Anda di halaman 1dari 5

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL

DALAM PEMERINTAHAN
Oleh : Edys Riyanto

A.

Konsep Kepemimpinan Transformasional.


Kepemimpinan merupakan bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan

berorganisasi. Banyak gaya kepemimpinan dapat dipilih untuk kemudian


diterapkan oleh seorang pemimpin dalam organisasi yang dipimpinnya, salah
satunya

kepemimpinan

Transformasional.

Konsepsi

kepemimpinan

transformasional pertama kali dikemukakan oleh James McGregor Burns. Dalam


kaitannya dengan kepemimpinan transformasional, Koehler dan Pankowski dalam
Eko Maulana (2012:97), secara eksplisit mengatakan : transformational
leadership is defined as ap procee of inspiring change and empowering followers
to achieve greater height, to improve themselves and to improve organization
processes. It is can enabing process causing followers to accept responsibility and
accountability for themselves and processes to which they are assigned.
Berdasarkan

pemahaman

tersebut,

tersirat

kata

kunci

mengenai

pentingnya suatu proses perubahan inspirasi (inspirasing change) pengikut,


pemberdayaan (empowering) pengikut, pencapaian (achieving) hasil yang lebih
besar, kebersamaan dan tanggung jawab (shared responsibility and sharedaccountability) didalam merefleksikan kepemimpinan transformasional.
Dalam kaitannya dengan kepemimpinan di birokrasi pemerintahan, Koehler
dan Pankowski dalam Eko Maulana (2012:97) secara tegas mengatakan,
Therefore, goverment leadership is define as a process of influencing others and
directing the course of action promulgated by legislation. Selanjutnya Koehler dan
Pankowski juga mengatakan bahwa Governmen leaders can not longertheir role
as being only administrators, but must see themselves as leaders a of change.
Their job is to transform government organizations from concentrating only on
outputs (productivity) to emphasizing quality organizations that focus on meeting
or exceeding costumer expectation.
1

Lebih lanjut, Bernard M. Bass dan Bruce J. Avolio mengemukakan bahwa


kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya
sebagai the Four Is.
1.

Dimensi yang pertama disebut idealized influence (pengaruh ideal).

2.

Dimensi yang kedua yaitu sebagai inspirational motivation (motivasi


inspirasi).

3.

Dimensi yang ketiga disebut intelectual stimulation ( stimulasi


intelektual).

4.

Dimensi yang terakhir yalam menguraikan karakteristik pemimpin


disebut individualized consideration (konsiderasi individu).

B.

Kepemimpinan Transformasional dalam Pemerintahan.


Gaya kepemimpinan transformasional diyakini oleh banyak pihak sebagai

gaya kepemimpinan yang efektif dalam memotivasi para bawahan untuk


berperilaku seperti yang diinginkan. Menurut Bernard Bass (NN, 2009), dalam
rangka

memotivasi

pegawai,

bagi

pemimpin

yang

menerapkan

gaya

kepemimpinan transformasional, terdapat tiga cara sebagai berikut:


1.

Mendorong karyawan untuk lebih menyadari arti penting hasil usaha.

2.

Mendorong karyawan untuk mendahulukan kepentingan kelompok.

3.

Meningkatkan kebutuhan karyawan yang lebih tinggi seperti harga


diri dan aktualisasi diri.

Pemahaman akan pentingnya hasil usaha harus diterapkan kepada para


pegawai. Dengan kata lain, orientasi proses mendapat prioritas dibandingkan
dengan sekedar hasil. Kemudian, penekanan untuk mendahulukan kepentingan
kelompok dibandingkan dengan kepentingan pribadi menjadi krusial mengingat
hubungan yang baik dan iklim kerja yang kondsif menjadi perhatian utama dalam
penerapan gaya kepemimpinan ini. Selanjutnya, mengingat kebutuhan bawahan
bukan hanya materi, maka seorang pimpinan harus mampu mendorong pegawai
untuk mempunyai kebutuhan yang lebih tinggi sesuai dengan kapasitas mereka.
Seorang

pemimpin

yang

ingin

secara

efektif

menerapkan

gaya

kepemimpinan transformasional, harus mampu melakukan beberapa hal sebagai


berikut:
2

1.

memahami visi dan misi organisasi;

2.

memahami lingkungan organisasi melalui analisis lingkungan


strategis (SWOT);

3.

merumuskan rencana strategis organisasi;

4.

menginternalisasikan visi, misi, kondisi lingkungan strategis, dan


rencana startegis pada seluruh anggota organisasi;

5.

mengendalikan rencana strategis melalui manajemen pengawasan


yang tepat;

6.

memahami kebutuhan para pegawai;

7.

memahami kapasitas para pegawai;

8.

mendistribusikan pekerjaan sesuai dengan kapasitas pegawai; dan

9.

mengapresiasi hasil pekerjaan pegawai.

Perubahan

tata

organisasi

pemerintahan

hanya

dilakukan

secara

serampangan tanpa didahului dengan studi kelayakan kerja serta dilakukan


secara formal hanya untuk memenuhi tuntutan laporan kinerja. Sedangkan
perilaku dan pola kerja belum banyak berubah. Pelayanan yang terkesan berbelit
belit, tidak transparan, serta tidak ada kepastian merupakan pola lama dari kinerja
birokrasi di Indonesia. Akhirnya kinerja pemerintahan daerah masih terkesan
berada dalam kondisi yang stagnan. Belum ada terobosan baru dimana terobosan
tersebut pada hakekatnya diambil dari studi kasus sehingga merupakan problem
solving, bukan sekedar realisasi dari juklak dan juknis dari atasan saja.
Dalam kerangka tersebut, kepemimpinan merupakan faktor yang signifikan
dalam melakukan rangkaian inovasi dalam pelaksanaan birokrasi pemerintahan.
Dalam hasil riset Borin di 217 negara bagian di Amerika Serikat dan Kanada, ia
menyimpulkan bahwa faktor kepemimpinan yang baru telah menjadi salah satu
faktor penentu bagi keberhasilan pemerintah daerah dalam membangun inovasi
pemerintahan (Achmad Nurmandi, 2006: 141).
Pola kepemimpinan yang akan mendorong timbulnya inovasi adalah pola
kepemimpinan transformatif. Sebaliknya James MacGregor Burns menyatakan
bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan
seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggung
jawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. Pemimpin transformasional harus
mampu mendefinisikan, mengomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi,
3

dan bawahan harus mengakui hal ini sangat diperlukan bagi berjalannya sebuah
birokrasi pemerintan yang efektif.
Gaya kepemimpinan yang kontekstual sesuai dengan tuntutan sosial politik
kekinian

tersebut

mempunyai

implikasi

terhadap

dua

entitas

birokrasi

pemerintahan yang berubah yaitu budaya organisasi dan inovasi dalam


implementasi kebijakan. Budaya organisasi dengan paradigma wakaf berkarakter
egaliter, demokratis, dan lebih menyukai komunikasi informal. Sedangkan inovasi
berada di ranah kreatifitas pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan
yang mungkin saja telah ditentukan oleh Pemerintah Pusat. Pola kepemimpinan
yang transformatif dimana pola tersebut mendorong terbentuknya inovasi yang
mempunyai komponen-komponen tertentu. James P. Andrew, mitra senior dan
direktur

pengelola

di

kantor

Chicago

Boston

Consulting

Group

(BCG)

mengemukakan ada tujuh komponen yang ada di dalam inovasi yang dirangkum
dalam tujuh akar inovasi, yaitu berusaha untuk memperkuat sumber daya
manusia, meningkatkan payback, melindungi kekayaan intelektual, konsisten,
mempermudah akses inovasi, promosi dan pengembangan cluster serta
kepemimpinan dengan contoh nyata. Dengan demikian melalui penerapan gaya
kepemimpinan transformatif akan menghasikan birokrasi pemerintahan yang
efektif dan memberikan pelayanan masyarakat yang baik demi kemakmuran
rakyat yang sebesar-besarnya. @edys.

DAFTAR PUSTAKA

Maulana Ali, Eko, 2012. Kepemimpinan Transformasional dalam Birokrasi


Pemerintanan, Jakarta : PT. Multicerdas Publising.
Maulana Ali, Eko, 2013. Kepemimpinan Integratif dalam Konteks Good
Governance, Jakarta : PT. Multicerdas Publising.