Anda di halaman 1dari 57

Konflik Aceh

PDF dihasilkan dengan menggunakan toolkit mwlib open source. Lihat http://code.pediapress.com/ untuk informasi lebih lanjut. PDF generated at: Sat, 11 Jan 2014 19:06:16 UTC

Isi
Artikel
Tinjauan Umum
Pemberontakan di Aceh Gerakan Aceh Merdeka 1 1 14 17 17 20 22 24 28 31 33 40 40 43 45 48 48 49

Tokoh Terkait
Hasan di Tiro Daud Beureu'eh Martti Ahtisaari Muhammad Jusuf Kalla Irwandi Yusuf Hamid Awaluddin Endriartono Sutarto

Peristiwa Terkait
Negara Islam Indonesia Operasi militer Indonesia di Aceh 1990-1998 Operasi militer Indonesia di Aceh 2003-2004

Lain-lain
Badan Reintegrasi Aceh Aceh Monitoring Mission

Referensi
Sumber dan Kontributor Artikel Sumber Gambar, Lisensi dan Kontributor 53 54

Lisensi Artikel
Lisensi 55

Tinjauan Umum
Pemberontakan di Aceh
Pemberontakan di Aceh (19762005)

Lokasi Aceh di Indonesia Tanggal 4 Desember 1976 15 Agustus 2005 Lokasi Hasil Aceh, Indonesia Persetujuan perdamaian Helsinki

Otonomi khusus untuk Aceh Pelucutan GAM Ditariknya tentara Indonesia Misi Pemantau Aceh Diadakannya pilkada

Pihak yang terlibat


Indonesia Gerakan Aceh Merdeka

Komandan
Suharto Jusuf Habibie Abdurahman Wahid Megawati Sukarnoputri Susilo Yudhoyono Hasan di Tiro

Kekuatan
150,000
[1]

3,000

Korban
10.000 tewas
[2]

Pemberontakan di Aceh dikobarkan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk memperoleh kemerdekaan dari Indonesia antara tahun 1976 hingga tahun 2005. Operasi militer yang dilakukan TNI dan Polri (2003-2004), beserta kehancuran yang disebabkan oleh gempa bumi Samudra Hindia 2004 menyebabkan diadakannya persetujuan perdamaian dan berakhirnya pemberontakan. Amnesty International merilis laporan Time To Face The Past pada April 2013 setelah pemerintah Indonesia dianggap gagal menjalankan kewajibannya sesuai perjanjian damai 2005. Laporan tersebut memperingatkan bahwa kekerasan baru akan terjadi jika masalah ini tidak diselesaikan.

Pemberontakan di Aceh

Latar belakang
Secara luas di Aceh, agama Islam yang sangat konservatif lebih dipraktekkan, hal ini berbeda dengan penerapan Islam yang moderat di sebagian besar wilayah Indonesia lain. Perbedaan budaya dan penerapan agama Islam antara Aceh dan banyak daerah lain di Indonesia ini menjadi gambaran sebab konflik yang paling jelas. Selain itu, kebijakan-kebijakan sekuler dalam administrasi Orde Baru Presiden Soeharto (1965-1998) sangat tidak populer di Aceh, di mana banyak tokoh Aceh membenci kebijakan pemerintahan Orde Baru pusat yang mempromosikan satu 'budaya Indonesia'. Selanjutnya, lokasi provinsi Aceh di ujung Barat Indonesia menimbulkan sentimen yang meluas di provinsi Aceh bahwa para pemimpin di Jakarta yang jauh tidak mengerti masalah yang dimiliki Aceh dan tidak bersimpati pada kebutuhan masyarakat Aceh dan adat istiadat di Aceh yang berbeda.

Garis waktu
Tahap pertama
Kecenderungan sistem sentralistik pemerintahan Soeharto, bersama dengan keluhan lain mendorong tokoh masyarakat Aceh Hasan di Tiro untuk membentuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tanggal 4 Desember 1976 dan mendeklarasikan kemerdekaan Aceh. Ancaman utama yang dianggap melatarbelakangi adalah terhadap praktik agama Islam konservatif masyarakat Aceh, budaya pemerintah Indonesia yang dianggap "neo-kolonial", dan meningkatnya jumlah migran dari pulau Jawa ke provinsi Aceh. Distribusi pendapatan yang tidak adil dari sumber daya alam substansial Aceh juga menjadi bahan perdebatan. Serangan pertama GAM pada tahun 1977 dilakukan terhadap Mobil Oil Indonesia yang merupakan pemegang saham PT Arun NGL, perusahaan yang mengoperasikan ladang gas Arun. Pada tahap ini, jumlah pasukan yang dimobilisasi oleh GAM yang sangat terbatas. Meskipun telah ada ketidakpuasan cukup besar di Aceh dan simpati yang mungkin pada tujuan GAM, hal ini tidak mengundang partisipasi aktif massa. Dalam pengakuan Hasan di Tiro sendiri, hanya 70 orang yang bergabung dengannya dan mereka kebanyakan berasal dari kabupaten Pidie, terutama dari desa di Tiro sendiri, yang bergabung karena loyalitas pribadi kepada keluarga di Tiro, sementara yang lain karena kekecewaan terhadap pemerintah pusat. Banyak pemimpin GAM adalah pemuda dan profesional berpendidikan tinggi yang merupakan anggota kelas ekonomi atas dan menengah masyarakat Aceh. Kabinet pertama GAM, yang dibentuk oleh di Tiro di Aceh antara tahun 1976 dan 1979, terdiri dari tokoh pemberontakan Darul Islam berikut ini: Teungku Hasan di Tiro:Wali Negara, Menteri Pertahanan, dan Panglima Agung Dr Muchtar Hasbi: Wakil Presiden, Menteri Dalam Negeri Teungku Muhamad Usman Lampoih Awe: Menteri Keuangan Teungku Ilyas Leube: Menteri Kehakiman Dr Husaini M. Hasan: Menteri Pendidikan dan Informasi Dr Zaini Abdullah: Menteri Kesehatan Dr Zubir Mahmud: Menteri Sosial Dr Asnawi Ali: Menteri Pekerjaan Umum dan Industri Amir Ishak: Menteri Komunikasi Amir Mahmud Rasyid: Menteri Perdagangan Malik Mahmud: Menteri Luar Negeri

Para prajurit kelas menengah dan serdadu yang bergabung dalam GAM sendiri telah berjuang pada tahun 1953-1959 dalam pemberontakan Darul Islam. Banyak dari mereka adalah laki-laki tua yang tetap setia kepada mantan gubernur militer Aceh dan pemimpin pemberontakan Darul Islam di Aceh, Daud Beureueh. Orang yang paling menonjol dari kelompok ini adalah Teungku Ilyas Leube, seorang ulama terkenal yang pernah menjadi pemimpin pemberontakan Darul Islam. Beberapa orang anggota Darul Islam juga kemungkinan terkait dengan di Tiro melalui keluarga atau ikatan regional, namun kesetiaan mereka terutama adalah untuk Beureueh. Orang-orang inilah yang menyediakan

Pemberontakan di Aceh pengetahuan militer, pertempuran, pengetahuan lokal dan keterampilan logistik yang tidak memiliki pemimpin muda GAM yang berpendidikan. Pada akhir tahun 1979, tindakan penekanan yang dilakukan militer Indonesia telah menghancurkan GAM, pemimpin-pemimpin GAM berakhir di pengasingan, dipenjara, atau dibunuh; pengikutnya tercerai berai, melarikan diri dan bersembunyi. Para pemimpinnya seperti Di Tiro, Zaini Abdullah (menteri kesehatan GAM), Malik Mahmud (menteri luar negeri GAM), dan Dr Husaini M. Hasan (menteri pendidikan GAM) telah melarikan diri ke luar negeri dan kabinet GAM yang asli berhenti berfungsi.

Tahap kedua
Pada tahun 1985, di Tiro mendapat dukungan Libya untuk GAM, dengan mengambil keuntungan dari kebijakan Muammar Gaddafi yang mendukung pemberontakan nasionalis melalui "Mathaba Melawan Imperialisme, Rasisme, Zionisme dan Fasisme". Tidak jelas apakah Libya kemudian telah mendanai GAM, tapi yang pasti disediakan adalah tempat perlindungan di mana para serdadu GAM bisa menerima pelatihan militer yang sangat dibutuhkan. Sejumlah pejuang GAM yang dilatih oleh Libya selama periode 1986-1989 atau 1990 menceritakan pengakuan yang berbeda-beda. Perekrut GAM mengklaim bahwa jumlah mereka ada sekitar 1.000 sampai 2.000 sedangkan laporan pers yang ditulis berdasar laporan militer Indonesia menyatakan bahwa mereka berjumlah 600-800. Di antara para pemimpin GAM yang bergabung selama fase ini adalah Sofyan Dawood (yang kemudian menjadi komandan GAM Pas, Aceh Utara) dan Ishak Daud (yang menjadi juru bicara GAM di Peureulak, Aceh Timur). Insiden di tahap kedua dimulai pada tahun 1989 setelah kembalinya peserta pelatihan GAM dari Libya. Operasi yang dilakukan GAM antara lain operasi merampok senjata, serangan terhadap polisi dan pos militer, Teungku Muhammad Daud Beureueh pembakaran dan pembunuhan yang ditargetkan kepada polisi dan personel militer, informan pemerintah dan tokoh-tokoh yang pro-Republik Indonesia. Meskipun gagal mendapatkan dukungan yang luas, tindakan kelompok GAM yang lebih agresif ini membuat pemerintah Indonesia untuk memberlakukan tindakan represif. Periode antara tahun 1989 dan 1998 kemudian menjadi dikenal sebagai era Daerah Operasi Militer (DOM) Aceh ketika militer Indonesia meningkatkan operasi kontra-pemberontakan di Aceh. Langkah ini, meskipun secara taktik berhasil menghancurkan kekuatan gerilya GAM, telah mengakibatkan korban di kalangan penduduk sipil lokal di Aceh. Karena merasa terasing dari Republik Indonesia setelah operasi militer tersebut, penduduk sipil Aceh kemudian memberi dukungan dan membantu GAM membangun kembali organisasinya ketika militer Indonesia hampir seluruhnya ditarik dari Aceh atas perintah presiden Habibie pada akhir era 1998 setelah kejatuhan Soeharto.[3] Komandan penting GAM telah entah dibunuh (komandan GAM Pas Yusuf Ali dan panglima senior GAM Keuchik Umar), ditangkap (Ligadinsyah Ibrahim) atau lari (Robert, Arjuna dan Daud Kandang).

Pemberontakan di Aceh

Tahap ketiga
Pada tahun 1999, terjadi kekacauan di Jawa dan pemerintah pusat yang tidak efektif karena jatuhnya Soeharto memberikan keuntungan bagi Gerakan Aceh Merdeka dan mengakibatkan pemberontakan tahap kedua, kali ini dengan dukungan yang besar dari masyarakat Aceh.[4] Pada tahun 1999 penarikan pasukan diumumkan, namun situasi keamanan yang memburuk di Aceh kemudian menyebabkan pengiriman ulang lebih banyak tentara. Jumlah tentara diyakini telah meningkat menjadi sekitar 15.000 selama masa jabatan Presiden Megawati Soekarnoputri (2001 -2004) pada pertengahan 2002. GAM mampu menguasai 70 persen pedesaan di seluruh Aceh.

Selama fase ini, ada dua periode penghentian konflik singkat: yaitu "Jeda Kemanusiaan" tahun 2000 dan "Cessation of Hostilities Agreement" (COHA) ("Kesepakatan Penghentian Permusuhan") yang hanya berlangsung antara Desember 2002 ketika ditandatangani dan berakhir pada Mei 2003 ketika pemerintah Indonesia menyatakan "darurat militer" di Aceh dan mengumumkan bahwa ingin menghancurkan GAM sekali dan untuk selamanya. Dalam istirahat dari penggunaan cara-cara militer untuk mencapai kemerdekaan, GAM bergeser posisi mendukung penyelenggaraan referendum. Dalam demonstrasi pro-referendum 8 November 1999 di Banda Aceh, GAM memberikan dukungan dengan menyediakan transportasi pada para pengunjuk rasa dari daerah pedesaan ke ibukota provinsi. Pada tanggal 21 Juli 2002, GAM juga mengeluarkan Deklarasi Stavanger setelah pertemuan "Worldwide Achehnese Representatives Meeting" di Stavanger, Norwegia. Dalam deklarasi tersebut, GAM menyatakan bahwa "Negara Aceh mempraktekkan sistem demokrasi." Impuls hak-hak demokratis dan hak asasi manusia dalam GAM ini ini dilihat sebagai akibat dari upaya kelompok berbasis perkotaan di Aceh yang mempromosikan nilai-nilai tersebut karena lingkungan yang lebih bebas dan lebih terbuka setelah jatuhnya rezim otoriter Soeharto. Memburuknya kondisi keamanan sipil di Aceh menyebabkan tindakan pengamanan keras diluncurkan pada tahun 2001 dan 2002. Pemerintah Megawati akhirnya pada tahun 2003 meluncurkan operasi militer untuk mengakhiri konflik dengan GAM untuk selamanya dan keadaan darurat dinyatakan di Provinsi Aceh. Pada bulan November 2003 darurat militer diperpanjang lagi selama enam bulan karena konflik belum terselesaikan. Menurut laporan Human Rights Watch,[5] militer Indonesia kembali melakukan pelanggaran hak asasi manusia dalam operasi ini seperti operasi sebelumnya, dengan lebih dari 100.000 orang mengungsi di tujuh bulan pertama darurat militer dan pembunuhan di luar hukum yang umum. Konflik ini masih berlangsung ketika tiba-tiba bencana Tsunami bulan Desember 2004 memporakporandakan provinsi Aceh dan membekukan konflik yang terjadi di tengah bencana alam terbesar dalam sejarah Indonesia tersebut.

Tentara Wanita dari Gerakan Aceh Merdeka dengan komandan GAM Abdullah Syafei'i, 1999

Kesepakatan damai dan pilkada pertama


Setelah bencana Tsunami dahsyat menghancurkan sebagian besar Aceh dan menelan ratusan ribu korban jiwa, kedua belah pihak, GAM dan pemerintah Indonesia menyatakan gencatan senjata dan menegaskan kebutuhan yang sama untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan ini.[6] Namun, bentrokan bersenjata sporadis terus terjadi di seluruh provinsi. Karena gerakan separatis di daerah, pemerintah Indonesia melakukan pembatasan akses terhadap pers dan pekerja bantuan. Namun setelah tsunami, pemerintah Indonesia membuka daerah untuk upaya bantuan internasional.[7]

Pemberontakan di Aceh Bencana tsunami dahsyat tersebut walaupun menyebabkan kerugian manusia dan material yang besar bagi kedua belah pihak, juga menarik perhatian dunia internasional terhadap konflik di Aceh. Upaya-upaya perdamaian sebelumnya telah gagal, tetapi karena sejumlah alasan, termasuk tsunami tersebut, perdamaian akhirnya menang pada tahun 2005 setelah 29 tahun konflik berkepanjangan. Era pasca-Soeharto dan masa reformasi yang liberal-demokratis, serta perubahan dalam sistem militer Indonesia, membantu menciptakan lingkungan yang lebih menguntungkan bagi pembicaraan damai. Peran Presiden Indonesia yang baru terpilih, Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla adalah sangat signifikan dalam menangnya perdamaian di Aceh.[8] Pada saat yang sama, kepemimpinan juga GAM mengalami perubahan, dan militer Indonesia telah menimbulkan begitu banyak kerusakan pada gerakan pemberontak yang mungkin menempatkan GAM di bawah tekanan kuat untuk bernegosiasi.[9] Perundingan perdamaian tersebut difasilitasi oleh LSM berbasis Finlandia, Crisis Management Initiative, dan dipimpin oleh mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari. Perundingan ini menghasilkan kesepakatan damai [10] ditandatangani pada 15 Agustus 2005. Berdasarkan perjanjian tersebut, Aceh akan menerima otonomi khusus di bawah Republik Indonesia, dan tentara non-organik (mis. tentara beretnis non-Aceh) akan ditarik dari provinsi Aceh (hanya menyisakan 25.000 tentara), dan dilakukannya pelucutan senjata GAM. Sebagai bagian dari perjanjian tersebut, Uni Eropa mengirimkan 300 pemantau yang tergabung dalam Aceh Monitoring Mission (Misi Pemantau Aceh). Misi mereka berakhir pada tanggal 15 Desember 2006, setelah suksesnya pilkada atau pemilihan daerah gubernur Aceh yang pertama. Aceh telah diberikan otonomi yang lebih luas melalui UU Pemerintah, meliputi hak khusus yang disepakati pada tahun 2002 serta hak masyarakat Aceh untuk membentuk partai politik lokal untuk mewakili kepentingan mereka. Namun, pendukung HAM menyoroti bahwa pelanggaran HAM sebelumnya di provinsi Aceh akan perlu ditangani. Selama pilkada gubernur Aceh diadakan pada bulan Desember 2006, mantan anggota GAM dan partai nasional berpartisipasi. Pemilihan itu dimenangkan oleh Irwandi Yusuf, yang basis dukungannya sebagian besar terdiri dari para mantan anggota GAM.

Kemungkinan penyebab konflik


Sejarah
Akademis dari ANU Edward Aspinall berpendapat bahwa pengalaman sejarah Aceh selama Revolusi Nasional Indonesia menyebabkan munculnya separatisme Aceh. Peristiwa masa lalu menyebabkan perkembangan selanjutnya. Dia berargumen bahwa pemberontakan Aceh di bawah pemerintahan Indonesia terjadi berdasarkan jalur sejarah Aceh. Hal ini bisa ditelusuri ke konflik kepentingan dan peristiwa-peristiwa tertentu dalam sejarah Aceh, terutama otonomi yang didapat oleh para ulama Aceh selama revolusi nasional dan kehilangan yang dramatis setelah kemerdekaan Indonesia. Aspinall berpendapat lebih lanjut bahwa ada dua tonggak jalan sejara berkembangnya separatisme Aceh: 1945-1949: Aceh memainkan peranan penting dalam revolusi dan perang kemerdekaan melawan Belanda dan akibatnya disinyalir mampu mendapatkan janji dari Presiden Soekarno saat kunjungannya ke Aceh pada 1947, bahwa Aceh akan diizinkan untuk menerapkan hukum Islam (atau syariah) setelah perang kemerdekaan Indonesia. 1953-1962: Gubernur militer Aceh Daud Beureueh menyatakan bahwa provinsi Aceh akan memisahkan diri dari Republik Indonesia (RI) untuk bergabung dengan Negara Islam Indonesia (NII) sebagai reaksi terhadap penolakan pemerintah pusat untuk mengizinkan pelaksanaan syariah dan penurunan Aceh dari status provinsi. Pemberontakan dimana Aceh merupakan bagian ini, kemudian dikenal sebagai Pemberontakan Darul Islam. Aspinall berpendapat bahwa kegagalan pemberontakan ini menandai berakhirnya identifikasi Aceh dengan haluan pan-Indonesia/Islamis dan meletakkan dasar bagi partikularisme. Argumen oleh Aspinall di atas bertentangan dengan pandangan ulama sebelumnya. Sebelumnya pada 1998, Geoffrey Robinson berpendapat bahwa kekalahan dan penyerahan pemberontakan yang dipimpin Daud Beureueh

Pemberontakan di Aceh pada 1962 diikuti oleh sekitar 15 tahun periode di mana tidak ada masalah keamanan atau politik khusus di Aceh terhadap pemerintah pusat. Tim Kell juga menunjukkan bahwa mantan pemimpin-pemimpin pemberontakan Darul Islam 1953-1962 telah dengan niat bergabung dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dalam operasi penumpasan berdarah Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965 dan 1966.

Agama
Aceh memiliki penganut Islam sebagai kelompok agama mayoritas. Namun, secara umum diakui bahwa Aceh adalah daerah di mana Islam pertama kali masuk ke kepulauan Melayu. Kerajaan Islam pertama yang dikenal adalah Pasai (dekat Lhokseumawe sekarang di Aceh Utara) yang didirikan pertengahan abad ke-13. Bukti arkeologis paling awal yang ditemukan untuk mendukung pandangan ini adalah batu makam Sultan Malik al-Saleh yang meninggal pada tahun 1297. Dalam abad-abad berikutnya, Pasai dikenal sebagai pusat pembelajaran agama Islam dan model "pemerintahan Islam" di mana kerajaan lain di kepulauan Melayu melihat untuk belajar. Bagian identitas Aceh yang berbeda dari daerah lainnya ini berasal dari statusnya tersebut, sebagai wilayah Islam awal dan contoh untuk kesultanan-kesultanan lain di kepulauan Melayu. Keterpisahan Aceh dari daerah lain di Indonesia karena agama Islam ini bisa dilihat dari sejarah, terutama dari pembentukan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) tahun 1939 oleh ulama Islam modernis Aceh. Organisasi ini secara eksklusif beranggotakan suku Aceh. Perlu dicatat bahwa di Aceh sendiri, sebagian besar ormas pan-Indonesia telah lemah, bahkan Muhammadiyah, organisasi terbesar bagi umat Islam yang berhaluan modernis di Indonesia, gagal membuat terobosan di Aceh di luar daerah perkotaan dan sebagian besar anggotanya beretnis non-Aceh. Namun, juga perlu dicatat bahwa meskipun organisasi PUSA bersifat parokial, organisasi ini tetap diidentifikasi berhaluan pan-Islamisme di mana tujuannya adalah untuk semua umat Islam untuk bersatu di bawah syariah. Faktor penyebab keagamaan lain bagi separatisme di Aceh adalah perlakuan yang didapat kelompok Muslim dan partai politik di Aceh oleh administrasi Orde Baru rezim Presiden Soeharto. Pertama, adanya penggabungan paksa semua partai politik yang mewakili kepentingan Islam ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada tahun 1973. Anggota dan simpatisan partai politik Islam di Aceh mengalamiberbagai tingkat pelecehan. Walaupun Aceh mempunyai status wilayah khusus, Aceh tidak diizinkan untuk menerapkan syariah atau untuk mengintegrasikan sekolah-sekolah agama Islam (madrasah) dengan sekolah-sekolah nasional untuk menjadi sistem pendidikan terpadu, kedua proposal Aceh ini diabaikan oleh pemerintah pusat. Meskipun Indonesia adalah negara bermayoritas penduduk Muslim, dengan membangun adanya "konsepsi diri" di Aceh akan perannya dalam Islam dan dengan adanya sikap bermusuhan Orde Baru terhadap pengaruh sosial dalam bentuk-bentuk Islam di Aceh, GAM mampu membingkai perjuangan mereka melawan pemerintah Indonesia sebagai "prang sabi" ("perang suci" atau "jihad" menurut Islam). Dalam banyak cara yang sama, istilah ini banyak digunakan dalam "Perang Kafir" (atau Perang Aceh) melawan Belanda tahun 1873-1913. Indikasi tentang ini adalah peminjaman istilah-istilan dalam buku Hikayat Prang Sabi ("Cerita Perang Suci"), sebuah kumpulan cerita Aceh yang digunakan untuk menginspirasi perlawanan terhadap Belanda, oleh beberapa simpatisan GAM sebagai propaganda melawan pemerintah Indonesia. Sebelum gelombang kedua pemberontakan oleh GAM pada akhir 1980-an, telah diamati bahwa beberapa orang telah memaksa anak-anak sekolah Aceh untuk malah menyanyikan lagu Hikayat Prang Sabi, daripada lagu nasional Indonesia, Indonesia Raya. Bahan publikasi politik GAM juga menggambarkan Pancasila, ideologi negara resmi Indonesia sebagai "ajaran politeistik" yang dilarang oleh Islam. Kendati hal di atas, terlihat bahwa pada masa setelah jatuhnya Soeharto pada tahun 1998, agama Islam sebagai faktor pendorong separatisme Aceh mulai mereda, bahkan setelah terjadi proliferasi munculnya serikat mahasiswa Muslim dan kelompok-kelompok ormas Islam lainnya di Aceh. Telah dicatat bahwa kelompok-kelompok baru yang muncul tersebut jarang menyerukan pelaksanaan syariah di Aceh. Sebaliknya, mereka menekankan perlunya referendum kemerdekaan Aceh dan menyoroti pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (TNI) di Aceh. Demikian pula, posisi GAM pada syariah juga bergeser. Ketika pemerintah pusat mengeluarkan UU Nomor 44/1999 tentang Otonomi Aceh yang mencakup ketentuan pelaksanaan syariah di Aceh, GAM malah

Pemberontakan di Aceh mengutuk langkah pemerintah Indonesia tersebut sebagai tidak relevan dan mungkin upaya untuk menipu Aceh atau menggambarkan mereka ke dunia luar sebagai fanatik agama. Meskipun mengubah sikap terhadap syariah, posisi GAM tidaklah jelas. Hal ini dicatat oleh International Crisis Group (ICG) bahwa antara tahun 1999 dan 2001, terjadi beberapa kasus secara periodik di mana komandan militer lokal GAM memaksakan penerapan hukum syariah di masyarakat Aceh dimana mereka memiliki pengaruh. Aspinall mengamati bahwa secara keseluruhan, posisi GAM yang berubah-ubah terhadap syariah dan Islam di Aceh tergantung pada lingkungan internasional dan negara yang mereka inginkan dukungannya untuk kemerdekaan mereka, yaitu: jika negara Barat yang mereka anggap penting, Islam akan tidak ditekankan, namun jika negara-negara Islam yang dianggap penting, Islam akan sangat ditekankan.

Keluhan ekonomi
Masalah utama yang berkaitan dengan masalah ekonomi Aceh adalah terkait pendapatan yang diperoleh dari industri minyak dan gas di Aceh. Robinson berpendapat bahwa manajemen Orde Baru, eksploitasi sumber daya alam Aceh dan pembagian yang tidak adil dari sumber daya tersebut adalah akar penyebab pemberontakan Aceh. Dari tahun 1970-an sampai pertengahan 1980-an, Aceh telah mengalami "booming LNG" setelah penemuan gas alam di pantai timur laut provinsi Aceh. Selama periode yang sama, Aceh menjadi sumber pendapatan utama bagi pemerintah pusat. Pada tahun 1980, Aceh memberikan kontribusi yang signifikan kepada ekspor Indonesia ketika menjadi sumber ekspor terbesar ketiga setelah provinsi Kalimantan Timur dan Riau. Meskipun demikian, hampir semua pendapatan minyak dan gas dari kegiatan produksi dan ekspor di Aceh dialokasikan ke pemerintah pusat baik secara langsung maupun melalui perjanjian bagi hasil dengan perusahaan minyak negara Pertamina. Selain itu, pemerintah pusat tidak kembali menginvestasikan cukup banyak pendapatan tersebut kembali ke provinsi Aceh. Hal ini menyebabkan beberapa teknokratis Aceh yang mulai menonjol saat itu untuk mengeluh bahwa provinsi Aceh telah diperlakukan tidak adil secara ekonomi dan bahwa Aceh telah terpinggirkan dan diabaikan sebagai daerah pinggiran. Robinson mencatat bahwa meskipun beberapa pengusaha bisnis yang kecil di Aceh telah mendapat manfaat dari masuknya modal asing selama booming LNG, ada banyak yang merasa dirugikan saat kalah dari orang lain dengan koneksi politik yang lebih kuat ke pemerintah pusat, terutama pemimpin GAM sendiri, yaitu Hasan di Tiro. Hasan di Tiro adalah salah satu pihak yang dirugikan ketika ia mengajukan tawaran kontrak pipa minyak untuk Mobil Oil Indonesia pada tahun 1974, namun dikalahkan oleh sebuah perusahaan Amerika Serikat. Robinson mencatat waktu deklarasi kemerdekaan GAM pada bulan Desember 1976 dan aksi militer pertama GAM pada tahun 1977 terhadap Mobil Oil terjadi pada waktu yang sama ketika fasilitas ekstraksi dan pengolahan gas alam telah diresmikan. Memang, dalam deklarasi kemerdekaan GAM, GAM mengklaim sebagai berikut: "Aceh, Sumatera, telah menghasilkan pendapatan lebih dari 15 miliar dolar AS setiap tahunnya untuk neokolonialis Jawa, yang mereka gunakan seluruhnya untuk kepentingan Jawa dan orang Jawa." Walaupun demikian, Robinson mencatat bahwa meskipun faktor ini menjelaskan sebagian alasan munculnya pemberontakan GAM pada pertengahan 1970-an, hal ini tidak menjelaskan munculnya kembali GAM pada tahun 1989 dan tingkat kekerasan yang tidak pernah dilihat sebelumnya sejak saat itu. Aspinall juga mendukung sudut pandang ini dan berpendapat bahwa meskipun keluhan mengenai sumber daya alam dan ekonomi tidak boleh dihiraukan sebagai penyebab, faktor ini bukan penyebab secara keseluruhan, dengan contoh propinsi Riau dan Kalimantan Timur yang juga menghadapi eksploitasi ekonomi yang sama atau bahkan lebih buruk oleh pemerintah pusat, tetapi tidak memunculkan pemberontakan separatis karena perbedaan kondisi politik. Dia melanjutkan bahwa keluhan berlatar ekonomi dan sumber daya alam telah menjadi sarana bagi GAM untuk meyakinkan masyarakat Aceh bahwa mereka harus meninggalkan harapan untuk perlakuan khusus dan otonomi di Indonesia dan sebaliknya berjuang untuk memulihkan kejayaan Aceh dengan mendapat kemerdekaan.

Pemberontakan di Aceh

Peran GAM dalam memprovokasi keluhan


Pendiri GAM, Hasan di Tiro dan rekan-rekan pemimpin GAM-nya yang ada di pengasingan di Swedia berperan penting dalam memberikan pesan yang mudah dimengerti tentang kebutuhan dan hak penentuan nasib sendiri untuk Aceh. Oleh karena itu, argumen tentang "perlunya kemerdekaan" Aceh ditargetkan oleh GAM pada penduduk domestik Aceh, sedangkan argumen "hak untuk merdeka" ditargetkan pada komunitas internasional untuk memenangkan dukungan diplomatik terhadap GAM. Dalam propaganda tersebut, Kesultanan Aceh yang telah lama bubar berperan sebagai aktor yang seolah "masih ada" di panggung internasional dengan penekanan pada hubungan masa lalu Kesultanan Aceh dengan negara-negara Eropa, seperti misi diplomatik, perjanjian, serta pernyataan pengakuan kedaulatan Kesultanan Aceh di masa lampau. Sesuai dengan logika ini, Aceh yang berdaulat(dan diwakili oleh GAM) akan menjadi negara penerus Kesultanan Aceh yang telah dibubarkan pasca kekalahan pada Belanda setelah Perang Aceh (1873-1914). Perang Aceh kemudian dipandang oleh masyarakat Aceh sebagai perbuatan agresi militer oleh Belanda dan penggabungan Aceh ke Indonesia pada tahun 1949 dianggap sebagai perpanjangan pendudukan yang tidak sah oleh Belanda tersebut. Argumen ini ditargetkan oleh GAM pada masyarakat Aceh sendiri serta komunitas internasional, yaitu melalui seruan pada hukum internasional. Dalam nada yang sama, negara Indonesia telah dilabeli oleh propaganda GAM sebagai kedok dominasi Jawa. Dalam deskripsi di Tiro sendiri: ""Indonesia" was a fraud. A cloak to cover up Javanese colonialism. Since the world begun [sic], there never was a people, much less a nation, in our part of the world by that name." (BI: ""Indonesia" adalah sebuah penipuan. Sebuah kedok untuk menutupi kolonialisme Jawa. Sejak dunia mulai, tidak pernah ada orang, apalagi bangsa, dalam bagian dari dunia kami dengan nama tersebut.") Upaya untuk menyebarkan propaganda GAM banyak mengandalkan dari mulut ke mulut. Elizabeth Drexler (akademis Universitas Pennsylvania) telah mengamati bahwa masyarakat Aceh dan pendukung GAM sering mengulangi klaim yang sama yang dibuat dalam propaganda GAM yang mereka telah datangi melalui modus penyebaran ini. Almarhum M. Isa Sulaiman (penulis buku "Sejarah Aceh") menulis bahwa ketika di Tiro pertama kali memulai kegiatan separatis itu antara tahun 1974 dan 1976, ia mengandalkan jaringan kerabatnya dan sejumlah intelektual muda yang berpikiran sama untuk menyebarkan pesannya yang kemudian memperoleh massa simpatisan, khususnya di Medan, Sumatera Utara. Aspinall juga menuliskan ingatan para simpatisan GAM tentang hari-hari awal pemberontakan di mana mereka akan menyebarkan pamflet kepada teman atau menyelipkannya secara anonim di bawah pintu kantor rekan-rekan mereka. Namun hasil dari upaya propaganda tersebut cukup berbeda-beda. Eric Morris ketika mewawancarai pendukung GAM tahun 1983 untuk tesisnya mencatat bahwa, daripada untuk kemerdekaan, para pendukung GAM lebih tertarik baik pada sebuah negara Islam Indonesia atau bagi Aceh untuk diperlakukan lebih adil oleh pemerintah pusat. Aspinall juga mencatat bahwa untuk beberapa daerah, GAM tidak membedakan dirinya dari Darul Islam atau Partai Persatuan Pembangunan yang berkampanye di atas panggung Islam untuk Pemilu legislatif Indonesia tahun 1977. Namun bagi individu yang telah menjadi pendukung inti GAM, pesan kemerdekaan yang ditemukan dalam propaganda GAM dipandang sebagai pewahyuan Islam dan banyak yang merasakan momen kebangkitan Islam.

Kemungkinan faktor konflik berkepanjangan


Daya tahan jaringan GAM
Banyak anggota GAM adalah entah anggota pemberontakan Darul Islam atau anak-anak dari mereka. Aspinall mencatat bahwa hubungan kekerabatan, antara ayah dan anak serta antara saudara, telah menjadi penting dalam membentuk solidaritas GAM sebagai sebuah organisasi. Banyak yang merasa bahwa mereka sedang melanjutkan aspirasi ayah, paman, saudara atau sepupu laki-laki yang biasanya adalah orang-orang yang melantik mereka menjadi anggota GAM; dan orang-orang yang aktivitas atau kematiannya di tangan aparat keamanan negara telah

Pemberontakan di Aceh mengilhami mereka untuk bergabung dengan GAM. Konstituen GAM juga sering merupakan penduduk masyarakat pedesaan di mana semua orang tahu dan kenal erat dengan tetangga mereka. Adanya pertalian erat ini memungkinkan kesinambungan serta resistensi tingkat tinggi terhadap infiltrasi oleh aparat intelijen negara. Aspinall juga mengakui kuatnya ketahanan GAM ada pada strukturnya yang seperti sel pada tingkat yang lebih rendah. Tingkat di bawah komandan militer regional (atau panglima wilyah) adalah satuan yang diperintah oleh komandan junior (panglima muda) dan bahkan komandan tingkat yang lebih rendah (Panglima Sagoe dan Ulee Sagoe) yang tidak mengetahui identitas rekan-rekan mereka di daerah tetangga dan hanya mengenal mereka yang langsung berpangkat di atas mereka. Karakter ini memungkinkan GAM untuk bertahan sebagai sebuah organisasi meskipun ada di bawah upaya penekanan kuat oleh aparat keamanan negara Indonesia.

Pelanggaran HAM oleh militer Indonesia


Robinson mengatakan bahwa penggunaan teror oleh militer Indonesia dalam aksi kontra-pemberontakan melawan GAM dalam periode rezim Orde Baru pertengahan 1990 (dalam tahap kedua pemberontakan) telah menyebabkan meluasnya dukungan dari masyarakat Aceh yang terpengaruh oleh kebijakan militer Indonesia tersebut, dan mendorong mereka untuk menjadi lebih simpatik dan mendukung GAM. Ia menilai bahwa metode militer tersebut malah memiliki efek meningkatkan tingkat kekerasan, mengganggu masyarakat Aceh, dan luka yang ditimbulkan terbukti sulit untuk disembuhkan. Amnesty International mencatat: Otoritas politik Angkatan Bersenjata (Republik Indonesia), yang besar bahkan dalam kondisi normal, sekarang (telah) menjadi tak tertandingi. Atas nama keamanan nasional, otoritas militer dan polisi dikerahkan di Aceh kemudian bebas untuk menggunakan hampir segala cara yang dipandang perlu untuk menghancurkan GPK ("Gerakan Pengacauan Keamanan"), yang merupakan nomenklatur (istilah) pemerintah Indonesia untuk GAM. Amnesty International mendokumentasikan penggunaan penangkapan sewenang-wenang, penahanan di luar legalitas, eksekusi, perkosaan dan pembumi-hangusan sebagai karakter operasi militer Indonesia terhadap GAM sejak tahun 1990. Di antara tindakan yang lebih mengerikan diamati oleh Amnesty International adalah pembuangan publik mayat-mayat korban eksekusi (atau Penembakan Misterius) yang dilakukan sebagai peringatan untuk orang Aceh untuk menahan diri dari bergabung atau mendukung GAM. Berikut ini adalah deskripsi tindakan tersebut oleh Amnesty International: "Penembakan misterius" (Petrus) di Aceh memiliki fitur umum sebagai berikut. Mayat-mayat korban biasanya dibiarkan di tempat umum - di samping jalan utama, di ladang dan perkebunan, sungai atau tepi sungai tampaknya sebagai peringatan kepada orang lain untuk tidak bergabung atau mendukung pemberontak. Sebagian besar jelas adalah tahanan ketika mereka dibunuh, jempol mereka, dan kadang-kadang kaki mereka, diikat dengan jenis simpul tertentu. Sebagian besar telah ditembak dari jarak dekat, meskipun peluru jarang ditemukan di tubuh mereka. Kebanyakan juga menunjukkan tanda-tanda telah dipukuli dengan benda tumpul atau disiksa, dan karena itu wajah mereka sering tidak bisa dikenali. Dalam banyak kasus, mayat-mayat tersebut tidak diambil oleh kerabat atau teman, baik karena takut pembalasan oleh militer, dan karena korban biasanya dibuang agak jauh dari desa asal mereka. Taktik TNI lain yang dipertanyakan adalah aktivitas yang disebut "operasi sipil-militer" di mana warga sipil dipaksa untuk berpartisipasi dalam intelijen dan operasi keamanan. Sebuah contoh terkenal dari hal ini adalah Operasi Pagar Betis seperti yang dijelaskan oleh Amnesty International berikut: ....Strategi kerjasama sipil-militer adalah "Operasi Pagar Betis" - digunakan sebelumnya di Timor Timur - di mana penduduk desa biasa dipaksa menyapu melalui daerah tertentu di depan pasukan bersenjata, baik dalam rangka untuk menghalau pemberontak dan juga untuk menghambat mereka untuk membalas tembakan. Elemen penting dalam keberhasilan operasi ini adalah kelompok-kelompok lokal yang "main hakim sendiri" dan patroli malam yang terdiri dari warga sipil, tetapi dibentuk di bawah perintah dan pengawasan militer. Antara 20 dan 30 pemuda dimobilisasi dari setiap desa di daerah yang dicurigai daerah pemberontak. Dalam kata-kata seorang komandan militer setempat: "Para pemuda adalah garis depan. Mereka adalah yang terbaik

Pemberontakan di Aceh dalam mengetahui siapa adalah anggota GPK. Kami kemudian menyelesaikan masalah tersebut." Menolak untuk berpartisipasi dalam kelompok-kelompok tersebut atau kegagalan untuk menunjukkan komitmen yang cukup untuk menghancurkan musuh dengan mengidentifikasi, menangkap atau membunuh terduga pemberontak kadang-kadang mengakibatkan hukuman oleh pasukan pemerintah, termasuk penyiksaan umum, penangkapan dan eksekusi.

10

Kepentingan militer Indonesia di Aceh


Damien Kingsbury, yang menjabat sebagai penasihat informal pimpinan GAM di Swedia selama Perundingan Damai Helsinki 2005, menyatakan bahwa militer Indonesia memiliki kepentingan tersembunyi di Aceh sehingga mereka sengaja menjaga konflik supaya tetap terjadi di tingkat yang akan membenarkan kehadiran mereka di provinsi bergolak tersebut. ICG juga menegaskan dalam sebuah laporan tahun 2003 bahwa, "Aceh (adalah) tempat yang terlalu menguntungkan untuk para perwira militer yang sangat bergantung pada pendapatan yang bersumber non-anggaran ." Kingsbury menguraikan berikut sebagai kegiatan usaha yang diduga dilakukan oleh militer Indonesia di Aceh: Obat terlarang: Pasukan keamanan mendorong petani lokal Aceh untuk menanam ganja dan membayar mereka harga yang jauh di bawah nilai pasar gelap. Salah satu contoh kasus yang disorot adalah di mana seorang polisi pilot helikopter mengakui setelah penangkapannya, bahwa ia mengangkut 40kg konsinyasi obat (ganja) untuk atasannya, kepala polisi Aceh Besar (perlu dicatat bahwa pada saat itu Kepolisian Republik Indonesia atau Polri berada di bawah komando militer atau ABRI). Kasus lain adalah pada bulan September 2002 di mana sebuah truk tentara dicegat oleh polisi di Binjai, Sumatera Utara dengan muatan 1.350kg ganja. Penjualan senjata ilegal: Wawancara pada tahun 2001 dan 2002 dengan para pemimpin GAM di Aceh mengungkapkan bahwa beberapa senjata mereka sebenarnya dibeli dari oknum militer Indonesia. Metode pertama penjualan ilegal tersebut adalah: personil militer Indonesia melaporkan senjata-senjata tersebut sebagai senjata yang disita dalam pertempuran. Kedua, oknum personil militer utama Indonesia yang mempunyai otoritas akses bahkan langsung mensuplai GAM dengan pasokan senjata serta amunisi. Pembalakan liar : Oknum militer dan polisi disuap oleh perusahaan penebangan untuk mengabaikan kegiatan penebangan yang dilakukan di luar wilayah berlisensi. Proyek Pembangunan Leuser yang didanai oleh Uni Eropa dari pertengahan 1990-an untuk memerangi pembalakan liar sebenarnya telah menemukan bahwa oknum polisi dan militer Indonesia yang seharusnya membantu mencegah pembalakan liar, pada kenyataannya malah memfasilitasi, dan dalam beberapa kasus, bahkan memulai kegiatan ilegal tersebut. Perlindungan liar: Oknum militer Indonesia mengelola "usaha perlindungan" liar untuk mengekstrak pembayaran besar dari perusahaan-perusahaan besar seperti Mobil Oil dan PT Arun NGL di industri minyak dan gas, serta perusahaan perkebunan yang beroperasi di Aceh. Sebagai imbalan untuk pembayaran liar tersebut, militer akan mengerahkan personilnya untuk "mengamankan" properti dan daerah operasi perusahaan tersebut. Perikanan: nelayan lokal Aceh dipaksa untuk menjual tangkapan mereka kepada oknum militer dengan harga jauh di bawah harga pasar. Oknum militer kemudian menjual ikan untuk bisnis lokal dengan harga yang jauh lebih tinggi. Oknum dari Angkatan Laut Indonesia mungkin juga mencegat kapal-kapal nelayan untuk memeras pembayaran dari nelayan. Kopi: Serupa dengan nelayan, penanam kopi dipaksa menjual biji kopi kepada oknum militer dengan harga murah yang kemudian menjualnya dengan harga tinggi.

Pemberontakan di Aceh

11

Kemungkinan faktor resolusi damai


Melemahnya posisi militer GAM
Dinyatakannya status darurat militer di Aceh oleh pemerintah Indonesia pada Mei 2003 menghasilkan perlawanan terpadu oleh militer Indonesia terhadap GAM. ICG melaporkan bahwa pada pertengahan 2004, jalur pasokan dan komunikasi GAM terganggu secara serius. GAM juga makin sulit berpindah-pindah dan keberadaan mereka di kawasan perkotaan hilang sepenuhnya. Akibatnya, komando GAM di Pidie menginstruksikan kepada semua komandan lapangan melalui telepon agar mundur dari sagoe (subdistrik) ke daerah (distrik) dan aksi militer hanya dapat dilaksanakan jika ada perintah dari komandan daerah disertai izin komandan wilayah. Sebelumnya, saat GAM masih kuat, satuan tingkat sagoe-nya memiliki otonomi komando yang lebih besar sehingga mampu melancarkan aksi militer atas kemauannya sendiri. Menurut Endriartono Sutarto yang saat itu menjabat Komandan Jenderal ABRI, pasukan keamanan Indonesia berhasil mengurangi jumlah pasukan GAM sebanyak 9.593 orang yang diduga mencakup anggota yang menyerahkan diri, ditangkap, dan tewas dalam baku tembak. Meski meragukan keakuratan jumlah tersebut, banyak pemantau sepakat bahwa tekanan militer yang baru terhadap GAM pasca penerapan darurat militer memberikan pukulan telak bagi GAM. Akan tetapi, Aspinall mencatat bahwa sebagian besar petinggi GAM yang ia wawancarai, terutama petugas lapangan, bersikeras bahwa mereka mengakui MoU Helsinki bukan karena militer mereka semakin lemah. Mantan pemimpin GAM Irwandi Yusuf, yang kelak menjadi Gubernur Aceh melalui pilkada langsung tanggal 11 Desember 2006, mengaku bahwa bukannya bubar, situasi GAM justru membaik sejak anggota yang sakit dan lemah ditangkap militer Indonesia sehingga anggota di lapangan tidak terbebani oleh mereka. Walaupun pasukan GAM tetap komit melanjutkan perjuangan mereka, para petinggi GAM mungkin sudah putus asa membayangkan mungkinkah mencapai kemenangan militer atas pasukan pemerintah Indonesia. Kata mantan perdana menteri GAM Malik Mahmud kepada Aspinall bulan Oktober 2005: "Strategi yang diterapkan oleh kedua pihak berujung pada kebuntuan yang sangat merugikan". Saat diwawancarai Jakarta Post tentang apakah mengakui MoU Helsinki adalah tindakan pencitraan oleh GAM pasca kemunduran militernya, Malik menjawab: "Kami harus realistis. Kami harus mempertimbangkan kenyataan di lapangan. Jika [perjanjian damai] itu solusi terbaik bagi kedua pihak, tentunya dengan segala kerendahan hati, mengapa tidak! Ini demi perdamaian, demi kemajuan masa depan. Jadi tidak ada yang salah dengan [perjanjian] itu dan saya pikir negara manapun di dunia akan melakukan hal yang sama. Selain itu, ketika kami menghadapi situasi semacam ini kami harus sangat, sangat tegas dan berani menghadapi kenyataan. Inilah yang kami lakukan.

Tekanan internasional
Opini internasional pasca-tsunami juga lebih condong ke dialog damai Helsinki yang dilaksanakan antara pemerintah Indonesia dan GAM. Kedua pihak mengirimkan pejabat tertingginya sebagai negosiator, sementara perwakilan pada dialog Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) yang ditandatangani bulan Desember 2002 adalah perwakilan yang cenderung masih di tingkat junior. Para petinggi GAM juga menilai bahwa selama dialog damai Helsinki tidak ada komunitas internasional yang mendukung aspirasi kemerdekaan Aceh. Tentang hal ini, Malik berkata: Kami melihat dunia tidak memedulikan keinginan kami untuk merdeka, jadi kami berpikir selama proses [negosiasi ini] bahwa [otonomi dan pemerintahan sendiri] itulah solusi terbaik yang ada di hadapan kami. Saat menjelaskan kepada para komandan GAM mengenai penerimaan tawaran pemerintahan sendiri alih-alih melanjutkan perjuangan kemerdekaan, para petinggi GAM menegaskan bahwa jika mereka terus memaksa menuntut kemerdekaan setelah tsunami 2004, mereka akan terancam dikucilkan oleh komunitas internasional.

Pemberontakan di Aceh

12

Pergantian kepemimpinan Indonesia 2004


Pada Oktober 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dilantik setelah memenangkan pemilu presiden 2004, pemilu langsung pertama di Indonesia. Aspinall berpendapat bahwa sebelum pemilu langsung ini, ada keseimbangan posisi antara pejabat pemerintahan Indonesia, yaitu antara pejabat yang percaya bahwa kemenangan militer mustahil tercapai dan negosiasi sangat diperlukan, dengan pihak pejabat garis keras yang percaya bahwa GAM dapat sepenuhnya dilenyapkan. Terpilihnya SBY dan Kalla mendorong kebijakan pemerintah untuk condong ke posisi pertama. Aspinall menunjukkan bahwa ketika SBY masih menjabat sebagai menteri dalam kabinet Presiden Megawati Soekarnoputri, ia mendukung "pendekatan terintegrasi" berupa pennyertaan upaya militer dengan negosiasi terhadap GAM. Kalla, yang saat itu kolega SBY di kementerian, juga mendukung dimulainya kembali dialog dengan GAM pada awal 2004 (yaitu ketika darurat militer masih diberlakukan di Aceh dan operasi militer masih berlangsung). Saat itu, Kalla, melalui orang kepercayaannya, mendekati komandan GAM di lapangan sekaligus pemimpinnya di Swedia. Posisi presiden dan wakil presiden Indonesia yang lebih memilih jalur negosiasi sebagai solusi pemberontakan Aceh memberikan jalan untuk mencapai keberhasilan dialog perdamaian Helsinki. Kingsbury, penasihat resmi untuk GAM, juga menyebut terpilihnya SBY dan Kalla tahun 2004 sebagai prawarsa upaya damai yang berakhir dengan perjanjian resmi. Selain itu, ia menyebut penunjukan Kalla menjadi pengawas delegasi Indonesia pada dialog damai sebagai faktor penting, dikarenakan status Kalla yang merupakan ketua umum Golkar, partai mayoritas di DPR saat itu, sehingga pemerintahan SBY mudah menghadapi penolakan dari anggota DPR lainnya.

Laporan Time To Face The Past


Pada April 2013, Amnesty International meluncurkan laporan Time To Face The Past ("Saatnya Menghadapi Masa Lalu") yang isinya pernyataan mereka bahwa "sebagian besar korban dan kerabatnya sudah lama dijauhkan dari kebenaran, keadilan, dan pemulihan, dan Indonesia telah melanggar kewajibannya menurut hukum internasional. Mereka masih menunggu otoritas lokal dan nasional Indonesia untuk mengakui dan memperbaiki apa yang telah mereka dan keluarganya alami pada masa konflik." Dalam perumusan laporannya, Amnesty International menggunakan hasil penelitiannya saat berkunjung ke Aceh pada Mei 2012. Pada kunjungan tersebut, perwakilan organisasi tersebut mewawancarai lembawa swadaya masyarakat (LSM), organisasi masyarakat, pengacara, anggota dewan, pejabat pemerintah setempat, jurnalis, dan korban dan perwakilan mereka mengenai situasi di Aceh pada saat wawancara dilaksanakan. Korban menyatakan apresiasi mereka terhadap proses perdamaian dan meningkatnya keamanan di provinsi Aceh, tetapi juga menyatakan frustrasi atas tidak adanya tindakan dari pemerintah Indonesia sesuai nota kesepahaman 2005 yang mencantumkan rencana pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia di Aceh dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh. Selain itu, laporan Time To Face The Past berisi peringatan potensi munculnya kekerasan baru di Aceh jika pemerintah Indonesia tetap stagnan dalam pelaksanaan komitmennya yang tercantum pada MoU 2005. Wakil direktur Asia Pasifik Amnesty International Isabelle Arradon menjelaskan saat peluncuran laporan tersebut: "Situasi yang sedang terjadi adalah munculnya benih-benih ketidakpuasan yang bisa tumbuh menjadi aksi kekerasan baru". Per 19 April 2013, pemerintah Indonesia belum menanggapi laporan ini. Juru bicara presiden SBY memberitahukan BBC bahwa ia belum bisa memberi komentar karena belum membaca laporan tersebut.[11]

Pemberontakan di Aceh

13

Referensi
[1] Miller, Michelle Ann. Rebellion and Reform in Indonesia. Jakarta's Security and Autonomy Policies in Aceh (London: Routledge 2008) ISBN 978-0-415-45467-4 [2] Casualties Of The War In Ache (http:/ / www. peacewomen. org/ news/ Acheh/ Feb04/ casualties. html) [3] Leonard Sebastian, "Realpolitik: Indonesia's Use of Military Force", 2006, Institute of Southeast Asian Studies [4] Miller, Michelle Ann. op. cit. [5] Human Rights Watch (http:/ / hrw. org/ reports/ 2003/ indonesia1203/ 5. htm#_Toc58915047) [6] Pengakuan yang sangat berguna dan rinci dari proses negosiasi dari pihak Indonesia dalam buku oleh negosiator kunci Indonesia , Hamid Awaludin, Peace in Aceh: Notes on the peace process between the Republic of Indonesia and the Aceh Freedom Movement (GAM) in Helsinki, diterjemahkan Tim Scott, 2009, Centre for Strategic and International Studies, Jakarta. ISBN 978-979-1295-11-6. [7] http:/ / www. asiapacific. ca/ analysis/ pubs/ pdfs/ commentary/ cac43. pdf [8] See Hamid Awaludin, op. cit. [9] Asia Times Online :: Southeast Asia news - A happy, peaceful anniversary in Aceh (http:/ / www. atimes. com/ atimes/ Southeast_Asia/ HH15Ae01. html) [10] Text of the MOU (http:/ / www. aceh-mm. org/ download/ english/ Helsinki MoU. pdf) (PDF format) [11] Amnesty: Indonesia 'failing to uphold' Aceh peace terms (http:/ / www. bbc. co. uk/ news/ world-asia-22198860)

Pranala luar
INDONESIA: THE WAR IN ACEH (HRW report, 2001) (http://www.hrw.org/reports/2001/aceh/index. htm) Aceh Peace (http://alertnet.org/db/crisisprofiles/ID_PEA.htm?v=in_detail) From Reuters Alertnet (http:// alertnet.org) Full text of the Agreement between the Government of Indonesia and the Free Aceh Movement, 18 August 2005 (http://peacemaker.un.org/node/1099), UN Peacemaker Full text of the Cessation of Hostilities Agreement Between the Government of Indonesia and the Free Aceh Movement, 9 December 2002 (http://peacemaker.un.org/node/1105), UN Peacemaker

Gerakan Aceh Merdeka

14

Gerakan Aceh Merdeka


Gerakan Aceh Merdeka

Bendera GAM Masa tugas Negara 4 Desember 1976 - 27 Desember 2005 Indonesia

Aliansi(sekutu) Nasional, separatis Spesialisasi Markas Peralatan Pertempuran Gerilya Pegunungan dan hutan di Aceh Tentara kecil and dinamit Pemberontakan di Aceh

Komandotempur
Komandan Hasan di Tiro (meninggal)

Lencana
Lencana 1 Lencana 2 Bulan sabit dan bintang Initials "GAM"

Gerakan Aceh Merdeka, atau GAM adalah sebuah organisasi (yang dianggap separatis) yang memiliki tujuan supaya Aceh, yang merupakan daerah yang sempat berganti nama menjadi Nanggroe Aceh Darussalam lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konflik antara pemerintah RI dan GAM yang diakibatkan perbedaan keinginan ini telah berlangsung sejak tahun 1976 dan menyebabkan jatuhnya hampir sekitar 15.000 jiwa. Gerakan ini juga dikenal dengan nama Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF). GAM dipimpin oleh Hasan di Tiro selama hampir tiga dekade bermukim di Swedia dan berkewarganegaraan Swedia. Pada tanggal 2 Juni 2010, ia memperoleh status kewarganegaraan Indonesia, tepat sehari sebelum ia meninggal dunia di Banda Aceh. [1].

Garis waktu
Pada 4 Desember 1976 inisiator Gerakan Aceh Merdeka Hasan di Tiro dan beberapa pengikutnya mengeluarkan pernyataan perlawanan terhadap pemerintah RI yang dilangsungkan di perbukitan Halimon di kawasan Kabupaten Pidie. Diawal masa berdirinya GAM nama resmi yang digunakan adalah AM, Aceh Merdeka. Oleh pemerintah RI pada periode 1980-1990 nama gerakan tersebut dikatakan dengan GPK-AM. Perlawanan represif bersenjata gerakan tersebut mendapat sambutan keras dari pemerintah pusat RI yang akhirnya menggelar sebuah operasi militer di Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang dikenal dengan DOM (Daerah Operasi Militer) pada paruh akhir 80-an sampai dengan penghujung 90-an, operasi tersebut telah membuat para aktivis AM terpaksa melanjutkan perjuangannya dari daerah pengasingan. Disaat rezim Orde Baru berakhir dan reformasi dilangsungkan di Indonesia, seiring dengan itu pula Gerakan Aceh Merdeka kembali eksis dan menggunakan nama GAM sebagai identitas organisasinya.

Gerakan Aceh Merdeka Konflik antara pemerintah RI dengan GAM terus berlangsung hingga pemerintah menerapkan status Darurat Militer di Aceh pada tahun 2003, setelah melalui beberapa proses dialogis yang gagal mencapai solusi kata sepakat antara pemerintah RI dengan aktivis GAM. Konflik tersebut sedikit banyak telah menekan aktivitas bersenjata yang dilakukan oleh GAM, banyak di antara aktivis GAM yang melarikan diri ke luar daerah Aceh dan luar negeri. Bencana alam gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004 telah memaksa pihak-pihak yang bertikai untuk kembali ke meja perundingan atas inisiasi dan mediasi oleh pihak internasional. Pada 27 Februari 2005, pihak GAM dan pemerintah RI memulai tahap perundingan di Vantaa, Finlandia. Mantan presiden Finlandia Marti Ahtisaari berperan sebagai fasilitator. Pada 17 Juli 2005, setelah perundingan selama 25 hari, tim perunding Indonesia berhasil mencapai kesepakatan damai dengan GAM di Vantaa, Helsinki, Finlandia. Penandatanganan nota kesepakatan damai dilangsungkan pada 15 Agustus 2005. Proses perdamaian selanjutnya dipantau oleh sebuah tim yang bernama Aceh Monitoring Mission (AMM) yang beranggotakan lima negara ASEAN dan beberapa negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Di antara poin pentingnya adalah bahwa pemerintah Indonesia akan turut memfasilitasi pembentukan partai politik lokal di Aceh dan pemberian amnesti bagi anggota GAM. Meski, perdamaian tersebut, sejatinya sampai sekarang masih menyisakan persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Misal saja berkait dengan Tapol/Napol Aceh yang masih berada di penjara Cipinang, Jakarta seperti Ismuhadi, dkk. Selain juga persoalan kesejahteraan mantan prajurit kombatan GAM yang cenderung hanya dinikmati oleh segelintir elit. Seluruh senjata GAM yang mencapai 840 pucuk selesai diserahkan kepada AMM pada 19 Desember 2005. Kemudian pada 27 Desember, GAM melalui juru bicara militernya, Sofyan Dawood, menyatakan bahwa sayap militer mereka telah dibubarkan secara formal.

15

Tokoh-tokoh GAM
Daud Paneuk Dr. Zubir Dr. Mukhtar Ishak Daud Abdullah Syafi'ie Said Adnan

MP GAM
Selain GAM, pada masa konflik tersebut juga muncul sebuah gerakan tandingan yang dikendalikan dari luar negeri yang disebut dengan MP GAM. Gerakan tersebut kurang mendapat sambutan dari masyarakat luas di Aceh. Pada awal tahun 2000-an juru bicara gerakan tersebut tewas dalam sebuah aksi penembakan di Malaysia.

Pranala luar
(Aceh) (Inggris) (Indonesia) Acheh-Sumatra National Liberation Front [2] (Indonesia) Terjemahan resmi nota kesepahaman Pemerintah Indonesia dan GAM [3] (format PDF)

Gerakan Aceh Merdeka

16

Referensi
[1] Otto Syamsuddin Ishak, dkk, Hasan Tiro: Unfinished Story of Aceh, Bandar Publishing-Banda Aceh, 2010 [2] http:/ / www. asnlf. org [3] http:/ / www. cmi. fi/ files/ Aceh_MoU_bahasa. pdf

17

Tokoh Terkait
Hasan di Tiro
Tengku Hasan Muhammad di Tiro
Julukan Lahir Meninggal Wali,
[1]

Hasan di Tiro

25 Agustus 1925 Aceh, Hindia Belanda 3 Juni 2010 (umur84) Banda Aceh, Indonesia

Pengabdian Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Lamadinas 4 Desember 1976 27 Desember 2005 Perang Pemberontakan di Aceh

Teungku Hasan Muhammad di Tiro (lahir di Pidie, Aceh, 25 September 1925meninggal di Banda Aceh, 3 Juni 2010 pada umur 84 tahun ) adalah seorang tokoh pendiri Gerakan Aceh Merdeka, sebuah gerakan yang berusaha memperjuangkan kemerdekaan Aceh dari Indonesia. Gerakan tersebut resmi berdamai lewat perjanjian Helsinki pada 2005 dan melucuti senjata mereka. Hasan dianggap "wali", karena dia adalah keturunan ketiga Tengku Chik Muhammad Saman di Tiro, pahlawan nasional Indonesia yang berperang melawan Belanda pada 1890an.

Kehidupan awal
Berasal dari sebuah keluarga terpadang, dari desa Tiro di Kabupaten Pidie, di Tiro belajar di Yogyakarta dan melawan Belanda saat Revolusi Nasional Indonesia. Ia kemudian melanjutkan belajar di Amerika Serikat dan bekerja paruh waktu di Misi Indonesia untuk PBB. Saat belajar di New York pada 1953, ia mendeklarasikan dirinya sebagai "menteri luar negeri" untuk gerakan pemberontak Darul Islam, yang di Aceh dipimpin Daud Beureueh. Karena aksi ini, ia dicabut kewarganegaraan Indonesia, menyebabkan dia dipenjara di Penjara Ellis Island sebagai warga asing ilegal Pemberontakan Darul Islam di Aceh sendiri berakhir dengan perjanjian damai pada 1962. Dibawah perjanjian damai, Aceh diberikan status otonomi.

Hasan di Tiro

18

Mendirikan GAM
Di Tiro kembali muncul di Aceh pada tahun 1974, di mana ia mengajukan tawaran untuk kontrak pipa di pabrik gas baru Mobil Oil yang akan dibangun di daerah Lhokseumawe. Dia dikalahkan oleh Bechtel, dalam proses tender di mana di Tiro berpikir pemerintah pusat memiliki terlalu banyak kontrol terhadap gas di Aceh.[2] Ada klaim yang menyatakan bahwa, sebagai akibat dari kerugian dan kematian saudaranya karena apa yang ia dianggap sebagai kelalaian yang disengaja oleh dokter dari etnis Jawa, di Tiro mulai mengorganisir gerakan separatis menggunakan kenalan lamanya di Darul Islam.
Spanduk ungkapan duka cita di makam Hasan

Dia menyatakan organisasinya sebagai Front Pembebasan Nasional Tiro di Mureu Lamglumpang, Indrapuri, Aceh Besar Aceh Sumatera, lebih dikenal sebagai Gerakan Aceh Merdeka pada tanggal 4 Desember 1976. Di antara tujuannya adalah kemerdekaan penuh Aceh dari Indonesia. Di Tiro memilih kemerdekaan sebagai salah satu tujuan GAM, bukan otonomi khusus daerah, karena fokus pada sejarah Aceh sebelum masa kolonial Belanda sebagai sebuah negara merdeka. GAM berbeda dari pemberontakan Darul Islam yang berusaha untuk menggulingkan ideologi Pancasila yang sekuler dan menciptakan negara Islam Indonesia berdasarkan syariah. Dalam "Deklarasi Kemerdekaan", ia mempertanyakan hak Indonesia untuk berdiri sebagai negara, karena pada asalnya itu adalah negara multi-budaya berdasarkan kekaisaran kolonial Belanda dan terdiri dari negara-negara sebelumnya yang terdiri atas banyak sekali etnis dengan sedikit kesamaan. Dengan demikian, di Tiro percaya bahwa rakyat Aceh harus memulihkan keadaan pra-kolonial Aceh sebagai negara merdeka dan harus terpisah dari negara Indonesia.[3] Karena fokus baru pada sejarah Aceh dan identitas etnik yang berbeda, beberapa kegiatan GAM melibatkan serangan terhadap para transmigran, terutama mereka yang bekerja dengan tentara Indonesia, dalam upaya untuk mengembalikan tanah Aceh untuk masyarakat Aceh. Transmigran etnis Jawa di antara mereka yang paling sering menjadi target, karena banyak di antara mereka yang berhubungan dekat mereka dengan tentara Indonesia. Prinsip militer GAM, bagaimanapun, melibatkan serangan gerilya terhadap tentara dan polisi Indonesia. Pada tahun 1977, setelah memimpin serangan GAM di mana salah satu insinyur Amerika Serikat tewas dan satu insinyur Amerika lain dan satu insinyur Korea Selatan terluka, Hasan diburu oleh militer Indonesia. Ia ditembak di kaki dalam sebuah penyergapan militer, dan melarikan diri ke Malaysia. Dari tahun 1980, di Tiro tinggal di Stockholm, Swedia dan memiliki kewarganegaraan Swedia. Selama periode ini Zaini Abdullah, yang menjadi gubernur Aceh pada Juni 2012, adalah salah satu rekan Aceh terdekatnya di Swedia. Setelah tsunami pada bulan Desember 2004, GAM dan pemerintah Indonesia setuju untuk menandatangani perjanjian damai yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia pada Agustus 2005. Menurut ketentuan perjanjian perdamaian, yang diterima oleh pimpinan politik GAM dan disahkan oleh di Tiro, Aceh mendapat status otonomi yang lebih besar. Tak lama setelah itu, sebuah Undang-Undang baru tentang Penyelenggaraan Pemerintahan di Aceh disahkan oleh parlemen nasional di Jakarta untuk mendukung pelaksanaan perjanjian damai. Pada bulan Oktober 2008, setelah 30 tahun pengasingan, di Tiro kembali ke Aceh. Selama konflik, pada tiga kesempatan terpisah pemerintah Indonesia keliru menyatakan bahwa Hasan di Tiro telah meninggal.
Makam Hasan Tiro berdampingan dengan makam buyutnya, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman

Hasan di Tiro

19

Kembali ke Aceh
Pada 11 Oktober 2008, setelah 30 tahun, dia kembali ke Banda Aceh. Masalah kesehatannya membuatnya tak berperan aktif dalam percaturan politik Aceh selanjutnya. Dia kembali ke Swedia dua pekan berikutnya.[4] Setahun kemudian, ia kembali ke Aceh, [5] dan bertahan di sana sampai kematiannya.[6] Pada 2 Juni 2010, Hasan dianugerahi status warga negara oleh pemerintah Indonesia.[7]. Hari berikutnya, ia wafat di rumah sakit di Banda Aceh.

Referensi
[1] Hasan Tiro hospitalized again (http:/ / serambinews. com/ news/ view/ 31447/ hasan-tiro-kembali-masuk-rumah-sakit) [2] Nessen, William, Acehs National Liberation Movement, in Veranda of Violence ed. Anthony Reid (Singapore: Singapore University Press, 2006), p. 184 [3] Salinan Deklarasi Kemerdekaan Aceh (http:/ / acehnet. tripod. com/ declare. htm) di Acehnet [4] Indonesia: Hasan Tiro returns to Sweden (http:/ / www. accessmylibrary. com/ article-1G1-187954750/ indonesia-hasan-tiro-returns. html) [5] Hasan Tiro arrives in Aceh (http:/ / nasional. vivanews. com/ news/ read/ 97885-hasan_tiro_tiba_di_aceh) [6] Hasan Tiro hospitalized (http:/ / nasional. vivanews. com/ news/ read/ 111445-hasan_tiro_masuk_rumah_sakit) [7] Hasan Tiro an Indonesian citizen again (http:/ / www. antara. co. id/ berita/ 1275398521/ hasan-tiro-kembali-jadi-wni)

Daud Beureu'eh

20

Daud Beureu'eh
Teungku Daud Beureu'eh

Gubernur Aceh ke-3 Masa jabatan 1948 1952 Didahului oleh Digantikan oleh Teuku Daud Syah Teuku Sulaiman Daud

Informasi pribadi Lahir 17 September 1899 Pidie, Aceh 10 Juni 1987 (umur 87) Banda Aceh, Aceh Islam

Meninggal

Agama

Teungku Muhammad Daud Beureu'eh (lahir di Beureu'eh, kabupaten Pidie, Aceh, 17 September 1899meninggal di Aceh, 10 Juni 1987 pada umur 87 tahun ) atau yang nama lengkapnya adalah Teungku Muhammad Daud Beureu'eh adalah mantan Gubernur Aceh, pendiri NII di Aceh dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ketika PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) didirikan untuk menentang pendudukan Belanda, Daud Beureu'eh terpilih sebagai ketuanya. Pada masa perang revolusi, Daud Beureu'eh menjabat sebagai Gubernur Militer Aceh. Sejak 21 September 1953 sampai dengan 9 Mei 1962, ia melakukan pemberontakan kepada pemerintah dengan mendirikan NII akibat ketidakpuasannya atas pemerintahan Soekarno. Namun akhirnya ia kembali ke pangkuan Republik Indonesia setelah dibujuk kembali oleh Mohammad Natsir.
Sebelumnya: Teuku Daud Syah Gubernur Aceh 1948-1952 Digantikanoleh: Teuku Sulaiman Daud

Daud Beureu'eh

21

Pranala luar
(Indonesia) Daud Beureueh : Membangun Negara di Atas Gunung [1]

Referensi
[1] http:/ / swaramuslim. net/ galery/ islam-indonesia/ index. php?page=sabili6-harga_mahal. htm#03_daud_beureueh

Martti Ahtisaari

22

Martti Ahtisaari
Martti Ahtisaari

Ahtisaari in Helsinki. (4 Juli 2007) Presiden Finlandia ke-10 Masa jabatan 1 Maret 1994 1 Maret 2000 Perdana Menteri Esko Aho Paavo Lipponen Didahului oleh Digantikan oleh Mauno Koivisto Tarja Halonen Informasi pribadi Lahir 23 Juni 1937 Viipuri, Finlandia (kini Vyborg, Rusia) Partai Sosial Demokratik Eeva Hyvrinen [1]

Partai politik Suami/istri Anak Profesi

Marko Ahtisaari Guru Diplomat Luteranisme

Agama

Martti Oiva Kalevi Ahtisaari (diucapkan [mrt:i oiv klei htis:ri]) (lahir di Viipuri, Finlandia (kini Vyborg, Rusia), 23 Juni 1937; umur 76 tahun ) adalah Presiden Finlandia ke-10 (1 Maret 19941 Maret 2000) dan peraih hadiah Nobel 2008. Ia juga seorang diplomat atau Utusan Khusus dan mediator PBB urusan status Kosovo. Selain, sebagai diplomat dan mediator untuk PBB dengan reputasi internasional.

Seorang mediator
Pertama kali, ia diminta untuk menengahi konflik Aceh pada Februari 2004. Ia membutuhkan sekitar delapan bulan untuk menyelesaikan naskah kesepahaman Helsinki dan ia tampil sebagai aktor utama di balik penandatanganan perjanjian damai antara GAM dan pemerintah Indonesia pada Perundingan Damai Helsinki 2005 tanggal 15 Agustus 2005. Atas perannya itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan Bintang Republik Indonesia Utama pada 18 Agustus 2006 di Istana Merdeka, Jakarta. Ia memimpin lembaga internasional Crisis Management Initiative sejak 2000. Ia melanglang buana ke mana-mana untuk mengupayakan penyelesaian konflik. Ia pernah mempertemukan Viktor Chernomyrdin dengan Slobodan Milosevic untuk mengakhiri pertikaian di Kosovo pada tahun 1999.

Martti Ahtisaari Atas jasa-jasanya dalam mengusahakan perdamaian dunia, pada tahun 2008 ia dianugerahi Nobel Perdamaian.

23

Referensi
[1] http:/ / www. tpk. fi/ ahtisaari/ fin/ henkilot/ eeva_ahtisaari. cv. html.

Pranala luar
Martti Ahtisaari's homepage (http://www.ahtisaari.fi) Martti Ahtisaari's Project Syndicate op/eds (http://www.project-syndicate.org/contributors/contributor_comm. php4?id=689)
Jabatan politik Sebelumnya: Mauno Koivisto Presiden Finlandia 19942000 Penghargaan dan prestasi Sebelumnya: Al Gore Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2008 Digantikanoleh: Barack Obama Digantikanoleh: Tarja Halonen

Muhammad Jusuf Kalla

24

Muhammad Jusuf Kalla


Drs. H.

Muhammad Jusuf Kalla

Wakil Presiden Indonesia ke-10 Masa jabatan 20 Oktober 2004 20 Oktober 2009 Presiden Didahului oleh Digantikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono Hamzah Haz Boediono

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia ke-9 Masa jabatan 9 Agustus 2001 22 April 2004 Presiden Didahului oleh Digantikan oleh Megawati Soekarnoputri Basri Hasanuddin Abdul Malik Fadjar (ad-interim) Menteri Perdagangan Republik Indonesia ke-27 Masa jabatan 26 Oktober 1999 24 Agustus 2000 Presiden Didahului oleh Digantikan oleh Abdurahman Wahid Rahardi Ramelan Luhut Binsar Panjaitan Ketua Umum Palang Merah Indonesia Petahana Mulai menjabat 2009 Didahului oleh Mar'ie Muhammad Informasi pribadi

Muhammad Jusuf Kalla

25
15 Mei 1942 Makassar, Sulawesi Selatan, Masa Pendudukan Jepang Indonesia Partai Golkar Mufidah Miad Saad Pengusaha Islam

Lahir

Kebangsaan Partai politik Suami/istri Profesi Agama

Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (lahir di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942; umur 71 tahun ), atau sering ditulis Jusuf Kalla saja atau JK, adalah mantan Wakil Presiden Indonesia yang menjabat pada 2004 2009 dan Ketua Umum Partai Golongan Karya pada periode yang sama. JK menjadi capres bersama Wiranto dalam Pilpres 2009 yang diusung Golkar dan Hanura.

Awal kehidupan dan karier


Jusuf Kalla lahir di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan pada tanggal 15 Mei 1942 sebagai anak ke-2 dari 17 bersaudara[1] dari pasangan Haji Kalla dan Athirah, pengusaha keturunan Bugis yang memiliki bendera usaha Kalla Group. Bisnis keluarga Kalla tersebut meliputi beberapa kelompok perusahaan di berbagai bidang industri. Tahun 1968, Jusuf Kalla menjadi CEO dari NV Hadji Kalla. Di bawah kepemimpinannya, NV Hadji Kalla berkembang dari sekedar bisnis ekspor-impor, meluas ke bidang-bidang perhotelan, konstruksi, pejualan kendaraan, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan udang, kelapa sawit, dan telekomunikasi. Di Makassar, Jusuf Kalla dikenal akrab disapa oleh masyarakat dengan panggilan Daeng Ucu.
Prangko Wakil Presiden Jusuf Kalla

Pengalaman organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan Jusuf Kalla antara lain adalah Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Sulawesi Selatan 1960 - 1964, Ketua HMI Cabang Makassar tahun 1965-1966, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS) 1965-1966, serta Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tahun 1967-1969. Sebelum terjun ke politik, Jusuf Kalla pernah menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Sulawesi Selatan. Hingga kini, ia pun masih menjabat Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) di alamamaternya Universitas Hasanuddin, setelah terpilih kembali pada musyawarah September 2006. Jusuf Kalla menjabat sebagai menteri di era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Presiden RI yang ke-4), tetapi diberhentikan dengan tuduhan terlibat KKN. Jusuf Kalla kembali diangkat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat di bawah pemerintahan Megawati Soekarnoputri (Presiden RI yang ke-5). Jusuf Kalla kemudian mengundurkan diri sebagai menteri karena maju sebagai calon wakil presiden, mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan kemenangan yang diraih oleh Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI yang ke-6, secara otomatis Jusuf Kalla juga berhasil meraih jabatan sebagai Wakil Presiden RI yang ke-10. Bersama-sama dengan Susilo Bambang Yudhoyono, keduanya menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama kali dipilih secara langsung oleh rakyat. Ia menjabat sebagai ketua umum Partai Golongan Karya menggantikan Akbar Tanjung sejak Desember 2004 hingga 9 Oktober 2009. Pada 10 Januari 2007, ia melantik 185 pengurus Badan Penelitian dan Pengembangan Kekaryaan Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golongan Karya di Slipi, Jakarta Barat, yang mayoritas anggotanya adalah cendekiawan, pejabat publik, pegawai negeri sipil, pensiunan jenderal, dan pengamat politik yang kebanyakan

Muhammad Jusuf Kalla bergelar master, doktor, dan profesor. Jusuf Kalla menikah dengan Hj. Mufidah Jusuf, dan dikaruniai seorang putra dan empat putri, serta sembilan orang cucu. Saat ini, melalui Munas Palang Merah Indonesia ke XIX, Jusuf Kalla terpilih menjadi ketua umum Palang Merah Indonesia periode 2009-2014. Selain itu beliau juga terpilih sebagai ketua umum Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia periode 2012-2017 dalam Muktamar VI DMI di Jakarta. Pada tanggal 10 September 2011, Jusuf Kalla mendapat penganugerahan doktor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin, Makassar.[2]

26

Pendidikan
Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin (1967) The European Institute of Business Administration, Perancis (1977)

Menjelang Pemilu Presiden 2009


Setelah tidak berkomitmen untuk koalisi dengan Partai Demokrat, ia ditetapkan dalam Rapat Pimpinan Nasional Khusus Partai Partai Golkar sebagai Calon Presiden dalam Pemilihan Presiden 2009. Dalam perkembangan terakhir, JK memutuskan menggandeng Ketua Umum Partai Hanura Wiranto sebagai cawapresnya. Namun JK dinyatakan kalah dalam quick count (hitung cepat) yang dilakukan oleh sejumlah lembaga survei maupun hasil tabulasi Komisi Pemilihan Umum.

Referensi
[1] http:/ / www. tokoh-indonesia. com/ ensiklopedi/ j/ jusuf-kalla/ biografi/ bio-02. shtml [2] Harian Surya edisi Minggu, 11 September 2011. Kallanomics Antar JK Raih Gelar Doktor HC.

Pranala luar
(Indonesia) "Arsitek Pemulihan Ekonomi" Bio Jusuf Kalla di Ensiklopedi Tokoh Indonesia (http://www. tokohindonesia.com/tokoh/article/282-ensiklopedi/281-jusuf-kalla) (Indonesia) Profile Jusuf Kalla di Pemiluindonesia.com (http://www.pemiluindonesia.com/profile/ muhammad-jusuf-kalla.html) (Indonesia) Blog Jusuf Kalla di Kompasiana (http://www.kompasiana.com/jusufkalla) (Indonesia) Jusuf Kalla di Konvesi Capres Demokrat (http://www.lensaindonesia.com/2013/08/22/ jk-ikut-konvensi-capres-demokrat-priyo-golkar-kehilangan.html)
Jabatan politik Sebelumnya: Hamzah Haz Sebelumnya: Basri Hasanuddin Sebelumnya: Rahardi Ramelan Wakil Presiden Indonesia 20 Oktober 2004 - 20 Oktober 2009 Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat 2001 2004 Menteri Perindustrian dan Perdagangan 1999 2000 Jabatan politik partai Sebelumnya: Akbar Tandjung Ketua Umum Partai Golkar Desember 2004 9 Oktober 2009 Digantikanoleh: Aburizal Bakrie Digantikanoleh: Boediono Digantikanoleh: Abdul Malik Fadjar Digantikanoleh: Luhut Binsar Panjaitan

Muhammad Jusuf Kalla

27

Jabatan pemerintahan Sebelumnya: Rahardi Ramelan Kepala Bulog 1999 2000 Digantikanoleh: Rizal Ramli

Irwandi Yusuf

28

Irwandi Yusuf
Irwandi Yusuf

Gubernur Aceh ke-16 Masa jabatan 8 Februari 2007 8 Februari 2012 Wakil Didahului oleh Muhammad Nazar Mustafa Abubakar (Pejabat Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam)

Digantikan oleh Tarmizi Abdul Karim (Pejabat Gubernur Aceh) Informasi pribadi Lahir Partai politik Profesi Agama 2 Agustus 1960 Independen Dosen Islam

Irwandi Yusuf atau lengkapnya drh. Irwandi Yusuf M.Sc. (lahir di Bireuen, Aceh, 2 Agustus 1960; umur 53 tahun ) adalah mantan Gubernur Provinsi Aceh. Bersama wakilnya, ia dilantik pada 8 Februari 2007 oleh Menteri Dalam Negeri Mohammad Ma'ruf di hadapan 67 anggota DPR Aceh. Hadir dalam pelantikan itu adalah Beberapa mantan kombatan dan sipil GAM juga Para Aktivis Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA), Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil dan sejumlah anggota DPR-RI seperti Ferry Mursidan Baldan, Ahmad Farhan Hamid, serta Nasir Djamil. Undangan dari luar negeri di antaranya Duta Besar Inggris, Duta Besar Kanada, Duta Besar Finlandia, serta Wakil Duta Besar Amerika Serikat. Perwakilan lembaga internasional, seperti Bank Dunia dan perwakilan dari Uni Eropa.

Irwandi Yusuf

29

Biografi
Setelah tamat sekolah diniyah, dia melanjutkan ke Sekolah Penyuluhan Pertanian di Saree dan kuliah di Faktultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Setelah meraih gelar dari fakultas kedokteran hewan (1987) Unsyiah, dia menjadi dosen sejak tahun 1989 untuk jurusan yang sama, ia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan S-2 pada College of Veterinary Medicine State University (Universitas Negeri Oregon), Amerika Serikat. Dia juga merintis berdirinya lembaga swadaya Fauna dan Flora Internasional pada 1999-2001 dan pernah bekerja di Palang Merah Internasional (ICRC) pada tahun 2000. Selain sebagai senior Representative GAM (TNA) untuk Misi Pemantau Aceh (AMM). Ia masuk Gerakan Aceh Merdeka dan dipercaya menduduki posisi Staf Khusus Komando Pusat Tentara GAM dari tahun 1998-2001. Ketrlibatannya sebagai Staf Khusus Komando Pusat Tentara GAM membuat ia berurusan dengan aparat keamanan Indonesia dan ditangkap pada awal 2003. Ia divonis 9 tahun dalam kasus Makar. Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 melepaskan dirinya dari penjara Keudah, Banda Aceh. Ia melarikan diri ke Finlandia, dan ia diberikan tugas oleh petinggi GAM di Swedia sebagai Koordinator Juru Runding GAM. Saat rapat pertama Aceh Monitoring Mission, dia tampil sebagai koordinator Juru Runding GAM di Aceh (2001-2002). "Mungkin karena isi buku Singa Aceh yang begitu melekat di kepala, saya kemudian masuk GAM," kata Irwandi kepada wartawan Tempo pada Desember 2006. Ia sudah membaca buku itu semenjak berumur tujuh tahun. Cerita tentang kepahlawanan tokoh-tokoh Aceh di masa kerajaan itu adalah Inspirasi yang membuatya berjuang bersama GAM. Hasil penghitungan cepat (quick count) yang dilakukan PT Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bekerja sama dengan Jaringan Isu Publik (JIP) menunjukkan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar menempati urutan teratas perolehan suara sebesar 39,27%[1]. Pada 29 Desember 2006, KIP Aceh mengumumkan penghitungan resmi akhir pemilihan kepala daerah untuk periode 2007-2012 dan ia berhasil memenanginya dengan 768.745 suara (38,2 persen),Suara sah yang masuk mencapai 2.012.370, sedang suara tidak sah mencapai 158.643. Rekapitulasi hasil penghitungan suara ditetapkan Komisi Independen Pemilihan atau KIP di Banda Aceh. Pasangan ini memenangi perolehan suara di 15 dari 21 kabupaten/kota di Aceh. Namun, kalah di Kota Banda Aceh, Kabupaten Pidie, Aceh Tengah, Bener Meriah, Singkil, dan Aceh Tamiang.

Kunjungan ke Jakarta
Pada 11 Januari 2007, bersama wakilnya didampingi oleh Plt Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Mustafa Abubakar, diterima oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden (Jakarta). Presiden didampingi Menko Polhukam Widodo AS, Menko Perekonomian Boediono, dan Menko Kesra Aburizal Bakrie. Sebelumnya, ia bertemu dengan Menko Polhukam dan Mendagri Muhammad Ma'ruf. Ia juga bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pada kesempatan itu, ia meminta agar komitmennya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dipersoalkan karena sudah jelas dan sudah ditandatangani dalam Nota Kesepahaman Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Irwandi Yusuf

30

Pranala luar
Gubernur dan Wakil Gubernur NAD dilantik [2] Irwandi - Nazar Resmi Dilantik Menjadi Gubernur/Wakil Gubernur NAD [3]
Sebelumnya: Gubernur Aceh Digantikanoleh: Mustafa Abubakar 8 Februari 20072012 Tarmizi Abdul Karim sebagai Pejabat Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam sebagai Pejabat Gubernur Aceh

Referensi
[1] http:/ / www. suaramerdeka. com/ harian/ 0612/ 12/ nas02. htm [2] http:/ / www. hariansib. com/ index. php?option=com_content& task=view& id=22710& Itemid=9 [3] http:/ / www. kip-acehprov. go. id/ news/ 1/ tahun/ 2007/ bulan/ 02/ tanggal/ 08/ id/ 150/

Hamid Awaluddin

31

Hamid Awaluddin
Hamid Awaluddin

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia ke-27 Masa jabatan 20 Oktober 2004 9 Mei 2007 Presiden Didahului oleh Digantikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono Yusril Ihza Mahendra Mohammad Andi Mattalatta Informasi pribadi Lahir 5 Oktober 1960 Pare-Pare, Sulawesi Selatan, Indonesia Indonesia Islam

Kebangsaan Agama

Hamid Awaluddin, Ph.D. (lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 5 Oktober 1960; umur 53 tahun ) adalah Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia sejak 8 April 2008[1]. Ia pernah menjadi Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu dari 20 Oktober 2004-8 Mei 2007. Pada 7 Mei 2007, ia digantikan Andi Mattalata lewat sebuah perombakan kabinet tahap kedua yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Presiden, Jakarta. Ia menempuh pendidikan sarjana hukumnya di Universitas Hasanuddin dan meraih gelar doktor pada tahun 1998 di American University, Amerika Serikat. Sebelum menjadi menteri, Awaluddian pernah menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum. Saat masih berstatus mahasiswa, ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam Makassar, Sulawesi Selatan. Hamid juga menjadi wakil Indonesia dalam penandatanganan MOU perdamaian dengan Gerakan Aceh Merdeka.

Hamid Awaluddin

32

Pranala luar
(Indonesia) Artikel di tokohindonesia.com [2] Indonesians hold Independence Day celebrations in Moscow [3]

Referensi
[1] Berita pelantikan Dubes RI oleh Presiden di situs presidensby.info (http:/ / www. presidensby. info/ index. php/ fokus/ 2008/ 04/ 09/ 2938. html) [2] http:/ / www. tokohindonesia. com/ ensiklopedi/ h/ hamid-awaludin/ index. shtml [3] http:/ / www. islamdag. info/ news/ 1272

Jabatan pemerintahan Sebelumnya: Susanto Pudjomartono Sebelumnya: Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra Duta Besar RI untuk Rusia 8 April 2008sekarang Menteri Hukum dan HAM 2004-2007 Petahana

Digantikanoleh: Mohammad Andi Mattalatta, S.H., M.H.

Endriartono Sutarto

33

Endriartono Sutarto
Endriartono Sutarto

Lahir

Endriartono Sutarto 29 April 1947 Purworejo, Indonesia Indonesia Akabri Darat 1971 Jenderal (Purn) TNI-AD (1971 2006)

Kebangsaan Pendidikan Tempat kerja

Dikenalkarena Militer Partai politik Agama Orang tua Partai Nasional Demokrat (NASDEM) Islam Drs. Sutarto Situs web www.endriartonosutarto.web.id [1]

Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto (lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 29 April 1947; umur 66 tahun ) adalah mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (2002-2006). Sebelum menjabat Panglima TNI, alumni AKABRI tahun 1971 ini pernah menjabat berbagai posisi penting di TNI Angkatan Darat antara lain sebagai KASAD (9 Oktober 2000 - 4 Juni 2002), Wakil KASAD dan Komandan Sesko TNI. Sebelumnya ia juga pernah menjabat sebagai Asisten Operasi Kepala Staf Umum (Asops Kasum) TNI di Mabes TNI dan Komandan Paspampres. Saat mantan Presiden Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, Endriartono menjabat Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Endriartono Sutarto

34

Kehidupan Pribadi
Lahir dari orangtua Drs Sutarto dan Siti Sumarti Sutarto, Endriartono memiliki 1 orang putri (Ratri Indrihapsari) dan 2 orang putra (Indra Gunawan Sutarto dan M. Adi Prasantyo Sutarto) dari pernikahannya dengan Dra Andy Widayati.

Karier militer
Karier Endriartono semakin melesat pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada tanggal 9 Oktober 2000, Gus Dur melantik Endriartono sebagai KASAD menggantikan Jenderal Tyasno Sudarto. Selain kemampuan dalam bidang militer, Endriartono juga mampu aktif berbahasa Inggris dan telah menyelesaikan pendidikan kesarjanaan strata I dari Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM) Jakarta. Endriartono mengikuti berbagai macam pendidikan militer untuk pencapaian jenjang kariernya, antara lain Sussarcab Inf, Suslapa Inf, Seskoad, Sesko ABRI dan Lemhanas. Pendidikan pengembangan spesialisasi pun ditempuhnya, seperti Susjurpa Jasmil, Sus Bahasa Inggris, Air Borne, Ranger, Path Finder, Combat Instructor Course dan Sus Danyonif. Puncak karier militer Endriartono adalah ketika Presiden Megawati Soekarnoputri mempercayakan pucuk pimpinan TNI ke pundaknya, sebagai Panglima TNI, pada 7 Juni 2002. Sejarah kemudian mencatatkan namanya sebagai Panglima TNI yang ke-12. Tumbangnya tatanan politik Orde Baru dan munculnya gaung reformasi 1998 menjadi titik balik sejarah TNI. TNI pun gencar melakukan reformasi tugas, fungsi serta perannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berorientasi pada aspek pertahanan dan keamanan. Perlahan-lahan reformasi tersebut memulihkan kepercayaan rakyat terhadap TNI. Netralitas politik TNI diuji ketika bangsa Indonesia melakukan Pemilu 2004. Kala itu banyak politisi dan parpol yang mencoba menarik TNI ke gelanggang politik. TNI dibawah kepemimpinan Jenderal Endriartono Sutarto menentang keras tindakan tersebut. Endriartono secara tegas dan konsisten mencegah tangan-tangan politik untuk kembali merambah tubuh TNI. Pemilu 2004 berlangsung aman dan tertib. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai Presiden RI pertama yang langsung dipilih rakyat. Jenderal Endriartono berperan penting menjaga netralitas TNI dalam Pemilu 2004. Selama masa jabatannya, banyak beberapa kasus besar yang menonjol yang melibatkan TNI dan kebijakan pertahanan keamanan di Indonesia. Termasuk diantaranya tercapainya kesepakatan perdamaian di Aceh setelah proses panjang diplomasi di Helsinki. Endriartono, sebagai Panglima TNI kala itu, menjadi faktor penting dalam keberhasilan perdamaian Aceh di lapangan. Bahkan atas peran penting dan integritasnya menjaga netralitas TNI, mensukseskan operasi tsunami, menjaga perdamaian Aceh dalam masa Jenderal Endriartono Sutarto saat menjabat kritis, dan pengabdian dan dedikasinya kepada bangsa dan tanah air sebagai Panglima TNI. tercinta, maka pada tanggal 10 November 2008 bertepatan dengan hari Pahlawan, Modernisator menganugerahinya penghargaan Mengenang Pahlawan Masa Kini kepadanya.[2] Prestasi lain Endriartono selama menjabat sebagai Panglima TNI adalah ketika melakukan reformasi struktur dan jabatan di TNI. Endriartono mengambil keputusan untuk meletakkan harkat dan peringkat semua angkatan untuk berada di dalam garis kesetaraan yang murni. Angkatan Darat, Laut dan Udara adalah sejajar dan seiring dalam segala hal. Nuansa bahwa TNI selama ini lebih sering didominasi oleh Angkatan Darat dapat dinetralisir oleh Endriartono dengan sangat sistematis, jelas dan tegas. Jabatan-jabatan tertentu yang tadinya hanya bisa diduduki oleh personil

Endriartono Sutarto Angkatan Darat, dirombak dengan menyeimbangkan posisi jabatan sesuai dengan performa perwira TNI secara adil. Endriartono yang saat itu merupakan Perwira Tinggi Angkatan Darat, sangat menghargai kedudukan Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Pada era kepemimpinan Endriartono, maka ada perwira Angkatan Udara yang ditugaskan menjadi Asisten Logistik dijajaran Mabes TNI, ada Kasum TNI yang sudah puluhan tahun tidak pernah dijabat oleh Perwira Angkatan Udara, ditugaskan kembali olehnya. Demikian pula jabatan Sekjen Dephan, yang sepanjang sejarah belum pernah ditugaskan kepada Angkatan Udara, pada waktu itu diberikan kepada Angkatan Udara. Disisi lain, jabatan bintang tiga dijajaran Mabes TNI yang diwaktu-waktu terdahulu hanya di dominasi Angkatan Darat saja, direstrukturisasi menjadi hanya tiga posisi, dan harus dijabat masing-masing oleh Angkatan Darat, Laut dan Udara. Pada akhirnya, saat Endriartono turun dari jabatan Panglima TNI, dia menyerahkan jabatannya kepada Perwira Tinggi dari Angkatan Udara.

35

Jabatan
Daftar jabatan militer Endriartono Sutarto adalah sebagai berikut[3]: Lulus dari AKABRI Bagian Darat (1971) Komandan Peleton Bantuan A/ Yonif Linud 305 Kostrad (1972 1975) Komandan Kompi B/ Yonif Linud 328 Kostrad (1976) Komandan Kompi C Yonif Linud 330 Kostrad (1976 - 1979) Kepala Seksi Operasi Yonif Linud 330 Kostrad (1979 1981) Kepala Staf Instansi Operasi 330 Kostrad (1980) Guru Militer Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) (1982 1984) Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 514 Kostrad (1985 1987) Komandan Kontingen Garuda IX (1988 1989) Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad (1989 1991) Asisten Operasi (Asops) Kasdam Jaya (1993 1994) Komandan Resort Militer 173 Dam-VIII/Trikora (1994 - 1995) Kepala Staf Divisi Infanteri 1 Kostrad (1995 - 1996) Wakil Asisten Perencanaan Umum Panglima ABRI (Waasrenum Pangab) (1996) Wakil Asisten Operasi Kepala Staf AD (Waasops Kasad) (1996 - 1997) Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Dan Paspampres) (1997 1998) Asisten Operasi Kepala Staf Umum (Asops Kasum) TNI (1998 - 1999) Komandan Sekolah Staf dan Komando (Sesko TNI) (1999 2000) Wakil Kepala Staf TNI AD (WAKASAD) (2000) Kepala Staf TNI AD (KASAD) (2000 - 2002) Panglima Tentara Nasional Indonesia (2002 - 2006)

Jenjang Kepangkatan
Kepangkatan Endriartono dimulai sebagai Perwira Pertama (Pama) dengan pangkat Letnan Dua pada tahun 1971, kemudian Letnan Satu pada tahun 1974 dan Kapten pada tahun 1977. Dilanjutkan sebagai Perwira Menengah (Pamen) dimulai dari pangkat Mayor pada tahun 1983, Letkol pada tahun 1986, dan Kolonel pada tahun 1993. Pangkat Perwira Tinggi (Pati) diperolehnya pada tahun 1996 sebagai Brigjen, lalu Mayjen pada tahun 1997, Letjen pada tahun 1999, dan pangkat Jenderal pada tahun 2000.

Endriartono Sutarto

36

Bintang Jasa dan Tanda Kehormatan


Anugerah bintang dan tanda kehormatan yang dimiliki, antara lain: Bintang Mahaputra Adipradana Bintang Dharma Bintang Yudha Dharma Utama Bintang Kartika Eka Paksi Utama Bintang Jalasena Utama Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama Bintang Bhayangkari Utama Bintang Yudha Dharma Pratama Bintang Kartika Eka Paksi Pratama Bintang Yudha Dharma Nararya Bintang Kartika Eka Paksi Nararya Bintang Jasa Utama Satya Lencana Kesetiaan XXIV Satya Lencana GOM VII/Aceh Satya Lencana GOM IX/Raksaka Dharma Satya Lencana Seroja Satya Lencana Wira Karya Satya Lencana Santi Dharma Satya Lencana PBB/UNEF-1 Satya Lencana PBB/UNIIMOG Penghargaan Kelas 1 dari Pemerintah Singapura Penghargaan Kelas 1 dari Kerajaan Brunei Darusalam Penghargaan Kelas 1 dari pemerintah Malaysia Penghargaan kelas 1 dari pemerintah Thailand Penghargaan kelas 1 dari pemerintah Cambodia 2005 Bintang Kehormatan The Royal Order of Sahametrei Mohaserevadh Grand Cross

Endriartono Sutarto

37

Penugasan di Luar Negeri


Endriartono Sutarto juga diberi penugasan dan belajar di luar negeri, yang diantaranya dilaksanakan di Mesir pada tahun 1975, Saudi Arabia tahun 1975, Amerika Serikat 1977, Selandia Baru tahun 1983, Malaysia pada tahun 1984 dan 2000, Irak 1989, Iran 1989, Kamboja tahun 1991, Thailand 1992, dan Inggris pada tahun 1995.

Pengabdian Tiada Henti


Paska tugasnya sebagai Panglima TNI, Endriartono Sutarto terus aktif dalam sejumlah kegiatan organisasi. Kecintaan pada kegiatan sosial dan organisasi sudah terpupuk sejak Endriartono masih sangat muda. Endriartono menjadi Ketua Murid Umum SMAN 2 Bandung pada tahun 1966-1967. September tahun 2010, Endriartono bergabung sebagai penasihat tim pembela KPK. Bergabungnya Endriartono ke tim pembela KPK memunculkan spekulasi bahwa ada orang kuat di balik upaya kriminalisasi unsur pimpinan Komisi Pemberantasan Endriartono Sutarto menjadi Ketua Umum Ekspedisi 7 Summits Wanadri. Korupsi, Bibit-Chandra. "Saya tidak mau berandai-andai. Tetapi, kalau itu terjadi, semoga dengan saya masuk di dalamnya (Tim Pembela Bibit- Chandra/TPBC), kalau ada orang besar di belakangnya (upaya kriminalisasi Bibit-Chandra), akan berpikir 2-3 kali untuk melanjutkannya," kata Endriartono, Senin (27/9). Sejak tahun 2010 hingga sekarang, Endriartono aktif sebagai Ketua Umum 7 Summits Expedition[4] Wanadri sekaligus Pembina Gerakan Indonesia Mengajar. Tidak lelah sampai di situ, sejak tahun 2011 Endriartono juga aktif sebagai Pembina Yayasan Indonesia Setara hingga sekarang. Pengalaman memimpin angkatan bersenjata di negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dan dengan puluhan ribu suku bangsa, kecakapan Endriartono dalam penanganan konflik mendapat pengakuan komunitas internasional. Military Dialog Center, salah satunya secara khusus mengundang Endriartono untuk membantu Pemerintah Myanmar menyelesaikan konflik bersenjata di negara tersebut.[5]

Karier politik
Endriartono mulai terjun ke politik praktis sejak bulan September 2012. Beberapa pihak menduga terjunnya Endriartono ke politik praktis karena akan ikut serta dalam pemilihan presiden RI pada tahun 2014. Endriartono mulai bergabung dengan Partai Nasional Demokrat sejak tanggal 30 September 2012[6]. Di salah satu cuplikan video dalam acara Mata Najwa di Metro TV, Endriartono mengatakan bahwa ia sebenarnya belum bergabung dengan partai Nasdem, tapi baru bergabung dengan organisasi massanya[7]. Dalam perjalanan politiknya ternyata Endriartono sudah menjadi anggota dewan pembina Partai Nasional Demokrat dan bahkan diisukan ia akan menjadi Ketua Umum Partai Nasional Demokrat[8] pada saat kongres Nasional Demokrat yang akan dilaksanakan pada akhir Januari 2013. Bergabungnya Endriartono dengan Partai Nasdem menimbulkan banyak pertanyaan banyak pihak. Namun Endriartono menegaskan bahwa bergabungnya ia ke partai Nasdem tujuannya adalah untuk melakukan perubahan. "Untuk bisa melakukan perubahan itu perlu power, tanpa power itu kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sistem di Indonesia itu, sampai saat ini, untuk mendapatkan power kita harus memenangkan pemilu. kalau tidak menjadi presiden, minimal DPR terkuasai, dan bisa mengambil kebijakan-kebijakan yang bisa membantu rakyat," katanya.[9].

Endriartono Sutarto Dalam survey LSI tentang pilpres 2014[10], nama Endriartono masuk sebagai calon alternatif Presiden RI yang dinilai berdasarkan lima kategori yaitu: Mampu memimpin negara & pemerintahan Tidak melakukan atau diopinikan melakukan KKN atau suap Tidak melakukan atau diopinikan melakukan tindak kriminal atau pelanggaran HAM Jujur, amanah atau bisa dipercaya Mampu berdiri di atas semua kelompok atau golongan

38

Urutan personil berdasarkan survey LSI ini adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Mahfud MD 79 Jusuf Kalla 77 Dahlan Iskan 76 Sri Mulyani 72 Hidayat Nurwahid 71 Agus Martowardojo 68 Megawati Soekarnoputri 68 Djoko Suyanto 67 Gita Wirjawan 66 Chairul Tanjung 66 Endriartono Sutarto 66 Hatta Rajasa 66 Surya Paloh 64 Pramono Edhie Wibowo 64 Sukarwo 63 Prabowo Subianto 61 Puan Maharani 61 Ani Yudhoyono 60

Dalam survey LSI ini Endriartono berada pada peringkat ke-11 dengan total nilai 66. Atas hasil survey ini Endriartono memberikan tanggapan dengan mengatakan, "Tentu saya ucapkan terimakasih bagi responden. Tentu itu merupakan salah satu tantangan untuk merealisasikan harapan itu,"[11]. Pada tanggal 25 Januari 2013, Partai Nasdem menyelenggarakan Kongres dan Surya Paloh terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Nasdem untuk periode 2012-2017. Hasil kongres memberikan mandat penuh kepada Surya Paloh untuk menyusun kepengurusan yang baru dengan tujuan untuk memenangkan pemilu legislastif pada tahun 2014. Pada tanggal 8 Februari 2013 Surya Paloh mengumumkan struktur kepengurusan Nasdem yang baru dan nama Endriartono Sutarto tercatat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Nasdem.[12]

Kontroversi
Pengunduran diri Endriartono Sutarto sebagai Panglima TNI sebelum masa jabatannya berakhir cukup mengejutkan banyak pihak. Pada bulan Oktober tahun 2004, Markas Besar TNI di Cilangkap secara resmi menyampaikan bahwa ada tiga alasan yang diajukan pada surat permintaan mundur yang ditujukan kepada Presiden Megawati Soekarnoputri, yaitu kepentingan reorganisasi di lingkungan TNI, faktor usia (masa pensiun Endriartono diperpanjang sampai dua tahun), dan pengganti Panglima TNI adalah Kepala Staf Angkatan yang menjabat pada waktu itu. [13][14] Setelah pensiun dari Panglima TNI, Endriartono menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina, jabatan tersebut disandang hanya dalam waktu yang singkat karena Endriartono mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Informasi yang beredar menyebutkan Endriartono mundur disebabkan jumlah gaji yang terlalu besar sementara tugas yang dilakukan olehnya tidak terlalu berat.[15].

Endriartono Sutarto "Mengapa saya di Pertamina ke luar, karena saya melihat Pertamina sama sekali tidak melakukan pelayanan terbaik kepada masyarakat, walaupun dia PT yang profit oriented, tapi tidak semata-mata keuntungan yang dia cari. Sementara dia mengelola bahan yang sangat strategis untuk kepentingan rakyat," kata Endriartono. Marsekal (Purn) Chappy Hakim menyatakan bahwa mundurnya Endiartono Sutarto dari jabatan Komisaris Pertamina pasti karena ada nilai-nilai yang bertabrakan dengan prinsip yang dianutnya.[16]

39

Pranala luar

(Indonesia) Situs Resmi Endriartono Sutarto
[1] [17] [18]

(Indonesia) Biografi Endriartono Sutarto di tokohindonesia (Indonesia) Endriartono Sutarto di Modernisator Indonesia (Indonesia) Endriartono Sutarto (Indonesia) Endriartono Sutarto
[19] [20]

di Facebook di Twitter

Referensi
[1] http:/ / www. endriartonosutarto. web. id [2] http:/ / www. modernisator. org/ tokoh/ endriartono-s [3] http:/ / endriartonosutarto. web. id/ profil [4] http:/ / 7puncakdunia. net/ art/ org. php [5] http:/ / www. tribunnews. com/ 2012/ 09/ 19/ mantan-panglima-tni-diminta-tangani-konflik-di-myanmar [6] http:/ / www. beritasatu. com/ nasional/ 74848-endriartono-sutarto-gabung-partai-nasdem. html [7] http:/ / www. metrotvnews. com/ videoprogram/ detail/ 2012/ 10/ 24/ 14761/ 308/ Perang-Bintang-2014/ Mata%20Najwa [8] http:/ / m. jpnn. com/ news. php?id=150991 [9] http:/ / news. detik. com/ read/ 2012/ 12/ 21/ 232647/ 2125017/ 10/ endriartono-sutarto-buka-bukaan-soal-alasan-masuk-nasdem?9922032 [10] http:/ / www. lsi. or. id/ riset/ 427/ Rilis_Capres_Indonesia_2014 [11] http:/ / news. detik. com/ read/ 2012/ 11/ 28/ 172700/ 2104191/ 10/ jenderal--purn--endriartono-sutarto-tanggapi-hasil-survei-lsi [12] http:/ / news. detik. com/ read/ 2013/ 02/ 08/ 165118/ 2165133/ 10/ ini-pengurus-lengkap-dpp-nasdem-pimpinan-surya-paloh [13] http:/ / www. tempo. co/ read/ news/ 2004/ 10/ 12/ 05549248/ Sutarto-Mundur-dengan-Tiga-Alasan [14] http:/ / www. indosiar. com/ fokus/ kontroversi-pengunduran-diri-endriartono-sutarto_28951. html [15] http:/ / www. rimanews. com/ read/ 20120815/ 72462/ endriartono-sutarto-mantan-panglima-tni-testing-water-capres-2014-bakal-jadi [16] http:/ / www. chappyhakim. com/ 2008/ 12/ 07/ jenderal-tni-endriartono-soetarto/ [17] http:/ / www. tokohindonesia. com/ ensiklopedi/ e/ endriartono-sutarto/ index. shtml [18] http:/ / www. modernisator. org/ tokoh/ endriartono-s [19] http:/ / www. facebook. com/ endriartono [20] http:/ / www. twitter. com/ endrisutarto

Jabatan militer Sebelumnya: Widodo AS Sebelumnya: Tyasno Sudarto Panglima TNI 2002-2006 Kepala Staf TNI Angkatan Darat 2000-2002 Digantikanoleh: Djoko Suyanto Digantikanoleh: Ryamizard Ryacudu

40

Peristiwa Terkait
Negara Islam Indonesia
Negara Islam Indonesia (disingkat NII; juga dikenal dengan nama Darul Islam atau DI) yang artinya adalah "Rumah Islam" adalah gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (ditulis sebagai 12 Syawal 1368 dalam kalender Hijriyah) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat. Diproklamirkan saat Negara Pasundan buatan belanda mengangkat Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema sebagai presiden.

Bendera NII

Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia yang saat itu baru saja diproklamasikan kemerdekaannya dan ada pada masa perang dengan tentara Kerajaan Belanda sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara. Dalam proklamasinya bahwa "Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam", lebih jelas lagi dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa "Negara berdasarkan Islam" dan "Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Hadits". Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara untuk membuat undang-undang yang berlandaskan syari'at Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Alqur'an dan Hadits Shahih, yang mereka sebut dengan "hukum kafir", sesuai dalam Qur'aan Surah 5. Al-Maidah, ayat 50.Wikipedia:Kutip sumber tulisan Dalam perkembangannya, DI menyebar hingga di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat (berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah), Sulawesi Selatan, Aceh dan Kalimantan .[1] [2]. Dalam aksinya, DI/TII melakukan terorisme pada rakyat jelata. Kereta api dari Jakarta ke Bandung perlu dikawal karena beberapa kali terjadi penggulingan terhadap kereta api oleh DI/TII di Trowek (Cirahayu), Warungbandrek, Lebakjero, Padalarang dan beberapa tempat lain. Untuk melindungi kereta api, Kavaleri Kodam VI Siliwangi (sekarang Kodam III) mengawal kereta api dengan panzer tak bermesin yang didorong oleh lokomotif uap D-52 buatan Krupp Jerman Barat. Panzer tersebut berisi anggota TNI yang siap dengan senjata mereka. Bila ada pertempuran antara TNI dan DI/TII di depan, maka kereta api harus berhenti di halte terdekat. Pemberontakan bersenjata yang selama 13 tahun itu telah menghalangi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Ribuan ibu-ibu menjadi janda dan ribuan anak-anak menjadi yatim-piatu. Diperkirakan 13.000 rakyat Sunda, anggota organisasi keamanan desa (OKD) serta tentara gugur. Anggota DI/TII yang tewas tak diketahui dengan tepat.[3] [4] Setelah Kartosoewirjo ditangkap TNI dan dieksekusi pada 1962, gerakan ini menjadi terpecah, namun tetap eksis secara diam-diam meskipun dianggap sebagai organisasi ilegal oleh pemerintah Indonesia.[5]

Negara Islam Indonesia

41

Gerakan DI/TII Daud Beureueh


Pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai dengan "Proklamasi" Daud Beureueh bahwa Aceh merupakan bagian "Negara Islam Indonesia" di bawah pimpinan Imam Kartosuwirjo pada tanggal 20 September 1953. Daued Beureueh pernah memegang jabatan sebagai "Gubernur Militer Daerah Istimewa Aceh" sewaktu agresi militer pertama Belanda pada pertengahan tahun 1947. Sebagai Gubernur Militer ia berkuasa penuh atas pertahanan daerah Aceh dan menguasai seluruh aparat pemerintahan baik sipil maupun militer. Sebagai seorang tokoh ulama dan bekas Gubernur Militer, Daud Beureuh tidak sulit memperoleh pengikut. Daud Beureuh juga berhasil memengaruhi pejabat-pejabat Pemerintah Aceh, khususnya di daerah Pidie. Untuk beberapa waktu lamanya Daud Beureuh dan pengikut-pengikutnya dapat mengusai sebagian besar daerah Aceh termasuk sejumlah kota. Sesudah bantuan datang dari Sumatera Utara dan Sumatera Tengah, operasi pemulihan keamanan ABRI ( TNI-POLRI ) segera dimulai. Setelah didesak dari kota-kota besar, Daud Beureuh meneruskan perlawanannya di hutan-hutan. Penyelesaian terakhir Pemberontakan Daud Beureuh ini dilakukan dengan suatu " Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh" pada bulan Desember 1962 atas prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel Jendral Makarawong.

Gerakan DI/TII Ibnu Hadjar


Pada bulan Oktober 1950 DI/ TII juga tercatat melakukan pemberontakan di Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh Ibnu Hadjar. Para pemberontak melakukan pengacauan dengan menyerang pos-pos kesatuan ABRI (TNI-POLRI). Dalam menghadapi gerombolan DI/TII tersebut pemerintah pada mulanya melakukan pendekatan kepada Ibnu Hadjar dengan diberi kesempatan untuk menyerah, dan akan diterima menjadi anggota ABRI. Ibnu Hadjar sempat menyerah, akan tetapi setelah menyerah dia kembali melarikan diri dan melakukan pemberontakan lagi sehingga pemerintah akhirnya menugaskan pasukan ABRI (TNI-POLRI) untuk menangkap Ibnu Hadjar. Pada akhir tahun 1959 Ibnu Hadjar beserta seluruh anggota gerombolannya tertangkap dan dihukum mati. ya benar gitu

Gerakan DI/TII Amir Fatah


Amir Fatah merupakan tokoh yang membidani lahirnya DI/TII Jawa Tengah. Semula ia bersikap setia pada RI, namun kemudian sikapnya berubah dengan mendukung Gerakan DI/TII. Perubahan sikap tersebut disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, terdapat persamaan ideologi antara Amir Fatah dengan S.M. Kartosuwirjo, yaitu keduanya menjadi pendukung setia Ideologi Islam. Kedua, Amir Fatah dan para pendukungnya menganggap bahwa aparatur Pemerintah RI dan TNI yang bertugas di daerah Tegal-Brebes telah terpengaruh oleh "orang-orang Kiri", dan mengganggu perjuangan umat Islam. Ketiga, adanya pengaruh "orang-orang Kiri" tersebut, Pemerintah RI dan TNI tidak menghargai perjuangan Amir Fatah dan para pendukungnya selama itu di daerah Tegal-Brebes. Bahkan kekuasaan yang telah dibinanya sebelum Agresi Militer II, harus diserahkan kepda TNI di bawah Wongsoatmojo. Keempat, adanya perintah penangkapan dirinya oleh Mayor Wongsoatmojo. Hingga kini Amir Fatah dinilai sebagai pembelot baik oleh negara RI maupun umat muslim Indonesia.

Gerakan DI/TII Kahar Muzakkar


Pemerintah berencana membubarkan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan anggotanya disalurkan ke masyarakat. Tenyata Kahar Muzakkar menuntut agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan dalam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah pimpinanya. Tuntutan itu ditolak karena banyak di antara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dinas militer. Pemerintah mengambil kebijaksanaan menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps Tjadangan Nasional (CTN). Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakkar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar Muzakkar mengubah nama pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia dan menyatakan sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal

Negara Islam Indonesia 7 Agustus 1953. Tanggal 3 Februari 1965, Kahar Muzakkar tertembak mati oleh pasukan ABRI (TNI-POLRI) dalam sebuah baku tembak.

42

Referensi
[1] [2] [3] [4] [5] Robert Cribb. 2000. Historical Atlas of Indonesia. Halaman 162. http:/ / www. crisisgroup. org/ home/ index. cfm?id=3280& l=1 http:/ / perangdijawa. blogspot. com/ 2010/ 04/ panzer-mengawal-kereta-api-ke-bandung. html http:/ / keretapi. tripod. com/ history. html http:/ / jamestown. org/ terrorism/ news/ article. php?articleid=2370020

Pranala luar
(Indonesia) "Beban Sejarah Umat Islam Indonesia" (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0904/18/0802. htm), Pikiran Rakyat, 18 September 2004 (Indonesia) Artikel mengenai Negara Islam Indonesia (http://zaytun.blogspot.com/2006/02/ serpihan-darul-islam.html) (Indonesia) Profil SM Kartosoewirjo, proklamator Negara Islam Indonesia (NII) (http://www.ekonurhuda.com/ 2008/08/sekarmadji-maridjan-kartosoewirjo.html) (Indonesia) Pergerakan Islam di Indonesia (http://pasang-surut-islam-indonesia.blogspot.com/) (Indonesia) Pemberontakan DI/TII Daud Beureuh (http://www.kebudayaan.depdiknas.go.id/BudayaOnline/ SeniBudaya/Sejarah/PERANG/n_perang.htm)

Operasi militer Indonesia di Aceh 1990-1998

43

Operasi militer Indonesia di Aceh 1990-1998


Operasi militer Indonesia di Aceh 19901998
Bagian dari Konflik di Aceh

Lokasi Aceh di Indonesia Tanggal Awal 1990 22 Agustus 1998 Lokasi Hasil Aceh, Indonesia Penarikan TNI dari Aceh

Pihak yang terlibat


Indonesia

Gerakan Aceh Merdeka

Tentara Nasional Indonesia (TNI)

Komandan
Soeharto Hasan Di Tiro

Korban
9.000-12.000 orang, sebagian besar warga sipil

Operasi militer Indonesia di Aceh 1990-1998 atau juga disebut Operasi Jaring Merah adalah operasi kontra-pemberontakan yang diluncurkan pada awal 1990-an sampai 22 Agustus 1998 melawan gerakan separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh. Selama periode tersebut, Aceh dinyatakan sebagai "Daerah Operasi Militer" (DOM), dimana Tentara Nasional Indonesia diduga melakukan pelanggaran hak asasi manusia dalam skala besar dan sistematis terhadap pejuang GAM maupun rakyat sipil Aceh. Operasi ini ditandai sebagai perang paling kotor di Indonesia yang melibatkan eksekusi sewenang-wenang, penculikan, penyiksaan dan penghilangan, dan pembakaran desa. Amnesty International menyebut diluncurkannya operasi militer ini sebagai "shock therapy" bagi GAM. Desa yang dicurigai menyembunyikan anggota GAM dibakar dan anggota keluarga tersangka militan diculik dan disiksa. Diperkirakan lebih dari 300 wanita dan anak di bawah umur mengalami perkosaan dan antara 9.000-12.000 orang, sebagian besar warga sipil tewas antara tahun 1989 dan 1998 dalam operasi TNI tersebut. Operasi ini berakhir dengan penarikan hampir seluruh personil TNI yang terlibat atas perintah Presiden BJ Habibie pada tanggal 22 Agustus 1998 setelah jatuhnya Presiden Soeharto dan berakhirnya era Orde Baru.

Operasi militer Indonesia di Aceh 1990-1998

44

Referensi Pranala luar


(Inggris) [INDONESIA: "SHOCK THERAPY": RESTORING ORDER IN ACEH 1989-1993|https://www. amnesty.org/en/library/info/ASA21/007/1993/en] (Inggris) [Indonesia: The War in Aceh|http://www.unhcr.org/refworld/country,,HRW,,IDN,,3bd540bb0,0. html] "Conflict and Peacemaking in Aceh: A Chronology | Worldwatch Institute" (http://www.worldwatch.org/node/ 3929).

Operasi militer Indonesia di Aceh 2003-2004

45

Operasi militer Indonesia di Aceh 2003-2004


Operasi militer Indonesia di Aceh 20032004
Bagian dari Konflik di Aceh

Lokasi Aceh di Indonesia Tanggal 19 Mei 2003 13 Mei 2004 Lokasi Hasil Aceh, Indonesia Kemenangan TNI/Polri

Pihak yang terlibat


Indonesia

Gerakan Aceh Merdeka

Tentara Nasional Indonesia (TNI) Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri)

Komandan
Megawati Soekarnoputri Endriartono Sutarto Hasan Di Tiro Muzakkir Manaf

Kekuatan
30.000 tentara 12.000 polisi [1] total: 42.000 5.000
[2]

Korban
2.000 tewas (kebanyakan warga sipil)
[3]

Operasi militer Indonesia di Aceh (disebut juga Operasi Terpadu oleh pemerintah Indonesia) adalah operasi yang dilancarkan Indonesia melawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dimulai pada 19 Mei 2003 dan berlangsung kira-kira satu tahun. Operasi ini dilakukan setelah GAM menolak ultimatum dua minggu untuk menerima otonomi khusus untuk Aceh di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Operasi ini merupakan operasi militer terbesar yang dilakukan Indonesia sejak Operasi Seroja (1975), dan pemerintah mengumumkan terjadinya kemajuan yang berarti, dengan ribuan anggota GAM terbunuh, tertangkap, atau menyerahkan diri.[4] Operasi ini berakibat lumpuhnya sebagian besar militer GAM, dan bersama dengan gempa bumi dan tsunami pada tahun 2004 menyebabkan berakhirnya konflik 30 tahun di Aceh.

Operasi militer Indonesia di Aceh 2003-2004

46

Latar belakang
Pada 28 April 2003, pemerintah Indonesia memberikan ultimatum untuk mengakhiri perlawanan dan menerima otonomi khusus bagi Aceh dalam waktu 2 minggu. Pemimpin GAM yang berbasis di Swedia menolak ultimatum tersebut, namun Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa mendesak kedua pihak untuk menghindari konflik bersenjata dan melanjutkan perundingan perdamaian di Tokyo. Pada 16 Mei 2003, pemerintah menegaskan bahwa otonomi khusus tersebut merupakan tawaran terakhir untuk GAM, dan penolakan terhadap ultimatum tersebut akan menyebabkan operasi militer terhadap GAM. Pimpinan dan negosiator GAM tidak menjawab tuntutan ini, dan mengatakan para anggotanya di Aceh ditangkap saat hendak berangkat ke Tokyo.

Serangan militer
Selepas tengah malam pada 18 Mei 2003 Presiden Megawati Sukarnoputri memberikan izin operasi militer melawan anggota separatis.[5] Ia juga menerapkan darurat militer di Aceh selama enam bulan. Pemerintah Indonesia menempatkan 30.000 tentara dan 12.000 polisi di Aceh. Pada bulan Juni, pemerintah mengumumkan niat mereka untuk mencetak KTP baru yang harus dibawa semua penduduk Aceh untuk membedakan pemberontak dan warga sipil. LSM-LSM dan lembaga bantuan diperintahkan untuk menghentikan operasinya dan meninggalkan wilayah tersebut. Seluruh bantuan harus dikoordinasikan di Jakarta melalui pemerintah dan Palang Merah Indonesia. Pada bulan Mei 2004, darurat militer di Aceh diturunkan menjadi darurat sipil. Menko Polkam ad interim Indonesia Hari Sabarno mengumumkan perubahan ini setelah rapat kabinet 13 Mei 2004. Pemerintah mengumumkan terjadinya kemajuan yang berarti, dan ribuan anggota GAM terbunuh, tertangkap dan menyerahkan diri.

Tuduhan pelanggaran HAM di Aceh


Sekalipun darurat militer telah dihentikan, operasi-operasi militer terus dilakukan oleh TNI. Diperkirakan 2.000 orang terbunuh sejak Mei 2003. TNI mengatakan kebanyakan korban adalah tentara GAM, namun kelompok-kelompok HAM internasional dan setempat, termasuk komisi HAM pemerintah, menemukan bahwa sebagian besar korban adalah warga sipil. Bukti menunjukkan bahwa TNI sering tidak membedakan antara anggota GAM dan non-kombatan. Penyelidikan-penyelidikan juga menemukan GAM turut bersalah atas kebrutalan yang terjadi di Aceh. Para pengungsi Aceh di Malaysia melaporkan adanya pelanggaran yang luas di Aceh, yang tertutup bagi pengamat selama operasi militer ini. Pengadilan terhadap anggota militer Indonesia dianggap sulit dilakukan, dan pengadilan yang telah terjadi hanyalah melibatkan prajurit berpangkat rendah yang mengklaim hanya menjalankan perintah.

References
[1] People's Daily Online - Chronology of important events in Indonesia's Aceh (http:/ / english. peopledaily. com. cn/ 200508/ 15/ eng20050815_202565. html) [2] Indonesia: Refugees Reveal Widespread Abuses in Aceh (Human Rights Watch, 18-12-2003) (http:/ / www. hrw. org/ english/ docs/ 2003/ 12/ 17/ indone6692. htm) [3] KAIROS-Conflict in Aceh (http:/ / www. kairoscanada. org/ e/ countries/ indonesia/ background. asp) [4] Free Aceh Movement (http:/ / www. globalsecurity. org/ military/ world/ para/ aceh. htm) [5] Indonesia'S Military Begins Big Aceh Offensive (http:/ / www. rumormillnews. com/ cgi-bin/ archive. cgi/ noframes/ read/ 32311)

Operasi militer Indonesia di Aceh 2003-2004

47

Pranala luar
Aceh Under Martial Law: Inside the Secret War (http://hrw.org/reports/2003/indonesia1203/) (laporan Human Rights Watch) Kompilasi gambar operasi darurat militer di Aceh (http://www.kaskus.co.id/thread/ 000000000000000004367931/pic-share-kompilasi-gambar-operasi-darurat-militer-di-aceh-2003-2005/)

48

Lain-lain
Badan Reintegrasi Aceh
Badan Reintegrasi Aceh (singkatan: BRA) atau Badan Reintegrasi-Damai Aceh adalah lembaga resmi pemerintah yang mengurus masalah reintegrasi dalam proses perdamaian di Aceh. Didirikan pada tanggal 15 Februari 2006 dengan SK Gubernur Aceh. BRA memiliki struktur di tingkat provinsi dan kabupaten. BRA juga memiliki perwakilan-perwakilan dari Pemerintah, GAM, masyarakat sipil dan cendikiawan. BRA juga bekerjasama erat dengan lembaga-lembaga donor internasional dalam merencanakan dan melaksanakan program-program reintegrasi pasca konflik.

Forbes Damai
Forum Bersama Pendukung Perdamaian-Aceh atau disebut dengan Forbes Damai Aceh berfungsi untuk menjawab permasalahan yang berkaitan dengan pelaksanaan MOU, yang diawali dengan reintegrasi, kesejahteraan sosial, dan kebutuhan-kebutuhan akan penghidupan yang layak. Pada saat yang bersamaan, pembangunan perdamaian memerlukan keikutsertaan yang luas, transparansi dan akuntabilitas, dan juga pandangan jangka panjang. Hal-hal tersebut pastinya akan berdampak pada desain dari Forum Bersama. Sehingga struktur dan komponen-komponennya haruslah mencari bentuk, keikutsertaan, efisiensi, dan durasi yang tepat. Forum Bersama sesuai dengan SK gubernur No: 330/145/2007 merupakan komponen think-tank dan memiliki posisi sejajar dengan dua komponen lainnya, yaitu Pelaksana (Bapel BRA) dan lembaga pengawas. Forum Bersama terdiri dari Advisory Board yang terdiri dari para pemangku kebijakan (stakeholder) utama dan didukung oleh beberapa staf admnistrasi.

Tugas
Mengoptimalkan penyebaran informasi di antara stakeholders (pihak-pihak yang berkepentingan) serta menjaga keseragaman visi berkaitan dengan implementasi Nota Kesepahaman serta tantangan yang harus dihadapi selama proses berlangsung; Menyediakan tempat serta mekanisme penyelesaian masalah secara bersama-sama. Memberikan dukungan atas terlaksananya koordinasi dan membuat perencanaan menyangkut transisi dari konflik ke kondisi damai.

Pranala luar
(Indonesia) Aceh Menitoring Mission [1] (Indonesia) Badan Reintegrasi-Damai Aceh [2]

Referensi
[1] http:/ / www. aceh-mm. org [2] http:/ / bra-aceh. org/

Aceh Monitoring Mission

49

Aceh Monitoring Mission


AMM atau Aceh Monitoring Mission adalah sebuah tim yang dibentuk berdasarkan kesepakatan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia tanggal 15 Agustus 2005 dan bertugas mulai tanggal 15 September. AMM bertugas untuk memonitor implementasi dari komitmen yang diambil oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan GAM sehubungan dengan Memorandum of Understanding yang ditandatangani. AMM adalah misi Uni Eropa yang pertama di Asia dan bentuk kerjasama yang pertama dengan negara-negara ASEAN. Dengan membentuk AMM, Uni Eropa menekankan komitmennya untuk proses perdamaian di Aceh yang hancur dalam 30 tahun terakhir akibat konflik berkepanjangan dan tsunami pada Desember 2004. AMM terdiri dari lima negara ASEAN yaitu Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand ditambah dengan negara-negara tergabung dalam Uni Eropa antara lain Swiss dan Norwegia.

Fungsi
Fungsi AMM antara lain: Memonitor demobilisasi GAM dan penghancuran sejata dan amunisinya. Memonitor relokasi dari kekuatan militer non-organik dan pasukan polisi non-organik. Memonitor reintegrasi anggota aktif GAM. Memonitor penegakan situasi hak asasi manusia. Memonitor proses penggantian legislatif. Menengahi kasus-kasus amnesti yang masih diperdebatkan. Menengahi komplain-komplain dan pelanggaran-pelanggaran terhadap MoU. Membentuk kerjasama yang baik dengan keduabelah pihak.

Misi ini bermarkas di Banda Aceh dengan kantor daerah terdistribusi di 11 daerah di Aceh. Diketuai oleh Pieter Feith, tugas AMM akan berakhir pada 15 Maret 2006. Namun pada tanggal 14 Januari 2006, pemerintah Indonesia kemudian memutuskan untuk memperpanjang masa tugas AMM selama 3 bulan lagi. AMM akhirnya resmi dibubarkan pada 15 Desember 2006 setelah bertugas selama 15 bulan.

Reintegrasi, Amnesti dan Hak Asasi Manusia


Berdasarkan pasal 5.1 dalam Nota Kesepahaman, tugas AMM adalah untuk: Memantau reintegrasi anggota-anggota GAM yang aktif ke dalam masyarakat, Memantau situasi hak asasi manusia dan memberikan bantuan dalam bidang ini, Memutuskan kasus-kasus amnesti yang disengketakan,

Reintegrasi
Pengaturan-pengaturan mengenai reintegrasi dalam MoU meliputi bantuan untuk tiga kelompok: mantan pejuang GAM, tahanan politik yang mendapatkan amnesti, dan korban konflik. Setelah dibebaskan dari tahanan pada akhir Agustus 2005 (atau dalam beberapa kasus setelahnya), seluruh tahanan politik telah dimasukkan kedalam bantuan program yang dijalankan oleh IOM yang meliputi fasilitas ekonomi, perawatan kesehatan serta kesempatan untuk mendapatkan pelatihan kejuruan. Sejumlah 3000 mantan pejuang GAM dimasa tugas AMM telah menerima tiga tahap angsuran bantuan ekonomi dari Pemerintah, jumlah seluruhnya adalah 3 juta Rupiah untuk setiap mantan pejuang GAM. Beberapa mantan pejuang GAM dan korban konflik juga mendapatkan bantuan dari program pemberdayaan ekonomi yang dijalankan oleh badan pelaksana reintegrasi MoU milik Pemerintah yaitu Badan Reintegrasi Aceh (BRA).

Aceh Monitoring Mission AMM telah memantau secara seksama kerja BRA di tingkat provinsi dan kabupaten. Kantor-kantor wilayah AMM telah memantau dan melaporkan tentang situasi di lapangan, memastikan bahwa bantuan yang disepakati telah diterima oleh kelompok yang berhak menerima. Jaringan kantor-kantor wilayah AMM dan pertemuan-pertemuan di tingkat kabupaten antara para pemangku kepentingan yang difasilitasi oleh AMM terbukti berguna juga untuk mendiskusikan isu-isu yang berhubungan dengan reintegrasi.

50

Amnesti
Sesuai dengan Nota Kesepahaman Pemerintah Indonesia, sesuai dengan prosedur konstitusional, akan memberikan amnesti kepada semua orang yang terlibat dalam aktivitas GAM. Sejak penandatanganan Nota Kesepahaman di Helsinki pada 15 Agustus 2005, sekitar 2000 tahanan telah dibebaskan. Pembebasan terbesar adalah pada tanggal 31 Agustus 2005 menyusul dikeluarkannya Dekrit Presiden satu hari sebelumnya. Namun sebelum itu, pada tanggal 17 Agustus 2005, dua hari setelah Nota Kesepahaman ditandatangani, sebanyak 298 anggota GAM telah dibebaskan berkaitan dengan hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah pembebasan pertama pada Agustus 2005, GAM menyampaikan kepada Pemerintah Indonesia dan AMM bahwa masih ada beberapa anggotanya yang ditahan di beberapa penjara di seluruh Indonesia, yang mana menurut GAM sesuai dengan MoU harus diberikan amnesti dan dibebaskan. Untuk menyelesaikan kasus-kasus ini sebuah kelompok kerja tripartid dibentuk. Kelompok ini berhasil memfasilitasi kesepakatan antara pihak-pihak atas beberapa kasus. Namun dalam rangka memfasilitasi perkembangan lebih jauh, AMM merekrut seorang mantan Hakim berwarganegara Swedia yang memiliki pengalaman internasional dalam menangani kasus-kasus amnesti. Seperti kesepakatan yang dicapai pihak-pihak, individu-individu diberikan amnesti dan dibebaskan. Melalui upaya fasilitasi ini, pihak-pihak akhirnya mencapai kesepakatan konsensual mengenai kasus amnesti yang tertunda dan menyatakan bahwa tidak ada kasus amnesti yang membutuhkan keputusan Ketua Misi.

Hak Asasi Manusia


Dalam Nota Kesepahaman, AMM ditugaskan memonitor hak-hak asasi para anggota GAM yang telah berintegrasi dan memberikan bantuannya dilapangan. Pengawasan terbatas pada pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi setelah 15 Agustus 2005 dengan memfokuskan pada GAM. AMM menangani persoalan-persoalan melalui kasus-kasus individu maupun dalam bentuk investigasi dan diskusi dengan pihak-pihak terkait. Ini juga bertujuan untuk menguatkan masyarakat sipil dan lembaga-lembaga nasional dalam bidang hak asasi manusia. Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) baik dalam tingkatan distrik ataupun tingkat pusat (Kantor Pusat) telah terbukti menjadi forum yang berguna untuk mengangkat persoalan yang terkait bersama para pimpinan kedua belah pihak. Kantor-kantor distrik secara rutin menginvestigasi insiden-insiden seperti penggunaan kekuasaan yang berlebihan, pemerasan, dan intimidasi. AMM mengikuti perkembangan lebih lanjut mengenai hak asasi manusia dan pelaksanaannya. Nota Kesepahaman mengenai Hak Asasi Manusia: 1. Pemerintah RI akan mematuhi Kovenan Internasional Perserikatan Bangsa-bangsa mengenai hak-hak sipil dan politik dan mengenai hak-hak ekonomi, social, dan budaya. Pada 30 September 2005, Pemerintah Indonesia secara resmi mengesahkan dua undang-undang yang meratifikasi kovenan yang tercantum dalam pasal 2 ayat 1 dari nota kesepakatan. 2. Sebuah pengadilan Hak asasi Manusia akan dibentuk untuk Aceh. 3. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi akan dibentuk di Aceh oleh Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Indonesia dengan tugas merumuskan dan menentukan upaya rekonsiliasi.

Aceh Monitoring Mission

51

Pelucutan Senjata dan Relokasi Pasukan


AMM memantau pembubaran GAM dan melucuti persenjataannya, yang dilakukan dalam empat tahap. Sesuai dengan Nota Kesepakatan keempat tahap tersebut diselesaikan sebelum akhir bulan Desember 2005. Pada September 2005 senjata-senjata milik GAM untuk tahap pertama mulai dilucuti diseluruh penjuru Aceh dan pasukan TNI serta Polisi non organik direlokasi sebagai bagian dari pengaturan-pengaturan keamanan yang dideskripsikan dalam Nota Kesepakatan pasal 4. Upacara pemotongan senjata terakhir dilaksanakan di Banda Aceh pada 21 Desember 2005. GAM menyerahkan total sebanyak 840 senjata yang diterima oleh AMM untuk dilucuti selama empat tahap. AMM juga memantau penarikan pasukan militer dan polisi non organik yang dilaksanakan secara paralel dengan perlucutan senjata. Upacara-upacara penarikan pasukan ini dilakukan di pelabuhan Lhokseumawe dan untuk menandakan penyelesaian penarikan pasukan militer non organik dilaksanakan pada 29 Desember serta upacara penarikan polisi non organik terakhir diselenggarakan pada 31 Desember. Jumlah keseluruhan TNI non organik yang direlokasi dalam empat tahap adalah 25.890 dan Polisi non organik berjumlah 5.791.

Pelucutan Senjata
Statistik Perlucutan Senjata GAM
Tahap I (September 2005) II (October 2005) III (November 2005) IV (December 2005) Total Diserahkan oleh GAM 279 291 286 162 1018 Disqualifikasi Diterima 36 58 64 20 178 243 233 222 142 840 Dipermasalahkan oleh Pemerintah Indonesia 17 35 15 4 71 Jumlah senjata yang tidak dipermasalahkan 226 198 207 138 769

Relokasi Pasukan
Statistik Penarikan Pasukan non-organik TNI/Polisi
Tahap I (September 2005) II (October 2005) TNI Polisi Total

6,671 1,300 7,971 6,097 1,050 7,147

III (November 2005) 5,596 1,350 6,964 IV (December 2005) 7,628 2,150 9,778 Total 25,890 5,791 31,681

Aceh Monitoring Mission

52

Pranala luar
(Inggris) Aceh Council Factsheet [1] (Indonesia) Website resmi Aceh Monitoring Mission [1] (Inggris) Peacekeping Finlandia [2]

Referensi
[1] http:/ / ue. eu. int/ uedocs/ cmsUpload/ 050815_Aceh_Council_Factsheet_LATEST. pdf [2] http:/ / www. peacekeeping. fi/ euamm. htm

Sumber dan Kontributor Artikel

53

Sumber dan Kontributor Artikel


Pemberontakan di Aceh Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=7571476 Kontributor: Arkwatem, Borgx, Bozky, Ennio morricone, Farras, Mimihitam, Si Gam, 3 suntingan anonim Gerakan Aceh Merdeka Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=7559254 Kontributor: *drew, -iNu-, Agam dolah, Akuindo, Andri.h, Arkwatem, Ashabul Yamin, Atsjien, Ayie7791, Bennylin, Borgx, Ciko, Ennio morricone, F1fans, Farras, Gombang, Hayabusa future, Huseinsury, IvanLanin, Marfiadi, Masrudin, Meursault2004, Pmlineditor, Reindra, Rintojiang, Serenity, Si Gam, SpartacksCompatriot, Stephensuleeman, Tjmoel, Yosri, 27 suntingan anonim Hasan di Tiro Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=7558874 Kontributor: *drew, Albertus Aditya, Andri.h, Athrion, Azmi1995, Bennylin, Borgx, Ennio morricone, Ezagren, Farras, Hayabusa future, Imanuel NS Uen, Ingenieur2, Itamayana, IvanLanin, Kenrick95, Maulana Idris, Meursault2004, Si Gam, SpartacksCompatriot, Tjmoel, Wagino 20100516, 15 suntingan anonim Daud Beureu'eh Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=6828424 Kontributor: Andreas Sihono, Andri.h, Bennylin, Borgx, Gombang, Hayabusa future, Kisti, Meursault2004, Mimihitam, Minopueblo, Muhammad Nabil Berri, Zqman, 15 suntingan anonim Martti Ahtisaari Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=7488631 Kontributor: *drew, Bennylin, Borgx, Dhio270599, Epaphroditus Ph. M., Epaphroditus Ph. Mariman, Jagawana, Meeerr, Tatasport, Tjmoel, 5 suntingan anonim Muhammad Jusuf Kalla Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=7505665 Kontributor: *drew, -iNu-, Ahmad Al Bukhri, Albertus Aditya, Anashir, Andri.h, ArdWar, Athrion, Bennylin, Bhayu MH, Billinghurst, Borgx, Cekli829, CommonsDelinker, Dikaalnas, Dragunova, Eddy bf, Ennio morricone, Epaphroditus Ph. M., Hartono W, Hayabusa future, Indonesianboy, IvanLanin, Jazle, Kembangraps, Kenrick95, Login, Luph25, Luthfi94, Maqi, Marfiadi, Meursault2004, Mimihitam, Mounir, Mustamarif, Naval Scene, NoiX180, REX, Regifauzi, Reindra, Relly Komaruzaman, Ryan Ajie, SamanthaPuckettIndo, Serpicozaure, Stephensuleeman, Taman kodok, Teddy s, Ultima.ramza, 64 suntingan anonim Irwandi Yusuf Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=7505426 Kontributor: -iNu-, Andri.h, Aryphrase, Bennylin, Borgx, Calvin Ho Jiang Lim, Epaphroditus Ph. M., Ezagren, Farras, JUJUR, Mimihitam, Reindra, Wic2020, Zakwannur, 9 suntingan anonim Hamid Awaluddin Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=6661537 Kontributor: -iNu-, Andri.h, Borgx, Epaphroditus Ph. M., Hayabusa future, IvanLanin, Kembangraps, Naval Scene, NoiX180, Redyka94, Roscoe x, Serpicozaure, Teddy s, Tsovas, Wic2020, 1 suntingan anonim Endriartono Sutarto Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=7551936 Kontributor: -iNu-, Aday, Albertus Aditya, Andri.h, Borgx, Bozky, Denny eR Ge, Dudi, Gurnadi, IvanLanin, Jasintacantik, Kaindra, NoiX180, Relly Komaruzaman, 35 suntingan anonim Negara Islam Indonesia Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=7571380 Kontributor: -iNu-, Abasyah, Akank nana, Albertus Aditya, Anashir, Andri.h, Azhar riztekki, Borgx, Ciko, Dekat, Denny eR Ge, Ennio morricone, Ezagren, Gombang, Haikel, Hayabusa future, Imanuel NS Uen, Jagawana, Kembangraps, Meursault2004, Mimihitam, Nugroho2, Oppezer, Pai Walisongo, Redyka94, Ricky Setiawan, Sanko, Teuku Rizal, TheXenomorph1, Tjmoel, Wagino 20100516, Wiendietry, Yanu Tri, Zikriaulio, 59 suntingan anonim Operasi militer Indonesia di Aceh 1990-1998 Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=6806664 Kontributor: Ennio morricone Operasi militer Indonesia di Aceh 2003-2004 Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=7488624 Kontributor: Adnan bogi, Arkwatem, Bennylin, Borgx, HarkonBlade, Marfiadi, Mimihitam, Pras, 6 suntingan anonim Badan Reintegrasi Aceh Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=6908862 Kontributor: -iNu-, Borgx, Fadli Idris, Relly Komaruzaman, Si Gam Aceh Monitoring Mission Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=6908851 Kontributor: Borgx, Dragunova, Fadli Idris, Hayabusa future, Relly Komaruzaman, Si Gam

Sumber Gambar, Lisensi dan Kontributor

54

Sumber Gambar, Lisensi dan Kontributor


Berkas:IndonesiaAceh.png Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:IndonesiaAceh.png Lisensi: GNU Free Documentation License Kontributor: Andre Engels, Bennylin, Bwmodular, Conscious, Indon, Jeroen, Juiced lemon, Ranveig Berkas:Flag of Indonesia.svg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Flag_of_Indonesia.svg Lisensi: Public Domain Kontributor: Drawn by User:SKopp, rewritten by User:Gabbe File:Flag of Aceh.svg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Flag_of_Aceh.svg Lisensi: Public Domain Kontributor: Himasaram Berkas:Teuku Daud Beureueh.jpg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Teuku_Daud_Beureueh.jpg Lisensi: Public Domain Kontributor: Ministry of Defense of the Republic of Indonesia Berkas:Free Aceh Movement women soldiers.jpg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Free_Aceh_Movement_women_soldiers.jpg Lisensi: Public Domain Kontributor: Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Ministry of Defense of the Republic of Indonesia) Berkas:Jeurat_Hasan_Tiro_2.JPG Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Jeurat_Hasan_Tiro_2.JPG Lisensi: Creative Commons Attribution-Sharealike 3.0 Kontributor: User:Si Gam Berkas:Jeurat_Hasan_Tiro.JPG Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Jeurat_Hasan_Tiro.JPG Lisensi: Creative Commons Attribution-Sharealike 3.0 Kontributor: User:Si Gam file:Teuku Daud Beureueh.jpg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Teuku_Daud_Beureueh.jpg Lisensi: Public Domain Kontributor: Ministry of Defense of the Republic of Indonesia Berkas:Nobel prize medal.svg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Nobel_prize_medal.svg Lisensi: GNU Free Documentation License Kontributor: User:Gusme (it:Utente:Gusme) file:Martti Ahtisaari.jpg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Martti_Ahtisaari.jpg Lisensi: Public Domain Kontributor: Embassy of the United States in Helsinki, Finland Berkas:Loudspeaker.svg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Loudspeaker.svg Lisensi: Public Domain Kontributor: Bayo, Frank C. Mller, Gmaxwell, Gnosygnu, Husky, Iamunknown, Mirithing, Myself488, Nethac DIU, Nixn, Omegatron, Rocket000, Shanmugamp7, Snow Blizzard, The Evil IP address, Trelio, Wouterhagens, 28 suntingan anonim file:Jusuf Kalla.jpg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Jusuf_Kalla.jpg Lisensi: Public Domain Kontributor: Govt. of Indonesia. Original uploader was Dre.comandante at en.wikipedia Berkas:Flag of Japan.svg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Flag_of_Japan.svg Lisensi: Public Domain Kontributor: Various Berkas:Stamps of Indonesia, 032-05.jpg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Stamps_of_Indonesia,_032-05.jpg Lisensi: Public Domain Kontributor: Cekli829 file:Irwandi Yusuf 2007-edit.jpg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Irwandi_Yusuf_2007-edit.jpg Lisensi: Creative Commons Attribution-Sharealike 2.0 Kontributor: Bennylin file:kabinet_hamid_a.jpg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Kabinet_hamid_a.jpg Lisensi: tidak diketahui Kontributor: Borgx, IvanLanin, 1 suntingan anonim Berkas:Endriartono_Sutarto.png Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Endriartono_Sutarto.png Lisensi: Creative Commons Attribution-Sharealike 3.0 Kontributor: User:Gurnadi Berkas:Endriartono Sutarto Commander of TNI.jpg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Endriartono_Sutarto_Commander_of_TNI.jpg Lisensi: Creative Commons Attribution-Sharealike 3.0 Kontributor: User:Gurnadi Berkas:Endriartono_Sutarto_Wanadri.jpg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Endriartono_Sutarto_Wanadri.jpg Lisensi: Creative Commons Attribution-Sharealike 3.0 Kontributor: User:Gurnadi Berkas:Flag of Islamic State of Indonesia.svg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Flag_of_Islamic_State_of_Indonesia.svg Lisensi: GNU Free Documentation License Kontributor: Cycn, Herbythyme, 3 suntingan anonim Berkas:Flag of Aceh.svg Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Flag_of_Aceh.svg Lisensi: Public Domain Kontributor: Himasaram

Lisensi

55

Lisensi
Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 //creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/