Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI KEMOTERAPI
ANTAGONISME COBALT EDETEATE IN VIVO
Tanggal Praktikum : 12 DESEMBER 2015
Kelas : E
Kelompok: 1
Ketua :
Shelby Febriyani Rahayu (0661 13 164)
Anggota :
1. Handriana
2. Anggita Julia Putri

(0661 13
)
(0661 13 151)

Dosen Pembimbing :
1.
2.
3.
4.

Ir. E. Mulyati Effendi., MS


Yulianita, M.Farm
Nissa Najwa, M.Farm., Apt
Lusi Agus S., M.Farm.,Apt

Asisten Dosen :
1. Ardiliyas Chaniago
2. Vevy Helpida Jaffarelli
3. Jenny Aditya

LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2015
LEMBAR PENGESAHAN
FARMAKOLOGI KEMOTERAPI
ANTAGONISME COBALT EDETEATE IN VIVO

KELOMPOK I
TanggalPraktikum : 12 DESEMBER 2015
1.
2.
3.
4.

DOSEN PEMBIMBING :
Ir. E. Mulyati Effendi., MS
Yulianita, M.Farm
Nissa Najwa, M.Farm., Apt
Lusi Agus S., M.Farm., Apt

KETUA :

Shelby Febriyani
(066113164)
ANGGOTA :

Handriana

Anggita Julia Putri

(0661131

(066113151)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


kobalt digunakan dalam banyak paduan (superalloy untuk bagian dalam mesin
aircrafr turbin gas, paduan tahan korosi, baja kecepatan tinggi, disemen karbida), di

magents dan media perekaman magnetik, sebagai katalis untuk minyak bumi dan industri
kimia, sebagai agen pengeringan untuk cat dan tinta. Kobalt biru adalah bagian penting
dari palet seniman dan digunakan pekerja kerajinan bu dalam porselen, keramik, kaca
patri, ubin dan enamel perhiasan. Isotop radioaktif, kobalt-60, digunakan dalam
perawatan medis dan juga untuk menyinari makanan, dalam rangka melestarikan
makanan dan melindungi konsumen. Kobalt secara luas tersebar di lingkungan manusia
dapat terkena dengan menghirup udara, air minum dan makan makanan yang
mengandung kobalt. Kontak kulit dengan tanah atau air yang mengandung kobalt juga
dapat meningkatkan eksposur. kobalt tidak sering tersedia secara bebas di lingkungan,
tetapi ketika partikel kobalt tidak terikat partikel tanah atau sedimen serapan oleh
tanaman dan hewan yang lebih tinggi dan akumulasi pada tumbuhan dan hewan dapat
terjadi.kobalt bermanfaat bagi manusia karena merupakan bagian dari vitamin B12, yang
penting untuk kesehatan manusia. Namun, konsentrasi terlalu tinggi kobalt dapat
merusak kesehatan manusia. Ketika kita bernapas dalam konsentrasi terlalu tinggi dari
kobalt melalui udara kita mengalami efek paru, seperti asma dan radang paru-paru.
1.2 Tujuan percobaan
-

dapat mengetahui efektifitas Ca Na2EDTA sebagai antidotum

1.3 Hipotesis
-

Ca Na2EDTA lebih efektif digunakan sebagai pencegahan keracunan logam berat

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.Toksisitas
Toksisitas merupakan istilah relatif yang biasa digunakan dalam membandingkan
suatu zat kimia dengan yang lainnya. Suatu hal yang biasa untuk mengatakan bahwa suatu zat
kimia lebih toksik daripada zat kimia lainnya. Perbandingan antara zat kimia seperti itu

sangat tidak informatif, kecuali jika pernyataaan tersebut melibatkan informasi tentang
mekanisme biologi yang sedang dipermasalahkan dan juga kondisi bagaimana zat kimia
tersebut berbahaya.
2. Mekanisme aksi efek toksik
Ketika kita kontak dengan racun, maka kita disebut terpejani racun. Efek dari suatu
pemejanan, sebagian tergantung pada berapa lama kontak dan berapa banyak racun yang
masuk dalam tubuh, sebagian lagi tergantug pada berapa banyak racun dalam tubuh yang
dapat dikeluarkan. Selama waktu tertentu pemejanan dapat terjadi hanya sekali atau beberapa
kali. Pada

dasarnya setelah zat beracun masuk kedalam tubuh, suatu ketika dapat

terdistribusi kedalam cairan ekstrasel dan intrasel. Berdasarkan atas sifat dan tempat
kejadiannya, mekanisme aksi toksik zat kimia dibagi menjadi dua, yakni mekanisme luka
intrasel dan ekstrasel.
Pada umumnya para pakar sependapat bahwa penanganan keracunan bahan berbahaya
akut,dibagi dalam tiga tahap tindakan, yakni : tindakan terapi suportif, penyidikan jenis racun
penyebab, dan terapi antidote. Terapi antidot Merupakan tata cara yang secara khusus
ditujukan untuk membatasi intensitas (kekuatan) efek toksik zat kimia atau menyembuhkan
efek toksik yang ditimbulkannya, sehingga bermanfat dalam mencegah timbulnya bahaya
lebih lanjut. Berarti, sasaran terapi antidot adalah pengurangan intensitas efek toksik,
3. Kobalt
kobalt adalah feromagnetik, perak-putih, keras, berkilau, unsur rapuh keras. Ini adalah
anggota kelompok VIII dari tabel periodik. Seperti besi, dapat magnet. Hal ini mirip dengan
besi dan nikel dalam sifat fisiknya. Unsur aktif kimia, membentuk banyak senyawa. kobalt
stabil di udara dan tidak terpengaruh oleh air, tetapi perlahan-lahan diserang oleh asam encer.
kobalt digunakan dalam banyak paduan (superalloy untuk bagian dalam mesin aircrafr turbin
gas, paduan tahan korosi, baja kecepatan tinggi, disemen karbida), di magents dan media
perekaman magnetik, sebagai katalis untuk minyak bumi dan industri kimia, sebagai agen
pengeringan untuk cat dan tinta. Kobalt biru adalah bagian penting dari palet seniman dan
digunakan pekerja kerajinan bu dalam porselen, keramik, kaca patri, ubin dan enamel
perhiasan. Isotop radioaktif, kobalt-60, digunakan dalam perawatan medis dan juga untuk
menyinari makanan, dalam rangka melestarikan makanan dan melindungi konsumen.
Kobalt secara luas tersebar di lingkungan manusia dapat terkena dengan menghirup
udara, air minum dan makan makanan yang mengandung kobalt. Kontak kulit dengan tanah
atau

air yang mengandung kobalt juga dapat meningkatkan eksposur. kobalt

tidak

sering

tersedia secara bebas di lingkungan, tetapi ketika partikel kobalt tidak terikat partikel tanah

atau sedimen serapan oleh tanaman dan hewan yang lebih tinggi dan akumulasi pada
tumbuhan dan hewan dapat terjadi. kobalt bermanfaat bagi manusia karena merupakan bagian
dari vitamin B12, yang penting untuk kesehatan manusia. Kobalt digunakan untuk mengobati
anemia dengan ibu hamil, karena merangsang produksi sel darah merah. Total asupan harian
kobalt adalah variabel dan mungkin sebanyak 1 mg, tapi hampir semua akan melewati
unadsorbed tubuh, kecuali bahwa dalam vitamin B12.Namun, konsentrasi terlalu tinggi
kobalt dapat merusak kesehatan manusia. Ketika kita bernapas dalam konsentrasi terlalu
tinggi dari kobalt melalui udara kita mengalami efek paru, seperti asma dan radang paru-paru.
Hal ini terutama terjadi dengan orang-orang yang bekerja dengan kobalt.

BAB III
METODOLOGI KERJA

3.1 Alat dan Bahan


a. Alat
- suntikan

- timbangan hewan
- toples
b. Bahan
- larutan cobalt clorida 2%
- larutan Na2EDTA 25%
- tikus putih dewasa
3.2 metode kerja

Percobaan I
Disuntikan Na2EDTA 25% 500 mg/ kg BB secara ip pada tikus
Setelah 15 menit, kemudian disuntikan cobalt clorid dosis 40 mg / kg BB ip
Percobaan II
Disuntikan larutan cobalt clorida clorid dosis 40 mg / kg BB ip
Percobaan III
Disuntikan larutan cobalt clorida clorid dosis 40 mg / kg BB ip. Setelah terlihat
gejala keracunan disuntikan Na2EDTA 25% 500 mg/ kg BB secara ip pada tikus

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
a. tabel data biologis hewan coba
Pengamatan
Bobot Badan
Frekuensi
Jantung(x/menit)
Laju nafas(x/menit)

Hewan Coba
Tikus
72 gram
110/menit
90/menit

Refleks
Tonus otot
Kesadaran
Rasa nyeri
Gejala lain :
- Defekasi
- Salivasi
- Urinasi
- Kejang

+++
+++
+++
+++
+
+
+
-

b. tabel pengamatan kelompok


Vol. penyuntikan
Onset
Durasi
Gejala
- Warna kaki
,telinga merah
- Diam/ gesit
- Pupil membesar
- Kaki terangkat /
kebelakang
- Salivasi
- Dsb

0,144 ml
Menit ke 8
10

20
-

30
-

40
-

50
-

diam

diam

diam

aktif

Aktif

urinas
i

c. tabel pengamatan
Kel
1
2
3
4
5
6
7
8

Per.I

Per.II

Per.III

Durasi
38 menit
50 menit
40 menit 21 detik
50 menit
38 menit
48 menit 56 detik
37 menit
20 menit

4.2 perhitungan dosis


Na2EDTA ( 500 mg/kg BB) 25 %
BB mencit = 72 gram
0,5 g
Dosis konversi = 1000 g ~

X
72 g

72 g X 0,5 g
1000 g

= 0,036 g
25 g
Dosis pemakaian = 100 ml
=

X
72 g

72 g X 0,04 g
1000 g

= 0,00288 g
2g
Dosis pemakaian = 100 ml ~
=

0,036 g
x

0,036 g X 100 ml
25 g

= 0,144 mL
Cobalt (440 mg/kg BB) 2 %
BB mencit = 72 gram
0,04 g
Dosis konversi = 1000 g ~
=

0,00288 g
x

0,00288 g X 100 ml
2g

= 0,144 mL

4.3. Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu percobaan mengenai ANTAGONISME COBALT
EDETEATE IN VIVO. antagonis sendiri merupakan obat atau zat kimia yang berikatan
dengan reseptor namun tidak mengaktivasinya.antagonis menurunkan kemungkinan zat
transmitor atau agonis lain dengan reseptor sehingga mengurangi atau memblock kerja
transmitor tersebut.
Hewan coba yang digunakan adalah tikus putih dewasa, larutan yang digunakan yaitu
Na2EDTA dan Cobalt.kelompok kami melakukan percobaan 1 mengenai pencegahan
keracunan logam berat (cobalt).hasil pengamatan gejala/ efek yang terjadi dapat dilihat di
tabel 2, pemberian antidota untuk pencegahan keracunan logam berat dalam praktikum ini
menggunakan Na2EDTA. Na2EDTA digunakan sebagai antidota logam berat karena EDTA
merupakan pengkhelat logam yang memiliki aftinitas tinggi, mekanisme edta yaitu dengan
pembentukan kompleks kelat dengan logam valensi2 dan 3 pada tubuh ion logam yang
afinitas lebih tinggi terhdap EDTA yang membuatnya bersifat hydrophilic dan dieliminasi
melalui urin.

Na2 EDTA efektif digunakan untuk pencegahan keracunan logam (cobalt) ini
ditunjukan dengan durasi yang timbul lebih cepat di bandingkan dengan percobaan II dan III
yaitu 38 menit.

BAB V
KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik suatu kesimpulan, yaitu :
1. EDTA merupakan pengkhelat logam yang memiliki aftinitas tinggi, mekanisme edta
yaitu dengan pembentukan kompleks kelat dengan logam valensi2 dan 3 pada tubuh
ion logam yang afinitas lebih tinggi terhdap EDTA yang membuatnya bersifat
hydrophilic dan dieliminasi melalui urin.
2. Na2 EDTA efektif digunakan untuk pencegahan keracunan logam (cobalt) ini
ditunjukan dengan durasi yang timbul lebih cepat di bandingkan dengan percobaan II
dan III yaitu 38 menit.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1995b, Farmakope Indonesia IV, Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Jakarta
Donatus, I.A., 1997, Makalah Penanganan dan Pertolongan Pertama Keracunan
Bahan Berbahaya, Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi Fakultas
Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Sudarmono, Andrew Arief, 2008, Dosis Efektif Natrium Tiosulfat Sebagai Antidotum
Keracunan Sianida Pada Mencit Jantan Galur Swiss, Skripsi, Fakultas
Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta