Anda di halaman 1dari 3

Laporan Praktikum Mikrobiologi

Skrining Primer untuk memperoleh Mikrobia Penghasil Antibiotik

Pembahasan
Melakukan skrining primer diawali dengan mencari sumber mikrobia , yaitu tanah.
Tanah banyak mengandung mikroorganisme karena banyak mengandung zat yang dapat
menjadi makanan bagi mikroorganisme. Jenis dan jumlah mikroorganisme dalam tanah
berbeda-beda tergantung kondisi dan kandungan tanah. Semakin banyak kandungannya,
maka mikroorganisme yang tumbuh di tanah tersebut jugaakan semakin banyak. Oleh karena
itu, untuk praktikum dianjurkan menggunakan tanah yng berada di sekitar tempat
pembuangan sampah, dekat selokan, dekat kandang ternak, atau di kebun bagian dekat
pembuangan sampah.
Tanah yang digunakan kelompok kami berasal dari dekat pembuangan sampah dalam
kebun yang diambil sesegera mungkin sebelum praktikum, yaitu pukul 7.00 pada hari
praktikum agar tanah masih dlaam keadaan segar sehingga mikroorganisme yang ada akan
tetap hidup. Tanah dipilih yang tidak basah maupun lembab, namun yang kering agar tidak
ada mikroorganisme lain , misalnya karena terbawa oleh air dari tempat lain, dan ikut hidup
di tanah tersebut. Hal itu dapat membiaskan hasil pengamatan karena organisme tersebut
tidak asli dari tanah tersebut. Anah yang kami peroleh adalah tanah berpasir dan berkerikil.
Warnanya coklat dan terasa gembur.
Tanah ditimbang sebanyak 1,00 gram lalu disuspensikan dengan 10 ml NaCl 0,9%
steril. Penyuspensian ini bertujuan memindahkan mikroorganiskme dari tanah ke media cair,
sehingga dapat ditumbuhkan dalam media agar yang sesuai. Cairan yang digunakan adalah
NaCl 0,9% karena cairan tersebut yang sesuai dengan cairan fisiologis manusia. Cairan ini
harus steril agar tidak terjadi kontaminasi oleh mikroorganismelain yang berasal dari NaCl
yang tidak steril ikut tumbuh, sehingga membiaskan hasil pengamatan.
Suspensi tanah dengan konsentrasi 1,00 gram / 10 mL tersebut diencerkan dengan
NaCl 0,9% steril sampai konsentrasinya 0,01 gram / 10 mLdengan cara menambahkn 1mL
suspensi ke dalam 9 mL NaCl 0,9% steril, lalu 1 mL pengenceran tersebut ditambahkan ke 9
mL NaCl 0,9% steril. Pengenceran ini dilakukan untuk mengurangi jumlah mikroorganisme
yang tumbuh agar lebih mudah diamati. Suspensi yang diambil adalah bagian yang jernih
setelah pengocokantanpa ada butiran tanah. Engocokan bertujuan agar mikroorganisme dai
tanah berpinda dan menyebar ke cairan. Karena berat jenis tanah lebih besar daripada
ikroorganisme, otomatis tanah akan mengendap lebh dahulu sedangkan mikroorganisme
masih melayang dalam cairan NaCl 0,9% yang nampak oleh mata sebagai bagian yang jernih.
Butiran tanah yang ikut terambil dapat menyumbat pipet dan mengganggu pengamatan.
0,5 mL suspensi degan konsentrasi 0,01 gram / 10 mL dipindah ke media
pertumbuhan agar steril czapex dox yang mengandung antibiotic lalu diratakan dengan cara
menggoyang-goyangkan petri. Pemindahan bertujuan menumbuhkan mikroorganisme pada

media yang banyak mengandung nutrisi czapex dox dan menggunakan media padat agar
dapat diamati dengan mudah. Antibiotic yang terkandung dalam media bertujuan menyeleksi
mikroorganisme agar hanya mikroorganisme yang kuat dan tahan terhadap antibiotic saja
yang tumbuh. Suspensi diratakan agar pertumbuhan mikroorganisme menyebar, tidka
tumpang tindih sehingga mudah diamati.
Media kemudian diinkubasi pada suhu kamar selama 7 hari untuk memberi
kesempatan tumbuh pada suhu seperti suhu asalnya. Tahapan ini dilakukan di ruangan laborat
biasa, tidak di LAF karena tanah tidak steril namun tetap perlu pengerjaan secara cepat dan
bersih untuk mencegah masuknya kontaminan dari udara.
Setelah diinkubasi, seluruh koloni yang tumbuh dicatat warna, jenis, bentuk, dan cirri
lainnya. Hal ini dapat berguna untuk mengetahui mikroorganisme asli tanah yang dipakai
sehingga bila terdapat kontainasi di tahap selanjutnya dapat ketahuan. Pada tahap ini dipilih
salah satu koloni yang diduga memiliki potensi menghasilkan antibiotic untuk ditumbuhkan
atau disebut juga proses isolasi atau pemurnian sehingga koloni yang diduga tadi tumbuh
terpisah dari koloni lainnya.
Mikroorganisme yng berpotensi biasanya koloni yang dominan berwarna cerah, besar,
dan tumbuh banyak. Untuk menghindari resiko tercampur dengan koloni lain, dipilih koloni
yang tidak berdekatan dengan koloni lain sehingga koloni terduga dapat tumbuh benar-benar
murni. Dari sejumlah koloni yang hidup dari tahap 1 , dipilih koloni putih dan koloni kuning
untuk diisolas karena koloni putih banyak tumbuh di petri 1 dan koloni kuning, selain
warnanya cerah juga cukup banyak tumbuh di petri 2. Koloni yang diambil boleh berasal dari
petri yang sama atau yang berbeda.
Koloni terpilih kemudian dipindah secara aseptis di dalam LAF ke media padat steril
czapex dox dengan bantuan ose bulat. Tahap ini dilakukan secara aseptis karena pemindahan
mikrobia dari media steril ke media steril, sehingga perlu dicegah masuknya kontaminan.
Media tidak mengandung antibiotic karena tahap ini bertujuan untuk menumbuhkan saja
mikrobia terpilih secara terpisah dari koloni lain. Media yang digunakan adaah czapex dox
lagi agar fase lag mikroorganisme singkat. Fase lag adalah masa adaptasi mikroorganisme
terhadap lingkungan yang baru, sehingga tidak melakukan pertumbuhan dan jumlahnya tetap,
sehingga termasuk fase yang merugikan. Sebab, semakin lama fase lag, semakin lama pula
waktu yang dibutuhkan mikrobia untuk tumbuh, maka semakin sedikit mikroorganisme yang
berhasil ditumbuhkan. Semakin mirip media asal dengan media baru, fas lag akan semakin
singkat.
Media kemudian diinkubasi pada suhu kamar selama 7 harigar mikroorganisme tetap
tumbuh dalam suhu seperti suhu lingkungan asalnya. Hasil inkubasi kebali dicatat untuk
mengetahui apakah koloni yang tumbuh benar-benar murni, atau ada koloni lain, atau malah
hanya ada koloni lain. Koloni yang diisolasi di petri 1 adalah koloni putih, setelah inkubasi ,
koloni putih banyak tumbuh, namun di sekelilingnya terdapat koloni hijau dan hitam. Koloni
putih tersebut tetap dapat digunakan untuk tahap selanjutnya, yaitu tahap pengujian. Pad petri
kedua, koloni yang diisolasi adalah koloni kuning, ternyata hnya sedikit tumbuh, sehingga
untuk tahap berkutnya, dipilih koloni lain yang memang ada dari tahpa sebelumnya, sehingga

tetap merupakan koloni asli dari tanah yang digunakan, yaitu koloni hijau yang cukup banyak
tumbuh. Bukan mikroorganisme yang baru ada di tahap itu, karna bisa jadi merupakan
kontaminan yang masuk pada proses isolasi.
Koloni yang dipiliha tadi dibuat irisan (plug) lalu dipindah ke media nutrient agar
yang mengandung bakteri secara aseptis di LAF untuk menguji kemampuannya
menghasilkan antibiotic. Sebba dalam nutrient agar tersebut nutrisinya berbeda dan lebih
sedikit dibandingkan czapex dox, maka dalam keadaan stress tersebt mikroorganisme
cenderung akan mengahasilkan metabolit sekunder untuk membunuh mikroorganisme lain di
sekitarnya untuk mengecilkan kompetisi memperoleh nutrisi dan efisiensi makanan.
Metabolit itu yang disebut antibiotic. Potensi antibiotic berbeda terhadap bakteri yang
berbeda, maka untuk membandingkan, dalam praktikum ini digunakan 3 macam bakteriyaitu
Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, dan Escherichia coli.
Media diinkubasi pada suhu 37oC selama 18-24 jam agar bakteri mencapai fase
pertumbuhannya, sehinga pengujian potensi antibiotic akurat karena bakteri tidak di fase lag,
stationery, atau death sehingga jumlahnya tetap. suhu tersebut dgunakan untuk
mengondisikan suhu lingkungan pertumbuhan bakteri seperti suhu dalam tubuh manusia yang
normalnya 37 derjat selsius. Setelah diinkubasi mikrobia yang berpotensi akan menghasilkan
daerah jernih karena dpat menghambat pertumbuhan sekaligus membunuh bakteri yang
disebut zona radikal, atau daerah agak jernih karena antibiotic yang dihasilkan hanya dapat
mnghambat pertumbuhan bakteri namun tidak membunuhnya yang disebut zona iradikal.
Pada pengamatan, koloni putih tidak dapat menghasilkan zona radikal maupun
iradikal, sendangkan koloni hijau dapat menghasilkan zona radikal terhadap Staphylococcus
aureus,dan Bacillus subtilis, walaupun sangat kecil. Namun tidak dapat menghasilkan zona
hambat terhadap Escherichia coli.