Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH REPRODUKSI TERNAK

Spermatogenesesis dan Semen Ternak


Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Reproduksi Ternak

Oleh :
Kelompok : 10
Kelas F

Desi Rosmala

200110130387

Ines Trisnahati

200110130390

Gina Chynthia

200110130392

Sarra Mutiara Tsani

200110130399

M. Adyataruna Salam

200110130411

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

1.2 Identifikasi Masalah

1.3 Tujuan
\

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Spermatogenesis
2.1.1 Pengertian Spermatogenesis
Spermatogenesis

adalah

proses

pembentukan

dan

pemasakan

spermatozoa. Spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus. Peralihan dari


bakal sel kelamin yang aktif membelah ke sperma yang masak serta
menyangkut berbagai macam perubahan struktur yang berlangsung secara
berurutan. Spermatogenesis berlangsung pada tubulus seminiferus dan diatur
oleh hormone gonadtotropin dan testosterone (Wildan yatim, 1990).
Spermatogenesis terjadi di testis. Didalam testis terdapat tublus
seminiferus. Dinding tubulus seminiferus terdiri dari jaringan epitel dan
jaringan ikat, pada jaringan epithelium terdapat sel sel spermatogonia dan
sel sertoli yang berfungsi member nutrisi pada spermatozoa. Selain itu pada
tubulus seminiferus terdapat pula sel leydig yang mengsekresikan hormone
testosterone yang berperan pada proses spermatogenesis.
Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal melalui
proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang bertujuan untuk membentuk
sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus yang
kemudian disimpan di epididimis. Dinding tubulus seminiferus tersusun dari
jaringan ikat dan jaringan epitelium germinal (jaringan epitelium benih) yang
berfungsi pada saat spermatogenesis. Pintalan-pintalan tubulus seminiferus
terdapat di dalam ruang-ruang testis (lobulus testis). Satu testis umumnya
mengandung sekitar 250 lobulus testis. Tubulus seminiferus terdiri dari
sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel benih) yang disebut
spermatogonia (spermatogonium = tunggal). Spermatogonia terletak di dua
sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel tubulus seminiferus. Spermatogonia
terus-menerus

membelah

untuk

memperbanyak

diri,

sebagian

dari

spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu


untuk membentuk sperma.

Pada tubulus seminiferus terdapat sel-sel induk spermatozoa atau


spermatogonium, sel Sertoli, dan sel Leydig. Sel sertoli berfungsi memberi
makan spermatozoa sedangkan sel leydig yang terdapat di antara tubulus
seminiferus berfungsi menghasilkan testosteron.
2.1.2 Proses Spermatogenesis

Pada waktu lahir tubuli seminiferi tidak berlumen dan hanya ada dua jenis
sel yaitu spermatogonia dan sel-sel indiferent. Selama pubertas tubuli
seminiferi mulai berlumen dan ephitel kecambah berubah dari bentuk
sederhana menjadi bentuk kompleks yang khas bagi hewan jantan dewasa.
Sperma terbentuk di dalam tubuli seminiferi dari sel-sel induk sperma
yang diploid, spermatogonia tipe A, yang terletak pada membran basalis.
Spermatogenesis merupakan suatu proses kompleks yang meliputi
pembelahan dan diferensial sel. Selama proses tersebut jumlah kromosom
direduksi dari diploid (2n) menjadi haploid (n) pada setiap sel, juga terjadi
reorganisasi komponen-komponen inti sel dan cytoplasma secara meluas
(Knudsen & Byrne, 1960; Ortavant et al, 1969). Spermatogenesis meliputi
spermatocytogenesis atau pembentukan spermatocyt primer dan sekunder dari
spermatogonia tipe A dan spermiogenesis atau pembentukan spermatozoa dari
spermatid. Spermatocytogenesis dikendalikan oleh FSH dari adenohypophysa
dan spermiogenesis berada di bawah pengaruh LH dan testosteron.
Sel-sel kelamin jantan berkembang secara progresif dan berimigrasi dari
membran basalis ke arah lumen tubuli seminiferi. Akan tetapi selama waktu
tersebut mereka berhubungan dengan cytoplasma sel-sel sertoli yang memberi
nutrisi kepada spermatozoa.
Fase I. (15-17 hari) Pembelahan mitotik spermatogonia menjadi dua anak
sel yaitu satu spermatogenium dormant yang menjamin kontinuitas

spermatogonia dan satu spermatogonium aktif yang membagi diri empat kali
sehingga akhirnya membentuk 16 spermatocyt primer (2n).
Fase II. (kurang lebih 15 hari) Pembelahan meiotik dari spermatocyt
primer (2n) menjadi spermatocyt sekunder (n).
Fase III. (beberapa jam) Pembelahan spermatocyt sekunder menjadi
spermatid.
Fase IV. (kurang lebih 15 hari) Metamorfosis spermatid menjadi
spermatozoa tanpa pembelahan sel. Proses spermatogenesis meliputi
perombakan radikal bentuk sel dimana sebagian besar cytoplasma termasuk
asam ribonucleic (RNA), air, dan glikogen terlepas atau menghilang.
Spermatid adalah suatu sel bundar yang relatif besar sedangkan sperma
merupakan suatu sel langsing memanjang yang kompak dan motil, dan terdiri
dari kepala dan ekor. Aparat golgi dari spermatid membentuk tudung anterior
atau akrosoma sperma (Bane dan Nicander, 1966) dan mitochondria dari
sitoplasma berkumpul pada ekor yang bertumbuh keluar dari sentriol.
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Spermatogenesis
a. Faktor dalam (endogen):
-

Hormonal

Psikologis

Genetik

Umur

Maturasi

b. Faktor luar (eksogen):


-

Bahan kimia atau obat-obatan

Fisik berupa bendungan, suhu, radiasi oleh sinar X dan getaran


ultrasonic

Vitamin dan gizi seperti vitamin A, vitamin E dan glutamine

Trauma dan keradangan

2.2 Pembentukan dan Perkembangan Spermatozoa


Spermatozoa dibentuk di dalam testes, melalui proses yang disebut
spermatogenesis, tetapi mengalami pematangan lebih lanjut di dalam
epidydimis dimana sperma disimpan sampai ejakulasi. Spermatozoa di bentuk
di dalam testes melalui proses yang disebut spermatogenesis, tetapi
mengalami pematangan lebih lanjut di dalam epididimis, di mana sperma
disimpan sampai ejakulasi.
Spermatogenesis dimulai pada waktu pubertas yaitu saat hewan
mencapai dewasa. Pubertas pada ternak jantan muncul pada waktu yang
hampir bersamaan dengan ternak betina dalam spesies yang sama. Timbulnya
pubertas pada ternak jantan ditandai dengan sifat kelamin sekunder dan
kesanggupan berkopulasi dan adanya sperma hidup di dalam ejakuasi.
Spermatozoa dihasilkan di dalam tubuli semineferi. Mereka berasal dari
spermatogonia epitel germinalis yang terdapat pada lapisan luar tubuli.
Pertumbuhan sel-sel ini dengan suatu sel pembelahan mengarah ke lumen
tubuh sehingga sel-sel akan melepaskan diri dari sel-sel sekitar dan berubah
bentuk dan ciri-cirinya.
Spermatozoa adalah sel kecambah yang mana setelah masak ia bergerak
melalui epidydimis, dan mampu membuahi ovum setelah terjadinya kapasitasi
pada hewan betina. Spermatozoa menjadi aktif bergerak setelah menyentuh
bahan-bahan yang disekresikan oleh kelenjar-kelenjar aksesoris (ampula,
kelenjar vesicularis, kelenjar prostate, dan kelenjar cowpers). Meskipun
demikian, banyak di antara spermatozoa tersebut mengalami degenerasi dan
diserap kembali oleh sel-sel epithelium epididimis dan vas deferens dan
banyak pula yang disekresikan dalam urin (Frandson, 1992). Spermatozoid
atau sel sperma atau spermatozoa (berasal dari bahsa yunani kuno yang berarti
benih dan makhluk hidup) adalah sel dari sistem reproduksi jantan. Sel sperma
akan membentuk zigot.
Zigot adalah sebuah sel dengan kromosom lengkap yang akan
berkembang menjadi embrio. Peran aktif spermatozoa adalah sebagai gamet
jantan, sehingga sangat penting dalam menghasilkan individu baru. Karena

itu, di dalam reproduksi sering diperlukan adanya standar kualitas


spermatozoa (Narato, 2009). Spermatozoa yang normal memiliki kepala,
leher, badan dan ekor. Bagian depan dinding kepala (yang mengandung asam
dioxyribonucleik, di dalam kromosom), tampak sekitar 2/3 bagian tertutup
acrosom. Tempat sambungan dasar acrosom dan kepala disebut cincin
nucleus. Di antara kepala dan badan terdapat sambungan pendek, yaitu leher
yang berisi centriole proximal, yang kadang-kadang dinyatakan sebagai pusat
kenetik aktivitas spermatozoa. Bagian badan dimulai dari leher dan berlanjut
ke cincin centriole. Bagian badan dan ekor mampu bergerak bebas, meskipun
tanpa kepala. Ekor berupa cambuk, membantu mendorong spermatozoa untuk
bergerak maju (Salisbury, 1985).
Suatu proses pembentukan sel kelamin jantan berupa sel spermatozoa
yang berlangsung di dalam tubuli seminiferi dalam testis disebut
spermatogenesis. Spermatogenesis meliputi serangkaian tahapan dalam
pembentukan spermatozoa yaitu (Frandson, 1992):
1. Spermatogonia, sel-sel yang pada umumnya terdapat pada perifer
tubulus seminiferus, jumlahnya bertambah secara mitosis, suatu tipe
pembelahan di mana sel-sel anakan hampir sama dengan sel induk.
2. Spermotosit Primer, dihasilkan oleh spermatogonia, mengalami
migrasi menuju ke pusat tubulus dan mengalami pembelahan meiosis di mana
kromosom-kromosom bergabung dalam pasangan-pasangan dan kemudian
satu dari masing-masing pasangan menuju ke tempat masing-masing dari dua
spermatosit sekunder. Jadi, jumlah kromosom dibagi dalam spermatosit
sekunder.
2.2.1 Pubertas
Spermatogenesis dimulai pada waktu pubertas, yaitu sewaktu hewan
mencapai dewasa kelamin. Pubertas pada ternak jantan timbul pada waktu
yang hamper bersamaan dengan ternak betina dalam species yang sama. Pada
waktu tersebut hormone-hormon adenohypophysa menggertak pelepasan
hormone-hormon gonadal yang sebaiknya menyebabkan pertumbuhan organorgan kelamin dan sifat-sifat kelamin sekunder. Timbulnya pubertaas pada

hewan jantan ditandai oleh sifat-sifat kelamin sekunder, keiginan kelamin,


kesanggupa berkopulasi dan adanya sperma hidup di dalam ejakulat. Pubertas
dating secara gradual dan terjadi pada umur yang berbeda-beda tergantung
pada makanan, bangsa ternak, persilangan, tata laksana, penyakit-penyakit
menahun, dan perbedaan-perbedaan individual.
Timbulnya pubertas tidak menandakan kapasitas menandakan kapasitas
reproduksi sepenuhnya. Peninggian yang berarti dalam volume ejakulat,
jumlah sperma motil dan konsentrasi spermatozoa baru terjadi pada sapi 6
sampai 9 bulan sesudah awal pubertas (Almquist & Cunningham, 1967).
Pengurangan jumlah butiran protoplasma proksimal pada sperma sapi baru
terjadi pada umur antara 9 sampai 12 bulan (Abdel-Raouf, 1965). Lagerlof
dan Carlquist (1961) mencatat pengurangan butiran-butiran protoplasma dan
sperma abnormal di dalam ejakulat babi pada umur antara 1500 dan 200 hari.
Menurut Niwa (1959) pada babi pertumbuhan testes dan perpisahan penis dari
praeputium terjadi pada umur 4 sampai 6 bulan dan dewasa kelamin dicapai
pada umur 8 bulan. Hauer (1970) mencatat bahwa kuda-kuda jantan berumur
16 sampai 17 bulan menghasilkan haya 16,4 ml sperma bebas-gelatin per
ejakulat dengan 22 persen penggerakan progresif dan 48 persen sel-sel sperma
abnormal. Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut di atas maka hewanhewan jantan muda yang baru menanjak dewasa kelamin hendaknya tidak
terlampau sering dipakai untuk perkawinan selama setengah sampai satu tahun
sesudah pubertas.
Waktu pubertas pada ternak jantan dapat disimpulkan sebagai berikut:
Kuda

18 bulan (antara 12 sampai 24 bulan)

Sapi

9 sampai 12 bulan (antara 6 sampai 18 bulan)

Domba -

7 sampai 8 bulan (antara 4 sampai 12 bulan)

Babi

5 sampai 7 bulan (antara 4 sampai 8 bulan)

2.2.2 Pengangkutan, Pematangan dan Penyimpanan Spermatozoa

Spermatozoa diangkut dalam sejumlah besar cairan sekresi dari tubuli


seminiferi dan rete testis ke dalam ductuli efferents testes yang berliku-liku
yang terletak dekat caput epididimis dan bermuara ke dalam ductus
epididimis. Struktur-struktur ini yang tadinya berasal dari mesonefros
memiliki fungsi yang hampir sama dengan ginjal dalam hal aktivitas-aktivitas
absorptive dan sekretoris.kontraksi selubung testikuler mungkin membantu
mendorong semsn dari testes ke ductuli efferens. Hampir seluruh cairan, 200
ml per hari pada babi diabsorbsi. Konsentrasi sperma dalam cairan ini adalah
100 juta per ml. sel-sel sekretoris dan bersilia dengan silia yang memukul kea
rah epididimis ditemukan pada ductuli efferents.
Aktivitas peristaltic otot licin epedidimis bertanggungjawab atas
pengangkutan sperma di daerh ini. Mirovili ditemukan pada sel-sel epididimis
tetapi bersifat non-motil. Mekanisme kontraktil yang terlihat dalam
pengangkutan sperma pada hewan jantan sebagian diatur oleh oksitoksin.
Epitheliuym epididimis mempunyai fungsi absorptive dann sekretoris yang
menghasilkan ion=ion natrium, kalium, kalsium, klorida, pospor dan protein,
enzim dan glicerylphosporylcholine (GPC) dalam berbagai konsentrasi pada
cairan luminal berbagai bagian epididimis. Komposisi plasma epididimis
berhubungan erat dengan fungsi testikuler, pengangkutan sel-sel sperma dan
lingkungan hormonal dan fisik testes. Volume plasma pada babi, isi
epididimis mengalami pengenceran terus menerus dari caput ke cauda
epididimis. Waktu yang dibutuhkan untuk pengangkutan spermatozoa melalui
epididimis kira-kira & sampai 15 hari.
2.3 Fisiologi Semen
Semen adalah sekresi kelamin jantan yang secara normal diejakulasikan ke
dalam saluran kelamin betina sewaktu kopulasi, tetapi dapa pula ditampun dengan
berbagai cara untuk kemampuan inseminasi buatan.
Semen terdiri dari dua bagian yaitu plasma seminalis dan spermatozoa atau sel
kelamin jantan yang bersuspensi di dalam suatu cairan atau sel-sel kelamin jantan
yang bersuspensi di dalam suatu cairan atau medium semi-gelatinous yang disebut
plasma semen. Spermatozoa dihasilkan di dalam testes sedangkan plasma semen

adalah campuran sekresi yang dibuat oleh epididymis dan kelenjar-kelenjar


kelamin pelengkap yaitu kelenjar-kelenjar vesikulares dan prostata. Produksi
sperma oleh testes maupun produksi plasma semen oleh kelenjar-kelenjar kelamin
pelengkap kedua-duanya dikonntrol oleh hormon. Testes dipengaruhi oleh FSH
dan LH dari adenohypophysa sedangkan testes sendiri menghasilkan hormone
testosterone yang mengontrol perkembangan dan sekresi kelenjar-kelenjar
kelamin pelengkap.
Perbedaan anatomik kelenjar-kelenjar kelamin pelengkap pada berbagai jenis
hewan menyebabkan pula perbedaan-perbedaan volume dan komposisi semen
species-species tersebut. Semen sapid an domba mempunyai volume yang kecil
dengan konsentrasi sperma yang tinggi sehingga member warna krem; semen
kuda dan babi lebih voluminous dengan konsentrasi sperma yang rendah sehingga
semennya merupakan cairan keputih-putihan.

2.4 Plasma Semen


2.4.1 Sifat-sifat Fisik dsn Kimiawi
Sekitar 90 persen volume semen sapi terdiri dari plasma semen, sifatsifat fisik dan kimiawi semen sebagian besar ditentukan oleh plasma semen
(Toelihere, 1981). Plasma semen adalah campuran sekresi yang dibuat oleh
epididimis dan kelenjar-kelenjar kelamin pelengkap yaitu ampula, kelenjar
vesikularis, kelenjar prostate dan kelenjar bulborethralis. Plasma semen
mengandung asam sitrat konsentrasi tinggi, ergothionin, fruktosa, GPC,
sorbitol, asam askorbat, asam amino, peptide, protein, lipid, asam lemak dan
sejumlah enzim. Di dalam plasma semen juga di temukan adanya hormone
androgen, progesterone, prostaglandin, FSH, LH, ehorionik, gonadothropin,
hormon pertumbuhan, insulin, glucagon, prolaktin, relaxin, thyroid releasing
hormon dan enchepalin (Garner dan Hafez, 2000).
2.4.2 Fungsi Plasma
Menurut Toelihere (1981) dan Senger (1999) fungsi utama plasma
semen adalah sebagai medium perjalanan spermatozoa dari lingkungan
saluran reproduksi jantan ke traktus reproduksi betina selama ejakulasi. Fungsi

ini dapat dijalankan dengan baik karena pada banyak spesies plasma semen
mengandung bahan-bahan penyangga dan makanan sebagai sumber energy
bagi spermatozoa baik yang dapat digunakan secara langsung misalnya
fruktosa dan sorbitol maupun tidak langsung misalnya glyceryl phosphoryl
choline (GPC). Plasma semen yang sebagai besar terdiri dari air, merupakan
cairan netral bersifat isotonic serta berisi substansi organic sebagai cadangan
makanan dan perlindungan sperma.

2.5 Morfologi dan Motilitas Sperma


2.5.1 Morfologi Sperma

Sperma merupakan suatu sel kecil, kompak dan sangat khas, yang tidak
bertumbuh atau membagi diri. Secara esensial ia terdiri dari kepala yang
membawa materi herediter parental, dan ekor yang mengandung sarana
penggerak. Sperma tidak memiliki cytoplasma yang khas bagi kebanyakan sel.
Permukaan sperma dibungkus oleh suatu membran lipoprotein. Apabila
sel tersebut mati, permeabilitas membrannya meninggi, terutama di daerah
pangkal kepala, dan ini merupakan dasar pewarnaan semen yang membedakan
sperma hidup dari yang mati. Zat warna yang umum dipakai adalah eosin atau
merah kongo terhadap latar belakang hitam dari negrosin. Apabila sperma
disuntikan ke dalam tubuh, sel-sel ini akan menggertak pembentukan antibodi
di dalam darah, dan serum hewan tersebut akan meng-agglutinasikan sperma

invitro, akan tetapi dalam hal ini sperma biasanya bersatu pada ekornya
(aglutinasi ekor).
Kepala sperma
Bentuk kepala spermatozoa bermacam-macam pada sapi dan manusia
berbentuk bulat memanjang pada unggas seperti gelombang, pada tikus dan
mencit seperti sabit dengan ujung kepala bagian poterior tumpul dan bagian
anterior meruncing sedangkan leher sangat pendek. Dua pertiga kepala
spermatozoa ditutupi oleh akrosom. Bagian kepala spermatozoa didominasi
oleh inti sel yang mengandung materi genetik (DNA dan RNA), informasi
genetik yang dibawa oleh spermatozoa diterjemahkan dan disimpan di dalam
molekul DNA yang tersusun oleh banyak nukleotida. Setiap spermatozoa
mengandung lebih kurang 2,5 milyar informasi penting untuk membentuk
fetus walaupun diperluakan 300 milyar spermatozoa untuk membentuk satu
gram DNA. Pada mamalia sifat-sifat hereditas terdapat di dalam inti
spermatozoa termasuk penentuan kelamin embrio. Spermatozoa yang
mengandung kromosom X akan menghasilkan embrio betina sedangkan
spermatozoa yang mengandung kromosom Y akan menghasilkan embrio
jantan. Pada unggas justru sebaliknya spermatozoa X untuk jantan
spermatozoa Y untuk betina
Bagian leher spermatozoa merupakan bagian yang menghubungkan kepala
dengan ekor spermatozoa.
Ekor sperma
Ekor sperma panjangnya berkisar 40-50 mikron dibagi atas tiga bagian,
bagian tengah (midle piece), bagian utama (principle piece), dan bagian ujung
atau akhir (end piece) yang berasal dari sentriol spermatid selama
spermatogenesis. Pembagian tersebut berdasarkan letak , struktur dan
fungsinya. Organel sel yang berada dibagian ekor spermatozoa selain
mitokondria, mikofibril juga sitoplasma dalam jumlah sedikit. Sebagian besar
sitoplasma penyusun spematozoa telah diabsopsi oleh sel sertoli di tubulus
seminiferus saat spermatogenesis. Ekor spermatozoa pada bagian midle piece
merupakan inti ekor atau axial core tersusun dari membran sel, mitokondria

dan serabut tebal penyusun aksonema yang terdiri atas dua serabut sentral
dikelilingi oleh cincin konsentrik terdiri atas 9 fibril rangkap yang berjalan
dari daerah implantasi sampai bagian ujung ekor. Di bagian tengah ekor
spermatozoa, kesebelas fibril tersebut di atas dikelilingi lagi oleh 9 fibril yang
lebih kasar. Sepanjang bagia utama, fibril-fibril dibungkus oleh suatu
selubung elor fibrosa. Bagian utama ekor mengandung sebagian besar
mekanisasi daya gerak spermatozoa. Pada bagian ujung ekor yang pendek inti
ekor tidak mempunyai selubung dan fibril luar yang sembilan buah tidak ada.
Mitokondria yang terletak pada bagian ini tersusun secara spiral dan
dilindungi dari lingkungan luar oleh membran sel. Mitokondria adalah tempat
untuk sintesis energi yang digunakan untuk pergerakan spermatozoa.
Pergerakan terjadi dengan mengubah energi kimia dengan energi kinetik.
Bentuk ultrastruktur middle piece pada penampang bujur berturut-turut dari
luar adalah membran sel, mitokondria, serabut tebal, dan serabut halus. Setiap
organel tersebut memiliki peran dalam menjalankan fungsi spermatozoa,
serabut tebal dan serabut halus merupakan organel penyusun aksonema yang
berperan sebagai motor penggerak terjadinya motilitas spermatozoa.
Aksonema yang terdapat disepanjang ekor spermatozoa membantu
pergerakan ekornya. Bagian ini tediri atas 9 pasang mikrotubulus bagian
ferifer seabut tebal . antara ferifer satu dengan lainnya dihubungkan oleh
bagian yang disebut dynein arm dan radial spokes, serta satu pasang
mikrotubulus terletak dibagian tengah atau sentral. Pada bagian principle piece
juga tersusun oleh aksonema, sedangkan bagian end piece terdapat
mikrotubulus dan aksonema yang berfungsi dalam pergerakan sperma.
Pergerakan ekor spermatozoa terjadi karena adanya sinergis antara penyusun
aksonema.

2.5.2 Motilitas Spermatozoa


Motilitas sperma adalah kemampuan sperma dalam bergerak dengan
tepat menuju sel telur. Sperma yang tidak bergerak dengan baik tidak akan
mampu mencapai telur dalam proses fertilisasi. Motilitas sperma pada

mamalia juga berfungsi dalam menembus cumulus oophorus dan zona


pelusida, yang merupakan lapisan sel telur. Proses fertilisasi juga tergantung
atas efektifitas respon gerakan sperma terhadap beberapa faktor yang
dikeluarkan oleh ovum. Migrasi sperma melalui saluran reproduksi betina atau
di media (fertilisasi in vitro) untuk mencapai sel telur merupakan kunci sukses
fertilisasi.
Suksesnya fertilisasi juga tergantung atas kemampuan sperma dalam
menembus matrik ekstraseluler yang melapisi sel teliur. Motilitas sperma
diaktivasi oleh perubahan konsentrasi ion ekstraselular. Perubahan konsentrasi
yang memperantarai mekanisme tersebut berbeda diantara spesies. Pada
hewan invertebrata, peningkatan PH menjadi 7,2-7,6 mengaktivasi ATPase
yang mengakibatkan penurunan potasium, yang kemudian akan memacu
hiperpolarisasi membran. mengakibatkan, motilitas sperma teraktivasi.
Perubahan volume sel yang merubah konsentrasi ion intraseluler dapat juga
mempengaruhi aktivasi motilitas sperma. Pada beberapa mamalia, motilitas
sperma diaktivasi oleh peningkatan pH, ion kalsium dan cAMP, yang mana
ditekan oleh pH rendah di dalam epididimis. Pada mamalia, spermatozoa
matur secara fungsi melalui proses yang disebut kapasitasi. Saat sperma
mencapai tuba, motilitasnya menurun karena melekat pada epitelium. Saat
dekat dengan waktu ovulasi, terjadi hiperaktivasi. Selama proses tersebut,
flagela

bergerak

dengan

cepat.

Hiperaktivasi

dipacu

oleh

kalsium

ekstraseluler, akan tetapi, faktor yang meregulasi kadar kalsium masih belum
diketahui. Tanpa intervensi teknologi, sperma non motil atau sperma dengan
gerak abnormal tidak dapat membuahi. Oleh karena itu, penilaian terhadap
fraksi populasi sperma yang motil dalam analisis kualitas sperma merupakan
faktor yang sangat penting. Rendahnya motilitas sperma merupakan penyebab
umum subfertilitas ataupun infertilitas.
Motilitas sperma penting untuk fertilisasi normal. Motilitas sperma
dihasilkan oleh flagela. Proses ini membutuhkan ATP yang berfungsi sebagai
tenaga penggerak pada aksnomea. Walaupun sperma tidak bergerak saat di
epididymis, sperma mamalia menunjukkan gerakan maju yang cepat yang

disebut motilitas progressive, segera setelah ejakulasi. Gerakan berubah pada


taktus reproduksi wanita, dengan meningkatnya amplitudo dan lekukan
flagela. Perubahan tersebut menghasilkan gerakan mirip dengan pukulan
cemeti yang disebut dengan hiperaktifasi gerakan yang membantu transport
sperma pada tuba dan penetrasi zona pelucida yang mengelilingi oosit.
Motilitas sperma dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut ini:
a. CatSper
Penelitian Dejian Ren mengenai CatSper yang merupakan saluran kation
sperma yang terletak di ekor. Perusakan pada gen yang yang mengkode
catsper berakibat sterilitas sperma tersebut. Motilitas sperma menurun
pada sperma catsper -/- dan sperma tersebut tidak mampu membuahi ovum
intak. Cyclic AMP yang memacu masuknya ion Ca2+ tidak mampu
bekerja pada sperma tersebut. CatSper berperan vital dalam masuknya
Ca2+ yang diperantarai oleh cAMP.
b. ROS
Efek reactive oxygen species (ROS), seperti hydrogen peroxide , O2 and
OH pada fungsi sperma dan bahaya asam lemak peroksid karena
pengaruhnya pada sel membran telah dikenal beberapa tahun yang lalu
(jones dkk, 1979). Sperma manusia sensitif terhadap kerusakan karena
oksigen yang diperantarai oleh perkosidasi lemak karena sperma banyak
tersusun oleh asam lemak tak jenuh dan rendahnya mekanisme perbaikan
dari dalam sperma itu sendiri (Aitken and Clarkson, 1987; Alvarez et al,
1987). Rusaknya sperma mengakibatkan tingginya kadar ROS dibanding
sperma normal dan ini merupakan penyebab infertilitas idiopatik (Aitken,
1990). Terbentuknya ROS juga berkaitan dengan hilangnya motilitas dan
penurunan kapasitas penggabungan sperma dan ovum. (Aitken et al,
1989). Pada penelitian lain, (Iwasaki and Gagnon 1992) membuktikan
bahwa sebanyak 25% sampel sperma dari pria infertil memproduksi ROS
secara signifikan. Mereka melaporkan hubungan terbalik antara persentase
sperma motil dan jumlah ROS yang terdeteksi. Semen memiliki sistem
pertahanan yang melawan efek ROS dan mencegah kerusakan seluler.

Sistem

tersebut

yaitu

superokside dismutase (SOD),

glutathione

peroksidase/reduktase dan katalase (Nissen, dkk) Terdapat hubungan


positif antara level SOD pada spermatozoa dan durasi motilitas
spermatozoa (Alvarez et a!, 1978). ROS dapat mengakibatkan kerusakan
protein, modifikasi sitoskeletal dan hambatan mekanisme seluler seperti
respirasi mitokondria dan sintesis protein DNA dan RNA. (Comporti,
1989).
c. GAPDS
GAPDS

Merupakan

singkatan

dari

Glyceraldehyde

3-phosphate

dehydrogenase-S. Merupakan enzim penting dalam reaksi glikolisis untuk


menghasilkan ATP. GAPDS hanya ditemukan di sperma. GAPDS terletak
di flagela. Penelitian pada tikus yang tidak mengandung GAPDS
menunjukkan bahwa tikus tersebut menghasilkan sperma dengan gerakan
yang tidak sempurna.
d. PAF
Platelet-activating

factor

(PAF;1-O-alkyl-2-acetyl-sn-glycero-3-

phosphorylcholine) merupakan phospholipid poten yang diproduksi oleh


berbagai sel dan mempunyai pengaruh signifikan terhadap reproduksi.
PAF endogen ditemukan di sperma manusia, kelinci tikus dan sapi.
Pengobatan dengan PAF sintetik meningkatkan motilitas sperma. PAF
meningkatkan angka fertilisasi pada tikus serta kelinci. Embrio manusia
dan tikus juga memproduksi PAF. Lebih dari itu, kultur embrio tikus
dengan adanya PAF menunjukkan peningkatan pertumbuhan blastosit dan
kemampuan implantasi yang mungkin disebabkan oleh karena stimulasi
PAF terhadap metabolisme embrio. Produksi PAF oleh embrio manusia
berkaitan dengan peningkatan potensi kehamilan. Walaupun peran PAF
masih belum banyak diketahui, PAF mungkin berperan dalam embryonic
endometrium signaling. Kaitan antara kualitas sperma dan perkembangan
embrio tidak banyak dicari pada penelitian sebelumnya, walaupun
penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan antara kualitas sperma
jelek dengan kualitas embrio yang rendah dan kegagalan fertilisasi.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemberian PAF pada spermatozoa


secara signifikan meningkatkan pertumbuhan embrio dan angka fertilisasi
dibanding prosedur standar kapasitasi in vitro (HIS) pada kelinci.
Calcium-dependent

phospholipase

A2

terdapat

pada

sperma.

Phospholipase A2 mengkatalisasi pembentukan lyso-PAF (1-alkyl-2-1ysosn-glycero-3-phosphocholine) dari alkyl-acyl-GPC (komponen inert


struktur membran sel). Lyso-PAF dapat juga diasetilasi oleh enzim yang
disebut lyso-PAF-acetyl transferase (dengan acetyl-CoA sebagai donor
acetate) untuk membentuk PAF atau diasetilasi oleh CoA-independent
arachidonyl transacylase untuk membentuk perkursor alkyl-acyl-GPC.
PAF-acetyl hydrolase merupakan enzim yang berfungsi melepas grup
asetat dari posisi sn-2 PAF and menginaktivasi PAF, menghasilkan lysoPAF. Lyso-PAF-acetyl transferase dan PAF-acetyl hydrolase terdapat pada
spermatozoa manusia. Sehingga enzim yang dibutuhkan untuk aktivasi
dan menginaktifasi PAF terdapat pada spermatozoa manusia. Adanya
PAF-acetyl hydrolase pada cairan plasma seminal berhubungan dengan
fungsinya sebagai faktor dekapasitasi. Tidak adanya acetyl hydrolase
selama proses kapasitasi memacu sintesis PAF oleh spermatozoa, sehingga
akan meningkatkan motilitas dan interaksi sperma-ovum. Motilitas sperma
dan konsentrasi dipercaya sebagai faktor penting dalam proses fertilisasi.
Pertumbuhan embrionik yang rendah berkaitan dengan kualitas sperma
jelek. Dengan demikian sangat mungkin bahwa terapi spermatozoa dengan
PAF yang merupakan stimulan motilitas endogen dan interaksi gamet
dapat meningkatkan kualitas embrio. Kultur embrio manusia dan tikus
dengan

PAF

menunjukkan

stimulasi

pertumbuhan

embrionik.

Kemunginan lain adalah pengobatan sperma dengan sintetik PAF


menstimulasi produksi dan sekresi PAF, sehingga meningkatkan
pertumbuhan embrio. Mekanisme yang tepat bagaimana PAF berinteraksi
dengan gamet masih belum jelas dan membutuhkan penelitian lebih lanjut
(WILLIAM E, et al, 1993).

2.6 Regulasi Hormon dalam Spermatogenesis


Dalam regulasi hormonal terhadap fungsi testes distimulasi oleh hormon
gonadrotopin yang sevara langsung dikontol oleh hormon gonadrotopin releasing
hormone (GnRH) dari hipothalamus. Oleh stimulasi dari hormon gonadrotopin
dari hipofisis anterior ( LH dan FSH) terhadap testes, utamanya FSH akan
menstimulasi

sel-sel

germinatif dari tubulus

seminiferus untuk

proses

spermatogenesis selain itu FSH juga menstimulasi sel sertoli yang berada di
tubulus seminiferus untuk mensekresikan ABP ( Androgen Binding Protein) dan
inhibin. LH akan merangsang sel interstitial Sel Leydig yang berada pada jaringan
interstitial testes untuk mensekresikan hormon Androgen. ABP merupakan
protein pembawa hormon androgen dalam transport di pembuluh darah. Apabila
produksi spermatozoa dianggap berlebihan maka inhibin akan melakukan kontrol
( negative feedback mechanism) terhadap hipothalamus dan hipofisi anterior
akibatnya terjadi hambatan terhadap sekresi hormon gonadrotopin releasing
hormone dan hormon gonadrotopin ( FSH) yang akan mengakibatkan
menurunnya stimulasi terhadap spermatogenesis. Kontrol terhadap sekresi
hormon gonadrotopin lainnya yaitu LH juga terjadi melalui mekanisme
penghambatan oleh hormon androgen yang diproduksi oleh sel leydig. Hormon
androgen melakukan kontrol melalui umpan balik negatif terhadap hipothalamus
dan hipofisis anterior sehingga hormon gonadrotopin menurun konsentrasinya,
akibatnya stimulasi terhadap sel leydig untuk menghasilkan hormon androgen
juga akan menurun sekresinya.

Gambar: skema kontrol endokrin terhadap fungsi testes kontrol hormonal,


hubungan hipothalamus- hipofisis dan gonad (sumber: Hafez, E.S.E., 1987)

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA
http://www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-240-250890323-bab%20i.pdf

http://imamabror.wordpress.com/2010/10/29/spermatogenesis-komponen-semenkualitas-semen-dan-preservasi-semen/
Toelihere, Mozes.R.1981. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Angkasa : Bandung
http://obgynmag.blogspot.com/2010/12/motilitas-sperma_22.html