Anda di halaman 1dari 24

I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini pertambahan jumlah penduduk sangatlah pesat, hampir di setiap
wilayah di dunia ini jumlah penduduk terus berkembang. Seiring dengan
perkembangannya jumlah penduduk maka hal ini berdampak pada makin
meningkatnya juga kebutuhan pangan di berbagai wilayah, khususnya di wilayah
Indonesia.
Maka untuk menangani permasalah tersebut, diperlukan pengoptimalisasian
sumber-sumber pangan di Indonesia salah satunya adalah sumber pangan protein
yang berasal dari hewan ternak. Namun sampai sekarang permasalahan
pemenuhan sumber pangan yang berasal dari hewani ini masih belum terpenuhi,
karena adanya berbagai masalah salah satunya pakan. Sampai saat ini banyak
sekali hewan ternak yang kondisinya kurang optimal karena kekurangan pakan.
Salah satu jenis pakan yang dapat dimanfaatkan adalah pakan yang berasal dari
hijaun kering (hay). Oleh karena itu, makalah ini berisi informasi yang berkaitan
dengan hijauan kering (hay) sebagai salah satu pakan ternak.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu pengertian hay.
2. Bagaimana sejarah ditemukannya hay.
3. Apa saja metode pembuatan hay.

4. Apa saja jenis hijauan yang bisa dijadikan hay.


5. Bagaimana penyimpanan hay.
6. Bagaimana kualitas hay yang baik.
7. Apa saja keuntungan dan kerugian hay.
8. Bagaimana cara membuat hay.
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa itu pengertian hay
2. Mengetahui bagaimana sejarah ditemukannya hay
3. Mengetahui metode pembuatan hay
4. Apa saja jenis hijauan yang bias dijadikan hay.
5. Bagaimana penyimpanan hay.
6. Mengetahui bagaimana kualitas hay yang baik
7. Mengetahui apa saja keuntungan dan kerugian hay
8. Mengetahui bagaimana cara membuat hay.

II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hijauan Kering (hay)


Hijauan kering (hay) adalah hijauan pakan ( forages) pada umumnya dari
rerumputan atau kacang-kacangan (legum) meskipun ada juga yang dibuat dari
tanaman biji-bijian (crop) yang sengaja dikeringkan untuk cadangan makanan
ternak. Hijauan dipotong pada saat sebelum berbunga sehingga kandungan nutrien
menjadi tinggi. Hijauan pakan setelah dipotong sengaja dikeringkan sehingga
yang semula berkadar air sekitar 80% menjadi sekitar 10-20%. Hay adalah
tanaman hijauan yang di awetkan dengan cara di keringkan dibawah sinar
matahari kemudian di simpan dalam bentuk kering dengan kadar air 12%-30%.
Tujuan pembuatan hay adalah agar tanaman hijauan (pada waktu panen yang
berlebihan) dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu sehingga dapat mengatasi
kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau.
Untuk memperoleh hay yang baik kadar air hijauan harus diturunkan sampai
titik terendah. Karena kandungan airnya rendah, tidak lagi terjadi respirasi dan
fermentasi. Akibatnya hijauan pakan yang telah dikeringkan menjadi hijauan
kering tersebut menjadi tahan lama untuk disimpan tanpa perubahan nilai gizi
yang signifikan. Hay rata-rata mengandung serat kasar antara 25-35% dan Total
Digestible Nutrien (TDN) 45-55% (persen kering udara atau asfeed basis).
Menurut perry (1979) pada bembuatan hay pengeringan merupakan hal yang
penting karena kadar air yang tinggi akan menyebabkan berjamur atau terjadi
pemanasan (heating). Jika hay berjamur, nilai makanan akan berkurang atau
bahkan menjadi tidak berguna sama sekali.

Prinsip dari pengeringan yaitu menurunkan kandungan air sehingga aman


untuk disimpan dalam arti dapat menghentikan/menghambat aktifitas dari
tumbuhan itu sendiri dan enzim dari mikrobia yang terdapat didalarnnya dan
menurunkan kandungan air sehingga aman untuk disimpan. Merupakan metode
konservasi yang banyak dilakukan (mencapai 20% dari total produksi hijauan di
negara maju) dan pengelolaan relatif sederhana dan mudah dilakukan.
2.2 Sejarah Pembuatan Hay
Menurut Schroeder (2004), selama petani masih mengerjakan tanah dan
melakukan pemeliharaan ternak, pembuatan hay merupakan salah satu pekerjaan
yang harus dipikirkan dan harus dikerjakan. Pada waktu itu, pembuatan hay
merupakan pekerjaan yang sepenuhnya dilakukan menggunakan tangan.
Pengunjung Pennysylvania Agriculture dapat melihat sejarah pembuatan hay
dengan jelas betapa banyak tenaga yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut.
Gambaran pengolahan hay di Pennysylvania antara tahun 1640-1940 didasarkan
pada penelitian yang dilakukan John Baylor, profesor agronomi di Pennyslvania
State dan Ketua Komite Pameran Hay pada 2006 di Pasto Agricultural Museum.
Oleh karena itu, pada awal tahun 1700-an pembuatan hay merupakan yang tidak
disukai oleh peternak.
Kemudian pada tahun yang sama diperkenalkan clover merah, clover putih, dan
timothy dari Eropa untuk ditanam kemudian dibuat hay. Pada awal penanaman,
benih ditebar diatas tanah tanpa dibajak dan dicampur pupuk kandang. Pada tahun
ini hay sebagian besar terbuat dari timothy dan clover merah. Pada waktu itu,
bluegrass dan yegrass juga ditanam

di Pensilvania untuk pertama kalinya.

Menurut penelitian Baylor, tidak sampai tahun 1790 telah ada peningkatan

produksi hay yang signifikan. Pasaran sapi pedaging pada waktu itu sebagi
pendorong (pemicu) karena sapi-sapi diberi pakan hay terbaik yang dihasilkan
petani Pennyslvania.
Kemajuan besar dalam peralatan pertanian selama decade terakhir dari abad ke18 menyebabkan kenaikan areal pembuatan hay di Amerika Serikat.Pada tahun
1820 mesin potong dikenalkan di AS, tetapi tidak berhasil. Alat pengumpul (rake)
hay dari kayu yang ditarik kuda juga diperkenalkan dan hay tidak selalu
seluruhnya dibuat menggunakan tangan. Pada tahun 1840, hay dari clover dan
timothy telah dinyatakan sebagai salah satu tanaman yang paling menguntungkan
di Pennyslvania. Tetapi tetap saja petani masih tidak menginginkan membuat hay
walaupun ada alat pengumpul dari kayu, karena pemotongan rumput masih disabit
oleh tangan.
Kemudian dimulai tahun 1840, kuda dan sapi mengambil alih pekerjaan yang
secara historis dilakukan oleh manusia.Alat penyemaian juga ditingkatkan dan
alat pengumpul dibuat dari baja bergigi. Mesin pemotong rumput yang ditarik
oleh kuda berhasil mengepres hay pada tahun 1845. Penggunaan tenaga kuda
untuk memotong hay menjadikan peternak dapat memanen 7-10 kali lebih banyak
daripada menggunakan tenaga manusia.
Selain perbaikan pembuatan hay dilapangan, Baylor juga menemukan
kemajuan pembuatan hay seperti dibangunnya lumbung untuk menyimpan
hay.Baja bergigi untuk menaikkan hay diperkenalkan pada tahun 1860 dan juga
ditemukan penebar (tedder) hay.Pada tahun 1865 garpu pengumpul hay ke gudang
dikembangkan dan pada tahun 1875 dibuat pengangkat (loader) hay.

Pada tahun 1905 traktor berbahan bakar bensin diperkenalkan dan pada tahun
1925 mulai digunakan untuk menggatikan tenaga kuda. Kemajuan setelah
pertengahan 1900-an telah pesat dan peralatan yang semakin baik. Di Indonesia
terutama Jawa pengeringan masih terbatas pada hasil sisa tanaman pertanian
terutama jerami padi dan jerami kacang tanah.Hasil pengeringan disimpan dalam
gudang sebagai cadangan bahan pakan saat musim kemarau sampai awal musim
hujan.
2.3 Cara Pembuatan Hay
Bahan Baku Hay :
a. Rumput
b. Tanaman bebijian (cerealia)
c. Legume (kacang-kacangan)
d. Tanaman lain selain rumpu dan legume,
e. Hasil sisa tanaman pertanian, dan
f. Hasil sisa tanaman perkebunan.
Bahan pakan yang biasa digunakan untuk pembuatan hay adalah segala
macam hijauan yang di sukai oleh ternak ruminansia. Syarat hijauan untuk dibuat
hay:
a. Berasal dari tanaman (hijauan) yang belum tua (menjelang berbunga)
b. Kandungan karbohidrat mudah larut tinggi
c. Kandungan protein sedang sampai tinggi
d. Tidak banyak tercampur hijauan yang tidak dikehendaki (weed)
e. Bertekstur halus atau yang berbatang halus agar mudah kering

f. Hijauan (tanaman) yang akan dibuat hay dipanen dari area yang subur.
Adapun tanda-tanda hijauan yang baik untuk dibuat hay, antara lain: batang
masif (padat), batang tidak daging, batang kecil, dan berdaun banyak. Alat dan
bahannya antara lain:
a. Bahan-bahan:
Rumput yang berbatang halus sehingga mudah dikeringkan. (jerami
jagung,jerami padi dll).
b. Alat:
1. Sabit rumput/gunakan mesin pemanen rumput.
2. Pelataran untuk menjemur rumput dan rak untuk menghamparkan rumput
yang akan dikeringkan.
3. Alat pengukur kandungan air hay (Delmhorst digital hay meter andbale
sensor).
4. Gudang untuk menyimpan hay.
5. Tali untuk mengikat hay yang sudah kering.

2.4 Jenis Hijauan yang dapat dibuat Hay


Banyak sekali hijauan yang dapat dijadikan hay, salah satu contohnya adalah
sebagai berikut:
a. Rumput Bede
Rumput Brachiaria decumbens(bede) disebut juga rumput signal
berasal dari Afrika timur.Brachiaria decumbens mempunyai ciri-ciri,
tinggi tanaman 30-45 cm, daun kaku dan pendek, ujung daun meruncing,

mudah

berbunga,

bunga

berbentuk

seperti

bendera. Brachiaria

decumbens disebut rumput gembalaan yang tumbuh menjalar dengan


stolon membentuk hamparan yang lebat. Rumput bede termasuk rumput
berumur panjang, dapat tumbuh dengan membentuk hamparan lebat dan
penyebarannya

sangat

cepat

melalui

stolon.

Rumput

bede

tahan

penggembalaan berat, tahan injakan dan renggutan serta tahan kekeringan dan
responsif terhadap pemupukan nitrogen. Selain itu rumput ini juga cepat
tumbuh dan berkembang sehingga mudah menutup tanah, tetapi tidak tahan
terhadap genangan air. Rumput ini merupakan bahan hay yang balk, karena
batangnya kecil mudah menjadi kering. Rumput bede dapat tumbuh baik pada
ketinggian 0-1200 m (dataran rendah sampai dataran tinggi) dengan curah
hujan 762-1500 mm/tahun, kemasaman tanah (pH) 6-7 (Kismono dan
Susetyo, 1977).
Di Indonesia rumput bede banyak dijumpai di pinggir jalan, pinggir
selokan, lapangan, pematang sawah dan di tempat-tempat lainnya yang
berbatu. Perkembangbiakan rumput bede di Indonesia sebenarnya sudah
tersebar luas, namun pengembangan secara budidaya dan secara ekonomis
masih sangat terbatas dibandingkan dengan pengembangan rumput raja (king
grass) dan rumput gajah (elephant grass) yang sudah dikenal lebih dahulu oleh
petani peternak. Jarak tanam yang sering digunakan untuk penaman rumput
bede adalah 30x30 cm atau 40x40cm (Akk, 1983)
Kandungan

isi

sel

rumput

Bede

mengalami

menurun

dengan

meningkatnya tingkat kedewasaan tanaman, sedangkan kandungan fraksi serat


(NDF, ADF, dan Lignin) meningkat dengan meningkatnya tingkat kedewasaan
tanaman. Kualitas serat terbaik ditunjukkan oleh hijauan rumput Bede yang

dipotong pada umur 30 hari, dan pemotongan rumput masih tetap dapat
dilakukan sampai umur 40 hari. Keistimewaan rumput ini adalah tahan hidup
di musim kemarau (tahan kering), selain itu karena mempunyai perakaran
yang sangat kuat dan cepat menutup tanah sehingga dapat mengurangi erosi
(Siregar, 1987).
Pemotongan atau penggembalaan pertama dapat dilakukan setelah
tanaman rumput bede berumur 2 bulan bila keadaan memungkinkan (cukup
hujan) dengan tujuan untuk meratakan dan merangsang pertumbuhan akar
tanaman. Pemotongan/penggembalaan berikutnya dilakukan setiap 5-6
minggu (40 hari) pada musim hujan, sedangkan musim kemarau diperpanjang
sampai 8 minggu (60 hari). Tinggi potong rumput bede biasanya 5-15 cm dari
permukaan tanah pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau
biasanya lebih dari 15 cm dari permukaan tanah.
Kandungan protein kasar dan serat kasar pada berbagai taraf pemotongan
dilaporkan oleh Siregar dan Djajanegara (1972) adalah, 13,8% dan 29,69%
pada pemotongan 20 hari, 8,86% dan 30,63% pada pemotongan 30 hari, 6,24
dan 33,27 pada pemotongan 45 hari serta 5,90 dan 34,1 pada pemotongan 60
hari. Hasil tersebut menunjukkan bahwa protein kasar pada Brachiaria akan
cenderung menurun dan serat kasar akan meningkat sesuai dengan
bertambahnya umur potong rumput.
b. Rumput African Stargrass
Rumput star grass berasal dariAfrika Timur, bahan penanaman adalah pols
dan stolon. dapat hidup pada semua jenis tanah (ringan, sedang dan berat).
Ketinggian yang cocok dalah dataran rendah. Curah hujan adalah 500-800
mm/tahun. Rumput ini tumbuh tegak dan menjalar; pada bagian stolonnya

tumbuh rapat dengan tanah dan pada buku stolonnya tumbuh akar yang kuat,
sehingga rumput ini tahan injak dan renggut. Tanaman ini sangat baik sebagai
rumput gembalaan, dan bisa membentuk hamparan. Rumput ini sangat bagus
dipergunakan sebagai rumput penggembalaan dan bisa menahan erosi di
lereng-lereng. Rumput ini tidak dapat tumbuh pada tanah yang tergenang dan
kekurangan nitrogen.
Jarak tanam rumput star grass sekitar 90x90 cm dan dapat ditanam
bersama leguminosa. McIrlloy (1977) bahwa pertanaman campuran rumput
dan leguminosa biasanya lebih produktif dari pada bila ditanam sendirisendiri, dan peningkatan kandungan protein kasar akan terjadi bila fiksasi
nitrogen udara oleh bakteri rhizobium berjalan efektif. Seperti pada
penelitiaanya (Tidi dkk., 2006) yang berjudul Imbangan Rumput Afrika
(Cynodon Plectostachyus) dan Leguminosa Sentro (Centrosema Pubescans)
dalam Sistem Pastura Campuran terhadap Produksi dan Kualitas Hijauan
Bahwa Imbangan pertanaman campuran antara rumput afrika (Cynodon
plectostachyus) dan kacang sentro (Centrocema pubescans) menunjukkan
adanya peningkatan produksi segar, produksi bahan kering, kandungan protein
kasar, dan kandungan kalsium hijuan. Namun pada kandungan fosfor hijauan
tidak terlihat adanya peningkatan.
Apabila rumput ini sebagai rumput penggembalaan harus dilakukan
defoliasi dalam interval pendek, sebab nilai gizinya lekas menurun dan juga
dilakukan pengelolaan yang intensif dengan cara membuat paddocks dan
rotasi. Paddocks digunakan sebagai pastura kurang lebih selama 3-4 hari dan
diistirahatkan selama 21-28 hari. Susetyo et al. (1969) menyatakan bahwa
pemotongan pertama dari Rumput Afrika adalah 6080 hari setelah

10

penanaman. Tinggi pemotongan adalah 5 cm diatas permukaan tanah. hasil


panen tersebut kemudian ditimbang tanpa memisahkan bagian rumput dan
legumnya.
African star grass dapat berproduksi sebanyak 47,0-55,6 ton/ha/tahun,
dengan pemberian 150 atau 300 kg nitrogen/ha/tahun dan interval pemanenan
selama 21 hari. Kandungan nutrien African stargrass adalah 32% bahan
kering; 3,4% abu; 0,6% lemak kasar; 9,6% serat kasar; 15,4% BETN; dan
2,8%

protein

kasar.

DE

atau Digestible

Energy dari

rumput African

star adalah 10,66 MJ per kg bahan kering, satu joule sama dengan 0,24 kal,
maka 10,66 MJ sama dengan 2,56 Mkal.
c. Rumput Benggala
Rumput benggala (Paniccum maximum) merupakan rumput yang berasal
dari Afrika dan diintroduksikan ke berbagai negara di dunia Rumput ini selain
sebagai tanaman padang pengembalaan dapat juga dijadikan bahan ternak
berupahay dan silase .

2.5 Metode Pengeringan dalam Pembuatan Hay


a. Metode Hamparan
Merupakan metode sederhana, dilakukan dengan cara meghamparkan
hijauan yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari.
Setiap hari hamparan di bolak-balik hingga kering. Hay yang dibuat
dengan cara ini biasanya memiliki kadar air: 20 30% (dapat dilihat dari:
warna kecoklat-coklatan).
b. Metode Pod

11

Dilakukan dengan menggunakan semacam rak sebagai tempat menyimpan


hijauan yang telah dijemur selama 1 3 hari (kadar air 50%). Hijauan
yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (karena berkadar
protein tinggi, serat kasar dan kandungan air optimal), sehingga hay yang
diperoleh tidak berjamur (tidak berwarna gosong) yang akan
meningkatkan palatabilitas dan kualitas.

2.6 Penyimpanan Hay


Bangunan gudang yang baik merupakan cara terbaik karena dapat melindungi
hay sampai tiga tahun. Kadar air yang ideal untuk menyimpan hay tergantung
pada beberapa factor, tetapi yang sering dilakukan adalah 18-22%. Kerusakan hay
dapat terjadi karena pertumbuhan mikroorganisme dan jamur. Jika hay disimpan
pada kadar air lebih dari 20%, pembusukan oleh mikroorganisme akan terjadi.
Perubahan yang sering terjadi selama penyimpanan hay ialah pemucatan
warna karena pengaruh cuaca, yang secara tidak langsung dapat diasosiasikan
kerusakan pada karoten yang merupakan provitamin A. selain itu, jamur akan
tumbuh apabila saat disimpan kadar air hay kurang rendah.
Ada beberapa cara menyimpan hay, antara lain: disimpan dalam keadaan
terurai, biasanya dilakukan pada hay utuh dengan kadar air 25%. Disimpan dalam
bentuk gulungan, dilakukan pada hay dengan kadar air 20-22%. Disimpan dalam
keadaan sudah dicincang, , dilakukan pada hay dengan kadar air 18-22%.
Disimpan dalam kepakan berbentuk balok, , dilakukan pada hay dengan kadar air
16-17%.
Kehilangan nutrien yang lebih lanjut akan terjadi pada hay yang disimpan di
dalam gudang pada kondisi kandungan air yang berlebih. Kelebihan kandungan

12

air dapat menyebabkan terjadinya proses fermentasi yang mengakibatkan


meningkatnya temperatur sehingga menghasilkan pembakaran spontan.
Hay yang disimpan pada kondisi temperatur 36oC dengan kandungan air 18%
menyebabkan penurunan se kitar 8%. Hay kadar air 16% sedikit pe ningkatan
temperatur, air 25% mema nas mencapai 45oC, hay basah deng an kadar air 40%
panas mencapai 60-65oC mengandung jamur thermophilik.

2.7 Kualitas Hay


Kualitas hay biasanya ditetapkan dari jumlah dan kandungan nutrisinya
(Bates, 2011). Secara tradisional hay yang berkualitas baik menurut para peternak
kuda, ditandai hal-hal sebagai berikut : a. Harus masih berwarna hijau (mendekati
warna aslinya), b. Tidak kotor dan tidak berjamur, c. Berbatang sedikit dan
berdaun banyak, d. Tidak mengandung tanaman pengganggu atau gulma (weed),
e. Tidak terdapat serangga, f. Tidak pernah kehujanan, g. Mengandung paling
sedikit 70 % alfalfa atau legume yang lain (Russel dan Johnson, 2007).
Spesies tanaman yang dibuat hay dan proporsinya atau lebih tepat disebut
botanical composition menentukan kualitas hay yang dibuat. Hay campuran dari
rumput dan legume kualitasnya lebih tinggi daripada hay rumput (Bates, 2011).
Semakin banyak atau besar persentase legume dalam hay campuran, nila
nutrisinya akan semakin tinggi sehingga kualitas hay semakin baik. Hal ini karena
dipandang dari segi nutrisinya (terutama protein dan kalsium), hijauan yang
berasal dari legume lebih baik daripada rumput.
Kualitas hay dapat ditentukan di laboratorium dengan analisis kimia, untuk
mengetahui komposisi kimianya, terutama kandungan serat kasar, dinding sel dan

13

proteinnya. Selain ditinjau dari komposisi kimianya, kualitas hay dapat ditentukan
berdasarkan pengamatan fisik. Namun demikian, bagaimanapun juga, menurut
Bates (2011)sebenarnya performa (kinerja/performance) ternak yang diberi pakan
hay-lah yang merupakan tolak ukur utama kualitas hay. Kualitas hay dianggap
memuaskan jika ternak yang mengkonsumsi tampil seperti yang diinginkan. Tiga
factor yang memengaruhi kinerja ternak : a. Hay harus palatable atau paling tidak
aseptabel jika harus dikonsumsi dalam jumlah yang banyak untuk menghasilkan
kinerja seperti yang diinginkan, b. Kecernaan dan kandungan nutrisi hay harus
dapat menyediakan kebutuhan ternak untuk dikonversi menjadi produk-produk
hewani, dan Hay harus bebas dari zat atau komponen yang membahayakan atau
memengaruhi kesehatan ternak.
Kualitas hay sangat dipengaruhi oleh kualitas awal, yaitu kondisi hijauan
pakan yang akan dibuat hay dan proses pengeringannya. Ada beberapa factor yang
memengaruhi kualitas hay, beberapa diantaranya dapat dimanipulasi oleh
produsen hay (pembuat hijauan kering) antara lain : a. jenis tanaman, b. umur
pemotongan, c. penanganan, d. pemupukan dan d. kualitas benih hijauan pakan
(Bates, 2011). Kualitas hay dipengaruhi oleh jenis tanaman, varietas tanaman,
gulma, kerusakan karena serangga, penyakit, cuaca pada saat panen dan teknik
pemanenan. Dua factor yang paling berpengaruh terhadap kualitas hay yang dapat
ditangani produsen ialah pemupukan dan umur pemotongan hijauan. Pemupukan
nitrogen (N) akan menaikan kandungan protein hay. Pemupukan unsur lain,
seperti kalium, fosfor/ phosphorus (P), magnesium (Mg), dan sulfur (S) juga dapat
memengaruhi jumlah dari unsur-unsur tersebut dalam hijauan.

14

Tingkat pemupukan tergantung pada hasil analisis hara tanah yang mestinya
dilakukan analisis secara berkala setiap 2-3 tahun. Pemupupan juga dapat
meningkatkan palatabilitas hay sehingga memengaruhi kinerja hewan dengan
meningkatkan asupan nutrisi. Factor yang paling memengaruhi kualitas hay ialah
umur panen karena berpengaruh pada palatabilitas, kadar protein kasar, dan
energy dapat dicerna (digestible energy/DE). Secara umum, agar diperoleh hay
yang berkualitas baik adalah memperhatikan umur potong. Pemotongan untuk
dibuat hay dilakukan pada saat awal berbunga untuk tanaman legume dan
menjelang tanaman berbunga untuk rumput (Bell, et al, 2006).
Cuaca pasca pemotongan hijauan pakan yang akan dibuat hay, yaitu saat
pengeringan secara alami sangat berpengaruh pada kualitas hay yang akan
dihasilkan, cuaca jelek akan menghasilkan kualitas hay yang rendah. Pembalikan
saat pengeringan karena seringnya dapat merontokan daun dan terjadi pencucian
nutrisi yang dikandung hijauan pakan selama pengeringan.Sinar matahari dapat
menurunkan kandungan pro vitamin A karena terjadi pemucatan warna dari
hijauan pakan. Pengumpulan hay yang terlalu kering dapat juga menyebabkan
kerontokan daun (Bates, 2011).
Kualitas hay, antara lain ditentukan atau dipengaruhi oleh: a. Umur
pemotongan hijauan, b. Keadaan daun yaitu rasio antara batang dan daun, c.
Warna hay, d. Kelembutan hay dan e. banyak sedikitnya kotoran atau gulma
(weed), atau bahkan benda asing dalam hay.
a. Umur pemotongan hijauan

15

Paling tidak ada tiga tujuan pokok dalam memproduksi hijauan pakan dari
suatu lahan yaitu a. memaksimalkan produksi bahan kering per hectare, b.
memaksimalkan produksi protein kasar per hectare, dan c. meminimalkan
kandungan serat kasar dan dinding sel per unit bahan kering. Akan tetapi,
keadaan tersebut dapat dapat dikatakan tidak mungkin dilakukan, yaitu
mengombinasikan tiga tujuan tersebut untuk memaksimalkan produksi
bahan kering dan protein kasar per hectare, diikuti meminimalkan
kandungan serat kasar dan dinding selnya.Umur pemotongan hijauan
harus mendapat perhatian karena sangat menentukan kualitas hijauan yang
dihasilkan. Dengan demikian perlu dicari umur pemotongan hijauan yang
tepat untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Pemotongan

sangat

awal

(tanaman

masih

sangat

muda)

akan

menghasilkan bahan pakan yang kandungan protein, vitamin, mineral, dan


kecernaan yang tinggi, tetapi bahan keringnya rendah sehingga
menghasilkan produksi bahan kering yang rendah. Pemotongan sebaiknya
dilakukan pada saat tanaman menjelang berbunga. Bates (2011)
memberikan contoh bahwa kandungan protein kasar (PK), acid detergent
fiber (ADF), dan kecernaan dipengaruhi oleh umur pemotongan, hay yang
dibuat dari alfalfa yang dipotong saat menjelang berbungan kandungan
protein kasarnya 21,1%, sedangkan yang dipotong dari yang telah
berbunga penuh kadar protein kasarnya telah turun menjadi 16,3%
kandungan protein kasar tentu akan lebih turun lagi jika tanaman sudah
berbiji.

16

Pada saat umur tanaman bertambah produksi bahan kering naik, tetapi
akan diikuti naiknya kandungan serat kasar, turunnya kandungan protein,
vitamin dan mineral per unit bahan kering sehingga semakin tua umur
tanaman hijauan yang dihasilkan akan semakin rendah kualitasnya. Oleh
karena itu, kualitas hijauan bahan dasar hay yang didasarkan pada umur
pemotongan sangat menentukan kualitas hay yang akan dihasilkan.
b. Keadaan daun
Keadaan daun, yaitu banyak sedikitnya daun (rasio batang dengan daun)
sangat menentukan kualitas hay. Semakin banyak daun dibandingkan
batang, kualitas hay dinyatakan semakin baik. Hal ini disebabkan oleh
kandungan nutrisi dalam daun lebih tinggi daripada dalam batang.
Kerontokan daun banyak terjadi karena pemanasan yang berlebihan atau
sering dibalik pada saat pembuatan hay yang disebabkan oleh cuaca jelek.
Kerontokan daun kebanyakan terjadi pada hay yang dibuat dari jenis
leguminosa, misalnya alfalfa, centrosema, calopo, dan stylo, sedangkan
pada hay yang dibuat dari rerumputan jarang terjadi.

c. Warna
Warna hay yang dihasilkan ikut menentukan kualitas karena semakin pucat
berarti semakin besar kerusakan yang terjadi pada provitamin A
(Carotene). Pemucatan warna hay dapat terjadi karena panas terlalu tinggi
atau terlalu lama dilapangan karena hay tidak segera dibawa atau

17

dimasukkan ke gudang. Pemucatan warna terjadi Karena terlalu lama kena


sinar matahari atau tidak kunjung kering yang disebabkan cuaca jelek.
d. Kelembutan
Tingkat kelembutan hay yang digunakan sebagaipenentu kualitas. Semakin
kasar hay sebagai petunjuk saat pembuatan terjadi pemanasan yang
berlebihan. Pemanasan yang berlebihan pada hay dapat menyebabkan
kerusakan daun atau rontoknya daun, yang langsung menurunkan kualitas
karena berhubungan dengan kehilangan nutrisi yang cukup besar.
e. Banyak sedikitnya kotoran
Kotoran yang dimaksud ialah benda-benda asing termasuk tanaman gulma
(weed) yang berpotensi menurunkan kualitas hay. Oleh karena itu, banyak
sedikitnya kotoran dalam hay digunakan sebagai pinalty atau pengurangan
nilai sebagai denda.Semakin banyak kotoran yang terdapat dalam hay,
pengurangan nilai semakin besar. Pengurangan nilai ini tidak berlaku atau
tidak dilakukan jika hay yang dibuat memang merupakan campuran dari
rumput dengan legume yang membelit, misalnya centrosema. Keberadaan
legume dalam hay bukan merupakan gulma, melainkan malah menaikkan
kualitas. Benda-benda asing yang sering terdapat dalam hay ialah bekas
tali-temali baik dari logam maupun bukan.

18

2.8 Keuntungan-Kerugian Pembuatan Hay


Keuntungan pembuatan hay, antara lain:
a. Mudah membuatnya
b. Tidak membutuhkan tenaga dan peralatan yang banyak
c. Pemberian hay pada ternak tidak membutuhkan adaptasi
d. Hay yang dihasilkan, langsung dapat diketahui kualitasnya
e. Hay dapat disimpan lama atau dibawa ke tempat yang jauh sebagai
bekal perjalanan, misalnya dalam kapal agkutan antarpulau atau
bahkan antarbenua
f. Hay kadang-kadang dibutuhkan untuk menyuplementasi ternak yang
berisi silase yang berkadar air tinggi
g. Hay yang berkualitas tinggi yang dibuat dari legume dapat digunakan
sebagai pakan untuk mengurangi pemberian konsentrat
h. Hay dapat digunakan untuk menstimulasi (mempercepat) pertumbuhan
rumen pada pemeliharaan pedet, dan
Kerugian dari hay, antara lain :
a. Sangat tergantung pada cuaca, pada cuaca yang jelek (banyak turun
hujan)

dapat dipastikan akan dihasilkan hay yang jelek atau

berkualitas rendah
b. Apabila kurang kering saat pembuatannya, dalam penyimpanan dapat
berjamur, terjadi penangasan (heating), atau bahkan terjadi kebakaran
spontan (spontaneous combustion)

19

c. Terjadi penurunan nutrisi (zat makanan)atau lebih dikenal dengan


istilah penurunan nutrisi yang cukup berarti terutama pada pro vitamin
A dan karbohidrat mudah larut
d. Jika pengeringan dilakukan diladang, akan mengganggu pekerjaan
selanjutnya.

20

III
KESIMPULAN
1. Hay merupakan hijaun kering pakan yang dapat digunakan sebagai sumber
pakan untuk ternak khusunya ternak ruminansia.
2. Sejak awal ditemukan cara pembuatan hay, manusia tidak banyak
memanfaatkan metode hay karena banyak menggunakan tenaga manusia.
Tetapi seiiring dengan berkembangnya teknologi, pembuatan hay menjadi
sangat mudah dan praktis.
3. Metode yang digunakan dalam pembuatan hay adalah metode hamparan dan
metode pod.
4. Jenis hijauan yang bisa dibuat hay diantaranya, rumput bede, rumpun African
stargrass, dan rumput benggala.
5. Penyimpanan hay dapat disimpan pada gudang yang berkadar air 18-22%.
Hay dapat rusak bila disimpan di suhu yang kurang atau melebihi suhu standar
penyimpanan hay.
6. Hay memiliki kualitas yang ditentukan melalui umur pemotongan hiajuan,
keadaan daun, warna, dan kelembutan.
7. Hay sebagai salah satu jenis pakan yang dapat diberikan kepada ternak
ruminansia mempunyai keuntungan dan kerugian.
8. Bahan pakan yang biasa digunakan untuk pembuatan hay adalah segala
macam hijauan yang di sukai oleh ternak ruminansia.

21

DAFTAR PUSTAKA
Akk. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja Dan Perah . Penerbit
Kanisius.
Bates, G. 2011.Factors in High-Quality Hay Production.Progressive Cattleman.
West Edition. September 2011. Jerome, US. pp 14-15.

Kismono, I. Dan S. Susetyo. 1977. Pengenalan Jenis Hijaun Tropika Penting.


Produksi Hijauan Makanan Ternak Untuk Sapi Perah . Bplpp. Lembang,
Bandung. 1977.
Mcilroy, R. J. 1977. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika Terjemahan;
Susetyo Sudarmadi, H., Klamono, Dan Sri Harini, I. S. 1977. Pradnya
Paramita. Jakarta.
Perry, T.W. 1980. Beef Cattle Feeding and Nutrition.UK Edition.Academic Press,
Inc. London.

Schroeder, J.W. 2004.Haylage and Other FermentedForage. ND State University


and US Department Agriculture.

Siregar, M.E Dan A. Djajanegara. 1974. Pengaruh Tingkat Pemupukan


Zwavelzuur Kalium (Zk) Terhadap Produksi Segar 5 Jenis Rumput. Buletin
L.P.P. Bogor No 12, 1-8.
Siregar, M.E. 1987. Produktivitas Dan Kemampuan Menahan Erosi Species
Rumput Dan Leguminosa Terpilih Sebagai Pakan Ternak Yang Ditanam Pada
Tampingan Teras Bangku Di Das Citanduy, Ciamis.
Susetyo, S., I. Kismono, Dan B. Soewardi. 1968. Hijauan Makanan Ternak.
Direktorat Jenderal Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta.
Tidi D., Mansyur, H. K. Mustafa, Dan H. Supratman. 2006. Imbangan Rumput
Afrika (Cynodon Plectostachyus) Dan Leguminosa Sentro
(Centrosema Pubescans) Dalam Sistem Pastura Campuran Terhadap

22

Produksi Dan Kualitas Hijauan. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.


Jurnal Ilmu Ternak, Desember 2006, Vol. 6 No. 2, 163 168

23

LAMPIRAN-LAMPIRAN
Contoh hay

Contoh bahan-bahan hay

Sumber : DIREKTORAT PAKAN TERNAK Direktorat Jenderal Peternakan Dan


Kesehatan Hewan

24