Anda di halaman 1dari 18

1

PERCOBAAN V
KETETAPAN KESETIMBANGAN

I. Tujuan Percobaan
1. Mengukur tetapan kesetimbangan
2. Memperlihatkan bahwa tetapan kesetimbangan tidak bergantung pada konsentrasi
awal reaktan

II. Prinsip Kerja
Mengukur tetapan kesetimbangan dari reaksi pembentukan dengan mengukur
konsentrasi reaktan dan produk dengan cara melakukan titrasi untuk mendapatkan
konsentrasi reaktan dan produk pada larutan.

III. Teori
3.1 Kesetimbangan Reaksi Kimia
Suatu reaksi kimia dikatakan setimbang apabila reaksi yang saling berlawanan terjadi
dengan kecepatan atau laju reaksi yang sama. Reaksi setimbang hanya berlaku pada sistem
yang setimbang dan reaksi yang bersifat reversibel (dapat balik). J ika sejumlah tertentu
reaktan menghasilkan sejumlah tertentu produk, maka kecepatan pembentukan produk dan
kecepatan produk untuk kembali menjadi reaktan sama. Pada reaksi setimbang tidak tampak
terjadi perubahan produk dan reaktan, meskipun reaksinya tetap berlangsung secara terus-
menerus dengan kecepatan yang sama. Kesetimbangan ini dinamakan sebagai kesetimbangan
dinamis, yaitu pada saat :
1. Reaksi berlangsung dengan dua arah yang berlawanan dengan kecepatan yang sama
meskipun jumlahnya tidak sama.
2. Tidak terjadi perubahan makroskopis (perubahan yang dapat diukur atau diamati)
tetapi pada saat terjadi perubahan yangbersifat mikroskopis (perubahan tingkat
partikel).
3. Reaksi terjadi pada ruang tertutup pada suhu dan tekanan konstan.
4. Reaksi berlangsung secara terus-menerus dengan jenis komponen yang tetap.
Reaksi kesetimbangan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kesetimbangan homogen dan
heterogen. Kesetimbangan homogen adalah kesetimbangan yang terjadi pada reaksi yang
2

mempunyai wujud yang sama, seperti kesetimbangan antara gas-gas dan kesetimbangan ion-
ion dalam larutan.
N
2
(g) +3H
2
(g) 2NH
3
(g)
Fe
2+
(aq) +SCN
-
(aq) Fe(SCN)
2+
(aq)

Kesetimbangan heterogen adalah kesetimbangan yang terjadi pada reaksi yang memiliki
komponen yang berbeda wujudnya.
CaCO
3
(s) CaO(s) +CO
2
(g)

3.2 Faktor Yang Mempengaruhi Kesetimbangan
Suatu reaksi kesetimbangan dinamis dipengaruhi oleh suatu keadaan tertentu yang
dapat memberikan sebuah aksi yang akan mengganggu kesetimbangan tersebut berdasarkan
prinsip LeChatelier yang menyatakan bahwa jika suatu sistem kesetimbangan diberikan suatu
aksi, maka sistem tersebut akan mengalami reaksi sehingga pengaruh aksi tersebut menjadi
sekecil-kecilnya dan reaksi kesetimbangan dapat dipertahankan. Reaksi yang ditimbulkan
dari aksi tersebut akan menimbulkan pergeseran kesetimbangan yang arahnya tergantung
pada aksi yang diberikan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kesetimbangan adalah
terjadinya perubahan :
1. Konsentrasi
J ika konsentrasi atau jumlah reaktan bertambah maka reaksi akan bergeser ke arah
produk dan jika konsentrasi produk bertambah maka reaksi akan bergeser ke arah
reaktan.
2. Tekanan
J ika tekanan dinaikkan maka reaksi akan berjalan ke arah jumlah mol yang kecil dan
jika tekanan diturunkan maka reaksi akan bergeser ke arah jumlah mol yang lebih
besar.
3. Suhu
J ika suhu diturunkan, sistem kesetimbangan akan melepaskan energi sehingga reaksi
akan bergeser kearah reaksi eksoterm dan jika suhu dinaikkan, kesetimbangan akan
menyerap energi sehingga reaksi akan bergeser ke arah reaksi endoterm.
4. Volume
J ika sejumlah volume tertentu ditambahkan pada kesetimbangan ion-ion, maka
kesetimbangan akan bergeser ke arah jumlah partikel yang lebih banyak. Kenaikan
3

volume pada kesetimbangan gas akan menyebabkan terjadinya penurunan tekanan
sehingga kesetimbangan akan bergeser ke arah jumlah mol yang lebih besar.

3.3 Tetapan Kesetimbangan Kimia
Tetapan kesetimbangan merupakan perbandingan komposisi reaktan dan produk dalam
reaksi kesetimbangan pada suhu tertentu. Berdasarkan jenis reaksi kesetimbangan, konstanta
kesetimbangan dapat dinyatakan dalam konstanta kesetimbangan untuk konsentrasi (Kc) dan
konstanta kesetimbangan untuk tekanan parsial (Kp).

3.3.1 Konstanta kesetimbangan konsentrasi (Kc)
Suatu kesetimbangan dari sejumlah mol tertentu suatu reaktan menghasilkan sejumlah
mol tertentu produk, maka secara umum dapat dituliskan dalam reaksi berikut :
aA +bB +... mM +nN +...
Konstanta kesetimbangan konsentrasinya dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :
K
c
=[M]
m
[N]n / [A]
a
[B]
b
Konstanta kesetimbangan merupakan fungsi stoikhiometri dari reaksi kimianya.
Hubungan konsentrasi pada reaksi kesetimbangan yang mempunyai harga tetap mengikuti
hukum kesetimbangan. Reaksi kesetimbangan pada suhu yang konstan, konsentrasi hasil kali
reaksi dibagi hasil kali konsentrasi pereaksi,masing-masing dipangkatkan dengan koefisien
reaksinya.

3.3.2 Konstanta kesetimbangan tekanan parsial (Kp)
Konstanta kesetimbangan tekanan parsial menyatakan perbandingan hasil kali tekanan
parsial produk dengan hasil kali tekanan parsial reaktan, masing-masing dipangkatkan
dengan koefisien reaksinya.
Pada reaksi : aA +bB +... mM + nN + ... Besarnya konstanta
kesetimbangan tekanan parsial adalah
Kp =(pM)
m
(pN)
n
/(pA)
a
(pB)
b
Hubungan antara tekanan parsial dengan konsentrasidinyatakan dengan pendekatan
persamaan gas ideal, pV =nRT, dimana V.n adalah konsentrasi
J ika pA =[A]RT, pB =[B]RT, pM =[M]RT, pN =[N]RT.

3.4 Sifat-Sifat Tetapan Kesetimbangan
4

Pada perhitungan kesetimbangan ada beberapa hal tentang tetapan kesetimbanganyang
perlu diperhatikan.
a. Dari berbagai bentuk tetapan kesetimbangan, hanya tetapan kesetimbangan
termodinamika (K) yang benar-benar merupakan tetapan. K hanya bergantung pada
temperetur dan tidak bergantung pada tekanan atau konsentrasi. Kp atau Kc hanya
merupakan tetapan pada sistem ideal.
b. Prinsip tetapan kesetimbangan hanya berlaku pada sistem dalam kesetimbangan.
c. Tetapan kesetimbangan bergantung pada temperatur. Kalau temperatur berubah, K
akan berubah pula.
d. Besarnya tetapan kesetimbangan menentukan sampai seberapa jauh reaksi telah
berlangsung. Harga K yang besar menunjukkan konsentrasi hasil reaksi yang lebih
besar dari pada konsentrasi pereaksi dalam sistem. Jadi K yang besar menguntungkan
pembentukan hasil reaksi.
e. Besarnya tetapan kesetimbangan bergantung pada cara menuliskan reaksinya.
f. Tetapan kesetimbangan menyatakan secara kuantitatif pengaruh konsentrasi pereaksi
dan hasil reaksi terhadap tingkat selesai reaksi.

IV. Prosedur dan Hasil Pengamatan
Tabel Prosedur dan Hasil Pengamatan
No. Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan
1 larutan HCl, Etanol, Asamasetat
dengan komposisi yang berbeda telah
disiapkan seminggu sebelumnya oleh
asisten. )*
10 ml
larutan I
10 ml
larutan IV
10 ml
larutan III
10 ml
larutan II
5

2 Mengisi buret dengan NaOH 1 M.

3 Memipet masing-masing 5 ml larutan
yang akan dititrasi yaitu HCl 2M,
larutan I-IV dan memasukannya ke
dalamerlemeyer

4 Menambahkan indikator PP sebanyak
4 tetes kepada masing-masing larutan
yang akan dititrasi

5 Menitrasi masing-masing larutan yang
telah disediakan tadi dengan NaOH 1
M yang juga telah dimasukkan ke
dalamburet. )**

NaOH 1 M
Pipet
volum 5 ml
5 ml
larutan I
5 ml
larutan IV
5 ml
larutan III
5 ml
larutan II
5 ml HCl
2M
erlenmeyer
digoyangkan selama
proses titrasi
ketika larutan sudah
berwarna ungu, maka
itu titik akhir titrasi
6

6 Memipet 5 ml Asamasetat, 5 ml HCl,
5 ml Etanol dan kemudian
menimbangnya dengan menggunakan
neraca analitik. )***


Keterangan:
)* Larutan yang diujikan:
HCl (ml) Etanol (ml) Asamasetat (ml)
5 1 4
5 2 3
5 3 2
5 4 1

)** Data yang dipeoleh:
Larutan Volume NaOH
HCl 9,5 ml
I 33,5 ml
II 20,5 ml
III 11 ml
IV 9,8 ml

)*** Massa yang terukur:
Asamasetat : 5,1755 gram
HCl : 5,0814 gram
Etanol : 4,0315 gram


5 ml HCl
5 ml
C2H5OH
5 ml
CH3COOH
7

V. Pengolahan Data
5.1 Menghitung massa jenis larutan
p =
m
I

Larutan Massa(g) Volume(ml) Massa jenis (g/ml)
HCl 5,0814 5 1,01628
Etanol 4,0315 5 0,8063
AsamAsetat 5,1755 5 1,0351

5.2 Menghitung jumlah mol air pada awal pencampuran
Berat HCl dalam5 ml HCl 2M
m
HCI
=n
HCI
H
HCI

m
HCI
=_
I
HCI
H
HCI
1000
] Hr
HCI

m
HCI
=_
5ml 2H
1000
] 36,5
g
mol
,
m
HCI
=0,365 g
Berat air dalam5 ml HCl 2M
m
u
=m
5 mI HCI
m
HCI

m
u
=5,0814 g 0,365g
m
u
=4,7164 g
Mol air pada awal pencampuran
n
u
=
m
u
Hr
u
=
4,7164 g
18 g/ mol
=0,26202 mol

5.3 Menghitung jumlah mol asam asetat dan etanol pada awal pencampuran
n =
p I
Hr

Mr CH
3
COOH =60 g/mol
Mr C
2
H
5
OH =46 g/mol
Larutan V CH
3
COOH (ml) V C
2
H
5
OH (ml) n CH
3
COOH n C
2
H
5
OH
1 4 1 0,0690 0,0175
2 3 2 0,0518 0,0351
3 2 3 0,0345 0,0526
4 1 4 0,0173 0,0701

5.4 Menghitung jumlah mol asam asetat pada awal kesetimbangan
8

V
1
=volume NaOH 1M untuk titrasi campuran
V
2
=volume NaOH 1M untuk titrasi 5 ml HCL 2M
n
CH3C00H
=_
I
1
I
2
1000
] H
CH3C00H

n
CH3C00H sctmbung
=n
CH3C00H uwuI
n
CH3C00H bccuks

H
CH3C00H
=
100 % p 10
Hr
=
11,0351 g/ ml 10
60 g/ mol
=0,1725

larutan V
1
(ml) V
2
(ml) n
awal
n
reaksi
n
setimbang
1 33,5 9,5 0,0690 4,14 . 10
-3
0,0648
2 20,5 9,5 0,0518 1,8975. 10
-3
0,0499
3 11 9,5 0,0345 2,5875. 10
-4
0,0344
4 9,8 9,5 0,0173 5,175 . 10
-5
0,0172

5.5 Menghitung jumlah mot etanol pada saat kesetimbangan
n
C2H50H bccuks
=n
CH3C00H bccuks

n
C2H50H sctmbung
=n
C2H50H uwuI
n
C2H50H bccuks

larutan n
awal
n
reaksi
n
setimbang

1 0,0175 4,14 . 10
-3
0,01336
2 0,0351 1,8975. 10
-3
0,03320
3 0,0526 2,5875. 10
-4
0,05234
4 0,0701 5,175 . 10
-5
0,07004

5.6 Menghitung jumlah mol etil asetat pada saat kesetimbangan
n
CH3C00C2H5 sctmbung
=n
CH3C00H bccuks

Larutan n
setimbang

1 4,14 . 10
-3

2 1,8975. 10
-3

3 2,5875. 10
-4

4 5,175 . 10
-5





5.7 Menghitung jumlah mol air pada saat kesetimbangan
n
H20 sctmbung
=n
CH3C00H bccuks

9


Larutan n
setimbang

1 4,14 . 10
-3

2 1,8975. 10
-3

3 2,5875. 10
-4

4 5,175 . 10
-5


5.8 Menghitung konsentrasi asam asetat, etanol, etil asetat, dan air pada saat kesetimbangan
H =
n
sctmbung
I
I =10 ml
Larutan M CH
3
COOH M C
2
H
5
OH M CH
3
COOC
2
H
5
M H
2
O
1 6,480 1,336 0,414 0,414
2 4,990 3,320 0,189 0,189
3 3,440 5,234 0,0258 0,0258
4 1,720 7,004 5,175. 10
-3
5,175. 10
-3


5.9 Menghitung tetapan kesetimbangan
Reaksi
CH
3
COOH +C
2
H
5
OH CH
3
COOC
2
H
5
+H
2
O
k
c
=
[CH3COOC2H5 ][H2O]
[CH3COOH][C2H5OH]

Larutan Nilai tetapan kesetimbangan
1 0,0198
2 2,1562 . 10
-3

3 3,6969 . 10
-5

4 2,2230 . 10
-6

k
c utu-utu
=
k
1
+k
2
+k
3
+k
4
4

k
c utu-utu
=
0,0198+2,156210
-3
+3,696910
-5
+2,223010
-6
4





VI. Analisis
6.1 Analisis Percobaan
10

Pada percobaan modul V ini (Tetapan Kesetimbangan), praktikan ditugaskan untuk
menentukan nilai konstanta kesetimbangan reaksi dan memperlihatkan bahwa tetapan
kesetimbangan tidak dipengaruhi oleh konsentrasi awal reaktan. Untuk memenuhi tugas ini,
praktikan telah disediakan alat-alat dan bahan yang dibutuhkan, yaitu buret untuk menitrasi
larutan, pipet tetes, labu erlenmeyer, tabung ukur, gelas ukur, pipet volumetrik, karet hisap,
dan statif & klep. Sedangkan untuk bahannya telah disediakan larutan HCl, Asam Asetat
Glasial, Etanol, dan NaOH sebagai larutan penitrasi. Prinsip kerja dari percobaan ini adalah
proses titrasi larutan yang telah disediakan oleh asisten laboratorium dengan Phenolpthalein
(PP) sebagai indikatornya.
Pada percobaan ini, terdapat lima larutan yang akan dititrasi, yaitu larutan HCl 2.0 M
dan empat larutan campuran HCl 2.0 M, Asam Asetat Glasial, dan Etanol dengan komposisi
volume yang berbeda. Untuk larutan campuran tersebut, dibuat seminggu sebelum percobaan
dilakukan. Hal ini dikarenakan untuk mencapai kesetimbangan dari larutan campuran
tersebut. Waktu yang dibutuhkan oleh ketiga larutan tersebut untuk mencapai kesetimbangan
adalah minimal tiga hari dan maksimal tujuh hari. Oleh karena itu titrasi dilakukan seminggu
kemudian untuk mendapatkan data yang diharapkan menjadi akurat. Pada labu perama,
komposisi larutan yang digunakan adalah 5 ml HCl 2.0 M, 4 mL CH
3
COOH dan 1 mL
C
2
H
5
OH. Setelah semua bahan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer, labu ditutup
menggunakan penutup labu erlenmeyer. Hal ini dilakukan untuk mencegah keluarnya uap
dari labu akibat penguapan, karena sifat etanol yang volatile (mudah menguap) sehingga
volume etanol di dalam labu tetap terjaga. Hal yang sama juga dilakukan pada labu kedua
dengan komposisi HCl, CH
3
COOH, dan C
2
H
5
OH berturut-turut adalah 5 mL, 3 mL, dan 2
mL. Pada labu ketiga dengan komposisi HCl, CH
3
COOH, dan C
2
H
5
OH berturut-turut adalah
5 mL, 2 mL, dan 3 mL. Sedangkan pada labu keempat dengan komposisi HCl, CH
3
COOH,
dan C
2
H
5
OH berturut-turut adalah 5 mL, 1 mL, dan 4 mL. Pada komposisi keempat larutan
campuran tersebut dapat dilihat bahwa komposisi HCl dibuat konstan 5 mL, hal ini
dikarenakan larutan HCl 2.0 M berperan sebagai katalis reaksi antara CH
3
COOH, dan
C
2
H
5
OH dan dalam percobaan untuk mencari kesetimbangan, HCl tidak menjadi faktor
pertimbangan. Oleh karena itu volume HCl tiap-tiap campuran dibuat sama. Selain itu, dapat
dilihat juga bahwa volume asam asetat dan etanol tiap labunya berbeda. Hal ini bertujuan
untuk melihat pengaruh konsentrasi awal reaktan yang digunakan terhadap tetapan
kesetimbangan. Setelah itu keempat labu tersebut disimpan dalam satu ruang yang sama
untuk menjaga suhu yang diterima oleh masing-masing labu relative sama sehingga reaksi
yang bekerja di tiap-tiap labu juga relatif sama.
11

Seminggu kemudian, percobaan titrasi dilakukan. Pertama, praktikan menitrasi larutan
HCl 2.0 M dengan menggunakan larutan NaOH 1.0 M. Sebenarnya konsentrasi NaOH yang
terdapat di dalam prosedur adalah 0.1 M, akan tetapi asisten laboratorium menyuruh
praktikan untuk menggantikannya dengan larutan NaOH 1.0 M. Hal ini dilakukan untuk
mempersingkat waktu, mengingat karutan NaOH 0.1 M memiliki konsentrasi lebih kecil
sehingga titrasi yang dilakukan akan sangat tidak efisien waktu (lama), tenaga, dan secara
langsung volume NaOH yang digunakan akan semakin banyak (tidak efisien bahan). Pada
larutan yang akan dititrasi, praktikan memipet 5 mL larutan HCl menggunakan pipet
volumetric 5 mL. Hal ini dikarenakan pipet volumetric memiliki tingkat akurasi yang lebih
tinggi dibandingkan dengan gels ukur, sehingga perolehan 5 mL HCl akan lebih akurat.
Kemudian larutan HCl dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer. Kemudian larutan HCL
ditetesi dengan indikator PP sebanyak 4 tetes. Indikator PP digunakan dalam proses titrasi ini
dikarenakan trayek dari indikator PP adalah berkisaran antara 7-10. Perlu diketahui bahwa
ketika asam kuat dititrasi dengan basa kuat akan terbentuk garam kuat yang memiliki pH
netral (7). Oleh karena itu indikator PP merupakan indikator yang tepat untuk titrasi HCl
oleh NaOH. Kemudian, barulah larutan HCl dititrasi dengan NaOH. Proses titrasi dihentikan
ketika larutan HCl sudah tepat bewarna ungu tetap (tidak berubah menjadi bening). Hal
tersebut menunjukkan bahwa larutan HCl sudah netral (akibat penambahan NaOH). Pada saat
proses titrasi dilakukan, labu erlenmeyer digoyang dengan ritme sedang untuk memastikan
pencampuran antara HCl dan NaOH menjadi lebih cepat sehingga penyebaran partikel di
dalamnya menjadi lebih cepat merata. Kemudian praktikan mencatat volume NaOH yang
digunakan dalam menitrasi HCl 2.0 M.
Titrasi dilanjutkan dengan menggunakan larutan campuran yang dibuat seminggu
sebelumnya. Masing-masing dari larutan campuran diambil sebanyak 5 mL untuk dititrasi.
Pengambilan 5 mL larutan tersebut dilakukan dengan menggunakan pipet volumetric untuk
memastikan larutan yang terambil benar-benar 5 mL. Ketika pengambilan 5 mL yang
kemudian dipindahkan ke keempat labu erlemeyer yang berbeda, larutan tersebut harus ditutu
sesegera mungkin untuk mencegah terjadinya penguapan. Pada titrasi keempat larutan ini
harus dilakukan dengan cepat. Hal ini dilakukuan karena pada saat prose titrasi berlangsung,
labu erlenmeyer dibiarkan terbuka sehingga memungkinan terjadinya penguapan etanol,
sehingga titrasi dilakukan cepat tanpa mengurangi perhatian dan ketelitian praktikan dalam
mengamati perubahan yang terjadi untuk meminimalisir uap yang keluar dari labu. Titrasi
keempat larutan tersebut dimulai dari labu pertama. Sebelum titrasi, larutan tersebut ditetesi
12

dengan menggunakan indikator PP sebanyak 4 tetes. Karena penitrasi yang digunakan adalah
NaOH 2.0 M, maka ketika proses titrasi ion OH
-
dalam NaOH akan bereaksi dengan ion H
+

dari asam lemah CH
3
COOH, sehingga pH yang terbentuk pada saat terbentuk pada saat
setimbang adalah berkisar antara 7 sampai 10. Oleh karena itu, PP digunakan sebagai
indikator dalam titrasi ini. Pada saat proses titrasi, labu erlenmeyer digoyangkan untuk
mempercepat proses penyebaran partikel dan pencampuran dalam larutan. Titrasi dihentikan
ketika larutan menunjukkan tepat bewarna ungu permanen. Hal yang sama juga berlaku
untuk labu kedua, ketiga, dan keempat. Selama proses titrasi tersebut (1-4), praktikan
merasakan labu yang digunakan dalam proses titrasi lama-kelamaan menjadi hangat. Hal ini
menunjukkan bahwa titrasi CH
3
COOH oleh NaOH bersifat eksoterm. Suatu reaksi yang
bersifat eksoterm merupakan reaksi yang melepaskan kalor. Oleh karena itu, labu erelnmeyer
menjadi hangat.
Setelah semua larutan dititrasi, praktikan menimbang massa dari masing-masing
larutan, yaitu HCl 2.0 M, CH
3
COOH (Asam Asetat Glasial), dan C
2
H
5
OH (Etanol) sebanyak
masing-masing 5 mL dimana dari hasil penimbangan massa larutan ini akan digunakan untuk
mencari massa jenis untuk ketiga larutan tersebut (massa jenis percobaan). Penentuan massa
ini digunakan untuk mengetahui banyaknya mol tiap komponen dalam masing-masing larutan
sehingga komposisi mol dalam larutan yang mengarah ke penentuan konstanta
kesetimbangan. Larutan 5 mL ditimbang menggunakan timbangan elektronik untuk
mendapatkan pembacaan massa larutan yang akurat.
6.2 Analisis Perhitungan dan Hasil
Untuk memenuhi tujuan dari praktikum ini, yaitu untuk mendapatkan nilai Kc dari
reaksi yang terjadi, maka diperlukan beberapa langkah perhitungan sehingga nilai Kc reaksi
dapat ditentukan. Pertama-tama praktikan menghitung nilai massa jenis dari masing-masing
larutan (HCl, CH
3
COOH, dan C
2
H
5
OH) dengan rumus,
p =
m
F

dimana V adalah volume yang digunakan dalam menghitung massa zat, yaitu sebanyak 5 mL.
sedangkan m adalah massa larutan 5 mL, dimana massa zat didapat dari pengurangan antara
massa wadah+larutan 5 mL dengan massa wadah. Dari hasil perhitungan didapatlah nilai
massa jenis HCl sebesar 1.01628 g/mL; CH
3
COOH sebesar 1.0351 g/mL dan nilai massa
jenis C
2
H
5
OH sebesar 0.8063 g/mL. Hasil yang diperoleh sesuai dengan massa jenis literature
13

dimana nilai massa jenis Asam Asetat Glasial lebih besar dari kedua larutan lainnya (
CH
3
COOH > HCl > C
2
H
5
OH).
Data massa jenis yang diperoleh tersebut digunakan untuk mencari jumlah mol awal
kedua reaktan. Jumlah mol awal reaktan (CH
3
COOH, dan C
2
H
5
OH) dihitung menggunakan
rumus,
n =
p.F
Mr

dimana nilai V adalah volume komponen larutan yang digunakan tiap-tiap labu. Dari hasil
perolehan data pada pengolahan data dapat dilihat bahwa semakin besar volume yang
digunakan maka semakin besar pula nilai mol yang dihasilkan. Selain itu nilai mol C
2
H
5
OH
lebih besar dibandingkan dengan nilai mol CH
3
COOH pada volume yang sama. Hal ini
dikarenakan nilai Mr C
2
H
5
OH lebih kecil dari Mr CH
3
COOH (46 g/mol <60 g/mol).
Selanjutnya, perhitungan dilakukan untuk menghitung jumlah mol CH
3
COOH, dan
C
2
H
5
OH pada awal kesetimbangan. Jumlah mol pada awal kesetimbangan ditentukan
menggunakan persamaan,
n
xet|mhang
=n
awa|
n
hereakx|

CH
3
COOH
(aq)
+ C
2
H
5
OH
(aq) CH
3
COOC
2
H
5 (aq)
+ H
2
O
(aq)
M n
awal
n
awal

R -n
reaksi
-n
reaksi
+n
reaksi
+n
reaksi

S n
setimbang
n
setimbang
n
setimbang
n
setimbang


Untuk mencari jumlah mol yang bereaksi, reaktan yang digunakan dalam perhitungan
adalah mol CH
3
COOH, mengingat pada persamaan reaksi koefisien yang terbentuk adalah
sama (1). Oleh karena itu mol CH
3
COOH digunakan sebagai acuan untuk mencari n
reaksi
. Mol
bereaksi dapat menggunakan rumus sebagai berikut,
n
CH3COOH bcrcaksI
=H
CH3COOH
.I
nilai M dari CH
3
COOH dapat dicari dengan menggunakan rumus,
H
CH3COOH
=
%.p.10
Hr

dimana angka 10 merupakan faktor konversi yang digunakan untuk mencari molaritas.
Sedangkan nilai V merupakan pengurangan dari V
1
(Volume NaOH 1.0 M yang digunakan
untuk menitrasi larutan campuran) dengan V
2
(Volume NaOH 1.0 M yang digunakan untuk
menitrasi larutan HCl 2.0 M murni). Perlu diketahui, bahwa HCl digunakan sebagai katalis,
sehingga dalam penghitungan mol reaksi, volume yang dibutuhkan hanya voulem titrasi
14

CH
3
COOH, dan C
2
H
5
OH (reaktan), dan volume HCl dalam larutan campuran telah diabaikan
dengan adanya pengurangan tersebut. Jadi persamaan n
CH3CDDH bereahst
=M
CH3CDDH
.F
dapat diuarikan menjadi,
n
CH3COOH bcrcaksI
=_
%.p.10
Hr
] _
I
1
I
2
1000
]
Angka 1000 merupakan faktor konversi volume.
Selanjutnya praktikan menghitung nilai mol etanol setimbangm dimana mol etanol
setimbang dapat dicari dengan menggunakan rumus,
mol C
2
E
5
0E sctimbong =mol C
2
E
5
0E owol mol C
2
E
5
0E rcoksi
Telah disebutkan sebelumnya bahwa koefisien pada persamaan reaksi kimia antara
etanol dan asam asetat adalah sama, maka nilai mol etanol reaksi sama dengan mol asam
asetat reaksi, sehingga
mol C
2
E
5
0E sctimbong =mol C
2
E
5
0E owol mol CE
3
C00E rcoksi
Selanjutnya dengan memanfaatkan persamaan reaksi kimia sebelumnya, nilai mol
setimbang produk dapat ditentukan
mol E
2
0 sctimbong =mol CE
3
C00E rcoksi
mol CE
3
C00C
2
E
5
sctimbong =mol CE
3
C00E rcoksi
Setelah semua nilai mol reaktan dan produk pada kondisi setimbang, maka praktikan
dapat menentukan konsentrasi masing-masing zat dengan menggunakan rumus,
H =
n
sctmbung
I

dimana V merupakan volume total larutan campuran (1-4) pada keadaan setimbang, yaitu
sebanyak 10 mL. Dengan mengetahui nilai konsentrasi masing-masing zat pada kondisi
setimbang, maka nilai tetapan kesetimbangan (Kc) dapat ditentukan menggunakan persamaan
berikut,
K
C
=
[CE
3
C00C
2
E
5
][E
2
0]
[CE
3
C00E][C
2
E
5
0E]

Nilai Kc diperoleh dengan menghitung rata-rata dari keempat Kc yang diperoleh.
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai Kc tiap-tiap larutan campuran (labu)
sebesar,
Larutan 1 : 0.0198
Larutan 2 : 2.1562 x 10
-3

Larutan 3 : 3.6969 x 10
-5

Larutan 4 : 2.2230 x 10
-6

15

Dapat dilihat bahwa keempat larutan di atas memiliki nilai Kc yang berbeda satu sama
lain. Secara teoritis, nilai Kc suatu reaksi tidak dipengaruhi oleh konsentrasi awal reaktan
sehingga keempat larutan di atas seharusnya memiliki nilai Kc yang tidak jauh berbeda. Hal
ini mungkin disebabkan karena kesalahan pembuatan larutan uji yang tidak tepat sesuai
dengan prosedur, serta kesalahan-kesalahan lain yang akan lebih lanjut dibahas dalam
Analisis Kesalahan.

6.3 Analisis Alat dan Bahan
6.3.1 Analisis Alat
a. Buret
Dalam percobaan ini, buret digunakan untuk mentitrasi
larutan NaOH 0.1 M, HCl, asam asetat glacial, dan
etanol ke dalam labu Erlenmeyer yang didalamnya
telah berisi larutan sampel dan 5 ml HCl 2 M.
b. Labu Erlemenyer
Digunakan 4 buah labu erlemenyer dalam percobaan
kali ini yang berfungsi sebagai wadah saat larutan
sampel dibuat dan tempat terjadinya titrasi, serta saat
sampel dipanaskan di penangas.
c. Neraca
Neraca digunakan untuk menimbang sampel yang
telah melewati semua prosedur percobaan. Oleh
karenanya, proses penimbangan menggunakan neraca
ini dilakukan di akhir percobaan.
d. Pipet Volume
Digunakan untuk memindahkan berbagai larutan
sampel ke tabung erlemenyer ketika percobaan.
16

6.3.2 Analisis Bahan
a. HCl 2 M
Dalam percobaan kali ini, larutan ini berfungsi sebagai larutan penitrasi (pada prosedur
no.2) sekaligus yang dititrasi (pada prosedur no. 5b).
b. Etanol
Larutan yang bergugus fungsi alkanol ini digunakan sebagai salah satu larutan sampel
yang nantinya akan dititrasi sekaligus penitrasi.
c. Asam Asetat
Larutan yang termasuk salah satu asam lemah ini juga berfungsi sama layaknya etanol,
yaitu berfungi sebagai larutan sampel yang nantinya akan dititrasi sekaligus menjadi
penitrasi.
d. NaOH 0.1 M
Berbeda dengan dua larutan di atas, larutan NaOH 0,1 M ini hanya digunakan sebagai
larutan penitrasi dikarenakan dari keempat larutan yang digunakan saat percobaan,
hanya NaOH yang bersifat basa.
e. Indikator Phenolpthalein (PP)
Fungsi PP dalam percobaan kimia adalah sebagai indikator asam-basa. PP biasa
ditambahkan pada proses titrasi untuk mengetahui apakah reaksi sudah mencapai titik
ekuivalen atau belum.

6.4 Analisis Kesalahan
Telah disebutkan sebelumya bahwa nilai Kc yang didapat oleh praktikan pada
percobaan ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan kesalahan pada
saat pengambilan data maupun pada saat proses pengolahan data. Kesalahan-kesalahan
tersebut adalah sebagai berikut:
- Kesalahan pada saat proses pencampuran larutan HCl, CH
3
COOH, dan C
2
H
5
OH.
Kemungkinan yang terjadi adalah menguapnya C
2
H
5
OH yang bersifat volatile
(mudah menguap) ke udara sehingga volume etanol dalam larutan tidak sesuai lagi
dengan prosedur dan secara tidak langsung akan mempengaruhi perolehan data.
Penguapan ini dapat terjadi karena praktikan yang tidak menyegerakan penutupan
mulut labu, sehingga etanol menguap dan keluar dari labu (volume etanol dalam labu
berkurang).
17

- Kesalahan yang terjasi akibat ketidakbersihan peralatan yang digunakan. Dengan
penggunaan alat yang tidak bersih berakibat pada kontaminasi bahan-bahan yang
digunakan sehingga perolehan data menjadi tidak akurat.
- Kesalahan yang terjadi pada pembacaan skala dimana kesalahan yang terjadi
merupakan kesalahan paralaks (ketidaktepatan pandangan mata), sehingga
memepengaruhi pengambilan bahan yang mengandalkan pembacaan skala.
- Kesalahan dalam penentuan titik akhir titrasi dimana proses titrasi merupakan metode
kualitatif yang mengandalkan warna larutan. Dalam hal ini praktikan kesulitan dalam
menentukan batasan titik akhir, sehingga volume titrasi yang digunakan bisa saja
berlebih sehingga mempengaruhi hasil perolehan data.
- Kesalahan dalam pengolahan data, dimana pada saat pengolahan data, praktikan
sering melakukan pembulatan hasil dan secara langsung dapat mempengaruhi hasil
akhir sehingga terjadi penyimpangan hasil akhir yang diharapkan.

VII. Kesimpulan
1. Tetapan kesetimbangan tidak dipengaruhi oleh konsentrasi awal reaktan,
melainkan dipengaruhi oleh konsentrasi reaktan dan produk pada saat setimbang.
2. Nilai Kc dapat ditentukan dengan memanfaatkan metode titrasi.
3. Katalis suatu reaksi tidak mempengaruhi perolehan nilai Kc.
4. Nilai Kc yang kecil melambangkan lamanya proses reaksi pada reaktan.
5. Pada percobaan ini, nilai Kc yang diperoleh sangatlah kecil yaitu 5.4988 x 10
-3
.
Hal ini dapat dilihat dari lamanya waktu reaksi yang ditempuh oleh larutan
CH
3
COOH, dan C
2
H
5
OH untuk mencapai kesetimbangan reaksi.
6. Nilai Kc suatu reaksi hanya dapat ditentukan pada fase zat berupa gas dan aqueous
(larutan).
7. Pada reaksi
CH
3
COOH
(aq)
+C
2
H
5
OH
(aq)
CH
3
COO C
2
H
5 (aq)
+H
2
O
(aq)

Maka tetapan kesetimbangannya adalah
Kc =
[CH
3
COOC
2
H
5
][H
2
O]
[CH
3
COOH][C
2
H
5
OH]




18

VIII. Daftar Pustaka
Achmad, Drs. Hiskia. 1992. Wujud Zat dan Kesetimbangan Kimia. Bandung : PT Citra
Aditya Bakti.
Diktat Praktikum Kimia Fisika dan Kimia Analitik
Keenan, Kleinfeller. 1989. Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga
Maron, Samuel H. dan Jeroine, B. Landa. 1974. Fundamental of Physical Chemistry. New
York : Macmillan Publishing co.inc.
Oxtoby, Oillus. Machtireb. 1998. Kimia Modern. Jakarta : Erlangga

IX. Jawaban Pertanyaan
1. Nilai H pembentukan ester adalah positif. Bila campuran dipanaskan, bagaimana
pengaruh suhu ini terhadap Kc?
Jawab :
Reaksi pembentukan ester
CH
3
COOH
(aq)
+C
2
H
5
OH
(aq)
CH
3
COO C
2
H
5 (aq)
+H
2
O
(aq)
H = +x kJ
reaksi di atas bersifat endoterm yang ditandai dengan H bertanda (+). Jika suhu
dinaikkan, maka system akan berusaha untuk menurunkan suhu dan kesetimbangan
pun akan bergeser kearah endoterm sehingga produk akan lebih banyak terbentuk
dan nilai Kc pun akan semakin besar.

2. Apakah tetapan kesetimbangan Kc bergantung pada konsentrasi awal reaktan?
Jelaskan!
Jawab :
Harga Kc tidak bergantung pada konsentrasi awal reaktan. J ika dalam suatu
kesetimbangan kimia yang sedang berlangsung, konsentrasi awal suatu reaktan
ditambah atau dikurangi, maka pergeseran kesetimbangan akan menyebabkan
perubahan nilai Kc selama suhu tidak berubah. Nilai Kc dipengaruhi oleh
konsentrasi produk dan reaktan pada saat setimbang.