Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi,Fisiologi dan Histologi Sistem Syaraf Manusia


Sistem Syaraf umumnya mengatur kegiatan tubuh yang cepat, seperti
kontraksi otot, peristiwa viseral yang berubah dengan cepat. Sistem syaraf bersifat
khas dalam hal kerumitan tindakan pengaturan yang dilakukanya. Sistem syaraf
menerima ribuan informasi kecil dari berbagai organ sensoris dan kemudian
mengintegerasikanya untuk menentukan reaksi yang harus dilakukan oleh tubuh.
(Guyton,1987)
Susunan Syaraf manusia merupakan sistem yang paling kompleks di
dalam tubuh manusia dan dibentuk oleh jaring jaring yang tersusun lebih dari 100
juta sel syaraf(neuron), dan ditunjang oleh sel glia dengan jumlah yang lebih
besar. Setiap neuron rata-rata memiliki sekurangnya seribu hubungan dengan
neuron lain, dan membentuk sistem yang sangat kompleks untuk berkomunikasi
(Luiz dan Jose,2002)
Unit struktural sistem syaraf adalah sebuah sel syaraf atau neuron. Neuron
adalah suatu sel saraf dan merupakan unit anatomis dan fungsional system saraf.
Sebuah neuron (sel saraf) biasanya terdiri dari tiga bagian utama yaitu : Badan
Sel, Dendrit(taju-taju) dan Akson.(Charles dan John,2010)
Badan sel
Badan sel, yang disebut juga perikarion, adalah bagian neuron yang
mengandung inti dan sitoplasma di sekelilingnya, dan tidak mencakup
cabang cabang sel. Badan sel merupakan tempat pusat trofik, meskipun
struktur ini juga menerima impuls. Perikarion di kebanyakan neuron
menerima sejumlah besar ujung syaraf yang membawa stimulus

eksitatorik atau inhibitorik yang datang dari sel syaraf lain (Luiz dan
Jose,2002)

Dendrit
Dendrit adalah perluasan saraf dari badan sel. Dendrit adalah
bagian neuron yang menerima stimulasi dari saraf lain. Setiap neuron
memiliki banyak cabang dendrit. Eksitasi neuron biasanya berawal di
dendrit.Dendrit membawa eksitasinya ke segmen yang berdekatan, yaitu
badan sel. (Corwin,2009)
Dendrit umumnya pendek dan bercabang cabang mirip pohon.
Dendrit menerima banyak sinaps dan merupakan tempat penerimaan
sinyal dan pemerosesan utama di neuron. Kebanyakan sel syaraf memiliki
banyak dendrit, yang memperluas daerah penerimaan sel. Percabangan
dendrit memungkinkan sebuah neuron untuk menerima dan mengintegrasi
sejumlah besar akson terminal dari sel syaraf lain. (Luiz dan Jose, 2002)
Akson
Tonjolan dari badan sel adalah akson,bagian pangkalnya disebut
segmen inisial atau zona pemicu. Akson adalah serabut panjang tempat
melewatnya sinyal listrik yang di mulai di dendrit dan badan sel. Akson
mentransmisikan sinyal awal ke neuron lain , otot atau kelenjar.
Percabangan batang utama akson dapat berupa serabut kolateral multipel.
Serabut kolateral menyampaikan informasi ke banyak sel lain yang saling
berhubungan, dengan meningkatkan pengaruh neuron di sepanjang sistem
saraf. Di sepanjang akson, protein kontraktil dan mikrotubulus
mengangkut zat yang dihasilkan badan sel.(Luiz dan Jose, 2002)
Kebanyakan neuron hanya memiliki satu akson tetapi ada sejumlah
kecil yang tak mempunyai akson sama sekali. Sebuah akson merupakan
cabang silindris dengan panjang dan diameter yang bervariasi, sesuai jenis

neuronya. Meskipun ada neuron dengan akson pendek, akson umumnya


berukuran panjang.Misalnya akson sel motorik di medulla spinalis yang
mempersarafi otot kaki harus memiliki panjang sampai 100 cm(sekitar 40
inci).Semua akson berasal dari daerah berbentuk piramida pendek, yaitu
muara akson, yang umumnya muncul dari perikarion.(Luiz dan Jose,2002)
Akson berbentuk prosesus tunggal, yang lebih tipis dan lebih
panjang dari dendrit.Bagian ini menghantar impuls menjauhi badan sel ke
neuron lain, ke sel lain (sel otot atau kelenjar), atau ke badan sel neuron
yang menjadi asal akson. Akson berasal dari badan sel pada hillock akson,
yaitu regio yang tidak mengandung badan niasi.
Panjang akson berukuran sekitar 1mm sampai 1m lebih (1mm:
0,04 inci; 1m: 3,28 kaki).Di bagian ujungnya sebuah akson dapat
bercabang banyak.Percabangan akhir memiliki suatu pembesaran yang
disebut kenop ainaptik, terminaal presinaptik, atau terminal bouton. Sisi
percabangan(kolateral), yang berujung pada akhir yang sama dengan
pembesaran, dapat terjadi di sisi distal (Ethel,2004)

Gambar 1 Anatomi dari neuron

Gambar 2 Histologi Sistem Saraf tepi

2.2. Neurofibroma
Neurofibroma adalah Neoplasma jinak yang tumbuh lambat yang terjadi
berhubungan dengan batang syaraf besar dan di jaringan perifer seperti kulit, yang
merupakan tempat neurofibroma ini tumbuh dari syaraf yang sangat kecil. Secara
klinis neurofibroma muncul sebagai massa jaringan lunak. Neurofibroma sering
disertai dengan nyeri.(Clive dan Parakrama,2005)
Neurofibroma dibagi menjadi 2 tipe ,yaitu tipe 1 (NF-1, Penyakit von
Recklinghausen) yang mana organ target utamanya adalah sistem saraf perifer,
sistem saraf pusat (SSP), kulit, dan hampir tersebar luas dan tipe 2 (NF-2,
sebelumnya dikenal sebagai NF akustik bilateral atau neurofibroma sentral) yang
mana kondisi medis yang ditandai dengan terbentuknya tumor saraf pada sistem
saraf pusat dan sumsum tulang belakang, kondisi ini bersifat herediter
(WHO,1992)

2.2.1 NF-1 (Von Recklinghousen)


i.

Definisi
Neurofibromastosis terjadi setelah mutasi pada kromosom neurofibromin

17q11.2. Neurofibromin adalah tumor supresor gen yang berfungsi untuk


menghambat onkoprotein p21 ras. Dalam tidak adanya kontrol penghambatan ini
supresor tumor pada onkoprotein ras,. Proliferasi seluler tidak menentu dan tidak
terkendali, yang mengakibatkan proliferasi seluler tidak seimbang dan
perkembangan tumor. (Kumar dkk, 2010)
Neufibroma tipe 1 disebabkan oleh mutasi pada gen Neurofibroma tipe 1
yang mengkode protein yang disebut neurofibromin, yang berfungsi sebagai
penekan tumor.Kondisi ini mengikuti pola pewarisan dominan autosomal. Sekitar
50% dari kasus neurofibroma diwariskan dari orangtua. Sekitar 50% adalah
karena mutasi baru pada gen neurofibroma terjadi secara acak pada atau sekitar
konsepsi untuk alasan yang tidak diketahui (WHO,1993)

ii.

Epidemiologi
Penderita NF di Afrika dilaporkan dari Madagaskar dan Zaire memiliki

total 588 kasus yang mana 166 kasus mengalami kematian. Di tahun sebelumnya
(1992) di Madagaskar di laporkan 198 kasus yang mana 26 diantaranya
mengalami kematian. (WHO,1993)
Penderita NF di Amerika dilaporkan memiliki total 158 kasus yang mana 6
kasus mengalami kematian. Laporan ini di dapat dari 3 negara Brazil (28 kasus),
(Peru 124 kasus 4 meninggal) dan USA (13 kasus, 2 meninggal). (WHO,1993)
Penderita NF di Asia dilaporkan dari 4 negara : China,Mongolia, Vietnam
dan Myanmar denga total 1012 kasus yang mana 26 mengalami kematian. Di
China dilaporkan ada 35 kasus yang mana 6 mengalami kematian. Di Mongolia
ditemukan 12 kasus yang mana 2 penderita mengalami kematian. Di Myanmar
ditemukan 528 kasus yang mana 3 mengalami kematian. DI Vietnam Ditemukan
437 kasus yang mana 13 diantaranya mengalami kematian (WHO,1993)

Penderita Neurofibroma di Indonesia

pernah diteliti Sulawesi barat,

tepatnya di Puskesmas Kebun sari, dilaporkan ada 13 kasus pada tanggal 22-27
Februari 2008 (Dinkes Sulbar, 2008)
Usia tersering pada saat diagnosis Neurofibroma antara 20-30 tahun.
Penyakit ini merupakan neoplasma jinak yang paling sering terjadi pada dewasa
muda dan dewasa tua. (Geschikter,1949). Rasio Kekerapan antara laki laki dan
perempuan 3 berbanding 2 (Afolayan dkk, 2005)
iii.

Etiologi dan Faktor Resiko


Neurofibroma terjadi akibat adanya cacat genetik, di mana Neurofibroma

tipe 1 dan Neurofibroma tipe 2 terjadi sebagai akibat dari cacat pada gen yang
berbeda. Neurofibroma tipe 1 disebabkan oleh mutasi pada gen yang terletak
dikromosom 17. Hal ini terjadi setelah mutasi pada kromosom neurofibromin
17q11.2. (WHO,1992)
Penderita NF kebanyakan mendapatkan penyakit ini dari faktor keturunan
(dari kedua orangtuanya), namun sekitar 30% kasus ternyata penderita NF tidak
memiliki orang tua atau riwayat keluarga yang memiliki penyakit NF pula.
Artinya penyakit ini mereka dapatkan karena tubuh mereka mengalami mutasi gen
secara individual dan tidak selalu bawaan lahir. Tetapi tetap saja mereka yang
menderita NF akibat mutasi gen individual, bisa menurunkan penyakit ini pada
keturunannya kelak. (WHO,1992)
Para ahli juga menunjukkan bahwa ada beberapa faktor Resiko yang dapat
memicu Sel Schwann normal untuk mengubah bentuk mereka , sehingga kejadian
NF-1 meningkat. faktor-faktor ini meliputi:
Sebuah operasi baru atau trauma yang mempengaruhi sistem saraf
perifer
Merokok dan konsumsi alkohol meningkat
Ada penyakit dan infeksi
Sebagai efek samping dari beberapa obat

10

Racun bahan kimia di lingkungan


Sebuah gaya hidup stres Gejala-gejala penyakit Tanda-tanda dan gejala
dari kondisi ini biasanya dicatat pada kulit. Orang mungkin merasa
gatal sebuah, terbakar, atau kesemutan sensasi. Ada juga pigmentasi
tidak biasa pada kulit, yang akhirnya dapat berkembang menjadi
makula. Orang juga dapat mencatat bintik-bintik muncul di ketiak nya.
(Arsad,2008)

iv.

Patogenesis
Pada dasarnya Neurofibroma di pengaruhi oleh faktor predisposisi seperti

genetik,operasi SSP, terpapar unsur radio aktif (sinar x, gamma,ultraviolet),


keracunan bahan kimia (Insektida dan obat), dan terkena mikroorganisme virus
yang merubah sistem DNA kromosom 17 sehingga terjadi mutasi. (Arsad,2008)
Gen NF 1 berada pada letak 17q11.2. Gen NF1 terletak di panjang (q)
lengan kromosom pada posisi 11.2.(GRH,2014)
Neurofibromin bertindak sebagai protein penekan tumor. Penekan tumor
biasanya mencegah sel-sel tumbuh dan membelah terlalu cepat dan tidak
terkendali. Protein ini muncul untuk mencegah pertumbuhan berlebih sel dengan
mematikan protein lain (disebut ras) yang merangsang pertumbuhan dan
pembelahan sel. Fungsi potensial lainnya untuk neurofibromin masih berada di
dalam penyelidikan.(GRH,2014)
NF-1 terjadi setelah mutasi pada kromosom neurofibromin 17q11.2.
Neurofibromin

yang merupakan tumor supresor gen yang berfungsi untuk

menghambat onkoprotein p21 ras mengalami mutasi. Dalam tidak adanya kontrol
penghambatan ini supresor tumor pada onkoprotein ras,. Proliferasi seluler tidak
menentu dan tidak terkendali, yang mengakibatkan proliferasi seluler tidak
seimbang dan perkembangan tumor. Pelan pelan tumor itu tumbuh dari hanya
berjumlah sedikit hingga tumornya makin banyak dan dari berbentuk kecil hingga
besar (WHO,1992)

11

Pada dewasa muda dan dewasa tua, Neurofibroma akan sering ditemukan
karena

proliferasi

seluler

sehingga

tampak

jelas

perkembangan

tumor

Neurofibroma di daerah yang terkena (WHO,1992)


Neufibroma tipe 1 disebabkan oleh mutasi pada gen Neurofibroma tipe 1
yang mengkode protein yang disebut neurofibromin, yang berfungsi sebagai
penekan tumor.Kondisi ini mengikuti pola pewarisan dominan autosomal.
(WHO,1992)

v.

Manifestasi Klinis
Pada dasarnya ada 4 jenis neurofibroma ditemukan di Neurofibroma tipe

1, yaitu

Cutaneous: dangkal, lembut tombol-seperti tumor tanpa potensi ganas

Subkutan: tumor di dermis yang dapat menyebabkan nyeri lokal atau


nyeri

Nodular plexiform: jaringan besar tumor yang melibatkan akar saraf


dorsal

Diffuse plexiform: invasif tumor yang mungkin melibatkan semua


lapisan pembuluh kulit, otot, tulang dan pembuluh darah
(Kumar dkk,2010)

Neurofibroma tipe 1 (penyakit von Recklinghausen), ditandai dengan adanya


(minimal ada 2 manifestasi klinis berikut) :

6 atau lebih caf-au-lait spot (didefinisikan berbentuk oval patch


coklat muda lebih besar dari diameter 0.5cm)
>5 mm prepuberitas
>15 mm postpuberitas

(WHO,1992)

vi.

Gambaran Makroskopik
Tumor biasanya terdapat di dermis dan menyebar ke jaringan subkutis,

tidak bersimpai

12

Gambar 2
Cafe-au-lait spots

Beberapa neurofibroma (tumor pada, di bawah, atau menggantung


kulit)

Gambar 3
Neurofibroma

Freckling (di bawah ketiak dan daerah lipatan kulit seperti


selangkangan). Freckling biasanya tidak jelas pada saat lahir tetapi
sering muncul selama awal masa kanak-kanak

Gambar 4
Freckles in skin

13

Lisch nodul (tumor kecil pada iris mata)

Gambar 5
Lisch nodules in iris

Optic Glioma (terdeteksi memlalui pemeriksaan MRI)

(WHO,1992)

vii.

Gambaran Mikroskopik
Gambaran Neurofibroma bervariasi. Umumnya terdiri dari jaringan ikat

halus yang terjalin seperti serabut syaraf. Inti sel tumor tampak memanjang dan
melengkung (seperti tanda koma), tersusun seperti pagar (pallisadering), karangan
bunga, lingkaran, pusaran air.

14

Gambar 6

viii.

Diagnosis
Untuk mendiagnosis penderita Neurofibroma, harus memenuhi sebagian

besar kriteria berikut :


i.

Dalam pemeriksaan di ruangan yang bercahaya ditemukan 5 cafeau-lait makula( diameter diatas 5 mm ) jika penderita prepubertas
atau 6 cafe-au lait jika penderita post pubertas

ii.

Berdasarkan riwayat terdapat 2 atau lebih jenis neurofibroma atau


terdapat 1 neurofibroma plexiform.

iii.

Ditemukan multipel frackles di daerah axilla

iv.

Ditemukan optic nerve glioma

v.

Tampak bungkuk bawaan atau penipisan korteks tulang dengan


atau tanpa pseudoarthrosis

vi.

Ditemukan dua ata lebih Lisch nodul di pemeriksaan slit lamp

vii.

Ada riwayat orang tua atau saudara menderita NF 1 atau salah satu
dari kriteria diatas
(Dermatol,2008)

ix.

Penatalaksanaan
Karena tidak ada obat untuk neurofibroma ini, satu-satunya terapi untuk

pasien dengan neurofibroma adalah sebuah program pengobatan oleh tim spesialis
untuk mengelola gejala atau komplikasi. Pembedahan mungkin diperlukan ketika

15

tumor mengkompres organ atau struktur lainnya. Kurang dari 10% orang dengan
neurofibromatosis berkembang menjadi kanker. Dalam kasus-kasus, kemoterapi
mungkin bisa berhasil (WHO,1992)
Setelah diagnosis, semua aspek klinis harus dievaluasi dan diobati (jika
perlu) untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.
Untuk mencegah komplikasi, mengurangi komorbiditas dan meningkatkan
kualitas hidup dan pemeriksaan fisik yang diperlukan. Pasien harus diperiksa oleh

Seorang ahli saraf untuk memberikan informasi mengenai perubahan


status neurologis

Seorang ahli bedah saraf untuk mengidentifikasi dan mengobati tulang


belakang atau tumor otak.

Opthalmologist untuk mendapatkan ketajaman informasi mengenai


visual, cacat bidang atau penampilan dari nodul lisch.

Ahli ortopedi untuk mengevaluasi kelainan terkait tulang.

Tekanan darah harus sering diperiksa dan hipertensi harus segera diobati
jika terdeteksi.Setiap perubahan yang mungkin terjadi dalam pemeriksaan sensoris
atau motoris (seperti inkontinensia) harus didokumentasikan dan dievaluasi
dengan hati-hati. (WHO,1992)
Untuk mengobati tumor ganas sheat perifer saraf (MPNSTs) yang
unresecable kemoterapi dapat digunakan (Misalnya transferase farnesyl digunakan
dalam kombinasi dengan lovastatin mengurangi pertumbuhan MPNSTs).
Pembedahan dapat berguna untuk reseksi Neurofibroma bahwa pers pada struktur
vital, menghalangi visi, atau untuk reseksi neurofibroma plexiform yang
pendekatan bedah bisa sulit dan dalam kebanyakan kasus tidak memuaskan
karena kekambuhan karena koleksi sel dalam jaringan lunak. (NHS,2013)
Pengobatan glioma optik bermasalah karena mereka biasanya tanpa gejala
klinis dan stabil atau hanya sangat progresif lambat. Intervensi ortopedi dapat
diindikasikan untuk scoliosis progresif cepat dan cacat tulang yang parah. Pasien
hipertensi dengan stenosis arteri ginjal bisa memerlukan reseksi bedah dan

16

perbaikan atau angioplasti. Konsultasi Operasi plastik disarankan untuk bidang


yang menjadi perhatian kosmetik besar (NIH,2014).
MRI untuk tindak lanjut dari tumor intrakranial klinis dicurigai dan tumor
internal lainnya. Tidak ada pembatasan aktivitas yang diperlukan, kecuali bagi
seorang individu dengan masalah ortopedi yang spesifik. (NIH,2014)

2.2.2 NF-2 (NF akustik bilateral atau neurofibroma sentral)


i.

Definisi NF-2
NF-2

terjadi

setelah

mutasi

pada

kromosom

22q12

Jenis

neurofibromatosis yang lebih jarang adalah neurofibromatosis jenis 2, dimana


terjadi pertumbuhan tumor di telinga bagian dalam (neuroma akustik) yang dapat
menyebabkan tuli dan

ii.

vertigo pada penderita. (WHO,1992)

Epidemiologi
Penderita NF di Afrika dilaporkan dari Madagaskar dan Zaire memiliki

total 588 kasus yang mana 166 kasus mengalami kematian. Di tahun sebelumnya
(1992) di Madagaskar di laporkan 198 kasus yang mana 26 diantaranya
mengalami kematian. (WHO,1993)
Penderita NF di Amerika dilaporkan memiliki total 158 kasus yang mana 6
kasus mengalami kematian. Laporan ini di dapat dari 3 negara Brazil (28 kasus),
(Peru 124 kasus 4 meninggal) dan USA (13 kasus, 2 meninggal). (WHO,1993)
Penderita NF di Asia dilaporkan dari 4 negara : China,Mongolia, Vietnam
dan Myanmar denga total 1012 kasus yang mana 26 mengalami kematian. Di
China dilaporkan ada 35 kasus yang mana 6 mengalami kematian. Di Mongolia
ditemukan 12 kasus yang mana 2 penderita mengalami kematian. Di Myanmar
ditemukan 528 kasus yang mana 3 mengalami kematian. DI Vietnam Ditemukan
437 kasus yang mana 13 diantaranya mengalami kematian (WHO,1993)
Gangguan ini dapat mempengaruhi semua ras, semua kelompok etnis dan
jenis kelamin masing-masing dengan probabilitas yang sama. NFM tipe II
"Sindrom MISME" memiliki kejadian 1:40.000.(WHO,1993)

17

iii. Etiologi dan Faktor Resiko


Neurofibroma terjadi akibat adanya cacat genetik, di mana Neurofibroma
tipe 1 dan Neurofibroma tipe 2 terjadi sebagai akibat dari cacat pada gen yang
berbeda. Neurofibroma tipe 2 disebabkan oleh mutasi pada gen yang terletak
dikromosom 22. Hal ini terjadi setelah mutasi pada kromosom neurofibromin
22q12 (WHO,1993)
Penderita NF kebanyakan mendapatkan penyakit ini dari faktor keturunan
(dari kedua orangtuanya), namun sekitar 30% kasus ternyata penderita NF tidak
memiliki orang tua atau riwayat keluarga yang memiliki penyakit NF pula.
Artinya penyakit ini mereka dapatkan karena tubuh mereka mengalami mutasi gen
secara individual dan tidak selalu bawaan lahir. Tetapi tetap saja mereka yang
menderita NF akibat mutasi gen individual, bisa menurunkan penyakit ini pada
keturunannya kelak.(WHO,1993)
iv.

Patogenesis
Pada dasarnya Neurofibroma di pengaruhi oleh faktor predisposisi seperti

genetik,operasi SSP, terpapar unsur radio aktif (sinar x, gamma,ultraviolet),


keracunan bahan kimia (Insektida dan obat), dan terkena mikroorganisme virus
yang merubah sistem DNA kromosom 22 sehingga terjadi mutasi. (Arsad,2008)
Neurofibroma tipe 2 disebabkan oleh mutasi pada gen Neurofibroma tipe 2
(kromosom 22)

yang mengatur produksi merlin/schwnnomin protein yang

berfungsi sebagai penekan tumor. (WHO,1993)


Gen yang terkena tepatnya terletak di panjang (q) lengan kromosom 22
pada posisi 12.2. Lebih tepatnya, gen NF2 terletak dari basis pasangan 29.603.555
ke basis pasangan 29.698.599 pada kromosom 22.(GHR,2014)
Merlin dalah sebuah protein sitoskeletal yang dapat mengontrol proliferasi
sel dengan mengatur reseptor sel permukaan yang jumlahnya banyak
dan

selalu

mengalami

pergantian.

Pembentukan

Neurofibroma

akustik

membutuhkan dua tiruan gen merlin. Satu saja gen merlin yang berfungsi dapat

18

mencegah terjadinya Neurofibroma Akustik. Mutasi somatik pada kedua tiruan


gen menyebabkan Neurofibroms yang sporadik. Kemungkinan adanya dua gen
mutasi pada satu tempat, diprediksi dapat menyebabkan Neurofibroma unilateral
pada dekade ke-4 sampai ke 6 dalam kehidupan seseorang.(Januz,2003)
Merlin berperan dalam mengontrol bentuk sel, gerakan sel, dan
komunikasi antar sel. Untuk melaksanakan tugas-tugas ini, merlin berhubungan
dengan kerangka internal yang mendukung sel (sitoskeleton). Merlin juga
berfungsi sebagai protein penekan tumor, yang mencegah sel-sel tumbuh dan
membelah terlalu cepat atau dengan cara yang tidak terkendali.(GHR,2014)
Penelitian menunjukkan bahwa hilangnya merlin memungkinkan sel,
terutama sel-sel Schwann, untuk memperbanyak terlalu sering dan membentuk
tumor . Tumor yang paling umum di neurofibromatosis tipe 2 schwannomas
vestibular, yang berkembang sepanjang saraf yang membawa informasi dari
telinga bagian dalam ke otak. Tumor lain yang mempengaruhi sistem saraf juga
terjadi pada orang dengan kondisi ini.(GHR,2014)
Kondisi ini mengikuti pola pewarisan dominan autosomal. Sekitar 50%
dari kasus Neurofibroma tipe 2 diwariskan dan sekitar 50% adalah karena mutasi
baru pada gen NF2. (WHO,1993)

v.

Manifestasi Klinis
Neurofibroma tipe 2 juga dikenal sebagai neurofibromatosis akustik

bilateral, ditandai dengan beberapa tumor dan lesi pada otak dan sumsum tulang
belakang. Tumor yang tumbuh pada saraf pendengaran yang menyebabkan
gangguan

pendengaran

yang

biasanya

merupakan

gejala

pertama

penyakit. Seringkali hal ini tidak jelas sampai akhir remaja atau awal 20an.(WHO,1992)
Neurofibroma tipe 2 tumbuh di dalam kanalis auditorik internal yang
kemudian meluas ke daerah sudut serebelopontin ,sehingga dapat mengenai
nervus VIII.Gejala yang paling sering ditemukan adalah hilangnya pendengaran
pada satu telinga. Dengan bertambahnya ukuran tumor, dapat menimbulkan gejala

19

gejala kompresi struktur penting lain di sekitarnya, seperti saraf kranial yang
berdekatan, serebelum dan batang otak (Arthur,2009)

vi. Gambaran Makroskopik


Tumor biasanya terletak di nervus Vestibuloklearis dan ada beberapa lesi
pada otak dan sumsum tulang belakang

Gambar 7

vii. Gambaran Mikroskopik


Tumor tidak berkapsul yang merupakan syaraf membesar dan tumor terdiri
atas campuran campuran sel schwann dan fibroblas serta mengandung akson

20

Gambar 8

viii.

Diagnosis

i.

Pada pemeriksaan CT scan atau MRI didapatkan massa yang


konsisten di saluran daerah bilateral internal telinga

ii.

Kadang ditemukan tumor di daerah intracranial, atau tumor di


sumsum tulang belakang

iii.

Kadang ditemukan neurofibroma jenis plexiform

iv.

Ada riwayat orang tua atau saudara menderita NF 1 atau salah satu
dari kriteria diatas

(WHO,1992)

ix.

Penatalaksanaan
Ada

beberapa

teknik

bedah

yang

berbeda

untuk

memperbaiki

neurofibroma akustik. Pemilihan terapi ditentukan oleh ukuran tumor,


kemampuan mendengar, dan kondisi klinis umum pasien.
1. Pendekatan retrosigmoid menawarkan beberapa kesempatan untuk
mempertahankan pendengaran.
2.

Pendekatan translabyrinthine akan menghilangkan pendengaran,


tetapi biasanya akan mengobati saraf wajah.

21

3. Pendekatan fossa tengah lebih disukai untuk tumor kecil, dan


menawarkan probabilitas tertinggi retensi pendengaran dan fungsi
vestibular. (WHO,1993)

Tumor yang lebih besar dapat diobati dengan baik pendekatan


translabyrinthine atau pendekatan retrosigmoid, tergantung pada pengalaman dari
tim bedah. Dengan tumor besar, kesempatan mendengar pelestarian kecil dengan
pendekatan apapun. Ketika mendengar sudah semakin parah pendekatan
translabyrinthine mungkin digunakan dan bahkan bisa untuk tumor kecil. Ketika
tumor pada posisi lateral pada pasien dengan pendengaran yang baik harus
memiliki pendekatan fossa tengah. Ketika lokasi tumor lebih medial pendekatan
retrosigmoid mungkin lebih baik. (WHO,1993)

x. Perbedaan NF-1 dan NF-2


tabel 1
Variable

Neurofibromatosis type 1

Neurofibromatosis type 2

Inheritance

Autosomal dominant

Autosomal dominant

Penetrance

Complete

Complete

Incidence

1/2000 to 1/4000

1/40 000

Prevalence

1/4000

1/100 000

Features

Neurofibromas,

cafe-au- Vestibular schwannomas,

lait macules, learning


disabilities,

other schwannomas,

skeletal meningiomas,

dysplasia

ependymomas, cataracts

Gene

NF-2 chromosome 22

Protein

NF-1

Function

17q11.2

chromosome Merlin or schwannomin

Neurofibromin
GTPase activating protein
(Clive and Parakrama 2005)

Cytoskeletal protein

22

2.2.3 Kerangka Teori

Mutasi kromosom
neurofibromin 17q11.2

Riwayat :
1. Orang tua (genetik)
2. Operasi (SSP)
3. Terpapar unsur radio aktif (sinar x,
gamma, ultraviolet)
4. Keracunan bahan kimia (Insektida dan
obat )
5. Terkena mikroorganisme virus yg merubah
sistem DNA kromosom 17 dan 22

Onkoprotein p21 ras


tidak dihambat

Terjadi supressor tumor


pada onkoprotein ras

Mutasi kromosom
22 q12

Proliferasi seluler tidak


terkendali

Produksi
merlin/schwanomin
protein terhambat
Perkembangan
tumor tidak
dihambat
Tumor neurofibroma
terbentuk