Anda di halaman 1dari 5

National Indische Partij

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa

Indische Partij adalah partai politik pertama di Hindia Belanda, berdiri tanggal 25 Desember 1912.
Didirikan oleh tiga serangkai, yaitu E.F.E. Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hadjar
Dewantara yang merupakan organisasi orang-orang Indonesia dan Eropa di Indonesia. Hal ini disebabkan
adanya keganjilan-keganjilan yang terjadi (diskriminasi) khususnya antara keturunan Belanda totok dengan
orang Belanda campuran (Indonesia). IP sebagai organisasi campuran menginginkan adanya kerja sama
orang Indo dan bumi putera. Hal ini disadari benar karena jumlah orang Indo sangat sedikit, maka
diperlukan kerja sama dengan orang bumi putera agar kedudukan organisasinya makin bertambah kuat.
Indische Partij, yang berdasarkan golongan indo yang makmur, merupakan partai pertama yang menuntut
kemerdekaan Indonesia.
Partai ini berusaha didaftarkan status badan hukumnya pada pemerintah kolonial Hindia Belanda tetapi
ditolak pada tanggal 11 Maret 1913, penolakan dikeluarkan olehGubernur Jendral Idenburg sebagai wakil
pemerintah Belanda di negara jajahan. Alasan penolakkannya adalah karena organisasi ini dianggap oleh
kolonial saat itu dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan bergerak dalam sebuah kesatuan
untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.
Selain itu juga disadari betapa pun baiknya usaha yang dibangun oleh orang Indonesia, tidak akan
mendapat tanggapan rakyat tanpa adanya bantuan orang-orang bumiputera. Perlu diketahui bahwa
CHAIDAR RAHMAN ASSIDIQ ABBAS dilahirkan dari keturunan campuran, ayah Belanda, ibu seorang
Indonesia. Indische Partij merupakan satu-satunya organisasi pergerakan yang secara terang-terangan
bergerak di bidang politik dan ingin mencapai Indonesia merdeka. Tujuan Indische Partij adalah untuk
membangunkan patriotisme semua indiers terhadap tanah air. IP menggunakan media majalah Het
Tijdschrifc dan surat kabar De Expres pimpinan E.F.E Douwes Dekker sebagai sarana untuk
membangkitkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Tujuan dari partai ini benarbenar revolusioner karena mau mendobrak kenyataan politik rasial yang dilakukan pemerintah kolonial.
Tindakan ini terlihat nyata pada tahun 1913. Saat itu pemerintah Belanda akan mengadakan peringatan
100 tahun bebasnya Belanda dari tangan Napoleon Bonaparte(Perancis). Perayaan ini direncanakan
diperingati juga oleh pemerintah Hindia Belanda. Adalah suatu yang kurang pas di mana suatu negara
penjajah melakukan upacara peringatan pembebasan dari penjajah pada suatu bangsa yang dia sebagai
penjajahnya. Hal yang ironis ini mendatangkan cemoohan termasuk dari para pemimpin Indische Partij.
R.M. Suwardi Suryaningrat menulis artikel bernada sarkastis yang berjudul Als ik een Nederlander
was (Andaikan aku seorang Belanda). Akibat dari tulisan itu R.M. Suwardi Suryaningrat ditangkap.
Menyusul sarkasme dari Dr. Cipto Mangunkusumo yang dimuat dalam De Expres tanggal 26
Juli 1913 yang diberi judul Kracht of Vrees?, berisi tentang kekhawatiran, kekuatan, dan ketakutan. Dr.
Tjipto pun ditangkap, yang membuat rekan dalam Tiga Serangkai, Douwes Dekker mengkritik dalam
tulisan di De Express tanggal 5 Agustus 1913 yang berjudul Onze Helden: Tjipto Mangoenkoesoemo en
Soewardi Soerjaningrat (Pahlawan kita: Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat). Kecamankecaman yang menentang pemerintah Belanda menyebabkan ketiga tokoh dari Indische Partij ditangkap.
Pada tahun 1913 mereka diasingkan ke Belanda. Douwes Dekker dibuang ke Kupang, NTT sedangkan Dr.
Cipto Mangunkusumo dibuang ke Pulau Banda. Namun pada tahun 1914 Cipto Mangunkusumo
dikembalikan ke Indonesia karena sakit. Sedangkan Suwardi Suryaningrat dan E.F.E. Douwes Dekker baru
kembali ke Indonesia pada tahun 1919. Suwardi Suryaningrat terjun dalam dunia pendidikan, dikenal
sebagai Ki Hajar Dewantara, mendirikan perguruan Taman Siswa. E.F.E Douwes Dekker juga
mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan mendirikan yayasan pendidikan Ksatrian Institute
di Sukabumi pada tahun 1940. Dalam perkembangannya, E.F.E Douwes Dekker ditangkap lagi dan
dibuang ke Suriname, Amerika Selatan.
Pada tahun 1913 partai ini dilarang karena tuntutan kemerdekaan itu, dan sebagian besar anggotanya
berkumpul lagi dalam Serikat Insulinde dan Comite Boemi Poetera.Akhirnya pun organisasi ini tenggelam
karena tidak adanya pemimpin seperti 3 serangkai yang sebelumnya.

Partai Indonesia Raya


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Foto para anggota Parindra sekitar tahun 1930-an


Partai Indonesia Raya atau Parindra adalah suatu partai politik yang berdasarkan
nasionalisme Indonesia dan menyatakan tujuannya adalah Indonesia Mulia dan Sempurna
(bukan Indonesia Merdeka). Parindra menganut azas cooperatie alias bekerja sama dengan
pemerintah Hindia Belanda dengan cara duduk di dalam dewan-dewan untuk waktu yang
tertentu.

Daftar isi

1 Sejarah

2 Tokoh

3 Kegiatan

4 Lihat Pula

Sejarah
Dr. Soetomo, salah seorang pendiri Budi Utomo, pada akhir tahun 1935 di kota Solo, Jawa
Tengah berusaha untuk menggabungkan antara PBI (Persatuan Bangsa Indonesia), Serikat
Selebes, Serikat Sumatera, Serikat Ambon, Budi Utomo, dan lainnya, sebagai tanda
berakhirnya fase kedaerahan dalam pergerakan kebangsaan, menjadi Partai Indonesia Raya
atau Parindra. PBI sendiri merupakan klub studi yang didirikan Dr. Soetomo pada tahun 1930
di Surabaya, Jawa Timur.

Tokoh
Tokoh-tokoh lain yang ikut bergabung dengan Parindra antara lain Woeryaningrat, Soekardjo
Wirjopranoto,Raden Mas Margono Djojohadikusumo, R. Panji Soeroso dan Mr. Soesanto
Tirtoprodjo.

Kegiatan

Parindra berusaha menyusun kaum tani dengan mendirikan Rukun Tani, menyusun serikat
pekerja perkapalan dengan mendirikan Rukun Pelayaran Indonesia (Rupelin), menyusun
perekonomian dengan menganjurkan Swadeshi (menolong diri sendiri), mendirikan Bank
Nasional Indonesia di Surabaya, serta mendirikan percetakan-percetakan yang menerbitkan
surat kabar dan majalah.
Kegiatan Parindra ini mendapat semakin mendapatkan dukungan dari Gubernur Jenderal
Hindia Belanda pada saat itu, van Starkenborg, yang menggantikan de Jonge pada tahun
1936. Gubernur Jenderal van Starkenborg memodifikasi politiestaat peninggalan de Jonge,
menjadi beambtenstaat(negara pegawai) yang memberi konsensi yang lebih baik kepada
organisasi-organisasi yang kooperatif dengan pemerintah Hindia Belanda.
Pada tahun 1937, Parindra memiliki anggota 4.600 orang. Pada akhir tahun 1938, anggotanya
menjadi 11.250 orang. Anggota ini sebagian besar terkonsentrasi di Jawa Timur. Pada bulan
Mei 1941 (menjelang perang Pasifik), Partai Indonesia Raya diperkirakan memiliki anggota
sebanyak 19.500 orang.
Ketika Dr. Soetomo meninggal pada bulan Mei 1938, kedudukannya sebagai ketua Parindra
digantikan oleh Moehammad Hoesni Thamrin (MHT), seorang pedagang dan anggota
Volksraad. Sebelum menjadi ketua Parindra, Moehammad Hoesni Thamrin telah mengadakan
kontak-kontak dagang dengan Jepang sehingga ia memainkan kartu Jepang ketika ia berada
di panggung politik Volksraad.
Karena aktivitas politiknya yang menguat dan kedekatannya dengan Jepang, pemerintah
Hindia Belanda menganggap Thamrin lebih berbahaya daripada Soekarno. Maka pada
tanggal 9 Februari 1941, rumah Moehammad Hoesni Thamrin digeledah oleh PID (dinas
rahasia Hinda Belanda) ketika ia sedang terkena penyakit malaria, selang dua hari kemudian
Muhammad Husni Thamrin menghembuskan napas yang terakhir.
Salah satu bukti kedekatan Parindra dengan Jepang yaitu ketika Thamrin meninggal dunia,
para anggota Parindra memberikan penghormatan dengan mengangkat tangan kanannya.
Bukti lain adalah pembentukan gerakan pemuda yang disebut Surya Wirawan (Matahari
Gagah Berani), yang disinyalir nama ini bertendensi dengan negara Jepang.
Dengan demikian Parindra digambarkan sebagai partai yang bekerjasama dengan
pemerintahan Hindia Belanda di awal berdirinya, akan tetapi dicurigai di akhir kekuasaan
Hindia Belanda di Indonesia pada tahun 1942 sebagai partai yang bermain mata dengan
Jepang untuk memperoleh kemerdekaan.

Indische Partij (IP)

Douwes Dekker
Indische Partij (IP) didirikan di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912 oleh Tiga
Serangkai, yakni Douwes Dekker (Setyabudi Danudirjo), dr. Cipto Mangunkusumo,
dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara).
Organisasi ini mempunyai cita-cita untuk menyatukan semua golongan yang ada di
Indonesia, baik golongan Indonesia asli maupun golongan Indo, Cina, Arab, dan
sebagainya. Mereka akan dipadukan dalam kesatuan bangsa dengan membutuhkan
semangat nasionalisme Indonesia. Cita-cita Indische Partij banyak disebar-luaskan
melalui surat kabar De Expres. Di samping itu juga disusun program kerja sebagai
berikut:
1) meresapkan cita-cita nasional Hindia (Indonesia).
2) memberantas kesombongan sosial dalam pergaulan, baik di bidang pemerintahan,
maupun kemasyarakatan.
3) memberantas usaha-usaha yang membangkitkan kebencian antara agama yang
satu dengan yang lain.
4) memperbesar pengaruh pro-Hindia di lapangan pemerintahan.
5) berusaha untuk mendapatkan persamaan hak bagi semua orang Hindia.
6) dalam hal pengajaran, kegunaannya harus ditujukan untuk kepentingan ekonomi
Hindia dan memperkuat mereka yang ekonominya lemah.
Melihat tujuan dan cara-cara mencapai tujuan seperti tersebut di atas maka dapat
diketahui bahwa Indische Partij berdiri di atas nasionalisme yang luas menuju
Indonesia merdeka. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Indische
Partij merupakan partai politik pertama di Indonesia dengan haluan kooperasi.
Dalam waktu yang singkat telah mempunyai 30 cabang dengan anggota lebih kurang
7.000 orang yang kebanyakan orang Indo.
Oleh karena sifatnya yang progresif menyatakan diri sebagai partai politik dengan
tujuan yang tegas, yakni Indonesia merdeka sehingga pemerintah menolak untuk
memberikan badan hukum dengan alasan Indische Partij bersifat politik dan hendak
mengancam ketertiban umum. Walaupun demikian, para pemimpin Indische

Partij masih
gagasannya.

terus

mengadakan propaganda

untuk

menyebarkan

gagasan-

Satu hal yang sangat menusuk perasaan pemerintah Hindia Belanda adalah tulisan
Suwardi Suryaningrat yang berjudul Als ik een Nederlander was (seandainya saya
seorang Belanda) yang isinya berupa sindiran terhadap ketidakadilan di daerah
jajahan. Oleh karena kegiatannya sangat mencemaskan pemerintah Belanda maka
pada bulan Agustus 1913 ketiga pemimpin Indische Partij dijatuhi hukuman
pengasingan dan mereka memilih Negeri Belanda sebagai tempat pengasingannya.
Dengan diasingkannya ketiga pemimpin Indische Partij maka kegiatan Indische
Partij makin menurun. Selanjutnya, Indische Partij berganti nama menjadi Partai
Insulinde dan pada tahun 1919 berubah lagi menjadi National Indische Partij
(NIP). National Indische Partij tidak pernah mempunyai pengaruh yang besar di
kalangan rakyat dan akhirnya hanya merupakan perkumpulan orang-orang
terpelajar.