Anda di halaman 1dari 17

TUTORIAL

PERITONITIS
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat
Mengikuti Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Bedah
Di RS. PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Diajukan Kepada Yth :


dr. Adi Sihono, Sp.B
Diajukan Oleh :
Yanita Dikaningrum
20090310088

BAGIAN ILMU BEDAH


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
RS. PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2014

LEMBAR PENGESAHAN
Tutorial
Peritonitis
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat
Mengikuti Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Bedah
Di RS. PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh :
Yanita Dikaningrum
20090310088

Mengetahui
Dosen Penguji Klinik

dr. Adi Sihono, Sp.B

BAB I
LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS
Nama

: Surahman

Usia

: 53 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Pendidikan

II.

: SMP

Alamat

: Pereng Dawe RT05/24 Balecatur, Gamping, Sleman

No. RM

: 59-53-80

Anamnesis
a. Keluhan utama
: nyeri perut
b. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri perut di seluruh lapang perut.
Pasien mengatakan sudah merasakan nyeri perut sejak 3 hari sebelum masuk rumah
sakit. Nyeri perutnya bertambah dan menjadi kenceng-kenceng 2 hari sebelum masuk
rumah sakit setelah pasien terjatuh dari pohon kelapa. Pasien terjatuh dari pohon kelapa
dengan posisi terlentang. Nyeri perut pasien hilang timbul, nyeri perut menjalar sampai
ke punggung kanan dan kiri, nyeri perut bertambah ketika pasien sedang makan dan nyeri
berkurang ketika pasien tidak makan. Sebelumnya pasien belum berobat. Pasien juga
merasakan mual yang terus menerus, tidak muntah, mbesesek, tidak bisa kentut dan
merasakan perutnya kembung. BAB keras tetapi tidak hitam, BAK tidak terdapat
gangguan. Tidak ada riwayat demam. Pasien sering mengkonsumsi jamu yang dibeli di
warung.
b. Riwayat penyakit dahulu
- Maag
c. Riwaya penyakit keluarga
- Tidak ada keluarga yang mempunyai keluhan serupa
- Keluarga tidak ada yang menderita penyakit sama

III.

Pemeriksaan fisik
Kesadaran : compos mentis
Vital sign :
- TD
: 116/86
3

- T
: 36,8 oC
- RR
: 18x/menit
- Nadi
: 77x/menit
a. Kepala dan leher
- Kepala
: dalam batas normal
- Rambut : hitam
- Mata
: conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
- Telinga
: discharge (-/-)
- Hidung
: discharge (-/-) tampak terpasang NGT yang mengeluarkan cairan
kehijauan
: dalam batas normal
: tidak teraba benjolan dan tidak ada pembesaran kelenjar limfe

- Mulut
- Leher
b. Thorax
- Jantung : S1,S2 reguler, gallop (-), murmur (-)
- Paru
: Vesikuler (+/+) ; Ronkhi (-/-) ; Wheezing (-/-)
Status lokalis
c. Abdomen
- Inspeksi : flat
- Auskultasi : Bising usus
- Palpasi
:
- nyeri tekan pada seluruh lapang abdomen
- defans muscular (+)
- Perkusi : Tympani
d. Ekstremitas
- Edema: - Hangat: +
IV.

Assessment
Peritonitis
Gastritis
Appendicitis
Kolesistitis

V.

Planning
a. Cek darah rutin
b. USG
c. Rontgen abdomen 3 posisi
Hasil Pemeriksaan penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium
Hb

: 13,0 g% (12-16)

AL

: 11,7 ribu/uI (4-10)


4

PTT

: 15,0 detik (12-16)

APTT

: 31, 9 detik (28,0-38,0)

GDS

: 159

Ureum

: 137

Kreatinin

: 2,6

Na+

: 132

K+

: 5,4

Cl-

:94,4

HBsAg

: negative

USG
Kesan
VI.

VII.

: free fluid di cavum abdomen suspek ec internal bleeding

Diagnosis kerja
Peritonitis ec internal bleeding
Planning:
Dilakukan laparotomi explorasi
Ceftriaxon 2x1
Ketorolax 3x1
Metilprednisone 3 x 125 gr
Ranitidine 2x1
Ondancetron
Diagnosis post op
Peritonitis umum ec perforasi jejunum

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI DAN FISIOLOGI
Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum parietal yang melapisi dinding
rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga
abdomen. Ruang yang terdapat diantara dua lapisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong
peritoneum. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur
yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum, di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan
atau kantong.
Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat di sebelah depan
lambung. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati, kurvatura minor, dan lambung berjalan
ke atasdinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus.
Fungsi peritonium :
1. Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis
2. Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga
peritoneumtidak saling bergesekan
3. Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior
abdomen
6

4. Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi
Lapisan peritonium dibagi menjadi 3, yaitu:
1. .Lembaran yang menutupi dinding usus, disebut lamina visceralis (tunika serosa).
2. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis.
3. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis
Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis kanan kirisaling
menempel dan membentuk suatu lembar rangkap yang disebut duplikatura. Dengan demikian
baik di ventral maupun dorsal usus terdapat suatu duplikatura. Duplikatura ini menghubungkan
usus dengan dinding ventral dan dinding dorsal perut dan dapat dipandang sebagai suatu alat
penggantung usus yang disebutmesenterium. Mesenterium dibedakan menjadi mesenterium
ventrale danmesenterium dorsale. Mesenterium ventrale yang terdapat pada sebelah kaudal
parssuperior duodeni kemudian menghilang. Lembaran kiri dan kanan mesenterium ventrale
yang masih tetap ada, bersatu pada tepi kaudalnya. Mesenterium setinggiventrikulus disebut
mesogastrium ventrale dan mesogastrium dorsale. Pada waktu perkambangan dan pertumbuhan,
ventriculus dan usus mengalami pemutaran. Ususatau enteron pada suatu tempat berhubungan
dengan umbilicus dan saccus vitellinus. Hubungan ini membentuk pipa yang disebut ductus
omphaloentericus.

B. PERITONITIS
DEFINISI
Peritonitis diartikan sebagai proses inflamasi atau proses peradangan peritoneum

1.

termasuk sebagian atau seluruh organ di dalam rongga peritoneum. Peritonitis sering disebabkan
oleh infeksi peradangan lingkungan sekitarnya melalui perforasi usus seperti rupture appendiks
atau divertikulum karena awalnya peritonitis merupakan lingkungan yang steril. Selain itu juga
7

dapat diakibatkan oleh materi kimia yang iritan seperti asam lambung dari perforasi ulkus atau
empedu dari perforasi kantung empedu atau laserasi hepar. Pada wanita sangat dimungkinkan
peritonitis terlokalisasi pada rongga pelvis dari infeksi tuba falopi atau rupturnya kista ovari.
Kasus peritonitis akut yang tidak tertangani dapat berakibat fatal.
Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut, penyakit ringan dan terbatas, atau
penyakit berat dan sistemik dengan syok sepsis. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer
(peritonitis spontan), sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ viseral), atau
penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Infeksi pada
abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (lokal infeksi
peritonitis relatif sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya.
2.
ETIOLOGI
Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP) dan
peritonitis sekunder. SBP terjadi bukan karena infeksi intra abdomen, tetapi biasanya terjadi pada
pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi
bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfemesenterium, kadang terjadi penyebaran
hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. Semakin rendah kadar
protein cairan asites, semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Ini terjadi karena
ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering
menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Coli 40%, Klebsiella pneumoniae 7%,
spesies Pseudomonas, Proteus dan gramlainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu
Streptococcus pnemuminae 15%, jenis Streptococcus lain 15%,dan golongan Staphylococcus
3%, selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri
Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau
nekrosis(infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal
terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Peritonitis
tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis
sekunder yang adekuat, bukan berasal dari kelainan organ, pada pasien peritonisis tersier
biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. Selain itu juga terdapat peritonitis
TB, peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia, misalnyacairan
empedu, barium, dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organorgandalam (misalnya penyakit Crohn)
3. KLASIFIKASI
8

Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:


Peritonitis bakterial primer
Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secarah
ematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen.Penyebabn
ya bersifat monomikrobial, biasanya E. Coli, Sreptococus atau Pneumococus.
Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Spesifik : misalnya Tuberculosis
2. Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis an Tonsilitis.
Factor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi, keganasan
intraabdomen, imunosupresi dan splenektomi. Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan
sindrom nefrotik, gagal ginjal kronik, lupuseritematosus sistemik, dan sirosis hepatis dengan
asites.
Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa)
Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal atau
tractus urinarius. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang
fatal. Sinergisme dari multipel organism dapat memperberat terjadinya infeksi ini. Bakterii
anaerob, khususnya spesies Bacteroides, dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam
menimbulkan infeksi. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat
suatu peritonitis.
Kuman dapat berasal dari:
-

Luka/trauma penetrasi, yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum

peritoneal.
Perforasi organ-organ dalam perut, contohnya peritonitis yang disebabkan oleh

bahan kimia, perforasi usus sehingga feces keluar dari usus.


Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal,

misalnya

appendisitis.
Peritonitis tersier
Misalnya:
-

Peritonitis yang disebabkan oleh jamur


Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan.

Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii misalnya empedu, getah
lambung, getah pankreas, dan urine.
Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis
9

Aseptik/steril peritonitis
Granulomatous peritonitis
Hiperlipidemik peritonitis
Talkum peritonitis

4. PATOFISIOLOGI
Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat
fibrinosa.Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa,
yang menempel menjadisatu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi.
Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pitapita fibrosa, yang kelak dapatmengakibatkan obstuksi usus. Peradangan menimbulkan akumulasi
cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi
secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel.
Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai responhiperinfl
amatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ.
Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolitoleh
ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah
jantung,tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia.Organ-organ didalam cavum peritoneum
termasuk dinding abdomen mengalami oedem.Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh
darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum
dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen
termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan
adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada,serta muntah.
Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan
tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan
penurunan perfusi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau
bila infeksi menyebar, dapat timbulperitonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis
umum,aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni
dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi,
syok,gangguan sirkulasi dan oliguria.
Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat
mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus.Sumbatan yang
lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya
gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha untuk
10

mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak
disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi
obstruksidisertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan
nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena penyebaran bakteri pada
ronggaabdomen sehingga dapat terjadi peritonitis. Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut
usus halus yang disebabkan kuman S.Typhi yang masuk tubuh manusia melalui mulut dari
makan dan air yang tercemar. Sebagiankuman dimusnahkan oleh asam lambung, sebagian lagi
masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque peyeri di ileum terminalis yang
mengalami hipertropi ditempat inikomplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi,
perforasi ileum pada tifus biasanyaterjadi pada penderita yang demam selama kurang lebih 2
minggu yang disertai nyeri kepala, batuk dan malaise yang disusul oleh nyeri perut, nyeri tekan,
defans muskuler, dan keadaan umum yangmerosot karena toksemia.
Perforasi tukak peptik khas ditandai oleh perangsangan peritonium yangmulai di
epigastrium dan meluas keseluruh peritonium akibat peritonitis generalisata. Perforasi lambung
dan duodenum bagian depan menyebabkan peritonitis akut. Penderita yang mengalami perforasi
ini tampak kesakitan hebat seperti ditikam di perut. Nyeri ini timbul mendadak terutama
dirasakan di daerah epigastrium karena rangsangan peritonium oleh asam lambung, empedu dan
atau enzim pankreas. Kemudian menyebar ke seluruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut
pada awal perforasi, belum ada infeksi bakteria, kadang fase ini disebut fase peritonitis kimia,
adanya nyeri di bahu menunjukkan rangsangan peritonium berupa mengenceran zat asam garam
yangmerangsang, ini akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi
peritonitis bakteria.
Pada apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh
hiperplasifolikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis dan neoplasma. Obstruksi
tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan, makin lama
mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan
sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen dan menghambat aliran limfe yang
mengakibatkan oedem, diapedesis bakteri, ulserasi mukosa, dan obstruksi vena sehingga udem
bertambah kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti
dengan nekrosis atau ganggren dinding apendiks sehingga menimbulkan perforasi dan akhirnya
mengakibatkan peritonitis baik lokal maupun general.

11

Pada trauma abdomen baik trauma tembus abdomen dan trauma tumpul abdomen dapat
mengakibatkan peritonitis sampai dengan sepsis bila mengenai organ yang berongga intra
peritonial. Rangsangan peritonial yang timbul sesuai dengan isi dari organ berongga
tersebut,mulai dari gaster yang bersifat kimia sampai dengan kolon yang berisi feses.
Rangsangan kimia onsetnya paling cepat dan feses paling lambat. Bila perforasi terjadi dibagian
atas, misalnya di daerah lambung maka akan terjadi perangsangan segera sesudah trauma dan
akan terjadi gejala peritonitis hebat sedangkan bila bagian bawah seperti kolon, mula-mula tidak
terjadi gejala karena mikroorganisme membutuhkan waktu untuk berkembang biak baru setelah
24 jam timbul gejalaakut abdomen karena perangsangan peritonium.
5.

MANIFESTASI KLINIK
Gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya. Biasanya penderita
muntah, demam tinggi dan merasakan nyeri tumpul di perutnya. Bisa terbentuk satu atau
beberapa abses.Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan
(perlengketan, adhesi) yangakhirnya bisa menyumbat usus. Bila peritonitis tidak diobati dengan
seksama, komplikasi bisa berkembang dengan cepat. Gerakan peristaltik usus akan menghilang
dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar. Cairan juga akan merembes dari peredaran
darah ke dalam rongga peritoneum. Terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit.
Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama, seperti kegagalan paru-paru, ginjal atau hati dan

bekuan darah yang menyebar.


6.
DIAGNOSA
Diagnosis peritonitis biasanya ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen
(akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum viseral)
kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal). Pada keadaan peritonitis
akibat penyakit tertentu, misalnya perforasi lambung, duodenum, pankreatitis akut yang berat,
atauiskemia usus, nyeri abdomennya berlangsung luas di berbagai lokasi. Tanda-tanda peritonitis
relatif sama dengan infeksi berat lainnya, yakni demam tinggi, atau pasien yang sepsis bisa
menjadi hipotermia, takikardi, dehidrasi, hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat
biasanya memiliki punctum maximum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut
akan terasa tegang, biasanya karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk
menghindari palpasi yang menyakitkan, atau bisa juga memang tegang karena iritasi peritoneum.
Nyeri ini kadang samar dengan nyeri akibat apendisitis yang biasanya di bagian kanan perut,
atau kadang samar juga dengan nyeri akibat abses yang terlokalisasi dengan baik. Pada penderita
12

wanita diperlukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeriakibat pelvic


inflammatory disease, namun pemeriksaan ini jarang dilakukan pada keadaan peritonitis yang
akut.
Pemeriksaan-pemeriksaan klinis ini bisa saja jadi positif palsu pada penderita dalam
keadaan imunosupresi, (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pasca transplantasi, atau
HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma kranial, ensefalopati toksik, syok
sepsis, atau penggunaan analgesik), penderita dengan paraplegia, dan penderita geriatri.
Penderita tersebut sering merasakan nyeri yang hebat di perut meskipun tidak terdapat infeksi di
perutnya.
7.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Test laboratorium
Leukositosis, hematokrit meningkat, dan asidosis metabolik.Pada peritonitis tuberculosa
cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3gram/100 ml) dan banyak
limfosit; basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. Biopsi peritoneum per kutan atau
secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan
dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat.
2. Pemeriksaan radiologik
Pemeriksaan foto polos abdomen sangat membantu menegakkan diagnosis.
Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi, yaitu :
a. Tiduran telentang ( supine ), sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (
AP).
b. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan, dengan sinar
horizontal proyeksi AP.
c. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD), dengan sinar horizontal,
proyeksiAP.
Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh
abdomen beserta dindingnya. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35 x 43 cm.
Dapat terlihat: gambaran udara kabur dan tidak tersebar merata. Penebalan dinding usususus. Perselubungan menyeluruh atau pun di bagian-bagian tertentu. Gambaran garis
permukaan cairan dalam usus (air-fluid levels) atau dalam rongga peritoneal
(intraperitoneal fluid level). Kalau terdapat perforasi akan terlihat udara bebas di bawah
diafragma. Gambaran foto seperti tersebut di atas menggambarkan proses pengumpulan

8.

cairan intra abdomen seperti tersebut di dalam uraian patofisiologi.


PENATALAKSANAAN
13

Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang
dilakukansecara intravena, pemberian antibiotika yang sesuai, dekompresi saluran cerna dengan
penghisapan nasogastrik dan intestinal, pembuangan fokus septik (apendiks, dsb) atau penyebab
radang lainnya, bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan
nyeri. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonik adalah penting. Pengembalian volume intra
vaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen, nutrisi, dan mekanisme
pertahanan. Keluaran urine tekanan vena sentral, dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai
keadekuatan resusitasi.Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri
dibuat.
Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik, dan kemudian dirubah jenisnya
setelah hasil kultur keluar. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai
menjadi penyebab. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah.
Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan, karena bakteremia akan
berkembang selama operasi. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan
dengan operasi laparotomi. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang
menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Jika peritonitis
terlokalisasi, insisi ditujukan diatas tempat inflamasi.Tehnik operasi yang digunakan untuk
mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran
gastrointestinal. Pada umumnya, kontaminasi peritoneum yang terusmenerus dapat dicegah
dengan menutup, mengeksklusi, atau mereseksi viskus yang perforasi.

Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus, yaitu dengan menggunakan
larutan kristaloid (saline). Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak
terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal
povidon iodine) pada cairan irigasi. Bila peritonitisnya terlokalisasi, sebaiknya tidak
dilakukanlavase peritoneum, karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar
ketempat lain.Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan, karena pipa drain
itu dengansegera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum, dan dapat menjadi tempat
masuk bagikontaminan eksogen. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi
yang terus-menerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak
dapat direseksi.
14

9.

KOMPLIKASI
Dua komplikasi pasca operasi paling umum adalah eviserasi luka dan pembentukan abses
Komplikasi pembedahan dengan laparotomi eksplorasi memang tidak sedikit. Secara bedah
dapat terjadi trauma di peritoneum, fistula enterokutan, kematian dimeja operasi, atau peritonitis
berulang jika pembersihan kuman tidak adekuat. Namun secara medis, penderita yang
mengalami pembedahan laparotomi eksplorasi membutuhkan narkose dan perawatan intensif
yang lebih lama. Perawatan inilah yang sering menimbulkan komplikasi, bisa berupa pneumonia
akibat pemasanganventilator, sepsis, hingga kegagalan reanimasi dari status narkose penderita

pascaoperasi.
10. DIAGNOSA BANDING
Diagnosis banding dari peritonitis adalah apendisitis, pankreatitis, gastroenteritis,
kolesistitis, salpingitis, kehamilan ektopik terganggu, dll.
11. PROGNOSIS
Prognosis untuk peritonitis lokal dan ringan adalah baik, sedangkan pada peritonitis
umum prognosisnya mematikan akibat organisme virulen.

BAB III
KESIMPULAN
Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang merupakan pembungkus visera
dalamrongga perut. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut
dandinding perut sebelah dalam. Peritonitis yang terlokalisir hanya dalam rongga pelvis disebut
pelvioperitonitis. Penyebab peritonitis antara lain : penyebaran infeksi dari organ perut yang
terinfeksi, penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual,
infeksi darirahim dan saluran telur, kelainan hati atau gagal jantung, peritonitis dapat terjadi
setelah suatu pembedahan, dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal), iritasi tanpa infeksi.
Patofisologi peritonitis adalah reaksi awal peritoneum terhadap invasi bakteri adalah keluarnya
15

eksudatfibrinosa. Terbentuk kantong-kantong nanah (abses) diantara perlekatan fibrinosa, yang


menempelmenjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan
biasanyamenghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrinosa,
yang kelak dapat menyebabkan terjadinya obstruksi usus.
Prinsip umum terapi pada peritonitis adalah
a) Penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena.
b) Terapi antibiotika memegang peranan yang sangat penting dalam pengobatan infeksinifas.
c) Terapi analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri.
d) Tindakan bedah mencakup mengangkat materi terinfeksi dan memperbaiki penyebab

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Silvia A. Price. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta. EGC
2. Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah.. Jakarta. EGC
3. Subanada, Supadmi, Aryasa, dan Sudaryat. 2007. Kapita Selekta Gastroenterologi Anak.
Jakarta:CV
4. Sagung SetoArief M, Suprohaita, Wahyu.I.K, Wieiek S, 2000. Kapita Selekta
Kedokteran,

Ed:3;

Jilid:

2;

Media

Aesculapius

FKUI,

Jakarta.Peritonitis,http://www.medikastore.com/med/peritonitis_pyk.php?dktg=7&UID
200705
5. Rasad S, Kartoleksono S, Ekayuda I, 1999. Radiologi Diagnostik. Jakarta. Gaya Baru
6. Schwartz, Shires, Spencer, Principles of Surgery, sixth edition,1989
7. Reksoprodjo, S. 2011. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta. FKUIKamus Saku
Kedokteran Dorland Ed. 25. 1998. Jakarta. EGC

17