Anda di halaman 1dari 3

Mekanisme teknologi forensik

Salah satu teknologi forensik yang sering digunakan adalah berupa tes
DNA dalam tindak criminal. Salah satu tes yang dilakukan adalah tes yang
bernama Polymerase chain reaction (PCR) yang digunakan untuk menganalisa
hubungan darah antara dua orang ataupun untuk mengecek apakah seorang
merupakan anak kandung dari seorang suami/istri (Marks et all, 1996). Lalu
nantinya proses ini akan dilanjutkan dengan metode yang memanfaatkan STR.

Alat untuk melakukan kegiatan PCR (Polymerase Chain Reaction)


Metode pertama adalah metode PCR (Polymerase Chain Reaction).
Metode ini untuk memperbanyak jumlah potongan DNA dari sampel (Rudiretna,
2001). Adapun proses yang dilakukan adalah:
1. Denaturasi, yakni DNA yang sudah didapatkan akan didenaturasi pada
suhu 94 derajat celcius. Kemudian dua ikatan double helix akan terlepas
satu sama lain.
2. Annealing, suhu pemanasan akan diturunkan menjadi 72 derajat celcius
yang nantinya akan memulai proses pembentukan masing-masing
pasangan basa pada dua rantai yang telah terlepas dari pasangannya.
3. Polimerasi, tiap-tiap rantai yang terlepas akan membentuk pasangan basa
dari nomor 3-5 dari kedua arah yang berlawanan. Suhu masih berada di
tingkat 72 derajat celcius.
4. Ketika DNA baru terbentuk, maka proses akan diulang kembali.

Setelah dilakukan proses PCR, maka akan dilanjutkan dengan proses yang
memanfaatkan adanya STR (short tandem repeats). STR ini merupakan
metode yang digunakan secara luas untuk mengidentifikasi manusia termasuk
dalam analisis DNA forensic. Setelah melakukan PCR, sampel DNA yang
berisi alel STR dengan panjang yang berbeda-beda akan dipisahkan dengan
elektroforesis dan diidentifikasi genotipnya dengan tangga alel yang berasal
dari DNA yang akan diuji (Butler, 2007).
Lokus STR memiliki keistimewaan karena memiliki jenis alel yang
banyak,tetapi

dengan

rentang

yang

sempit,sehingga

memungkinkan

diperbanyak secara multipleks dalam satu tabung reaksi.Dengan melakukan


pemeriksaan pada banyak lokus STR,maka identifikasi individu dapat
dilakukan dengan ketepatan yang amat tinggi. STR merupakan core
DNA,sehingga ia diturunkan menurut hukum Mendel dari kedua orang tua.
Pada setiap lokus STR,setiap anak memilikidua buah alel,dimana satu alel
berasal dari ibunya (DNA maternal) dan alel satunya lagi berasal dari ayahnya
(DNA Paternal) (Idris,1982).
a. Menganalisa urutan untaian STR karena area ini memiliki bagian yang
unik yang berbeda pada setiap orang.
b. Mencocokkan urutan untaian dengan seseorang yang dijadikan pola.
Dalam kasus mengecek apakah seseorang benar-benar anak kandung dari
ayah/ibu, maka pola untaian dicocokkan dengan untaian STR ayah/ibu.
c. Melihat nomor kromosom untuk memastikan hasil tes DNA dengan cara
melihat nomor yang sama dan mencocokkan urutan kode ikatan basa
antara anak dengan ayah/ibu.
d. Jikalau kesamaan urutan dan pengulangan STR diantara keduanya
mencapai

16

STR,

maka

kedua

orang

yang

dicek

memiliki

ikatan/hubungan darah.
Dafpus:
Marks, D.B., Marks, A.D., Smith, C.M. (1996). Basic Medical Biochemistry.
Baltimore :Williams & Wilkins.
Rudiretna, Ari dan Handoyo, Darmo. (2001). Prinsip Umum dan Pelaksanaan
Polymerase Chain Reaction (PCR). Unitas vol 9 (1), 17-29.

Butler, John M. (2007). Short Tandem Repeat Typing Technologies Used In


Human Identity Testing. BioTechniques vol 43 (4), 2-4.
Idries, Abdul Munim dan Agung Legowo Tjiptomartono. (1982). Penerapan
Ilmu Kedokteran Kehakiman Dalam Proses Penyidikan.Jakarta: PT Karya
Unipres.