Anda di halaman 1dari 5

Nama

: Muhammad Rizki
NIM
: J1C111008
Mata Kuliah : Ekofisiologi Tumbuhan

Pengaruh Kelembaban pada Pertumbuhan Tanaman


T. Karl Danneberger
The Ohio State University, Columbus, Ohio
I

PENDAHULUAN
Pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman dipengaruhi oleh kelembaban
udara didalam maupun disekitarnya. Kelembaban udara yang rendah dapat
menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan kehilangan air pada tanaman.
Pada saat yang sama, untuk mengatur kehilangan air melalui penutupan stomata
menyebabkan pengurangan karbon dioksida (CO2) secara difusi yang dapat
menghambat proses pertumbuhan. Kelembaban udara yang tinggi juga dapat
menimbulkan kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi perkembangan
penyakit. Kelembaban mengacu pada jumlah uap air di atmosfer. Secara global,
tingkat uap air bervariasi. Kelembaban relatif didefinisikan sebagai perbandingan
fraksi molekul uap air di dalam udara basah terhadap fraksi molekul uap air jenuh
pada suhu dan tekanan yang sama.

Tekanan uap yang sebenarnya adalah ukuran dari jumlah uap air dalam udara.
Jika tekanan uap pada udara meningkat maka tekanan uap yang sebenarnya juga
akan meningkat. Tekanan uap jenuh (kelembaban absolut) dibentuk ketika jumlah
molekul air yang menguap adalah sama dengan jumlah molekul air yang
terkondensasi. Kelembaban relatif dapat berubah dari satu lokasi ke lokasi, hari ke
hari, dan jam ke jam.
Table 1. Nilai kelembaban relatif bulan Juni (Pagi) dan (Siang) serta Suhu pada 12 kota

II PERSAMAAN PENMAN
Penman mendefinisikan bahwa evapotranspirasi potensial sebagai ''jumlah air
yang dikeluarkan yang terjadi dalam satuan waktu oleh tanaman hijau, teduh,
tinggi seragam dan tidak pernah kekurangan air''. Dengan definisi ini, ia
mengembangkan persamaan berikut untuk menghitung evapotranspirasi potensial

Keterangan :
Jn : Radiasi bersih
LE : Energi Panas (Belum Tampak)
es : Tekanan uap jenuh di permukaan (kelembaban absolut)
e : Tekanan uap udara di atas permukaan
ea : Tekanan uap jenuh di atas permukaan
: psychrometric konstan
: Penurunan tekanan uap jenuh dibandingkan kurva temperatur
Evapotranspirasi potensial dihitung dengan mengukur radiasi bersih, suhu,
tekanan uap, dan kecepatan angin di atas kanopi tanaman.
III STOMATA
Jumlah air yang didorong dari daun ke atmosfer diatur oleh stomata. Stomata
memainkan peran ganda, karena merupakan tempat masuk CO2. Proses Bukaan
stomata diatur oleh konsentrasi CO2 di dalam pori-pori stomata. Jika konsentrasi
CO2 di daun rendah, stomata akan terbuka. Sebaliknya, jika konsentrasi CO2
dalam daun tinggi, stomata akan menutup.
A. Evolusi dan Struktur Stomata
Tanaman darat yang astomatous (membran kutikula diatas permukaan daun)
memiliki stomata dengan jumlah yang sedikit dibandingkan dengan tanaman lain
dan memiliki kutikula tebal. Evolusi jumlah stomata dan bentuk kutikula pada
tanaman ini menyebabkan tingkat difusi karbon dioksida yang rendah (CO2).
Kurangnya difusi CO2 untuk fotosintesis akan menyebabkan pertumbuhan yang
lambat, namun dapat meminimalkan kehilangan air pada tanaman.
B. Pengaruh Cahaya Pada Stomata
Cahaya memainkan peran penting dalam proses pembukaan stomata.
Penerangan pada sel penjaga meningkatkan sintesis malat, serapan kalium dan

klorin, yang menghasilkan pembengkakan sel penjaga, sehingga meningkatkan


pembukaan pori-pori. Cahaya biru lebih efektif dari pada cahaya merah dalam
mengatur pembukaan stomata. Pada rumput, cahaya biru memunculkan
peningkatan pesat dalam transpirasi. Cahaya biru dapat menciptakan electrical
gradient flux dari kalium pada sel penjaga melalui pemindahan hidrogen dan ATP.
IV DEFISIT DALAM TEKANAN UAP DAN KAVITASI XILEM
Defisit tekanan uap air adalah selisih antara tekanan uap jenuh dan tekanan
uap sesungguhnya. Pada tanaman, respon terhadap defisit tekanan uap sangat
besar, banyak tanaman menutup stomata. Kondisi yang paling menguntungkan
adalah penutupan pada kelembaban udara rendah dan suhu daun yang tinggi.
Kelembaban antara 1,0 dan 0,2 kPa memiliki sedikit efek pada fisiologi dan
pengembangan pada tanaman hortikultura. Defisit tekanan uap dapat
mengakibatkan tanaman mengalami stres air. Stomata memiliki peran penting
dalam difusi CO2. Penutupan stomata berfungsi untuk mengatur kehilangan air
sehingga dapat menghindari peristiwa kavitasi xilem (kejadian putusnya untaian
molekul air pada saluran xilem). Dari sudut pandang evolusi, stomata merupakan
respon pertama saat akan terjadinya kavitasi xilem dalam membatasi
pertumbuhan. Peningkatan jumlah stomata dapat meningkatkan perkembangan
evolusi tanaman dengan mencegah kavitasi xilem, sehingga jalur xilem lebih
panjang dan lebih kompetitif.
V

POTENSIAL AIR DAUN


Defisit kelembaban pada tanaman dapat menimbulkan sejumlah tanggapan
yang merugikan bagi tanaman, salah satunya akan berdampak pada sel
pertumbuhan yang memiliki tingkat sensitif tinggi terhadap penurunan potensial
air. Sedikit penurunan potensial air daun dapat menyebabkan penurunan
pertumbuhan sel, menghasilkan penurunan dalam pertumbuhan tunas dan akar.
Untuk alasan ini, banyak tanaman lebih memilih untuk tumbuh di malam hari.
Kehilangan potensial air dapat menyebabkan beberapa efek negatif terhadap
sintesis protein, tingkat nitrat reduktase, hormon pertumbuhan [asam absisat
(ABA) dan sitokinin], asimilasi CO2, respirasi, akumulasi protein, dan akumulasi
prolin.

VI KEKURANGAN GIZI / NUTRISI PADA TANAMAN


Beberapa nutrisi tanaman seperti kalsium sangat berpengaruh terhadap
fisiologi tanaman. Gangguan kalsium telah dilaporkan pada beberapa buah dan
sayuran. Beberapa penyakit pada tanaman yang disebabkan gangguan kalsium
seperti tipburn (tepi daun terlihat kering / menghitam) pada strawberry, sawi
putih, dan daun selada; Blackheart (Jaringan akar pecah dan memberikan warna
hitam) pada kubis bunga, seledri, dan kubis brussel. Kalsium sangat bergantung
dengan xilem sebagai sarana distribusi pada tanaman. Jika pasokan air berkurang
atau dihilangkan ke bagian tanaman, maka akan terjadi kekurangan kalsium.
Tingkat kelembaban di sekitar tanaman mempengaruhi kemungkinan gangguan
kalsium. Daun rentan terhadap kekurangan kalsium karena tingkat transpirasi
yang rendah. Aliran tekanan akar tampaknya lebih penting dari pada proses
transpirasi dalam memasok kalsium untuk daun. Kelembaban relatif tinggi pada
saat malam hari sehingga meningkatkan tekanan akar, memberikan kalsium ke
daerah yang dibutuhkan tanaman. Kehadiran gutasi (proses pelepasan air dalam
bentuk cair dari jaringan daun) adalah tanda tekanan akar yang telah tercukupi.
Munculnya gerakan kalsium ke daun terjadi saat peristiwa transpirasi.
VII PENGELOLAAN KEHILANGAN AIR PADA TANAMAN
Defisit tekanan uap dan regulasi stomata merupakan salah satu tahap dalam
menentukan kemampuan tanaman dalam menghadapi toleran kekeringan. Suhu
kanopi digunakan sebagai indikator penggunaan air pada tanaman. Peningkatan
suhu daun akan mengindikasikan penurunan transpirasi dari penutupan stomata.
Genotipe dengan kanopi yang memiliki suhu lebih besar dari pada suhu rata-rata
genotipe dianggap / disebut "warm genotipe". warm genotipe merupakan tanaman
yang dapat toleran terhadap kekeringan. Pertumbuhan tanaman memiliki peran
penting dalam sensitivitas stomata. Stomata pada tanaman sorgum sangat sensitif
terhadap perubahan potensi air daun selama pertumbuhan vegetatif dan tidak
sensitif selama perkembangan reproduksi. Regulasi konduktansi stomata melalui
manajemen atau melalui bahan kimia yang dapat mengurangi kehilangan air
selama periode defisit tekanan uap tingg
Antitranspirants adalah bahan kimia yang menyebabkan penutupan stomata
untuk mengurangi transpirasi. Terkadang tanaman tidak membutuhkan senyawa
tesebut karena tanaman akan menutup stomata mereka sebagai respon terhadap
stres air. Namun, jika tanaman tumbuh di luar habitat asli mereka maka senyawa
tersebut sangat diperlukan. Dua jenis utama dari antitranspirants adalah inhibitor
stomata dan senyawa pembentuk selaput. Inhibitor stomata adalah zat sintetis

yang menyebabkan penutupan stomata dengan langsung mempengaruhi


mekanisme stomata sedangkan senyawa pembentuk selaput adalah senyawa yang
jika diterapkan ke permukaan daun akan bertindak sebagai penghalang fisik untuk
uap air. Senyawa ini membentuk sebuah selaput yang menghambat pori stomata
dan mengurangi transpirasi. Senyawa pembentuk selaput cenderung memiliki
permeabilitas selektif terhadap air dan karbon dioksida, yang menyebabkan
penurunan lebih besar dalam fotosintesis dari transpirasi.
VIII KELEMBABAN TINGGI DAN DAUN BASAH
Umumnya kelembaban yang tinggi memiliki sedikit efek positif pada
tanaman hortikultura. Namun, ada laporan tentang tanaman umbi yang memiliki
kelembababn relatif tinggi dapat meningkatkan hasil produksi. Air bebas pada
daun menyebabkan pertumbuhan yang merugikan dan kehilangan hasil produksi
dengan menyediakan kondisi yang menguntungkan bagi patogen untuk
menginfeksi dan berkembang didalamnya. Curah hujan, irigasi, dan embun
merupakan sumber utama air bebas pada daun. Bentuk embun dari kondensasi uap
air pada daun dapat menyebabkan gutasi terjadi. Gutasi dipaksa keluar dari
tekanan akar. Suhu di mana uap air mengembun pada daun disebut sebagai titik
embun. Jika titik embun di atas 0oC, maka akan berbentuk embun; jika suhu di
bawah 0oC maka akan berbentuk es. Kondisi yang menguntungkan untuk gutasi
adalah tingkat kelembaban tanah yang tinggi yang sesuai (transpirasi rendah).
Dalam kebanyakan tanaman kondensasi akan menjadi sumber utama embun.