Anda di halaman 1dari 33

GANGGUAN MENTAL ORGANIK

dalam bidang persepsi, isi pikiran, suasana, perasaan,dan emosi

DEFINISI Gangguan mental organik adalah gangguan mental yang berkaitan dengan penyakit/gangguan sistemik atau otak yang dapat didiagnosis tersendiri. Termasuk gangguan mental simtomatik, terhadap cerebral). otak merupakan sistemik penyakit/gangguan di di mana pengaruh sekunder otak dari luar (ekstra akibat

d. onset sangat berpengaruh dalam penentuan


diagnosis PPDGJ III

Penggolongan dari gangguan mental organic!

F00 F09 GANGGUAN MENTAL ORGANIK` (TERMASUK GANGGUAN MENTAL SIMTOMATIK)

Yang termasuk dalam gangguan mental organik adalah : 1. Sindrom gangguan psikopatologik (misalnya penyakit demensia) 2. gangguan Alzheimer) yang mendasari (misalnya

F00 DEMENSIA PADA PENYAKIT ALZHEIMER F01 DEMENSIA VASKULAR F02 DEMENSIA PADA PENYAKIT LAIN YDK F03 DEMENSIA YTT F04 SINDROM AMNESIK ORGANIK BUKAN AKIBAT ALKOHOL dan ZAT PSIKOAKTIF LAINNYA F05 DELIRIUM BUKAN AKIBAT ALKOHOL dan ZAT PSIKOAKTIF LAINNYA F06 GANGGUAN MENTAL LAINNYA AKIBAT KERUSAKAN dan DISFUNGSI OTAK dan PENYAKIT FISIK

Gambaran utama dari gangguan mental organic?

a. gangguan fungsi kognitif daya ingat, daya


pikir, daya belajar

b. gangguan sensorium gangguan kesadaran


dan perhatian

F07 GANGGUAN KEPRIBADIAN dan PERILAKU AKIBAT PENYAKIT,KERUSAKAN DAN DISFUNGSI OTAK

c. sindrom dengan manifestasi yang menonjol


PPDGJ III DEMENSIA

F08 GANGGUAN MENTAL ORGANIK ATAU SIMTOMATIK YTT

15-30 % Demensia tipe vaskuler, berhubungan dg peny kardiovaskuler, laki-laki, usia 60-70 th, hipertensi dll.


(inteligensi umum, belajar dan ingatan, bahasa, memecahkan masalah, orientasi, persepsi, perhatian, konsentrasi, pertimbangan ).

10-15 % Demensia campuran alzheimer-vaskuler 1-5 % demensia trauma kepala, alkohol, ggn gerak (huntington, parkinson).

o Sindrom ggn fs kognitif tanpa ggn kesadaran

2. etiologi a. Menurut Umur: i.Demensia senilis (>65th)

o Kepribadian dpt terganggu, ggn fs sosial,


pekerjaan.

o Tergantung

penyebab

ggn

dpt

progrersif,

permanen, statis, reversibel.

ii.Demensia prasenilis (<65th) b. Menurut perjalanan penyakit: i.Reversibel ii.Ireversibel (Normal pressure
hydrocephalus, subdural hematoma, vit B Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb.

o Kemungkinan reversibilitas tgt: patologi dasar,


pe- ngobatan erfektif dan tepat waktu (15 %).

o Demensia menyebabkan penderitanya kesulitan


untuk menjalani aktivitas sehari-hari dan berhubungan sosial.

1. EPIDEMIOLOGI
Tergantung usia ( 65 th 15% ringan, 5% berat, usia 80 th 20% berat ) 50-60 % Demensia tipe alzheimer, faktor resiko: wanita, saudara tk I, rwy cedera kepala, sindroma down.

c. Menurut kerusakan struktur otak i.Tipe Alzheimer


diagnosis: neuropatologi otak (deposit amiloid

molekuler tu parietal, temporal); klinis penyebablain (-); 40 % riwayat keluarga +, genetik monozigot > dizigot.

tampaknya ditemukan dalam beberapa keluarga dan disebabkan atau dipengaruhi oleh beberapa kelainan gen tertentu. Pada penyakit Alzheimer, beberapa bagian otak mengalami kemunduran, sehingga terjadi kerusakan sel dan berkurangnya respon terhadap bahan kimia yang menyalurkan sinyal di dalam otak. Di dalam otak ditemukan jaringan abnormal (disebut plak senilis dan serabut saraf yang semrawut) dan protein abnormal, yang bisa terlihat pada otopsi. Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayton, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.

Neuropatologi:
makroskopis: atrofi difus, pendataran sulkus kortikal, pembesaran ventrikel serebral. mikroskopis: plak senilis, kekusutan neurofibriler, kurangnya neuronal kortek, degenerasi granulovarkular neuron. Kekusutan neurofibriler= sindroma down, demensia pugilistik, D parkinson, lanjut usia normal. Plak senilis/plak amiloid td: beta/alele 4 dan astrosit, distrofik prosesus neuronal, mikroglia juga tdp pd sindroma down dan penuaan noprmal

Kelainan neurotransmiter: ( asetil kolin, nor epinefrin, somatostatin, kortikotropin ) menurun hipoaktif.

Penyebab lain: kelainan metabolisme membran fosfolipid,

ii.Tipe non-Alzheimer iii.Demensia vaskular : demensia multi


infark.

kadar aluminium otak menimngkat-toksik, gen E 4 + tinggi Penyebab penyakit Alzheimer tidak diketahui, tetapi diduga melibatkan faktor genetik, karena penyakit ini

penyebab: penyakit vaskuler sereblal multipel

( hipertensi, infark, lesi parenkim, arteriosklerosis, tromboemboli

vi.Demensia terkait dengan SIDA(HIV-AIDS)


infeksi HIV (Human Immunodefisiensi Virus) Demensia ( 15 % )dan gejala psikiatri lain.

Penyebab ke-2 tersering dari demensia adalah


serangan stroke yang berturut-turut. Stroke tunggal ukurannya kecil dan menyebabkan kelemahan yang ringan atau kelemahan yang timbul secara perlahan. Stroke kecil ini secara bertahap menyebabkan kerusakan jaringan otak, daerah otak yang mengalami kerusakan akibat tersumbatnya aliran darah disebut infark. Demensia yang berasal dari beberapa stroke kecil disebut demensia multi-infark. Sebagian besar penderitanya memiliki tekanan darah tinggi atau kencing manis, yang keduanya menyebabkan kerusakan pembuluh darah di otak

vii.Morbus Parkinson spt huntington, ggn pd ganglia basalis Kemunduran kognitif, dpt tjd depresi Perlambatan pergerakan dan berfikir (bradifenia)

viii.Morbus Huntington

demensia tu tipe sub kortikal kel motorik menonjol, bahasa minimal kesulitan menyelesaikan tugas kompleks fase awal-menengah: ingatan, bhs, tilikan baik std lanjut demensia lengkap

iv.Demensia Jisim Lewy (Lewy Body


dementia) Demensia Lewy body sangat menyerupai penyakit Alzheimer, tetapi memiliki perbedaan dalam perubahan mikroskopik yang terjadi di dalam otak.

v.Demensia Lobus frontal-temporal

ix.Morbus Pick
Selain gejala-gejala demensia, disertai pula afasi motorik, dan sering dijumpai secara familier.

- onset dimulai: perkembangan tremor, ataksia berjalan, mioklonus, demensia progresif berat

xi.Sindrom Gerstmann-StrusslerScheinker

atrofi frontotemporal, penurunan neuronal Sindrom kluver-bucy: hiperseksualitas, plasiditas, hiperoralitas

xii.Prion disease xiii.Palsi Supranuklear progresif xiv.Multiple sklerosis

x.Morbus Jakob-Creutzfeldt
Selain gejala-gejala demensia, disertai pula gejalagejala gangguan ekstra piramidal seperti hipokinesia, rigiditas, mioklonia serta gejala-gejala kelainan piramidal. degenerasi otak

xv.Neurosifilis xvi.Tipe campuran d. Menurut sifat klinis: i.Demensia proprius ii.Pseudo-demensia

- ditransmisi oleh agen inaktif prion(agen protein tdk mengandung DNA/RNA) degenerasi spongiosa, < respon imun inflamasi. penyakit lain yg berhub dg prion: scrapie, kuru, sind gesrtman-strausster. - transmisi iatrogenik: transplantasi kornea, instrumen bedah terinfeksi

Dari reversibel

segi dan

etiologi irreversibel.

dibedakan Untuk

antara

demensia reversible

demensia

penyebabnya adalah :1

1. Drugs
Antidepresi, antihipertensi, antiansietas, antikonvulsan, sedatif, antiaritmia, jantung obat-obat

termasuk digitalis, obat-obat antikolmergik.

8. Autoimun
Lupus eritematosus diseminata, multiple sklerosis. Dan di samping itu ada juga arterioseklerosis dan alkohol. Untuk dementia yang irreversibel penyebabnya adalah:1

2. Emosi/depresi
Depresi, shizofrenta, mania, psikosis.

3. Metabolik / endokrin
Penyakit tiroid, hipoglikemi, hipernatremi dan hiponatremi, hiperklasemi, gagal ginjal, gagal hati, penyakit Cushing, penyakit wilson.

1. Penyakit degeneratif
Penyakit Alzaimer, dementia Frontotemporal, penyakit Huntington, penyakit Parkinson, penyakit Lewy bodies, atrofi olivopontoserebelar, amiotropik lateral sklerosis/ dementia parkinsonism kompleks.

4. Eye/ear nutrisi
Difensiasi tiamin, difensiasi vitamin B12 (anemia pernisiosa), Difensiasi asam fosfat, difensiasi vitamin B6 (pellagra).

2. Penyakit vaskular
Infrak multipel, emboli serebral, arteritis, anoksia skunder akibat henti jantung, gagal jantung atau keracunan karbon monoksida.

5. Trauma
Trauma kranioserebal, hematon subdural akut dan kronis.

3. Trauma
Trauma kranioserebral berat Glioma, meningioma, tumor metastatis.

6. Tumor

4. Infeksi
Sub akut spongiform ensefalopati (creutzfeldt-jacob disease), post ensefalitis, Leukoensefalopati multifokal progresif.

7. Infeksi
Meningitis dan ensefalitis bakterialis, meningitis dan ensefalitis Akibat jamur, meningitis akibat kriptokokus, meningitis dan Ensefalitis viral, abses otak, neurosifilis, AIDS.

3. tanda dan gejala

Seluruh jajaran fungsi kognitif rusak. Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek. Gangguan kepribadian dan perilaku, mood swings Defisit neurologik motor & fokal Mudah tersinggung, bermusuhan, agitasi dan kejang Gangguan psikotik: halusinasi, ilusi, waham & paranoia Agnosia, apraxia, afasia ADL (Activities of Daily Living)susah Kesulitan mengatur penggunaan keuangan Tidak bisa pulang ke rumah bila bepergian Lupa meletakkan barang penting Sulit mandi, makan, berpakaian, toileting Pasien bisa berjalan jauh dari rumah dan tak bisa pulang

Tak dapat makan dan menelan Koma dan kematian http://www.idijakbar.com/prosiding/delirium.htm

Gambaran utama dementia adalah munculnya deficit kognitif multipleks, termasuk gangguan memori, setidak-tidaknya satu diantara gangguan kognitif berikut ini, yaitu afasia, apraksia, agnosia, atau gangguan dalam hal fungsi eksekutif. Definisi kognitif harus sedemikian fungsi rupa, luhur sehingga mengganggu fungsi sosial atau okupasional serta harus menggambarkan menurunnya sebelumnya. Penderita dementia memiliki beberapa gambaran klinis. Rincian gambaran klinis dementia adalah sebagai berikut: 1. Gangguan Memori Dalam bentuk ketidakmampuan untuk belajar tentang hal-hal baru, atau lupa akan hal-hal yang baru saja dikenal, dikerjakan, atau dipelajari. Pada dementia tingkat lanjut, gangguan 2. Afasia Dalam bentuk kesulitan menyebutkan nama orang atau benda. Berbicara samar-samar atau terkesan hampa, dengan ungkapan kata-kata yang panjang, dan menggunakan istilahistilah yang tidak menentu. Bahasa lisan dan tulisan pun memori menjadi sedemikian berat sehingga penderita lupa akan identitasnya sendiri

Mudah terjatuh, keseimbangan buruk Akhirnya lumpuh, inkontinensia urine & alvi

terganggu, pada dementia tahap lanjut, penderita dapat menjadi bisu atau mengalami gangguan pola bicara yang dicirikan oleh ekolalia (menirukan apa yang dia dengar) 3. Apraksia Ketidakmampuan untuk melakukan gerakan meskipun gerakan motorik, fungsi sensorik, dan pengertian yang diperlukan tetap baik. Penderita dapat mengalami kesulitan dalam menggunakan benda tertentu atau melakukan gerakan yang telah dikenali 4. Agnosia Ketidakmampuan untuk mengenali atau mengidentifikasi benda meskipun fungsi sensoriknya utuh. Meskipun sensasi taktilnya utuh, penderita tidak mampu mengenali benda yang diletakkan diatas tangannya atau yang disentuhnya 5. Gangguan Fungsi Eksekutif Gejala yang sering dijumpai pada dementia. Gangguan ini mempunyai kaitan dengan gangguan di lobus frontalis atau jaras-jaras abstrak, urutan, kompleks. subkortikal yang berhubungan dengan lobus frontalis. Fungsi eksekutif melibatkan kemampuan berpikir merencanakan, memantau, dan mengambil inisiatif, membuat yang menghentikan kegiatan

4. PATOLOGI
Pada dementia yang reversibel, daya kognitif global dan fungsi luhur lainnya terganggu oleh karena metabolisme oleh karena neuron-neuron kedua belah hemisferium tertekan atau dilumpuhkan oleh berbagai sebab. Apabila sebab ini dapat dihilangkan, maka metabolisme kortikal akan berjalan sempurna kembali. Dengan demikian fungsi luhur dalam keseluruhannya akan pulih kembali. Apabila sebab ini sudah menimbulkan kerusakan infrastruktur neuron-neuron kortikal, tentu fungsi kortikal tidak akan pulih kembali, dan dementia akan menetap. Kerusakan yang merata pada neuron-neuron kortikal kedua belah hemisferium, yang mencakup daerah persepsi primer, korteks motorik, dan semua daerah asosiatif menimbulkan dementia. Sebab-sebab yang disebutkan diatas sebagai penyebab subacute amnestic-confusional syndrome merupakan penyebab juga bagi dementia reversibel dan tak reversibel. Karena daerah motorik, piramidal dan ekstrapiramidal ikut terlibat secara difus, maka hemiparesis atau monoparesis dan diplegia juga dapat melengkapkan sindrom dementia. Apabila manifestasi gangguan

korteks piramidal dan ekstrapiramidal tidak nyata, tanda-tanda lesi organik masih dapat ditimbulkan. Pada umumnya, tanda-tanda tersebut mencerminkan gangguan pada korteks premotorik atau prefrontal. Tanda tersebut diungkapkan dengan jalan membangkitkan refleks-refleks.

Demensia alzheimer (10.3-3); DemensiaVaskuler (10.3-4) Demensia krn kondisi medis umum (10.3-5) Demensia menetap akibat zat (10.3-6) Demensia sbb multipel dan tdk ditentukan (10.3-8)

5. DIAGNOSIS
Diagnosis Diagnosis difokuskan pada 3 hal: Pembedaan antara delirium dan demensia

PPDGJ III: F00. D Alzheimer, F01 D. Vaskuler, F02 D Penyakit lain, F03 Demensia YTT. KLINIS

Bagian otak yang terkena

Penyebab yang potensial reversibel Perlu pembedaan dan depresi (ini bisa diobati relatif mudah) Pemeriksaan untuk mengingat 3 benda yg disebut Mengelompokkan benda, hewan dan alat dengan susah payah Pemeriksaan laboratonium, pemeriksaan EEC

Std awal: gagal dlm tugas baru/kompleks Std lanjut:tdk mampu mlk tugas ringan-berat

defek utama: orientasi, ingatan, persepsi, fs intelektual terganggu progresif berkelanjutan. - tjd perubahan afek, perilaku dan kepribadian. - tjd psikosis: halusinasi, waham, agresi fisik. - ggn neurologi: afasia, apraksia, agnosia, defeks primitif Reaksi Katastropik

Pencitraan otak amat penting CT atau MRI

kemampuan perilaku abstrak menurun Kesulitan perbedaan-persamaan Alasan logis, memecahkan masalah, pertimbangan tergg

mengenal informasi. Kemampuan untuk mempelajari informasi baru dapat diperiksa dengan minta penderita untuk mempelajari suatu daftar kata-kata. Penderita diminta untuk mengulang kata-kata (registration), mengingat kembali informasi tadi setelah istirahat selama beberapa menit (retention, recall), dan mengenal kata-kata dari banyak daftar (recognition). Memori lama dapat diperiksa dengan meminta penderita untuk mengingat bahan-bahan lama yang dulu pernah diminati.

Agitasi skunder: mengubah subyek, membuat lelucon, mengalihkan pembicaraan

Pemeriksaan Klinis Seyogyanya pemeriksaan penderita dementia tidak meninggalkan aturan baku tentang pemeriksaan klinis. Hal ini dimaksudkan agar diagnosis dapat ditegakkan secara cepat dan benar, dengan demikian terapi dapat diberikan secara tepat. Setelah melakukan pemeriksaan rutin secara lengkap, maka akan ada beberapa hal spesifik yang berkaitan dengan dementia, hal ini memerlukan perhatian yang lebih khusus.

b. Pemeriksaan Kemampuan Berbahasa


Penderita diminta untuk menyebut nama benda di dalam ruangan, bagian dari tubuh, mengikuti perintah atau aba-aba, atau mengulang ungkapan.

c. Pemeriksaan Apraksia
Ketrampilan motorik dapat diperiksa dengan cara meminta penderita untuk melakukan gerakan tertentu

a. Pemeriksaan Memori
Secara formal, pemeriksaan memori dapat dilakukan dengan minta penderita untuk mencatat, menyimpan, mengingat, dan

d. Pemeriksaan Daya Abstraksi

Daya abstraksi dapat diperiksa dengan berbagai cara, misalnya menyuruh penderita untuk menghitung sampai sepuluh, menyebut seluruh alfabet, menulis huruf m dan n secara bergantian

fungsional, misalnya PET (Positron-Emission Tomography) tidak dikerjakan rutin, namun dapat meberikan informasi untuk diagnosis banding pada kasus yang tidak memperlihatkan adanya kelainan pada CT Scan maupun MRI

e. Mini Mental State Examination


Pemeriksaan ini ditemukan oleh Folstein et al. pada tahun 1975 yang kemudian digunakan secara luas di klinik psikiatri maupun geriatric. MMSE meliputi 30 pertanyaan sederhana untuk memperkirakan kognisi utama pada orangorang tua. MMSE tidak sensitif untuk awal dementia. Pemeriksaan Laboratorium dan Radiologi Pemeriksaan laboratorium didasarkan atas hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Yang perlu diperhatikan adalah cost-benefit serta costeffectiveness, semuanya didasarkan pada kepentingan penderita. Pemeriksaan Radiologi dapat digunakan sebagai diagnosis pembanding. CT Scan atau MRI akan memperlihatkan atrofi otak, lesi otak fokal, hidrosefalus, atau iskemi periventrikular. Pemeriksaan

6. DIAGNOSIS BANDING
D. Alzheimer - stabil - < gejala neurofokal - < faktor resiko - terapi: ekselon 1 DELIRIUM Gangguan memori terjadi baik pada delirium maupun pada dementia. Delirium juga dicirikan oleh menurunnya kemampuan untuk mempertahankan dan memindahkan perhatian secara wajar. Gejala delirium bersifat fluktuatif, sementara dementia menununjukkan gejala yang relatif lebih stabil. Gangguan kognitif yang bertahan tanpa perubahan selama beberapa bulan lebih mengarah kepada dementia. Delirium dapat menutupi gejala dementia. Dalam keadaan sulit untuk membedakan apakah D. Vaskuler - memburuk - + >, < 24 jam. - + >, DM, hipertensi - koreksi penyakit dasar

terjadi delirium atau dementia, maka dianjurkan untuk memilih dementia sebagai diagnosis sementara, dan mengamati penderita lebih lanjut secara cermat untuk menemukan gangguan yang sebenarnya

ditegakkan bersama jika kriterianya terpenuhi

4. Skizofrenia
Pada skizofrenia, mungkin terjadi gangguan kognitif multipleks, tetapi skizofrenia muncul pada usia lebih muda, di samping itu, dicirikan oleh gejala yang khas tanpa disertai etiologi yang spesifik. Yang khas, gangguan kognitif pada skizofrenia jauh lebih berat daripada gangguan kognitif pada dementia

Delirium, beda dg demensia dalam hal: - onset > cepat, durasi singkat - ggn kognitif berfluktuatif - ggn perhatian dan persepsi menonjol - ggn jelas pd siklus bangun tidur

Skizofrenia: kdg tdpt ggn intelektual < demensia.

5. Depresi
Depresi yang berat dapat disertai keluhan tentang gangguan memori, sulit berpikir dan berkonsentrasi, dan menurunnya kemampuan intelektual secara menyeluruh. Terkadang penderita menunjukkan penampilan yang buruk pada pemeriksaan status mental dan neuropsikologi. Terutama pada lanjut usia, seringkali sulit untuk menentukan apakah gejal kognitif merupakan gejala dementia atau depresi. Kesulitan ini dapat dipecahkan melalui pemeriksaan medik yang menyeluruh dan evaluasi awitan gangguan yang ada, urutan munculnya gejala depresi dan gangguan

2. Amnesia
Amnesia dicirikan oleh gangguan memori yang berat tanpa gangguan fungsi kognitif lainnya (afasia, apraksia, agnosia, dan gangguan fungsi eksekutif)

3. Retardasi Mental
Retardasi mental dicirikan oleh fungsi intelektual di bawah rata-rata, yang diiringi oleh gangguan dalam penyesuaian diri, yang awitannya di bawah 18 tahun. Apabila dementia tampak pada usia di bawah 18 tahun, diagnosis dementia dan retardasi mental dapat

kognitif, perjalanan penyakit, riwayat keluarga, serta hasil pengobatan. Apabila dapat dipastikan bahwa terdapat perbedaan antara dementia dengan depresi, dengan etiologi yang berbeda, kedua diagnosis dapat ditegakkan bersama

Diberi keperluan yang mudah dilihat, penerangan lampu terang, jam dinding besar, tanggalan yang angkanya besar

Obat: Nootropika: o o o o o o o o Pyritinol (Encephabol) 1 x 100 - 3 x 200 mg Piracetam (Nootropil) 1 x 400 - 3 x 1200 mg Sabeluzole (Reminyl) Ca-antagonist: Nimodipine(Nimotop 1- 3 x 30 mg) Citicholine (Nicholin) 1 - 2 x 100 - 300 mg i.v./i.m. Cinnanzine (Stugeron) 1 - 3 x 25 mg Pentoxifylline (Trental) 2 - 3 x 400 mg (oral), 200 300 mg infuse o Pantoyl-GABA

Depresi: ggn kognitif dsbt:pseudo demensia - gejala depresi menonjol (tabel:10.3-10) - tilikan >baik drpd demensia - tdpt riwayat episode depresi masa lalu

6. Ggn buatan: aneh tdk konsisten, ada tujuan ttt 7. Penuaan normal: bila ada ggn kognitif ringan, tdk mengganggu bermakna fs sosial-pekerjaan.

7. TERAPI
Terapi Pertama perlu diperhatikan keselamatan pasien, lingkungan dibuat senyaman mungkin, dan bantuan pengasuh perlu. Koridor tempat jalan, tangga, meja kursi tempat barang keperkuannya Tidak diperbolehkan memindahkan mobil dsb.

Acetylcholinesterase inhibitors o Tacnne 10 mg dinaikkan lambatlaun hingga 80

mg. Hepatotoxik o Donepezil (Aricept) centrally active reversible cholinesterase inhibitor, 5 mg 1x /hari o o Galantamine (Riminil) 1 - 3 x 5 mg Rivastigmin (Exelon) 1,5, 3, 4, 5, 6 mg

4. Memarahi atau menghukum penderita tidak


akan membantu, bahkan akan memperburuk keadaan.

5. Meminta bantuan organisasi yang memberikan


pelayanan sosial dan perawatan, akan sangat membantu. Obat Untuk Dementia

Memantine 2 x 5 mg 10 mg

Membantu penderita demensia dan keluarganya:

a. Cholinergic-enhancing agents 1. Mempertahankan lingkungan yang familiar akan


membantu penderita tetap memiliki orientasi. Kalender yang besar, cahaya yang terang, jam dinding dengan angka-angka yang besar atau radio juga bisa membantu penderita tetap memiliki orientasi. Untuk terapi dementia jenis Alzheimer, telah banyak dilakukan penelitian. Pemberian cholinergic-enhancing agents menunjukkan hasil yang cukup memuaskan pada beberapa penderita, namun demikian secara keseluruhan tidak menunjukkan keberhasilan sama sekali. Hal ini disebabkan oleh kenyataan, bahwa dementia Alzheimer tidak semata-mata disebabkan oleh defisiensi kolinergik. Dementia ini disebabkan juga oleh defisiensi neurotransmitter lainnya. Sementara itu, kombinasi kolinergik dan noradregenik ternyata bersifat kompleks, pemberian obat kombinasi ini harus hati-hati karena dapat terjadi interaksi

2. Menyembunyikan kunci mobil dan memasang


detektor pada pintu bisa membantu mencegah terjadinya kecelekaan pada penderita yang senang berjalan-jalan.

3. Menjalani kegiatan mandi, makan, tidur dan


aktivitas lainnya secara rutin, bisa memberikan rasa keteraturan kepada penderita.

yang mengganggu system kardiovaskuler

lansia tanpa gangguan psiko-organik, pemberian ACTH dapat memperbaiki daya konsentrasi dan memperbaiki keadaan umum.

b. Choline dan lecithin


Defisit asetilkolin di korteks dan hipokampus pada dementia Alzheimer dan hipotesis tentang sebab hubungannya dengan memori mendorong para peneliti untuk mengarahkan perhatiannya pada neurotransmitter. Pemberian precursor, choline dan lecithin merupakan salah satu pilihan dan memberi hasil cukup memuaskan, namun demikian tidak memperlihatkan hal yang istimewa. Dengan choline ada sedikit perbaikan terutama dalam fungsi verbal dan visual. Dengan lecithin hasilnya cenderung negative, walaupun dengan dosis yang berlebih sehingga kadar dalam serum mencapai 120% dan dalam cairan serebrospinal naik sampai 58%.

d. Nootropic Agents
Dari golongan nootropic substances, ada dua jenis obat yang sering dipergunakan dalam terapi dementia, ialah nicerogoline dan codergocrine mesylate. Co-dergocrine mesylate memperbaiki perfusi serebral dengan cara mengurangi tahanan vascular dan meningkatkan konsumsi oksigen otak. Obat ini memperbaiki perilaku, aktivitas, dan mengurangi bingung, serta memperbaiki kognisi. Dalam suatu penelitian multisenter, diperoleh suatu kesimpulan, bahwa antara nicergoline dan co-dercogrine mesylate, apabila diberikan kepada penderita dementia, akan mempunyai khasiat yang mirip, terutama terhadap perbaikan fungsi kognitifnya. Di sisi lain, nicergoline tampak bermanfaat untuk memperbaiki perasaan hati dan perilaku.

c. Neuropeptida, Vasopresin, dan ACTH


Pemberian neuropeptida, vasopresin, dan ACTH perlu memperoleh perhatian. Neuropeptida dapat memperbaiki daya ingat semantic yang berkaitan dengan informasi dan kata-kata. Pada

e. Dihydropyrdine

Pada lansia dengan perubahan mikrovaskuler dan neuronal, L-type calcium channels menunjukkan pengaruh yang kuat. Lipophilic dihydropyridine bermanfaat untuk mengatasi kerusakan susunan saraf pusat pada lansia. Nimodipin bermanfaat untuk mengembalikan fungsi kognitif yang menurun pada lansia dan dementia jenis Alzheimer. Nimodipin memelihara sel-sel endothelial atau kondisi mikrovaskuler tanpa dampak hipotensif, dengan demikian sangat dianjurkan sebagai terapi alternatif untuk lansia terutama yang mengidap hipertensi esensial

mampu mengendalikan perilakunya. Suasana hatinya sering berubah-ubah dan senang berjalan-jalan (berkelana). Pada akhirnya penderita tidak mampu mengikuti suatu percakapan dan bisa kehilangan kemampuan berbicara.

9. PENCEGAHAN
Dementia perlu dikenali melalui pola dan dipahami sehat cara seperti pencegahannya hidup

makan dengan gizi seimbang, cukup istirahat dan olah raga, tidak merokok dan lain-lain agar pada saatnya nanti para usia lanjut tidak segera mengalami kepikunan dan masih dapat mandiri bahkan produktif. Selain itu, kemungkinan dementia dapat dicegah dengan menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak. ALZHEIMER

8. PROGNOSIS
Perkembangan demensia pada setiap orang berbeda. Demensia karena AIDS biasanya dimulai secara samar tetapi berkembang terus selama beberapa bulan atau tahun. Sedangkan demensia karena penyakit Ceutzfeldt-Jakob biasanya menyebabkan demensia hebat dan seringkali terjadi kematian dalam waktu 1 tahun. Pada sebagian besar demensia stadium lanjut, terjadi penurunan fungsi otak yang hampir menyeluruh. Penderita menjadi lebih menarik dirinya dan tidak

ETIOLOGI

o faktor genetik
Pada orang yang terkena Alzheimer karena faktor genetik (bawaan orang tua), mereka mengidap Alzheimer di bawah usia 65 tahun atau usia muda.

o faktor non genetik.


Pada orang yang terkena Alzheimer akibat faktor non genetik, terutama yang paling

akan menyerang di bawah usia 65 tahun. Kasus seperti ini cukup jarang ditemukan.

GEJALA Berdasarkan National Alzheimer's Association (2003), gejala Alzheimer dibagi menjadi 3 tahap, yaitu: A. Gejala ringan

banyak berpengaruh adalah faktor usia, maka semakin tua usia seseorang (khususnya di atas 65 tahun) akan semakin rentan orang tersebut mengidap Alzheimer.

Lebih sering bingung dan melupakan informasi yang baru dipelajari Disorientasi: tersesat di daerah sekitar yang dikenalnya dengan baik Bermasalah dalam melaksanakan tugas rutin Mengalami perubahan dalam kepribadian dan penilaian

FAKTOR RESIKO Faktor resiko utama seseorang mengidap Alzheimer adalah

o Usia semakin tua usia seseorang (khususnya


setelah usia 65 tahun) maka semakin rentan orang tersebut mengidap Alzheimer. Menurut National Alzheimer's Association (2003), penyakit Alzheimer menyerang hingga 10 % dari orang berusia 65 tahun atau lebih, dan secara berangsur proporsi ini berlipat ganda setiap 10 tahun setelah usia 65 tahun. Dan sebanyak separuh dari populasi yang berusia 85 tahun atau lebih dapat dipastikan mengidap Alzheimer.

B. Gejala menengah

Kesulitan dalam mengerjakan aktivitas hidup sehari-hari, seperti makan dan mandi Cemas, curiga, dan agitasi Mengalami gangguan tidur Keluyuran Kesulitan mengenali keluarga dan teman. Pertama-tama yang akan sulit untuk dikenali adalah orang-orang wajah yang paling jarang

o Genetic
pada orang yang memiliki faktor genetik turunan / bawaan dari orang tua, penyakit ini

ditemuinya, mulai dari nama, hingga tidak mengenali sama sekali. Kemudian

bertahap C. Gejala akut


kepada

orang-orang

yang

cukup

mereka ketahui yang tidak perlu berpikir untuk melakukannya. Orang yang terkena demensia tidak akan mengetahui makanan, langkah-langkah menggunakan untuk perabot menyiapkan

jarang ditemui. Sulit / kehilangan kemampuan berbicara Kehilangan nafsu makan, menurunnya berat badan Tidak mampu mengontrol buang air kecil dan buang air besar Sangat tergantung pada caregiver/pengasuh

rumah tangga atau berpartisipasi dalam melakukan kegemarannya selama ini. 3. Bermasalah dengan bahasa. Sesekali, setiap orang dapat memiliki masalah dalam menemukan kata yang tepat, namun pada orang yang mengidap Alzheimer, mereka seringkali lupa akan kata-kata sederhana ataupun substitusi dari kata yang tidak biasa digunakan, membuat ucapan atau tulisannya sulit untuk dimengerti. Contohnya: jika orang yang mengidap Alzheimer kesulitan untuk menemukan sikat giginya, maka ia akan bertanya "sesuatu untuk mulut saya". 4. Disorientasi waktu dan tempat. Normal jika lupa hari dari minggu itu atau dimana kamu pergi. Tapi orang yang mengidap Alzheimer dapat tersesat di jalan dekat rumahnya sendiri, lupa dimana dia berada dan bagaimana ia dapat sampai 5. Lemah ke tempat tersebut, baik dan dalam tidak tahu bagaimana caranya dia bisa kembali ke rumah. atau kurang mengambil

Alzheimer's Disease and Related Disorders Association (2001), juga membuat 10 gejala penyakit Alzheimer Demensia yang sering muncul, sebagai berikut: 1. Hilang ingatan. Salah satu gejala awal dari demensia adalah melupakan informasi yang baru dipelajari. Pada orang normal, wajar bila melupakan janji, nama atau nomor telepon. Pada mereka yang mengidap demensia, mereka akan melupakan berbagai hal seperti itu lebih sering dan kemudian tidak ingat akan hal tersebut. 2. Sulit untuk mengerjakan tugas yang familiar. Orang yang terkena demensia seringkali kesulitan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari yang sangat

keputusan. Tidak ada seorang pun yang memiliki keputusan sempurna di sepanjang waktu. Namun demikian, pada orang yang mengidap Alzheimer, mereka mengenakan baju tanpa mempertimbangkan

sesuatu

pada

tempat

yang

tidak

sewajarnya,

contoh: meletakkan gosokan di dalam freezer atau meletakkan jam tangan di dalam mangkuk gula.

8. Perubahan mood atau tingkah laku. Setiap orang dapat menjadi sedih atau moody dari waktu ke waktu. Seorang yang mengidap Alzheimer menampilkan mood yang tidak tentu/berubah-ubah dari tenang menjadi ketakutan kemudian menjadi marah tanpa ada alasan yang jelas. 9. Perubahan kepribadian. Kepribadian seseorang wajar mengalami perubahan seiring dengan usia. Namun dapat seorang yang , mengidap Alzheimer sangat berubah

cuaca, memakai beberapa kaos di hari yang panas atau memakai pakaian yang sangat minim ketika cuaca dingin. Orang dengan demensia seringkali menunjukkan keputusan yang lemah / kurang baik mengenai uang, mereka memberikan sejumlah besar uang kepada para rumah telemarket ataupun atau membayar perbaikan membeli

barang yang tidak mereka butuhkan. 6. Bermasalah dengan pemikiran abstrak. Menyeimbangkan biasanya. Namun buku cek mungkin pada menjadi yang begitu sulit ketika tugas tersebut lebih rumit dari demikian, orang mengidap Alzheimer, mereka akan benar-benar lupa berapa jumlah/angkanya, dan apa yang harus mereka lakukan terhadap angka-angka tersebut. 7. Salah menempatkan segala sesuatu. Setiap orang dapat secara tidak disengaja salah menempatkan/menaruh dompet atau kunci. Orang yang mengidap Alzheimer akan meletakkan segala

menjadi benar-benar kacau, penuh kecurigaan, ketakutan atau menjadi bergantung pada anggota keluarga. 10. Kehilangan inisiatif. Lelah akibat pekerjaan rumah, aktivitas bisnis, atau kewajiban sosial sesekali waktu adalah wajar. Namun demikian, orang yang mengidap Alzheimer dapat menjadi pasif, duduk di depan televisi selama berjam-jam, tidur lebih dari biasanya atau tidak ingin melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.

Apabila seseorang mengidap beberapa dari gejala di atas, maka sebaiknya ia segera menemui dokter untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh.

tujuan primer untuk mengatur/me-manage tingkah laku dan gejala kognitif pasien. Tujuan sekunder untuk mengurangi beban caregiver (pengasuh atau perawat, biasanya dari pihak keluarga pasien). dilakukan Pendekatan dengan

PENANGANAN ALZHEIMER Penanganan terhadap penyakit Alzheimer dapat dilakukan melalui 2 pendekatan:

nonpharmacological

menggunakan terapi, seperti: terapi behavioral management techniques, the pleasant event pharmacological, schedule morning (PES), bright music light therapy, ECT. strategi/ Melalui modifikasi lingkungan, animal assisted therapy, therapy, pendekatan nonpharmacological ini, penderita Alzheimer menjadi lebih mengenal, dan lebih siap menghadapi penyakitnya, serta lebih dapat me-manage dirinya sendiri. DELIRIUM VS DEMENSIA

o pharmacological
Berdasarkan pendekatan penanganan yang dilakukan terhadap Alzheimer dilakukan dengan menggunakan obat-obatan, satu-satunya obat yang dapat digunakan adalah obat-obat acetylcholinestrase tacrine, donepezil yang (AchE) HCL, mengandung inhibitor seperti: dan rivastigmine,

galantamine. Pemakaian obat-obatan ini harus merujuk pada anjuran yang dikemukan oleh dokter / psikiater. Karena pemakaian obatobatan ini ditentukan oleh dosis, dan waktu pemberian, serta memiliki efek samping.

Pada kasus delirium akan terjadi gangguan pada proses pikir, sedangkan pada demensia akan mengalami respon kognitif yang maladaptip

Karakteristik Delirium dan demensia


Delirium Demensia

Pengobatan lain yang dapat digunakan namun masih dipertanyakan mengenai keefektifannya nya adalah ginkgo biloba, vitamin E, C, dan B.
Onset

- Biasanya tiba-tiba

- Biasanya perlahan

o nonpharmacological.

Membedakan Delirium Dengan Demensia


Lama - Biasanya singkat/ < 1 bulan -biasanya lama dan progressif - Paling banyak dijumpai pada usia > 65 th Stress or - Racun, infeksi, trauma, hipertermia - Hipertensi, hipotensi, anemia. Racun, defisit vitamin, tumor atropi jaringan otak Perila ku - Fluktuasi tingkat kesadaran - Disorientasi - Gelisah - Agitasi - Ilusi - Halusinasi - Pikiran tidak teratur -Gangguan penilaian dan pengambilan keputusan - Afek labil - Afek labil - Gelisah - Agitasi Bahasanya lambat, seringkali tidak dapat dimengerti & tidak tepat - Hilang daya ingat - Kerusakan penilaian - Perhatian menurun - Perilaku sosial tidak sesuai Delirium Terjadi secara tiba-tiba Berlangsung selama beberapa minggu Berhubungan dengan pemakaian obat atau gejala putus obat, penyakit berat, kelainan metabolisme Hampir selalu memburuk di malam hari Tidak mampu memusatkan perhatian Kesiagaan berfluktuasi dari letargi menjadi agitasi Orientasi terhadap lingkungan bervariasi Sering bertambah buruk di malam hari Perhatiannya 'mengembara' Kesiagaan seringkali berkurang Orientasi terhadap lingkungan terganggu Kadang mengalami kesulitan dalam menemukan kata-kata yg tepat Bisa tanpa penyakit Demensia Terjadi secara perlahan Bisa menetap

Ingatannya bercampur baur, linglung

Ingatannya hilang, terutama untuk peristiwa yang baru saja terjadi

Bahasa

Lamban, inkoheren, inadekuat

Sulit menemukan istilah tepat Jangka pendek & panjang terganggu Halusinasi jarang kecuali sundowning Normal Sedikit terganggu siklus tidurnya Sedikit terganggu Umumnya tak reversibel Perlu tapi tak segera

Daya ingat Tabel I. Perbedaan klinis delirium dan Demensia Gambaran Riwayat Awal Sebab Delirium Penyakit akut Cepat Terdapat penyakit lain (infeksi, dehidrasi, guna/putus obat Lamanya Perjalanan sakit Taraf kesadaran Orientasi Afek Alam pikiran Terganggu, periodik Cemas dan iritabel Sering terganggu Intak pada awalnya Labil tapi tak cemas Naik turun Normal Ber-hari/-minggu Naik turun Ber-bulan/-tahun Kronik progresif Demensia Penyakit kronik Lambat laun Biasanya penyakit otak kronik (spt Alzheimer, demensia vaskular) Psikomotor Tidur

Jangka pendek terganggu nyata

Persepsi

Halusinasi (visual)

Retardasi, agitasi, campuran Terganggu siklusnya

Atensi & kesadaran Reversibilitas Penanganan

Amat terganggu Sering reversibel Segera

Catatan: pasien dengan demensia amat rentan terhadap delirium, dan delirium yang bertumpang tindih dengan demensia adalah umum

ALZHEIMER, DELIRIUM,AMNESIA
Turun jumlahnya Alzheimer Demensia Fisiologis (saraf Amnesia Psikologis Delirium Psikologis

otak) Gangguan memori / ingatan Berlangsung bertahap dan bersifat progresif Permanen Belum disembuhkan dapat Gangguan memori / ingatan Tidak bertahap, Gangguan kesadaran dan gangguan kognitif Berlangsung secara short time Fluktuatif Dapat disembuhkan

Kelainan ini dapat menyertai suatu : a.permulaan proses degenerasi dari otak. b.gangguan serebrovaskular. c.gangguan dari fungsi alat-alat vital seperti : jantung, ginjal akibat kelainan vaskular ekstra serebral. d.penyakit-penyakit infeksi tubuh. e.gangguan metabolisme. f.intoksikasi. g.kelainan-kelainan di bidang hemodinamika. h.trauma kapitis. i. lain-lain (ensefalopati). j. Permulaan dari penyakit korsakow, tapi di sin :penyakit yang diakibatkan alkoholisme kronik ini disertai dengan polineuritis

berlangsung secara drastis Semi permanen Dapat disembuhkan

SINDROM AMNESTIK Sindroma amnestdc dan sindroma amnestik-konfabdatoar Gejala utama pada sindroma ini ialah : a. gangguan daya ingat, terutama mengenai hal-hal yang barn terjadi/recent. b. gangguan orientasi, terutama orientasi terhadap waktu. c. sulit dalam mengungkapkan kesan-kesan terhadap peristiwa tertentu. d. tidak didapati kelainan-kelainan di bidang emosional; karena sistem limbik pada penderita ini masih baik. e. Pada sindroma amnestik-konfabulatoar, didapati konfabulasi.

DELIRIUM

1. DEFINISI a. Delirum adalah : Suatu keadaan proses pikir


yang terganggu, ditandai dengan: Gangguan perhatian, memori, pikiran dan orientasi

b. Delirium adalah keadaan yang yang bersifat


sementara dan biasanya terjadi secara

mendadak, penurunan

dimana

penderita dalam

mengalami memusatkan

diserap sebagaimana mestinya dan menekan otak Hematoma subdural, yaitu pengumpulan darah di bawah tengkorak yang dapat menekan otak. Meningitis, ensefalitis, sifilis (penyakit infeksi yang menyerang otak) Kekurangan tiamin dan vitamin B12 Hipotiroidisme maupun hipotiroidisme Tumor otak (beberapa diantaranya kadang menyebabkan linglung dan gangguan ingatan) Patah tulang panggul dan tulang-tulang panjang Fungsi jantung atau paru-paru yang buruk dan menyebabkan rendahnya kadar oksigen atau tingginya kadar karbon dioksida di dalam darah Stroke.

kemampuan

perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara jernih.

2. EPIDEMIOLOGI
Delirium bisa timbul pada segala umur, tetapi sering pada usia lanjut. Sedikitnya 10% dari pasien lanjut usia yang dirawat inap menderita delirium; 15-50% mengalami delirium sesaat pada masa perawatan rumah sakit. Delirium juga sering dijumpai pada panti asuhan. Bila delirium terjadi pada orang muda biasanya karena penggunaan obat atau penyakit yang berbahaya mengancam jiwanya.

3. ETIOLOGI
Penyebab delirium: Alkohol, obat-obatan dan bahan beracun Efek toksik dari pengobatan Kadar elektrolit, garam dan mineral (misalnya kalsium, natrium atau magnesium) yang tidak normal akibat pengobatan, dehidrasi atau penyakit tertentu Infeksi akut disertai demam Hidrosefalus bertekanan normal, yaitu suatu keadaan dimana cairan yang membantali otak tidak

4. MANIFESTASI KLINIS
Delirium ditandai oleh kesulitan dalam:

Konsentrasi dan memfokus Mempertahankan dan mengalihkan daya perhatian Kesadaran naik-turun Disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang Halusinasi biasanya visual, kemudian yang lain Bingung menghadapi tugas se-hari-hari Perubahan kepribadian dan afek Pikiran menjadi kacau Bicara ngawur Disartria dan bicara cepat Neologisma Inkoheren

Rasa takut Curiga Mudah tersinggung Agitatif Hiperaktif

Siaga tinggi (Hyperalert) Atau sebaliknya bisa menjadi: Pendiam Menarik diri Mengantuk Banyak pasien yang berfluktuasi antara diam dan gelisah Pola tidur dan makan terganggu

Gangguan kognitif, jadi daya mempertimbangkan dan tilik-diri terganggu Gejala termasuk: Perilaku yang inadekuat

Membedakan Delirium Dengan Psikosa


Gejala Umum Delirium (penyakit fisik) GEjala Umum Psikosa

(kelainan mental) Bingung tentang waktu, tanggal, tempat atau identitas Sulit memusatkan perhatian Lupa akan peristiwa yg baru saja terjadi Tidak mampu berfikir secara logis atau melakukan perhitungan sederhana Demam atau pertanda infeksi lainnya Halusinasi (lihat) Terdapat bukti pemakaian obat Tremor Biasanya sadar akan waktu, tempat & identitas Mampu memusatkan perhatian Berfikir tidak logis tetapi ingat akan peristisa yg baru saja terjadi Mampu melakukan perhitungan sederhana Riwayat kelainan psikis sebelumnya Halusinasi (dengar) -

Terapi diawali dengan memperbaiki kondisi penyakitnya dan menghilangkan faktor yang memberatkan seperti: Menghentikan penggunaan obat Obati infeksi Suport pada pasien dan keluanga Mengurangi dan menghentikan agitasi untuk pengamanan pasien Cukupi cairan dan nutrisi Vitamin yang dibutuhkan Segala alat pengekang boleh digunakan tapi harus segera dilepas bila sudah membaik, alat infuse sesederhana mungkin, lingkungan diatur agar nyaman. Obat: o Haloperidoi dosis rendah dulu 0,5 1 mg per os, IV atau IV o o Risperidone0,5 3mg perostiap l2jam Olanzapine 2,5 15 mg per os 1 x sehari

5. DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya dan sesegera mungkin ditentukan penyebabnya. Dilakukan pemeriksaan fisik lengkap dan dititikberatkan pada respon neurologis penderita. Pemeriksan lainnya yang biasa dilakukan adalah pemeriksaan darah, rontgen dan pungsi lumbal.

6. TERAPI

Lorazepam 0,5 1mg per Os atau parenteral (tak tersedia di Indonesia), Perlu diingat obat benzodiazepine mi bisa

penyebab apapun bisa meningkatkan kerja saraf

7. PROGNOSIS
Morbiditas dan mortalitas lebih tinggi pada pasien yang masuk sudah dengan delirium dibandingkan dengan pasien yang menjadi delirium setelah di Rumah Sakit. Beberapa penyebab delirium seperti hipoglikemia, intoxikasi, infeksi, faktor iatrogenik, toxisitas obat, gangguan keseimbangan elektrolit. Biasanya cepat membaik dengan pengobatan. Beberapa pada lanjut usia susah untuk diobati dan bisa melanjut jadi kronik

simpatikus sehingga mengganggu fungsi kolinergik dan menyebabkan delirium. Usia lanjut memang dasarnya rentan terhadap penurunan transmisi kolinergik sehingga lebih mudah terjadi delirium. Apapun sebabnya, yang jelas hemisfer otak dan mekanisma siaga (arousal mechanism)dari talamus dan sistem aktivasi retikular batang otak jadi terganggu. Terdapat faktor predisposisi gangguan otak organik: seperti demensia, stroke. Penyakit parkinson, umur lanjut, gangguan sensorik, dan gangguan multipel. Faktor presipitasi termasuk penggunaan obat baru lebih dan 3 macam, infeksi, dehidrasi, imobilisasi, malagizi, dan pemakaian kateter buli-buli. Penggunaan anestesia juga meningkatkan resiko delirium, terutama pada pembedahan yang lama. Demikian pula pasien lanjut usia yang dirawatdi bagian ICU beresiko lebih tinggi.

DELIRIUM

1. etiologi
Banyak kondisi sistemik dan obat bisa menyebabkan delirium, contoh antikolinergika, psikotropika, dan opioida. Mekanisma tidak jelas, tetapi mungkin terkait dengan gangguan reversibilitas dan metabolisma oxidatif otak, abnormalitas neurotransmiter multipel, dan pembentukan sitokines (cytokines). Stress dari

Penyebab intracranial : epilepsy/keadaan pasca kejang, trauma otak, infeksi (meningitis,ensefalitis), neoplasma, gangguan vascular o Penyebab ekstrakranial : obat-obatan (obat

antikolinergik, o antikonvulsan, obat antihipertensi, antiparkinson,antipsikotik, glikosida jantung,cimetidine, clonidine, disulfiram, insulin,opiate,phencyclidine,phenytoin,ranitidine ,salisilat,sedative,steroid), racun (karbon monoksida, logam berat&racun industry lain), disfungsi endokrin(hipofisis, pancreas,adrenal,paratiroid,tiroid),penyakit non endokrin(hatiensefalopati hepatic, ginjal dan saluran kemih, ensefalopati uremik, paru-paru narcosis karbon dioksida&hipoksia)

saja terjadi. Hampir semua penderita mengalami disorientasi waktu dan bingung dengan tempat dimana mereka berada. Fikiran mereka kacau, mengigau dan terjadi inkoherensia. Pada kasus yang berat, penderita tidak mengetahui diri mereka sendiri. Beberapa penderita mengalami paranoia dan delusi (percaya bahwa sedang terjadi hal-hal yang aneh). Respon penderita terhadap kesulitan yang dihadapinya berbeda-beda; ada yang sangat tenang dan menarik diri, sedangkan yang lainnya menjadi hiperaktif dan mencoba melawan halusinasi maupun delusi yang dialaminya. Jika penyebabnya adalah obat-obatan, maka sering terjadi perubahan perilaku. Keracunan obat tidur menyebabkan penderita sangat pendiam dan menarik diri, sedangkan keracunan amfetamin menyebabkan penderita menjadi agresif dan hiperaktif. Delirium bisa berlangsung selama berjam-jam, berharihari atau bahkan lebih lama lagi, tergantung kepada beratnya gejala dan lingkungan medis penderita. Delirium sering bertambah parah pada malam hari

2. tanda dan gejala


Delirium dapat diawali dengan berbagai gejala, dan kasus yang ringan mungkin sulit untuk dikenali. Tingkah laku seseorang yang mengalami delirium bervariasi, tetapi kira-kira sama seperti orang yang sedang mengalami mabuk berat. Ciri utama dari delirium adalah tidak mampu memusatkan perhatian. Penderita tidak dapat berkonsentrasi, sehingga mereka memiliki kesulitan dalam mengolah informasi yang baru dan tidak dapat mengingat peristiwa yang baru

(suatu fenomena yang dikenal sebagai matahari terbenam). Pada akhirnya, penderita akan tidur gelisah dan bisa berkembang menjadi koma (tergantung kepada penyebabnya).
Delirium ditandai oleh kesulitan dalam: Konsentrasi dan memfokus Mempertahankan dan mengalihkan daya perhatian Kesadaran naik-turun Disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang Halusinasi biasanya visual, kemudian yang lain Bingung menghadapi tugas se-hari-hari Perubahan kepribadian dan afek Pikiran menjadi kacau Bicara ngawur Disartria dan bicara cepat Neologisma Inkoheren Gejala termasuk: Perilaku yang inadekuat Rasa takut Curiga Mudah tersinggung

Agitatif Hiperaktif Siaga tinggi (Hyperalert) Atau sebaliknya bisa menjadi: Pendiam Menarik diri Mengantuk Banyak pasien yang berfluktuasi antara diam dan gelisah Pola tidur dan makan terganggu Gangguan kognitif, jadi daya mempertimbangkan dan tilik-diri terganggu

3. pedoman diagnostic
gangguan kesadaran dengan penurunan kemampuan untuk memusatkan, mempertahankan, atau mengalihkan perhatian o perubahan kognisi atau perkembangan gangguan persepsi yang tidak lebih baik diterangkan demensia yang telah ada sebelumnya, yang telah ditegakkan, atau yang sedang timbul. o Gangguan timbul setelah suatu periode waktu yang singkat (biasanya beberapa jam sampai

hari) dan cenderung berfluktuasi selama perjalanan hari o Teradpat bukti-bukti dari riwayat penyakit, PF, atau temuan laboratorium bahwa gangguan adalah disebabkan oleh akibat fisiologis langsung dari kondisi medis umum. o PF : denyut jantung, temperature, tekanan darah, pernafasan, pembuluh darah karotis, kulit kepala& wajah, leher,mata, mulut, tiroid, jantung, paru-paru, pernafasan, hati, system saraf o Pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan standar (kimia darah),hitung darah lengkap dengan diferensial sel darah putih, tes fungsi tiroid, tes serologis untuk sifilis, tes antibody HIV, urinalisis,EKG,EEG,sinar-x dada,skrining obat dalam darah dan urin. kaplan

Penurunan derajat kewaspadaan Tidak bisa memusatkan perhatian Tidak bisa menggeser perhatian Gangguan kognitif Defisit memori Disorientasi Gangguan bahasa Berkembang dalam waktu pendek Jam dan hari Fluktuatif, sundowning Hal-hal tersebut di atas berubah berdasar kondisi medik, intoksikasi, dan atau pengobatan a. Demensia Demensia berbeda karena onsetnya adalah gradual (biasanya tahun), dan persisten. Demensia tidak menyebabkan penurunan kewaspadaan sampai late stages (dapat diketahui dari anamnesa). Pasien dengan dengan demensia mudah menjadi delirium, walaupun demikian, kondisi akut pada pasien demensia bisa delirium atau kondisi akut lainnya. Demensia lewy bodies bisa disertai dengan halusinasi dan psikosis. b. Depresi Depresi bisa terjadi mimic hypoactive deliriumdengan

4. DD
Delirium harus dibedakan dengan kelainan kognitif global. Tabel 1. Kriteria DSM-IV untuk delirium Gangguan kesadaran

penolakan yang jelas, retardasi psikomotor, melambatnya pembicaraan, apatis, dan pseudodemensia. Depresi tidak mempengaruhi derajat kesadaran. c. Psikosis Psikosis bisa terjadi mimic hyperactive delirium. Psikosis fungsoinal berbeda karena halusinasi suara. Lebih banyak khayalan, dan lebih sedikit fluktuatif. d. CVA CVA jarang disertai dengan delitium, atau salah dianggap sebagai delirium. Contohnya, aphasia mungkin salah dianggap sebagai kebingungan. Juga kelainan difus pada atensi karena stroke pada daerah temporooccipital, parietal, prefrontal, atau region sub kortikal pada hemisfer kanan. Keadaan akut mungkin memperburuk tanda neurologis fokal karena CVA lama. http://medical-free.blogspot.com/2008/06/delirium.html

Mengurangi dan menghentikan agitasi untuk pengamanan pasien

Cukupi cairan dan nutrisi Vitamin yang dibutuhkan Segala alat pengekang boleh digunakan tapi harus segera dilepas bila sudah membaik, alat infuse sesederhana mungkin, lingkungan diatur agar nyaman.

Obat:

Haloperidoi dosis rendah dulu 0,5 1 mg per os, IV atau IV

o o

Risperidone0,5 3mg perostiap l2jam Olanzapine 2,5 15 mg per os 1 x sehari

5. terapi
Terapi diawali dengan memperbaiki kondisi penyakitnya & menghilangkan faktor yang memberatkan seperti:

Lorazepam 0,5 1mg per Os atau parenteral (tak tersedia di Indonesia), Perlu diingat obat benzodiazepine mi bisa memperburuk delirium karena efek sedasinya.

http://www.idijakbar.com/prosiding/delirium.htm

Menghentikan penggunaan obat Obati infeksi Suport pada pasien dan keluanga

6. pencegahan o menghindari penyalahgunaan obat 7. prognosis


lebih buruk dari pada demensia karena onsetnya lebih

akut AMNESTIC ORGANIK

sebelumnya diingat (amnesia retrograd) gejala harus bermakna bagi pasien dalam hal social & pekerjaannya.

1. etiologi
- struktur anatomi utama yang terlibat dalam daya ingat dan perkembangan gangguan amnestik adalah terutama struktur diensefalik dan struktur lobus midtemporalis. Walaupun amnesia biasanya disebabkan oleh kerusakan bilateral pada struktur2 tsb, beberapa kasus kerusakan unilateral menyebabkan suatu gangguan amnestik, dan bukti2 menunjukkan bahwa hemisfer kiri mungkin lebih kritikal dibandingkan hemisfer kanan dalam perkembangan gangguan daya ingat. Selain itu juga defisiensi thiamin,hipoglikemi,hipoksia dan ensefalitis herpes simpleks semuanya mempunyai predileksi merusak lobus temporalis, khususnya hipokampus. Penggunaan obat yang tidak diresepkan, tumor, serebrovaskuler,prosedur bedah, dll. - benzodiazepin

3. pedoman diagnostic gangguan daya ingat jangka pendek tidak ada gangguan kesadaran, intelektual dan perhatian adanya cidera/ penyakit pada otak

Perkembangan gangguan daya ingat seperti yang dimanifestasikan oleh gangguan kemampuan untuk mempelajari informasi baru atau ketidakmampuan untuk mengingat informasi yang telah dipelajari sebelumnya. o Gangguan daya ingat menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi social atau pekerjaan dan merupakan penurunan bermakna dari tingkat fungsi sebelumnya o Gangguan daya ingat tidak terjadi semata-mata selama perjalanan suatu delirium atau suatu demensia o Terdapat bukti dari riwayat penyakit, PF,atau temuan laboratorium bahwa gangguan adalah akibat fisiologis langsung dari kondisi umum.

2. tanda dan gejala


Perkembangan gangguan daya ingat yang ditandai oleh gangguan pada kemampuan untuk mempelajari informasi baru (amnesia anterograd) dan ketidakmampuan untuk mengingat pengetahuan yang

4. DD
a) Demensia dan delirium

b) Penuaan normal c) Gangguan disosiatif kehilangan orientasi pada


dirinya sendiri disertai dengan peristiwa kehidupan yang secara emosional menyebabkan stress yang melibatkan uang,system hukum, atau hubungan yang terganggu misalnya: perceraian suami-istri.

d) Gangguan buatan (factitious disorders) e) Berpura-pura hilangnya daya ingat f) Sindrom amnestik akibat alcohol (korsakov)