Anda di halaman 1dari 23

METODE PEMBELAJARAN

TEACHING IN THE OUTPATIENT CLINIC


(PROSES MENGAJAR DI KLINIK RAWAT JALAN)

CI Pengampu:
dr. Angga Kartiwa, Sp.M., (K)., M.Kes

Disusun oleh
o Vitrilina Hutabarat 131020150505
o Dessy Meilani Hutasoit 131020150508
o Tika Lubis 131020150509
o Sinta Utami 131020150516
o Melsa Sagita Imaniar 131020150517
o Ai Nur Zannah 131020150521
o Parmiana Bangun 131020150527
o Rochmawati 131020150531

PROGRAM STUDI MAGISTER KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan Kepada Tuhan Yang Maha Esa,


karena dengan HidayahNya sehingga kami penulis dapat
menyelesaikan makalah ini yang berjudul Teaching in The Outpatient
Clinic
Proses penyusunan makalah ini dapat dieselesaikan berkat
dukungan, bimbingan, arahan dan bantuan dari teman-teman dan
CIdr. Angga Kartiwa, Sp.M., (K)., M.Kesuntuk itu kami ucapkan
terimakasih banyak.
Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini kami masih
memiliki segala keterbatasan, untuk itu penulis sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah yang kami buat ini dapat membuat kita
mencapai kehidupan yang lebih baik lagi.

Bandung, Desember 2016

Penulis

2
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................. ii
DAFTAR
ISI ........................................................................................
............................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................. 1
1.1. Latar belakang............................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah....................................................... 2
1.3. Tujuan......................................................................... 2
1.4. Manfaat...................................................................... 2
BAB II TINJAUAN DAN PEMBAHASAN TEORI.............. 3
2.1. Konsep Teaching in The Outpatient Clinic.................. 3
2.1.1. Konsep Dasar Unit Rawat Jalan/ Outpatient Clinic 3
2.1.2. Konsep Dasar Pengajaran di Rawat Jalan ......... 3
2.1.3. Model dan Strategi Pembelajaran .................... 4
2.1.4. Dampak Model dan Strategi Pembelajaran....... 9
2.1.5. Pembahasan Jurnal Teaching in The Outpatient Clinic
..........................................................................9
2.2. Planning of Action and Scenario in The Outpatient Clinic 12
BAB III PENUTUP.................................................... 15
3.1. Simpulan......................................................... 15
3.2. Saran ......................................................................... 15
DAFTARPUSTAKA............................................................
..................................................................................... 17

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pendidikan klinik di rumah sakit ataupun tempat klinik lainnya
merupakan tantangan dalam pendidikan kesehatan khusunya karena
harus mengharmonisasikan antara pelayanan kesehatan berkualitas,
efisiensi dan pendidikan yang bermakna bagi peserta didik. Banyak
literatur mengkaji hambatan umum pendidikan klinik yang efektif,
termasuk di dalamnya adalah hambatan waktu, dukungan finansial,
kurangnya akses tenaga kesehatan CI (Clinical Instruscture) dan
kurangnya ruang serta sumber daya pendidikan.
Penelitian menunjukkan bahwa CI yang aktif membimbing
peserta didik biasanya akan menghabiskan banyak waktu untuk
pendidikan sehingga tentunya akan melayani lebih sedikit pasien dan
berkurangnya pendapatan.Dalam konteks pendidikan klinik di rawat
jalan, CI biasanya memilih pasien dengan memperhatikan 3 faktor
yaitu pengaruh pendidikan pada hubungan CI pasien, manfaat
pendidikan bagi peserta didik dan pertimbangan waktu dan efisensi.
Dampak pendidikan klinik pada hubungan CI pasien dapat
dipengaruhi oleh apakah pasien datang untuk follow up, apakah ingin
ditangani CI tertentu atau pasien baru yang memungkinkan peserta
didik belajar kasus sejak awal. Yang terbaik dari aspek peserta didik
adalah memperoleh pasien baru dengan masalah yang baru atau
kesempatan untuk mengikuti senior untuk memaksimalkan paparan
keterampilan diagnosis dan manajemen. Selain itu efisiensi proses
belajar dipengaruhi oleh jumlah pasien yang ditangani dan
keseimbangan antara menangani follow up pasien vs pasien yang
baru dan belum terdiagnosis.

1
Banyak model ataupun strategi pembelajaran klinik yang
dipaparkan dalam literatur pendidikan kesehatan. Di dalam kajian
sistematik ini dikaji empat strategi pendidikan klinik dan bukti
dampaknya pada luaran pendidikan ataupun efisiensi poli rawat jalan.
Literatur ditelusur menggunakan mesin pencari PubMed dengan kata
kunci medical student, teaching, dan outpatient clinic.

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam makalah ini adalah
1.2.1. Apa konsep dasar dari Teaching in The Outpatient Clinic?
1.2.2. Apa model dan strategi pembelajaran di klinik rawat jalan?
1.2.3. Bagaimana Implementasi/ POA (Planning of action) Teaching in
The Outpatient Clinic?

1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1.2.1 Untuk mengidentifikasi konsep dasar dari Teaching in The
Outpatient Clinic.
1.2.2 Untuk mengkaji model dan strategi pembelajaran di klinik rawat
jalan.
1.2.3 Untuk membuat contoh model Implementasi/ POA (Planning of
action) Teaching in The Outpatient Clinic.

1.3 Manfaat
Adapun manfaat dalam pembuatan makalah ini adalah
1.3.1 Manfaat Teoritis
Bermanfaat dalam pemaparan materi lebih dalam
tentangTeaching in The Outpatient Clinic/ Proses pengajaran di
klinik Rawat Jalan.

2
1.3.2 Manfaat Praktis
Bermanfaat dalam menambah pengalaman tentang
implementasi Teaching in The Outpatient Clinic/ Proses
pengajaran di klinik Rawat Jalan.

3
BAB II
TINJAUAN DAN PEMBAHASAN TEORI

2.1. KONSEP TEACHING IN THE OUTPATIENT CLINIC


2.1.1. Konsep Dasar Unit Rawat Jalan/ The Outpatient
Clinic
Unit rawat jalan didefinisikan sebagai fasilitas kesehatan
yang tidak memerlukan pasien untuk menetap/ tinggal dirumah
sakit/ klinik (bukan rawat inap) yang terdiri dari ruangan dokter
sederhana yang menyediakan perawatan primer independen.
Unit rawat jalan merupakan salah satu bagian dari
pelayanan yang disediakan rumah sakit atau klinik, pada
awalnya dirancang dengan ruangan dan layanan yang terbatas
namun dengan adanya perubahan pelayanan bidang
kesehatan, unit rawat jalan berkembang menjadi layanan
utama yang meliputi berbagai pengobatan spesialia, tes
diagnostik, operasi kecil yang tidak memerlukan rawat inap.

2.1.2. Konsep Dasar Pengajaran di Klinik Rawat Jalan/


Teaching In The Outpatient Clinic
Keterampilan dasar mengajar adalah kecakapan/
kemampuan pengajar dalam menjelaskan konsep terkait
dengan materi pembelajaran. Dengan demikian, seorang
pengajar harus mempunyai persiapan mengajar antara lain
menguasai bahan pembelajaran (What to teach) mampu
memilih strategi, metode dan media, penguasaan kelas yang
baik, serta menentukan system penilaian yang tepat (How to
teach).

4
Pengajaran di klinik merupakan rangkaian kegiatan
pembelajaran yang dilaksanakan dalam tatanan nyata yang
dilakukan oleh CI (Clinical Instructure) kepada peserta didik.
Sedangkan pengalaman belajar klinik adalah suatu bentuk
pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik melalui
kesempatan melatih diri dalam melaksanankan praktek klinik
profesional dalam tatanan nyata.
Pengajaran klinik di unit rawat jalan merupakan salah satu
tantangan untuk pengajar (CI) karena harus
mengharmonisasikan antara pelayanan kesehatan berkualitas,
efisiensi dan pendidikan yang bermakna bagi peserta didik
dengan waktu dan ruangan yang terbatas.

2.1.3. Model dan Strategi Pembelajaran Klinik Rawat Jalan


Beberapamodel ataupun strategi pembelajaran klinik
yang bisa diterapkan pada pasien rawat jalan adalah:
A. One minute preceptor (OMP)
OMP merupakan strategi pendidikan dengan
menggunakan 5 langkah microskills. Strategi OMP pertamakali
dikenalkan di awal tahun 1990an, merekomendasikan 5 langkah
atau microskills untuk memberikan struktur pembimbingan
klinik.
1) Membuat komitmen, adalah langkah memastikan tujuan
peserta didik untuk pembimbingan. Pada tahap ini
pembimbing mendorong peserta didik memproses dan
mensintesis informasi yang diperoleh dari pasien. Pertanyaan
yang diberikan seperti apa yang mau dilakukan? atau bila
saya tidak ada apa yang akan anda lakukan pada pasien?.

5
2) Menggali bukti yang mendukung, dengan menggunakan
pertanyaan seperti faktor apa yang anda pertimbangkan
untuk mengusulkan tindakan tsb? Atau adakah pilihan lain
yang ingin anda pertimbangkan atau anda buang?.
Penekanannya di sini seorang pembimbing harus memahami
tingkat pengetahuan, proses analisis dan materi belajar yang
perlu dipelajari lagi.
3) CI memberikan feedback positif terhadap hal-hal yang
sudah dikuasai peserta didik. Langkah ini paling sering
dilewatkan dalam pembimbingan, padahal literatur
menunjukkan bahwa pemberian feedback positif akan
meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri peserta didik.
4) Memberikan feedback terhadap hal-hal yang perlu diperbaiki
oleh peserta didik misalnya kelengkapan informasi yang
dikumpulkan, usulan pemeriksaan penunjang dan
mendiskusikan cara memperbaikinya.
5) CI memberikan penjelasan singkat ataupun tips-tips ataupun
saran terkait pemahaman dan manajemen kasus.
Sebuah penelitian membandingkan model OMP dengan
model tradisional terhadap 7 program pelatihan staf
menggunakan video. Pembimbing yang melihat OMP akan lebih
baik dalam mendiagnosis masalah pasien dibandingkan
pembimbing yang menyaksikan model pembimbingan
tradisional. Pembimbing yang menyaksikan video model OMP
juga menilai kemampuan peserta didik lebih tinggi pada
anamnesis dan pemeriksaan pasien, presentasi, penalaran klinik
dan pengetahuan. Selain itu pembimbing tersebut juga menilai
dirinya lebih percaya diri dalam mengevaluasi kemampuan
peserta didik.

6
Hal lain yang dinilai positif adalah pembimbing yang
menyaksikan video model OMP lebih menekankan pembelajaran
terkait keluhan dan permasalahan yang lebih spesifik juga
mendorong digunakannya penalaran yang lebih tinggi. Pada
penelitian lain oleh peneliti yang sama, emnunjukkan bahwa
peserta didik tahun ke tiga dan ke empat yang menggunakan
model OMP merasakan proses yang lebih efektif dibandingan
pendidikan tradisional.
Pada penelitian terhadap peserta didik yang diberi sesi
pelatihan OMP selama 1 jam, menunjukkan bahwa peserta didik
merasa lebih berkomitmen, memperoleh umpan balik dan
memotivasi belajar lebih lanjut, walaupun keektifan
pembelajaran secara keseluruhan tidak berbeda antara residen
dengan pelatihan OMP dan tidak. Pada pelatihan terhadap staf
setelah mengikuti seminar model OMP selama 90 menit, didapt
peningkatan kualitas umpan balik yang spesifik.

B. SNAPPS (Summarize history and findings, Narrow the


differential; Analyze the differential; Probe preceptor about
uncertainties; Plan management; Select case-related issues
for self-study)
Strategi SNAPPS dikembangkan berdasarkan teori
pembelajaran kognitif dan reflektif. Pendekatan ini menekankan
belajar aktif dan mendudukan proses bimbingan sebagai
pengalaman aktif. Istilah SNAPPS merupakan akronim 6 langkah
proses yaitu
1) Summarize,
2) Narrow the DD,
3) Analyse,

7
4) Probe,
5) Plan,
6) Select learning issue.
Langkahnya :
1) peserta didik diminta merumuskan, selama 3 menit atau
kurang, anamnesis dan pemeriksaan fisik.
2) peserta didik diminta mempersempit diagnosis diferensial
atau intervensi yang mungkin menjadi 2-3 yang paling
relevan/mungkin.
3) Peserta didik harus menganalisis DD atau intervensi dengan
membandingkan dan membedakan melalui proses
menjelaskan (memverbal kan) proses berfikirnya.
4) peserta didik diminta menggali pengetahuan pembimbing
dengan menanyakan hal-hal yang belum jelas. Fase ini
memungkin pembimbing memahami proses berfikir dan
landasan pengetahuan peserta didik dan sekaligus
memberikan umpanbalik dan informasi yang diperlukan.
5) merencanakan manajemen pasien, peserta didik melakukan
diskusi dengan pembimbing tentang rencana manajemen
atau intervensi khusus dan menyempurnakannya dengan
bantuan masukan dari pembimbing.
6) Fase terakhir adalah peserta didik memilih materi-materi baru
yang perlu dipelajari lebih lanjut tentunya dengan bantuan
pembimbing.
Evaluasi SNAPPS menunjukkan bahwa peserta didik yang
dibimbing dengan SNAPPS dapat memberikan ringkasan kasus
lebih rinci, kemudian mempresentasikan lebih banyak
kemungkinan diagnosis dengan tingkat ketepatan diagnosis
lebih tinggi. Peserta didik yang memakai SNAPPS juga lebih baik

8
dalam hal membandingkan hipotesis, menjelaskan
ketidakpastian, mendiskusikan tentang manajemen dan
mengidentifikasi topik yang harus dipelajari lebih lanjut.
C. Aunt Minnie
Sebagian besar metode pendidikan klinik memfokuskan
pada diskusi penalaran kritik antara peserta didik dan
pembimbing dan eksplorasi ringkas pada pilihan diagnosis atau
manajemen. Sebaliknya, pendekatan Aunt Minnie merupakan
cara mendidik menggunakan pentingnya pattern recognition
dalam praktek klinik. Jadi prinsipnya bila wanita yang
menyeberang jalan seperti Aunt Minnie dan berpakaian seperti
Aunt Minnie, kemungkinan besar memang itu Aunt Minnie.
Pendekatan seperti itu adalah yang paling banyak dilakukan oleh
pembimbing klinik khususnya di konteks rawat jalan. Salah satu
pendekatan Aunt Minnie pattern recognition adalah:
1) peserta didik mengevaluasi pasien dan mempresntasikan
kepada pembimbing keluhan utama dan kemungkinan
diagnosisnya,
2) peserta didik menulis hasil temuannya dan pembimbing
mengevaluasi pasien,
3) pembimbing mendiskusikan kasus dengan peserta didik,
4) pembimbing mengkaji catatan medik dan
menandatanganinya.
Salah satu studi menunjukkan bahwa pattern recognition
dapat dipakai untuk mengembangkan ujian akhir bagi peserta
didik.
Penelitian lain membandingkan pembelajaran penalaran
klink untuk memberi kesempatan pada peserta didik untuk
menangani kasus tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa

9
instruksi pada peserta didik untuk memakai pattern recognition
dikombinasi dengan gambaran kasus yang dihadapi akan
menghasilkan akurasi diagnostik yang lebih baik. Akhirnya
penelitian lain juga menunjukkan bahwa peserta didik yang
menggunakan pattern recognition lebih cepat menguasai
manajemen kasus dibandingkan peserta didik yang hanya
menggunakan metode interpretasi data, Meskipun penelitian di
atas tidak berkaitan langsung dengan model Aunt Minnie,
tetapi menunjukkan bahwa peran pattern recognition dalam
pendidikan kesehatan
D. Activated demonstration
Proses pembelajaran pengetahuan dan berfikir analitik
dapat diajarkan di ruang periksa atau bersama pembimbing
melakukan pemeriksaan fisik atau intervensi prosedural yang
memerlukan kehadiran pembimbing, demostrasi, supervisi dan
umpanbalik. Activated demonstration adalah salah satu cara
pembimbing untuk memaksimalkan nilai pendidikan demonstrasi
dan memberikan peserta didik pengalaman yang tidak
pasif. Activated demonstration dimulai dengan menentukan
tingkat pengetahuan peserta didik dan tujuan belajar
demonstrasi. Pembimbing kemudian memberikan bimbingan apa
yang harus dilakukan selama demonstrasi kasus termasuk
diskusi dan pemeriksaan pasien. Setelah demonstrasi
keterampilan, pembimbing mendiskusikan topik belajar dengan
peserta didik dan menetapkan kesempatan belajar peserta didik.
Evaluasi terhadap pendekatan ini menunjukkan bahwa
pembimbing membaik kemampuannya untuk memilih strategi
mengajar yang individual dibutuhkan peserta didik.

10
2.1.4. Dampak Model dan Strategi Pembelajaran Klinik
Rawat Jalan
Dampak pembelajaran terhadap efisiensi dan produktifikas
bidan di rawat jalan telah banyak diketahui dan merupakan hal
yang perlu diperhatikan oleh pembimbing klinik. Sejauh ini
metode OMP dan SNAPPS yang telah banyak dinilai pengaruhnya
terhadap kualitas pelayanan rawat jalan dan keduanya tidak
dimaksudkan untuk memperpendek bimbingan klinik.
Baik OMP dan SNAPPS dapat meningkatkan keterampilan
klinik, penalaran klinik dan motivasi belajar mandiri. OMP dapat
meningkatkan keterampilan membimbing dan dianjurkan
sebagai model yang dapat dipakai oleh pembimbing klinik.
SNAPPS memiliki keunggulan teoritik untuk memberi penekanan
pada belajar mandiri, tetapi tidak ada perbandingan antara
SNAPPS dan OMP terkait dengan pengaruhnya pada belajar
mandiri. Beberapa penelitian yang diperlukan bidan pendidikan
klinik adalah:
1) Apakah OMP atau SNAPPS lebih mendorong belajar mandiri?
2) Strategi apa yang dapat membantu efisiensi pembelajaran di
rawat jalan?
3) Bagaimana cara terbaik untuk menggunakan pattern
recognition dan activated demonstration di dalam pendidikan
klinik?

2.1.5. Pembahasan Jurnal Teaching In The Outpatient


Clinic
Terdapat 4 point pentingberdasarkan review komprehensif
dalam pembelajaran rawat jalan, yaitu:

11
1) Lingkungan merupakan salah satu variabel yang penting pada
pasien rawat jalan yang terdiri dari waktu pelayanan pada
pasien, waktu pengajaran, dan ruang pengajaran agar tercipta
pengajaran yang efektif
2) Perilaku/peran CIsangat mempengaruhi keberhasilan
pembelajaran di klinik rawat jalan. CI yang efektif mengajukan
pertanyaan, menunjukkan minat, menentukan tujuan,
menunjukkan kompetensi dan yang paling penting
menghabiskan waktu dengan peserta didik.
3) Pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan
serta disesuaikan dengan pengalaman peserta didik yang
pernah melakukan praktik klinik rawat jalan, sehingga ada
persamaan persepsi antara CI dan peserta didik
4) Role model CI mempengaruhi peserta didik dalam pembelajaran
pasien rawat jalan.
Peran CI dalam pembelajaran pasien rawat jalan
1) Menjelaskan tujuan pembelajaran
2) Menunjukkan minat/ menarik minat belajar peserta didik
3) Memberikan pertanyaan terkait kasus
4) Mendemonstrasikan kompetensi
5) Mendampingi peserta didik selama pembelajaran
Persiapan visitasi/ kunjungan :
1) CI menjelaskan kepada peserta didik peraturan secara jelas di
klinik/ rumah sakit: peraturan rumah sakit, mengenali pasien
dan jumlah pasien, hal-hal apa yang harus dilakukan
(pemeriksaan yang wajib dilakukan)
2) Peserta didik berinteraksi dengan pasien terlebih untuk
mengetahui kondisi pasien sehingga mengetahui pemeriksaan
yang akan dilakukan (anamnesa)

12
3) Setelah itu, peserta didik membuat asuhan/ dokumentasi
tentang pasien yang nantinya akan dipresentasikan
4) Peserta didik belajar mengenai rekam medis pasien
5) Setelah laporan selesai, peserta didik melakukan konsultasi ke
CI
6) Presentasi hasil pemeriksaan pasien dilakukan dalam waktu 4-7
menit dihadapan CI
7) CI mengklarifikasi hasil kerja peserta didik yang dipresentasikan
8) CI memberikan petunjuk untuk revisi dan peserta didik akan
mempresentasikan kembali hasil revisinya.
Setting alur bimbingan peserta didik pada pasien rawat
jalan, interaksi antara pembimbing (CI), mahasiswa dan pasien:

Step 1: di ruang rawat jalan terjadi pertemuan antara


pembimbing dan peserta didik serta pasien. Pembimbing
melakukan demonstrasi dan mahasiwa menjadi observer.

13
Step 2: peserta didik diberi kesempatan untuk melakukan
praktek dengan pasien secara mandiri

Step 3: pembimbing akan mengevaluasi serta mengamati


kerja mahasiwa dari ruang rawat jalan

2.2. Planning of Action and Scenario in The Outpatient Clinic


SATUAN ACARA PEMBELAJARAN KLINIK

14
Ruangan : Poli KIA
Jumlah Mahasiswa : 3 orang
Waktu : 2 Jam

NO KEGIATAN INSTRUKSI KERJA


1. Penentuan Mahasiswa mampu memberikan asuhan ibu hamil
target
pembelajar
an
2. Pre - Persiapan alat
Conference a. TB/TB
(5 menit) b. Tensi meter
c. senter
d. Pita lila
e. pita cm
f. reflex hummer
g. nierbekken
h. monoral
i. jangka panggul
j. Tissu
k. HB sahli
l. reduksi urin
m. glukosa urine
n. handscon
- Instruksi kerja mahasiswa:
a. Mahasiswa diminta untuk memilih 1 orang
pasien dan memberikan asuhan
b. Mahasiswa melakukan pengkajian pada 1
klien selama 30 menit sambil didampingi
oleh CI
c. Setelah pemeriksaan mahasiswa
menentukan diagnosis dan rencana
intervensi pada pasien
d. Proses diskusi dengan pembimbing dan
melakukan intervensi sesuai dengan
rencana
3. Pelaksanaa - Mahasiswa memilih 1 orang pasien untuk
n (15 dilakukan pengkajian
menit) - Mahasiswa melakukan pengkajian pada 1 klien
yang telah dipilih sambil didampingi oleh CI
Contoh hasil anamnesis:
Hamil anak pertama tidak pernah keguguran,

15
NO KEGIATAN INSTRUKSI KERJA
usia kehamilan 36 minggu (HPHT: ) mengeluh
sering BAK.

Contoh Hasil Pemeriksaan:


TB : 163 cm
BB : 70 Kg
Lila : 25 cm
TD : 110/80 mmHg
RR : 24 x/i
HR : 78x/i
Suhu : 36C
Leopold I : TFU 33 cm, bagiang bokong
Leopold II : PUKI
Leopold III : Kepala
Leopold IV: Sudah masuk PAP

Contoh hasil pemeriksaan LAB


Hb : 11 gr%
Glukosa urine: negatif
Protein urine : negatif
- Setelah pemeriksaan mahasiswa menentukan
diagnosis dan rencana intervensi pada pasien

Contoh Diagnosis:
GIP0A0 usia kehamilan 36 minggu persentase
kepala sudah masuk PAP dengan kondisi ibu
dan janin baik

Contoh Rencana intervensi:


jelaskan hasil pemeriksaan
berikan konseling tentang ketidaknyamanan
yang dirasakan ibu, persiapan persalinan,
tanda bahaya trimester III dan tanda-tanda
persalinan
berikan terapi sesuai kebutuhan ibu

- mahasiswa melakukan diskusi dengan CI dan


melakukan intervensi sesuai dengan rencana
contoh:
a. CI Menanyakan diagnosa pasien
b. CI menanyakan dasar penegakan diagnosa

16
NO KEGIATAN INSTRUKSI KERJA
pasien yang diperiksa
c. CI menanyakan rencana intervensi
berdasarkan diagnosis dan kebutuhan

- mahasiswa memberikan asuhan kepada ibu


hamil seperti:
a. menjelaskan hasil dari pemeriksaan bahwa
ibu dan bayi dalam keadaan sehat
b. memberikan konseling tentang
ketidaknyamanan yang dirasakan ibu,
persiapan persalinan, tanda bahaya
trimester III dan tanda-tanda persalinan
c. memberikan terapi seperti: tablet zat besi,
vitamin
4. Post a. evaluasi hasil pembelajaran
Conference b. pelaporan pencapaian target & penetapan
(10 menit) target untuk hari berikutnya
c. Evaluasi
d. Tindak Lanjut

17
BAB III
PENUTUP

3.1 SIMPULAN
Ke empat model pembelajaran potensial untuk membantu
meningkatkan keefektifan pembelajaran klinik di rawat jalan. OMP
paling banyak diteliti dan menunjukkan pengaruh yang positif
terhadap diagnosis masalah pasien selain juga menekankan pada
pembelajaran penyakit tertentu. OMP juga memperbaiki kinerja
pembimbing klinik dalam menarik mahasiswa berkonsultasi,
memotivasi mahasiswa belajar manndiri dan memberikan umpan
balik. Mahasiswa yang dibimbing dengan model OMP menunjukkan
kemampuan anamnesis, pemeriksaan fisik, penalaran klinik dan
pengetahuan dasar yang lebih baik. SNAPPS lebih sedikit diteliti,
tetapi juga menunjukkan perannya dalam meningkatkan kemampuan
presentasi, penalaran klinik dan belajar mandiri mahasiswa. Penelitian
menunjukkan bahwa pattern recognition juga memiliki peran dalam
pembelajaran dan menguji penalaran klinik mahasiswa. Kemudian
pendekatan Aunt Minnie merupakan aplikasi pattern recognition
pada pendidikan klinik, tetapi sejauh ini belum ada penelitian yang
telah dipublikasikan mengevaluasi pendekatan ini. Model activated

18
demonstration menjanjikan memperbaiki kemampuan pembimbing
memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan
mahasiswa, sehingga model ini juga perlu dievaluasi untuk melihat
penggunaan dan manfaatnya.

3.2 SARAN
Dalam proses pembelajaran di klinik rawat jalan, sebaiknya CI
dan peserta didik memperhatikanempat point penting, yaitu:
1) Lingkungan merupakan salah satu variabel yang penting pada
pasien rawat jalan yang terdiri dari waktu pelayanan pada pasien,
waktu pengajaran, dan ruang pengajaran agar tercipta pengajaran
yang efektif
2) Perilaku/peran CIsangat mempengaruhi keberhasilan
pembelajaran di klinik rawat jalan. CI yang efektif mengajukan
pertanyaan, menunjukkan minat, menentukan tujuan,
menunjukkan kompetensi dan yang paling penting menghabiskan
waktu dengan peserta didik.
3) Pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan
serta disesuaikan dengan pengalaman peserta didik yang pernah
melakukan praktik klinik rawat jalan, sehingga ada persamaan
persepsi antara CI dan peserta didik
4) Role model CI mempengaruhi peserta didik dalam pembelajaran
pasien rawat jalan.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. DaRosaDA,SkeffK,Friedland JA,etal.Barrierstoeffectiveteaching.AcadMed.
2011;86(4):453-459.PubMedPMID:21346500.

2. Emilia O.Kajian sitematik:strategi pembelajaran klinik di setting raat jalan.


Yogyakarta:FK UGM.2012.

3. Megi SR, David M. Teaching in tehe outpatient clinic. JGIM.1997:12:s34-40.

20