.681 0,219

13.196,6 27,759 11,2579 3.292.875 0,211 34.160,0 71,376 29,1416 11.114.816 0,209 69.864,1 151,446 59,6005 53.582.737 0,217

13.197,2 28,336 11,2580 3.293.019 0,215 34.161,0 72,305 29,1416 11.115.119 0,212 69.866,1 153,436 59,6004 53.584.264 0,220

13.196,9 28,105 11,2581 3.292.962 0,213 34.160,4 71,706 29,1416 11.114.924 0,210 69.864,8 152,146 59,6004 53.583.274 0,218

13.197,8 28,933 11,2583 3.293.168 0,220 34.161,6 72,890 29,1414 11.115.309 0,214 69.867,4 154,726 59,6002 53.585.253 0,222

13.197,5 28,685 11,2583 3.293.106 0,218 34.160,9 72,249 29,1415 11.115.100 0,212 69.866,0 153,326 59,6002 53.584.179 0,220

34.088,7 29,1431 11.091.592

69.712,7 59,5987 53.466.585

* Perubahan positip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal ** Perubahan negatip menunjukkan kesenjangan memburuk dibanding kondisi awal

Gamb ar 5.2 9 Pert umb uhan Eko no mi Skenario Invest asi ( 50 %) d an Sub sid i d ari D ana Pemerint ah Pusat
0.597211

Gamb ar 5.3 0 R asio Gini Skenario Invest asi ( 50 %) d an Sub sid i d ari D ana Pemerint ah Pusat
0.223

Gambar 5.31 Pertumbuhan Pendapatan RT/Kapita berdasar Skenario Investasi (50%) dan Subsidi dari Dana Pemerintah Pusat

0.2085

RT Miskin (RT I) RT Miskin (RT I-IV) RT Menengah (RT I)
0.597201
0.213

0.597206

0.218

0.2065

0.2045 0,149 M 0,37 M P aj ak 0,74 M
0.597196 awal 0,149 M 0,37 M 0,74 M
0.208 0,149 M 0,37 M 0,74 M

RT Menengah (RT IIV) RT Tinggi (RT I) RT Tinggi (RT I-IV)

Investasi dan Subsidi RT I

Investasi dan Subsidi RTI-IV

RT I

RT I-IV

131

signifikan, tetapi rasio pendapatan rumah tangga miskin terhadap rumah tangga pendapatan tinggi menjadi lebih kecil. Kondisi ini dipengaruhi oleh relatif besarnya investasi air minum perpipaan daripada subsidi yang diberikan. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.16, Gambar 5.29, Gambar 5.30, dan Gambar 5.31. Secara umum, peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen yang disertai penyediaan subsidi, baik bagi RT I maupun RT I-IV, berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi maupun distribusi pendapatan. Akan tetapi, dampaknya terhadap distribusi pendapatan hanya signifikan jika subsidi dari pemerintah pusat sebesar Rp.0,149 miliar dan Rp.0,37 miliar sehingga distribusi pendapatan menjadi lebih buruk. Jika dibandingkan dengan simulasi sebelumnya ketika investasi air minum perpipaan yang sebesar 10 persen dan 25 persen, ternyata hasilnya berbeda. Peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen yang disertai subsidi dari pemerintah pusat sebesar Rp.0,149 miliar dan Rp.0,37 miliar mengakibatkan semakin memburuknya distribusi pendapatan. Hal itu menunjukkan bahwa subsidi yang disediakan tidak dapat mengimbangi pengaruh investasi air minum perpipaan. 5.4 Rangkuman Pada subbab ini akan dibahas rangkuman dari keseluruhan pembahasan dari bab ini berdasarkan beberapa fokus utama, yaitu pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan, dan kelompok penerima manfaat. 5.4.1 A. Pertumbuhan Ekonomi Investasi Air Minum Investasi air minum perpipaan berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang berkisar antara 0,047 persen (investasi 10 persen) sampai 0,203 persen (investasi 50 persen). Pertumbuhan ekonomi yang diakibatkan oleh investasi air minum nonperpipaan relatif kecil sekali, berkisar antara 0,0003 persen (investasi 10 persen) sampai 0,0008 persen (investasi 50 persen). Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.17. Hasil simulasi ini menegaskan bahwa investasi air minum perpipaan mendorong pertumbuhan ekonomi. Di pihak lain, dampak investasi air minum nonperpipaan relatif tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

132

Tabel 5.17 Rekapitulasi Pertumbuhan Ekonomi Simulasi Peningkatan Investasi Air Minum
Simulasi Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan Peningkatan Investasi Air Minum Non Perpipaan 10 persen 25 persen 50 persen 10 persen 25 persen 50 persen Pertumbuhan Ekonomi (%) 0,047 0,110 0,203 0,0003 0,0005 0,0008 Peningkatan investasi air minum perpipaan berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Di pihak lain, peningkatan investasi air minum nonperpipaan tidak berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi. Kesimpulan Peningkatan investasi mengakibatkan membaiknya pertumbuhan ekonomi Peningkatan investasi tidak mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan

Kesimpulan

Sumber: Tabel 5.6 dan Tabel 5.7. Keterangan: pertumbuhan ekonomi dianggap signifikan jika proporsi > ⏐0,01%⏐

Perbedaan
Gambar 5.34 Gambar 5.32 Gambar 5.34 Dampak Investasi Air Minum Dampak Investasi Air Minum terhadap Pertumbuhan Ekonomi terhadap Pertumbuhan Ekonomi
P ertu m b u h an E ko n o m (% P ertu m b u h an E ko n o m ii (% )) 0.25 0.25 0.2 0.2 0.15 0.15 0.1 0.1 0.05 0.05 00

dampak

terhadap

pertumbuhan ekonomi antara investasi air minum perpipaan dan nonperpipaan dipengaruhi oleh bentuk investasi

diantara keduanya. Pertama, investasi air minum perpipaan dilakukan dalam

jumlah besar dan masif sementara air minum
10% 10% 25% 25% peningkatan investasi peningkatan investasi perpipaan non perpipaan perpipaan non perpipaan 50% 50%

nonperpipaan

dalam

bentuk

investasi yang relatif kecil dan tersebar. Kedua, sebagian terbesar sumber air minum nonperpipaan adalah dari air minum perpipaan yang berupa penjualan

kembali air minum perpipaan. Hanya sedikit yang merupakan investasi murni air minum nonperpipaan.

133

Secara teoritis, pengaruh investasi terhadap pertumbuhan ekonomi dapat dijelaskan melalui persamaan berikut. Penjelasan ini dimulai dengan pemahaman bahwa terdapat empat faktor pertumbuhan, yaitu (i) sumber daya manusia, (ii) sumber daya alam, (iii) pembentukan modal, dan (iv) teknologi. Hubungan ini kemudian diformulasikan dalam bentuk fungsi produksi agregat (aggregate production function/APF): Q = A F (K, L, R) dengan Q = output; K = jasa produktif modal; L = input tenaga kerja; R = input sumber daya alam; A = tingkat teknologi dalam ekonomi; F = fungsi produksi. Sementara itu, untuk mengetahui besarnya tingkat pertumbuhan dilakukan

penghitungan proporsi perubahan besar output pada periode berjalan terhadap periode sebelumnya. Perhitungan output menggunakan pendekatan pengeluaran44 yang dijabarkan pada persamaan berikut. Y = C + I + G (perekonomian tertutup) Y = C + I + G + Nx (perekonomian terbuka) dengan Y = output, C = konsumsi; I = investasi; G = pengeluaran pemerintah;

Nx = ekspor bersih (selisih ekspor dengan impor). Berdasarkan persamaan di atas, output dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga (C), investasi yang dilakukan (I), investasi pemerintah dalam bentuk pengeluaran pemerintah (G), serta ekspor netto (Nx). Jika input modal, tenaga kerja atau sumber daya meningkat, output pun akan meningkat. Keterkaitan antara kinerja perekonomian dan infrastruktur telah memicu debat berkepanjangan diantara ahli ekonomi infrastruktur dan ekonomi pembangunan. Bukti empiris belum dapat menunjukkan secara jelas keterkaitan antara infrastruktur dan perekonomian. Bank Dunia dalam laporan tahunannya World Development Report Tahun 1994 menyatakan bahwa belum terdapat konsensus mengenai besaran pasti dari pengaruh infrastruktur pada pertumbuhan ekonomi. Namun, sebagian besar studi menyimpulkan peran investasi infrastruktur pada pertumbuhan ekonomi sangat mendasar, signifikan dan bahkan lebih daripada investasi modal lainnya.

134

Terlepas dari perdebatan di atas, sebagian ahli ekonomi berpendapat bahwa layanan infrastruktur yang memadai merupakan kebutuhan dasar untuk pertumbuhan dan produktivitas. Hal ini dipertegas oleh sejumlah studi yang menyatakan bahwa ketersediaan akses ke layanan infrastruktur memegang peran kunci dalam membantu mengurangi kesenjangan pendapatan. Selain itu, Barro (1995) menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi jangka panjang tergantung pada langkah pemerintah, seperti penyediaan infrastruktur, pemanfaatan pajak, pengelolaan penegakan hukum, perlindungan hak intelektual, regulasi perdagangan internasional, dan pengaturan pasar keuangan. Sementara itu, studi lain dari Bank Dunia di 63 negara berkembang menunjukkan bahwa penambahan 1 persen stok infrastruktur berkorelasi dengan pertumbuhan 1 persen PDB. Hasil studi ini banyak dikritik karena sebagian ahli menganggap infrastruktur bukan penyebab pertumbuhan, melainkan hanya sebatas fasilitasi saja. Sebenarnya, dampak ekonomi yang langsung dari investasi infrastruktur adalah berupa tersedianya kesempatan kerja, meningkatnya daya beli tenaga kerja, dan meningkatnya kebutuhan bahan dan alat (Pusat Studi Transportasi dan Logistik, Universitas Gajah Mada, 2003) Literatur empiris terakhir, sebagian besar menggunakan data panel antarnegara, telah menegaskan kontribusi output yang signifikan dari infrastruktur. Hasil sejenis dilaporkan diantaranya oleh Canning (1999) yang menggunakan data panel dari sejumlah negara, serta oleh Demetriades dan Mamuneas (2000) yang menggunakan data OECD (Calderon, 2001) Stephen Yeaple dan Stephen S. Golub (2002) melalui hasil pengamatan di 19 negara termasuk Indonesia dengan menggunakan data dalam kurun waktu 1979-1997 menyimpulkan bahwa penambahan kapasitas pelayanan infrastruktur sebesar 1 persen akan meningkatkan nilai produktifitas faktor total (TFP) sebesar 0,12. Di pihak lain, Estache dkk (2002) berdasar hasil penelitian empiris di Bolivia, Kolumbia, Mexico dan Venezuela menunjukkan bahwa penambahan stok infrastruktur sebesar 10 persen menghasilkan peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 1,5 persen. Beberapa kajian lainnya menyangkut pengaruh investasi infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi diantaranya adalah sebagai berikut. (i) Mainardi (2002) dengan menggunakan ekonometrika dan model neural network menyimpulkan bahwa kondisi

135

pelayanan infrastruktur dasar yang buruk menyumbang terhadap rendahnya pertumbuhan ekonomi. (ii) Birhl (1986) dalam kajiannya menyimpulkan bahwa kondisi infrastruktur mempunyai korelasi positip yang kuat dengan pendapatan per kapita. (iii) Barro (1991) melalui kajian cross section di 90 negara periode 1965-1985 menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif lemah antara investasi sektor publik dan pertumbuhan ekonomi. (iv) Evans dan Karras (1994) yang melakukan studi yang sejenis dengan Barro di negara berkembang pada periode 1963-1983 menyimpulkan bahwa investasi sektor publik tidak berpengaruh positip terhadap pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia, kajian yang secara khusus tentang pengaruh investasi infrastruktur terhadap perekonomian dilakukan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Bappenas. Kajian Menko Perekonomian secara umum menunjukkan bahwa investasi infrastruktur berdampak positip pada pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. Investasi yang diberikan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan

pemerataan, mengurangi inflasi, tetapi berdampak negatip terhadap lingkungan (Menko Ekuin, 2003). Kajian Bappenas secara umum menunjukkan bahwa penambahan kapasitas pelayanan infrastruktur memberikan dampak positif terhadap perkembangan sektor lainnya dan perekonomian nasional. Dampak terhadap pertumbuhan ekonomi semakin besar dengan semakin besarnya penambahan kapasitas infrastruktur (Bappenas, 2004). Investasi air minum akan meningkatkan faktor produksi berupa modal, yang kemudian meningkatkan output domestik. Peningkatan output domestik akan

mempengaruhi konsumsi rumah tangga melalui penurunan harga dan peningkatan penerimaan faktor. Penurunan harga akan mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga sehingga berdampak pada meningkatnya PDRB. Di sisi lain, peningkatan penerimaan faktor akan meningkatkan pendapatan rumah tangga, yang kemudian mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga. Besaran pengaruh pendapatan rumah tangga terhadap konsumsi rumah tangga sangat tergantung pada marginal propensity to consume (mpc)4145. Semakin besar mpc, semakin besar konsumsi rumah tangga, yang ber41 Fungsi konsumsi adalah C = a + mpc x Y. Dengan catatan bahwa C = konsumsi, a = konsumsi autonomous (besar konsumsi ketika pendapatan nol, dan nilainya selalu positip), mpc = marginal propensity to consume, dan Y = pendapatan yang dapat dibelanjakan. Berdasarkan fungsi konsumsi, mpc merupakan ukuran kecenderungan melakukan konsumsi. Ketika pendapatan meningkat, konsumsi akan meningkat yang besarnya tidak sebesar peningkatan pendapatan, tetapi tergantung pada besarnya mpc Selain itu, dikenal marginal propensity to save (mps) yang merupakan ukuran kecenderungan menabung. Secara matematis, mpc + mps = 1. 136

arti semakin besar pertumbuhan ekonomi. Alur pengaruh investasi air minum terhadap pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan dapat dilihat pada Gambar 5.33. Gambar 5.33 Keterkaitan Investasi Air Minum dengan Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan (Simulasi I dan II)
Harga produsen Konsumsi Rumah tangga PDRB

Output domestik

Penerimaan faktor

Pendapatan Rumah tangga

Faktor Produksi : Modal Investasi Air Minum Keterangan: Alur pengaruh investasi air minum perpipaan Alur pengaruh investasi air minum nonperpipaan

Distribusi Pendapatan

B.

Subsidi Subsidi air minum yang dialokasikan berasal dari dua sumber berbeda, yaitu (i)

peningkatan pajak air minum perpipaan dan (ii) dana pemerintah pusat. Secara umum, subsidi dari sumber peningkatan pajak air minum perpipaan memberi dampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi, sementara subsidi dari dana pemerintah pusat mengakibatkan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Penyediaan subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan menyebabkan pertumbuhan ekonomi negatip yang berkisar minimal –0,0001 persen (pajak 10 persen dan RT I) sampai maksimal –0,0008 persen (pajak 50 persen dan RT I-IV). Sementara itu, subsidi dari pemerintah pusat mendorong pertumbuhan ekonomi walaupun dalam proporsi

137

yang relatif kecil sebesar minimal 0,0023 persen (pajak 10 persen dan RT I-IV) sampai maksimal 0,0056 persen (pajak 50 persen dan RT I).
Tabel 5.18 Rekapitulasi Pertumbuhan Ekonomi Simulasi Subsidi
Simulasi Subsidi dari Pajak Air Minum Perpipaan Kesimpulan Subsidi dari Pemerintah Pusat Kesimpulan Skenario Subsidi (10%) Subsidi (25%) Subsidi (50%) Penerima RT I RT I – RT IV - 0,0001 % - 0,0002 % - 0,0002 % - 0,0004 % - 0,0004 % - 0,0008 %

Kesimpulan Pembedaan kelompok penerima tidak berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi

Dampak subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan terhadap pertumbuhan ekonomi tidak signifikan. Pembedaan kelompok penerima tidak Subsidi (Rp.0.37 M) 0,0022 % 0,0018 % berdampak pada laju Subsidi (Rp.0.74 M) 0,0042 % 0,0035 % pertumbuhan ekonomi Walaupun penyediaan subsidi dari pemerintah pusat terlihat menghasilkan laju pertumbuhan ekonomi tetapi besarnya tidak signifikan sehingga praktis penyediaan subsidi tidak berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Subsidi (Rp.0.149 M) 0,0009 % 0,0007 %

Sumber: Tabel 5.9 dan Tabel 5.10 Keterangan: pertumbuhan ekonomi dianggap signifikan jika proporsi > ⏐0,01%⏐
Gam bar 5.34 Dam pak Subsidi terhadap Pertum buhan Ekonom i

Pada tahap awal ketika pajak air minum perpipaan ditingkatkan, pertum-

0.006 0.005 0.004 0.003 0.002 0.001 0 -0.001 RT I Penerima RT I-IV

buhan ekonomi dan distribusi pendapatan
Pajak 10% Pusat Rp. 0,149 M Pajak 25% Pusat Rp. 0,37 M Pajak 50% Pusat Rp. 0,74 M

Pertumbuhan Ekonomi (%)

dipengaruhi melalui dua saluran, yaitu (a) jalur konsumsi rumah tangga dan (b) jalur konsumsi pemerintah. Pada dasarnya, peningkatan pajak dapat mengakibatkan pertumbuhan ekonomi meningkat/menurun dan distribusi pendapatan membaik/memburuk,

bergantung pada besaran pengaruh dari jalur konsumsi rumah tangga atau jalur konsumsi pemerintah.

138

Gambar 5.35 Keterkaitan Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan dengan Distribusi Pendapatan dan Pertumbuhan Ekonomi
Harga produsen Konsumsi RT

PDRB

Tarif Pajak

Output domestik

Penerimaan faktor

Pendapatan RT

Penerimaan Pajak

Transfer RT

Distribusi Pendapatan

Penerimaan pemerintah

Anggaran Pemerintah

Konsumsi Pemerintah

Peningkatan pajak akan meningkatkan penerimaan pemerintah, yang kemudian menjadi tabungan pemerintah. Tabungan pemerintah akan dialokasikan untuk anggaran pemerintah berupa konsumsi pemerintah dan transfer rumah tangga (subsidi). Transfer ke rumah tangga akan meningkatkan pendapatan rumah tangga yang berdampak pada membaiknya pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan. Sementara itu, meningkatnya konsumsi pemerintah mendorong

pertumbuhan ekonomi. Di pihak lain, pada saat suatu komoditas dikenai pajak (pajak komoditi), harga komoditas tersebut meningkat (Po berkurang (Qo P1) sehingga penawaran menjadi Q1). Selanjutnya, hal ini akan Y1). Jika air

berpengaruh pada menurunnya output (Yo

minum perpipaan dikenai pajak, harga air minum perpipaan menjadi lebih tinggi sehingga penawaran berkurang. Selanjutnya, berdampak pada berkurangnya output yang dihasilkan dari air minum perpipaan.

139

Selanjutnya, penerimaan faktor menurun sehingga pendapatan rumah tangga juga menurun yang berakibat pada konsumsi rumah tangga yang juga menurun. Penurunan konsumsi rumah tangga mengakibatkan pertumbuhan ekonomi menurun. Dampak dari peningkatan pajak air minum terhadap perekonomian khususnya pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan dapat dilihat pada gambar 5.35. Sementara itu, pada tahap berikutnya, jika hasil pajak air minum perpipaan dialokasikan seluruhnya sebagai subsidi bagi rumah tangga miskin, peningkatan pajak tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi melalui jalur konsumsi rumah tangga. Di pihak lain, distribusi pendapatan dipengaruhi langsung oleh peningkatan pendapatan rumah tangga. Pada dasarnya, peningkatan pajak dapat mengakibatkan pertumbuhan ekonomi meningkat/menurun dan distribusi pendapatan membaik/memburuk yang bergantung pada besaran pengaruh dari jalur konsumsi rumah tangga. Berbeda pada kondisi awal, jika hasil pajak dialokasikan untuk RT miskin, konsumsi pemerintah dianggap tetap. Akibatnya, peningkatan pajak akan meningkatkan transfer ke rumah tangga yang berdampak meningkatkan pendapatan rumah tangga dan memperbaiki distribusi pendapatan. Selanjutnya, peningkatan pendapatan rumah tangga mendorong meningkatnya konsumsi rumah tangga yang berujung pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, sebagaimana pada kondisi awal, peningkatan tarif pajak mengakibatkan meningkatnya harga produsen. Akibatnya, output menurun, kemudian penerimaan faktor menurun sehingga pendapatan rumah tangga menurun. Akibatnya, konsumsi rumah tangga menurun. Penurunan konsumsi rumah tangga mengakibatkan pertumbuhan ekonomi menurun. Pada proses transfer atau subsidi, dana yang diterima oleh rumah tangga meningkatkan pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income). Selanjutnya, meningkatnya pendapatan ini kemudian akan meningkatkan konsumsi sehingga permintaan agregat juga meningkat. Pada akhirnya, hal itu akan meningkatkan output. Jika subsidi berasal dari peningkatan pajak, terdapat kemungkinan bahwa peningkatan output sebagai akibat pemberian subsidi tidak dapat menutupi pengurangan output dari peningkatan pajak komoditas. Hal ini yang terjadi jika subsidi yang berasal dari hasil peningkatan pajak air minum perpipaan terlihat memberikan pertumbuhan ekonomi

140

negatip. Ini berakibat bahwa biaya pemberian subsidi lebih besar daripada manfaat yang diperoleh dari penerapan pajak tersebut. Akan tetapi, kondisinya akan berbeda jika subsidi berasal dari pemerintah pusat yang merupakan suntikan dana dari luar perekonomian. dimana tidak terdapat proses penurunan output sehingga subsidi yang diberikan mendorong meningkatnya output yang kemudian mengakibatkan terjadinya pertumbuhan ekonomi.
Gambar 5.36 Keterkaitan Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan yang Dialokasikan untuk Subsidi terhadap Distribusi Pendapatan dan Pertumbuhan Ekonomi (Simulasi III)
Harga produsen Konsumsi RT

PDRB

Tarif Pajak

Output domestik

Penerimaan faktor

Pendapatan RT

Transfer RT

Distribusi Pendapatan

Gambar 5. 37 Keterkaitan Peningkatan Transfer Dana Pusat yang Dialokasikan untuk Subsidi terhadap Pertumbuhan Ekonomi serta Distribusi Pendapatan (Simulasi IV)
Konsumsi RT

PDRB

Transfer Dana Pusat

Pendapatan RT

Subsidi Untuk RT miskin

Distribusi Pendapatan

141

Penyediaan subsidi, baik dari peningkatan pajak air minum perpipaan maupun pemerintah pusat, bagi RT termiskin maupun seluruh kelompok RT miskin tidak mempunyai dampak yang berbeda terhadap pertumbuhan ekonomi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.18 dan Tabel 5.19. C. Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi Pada skenario investasi air minum perpipaan dan subsidi, dilakukan dua simulasi, yaitu (i) investasi air minum perpipaan disertai subsidi dari pajak air minum perpipaan dan (ii) investasi air minum perpipaan disertai subsidi dari pemerintah pusat. Gambar 5. 38 Keterkaitan Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi terhadap Pertumbuhan Ekonomi serta Distribusi Pendapatan (Simulasi V– VI)
Harga produsen Konsumsi RT

PDRB

Tarif Pajak

Output domestik

Penerima -an faktor

Pendapatan RT

Faktor Produksi : Modal Investasi Air Minum Penerimaan pajak

Subsidi Untuk RT miskin

Distribusi Pendapatan

Transfer Dana Pusat

Keterangan: Alur pengaruh investasi air minum perpipaan Alur pengaruh subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan Alur pengaruh subsidi dari pemerintah pusat

Berdasarkan hasil simulasi gabungan terlihat bahwa (i) semakin besar peningkatan investasi air minum perpipaan, dengan mengabaikan sumber subsidi, semakin besar laju pertumbuhan ekonomi, (b) investasi air minum perpipaan yang disertai subsidi pemerintah
142

pusat menghasilkan laju pertumbuhan ekonomi relatif lebih besar daripada investasi air minum perpipaan yang disertai subsidi dari pajak air minum perpipaan, terutama jika investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen, (c) peningkatan subsidi, baik dari peningkatan pajak air minum perpipaan maupun pemerintah pusat, tidak berdampak terhadap perubahan laju pertumbuhan ekonomi, (d) pembedaan kelompok penerima subsidi tidak mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.19. Keterkaitan antara peningkatan investasi air minum perpaipaan yang disertai subsidi, baik dari sumber peningkatan pajak air minum perpipaan maupun pemerntah pusat, terhadap pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan dapat dilihat pada Gambar 5.38.

143

Tabel 5.19
Rekapitulasi Pertumbuhan Ekonomi Simulasi Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum
Simulasi Peningkatan investasi air minum perpipaan 10 persen dan subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan Peningkatan investasi air minum perpipaan 25 persen dan subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan Peningkatan investasi air minum perpipaan 50 persen dan subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan Skenario RT I Investasi air minum perpipaan Investasi dan subsidi (10%) Investasi dan subsidi (25%) Penerima RT I – RT IV 0,047 % 0,047 % 0,047 % 0,047 % 0,047 % Pembedaan kelompok penerima tidak berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi.

Kesimpulan

Kesimpulan

Investasi dan subsidi 0,047 % 0,046 % (50%) Investasi air minum 0,11% perpipaan Investasi dan subsidi 0,111 % 0,111 % (10%) Pembedaan kelompok penerima tidak Investasi dan subsidi 0,111 % 0,111 % berdampak pada laju (25%) pertumbuhan Investasi dan subsidi 0,111 % 0,110 % ekonomi. (50%) Investasi Air Minum 0,203 % Perpipaan Investasi dan subsidi 0,204 % 0,204 % (10%) Pembedaan kelompok penerima tidak Investasi dan subsidi 0,204 % 0,204 % berdampak pada laju (25%) pertumbuhan Investasi dan subsidi 0,204 % 0,203 % ekonomi. (50%) Peningkatan investasi air minum perpipaan mendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi, tetapi peningkatan subsidi tidak berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi.

Sumber: Tabel 5.11, Tabel 5.12 dan Tabel 5.13 Keterangan: pertumbuhan ekonomi dianggap signifikan jika proporsi > ⏐0,01%⏐
Gambar 5.39 Dampak Investasi 10% dan Subsidi dari Pajak Air Minum terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Gambar 5.40 Dampak Investasi 25% dan Subsidi dari Pajak Air Minum terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Gambar 5.41 Dampak Investasi 50% dan Subsidi dari Pajak Air Minum terhadap Pertumbuhan Ekonomi

P e r tu m b u h a n E k o n o m i (% )

P e r tu m b u h a n E k o n o m i (% )

0.1114

0.111 0.1106 0.1102 0.1098 Investasi Investasi- Investasi- Investasisubsidi subsidi Subsidi 10% 25% 50% Skenario

P e r tu m b u h a n E k o n o m i (% )

0.0469

0.204 0.2036 0.2032 0.2028 Investasi Investasi- Investasi- Investasisubsidi subsidi Subsidi 10% 25% 50% Skenario RT I RT I-IV

0.0465

RT I RT I-IV

RT I RT I-IV

0.0461 Investasi Investasi- Investasi- Investasisubsidi subsidi Subsidi 10% 25% 50% Skenario

144

Tabel 5.20 Rekapitulasi Pertumbuhan Ekonomi Simulasi Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi dari Pemerintah Pusat
Simulasi Peningkatan investasi air minum perpipaan 10 persen dan subsidi dari pemerintah pusat Peningkatan investasi air minum perpipaan 25 persen dan subsidi dari pemerintah pusat Peningkatan investasi air minum perpipaan 50 persen dan subsidi dari pemerintah pusat Kesimpulan Skenario RT I Investasi air minum perpipaan Investasi dan subsidi (Rp.0,149 miliar) Investasi dan subsidi (Rp.0,37 miliar) Investasi dan subsidi (Rp.0,74 miliar) Investasi air minum perpipaan Investasi dan subsidi (Rp.0,149 miliar) Investasi dan subsidi (Rp.0,37 miliar) Investasi dan subsidi (Rp.0,74 miliar) Investasi air minum perpipaan Investasi dan subsidi (Rp.0,149 miliar) Investasi dan subsidi (Rp.0,37 miliar) Investasi dan subsidi (Rp.0,74 miliar) Penerima RT I – RT IV 0,047 % 0,048 % 0,049 % 0,050 % 0,11% 0,113 % 0,114 % 0,116 % 0,112 % 0,113 % 0,114 % 0,203 % 0,207 % 0,208 % 0,209 % 0,205 % 0,206 % 0,208 % Pembedaan kelompok penerima tidak berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi. Pembedaan kelompok penerima tidak berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi.

Kesimpulan

0,049 % 0,050 % 0,052 %

Pembedaan kelompok penerima tidak berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi.

Peningkatan investasi air minum perpipaan mendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi, tetapi peningkatan subsidi tidak berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi.

Sumber: Tabel 5.14, Tabel 5.15 dan Tabel 5.16 Keterangan: pertumbuhan ekonomi dianggap signifikan jika proporsi > ⏐0,01%⏐
Gambar 5.42 Dampak Investasi 10% dan Subsidi dari Pusat terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Gambar 5.43 Dampak Investasi 25% dan Subsidi dari Pusat terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Gambar 5.44 Dampak Investasi 50% dan Subsidi dari Pusat terhadap Pertumbuhan Ekonomi

P e r tu m b u h a n E k o n o m i (% )

P e r tu m b u h a n E k o n o m i (% )

0.0525 0.0515 0.0505 0.0495 0.0485 0.0475 0.0465 Investasi Investasi- Investasi- Investasisubsidi subsidi Subsidi 10% 25% 50% Skenario RT I RT I-IV

0.1168 0.1158 0.1148 0.1138 0.1128 0.1118 0.1108 0.1098 Investasi Investasi- Investasi- Investasisubsidi subsidi Subsidi 50% 25% 10% Skenario RT I RT I-IV
P e r tu m b u h a n E k o n o m i (% )

0.2098 0.2088 0.2078 0.2068 0.2058 0.2048 0.2038 0.2028 Investasi Investasi- Investasi- Investasisubsidi subsidi Subsidi 50% 10% 25% Skenario RT I RT I-IV

145

5.4.2 A.

Distribusi Pendapatan Investasi Air Minum Investasi air minum perpipaan berdampak pada penurunan pangsa pendapatan

kelompok RT miskin dari kondisi awal, tetapi tidak berdampak terhadap perubahan rasio Gini. Akan tetapi, jika investasi air minum perpipaan sebesar 25 persen dan 50 persen, rasio pendapatan RT miskin terhadap RT pendapatan tinggi mengalami penurunan signifikan masing-masing sebesar -0,01 persen.
Tabel 5.21 Rekapitulasi Distribusi Pendapatan Simulasi Peningkatan Investasi Air Minum
Simulasi Perubahan Rasio Pendapatan RT Miskin/RT Tinggi (%) - 0,003 - 0,01 - 0,01 0 0 0 Perubahan Rasio Gini (%) 0,001 0,001 0,002 0 0 0 Kesimpulan

Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan Peningkatan Investasi Air Minum Non Perpipaan

10 persen 25 persen 50 persen 10 persen 25 persen 50 persen

Peningkatan investasi hanya berdampak pada menurunnya rasio pendapatan RT miskin/ RT tinggi pada saat investasi 25 persen dan 50 persen. Peningkatan investasi tidak mempengaruhi rasio pendapatan RT miskin/RT tinggi dan rasio Gini.

Kesimpulan

Peningkatan investasi air minum perpipaan mengakibatkan memburuknya distribusi pendapatan pada saat peningkatan investasi 25 persen dan 50 persen. Berbeda dengan peningkatan investasi air minum nonperpipaan yang tidak mengakibatkan perubahan distribusi pendapatan.

Sumber: Tabel 5.6 dan Tabel 5.7 Keterangan: perubahan distribusi pendapatan dianggap signifikan jika proporsi ≥ ⏐0,01%⏐
Gambar 5.45 Dampak Investasi Air Minum terhadap Distribusi Pendapatan
0.597215 11.2602

Walaupun rasio Gini relatif tetap, tetapi dengan terjadinya penurunan pada rasio pendaPangsa Pendapatan RT Miskin (%)

patan RT miskin terhadap RT pendapatan tinggi yang cukup signifikan, menunjukkan memburuknya distribusi pendapatan. Sebagian terbesar RT miskin di DKI Jakarta yang tidak memperoleh air minum

Rasio Gini

0.597205

11.2581

0.597195 awal 10% 25% 50% Investasi perpipaan non perpipaan perpipaan

11.256

non perpipaan

146

perpipaan berlokasi di daerah Jakarta Utara, yang merupakan daerah sulit air disebabkan air tanah dalam yang tidak layak minum: adanya intrusi air laut. Selain itu, RT miskin juga berlokasi di daerah permukiman liar dan kumuh. Kondisi ini membawa konsekuensi pelayanan air minum perpipaan bagi penduduk miskin jauh lebih sulit. Hal pertama yang menjadi kendala adalah terdapatnya larangan bagi penyedia air minum perpipaan untuk melayani daerah permukiman liar. Kedua, biaya sambungan yang harus dibayar di depan dengan jumlah yang cukup besar. Ketiga, tidak tersedianya insentif bagi perusahaan swasta yang mendapat konsesi untuk melayani penduduk miskin. Biaya investasi yang besar sementara jumlah pemakaian air penduduk miskin yang relatif sedikit akan memperlambat waktu pengembalian investasi. Keempat, perjanjian kontrak dengan perusahaan swasta penerima konsesi tidak secara eksplisit mempersyaratkan peningkatan layanan bagi penduduk miskin. Kriteria kinerja hanya berupa peningkatan cakupan pelayanan. Pelayanan air minum bagi penduduk miskin menjadi hanya sebatas penyediaan hidran umum dalam jumlah terbatas. Hidran umum yang terbatas menyulitkan penduduk untuk mendapatkan air karena harus antri, dan lokasi yang jauh dari rumah. Kondisi ini yang mendorong maraknya praktek penjualan air ke rumah-rumah oleh penyedia air skala kecil dengan harga yang 15 sampai 20 kali lebih mahal. Pada kenyataannya, hal ini tidak banyak membantu menurunkan biaya yang harus ditanggung oleh penduduk miskin. Peningkatan investasi air minum pada akhirnya hanya akan meningkatkan cakupan pelayanan, yang berarti meningkatkan produksi air minum perpipaan, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketika kemudian penduduk miskin tidak terjangkau oleh investasi ini, sebagian besar pendapatan penduduk miskin tetap terpakai untuk kebutuhan air minum. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi tidak berdampak pada peningkatan pangsa pendapatan RT miskin, bahkan sebaliknya. Ketika dilakukan peningkatan investasi air minum nonperpipaan, perubahan rasio Gini dan pangsa pendapatan RT miskin tersebut mendekati nol. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.21 dan Gambar 5.43. Perubahan pangsa pendapatan RT miskin dan rasio Gini yang kecil sekali (mendekati nol) menyebabkan hipotesa kedua tidak terpenuhi, yaitu bahwa investasi air minum nonperpipaan mengakibatkan kesenjangan pendapatan. Kecilnya perubahan

147

kesenjangan disebabkan oleh keragaman sumber air minum nonperpipaan. Berdasarkan data empiris, sumber air minum nonperpipaan terdiri dari (a) hidran umum, harga sama dengan air minum perpipaan tetapi dengan tingkat akses rendah (antri, jauh, dan tidak 24 jam), (b) rumah tangga yang berlangganan air perpipaan yang kemudian menyalurkan ke tetangga dengan harga yang relatif sedikit lebih mahal dari harga air minum perpipaan, (c) penjaja keliling dengan harga 15-20 kali harga air minum perpipaan, (d) truk tangki dengan harga yang relatif lebih mahal dari penjaja keliling. Jika sumber air minum nonperpipaan adalah (a) dan (b), pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) meningkat sehingga rasio Gini membaik. Hal itu berbeda jika sumber adalah (c) dan (d). Hal yang terjadi adalah sebaliknya. Data pangsa masing-masing sumber air minum nonperpipaan ini tidak tersedia sehingga berdasarkan pada hasil simulasi tersebut, diperkirakan sumber air minum nonperpipaan berbentuk (a) dan (b) dalam jumlah yang relatif berimbang dengan (c) dan (d) sehingga penambahan investasi air minum nonperpipaan tidak secara signifikan mendorong peningkatan kesenjangan. Dengan mengacu pada literatur, masih terdapat ketidaksepakatan tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap kesenjangan. Literatur empiris terkini seperti oleh

Deininger dan Squire (1996), Chen dan Ravallion (1997), Easterly (1999) dan Dollar dan Kraay (2002) seluruhnya menyatakan pertumbuhan tidak mempunyai dampak pada kesenjangan. (World Bank Poverty Net). Hal ini berbeda dengan yang dikemukakan oleh Kutnetz melalui teorinya bahwa pertumbuhan akan berujung pada pengurangan kesenjangan. Sementara itu, dalam literatur empiris yang terkait khusus dengan investasi air minum sebagaimana dikemukakan oleh Brenneman dan Kerf (2002), Galiani, Gertler dan Schargrodsky (2002), ditunjukkan bahwa akses air minum dan sanitasi berperan dalam mengurangi tingkat kesenjangan, melalui dampaknya pada modal manusia khususnya penduduk miskin (Calderon, 2004). Di pihak lain, studi Calderon (2004) menunjukkan bahwa pembangunan jaringan air minum mempunyai dampak negatif dan signifikan pada kesenjangan pendapatan.

148

B.

Subsidi Secara umum, penyediaan subsidi baik dari peningkatan pajak air minum

perpipaan maupun pemerintah pusat hanya berdampak signifikan pada rasio pendapatan RT miskin terhadap RT pendapatan tinggi pada saat subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan maupun pemerintah pusat masing-masing sebesar 50 persen, yang menunjukkan membaiknya distribusi pendapatan. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.22.
Tabel 5.22 Rekapitulasi Dampak Subsidi terhadap Distribusi Pendapatan
Skenario Simulasi Perubahan Rasio Pendapatan RT Miskin/RT Tinggi (%) RT I RT I-IV 0,001 0,003 0,01 0,001 0,003 0,01 Perubahan Rasio Gini* (%) RT I 0 - 0,001 - 0,002 RT I-IV 0 - 0,001 - 0,001 Pembedaan kelompok penerima tidak berdampak signifikan pada perubahan rasio Gini dan rasio pendapatan RT miskin/RT tinggi. Kesimpulan

Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan

Subsidi (10%) Subsidi (25%) Subsidi (50%)

Kesimpulan Subsidi (10%) Subsidi (25%) Subsidi (50%)

Peningkatan subsidi dari pajak air minum perpipaan hanya berdampak signifikan terhadap membaiknya distribusi pendapatan pada saat peningkatan subsidi sebesar 50 persen 0,001 0,003 0,01 0,001 0,003 0,01 0 - 0,001 - 0,002 0 - 0,001 - 0,001 Pembedaan kelompok penerima tidak berdampak signifikan pada perubahan rasio Gini dan rasio pendapatan RT miskin/RT tinggi.

Subsidi dari pemerintah pusat

Kesimpulan

Peningkatan subsidi dari pajak air minum perpipaan hanya berdampak signifikan terhadap membaiknya distribusi pendapatan pada saat peningkatan subsidi sebesar 50 persen

Sumber: Tabel 5.9 dan Tabel 5.10 . Keterangan: perubahan distribusi pendapatan dianggap signifikan jika proporsi ≥ ⏐0,01%⏐

149

Gambar 5.46 Dampak Subsidi dari Pajak Air Minum Perpipaan terhadap Distribusi Pendapatan
0.5972 11.2602
0.5972

Gambar 5.47 Dampak Subsidi dari Pemerintah Pusat terhadap Distribusi Pendapatan
11.2602

Pangsa Pendapatan RT Miskin (%)

Rasio Gini

Rasio Gini

0.597195 11.2581 0.59719

0.597195 11.2581 0.59719

0.597185 awal 10% 25% 50% Investasi RT I RT I-IV RT I dan RT I-IV

11.256

0.597185 awal 10% 25% 50% Investasi RT I RT I-IV RT I dan RT I-IV

11.256

C.

Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi Pada skenario investasi air minum perpipaan dan subsidi, dilakukan dua simulasi,

yaitu (a) investasi air minum perpipaan disertai subsidi dari pajak air minum perpipaan dan (b) investasi air minum perpipaan disertai subsidi dari pemerintah pusat. Berdasarkan hasil simulasi gabungan terlihat bahwa (a) peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen yang disertai subsidi dari peningkatan air minum perpipaan sebesar 10 persen dan 25 persen berdampak pada memburuknya distribusi pendapatan, (b) peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 10 persen yang disertai subsidi dari pemerintah pusat sebesar Rp.0,74 miliar berdampak pada membaiknya distribusi pendapatan, (c) peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen yang disertai subsidi dari pemerintah pusat sebesar Rp.0,149 miliar dan Rp.0,37 miliar berdampak pada memburuknya distribusi pendapatan, (d) pembedaan kelompok penerima subsidi, baik dari peningkatan pajak air minum perpipaan maupun pemerintah pusat, tidak berdampak pada distribusi pendapatan Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.23 dan Tabel 5.24. Dari simulasi penyediaan subsidi, terlihat bahwa pada kondisi tertentu subsidi memberi dampak signifikan pada perbaikan distribusi pendapatan Walaupun demikian, penyediaan subsidi oleh ekonom neoklasik dianggap bukan merupakan pilihan terbaik, dalam arti intervensi pemerintah seharusnya seminimal mungkin. Hal ini pun masih

Pangsa Pendapatan RT Miskin (%)

150

merupakan perdebatan karena tidak ditemukan secara eksplisit buku teks ekonomi neoklasik yang secara eksplisit menolak subsidi. Bahkan, the Second Fundamental Theorem of Welfare Economics mengatakan, dalam keadaan tertentu, gabungan antara mekanisme pasar dan transfer kekayaan (subsidi) secara lump sum bisa menghasilkan alokasi yang optimal secara Pareto (Perdana, 2005).

151

Tabel 5.23
Rekapitulasi Distribusi Pendapatan Simulasi Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum
Perubahan Rasio Pendapatan RT Miskin/RT Tinggi (%) RT I RT I-IV Perubahan Rasio Gini (%)

Skenario

Simulasi

Kesimpulan

Peningkatan investasi Air minum perpipaan 10 persen dan subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan Peningkatan investasi air minum perpipaan 25 persen dan subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan Peningkatan investasi air minum perpipaan 50 persen dan subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan

Kesimpulan

RT I RT I-IV Investasi air minum - 0,003 0,001 perpipaan Investasi dan subsidi - 0,001 - 0,001 0 0 (10%) Investasi dan subsidi 0,001 0,001 0 0 (25%) Pemberian Investasi dan subsidi subsidi pada 0,004 0,004 - 0,001 - 0,001 (50%) kelompok RT I dan kelompok Investasi air minum - 0,006 0,001 RT I-IV perpipaan memberi Investasi dan subsidi - 0,003 - 0,003 0,001 0,001 dampak yang (10%) relatif sama Investasi dan subsidi pada - 0,001 - 0,001 0,001 0,001 (25%) perubahan Investasi dan subsidi rasio 0,002 0,002 0 0 (50%) pendapatan RT miskin/RT Investasi air minum - 0,011 0,002 tinggi dan perpipaan rasio Gini. Investasi dan subsidi - 0,006 - 0,006 0,002 0,002 (10%) Investasi dan subsidi -0,005 - 0,005 0,002 0,002 (25%) Investasi dan subsidi - 0,002 - 0,002 0,001 0,001 (50%) Peningkatan investasi air minum perpipaan cenderung mengakibatkan memburuknya distribusi pendapatan dengan dampak signifikan pada saat investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen dan subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan sebesar 10 persen dan 25 persen. Peningkatan subsidi memberi dampak signifikan pada perbaikan distribusi pendapatan pada saat peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen, yang merubah distribusi pendapatan yang buruk menjadi kembali seperti kondisi awal.

Gambar 5.48 Dampak Investasi Air Minum Perpipaan (10%) dan Subsidi dari Pajak Air Minum Perpipaan terhadap Distribusi Pendapatan
0.597215 0.59721 P angsa P endapatan RT M iskin (% ) Rasio Gini
Rasio Gini

Gambar 5.49 Dampak Investasi Air Minum Perpipaan (25%) dan Subsidi dari Pajak Air Minum Perpipaan terhadap Distribusi Pendapatan
0.597215 0.59721 P angsa P endapatan RT M iskin (% )
Rasio Gini

Gambar 5.50 Dampak Investasi Air Minum Perpipaan (50%) dan Subsidi dari Pajak Air Minum Perpipaan terhadap Distribusi Pendapatan
0.597215 0.59721 0.597205 0.5972 0.597195 0.59719 11.2581 Pangsa P endapatan RT M iskin (% ) 11.2602

11.2602

11.2602

0.597205 0.5972 0.597195 0.59719 0.597185 0% 10% 25% 50% Investasi RT I RT I-IV RT I dan RT I-IV 11.256 11.2581

0.597205 0.5972 0.597195 0.59719 0.597185 0% 10% 25% 50% Investasi RT I RT I-IV RT I dan RT I-IV 11.256 11.2581

0.597185 0% 10% 25% 50% Investasi RT I RT I-IV

11.256

RT I dan RT I-IV

152

Tabel 5.24 Rekapitulasi Distribusi Pendapatan Simulasi Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi dari Pemerintah Pusat
Perubahan Rasio Pendapatan RT Miskin/RT Tinggi (%) RT I RT I-IV - 0,003 - 0,001 0,001 0,005 - 0,006 - 0,003 - 0,001 0,001 - 0,011 - 0,007 - 0,005 - 0,002 - 0,006 - 0,005 - 0,002 - 0,003 - 0,001 0,001 - 0,001 0,001 0,005 Perubahan Rasio Gini (%) Kesimpulan

Skenario

Simulasi

RT I

RT I-IV 0,001 0 0 0 0 - 0,001 Pemberian subsidi pada kelompok RT I dan kelompok RT I-IV memberi dampak yang relatif sama pada perubahan rasio pendapatan RT miskin/RT tinggi dan rasio Gini.

Peningkatan investasi Air minum perpipaan 10 persen dan subsidi dari pemerintah pusat

Peningkatan investasi air minum perpipaan 25 persen dan subsidi dari pemerintah pusat

Peningkatan investasi air minum perpipaan 50 persen dan subsidi dari pemerintah pusat

Investasi air minum perpipaan Investasi dan subsidi (Rp.0,149 M) Investasi dan subsidi (Rp.0,37 M) Investasi dan subsidi (Rp.0,74 M) Investasi air minum perpipaan Investasi dan subsidi (Rp.0,149 M) Investasi dan subsidi (Rp.0,37 M) Investasi dan subsidi (Rp.0,74 M) Investasi air minum perpipaan Investasi dan subsidi (Rp.0,149 M) Investasi dan subsidi (Rp.0,37 M) Investasi dan subsidi (Rp.0,74 M)

- 0,001 0,001 0,001 0,001 0 0,002 0,002 0,002 0,001

0,001 0,001 0

0,002 0,002 0,001

Kesimpulan

Peningkatan investasi air minum perpipaan cenderung mengakibatkan memburuknya distribusi pendapatan dengan dampak signifikan pada saat investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen dan subsidi dari pemerintah pusat sebesar Rp.0,149 miliar dan Rp.0,37 miliar. Peningkatan subsidi memberi dampak signifikan pada perbaikan distribusi pendapatan pada saat peningkatan investasi air minum perpipaan sebesar 10 persen. Selain itu, pada saat peningkatan investasi sebesar 50 persen, yang merubah distribusi pendapatan yang buruk menjadi kembali seperti kondisi awal.

Gambar 5.51 Dampak Investasi Air Minum Perpipaan (10%) dan Subsidi dari Pemerintah Pusat terhadap Distribusi Pendapatan
0.597215 0.59721 Pangsa Pendapatan RT Miskin (%) Rasio Gini
Rasio Gini

Gambar 5.52 Dampak Investasi Air Minum Perpipaan (25%) dan Subsidi dari Pemerintah Pusat terhadap Distribusi Pendapatan
0.597215 0.59721 Pangsa Pendapatan RT Miskin (%)
Rasio Gini

Gambar 5.53 Dampak Investasi Air Minum Perpipaan (50%) dan Subsidi dari Pemerintah Pusat terhadap Distribusi Pendapatan
0.597215 0.59721 0.597205 0.5972 0.597195 0.59719 11.2581 Pangsa Pendapatan RT Miskin (%) 11.2602

11.2602

11.2602

0.597205 0.5972 0.597195 0.59719 0.597185 0% 10% 25% 50% Investasi RT I RT I-IV RT I dan RT I-IV 11.256 11.2581

0.597205 0.5972 0.597195 0.59719 0.597185 0% 10% 25% 50% Investasi RT I RT I-IV RT I dan RT I-IV 11.256 11.2581

0.597185 0% 10% 25% 50% Investasi RT I RT I-IV

11.256

RT I dan RT I-IV

153

Pada kondisi DKI Jakarta, dengan proporsi pelanggan air minum perpipaan yang jauh lebih dominan adalah RT menengah dan RT pendapatan tinggi, sementara RT miskin relatif sangat bergantung pada air minum nonperpipaan, kebijakan pemberian subsidi silang melalui pengaturan tarif air minum menjadi kurang efektif. Subsidi terhadap harga air minum dinikmati bukan oleh RT miskin. 5.4.3 Kelompok Penerima Manfaat Secara umum, peningkatan investasi, baik air minum perpipaan maupun air minum nonperpipaan, yang disertai penyediaan subsidi, baik dari peningkatan pajak air minum perpipaan maupun pemerintah pusat, bagi kelompok RT termiskin maupun seluruh kelompok RT miskin, tidak memperlihatkan perbedaan yang signifikan pada perubahan laju pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan. 5.4.4 Pertumbuhan Pro-poor Sebagaimana telah dijelaskan terdahulu bahwa kriteria pertumbuhan pro-poor dalam studi ini adalah (i) pertumbuhan ekonomi positip, (ii) peningkatan rasio pendapatan RT miskin terhadap RT pendapatan tinggi, dan (iii) membaiknya rasio Gini.

Gambar 5.54 Pertumbuhan Pro-poor Simulasi Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi
Peningkatan Investasi Air Minum Perpipaan Subsidi dari Peningkatan Pajak Air Minum Perpipaan/ Dana Pusat Subsidi ke RT I Subsidi ke RT I-IV

10%
10% 25% 50% Rp.0.74 M

25%

Keterangan:

simulasi dengan pertumbuhan pro-poor

154

Secara umum, pertumbuhan pro-poor terjadi jika investasi air minum perpipaan dan subsidi dialokasikan secara bersamaan. Semakin besar investasi air minum perpipaan, semakin besar subsidi yang dibutuhkan agar terjadi pertumbuhan pro-poor. Pertumbuhan pro-poor terjadi hanya jika investasi air minum meningkat 10 persen disertai subsidi pemerintah pusat sebesar Rp.0,74 miliar.

155

Tabel 5.25 Rekapitulasi Pertumbuhan Pro-poor
Simulasi Pertumbuhan Ekonomi Rasio Gini Pangsa Pendapatan/Kapita

Simulasi Investasi 10 persen Investasi Air Minum Perpipaan 25 persen 50 persen 10 persen Investasi Air Minum Nonperpipaan 25 persen 50 persen Simulasi Subsidi 10 persen Subsidi dari Pajak Air Minum Perpipaan 25 persen 50 persen Rp. 0,149 M Subsidi dari Pemerintah Pusat Rp. 0,37 M Rp. 0,74 M Simulasi Investasi Air Minum Perpipaan dan Subsidi Subsidi dari Pajak 10% Subsidi dari Pajak 25% Investasi Air Minum Perpipaan 10% Subsidi dari Pajak 50% Subsidi dari Pusat Rp. 0,149 M Subsidi dari Pusat Rp. 0,37 M Subsidi dari Pusat Rp. 0,74 M Subsidi dari Pajak 10% Subsidi dari Pajak 25% Investasi Air Minum Perpipaan 25% Subsidi dari Pajak 50% Subsidi dari Pusat Rp. 0,149 M Subsidi dari Pusat Rp. 0,37 M Subsidi dari Pusat Rp. 0,74 M Subsidi dari Pusat 10% Subsidi dari Pusat 25% Investasi Air Minum Perpipaan 50% Subsidi dari Pusat 50% Subsidi dari Pusat Rp. 0,149 M Subsidi dari Pusat Rp. 0,37 M Subsidi dari Pusat Rp. 0,74 M Keterangan: + : meningkat, - : menurun, pertumbuhan pro-poor 0 : tidak signifikan, + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + -/+ + + -/+ + + + + + + 0 0 0 0 0 + 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 + 0 0 + + + + 0 0 0 + + + 0 0 0 0 0 0 0

-/+ : menurun untuk RT I/meningkat untuk RT I-IV

Sumber : Diolah dari Hasil Simulasi

156

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

6.1

Kesimpulan Penyusunan model CGE Air Minum DKI Jakarta dimaksudkan untuk memberi

gambaran implikasi dari kebijakan yang terkait dengan pembangunan air minum di DKI Jakarta. Pada studi ini fokus perhatian diberikan pada pengaruh investasi air minum dan subsidi terhadap pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan. Pemahaman tentang pengaruh investasi air minum di DKI Jakarta menjadi penting ketika sumber dana terbatas sementara akses air minum masih jauh dari target pelayanan. Di samping itu, penduduk miskin masih menjadi pihak yang paling menderita ketika akses air minum rendah. Pemilihan langkah yang tepat akan dapat mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi di satu sisi dan pemenuhan kebutuhan air minum penduduk miskin di sisi lainnya. Investasi air minum seyogyanya mendorong pertumbuhan pro-poor, yaitu pertumbuhan yang berdampak pada penurunan kesenjangan pendapatan. Ketersediaan air minum yang memadai dan layak secara langsung berdampak pada pengurangan pengeluaran rumah tangga yang signifikan, khususnya penduduk miskin perkotaan, untuk konsumsi air minum dan pengeluaran biaya pengobatan akibat sakit karena mengkonsumsi air minum yang tidak layak. Akibatnya, pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) meningkat. Kemudian, kondisi ini mengarah pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Selain itu, penyediaan air minum yang memadai bagi penduduk miskin dapat meningkatkan produktivitas yang disebabkan oleh berkurangnya hari sakit. Pemenuhan kebutuhan air minum bagi penduduk miskin dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan juga sekaligus pengurangan kesenjangan pendapatan. Kondisi ini yang disebut sebagai pertumbuhan pro-poor. Berangkat dari hal tersebut di atas, dalam studi ini dilakukan beberapa simulasi untuk mendapatkan gambaran pembangunan air minum di DKI Jakarta dikaitkan

157

dengan pertumbuhan pro-poor. Adapun simulasi kebijakan yang dilakukan adalah (i) me-ningkatkan investasi air minum perpipaan, (ii) meningkatkan investasi air minum non-perpipaan sebagai alternatif terbatasnya ketersediaan air minum perpipaan, (iii) mening-katkan sumber pendanaan air minum melalui peningkatan pajak air minum, yang kemudian hasilnya dialokasikan untuk subsidi ke rumah tangga miskin, (iv) menyediakan sumber dana dari pemerintah pusat untuk subsidi ke rumah tangga miskin, (v) meningkatkan investasi air minum perpipaan disertai penyediaan subsidi dari hasil peningkatan pajak air minum perpipaan, dan (vi) meningkatkan investasi air minum perpipaan disertai penyediaan subsidi dari dana pemerintah pusat. Keseluruhan simulasi tersebut diukur dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan. Dengan menggunakan model komputasi keseimbangan umum yang dibangun dengan memanfaatkan data Sistem Neraca Sosial Ekonomi DKI Jakarta tahun 2000, didapatkan hasil simulasi sebagai berikut. A. Pertumbuhan ekonomi (i). Investasi air minum perpipaan berdampak pada peningkatan laju pertumbuhan ekonomi. Laju pertumbuhan ekonomi sebagai akibat peningkatan investasi air minum perpipaan berkisar pada angka 0,05 persen (investasi 10 persen) sampai 0,20 persen (investasi 50 persen). Sementara itu, laju pertumbuhan ekonomi akibat peningkatan investasi air minum nonperpipaan sangat kecil berkisar pada angka 0,0003 persen (investasi 10 persen) sampai 0,0008 persen (investasi 50 persen) sehingga laju pertumbuhan ekonomi tersebut dapat diabaikan. (ii). Penyediaan subsidi bagi RT miskin dari hasil peningkatan pajak air minum perpipaan tidak berdampak signifikan pada laju pertumbuhan ekonomi. Laju pertumbuhan ekonomi sebagai akibat penyediaan subsidi tersebut dalam besaran yang sangat kecil, yaitu -0,0001 persen (pajak 10 persen) sampai -0,0008 persen (pajak 50 persen). (iii). Penyediaan subsidi bagi RT miskin dari dana pemerintah pusat tidak berdampak signifikan pada laju pertumbuhan ekonomi. Laju pertumbuhan

158

ekonomi sebagai akibat penyediaan subsidi tersebut dalam besaran yang relatif kecil, yaitu 0,001 persen (dana pusat Rp.0,149 miliar) sampai 0,004 persen (dana pusat Rp.0,74 miliar). (iv). Ketika investasi air minum perpipaan dan subsidi bagi rumah tangga miskin dilaksanakan bersamaan, semakin besar nilai investasi akan berdampak pada peningkatan laju pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini berlaku tanpa mempedulikan sumber subsidi. Sementara itu, peningkatan penyediaan subsidi tidak berdampak signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi. B. Distribusi Pendapatan (i) Investasi air minum perpipaan berdampak signifikan pada memburuknya distribusi pendapatan jika investasi air minum perpipaan sebesar 25 persen dan 50 persen. Di pihak lain, investasi air minum nonperpipaan tidak berdampak signifikan terhadap perubahan distribusi pendapatan. (ii) Penyediaan subsidi bagi RT miskin dari peningkatan pajak air minum perpipaan berdampak signifikan pada membaiknya distribusi pendapatan jika subsidi dari peningkatan pajak air minum sebesar 50 persen. Sementara itu, distribusi pendapatan menjadi semakin baik jika subsidi dari pemerintah pusat sebesar Rp.0,74 miliar. (iii) Investasi air minum perpipaan disertai subsidi berdampak signifikan terhadap semakin buruknya distribusi pendapatan jika (a) investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen disertai subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan sebesar 10 persen dan 25 persen, dan (b) investasi air minum perpipaan sebesar 50 persen disertai subsidi dari pemerintah pusat sebesar Rp.0,149 miliar dan Rp.0,37 miliar. (iv) Investasi air minum perpipaan disertai subsidi berdampak signifikan terhadap semakin baiknya distribusi pendapatan jika investasi air minum perpipaan sebesar 10 persen disertai subsidi sebesar Rp.0,74 miliar. C. Penerima manfaat Pembedaan kelompok penerima subsidi, yaitu kelompok rumah tangga termiskin (RT I) maupun seluruh kelompok rumah tangga miskin (RT I-IV),

159

ternyata tidak berdampak signifikan pada perbedaan laju pertumbuhan ekonomi maupun perubahan distribusi pendapatan untuk seluruh simulasi. D. Pertumbuhan pro-poor Pertumbuhan pro-poor terjadi jika investasi air minum perpipaan dan subsidi dialokasikan secara bersamaan, yaitu investasi air minum perpipaan sebesar 10 persen disertai subsidi dari pemerintah pusat sebesar Rp.0,74 miliar. Semakin besar nilai peningkatan investasi, semakin besar subsidi yang perlu diberikan agar terjadi pertumbuhan pro-poor. Semakin besar porsi subsidi relatif terhadap investasi air minum, semakin besar kemungkinan terjadinya pertumbuhan pro-poor. Jika kita menyimak kembali hipotesis awal, studi ini secara umum membuktikan hal-hal sebagai berikut. (i) Hipotesis pertama tidak terbukti sepenuhnya. Investasi air minum perpipaan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan memburuk hanya terjadi jika investasi air minum perpipaan minimum 25 persen. (ii) Hipotesis kedua tidak terbukti. Investasi air minum nonperpipaan hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tidak signifikan sementara distribusi pendapatan relatif tetap. (iii) hipotesis ketiga tidak terbukti sepenuhnya. Penyediaan subsidi tidak berdampak signifikan pada peningkatan laju pertumbuhan ekonomi, tetapi mengurangi kesenjangan pada kondisi tertentu, yaitu jika (a) subsidi dari peningkatan pajak air minum perpipaan sebesar 50 persen dan (b) subsidi dari pemerintah pusat sebesar Rp.0,74 miliar. Peningkatan investasi air minum di DKI Jakarta ternyata berdampak hanya pada pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak berpengaruh pada pengurangan kesenjangan. Hal ini membuktikan bahwa pembangunan air minum di DKI Jakarta pada saat ini belum bersifat pro-poor. 6.2 Rekomendasi Investasi air minum perpipaan yang tidak mendorong pertumbuhan pro-poor dapat diartikan bahwa pembangunan air minum di DKI Jakarta belum sepenuhnya memberi perhatian terhadap penyediaan air minum bagi penduduk miskin. Untuk itu, diperlukan beberapa langkah nyata yang dapat mendorong peningkatan layanan bagi penduduk miskin sebagai berikut.

160

a. Pemerintah daerah sebaiknya menjadikan ketersediaan air minum bagi penduduk miskin sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan di DKI Jakarta. Untuk itu, dalam setiap kontrak atau pemberian konsesi penyediaan air minum di DKI Jakarta kepada pihak lain perlu dengan jelas mencantumkan klausul peningkatan akses air minum bagi penduduk miskin sebagai salah satu indikator kinerja. b. Menjadikan peningkatan akses air minum bagi penduduk miskin sebagai salah satu target dalam strategi penanganan kemiskinan di DKI Jakarta. c. Memperkenalkan program penyediaan air minum yang pro-poor di DKI Jakarta. Diantaranya dengan memperkenalkan program pembangunan air minum yang berbasis masyarakat. Pembangunan fasilitas air minum yang berasal dari sumber subsidi sebaiknya dikelola berbasis masyarakat. d. Penerapan tarif yang menerapkan prinsip subsidi silang bagi pelanggan air minum perpipaan di DKI Jakarta menjadi kurang tepat ketika masih relatif banyaknya penduduk miskin yang belum terlayani. Di pihak lain, porsi pelanggan rumah tangga menengah dan rumah tangga pendapatan tinggi yang dominan menjadikan tarif dasar yang murah menjadi salah sasaran. Penerapan pajak air minum perpipaan pada pelanggan air minum perpipaan dan kemudian menyalurkan kembali dalam bentuk subsidi dapat menjadi salah satu cara membantu meningkatkan jangkauan pelayanan bagi penduduk miskin yang belum terlayani air minum perpipaan. Hal ini juga sesuai dengan prinsip ekonomi bahwa pemberian subsidi langsung lebih baik dari pemberian subsidi tarif. Walaupun demikian, berdasar pengalaman empiris, kebijakan subsidi bahkan jika bukan dalam bentuk tunai, pada kenyataannya sulit dilaksanakan tanpa terjadinya kebocoran. Sebagai ilustrasi, ketika dikembangkan penyediaan air minum bagi warga miskin di kawasan kumuh maka tidak dapat dihindari bahwa penduduk yang bukan miskin juga dapat menikmati fasilitas tersebut.

161

e. Terdapatnya kendala regulasi42 bagi penyedia air minum perpipaan untuk melayani penduduk miskin terutama yang bertempat tinggal di daerah permukiman kumuh dan liar dapat disikapi oleh pemerintah daerah dengan menyediakan/memperbanyak sumber air minum seperti hidran umum, dan kios air. Khususnya penyediaan hidran umum pada lebih banyak tempat akan dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh penduduk miskin, baik melalui makin banyaknya kesempatan mendapatkan air minum sehingga mengurangi biaya kesempatan maupun kemungkinan menjadi lebih murahnya harga air minum nonperpipaan.

Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar sumber air minum nonperpipaan di DKI Jakarta berasal dari air minum perpipaan. f. Investasi air minum nonperpipaan walaupun tidak berdampak pada perbaikan distribusi pendapatan, yang ditengarai disebabkan oleh harga air yang relatif masih jauh lebih mahal dari air minum perpipaan, tetapi dengan bentuk layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, seperti jumlah dan waktu pembayaran yang fleksibel, mengurangi waktu antri di kran umum, penyedia air minum

nonperpipaan tetap dapat menjadi alternatif. Selain itu, beberapa kendala lain yang harus diantisipasi dalam

mengembangkan air minum nonperpipaan diantaranya, yaitu (i) aspek legal. Air minum nonperpipaan belum mempunyai dasar hukum yang pasti. Kondisi ini

menjadikan investasi air minum perpipaan bersifat sementara sehingga air minum nonperpipaan menjadi sekadar pelengkap dari sistem air minum perpipaan. Kondisi ini berbeda dengan beberapa kota besar dunia seperti New Delhi, dan Ho Chi Minh, (ii) peraturan pemerintah khususnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 16 Tahun 2005 tidak secara jelas mengatur tentang penyediaan air minum nonperpipaan, (iii) tidak tersedianya sumber dana yang memadai, dan (iv) harga air minum nonperpipaan yang relatif mahal. Kondisi di atas menjadi faktor kendala berkembangnya sistem air minum nonperpipaan sebagai alternatif penyedia air minum. Sementara berdasar prediksi,
42

Pelayanan air minum dan fasilitas lainnya seperti listrik, dan telepon pada lokasi permukiman liar cenderung dihindari oleh pemerintah daerah. Hal ini untuk mencegah timbulnya pandangan bahwa penyediaan fasilitas tesebut akan meresmikan status permukiman liar tersebut.

162

sistem air minum perpipaan baru akan menjangkau seluruh penduduk di DKI Jakarta pada tahun 2022. Sebelum waktu tersebut, kebutuhan air minum dapat dipenuhi oleh sistem air minum nonperpipaan dengan berbagai bentuknya. Terkait dengan itu, pemerintah daerah perlu membuat regulasi untuk memberi kepastian hukum beroperasinya sistem penyedia air minum nonperpipaan. Regulasi tersebut sebaiknya mengatur semua pihak baik penyedia, pemerintah, dan masyarakat sebagai konsumen. Di dalam regulasi tersebut, bentuk kerjasama antara pemerintah, penyedia air minum perpipaan dengan penyedia air minum nonperpipaan perlu diatur secara jelas. Tersedianya regulasi yang jelas menjadikan penyedia air minum nonperpipaan dapat mempunyai akses ke sumber pendanaan. Hal lain yang perlu ditangani menyangkut relatif lebih mahalnya tarif air mi-num nonperpipaan dibanding air minum perpipaan. Untuk itu, dibutuhkan langkah yang nyata dari pemerintah daerah, yaitu (i) penyediaan sumber air minum dengan harga beli murah bagi penyedia skala kecil. Mempertimbangkan sebagian terbesar sumber air penyedia air minum skala kecil di DKI Jakarta berasal dari air minum per-pipaan, yaitu bersumber dari kran umum, sehingga sebaiknya sistem tarif yang dite-rapkan di kran umum adalah tarif flat43. Akibatnya, harga jual dari penyedia air skala kecil akan lebih murah, tetapi dengan marjin keuntungan yang relatif sama, (ii) pe-nyediaan kran umum yang lebih banyak sehingga dapat menekan biaya pembelian air dari penyedia air minum non perpipaan. i. Menghadapi kendala banyaknya penduduk yang bermukim di permukiman liar, direkomendasikan agar penyediaan air minum dilakukan melalui pembangunan kran umum atau kios air yang dikelola oleh komunitas lokal. Kran umum atau kios air ini mendapat air dari penyedia air minum perpipaan. Hal ini dapat membantu mengurangi tingginya harga air yang diperoleh masyarakat melalui penjual air keliling. Semakin banyak kran umum atau kios air yang tersedia maka semakin rendah harga dasar dari penjual air keliling. j. Salah satu kendala penduduk miskin perkotaan dalam mendapatkan akses air minum adalah biaya pemasangan yang tidak terjangkau karena harus dibayar
43

DKI Jakarta menggunakan sistim tarif progresif sehingga tarif flat ditetapkan berdasar tarif pada blok terendah.

163

sekaligus. Sebagai jalan keluarnya, biaya pemasangan air minum dapat dibayar dalam jangka waktu panjang sampai dua tahun sehingga memungkinkan penduduk miskin untuk menjadi pelanggan air minum. Cara lain adalah berupa penyediaan subsidi dari pemerintah lokal kepada penduduk melalui penerapan abonemen pada pelanggan setiap bulan dan hasilnya dialokasikan untuk subsidi biaya pemasangan bagi penduduk miskin. k. Subsidi langsung lebih baik dari subsidi tarif, sehingga jika subsidi menjadi salah satu pilihan sumber dana penyediaan air minum bagi penduduk miskin, beberapa sumber dana yang dapat digunakan, yaitu sumber dana dari pemerintah pusat dan perusahaan swasta. Penyediaan dana oleh pemerintah pusat dapat berupa dana alokasi khusus (DAK). Selain itu, keberadaan perusahaan besar juga dapat dimanfaatkan untuk membantu memberi subsidi bagi penduduk miskin, baik dalam bentuk subsidi langsung, subsidi pemasangan sambungan, bahkan pembangunan jaringan. Dana perusahaan besar biasanya secara khusus disediakan dan diberi label corporate social responsibility (CSR). 6.3 6.3.1 Beberapa Catatan Kelebihan dan Kekurangan Model CGE Model komputasi keseimbangan umum (computable general equilibrium, CGE) merupakan evolusi dari model input-output (input-output model) dan model pemrograman linier (linear-programming model)44. Namun, berbeda dengan model input-output dan model pemrograman linier, model keseimbangan umum dapat menampung hubungan yang tidak linier sehingga bisa mengatasi kekurangan modelmodel sebelumnya. Oleh karena itu, model ekuilibrium umum dapat secara lebih realistis dipergunakan untuk melakukan analisa suatu perekonomian dan dapat dipergunakan sebagai suatu alat eksperimen ketika variabel-variabel kebijakan secara eksogenus dapat dikuantifikasi (Bappenas, 2004). Model CGE lebih unggul dari model ekonomi parsial. Model ekonomi parsial hanya mampu menganalisis sebuah kasus dalam konteks pasar parsial, sementara dalam
44

Model input-output (input-output model) dan model pemrograman linier (linear-programming model) sangat populer dan banyak dipergunakan antara kurun waktu tahun 1950 sampai dengan tahun 1970an.

164

dunia nyata gangguan yang dialami sebuah pasar berpeluang mempengaruhi keseimbangan pasar parsial lain dalam perekonomian. Interaksi antarpasar parsial ini yang lebih baik dijelaskan melalui model CGE. Selain itu, model ekonomi parsial berlandaskan ilmu ekonomi mikro, sementara model ekonomi makro terfokus pada analisis ekonomi agregat. Model CGE dapat berperan menjembatani keduanya.

Selanjutnya, formulasi model CGE berpeluang disesuaikan dengan ketersediaan data pendukung (Hulu, 1997). Selain itu, kemampuan model CGE mengaitkan antara model mikro, yaitu investasi di bidang infrastruktur, dengan model makro menjadi salah satu daya tarik utama (Bappenas, 2004). Terlepas dari semakin maraknya penerapan model CGE, masih disadari juga bahwa secara umum terdapat beberapa kekurangan dari model CGE, yaitu sebagai berikut. (i) Simulasi CGE bersifat statis-komparatif. Persamaannya dan variabel yang digunakan merujuk pada suatu kondisi tertentu. Oleh karena itu, semua hasil simulasi harus diinterpretasikan sebagai ‘kondisi yang diperkirakan akan terjadi setelah suatu kebijakan diterapkan kebijakan’. (ii) Terdapat kesulitan dalam menginterpretasikan hasil ketika disagregasi dilakukan terlalu rinci sehingga beberapa parameter harus diduga. (iii) Penerapan model tidak bermanfaat jika menyangkut fenomena ekonomi mikro yang tidak berhubungan dengan aspek ekonomi makro (iv) Model itu tidak dapat digunakan sebagai metode untuk peramalan (Soetjipto, 2004). Selain itu, berbagai pihak juga menyampaikan kritikan terhadap model CGE. Devarajan (1994) mengemukakan bahwa kelemahan CGE diantaranya adalah hal-hal berikut. (i) Pendekatan CGE dianggap terlalu matematis sehingga menjadi rumit. (ii) Dalam model CGE terdapat banyak asumsi, bahkan termasuk asumsi yang tidak realistis. (iii) Model CGE membutuhkan data yang sangat banyak. (iv) Sebagian besar parameter diperoleh dengan tidak melalui metode ekonometrik, sementara belum terdapat kesepakatan diantara para ahli mengenai besaran numerik dari masing-masing dibandingkan dengan kondisi tanpa

165

parameter. (v) Model CGE tidak memberikan teori baru, tetapi hanya menjelaskan kondisi yang ada. (vi) Model CGE adalah “kotak hitam” yang hanya dapat dimengerti oleh yang mendalaminya (Nikensari, 2001). Selain hal tersebut di atas, Iqbal (2001) juga menambahkan kritik terhadap model CGE sebagai berikut. (i) Kualitas data. Data yang dipergunakan sangat tergantung pada ketersediaan SAM yang hanya tersedia pada tahun tertentu saja. Kondisi ini mengakibatkan anomali yang terjadi di luar tahun tersebut tidak akan dapat terekam dalam model. Selain itu, proses memasukkan data kedalam matriks sering melalui proses ’perubahan’ agar konsistensi secara mikro terjadi yang langsung dapat mempengaruhi nilai parameter dalam model. (ii) Pemilihan parameter. Beberapa parameter ditentukan berdasar literatur empiris, lainnya secara arbitrasi, dan sisanya ditetapkan nilainya yang memungkinkan model untuk mereplikasi data. Pendekatan ini telah dikritik oleh Jorgesen (1984), Lau (1984), Jorgensen dkk. (1992), Dievert dan Lawrence (1994) dan Mckitrick (1998). Bergman (1990) menanggapi kritik ini dengan menyatakan bahwa metode CGE seharusnya dipandang sebagai pelengkap pendekatan analitis. Terdapat dua hal yang mendasari pernyataan Bergman, yaitu sebagai berikut. (i) Pendekatan analitis mengalami kesulitan ketika masalah yang dihadapinya sangat kompleks. (ii) Pendekatan analitis mengalami kesulitan ketika besaran pengaruh eksogen menjadi perhatian utama, seperti penerapan kebijakan berdampak luas (Soetjipto, 2004). 6.3.2 Kelemahan Model CGE Air Minum DKI Jakarta Disadari bahwa sebuah model dibangun dengan berusaha untuk mendekati kondisi sebenarnya. Namun, pada beberapa kondisi keinginan tersebut sulit terpenuhi karena kondisi itu akan menjadikan sebuah model itu sangat rumit. Untuk itu, digunakan beberapa asumsi atau pembatasan tertentu untuk menyederhanakan model. Model yang dibangun untuk studi ini juga menggunakan pembatasan untuk memudahkan penyusunan model. Terdapat beberapa catatan penting mengenai model CGE pada penelitian ini yang perlu disampaikan sehubungan dengan hasil simulasi di atas. Pertama, data yang digunakan adalah data tahun 2000, sementara studi dilaksanakan pada tahun 2005

166

sehingga terjadi kesenjangan data selama 5 tahun. Hal ini menjadi salah satu kelemahan dalam penggunaan model CGE karena kontinuitas ketersediaan data yang relatif terbatas. Keterbatasan data disebabkan oleh keterbatasan data SNSE yang dikeluarkan tidak setiap tahun. Kedua, proses kalibrasi untuk beberapa nilai koefisien dan variabel hanya menggunakan satu tahun data sehingga kurang menggambarkan kondisi sebenarnya. Ketiga, salah satu faktor yang kemungkinan dapat menjadi sumber kesalahan dari model ini adalah proses penyesuaian data SNSE DKI Jakarta Tahun 2000. Struktur data SNSE standar perlu disesuaikan agar data air minum dapat menjadi kategori sendiri dari sebelumnya yang menyatu dengan data gas dan listrik. Proses ini memerlukan kecermatan khusus, terutama terkait dengan definisi kerja/operasional45 yang jelas sehingga proses pendetailan data berlangsung secara benar. Keempat, penghitungan distribusi pendapatan tidak dapat dilakukan dalam model secara langsung tetapi harus dilakukan di luar model. Hal ini cukup menyulitkan jika jumlah simulasi cukup banyak. Akibat lainnya, penghitungan distribusi pendapatan terpaksa hanya dibatasi menggunakan Rasio Gini yang relatif lebih sederhana. Kelima, model ini bersifat komparatif statik sehingga hanya dapat menggambarkan kondisi pada saat tertentu saja. Keenam, penyediaan subsidi mengabaikan terjadinya kebocoran dalam proses penyediaannya. Proses penyediaan air minum tidak akan dapat dibatasi hanya pada kelompok tertentu saja sebagaimana dilakukan pada simulasi dalam model ini. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kebocoran, yaitu (i) kesulitan mengenali secara tepat rumah tangga penerima, (ii) kebutuhan air minum adalah kebutuhan dasar manusia sementara keterbatasan akses juga dialami oleh kelompok selain rumah tangga miskin. Akibatnya, kelompok penerima manfaat juga akan

mencakup kelompok selain rumah tangga miskin. Ketujuh. tidak terekamnya keberadaan rumah tangga miskin yang berlokasi di perumahan liar dikarenakan data SNSE yang tersedia tidak mengakomodasinya. Terlepas dari beberapa kendala yang ada, model ini terbukti cukup mampu men-jelaskan kondisi air minum DKI Jakarta. Model ini juga dapat digunakan untuk berbagai simulasi lain dengan beberapa penyesuaian minor. Model ini akan semakin
45

Misal pengelompokan air minum nonperpipaan yang sebenarnya berasal dari sumber air minum perpipaan.

167

bermanfaat jika bersifat dinamis sehingga perubahan kebijakan dapat dianalisis lebih tajam. 6.4 Studi Lanjutan Penyusunan model CGE yang terfokus pada aspek mikro, seperti distribusi pendapatan, sebaiknya menggunakan CGE micro simulation sehingga dampak terhadap distribusi pendapatan dapat dihitung langsung di dalam model dengan menggunakan berbagai metode mulai dari rasio Gini, FGT, dan lainnya. Selain itu, model tersebut sebaiknya bersifat dinamis sehingga dapat dipergunakan untuk melakukan prediksi kondisi beberapa tahun ke depan. Dibutuhkan data SNSE yang lebih detail menyangkut data air minum sehingga model CGE air minum dapat menggambarkan lebih banyak persoalan yang terkait dengan penyediaan air minum. Misalnya, secara khusus model CGE dapat

menggambarkan pengaruh dari keberadaan swasta dalam penyediaan air minum di DKI Jakarta, dan pengaruh penyedia air minum skala kecil yang sampai saat ini masih merupakan penyedia air minum yang cukup signifikan di DKI Jakarta.

168

DAFTAR PUSTAKA Ahmad, Aftab. Growth-cum-equity to Combat Poverty. The Social Policy and Development Centre (SPDC), 2004. Alesina, Alberto dan Dani Rodrik. Distributive Policies and Economic Growth. Quarterly Journal of Economics 109 (2), 1994. Alfarol, Raquel. Reaching the Urban Poor with Water and Sanitation Infrastructures: Key Factors Not to Forget or Left Aside. Water and Sanitation Program, the World Bank, Nopember 1997. Anggraeni, Dewi. Analisis Dampak Kebijakan Tarif Angkutan Jalan Raya terhadap Perekonomian dan Distribusi Pendapatan di DKI Jakarta: Sebuah Model Computable General Equilibrium. Program Studi Ilmu Ekonomi Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2005. Annez, Patricia dan Alfred Friendly. Cities in the Developing World: Agenda for Action Following Habitat II. World Bank, 1996 Anwar, Alizar. Regulating Service for the Poor, Jakarta Indonesia. Jakarta Water Supply Regulatory Board. Makalah pada World Water Forum 3, Osaka, 19 Maret 2003. Argo, Teti. Thirsty Downstream: The Provision of Clean Water in Jakarta, Indonesia. Disertasi tidak dipublikasikan. School of Community and Regional Planning, University of British Columbia, Vancouver, Canada, 1999. _________ dan Aprodicio A. Laquian. Privatization of Water Utilities and Its Effects on the Urban Poor in Jakarta Raya and Metro Manila. Makalah disampaikan pada Forum on Urban Infrastructures and Public Service Delivery for Urban Poor, Regional Focus: Asia. New Delhi, 24-25 June 2004. Azdan, M. Donny. Water Policy Reform in Jakarta, Indonesia: A CGE Analysis. Unpublished Dissertation. The Ohio State University 2001. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat. 2003. ____________________________________. Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Lembaga. 2004. Badan Pusat Statistik. Sistem Neraca Sosial Ekonomi Indonesia 2000. Jakarta, 2003. _________________. Data dan Informasi Kemiskinan Tahun 2004. Buku 1: Propinsi. Jakarta, 2004. _________________. Data dan Informasi Kemiskinan Tahun 2004. Buku 2: Kabupaten. Jakarta, 2004.

169

Badan Pusat Statistik Propinsi DKI Jakarta. Evaluasi Keadaan Rumah Tangga Miskin di DKI Jakarta 2003. Jakarta, 2004. ___________________________________. Evaluasi Kemiskinan Terpadu DKI Jakarta 2000. Jakarta, 2001. Program Pengentasan

___________________________________. Indikator Kesejahteraan Rakyat Propinsi DKI Jakarta 2003. Jakarta, 2004. ___________________________________. Statistik Kesejahteraan Rakyat Propinsi DKI Jakarta 2004. Jakarta, 2005. ___________________________________. Sistem Neraca Sosial Ekonomi DKI Jakarta Tahun 2000. Jakarta, 2002 ___________________________________. Produk Domestik Regional Bruto. Jakarta, berbagai tahun keluaran. ___________________________________. Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk DKI Jakarta 2002. Jakarta, 2003. Baharoglu, Deniz dan Christine Kessides. Urban Poverty. 2000 Balisacan, Arsenio M; Ernesto M. Pernia; Abuzar Asra. Revisiting Growth and Poverty Reduction in Indonesia: What Do Subnational Data Show?. Bulletin of Indonesian Economic Studies, Vol. 39 No. 3, December 2003. Bappenas, BPS, UNPF. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2005. Jakarta, 2005. Barro, Robert J. dan Xavier Sala-I-Martin. Economic Growth. McGraw-Hill, Inc. New York, 1995. Basani, Marcello; Jonathan Isham, Barry Reilly. Water Demand and the Welfare Effects of Connection: Empirical Evidence from Cambodia. Department of Economics Middlebury College, Vermont, December 2004. Basri, M. Chatib. Kemiskinan dan BBM. Kompas 13 Desember 2004. Bigsten, Anne dan Jorgen Levin. Growth, Income Distribution dan Poverty: A Review. Working paper in Economics No. 32. Department of Economics, Goteborg University, 2000. ___________ dkk. Growth and Poverty in Ethiopia: Evidence from Household Panel Surveys. Working Papers in Economics no 65, Department of Economics, Goteborg University, January 2002. Biro Pusat Statistik. Laporan Penyusunan Model Sistem Neraca Sosial Ekonomi: Model Disagregat Statis. Jakarta, 1986 Black, Maggie. Thirsty Cities: Water, Sanitation and the Urban Poor. Laporan Water Aid Day 1996 dan Habitat II 1996. Boland, John J. dan Dale Whittington. The Political Economy of Increasing Block Tariffs in Developing Countries. Tanpa penerbit dan tahun.

170

Bourguignon, Francois. The Poverty-Growth-Inequality Triangle. World Bank, Washington DC, 2004 (mimeo). Briscoe, John. Managing Water as an Economic Good: Rules for Reformers. Makalah pada The International Committee on Irrigation and Drainage Conference on Water as an Economic Good. Oxford, 1997 Brodjonegoro, Bambang. Poverty Eradication in Indonesia Through Better Access to Basic Infrastrutures. Department of Economics, University of Indonesia, 2003. Brooke, Anthony dkk. GAMS A User’s Guide. GAMS Development Corporation, 1998. Bruno, Michael; Martin Ravallion; dan Lyn Squire. Equity and Growth in Developing Countries: Old and New Perspectives on the Policy Issues dalam Income Distribution and High Quality Growth oleh Vito Tanzi dan Ke-young Chu ed.. MIT Press, Massachusetts, Cambridge, 1998. Cabrera, Luis Fernando Gallardo. The Involvement of the Private Sector in Water Servicing: Effects on the Urban Poor in the Case of Aguascalientes, Mexico. Greener Management International, 2003. Cain, Allan; Mary Daly dan Paul Robson. Basic Service Provision for the urban poor: the Experience of Development Workshop in Angola. International Institute for Environment and Development, 1998 Cairncross, S. dkk. Water Supply and the Urban Poor. 1990. Calaguas, Belinda dan Virginia Roaf. Access to Water and Sanitation by the Urban Poor. Water Aid, September 2001. Calderon, Cesar dan Luis Serven. The effects of Infrastructure Development on Growth and Income Distribution. Central Bank of Chile, 2001. _____________________________. The Effects of Infrastructure Development on Growth and Income Distribution. 2004. Catley-carison, Margareth. Why We Must Invest in Urban Water and Sanitation. World Water Commission. Cestti, R; R. Batia dan Caroline Van der Berg. Water Demand Management and Pollution Control in the Jabotabek Region, Indonesia. Makalah tidak dipublikasikan. World Bank, 1994. Chisari, O; Estache A.; Romero C. Winners and Losers from Privatization and Regulation of Utilities: Lessons from A General Equilibrium Model of Argentina. The World Bank Economic Review, 13, 1999. Coady, David P. dan Rebecca Lee Harris. A Regional General Equilibrium Analysis of the Welfare Impact of Cash Transfers: An Analysis of Progresa in Mexico. International Food Policy Research Institute, Washington, DC. USA, 2001. Committee for Poverty Alleviation Reduction Strategy Paper. A Process Framework of Strategic Formulation for Long Terms Poverty Alleviation. Jakarta, Maret 2003.

171

Conan, Herve. Scope and Scale of Small Scale Independent Private Water Providers in 8 Asian Cities. Preliminary Findings. Asian Development Bank, 2002. Coolidge, Jacqueline G.; Richard C. Porter, Z. John Zhang. Urban Environmental Services in Developing Countries. Working Paper No. 9,. University of Michigan, December 1993. Cord, Louise; J. Humberto Lopez; dan John Page. When I Use Word…Pro-Poor Growth and Poverty Reduction. The World Bank, Washington DC., 2003. Crane, R. Water Markets, Market Reform and the Urban Poor: Result from Jakarta, Indonesia. Department of Urban and Regional Planning, University of California at Irvine, 1994. Damuri, Yose Rizal dan Ari A. Perdana. The Impact of Fiscal Policy on Income Distribution and Poverty: A Computable General Equilibrium Approach for Indonesia. Center for Strategic and International Studies, Jakarta, 2003. Danielson, Anders. Growth Without Poverty Reduction? Examining Micro-Makro Links in Tanzania. Department of Economics, University of lund, Sweden, 2004. Dasgupta, Ani. Urban Poverty in East Asia. Focus on Indonesia, the Philippines, and Vietnam. East Asia Urban Sector, World Bank, June 2002. Debreu, G. Theory of Value. Wiley, 1959. Decaluwe, Bernard, Jean-Christophe Dumont dan Luc Savard. Measuring Poverty and Inequality in a Computable General Equilibrium Model. Universite Laval, Quebec Canada, 1999. Dervis, K. J. DeMelo dan S. Robinson. General Equilibrium Models for Development Policy. Cambridge University Press, London, 1982. Dinwiddy, C. L. dan F. J. Teal. The Two-Sector General Equilibrium Model. A New Approach. Philip Allan/St. Martin’s Press, New York, 1988. Dollar, David dan Aart Kraay (2002). Growth is Good for the Poor. Journal of Economic Growth 7, 2002. Dwidjowijoto, Riant Nugroho. Air untuk Penduduk Miskin Jakarta. Percik. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Edisi April 2006. Easterly, William. Inequality Does Cause Underdevelopment. Working Paper No. 1. Center for Global Development, Washington DC, January 2002. Estache, Antonio. Andres Gomez-Lobo, Danny Leipziger. Utilities Privatization and the Poor: Lessons and Evidence from Latin America. World Development Vol. 29, 2001. _______________; Vivien Foster; Quentin Wodon. Making Infrastructure Reform Work for the Poor: Policy Options based on Latin American Experience. LAC Regional Studies Program, WBI Studies in Development, Finance, Private Sector and Infrastructure Department, 2002.

172

_______________. Emerging Infrastructure Policy Issues in Developing Countries: A Survey of the Recent Economic Literature. The World Bank, 2004. Forbes, Kristen. A Reassessment of the Relationship between Inequality and Growth. American Economic Review 90, 2000. Foster V. Literature Review for Regional Studies Project on Privatization and Infrastructure Services of the Urban Poor. Mimeo, World Bank, Washington DC., 1999. Giggacher, Manfred. Water Supply Concession as a Tool for City Sustainability. Trials, Experiences and Lessons Learnt. Jakarta, 2001. Girianna, Montty. Private Involvement in Water Supply Industry: Clean and Potable Water Provision in the Capital City. Makalah internal tidak diterbitkan. Direktorat Permukiman dan Perumahan Bappenas, Juni 2004. Gleick, P. H.; G. Wolff dan E. L. Chalecki. The Risks and Benefits of Globalization and Privatization of Fresh Water. The Pacific Institute, Oakland, CA, 2002. Gulyani, Sumila; Debabbrata Talukdar dan R. Mukami Kariuki. Water for the Urban Poor: Water Markets, Household Demand and Service Preferneces in Kenya. The World Bank, 2005. Hadad, Ismid. Pembangunan Berkelanjutan dan Perubahan Pola Produksi yang Ramah Lingkungan. Makalah dalam Seminar dan Lokakarya Pembangunan Hukum Nasional, Bali Juli 2003. Hansen, Stein dan Ramesh Bhatia. Water and Poverty in A Macro-Economic Context. Januari 2004. Hartono, Djoni. Analisis Dampak Kebijakan Harga Energi terhadap Perekonomian dan Distribusi Pendapatan di DKI Jakarta: Aplikasi Model Komputasi Keseimbangan Umum (Computable General Equilibrium Model). Tesis tidak dipublikasikan. Program Ilmu Ekonomi, Program Pasca Sarjana, Fakultas Ekonomi, 2002. ____________. Dampak Kebijakan Harga, Subsidi dan Efisiensi Konsumsi Bahan Bakar Minyak, Gas dan Listrik terhadap Perekonomian di Indonesia. Disertasi tidak Dipublikasikan. Program Ilmu Ekonomi, Program Pasca Sarjana, Fakultas Ekonomi, 2006. Hewings, Geoffrey J.D. Strategic Economic Analysis for Regional Investment Planning: A Review, Evaluation and Strategy for Regional and Interregional Modelling in Indonesia. Report No. 70. Natural Resources Management Project, Bappenas-Ministry of Forestry-USAID, Jakarta, 1996. Howard, Guy dan Amaka Obika dalam Water and Poverty: The Themes. A Collection of Thematic papers. ADB, 2004. Hoesoe, Nobuhiro. Computable General Equilibrium Modeling with GAMS. National Graduate Institute for Policy Studies, 2004.

173

Hughes, G. A. The Distributional Impact of Commodity Taxes and Subsidies. Bulletin of Indonesian Economic Studies. Vol. 17, November 1981. Hulu, Edison. Aplikasi Model Komputasi Keseimbangan Umum untuk Analisis Dampak Kebijakan Ekonomi Makro Terhadap Inflasi dan Distribusi Pendapatan di Indonesia. Disertasi Tidak Dipublikasikan. Universitas Indonesia, 1997. Iqbal, Zafar dan Rizwana Siddiqui. Critical Review of Literatura on Computabe General Equilibrium Models. Pakistan Institute of Development Economics, Islamabad, Pakistan 2001. JICA. Study of the Revise of Jakarta Water Supply Development Project, 1997. Jusmaliani; M. Thoha; Umi Karomah Yaumidin. Teori Privatisasi dan Kajian Empirik dalam Jusmaliani ed. Optimalisasi Program Privatisasi. Pusat Penelitian Ekonomi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta, 2003. Kariuki, Mukami. The Significance of Poverty in Urban Water Sector Reform dalam New Design for Water and Sanitation Transactions. WSP-PPIAF, 2000. Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Pertanyaan Penting tentang Millennium Development Goals. Percik Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Februari 2004. Kikeri, S dan Nellis, J. Privatisation in Competitive Sectors: The Record so Far. Mimeo. Private Sector Advisory Services. World Bank, Washington D.C. 2001. Kraay, Aart. When is Growth Pro-Poor? Cross-Country Evidence. World Bank Policy Research Working Paper 3225, 2004. Kuznets, Simon. Economic Growth and Income Inequality. American Economic Review 45 (1), 1955. Laifungbam, D. Roy. The Human Right to Water: Necessity for Action and Discourse, 12 Desember 2003. Lalor, P dan Garcia, H. Reshaping Power Markets-Lessons from Chile and Argentina. Public Policy for the Private Sector, Note No. 85. World Bank, Washington DC, 1996. Lewis, Jeffrey D. A Computable General Equilibrium (CGE) Model of Indonesia. Development Discussion Paper No. 378. Harvard Institute for International Development, Harvard University, 1991. Lofgren, Hans dkk. A Standard Computable General Equilibrium (CGE) Model in GAMS. Discussion Paper No. 75. Trade and Macro Economics Division (TMD), IFPRI, Washington D.C., 2001. Lopez, J. Humberto. Pro-growth, Pro-poor: Is There a Trade-off?. World Bank, Washington D. C., 2003. _________________. Pro-poor Growth: A Review of What We Know (and of what we don’t). The World Bank, Washington DC., 2004.

174

Mahi, B. Raksaka. The Welfare Análisis of Indonesian Income Tax: A CGE Approach. Makalah pada Seminar Sehari “Macroeconomic Modelling in Developing Countries” oleh LPEM-FEUI, Erasmus Universiteit Rotterdam dan JICA, Depok, September 11, 1997. ______________. Pengantar Model CGE. Bahan Workshop diselenggarakan oleh Bank Mandiri. Bandung, 18 Januari 2003. Model CGE

Manaf, Dewi Ratna Sari. Pengaruh Subsidi Harga Pupuk terhadap Pendapatan Petani: Analisis Sistem Neraca Sosial Ekonomi. Tesis tidak dipublikasikan. Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor, 2000. Mankiw, N. Gregory. Macroeconomics. New York, Worth Publishers, Inc, 1992. McIntosh, Arthur C.. Asian Water Supplies. Reaching the Urban Poor. Asian Development Bank and International Water Association, 2003. Meggison, W. L. dan Netter, J. M. From State to Market: A Survey of Empirical Studies on Privatisation. Journal of Economic Literature 39, 2001. Mergos, George. Private Participation in the Water Sector: Recent Trends and Issues. Makalah disampaikan pada 5th International Conference “Water Resources Management in the Era of Transition”. European Water Resources Association (EWRA) dan Technical University of Athens, September 2002. Mosley, Paul. Severe Poverty and Growth: A Macro-Micro Analysis. Chronic Poverty Research Center Working Paper 51. The University of Sheffield Department of Economics, United Kingdom, 2004. Mungkasa, Oswar. Dampak Privatisasi di Indonesia. Studi Kasus: Dampak Privatisasi PT. Telekomunikasi Indonesia. Makalah tidak dipublikasikan. Jakarta, 2002. ______________. Sekali Lagi tentang Privatisasi. Percik. Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Edisi Oktober dan Desember 2004. Oxfam. Growth with Equity is Good for the Poor. June 2000. Olmstead, Sheila M. Water Supply and Poor Communities: What’s Price Got to Do with It?. Environment, Heldreft Publications, 2003. PAM Jaya. Laporan Keuangan PAM Jaya Diaudit Tahun 1992 – 1995 _________. Proyeksi dan Realisasi Keuangan PAM Jaya Nopember 1995-Desember 1997. Panennungi, Maddaremmeng A. Model CGE dengan Skala Ekonomis yang Meningkat dan Persaingan Tidak Sempurna: Aplikasi pada Studi Kawasan Perdagangan Bebas Asean-Cina. Disertasi tidak dipublikasikan. Program Studi Ilmu Ekonomi Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004. Parker, David dan Colin Kirkpatrick. Privatisation in Developing Countries: A Review of the Evidence and the Policy Lessons. July 2003.

175

Pemerintah DKI Jakarta. Perjanjian Kerjasama Penyediaan dan Peningkatan Pelayanan Air Bersih di Wilayah Barat Jakarta antara PAM Jaya dengan PT. PAM Lyonnaise Jaya. Kontrak. Februari 2000. _________________. Perjanjian Kerjasama Penyediaan dan Peningkatan Pelayanan Air Bersih di Wilayah Barat Jakarta antara PAM Jaya dengan PT. PAM Lyonnaise Jaya. Lampiran. Februari 2000. Perdana, Ary A. Masih tentang Subsidi. Kompas, 29 Januari 2005. Pernia, Ernesto M. dan Stella LF. Alabastro. Aspects of Urban Water and Sanitation in the Context of Rapid Urbanization in Developing Asia. Economic and Development Resource Center, 1997. Perry, C. J., M. Rock, dan D. Seckler. Water as an Economic Good: A Solution, or a Problem?. International Irrigation Management Institute, Research Report 14, 1997. PPIAF. Small-Scale Water Providers in Indonesia. Jakarta, 2005. Pusat Studi Transportasi dan Logistik, Universitas Gajah Mada. Kajian Dampak Pembangunan Infrastruktur terhadap Ekonomi Makro. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, 2003. Pyatt, Graham. A SAM Approach to Modelling. Journal of Policy Modeling 10, 1988. Ramamurti, R. Why are Developing Countries Privatizing. Journal of International Business Studies No. 23, 1992. Ravallion, Martin. Pro-Poor Growth: A Primer. World Bank, 2003. ______________. Growth, Inequality and Poverty: Looking Beyond Development Research Group, World Bank, 2001. Ray, Kalyan. Basic Service for the Urban Poor. World Habitat Day 2001. Remi, Sutyastie S. dan Prijono Tjiptoherijanto. Kemiskinan dan Ketidakmerataan di Indonesia. Penerbit Rineka Cipta, 2002. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Dayaq Air. ________________. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. ________________. Indonesia. Progress Report on the Millenium Development Goals. 2004. Rietveld, Piet; Jan Rouwendal; dan Bert Zwart. Block Rate Pricing of Water in Indonesia: An Analysis of Welfare Effects. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol. 36 No. 3 December 2000. Robinson, Sherman dan Karen Thierfelder. A Note on Taxes, Prices, Wages, and Welfare in General Equilibrium Models. International Food Policy Research Institute, Washington DC., 1999. Averages.

176

________________, dan Moataz El-Said. GAMS Code for Estimating A Social Accounting Matrix (SAM) Using Cross Entropy (CE) Methods. International Food Policy Research Institute, Washington, USA, 2000. Rosen, Harvey S. Public Finance. Seventh Edition. McGraw-Hill International Edition, 2005. Round, Jeffrey. Social Accounting Matrices and SAM-Based Multiplier Analysis dalam The Impact Economic Policies on Poverty and Income Distribution. Evaluation Techniques and Tools oleh Francois Bourguignon dan Luiz A. Pereira da Silva ed. The World Bank dan Oxford University Press, Washington, 2003. Rutherford, Thomas dan Sergey Paltsev. From an Input-Output Table to a General Equilibrium Model: Assessing the Excess Burden of Indirect Taxes in Russia. University of Colorado, USA, 1999. Satterwaithe, David; Nick Johnstone and Libby Wood. Helping Poorer Urban Households and Neighbourhoods Secure Access to Adequate Water and Sanitation. Institute for Environment and Development, Nopember 1998. Sadoulet, Elisabeth dan Alain de Janvry. Quantitative Development Policy Analysis. The Johns Hopkins University Press, Baltimore, 1995. Sekretariat Subsidi Energi Air Bersih. Pedoman Umum. Program Penanggulangan Dampak Pengurangan Subsidi Energi untuk Penyediaan Prasarana Air Bersih Tahun Anggaran 2002. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2002. Shirley, M. M. dan Walsh, P. Public versus Private Ownership: The Current State of the Debate. Mimeo. World Bank, Washington D.C., 2001. Shofiani, Nur Endah. Reconstruction of Indonesia’s Drinking Water Utilities. Assessment and Stakeholder’s Perspectives of Private Sector Participation in the Capital Province of Jakarta. Unpublished Master Thesis. Department of Land and Water Resources Engineering. Royal Institute of Technology, Stockholm, 2003. Shoven, John B. dan John Whalley. Applying General Equilibrium. Cambridge University Press. Tanpa Tahun. Sibarani, Mauritz H. M. Kontribusi Infrastruktur terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (26 Propinsi di Indonesia Tahun 1983-1997). Tesis. Program Pasca Sarjana, Program Studi Ilmu Ekonomi, Universitas Indonesia, 2002. Siregar, P. Raja dkk. Politik Air. Penguasaan Asing Melalui Utang. WALHI dan KAU, 2004. Snell, Suzanne. Water and Sanitation Services for the Urban Poor. Small-Scale Providers: Typology and Profiles. UNDP-World Bank Water and Sanitation Program, 1998. Soebagjo, Felix O. Privatisasi BUMN dan Kekayaan Negara Lainnya: Pandangan dari Sudut Hukum. Makalah pada Seminar Privatisasi BUMN dan Kekayaan Negara Lainnya tanggal 14-15 Mei 1996 di Jakarta.

177

Soetjipto, Widyono. Dampak Liberalisasi Sektor Pangan pada Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan di Indonesia. Aplikasi Model Simulasi Mikro dan Makro CGE. Disertasi tidak dipublikasikan. Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, 2004. Solo, Tova Maria. Small-scale Entrepreneurs in the Urban Water and Sanitation Market. Environment and Urbanization, Vol. 11, No. 1, April 1999. Stiglitz, Joseph E. Economics of the Public Sector. Third Edition. New York, W. W. Norton and Company, 2000. Stottmann, Walter. The Role of the Private Sector in the Provision of Water and Wastewater Services in Urban Areas dalam Juha I. Uitto dan Asit K. Biswas. Water for Urban Areas. Challenges and Perspectives. United Nations University Press, New York, 2000. Sugiyarto, Guntur, Adam Blake dan M. Thea Sinclair. Optimal Allocation of Commodity Taxation in the Second Best Situation. University of Nottingham Bussiness School, Jubilee Campus, UK. Tanpa Tahun. Sukirno, Sadono. Pengantar Teori Makro Ekonomi. Edisi Kedua. PT. Raja Grafika Utama, Jakarta, 1994. Suratman, Eddy. Analisis Dampak Kebijakan Pengembangan Kawasan Perbatasan terhadap Kinerja Perekonomian Kalimantan Barat: Suatu Studi dengan Pendekatan Sistem Neraca Sosial Ekonomi. Disertasi tidak dipublikasikan. Program Studi Ilmu Ekonomi, Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Depok, 2004. Surjadi, Charles. Drinking Water Concessions. Water, Engineering and Development Centre, Lougborough University, 2003. Tan, N. Rebuilding Malaysia Inc. In-dept Report. Meryll Lynch, New York, 2000. Thorbecke, E. The Social Accounting Matrix and Consistency Type Planning Models dalam G. Pyatt dan J. I. Round ed. Social Accounting Matrices: A Basis for Planning. World Bank, Washington, 1985. ___________. Social Acoounting Matrices and Social Accounting Analysis dalam Methods of Interregional and Regional Analysis oleh Walter Isard dkk. Ashgate, USA, 1998. Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Republik Indonesia. Kemiskinan di Indonesia: Perkembangan Data dan Informasi Mutakhir 2002-2004. Jakarta, 2005. Tim Koordinasi Pengelolaan dan Pengendalian Program Penanggulangan Dampak Pengurangan Subsidi Energi. Program Penanggulangan Dampak Pengurangan Subsidi Energi (PPD-PSE). Jakarta, 2001. Timmer, C. Peter. The Road to Pro-Poor Growth: the Indonesian Experience in Regional Perspective. Bulletin of Indonesian Economic Studies, Vol. 40, No. 2, 2004. Tutuko, Kris. Jakarta Water Supply. Jakarta, 2002.

178

Tynan, Nicola. Private Participation in Infrastructure and the Poor: Water and Sanitation. Makalah disampaikan pada Infrastructure for Development: Private Solutions and the Poor. 31 Mei – 2 Juni 2000, Inggris. Vos, Rob dan Maritza Cabezas. Illusions and Disillusions with Pro-poor Growth. SIDA, 2005. UN Habitat. Waking Up to Realities of Water and Sanitation Problems of Urban Poor. Virgiyanti, Tri Dewi. BATAM: Air Mengalir Lewat Kios. Percik, Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, Edisi Oktober 2004. WaterAid. E-WaterAid Volume 33, 22 Juni 2005. Water Academy. Water for All. An Overview of the Studies Conducted on the Right to Drinking Water and Water Solidarity. January 2004 Water and Sanitation Program. New Designs for Water and Sanitation Transactions. Making Private Sector Participation Work for the Poor. Public-Private Infrastructure Advisory Facility, 2000. Water Utility Partnership Africa. Better Water and Sanitation for the Urban Poor. Good Practice from Sub Sahara Africa. European Communities and Water Utilities Partnership, Kenya, 2003. Weitz, Almud dan Richard Franceys ed. Beyond Boundaries. Extending Services to the Urban Poor. Asian Development Bank, 2002. Winpenny, James. Financing Water for All. Report of the World Panel on Financing Water Infrastructure. World Water Council dan Global Water Partnership, Maret 2003. World Bank. Agricultural Growth for the Poor. An Agenda for Development. Washington, 2005. __________. Growth and Poverty. World Bank Poverty Net. __________. World Development Report 1994: Infrastructure for Development. Oxford University Press, 1994. __________. Toolkits for Private Participation in Water and Sanitation. Washington DC., 1997. __________. Urban Poverty in EastAsia. A Review of Indonesia, the Philippines and Vietnam. Urban Sector Development Unit. East Asia Infrastructure Department, September 2003 __________. Indonesia. Enabling Water Utilities to Serve the Urban Poor. Jakarta, Januari 2006. World Health Organization. Evaluation of the Costs and Benefits of Water and Sanitation Improvements at the Global Level. 2004.

179

Wuryanto, L.E.. Fiscal Decentralization and Economic Performance in Indonesia: An Inter-regional Computable General Equilibrium Approach. Unpublished Ph.D. Dissertation, Cornell University, 1996.

180

LAMPIRAN 1 KONSEP dan DEFINISI 1. Klasifikasi Neraca SNSE a. Faktor Produksi Faktor produksi dibedakan atas tenaga kerja, dan bukan tenaga kerja (modal air minum, dan modal lainnya). b. Institusi Institusi dibedakan dalam 3 klasifikasi yaitu pemerintah, swasta dan rumah tangga. Pemerintah pemerintah daerah DKI Jakarta Swasta swasta yang menjalankan operasinya di DKI Jakarta Rumah Tangga (RT) Rumah tangga dibedakan menjadi dua yaitu rumah tangga biasa dan rumah tangga khusus. Pada studi ini hanya konsep rumah tangga biasa yang dipergunakan, dan selanjutnya disebut rumah tangga. Rumah tangga adalah seorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik/sensus, dan biasanya makan bersama dari satu dapur. Makan dari satu dapur dimaksudkan sebagai mengurus kebutuhan sehari-hari bersama menjadi satu Rumah tangga dalam kerangka SNSE DKI Jakarta 2000 ukuran 38x38 dibedakan dalam 3 golongan rumah tangga, sementara pada SNSE ukuran 103x103 maka terdapat 10 golongan rumah tangga. Tiga golongan RT dirinci berdasarkan (i) 40 persen RT dengan pengeluaran konsumsi terendah, (ii) 40 persen RT dengan pengeluaran konsumsi menengah, dan (iii) 20 persen golongan RT dengan pengeluaran konsumsi tertinggi. Sepuluh golongan RT dirinci berdasarkan pengelompokan 10 persen RT dengan pengeluaran konsumsi terendah sebagai golongan RT I, 10 persen RT berikutnya sebagai golongan RT II, dan seterusnya. (Statistik Kesejahteraan Rakyat Propinsi DKI Jakarta 2004, BPS Propinsi DKI Jakarta). c. Sektor Produksi Merupakan penggabungan klasifikasi lapangan usaha pada Tabel I-O DKI Jakarta Tahun 2000 menjadi 27 kegiatan/sektor produksi pada SNSE DKI Jakarta ukuran 45x45. • • •

181

2. Kategori Sumber Air a. Air minum adalah sumber air yang berasal dari air yang telah diproses menjadi jernih sebelum dialirkan kepada konsumen melalui instalasi berupa saluran air (Statistik Kesejahteraan Rakyat Propinsi DKI Jakarta 2004, BPS Propinsi DKI Jakarta). Air minum sering disebut juga air ledeng (Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk DKI Jakarta 2002, BPS Propinsi DKI Jakarta) b. Air ledeng lainnya adalah sumber air yang berasal dari perusahaan air minum tetapi cara mendapatkannya tidak dari saluran yang langsung ke rumah tangga tersebut. Misal air dari penjaja keliling, diperoleh dari tetangga (rumah tangga lain) yang tidak dalam satu bangunan fisik (Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk DKI Jakarta 2002, BPS Propinsi DKI Jakarta) c. Sumur/perigi adalah jenis sumber air yang berasal dari dalam tanah yang digali, cara pengambilan airnya dengan menggunakan gayung atau ember baik dengan atau tanpa katrol. Dikategorikan sebagai terlindung bila lingkar mulut sumur dilindungi oleh tembok paling sedikit 0,8 meter di atas tanah dan sedalam 3 meter dibawah tanah dan disekitar mulut sumur terdapat lantai semen sejauh 1 meter dari lingkar luar sumur (Statistik Kesejahteraan Rakyat Propinsi DKI Jakarta 2004, BPS Propinsi DKI Jakarta). d. Pompa adalah jenis sumber air yang cara pengambilan airnya dengan menggunakan pompa tangan/pompa listrik (Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk DKI Jakarta 2002, BPS Propinsi DKI Jakarta). Bila rummah tangga menggunakan sumur tetapi menggunakan pompa untuk menaikkan airnya maka (i) jika permukaan sumur terbuka, dikategorikan sumber air sumur terlindung; (ii) jika permukaan sumur tertutup, dikategorikan sebagai sumber air pompa (Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk DKI Jakarta 2002, BPS Propinsi DKI Jakarta) e. Mata air adalah ari yang berasal dari bumi yang timbul dengan sendirinya di permukaan tanah. Dikategorikan sebagai terlindung bila mata air tersebut terlindung dari air bekas pakai, bekas mandi, mencuci atau lainnya (Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk DKI Jakarta 2002, BPS Propinsi DKI Jakarta) f. Air sungai adalah air yang diperoleh dari sungai (Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk DKI Jakarta 2002, BPS Propinsi DKI Jakarta) g. Air hujan adalah air yang diperoleh dengan cara menampung air hujan (Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk DKI Jakarta 2002, BPS Propinsi DKI Jakarta) h. Lainnya adalah sumber selain yang disebut di atas seperti waduk/danau (Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk DKI Jakarta 2002, BPS Propinsi DKI Jakarta) 3. Perusahaan Air Minum adalah perusahaan/usaha yang melakukan kegiatan pengadaan, penjernihan, penyediaan dan penyaluran air minum secara langsung

182

melalui pipa penyalur atau mobil tangki kepada pelanggan ke rumah tangga, industri dan konsumen lainnya dengan tujuan komersil. Perusahaan yang dicakup adalah Perusahaan Air Minum (PAM), Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan Badan Pengelola Air Minum (BPAM) maupun perusahaan/usaha swasta lainnya (Statistik Air Bersih 1998-2002, Badan Pusat Statistik) 4. Kategori Fasilitas Air Bersih/Air Minum a. Fasilitas air minum adalah instalasi air minum yang dikelola oleh PAM/PDAM atau non PAM/PDAM, termasuk sumur pompa. Instalasi yang dikelola oleh non PAM/PDAM dapat menggunkan cara yang sama atau berbeda dengan PAM/PDAM. b. Sendiri, bila fasilitas air minum hanya digunakan oleh rumah tangga responden saja c. Bersama, bila fasilitas air minum digunakan oleh rumah tangga bersama dengan beberapa rumah tangga tertentu (paling banyak 5 rumah tangga) d. Umum, bila fasialitas air minum digunakan oleh rumah tangga mana saja (tidak melihat asal tempat tinggal), baik membayar maupun tidak membayar e. Tidak ada, bila rumah tangga tidak mempunyai fasilitas air minum tertentu. Misalnya mengambil air langsung dari sungai atau air hujan (Evaluasi Keadaan Rumah Tangga Miskin 2003, BPS Propinsi DKI Jakarta) 5. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah nilai barang dan jasa yang diproduksi di daerah tertentu dalam satu tahun. Pengertian bruto adalah mengacu pada pemanfaatan faktor produksi yang juga mencakup milik daerah lain dalam proses produksi (Sadono Sukirno, Pengantar Teori Makroekonomi, Edisi Kedua, PT. Raja Grafindo Perkasa, Jakarta, 1994) 6. Pendapatan rumah tangga adalah pendapatan yang diterima oleh rumah tangga bersangkutan, baik yang berasal dari pendapatan kepala rumah tangga maupun pendapatan anggota rumah tangga. Pendapatan rumah tangga berasal dari balas jasa faktor produksi tenaga kerja (upah, gaji, keuntungan, bonus dan lainnya), balas jasa kapital (bunga, dividen, bagi hasil dan lainnya), dan pendapatan yang berasal dari pemberian pihak lain (transfer) (SNSE DKI Jakarta 2000, BPS Propinsi DKI Jakarta) 7. Pengeluaran konsumsi rumah tangga adalah pengeluaran rumah tangga untuk barang dan jasa, tidak termasuk pengeluaran transfer karena sudah tercakup dalam neraca transfer rumah tangga (SNSE DKI Jakarta 2000, BPS Propinsi DKI Jakarta) 8. Tabungan rumah tangga adalah pendapatan rumah tangga yang tidak dikonsumsi habis. Dalam SNSE, tabungan rumah tangga masih merupakan konsep Bruto karena masih mengandung unsur penyusutan barang modal yang digunakan untuk usaha rumah tangga (SNSE DKI Jakarta 2000, BPS Propinsi DKI Jakarta) 9. Pengeluaran konsumsi pemerintah adalah pengeluaran pemerintah untuk barang dan jasa (upah dan gaji, pembelian ATK dan lainnya), tidak termasuk pengeluaran

183

transfer karena sudah tercakup dalam neraca transfer pemerintah (SNSE DKI Jakarta 2000, BPS Propinsi DKI Jakarta) 10. Pendapatan disposebel (Disposable Income) adalah pendapatan yang telah dikurangi pajak (Sadono Sukirno, Pengantar Teori Makroekonomi, Edisi Kedua, PT. Raja Grafindo Perkasa, Jakarta, 1994).

184

LAMPIRAN 2 FUNGSI PENTING dalam MODEL CGE A.1 Fungsi Produksi Cobb-Douglas

Fungsi produksi Cobb_Douglas yang dipergunakan dan diperkirakan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Cobb dan Douglas (1928) dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:

Q = Aδt Lα K β …………………………………..(1)
dimana: Q K L A : : : : : : : : Output Kapital Tenaga kerja Konstanta keadaan teknologi Parameter dengan nilai 0 ≤ β ≤ 1 Parameter dengan nilai 0 ≤ α ≤ 1 Parameter dengan nilai ρ ≥ −1 Tingkat perubahan output dari waktu ke waktu dengan input yang tetap

β α ρ δ

A.2

Fungsi Produksi Elastisitas Substitusi Konstan (Constant Elasticity of Substitution, CES)

Fungsi ini mengukur proporsi perubahan suatu faktor produksi yang disebabkan oleh perubahan marjinal dari faktor produksi lainnya. Elastisitas substitusi diperkenalkan untuk pertama kalinya secara terpisah oleh Arrow, Chenery, Minhas dan Solow (1961). Fungsi produksi CES dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:

Q = γ αK − ρ + [1 − α ]L− ρ
dimana: Q K L : : : : : : :

(

)

1

ρ

E (U ) ………………………….. (2)

γ α ρ
E (U )

Output Kapital Tenaga kerja Parameter dengan nilai γ > 0 Parameter dengan nilai 0 ≤ α ≤ 1 Parameter dengan nilai ρ ≥ −1

Tingkat kesalahan dengan nilai E U K , L = 0

(

)

Berdasarkan persamaan (1) dapat diturunkan produk marjinal dari modal (marginal product of capital, MPK) dan produk marjinal dari tenaga kerja (marginal product of labor, MPL) yang masing-masing dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:

185

MPK = f K = γ αK − ρ + (1 − α )L− ρ

{

}

(1+ ρ )
ρ

αK − ρ −1

………………….

(3)

MPL = f L = γ αK − ρ + (1 − α )L− ρ

{

}

(1+ ρ )
ρ

(1 − α )L− ρ −1

………………….

(4)

CES mengukur persentase perubahan suatu faktor produksi yang disebabkan oleh perubahan marjinal dari faktor produksi lainnya dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:

⎛L⎞ d ln⎜ ⎟ ⎝K⎠ σ =− ⎛ f ⎞ d ln⎜ L ⎟ ⎜f ⎟ ⎝ K⎠
A.3

(2.5)

Fungsi Produksi Elastisitas Transformasi Konstan (Constant Elasticity of Transformation, CET)

Fungsi CET hampir sama dengan fungsi CES, dengan perbedaan mendasar terletak pada nilai parameter ρ yang bernilai positip, berbeda dengan nilai parameter ρ yang negatip pada fungsi CES. A.4 Fungsi Produksi Leontief

Fungsi Produksi Leontief mempergunakan asumsi bahwa output yang akan dihasilkan tergantung kepada komposisi input produksi dengan perbandingan yang selalu sama. Berdasarkan Fungsi Produksi Leontief tersebut apabila diinginkan peningkatan output produksi maka diperlukan peningkatan seluruh input dengan perbandingan yang tetap dan proporsional. A.5 Asumsi Armington

Ketika model menjadi terbuka, dibutuhkan perubahan terkait dengan substitusi diantara barang domestik, ekspor dan impor. Masalah ini disebabkan perdagangan dua arah dalam statistik perdagangan yang kemudian dituangkan dalam bentuk data ekspor dan data impor. Sebagai ilustrasi, ekspor beras 100 ton dan impor beras 20 ton pada saat yang bersamaan. Seharusnya kita tidak perlu melakukan impor. Masalah ini diselesaikan dengan melakukan substitusi barang domestik, impor dan ekspor. Barang ekspor dianggap berbeda dengan barang impor. Formula Armington yang memperlakukan suatu produk sejenis yang diproduksi di negara yang berbeda sebagai produk yang berbeda, perbedaan dari produk tersebut menurut teori di dalam model Hecksher-Ohlin diasumsikan bahwa produk sejenis yang diproduksi di negara berbeda adalah homogen untuk semua negara. Formula ini diambil untuk mengakomodasikan fenomena dalam suatu negara yang mempunyai dua jenis barang, yaitu barang impor maupun domestik adalah jenis barang yang sama (cross hauling)46.
46

Shoven and Whalley (1984)

186

LAMPIRAN 3 SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI

1 1.1

Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Pengertian SNSE

SNSE merangkum berbagai variabel sosial dan ekonomi secara kompak dan terpadu untuk memperlihatkan gambaran umum mengenai perekonomian satu negara47 dan keterkaitan antara variabel sosial dan ekonomi pada waktu tertentu (BPS, 1990). Kerangka SNSE sebagai suatu sistem analisis dapat dipahami dengan mempelajari hubungan timbal balik antara struktur produksi, distribusi pendapatan dari kegiatan produksi serta konsumsi, tabungan dan investasi. 1.2 Prinsip dan Dasar Pemikiran

SNSE dibentuk atas dua prinsip dasar, yaitu (i) sebagai sistem kerangka data yang bersifat modular yang dapat menghubungkan variabel-variabel ataupun subsistem-subsistem yang terdapat di dalamnya secara terpadu, (ii) sebagai suatu sistem klasifikasi data yang konsisten dan komprehensif, sehingga dapat digunakan sebagai alat analisis ekonomi-sosial terutama yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan dan ketenagakerjaan (BPS DKI Jakarta, 2002). Penyusunan kerangka SNSE dimulai dengan dasar bahwa masyarakat mempunyai kebutuhan dasar yang umumnya dipenuhi dengan pembelian berbagai komoditas. Permintaan efektif terhadap paket kebutuhan tersebut dipenuhi oleh sektor produksi yang menghasilkan berbagai output komoditas. Namun, untuk menghasilkan output tersebut sektor produksi memerlukan faktor-faktor produksi antara lain tenaga kerja yang dipenuhi oleh sektor rumah tangga dan modal dari sektor perbankan. Permintaan turunannya (derived demand) terhadap faktor produksi tenaga kerja memberikan balas jasa berupa upah dan gaji, sedangkan terhadap faktor produksi kapital berupa keuntungan, deviden, bunga dan lainnya. Dalam SNSE, distribusi pendapatan yang diterima oleh masing masing faktor produksi dirinci menurut sektor ekonomi yang bersangkutan dan disebut sebagai distribusi pendapatan faktorial. Nilai tambah (value added) dihasilkan dari penjumlahan total upah dan gaji ditambah dengan pendapatan kapital, dimana total nilai tambah menunjukkan pendapatan domestrik bruto (PDB). Pendapatan faktorial diterima oleh pelaku ekonomi seperti rumah tangga, perusahaan dan pemerintah. Kontribusi pada pendapatan rumah tangga ditunjukkan dengan pendapatan faktorial yang diterima oleh rumah tangga. Pendapatan itu dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan mereka dan sisanya ditabung dalam sistem perbankan sebagai pembentukan modal atau investasi. Bagi rumah tangga, hal ini disebut sebagai pola pengeluaran rumah tangga. Demikian juga pendapatan faktorial yang diterima oleh pemerintah, setelah dibelanjakan, sisanya ditabung atau digunakan untuk melakukan investasi lain seperti infrastruktur, sistem irigasi dan sebagainya (BPS, 1993). Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4.1.
47

Lingkup SNSE tidak hanya suatu negara tetapi juga dapat mencakup sistem perekonomian yang lebih kecil seperti propinsi, kabupaten, kota. Bahkan dapat juga mencakup sistem perekonomian yang lebih besar dari negara misalnya benua atau region seperti Asia Tenggara.

187

Gambar C.1 Sistem Modular SNSE Kebutuhan Dasar

Pengeluaran Rumah Tangga

Permintaan Investasi Akhir

Investasi Konsumsi Pemerintah

Distribusi Pendapatan Rumah Tangga

Ekspor, Impor, dan Neraca Pembayaran

Pemerintah

Kegiatan Produksi

PDB dan Distribusi Pendapatan

Sumber: BPS DKI Jakarta, 2002 Dalam kerangka SNSE terdapat 3 tahap pemetaan yang dilakukan untuk membedakan proses, yaitu (i) struktur produksi, (ii) distribusi nilai tambah yang dihasilkan oleh sektor produksi (distribusi pendapatan faktorial), dan (iii) pendapatan, konsumsi, tabungan dan investasi (distribusi pendapatan dan pengeluaran rumah tangga). 1.3 Kerangka Dasar SNSE

SNSE merupakan sebuah matriks yang merangkum neraca sosial dan ekonomi secara menyeluruh. Kumpulan-kumpulan neraca (account) tersebut dikelompokkan menjadi dua kelompok, yakni kelompok neraca-neraca endogen dan kelompok neraca-neraca eksogen. Secara garis besar kelompok neraca-neraca endogen dibagi dalam tiga blok, yaitu (i) blok neraca-neraca faktor produksi (blok faktor produksi), (ii) blok neraca-neraca institusi (blok institusi), dan (iii) blok neraca-neraca aktivitas produksi (blok kegiatan produksi). Setiap neraca dalam SNSE disusun dalam bentuk baris dan kolom. Vektor baris menunjukkan perincian penerimaan, sedangkan vektor kolom menunjukkan perincian pengeluaran. Untuk kegiatan yang sama, jumlah baris sama dengan jumlah kolom, dengan kata lain jumlah penerimaan sama dengan pengeluaran. Untuk setiap baris, kolom 5 merupakan penjumlahan dari kolom 1,2,3 dan 4. Demikian pula untuk setiap kolom, baris 5 merupakan penjumlahan dari baris 1,2,3 dan 4. Karena jumlah penerimaan sama dengan pengeluaran, maka baris 5 merupakan transpose dari kolom 5. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.1 Di dalam tabel SNSE di atas terdapat beberapa matriks. Pertama. Matriks T yang merupakan matriks transaksi antar blok dalam neraca endogen. Kedua. Matriks X yang

188

menunjukkan pendapatan neraca endogen dari neraca eksogen. Ketiga. Matriks L yang menunjukkan pengeluaran neraca endogen untuk neraca eksogen, disebut juga leakages. Keempat. Matriks Y yang merupakan pendapatan total dari neraca endogen. Kelima. Matriks Y’ yang merupakan pengeluaran total dari neraca endogen. Matriks T sebagai matriks transaksi antar blok di dalam neraca endogen dapat ditulis sebagai berikut.

0 T1.3 ⎤ ⎡0 ⎢T T = ⎢ 2.1 T2.2 0 ⎥ ⎥ ⎢ 0 T3.2 T3.3 ⎥ ⎣ ⎦
Sebagai salah satu submatriks dari SNSE, matriks T juga menggambarkan transaksi penerimaan dan pengeluaran, dengan lingkup yang lebih sempit, yakni di dalam neraca endogen. Tabel C.1 Kerangka Dasar SNSE
Pengeluaran Faktor Produksi 1 N e r a c a P E N E R I M A A N E n d o g e n Neraca Endogen Institusi 2 Kegiatan Produksi 3 T13 Distribusi Nilai Tambah Neraca Eksogen 4 X1 Pendapatan Eksogen Faktor Produksi X2 Pendapatan Institusi Dari Eksogen X3 Ekspor Dan Investasi R Transfer Antar Eksogen Total 5 Y1 Jumlah Pendapatan Faktor Produksi Y2 Jumlah Pendapatan Institusi Y3 Jumlah Output Kegiatan Produksi Jumlah Pendapatan Eksogen

Faktor Produksi

1

0

0

Institusi

T21 Pendapatan 2 Institusi dari Faktor Produksi 3 0

T22 Transfer Antar Institusi T32 Permintaan Akhir Domestik L2 Tabungan

0

Kegiatan Produksi

L1 Pengeluaran Eksogen Faktor Produksi Y1’ 5 Jumlah Jumlah Pengeluaran Faktor Produksi Sumber: diolah dari Thorbecke, 1988 Neraca Eksogen 4

T33 Transaksi Antar Kegiatan (I-O) L3 Impor dan pajak Tak langsung Y3’ Jumlah Pengeluaran Kegiatan Produksi

Y2’ Jumlah Pengeluaran Institusi

Jumlah Pengeluaran Eksogen

189

Tabel C.2 Ringkasan Kerangka Dasar Sistem Neraca Sosial Ekonomi Neraca Faktor Produksi Institusi Sektor Produksi Sumber: Manaf, 2000 Apabila dibaca per baris, matriks T menunjukkan penerimaan salah satu blok dari blok yang lain. Pada baris satu, T1.3 menunjukkan penerimaan faktor produksi dari kegiatan produksi. Pada baris dua, T2.1 menunjukkan penerimaan institusi dari faktor produksi dan T2.2 menunjukkan penerimaan institusi dari institusi itu sendiri. Pada baris tiga, T3.2 menunjukkan penerimaan kegiatan produksi dari institusi dan T3.3 menunjukkan penerimaan kegiatan produksi dari kegiatan produksi itu sendiri. Sebaliknya jika dibaca per kolom, matriks T menunjukkan pengeluaran salah satu blok untuk blok yang lain. Pada kolom satu, T2.1 menunjukkan pengeluaran faktor produksi untuk institusi. Pada kolom dua, T2.2 menunjukkan pengeluaran institusi untuk institusi itu sendiri dan T3.2 menunjukkan pengeluaran institusi untuk kegiatan produksi. Pada kolom tiga, T1.3 menunjukkan pengeluaran kegiatan produksi untuk faktor produksi dan T3.3 menunjukkan pengeluaran kegiatan produksi untuk kegiatan produksi itu sendiri. Gambar C.2 Penyederhanaan Pola Transaksi Antar Blok dalam SNSE Aktifitas Produksi
T33

Penerimaan

Pengeluaran

Y1 = T1.3 + X 1

Y1' = T2.1 + L1
Y2' = T2.2 + T3.2 + L2 Y3' = T1.3 + T3.3 + L3

Y2 = T2.1 + T2.2 + X 2
Y3 = T3.2 + T3.3 + X 3

Pola Pengeluaran Konsumsi
T32 T13

Nilai Tambah

Institusi (termasuk distribusi pendapatan rumah tangga)
T22

T21

Distribusi Pendapatan

Faktor Produksi (distribusi pendapatan dari faktor produksi)
T22

Sumber: Thorbecke (1988)

190

Ditinjau dari sama tidaknya blok yang bertransaksi, maka di dalam matriks transaksi T diatas terdapat transaksi yang terjadi antar blok yang berbeda seperti T1.3 , T2.1 , T3.2 dan yang terjadi di dalam blok yang sama seperti T2.2 dan T3.3 . Hubungan tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.2. Tanda panah dalam Gambar 4.2 menunjukkan aliran uang. Penjelasan lebih rinci dari tiap matriks sebagai berikut. (i) Pada baris satu, T1.3 menunjukkan alokasi nilai tambah yang dihasilkan oleh berbagai sektor produksi ke faktor produksi, sebagai balas jasa dari penggunaan faktor produksi tersebut. Misalnya upah dan gaji sebagai balas jasa bagi penggunaan faktor produksi tenaga kerja. (ii) Pada baris dua, T2.1 menunjukkan alokasi pendapatan faktor produksi ke berbagai institusi, yang umumnya terdiri dari rumah tangga, pemerintah dan perusahaan. Matriks ini merekam distribusi pendapatan dari faktor produksi ke berbagai institusi. T2.2 menunjukkan transfer pembayaran antar institusi. Misalnya pemberian subsidi dari pemerintah ke rumah tangga. (iii) Pada baris ketiga, T3.2 menunjukkan permintaan terhadap barang dan jasa oleh institusi. Artinya jumlah uang yang dibayarkan institusi ke sektor produksi untuk membeli barang dan jasa yang dikonsumsi. T3.3 menunjukkan permintaan barang dan jasa antarindustri atau transaksi antarsektor produksi. 2 2.1 Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) DKI Jakarta Tahun 200048 Konsep dan Definisi

Secara garis besar konsep dan definisi dari klasifikasi kerangka SNSE DKI Jakarta Tahun 2000 sebagai berikut: Neraca Faktor Produksi Neraca faktor produksi dibedakan atas tenaga kerja dan bukan tenaga kerja (atau modal). Tenaga kerja dibedakan menurut jenis dan status pekerjaan dari tenaga kerja, yang terdiri dari tenaga kerja pertanian, tenaga kerja produksi, operator alat angkutan, manual (buruh kasar), tenaga kerja tata-usaha, penjualan dan jasa-jasa, tenaga kepemimpinan, ketatalaksanaan, militer, profesional dan teknisi, ekivalen tenaga kerja49. Faktor produksi tenaga kerja menerima upah dan gaji (termasuk imputasi upah dan gaji) sebagai balas jasa bagi penyertaan faktor produksi tenaga kerja dalam kegiatan ekonomi. Sementara faktor produksi modal menerima keuntungan, dividen, bunga, sewa rumah sebagai balas jasa bagi penyertaan faktor produksi modal dalam kegiatan ekonomi. a.

Dikutip dengan beberapa penyesuaian dari Sistem Neraca Sosial Ekonomi DKI Jakarta 2000. BPS DKI Jakarta, 2002. 49 Ekivalen Tenaga Kerja (ETK) adalah sepadan dengan satu tenaga kerja yang bekerja selama 40 jam seminggu. Ukuran ETK dimaksudkan untuk mengakomodasi tenaga kerja yang bekerja di beberapa sektor atau untuk tenaga kerja yang bekerja kurang atau lebih dari jam kerja normal (40 jam seminggu). Ukuran ini berbeda dengan yang digunakan dalam tabel I-O yang menggunakan ukuran orang (BPS DKI Jakarta, 2002)

48

191

b.

Neraca Institusi Neraca institusi dibedakan dalam tiga klasifikasi yaitu pemerintah (DKI Jakarta), swasta, dan rumah tangga. Pada SNSE DKI Jakarta 2000, rumah tangga dikelompokkan dalam tiga golongan pada SNSE ukuran 38x38, dan 10 golongan pada SNSE ukuran 103x103. Masing-masing klasifikasi neraca institusi didefinisikan sebagai (i) pemerintah adalah pemerintah DKI Jakarta, (ii) swasta adalah swasta yang menjalankan operasi bisnis di DKI Jakarta, dan (iii) rumah tangga adalah sekelompok orang yang tinggal dalam satu atap dan makan dari satu dapur, yang bertempat tinggal di DKI Jakarta (BPS DKI Jakarta, 2002). Pada SNSE ukuran 38x38, tiga golongan rumah tangga adalah (i) 40 persen rumah tangga dengan pengeluaran konsumsi paling rendah; (ii) 40 persen golongan rumah tangga dengan pengeluaran konsumsi menengah; (iii) 20 persen golongan rumah tangga dengan pengeluaran konsumsi tertinggi. Pada SNSE ukuran 103x103, rumah tangga diklasifikasikan dalam 10 golongan berdasar pengelompokan 10 persen rumah tangga dengan tingkat konsumsi terendah sebagai golongan I; 10 persen rumah tangga berikutnya sebagai golongan II, dan seterusnya hingga 10 persen rumah tangga terakhir dengan tingkat konsumsi tertinggi sebagai golongan X. c.

Neraca Sektor Produksi Klasifikasi sektor produksi dalam kerangka SNSE DKI Jakarta 2000 merupakan penggabungan klasifikasi lapangan usaha pada tabel I-O DKI Jakarta 2000. Pada SNSE ukuran 38x38, lapangan usaha digabungkan menjadi hanya 9 sektor produksi, sementara pada SNSE ukuran 103x103 digabungkan menjadi 26 sektor produksi. Neraca Lainnya Neraca lain meliputi marjin perdagangan dan pengangkutan, neraca kapital, pajak tidak langsung dan neraca luar negeri (luar DKI Jakarta). 2.2 Klasifikasi d.

Terdapat 3 klasifikasi SNSE DKI Jakarta 2000, yaitu (i) klasifikasi agregat ukuran 12x12, (ii) klasifikasi agregat ukuran 38x38, dan (iii) klasifikasi agregat ukuran 103x103. Pada masing-masing klasifikasi SNSE DKI Jakarta 2000 tersebut terdapat empat neraca utama, yaitu (a) faktor produksi, (b) institusi, (c) sektor produksi, (d) neraca lainnya. Perbedaan masingmasing klasifikasi ditentukan oleh perbedaan rinciannya. Selengkapnya pada Lampiran 4.

192

Lampiran 4. Sistem Neraca Sosial Ekonomi DKI Jakarta, 2000 (45x45; dalam Rp juta)
LABOR LABOR CAPAM CAPNAM VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH MIDIHH MIDIIHH MIDIIIHH HIGHIHH HIGHIIHH VEHIGHH COMPANY GOVERN AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUC TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV CAPACC INTXSUB ROW TOTAL 0.00 0.00 0.00 1103375.70 2177006.66 2596843.46 3633268.02 4064596.81 5143752.46 6679774.06 7653883.89 9716699.87 31077055.30 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 12051972.18 85898228.41 CAPAM 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 168116.54 7499.97 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 175616.51 CAPNAM 0.00 0.00 0.00 703292.66 481041.23 707810.81 1117052.71 1324344.80 1854663.07 2508930.62 3224056.68 4567797.79 21436827.23 83118640.63 614047.80 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7076243.62 128734749.65 VEPOIHH 0.00 0.00 0.00 533.30 935.88 841.83 820.38 1853.70 1264.99 1351.21 3833.99 2546.81 2550.57 0.00 3495.96 8837.39 703.77 963.18 841.68 0.00 112556.59 42169.48 20513.93 310.76 3207.06 5590.58 17099.85 2002.45 705.72 18.77 0.00 11711.57 591155.79 83697.09 27722.25 20066.24 2740.66 1973.78 209664.60 20007.92 38803.03 71716.08 69482.80 0.00 529721.29 1914012.93 VEPOIIHH 0.00 0.00 0.00 1070.60 1878.77 1689.97 1646.91 3721.30 2539.47 2712.56 7696.73 5112.72 5120.26 0.00 5028.23 15430.29 1188.73 1626.89 1895.13 0.00 159682.55 59481.95 26938.42 2907.14 605.77 10751.04 22295.19 3271.91 776.41 37.54 0.00 26769.30 621836.82 120508.55 39914.98 28891.72 3709.15 95023.33 276870.03 29154.39 70837.13 81649.83 106971.38 0.00 995096.56 2842339.65 POORIHH 0.00 0.00 0.00 868.25 1523.68 1370.56 1335.64 3017.96 2059.50 2199.88 6242.02 4146.40 4152.52 0.00 8067.98 19653.53 1557.08 2131.02 2675.23 0.00 208937.87 85453.64 34870.30 6465.87 1347.31 14961.42 29616.25 3573.74 949.69 61.35 0.00 15601.83 801287.01 157451.74 52151.35 37748.79 6946.09 22839.44 364560.57 37829.18 100493.37 87148.46 198064.66 0.00 1120539.72 3449900.90 POORIIHH 0.00 0.00 0.00 1305.26 2290.57 2060.38 2007.89 4536.95 3096.08 3307.11 9383.73 6233.34 6242.55 0.00 11618.48 21782.34 1514.25 2072.40 3038.88 0.00 228764.40 106058.09 40065.78 6916.98 1441.31 21509.93 33822.37 4585.03 1352.34 560.49 0.00 14459.23 886860.17 189411.35 62737.05 45411.05 13601.44 43705.09 420620.50 45548.08 131592.87 99812.67 333792.15 0.00 2149454.64 4962573.22 MIDIHH 0.00 0.00 0.00 3672.63 6445.04 5797.35 5649.65 12765.72 8711.52 9305.31 26403.24 17538.92 17564.81 0.00 8211.78 26829.13 1965.02 2689.33 4049.07 0.00 272869.25 106470.34 47437.78 4450.93 927.45 26087.61 45499.13 4902.73 1581.38 459.92 0.00 15288.97 1003138.68 241887.03 80118.11 57992.01 40187.68 7613.15 549779.85 61095.21 168371.93 150560.02 393248.25 0.00 2227295.56 5664861.49 MIDIIHH 0.00 0.00 0.00 4732.04 8304.17 7469.65 7279.34 16448.10 11224.43 11989.50 34019.47 22598.16 22631.52 0.00 34627.35 36757.61 2705.65 3702.95 5548.98 0.00 354835.33 165009.72 62645.41 16300.02 3396.48 45667.71 60685.15 6913.92 2268.60 966.44 0.00 34944.28 1302374.76 350279.69 116020.05 83978.97 60885.21 174538.40 747306.49 82412.00 379858.51 212938.22 459527.65 0.00 2384289.68 7338081.61 MIDIIIHH 0.00 0.00 0.00 4566.80 8014.20 7208.82 7025.15 15873.76 10832.49 11570.84 32831.55 21809.06 21841.26 0.00 14301.20 42768.53 3485.19 4769.82 6946.89 0.00 459007.27 218295.92 81502.62 47175.82 9830.17 55348.26 82239.28 9572.46 3399.21 598.04 0.00 37161.45 1748906.02 411816.90 136402.48 98732.41 108389.35 41731.31 962713.24 113340.71 410801.75 264311.61 577829.91 0.00 3434585.17 9527536.92 HIGHIHH 0.00 0.00 0.00 6455.42 11328.51 10190.06 9930.44 22438.43 15312.32 16356.02 46409.21 30828.31 30873.82 0.00 38569.60 52967.23 3546.22 4853.35 8558.33 0.00 509186.30 255408.34 90975.19 69039.49 14385.97 76003.21 99650.74 9933.09 4199.71 1195.06 0.00 91910.66 1815220.24 452964.29 150031.36 108597.43 187927.70 24249.28 1123372.15 152381.92 528610.71 427633.89 843096.31 0.00 4213607.25 11558197.56 HIGHIIHH 0.00 0.00 0.00 10018.16 17580.70 15813.95 15411.05 34822.18 23763.18 25382.90 72022.42 47842.44 47913.06 0.00 71545.66 66160.91 4234.58 5795.43 11456.01 0.00 639136.85 377227.96 111939.72 132876.21 27687.82 116340.32 140013.45 12209.38 5870.27 3545.97 0.00 157052.02 2403846.44 574411.38 190257.21 137714.16 327047.61 355280.10 1592886.47 256469.94 748238.37 824455.82 1354517.88 0.00 4466778.69 15425566.67 VEHIGHH 0.00 0.00 0.00 23720.80 41627.22 37443.94 36489.96 82451.23 56265.97 60101.10 170533.18 113280.33 113447.55 0.00 131656.32 108813.04 6563.35 8982.58 21872.96 0.00 1127327.61 820429.79 230729.04 976778.01 203534.19 290961.17 479244.53 29139.51 15012.67 26718.50 0.00 970197.41 4208878.44 1031177.94 340836.73 246116.64 885735.08 15358791.57 4231680.71 844173.79 1728483.06 4828618.12 1202048.14 0.00 13197245.24 54287107.42 COMPANY 0.00 0.00 0.00 17355.82 38926.63 2826.52 32604.15 4958.81 62064.42 29752.84 163144.74 415548.00 1164005.48 220284.77 657877.40 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 9108855.68 0.00 175483738.08 187401943.34 GOVERN 0.00 0.00 0.00 26777.56 41236.28 49588.07 89803.99 71704.34 141504.51 163838.97 107050.72 453234.93 336633.55 0.00 1575869.17 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 9361349.90 0.00 0.00 767117.91 0.00 805654.00 13991363.90 AGRI 81500.43 0.00 158717.64 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 3525.54 3.28 554.86 8.03 0.00 0.00 724.14 10847.83 174.90 258.73 1120.00 2.50 0.00 0.00 1607.79 963195.64 0.00 2058.94 35145.21 35398.96 11068.87 330.37 550.54 399.83 211.42 87.30 1183.66 0.00 31.72 12700.52 1321408.65 PLANT 18973.74 0.00 24750.28 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 132.25 1116.00 256.74 0.00 0.00 0.00 26.71 2006.53 38.76 14.08 1112.44 299.25 0.34 0.14 499.65 158757.53 0.00 0.00 5824.48 5834.59 1812.65 54.02 13.09 56.35 116.36 0.00 426.16 0.00 7.03 2264.66 224393.83 LIVESTOC 14089.16 0.00 15966.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 366.15 16.60 156.11 12.78 0.22 8709.24 6.06 1338.86 1230.60 1.04 188.52 153.57 33.86 0.00 483.11 157407.26 0.00 280.26 5759.75 5786.22 1798.00 28.62 461.73 281.10 28.24 293.45 54.14 0.00 3.33 6181.99 221116.00

193

Lanjutan Lampiran 4 Sistem Neraca Sosial Ekonomi DKI Jakarta, 2000 (45x45; dalam Rp juta)
FISHERY LABOR CAPAM CAPNAM VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH MIDIHH MIDIIHH MIDIIIHH HIGHIHH HIGHIIHH VEHIGHH COMPANY GOVERN AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUC TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV CAPACC INTXSUB ROW TOTAL 128427.32 0.00 155436.54 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.31 132.54 7.04 7033.91 0.00 7364.83 2214.43 954.82 2129.79 4978.41 745.25 752.32 68.52 0.24 5766.61 277225.53 0.00 6398.36 10105.05 10289.70 3165.28 299.35 2435.52 181.82 925.00 597.02 1293.11 0.00 181.29 39309.39 668419.30 MINE 112333.95 0.00 1248092.55 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 36.59 0.00 0.00 35.12 0.00 15276.22 19942.99 62335.36 11572.53 8666.42 2113.01 784.74 0.00 53849.65 18123.91 1177.88 5789.85 36017.08 5910.28 4248.97 3712.65 240553.95 113230.42 0.00 6898.69 25773.92 0.00 4246.29 395968.63 2396691.65 FOODTOB 1666730.94 0.00 3178448.49 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 538543.61 0.00 98727.27 105299.75 12.78 2172376.70 16187.94 236045.42 15011.78 33388.10 206165.64 391415.80 31115.56 9161.19 6221.00 2558813.75 1094.65 2043.10 99725.82 96327.58 34273.38 71846.67 285060.56 179253.44 7617.16 37652.41 65190.70 0.00 24130.02 7380895.59 19548776.80 TEXLEATH 3900118.31 0.00 6955554.15 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7658.56 0.00 1998.56 0.00 0.00 4302.54 6276535.32 443692.36 64069.00 91934.35 199039.24 277953.38 39213.05 7795.55 4024.00 5864794.54 1241.33 18200.66 227436.73 229588.65 82478.39 98890.13 1316817.56 1210557.17 0.00 105547.44 53826.67 0.00 32059.19 6380233.13 33895559.96 CHEBSRUB 2397508.82 0.00 4019017.24 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 12044.50 10148.72 0.00 74.08 181.16 16797.67 16450.97 2685009.03 50812.21 35627.93 107927.57 178444.29 39658.43 7455.78 0.00 3820776.09 895.37 4317.53 150206.79 143350.50 54064.25 168664.06 269837.23 472096.27 0.00 85355.97 54403.96 0.00 -2600.54 4402449.83 19200975.71 MACHINEQ 4549128.23 0.00 9123076.72 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 118.57 0.00 0.00 153.93 0.00 5667.32 623938.45 6926031.68 63240.79 1452624.61 346518.67 42905.58 18140.48 0.00 12753019.26 747.99 18885.70 476387.87 475330.46 153997.14 143050.19 1625824.57 977160.02 48549.29 73689.04 100355.05 0.00 57876.26 11851377.26 51907795.13 BBMBBG 13634.88 0.00 66228.46 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 26.11 0.00 240.37 504.12 343.61 1038.11 252.48 432.51 6.53 1.88 0.00 1839449.59 0.10 0.26 66967.78 67603.71 21004.57 957.22 829.83 44.59 0.00 7.99 192.06 0.00 3.07 3438.05 2083207.88 PAPWOMET 2835232.37 0.00 4205321.07 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 608.60 23288.46 0.00 0.00 3179.96 966.05 35074.92 494472.27 183254.94 98249.33 2224226.76 518033.25 49360.41 9812.85 0.00 7894616.15 739.14 30481.70 342145.25 292706.87 99724.90 245148.04 335295.14 351733.29 0.00 60019.63 60539.18 0.00 24962.26 6240392.27 26659585.06 LIGAS 1631068.72 0.00 2957599.28 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.44 0.01 0.23 0.00 5766.30 3.85 15633.33 26403.34 500214.17 310858.93 66748.74 897533.75 48.43 2.71 259987.62 0.00 2901.90 20353.25 35788.36 51578.78 1178.70 65196.48 90507.71 550309.07 80895.28 23260.22 5524.86 0.00 -2108635.13 2325178.56 7815907.89 WATPAM 127325.74 175616.51 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.02 0.01 0.06 0.00 0.00 0.31 744.34 43283.70 6129.71 2080.58 8283.57 17883.00 6381.37 0.00 14025.53 0.00 873.37 3838.14 3737.07 57.39 44.43 1850.94 8412.95 3502.88 2527.39 590.20 2802.54 0.00 1478.22 41263.72 472733.69 WATNPAM 311.87 0.00 99213.12 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10.19 0.00 926.11 0.00 12.99 0.00 0.00 0.00 1.15 0.00 0.00 0.00 1.03 4.31 0.93 0.00 0.00 0.00 0.00 1.31 100483.01 COSTRUC 8866544.65 0.00 11289174.53 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 111988.54 0.00 0.00 7056.07 0.00 8834.96 960033.41 808581.15 262637.61 4720963.13 155968.80 14296.83 47.18 71168.39 0.00 10350.00 116284.51 82125.02 1659.97 4313.65 116540.42 912278.39 1274577.71 26790.27 86200.43 97657.34 0.00 118782.90 9011044.49 39135900.35 TRADE 16196910.60 0.00 17912479.11 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.03 0.00 0.00 4243.41 109089.48 422136.38 162943.81 132339.40 412458.14 818276.28 15775.46 923.60 385464.02 0.00 47658.47 702568.12 657199.48 124589.09 87878.10 650296.18 1749525.71 1283642.39 7859.49 52419.10 113192.91 0.00 149979.02 2199918.28 44399766.06 HOTEL 1073075.74 0.00 1332444.63 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1167.55 1167.36 0.00 0.01 0.00 105622.35 27792.66 17346.87 9061.13 9438.22 34246.07 264681.88 28108.31 4643.49 71949.85 0.00 23664.41 14812.98 5166.22 485.54 4374.29 63730.56 273839.03 122249.59 47587.44 105950.89 16036.54 0.00 71441.96 290301.37 4020386.94 REST 4457519.31 0.00 3806259.71 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 259256.10 14123.24 58109.41 276775.58 0.00 4060213.84 98548.00 74066.28 38461.24 95516.33 175813.28 410952.26 24018.65 2219.32 130397.46 0.00 55531.23 216262.56 21910.21 9.62 30213.97 231958.57 285411.16 326828.60 98991.37 91380.96 10198.36 0.00 370026.65 4408203.50 20129176.77 TRANS 3111265.23 0.00 1621119.37 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.36 0.15 0.00 0.00 0.00 9274.60 28966.87 525801.34 256095.93 19749.86 39521.36 3907.51 0.00 33981.47 0.00 5822.61 106523.68 68318.78 24552.88 225598.68 43889.27 193311.26 66177.19 47507.36 12142.39 289267.05 0.00 28156.25 1701743.85 8462695.30 AIRSEA 1025741.74 0.00 1437696.81 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 52617.38 25194.36 49707.24 77296.31 126067.53 30632.43 30114.59 22644.69 0.00 67794.73 0.00 5308.47 18718.22 4963.89 56241.26 185467.15 56577.23 293988.62 122975.30 12152.29 15948.67 7513.34 0.00 11394.67 1257120.73 4993877.65 TRANSSEV 598166.77 0.00 1505947.91 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 11397.15 3032.75 12874.49 17277.87 11729.72 39587.35 7427.81 0.00 90010.38 0.00 35144.60 14807.18 3315.11 3638.08 103750.10 123425.35 18815.32 183795.54 19943.76 20578.61 23914.05 0.00 7936.74 125898.08 2982414.72

194

Lanjutan Lampiran 4 Sistem Neraca Sosial Ekonomi DKI Jakarta, 2000 (45x45; dalam Rp juta)
COMSEV LABOR CAPAM CAPNAM VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH MIDIHH MIDIIHH MIDIIIHH HIGHIHH HIGHIIHH VEHIGHH COMPANY GOVERN AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUC TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV CAPACC INTXSUB ROW TOTAL 2042336.59 0.00 3178628.27 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.80 10092.28 10873.00 62172.67 27584.24 117221.71 159470.10 8878.89 298.33 510413.12 0.00 27171.33 34341.24 17068.52 21749.10 33949.96 476388.17 171614.32 530210.01 76491.34 53914.69 12419.74 0.00 23738.68 1231861.67 8838888.77 BANKOSEV 11497395.09 0.00 15683659.06 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.16 0.00 0.00 0.00 0.44 9797.96 16110.73 25701.51 18605.62 325818.83 351496.89 2642.60 141.64 376623.47 0.00 46019.48 90432.09 96752.52 1154.16 6391.68 1028217.01 5875120.29 2508612.44 51702.04 60551.96 62528.63 0.00 132209.74 1433208.41 39700895.45 RENTSEV 6812199.88 0.00 11951690.34 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.10 0.96 0.00 0.00 0.00 0.69 54832.80 425585.68 479773.72 125229.41 396861.07 866211.71 22040.87 960.98 1471866.40 0.00 124239.76 166061.74 83224.05 33661.76 62946.14 763352.83 3710216.64 2059004.44 352890.68 506452.32 383849.69 0.00 101608.48 2395750.51 33350513.65 GOVSEV 5833639.47 0.00 955420.85 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 11512.77 37.47 1934.67 4100.39 0.00 63346.58 92103.89 483567.39 214767.61 52153.09 574821.08 393493.69 6936.34 729.70 1016219.18 0.00 48532.96 451023.84 69884.75 34275.01 146697.95 274957.55 244801.12 263662.94 610842.94 26457.42 68924.13 0.00 9.74 1436929.22 13381783.74 SOSSEV 3255546.52 0.00 1245449.95 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 21691.59 4793.73 3839.72 58.19 0.00 208563.14 122480.57 581810.64 72543.76 24615.08 322362.83 217408.04 13246.54 312.62 120899.34 0.00 20011.90 36339.38 12145.96 2198.41 7932.70 122803.88 99114.09 512068.34 206706.13 385584.27 42195.62 0.00 82767.61 1011705.07 8757195.62 HHSEV 3391181.47 0.00 5114992.58 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8.09 0.00 0.00 0.00 1494.94 347717.26 272072.39 198088.46 16039.23 73943.78 427021.33 6579.45 179.26 60776.79 0.00 4942.00 1349.97 9530.57 67.62 2614.67 105105.56 48808.08 312873.94 11061.95 39184.83 22187.31 0.00 36905.74 632007.44 11136734.71 CAPACC 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 17.50 1753.42 0.24 0.00 29604.41 350004.44 106415.12 21841950.41 1.88 1552300.25 2.37 -377.41 1540.07 34347695.72 883.68 4643.49 2219.32 0.00 6.00 0.00 298.33 141.64 960.98 729.70 25418.36 43860.82 0.00 0.00 13007824.99 71317895.73 INTXSUB 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -677796.72 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -677796.72 ROW 260320.87 0.00 19492364.96 6267.93 4200.11 2945.53 2247.94 1327.40 1027.20 964.00 685.99 349.59 247.94 103894901.40 11486743.72 64900.56 29930.80 16190.78 208173.18 2380280.00 8740243.61 23997612.25 10413193.05 18302779.78 0.00 12950330.20 0.00 0.00 0.00 0.00 8092703.13 2176577.78 2661279.82 2222235.87 2073633.89 746176.73 2344149.15 5521562.92 9444609.07 665892.87 2574920.63 2522578.45 55903343.01 153502.09 95287239.01 404648633.21 TOTAL 85898228.41 175616.51 128734749.65 1914012.93 2842339.65 3449900.90 4962573.22 5664861.49 7338081.61 9527536.92 11558197.56 15425566.67 54287107.42 187401943.34 13991363.90 1321408.65 224393.83 221116.00 668419.30 2396691.65 19548776.80 33895559.96 19200975.71 51907795.13 2083207.88 26659585.06 7815907.89 472733.69 100483.01 39135900.35 44399766.06 4020386.94 20129176.77 8462695.30 4993877.65 2982414.72 8838888.77 39700895.45 33350513.65 13381783.74 8757195.62 11136734.71 71317895.73 -677796.72 404648633.21

195

LAMPIRAN 5 PENYESUAIAN SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI

Tabel E.1 Penyesuaian Neraca Faktor Produksi Berdasar Ukuran SNSE
103x103
Pertanian* [1], [2] Produksi, Operator alat angkutan, Buruh kasar* [3], [4] Tata usaha, Penjualan, Jasa-Jasa* [5], [6] Kepemimpinan, Ketatalaksanaan, Militer, Profesional, Teknisi* [7], [8]

38x38

12x12

CGE

Tenaga Kerja

Tenaga Kerja [1]

Tenaga Kerja [1]

Tenaga Kerja [1]

Bukan Tenaga Kerja

Modal [9] Modal [2] Modal [2]

Modal Air Minum perpipaan** [2] Modal Bukan Air Minum perpipaan** [3]

Sumber: Diolah dari SNSE DKI Jakarta 2000. Keterangan: *Keempat bagian ini masing-masing dipilah menjadi (i) penerima upah dan gaji; (ii) bukan penerima upah dan gaji **Modal air minum perpipaan dimaksudkan sebagai investasi yang ditanamkan pada sektor air minum perpipaan. Modal bukan air minum perpipaan adalah investasi air minum yang ditanamkan selain dari investasi air minum perpipaan , dan investasi lainnya.

196

Tabel E.2 Penyesuaian Neraca Institusi Berdasar Ukuran SNSE
103x103
Golongan I [10] Golongan II [11] Golongan III [12] Golongan IV [13] Golongan V [14] Rumah Tangga Golongan VI [15] Golongan VII [16] Golongan VIII [17] Golongan IX [18] Golongan X [19] Perusahaan Pemerintah Perusahaan [20] Pemerintah [21] Perusahaan [6] Pemerintah [7] Perusahaan [4] Pemerintah [5] Rumah tangga [3]

38x38
Gol. Bawah [3] Gol. Menengah [4] Gol. Atas [5]

12x12

CGE
Golongan I [4] Golongan II [5] Golongan III [6] Golongan IV [7] Golongan V [8] Golongan VI [9] Golongan VII [10] Golongan VIII [11] Golongan IX [12] Golongan X [13] Perusahaan [14] Pemerintah [15]

Sumber: Diolah dari SNSE DKI Jakarta 2000.

197

Tabel E.3

Penyesuaian Neraca Sektor Produksi Berdasar Ukuran SNSE
38x38 Pertanian [8] 12x12 Sektor Produksi [6] CGE Pertanian tanaman pangan [16] Tanaman hias [17] Peternakan [18] Perikanan [19] Barang Tambang dan galian [20] Industri Makanan, Minuman dan Tembakau [21] Industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki [22] Industri pupuk, kimia dan barang dari karet [23] Industri Alat angkutan, mesin dan peralatannya [24] Industri bahan bakar, minyak dan gas [25] Industri Kayu. Kertas, semen, logam dan lainnya [26] Listrik dan gas [27] Air minum perpipaan [28] Air minum nonperpipaan*** [29] Bangunan [30] Perdagagangan Besar dan eceran [31] Hotel [32] Restoran [33] Angk. Jln raya [34]

103x103 Pertanian tanaman pangan [22] Tanaman hias [23] Peternakan [24] Perikanan [25] Barang Tambang dan galian [26] Industri Makanan., Minuman dan Tembakau [27] Industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki [28] Industri pupuk, kimia dan barang dari karet [29] Industri Alat angkutan, mesin dan peralatannya [30]

Pertambangan [9] Industri [10]

Industri bahan bakar, minyak dan gas [31] Industri Kayu. Kertas, semen, logam dan lainnya [32] Listrik dan gas [33] Listrik, Gas dan Air Minum [11] Air minum [34] Bangunan [35] Bangunan [12] Perdag., Rest. & Hotel [13] Perdagagangan Besar dan eceran [36] Hotel [37] Restoran [38] Angk. Jln raya [39] Angk. rel, laut, udara, ASDP [40]

Angkutan dan Komunikasi [14]

Angk. rel, laut, udara, ASDP [35] Jasa penunjang angk. [41] Jasa komunikasi dan jasa penunjang komunikasi [42] Bank & lemb. Keu non bank [43] Sewa bang. & jasa perus. [44] Pemerintahan Umum [45] Jasa sosial kemasy & hiburan [46] Jasa perseorangan & RT [47] Jasa-jasa [16] Jasa penunj. angk. [36] Jasa komunikasi dan jasa penunjang komunikasi [37] Bank & lemb. Keu. [15] Bank & lemb. Keu non bank [38] Sewa bang. & jasa perus. [39] Pemerintahan Umum [40] Jasa sos kemasy & hiburan [41] Jasa perseorangan & RT [42]

Sumber: diolah dari SNSE DKI Jakarta 2000. ***Sektor air minum nonperpipaan kemasan. kran umum, penjaja air keliling, air tanah dalam, air sumur, air

198

Tabel E.4

Penyesuaian Neraca Komoditi Domestik Berdasar Ukuran SNSE
38x38 Pertanian [18] 12x12 Sektor Produksi [8] CGE

103x103 Pertanian tanaman pangan [49] Tanaman hias [50] Peternakan [51] Perikanan [52] Barang Tambang & Galian [53]

Pertambangan [19]

Ind. Makanan, Minuman dan Industri [20] Tembakau [54] Industri Tekstil, Brg dari kulit dan alas kaki [55] Ind. Pupuk, kimia dan brg dari karet [56] Ind. Alat angkutan, mesin dan peralatannya [57] Ind. Bahan bakar, minyak dan gas [58] Ind. Kayu. Kertas, semen, logam dan lainnya [59] Listrik dan gas [60] Listrik, Gas dan Air Minum [21] Air minum [61] Bangunan [62] Perdag. Besar dan eceran [63] Hotel [64] Restoran [65] Angk. Jln raya [66] Angk. Rel, laut, udara, ASDP [67] Jasa penunjang angk. [68] Jasa komunikasi dan jasa penunjang komunikasi [69] Bank dan lembaga keuangan non bank [70] Sewa bang. & jasa perus. [71] Pemerintahan Umum [72] Jasa sosial kemasy dan hiburan [73] Jasa perseorangan & RT [74] Jasa-jasa [26] Bangunan [22] Perdagn, Rest. & Hotel [23]

Angkutan dan Komunikasi [24]

Bank & Lembaga Keuangan [25]

Sumber: diolah dari SNSE DKI Jakarta 2000

199

Tabel E.5 Penyesuaian Neraca Komoditi Luar Negeri Berdasar Ukuran SNSE
103x103 Pertanian tanaman pangan [75] Tanaman hias [76] Peternakan [77] Perikanan [78] Barang tambang & galian [79] Ind. Makanan, Minuman dan Tembakau [80] Industri Tekstil, Brg dari kulit dan alas kaki [81] Ind. Pupuk, kimia dan brg dari karet [82] Ind. Alat angkutan, mesin dan peralatannya [83] Ind. Bahan bakar, minyak dan gas [84] Ind. Kayu. Kertas, semen, logam dan lainnya [85] Listrik dan gas [86] Air minum [87] Bangunan [88] Perdag. Besar dan eceran [89] Hotel [90] Restoran [91] Angk. Jln raya [92] Angk. Rel, laut, udara, ASDP [93] Jasa penunjang angk. [94] Jasa komunikasi dan jasa penunjang komunikasi [95] Bank dan lembaga keuangan non bank [96] Sewa bang. & jasa perus. [97] Pemerintahan Umum [98] Jasa sosial kemasy dan hiburan [99] Jasa perseorangan & RT [100] Jasa-jasa [35] Bangunan [31] Perdagn, Rest. & Hotel [32] 38x38 Pertanian [27] 12x12 Sektor produksi [9] CGE

Pertambangan [28] Industri [29]

Listrik, Gas dan Air Minum [30]

Angkutan dan Komunikasi [33]

Bank & Lembaga Keuangan [34]

Sumber: diolah dari SNSE DKI Jakarta 2000.

200

Tabel E.6
103x103

Penyesuaian Neraca Lainnya Berdasar Ukuran SNSE

38x38
Marjin perdagangan dan pengangkutan [17] Neraca Kapital [36]

12x12
Marjin perdagangan dan pengangkutan [7] Neraca Kapital [10]

CGE

Neraca Kapital [43] Pajak tidak langsung [102] Pajak tidak langsung Pajak tidak langsung [44] Pajak tidak langsung [37] [11] Bagian Lain dunia [103] Bagian Lain dunia [38] Bagian Lain Bagian Lain dunia [12] dunia [45] Sumber: diolah dari SNSE DKI Jakarta 2000.

Marjin perdagangan dan pengangkutan [48] Neraca Kapital [101]

Tabel E.7 Klasifikasi dalam Model CGE
Neraca Faktor Produksi Rincian Tenaga Kerja Modal Air Minum Modal Bukan Air Minum Rumah Tangga Golongan I Rumah Tangga Golongan II Rumah Tangga Golongan III Rumah Tangga Golongan IV Rumah Tangga Golongan V Rumah Tangga Golongan VI Rumah Tangga Golongan VII Rumah Tangga Golongan VIII Rumah Tangga Golongan IX Rumah Tangga Golongan X Perusahaan Pemerintah DKI Jakarta Pertanian Tanaman Pangan Tanaman Hias Peternakan Perikanan Barang Tambang dan Galian Industri Makanan Minuman dan Tembakau Ind. Tekstil Brg dari Kulit dan Alas Kaki Ind. Pupuk Kimia dan Brg dari Karet Ind. Alat Angkutan Mesin dan Peralatannya Bahan Bakar Minyak dan Bahan Bakar Gas Ind. Kayu Kertas Semen Logam dan Lainnya Listrik dan Gas Air Minum Perpipaan Air Minum Nonperpipaan Bangunan Perdagangan Besar dan Eceran 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Rumah Tangga

Rumah Tangga

Institusi

201

Neraca

Rincian Hotel Restauran Angkutan Jalan Raya Angkutan Rel Laut Udara dan ASDP Jasa Penunjang Angkutan Jasa Komunikasi dan Penunjang Komunikasi Bank dan Lembaga Keuangan Non Bank Sewa Bangunan dan Jasa Perusahaan Pemerintahan Umum Jasa Sosial dan Kemasy. Dan Hiburan Jasa Perseorangan dan Rumah Tangga Neraca Kapital

32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43

Pajak tak langsung Neraca Luar Negeri Sumber: diolah dari SNSE DKI Jakarta 2000.

Neraca Lainnya

44 45

202

LAMPIRAN 6 DEKLARASI INDEKS

1

Variabel dan Skalar

Variabel dan skalar diklasifikasikan berdasarkan kategori (i) blok harga, (ii) blok produksi, (iii) blok faktor, (iv) blok pendapatan dan pengeluaran, dan (v) blok neraca pembayaran. Variabel selengkapnya pada Tabel F.1 Tabel F.1
I, J EXR PX (I) PN (I) PV (I) PQ (I) PD (I) PD (IE) PK (I) PE (I) PM (I) PWE (I) PWM (I) PINDEX PINDOM

Definisi Model Skalar dan Variabel

BLOK HARGA Indeks seperangkat sektor produktif (27 sektor) Nilai tukar Harga output rata-rata Harga input antara Harga nilai tambah Harga permintaan domestik rata-rata Harga penawaran domestic Harga penawaran domestic barang ekspor Harga modal baru Harga domestik barang ekspor Harga domestik barang impor Harga pasar ekspor (Rp) Harga pasar impor (Rp) Indeks harga komposit Indeks harga domestic BLOK PRODUKSI Tingkat Pajak Impor Tingkat pajak tidak langsung Parameter perubahan/pergeseran fungsi produksi Parameter perubahan/pergeseran fungsi nilai tambah Koefisien tetap input bahan Output sektor domestik komposit Ekspor sektor ke domestic Impor sektor dari domestic Penjualan domestic Penawaran barang komposit Input antara sektor komposit Nilai tambah sektor komposit BLOK FAKTOR Indeks seperangkat faktor primer F = {TK, Modal} Permintaan factor Total angkatan kerja Total pengangguran Permintaan faktor sector Harga input proporsional faktor sektor Harga input faktor rata-rata

TM (I) ITX (I) ALPHAX (I) ALPHAV(I) IOMI (I,J) X (I) XEX (I) XIM (I) XD (I) Q (I) IN (I) VA (I) F FD (F) LABFOR UNEMPL FACDEM (I,F) WFDIST (I,F) WA (F)

YF (F)

Pendapatan factor

203

CHS (I,H) CGS (I) CD (I) HHSAV HHTAX YH (HH) YCORP CORTCOR CORSAV CORTAX CORBOR CORAMOR CORINTR CGOV (I) GOVSAV GOVTR(H) GOVFAM GOVFNAM GOVGOV GR GOVBOR GOVAMOR GOVINTR GOVBUD INDTAX TINDTAX TARIFF

BLOK PENGELUARAN dan PENDAPATAN Parameter pangsa konsumsi rumah tangga Parameter pangsa konsumsi pemerintah Permintaan akhir konsumsi rumah tangga Tabungan rumah tangga Pajak pendapatan rumah tangga Pendapatan rumah tangga Pendapatan perusahaan Transfer perusahaan ke perusahaan Tabungan perusahaan Pajak pendapatan perusahaan Pinjaman luar negeri perusahaan dari bagian lain dunia Pembayaran amortisasi hutang luar negeri perusahaan Pembayaran bunga hutang luar negeri perusahaan Permintaan akhir konsumsi pemerintah Tabungan pemerintah local Transfer pemerintah ke rumah tangga Pendapatan pemerintah dari modal air minum Pendapatan pemerintah dari modal nonair minum Transfer pemerintah ke pemerintah Pendapatan pemerintah local Pinjaman luar negeri pemerintah Pembayaran amortisasi hutang luar negeri pemerintah Pembayaran bunga hutang luar negeri pemerintah Total konsumsi komoditi pemerintah Pendapatan pajak tidak langsung dari komoditi Total penerimaan pajak tidak langsung Penerimaan biaya masuk BLOK PENGELUARAN dan PENDAPATAN Permintaan antara sector Total penggunaan antara Total investasi Tingkat tarif riil PDB riil Nilai tambah domestic kotor Total tabungan Investasi tetap per sektor tujuan Total investasi tetap Permintaan akhir investasi produktif Parameter pangsa stok persediaan BLOK NERACA PEMBAYARAN Current account Tabungan luar negeri Transfer pendapatan faktor ke bagian lain dunia Transfer pemerintah netto ke bagian lain dunia Transfer perusahaan ke bagian lain dunia Transfer rumah tangga ke bagian lain dunia Pendapatan rumah tangga dari bagian lain dunia Pendapatan perusahaan dari bagian lain dunia Pendapatan pemerintah dari bagian lain dunia Pendapatan pajak dari bagian lain dunia Transfer dari bagian lain dunia ke bagian lain dunia Pendapatan faktor dari bagian lain dunia Investasi asing dari bagian lain dunia

INT(I,J) TOTINT(I) INVEST TMREAL GRDP GDVA SAVING DK (I) FXDINV ID (I) INV (I)

CURRACW SAVROW FROW(F) GOVROW CORROW HHTROW(H) ROWHH (H) ROWCOR ROWGOV ROWTAX ROWTRW FIROW (F) FORINV

204

2 2.1

Parameter Elastisitas Sektor

Elastisitas substitusi antara input diperlukan untuk memperkirakan fungsi produksi CES. Elastisitas perdagangan juga dibutuhkan untuk memperkirakan CES dan CET dalam persamaan ekspor impor. Data ini disediakan oleh SAM disertai asumsi terkait teknologi dan sektor eksternal. Tabel F.2 Elastisitas
RHOX(I) RHOEX(I) RHOIM(I) RHOV(I) ELASTISITAS Eksponen fungsi produksi Eksponen fungsi ekspor Eksponen fungsi impor Eksponen fungsi nilai tambah

2.2

Pemilihan Nilai Parameter

Nilai parameter bagi bentuk fungsi merupakan hal penting dalam menentukan hasil simulasi kebijakan yang dihasilkan dari penerapan model. Prosedur yang paling umum digunakan adalah memilih nilai parameter yang dikenal dengan istilah kalibrasi. Parameter ataupun share pada Tabel F.3 merupakan parameter dari faktor produksi, institusi, maupun sektor produksi. Tabel F.3 Parameter
TH(H) MPS(H) CSAV CCOR CTAX INVO(I) CGSO(I) TGOV(H) ITXO(I) TMO(I) ZZ(I) IO(I,J) CHSO(I,H) THS(H,HH) TROWS(H) THR(H) CTH(H) SEDW(H,FLAB) SFROW(F) SHHCPAM(H) SHHCNPAM(H) SGOVCPAM SGOVCNAM PARAMETER Patokan (benchmark) pajak pendapatan rumah tangga Patokan kecenderungan marjinal menabung rumah tangga Patokan tingkat tabungan perusahaan Patokan tingkat pendapatan perusahaan Patokan tingkat pajak pendapatan perusahaan Patokan perubahan persediaan tingkat investasi Patokan pangsa (shares) konsumsi pemerintah Pangsa transfer pemerintah ke rumah tangga Patokan tingkat pajak tidak langsung Patokan tingkat biaya masuk impor Pangsa investasi per sector Koefisien input-output Pangsa konsumsi rumah tangga Pangsa transfer antar rumah tangga Pangsa transfer rumah tangga ke bagian lain dunia Transfer rumah tangga ke bagian lain dunia Pangsa transfer perusahaan ke rumah tangga Pangsa kepemilikan tenaga kerja dari rumah tangga Pangsa pendapatan faktor ke bagian lain dunia Pangsa modal air minum perpipaan yang dimiliki rumah tangga Pangsa modal air minum nonperpipaan yang dimiliki rumah tangga Pangsa modal air minum perpipaan yang dimiliki pemerintah Pangsa modal air minum nonperpipaan yang dimiliki pemerintah

205

LAMPIRAN 7 UKURAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Salah satu ukuran ketidakmerataan pendapatan, yaitu suatu ukuran yang membandingkan pendapatan seseorang atau sekelompok orang dengan orang atau kelompok yang lain, yang sering dipergunakan adalah rasio Gini (disebut juga sebagai koefisien atau indek Gini), ukuran World Bank (Todaro, 1987)

Rasio Gini dirumuskan sebagai berikut:

GR = 1− ∑ fpi(Fci + Fci−1 )
i=1

n

dimana:
G fpi = Rasio Gini yaitu rasio antara persentase kumulatif jumlah golongan rumah tangga dengan persentase kumulatif jumlah pendapatan golongan rumah tangga. = Frekuensi populasi dalam kelas pengeluaran. = Frekuensi kumulatif total dari kelas pengeluaran

Fci Fci -1 = Frekuensi kumulatif total pengeluaran dari kelas pengeluaran i-1

Rasio Gini mempunyai nilai diantara 0 dan 1. Bila rasio Gini bernilai 0 berarti distribusi pendapatan berada pada tingkat yang sangat merata, sebaliknya bila bernilai 1 berarti distribusi pendapatan berada pada tingkat yang sangat tidak merata (Widyono, 2004). Dalam kaitan ini Todaro (1987) mengatakan bahwa: (i) Bila rasio Gini berada diantara 0,2 sampai dengan 0,35, maka distribusi pendapatan disebut relatif merata. (ii) Bila rasio Gini berada diantara 0,35 sampai dengan 0,50, maka distribusi pendapatan disebut tidak merata. (iii) Bila rasio Gini berada diantara 0,50 sampai dengan atau lebih dari 0,70, maka distribusi pendapatan disebut sangat tidak merata (Suratman, 2004) Tabel G.1 Perhitungan Rasio Gini DKI Jakarta Kondisi Awal (Tahun 2000)
Golongan Rumah Tangga Jumlah penduduk (jiwa) 1.055.905 1.020.618 985.015 946.080 849.298 792.495 735.012 696.575 675.782 628.073 8.384.853 Total Pendapatan Disposabel (Yi) (Rp. Juta) 1.914.013 2.842.340 3.449.901 4.962.573 5.664.861 7.338.082 9.527.537 11.558.198 15.425.567 54.287.107 116.970.179 Pendapatan per Kapita/tahun (Rp. Ribu) 7.794 11.975 15.060 22.555 28.681 39.816 55.738 71.350 98.153 371.668 59.986 Proporsi Total Pendapatan Disposabel (Yi) (%) 1,64 2,43 2,95 4,24 4,84 6,27 8,15 9,88 13,19 46,41 100,00 Proporsi Total RT (Pi) (%) Yi kumulatif (%) 1,64 4,07 7,02 11,26 16,10 22,37 30,52 40,40 53,59 100,00 Yi + Yi -1 P * (Yi + Yi-1)

Sangat Miskin I Sangat Miskin II Miskin I Miskin II Menengah I Menengah II Menengah III Tinggi I Tinggi II Sangat Tinggi Jumlah

12,59 12,17 11,75 11,28 10,13 9,45 8,77 8,31 8,06 7,49 100

1,64 5,70 11,08 18,27 27,36 38,48 52,89 70,92 93,99 153,59

20,60625747 69,41323417 130,1860921 206,1887772 277,1236583 363,6562943 463,6726695 589,1818095 757,5198614 1150,468142 4028,016796

206

Rasio Gini

= = =

1 - ∑ P*(Yi + Yi-1)/10000 1 - (4.028/10000) 1 - 0,40280168 Rasio Gini

0.59719832

Sedangkan ukuran World Bank menganalisa masalah ketidakmerataan pendapatan dengan membagi penduduk menjadi tiga kelompok, yaitu 40 persen berpendapatan rendah, 40 persen berpendapatan menengah, dan 20 persen berpendapatan tinggi. Kategori ketidakmerataan dapat diklasifikasikan berdasar penerimaan dari 40 persen penduduk berpendapatan rendah, yaitu (i) menerima kurang dari 12 persen dari total pendapatan, ketidakmerataan pendapatan disebut tinggi, (ii) menerima antara 12 persen sampai dengan 17 persen dari total pendapatan, ketidakmerataan pendapatan disebut sedang, dan (iii) menerima lebih dari 17 persen dari total pendapatan, ketidakmerataan pendapatan disebut rendah (Remi, 2002). Berdasarkan pada kategori di atas, penduduk berpendapatan rendah di DKI Jakarta pada tahun 2000 hanya menerima sebesar 11,3 persen dari total pendapatan sehingga ketidakmerataan pendapatan dikategorikan tinggi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel G.2 Tabel G.2 Distribusi Pendapatan DKI Jakarta Kondisi Awal (Tahun 2000) Ukuran Bank Dunia Total Pendapatan Disposebel Rp. Juta 13,168,827 34,088,678 69,712,674 116,970,179 Proporsi Total Pendapatan Disposebel (%) 11.3 29.1 59.6 100

Kelompok Rumah Tangga Miskin Menengah Tinggi Total

Jika membandingkan pendapatan 10 persen penduduk berpendapatan paling rendah dengan pendapatan 10 persen penduduk berpendapatan paling tinggi, didapatkan angka sebesar 0,03526.

207

BIOGRAFI SINGKAT

Oswar Muadzin Mungkasa dilahirkan di Makassar, pada tanggal 26 Juli 1963. Ia mendapatkan gelar kesarjanaannya pada jurusan Teknik Planologi, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1988. Selepas dari ITB, ia sempat bekerja pada Lembaga Penelitian Planologi ITB, kemudian sejak tahun 1989 sampai tahun 1990 bekerja di Bank Panin. Selepas itu, ia bekerja sebagai konsultan perencana kota dan wilayah pada berbagai perusahaan konsultan sampai tahun 1992. Sejak tahun 1992, ia mulai bekerja di Bappenas sampai sekarang. Pada tahun 1996 sampai 1998, ia mendapat tugas belajar di jurusan Urban and Regional Planning, Graduate School of Public and International Affair (GSPIA), University of Pittsburgh, USA dan mendapat gelar Master of Urban and Regional Planning (MURP). Kemudian pada tahun 2000, sambil tetap bekerja di Bappenas, dengan inisiatif pribadi ia melanjutkan pendidikan S-3 pada Program Studi Ilmu Ekonomi, Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dengan kekhususan Ekonomi Publik. Pada saat ini ia bekerja di Direktorat Permukiman dan Perumahan Bappenas, sekaligus juga terlibat sebagai anggota Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL).

208

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

*$ONTEXT $TITLE MODEL COMPUTABLE GENERAL EQUILIBRIUM (CGE) AIR MINUM DKI JAKARTA $STITLE I. Model awal dibangun oleh Budy P. Resosudarmo (2000) $STITLE II. Model dimodifikasi oleh Donny Azdan untuk disertasi di University $STITLE of Ohio (2001) $STITLE III. Model diperbaharui oleh Oswar Mungkasa untuk disertasi Universitas $STITLE Indonesia (2006) dengan judul $STITLE Pengaruh Investasi Air Minum terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan $STITLE Distribusi Pendapatan di DKI Jakarta *$$OFFSYMLIST OFFSYMXREF *$OFFTEXT *#########################CGE MODEL################################## * SECTION I DATA SPECIFICATION AND BENCHMARKING SETS F Faktor Produksi / LABOR Tenaga Kerja CAPAM Kapital Air Minum Perpipaan CAPNAM Kapital Bukan Air Minum Non Perpipaan dan lainnya / Rumah Tangga / VEPOIHH RT dgn VEPOIIHH RT dgn POORIHH RT dgn POORIIHH RT dgn MIDIHH RT dgn MIDIIHH RT dgn MIDIIIHH RT dgn HIGIHH RT dgn HIGIIHH RT dgn VEHIGHH RT dgn

H

income income income income income income income income income income

kurang dari 192000 rupiah antara 192001-240000 rupiah antara 240001-316000 rupiah antara 316001-420000 rupiah antara 420001-536000 rupiah antara 536001-740000 rupiah antara 740001-995000 rupiah antara 995001-1400000 rupiah antara 1400001-2850000 rupiah lebih dari 2850000 rupiah /

GH(H)

Rumah Tangga mendapat subsidi WATPAM / VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH RT RT RT RT dgn dgn dgn dgn income income income income kurang antara antara antara dari 192000 rupiah 192001-240000 rupiah 240001-316000 rupiah 316001-420000 rupiah /

NGH(H)

Rumah Tangga RT RT RT RT RT RT RT RT RT RT

tidak mendapat subsidi WATPAM income income income income income income income income income income kurang dari 192000 rupiah antara 192001-240000 rupiah antara 240001-316000 rupiah antara 316001-420000 rupiah antara 420001-536000 rupiah antara 536001-740000 rupiah antara 740001-995000 rupiah antara 995001-1400000 rupiah antara 1400001-2850000 rupiah lebih dari 2850000 rupiah /

/ VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH MIDIHH MIDIIHH MIDIIIHH HIGIHH HIGIIHH VEHIGHH OI

dgn dgn dgn dgn dgn dgn dgn dgn dgn dgn

Institusi Lainnya / COMPANY Perusahaan GOVERN Pemerintah DKI Jakarta /

Disertasi OM Final

I-1

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

I

Barang dan Sektor Produksi / AGRI Pertanian Tanaman Pangan PLANT Tanaman Hias LIVESTOC Peternakan FISHERY Perikanan MINE Barang Tambang dan Galian FOODTOB Industri Makanan Minuman dan Tembakau TEXLEATH Industri Tekstil Barang dari Kulit & Alas kaki CHEBSRUB Industri Pupuk Kimia dan Barang Dari Karet MACHINEQ Industri Alat Angkutan Mesin dan Peralatannya BBMBBG Bahan Bakar Minyak dan Bahan Bakar Gas PAPWOMET Industri Kayu Kertas Semen Logam dan Lainnya LIGAS Listrik Gas WATPAM Air Minum Perpipaan WATNPAM Air Minum Nonperpipaan COSTRUCT Bangunan TRADE Perdagangan Besar dan Eceran HOTEL Hotel REST Restaurant TRANS Angkutan Jalan Raya AIRSEA Angkutan Rel Laut Udara dan ASDP TRANSSEV Jasa Penunjang Angkutan COMSEV Jasa Komunikasi dan Penunjang Komunikasi BANKOSEV Bank dan Lembaga Keuangan Non Bank RENTSEV Sewa Bangunan dan Jasa Perusahaan GOVSEV Pemerintahan Umum SOSSEV Jasa Sosial Kemasyarakatan dan Hiburan HHSEV Jasa Perseorangan dan Rumah Tangga/ Sektor air minum WATPAM, WATNPAM /

PLTW(I) /

PLTW1(I) Sektor air minum / WATPAM / PLTW2(I) Sektor air minum nonperpipaan / WATNPAM / NPLTW(I) Non Sektor Air Minum / AGRI, PLANT, LIVESTOC, FISHERY, MINE, FOODTOB, TEXLEATH, CHEBSRUB, MACHINEQ, BBMBBG, PAPWOMET, LIGAS, COSTRUCT, TRADE, HOTEL, REST, TRANS, AIRSEA, TRANSSEV, COMSEV, BANKOSEV, RENTSEV, GOVSEV, SOSSEV, HHSEV/ NFLAB(F) Faktor Produksi Bukan Tenaga Kerja / CAPAM Kapital Air Minum Perpipaan CAPNAM Kapital Bukan Air Minum Perpipaan dan lainnya / FLAB(F) Faktor Produksi Tenaga Kerja / LABOR / IE(I) IEN(I) IM(I) IMN(I) Export sector to domestic and foreign Non eksport sector Import from domestic and foreign Not IM ;

Disertasi OM Final

I-2

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

ALIAS (I,J); ALIAS (H,HH); ALIAS (GH,GJ); TABLE SAM(*,*) Social Accounting Matrix of DKI Jakarta in 2000 (in millions of rupiahs) LABOR 0.00 0.00 0.00 1103375.70 2177006.66 2596843.46 3633268.02 4064596.81 5143752.46 6679774.06 7653883.89 9716699.87 31077055.30 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 12051972.18 85898228.41 VEPOIIHH 0.00 CAPAM 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 168116.54 7499.97 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 175616.51 POORIHH 0.00 CAPNAM 0.00 0.00 0.00 703292.66 481041.23 707810.81 1117052.71 1324344.80 1854663.07 2508930.62 3224056.68 4567797.79 21436827.23 83118640.63 614047.80 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7076243.62 128734749.65 POORIIHH 0.00 VEPOIHH 0.00 0.00 0.00 533.30 935.88 841.83 820.38 1853.70 1264.99 1351.21 3833.99 2546.81 2550.57 0.00 3495.96 8837.39 703.77 963.18 841.68 0.00 112556.59 42169.48 20513.93 310.76 3207.06 5590.58 17099.85 2002.45 705.72 18.77 0.00 11711.57 591155.79 83697.09 27722.25 20066.24 2740.66 1973.78 209664.60 20007.92 38803.03 71716.08 69482.80 0.00 529721.29 1914012.93 MIDIHH 0.00 MIDIIHH 0.00

LABOR CAPAM CAPNAM VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH MIDIHH MIDIIHH MIDIIIHH HIGIHH HIGIIHH VEHIGHH COMPANY GOVERN AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV CAPACC INTXSUB ROW TOTAL + LABOR

Disertasi OM Final

I-3

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

CAPAM CAPNAM VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH MIDIHH MIDIIHH MIDIIIHH HIGIHH HIGIIHH VEHIGHH COMPANY GOVERN AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV CAPACC INTXSUB ROW TOTAL + LABOR CAPAM CAPNAM VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH MIDIHH MIDIIHH MIDIIIHH

0.00 0.00 1070.60 1878.77 1689.97 1646.91 3721.30 2539.47 2712.56 7696.73 5112.72 5120.26 0.00 5028.23 15430.29 1188.73 1626.89 1895.13 0.00 159682.55 59481.95 26938.42 2907.14 605.77 10751.04 22295.19 3271.91 776.41 37.54 0.00 26769.30 621836.82 120508.55 39914.98 28891.72 3709.15 95023.33 276870.03 29154.39 70837.13 81649.83 106971.38 0.00 995096.56 2842339.65 MIDIIIHH 0.00 0.00 0.00 4566.80 8014.20 7208.82 7025.15 15873.76 10832.49 11570.84

0.00 0.00 868.25 1523.68 1370.56 1335.64 3017.96 2059.50 2199.88 6242.02 4146.40 4152.52 0.00 8067.98 19653.53 1557.08 2131.02 2675.23 0.00 208937.87 85453.64 34870.30 6465.87 1347.31 14961.42 29616.25 3573.74 949.69 61.35 0.00 15601.83 801287.01 157451.74 52151.35 37748.79 6946.09 22839.44 364560.57 37829.18 100493.37 87148.46 198064.66 0.00 1120539.72 3449900.90 HIGIHH 0.00 0.00 0.00 6455.42 11328.51 10190.06 9930.44 22438.43 15312.32 16356.02

0.00 0.00 1305.26 2290.57 2060.38 2007.89 4536.95 3096.08 3307.11 9383.73 6233.34 6242.55 0.00 11618.48 21782.34 1514.25 2072.40 3038.88 0.00 228764.40 106058.09 40065.78 6916.98 1441.31 21509.93 33822.37 4585.03 1352.34 560.49 0.00 14459.23 886860.17 189411.35 62737.05 45411.05 13601.44 43705.09 420620.50 45548.08 131592.87 99812.67 333792.15 0.00 2149454.64 4962573.22 HIGIIHH 0.00 0.00 0.00 10018.16 17580.70 15813.95 15411.05 34822.18 23763.18 25382.90

0.00 0.00 3672.63 6445.04 5797.35 5649.65 12765.72 8711.52 9305.31 26403.24 17538.92 17564.81 0.00 8211.78 26829.13 1965.02 2689.33 4049.07 0.00 272869.25 106470.34 47437.78 4450.93 927.45 26087.61 45499.13 4902.73 1581.38 459.92 0.00 15288.97 1003138.68 241887.03 80118.11 57992.01 40187.68 7613.15 549779.85 61095.21 168371.93 150560.02 393248.25 0.00 2227295.56 5664861.49 VEHIGHH 0.00 0.00 0.00 23720.80 41627.22 37443.94 36489.96 82451.23 56265.97 60101.10

0.00 0.00 4732.04 8304.17 7469.65 7279.34 16448.10 11224.43 11989.50 34019.47 22598.16 22631.52 0.00 34627.35 36757.61 2705.65 3702.95 5548.98 0.00 354835.33 165009.72 62645.41 16300.02 3396.48 45667.71 60685.15 6913.92 2268.60 966.44 0.00 34944.28 1302374.76 350279.69 116020.05 83978.97 60885.21 174538.40 747306.49 82412.00 379858.51 212938.22 459527.65 0.00 2384289.68 7338081.61 COMPANY 0.00 0.00 0.00 17355.82 38926.63 2826.52 32604.15 4958.81 62064.42 29752.84

Disertasi OM Final

I-4

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

HIGIHH HIGIIHH VEHIGHH COMPANY GOVERN AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV CAPACC INTXSUB ROW TOTAL + LABOR CAPAM CAPNAM VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH MIDIHH MIDIIHH MIDIIIHH HIGIHH HIGIIHH VEHIGHH COMPANY GOVERN AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY

32831.55 21809.06 21841.26 0.00 14301.20 42768.53 3485.19 4769.82 6946.89 0.00 459007.27 218295.92 81502.62 47175.82 9830.17 55348.26 82239.28 9572.46 3399.21 598.04 0.00 37161.45 1748906.02 411816.90 136402.48 98732.41 108389.35 41731.31 962713.24 113340.71 410801.75 264311.61 577829.91 0.00 3434585.17 9527536.92 GOVERN 0.00 0.00 0.00 26777.56 41236.28 49588.07 89803.99 71704.34 141504.51 163838.97 107050.72 453234.93 336633.55 0.00 1575869.17 0.00 0.00 0.00 0.00

46409.21 30828.31 30873.82 0.00 38569.60 52967.23 3546.22 4853.35 8558.33 0.00 509186.30 255408.34 90975.19 69039.49 14385.97 76003.21 99650.74 9933.09 4199.71 1195.06 0.00 91910.66 1815220.24 452964.29 150031.36 108597.43 187927.70 24249.28 1123372.15 152381.92 528610.71 427633.89 843096.31 0.00 4213607.25 11558197.56 AGRI 81500.43 0.00 158717.64 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 3525.54 3.28 554.86 8.03

72022.42 47842.44 47913.06 0.00 71545.66 66160.91 4234.58 5795.43 11456.01 0.00 639136.85 377227.96 111939.72 132876.21 27687.82 116340.32 140013.45 12209.38 5870.27 3545.97 0.00 157052.02 2403846.44 574411.38 190257.21 137714.16 327047.61 355280.10 1592886.47 256469.94 748238.37 824455.82 1354517.88 0.00 4466778.69 15425566.67 PLANT 18973.74 0.00 24750.28 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 132.25 1116.00 256.74 0.00

170533.18 113280.33 113447.55 0.00 131656.32 108813.04 6563.35 8982.58 21872.96 0.00 1127327.61 820429.79 230729.04 976778.01 203534.19 290961.17 479244.53 29139.51 15012.67 26718.50 0.00 970197.41 4208878.44 1031177.94 340836.73 246116.64 885735.08 15358791.57 4231680.71 844173.79 1728483.06 4828618.12 1202048.14 0.00 13197245.24 54287107.42 LIVESTOC 14089.16 0.00 15966.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 366.15 16.60 156.11 12.78

163144.74 415548.00 1164005.48 220284.77 657877.40 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 9108855.68 0.00 175483738.08 187401943.34 FISHERY 128427.32 0.00 155436.54 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.31 132.54 7.04 7033.91

Disertasi OM Final

I-5

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV CAPACC INTXSUB ROW TOTAL + LABOR CAPAM CAPNAM VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH MIDIHH MIDIIHH MIDIIIHH HIGIHH HIGIIHH VEHIGHH COMPANY GOVERN AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 9361349.90 0.00 0.00 767117.91 0.00 805654.00 13991363.90 MINE 112333.95 0.00 1248092.55 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 36.59 0.00 0.00 35.12 0.00 15276.22 19942.99 62335.36 11572.53 8666.42 2113.01 784.74

0.00 0.00 724.14 10847.83 174.90 258.73 1120.00 2.50 0.00 0.00 1607.79 963195.64 0.00 2058.94 35145.21 35398.96 11068.87 330.37 550.54 399.83 211.42 87.30 1183.66 0.00 31.72 12700.52 1321408.65 FOODTOB 1666730.94 0.00 3178448.49 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 538543.61 0.00 98727.27 105299.75 12.78 2172376.70 16187.94 236045.42 15011.78 33388.10 206165.64 391415.80 31115.56

0.00 0.00 26.71 2006.53 38.76 14.08 1112.44 299.25 0.34 0.14 499.65 158757.53 0.00 0.00 5824.48 5834.59 1812.65 54.02 13.09 56.35 116.36 0.00 426.16 0.00 7.03 2264.66 224393.83 TEXLEATH 3900118.31 0.00 6955554.15 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7658.56 0.00 1998.56 0.00 0.00 4302.54 6276535.32 443692.36 64069.00 91934.35 199039.24 277953.38 39213.05

0.22 8709.24 6.06 1338.86 1230.60 1.04 188.52 153.57 33.86 0.00 483.11 157407.26 0.00 280.26 5759.75 5786.22 1798.00 28.62 461.73 281.10 28.24 293.45 54.14 0.00 3.33 6181.99 221116.00 CHEBSRUB 2397508.82 0.00 4019017.24 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 12044.50 10148.72 0.00 74.08 181.16 16797.67 16450.97 2685009.03 50812.21 35627.93 107927.57 178444.29 39658.43

0.00 7364.83 2214.43 954.82 2129.79 4978.41 745.25 752.32 68.52 0.24 5766.61 277225.53 0.00 6398.36 10105.05 10289.70 3165.28 299.35 2435.52 181.82 925.00 597.02 1293.11 0.00 181.29 39309.39 668419.30 MACHINEQ 4549128.23 0.00 9123076.72 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 118.57 0.00 0.00 153.93 0.00 5667.32 623938.45 6926031.68 63240.79 1452624.61 346518.67 42905.58

Disertasi OM Final

I-6

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV CAPACC INTXSUB ROW TOTAL + LABOR CAPAM CAPNAM VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH MIDIHH MIDIIHH MIDIIIHH HIGIHH HIGIIHH VEHIGHH COMPANY GOVERN AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV

0.00 53849.65 18123.91 1177.88 5789.85 36017.08 5910.28 4248.97 3712.65 240553.95 113230.42 0.00 6898.69 25773.92 0.00 4246.29 395968.63 2396691.65 BBMBBG 13634.88 0.00 66228.46 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 26.11 0.00 240.37 504.12 343.61 1038.11 252.48 432.51 6.53 1.88 0.00 1839449.59 0.10 0.26 66967.78 67603.71 21004.57 957.22

9161.19 6221.00 2558813.75 1094.65 2043.10 99725.82 96327.58 34273.38 71846.67 285060.56 179253.44 7617.16 37652.41 65190.70 0.00 24130.02 7380895.59 19548776.80 PAPWOMET 2835232.37 0.00 4205321.07 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 608.60 23288.46 0.00 0.00 3179.96 966.05 35074.92 494472.27 183254.94 98249.33 2224226.76 518033.25 49360.41 9812.85 0.00 7894616.15 739.14 30481.70 342145.25 292706.87 99724.90 245148.04

7795.55 4024.00 5864794.54 1241.33 18200.66 227436.73 229588.65 82478.39 98890.13 1316817.56 1210557.17 0.00 105547.44 53826.67 0.00 32059.19 6380233.13 33895559.96 LIGAS 1631068.72 0.00 2957599.28 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.44 0.01 0.23 0.00 5766.30 3.85 15633.33 26403.34 500214.17 310858.93 66748.74 897533.75 48.43 2.71 259987.62 0.00 2901.90 20353.25 35788.36 51578.78 1178.70 65196.48

7455.78 0.00 3820776.09 895.37 4317.53 150206.79 143350.50 54064.25 168664.06 269837.23 472096.27 0.00 85355.97 54403.96 0.00 -2600.54 4402449.83 19200975.71 WATPAM 127325.74 175616.51 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.02 0.01 0.06 0.00 0.00 0.31 744.34 43283.70 6129.71 2080.58 8283.57 17883.00 6381.37 0.00 14025.53 0.00 873.37 3838.14 3737.07 57.39 44.43 1850.94

18140.48 0.00 12753019.26 747.99 18885.70 476387.87 475330.46 153997.14 143050.19 1625824.57 977160.02 48549.29 73689.04 100355.05 0.00 57876.26 11851377.26 51907795.13 WATNPAM 311.87 0.00 99213.12 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10.19 0.00 926.11 0.00 12.99 0.00 0.00 0.00 1.15 0.00 0.00 0.00

Disertasi OM Final

I-7

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV CAPACC INTXSUB ROW TOTAL + LABOR CAPAM CAPNAM VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH MIDIHH MIDIIHH MIDIIIHH HIGIHH HIGIIHH VEHIGHH COMPANY GOVERN AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV CAPACC INTXSUB ROW TOTAL

829.83 44.59 0.00 7.99 192.06 0.00 3.07 3438.05 2083207.88 COSTRUCT 8866544.65 0.00 11289174.53 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 111988.54 0.00 0.00 7056.07 0.00 8834.96 960033.41 808581.15 262637.61 4720963.13 155968.80 14296.83 47.18 71168.39 0.00 10350.00 116284.51 82125.02 1659.97 4313.65 116540.42 912278.39 1274577.71 26790.27 86200.43 97657.34 0.00 118782.90 9011044.49 9135900.35

335295.14 351733.29 0.00 60019.63 60539.18 0.00 24962.26 6240392.27 26659585.06 TRADE 16196910.60 0.00 17912479.11 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.03 0.00 0.00 4243.41 109089.48 422136.38 162943.81 132339.40 412458.14 818276.28 15775.46 923.60 385464.02 0.00 47658.47 702568.12 657199.48 124589.09 87878.10 650296.18 1749525.71 1283642.39 7859.49 52419.10 113192.91 0.00 149979.02 2199918.28 44399766.06

90507.71 550309.07 80895.28 23260.22 5524.86 0.00 -2108635.13 2325178.56 7815907.89 HOTEL 1073075.74 0.00 1332444.63 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1167.55 1167.36 0.00 0.01 0.00 105622.35 27792.66 17346.87 9061.13 9438.22 34246.07 264681.88 28108.31 4643.49 71949.85 0.00 23664.41 14812.98 5166.22 485.54 4374.29 63730.56 273839.03 122249.59 47587.44 105950.89 16036.54 0.00 71441.96 290301.37 4020386.94

8412.95 3502.88 2527.39 590.20 2802.54 0.00 1478.22 41263.72 472733.69 REST 4457519.31 0.00 3806259.71 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 259256.10 14123.24 58109.41 276775.58 0.00 4060213.84 98548.00 74066.28 38461.24 95516.33 175813.28 410952.26 24018.65 2219.32 130397.46 0.00 55531.23 216262.56 21910.21 9.62 30213.97 231958.57 285411.16 326828.60 98991.37 91380.96 10198.36 0.00 370026.65 4408203.50 20129176.77

1.03 4.31 0.93 0.00 0.00 0.00 0.00 1.31 100483.01

Disertasi OM Final

I-8

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

+ LABOR CAPAM CAPNAM VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH MIDIHH MIDIIHH MIDIIIHH HIGIHH HIGIIHH VEHIGHH COMPANY GOVERN AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV CAPACC INTXSUB ROW TOTAL + LABOR CAPAM CAPNAM VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH

TRANS 3111265.23 0.00 1621119.37 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.36 0.15 0.00 0.00 0.00 9274.60 28966.87 525801.34 256095.93 19749.86 39521.36 3907.51 0.00 33981.47 0.00 5822.61 106523.68 68318.78 24552.88 225598.68 43889.27 193311.26 66177.19 47507.36 12142.39 289267.05 0.00 28156.25 1701743.85 8462695.30 RENTSEV 6812199.88 0.00 11951690.34 0.00 0.00 0.00 0.00

AIRSEA 1025741.74 0.00 1437696.81 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 52617.38 25194.36 49707.24 77296.31 126067.53 30632.43 30114.59 22644.69 0.00 67794.73 0.00 5308.47 18718.22 4963.89 56241.26 185467.15 56577.23 293988.62 122975.30 12152.29 15948.67 7513.34 0.00 11394.67 1257120.73 4993877.65 GOVSEV 5833639.47 0.00 955420.85 0.00 0.00 0.00 0.00

TRANSSEV 598166.77 0.00 1505947.91 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 11397.15 3032.75 12874.49 17277.87 11729.72 39587.35 7427.81 0.00 90010.38 0.00 35144.60 14807.18 3315.11 3638.08 103750.10 123425.35 18815.32 183795.54 19943.76 20578.61 23914.05 0.00 7936.74 125898.08 2982414.72 SOSSEV 3255546.52 0.00 1245449.95 0.00 0.00 0.00 0.00

COMSEV 2042336.59 0.00 3178628.27 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.80 10092.28 10873.00 62172.67 27584.24 117221.71 159470.10 8878.89 298.33 510413.12 0.00 27171.33 34341.24 17068.52 21749.10 33949.96 476388.17 171614.32 530210.01 76491.34 53914.69 12419.74 0.00 23738.68 1231861.67 8838888.77 HHSEV 3391181.47 0.00 5114992.58 0.00 0.00 0.00 0.00

BANKOSEV 11497395.09 0.00 15683659.06 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.16 0.00 0.00 0.00 0.44 9797.96 16110.73 25701.51 18605.62 325818.83 351496.89 2642.60 141.64 376623.47 0.00 46019.48 90432.09 96752.52 1154.16 6391.68 1028217.01 5875120.29 2508612.44 51702.04 60551.96 62528.63 0.00 132209.74 1433208.41 39700895.45 CAPACC 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

Disertasi OM Final

I-9

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

MIDIHH MIDIIHH MIDIIIHH HIGIHH HIGIIHH VEHIGHH COMPANY GOVERN AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV CAPACC INTXSUB ROW TOTAL + LABOR CAPAM CAPNAM VEPOIHH VEPOIIHH POORIHH POORIIHH MIDIHH MIDIIHH MIDIIIHH HIGIHH HIGIIHH VEHIGHH COMPANY GOVERN AGRI

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.10 0.96 0.00 0.00 0.00 0.69 54832.80 425585.68 479773.72 125229.41 396861.07 866211.71 22040.87 960.98 1471866.40 0.00 124239.76 166061.74 83224.05 33661.76 62946.14 763352.83 3710216.64 2059004.44 352890.68 506452.32 383849.69 0.00 101608.48 2395750.51 33350513.65 INTXSUB 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -677796.72 0.00

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 11512.77 37.47 1934.67 4100.39 0.00 63346.58 92103.89 483567.39 214767.61 52153.09 574821.08 393493.69 6936.34 729.70 1016219.18 0.00 48532.96 451023.84 69884.75 34275.01 146697.95 274957.55 244801.12 263662.94 610842.94 26457.42 68924.13 0.00 9.74 1436929.22 13381783.74 ROW 260320.87 0.00 19492364.96 6267.93 4200.11 2945.53 2247.94 1327.40 1027.20 964.00 685.99 349.59 247.94 103894901.40 11486743.72 64900.56

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 21691.59 4793.73 3839.72 58.19 0.00 208563.14 122480.57 581810.64 72543.76 24615.08 322362.83 217408.04 13246.54 312.62 120899.34 0.00 20011.90 36339.38 12145.96 2198.41 7932.70 122803.88 99114.09 512068.34 206706.13 385584.27 42195.62 0.00 82767.61 1011705.07 8757195.62 TOTAL 85898228.41 175616.51 128734749.65 1914012.93 2842339.65 3449900.90 4962573.22 5664861.49 7338081.61 9527536.92 11558197.56 15425566.67 54287107.42 187401943.34 13991363.90 1321408.65

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8.09 0.00 0.00 0.00 1494.94 347717.26 272072.39 198088.46 16039.23 73943.78 427021.33 6579.45 179.26 60776.79 0.00 4942.00 1349.97 9530.57 67.62 2614.67 105105.56 48808.08 312873.94 11061.95 39184.83 22187.31 0.00 36905.74 632007.44 11136734.71

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 17.50 1753.42 0.24 0.00 29604.41 350004.44 106415.12 21841950.41 1.88 1552300.25 2.37 -377.41 1540.07 34347695.72 883.68 4643.49 2219.32 0.00 6.00 0.00 298.33 141.64 960.98 729.70 25418.36 43860.82 0.00 0.00 13007824.99 71317895.73

Disertasi OM Final

I-10

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV CAPACC INTXSUB ROW TOTAL

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -677796.72

29930.80 16190.78 208173.18 2380280.00 8740243.61 23997612.25 10413193.05 18302779.78 0.00 12950330.20 0.00 0.00 0.00 0.00 8092703.13 2176577.78 2661279.82 2222235.87 2073633.89 746176.73 2344149.15 5521562.92 9444609.07 665892.87 2574920.63 2522578.45 55903343.01 153502.09 95287239.01 404648633.21

224393.83 221116.00 668419.30 2396691.65 19548776.80 33895559.96 19200975.71 51907795.13 2083207.88 26659585.06 7815907.89 472733.69 100483.01 39135900.35 44399766.06 4020386.94 20129176.77 8462695.30 4993877.65 2982414.72 8838888.77 39700895.45 33350513.65 13381783.74 8757195.62 11136734.71 71317895.73 -677796.72 404648633.21 ;

TABLE IMPORTLN(*,*) VEPOIHH 43852.52 2794.82 9275.19 3755.07 0.00 115044.48 25600.74 105519.35 1961.31 22857.73 15214.96 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 234.05 2893.94 2288.61 11297.22 311.34 88.19 15.40

Benchmark Import VEPOIIHH 76567.52 4720.68 15666.55 8454.93 0.00 163212.08 36110.98 138565.58 18347.77 42988.89 29259.35 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 534.97 3044.14 3295.19 16265.94 448.27 119.36 741.60 POORIHH 97523.89 6183.48 20521.17 11935.27 0.00 213556.11 51878.18 179365.50 40807.97 46524.74 40718.06 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 311.80 3922.62 4305.36 21252.43 585.69 223.52 178.25 POORIIHH 108087.37 6013.39 19956.69 13557.68 0.00 233820.88 64386.97 206089.93 43655.04 60642.94 58540.08 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 288.96 4341.53 5179.27 25566.26 704.57 437.68 341.09 MIDIHH 133130.34 7803.49 25897.52 18064.55 0.00 278900.59 64637.24 244009.99 28091.07 74424.17 70998.39 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 305.54 4910.76 6614.16 32649.29 899.77 1293.19 59.42

AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV

Disertasi OM Final

I-11

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV + AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV + AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV

456.94 288.73 1307.69 123.63 MIDIIHH 182397.00 10744.68 35658.48 24756.24 0.00 362678.40 100176.00 322234.82 102874.05 95754.65 124286.36 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 698.35 6375.64 9578.05 47279.86 1302.97 1959.20 1362.17 1628.68 1189.28 12801.54 367.09 COMPANY 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

603.41 420.73 2387.27 140.76 MIDIIIHH 212224.10 13840.37 45932.18 30992.87 0.00 469152.90 132525.60 419232.33 297740.02 132154.47 150632.36 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 742.66 8561.59 11260.73 55585.99 1531.87 3487.82 325.69 2098.14 1635.61 13844.36 455.65 GOVERN 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

794.53 545.91 3386.71 150.24 HIGIHH 262831.63 14082.74 46736.53 38182.14 0.00 520441.06 155056.24 467957.24 435727.90 160975.58 206845.56 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1836.79 8886.23 12385.86 61139.96 1684.93 6047.26 189.25 2448.28 2199.01 17814.62 737.20 AGRI 3893.65 0.69 2380.63 5.97 0.00 0.00 220.56 4974.72 4.10 602.42 548.29 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 9.89 2.09 0.00 0.00 6.32

916.70 657.30 4434.79 172.07 HIGIIHH 328300.73 16816.35 55808.58 51109.86 0.00 653263.95 229011.89 575794.41 838619.62 260995.69 316624.52 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 3138.62 11767.79 15706.71 77532.58 2136.69 10523.95 2772.75 3471.55 3701.10 25216.25 1421.28 PLANT 53.13 276.58 965.85 0.00 0.00 0.00 6.15 693.99 0.91 32.80 226.35 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.22 0.00 0.00 0.74

1198.19 881.66 5674.27 259.55 VEHIGHH 539947.26 26064.34 86500.00 97584.53 0.00 1152245.40 498075.96 1186821.70 6164724.14 975596.72 791861.66 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 22732.05 22253.31 23568.57 137796.87 3845.54 32740.70 122163.56 16486.37 12183.22 61663.33 9221.13 LIVESTOC 147.12 46.70 805.10 9.50 0.00 4288.46 1.39 379.16 455.34 0.61 30.98 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.34 6.01 0.00 0.00 0.00

Disertasi OM Final

I-12

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV + AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV + AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 FISHERY 0.00 563.59 47.34 5680.49 0.00 6689.60 1328.67 121.44 3777.04 19957.48 750.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 31.28 0.00 26.95 0.00 34.83 32.80 0.00 2.00 213.47 52.41 MACHINEQ 0.00 505.43 0.00 0.00 6925.78 0.00 2620.91 1174365.08 8361475.57 242923.94 2003949.99 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 16.01 83.36 334.06 17850.37 942.83

0.00 0.00 120393.63 0.00 0.00 MINE 0.00 155.51 0.00 0.00 248762.76 0.00 464.69 8380.43 45460.40 46950.12 5032.32 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 29.24 28.32 964.18 31686.35 516.65 296.14 4729.59 2190.62 0.00 310.74 10.57 BBMBBG 0.00 0.00 0.00 0.00 567.55 0.00 4.63 140.81 15.22 2419.17 159.23 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.05 1.31 0.00

4.18 0.00 0.00 8.66 38.35 FOODTOB 3558365.40 0.00 1138659.99 350973.62 277.84 1829734.94 5890.06 89082.87 4375.76 131884.44 239950.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 11.56 9.60 179.11 11615.21 825.69 942.96 1989.52 6914.56 233.84 640.04 8338.55 PAPWOMET 1664.00 99304.37 0.00 0.00 713808.92 127.59 122899.83 489159.75 259541.76 387748.92 4099764.20 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 15.08 148.92 1497.19 13433.60 5241.95

0.00 0.00 0.00 0.00 6.94 TEXLEATH 21386.72 0.00 9287.44 0.00 0.00 500.01 5099072.40 614779.88 115825.90 208706.99 227847.85 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 24.86 40.41 107.86 24053.09 1149.64 1276.79 7561.50 38938.16 0.00 1564.11 8109.52 LIGAS 0.00 0.00 1.58 0.00 491417.19 1.07 1544.78 4615.25 525937.20 1261317.23 9669.59 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 67.07 99.57 975.94 16134.76 487.32

2.52 0.82 0.00 6.04 0.90 CHEBSRUB 32184.89 6245.46 0.00 55.05 6011.14 21033.23 45688.90 3969540.92 6987.17 137092.69 127359.10 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 18.28 21.17 302.87 17619.38 1491.01 7546.59 1771.53 11747.44 0.00 1534.60 8198.41 WATPAM 0.00 0.00 0.02 0.00 0.00 0.00 7.10 22374.57 7941.26 8808.26 1320.91 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 19.95 18.78 101.94 50.64 44.90

Disertasi OM Final

I-13

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV + AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV + AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA

2633.24 9946.70 5872.36 4545.71 1331.92 15054.00 WATNPAM 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.31 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 REST 657961.02 36342.65 1027096.05 394657.52 0.00 1625063.00 9753.95 26067.43 7839.90 391055.72 94924.35 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1092.46 1742.67 12109.49 2661.08

89.95 10.15 1.03 0.00 0.00 28.95 COSTRUCT 0.00 630193.73 0.00 0.00 335280.19 0.00 1967.77 430432.44 573781.77 1077822.98 5083688.31 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 291.07 568.87 2239.52 33752.34 491.62 1744.46 10642.10 824739.95 621.98 1295.36 1490.03 TRANS 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 518.63 6261.81 502107.85 1049785.40 7849.92 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 131.26 768.76 9125.26 2739.00

20732.09 2211.18 12922.98 0.00 1062.70 9107.24 TRADE 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 763.98 20498.55 140467.32 91941.23 540793.11 447262.66 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2518.77 4255.34 86063.23 93783.05 18130.09 259778.39 158835.60 229511.42 27.88 3640.50 101647.16 AIRSEA 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 17959.29 3950.33 7502.31 245090.17 509212.81 11292.17 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 275.31 192.39 135.36 7617.54

7449.09 703.31 2840.01 693.30 388.32 835.98 HOTEL 2502.45 729.29 0.00 0.01 0.00 76443.48 3148.57 7466.22 6310.95 37836.16 41062.40 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 620.29 157.36 140.88 529.00 207.38 6602.11 19380.28 64306.76 0.89 14645.90 8210.99 TRANSSEV 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 434.12 907.36 3929.61 66670.44 6634.54 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 731.20 81.97 494.47 11862.95

27.59 96.02 8.47 14.79 6.29 422.23

COMSEV 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2578.93 2089.33 34715.82 110966.97 43742.89 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 777.94 297.93 479.23 81360.96

Disertasi OM Final

I-14

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV + AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV + AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS

9620.00 3699.87 11054.84 81127.15 2.00 12795.83 1536.52 BANKOSEV 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1003.12 4732.55 1356.83 72498.12 171762.93 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2203.76 1165.83 8134.95 170365.14 465.80 156564.08 205161.11 625858.47 1542.46 2088.65 8304.61 FXDCAP 0.00 4.00 28403.00 0.00 0.00 12929.00 9564.00 350227.00 174892.00 0.00 241190.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

7320.40 572.68 20045.47 52658.80 4.27 490.57 41363.77 RENTSEV 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10511.64 124061.87 743603.45 512004.13 355427.92 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2871.36 1015.63 11398.07 189571.89 1136.31 47535.54 65583.41 251823.59 11117.82 45902.15 22185.73 INVSTK 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

414986.03 12942.41 19082.39 4663.58 403.03 686.80 1128.81 GOVSEV 19843.55 74.07 14471.56 5104.42 0.00 15669.26 12535.39 285154.34 90197.19 209692.52 430433.55 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 144559.14 2791.12 28638.40 52807.21 22672.28 4365.34 2238.04 73955.43 9172.27 4750.92 7803.22 TAX 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

13219.50 13972.68 1747.94 3132.90 0.00 558.83 1519.57 SOSSEV 46421.72 1149.38 41133.84 45.03 0.00 74790.64 21781.13 284041.08 25552.71 94994.64 266002.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 507.70 232.22 827.28 16623.36 1369.11 2533.09 1125.37 27212.81 10486.18 94145.05 730.70

2680.81 922255.58 14249.40 11245.28 1167.22 1382.19 1871.19 HHSEV 0.00 34.65 0.00 0.00 0.00 148.18 131116.87 100616.47 143161.80 159317.86 62504.93 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 104.65 206.00 259.90 741.49 324.77 3305.25 317.88 24729.64 275.99 1410.66 3430.45

Disertasi OM Final

I-15

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 ;

TABLE FIXCAP(*,*) FXIN 5399 491 1710 25917 473927 1357592 4816766 2167886 11138288 78978 3771393 3875182 99818 21217 1373854 9120265 2704676 1616795 3916135 1479367 1310195 5722957 5358488 5171850 1093303 2711462 1746446

Domestic Capital information DEPRE 0.0216 0.0029 0.0051 0.0018 0.0049 0.0102 0.0015 0.0007 0.0029 0.0000 0.0021 0.0203 0.0154 0.0154 0.0002 0.0004 0.0004 0.0004 0.0024 0.0016 0.0005 0.0003 0.0022 0.0074 0.0070 0.0183 0.0087;

AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV

TABLE FACDEMO(*,*) Benchmark Factor Demand by Sector LABOR 7530 1721 1235 12307 3084 80566 185559 112966 213016 646 136281 44226 3444 8 CAPAM 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8529 0 CAPNAM 375 530 384 31587 104601 180326 4309259 3912147 4985129 209831 2303637 254220 0 1813

AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM

Disertasi OM Final

I-16

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV

436093 524383 33495 142793 124717 39160 22926 78103 441045 260402 248024 133887 139115

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

4051646 25617764 7536475 4821082 3433752 1260836 3654329 10287603 3803154 1406651 195250 248774 603589;

TABLE ICAP(*,*) Capital Composition Matrix AGRI 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 PLANT LIVESTOC FISHERY 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.9932 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0068 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 MINE 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000

AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV

+ FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG AGRI 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 PLANT 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 LIVESTOC 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 FISHERY 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 MINE 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 FOODTOB 0.2485 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 TEXLEATH 0.0039 0.8660 0.0005 0.0000 0.0006 CHEBSRUB 0.0000 0.0000 0.8202 0.0000 0.0000 MACHINEQ 0.2810 0.0621 0.1474 0.9748 0.7925 BBMBBG 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 PAPWOMET 0.0000 0.0000 0.0000 0.0238 0.0000

Disertasi OM Final

I-17

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV

0.0000 0.0000 0.0000 0.4666 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000

0.0000 0.0000 0.0000 0.0719 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000

0.0000 0.0000 0.0000 0.0319 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000

0.0000 0.0000 0.0000 0.0014 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000

0.0000 0.0000 0.0000 0.2069 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000

+ PAPWOMET LIGAS AGRI 0.0000 0.0000 PLANT 0.0000 0.0000 LIVESTOC 0.0000 0.0000 FISHERY 0.0000 0.0000 MINE 0.0000 0.0000 FOODTOB 0.0000 0.0000 TEXLEATH 0.0006 0.0000 CHEBSRUB 0.0000 0.0000 MACHINEQ 0.8592 0.0709 BBMBBG 0.0000 0.0000 PAPWOMET 0.1130 0.0000 LIGAS 0.0000 0.0000 WATPAM 0.0000 0.0000 WATNPAM 0.0000 0.0000 COSTRUCT 0.0272 0.9291 TRADE 0.0000 0.0000 HOTEL 0.0000 0.0000 REST 0.0000 0.0000 TRANS 0.0000 0.0000 AIRSEA 0.0000 0.0000 TRANSSEV 0.0000 0.0000 COMSEV 0.0000 0.0000 BANKOSEV 0.0000 0.0000 RENTSEV 0.0000 0.0000 GOVSEV 0.0000 0.0000 SOSSEV 0.0000 0.0000 HHSEV 0.0000 0.0000 + COSTRUCT AGRI 0.0000 PLANT 0.0000 LIVESTOC 0.0000 FISHERY 0.0000 MINE 0.0000 FOODTOB 0.0000 TEXLEATH 0.0000 CHEBSRUB 0.0000 MACHINEQ 0.0006 BBMBBG 0.0000 TRADE 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0126 0.0000

WATPAM WATNPAM WATLPAM 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.1623 0.1623 0.1623 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.8377 0.8377 0.8377 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 HOTEL 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0360 0.0000 0.0000 0.2817 0.0000 REST 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0558 0.0000 0.0000 0.1758 0.0000 TRANS 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000

Disertasi OM Final

I-18

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV + AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV + AGRI PLANT LIVESTOC FISHERY MINE FOODTOB TEXLEATH CHEBSRUB MACHINEQ

0.1249 0.0000 0.0000 0.0000 0.8745 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000

0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.9874 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000

0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.6823 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000

0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.7684 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000

0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000

AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 0.0037 0.1219 0.1384 0.0058 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.9963 0.8781 0.8616 0.9942 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 GOVSEV 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.1244 SOSSEV 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0979 HHSEV 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0211

Disertasi OM Final

I-19

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

BBMBBG PAPWOMET LIGAS WATPAM WATNPAM COSTRUCT TRADE HOTEL REST TRANS AIRSEA TRANSSEV COMSEV BANKOSEV RENTSEV GOVSEV SOSSEV HHSEV

0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.8756 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000

0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.9021 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000

0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.9789 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000;

TABLE ELAS(*,*) Elasticity of Substitution by Sector AGRI 0.50 0.60 0.75 1.38 CHEBSRUB 0.50 0.60 0.75 0.95 COSTRUCT 0.50 0.60 0.67 0.82 TRADE 0.50 0.60 0.67 0.82 COMSEV 0.50 0.60 0.55 0.90 HOTEL 0.50 0.60 0.67 0.38 BANKOSEV 0.50 0.60 0.75 0.90 REST 0.50 0.60 0.67 0.82 RENTSEV 0.50 0.60 0.75 0.43 TRANS 0.50 0.60 0.66 0.67 GOVSEV 0.50 0.60 0.75 0.90 AIRSEA 0.50 0.60 0.73 0.53 SOSSEV 0.50 0.60 0.73 0.90 TRANSSEV 0.50 0.60 0.55 0.67 HHSEV 0.50 0.60 0.75 0.90; PLANT 0.50 0.60 0.75 1.38 MACHINEQ 0.50 0.60 0.75 1.08 LIVESTOC 0.50 0.60 0.75 1.38 BBMBBG 0.50 0.60 0.80 0.95 FISHERY 0.50 0.60 0.75 1.57 PAPWOMET 0.50 0.60 0.75 0.97 MINE 0.50 0.60 0.75 0.81 LIGAS 0.50 0.60 0.60 0.50 FOODTOB 0.50 0.60 1.20 0.33 WATPAM 0.50 0.60 0.60 0.50 TEXLEATH 0.50 0.60 0.75 0.52 WATNPAM 0.50 0.60 0.60 0.50

ELASX ELASV ELASEX ELASIM + ELASX ELASV ELASEX ELASIM + ELASX ELASV ELASEX ELASIM + ELASX ELASV ELASEX ELASIM + ELASX ELASV ELASEX ELASIM

TABLE HHTR(*,*) Total HH Transfer to ROW (Rp) VEPOIHH 164539.38 VEPOIIHH 433200.59 POORIHH 375868.29 POORIIHH 1291663.45 MIDIHH 1226592.41

ROW

Disertasi OM Final

I-20

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

+ ROW SCALARS

MIDIIHH 938186.17

MIDIIIHH 1430627.86

HIGIHH 1789401.24

HIGIIHH 983043.82

VEHIGHH 1213168.88 ;

UNEMPLO EXRO GOVBORO GOVAMORO GOVINTRO CORBORO CORAMORO CORINTRO FORINVO PARAMETER Z(I)

Total unemployment (2000)(thousand) US dollar-Rupiah exchange rate (2000) Government foreign borrowing (Rp) Gov amortization payment to ROW (Rp) Government interest payment to ROW (Rp) Company foreign borrowing (Rp million) Com amortization payment to ROW (Rp) Company interest payment to ROW (Rp) Foreign investment (Rp) dummy variable for implementing watpam tax;

/287000/ /1/ /0/ /0/ /0/ /0/ /0/ /0/ /0/ ;

Z(I)=1; Z("WATPAM") = 0; *######################################################################### * SECTION II PARAMETER DECLARATION AND BENCHMARK VARIABLES *######################################################################### PARAMETER *# Read from benchmark variables from table values: XO(I) Benchmark sectoral domestic output XEXO(I) Benchmark sectoral export total XIMO(I) Benchmark comodity import total INTDO(I,J) Benchmark intermediate demand domestic INTO(I,J) Benchmark sectoral intermediate demand INTIMO(I) Benchmark sectoral imported inputs ITXSBO(I) Benchmark total sectoral indirect tax minus subsidy FINCO(I,F) Benchmark sectoral factor income FIROWO(F) Benchmark factor income from ROW CHDO(I,H) Benchmark households domestic demand CDO(I,H) Benchmark households demand HHTROWO(H) Benchmark HH transfer to ROW excluded imported goods CDGOVO(I) Benchmark government domestic demand CGOVO(I) Benchmark government demand FROWO(F) Benchmark factor income transfer to ROW HHROWO(H) Benchmark households transfer to ROW GOVROWO Benchmark government transfer net to ROW CORROWO Benchmark company transfer to ROW ROWTROWO Benchmark ROW transfer to ROW HSAVO(H) Benchmark household saving GOVSAVO Benchmark government saving CORSAVO Benchmark company saving HHTRO(H,HH) Benchmark transfer among households HHTAXO(H) Benchmark total household income tax GOVTRO(H) Benchmark government transfer to households GOVGOVO Benchmark government transfer to government CORTRO(H) Benchmark corporate transfer to households CORTAXO Benchmark total company income tax CORTCORO Benchmark corporate transfer to corporate HFO(H,F) Benchmark household income from factor endowments CORFAMO Benchmark corporate income from capital PAM

Disertasi OM Final

I-21

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

CORFNAMO GOVFAMO GOVFNAMO ROWFAMO ROWFNAMO ROWHHO(H) ROWCORO ROWGOVO ROWTAXO FORINVO GOVTXO IMPTXO(I) TARIFFO DEPR(I) TRANSFO SUBO(PLTW1,H) TOTSUBSO

Benchmark corporate income from capital NPAM Benchmark total government income from capital PAM Benchmark total government income from capital NPAM Benchmark total ROW income from capital PAM Benchmark total ROW income from capital NPAM Benchmark household income from abroad Benchmark company income from abroad Benchmark government income from abroad Benchmark tax received from ROW Foreign investment (Rp) Benchmark total indirect tax minus subsidy Benchmark total sectoral import tariff Benchmark total tax on imported goods Benchmark sectoral depreciation rate Benchmark transfer Benchmark water subsidy to the poor households Benchmark total subsidy and transfer

*# Calculate benchmark variables: PXO(I) Average output price PNO(I) Intermediate input price PVO(I) Value added price PQO(I) Average domestic demand price PDO(I) Domestic suply price PKO(I) Price for new capital PEO(I) Domestic market price for export PMO(I) Domestic market price for import PWEO(I) World market price for export (in $) PWMO(I) World market price for import (in $) PINDEXO Benchmark price index PINDOMO Benchmark domestic price index WFO(I,F) Factor input price WFDISTO(I,F) Benchmark proportional factor input price WAO(F) Average input price SUMHHTRO(H) Total transfer to other households EDWO(H,F) Benchmark household endowment GOVCAMO Benchmark government capital PAM GOVCNAMO Benchmark government capital NPAM CORCAMO Benchmark company capital PAM CORCNAMO Benchmark company capital NPAM FORCAMO Benchmark foreign capital PAM FORCNAMO Benchmark foreign capital NPAM FDO(F) Benchmark aggregate factor demand TOTLABO Benchmark total workers LABFORO Benchmark labor suplly XDO(I) Benchmark domestic sale QO(I) Benchmark composite good supply INO(I) Benchmark composite sectoral intermediate input VAO(I) Benchmark composite sectoral value added TOTINTO Benchmark sectoral total intermediate demand YFO(F) Benchmark factor income summed over sector YFSECTO(I) Benchmark factor income by sector YHO(H) Benchmark household income YCORPO Benchmark company income STKINVO(I) Benchmark domestic total investment STKDO(I) Benchmark change in domestic inventory investment IDDO(I) Benchmark sectoral domestic fixed investment

Disertasi OM Final

I-22

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

STKMO(I) IDMO(I) IDO(I) STKO(I) FXDINVO DKO(I) SAVINGO INVESTO SAVROWO RGDPO GDVAO CURRACWO

Benchmark Benchmark Benchmark Benchmark Benchmark Benchmark Benchmark Benchmark Benchmark Benchmark Benchmark Benchmark

change in imported inventory investment sectoral imported fixed investment total sectoral fixed investment sectoral total change in inventory investment total investment fixed investment by destination total saving total investment saving abroad gross domestic product gross domestic value added current account ROW

*# Read in parameters as rates, shares, and elasticity RHOX(I) Production function exponent RHOEX(I) Export function exponent RHOIM(I) Import function exponent RHOV(I) Value added function exponent *# Calculate parameters TH(H) MPS(H) CSAV CCOR CTAX INVO(I) CGSO(I) TGOV(H) ITXO(I) TMO(I) ZZ(I) IO(I,J) CHSO(I,H) THS(H,HH) TROWS(H) THR(H) CTH(H) SEDW(H,FLAB) SFROW(F) SHHCPAM(H) SHHCNPAM(H) SGOVCPAM SGOVCNAM SCORCPAM SCORCNAM SROWCPAM SROWCNAM CTR ALPHAXO(I) BETAX(I) IOMIO(J,I) ALPHAEX(I) BETAEX(I) BETAIM(I) ALPHAIM(I) ALPHAVO(I) BETAV(I,F) as rates and shares: Benchmark household income tax Benchmark household marginal propensity to save Benchmark saving rate for company Benchmark income rate for company Benchmark tax rate for corporate income Benchmark change inventory investment rate Benchmark government consumption shares Government transfer to household shares Benchmark indirect tax rate Benchmark import tarif rate Share of investment by sector Input-output coefficient Household consumption shares Transfer among household shares Transfer households to ROW shares Household transfer to ROW Company transfer to household shares Share household endowment of labor Share factor income to ROW Share of capital PAM owned by households Share of capital NPAM owned by households Share of capital PAM owned by government Share of capital NPAM owned by government Share of capital PAM owned by company Share of capital NPAM owned by company Share of capital PAM owned by ROW Share of capital NPAM owned by ROW Share of company payment to the ROW Production function shift parameter Production function share parameter Fixed coefficient of material input Export function shift parameter Export function share parameter Domestic supply share parameter in import model Import function shift parameter Value added function shift parameter Value added function share parameter

Disertasi OM Final

I-23

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

QD(I) SUMSHH SUMFHH(F) TMREALO(I) WTD(I) WTQ(I) SUMSH(I) DUMCEK(I,F)

Dummy variable for computing shift and share parameters Sum of share correction parameter Sum of share correction parameter Real tariff rate Domestic price index weight Composite price index weight Calibration sum parameter Dummy Variable ;

*=============================================================================== *# Parameter and benchmark variables assignment *## Extract benchmark variables from the SAM and Import tables: *Benchmark sectoral domestic output XO(I) = SAM(I,"TOTAL"); *Benchmark sectoral export to abroad XEXO(I) = SAM(I,"ROW"); *Benchmark commodity Import non-domestic XIMO(I) = SUM(H,IMPORTLN(I,H))+SUM(OI,IMPORTLN(I,OI)) +SUM(J,IMPORTLN(I,J))+IMPORTLN(I,"FXDCAP")+IMPORTLN(I,"INVSTK"); *Benchmark Intermediate demand domestic INTDO(I,J) = SAM(I,J); *Benchmark sectoral Intermediate demand INTO(I,J) = SAM(I,J)+IMPORTLN(I,J); *Benchmark sectoral imported input from abroad INTIMO(I) = SAM("ROW",I); *Benchmark total sectoral indirect tax minus subsidy ITXSBO(I) = SAM("INTXSUB",I); *Benchmark sectoral factor income FINCO(I,F) = SAM(F,I); *Benchmark factor income from abroad FIROWO(F) = SAM(F,"ROW"); *Benchmark household domestic demand CHDO(I,H) = SAM(I,H); *Benchmark household demand CDO(I,H) = CHDO(I,H)+IMPORTLN(I,H); *Benchmark HH transfer to ROW excluded imported goods HHTROWO(H) = HHTR("ROW",H); *Benchmark Domestic Government demand CDGOVO(I) = SAM(I,"GOVERN"); *Benchmark sectoral government demand CGOVO(I) = CDGOVO(I)+IMPORTLN(I,"GOVERN");

Disertasi OM Final

I-24

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

*Benchmark government transfer net to ROW GOVROWO = SAM("ROW","GOVERN")-SUM(I,IMPORTLN(I,"GOVERN")) -GOVINTRO-GOVAMORO+GOVBORO; *Benchmark factor income transfer to ROW FROWO(F) = SAM("ROW",F); *Benchmark ROW income from tax ROWTAXO = SAM("INTXSUB","ROW"); *Benchmark households transfer to ROW HHROWO(H) = HHTROWO(H) + SUM(I,IMPORTLN(I,H)); *Benchmark company transfer to ROW CORROWO = SAM("ROW","COMPANY")-CORINTRO; *Benchmark ROW transfer to ROW ROWTROWO = SAM("ROW","ROW"); *Benchmark Domestic Household,Government and Corporate Savings HSAVO(H) = SAM("CAPACC",H); GOVSAVO = SAM("CAPACC","GOVERN"); CORSAVO = SAM("CAPACC","COMPANY"); HHTRO(H,HH) = SAM(H,HH); HHTAXO(H) = SAM("GOVERN",H); GOVTRO(H) = SAM(H,"GOVERN"); GOVGOVO = SAM("GOVERN","GOVERN"); CORTRO(H) = SAM(H,"COMPANY"); CORTCORO = SAM("COMPANY","COMPANY"); CORTAXO = SAM("GOVERN","COMPANY"); HFO(H,F) = SAM(H,F); CORFAMO = SAM("COMPANY","CAPAM"); CORFNAMO = SAM("COMPANY","CAPNAM"); GOVFAMO = SAM("GOVERN","CAPAM"); GOVFNAMO = SAM("GOVERN","CAPNAM"); ROWFAMO = SAM("ROW","CAPAM"); ROWFNAMO = SAM("ROW","CAPNAM"); ROWHHO(H) = SAM(H,"ROW"); ROWCORO = SAM("COMPANY","ROW")-CORBORO+CORAMORO; ROWGOVO = SAM("GOVERN","ROW"); GOVTXO = SAM("GOVERN","INTXSUB"); IMPTXO(I) = IMPORTLN(I,"TAX"); TARIFFO = SUM(I, IMPTXO(I)); *### Benchmark for Investment *#Foreign abroad Investment FORINVO = SAM("CAPACC","ROW"); *#Benchmark sectoral depreciation rate DEPR(I) = FIXCAP(I,"DEPRE"); *# benchmark total fixed investment by destination DKO(I) = FIXCAP(I,"FXIN"); *# benchmark total sectoral fixed investment IDO(I) = SUM(J, ICAP(I,J)*DKO(J));

Disertasi OM Final

I-25

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

*#Benchmark sectoral foreign imported fixed investment IDMO(I) = IMPORTLN(I,"FXDCAP"); *# sectoral domestic fixed investment IDDO(I) = IDO(I)-IDMO(I); *#Total Investment STKINVO(I) = SAM(I,"CAPACC") ; *#Benchmark change in domestic inventory STKDO(I) = SAM(I,"CAPACC") - IDDO(I); *#Benchmark change in imported foreign inventory investment STKMO(I) = IMPORTLN(I,"INVSTK"); *#Benchmark sectoral total change in inventory investment STKO(I) = STKDO(I)+STKMO(I); *# Benchmark saving abroad SAVROWO = -SUM(I, STKMO(I)+IDMO(I))+SAM("ROW","CAPACC"); *# Benchmark subsidy and transfer TRANSFO = 0.00; SUBO(PLTW1,H) = 0.00; TOTSUBSO = 0.00; *#####################SAM Construction############################## *=====SAM Based========= SET ACC Social Accounts /VALUAD,HOUSEHOLDS,CORPO,GOVT,ACTIVITY,COMMODITY KACCOUNT,INTXSUB,WORLD,TOTAL/;

ALIAS(ACC,ACCP); PARAMETERS SAMREC(ACC,ACCP) SAMEXP(ACC,ACCP) TOTREC(ACC) TOTEXP(ACCP) ROWTOT(ACC) COLTOT(ACCP) FINALSAM(ACC,ACCP) SAMDIFF(ACC) *=====RECEIVES * VALUEADDED SAMREC("VALUAD","ACTIVITY") SAMREC("VALUAD","WORLD") TOTREC("VALUAD") * HOUSEHOLDS SAMREC("HOUSEHOLDS","VALUAD") SAMREC("HOUSEHOLDS","HOUSEHOLDS")

rows in initial accounts columns in initial accounts row sum in initial accounts column sum in initial accounts row totals in FINALSAM column totals in FINALSAM social accounting matrix receipts minus expenditures in FINALSAM;

= SUM(F, SUM(I, FINCO(I,F))); = SUM(F, FIROWO(F)); = SUM(ACCP,SAMREC("VALUAD",ACCP));

= SUM((H,F), HFO(H,F)); = SUM((H,HH),HHTRO(H,HH));

Disertasi OM Final

I-26

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

SAMREC("HOUSEHOLDS","GOVT") SAMREC("HOUSEHOLDS","CORPO") SAMREC("HOUSEHOLDS","WORLD") TOTREC("HOUSEHOLDS") * GOVT SAMREC("GOVT","VALUAD") SAMREC("GOVT","HOUSEHOLDS") SAMREC("GOVT","GOVT") SAMREC("GOVT","CORPO") SAMREC("GOVT","INTXSUB") SAMREC("GOVT","WORLD") TOTREC("GOVT") * CORPORATE SAMREC("CORPO","VALUAD") SAMREC("CORPO","CORPO") SAMREC("CORPO","WORLD") TOTREC("CORPO") * ACTIVITY SAMREC("ACTIVITY","HOUSEHOLDS") SAMREC("ACTIVITY","GOVT") SAMREC("ACTIVITY","ACTIVITY") SAMREC("ACTIVITY","KACCOUNT") SAMREC("ACTIVITY","WORLD") TOTREC("ACTIVITY") * SAVINGS SAMREC("KACCOUNT","HOUSEHOLDS") SAMREC("KACCOUNT","GOVT") SAMREC("KACCOUNT","CORPO") SAMREC("KACCOUNT","WORLD") TOTREC("KACCOUNT")

= = = =

SUM(H, GOVTRO(H)); SUM(H, CORTRO(H)); SUM(H, ROWHHO(H)); SUM(ACCP,SAMREC("HOUSEHOLDS",ACCP));

= = = = = = =

GOVFAMO+GOVFNAMO; SUM(H, HHTAXO(H)); GOVGOVO; CORTAXO; GOVTXO + TARIFFO; ROWGOVO; SUM(ACCP,SAMREC("GOVT",ACCP));

= = = =

CORFAMO+CORFNAMO; CORTCORO; ROWCORO+CORBORO-CORAMORO; SUM(ACCP,SAMREC("CORPO",ACCP));

= = = = = =

SUM((I,H),CHDO(I,H)); SUM(I,CDGOVO(I)); SUM(I,SUM(J,INTDO(I,J))); SUM(I,STKDO(I)+IDDO(I)); SUM(I,XEXO(I)); SUM(ACCP,SAMREC("ACTIVITY",ACCP));

= = = = =

SUM(H, HSAVO(H)); GOVSAVO; CORSAVO; FORINVO; SUM(ACCP,SAMREC("KACCOUNT",ACCP));

* NET INDIRECT TAX (INDIRECT TAX MINUS SUBSIDY) SAMREC("INTXSUB","ACTIVITY") = SUM(I, ITXSBO(I)); SAMREC("INTXSUB","WORLD") = ROWTAXO + SUM(I, IMPTXO(I)); TOTREC("INTXSUB") = SUM(ACCP,SAMREC("INTXSUB",ACCP)); * WORLD ACCOUNT SAMREC("WORLD","VALUAD") SAMREC("WORLD","HOUSEHOLDS") SAMREC("WORLD","GOVT") SAMREC("WORLD","CORPO") SAMREC("WORLD","ACTIVITY") SAMREC("WORLD","KACCOUNT") SAMREC("WORLD","WORLD") TOTREC("WORLD") *= EXPENDITURES * VALUEADDED SAMEXP("HOUSEHOLDS","VALUAD") SAMEXP("GOVT","VALUAD") SAMEXP("CORPO","VALUAD")

= SUM(F,FROWO(F)); = SUM(H,HHROWO(H)); = GOVROWO+GOVINTRO+GOVAMORO-GOVBORO +SUM(I,IMPORTLN(I,"GOVERN")); = CORROWO+CORINTRO; = SUM((I,J),IMPORTLN(I,J)); = SAVROWO+SUM(I, STKMO(I)+IDMO(I)); = ROWTROWO; = SUM(ACCP,SAMREC("WORLD",ACCP));

= SAMREC("HOUSEHOLDS","VALUAD"); = SAMREC("GOVT","VALUAD"); = SAMREC("CORPO","VALUAD");

Disertasi OM Final

I-27

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

SAMEXP("WORLD","VALUAD") TOTEXP("VALUAD") *HOUSEHOLDS SAMEXP("HOUSEHOLDS","HOUSEHOLDS") SAMEXP("GOVT","HOUSEHOLDS") SAMEXP("ACTIVITY","HOUSEHOLDS") SAMEXP("KACCOUNT","HOUSEHOLDS") SAMEXP("WORLD","HOUSEHOLDS") TOTEXP("HOUSEHOLDS") *GOVERNMENT SAMEXP("HOUSEHOLDS","GOVT") SAMEXP("GOVT","GOVT") SAMEXP("ACTIVITY","GOVT") SAMEXP("KACCOUNT","GOVT") SAMEXP("WORLD","GOVT") TOTEXP("GOVT") *CORPORATE SAMEXP("HOUSEHOLDS","CORPO") SAMEXP("CORPO","CORPO") SAMEXP("GOVT","CORPO") SAMEXP("KACCOUNT","CORPO") SAMEXP("WORLD","CORPO") TOTEXP("CORPO") *ACTIVITY SAMEXP("VALUAD","ACTIVITY") SAMEXP("ACTIVITY","ACTIVITY") SAMEXP("INTXSUB","ACTIVITY") SAMEXP("WORLD","ACTIVITY") TOTEXP("ACTIVITY") *INVESTMENTS SAMEXP("ACTIVITY","KACCOUNT") SAMEXP("WORLD","KACCOUNT") TOTEXP("KACCOUNT") * TAX COLLECTION SAMEXP("GOVT","INTXSUB") TOTEXP("INTXSUB") *WORLD ACCOUNT SAMEXP("GOVT","WORLD") SAMEXP("ACTIVITY","WORLD") SAMEXP("KACCOUNT","WORLD") SAMEXP("WORLD","WORLD") SAMEXP("VALUAD","WORLD") SAMEXP("HOUSEHOLDS","WORLD") SAMEXP("CORPO","WORLD") SAMEXP("INTXSUB","WORLD") TOTEXP("WORLD")

= SAMREC("WORLD","VALUAD"); = SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"VALUAD"));

= = = = = =

SAMREC("HOUSEHOLDS","HOUSEHOLDS"); SAMREC("GOVT","HOUSEHOLDS"); SAMREC("ACTIVITY","HOUSEHOLDS"); SAMREC("KACCOUNT","HOUSEHOLDS"); SAMREC("WORLD","HOUSEHOLDS"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"HOUSEHOLDS"));

= = = = = =

SAMREC("HOUSEHOLDS","GOVT"); SAMREC("GOVT","GOVT"); SAMREC("ACTIVITY","GOVT"); SAMREC("KACCOUNT","GOVT"); SAMREC("WORLD","GOVT"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"GOVT"));

= = = = = =

SAMREC("HOUSEHOLDS","CORPO"); SAMREC("CORPO","CORPO"); SAMREC("GOVT","CORPO"); SAMREC("KACCOUNT","CORPO"); SAMREC("WORLD","CORPO"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"CORPO"));

= = = = =

SAMREC("VALUAD","ACTIVITY"); SAMREC("ACTIVITY","ACTIVITY"); SAMREC("INTXSUB","ACTIVITY"); SAMREC("WORLD","ACTIVITY"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"ACTIVITY"));

= SAMREC("ACTIVITY","KACCOUNT"); = SAMREC("WORLD","KACCOUNT"); = SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"KACCOUNT"));

= SAMREC("GOVT","INTXSUB"); = SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"INTXSUB"));

= = = = = = = = =

SAMREC("GOVT","WORLD"); SAMREC("ACTIVITY","WORLD"); SAMREC("KACCOUNT","WORLD"); SAMREC("WORLD","WORLD"); SAMREC("VALUAD","WORLD"); SAMREC("HOUSEHOLDS","WORLD"); SAMREC("CORPO","WORLD"); SAMREC("INTXSUB","WORLD"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"WORLD"));

Disertasi OM Final

I-28

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

* ========================== BALANCE ACCOUNTS ========================= * DEFINE PARAMETERS FOR MATRIX CHECKING FINALSAM(ACC,ACCP) = SAMEXP(ACC,ACCP); COLTOT(ACCP) = TOTEXP(ACCP); ROWTOT(ACC) = TOTREC(ACC); SAMDIFF(ACC) = TOTREC(ACC) - TOTEXP(ACC); OPTION DECIMALS = 5; DISPLAY "*** SAM BASED: FOR JAKARTA MODEL"; DISPLAY FINALSAM,COLTOT,ROWTOT,SAMDIFF; *###########################End of SAM Construction###################### *## Calibrate the investment capital coefficients SUMSH(J) ICAP(I,J) = SUM(I, ICAP(I,J)); = ICAP(I,J)/SUMSH(J);

DISPLAY SUMSH, ICAP; *## Compute benchmark variables: PXO(I) = 1; PQO(I) = 1; PDO(I) = 1; PNO(I) = 1; PVO(I) = 1; PEO(I) = 1; PMO(I) = 1; *# Factor input price WFO(I,F)$FACDEMO(I,F) = FINCO(I,F)/FACDEMO(I,F); WFO(I,F)$(FACDEMO(I,F) EQ 0) = 0.0; *# Average input price WAO(F) = SUM(I, FINCO(I,F))/SUM(I, FACDEMO(I,F)); *# Benchmark proportional factor input price WFDISTO(I,F) = WFO(I,F)/WAO(F); *Benchmark households endowments EDWO(H,F) = HFO(H,F)/WAO(F); *Benchmark sectoral total intermediate demand TOTINTO(I) = SUM(J, INTO(I,J)); *Benchmark foreign capital CORCAMO = CORFAMO/WAO("CAPAM"); CORCNAMO = CORFNAMO/WAO("CAPNAM"); GOVCAMO = GOVFAMO/WAO("CAPAM"); GOVCNAMO = GOVFNAMO/WAO("CAPNAM"); FDO(F) = SUM(I, FACDEMO(I,F)); TOTLABO = SUM(FLAB, FDO(FLAB)); LABFORO = SUM(FLAB, FDO(FLAB))+UNEMPLO; XDO(I) = XO(I)-XEXO(I); QO(I) = XDO(I)+XIMO(I); YCORPO = CORFAMO+CORFNAMO+CORTCORO+ROWCORO+CORBORO-CORAMORO-CORINTRO;

Disertasi OM Final

I-29

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

YHO(H) YFO(F) YFSECTO(I) SAVINGO INVESTO PKO(I) FXDINVO

= SUM(F, HFO(H,F))+SUM(HH, HHTRO(H,HH))+GOVTRO(H)+CORTRO(H) +ROWHHO(H); = SUM(I, FINCO(I,F))+FIROWO(F); = SUM(F, FINCO(I,F)); = SUM(H, HSAVO(H))+CORSAVO+GOVSAVO-SAVROWO+FORINVO; = SAVINGO; = SUM(J, ICAP(J,I)*PQO(J)); = INVESTO-SUM(I, STKO(I));

*##Define indexes based on read in data IE(I) = yes$XEXO(I); IEN(I) = not IE(I); IM(I) = yes$XIMO(I); IMN(I) = not IM(I); *## Extract parameters from elasticity table RHOX(I) = (1/ELAS("ELASX",I))-1; RHOV(I) = (1/ELAS("ELASV",I))-1; RHOEX(IE) = (1/ELAS("ELASEX",IE))+1; RHOIM(IM) = (1/ELAS("ELASIM",IM))-1; *## Compute parameters SEDW(H,FLAB) SFROW(FLAB) SUMFHH(FLAB) SEDW(H,FLAB) SFROW(FLAB) SHHCPAM(H) SCORCPAM SGOVCPAM SROWCPAM SUMSHH SHHCPAM(H) SCORCPAM SGOVCPAM SROWCPAM SHHCNPAM(H) SCORCNAM SGOVCNAM SROWCNAM SUMSHH SHHCNPAM(H) SCORCNAM SGOVCNAM SROWCNAM TH(H) MPS(H) TROWS(H) CTAX CCOR CSAV CTH(H) = HFO(H,FLAB)/YFO(FLAB); = FROWO(FLAB)/YFO(FLAB); = SUM(H, SEDW(H,FLAB))+ SFROW(FLAB); = SEDW(H,FLAB)/SUMFHH(FLAB); = SFROW(FLAB)/SUMFHH(FLAB); = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = HFO(H,"CAPAM")/YFO("CAPAM"); CORFAMO/YFO("CAPAM"); GOVFAMO/YFO("CAPAM"); ROWFAMO/YFO("CAPAM"); SUM(H,SHHCPAM(H))+SCORCPAM+SGOVCPAM+SROWCPAM; SHHCPAM(H)/SUMSHH; SCORCPAM/SUMSHH; SGOVCPAM/SUMSHH; SROWCPAM/SUMSHH; HFO(H,"CAPNAM")/YFO("CAPNAM"); CORFNAMO/YFO("CAPNAM"); GOVFNAMO/YFO("CAPNAM"); ROWFNAMO/YFO("CAPNAM"); SUM (H,SHHCNPAM(H))+SCORCNAM+SGOVCNAM+SROWCNAM; SHHCNPAM(H)/SUMSHH; SCORCNAM/SUMSHH; SGOVCNAM/SUMSHH; SROWCNAM/SUMSHH; HHTAXO(H)/YHO(H); HSAVO(H)/(YHO(H)*(1-TH(H))); HHTROWO(H)/(YHO(H)*(1-TH(H))*(1-MPS(H))); CORTAXO/YCORPO; CORTCORO/(YCORPO*(1-CTAX)); CORSAVO/(YCORPO*(1-CTAX)); CORTRO(H)/(YCORPO*(1-CTAX));

Disertasi OM Final

I-30

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

CTR SUMSHH CCOR CSAV CTH(H) CTR INVO(I) CGSO(I) TGOV(H) SUMSHH CGSO(I) TGOV(H) ITXO(I) IO(I,J) SUMHHTRO(H) CHSO(I,H) THS(HH,H) SUMHHTRO(H) CHSO(I,H) THS(HH,H) ZZ(I)

= = = = = = = = = = = =

CORROWO/(YCORPO*(1-CTAX)); CCOR+CSAV+ SUM(H,CTH(H))+CTR; CCOR/SUMSHH; CSAV/SUMSHH; CTH(H)/SUMSHH; CTR/SUMSHH; (STKDO(I)+STKMO(I))/(XO(I)+XIMO(I)); CGOVO(I)/(SUM(J, CGOVO(J))+SUM(H, GOVTRO(H))); GOVTRO(H)/(SUM(J, CGOVO(J))+SUM(HH, GOVTRO(HH))); SUM(I, CGSO(I))+SUM(H, TGOV(H)); CGSO(I)/SUMSHH; TGOV(H)/SUMSHH;

= ITXSBO(I)/XO(I); = INTO(I,J)/XO(J); = SUM(HH, HHTRO(HH,H)); = = = = = = CDO(I,H)/(YHO(H)*(1-TH(H))*(1-MPS(H))*(1-TROWS(H))); HHTRO(HH,H)/(YHO(H)*(1-TH(H))*(1-MPS(H))*(1-TROWS(H))); SUM(I, CHSO(I,H))+SUM(HH, THS(HH,H)); CHSO(I,H)/SUMHHTRO(H); THS(HH,H)/SUMHHTRO(H); PKO(I)*DKO(I)/FXDINVO;

*## Specify parameters that depend on defined index IM TMO(IM) TMO(IMN) = IMPTXO(IM)/(PMO(IM)*XIMO(IM)-IMPTXO(IM)); = 0.0;

*## Compute from benchmark data PWEO(I) PWMO(I) TMREALO(I) = PEO(I)/EXRO; = PMO(I)/((1+TMO(I))*EXRO); = TMO(I)*PWMO(I)*EXRO;

*# Calculate value added and intermediate inputs INO(I) VAO(I) = SUM(J,PQO(J)*INTO(J,I))/PNO(I); = (PXO(I)*(1-ITXO(I))*XO(I)-PNO(I)*INO(I))/PVO(I);

*# Calibration of shift and share parameters *## For import domestic and foreign **## For import-domestic composite BETAIM(I)$IM(I) = (PMO(I)/PDO(I))*(XIMO(I)/XDO(I))**(1+RHOIM(I)); BETAIM(I)$IM(I) = BETAIM(I)/(1.0+BETAIM(I)); ALPHAIM(I)$IM(I) = QO(I)/(BETAIM(I)*XIMO(I)**(-RHOIM(I))+(1-BETAIM(I))*XDO(I) **(-RHOIM(I)))**(-1/RHOIM(I)); ALPHAIM(I)$IMN(I) = 1.0; *## For export domestic and foreign BETAEX(IE)$ELAS("ELASEX",IE) = (PEO(IE)/PDO(IE))*(XEXO(IE)/XDO(IE)) **(1-RHOEX(IE));

Disertasi OM Final

I-31

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

BETAEX(IE)$ELAS("ELASEX",IE) = BETAEX(IE)/(1.0+BETAEX(IE)); ALPHAEX(IE)$ELAS("ELASEX",IE)= XO(IE)/(BETAEX(IE)*XEXO(IE)**RHOEX(IE) +(1-BETAEX(IE))*XDO(IE)**RHOEX(IE)) **(1/RHOEX(IE)); ALPHAEX(I)$(ELAS("ELASEX",I) EQ 0) = 1.0; *## For production sectors BETAX(I) = (PNO(I)/PVO(I))*(INO(I)/VAO(I))**(1+RHOX(I)); BETAX(I) = BETAX(I)/(1.0+BETAX(I)); ALPHAXO(I) = XO(I)/(BETAX(I)*INO(I)**(-RHOX(I))+(1-BETAX(I))*VAO(I) **(-RHOX(I)))**(-1/RHOX(I)); IOMIO(J,I) = INTO(J,I)/INO(I); BETAV(NPLTW,"LABOR") = ((WAO("LABOR")*WFDISTO(NPLTW,"LABOR"))/(WAO("CAPNAM") *WFDISTO(NPLTW,"CAPNAM")))*(FACDEMO(NPLTW,"LABOR")/ FACDEMO(NPLTW,"CAPNAM"))**(1+RHOV(NPLTW)); = 1; = BETAV(NPLTW,"LABOR")*BETAV(NPLTW,"CAPNAM"); = ((WAO("LABOR")*WFDISTO("WATPAM","LABOR"))/ (WAO("CAPAM")*WFDISTO("WATPAM","CAPAM"))) *(FACDEMO("WATPAM","LABOR")/ FACDEMO("WATPAM","CAPAM"))**(1+RHOV("WATPAM")); = 1; = BETAV("WATPAM","LABOR")*BETAV("WATPAM","CAPAM");

BETAV(NPLTW,"CAPNAM") BETAV(NPLTW,"LABOR") BETAV("WATPAM","LABOR")

BETAV("WATPAM","CAPAM") BETAV("WATPAM","LABOR")

BETAV("WATNPAM","LABOR") = ((WAO("LABOR")*WFDISTO("WATNPAM","LABOR"))/ (WAO("CAPNAM")*WFDISTO("WATNPAM","CAPNAM")))* (FACDEMO("WATNPAM","LABOR")/ FACDEMO("WATNPAM","CAPNAM"))**(1+RHOV("WATNPAM")); BETAV("WATNPAM","CAPNAM")= 1; BETAV("WATNPAM","LABOR") = BETAV("WATNPAM","LABOR")*BETAV("WATNPAM","CAPNAM"); QD(I) QD(I) BETAV(I,F) ALPHAVO(I) = 0; = SUM(F, BETAV(I,F)); = BETAV(I,F)/QD(I); = VAO(I)/(SUM(F, (BETAV(I,F) *FACDEMO(I,F)**(-RHOV(I))))**(-1/RHOV(I)));

RGDPO

= SUM(I, SUM(H, CDO(I,H))+STKO(I)+IDO(I)+CGOVO(I))+SUM(IE, XEXO(IE)) -SUM(IM, (1-TMREALO(IM))*XIMO(IM)); = SUM(I, PVO(I)*VAO(I)+ITXSBO(I))+TARIFFO;

GDVAO

*# Benchmark current account balance with ROW CURRACWO = SUM(F, FIROWO(F))+SUM(H, ROWHHO(H))+ROWGOVO+ROWCORO +SUM(IE, PEO(IE)*XEXO(IE))+FORINVO+ROWTAXO +SUM(I, TMO(I)*PWMO(I)*XIMO(I))+ROWTROWO+GOVBORO+CORBORO -SUM(FLAB, SFROW(FLAB)*YFO(FLAB))-SROWCPAM*YFO("CAPAM") -SROWCNAM*YFO("CAPNAM")-SUM(I,PWMO(I)*XIMO(I)*EXRO) -SUM(H,HHTROWO(H))-GOVROWO-CORROWO-SAVROWO-GOVINTRO-CORINTRO -GOVAMORO-CORAMORO-ROWTROWO;

Disertasi OM Final

I-32

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

*## Specify weights for producer price index and price index WTQ(I) WTD(I) PINDEXO PINDOMO = = = = QO(I)/ SUM(J, QO(J)); XO(I)/SUM(J, XO(J)); SUM(I, WTQ(I)*PQO(I)); SUM(I, WTD(I)*PQO(I));

* SECTION III THE CGE MODEL VARIABLES *# Variable declaration *## Price block EXR PX(I) PN(I) PV(I) PQ(I) PD(I) PK(I) PE(I) PM(I) PWE(I) PWM(I) PINDEX PINDOM *# Production block TM(I) ITX(I) ALPHAX(I) ALPHAV(I) IOMI(I,J) X(I) XEX(I) XIM(I) XD(I) Q(I) IN(I) VA(I) *# Factor block FD(F) LABFOR UNEMPL FACDEM(I,F) WFDIST(I,F) WA(F) YF(F)

Exchange rate Average output price Intermediate input price Value added price Average domestic demand price Domestic suply price Price for new capital Foreign price of export Foreign price of export World market price for export (in $) World market price for import (in $) Composite price index Domestic price index

Import tax rate for foreign Indirect tax rate Production function shift parameter Value added function shirt parameter Fixed coefficient of material input Composite sectoral domestic output Sectoral export to domestic Sectoral import to domestic Domestic sale Composite good supply Composite sectoral intermediate input Composite sectoral value added

Factor demand Total labor forced Total unemployment Sectoral factor demand Propotional sectoral factor input price Average factor input price Factor income

*# Income and expenditure block CHS(I,H) Household consumption share parameters CGS(I) Government consumption share parameters CD(I,H) Final demand for household consumptions HSAV Household savings HHTAX Household income tax YH(HH) Household income

Disertasi OM Final

I-33

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

YCORP CORTCOR CORSAV CORTAX CORBOR CORAMOR CORINTR CGOV(I) GOVSAV GOVTR(H) GOVFAM GOVFNAM GOVGOV GR GOVBOR GOVAMOR GOVINTR GOVBUD INDTAX TINDTAX TARIFF TOTINT(I) INVEST TMREAL RGDP GDVA SAVING DK(I) FXDINV ID(I) INV(I) HHTROW INT(I,J) TOTSUBS

Company income Company transfer to company Company savings Company income tax Company foreign borrowing from ROW Company amortization payment on foreign debt Company interest payment on foreign debt Final demand for government consumption Government savings Government transfer to households Government income from capital Government income from capital Government transfer to GOVT Government revenue Government foreign borrowing Government amortization payment on foreign debt Government interest payment on foreign debt Total Government Consumption on Commodities Indirect tax revenue from commodity Total indirect tax revenue Tariff revenue Total intermediate uses Total investment Real tariff rate Real GDP Gross Domestic Value Added Total saving Fixed investment by sector of destination Total fixed investment Final demand for productive investment Share parameter for inventory stock Household transfer to ROW Intermediate uses Total subsidy for low income household using PAM water

*# Balance of payment block SAVROW Saving abroad FROW(F) Factor income transfer to ROW GOVROW Net Government transfer to ROW CORROW Company transfer to ROW ROWHH(H) Household income from ROW ROWCOR Company income from ROW ROWGOV Government income from ROW ROWTAX Tax income from ROW ROWTRW ROW transfer to ROW FIROW(F) Factor income from ROW FORINV Foreign investment from ROW HHTRW(H) Household transfer to ROW CURRACW Current account ROW TRANSF Central government transfer to local government SUB(PLTW1,H) Water Subsidy to poor Households; *# Variable initialization EXR.L = EXRO; TM.L(I) = TMO(I); ITX.L(I) = ITXO(I); ALPHAX.L(I) = ALPHAXO(I);

Disertasi OM Final

I-34

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

ALPHAV.L(I) IOMI.L(J,I) PX.L(I) PN.L(I) PV.L(I) PQ.L(I) PD.L(I) PK.L(I) PE.L(I) PWE.L(I) PWM.L(I) PM.L(I) PINDEX.L PINDOM.L X.L(I) XEX.L(I) XIM.L(I) XD.L(I) Q.L(I) IN.L(I) VA.L(I) FACDEM.L(I,F) FD.L(F) UNEMPL.L LABFOR.L WFDIST.L(I,F) WA.L(F) YF.L(F) CGS.L(I) CD.L(I,H) CHS.L(I,H) GOVTR.L(H) YH.L(HH) HSAV.L HHTAX.L HHTROW.L YCORP.L CORTCOR.L CORSAV.L CORTAX.L CORBOR.L CORAMOR.L CORINTR.L CGOV.L(I) GOVFAM.L GOVFNAM.L GOVGOV.L GOVSAV.L GOVBOR.L GOVAMOR.L GOVINTR.L INDTAX.L TINDTAX.L INT.L(I,J) TOTINT.L(I) FXDINV.L INVEST.L

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

ALPHAVO(I); IOMIO(J,I); PXO(I); PNO(I); PVO(I); PQO(I); PDO(I); PKO(I); PEO(I); PWEO(I); PWMO(I); PMO(I); PINDEXO; PINDOMO; XO(I); XEXO(I); XIMO(I); XDO(I); QO(I); INO(I); VAO(I); FACDEMO(I,F); SUM(I, FACDEMO(I,F)); UNEMPLO; UNEMPL.L+SUM(FLAB, FD.L(FLAB)); WFDISTO(I,F); WAO(F); YFO(F); CGSO(I); CDO(I,H); CHSO(I,H); GOVTRO(H); YHO(HH); SUM(H, MPS(H)*YH.L(H)*(1-TH(H))); SUM(H, TH(H)*YH.L(H)); SUM(H, TROWS(H)*YH.L(H)*(1-TH(H))*(1-MPS(H))); YCORPO; CORTCORO; CORSAVO; CORTAXO; CORBORO; CORAMORO; CORINTRO; CGOVO(I); GOVFAMO; GOVFNAMO; GOVGOVO; GOVSAVO; GOVBORO; GOVAMORO; GOVINTRO; SUM(I, ITX.L(I)*PX.L(I)*X.L(I)); INDTAX.L+ROWTAXO; INTO(I,J); SUM(J, INTO(I,J)); FXDINVO; INVESTO;

Disertasi OM Final

I-35

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

SAVING.L DK.L(I) ID.L(I) INV.L(I) SAVROW.L FORINV.L FROW.L(F) GOVROW.L CORROW.L ROWHH.L(H) HHTRW.L(H) ROWCOR.L ROWGOV.L FIROW.L(F) ROWTAX.L ROWTRW.L TARIFF.L GR.L GOVBUD.L TMREAL.L(I) RGDP.L GDVA.L CURRACW.L TRANSF.L SUB.L(PLTW1,GH) TOTSUBS.L

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

SAVINGO; DKO(I); IDO(I); INVO(I); SAVROWO; FORINVO; FROWO(F); GOVROWO; CORROWO; ROWHHO(H); HHTROWO(H); ROWCORO; ROWGOVO; FIROWO(F); ROWTAXO; ROWTROWO; TARIFFO; TARIFF.L+INDTAX.L+ROWTAX.L+CORTAX.L+HHTAX.L+GOVFAM.L+GOVFNAM.L +ROWGOV.L+GOVGOV.L+GOVBOR.L; GR.L-GOVSAV.L-GOVROW.L-GOVINTR.L-GOVAMOR.L-GOVGOV.L; TMREALO(I); RGDPO; GDVAO; CURRACWO; TRANSFO; SUBO(PLTW1,GH); TOTSUBSO;

*#########################SAM Construction############################## SAMREC(ACC,ACCP)=0; SAMEXP(ACC,ACCP)=0; *== Before Optimality SAM *= RECEIVES * VALUEADDED SAMREC("VALUAD","ACTIVITY") = SUM(F,SUM(I,WA.L(F)*WFDIST.L(I,F)*FACDEM.L(I,F))); SAMREC("VALUAD","WORLD") = SUM(F, FIROW.L(F)); TOTREC("VALUAD") = SUM(ACC,SAMREC("VALUAD",ACC)); * HOUSEHOLDS SAMREC("HOUSEHOLDS","VALUAD")

= SUM(H,SUM(FLAB,SEDW(H,FLAB)*YF.L(FLAB)) + SHHCPAM(H)*YF.L("CAPAM")+ SHHCNPAM(H) *YF.L("CAPNAM")); SAMREC("HOUSEHOLDS","HOUSEHOLDS") = SUM((HH,H),(THS(HH,H)*(YH.L(H)*(1-TH(H)) *(1-MPS(H))*(1-TROWS(H))))); SAMREC("HOUSEHOLDS","GOVT") = SUM(H, TGOV(H)*GOVBUD.L); SAMREC("HOUSEHOLDS","CORPO") = SUM(H,CTH(H)*YCORP.L*(1-CTAX)); SAMREC("HOUSEHOLDS","WORLD") = SUM(H, ROWHH.L(H)); TOTREC("HOUSEHOLDS") = SUM(ACC,SAMREC("HOUSEHOLDS",ACC)); * GOVT SAMREC("GOVT","VALUAD") SAMREC("GOVT","HOUSEHOLDS") SAMREC("GOVT","GOVT")

= SGOVCPAM*YF.L("CAPAM")+SGOVCNAM*YF.L("CAPNAM"); = SUM(H, YH.L(H)*TH(H)); = GOVGOV.L;

Disertasi OM Final

I-36

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

SAMREC("GOVT","CORPO") SAMREC("GOVT","INTXSUB") SAMREC("GOVT","WORLD") TOTREC("GOVT") * CORPORATE SAMREC("CORPO","VALUAD") SAMREC("CORPO","CORPO") SAMREC("CORPO","WORLD") TOTREC("CORPO")

= YCORP.L*CTAX; = TINDTAX.L + SUM(I, PWM.L(I)*EXR.L*TM.L(I) *XIM.L(I)); = ROWGOV.L+GOVBOR.L; = SUM(ACC,SAMREC("GOVT",ACC));

= = = =

SCORCPAM*YF.L("CAPAM")+SCORCNAM*YF.L("CAPNAM"); CCOR*YCORP.L*(1-CTAX); ROWCOR.L+CORBOR.L; SUM(ACC,SAMREC("CORPO",ACC));

* ACTIVITY SAMREC("ACTIVITY","COMMODITY") = SUM(I, PD.L(I)*XD.L(I)); SAMREC("ACTIVITY","WORLD") = SUM(I, PE.L(I)*XEX.L(I)); TOTREC("ACTIVITY") = SUM(ACC,SAMREC("ACTIVITY",ACC)); *COMMODITY SAMREC("COMMODITY","HOUSEHOLDS") SAMREC("COMMODITY","GOVT") SAMREC("COMMODITY","ACTIVITY") SAMREC("COMMODITY","KACCOUNT") TOTREC("COMMODITY") *SAVINGS SAMREC("KACCOUNT","HOUSEHOLDS") SAMREC("KACCOUNT","GOVT") SAMREC("KACCOUNT","CORPO") SAMREC("KACCOUNT","WORLD") TOTREC("KACCOUNT")

= = = =

SUM((I,H), PQ.L(I)*CD.L(I,H)); SUM(I, PQ.L(I)*CGOV.L(I)); SUM(I, PQ.L(I)*TOTINT.L(I)); SUM(I, PQ.L(I)*(ID.L(I)+INV.L(I)*X.L(I) +INV.L(I)*XIM.L(I))); = SUM(ACC, SAMREC("COMMODITY",ACC));

= = = = =

HSAV.L; GOVSAV.L; CORSAV.L; FORINV.L; SUM(ACC,SAMREC("KACCOUNT",ACC));

* NET INDIRECT TAX (INDIRECT TAX MINUS SUBSIDY) SAMREC("INTXSUB","ACTIVITY") = SUM(I, ITX.L(I)*PX.L(I)*X.L(I)); SAMREC("INTXSUB","WORLD") = ROWTAX.L+SUM(I,TM.L(I)*PWM.L(I)*XIM.L(I)); TOTREC("INTXSUB") = SUM(ACC,SAMREC("INTXSUB",ACC)); * WORLD ACCOUNT SAMREC("WORLD","HOUSEHOLDS") SAMREC("WORLD","GOVT") SAMREC("WORLD","CORPO") SAMREC("WORLD","COMMODITY") SAMREC("WORLD","VALUAD")

= = = = =

SAMREC("WORLD","KACCOUNT") SAMREC("WORLD","WORLD") TOTREC("WORLD") *= EXPENDITURES * VALUEADDED SAMEXP("HOUSEHOLDS","VALUAD") SAMEXP("GOVT","VALUAD") SAMEXP("CORPO","VALUAD") SAMEXP("WORLD","VALUAD") TOTEXP("VALUAD")

SUM(H,HHTRW.L(H)); GOVROW.L+GOVINTR.L+GOVAMOR.L; CORROW.L+CORINTR.L+CORAMOR.L; SUM(I, PWM.L(I)*EXR.L*XIM.L(I)); SUM(FLAB, SFROW(FLAB)*YF.L(FLAB)) +SROWCPAM*YF.L("CAPAM")+SROWCNAM *YF.L("CAPNAM"); = SAVROW.L+CURRACW.L; = ROWTRW.L; = SUM(ACC,SAMREC("WORLD",ACC));

= = = = =

SAMREC("HOUSEHOLDS","VALUAD"); SAMREC("GOVT","VALUAD"); SAMREC("CORPO","VALUAD"); SAMREC("WORLD","VALUAD"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"VALUAD"));

Disertasi OM Final

I-37

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

*HOUSEHOLDS SAMEXP("HOUSEHOLDS","HOUSEHOLDS") SAMEXP("GOVT","HOUSEHOLDS") SAMEXP("COMMODITY","HOUSEHOLDS") SAMEXP("KACCOUNT","HOUSEHOLDS") SAMEXP("WORLD","HOUSEHOLDS") TOTEXP("HOUSEHOLDS") *GOVERNMENT SAMEXP("HOUSEHOLDS","GOVT") SAMEXP("GOVT","GOVT") SAMEXP("ACTIVITY","GOVT") SAMEXP("COMMODITY","GOVT") SAMEXP("KACCOUNT","GOVT") SAMEXP("WORLD","GOVT") TOTEXP("GOVT") *CORPORATE SAMEXP("HOUSEHOLDS","CORPO") SAMEXP("CORPO","CORPO") SAMEXP("GOVT","CORPO") SAMEXP("COMMODITY","CORPO") SAMEXP("KACCOUNT","CORPO") SAMEXP("WORLD","CORPO") TOTEXP("CORPO") *ACTIVITY SAMEXP("VALUAD","ACTIVITY") SAMEXP("ACTIVITY","ACTIVITY") SAMEXP("COMMODITY","ACTIVITY") SAMEXP("INTXSUB","ACTIVITY") TOTEXP("ACTIVITY") *COMMODITY SAMEXP("ACTIVITY","COMMODITY") SAMEXP("WORLD","COMMODITY") TOTEXP("COMMODITY") * INVESTMENTS SAMEXP("ACTIVITY","KACCOUNT") SAMEXP("COMMODITY","KACCOUNT") SAMEXP("WORLD","KACCOUNT") TOTEXP("KACCOUNT") * TAX COLLECTION SAMEXP("GOVT","INTXSUB") TOTEXP("INTXSUB") *WORLD ACCOUNT SAMEXP("VALUAD","WORLD") SAMEXP("HOUSEHOLDS","WORLD") SAMEXP("GOVT","WORLD") SAMEXP("CORPO","WORLD") SAMEXP("ACTIVITY","WORLD") SAMEXP("KACCOUNT","WORLD") SAMEXP("INTXSUB","WORLD")

= = = = = =

SAMREC("HOUSEHOLDS","HOUSEHOLDS"); SAMREC("GOVT","HOUSEHOLDS"); SAMREC("COMMODITY","HOUSEHOLDS"); SAMREC("KACCOUNT","HOUSEHOLDS"); SAMREC("WORLD","HOUSEHOLDS"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"HOUSEHOLDS"));

= = = = = = =

SAMREC("HOUSEHOLDS","GOVT"); SAMREC("GOVT","GOVT"); SAMREC("ACTIVITY","GOVT"); SAMREC("COMMODITY","GOVT"); SAMREC("KACCOUNT","GOVT"); SAMREC("WORLD","GOVT"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"GOVT"));

= = = = = = =

SAMREC("HOUSEHOLDS","CORPO"); SAMREC("CORPO","CORPO"); SAMREC("GOVT","CORPO"); SAMREC("COMMODITY","CORPO"); SAMREC("KACCOUNT","CORPO"); SAMREC("WORLD","CORPO"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"CORPO"));

= = = = =

SAMREC("VALUAD","ACTIVITY"); SAMREC("ACTIVITY","ACTIVITY"); SAMREC("COMMODITY","ACTIVITY"); SAMREC("INTXSUB","ACTIVITY"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"ACTIVITY"));

= SAMREC("ACTIVITY","COMMODITY"); = SAMREC("WORLD","COMMODITY"); = SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"COMMODITY"));

= = = =

SAMREC("ACTIVITY","KACCOUNT"); SAMREC("COMMODITY","KACCOUNT"); SAMREC("WORLD","KACCOUNT"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"KACCOUNT"));

= SAMREC("GOVT","INTXSUB"); = SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"INTXSUB"));

= = = = = = =

SAMREC("VALUAD","WORLD"); SAMREC("HOUSEHOLDS","WORLD"); SAMREC("GOVT","WORLD"); SAMREC("CORPO","WORLD"); SAMREC("ACTIVITY","WORLD"); SAMREC("KACCOUNT","WORLD"); SAMREC("INTXSUB","WORLD");

Disertasi OM Final

I-38

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

SAMEXP("WORLD","WORLD") TOTEXP("WORLD")

= SAMREC("WORLD","WORLD"); = SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"WORLD"));

* ========================== BALANCE ACCOUNTS ========================= * DEFINE PARAMETERS FOR MATRIX CHECKING FINALSAM(ACC,ACCP) COLTOT(ACC) ROWTOT(ACCP) SAMDIFF(ACC) OPTION DECIMALS = 5; DISPLAY "*** BEFORE-OPTIMALITY SAM REPLICATION: FOR JAKARTA MODEL"; DISPLAY FINALSAM,COLTOT,ROWTOT,SAMDIFF; * ==================================================================== *##########################CGE Program################################ EQUATIONS *# Equation Declaration *## Production Equations PXDEF(I) PNDEF(I) XFNC(I) PROFITX(I) VAFNC(I) PROFITV1(NPLTW,F) PROFITV2(PLTW1,F) PROFITV3(PLTW2,F) *## Factor Labor UNEMPLEQ *### Export and Import PMDEF(I) PEDEF(I) ABSORPTION(I) SALES(I) CET1(I) CET2(I) ESUPPLY(I) ARMINGTON1(I) ARMINGTON2(I) COSTMIN(I) SUBSIDY1(I,GH) SUBSIDY2(I,GH) *### Capital PKDEF(I) IEQ(I) FIXEDINV PRODINV(I) Definition of capital good price Fix investment by destination Fixed investment net of inventory Investment by sector of destination = = = = SAMEXP(ACC,ACCP); TOTEXP(ACC); TOTREC(ACCP); TOTREC(ACC) - TOTEXP(ACC);

Definition of producer price Definition of intermediate input price Production functions FOC production function Value added industrial production FOC value added non water supply production FOC value added water supply PAM production FOC value added water supply non PAM production

Defining unemployment Equations Definition of domestic import DM prices Definition of domestic export DM prices Value of domestic sales Value of domestic output CET export aggregation function CET non export aggregation function Export supply for foreign and domestic Composite good (Armington) aggregation function Composite good non import FOC for cost minimization of composite good Water subsidy for poor community Water subsidy for non poor community

Disertasi OM Final

I-39

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

*## Income Equations YFEQ(F) HHINC1(H) HHINC2(H) YCORPEQ TARIFDEF INDTAXDEF CORTAXDEF HHTAXDEF GREV HSAVEQ CORSAVEQ TOTSAV CORTCREQ CORROWEQ Labor factor income Household incomes not getting water subsidy Household incomes getting water subsidy Company income Tariff revenue Indirect taxes Company income tax revenue Total household tax collected by government Government revenue Total household savings Company savings Total savings Corporate transfer to corporate Corporate transfer to ROW

*## Expenditure Equations INTEQ(I) CDEQ(I,H) RGDPEQ GDVAEQ GDEQ1(I) TOTSUBEQ1 TOTSUBEQ2 Total intermediate uses Private consumption behaviour Real GDP Gross Domestic Value Added Government consumption behavior Total subsidy for low income household using PAM Water Total transfer from central governmant for low income household using PAM Water

*## Market Clearing EQUIL(I) FMEQUIL(F) GOVSAVEQ CURRACWE *## Price Index PINDEXDEF PINDOMDEF *# Equation Assignment *## Production Sector PXDEF(I).. PNDEF(I).. XFNC(I).. PX(I)*X(I)*(1-ITX(I)) =E= PV(I)*VA(I)+PN(I)*IN(I); PN(I) =E= SUM(J, PQ(J)*IOMI(J,I)); X(I) =E= ALPHAX(I)*(BETAX(I)*IN(I) **(-RHOX(I))+(1-BETAX(I))*VA(I)**(-RHOX(I))) **(-1/RHOX(I)); IN(I)/VA(I) =E= (PV(I)/PN(I)*BETAX(I)/(1-BETAX(I))) **(1/(1+RHOX(I))); VA(I) =E= ALPHAV(I)*(SUM(F, BETAV(I,F) *FACDEM(I,F)**(-RHOV(I))))**(-1/RHOV(I)); Definition of general price index level Definition of domestic price index level; Goods market equilibrium Factor market equilibrium Government savings Current account ROW equation

PROFITX(I)..

VAFNC(I)..

Disertasi OM Final

I-40

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

PROFITV1(NPLTW,F)$FACDEMO(NPLTW,F).. FACDEM(NPLTW,F)/VA(NPLTW) =E= ((BETAV(NPLTW,F)*PV(NPLTW))/((ALPHAV(NPLTW)**RHOV(NPLTW)) *WA(F)*WFDIST(NPLTW,F)))**(1/(1+RHOV(NPLTW))); PROFITV2(PLTW1,F)$FACDEMO(PLTW1,F).. FACDEM(PLTW1,F)/VA(PLTW1) =E= ((BETAV(PLTW1,F)*PV(PLTW1))/((ALPHAV(PLTW1)**RHOV(PLTW1)) *WA(F)*WFDIST(PLTW1,F)))**(1/(1+RHOV(PLTW1))); PROFITV3(PLTW2,F)$FACDEMO(PLTW2,F).. FACDEM(PLTW2,F)/VA(PLTW2) =E= ((BETAV(PLTW2,F)*PV(PLTW2))/((ALPHAV(PLTW2)**RHOV(PLTW2)) *WA(F)*WFDIST(PLTW2,F)))**(1/(1+RHOV(PLTW2))); *### Factor Labor UNEMPLEQ.. LABFOR =E= UNEMPL+SUM(FLAB, FD(FLAB));

*### Export and Import Equation PMDEF(IM).. PEDEF(IE).. PM(IM) PE(IE) =E= PWM(IM)*EXR*(1+TM(IM)); =E= PWE(IE)*EXR;

ABSORPTION(I).. PQ(I)*Q(I) =E= PD(I)*XD(I)+(PM(I)*XIM(I))$IM(I); SALES(I).. CET1(IE).. PX(I)*X(I) =E= PD(I)*XD(I)+(PE(I)*XEX(I))$IE(I); X(IE) =E= ALPHAEX(IE)*(BETAEX(IE)*XEX(IE) **RHOEX(IE)+(1-BETAEX(IE))*XD(IE)**RHOEX(IE))**(1/RHOEX(IE)); X(IEN) =E= XD(IEN); XEX(IE)/XD(IE) =E= (PE(IE)/PD(IE)*(1-BETAEX(IE)) /BETAEX(IE))**(1/(RHOEX(IE)-1));

CET2(IEN).. ESUPPLY(IE)..

ARMINGTON1(IM).. Q(IM) =E= ALPHAIM(IM)*(BETAIM(IM)*XIM(IM)**(-RHOIM(IM)) +(1-BETAIM(IM))*XD(IM)**(-RHOIM(IM)))**(-1/RHOIM(IM)); ARMINGTON2(IMN).. Q(IMN) =E= XD(IMN); COSTMIN(IM).. (XIM(IM)/XD(IM)) =E= (PD(IM)/PM(IM) *BETAIM(IM)/(1-BETAIM(IM)))**(1/(1+RHOIM(IM)));

*### Capital PKDEF(I).. IEQ(I).. FIXEDINV.. PRODINV(I).. TOTSUBEQ1.. PK(I) =E= SUM(J, ICAP(J,I)*PQ(J)); ID(I) =E= SUM(J, ICAP(I,J)*DK(J)); FXDINV =E= INVEST - SUM(I, INV(I)*(X(I)+XIM(I))*PQ(I)); PK(I)*DK(I) =E= ZZ(I)*FXDINV; TOTSUBS =E= (ITX("WATPAM")-itxo("WATPAM")) *PX("WATPAM")*X("WATPAM"); TOTSUBS =E= transf;

TOTSUBEQ2..

Disertasi OM Final

I-41

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

*## Income Equations SUBSIDY1("WATPAM",GH)$(Z("WATPAM") EQ 0).. SUB("WATPAM",GH) =E= TOTSUBS*CDO("WATPAM",GH)/(SUM(GJ, CDO("WATPAM",GJ))); SUBSIDY2("WATPAM",GH)$Z("WATPAM").. *## Income Equations YFEQ(F).. YF(F) =E= SUM(I, WA(F)*WFDIST(I,F)*FACDEM(I,F))+FIROW(F); SUB("WATPAM",GH)=E=0;

HHINC1(NGH).. YH(NGH) =E= SUM(FLAB, SEDW(NGH,FLAB)*YF(FLAB))+SHHCPAM(NGH) *YF("CAPAM")+SHHCNPAM(NGH)*YF("CAPNAM") +SUM(HH, THS(NGH,HH)*YH(HH)*(1-TH(HH))*(1-MPS(HH))*(1-TROWS(HH))) +CTH(NGH)*YCORP*(1-CTAX)+TGOV(NGH)*GOVBUD+ROWHH(NGH); HHINC2(GH).. YH(GH) =E= SUM(FLAB, SEDW(GH,FLAB)*YF(FLAB)) +SHHCPAM(GH)*YF("CAPAM")+SHHCNPAM(GH)*YF("CAPNAM") +SUM(HH, THS(GH,HH)*YH(HH)*(1-TH(HH))*(1-MPS(HH))*(1-TROWS(HH))) +CTH(GH)*YCORP*(1-CTAX)+TGOV(GH)*GOVBUD+ROWHH(GH) +SUB("WATPAM",GH); YCORP =E= SCORCPAM*YF("CAPAM")+SCORCNAM*YF("CAPNAM")+CORTCOR +ROWCOR+CORBOR-CORAMOR-CORINTR; TARIFF =E= SUM(I, TM(I)*XIM(I)*PWM(I))*EXR; INDTAX =E= SUM(I, ITX(I)*PX(I)*X(I)); CORTAX =E= YCORP*CTAX; HHTAX =E= SUM(H, TH(H)*YH(H)); GR =E= TARIFF+INDTAX+CORTAX+HHTAX+ROWTAX+SGOVCPAM*YF("CAPAM") +SGOVCNAM*YF("CAPNAM")+ROWGOV+GOVGOV+GOVBOR; HSAV =E= SUM(H, MPS(H)*YH(H)*(1-TH(H))); CORSAV =E= CSAV*YCORP*(1-CTAX); CORTCOR =E= CCOR*YCORP*(1-CTAX); CORROW =E= CTR*YCORP*(1-CTAX); SAVING =E= HSAV+CORSAV+GOVSAV-SAVROW+FORINV;

YCORPEQ..

TARIFDEF.. INDTAXDEF.. CORTAXDEF.. HHTAXDEF.. GREV..

HSAVEQ.. CORSAVEQ.. CORTCREQ.. CORROWEQ.. TOTSAV..

*## Expenditure equations INTEQ(I).. CDEQ(I,H).. GDEQ1(I).. TOTINT(I) =E= SUM(J, IOMI(I,J)*IN(J)); PQ(I)*CD(I,H) =E= CHS(I,H)*YH(H)*(1-TH(H))*(1-MPS(H))*(1-TROWS(H)); PQ(I)*CGOV(I) =E= CGS(I)*GOVBUD;

Disertasi OM Final

I-42

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

RGDPEQ..

RGDP =E= SUM(I, PQ(I)*(SUM(H, CD(I,H))+INV(I)*(X(I)+XIM(I))+ID(I) +CGOV(I)))+SUM(IE, PE(IE)*XEX(IE)) -SUM(IM, (PM(IM)-TM(IM)*PWM(IM)*EXR)*XIM(IM)); GDVA =E= SUM(I, PV(I)*VA(I))+INDTAX+TARIFF;

GDVAEQ..

*## Market Clearing EQUIL(I).. Q(I) =E= TOTINT(I)+SUM(H,CD(I,H))+CGOV(I)+ID(I)+ INV(I)*X(I)+INV(I)*XIM(I);

FMEQUIL(F).. SUM(I, FACDEM(I,F)) =E= FD(F); GOVSAVEQ.. GR =E= GOVBUD+GOVSAV+GOVROW+GOVGOV+GOVINTR+GOVAMOR;

CURRACWE..

CURRACW =E= SUM(F, FIROW(F))+SUM(H, ROWHH(H))+ROWGOV+ROWCOR +SUM(IE, PE(IE)*XEX(IE))+FORINV+ROWTAX+SUM(I, TM(I)*PWM(I)*XIM(I)) +ROWTRW+GOVBOR+CORBOR-SUM(FLAB, SFROW(FLAB)*YF(FLAB)) -SROWCPAM*YF("CAPAM")-SROWCNAM*YF("CAPNAM") -SUM(I,PWM(I)*XIM(I)*EXR)-SUM(H,HHTRW(H))-GOVROW-CORROW -SAVROW-GOVINTR-CORINTR-GOVAMOR-CORAMOR-ROWTRW;

*## Price Index PINDEXDEF.. PINDOMDEF.. PINDEX =E= SUM(I, WTQ(I)*PQ(I)); PINDOM =E= SUM(I, WTD(I)*PQ(I));

* Some restrictions *# Production function ALPHAX.FX(I) = ALPHAX.L(I); IOMI.FX(I,J) = IOMI.L(I,J); *# Prices and commodities PWE.FX(I) PWM.FX(I) PM.FX(IMN) PE.FX(IEN) XEX.FX(IEN) XIM.FX(IMN) PD.FX(I) *# Tax rate TM.FX(I) = TM.L(I); ITX.FX(I) = ITX.L(I); *# Household expenditure CHS.FX(I,H) = CHS.L(I,H); = = = = = = = PWE.L(I); PWM.L(I); PM.L(IMN); PE.L(IEN); 0; 0; PD.L(I);

Disertasi OM Final

I-43

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

*# Government expenditure CGS.FX(I) GOVBUD.FX GOVGOV.FX TRANSF.FX *# Inventory INV.FX(I) = INV.L(I); = = = = CGS.L(I); GOVBUD.L; GOVGOV.L; TRANSF.L;

* Model Closure *# Foreign exchange market closure EXR.FX CORINTR.FX CORAMOR.FX CORBOR.FX GOVROW.FX ROWGOV.FX GOVINTR.FX GOVAMOR.FX GOVBOR.FX ROWHH.FX(H) FIROW.FX(F) SAVROW.FX FORINV.FX ROWTRW.FX HHTRW.FX(H) ROWTAX.FX CURRACW.FX = = = = = = = = = = = = = = = = = EXR.L; CORINTR.L; CORAMOR.L; CORBOR.L; GOVROW.L; ROWGOV.L; GOVINTR.L; GOVAMOR.L; GOVBOR.L; ROWHH.L(H); FIROW.L(F); SAVROW.L; FORINV.L; ROWTRW.L; HHTRW.L(H); ROWTAX.L; CURRACW.L;

*# Factor market closure FACDEM.FX(I,"CAPAM") = FACDEM.L(I,"CAPAM"); WFDIST.FX(NPLTW,"CAPAM") = 0; WFDIST.FX("WATNPAM","CAPAM") = 0; FACDEM.FX(I,"CAPNAM") = FACDEM.L(I,"CAPNAM"); WFDIST.FX("WATPAM","CAPNAM") = 0; WFDIST.FX(I,"LABOR") = WFDIST.L(I,"LABOR"); FACDEM.FX("PLANT","LABOR") = FACDEM.L("PLANT","LABOR"); FACDEM.FX("TEXLEATH","LABOR") = FACDEM.L("TEXLEATH","LABOR"); UNEMPL.FX = UNEMPL.L; LABFOR.FX = LABFOR.L; *# Numeraire price index PINDEX.FX = PINDEX.L; * Solve and display *##############################Benchmarking################################# OPTION ITERLIM=0; OPTION LIMROW=0, LIMCOL=0; OPTION SOLPRINT=OFF, sysout = ON ; MODEL ECGE0 /ALL/; SOLVE ECGE0 USING MCP;

Disertasi OM Final

I-44

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

*#########################SAM Construction############################## SAMREC(ACC,ACCP)=0; SAMEXP(ACC,ACCP)=0; *== Post Optimality SAM *= RECEIVES * VALUEADDED SAMREC("VALUAD","ACTIVITY") SAMREC("VALUAD","WORLD") TOTREC("VALUAD") * HOUSEHOLDS SAMREC("HOUSEHOLDS","VALUAD") = SUM(H,SUM(FLAB,SEDW(H,FLAB)*YF.L(FLAB))) + SUM(H, SHHCPAM(H)*YF.L("CAPAM") + SHHCNPAM(H)*YF.L("CAPNAM")); SAMREC("HOUSEHOLDS","HOUSEHOLDS") = SUM((HH,H),(THS(HH,H)*(YH.L(H)*(1-TH(H)) *(1-MPS(H)))*SUMHHTRO(H))); SAMREC("HOUSEHOLDS","GOVT") = SUM(H, TGOV(H)*GOVBUD.L); SAMREC("HOUSEHOLDS","CORPO") = SUM(H,CTH(H)*YCORP.L*(1-CTAX)); SAMREC("HOUSEHOLDS","WORLD") = SUM(H, ROWHH.L(H)); TOTREC("HOUSEHOLDS") = SUM(ACC,SAMREC("HOUSEHOLDS",ACC)); * GOVT SAMREC("GOVT","VALUAD") SAMREC("GOVT","HOUSEHOLDS") SAMREC("GOVT","GOVT") SAMREC("GOVT","CORPO") SAMREC("GOVT","INTXSUB") SAMREC("GOVT","WORLD") TOTREC("GOVT") = = = = = SGOVCPAM*YF.L("CAPAM")+SGOVCNAM*YF.L("CAPNAM"); SUM(H, YH.L(H)*TH(H)); GOVGOV.L; YCORP.L*CTAX; TINDTAX.L +SUM(I, PWM.L(I)*EXR.L*TM.L(I)*XIM.L(I)); = ROWGOV.L+GOVBOR.L; = SUM(ACC,SAMREC("GOVT",ACC)); = SUM(F,SUM(I,WA.L(F)*WFDIST.L(I,F)* FACDEM.L(I,F))); = SUM(F, FIROW.L(F)); = SUM(ACC,SAMREC("VALUAD",ACC));

* CORPORATE SAMREC("CORPO","VALUAD") SAMREC("CORPO","CORPO") SAMREC("CORPO","WORLD") TOTREC("CORPO") = = = = SCORCPAM*YF.L("CAPAM")+SCORCNAM*YF.L("CAPNAM"); CCOR*YCORP.L*(1-CTAX); ROWCOR.L+CORBOR.L; SUM(ACC,SAMREC("CORPO",ACC));

* ACTIVITY SAMREC("ACTIVITY","COMMODITY") = SUM(I, PD.L(I)*XD.L(I)); SAMREC("ACTIVITY","WORLD") = SUM(I, PE.L(I)*XEX.L(I)); TOTREC("ACTIVITY") = SUM(ACC,SAMREC("ACTIVITY",ACC)); *COMMODITY SAMREC("COMMODITY","HOUSEHOLDS") = SUM((I,H), PQ.L(I)*CD.L(I,H)); SAMREC("COMMODITY","GOVT") = SUM(I, PQ.L(I)*CGOV.L(I)); SAMREC("COMMODITY","ACTIVITY") = SUM(I, PQ.L(I)*TOTINT.L(I));

Disertasi OM Final

I-45

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

SAMREC("COMMODITY","KACCOUNT") TOTREC("COMMODITY") *SAVINGS SAMREC("KACCOUNT","HOUSEHOLDS") SAMREC("KACCOUNT","GOVT") SAMREC("KACCOUNT","CORPO") SAMREC("KACCOUNT","WORLD") TOTREC("KACCOUNT")

= SUM(I, PQ.L(I)*(ID.L(I)+INV.L(I)*X.L(I) +INV.L(I)*XIM.L(I))); = SUM(ACC, SAMREC("COMMODITY",ACC));

= = = = =

HSAV.L; GOVSAV.L; CORSAV.L; FORINV.L; SUM(ACC,SAMREC("KACCOUNT",ACC));

* NET INDIRECT TAX (INDIRECT TAX MINUS SUBSIDY) SAMREC("INTXSUB","ACTIVITY") SAMREC("INTXSUB","WORLD") TOTREC("INTXSUB") * WORLD ACCOUNT SAMREC("WORLD","HOUSEHOLDS") SAMREC("WORLD","GOVT") SAMREC("WORLD","CORPO") SAMREC("WORLD","COMMODITY") SAMREC("WORLD","VALUAD") SAMREC("WORLD","KACCOUNT") SAMREC("WORLD","WORLD") TOTREC("WORLD") *= EXPENDITURES * VALUEADDED SAMEXP("HOUSEHOLDS","VALUAD") SAMEXP("GOVT","VALUAD") SAMEXP("CORPO","VALUAD") SAMEXP("WORLD","VALUAD") TOTEXP("VALUAD") *HOUSEHOLDS SAMEXP("HOUSEHOLDS","HOUSEHOLDS") SAMEXP("GOVT","HOUSEHOLDS") SAMEXP("COMMODITY","HOUSEHOLDS") SAMEXP("KACCOUNT","HOUSEHOLDS") SAMEXP("WORLD","HOUSEHOLDS") TOTEXP("HOUSEHOLDS") *GOVERNMENT SAMEXP("HOUSEHOLDS","GOVT") SAMEXP("GOVT","GOVT") SAMEXP("COMMODITY","GOVT") SAMEXP("KACCOUNT","GOVT") SAMEXP("WORLD","GOVT") TOTEXP("GOVT") = = = = = = SAMREC("HOUSEHOLDS","GOVT"); SAMREC("GOVT","GOVT"); SAMREC("COMMODITY","GOVT"); SAMREC("KACCOUNT","GOVT"); SAMREC("WORLD","GOVT"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"GOVT")); = = = = = = SAMREC("HOUSEHOLDS","HOUSEHOLDS"); SAMREC("GOVT","HOUSEHOLDS"); SAMREC("COMMODITY","HOUSEHOLDS"); SAMREC("KACCOUNT","HOUSEHOLDS"); SAMREC("WORLD","HOUSEHOLDS"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"HOUSEHOLDS")); = = = = = SAMREC("HOUSEHOLDS","VALUAD"); SAMREC("GOVT","VALUAD"); SAMREC("CORPO","VALUAD"); SAMREC("WORLD","VALUAD"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"VALUAD")); = = = = = SUM(H,HHTRW.L(H)); GOVROW.L+GOVINTR.L+GOVAMOR.L; CORROW.L+CORINTR.L+CORAMOR.L; SUM(I, PWM.L(I)*EXR.L*XIM.L(I)); SUM(FLAB, SFROW(FLAB)*YF.L(FLAB)) +SROWCPAM*YF.L("CAPAM")+SROWCNAM*YF.L("CAPNAM"); = SAVROW.L+CURRACW.L; = ROWTRW.L; = SUM(ACC,SAMREC("WORLD",ACC)); = SUM(I, ITX.L(I)*PX.L(I)*X.L(I)); = ROWTAX.L+SUM(I,TM.L(I)*PWM.L(I)*XIM.L(I)); = SUM(ACC,SAMREC("INTXSUB",ACC));

Disertasi OM Final

I-46

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

*CORPORATE SAMEXP("HOUSEHOLDS","CORPO") SAMEXP("CORPO","CORPO") SAMEXP("GOVT","CORPO") SAMEXP("KACCOUNT","CORPO") SAMEXP("WORLD","CORPO") TOTEXP("CORPO") *ACTIVITY SAMEXP("VALUAD","ACTIVITY") SAMEXP("COMMODITY","ACTIVITY") SAMEXP("INTXSUB","ACTIVITY") TOTEXP("ACTIVITY") *COMMODITY SAMEXP("ACTIVITY","COMMODITY") SAMEXP("WORLD","COMMODITY") TOTEXP("COMMODITY") * INVESTMENTS SAMEXP("COMMODITY","KACCOUNT") SAMEXP("WORLD","KACCOUNT") TOTEXP("KACCOUNT") * TAX COLLECTION SAMEXP("GOVT","INTXSUB") TOTEXP("INTXSUB") *WORLD ACCOUNT SAMEXP("VALUAD","WORLD") SAMEXP("HOUSEHOLDS","WORLD") SAMEXP("GOVT","WORLD") SAMEXP("CORPO","WORLD") SAMEXP("ACTIVITY","WORLD") SAMEXP("KACCOUNT","WORLD") SAMEXP("INTXSUB","WORLD") SAMEXP("WORLD","WORLD") TOTEXP("WORLD") = = = = = = = = = SAMREC("VALUAD","WORLD"); SAMREC("HOUSEHOLDS","WORLD"); SAMREC("GOVT","WORLD"); SAMREC("CORPO","WORLD"); SAMREC("ACTIVITY","WORLD"); SAMREC("KACCOUNT","WORLD"); SAMREC("INTXSUB","WORLD"); SAMREC("WORLD","WORLD"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"WORLD")); = SAMREC("GOVT","INTXSUB"); = SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"INTXSUB")); = SAMREC("COMMODITY","KACCOUNT"); = SAMREC("WORLD","KACCOUNT"); = SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"KACCOUNT")); = SAMREC("ACTIVITY","COMMODITY"); = SAMREC("WORLD","COMMODITY"); = SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"COMMODITY")); = = = = SAMREC("VALUAD","ACTIVITY"); SAMREC("COMMODITY","ACTIVITY"); SAMREC("INTXSUB","ACTIVITY"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"ACTIVITY")); = = = = = = SAMREC("HOUSEHOLDS","CORPO"); SAMREC("CORPO","CORPO"); SAMREC("GOVT","CORPO"); SAMREC("KACCOUNT","CORPO"); SAMREC("WORLD","CORPO"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"CORPO"));

* ========================== BALANCE ACCOUNTS ========================= * DEFINE PARAMETERS FOR MATRIX CHECKING FINALSAM(ACC,ACCP) = SAMEXP(ACC,ACCP); COLTOT(ACC) = TOTEXP(ACC); ROWTOT(ACCP) = TOTREC(ACCP); SAMDIFF(ACC) = TOTREC(ACC) - TOTEXP(ACC); OPTION DECIMALS = 5; DISPLAY "*** POST-OPTIMALITY SAM REPLICATION: FOR JAKARTA MODEL";

Disertasi OM Final

I-47

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

DISPLAY FINALSAM,COLTOT,ROWTOT,SAMDIFF; * ==================================================================== *Reporting SET SCN /BASE, SCENARIO1 / PRC / PD, PX, PQ, PE, PM /; GDPDKI(SCN) GDP DKI Jakarta HINC1(SCN,GH) Household income getting water subsidy HINC2(SCN,NGH) Household income not getting water subsidy FINC(SCN,F) Factor income INVES(SCN) Total investment GRE(SCN) Government Revenue INTAX(SCN) Indirect Tax from commodity SAVIN(SCN) Total saving HHSAV(SCN,H) Household Saving GSAV(SCN) Government Saving PRICE(SCN,PRC,I) Commoditi prices CONSU(SCN,H,PLTW) Household consumption SUBSID(SCN,GH,PLTW1) Water subsidy; = = = = = = RGDP.L; YH.L(GH); YH.L(NGH); YF.L(F); INVEST.L; TARIFF.L+INDTAX.L+ROWTAX.L+CORTAX.L+HHTAX.L+GOVFAM.L +GOVFNAM.L+ROWGOV.L+GOVGOV.L+GOVBOR.L; SUM(I, ITX.L(I)*PX.L(I)*X.L(I)); SAVING.L; MPS(H)*YH.L(H)*(1-TH(H)); GOVSAV.L; PD.L(I); PX.L(I); PQ.L(I); PM.L(I); PE.L(I); CD.L(PLTW,H); SUB.L(PLTW1,GH);

PARAMETER

GDPDKI("BASE") HINC1("BASE",GH) HINC2("BASE",NGH) FINC("BASE",F) INVES("BASE") GRE("BASE")

INTAX("BASE") = SAVIN("BASE") = HHSAV("BASE",H) = GSAV("BASE") = PRICE("BASE","PD",I) = PRICE("BASE","PX",I) = PRICE("BASE","PQ",I) = PRICE("BASE","PM",I) = PRICE("BASE","PE",I) = CONSU("BASE",H,PLTW) = SUBSID("BASE",GH,PLTW1)=

*##############################Counterfactual################################# * Simulasi I kenaikan investasi air minum perpipaan FACDEM.FX("WATPAM","CAPAM") = 1.1*FACDEM.L("WATPAM","CAPAM"); * Simulasi II Kenaikan investasi air minum nonperpipaan FACDEM.FX("WATNPAM","CAPNAM") = 1.1*FACDEM.L("WATNPAM","CAPNAM"); * Simulasi III subsidi dari pajak air minum perpipaan ITX.FX("WATPAM") = ITX.L("WATPAM")*1.1; * Simulasi IV subsidi dari pemerintah pusat

Disertasi OM Final

I-48

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

TRANSF.FX = 149; * Simulasi V investasi air minum perpipaan disertai subsidi dari pajak air minum * perpipaan utk RT miskin FACDEM.FX("WATPAM","CAPAM") = 1.1*FACDEM.L("WATPAM","CAPAM"); ITX.FX(“WATPAM”) = ITX.L(“WATPAM”)*1.1; * Simulasi VI investasi air minum perpipaan disertai subsidi dari pemerintah * pusat utk RT miskin FACDEM.FX("WATPAM","CAPAM") = 1.1*FACDEM.L("WATPAM","CAPAM"); TRANSF.FX = 149; OPTION ITERLIM=1000; MODEL ECGE1 /ALL/; SOLVE ECGE1 USING MCP; GDPDKI("SCENARIO1") HINC1("SCENARIO1",GH) HINC2("SCENARIO1",NGH) FINC("SCENARIO1",F) INVES("SCENARIO1") GRE("SCENARIO1") RGDP.L; YH.L(GH); YH.L(NGH); YF.L(F); INVEST.L; TARIFF.L+INDTAX.L+ROWTAX.L+CORTAX.L+HHTAX.L+GOVFAM.L +GOVFNAM.L+ROWGOV.L+GOVGOV.L+GOVBOR.L; INTAX("SCENARIO1") = SUM(I, ITX.L(I)*PX.L(I)*X.L(I)); SAVIN("SCENARIO1") = SAVING.L; HHSAV("SCENARIO1",H) = MPS(H)*YH.L(H)*(1-TH(H)); GSAV("SCENARIO1") = GOVSAV.L; PRICE("SCENARIO1","PX",I) = PX.L(I); PRICE("SCENARIO1","PQ",I) = PQ.L(I); PRICE("SCENARIO1","PD",I) = PD.L(I); PRICE("SCENARIO1","PM",I) = PM.L(I); PRICE("SCENARIO1","PE",I) = PE.L(I); CONSU("SCENARIO1",H,PLTW) = CD.L(PLTW,H); SUBSID("SCENARIO1",GH,PLTW1) = SUB.L(PLTW1,GH); = = = = = =

PARAMETER

DIFFGDP, DIFFHINC1(GH), DIFFHINC2(NGH), DIFFFINC(F), DIFFINV, DIFFGR, DIFFITAX, DIFFTSAV, DIFFHSAV(H), DIFFGSAV, DIFFPRICE(PRC,I), DIFFHCON(H,I); = = = = = = = = = = = = GDPDKI("SCENARIO1")-GDPDKI("BASE"); HINC1("SCENARIO1",GH)-HINC1("BASE",gH); HINC2("SCENARIO1",NGH)-HINC2("BASE",NGH); FINC("SCENARIO1",F)-FINC("BASE",F); INVES("SCENARIO1")-INVES("BASE"); GRE("SCENARIO1")-GRE("BASE"); INTAX("SCENARIO1")-INTAX("BASE"); SAVIN("SCENARIO1")-SAVIN("BASE"); GSAV("SCENARIO1")-GSAV("BASE"); HHSAV("SCENARIO1",H)-HHSAV("BASE",H); PRICE("SCENARIO1",PRC,I)-PRICE("BASE",PRC,I); CONSU("SCENARIO1",H,PLTW)-CONSU("BASE",H,PLTW);

DIFFGDP DIFFHINC1(GH) DIFFHINC2(NGH) DIFFFINC(F) DIFFINV DIFFGR DIFFITAX DIFFTSAV DIFFGSAV DIFFHSAV(H) DIFFPRICE(PRC,I) DIFFHCON(H, PLTW) PARAMETER

PDIFGDP, PDIFHINC1(GH), PDIFHINC2(NGH), PDIFOUT(I), PDIFFINC(F),

Disertasi OM Final

I-49

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

PDIFINV, PDIFGR, PDIFITAX, PDIFTSAV, PDIFHSAV(H), PDIFGSAV, PDIFPRICE(PRC,I), PDIFHCON(H,I); PDIFGDP PDIFHINC1(GH) PDIFHINC2(NGH) = (GDPDKI("SCENARIO1")-GDPDKI("BASE"))/GDPDKI("BASE")*100; = (HINC1("SCENARIO1",GH)-HINC1("BASE",GH))/HINC1("BASE",GH)*100; = (HINC2("SCENARIO1",NGH)-HINC2("BASE",NGH)) /HINC2("BASE",NGH)*100; PDIFFINC(F) = (FINC("SCENARIO1",F)-FINC("BASE",F))/FINC("BASE",F)*100; PDIFINV = (INVES("SCENARIO1")-INVES("BASE"))/INVES("BASE")*100; PDIFGR = (GRE("SCENARIO1")-GRE("BASE"))/GRE("BASE")*100; PDIFITAX = (INTAX("SCENARIO1")-INTAX("BASE"))/INTAX("BASE")*100; PDIFTSAV = (SAVIN("SCENARIO1")-SAVIN("BASE"))/SAVIN("BASE")*100; PDIFGSAV = (GSAV("SCENARIO1")-GSAV("BASE"))/GSAV("BASE")*100; PDIFHSAV(H) = (HHSAV("SCENARIO1",H)-HHSAV("BASE",H))/HHSAV("BASE",H)*100; PDIFPRICE(PRC,I) = (PRICE("SCENARIO1",PRC,I)-PRICE("BASE",PRC,I) /PRICE("BASE",PRC,I))*100; PDIFHCON(H,PLTW)$(CONSU("BASE",H,PLTW)) = (CONSU("SCENARIO1",H,PLTW) -CONSU("BASE",H,PLTW))/CONSU("BASE",H,PLTW)*100; *#########################SAM Construction############################## SAMREC(ACC,ACCP)=0; SAMEXP(ACC,ACCP)=0; *== Post Optimality SAM-Counterfactual *= RECEIVES * VALUEADDED SAMREC("VALUAD","ACTIVITY") = SUM(F,SUM(I,WA.L(F)*WFDIST.L(I,F)* FACDEM.L(I,F))); SAMREC("VALUAD","WORLD") = SUM(F, FIROW.L(F)); TOTREC("VALUAD") = SUM(ACC,SAMREC("VALUAD",ACC)); * HOUSEHOLDS SAMREC("HOUSEHOLDS","VALUAD") = SUM(H,SUM(FLAB,SEDW(H,FLAB)*YF.L(FLAB))) + SUM(H, SHHCPAM(H)*YF.L("CAPAM") + SHHCNPAM(H)*YF.L("CAPNAM")); SAMREC("HOUSEHOLDS","HOUSEHOLDS") = SUM((HH,H),(THS(HH,H)*(YH.L(H)*(1-TH(H)) *(1-MPS(H)))*SUMHHTRO(H))); SAMREC("HOUSEHOLDS","GOVT") = SUM(H, TGOV(H)*GOVBUD.L); SAMREC("HOUSEHOLDS","CORPO") = SUM(H,CTH(H)*YCORP.L*(1-CTAX)); SAMREC("HOUSEHOLDS","WORLD") = SUM(H, ROWHH.L(H)); TOTREC("HOUSEHOLDS") = SUM(ACC,SAMREC("HOUSEHOLDS",ACC)); * GOVT SAMREC("GOVT","VALUAD") SAMREC("GOVT","HOUSEHOLDS") SAMREC("GOVT","GOVT") SAMREC("GOVT","CORPO") SAMREC("GOVT","INTXSUB") SAMREC("GOVT","WORLD") TOTREC("GOVT") = = = = = SGOVCPAM*YF.L("CAPAM")+SGOVCNAM*YF.L("CAPNAM"); SUM(H, YH.L(H)*TH(H)); GOVGOV.L; YCORP.L*CTAX; TINDTAX.L +SUM(I, PWM.L(I)*EXR.L*TM.L(I)*XIM.L(I)); = ROWGOV.L+GOVBOR.L; = SUM(ACC,SAMREC("GOVT",ACC));

Disertasi OM Final

I-50

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

* CORPORATE SAMREC("CORPO","VALUAD") SAMREC("CORPO","CORPO") SAMREC("CORPO","WORLD") TOTREC("CORPO") * ACTIVITY SAMREC("ACTIVITY","COMMODITY") = SUM(I, PD.L(I)*XD.L(I)); SAMREC("ACTIVITY","WORLD") = SUM(I, PE.L(I)*XEX.L(I)); TOTREC("ACTIVITY") = SUM(ACC,SAMREC("ACTIVITY",ACC)); *COMMODITY SAMREC("COMMODITY","HOUSEHOLDS") SAMREC("COMMODITY","GOVT") SAMREC("COMMODITY","ACTIVITY") SAMREC("COMMODITY","KACCOUNT") TOTREC("COMMODITY") *SAVINGS SAMREC("KACCOUNT","HOUSEHOLDS") SAMREC("KACCOUNT","GOVT") SAMREC("KACCOUNT","CORPO") SAMREC("KACCOUNT","WORLD") TOTREC("KACCOUNT") = = = = = HSAV.L; GOVSAV.L; CORSAV.L; FORINV.L; SUM(ACC,SAMREC("KACCOUNT",ACC)); = = = = SUM((I,H), PQ.L(I)*CD.L(I,H)); SUM(I, PQ.L(I)*CGOV.L(I)); SUM(I, PQ.L(I)*TOTINT.L(I)); SUM(I, PQ.L(I)*(ID.L(I)+INV.L(I)*X.L(I) +INV.L(I)*XIM.L(I))); = SUM(ACC, SAMREC("COMMODITY",ACC)); = = = = SCORCPAM*YF.L("CAPAM")+SCORCNAM*YF.L("CAPNAM"); CCOR*YCORP.L*(1-CTAX); ROWCOR.L+CORBOR.L; SUM(ACC,SAMREC("CORPO",ACC));

* NET INDIRECT TAX (INDIRECT TAX MINUS SUBSIDY) SAMREC("INTXSUB","ACTIVITY") SAMREC("INTXSUB","WORLD") TOTREC("INTXSUB") = SUM(I, ITX.L(I)*PX.L(I)*X.L(I)); = ROWTAX.L+SUM(I,TM.L(I)*PWM.L(I)*XIM.L(I)); = SUM(ACC,SAMREC("INTXSUB",ACC));

* WORLD ACCOUNT SAMREC("WORLD","HOUSEHOLDS") SAMREC("WORLD","GOVT") SAMREC("WORLD","CORPO") SAMREC("WORLD","COMMODITY") SAMREC("WORLD","VALUAD") SAMREC("WORLD","KACCOUNT") SAMREC("WORLD","WORLD") TOTREC("WORLD") *= EXPENDITURES * VALUEADDED SAMEXP("HOUSEHOLDS","VALUAD") SAMEXP("GOVT","VALUAD") = SAMREC("HOUSEHOLDS","VALUAD"); = SAMREC("GOVT","VALUAD"); = = = = = SUM(H,HHTRW.L(H)); GOVROW.L+GOVINTR.L+GOVAMOR.L; CORROW.L+CORINTR.L+CORAMOR.L; SUM(I, PWM.L(I)*EXR.L*XIM.L(I)); SUM(FLAB, SFROW(FLAB)*YF.L(FLAB)) +SROWCPAM*YF.L("CAPAM")+SROWCNAM*YF.L("CAPNAM"); = SAVROW.L+CURRACW.L; = ROWTRW.L; = SUM(ACC,SAMREC("WORLD",ACC));

Disertasi OM Final

I-51

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

SAMEXP("CORPO","VALUAD") SAMEXP("WORLD","VALUAD") TOTEXP("VALUAD") *HOUSEHOLDS

= SAMREC("CORPO","VALUAD"); = SAMREC("WORLD","VALUAD"); = SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"VALUAD"));

SAMEXP("HOUSEHOLDS","HOUSEHOLDS") SAMEXP("GOVT","HOUSEHOLDS") SAMEXP("COMMODITY","HOUSEHOLDS") SAMEXP("KACCOUNT","HOUSEHOLDS") SAMEXP("WORLD","HOUSEHOLDS") TOTEXP("HOUSEHOLDS") *GOVERNMENT SAMEXP("HOUSEHOLDS","GOVT") SAMEXP("GOVT","GOVT") SAMEXP("COMMODITY","GOVT") SAMEXP("KACCOUNT","GOVT") SAMEXP("WORLD","GOVT") TOTEXP("GOVT") *CORPORATE SAMEXP("HOUSEHOLDS","CORPO") SAMEXP("CORPO","CORPO") SAMEXP("GOVT","CORPO") SAMEXP("KACCOUNT","CORPO") SAMEXP("WORLD","CORPO") TOTEXP("CORPO") *ACTIVITY SAMEXP("VALUAD","ACTIVITY") SAMEXP("COMMODITY","ACTIVITY") SAMEXP("INTXSUB","ACTIVITY") TOTEXP("ACTIVITY") = = = = = = = = = = = = = = = =

= = = = = =

SAMREC("HOUSEHOLDS","HOUSEHOLDS"); SAMREC("GOVT","HOUSEHOLDS"); SAMREC("COMMODITY","HOUSEHOLDS"); SAMREC("KACCOUNT","HOUSEHOLDS"); SAMREC("WORLD","HOUSEHOLDS"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"HOUSEHOLDS"));

SAMREC("HOUSEHOLDS","GOVT"); SAMREC("GOVT","GOVT"); SAMREC("COMMODITY","GOVT"); SAMREC("KACCOUNT","GOVT"); SAMREC("WORLD","GOVT"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"GOVT"));

SAMREC("HOUSEHOLDS","CORPO"); SAMREC("CORPO","CORPO"); SAMREC("GOVT","CORPO"); SAMREC("KACCOUNT","CORPO"); SAMREC("WORLD","CORPO"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"CORPO"));

SAMREC("VALUAD","ACTIVITY"); SAMREC("COMMODITY","ACTIVITY"); SAMREC("INTXSUB","ACTIVITY"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"ACTIVITY"));

*COMMODITY SAMEXP("ACTIVITY","COMMODITY") SAMEXP("WORLD","COMMODITY") TOTEXP("COMMODITY") * INVESTMENTS SAMEXP("COMMODITY","KACCOUNT") SAMEXP("WORLD","KACCOUNT") TOTEXP("KACCOUNT") * TAX COLLECTION SAMEXP("GOVT","INTXSUB") TOTEXP("INTXSUB") *WORLD ACCOUNT = SAMREC("GOVT","INTXSUB"); = SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"INTXSUB")); = SAMREC("COMMODITY","KACCOUNT"); = SAMREC("WORLD","KACCOUNT"); = SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"KACCOUNT")); = SAMREC("ACTIVITY","COMMODITY"); = SAMREC("WORLD","COMMODITY"); = SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"COMMODITY"));

Disertasi OM Final

I-52

Program CGE Air Minum DKI Jakarta

SAMEXP("VALUAD","WORLD") SAMEXP("HOUSEHOLDS","WORLD") SAMEXP("GOVT","WORLD") SAMEXP("CORPO","WORLD") SAMEXP("ACTIVITY","WORLD") SAMEXP("KACCOUNT","WORLD") SAMEXP("INTXSUB","WORLD") SAMEXP("WORLD","WORLD") TOTEXP("WORLD")

= = = = = = = = =

SAMREC("VALUAD","WORLD"); SAMREC("HOUSEHOLDS","WORLD"); SAMREC("GOVT","WORLD"); SAMREC("CORPO","WORLD"); SAMREC("ACTIVITY","WORLD"); SAMREC("KACCOUNT","WORLD"); SAMREC("INTXSUB","WORLD"); SAMREC("WORLD","WORLD"); SUM(ACC,SAMEXP(ACC,"WORLD"));

* ========================== BALANCE ACCOUNTS ========================= * DEFINE PARAMETERS FOR MATRIX CHECKING FINALSAM(ACC,ACCP) = SAMEXP(ACC,ACCP); COLTOT(ACC) = TOTEXP(ACC); ROWTOT(ACCP) = TOTREC(ACCP); SAMDIFF(ACC) = TOTREC(ACC) - TOTEXP(ACC); OPTION DECIMALS = 5; DISPLAY "*** POST-OPTIMALITY COUNTERFACTUAL SAM REPLICATION: FOR JAKARTA MODEL"; DISPLAY FINALSAM,COLTOT,ROWTOT,SAMDIFF; * ==================================================================== *Reporting DISPLAY GDPDKI, HINC1, HINC2, FINC, INVES, GRE, INTAX, SAVIN, PRICE, HHSAV, GSAV, CONSU, SUBSID, DIFFGDP, DIFFHINC1, DIFFHINC2, DIFFFINC, DIFFINV, DIFFGR, DIFFITAX, DIFFTSAV, DIFFHSAV, DIFFGSAV, DIFFHCON, PDIFGDP, PDIFHINC1, PDIFHINC2, PDIFFINC, PDIFINV, PDIFGR, PDIFITAX, PDIFTSAV, PDIFHSAV, PDIFGSAV, PDIFHCON;

Disertasi OM Final

I-53

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->