Anda di halaman 1dari 10

LEMBAR PENGESAHAN

Depresansia system syaraf pusat


KELOMPOK 1
13 APRIL 2015

Dosen Pembimbing :
Drh. Mien R.,M.c.,ph.D
E.mulyati Effendi,.MS
Yulianita,.S.Farm
Nisa Najwa,.S.Fam.,Apt

Ketua

( M Rivan Rahardian)

Anggota

(Nur Azmi A.P)

(Vina Ayu P)

(Shelby F.R)

BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar belakang
Sebagai mahasiswa farmasi, sudah seharusnya dan sepatutnya kita mengetahui hal-hal
yang berkaitan tentang obat, baik dari segi farmasetik, farmakodinamik, farmakokinetik, dan
juga dari segi farmakologi. Kali ini kami akan membahas sedikit efek obat pada Sistem
Syaraf Pusat (SSP) dalam bab farmakologi. Kami juga akan membandingkan rute mana yang
paling cepat pada jenis obat yang sama. Adapun yang melatar belakangi pengangkatan materi
adalah agar kita dapat mengetahui kaitan antara rute pemberian obat dengan waktu cepatnya
reaksi obat yang ditampakkan pertama kali.
I.2 Tujuan percobaan
Adapun tujuan yang diharapkan dalam praktikum ini adalah :
Mahasiswa mengetahui mula kerja dan lamanya kerja suatu hipnotik sedatif
Mahasiswa mengetahui bagaimana pengaruh obat yang diberikan secara berbeda rute
pemberian
I.3 Hipotesis
- Diazepam menyebabkan relaksai otot yang bekerja sentral terhadap hewan coba,
khususnya berpengaruh secara selektif terhadap repleks polosinaptik di medula spinalis
dan mengurangi aktifitas neuron sistim retikular di mesensepalon yang mengendalikan
tonus otot kerangka,
- Diazepam akan lebih efektif digunakan dalam obat yang berakibat pada Depresansia
Syaraf Pusat (SSP)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ditinjau dari segi sistem pengelolaannya atau cara pemeliharaannya, di mana faktor
keturunan dan lingkungan berhubungan dengan sifat biologis yang terlihat/karakteristik
hewan percobaan, maka ada 4 golongan hewan, yaitu
1). Hewan liar.
2). Hewan yang konvensional, yaitu hewan yang dipelihara secara terbuka.
3). Hewan yang bebas kuman spesifik patogen, yaitu hewan yang dipelihara dengan sistim
barrier (tertutup).
4). Hewan yang bebas sama sekali dari benih kuman, yaitu hewan yang dipelihara dengan
sistem isolator Sudah barang tentu penggunaan hewan percobaan tersebut di atas disesuaikan
dengan macam percobaan biomedis yang akan dilakukan. Semakin meningkat cara
pemeliharaan, semakin sempurna pula hasil percobaan yang dilakukan. Dengan demikian,
apabila suatu percobaan dilakukan terhadap hewan percobaan yang liar, hasilnya akan
berbeda bila menggunakan hewan percobaan konvensional ilmiah maupun hewan yang bebas
kuman (Sulaksonono, M.E., 1987).
Diazepam
Salah satu obat yang digunakan untuk mengobati penyakit ansiolitik adalah
Diazepam, diazepam merupakan salah satu obat ansiolitik yang bersifat merelaksasi otot dan
bekerja sentral, khususnya berpengaruh secara selektif terhadap repleks polisinaptik di
medula spinalis dan mempengaruhi aktifitas neuron sistim retikular di mesensepalon yang
mengendalikan tonus otot sehingga obat ini dapat digunakan untuk mengatasi stimulansia
medula oblongata.
Benzodiazepin meningkatkan kerja GABA di SSP. Diazepam bekerja disemua sinaps
GABAA, tapi kerjanya dalam mengurangi spastisitas sebagian dimediasi dimedula spinalis.
Karena itu diazepamdapat digunakan pada spasme otot yang asalnya dari mana saja,
termasuk trauma otot local. Tetapi, obat ini menyebabkan sedasi pada dosis yang diperlukan
untuk mengurangi tonus otot.

URETAN

Uretan memiliki gugus fungsi yang sama, seperti polyurethane, yaitu


kelompok uretan (-NH-CO-O-), yang pada saat ini poliuretan dalam jumlah tinggi.
Urethane resmi dibentuk dalam reaksi asam isosianat (HN = C = O) dengan, misalnya,
etanol atau alkohol lainnya. Kelas senyawa yang disebut urethanes termasuk kelas dari
zat yang mengandung gugus fungsi di atas, tidak hanya urethane, yang membawa
sebuah etil (karbamat etil). Analog erfolgt die Reaktion beim Polyurethan zwischen Di-,
Tri oder Polyisocyanaten und mehrwertigen Alkoholen. Analog, reaksi antara
polyurethane yang di-, tri-atau polyisocyanates dan alkohol polihidrat.

Nama Urethan Uretan Nama lain


Ethylcarbamat Etil karbamat
Ethylurethan Etil uretan

Amidokohlensureethylester Amidokohlensureethylester.

Urethane merupakan obat pelamas otot bagian otot yang bekerja sentral yang berpengaruh
secara selektif terhadap reflexs polysinaptik di medulla spinalis dan mengurangi aktivitas
neuron sistim reticular di masensepolon yang mengendalikan tonus otot kerangka.

BAB III
METODE KERJA

III.1 Alat Bahan


Alat :
Jarum Suntik
Lap
Stopwatch
Timbangan Digital
Toples
Bahan :
Diazepam
Mencit
Urethan
III.2 Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan .
2. Diamati keadaan biologi dari hewan coba yang meliputi : bobot badan,
frekuensi jantung, laju nafas, reflex, tonus otot, kesadaran, rasa nyeri.
3. Di hitung dosis yang akan diberikan kepada hewan coba :
a. Diazepam 2,5 mg/kg bb (0,1%).
b. Urethan .
4. Untuk penyuntikan diperlakukan mencit dengan baik, buat mencit tidak stress
agar memudahkan kita dalam penyuntikan.
5. Suntikkan masing masing zat pada hewan mencit secara ip (intra peritoneal)
dengan menggunakan urethan dan diazepam.
6. Dicatat kehilangan righting reflex yang dilakukan oleh mencit.
7. Jika sesekali terlihat mencit agresif atau stress maka buat dia tenang agar tidak
membahayakan kita.
8. Dicatat kecepatan pernafasan dengan interval waktu 15 menit dari percobaan
tersebut.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan
Tabel 1. Data biologi hewan coba kelompok 1
Pengamatan

Hewan Coba 1 (diazepam)

Bobot Badan
Frekuensi Jantung x/menit
Laju Nafas x/menit
Refleks
Tonus Otot
Kesadaran
Rasa Nyeri
Gejala Lain
Urinasi
Defekasi
Salivasi
kejang

normal

Setelah di uji

24 gram
116 x/menit
124 x/menit
+++
+++
+++
+++

24 gram
80 x/menit
92 x/menit
+
+
+

+
+
+
-

+
+
-

hasil pengamatan
Kelompok
1

Onset
4 9 detik

Diazepam
Durasi
3 55 detik

Gejala
Saliva,

Onset

Urethane
Durasi

Gejala

30

Pingsan

devekasi
2
3

127 detik
2 40 detik 5 45 detik

Urinasi,
devekasi

2 25 detik

12 detik

Urinasi,
kejang

235 detik

4 16 detik

Salivasi,
devekasi

6
7
8
x

50 detik

12 detik

2 33 detik

344 detik

Perhitungan dosis
Diazepam ( 2,5 mg/kg BB) 10 mg/20ml
BB mencit = 24 gram
0,0025 g
X
Dosis konversi = 1000 g
~ 24 g

24 g X 0,0025 g
1000 g

= 0,00006 g

827 detik

36 3 detik

3 21 detik
4,15 detik

45 57 detik
2825 detik

pingsan

Dosis pemakaian

0,01 g
20 ml

0,00006 g X 20 ml
0,01 g

0,00006 g
x

= 0,12 ml
B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini kelompok kami melakukan percobaan mata kuliah
Farmakologi Sistem Dan Organ dengan judul percobaan Depresansia pada Sistem
Syaraf Pusat (SSP).Pada percobaan kali ini menggunakan hewan coba mencit, lalu
dilakukan penyuntikan dengan cara intraperitonial, yaitu penyuntikan pada rongga
perut. Bahan yang akan disuntikkan sebagai pembuat depresan pada Sistem Syaraf
Pusat (SSP) adalah Uretan dan Diazepam. Kelompok kami menggunakan diazepam.
mencit. Pada awal penyuntikan obat diazepam laju nafas sebelum disuntikan
laju nafas normal yaitu 124/menit, setelah disuntikan laju nafas menjadi menurun
yaitu menjadi 92/menit hal ini dikarenakan efek obat diazepam yang menurunkan
aktivitas tubuh. Kemudian frekuensi jantung sebelum diberikan obat yaitu 116/menit,
setelah diberikan obat diazepam menjadi 80/menit. Tonus otot, reflex, kesadaran, dan
rasa nyeri berkurang, kemudian urinasi dan kejang tidak terjadi. Sedangkan defekasi
dan

salivasi

tetap

terjadi

karena

efek

diazepam

yang

menekankan

kesadaran( mengantuk ) tetapi tidak menurunkan aktifitas pencernaan.


didapat rat- rata onset dari mencit yang di suntikan diazepam yaitu 2 33 detik
yang ditandai dengan menurunnya aktivitas mencit yang asalnya agresif menjadi diam
dan mata mencit yang asalnya tidak mengantuk menjadi mengantuk. Hal ini dapat
terjadi karena diazepam adalah obat sedatif yaitu obat yang membuat depresi ringan
dengan efek tidur (hipnotika). Durasi yang diperoleh yaitu3 44 detik, mencit kembali
kepada keadaan sebelumnya agresif dan tidak mengantuk ( normal kembali ).
Sedangkan pada mencit kedua setelah pemberian Uretan, aktifitas mencit pun
turun. Penurunan aktifitasnya pun lebih lama dibandingkan dengan mencit yang
diberikan diazepam. Pada mencit dengan pemberian uretan kinerja tonus ototnya
berkurang pad ament ke 415 detik . Penurunan aktifitasnya namun tidak setajam
pemberian diazepam. Mencit masih bisa berjalan jalan walaupun aktifitasnya atau
keseringannya berkurang. Dan kembali ke keadaan semula dalam waktu 28 25 detik.

Dapat diambil kesimpulan bahwa mencit yang diberikan diazepam akan libih
cepat mengalami penurunan aktifitas tonus otot dibandingkn dengan uretan. Walau
dosis diazepam sedikit obat penyebab depresan pada SSP ini lebih efektif dikarenakan
diazepam merupakan salah satu obat ansiolitik yang bersifat merelaksasi otot dan
bekerja sentral, khususnya berpengaruh secara selektif terhadap repleks polisinaptik di
medula spinalis dan mempengaruhi aktifitas neuron sistim retikular di mesensepalon
yang mengendalikan tonus otot sehingga obat ini dapat digunakan untuk mengatasi
stimulansia medula oblongata.

BAB V
KESIMPULAN
-

Dizepam akan lebih efektif dalam menurunkan tonus otot hewan coba dibandingkan

uretan
- Cara pemberian secara intraperitonial (i.p.) dengan menyuntikkan tepat pada bagian
-

abdomen mencit
Semakin tinggi dosis yang diberikan akan memberikan efek yang lebih cepat
Onset of action dan Duration of action dari bahan diazepam libih cepat dibandingkan
uretan

DAFTAR PUSTAKA

Anonim I, 2008.Farmakologi-1.
Frandson, R.D. 1986. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi II. Gadjah Mada University

Press: Yogyakarta.
Dukes. 1995. Physiology of Domestic Animal Comstock Publishing : New York

University Collage, Camel.


Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi IV. Gadjah Mada

University Press: Yogyakarta.


Katzung, B.G., 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi VI. Jakarta: Penerbit Buku

Kedokteran EGC. Hal. 351.


Setiawati, A. dan F.D. Suyatna, 1995. Pengantar Farmakologi Dalam Farmakologi

dan Terapi. Edisi IV. Editor: Sulistia G.G. Jakarta: Gaya Baru. Hal. 3-5.
Sulaksono, M.E., 1992. Faktor Keturunan dan Lingkungan Menentukan Karakteristik

Hewan Percobaan dan Hasil Suatu Percobaan Biomedis. Jakarta.


Smith, J. J dan J. P Kamping. 1988. Sirkulatory physiology. 2nd edition. Baltimore,

wiliam and wilkins


Schmidt, K and Neilsen. 1997. Animal Physiology Fifth Edition. Cambidge
University Press: Australia.