Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Fisika. Adapun makalah ini mengenai
Bioakustik.
Saya mengucapkan terimakasih kepada pihak – pihak yang telah mendukung dan
memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini, terutama kepada Dosen fisika Ibu
Sangaji Hasmi .M. IPA serta teman – teman sejawat.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan
dan kekurangan karena faktor batasan pengetahuan penyusun, maka saya dengan senang hati
menerima kritika serta saran – saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah
ini.
Semoga hasil dari penyusunan makalah ini dapat dimanfaatkan bagi generasi
mendatang, khususnya mahasiswa/mahasiswi D-III keperawatan manokwari.
Akhir kata, melalui kesempatan ini saya penyusun makalah mengucapkan banyak
terimakasih.

Manokwari, 23 November 2009

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BEAKANG
1.2 TUJUAN PENULISAN
1.3 METODE PENULISAN
1.4 SISTEMATIKA PENULISAN

BAB II PEMBAHASAN
2.1 BUNYI
2.2 ULTRASONIK DALAM BIDANG KEDOKTERAN
2.3 SUARA
2.4 ALAT PENDENGARAN
2.5 BISING
2.6 VIBRASI

BAB III PENUTUP


3.1 KESIMPULAN
3.2 SARAN

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Bioakustik adalah ilmu yang mempelajari tentang suara yang diproduksi oleh binatang,
manusia maupun benda lainnya. Didalam materi bioakustik ini terdapat adanya bunyi,
ultrasonik dalam bidang kedokteran, suara, alat pendengaran, bising dan vibrasi.

1.2 TUJUAN PENULISAN


Tujuan penulisan makalah ini yaitu sebagai tugas mata kuliah Fisika.

1.3 METODE PENULISAN


Metode penulisan makalah ini adalah metode dari buku.

1.4 SISTEMATIKA PENULISAN


BAB 1 PENDAHULUAN Memuat latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan
dan sistematika penulisan.

BAB II PEMBAHASAN Memuat pendahuluan, dan beberapa subbab lainnya.

BAB III PENUTUP Memuat kesimpulan, dan saran.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 BUNYI
 PENDAHULUAN
Suatu perubahan mekanik terhadap zat gas, zat cair atau zat padat sering menimbulkan
gelombang bunyi. Gelombang bunyi ini merupakan vibrasi/getaran dari molekul – molekul zat
dan saling beradu sama lain namun demikian zat tersebut terkoordinasi menghasilkan gelombang
serta mentransimikan energi bahkan tidak pernah terjadi perpindahan partikel.
Berbicara, tergantung pada substansi yang menjalar apabila suara mencapai tapal batas
maka suara tersebut akan terbagi dua yaitu sebagian energi ditransmisikan/diteruskan dan
sebagian direfleksikan (dipantulkan).
Binatang mempergunakan suara untuk memperoleh perubahan informasi dan untuk
mendeteksi lokasi dari suatu objek. Misalnya ikan lumba – lumba, kalelawar, mempergunakan
suara untuk mengemudi dan menentukan likasi makanan, apabila cahaya tidak cukup untuk
pengamatan. Manusia berusaha mempergunakan suara sebagai pengganti cahaya bahkan sinar X.
Gema dipergunakan pengemudi dalam kedalaman air dan pengamatan. Sedangkan ultrasonik atau
frekuensi tinggi bunyi dipergunakan untuk diagnosis dan pengobatan.

 GELOMBANG BUNYI DAN KECEPATAN


Gelombang bunyi timbul akibat terjadi perubahan mekanik pada gas, zat cair atau gas
yang merambat kedepan dengan kecepatan tertentu. Gelombang bunyi ini menjalar secara
transversal atau longitudinal, lain dengan cahaya hanya menjalar secara transversal saja.
Pada suatu percobaan, apabila terjadi vibrasi dari suatu bunyi maka akan terjadi suatu
peningkatan tekanan dan penurunan tekanan pada tekanan atmosfir, peningkatan tekanan ini
disebut kompresi sedangkan penurunan tekanan disebut rarefaksi (peregangan).
Bunyi mempunyai hubungan antara frekuensi vivrasi (f), panjang gelombang (λ), dan
kecepatan (V)
 SUMBER BUNYI
Fenomena yang menghasilkan bunyi, misalnya pembakaran minyak dalam suatu mesin,
selalu menghasilkan bunyi. Bunyi yang dihasilkan instrument musik. Ruang mulut dan ruang
hidung manusia merupakan struktur resonansi untuk menghasilkan vibrasi melalui pita suara.
Garpu tala yang di getarkan akan menghasilkan bunyi. Dari contoh diatas dapat disimpulkan
bunyi itu bisa berasal dari alam dan bisa berasal dari perbuatan manusia.

 MENDETEKSI BUNYI
Untuk mendeteksi bunyi perlu mengkonversikan gelombang bunyi bentuk vibrasi
sehingga dapat dianalisa frekuensi dan intensitasnya. Untuk perubahan ini diperlukan alat
mikrofon dan telinga manusia. Alat mikrofon merupakan transduser yang memberi respon
terhadap tekanan bunyi dan menghasilkan isyarat/signal listrik. Mikrofon yang banyak digunakan
adalah mikrofon kondensor karena berguna untuk mendeteksi kebisingan lingkungan perusahaan.

 PEMBAGIAN FREKUENSI BUNYI


Berdasarkan frekuensi maka bunyi dibedakan dalam 3 daerah frekuensi yaitu :
a. 0 – 16 Hz (20 Hz) : Daerah infrasonic, yang termasuk disini adalah getaran tanah,
gempa bumi.
b. 16 – 20.000 Hz : Daerah sonik, yaitu daerah yang termasuk frekuensi yang
dapat didengar (audiofrekuensi).
c. Di atas 20.000 Hz : Daerah ultrasonik.

ARTI DALAM PEMBAGIAN BUNYI


Pembagian frekuensi bunyi mempunyai arti dalam hal pengobatan, diagnosis, nyeri yang
ditimbulkan. Untuk mengetahui lebih jelas akan diutarakan sebagai berikut :
a. Frekuensi bunyi antara 0 – 16 Hz (infrasound).Frekuensi 0 – 16 Hz ini biasanya
ditimbulkan oleh getaran tanah, getaran bangunan maupun truk mobil. Vibrasi yang ditimbulkan
oleh truk mobil biasanya mempunyai frekuensi sekitar 1 – 16 Hz.
b. Frekuensi antara 16 – 20.000 Hz (frekuensi pendengaran).
Data hasil percobaan diperoleh kepekaan telinga terhadap frekuensi bunyi antara
16 – 4.000 Hz.

Gambar dibawah ini menunjukan hubungan antara intensitas bunyi dan frekuensi (Hz),
serta nilai ambang pendengaran pada penderita normal.

c. Frekuensi di atas 20.000 Hz.


Frekuensi di atas 20.000 Hz disebut ultrasonik/bunyi ultra. Frekuensi ini dalam bidang
kedokteran dipergunakan dalam 3 hal pengobatan, destruktif/penghancuran dan diagnosis.

 INTENSITAS BUNYI
Energi gelombang bunyi ada 2 yaitu : energi potensial dan energi kinetic. Intensitas
gelombang bunyi (I) yaitu energi yang melewati medium 1 m2/detik atau watt/m2. Apabila
dinyatakan dalam rumus :
I = ½ ρv A2 (2 π f)2 = ½ Z (A)2
ρ = massa jenis medium (Kg/m3)
v = kecepatan bunyi (m/detik)
ρv = Z = impedansi Akustik
A = maksimum amplitudo atom – atom/molekul.
f = frekuensi
W = 2 π f = frekuensi sudut

Intensitas (I) dapat pula dinyatakan sebagai berikut :


I = Po2/ 2 z
Po = perubahan tekanan maksimum (N/m2)

 SKALA DESIBEL (NINEAU BUNYI)


Alexander Graham Bell (1847-1922) guru besar fisiologi di boston, adalah penemu telpon
tahun 1876, melakukan penelitian terhadap suara dan pendengaran, beliau mengatakan suatu
10
bell (nineau suara) = Log I. apabila diperoleh intensitas suatu bunyi adalah 10 kali intensitas
yang lainnya, maka IIo = 10.
Intensitas yang lainnya maka 1/Io = 10
Oleh karena bell merupakan unit yang besar sehingga dipakai decibel (dB).
Hubungannbell dengan decibel dinyatakan 1 bell = 10 dB. Telah diketahui bahwa intensitas (I)
berbanding langsung dengan P2 maka perbandingan antara tekanan dari dua bunyi dapat
dinyatakan sebagai berikut :
10 10 Log P22/P12 = 2010 Log P2/P1
Rumus ini menunjukkan nilai decibel (dB) yang dipergunakan untuk membandingkan dua
tekanan bunyi dalam medium yang sama.

 KEKERASAN BUNYI/NYARING BUNYI


Kekerasan bunyi/nyaring bunyi merupakan bagian dari ukuran bunyi yang merupakan
perbandingan kasar dari logaritma intensitas efektifnya jarak penekanan bunyi yang
mengakibatkan respon pendengaran.
Kenyaringan bunyi tidak berkaitan dengan frekuensi ; kenyataan 30 Hz mempunyai
kekerasan sama dengan 4.000 Hz bahkan mempunyai perbedaan intensitas dengan faktor
1.000.000 atau 60 dB.
Gambar dibawah inimenunjukkan kurva nyaring/kekerasan bunyi pada nilai ambang pada
40 dan 60 phone.

 SIFAT GELOMBANG BUNYI


Gelombang bunyi mempunyai sifat memantul, diteruskan dan diserap oleh benda. Apabila
gelombang suara mengenai tubuh manusia (dinding) maka bagian dari gelombang akan
dipantulkan dan bagian lain akan diteruskan/ditransmisi kedalam tubuh.

Mula – mula gelombang bunyidengan amplitudo tertentu mengenai dinding, gelombang


bunyi tersebut dipantulkan (R). pantulkan tersebut tergantung akan impedansi akustik.
Pernyataan itu ditulis sebagai berikut :
R/Ao = Z1-Z2/Z1+Z2
Z1,2 = impedansi akustik (V) dari kedua media.

 AZAS DOPLER
Apabila sumber bunyi bergerak menjauhi pendengar akan terdapat frekuensi dengan
derajad rendah. Demikian pula apabila pendengar mendekati sumber bunyi akan memperoleh
frekuensi bunyi dengan derajad tinggi, percobaan ini disebut Doppler shift. Sedangkan efek
yang timbul akibat bergeraknya sumber bunyi atau bergeraknya pendengar disebut efek
Doppler.
Apabila diketahui fo = frekuensi mula – mula, sudut ө dari arah sumber bunyi dan
perubahan frekuensi (fd) maka :
fd = 2 fo Vd/Vs Cos ө
v = kecepatan darah v = kecepatan suara

2.2 ULTRASONIK DALAM BIDANG KEDOKTERAN


 PENDAHULUAN
Ultrasonic/bunyi ultra dihasilkan oleh magnet listrik dan “Kristal piezo elektrik” dengan
frekuensi diatas 20.000 Hz.

 MAGNET LISTRIK
Batang ferromagnet diletakkan pada medan magnet listrik maka akan timbul gelombang
bunyiultra pada ujung batang ferromagnet. Demikian pula apabila batang ferromagnet dilingkari
dengan kawat kemudian dialiri listrik akan timbul gelombang ultranik pada ujung batang
ferromagnet
 PIEZO ELEKTRIK
Apabila Kristal piezo elektrik dialiri tegangan listrik maka lempengan Kristal akan
mengalami vibrasi sehingga timbul frekuensi ultra, demikian pula vibrasi Kristal akan
menimbulkan listrik.
 DAYA ULTRASONIK
Apabila ultrasonik yang digunakan untuk diagnostik maka frekuensi yang digunakan
sebesar 1 MHz sampai 5 MHz dengan daya 0,01 W/cm2. Apabila daya ultrasonic ditingkatkan
sampai 1 W/cm2 akan dipakai sebagai pengobatan, sedangkan untuk merusakkan jaringan
kanker dipakai gaya 103 W/cm2.
 PRINSIP PENGGUNAAN ULTRASONIK
Efek Doppler merupakan dasar pengunaan ultrasonic yaitu terjadi perubahan frekuensi
akibat adanya pergerakan pendengaran atau sebaliknya.
Ultrasonic sama dengan gelombang bunyi hanya saja frekuensi yang sangat tinggi dan
mempunyai efek :
a. Mekanik
b. Panas
c. Kimia
d. Efek biologis
 PENGGUNAAN DALAM BIDANG KEDOKTERAN
Berkaitan dengan efek yang ditimbulkan gelombang ultrasonik dan sifat gelombang bunyi
maka gelombang ultrasonik dipergunakan sebagai diagnosis dan pengobatan.

• Ultrasonik Sebagai Pelengkap Diagnosis


Kristal piezo electrik yang bertindak sebagai transduser mengirim gelombang
ultrasonik mencapai pada dinding berlawanan, kemudian gelombang bunyi dipantulkan
dan diterima oleh transduser tersebut pula.
Gambaran yang diperoleh CRT tergantung tehnik yang dipergunakan. Ada 3 macam
metode dalam memperoleh gambaran yaitu :
1) A skaining
2) B skaining
3) M skaining

• Hal – Hal Yang Didiagnosis Dengan Ultrasonik


Sesuai dengan metode skaining yang dipakai maka ultrasonik dapat dipergunakan
untuk diagnosis :
1) A skaining :
Mendiagnosis tumor otak, member informasi tentang penyakit – penyakit
mata.

2) B skaining :
a. Untuk memperoleh informasi struktur dalam dari tubuh manusia, misalnya hati, lambung, usus,
mata dan jantung janin.
b. Untuk mendeteksikehamilan sekitar 6 minggu, kelainan dari uterus/kandung peranakan dan
kasus – kasus perdarahan yang abnormal.
c. Lebih banyak memberi informasi dari pada X-ray dan sedikit resiko yang terjadi.

3) M skaining :
a. Memberi informasi tentang jantung, valvula jantung, pericardical effusion.
b. M skaining mempunyai kelebihan yaitu dapat dikerjakan sembari pengobatan berlangsung
untuk menunjukkan kemajuan dalam pengobatan.
• Penggunaan Ultrasonik Dalam Pengobatan
Sebagaimana telah diketahui bhwa ultrasonic mempunyai efek kimia dan biologi
maka ultrasonic dapat dipergunakan dalam pengobatan. Ultrasonic member efek
kenaikan temperature dan peningkatan tekanan.
2.3 SUARA
 PENDAHULUAN
Suara pada hakekatnya sama dengan bunyi. Hanya saja kata suara dipakai untuk mahluk
hidup atau benda yang dimahlukkan, sedangkan kata bunyi dipakai untuk benda mati. Untuk
lebih jelasnya disajikan beberapa contoh :
 Suara burung
 Suara si slamet
 Suara mobil, disini mobil di mahlukan
 Bunyi gaduh
 Bunyi daun gemersik
 Bunyi alarm
 MEKANISME PEMBENTUKAN SUARA/UCAPAN
Mekanisme pembentuka suara ini akan dibicarakan pada ilmu faal secara lebih mendalam,
sedangkan disini hanya diuraikan secara sepintas saja.
Suara bicara normal merupakan hasil dari modulasi udara yang mengalir keluar dari dalam
tubuh. untuk macam – macam suara, dari paru – paru yang penuh dengan uap udara melalui pita
suara (vocal cords) disebut glottis dan beberapa ruang vocal, udara keluar melalui mulut dan
sedikit melalui hidung pembentukan suara melalui mulut ini disebut bicara.
Laki – laki mempunyai frekuensi suara 125 Hz sedangkan wanita 150 Hz.

2.4 ALAT PENDENGARAN


 PENDAHULUAN
Telinga merupakan alat penerima gelombang suara atau gelombang udara kemudian
gelombang mekanik ini di ubah menjadi pulsa listrik dan diteruskan ke korteks pendengar
melalui saraf pendengaran.

 PEMBAGIAN ALAT PENDENGARAN


Telinga dapat di bagi dalam 3 bagian yaitu, telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.
Telinga luar : terdiri dari daun telinga dank anal telinga, batas telinga luar yaitu dari daun telinga
Sampai dengan membrane tympani.
Telinga tengah : batas telinga tengah mulai dari membrane tympani sampai dengan tuba
Eustachii. terdiri dari 3 buah tulang kecil yaitu os malleulus os incus dan os
Stapes.
Telinga dalam : berada di belakang tulang tengkorak kepala terdiri dari cochlea dan oval window.
 SPESIALISASI DALAM PENDENGARAN/TELINGA
Didalam bidang kedokteran dibagi dalam masing – masing bagian sesuai dengan keahlian.
1. Otologist : seorang dokter yang ahli dalam bidang telinga dan pendengaran.
2. Otolaryngologist : seorang dokter yang ahli dalam bidang penyakit telinga dan opersi
Telinga.
3. ENT specialist : dokter ahli THT yaitu seorang dokter yang ahli dalam hal telinga,
Hidung dan tenggorokan.
4. Audiologist : Seseorang yang bukan dokter, tetapi ahli dalammengukur respon
Pendengaran, diagnosis kelainan pendengaran melalui test pendengaran
Rehabilitasi yang berkaitan dengan hilangnya pendengar.

 TEST PENDENGARAN DAN HILANG PENDENGARAN


• Hilang Pendengar
Ada dua macam hilang pendengaran yaitu hilang pendengaran karena konduksi
(tuli konduksi), hilang pendengaran karena syaraf (tuli syaraf/persepsi)
a. Tuli konduksi : dimana vibrasi suara tidak dapat mencapai telinga bagian bawah.
b. Tuli persepsi : bisa terjadi hanya sebagian kecil frekuensi saja atau seluruh
Frekuensi yang tidak dapat didengar. Tuli persepsi ini sampai
sekarang belum bisa diobati.
• Tes Pendengaran
Untuk mengetahui tuli konduksi atau tuli syaraf dapat dilakukan tes pendengaran
Dengan mempergunakan :
a. Tes suara berbisik/noise box
b. Tes garputala
c. Audiometer

2.5 BISING
 PENDAHULUAN
Bising didefinisikan sebagai bunyi yang tidak dikehendaki yang merupakan aktivitas alam
(bicara, pidato) dan buatan manusia (bunyi mesin).
Bunyi dinilai sebagai bising sangatlah relative sekali, misalnya ; musik ditempat – tempat
diskotik, bagi orang yang biasa mengunjungi tempat itu tidak merasa suatu kebisingan, tetapi
bagi orang – orang yang tidak pernah berkunjung ditempat diskotik akan merasa suatu
kebisingan yang mengganggu.

 PEMBAGIAN KEBISINGAN
Berdasarkan frekuensi, tingkat tekanan bunyi, tingkat bunyi dan tenaga bunyi maka bising
dibagi dalam 3 kategori :
1. Audible noise (bising pendengaran)
Bising ini disebabkan oleh frekuensi bunyi antara 31,5 – 8.000 Hz.
2. Occupational noise (bising yang berhubungan dengan pekerjaan)
Bising ini disebabkan oleh bunyi mesin ditempat kerja, bising dari mesin ketik.
3. Impuls noise (impact noise = bising impuls)
Bising yang terjadi akibat adanya bunyi yang menyentak.

 PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN


Pengaruh utama dari kebisingan adalah kerusakan pada indera pendengar dan akibat ini
telah diketahui dan diterima umum. Kerusakan atau gangguan system pendengaran dibagi atas
 PENCEGAHAN KETULIAN DARI PROSES BISING
Prinsi pencegahan ketulian dari proses bising adalah menjauhi dari sumber bising. Untuk
tujuan itu dapat dilakukan dengan cara :
1. Mesin atau alat – alat yang menghasilkanbising diberikan cairan pelumas.
2. Membuat tembok pemisah antara sumber bising dengan tempat kerja.
3. Pekerja – pekerja diharapkan memakai pelindung telinga seperti ear muff/penutup telinga.

 PARAMETER KEBISINGAN
Macam – macam bising mencakup parameter dasar dan parameter turunan yaitu :
- Parameter dasar :
a. Frekuensi, dinyatakan dalam hertz yaitu siklus perdetik.
b. Tekanan bunyi dinyatakan dalam watt yaitu energy pancaran bunyi total.
c. Tekanan bunyi, dinyatakan dalam mikropal (uPa), yaitu intensitas sebagai akar dari kuadrat
amplitudo.

- Parameter turunan
a. Tingkat tekanan bunyi
Dinyatakan dalam dB, yang menyatakan tingkat dalam frekuensi yang berkaitan
dengan tekanan bunyi.
b. Tingkat bunyi
Sama dengan dB yang mana menunjukkan tingkat linieritas.
 PERALATAN DAN METODOLOGI DALAM MENDETEKSI BISING
Peralatan dan metodologi yang dipergunakan dalam menentukan tingkat kebisingan sangat
erat kaitannya, untuk mencapai tujuan dan hasil yang diharapkan perlu mengetahui peralatan
yang berkaitan dalam menentukan kebisingan.
• Peralatan
Salah satu alat – alat yang dipakai dalam labolatorium dan kegunaan dalam survey
kebisingan adalah :
- Tape recorder
- Real time analyser
- Impulse noise meter
- Noise dose meter

• Metode pengukuran bising


Maksud mengukur kebisingan adalah :
a. Memperoleh data kebisingan dimana saja.
b. Untuk mengurangi tingkat kebisingan agar tidak menimbulkan gangguan.
Alat utama dalam pengukuran kebisingan adalah sound level. Alat ini untuk mengukur
kebisingan antara 30-130 dB dari frekuensi 20-20.000 Hz.

2.6 VIBRASI
 PENDAHULUAN
Vibrasi adalah getaran dapat disebabkan oleh getaran udara atau getaran mekanis.
Vibrasi dapat dibedakan dalam dua bentuk :
a. Vibrasi karena getaran udara yang pengaruhnya terutama pada akustik.
b. Vibrasi karena getaran mekanis mengakibatkan timbulnya reonansi/turut bergetarnya alat – alat
tubuh dan berpengaruh terhadap alat – alat tubuh yang sifatnya mekanis pula.

• Penjalaran Vibrasi Udara Dan Efek Yang Timbul


Vibrasi udara karena benda bergetar dan diteruskan melalui udara akan mencapai
telinga.getaran dengan frekuensi1-20 Hz tidak akan terjadi gangguan pengurangan
pendengaran tetapi pada intensitas lebih dari 140 dB akan terjadi gangguan vestibuler
yaitu gangguan orientasi.

• Penjalaran Vibrasi Udara Dan Efek Yang timbul.


Penjalaran vibrasi mekanik melalui sentuhan/kontak dengan permukaan benda
yang bergerak. Sentuhan ini melalui daerah yang terlokalisasi(tool-hand vibration) atau
mengenai seluruh tubuh (whole body vibration).

 EFEK VIBRASI TERHADAP TANGAN


Alat –alat yang dipakai akan bergetar dan getaran tersebut disalurkan pada tangan.
Getaran – getaran pada waktu singkat tidak berpengaruh pada tangan tetapi dalam jangka
waktu cukup lama akan menimbulkan kelainan pada tangan berupa :
a. Kelainan pada syaraf dan peredaran darah.
b. Kerusakan – kerusakan pada persendian tulang.

 SIKAP TUBUH TERHADAP TEKANAN MEKANIS


Badan merupakan susunan elastis yang kompleks dengan tulang sebagai penyokong alat –
alat dan landasan kekuatan serta kerja otot. Kerangka, alat – alat urat dan otot memiliki sifat
elastis yang bekerja secara serentak sebagai peredam dan penghantar getaran.

 MENCEGAH GETARAN MEKANIS


Getaran suatu benda dapat dihindari dengan meletakkan bahan peredam dibawah benda
yang bergetar. Bahan peredam harus jauh lebih rendah frekuensinya dari frekuensi getaran
benda. Frekuensi dari bahan peredam sebaiknya 1 Hz.
Selain itu tempat duduk atau alas kaki diletakkan bahan peredam. Tebal tempat duduk dan
alas kaki sangat menentukanbesar redaman.
BAB III
PENUTUP
 KESIMPULAN
Bunyi, ultrasonic dalam bidang kedokteran, suara, alat pendengaran, bising dan vibrasi
merupakan dari bioakustik. Bioakustik ini meliputi suara dan suatu getaran

 SARAN
Saran yang dapat penulis tuliskan disini semoga makalah mengenai bioakustik ini dapat
bermanfaat dalam pembelajaran mahasiswa dan semoga bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. J. F. Gabriel 1988 Fisika Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Denpasar