Anda di halaman 1dari 23

HUKUM BISNIS Perdagangan atau perniagaan pada umumnya ialah pekerjaan membeli barang dari suatu tempat atau

pada suatu waktu dan menjual barang itu di tempat lain atau pada waktu yang berikut dengan maksud memperoleh keuntungan. Dalam zaman modern ini perdagangan adalah pemberian perantaraan kepada produsen dan konsumen untuk membelikan dan menjualkan barang-barang yang memudahkan dan memajukan pembelian dan penjualan. Jenis-jenis perdagangan dibagi menjadi tiga, yaitu[1]; 1. Menurut pekerjaan yang dilakukan pedagang Perdagangan mengumpulkan (produsen tengkulak pedagang besar eksportir) Perdagangan menyebutkan (importir pedagang besar pedagang menengah konsumen) 2. Menurut jenis barang yang diperdagangkan Perdagangan barang yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan jasmani manusia. Contoh: (hasil pertanian, pertambangan, pabrik) Perdagangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan rohani manuia. Contoh (kesenian, musik) Perdagangan uang dan kertas-kertas berharga (bursa efek)

3. Menurut daerah, tempat perdagangan itu dilakukan Perdagangan dalam negeri Perdagangan internasional perdagangan ekspor, perdagangan impor Perdagangan meneruskan (perdagangan transito) Menurut H.M.N. Purwosutjipto Hukum Dagang Adalah hukum perikatan yang timbul khusus di lapangan perusahaan. Hukum dagang merupakan keseluruhan dari aturan-aturan hukum yang mengatur dengan disertai sanksi perbuatan-perbuatan manusia di dalam usaha mereka untuk menjalankan usaha atau perdagangan. Menurut Soesilo Prajogo yang dimaksud Hukum Dagang Pada hakekatnya sama dengan hukum perdata hanya saja dalam hukum dagang yang menjadi objek adalah perusahaan dengan latar belakang dagang pada umumnya termask wesel, cek, pengangkutan,basuransi dan kepalitan. Hukum Dagang Indonesia terutama bersumber pada : 1) Hukum tertulis yang dikodifikasikan : a. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) atau Wetboek van Koophandel Indonesia (W.v.K). KUHD yang mulai berlaku di Indoneia pada 1 Mei 1848 terbagi atas dua kitab dan

23 bab. Di dalam KUHD jelas tercantum bahwa implementasi dan pengkhususan dari cabang-cabang hukum dagang bersumber pada Kitab Undang-undang Hukum Dagang Isi pokok daripada KUHD Indonesia adalah: 1. 2. Kitab pertama berjudul Tentang Dagang Umumnya, yang memuat 10 bab. Kitab kedua berjudul Tentang Hak-hak dan Kewajiban-kewajiban yang Terbit dari Pelayaran, terdiri dari 13 bab. 3. Pengaturan di Luar Kodifikasi

b. Kitab Undang-Undang Hukum Sipil (KUHS) atau Burgerlijk Wetboek Indonesia (BW) Hal-hal yang diatur dalam KUHS adalah mengenai perikatan umumnya seperti : Persetujuan jual beli (contract of sale) Persetujuan sewa-menyewa (contract of hire) Persetujuan pinjaman uang (contract of loun) 2) Hukum tertulis yang belum dikodifikasikan, yaitu peraturan perundangan khusus yang mengatur tentang hal-hal yang berhubungan dengan perdagangan (C.S.T. Kansil, 1985 : 7). Sifat hukum dagang yang merupakan perjanjian yang mengikat pihak-pihak yang mengadakan perjanjian. Sumber-sumber hukum dagang yang terdapat di luar kodifikasi diantaranya adalah sebagai berikut : - UU No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan terbatas - UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal - UU No. 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan HUBUNGAN ANTARA KUH PERDATA DAN KUHD Secara umum dapat dikatakan bahwa KUH Perdata dan KUHD adalah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, akan tetapi kalau kita lihat ketentuan : Psl 1 KUHD : adalah KUH Perdata seberapa jauh dari padanya dalam Kitab ini tidak khusus diadakan penyimpangan, berlaku juga terhadap hal-hal yangg dibicarakan dalam kitab ini. Psl 15 KUHD : menyebutkan segala perseroan tersebut dalam bab ini dikuasai oleh persetujuan pihakpihak yang bersangkutan, oleh kitab ini dan oleh hukum perdata. Dari kedua ketentuan ini dapat disimpulkan bahwa, ketentuan yang diatur dalam KUH Perdata berlaku juga terhadap masalah yang tidak diatur secara khusus dalam KUHD, dan sebaliknya apabila KUHD mengatur secara khusus, maka ketentuan-ketentuan umum yang diatur dalam KUH Perdata tidak

berlaku, dalam bahasa Latin Leu specialis derogat legi generali (hukum khusus dapat mengeyampingkan hukum umum). Contoh : 1. 2. Nilai kekuatan pembuktian surat Psl. 1881 KUH Perdata. Psl. 7 KUHD khususnya.

Prof. Subekti S.H. berpendapat bahwa terdapatnta KUHD disamping KUHS sekarang ini tidak pada tempatnya, karena sebenarnya Hukum Dagang tidaklah lain daripada Hukum Perdata, dan perkataan dagang bukanlah suatu pengertian hukum, melainkan suatu pengertian ekonomi. Pembagian Hukum Sipil ke dalam KUHS dan KUHD hanyalah berdasarkan sejarah saja, yaitu karena dalam hukum romawi belum ada peraturan-peraturan seperti yang sekarang termuat dalam KUHD, sebab perdagangan baru mulai berkembang pada abad pertengahan. Di Nederland sekarang ini sudah ada aliran yang bertujuan menghapuskan pemisahan Hukum Perdata dalam dua Kitab Undang-undang itu (bertujuan mempersatukan Hukum Dagang dan Perdata dalam satu Kitab Undang-undang saja). Pada beberapa negara lainnya, misalnya Amerika Serikat dan Swiss, tidaklah terdapat suatu Kitab Undang-undang Hukum Dagang terpisah dari KUHS. Dahulu memang peraturan-peraturan yang termuat dalam KUHD dimaksudkan hanya berlaku bagi orang-orang pedagang saja. Menurut Prof. Subekti; sudah diakui bahwa kedudukan KUHD terhadap KUHS adalah sebagai Hukum khusus terhadap hukum umum. Van kan beranggapan, bahwa Hukum Dagang adalah suatu tambahan Hukum Perdata yaitu suatu

tambahan yang mengatur hal-hal yang khusus. KUHS memuat hukum perdata dalam arti sempit, sedangkan KUHD memuat penambahan yang mengatur hal-hal khusus hukum perdata dalam arti sempit itu. Van Apeldoorn menganggap Hukum dagang sebagai bagian istimewa dari lapangan Hukum Perikatan yang tidak dapat ditetapkan dalam kitab III KUHS. Sukardono menyatakan bahwa, pasal 1 KUHD memelihara kestuan antara Hukum Dagang dengan

hukum Perdata Umum.sekedar tidak menyimpang dari KUHS. Tirtamijaya menyatakan bahwa Hukum Dagang adalah suatu hukum sipil yang istimewa. PERBUATAN PERNIAGAAN PASAL 2-5 KUHD LAMA Hukum dagang timbul karena adanya kaum pedagang. Jadi, hukum dagang bagi pedagang. Dalam pasal 2 KUHD disebutkan bahwa: Pedagang adalah mereka yang melakukan perbuatan perniagaan (daden van koophandel) sebagai pekerjaannya sehari-hari. Sedangkan perbuatan perniagaan dijelaskan di

dalam pasal 3 KUHD. Pasal 4 KUHD juga mengatur mengenai beberapa macam perbuatan lain dalampengertian perbuatan perniagaan. Dan pasal 5 KUHD juga mengatur tentangperbuatan perniagaan. Namun, pasal 2 sampai 5 KUHD ini telah dicabut dengan S.1938-276, yang mulai berlaku pada tanggal 17 Juli 1938. Menurut pasal 2 yang lama KUHD bahwa: Pedagang adalah mereka yang melakukan perbuatan perniagaan sebagai pekerjaannya sehari-hari. Perbuatan perniagaan menurut pasal 3 yang lama KUHD adalah perbuaan perniagaan pada umumnya adalah perbuatan pembelian barang-barang untuk dijual lagi. Barang menurut hukum adalah barang bergerak, kecuali pasal 3 lama KUHD perbuatan perniagaan juga diatur pada pasal 4 yang memasukkan beberapa perbuatan lain dalam pengertian perbuatan perniagaan antara lain: 1. Perusahaan komisi 2. Perniagaan wesel dan surat 3. Pedagang , Bankir, kasir dan makelar 4. Pembangunan / perbaikan dan perlengkapan kapal untuk keperluan dikapal. 5. Ekspedisi dan pengangkutan* barang. 6. Jual beli perlengkapan dan keperluan kapal 7. Carter mencarter kapal yang merupakan perjanjian tentang perniagaan laut. 8. Perjanjian hubungan kerja dgn nakoda dan anak kapal untuk kepentingan kapal. 9. Perantara atau makelar laut. 10. Perusahaan asuransi. Pasal 5 KUHD : Perbuatan yg timbul dr kewajiban menjalankan kapal, kewajiban mengenai tubrukan kapal PENGERTIAN PERUSAHAAN 1. Menurut pemerintah Belanda, yang pada waktu membacakan memorie van toelichting rencana undang-undang Wetboek van Koophandle di muka Parlemen, menerangkan bahwa yang disebut perusahaan ialah keseluruhan perbuatan, yang dilakukan secara tidak terputus-putus, dengan terang-terangan, dalam kedudukan tertentu dan untuk mencari laba (bagi diri sendiri); 2. Menurut Prof. Molengraff, perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus menerus, bertindak keluar, untuk mendapatkan penghasilan, dengan cara memperniagakan barang-barang, menyerahkan barang-barang, atau mengadakan

perjanjian-perjanjian perdagangan. Di sini Molengraff memandang perusahaan dari sudut ekonomi; 3. Menurut Polak, baru ada perusahaan, bila diperlukan adanya perhitungan-perhitungan tentang laba-rugi yang dapat diperkirakan, dan segala sesuatu itu dicatat dalam pembukuan. Di sini Polak memandang perusahaan dari sudut komersiil. Sudut pandang ini adalah sama dengan Molengraff, tetapi unsur pengertian perusahaan adalah lain. Pengertian perusahaan menurut molengraff mempunyai enam unsur, sedangkan menurut Polak cukup dua unsur. PENGUSAHA DAN PEMBANTUNYA Pengusaha adalah seorang yang melakukan atau menyuruh melakukan perusahaan. Kedudukan pengusaha : Dia dapat melakukan perusahaannya sendirian tanpa pembantu Melakukan perusahaannya dengan pembantu-pembantunya Menyuruh orang lain untuk melakukan perusahaannya tetapi dia tidak turut serta dalam memlakukan perusahaan Pembantu-pembantu perusahaan: 1. Pembantu-pembantu dalam perusahaan : Pelayan toko >> semua pelayan yang memabntu pengusaha (kasir, pelayan penjual, bagian pembukuan) Pekerja keliling >> orang yang bekerja keliling di luar kantor untuk memperluas dan memperbanyak perjanjia antara majikan dengan pihak ketiga Pengurus filial >> orang yang bertugas mewakili pengusaha mengenai semua hal tetapi terbatas pada 1 cabang perusahaan saja Pemegang prokurasi >> pemegang kuasa dari perusahaan dan sebagai wakil pimpinan Pimpinan perusahaan >> pemegang kuasa pertama dari pengusaha (manager)

2. Pembantu-pembantu di luar perusahaan : Agen >>Adalah org yg melayani beberapa pengusaha sebagai perantara dgn pihak ketiga >>Mempunyai hubungan tetap dgn pengusaha untuk mewakili mengadakan perjanjian dengan pihak ketiga >>Hub.hukumnya berupa pemberian kuasa dan tetap

Pengacara

>>Mewakili pengusaha dalam permasalahan hukum baik didalam pengadilan maupun diluar >>Hubungan hukum berupa pemberian kuasa dan pelayanan berkala

Notaris >>Membuat perjanjian dengan pihak ketiga >>Hubungan hukum yakni pemberian kuasa dan pelayanan berkala

Makelar >>Perantara yg menghubungkan pengusaha dgn pihak ketiga untuk mengadakan berbagai perjanjian (psl.62-72 WvK) >>Makelar harus diangkat resmi dari pemerintah c.q menteri kehakiman (psl.62 ayat 1WvK) >>Sebelum menjalankan tugasnya harus diambil sumpah oleh Ka.PN (psl.62 ayat 2)

Komisioner (psl.76-85WvK) Orang yg menjalankan perusahaan dgn membuat perjanjian atas namanya sendiri, mendapat provisi atas perintah dan atas pembiayaan org lain. Ciri khs Komisioner :

1. Tidak ada pengangkatan dan sumpah 2. Komisioner menghubungkan komiten dng pihak ketiga atas namanya sendiri (psl.76) 3. Komisioner tdk berkewajiban u/ menyebut namanya komiten 4. Komisioner jg bertindak atas nama pemberi kuasanya

Hubungan Perburuhan Didasarkan atas Perjanjian Melakukan Pekerjaan (Bab VII A, BUKU III BW). Perjanjian ini meliputi perjanjian pelayanan berkala (psl.1601 BW), perjanjian perburuhan (psl.1601a BW) dan perjanjian pemborongan (psl.1601b jo.psl.1604-1617BW). Hubungan perburuhan ini bersifat sub ordinat (atas bawah)

Hubungan Pemberian Kuasa Diatur di pasal 1792 BW, pengusaha sbg pemberi kuasa dan manager sbg pemegang kuasa.

Pemberian kuasa adalah suatu perjanjian dimana seseorang memberikan kekuasaan kpd org lain untuk mentelenggarakan urusan atas nama pemberi kuasa. Perjanjian pemberian kuasa ini bersifat sederajat dan dapat terjadi tanpa mengharap upah

PERSEKUTUAN PERDATA PERSEKUTUAN PERDATA Diatur dalam Pasal 1618 s.d. 1652 KUHPerdata, Buku III, Bab VIII tentang Perserikatan Perdata (Burgerlijk Maatschap). a. Pengertian Persekutuan Perdata Persekutuan sebagai suatu perjanjian dimana dua orang atau lebih mengikatkan diri untuk memasukkan sesuatu ke dalam persekutuan dengan maksud untuk membagi keuntungan (Pasal 1618 KUHPerdata). Unsur-unsur dalam Persekutuan Perdata meliputi : 1. Adanya pemasukan sesuatu ke dalam perserikatan (inbreng). 2. Inbreng dapat berupa uang, barang (materiil/immaterial), atau tenaga (Pasal 1619 KUHPerdata). 3. Adanya pembagian keuntungan atau kemanfaatan diperoleh dari pemasukan Tersebut.

Persekutuan Perdata yang bertindak keluar terhadap pihak ketiga dengan terang-terangan dan terus menerus untuk mendapatkan laba berubah menjadi Persekutuan Perdata atau Perserikatan Perdata Jenis Khusus (Pasal 1623 KUHPerdata). b. Pembagian Keuntungan Persekutuan Perdata

Diatur dalam perjanjian pendirian Persekutuan Perdata, dengan ketentuan tidak boleh memberikan keuntungan hanya pada satu orang, tapi boleh membebankan kerugian pada satu sekutu (Pasal 1635 KUHPerdata). Apabila dalam perjanjian tidak diatur mengenai pembagian keuntungan, maka berpedoman pada Pasal 1633 KUHPerdata. Pembagian keuntungan berdasarkan pada asas keseimbangan pemasukan, artinya : 1) Pembagian dilakukan menurut harga nilai dari pemasukan masing-masing

sekutu kepada persekutuan. 2) Sekutu yang hanya memasukkan kerajinan saja pembagiannya sama dengan sekutu yang nilai barang pemasukkannya terendah, kecuali ditentukan lain. 3) Sekutu yang hanya memasukkan tenaga kerja mendapat bagian keuntungan sama rata, atau disamakan dengan sekutu yang memasukkan uang atau benda terkecil, kecuali ditentukan lain (Pasal 1633 ayat (2) KUHPerdata) c. Pendirian Persekutuan Perdata Persekutuan Perdata didirikan berdasarkan perjanjian diantara para pihak (asas konsensualisme) dan tidak memerlukan pengesahan Pemerintah

d. Pertanggung Jawaban Sekutu Perbuatan hukum seorang sekutu yang dilakukan dengan pihak ketiga hanya mengikat sekutu yang bersangkutan dan tidak mengikat sekutu-sekutu yang lain (Pasal 1644 KUHPerdata), kecuali bila : 1) Sekutu-sekutu yang lain telah memberikan kuasa untuk itu. 2) Perbuatan sekutu tersebut secara nyata memberikan manfaat bagi persekutuan. e. Status Hukum Persekutuan Perdata Berdasarkan Pasal 1644 KUHPerdata maka Persekutuan Perdata bukan termasuk badan hukum, karena pada suatu badan hukum, perbuatan seorang sekutu atas nama persekutuan akan mengikat persekutuan tersebut terhadap pihak ketiga. Terbentuknya Persekutuan Perdata tidak memerlukan pengesahan Pemerintah sebagai syarat formil suatu badan hukum. f. Berakhirnya Persekutuan Perdata Berdasarkan Pasal 1646 KUHPerdata, Persekutuan Perdata dapat berakhir akibat : 1) Lewatnya waktu dimana persekutuan diadakan. 2) Musnahnya barang atau selesainya perbuatan yang menjadi pokok persekutuan. 3) Atas kehendak semata-mata dari beberapa sekutu.

4) Salah satu sekutu meninggal, berada di bawah pengampunan atau jatuh pailit

PERSEKUTUAN FIRMA

PERSEKUTUAN Persekutuan Firma diatur dalam

FIRMA Pasal 16 s.d. Pasal 35

(Fa) KUHDagang.

a. Pengertian Firma Firma berasal dari bahasa Belanda venootschap onder firma yang berarti sebuah perserikatan dagang antara beberapa perusahaan. Firma adalah suatu Persekutuan Perdata yang menyelenggarakan perusahaan atas nama bersama dan tiap-tiap sekutu yang tidak dikecualikan satu dengan lain hal dapat mengikatkan Firma dengan pihak ketiga dan mereka masing-masing bertanggung jawab atas seluruh hutang Firma secara tanggung-menanggung (Pasal 16 s.d. Pasal 18 KUHDagang). Dasar Hukum Persekutuan Firma adalah suatu Maatschap dan sebagai Maatschap khusus, Persekutuan Firma mempunyai unsur-unsur khusus, yaitu : 1) Misal Selalu : menyelenggarakan membuat perusahaan (Pasal 16 KUHDagang). dll.

Pembukuan,

Pendaftaran

Perusahaan,

2) Mempunyai nama bersama (Pasal 16 KUHDagang). Kata Firma berarti nama bersama, yaitu nama sekutu yang dipakai menjadi nama perusahaan. Misal : salah satu sekutu bernama Budiman, maka nama perusahaannya menjadi Fa. Budiman Bersaudara 3) Pertanggungjawabannya tanggung-menanggung atau bersifat pribadi untuk keseluruhan (Hoofdellijk voor het geheel) dan pada asasnya tiap-tiap sekutu dapat mengikatkan Firma dengan pihak ketiga (Pasal 18 KUHDagang). b. Pendirian Firma Persekutuan Firma terbentuk sejak adanya kata sepakat secara lisan atau tertulis antara para sekutu (pendiri), baik dengan akta otentik maupun akta di bawah tangan (Pasal 16 KUHDagang jo. Pasal 1618 KUHPerdata). Bentuk perjanjian mendirikan Persekutuan Firma adalah perjanjian konsensuil. Tata cara (prosedur) pendirian Firma menurut KUHDagang adalah : 1) Pembentukan Firma Akta pendirian Firma yang dibuat di hadapan Notaris, tidak menjadi syarat mutlak terbentuknya Persekutuan Firma tetapi hanya sebagai alat bukti utama terhadap pihak ketiga mengenai keberadaan Firma tersebut (Pasal 22 KUHDagang). Ketentuan bahwa ketiadaan akta tidak boleh dikemukakan untuk merugikan pihak ketiga dimaksudkan bahwa tidak adanya akta otentik tidak boleh digunakan sebagai dalih bagi pihak ketiga bahwa Firma itu tidak ada, sehingga dapat merugikan pihak ketiga. Sebaliknya pihak ketiga dapat membuktikan adanya Persekutuan Firma dengan alat bukti lainnya, seperti suratsurat, saksi, dll.

2) Pendaftaran Firma Persekutuan Firma harus mendaftarkan akta pendiriannya atau hanya petikannya saja ke kepaniteraan Pengadilan Negeri di mana Persekutuan Firma tersebut didirikan (Pasal 23 dan Pasal 24 KUHDagang). Petikan Akta Pendirian Persekutuan Firma harus memuat : a. Nama, nama depan, pekerjaan dan tempat tinggal para sekutu firma. b. Menyebutkan keterangan apakah persekutuan itu umum atau hanya terbatas pada suatu cabang perusahaan khusus. c. Penunjukan sekutu-sekutu yang dikecualikan dari hak menandatangani untuk firma. d. Saat mulai berlakunya dan akan berakhirnya persekutuan. e. Bagian-bagian dari persetujuan persekutuan guna menentukan hak-hak pihak ketiga terhadap persekutuan. Tujuan mendaftarkan Akta Pendirian Persekutuan Firma adalah bahwa pihak ketiga tidak perlu mengetahui tentang besarnya modal Persekutuan maupun persoalan yang terjadi di antara para sekutu yang sifatnya pribadi dan tidak ada hubungannya dengan pihak ketiga. 3) Pengumuman Firma Akta pendirian Firma harus diumumkan dalam Berita Negara RI (Pasal 28 KUHDagang). Sesuai Pasal 29 KUHDagang, Persekutuan Firma yang belum melakukan pendaftaran dan pengumuman, maka Persekutuan Firma tersebut harus dianggap sebagai : a. Persekutuan Umum yang menangani segala urusan perniagaan. b. Didirikan untuk waktu tidak terbatas. c. Seolah-olah tidak ada seorang sekutu pun yang dikecualikan dari hak bertindak perbuatan hukum dan hak menandatangani atas nama firma. Apabila sekutu melanggar ketentuan-ketentuan dalam Anggaran Dasar sebelum Firma didaftarkan dan diumumkan, maka pihak ketiga dapat menuntut kepada Persekutuan Firma, dengan cara memperhitungkan pelanggaran yang harus dipertanggungjawabkan secara pribadi oleh sekutu yang melakukan pelanggaran tersebut. c. Pertanggung Jawaban Sekutu Firma Dalam hal pengurus Persekutuan (Pasal 17 KUHDagang), apabila tidak dibuat peraturan-peraturan khusus mengenai cara-caranya mengurus, maka : 1) Para sekutu dianggap secara timbal-balik telah memberi kuasa supaya yang satu melakukan pengurusan bagi yang lain.

2) Para sekutu boleh menggunakan barang-barang kekayaan Persekutuan asalkan sesuai dengan tujuan dan kepentingan Persekutuan. 3) Para sekutu wajib turut memikul biaya yang diperlukan untuk pemeliharaan barang-barang Persekutuan.

4) Para sekutu tidak boleh membuat hal-hal yang baru terhadap benda-benda tidak bergerak dari Persekutuan, tanpa persetujuan sekutu-sekutu yang lain. Pengurus Persekutuan wajib memelihara harta kekayaan Persekutuan dan mengusahakan agar Persekutuan dapat berjalan lancar sesuai dengan tujuannya. d. Kewajiban Para Sekutu Firma Kewajiban untuk melakukan pemasukan (inbreng) bagi para sekutu tidak menyebabkan Persekutuan Firma berubah menjadi Persekutuan Modal. Tetapi dengan adanya perjanjian kerja sama dengan nama bersama, Persekutuan Firma merupakan Persekutuan Orang (Personen Vennootschap), yang peranan modal dan peranan sekutu-sekutunya menjadi satu.

Hal 1)

ini

akan dan

bertambah pemasukan

jelas sekutu

bahwa harus

pada disetujui

Persekutuan oleh semua

Firma sekutu

: (Pasal

Penggantian

1641 KUHPerdata). 2) Tidak dibenarkan salah seorang pesero melakukan perbuatan konkurensi/persaingan terhadap perseroan (Pasal 16 KUHDagang jo. Pasal 1618 KUHPerdata). 3) Adanya tanggung jawab tanggung-menanggung (Pasal 18 KUHDagang). 4) Pada asasnya semua pesero turut serta dalam kepengurusan (Pasal 1630 KUHPerdata - Pasal 17 KUHDagang). 5) Adanya asas kerja sama mengharuskan pengutamaan Persekutuan di atas kepentingan pribadi para sekutu (Pasal 1628 KUHPerdata). Para sekutu wajib menyetorkan sesuatu ke dalam Persekutuan. Apabila kewajiban tersebut belum dipenuhi, maka sekutu berhutang kepada Persekutuan (Pasal 1625 KUHPerdata). Sesuatu yang disetorkan para sekutu ke dalam Persekutuan dapat berupa : 1) Benda atau barang tertentu. Dasar penyetorannya adalah perjanjian jual-beli. Para sekutu sebagai penjual, sedangkan Persekutuan sebagai pembeli. Jika barang yang disetorkan pada Persekutuan bukan milik pribadi sekutu dan diminta kembali oleh pemiliknya atau barang tersebut cacat dan tidak bisa

digunakan, maka sekutu yang bersangkutan harus mengganti barang itu dengan sejumlah uang senilai barang atau menggantinya dengan barang lain yang sejenis 2) Manfaat atau penggunaan dari barang/benda. Perlu dilihat apakah barang tersebut mudah musnah/habis karena penggunaannya. Maka risiko pertama dipikul oleh para sekutu dan risiko kedua dipikul oleh persekutuan (Pasal 1631 KUHPerdata). 3) Uang. Jika sekutu terlambat menyetorkan uang, maka akan dibebani bunga atas jumlah uang yang telah disepakati. Besarnya bunga dihitung mulai dari saat sekutu menghadap Pengadilan dan ditentukan oleh undang-undang (Pasal 1250 KUHPerdata). Apabila sekutu memakai uang dari kas persekutuan untuk keperluan pribadi, maka bunga dihitung sejak hari ia mengambil uang itu (Pasal 1626 KUHPerdata). 4) Tenaga kerja. Digunakan untuk mencapai tujuan Persekutuan dan seluruh hasil yang diperoleh hanya untuk Persekutuan. Sekutu bertanggung jawab dan wajib memberikan perhitungan kepada persekutuan atas semua keuntungan yang diperoleh dari pekerjaannya (Pasal 1627 KUHPerdata). e. Status Hukum Persekutuan Firma Bahwa Persekutuan Firma adalah badan hukum, karena berlaku sebagai badan hukum yang berarti berlaku sebagai persoon terhadap hukum, juga sebagai subjek hukum yang mempunyai hak dan kewajiban hukum sendiri (Pasal 16, 17 dan 18 KUHDagang). Tetapi pendapat yang umum di Indonesia menyatakan bahwa Persekutuan Firma belum merupakan badan hukum, karena meskipun dalam Firma sudah dipenuhi syarat-syarat materiil suatu badan hukum, tetapi syarat formilnya belum terpenuhi. f. Berakhirnya Firma Firma merupakan Persekutuan Perdata bentuk khusus, maka bubarnya Firma berlaku peraturan yang sama dengan Persekutuan Perdata yang diatur dalam Bab VIII, Buku III, KUHPerdata, mulai dari Pasal 1646 s.d. Pasal 1652 KUHPerdata, serta Pasal 31 s.d. Pasal 35 KUHDagang. g. Ciri dan Sifat Firma 1) Apabila terdapat hutang tak terbayar, maka setiap pemilik wajib melunasi dengan 2) 3) 4) 5) Setiap anggota firma firma anggota harta memiliki melekat mempunyai tidak hak dan hak untuk berlaku untuk menjadi seumur membubarkan akta pribadi. pemimpin. hidup. firma. pendirian.

Keanggotaan Seorang

Pendiriannya

memerlukan

6) Mudah memperoleh kredit usaha.

PERSEKUTUAN KOMANDITER Pengertian Persekutuan Komanditer Perseroan yang terbentuk dengan cara meminjamkan uang atau disebut juga perseroan komanditer, didirikan antara seseorang atau antara beberapa orang persero yang bertanggung jawab secara tanggung-renteng untuk keseluruhannya, dan satu orang atau lebih sebagai pemberi pinjaman uang. (Pasal 19 ayat (1) KUHDagang) Persekutuan Komanditer adalah persekutuan firma dengan suatu keistimewaan yang dibentuk oleh satu atau beberapa orang sekutu komanditer, dimana modal komanditernya berasal dari pemasukan para sekutu komanditer, sehingga Persekutuan Komanditer mempunyai harta kekayaan yang terpisah (Pasal 19 ayat (2) KUHDagang). Macam-macam Sekutu 1) Sekutu Kerja/Sekutu Aktif/Sekutu Komplementer adalah sekutu yang memasukkan modal dalam persekutuan, menjadi pengurus Persekutuan, mengelola usaha secara aktif yang melibatkan harta pribadi, termasuk membuat perikatan atau hubungan hukum dengan pihak ketiga. Tanggung jawab sekutu ini sampai pada harta pribadinya (Pasal 18 KUHDagang) 2) Sekutu Tidak Kerja/Sekutu Pasif/Sekutu Komanditer (Sleeping Partners/stille vennoot) adalah sekutu yang wajib menyerahkan uang/benda/tenaga pada persekutuan sebagai pemasukan dan berhak menerima keuntungan tapi tidak bertugas mengurus Persekutuan. Sekutu ini hanya sebagai pelepas uang (geldschieter), pemberi uang atau orang yang mempercayakan uangnya. Tanggung jawab sekutu ini terbatas pada jumlah pemasukannya dalam persekutuan, sehingga tidak berwenang ikut campur dalam pengurusan persekutuan. Bila dilanggar maka tanggung jawabnya diperluas yaitu tanggung jawab pribadi untuk keseluruhan seperti pada sekutu kerja (Pasal 21 KUHDagang). Status Hukum

Pendapat yang umum di Indonesia menyatakan bahwa Persekutuan Komanditer belum merupakan badan hukum, karena meskipun dalam Persekutuan Komanditer sudah memenuhi syarat-syarat materiil suatu badan hukum, tetapi pengesahan dari Pemerintah belum dipenuhi sebagai syarat formilnya. Hubungan Intern atau Ekstern Para Sekutu Dalam soal pengurusan Persekutuan, sekutu komanditer dilarang melakukan pengurusan meskipun dengan surat kuasa. Ia hanya boleh mengawasi pengurusan jika memang ditentukan demikian di dalam Anggaran Dasar persekutuan.

Dalam CV hanya sekutu komplementer yang boleh mengadakan hubungan terhadap pihak ketiga. Jadi yang bertanggung jawab kepada pihak ketiga hanya sekutu komplementer. Berakhirnya Persekutuan Komanditer Ketentuan berakhirnya persekutuan komanditer diatur dalam KUH Perdata pasal 1646 s.d 1652 serta KUH 1. 2. 3. Karena Karena Dagang Karena salah yang pasal ketentuan seorang menjadi anggoa obyek 31 s.d waktu meninggal 35 antara sudah dunia, jatuh sudah lain: habis; failit; punah;

persekutuan

4. Karena permintaan bubar dari anggota persektutuan sendiri.

Perseroan Terbatas Istilah Perseroan Terbatas Perseroan Terbatas (PT) disebut juga Naamloze Vennotschap (NV) atau Limited Company (Ltd.) diatur dalam UU No.1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (PT), yang mencabut berlakunya Pasal 35 s.d. Pasal 56 KUHDagang.

PERSEROAN TERBATAS Pengertian Perseroan Terbatas / Korporasi / Korporat 1) Adalah organisasi bisnis berbadan hukum resmi yang dimiliki oleh minimal dua orang dengan tanggung jawab yang hanya berlaku pada perusahaan tanpa melibatkan harta pribadi atau perseorangan yang ada di dalamnya. 2) Adalah Badan Hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini (Pasal 1 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1995).

Pendirian Dalam Pasal 7 ayat (1) UU PT menyatakan bahwa : "Perseroan Terbatas didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih dengan akta notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia". Dalam definisi atau persyaratan ini terdapat unsur-unsur pokok : i. "oleh dua orang" maksudnya adalah bahwa pendirian PT minimal harus ada dua orang, karena dalam mendirikan perusahaan atau badan hukum harus didasarkan pada perjanjian yang disebut "asas

kontraktual". Oleh karena itu "orang" dalam hal ini diartikan sebagai "orang perseorangan" atau sebagai "artificial person atau natuurlijk person" yaitu badan hukum. ii. "akta notaris artinya harus otentik dan tidak boleh di bawah tangan melainkan dibuat oleh pejabat umum. iii. "bahasa Indonesia" artinya bukan dalam bahasa Inggris atau bahasa-bahasa lainnya. Tetapi bukan berarti tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Undang-undang mewajibkan bahwa pada saat pendirian, setiap pendiri harus mengambil bagian saham atau sejumlah saham. Apabila ternyata setelah pengesahan oleh Menteri Kehakiman, pemegang saham perseroan menjadi kurang dari dua orang, maka pemegang saham wajib mengalihkan sebagian sahamnya kepada orang lain paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak keadaan tersebut terjadi (Pasal 7 ayat (3) UU PT). Apabila telah melewati batas waktu 6 (enam) bulan, sedangkan sebagian sahamnya belum juga dialihkan kepada orang lain atau pemegang sahamnya tetap kurang dari 2 (dua) orang, maka pemegang saham bertanggung jawab secara pribadi atas segala perikatan atau kerugian perseroan. Atas permohonan pihak yang berkepentingan, maka Pengadilan Negeri dapat membubarkan perseroan tersebut (Pasal 7 ayat (4) UU PT).

Modal & Saham Pemilik modal PT tidak harus memimpin perusahaan karena dapat menunjuk orang lain di luar pemilik modal untuk menjadi pimpinan. Untuk mendirikan PT dibutuhkan sejumlah modal minimal dalam jumlah tertentu dan berbagai persyaratan lainnya. 1) Struktur Modal Untuk membentuk perseroan diperlukan adanya modal perseroan (Pasal 24 UU PT) yang disebut modal dalam Anggaran Dasar, antara lain : a. Modal Dasar (authorized capital) adalah sejumlah modal yang dibutuhkan untuk menjalankan perusahaan. Pasal 25 UU PT menentukan bahwa Modal dasar PT minimal Rp. 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah). b. Modal ditempatkan (issued capital atau subcribed capital) adalah sebagian dari modal dasar yang telah disanggupi untuk diambil para pendiri atau para pemegang saham perseroan dalam bentuk saham, sehingga mereka mempunyai kewajiban untuk membayar atau melakukan penyetoran kepada perseroan. Dalam modal yang ditempatkan ini bisa termasuk saham treasury atau treasury stock. Pasal

26 ayat (1) UU PT menentukan bahwa pada saat pendirian PT, minimal 25 % dari modal dasar harus sudah ditempatkan. Saham treasury atau Treasury stock adalah saham yang telah dikeluarkan ke masyarakat oleh perseroan dan kemudian diambil/dibeli kembali. Saham treasury tidak memperoleh deviden dan tidak dapat dipergunakan dalam pemungutan suara karena selama dipegang oleh perseroan saham treasury tidak mempunyai hak suara. c. Modal disetor (paid up capital) adalah sejumlah modal yang benar-benar ada dalam kas PT. Pasal 26 ayat (2) UU PT menentukan bahwa setiap penempatan modal tersebut, 50% (lima puluh persen) dari nilai nominal setiap saham yang dikeluarkan harus telah disetor. Pasal 26 ayat (3) UU PT menegaskan bahwa sisa dana (50% lagi) atau seluruh saham yang telah dikeluarkan harus sudah disetor penuh pada saat pengesahan PT oleh Menteri Kehakiman RI dengan bukti penyetoran yang sah. 2) Penyetoran Atas Saham Saham adalah surat bukti penyertaan modal dalam kepemilikan suatu Perseroan Terbatas. Penyetoran atas saham bisa dalam bentuk uang atau dalam bentuk benda berwujud atau benda tidak terwujud yang dapat dinilai dengan uang. Penilaian harga tersebut ditetapkan oleh ahli yaitu perseorangan atau badan hukum yang disahkan oleh pemerintah dan berdasarkan keahlian atau pengetahuannya mampu untuk menilai harga benda tersebut dan tidak terikat pada perseroan. Penyetoran saham secara tunai dilakukan pada saat pendirian atau telah disetor penuh paling lambat sesudah perseroan memperoleh pengesahan sebagai badan hukum dari Menteri Kehakiman. Penyetoran harus disertai bukti penyetoran yang sah. Setelah perseroan menjadi badan hukum, maka setiap pengeluaran saham oleh perseroan harus dibayar penuh oleh pemegang saham. Penyetoran atas saham dalam bentuk lain selain dalam bentuk uang harus disertai rincian yang menerangkan nilai atau harga, jenis atau macam, status, tempat kedudukan dan lain-lain yang dianggap perlu demi kejelasan mengenai penyetoran tersebut. 3) Penambahan Modal Penambahan modal perseroan yaitu penambahan modal dasar, modal ditempatkan dan modal disetor dan hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan RUPS yang sah serta dilaksanakan sesuai dengan keputusan mengenai panggilan rapat, kuorum, dan jumlah suara untuk perubahan Anggaran Dasar. 4) Pengurangan Modal Pengurangan Modal adalah pengurangan modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor dan hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan RUPS serta dilaksanakan sesuai dengan keputusan

mengenai panggilan rapat, kuorum, dan jumlah suara untuk perubahan Anggaran Dasar (Pasal 35 UU PT).

Organ Organ PT adalah RUPS, Direksi dan Komisaris (Pasal 1 ayat (2) UU PT). 1) RUPS Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) adalah organ perseroan yang memegang kekuasaan tertinggi dalam perseroan dan memegang segala wewenang yang tidak diserahkan kepada Direksi atau Komisaris (Pasal 1 angka (3) UU PT). RUPS berhak memperoleh segala keterangan yang berkaitan dengan kepentingan PT dari Direksi dan Komisaris. 2) Direksi Direksi adalah organ perseroan yang bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai ketentuan Anggaran Dasar (Pasal 1 angka (4) UU PT). 3) Komisaris Komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan atau khusus serta memberikan nasehat kepada Direksi dalam menjalankan perseroan (Pasal 1 angka (5) UU PT).

Pembubaran & Likuiditas PT Pasal 114 UU PT menentukan suatu perseroan menjadi bubar atau berakhir karena : 1) Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham. 2) Jangka waktu PT sudah berakhir. 3) Bubar karena penetapan Pengadilan. 4) Penetapan Pengadilan tentang pembubaran PT dilakukan berdasarkan permohonan dari : a. Kejaksaan, karena dugaan bahwa perseroan melanggar kepentingan umum. b. Pemegang saham mewakili paling sedikit 10% suara. c. Pihak yang berkepentingan berdasarkan alasan adanya cacat hukum dalam Akta Pendirian PT.

Pasal 124 mengenai likuidasi PT (1) Likuidator bertanggungjawab kepada RUPS atas likuidasi yang dilakukan. (2) Sisa kekayaan hasil likuidasi diperuntukkan bagi para pemegang saham.

(3) Likuidator wajib mendaftarkan dan mengumumkan hasil akhir proses likuidasi sesuai dengan ketentuan Pasal 21 dan Pasal 22 serta mengumumkannya dalam 2 (dua) surat kabar harian.

PERUSAHAAN NEGARA Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan badan usaha yang dikenal dengan public enterprise, yang berisikan dua elemen esensial, yaitu unsur pemerintah (public) dan unsur bisnis (enterprise). Seberapa besar persentase masing-masing unsur itu di suatu BUMN tergantung pada tipe dan jenis BUMN nya (Pandji Anoraga, 1997); BUMN dibentuk melalui undang-undang. Artinya dikehendaki oleh pemerintah dan disetujui oleh DPR. Oleh karena itu BUMN adalah produk politis. (Chairuman Armia, 1989). Dengan demikian keberadaan BUMN merupakan alat untuk melaksanakan tujuan politik pemerintahan; Terdapat 3 (tiga) makna public dalam BUMN (public enterprise), yaitu: 1. Public purpose, bisa dijabarkan sebagai tujuan pemerintah untuk mencapai cita-cita di bidang sosial, politik dan ekonomi, untuk kesejahteraan bangsa dan negara; 2. Public ownership, kepemilikan dikuasai oleh pemerintah, karena saham mayoritas dikuasai oleh pemerintah; 3. Public controll, program kerja dan kinerja diawasi oleh pemerintah, sebagai pemegang saham mayoritas;

Fenomena BUMN merupakan fenomena universal. Berkaitan dengan sistem ekonomi apapun, selalu terdapat sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan dinilai vital strategis yang tidak bisa diserahkan kepada perorangan atau perusahaan swasta murni kecuali kepada BUMN dengan misi khuusus melayani hajat hidup orang banyak secara adil dan harga terjangkau. Sebagai contoh, sektor utilitas publik (e.g. Kereta Api) merupakan sektor ekonomi yang menuntut monopoli secara natural;

Namun dalam perkembangannya, banyak BUMN mengalami transformasi menuju swastanisasi (privatisasi), dengan prinsip bahwa tujuan ahir dari sebuah BUMN bukanlah status kepemilikannya, namun pelayanan publiklah yang harus diprioritaskan

Dalam aktifitas perekonomian Indonesia, BUMN merupakan pelaku ekonomi yang paling besar peranannya. Contoh: Pertamina, Telkom, Garuda, Lembaga Keuangan, dan PLN;

Namun, gambaran umum BUMN adalah organisasi bisnis yang gemuk dan lamban, kurang bisa menjawab tantangan era globalisasi yang memerlukan kecepatan sebagi faktor untuk memenangkan persaingan;

Penyebabnya a.l. masalah struktur, karena terkait dengan birokrasi pemerintah, sehingga memaksa manajemen lebih bersifat birokratis;

Di samping itu, BUMN dikondisikan monopolistis yang kurang mendukung efisiensi pengelolaan usaha, sehingga apabila bergerak di pasar bebas tidak biasa/bisa bersaing. (Tanri Abeng, 1997)

Beberapa upaya untuk melepaskan monopoli a.l. dengan cara kerjasama operasional (KSO), Built, oparate, and Transfer (BOT) dsb. BUMN utilitas publik, sebagian telah diubah dari status semula berbentuk perjan atau perum menjadi persero;

I.

Perusahaan Negara Jawatan (Perjan)

Perjan adalah suatu bentuk usaha negara yang merupakan perpanjangan tangan atau merupakan bagian dari suatu departemen dalam melaksanakan pelayanannya kepada masyarakat; Dengan demikian kegiatan yang dilakukan perjan terutama ditujukan untuk keperluan dan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari tugas pokok salah satu departemen dengan tetap memperhatikan segala segi efisiensinya. Oleh karenanya perjan dapat memiliki fasilitas-fasilitas negara dan status pegawainya adalah sebagai pegawai negeri. Menurut UU no. 9 tahun 1969, ciri-ciri Perjan (IBW) Govermental Agency, adalah: 1. Makna usaha dan tujuan perusahaan adalah public service; 2. Status hukum bukan badan hukum; 3. Hubungan organisatoris dengan pemerintah sebagai bagian dari departemen/ditjen (tidak otonom); 4. Pemilikan/penguasaan dep/ditjen/dit; 5. Pengurusan oleh pemerintah; pemimpin adalah kepala jawatan yang diangkat oleh pemerintah; 6. Pengawasan oleh pemerintah; langsung dan secara hierarkis fungsional, pemeriksaan dilakukan oleh akuntan negara, dan neraca disyahkan oleh menteri; 7. Kekayaan/permodalan; dari pemerintah melalui anggaran belanja tahunan; 8. Status kepegawaian; pegawai negeri; 9. Ruang lingkup kegiatan usaha; pada umumnya public utility yang bersifat vital dan strategis; II. PERUSAHAAN NEGARA UMUM (PERUM) pemerintah, sepenuhnya dan langsung seperti terhadap

Perum adalah perusahaan negara yang bertujuan mencari keuntungan namun tetap tidak mengabaikan kesejahteraan masyarakat; Dalam Inpres no. 17 tanggal 28 Desember 1967, dinyatakan, kegiatan usaha Perum terutama ditujukan untuk melayani kepentingan umum baik kepentingan di bidang produksi, distribusi maupun konsumsi tanpa mengabaikan prinsip-prinsip efisiensi; Direksi yang memimpin Perum bertanggung jawab atas segala hubungan hukum dengan pihak lain; diatur menurut hukum perdata; Tuntutan-tuntutan hukum dari pihak luar ditujukan kepada perusahaan, sebab Perum berstatus sebagai badan hukum; Semua kegiatan, hubungan dan tata laksana organisasi diatur secara khusus dan tidak terlepas dari peraturan tentang pembentukan perum tersebut. Menurut UU 19 prp. Tahun 1960, ciri-ciri Perum (Public Corporation), adalah: 1. Makna usaha dan tujuan perusahaan adalah public service dan profit; seimbang/ kondisional; 2. Status hukum adalah badan hukum, berdasarkan UU 19 prp. Tahun 1960 dan peraturan pemerintah tentang pendirian; 3. Hubungan organisatoris dengan pemerintah; berdiri sendiri sebagai kesatuan organisasi yang terpisah (otonom); 4. Pemilikan/penguasaan pemerintah, sepenuhnya dan tidak langsung, yaitu melalui penanaman kekayaan negara yang dipisahkan; 5. Pengurusan oleh pemerintah; pimpinan adalah suatu direksi yang diangkat oleh pemerintah; 6. Pengawasan oleh pemerintah; melalui pejabat atau badan yang berfungsi sebagai komisaris. Pemeriksaan oleh akuntan negara, dan neraca disyahkan oleh menteri; 7. Kekayaan/permodalan; dari kekayaan negara yang dipisahkan dan merupakan modal dasar Perum. Modal tidak terbagi dalam saham; 8. Status kepegawaian; pegawai perusahaan negara berdasarkan undang-undang tersediri; 9. Ruang lingkup kegiatan usaha; pada umumnya usaha-usaha pentinmg berupa public utility /service; III. Perseroan Terbatas Negara atau PT (Persero) PT (Persero) merupakan salah satu bentuk perusahaan milik negara yang sebelumnya bernama perusahaan negara (PN). Pada umumnya persero ini terjadi dari PN kemudian dilakukan penambahan modal yang ditawarkan kepada pihak swasta. Pada nama perusahaan diberi tanda (Persero), seperti PT. (Persero) Pupuk Kujang;

Menurut Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1969; Persero adalah semua perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas dan diatur menurut Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dalam mana seluruh atau sebagian saham-sahamnya dililiki oleh negara dari kekayaan negara yang dipisahkan; Tujuan persero adalah mencari keuntungan maksimum dengan menggunakan faktor-faktor produksi yang ada secara efisien; Dasar hukum perubahan bentuk PN menjadi Persero adalah: 1. Inpres no. 17 tanggal 28 Desember 1967; 2. Perpu no. 1 tahun 1969; 3. PP no. 12 tahun 1969. Menurut Inpres 17 tahun 1967, ciri-ciri pokok persero adalah: 1. Makna usaha adalah untuk mencari keuntungan; 2. Status hukum sebagai hukum perdata berbentuk Perseroan Terbatas; 3. Hubungan usaha diatur menurut hukum perdata; 4. Modal seluruhnya atau sebagian merupakan milik negara dari kekayaan negara yang dipisahkan. 5. Tidak memiliki fasilitas negara; 6. Pimpinan dipegang oleh direksi; 7. Karyawan berstatus sebagai karyawan perusahaan 8. Peranan pemerintah adalah sebagai pemegang saham. Hak suara didasarkan pada banyaknya suara yang dimiliki atau menurut perjanjian yang telah ditentukan sebelumnya. Selanjutnya, PP Nomor 12 Tahun 1969 mengatur bahwa bentuk PN dapat dialihkan menjadi persero apabila telah memenuhi syarat-syarat berikut: 1. Telah melakukan penyehatan sedemikian rupa sehingga perbandingan antara faktor-faktor produksi menunjukan perbandingan yang rasional; 2. Telah menyusun neraca dan perkiraan rugi laba sampai saat dijadikan persero dengan ketentuan bahwa neraca likuidasinya diperkirakan oleh Direktorat Akuntan Negara dan disyahkan oleh menteri yang bersangkutan; 3. Telah melunasi semua hutang-hutangnya kepada kas umum negara; 4. Ada harapan untuk mengembangkan usahanya tanpa rugi. Persero (KUHD) Government/State Company: 1. Makna usaha, tujuanperusahaan: profit sebagai titik berat (mencari keuntungan);

2. Status hukum: sebagai badan hukum perdata berdasarkan KUHD dan PP pendirian (Akta Notaris); 3. Hubungan organisatoris dengan pemerintah; berdiri sendiri sebagai kesatuan organisasi yang terpisah (otonom); 4. Pemilikan/penguasaan pemerintah, dapat sepenuhnya atau sebagian, yaitu melalui pemilikan saham secara keseluruhan atau sebagian; 5. Pengurusan oleh pemerintah; pimpinan adalah direksi yang diangkat oleh RUPS; 6. Pengawasan oleh pemerintah; melalui Dewan Komisaris yang diangkat oleh RUPS; 7. Kekayaan/permodalan; dari kekayaan negara yang dipisahkan dan merupakan modal dasar persero, untuk keseluruhan atau sebagian modal perseroan, terbagi dalam saham-saham; 8. Status kepegawaian; pegawai perusahaan swasta biasa; 9. Ruang lingkup kegiatan usaha; seperti pada perusahaan swasta biasa.

PERJAN Public service Bagian dari

PERUM Public service

PERSERO Memupuk keuntungan

dept, Berstatus Badan Hukum yg Bdn Hk. Perdata berbentuk PT.

dirjen/direktorat/ pemda diatur UU Hub. Hk. Publik Di bidang jasa vital Hub. Usaha secara perdata

Dipimpin oleh seorang Dipimpin oleh Dewan Direksi Dipimpin oleh Direksi kepala (max. 5 org) nama & kekayaan Punya kekayaan yang terpisah

Tidak punya kekayaan Punya sendiri Memperoleh negara Modal seluruhnya milik Modal negara Pegawai berstatus PNS negara sendiri fasilitas Tidak

Tidak

seluruhnya

milik Bisa sebagian bisa seluruhnya

Pegawainya

diatur

secara Pegawai berstatus pegawai swasta

tersendiri, bukan PNS, bukan

swasta

Pengawasan

secara Pengawasan Pengawas

oleh &

Dewan Pengawasan oleh komisaris & SPI Satuan

hirarki & fungsional

Pengawasan Intern Tidak mandiri Tergantung politik tarif & Mandiri harga dari pemerintah