Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sel adalah unit fungsional terkecil suatu organisme. Sel-sel yang memiliki asal embrionik atau fungsi yang sama akan membentuk suatu organisasi yang memiliki fungsional lebih besar yaitu jaringan. Jaringan ini kemudian akan bergabung untuk membentuk struktur tubuh dan organ-organ. Meskipun sel-sel di setiap jaringan dan organ memiliki variasi struktur dan fungsi yang berbeda, ada beberapa karakteristik umum yang dimiliki semua sel. Sel memiliki kemampuan untuk mendapatkan energi dari nutrien organik di sekitarnya, mensintesis berbagai kompleks molekul, dan bereplikasi (Mattson, 2006). Salah satu kemampuan sel adalah beradaptasi dengan lingkungannya. Kemampuan sel untuk beradaptasi sangat penting karena setiap hari, bahkan hampir setiap detik, sel-sel tubuh terpapar oleh berbagai kondisi. Adaptasi juga dibutuhkan oleh sel untuk menghadapi suatu kondisi fisiologis tubuh itu sendiri, contohnya perbesaran ukuran uterus saat wanita hamil. Terkadang gangguan proses adaptasi ini bisa menjadi awalan dari suatu mekanisme awal terjadinya suatu penyakit. Oleh karena itu sangat penting untuk mempelajari adaptasi sel agar pembelajaran mengenai mekanisme terjadinya suatu penyakit dapat lebih mudah dipahami (Mattson, 2006).

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana mekanisme atrofi? 2. Bagaimana mekanisme hipertrofi? 3. Bagaimana mekanisme hiperplasia? 4. Bagaimana mekanisme metaplasia?

1.3 Tujuan 1. Mengetahui dan memahami pengertian dan mekanisme atrofi 2. Mengetahui dan memahami pengertian dan mekanisme hipertrofi 3. Mengetahui dan memahami pengertian dan mekanisme hiperplasia 4. Mengetahui dan memahami pengertian dan mekanisme metaplasia

1.4 Manfaat 1. Mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan mengenai mekanisme atrofi 2. Mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan mengenai mekanisme hipertrofi 3. Mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan mengenai mekanisme hiperplasia 4. Mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan mengenai mekanisme metaplasia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Adaptasi Sel Sel beradaptasi dengan perubahan dalam lingkungan internal, seperti total organisme beradaptasi dengan perubahan dalam lingkungan eksternal. Sel dapat beradaptasi dengan melakukan perubahan ukuran, jumlah, dan jenis. Perubahan ini, yang terjadi secara tunggal atau dalam kombinasi, dapat menyebabkan atrofi, hipertrofi, hiperplasia, metaplasia, dan displasia (Mattson, 2006).

Gambar 2.1 Jenis-jenis adaptasi sel (Mattson, 2006)

Dalam kondisi normal, sel harus secara konstan beradaptasi terhadap perubahan lingkungannya. Adaptasi fisiologis biasanya mewakili respon sel terhadap perangsangaan normal oleh hormon atau mediator kimiawi endogen (misalnya, pembesaran payudara dan induksi laktasi oleh kehamilan). Adaptasi patologik sering berbagi mekanisme dasar yang sama tetapi memungkinkan sel untuk mengatur lingkungannya, dan idealnya melepaskan diri dari cedera. Jadi, jadi adaptasi selular merupakan keadaan yang berada di antara kondisi normal, sel yang tidak stres dan sel cedera yang stres berlebihan (Robbins, 2007).

Adaptasi selular dapat didahului oleh sejumlah mekanisme. Beberapa respons adaptif melibatkan up regulation atau down regulation reseptor selular spesifik; misalnya reseptor permukaan sel yang terlibat pada pengambilan LDL (low denisty lipoproein) normalnya dow-regulated saat sel kelebihan kolesterol. Respon adaptif lainnya berhubungan dengan induksi sintesis protein baru oleh sel target. Protein ini, misalnya protein syok panas, dapat melindungi sel dari bentuk cedera tertentu. Masih adaptasi lain, melibatkan pertukaran dari menghasilkan satu jenis protein menjadi yang lain, atau produksi berlebih protein yang tertentu; contoh kasus adalah pada sel yang menyintesis berbagai kolagen dan matriks protein ekstrasel pada inflamasi kronik dan fibrosis. Jadi, respon adaptif selular dapat terjadi di setiap tahap, termasuk ikatan reseptor; tranduksi sinyal; atau transkripsi, translasi atau ekspor, protein (Robbins, 2007).

2.2 Macam-macam Adaptasi Sel 2.2.1 Atrofi Pengerutan ukuran sel dengnn hilangnya substansi sel disebut atrofi. Apabila mengenai sel dalam jumlah yang cukup banyak, seluruh jaringan atau organ berkurang massanya, menjadi atrofi. Harus ditegaskan bahwa walaupun dapat menurun fungsinya, sel atrofi tidak mati. Pada kondisi yang berlawanan, kematian sel terprogram (apoptotik) bisa juga diinduksi oleh sinyal yang sama yang menyebabkan atrofi sehingga dapat menyebabkan hilangnya sel pada "atrofi" seluruh organ (Robbins, 2007). Penyebab atrofi, antara lain berkurangnya beban kerja (misal, imobilisasi anggota gerak yang memungkinkan proses penyembuhan fraktur), hilangnya persarafan, berkurangnya suplai darah, nutrisi yang tidak adekuat, hilangnya rangsangan endokrin, dan penuaan. Walaupun beberapa rangsang ini bersifat fisiologis (misal, hilangnya rangsangan hormon pada menopause) dan patologi lain (misal, denervasi), perubahan selular yang mendasar bersifat identik. Perubahan itu menggambarkan kemunduran sel menjadi berukuran lebih kecil dan masih memungkinkan bertahan hidup; suatu keseimbangan baru dicapai antara ukuran sel dan berkurangnya suplai darah, nutrisi, ataustimulasi trofik (Robbins, 2007).

Gambar 2.2.1 (Robbins, 2007) (A) Atrofi otak manusia berusia 82 tahun. Meningens telah tampak bergaris-garis. (B) Otak normal manusia berusia 25 tahun,sebagai pembanding

2.2.2 Hipertrofi Hipertrofi adalah bertambahnya ukuran suatu sel atau jaringan. Hipertrofi adalah suatu respon adaptif yang terjadi apabila terdapat peningkatan beban kerja suatu sel. Kebutuhan sel akan oksigen dan zat gizi meningkat, menyebabkan pertumbuhan sebagian sebagian besar struktur intrasel, termasuk mitokondria, retikulum endoplasma, vesikel intrasel dan protein kontraktil. Kondisi ini membuat sintesis protein meningkat (Crowin, 2009). Hipertrofi terutama dijumpai pada sel-sel yang tidak dapat beradaptasi terhadap peningkatan beban kerja dengan cara meningkatkan jumlah mereka (Hiperplasia) melalui mitosis. Contoh sel yang tidak dapat mengalami mitosis, tetapi mengalami hipertrofi adalah sel otot rangka dan sel otot jantung. Otot polos dapat mengalami hipertrofi maupun hiperplasia (Crowin, 2009). Terdapat tiga jenis utama hipertrofi (Crowin, 2009): 1. Hipertrofi fisiologis Terjadi sebagai akibat dari peningkatan beban kerja suatu sel secara sehat (peningkatan masa/ukuran otot setelah berolahraga).

2. Hipertrofi patologis Terjadi sebagai respon suatu keadaan sakit, misalnya hipertrofi ventrikel kiri sebagai respon terhadap hipertensi kronik dan peningkatan beban kerja jantung. 3. Hipertrofi kompensasi Terjadi sewaktu sel tumbuh untuk mengambil alih peran sel lain yang telah mati. Contoh, hilangnya satu ginjal menyebabkan sel-sel di ginjal yang masih ada mengalami hipertrofi sehingga peningkatan ukuran ginjal secara bermakna.

Bila aktivitas yang dilakukan sel tersebut meningkat, atau stimulus yang diterimanya meningkat, maka untuk mencapai keseimbangan dalam merespon hal tersebut, sel akan mengalami hipertropi (McKenna, 1994). Sebaliknya bila stimulus berkurang atau terjadi penurunan aktivitas sel, maka sel tersebut akan mengalami atropi (Robbins, 2007).

Gambar 2.2.2 Hipertrofi fisiologik uterus saat kehamilan (Robbins, 2007) (A) Gambaran makroskopis uterus normal (kanan) dan uterus hamil (kiri) yang telah diangkat akibat perdarahan pasca partus. (B) Sel otot polos uterus normal berbentuk kumparan kecil. Bandingkan dengan sel otot polos yang mengalami hipertrofi dari uterus hamil (C Pembesaran yang sama)

2.2.3 Hiperplasia Hiperplasia merupakan peningkatan jumlah sel dalam organ atau jaringan. Hipertrofi dan hiperplasia terkait erat dan sering kali terjadi bersamaan dalam jaringan sehingga keduanya berperan terhadap penambahan ukuran organ secara menyeluruh (misal, uterus yang hamil/uterus gravid). Namun demikian, pada kondisi tertentu, bahkan

sel secara potensial sedang membelah, seperti sel epitel ginjal, mengalami hipertrofi tetapi tidak hiperplasia. Hiperplasia dapat fisiologik atau patologik (Robbins, 2007) Hiperplasia fisiologik dibagi menjadi (Robbins, 2007): 1. Hiperplasia hormonal, ditunjukkan dengan proliferasi epitel kelenjar payudara perempuan saat masa pubertas dan selama kehamilan; dan 2. Hiperplasia kompensatoris, yaitu hiperplasia yang terjadi saat sebagian jaringan dibuang atau sakit. Misalnya, saat hati (hepar) direseksi sebagian, aktivitas mitotik pada sel yang tersisa berlangsung paling cepat 12 jam berikutnya, tetapi akhirnya terjadi perbaikan hati ke berat normal. Rangsang untuk hiperplasia pada kondisi ini adalah faktor pertumbuhan polipeptida, yang dihasilkan oleh sisa-sisa hepatosit (sel hepar) serta sel non parenkimal yang ditemukan dihati. Setelah perbaikan massa hati, proliferasi sel dihentikan oleh berbagai inhibitor pertumbuhan.

Hiperplasia juga merupakan respons kritis sel jaringan ikat pada penyembuhan luka; pada keadaan tersebut fibroblas yang distimulasi faktor pertumbuhan dan pembuluh darah berproliferasi untuk mempermudah perbaikan (Robbins, 2007). Sebagian besar bentuk hiperplasia patologi adalah contoh stimulasi faktor pertumbuhan atau hormonal yang berlebih. Misalnya, setelah periode menstruasi normal, terjadi ledakan aktivitas endometrium proliferatif yang secara esensial merupakan hiperplasia fisiologik. Proliferasi ini secara normal sangat diatur oleh rangsangan melalui hormon hipofisis dan estrogen ovarium dan oleh inhibisi melalui progesteron. Namun demikian, jika terjadi gangguan keseimbangan antara estrogen dan progesteron, terjadi hiperplasia endometrial, penyebab lazim perdarahan menstruasi abnormal. Peningkatan sensitivitas terhadap kadar normal faktor pertumbuhan juga dapat mendasari terjadinya hiperplasia patologik. Jadi, kutil yang sering terjadi dikulit disebabkan oleh peningkatan ekspresi berbagai faktor transkripsi oleh papillomavirus penginfeksi; setiap stimulasi tropik minor pada sel oleh faktor pertumbuhan, menghasilkan aktifitas mitotik. Penting dicatat bahwa pada kedua situasi tersebut, proses hiperplastik tetap dikontrol; jika rangsangan faktor hormonal atau faktor pertumbuhan hilang, hiperplasia menghilang. Hal tersebut yang membedakannya dengan kanker; sel akan terus tumbuh walaupun tidak ada rangsangan faktor hormonal. Namun, hiperplasia patologik merupakan tanah yang subur, yang akhirnya dapat muncul proliferasi kanker. Oleh karena itu, pasien dengan hiperplasia endometrium beresiko lebih besar mengalami kanker endometrium dan infeksi papilomavirus tertentu menjadi predisposisi kanker serviks (Robbins, 2007).

2.2.4 Metaplasia Metaplasia adalah perubahan reversible; pada perubahan tersebut satu jenis sel dewasa (epitheal atau mesenkimal) digantikan oleh jenis sel dewasa lain. Metaplasia merupakan adaptasi selular, yang selnya sensitif terhadap stress tertentu, digantikan oleh jenis sel lain yang lebih mampu bertahan pada lingkungan kebalikan. Metaplasia diperkirakan berasal dari pemrograman kembali genetik sel stem epithelial atau sel mesenkimal jaringan ikat yang tidak berdiferensiasi (Robbins, 2007). Metaplasia epithelial ditunjukkan dengan perubahan epitel gepeng yang terjadi pada epitel saluran napas perokok kretek (kebiasaan). Sel epitel silindris bersilia normal pada trakea dan bronkus, secara fokal atau luas, diganti dengan sel epitel gepeng bertingkat. Defisiensi vitamin A juga dapat menginduksi metaplasia silindris pada epitel respirasi (Robbins, 2007). Walaupun epitel metaplastik adaptif mungkin mempunyai keuntungan dalam daya tahan hidup. Mekanisme perlindungan yang penting hilang, seperti sekresi mucus dan pembersihan silia material berukuran partikel. Oleh karena itu, metaplasia epitel merupakan pedang bermata dua; selain itu, pengaruh yang menginduksi transformasi metaplastik, jika menetap, dapat menginduksi transformasi kanker pada epitel yang metaplastik. Jadi, pada bentuk umum kanker paru, metaplasia skuamosa epitel pernafasan sering kali muncul bersamaan dengan penyusun kanker sel skuamosa maligna. Walaupun tidak terbukti diduga bahwa merokok awalnya menyebabkan metaplasia skuamosa, dan kanker terjadi kemudian ada beberapa fokus yang berubah itu. Metaplasia tidak selalu menjadi pada epitel selapis menjadi gepeng; pada refluks lambung kronik, epitel skuamos bertingkat normal pada esophagus bawah dapat mengalami transformasi metaplastik menjadi epitel silindris tipe usus halus atau lambung (Robbins, 2007). Metaplasia juga dapat terjadi pada sel mesenkimal, tetapi kurang jelas seperti suatu respon adaptif. Oleh karena itu, tulang atau kartilago dapat terbentuk dalam jaringan, yang dalam keadaan normal, tidak dapat. Misalnya, tulang kadang-kadang terbentuk dalam jaringan lunak, terutama (tetapi tidak selalu) di tempat terjadinya jejas (Robbins, 2007).

Gambar 2.2.4 (A) Diagram skematis metaplasia silindris menjadi gepeng (B) mikroskopik dari bronkus yang mengalami metaplasia (Robbins, 2007)

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Mekanisme Adaptasi Sel 3.1.1 Mekanisme Atrofi Atrofi menggambarkan pengurangan komponen struktural sel; mekanisme biokimiawi yang mendasari proses tersebut bervariasi, tetapi akhirnya memengaruhi keseimbangan antara sintesis dan degradasi. Sintesis yang berkurang, peningkatan katabolisme, atau keduanya, akan menyebabkan atrofi. Pada sel normal, sintesis dan degradasi isi sel dipengaruhi sejumlah hormon, termasuk insulin, TSH (hormone perangsang tiroid), dan glukokortikoid. Pengaturan degradasi protein tampaknya mempunyai peran kunci pada atrofi. Sel mamalia mengandung dua sistem proteolitik yang menjalankan fungsi degradasi berbeda yaitu: 1. Lisosom mengandung protease dan enzim lain pendegradasi molekul yang diendositosis dari lingkungan ekstrasel,serta mengatabolisme komponen subselular, seperti organela yang menunjukkan proses penuaan (senescent). 2. Jalur ubiquitin-proteasome bertanggung jawab untuk degradasi banyak protein sitosolik dan inti. Protein yang di degradasi melalui proses ini, secara khas menjadi sasaran oleh konjugasi ubiquitin,peptida 76-asam amino sitosolik. Protein ini kemudian didegradasi dalam proteasome, kompleks proteolitik sitoplasmik besar. Jalur ini menyebabkan percepatan proteolisis pada keadaan hiperkatabolik (termasuk kakeksia kanker) dan pengaturan berbagai molekul aktivasi intrasel.

Pada banyak situasi, atrofi disertai peningkatan bermakna sejumlah vakuola autofagik, fusi lisosom dengan organela dan sitosol intrasel mernungkinkan katabolisme dan pembongkaran komponen selnya sendiri pada sel yang atrofi. Beberapa debris sel di dalam vakuola autofagositik dapat menahan digesti dan menetap seb agal badan residu yang terikat membran (misal, lipofuscin).

10

Secara umum, seluruh perubahan dasar seluler (dalam hal ini merupakan perubahan ke arah atrofi) memiliki proses yang sama, yaitu menunjukkan proses kemunduran ukuran sel menjadi lebih kecil. Namun, sel tersebut masih memungkinkan untuk tetap bertahan hidup. Walupun sel yang atropi mengalami kemunduran fungsi, sel tersebut tidak mati. Atrofi menunjukkan pengurangan komponen-komponen stutural sel. Sel yang mengalami atrofi hanya memiliki mitokondria dengan jumlah yang sedikit, begitu pula dengan komponen yang lain seperti miofilamen dan reticulum endoplasma. Akan tetapi ada peningkatan jumlah vakuola autofagi yang dapat memakan/merusak sel itu sendiri. Atrofi juga dipengaruhi oleh proses autofagi yang terdapat dalam sel. Pada proses ini organela intraselular dan sebagian sitosol terasing dari sitoplasma dalam vakuola autofagik yang terbentuk dari regio bebas ribosom RER. Kemudian, berdifusi dengan lisosom primer yang sebelumnya telah ada, membentuk autofagolisosom. Autofagi merupakan fenomena umum yang terlibat dalam penyingkiran organela rusak atau mati, dan pada perbaikan kembali (remodelling) sel yang disertai diferensiasi sel. Autofagi terutama terjadi pada sel yang mengalami atrofi, yang diinduksi oleh kekurangan zat nutrisi atau hormon.

Gambar 3.1.1 Autofagi (Robbins, 2007)

11

Enzim dalam lisosom dapat mengkatabolisme lengkap sebagian besar protein dan karbohidrat, walaupun beberapa lipid masih tidak dapat dicerna. Lisosom dengan debris yang tidak dicerna, bisa menetap dalam sel sabagai bahan-bahan residual atau bisa dipaksa keluar. Granul pigmen lipofuscin menunjukkan material yang tidak dapat dicerna, yang dihasilkan dari perooksidasi lipid intrasel, dan pigmen tertentu yang tidak dapat dicerna seperti partikel karbon yang diinhalasi dari atmosfer atau pigmen yang diinokulasi pada tato, dapat menetap dalam fagolisosom suatu makrofag selama beberapa dekade. 3.1.2 Mekanisme Hipertrofi Sel otot lurik, baik pada otot jantung maupun rangka, dapat mengalami hipertrofi saja akibat respons terhadap peningkatan kebutuhan sel karena pada orang dewasa, sel itu tidak dapat membelah membentuk sel yang lebi banyak untuk membagi beban kerjanya. Akibatnya, sintesis protein dan miofilamen yang lebih banyak di tiap sel, diduga mencapai keseimbangan antara kebutuhan dan kapasitas fungsional sel; hal ini memungkinkan peningkatan beban kerja dengan tingkat aktivitas metabolik per unit volume sel yang tidak berbeda dari yang dikeluarkan oleh sel normal. Namun demikian, perubahan adaptatif tersebut tidak semuanya bersifat jinak; perubahan tersebut dapat juga menyebabkan perubahan dramatis pada fenotip selular. Jadi, pada kelebihan beban volume jantung kronik, beragam gen yang secara normal nanya ditunukkan pada jantung neonates diaktifkan kembali, dan protein kontraktil berubah menjadi isoform fetal, yang berkontraksi lebih lambat. Nuklei pada sel hipertrofik tersebut juga memiliki kandungan DNA yang lebih tinggi dibandingkan sel miokardial normal, kemungkinan karena sel itu berhenti pada siklus sel tanpa mengalami mitosis sel. Mekanisme yang mengatur hipertrofi jantung melibatkan paling sedikit dua macam sinyal: pemicu mekanis, seperti regangan; dan pemicu trofik, seperti aktivasi reseptor -adrenergik. Selain itu hipertrofi juga didukung dengan berbagai aktivasi growth factor (TGF-, insulin-like growth factor-1, fibroblast growth factor) serta agen vasoaktif (agonis -adrenergik, endothelin-1, angiotensin-II). Hipertrofi memiliki dua jenis, yaitu hipertrofi fisiologis yang melalui jalur Phosphoinositide 3-kinase/Akt, dan hipertrofi patologis yang melalui jalur mekanisme signaling downstream of G protein-coupled receptors. Apa pun mekanisme yang menyebabkan hipertrofi, akan tercapai suatu batas yang pembesaran massa ototnya tidak lagi dapat melakukan kompensasi untuk peningkatan beban; pada kasus jantung, dapat terjadi gagal jantung. Pada stadium ini,

12

terjadi sejumlah perubahan degeneratif pada serabut miokardial, yang terpenting di antarnya adalah fragmentasi dan hilangnya elemen kontraktil miofibrilar. Faktor yang membatasi berlanjutnya hipertofi dan menyebabkan perubahan regresif belum sepenuhnya dipahami. Mungkin terdapat vaskularisasi dalam jumlah yang terbatas untuk menyuplai secara adekuat serabut yang mengalami pembesaran, untuk menyupai ATP, atau fungsi biosintesis untuk menunjukkan protein kontraktil atau unsure sitoskeleton lain. 3.1.3 Mekanisme Hiperplasia Rangsangan yang menginduksi hiperplasia bisa fisiologis atau patologis. Hiperplasia fisiologis dapat terjadi sebagai hasil stimulasi hormonal, peningkatan kebutuhan fungsional, atau sebagai mekanisme kompensasi. Pembesaran payudara dan uterus selama kehamilan adalah contoh dari hiperplasia fisiologis yang distimulasi estrogen. Contoh lain adalah kebutuhan hormon paratiroid yang meningkat, seperti pada kasus gagal ginjal kronis, akan menyebabkan hiperplasia kelenjar paratiroid. Selain itu proses regenerasi dari hati yang terjadi setelah hepatektomi parsial (pengambilan parsial hati) adalah contoh dari hiperplasia kompensasi. Dalam penyembuhan luka, hiperplasia jaringan ikat juga mekanisme yang sangat penting untuk berkontribusi dalam proses penyembuhan. Meskipun hipertrofi dan hiperplasia adalah dua proses yang berbeda, mereka mungkin terjadi bersamaan dan sering dipicu oleh satu pemicu yang sama. Contohnya adalah pada uterus ibu saat proses kehamilan akan mengalami baik hipertrofi dan hiperplasia akibat stimulasi estrogen. Sebagian besar bentuk hiperplasia patologis disebabkan karena stimulasi hormon atau efek dari faktor pertumbuhan yang berlebihan. Produksi hormon estrogen yang berlebihan dapat menyebabkan endometrium dan perdarahan haid yang tidak normal. Benign prostatic hyperplasia, yang merupakan gangguan umum pria berusia lebih tua dari 50 tahun, diduga terkait dengan tindakan sinergis estrogen dan androgen. Kutil pada kulit adalah contoh lain hiperplasia disebabkan oleh faktor pertumbuhan yang dihasilkan oleh human papilloma virus.

13

3.1.4 Mekanisme Metaplasia Metaplasia yang paling umum adalah sel saluran pernapasan dari sel epitel kolumnar bersilia menjadi sel epitel skuamosa bertingkat sebagai respons terhadap merokok jangka panjang. Sel bersilia yang penting untuk mengeluarkan kotoran, mikroorganisme, dan toksin di saluran pernapasan, mudah mengalami cidera oleh asap rokok. Namun sel-sel ini tidak memiliki peran pelindung seperti sel-sel epitel skuamosa. Mekanisme metaplasia dimulai dari pemrograman ulang stem cells yang sudah ada signal, kemudian distimulus oleh sitokin, growth factor, dan komponen matriks ekstraseluler, yang berlanjut pada diferensiasi stem cell, yang melibatkan gen pengatur differensiasi yaitu gen-2. 3.2 Mapping

Adaptasi Sel

Macam Atrofi Hipertrofi Mekanisme Pathway Hiperplasia Mekanisme adanya stimulus stimulasi hormonal pemicu mekanis, seperti regangan; pemicu trofik, seperti aktivasi reseptor adrener gik Signalling downstrea m of Gprotein soupled reseptor Phosph oinositid e 3kinase/ Akt peningkatan kebutuhan fungsional mekanism e kompensa si adanya stimulus yang menyebabkan pemrograman ulang stem cells Metaplasia

Faktor yang mempengaruhi - Growth Factor - Hormon - Stress

Mekanisme Induksi dipengaruhi oleh proses autofagi dalam sel

Mekanisme

Pengaturan degradasi protein (Jalur ubiquitinproteasome bertanggung jawab untuk degradasi banyak protein sitosolik dan inti)

melibatkan gen pengatur differensiasi yaitu gen-2

14

BAB IV KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan 1. Terdapat dua sistem proteolitik yang menjalankan degradasi sel yang akhirnya berujung pada atrofi sel, yaitu diperankan oleh lisosom dan adanya jalur ubiquitin-proteasom. 2. Mekanisme hipertrofi disebabkan oleh induksi berupa sensor mekanis, growth factors, dan beberapa gen vasoaktif. Terdapat dua jalur pada mekanisme hipertrofi, yaitu Phosphoinositide 3-kinase/Akt dan signaling downstream of G protein-coupled receptors. 3. Mekanisme hiperplasia disebabkan oleh peningkatan aktifitas growth factor dan aktivasi lintasan signal intraseluler yang menyebabkan peningkatan produksi faktor transkripsi sehingga memicu aktivasi gen-gen seluler dan kemudian berproliferasi sel matur. 4. Mekanisme metaplasia dimulai dari pemrograman ulang stem cells yang sudah ada.signalstimuli sitokin, GF, komponen matriks ekstraselulerdiferensiasi stem cell dan melibatkan gen-2 pengatur diferensiasi.

15

DAFTAR PUSTAKA

Crowin, Elisabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3 Revisi. Jakarta: EGC. Damico AV, McKenna WG. Apoptosis and re-investigation of the biologic basis of cancer therapy, radiotherapy and oncology, 1994; 33: 3-10 Kumar V, Cotran R.Z, Robbins S.L.2007.Buku Ajar Patologi.edisi7.Jakarta : EGC Porth, C, Mattson.2006. Essential Concepts of Disease Processes and Altered Health States. Publisher: Lippincott Williams & Wilkins; 2 edition Saleh, S. 1973. Patologi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

16