Anda di halaman 1dari 23

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .. 1

BAB I PENDAHULUAN .. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3

I. Etiologi Resesi Gingiva .. 3


II. Klasifikasi Resesi 3
III. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Bedah . 5
IV. Kriteria Pemilihan Teknik ... 6
A. Free Gingival Graft .. 8
B. Free Connective Tissue Autograft 12
C. Pedicle Graft . 14
C.1. Laterally posisitioned pedicle flap 14
C.2. Double papillae positioned flap 19

BAB III KESIMPULAN 21

DAFTAR PUSTAKA .... 22

1
BAB I
PENDAHULUAN

Keadaan resesi gingiva bias menyebabkan hipersensitivitas dentin . pada


dentin akar yang terbuka, masalah dalam kontrol plak, insidensi karies akar yang
tinggi, kesulitan dalam penempatan restorasi yang baik, serta gangguan secara
estetis, sehingga membutuhkan perawatan untuk penanganannya. Penanganan
resesi ini awalnya hanya untuk menutup area akar yang terbuka dalam upaya
untuk menghilangkan rasa ngilu akibat hipersensitivitas dentin akar yang terbuka
tanpa memperhatikan aspek lain, akan tetapi saat ini prosedur perawatan resesi
tidak lagi terbatas untuk tujuan tersebut, melainkan berhubungan dengan
permintaan dari segi estetik.
Penutupan akar yang terbuka akibat resesi dengan gingiva berkeratin
merupakan salah satu tujuan dari bedah periodontal. Prosedur bedah yang
dibutuhkan yaitu bedah mukogingival dimana pada pertemuan periodontologi
dunia tahun 1996, bedah mukogingival diubah nama menjadi bedah plastik
periodontal. Pendekatan pada prosedur bedah ini terdiri dari beberapa macam,
yaitu: free gingival graft, free connective tissue graft, pedicle graft, dimana
semuanya bertujuan untuk mencegah resesi lebih lanjut, memperbaiki masalah
estetik, meningkatkan kontrol plak, mengurangi hipersensitivitas dentin, serta
mempersiapkan tissue bed untuk implant. Masing-masing teknik ini memiliki
indikasi, kontraindikasi, keuntungan, kerugian, serta derajat keberhasilan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. ETIOLOGI RESESI GINGIVA


Penyebab paling umum terjadinya resesi gingiva adalah penggunaan
teknik menyikat gigi yang tidak tepat dan adanya trauma pada jaringan tulang dan
jaringan lunak. Tulang radikuler di daerah permukaan bukal gigi biasanya tipis
terutama di sekitar daerah anterior. Dalam banyak kasus pada daerah tersebut,
ketebalan tulang di bawah jaringan gingiva sangat tipis. Kelainan seperti itu
disebut dengan dehiscence. Keadaan anatomi ini diperparah dengan adanya
trauma eksternal terlalu besar saat menyikat gigi, sehingga menyebabkan abrasi
yang lambat laun akan menyebabkan resesi gingiva dan tulang pada permukaan
sementum.
Penyebab lain resesi gingiva adalah penyakit periodontal dan peradangan
marginal kronis. Hilangnya perlekatan yang disebabkan oleh peradangan diikuti
dengan hilangnya tulang dan gusi (Newman, 2006)

II. KLASIFIKASI RESESI


Pada tahun 1960, Sullivan dan Atkins membuat klasifikasi resesi yang
terdiri dari empat kelas, shallow-narrow, shallow-wide, deep-narrow, deep-wide.
Tetapi klasifikasi ini tidak membantu klinisi dalam memperkirakan atau
memprediksi hasil dari prosedur penutupan akar, sehingga pada tahun 1985 Miller
membuat klasifikasi resesi yang dapat digunakan untuk menentukan dan
mengantisipasi hasil dari prosedur bedah penutupan resesi akar. Miller
mengklasifikasikan resesi menjadi empat kelas berdasarkan perluasan defek dan
keterlibatan tulang, yaitu: (Cohen, 2007; Babu, 2011)

1. Kelas I
Resesi ini tidak meluas ke mukogingival junction dan tidak terdapat
kerusakan tulang alveolar atau jaringan lunak di daerah interdental.

3
Gambar 2.1 Tipe resesi kelas 1

2. Kelas II
Resesi meluas ke mukogingival junction, tidak terdapat kerusakan tulang
alveolar atau jaringan lunak di daerah interdental.

Gambar 2.2 Tipe resesi kelas 2

3. Kelas 3
Resesi meluas ke mukogingival junction atau lebih disertai dengan
kerusakan tulang alveolar dan jaringan lunak di daerah interdental.

Gambar 2.3 Tipe resesi kelas 3

4. Kelas 4
Resesi meluas ke mukogingival junction atau lebih disertai dengan
kerusakan tulang alveolar dan jaringan lunak di interdental yang lebih
parah.

4
Gambar 2.4 Tipe resesi kelas 4

III. FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL BEDAH

Malposisi gigi yang abnormal adalah penyebab penting dari resesi gingiva
yang membutuhkan pembedahan korektif dan juga merupakan faktor penting
dalam menentukan hasil perawatan. Lebar tepi gingiva pada attach gingiva dan
tinggi tulang alveolar serta ketebalannya semua dipengaruhi oleh susunan gigi.
Pada gigi yang miring atau rotasi ke labial maka tulang labial lebih tipis dan dapat
terletak jauh dari apikal gigi yang berdekatan. Pada permukaan lingual gigi
tersebut maka gingiva menjadi membulat dan margin tulang lebih dekat ke CEJ.
Tingkat perlekatan gingiva pada permukaan akar dan lebar gusi cekat setelah
dilakukan operasi mukogingiva dipengaruhi oleh posisi gigi. Operasi
mukogingiva diindikasikan untuk koreksi ortodontik dilakukan pada gigi
malposisi dalam upaya untuk memperluas attach gingiva atau untuk memperbaiki
gingiva pada akar yang terbuka.
Akar ditutupi dengan tulang tipis menimbulkan bahaya dalam operasi
mukogingiva. Bahkan jenis flap yang paling protektif yaitu dengan flap parsial
thickness dapat menciptakan risiko terjadinya resorpsi tulang pada permukaan
periosteal. Resorpsi dalam jumlah yang banyak biasanya menyebabkan tingginya
kehilangan tulang.
Biasanya garis mukogingiva di daerah insisivus dan kaninus terletak
sekitar 3 mm dari apikal ke puncak tulang alveolar dan 5 mm dari apikal ke
interdental. Sedangkan pada penyakit periodontal dan pada gigi dengan malposisi
maka tepi tulang terletak jauh ke apikal dan melampaui garis mukogingiva,
sehingga jarak antara mukogingiva dan CEJ sebelum dan setelah operasi
periodontal tidak selalu konstan. Setelah peradangan dihilangkan maka jaringan

5
cenderung berkontraksi dan menarik garis mukogingiva ke arah mahkota.
(Newman, 2006).

IV. KRITERIA PEMILIHAN TEKNIK


Teknik yang berbeda disajikan untuk memecahkan masalah mukogingiva
akan diuraikan dalam bab ini. Pemilihan yang tepat dari berbagai teknik harus
didasarkan pada prediktabilitas keberhasilan yang pada gilirannya didasarkan
pada kriteria.

Kriteria pemilihan teknik mukogingiva adalah sebagai berikut:


1. Daerah bedah harus bebas plak, kalkulus dan peradangan.
2. Suplai darah yang memadai ke jaringan donor.
3. Anatomi dan daerah penerima donor.
4. Stabilitas jaringan graft ke daerah penerima.
5. Minimalnya trauma pada daerah bedah. (Newman, 2006)

1. Daerah bedah harus bebas plak, kalkulus dan peradangan


Prosedur periodontal bedah plastik harus dilakukan dalam lingkungan
yang bebas plak dan bebas peradangan untuk memungkinkan dokter dalam
mengelola jaringan gingiva. Ketelitian dan insisi yang tepat serta pelepasan flap
tidak dapat dicapai pada jaringan yang meradang dan pembengkakan. Scaling dan
root planing serta penghilangan plak pada pasien harus diselesaikan sebelum
prosedur bedah.

2. Suplai darah yang memadai


Untuk mendapatkan jumlah maksimum suplai darah ke jaringan donor,
dibuatkan perluasan insisi lebih ke arah apikal karena pasokan darah yang lebih
baik dibandingkan dengan perluasan koronal pada daerah penerima. Prosedur
untuk menambah gingiva coronal daerah resesi (root covaerage) menyajikan
sebagian dari daerah penerima (permukaan akar terbuka) tanpa suplai darah.

6
Sebuah pedicle flap memiliki pasokan darah yang lebih baik daripada free
gingival grafts.
Pada subepitel cennective tissue graft (Langer) dan teknik pouch and
tunnel menggunakan flap dengan jaringan ikat di antara flap. Flap ini didesain
untuk memaksimalkan suplai darah ke jaringan donor (Newman, 2006).

3. Anatomi dan daerah penerima donor


Ada atau tidak adanya kedalaman vestibulum adalah kriteria anatomi yang
penting di lokasi penerima untuk penambahan gingiva. Jika penambahan gingiva
apikal diindikasikan untuk daerah resesi maka harus ada kedalaman yang
memadai dari vestibulum apikal ke gingiva tepi untuk memberikan ruang yang
baik bagi pedicle graft.
Teknik mukogingiva, seperti free gingival grafts dan free connective tissue
graft dapat digunakan untuk menciptakan kedalaman vestibulum dan memperluas
gusi cekat. Teknik lainnya yang membutuhkan kedalaman vestibulum sebelum
operasi termasuk pedicle graft (lateral dan koronal), subepitel connective tissue
graft (Langer), prosedur pouch and tunnel.
Ketersediaan jaringan donor adalah faktor lain anatomi yang harus
dipertimbangkan. Perpindahan jaringan mengharuskan adanya daerah donor yang
berdekatan yang memiliki ketebalan serta lebar gingiva yang memadai. Ketebalan
jaringan palatal juga diperlukan untuk autograft donor jaringan ikat. Ketebalan
gingiva diperlukan di lokasi penerima pada penggunaan teknik split thickness
(Newman, 2006).

4. Stabilitas dari jaringan graft ke daerah penerima


Hubungan yang baik dari pembuluh darah jaringan donor ke daerah
penerima memerlukan lingkungan yang stabil. Hal ini dapat dicapai dengan
jahitan agar dapat menstabilkan jaringan donor terhadap daerah penerima.
Sedikitnya jumlah jahitan dan stabilitas maksimum harus dicapai. (Newman,
2006)

7
5. Minimal trauma daerah bedah
Seperti pada semua prosedur bedah, bedah plastik periodontal juga
didasarkan pada ketelitian, kehalusan dan ketepatan dari tehnik bedah pada
jaringan mulut. Trauma jaringan yang tidak perlu yang disebabkan oleh
pembuatan insisi, perforasi flap atau penempatan traumatis serta penjahitan yang
berlebihan dapat menyebabkan nekrosis jaringan. Pemilihan instrumen yang tepat,
jarum dan jahitan adalah wajib untuk meminimalkan trauma jaringan. Pisau tajam
berkontur, jarum jahit berdiameter kecil dan jahitan monofilamen resorbable
merupakan semua faktor penting dalam mencapai atraumatik operasi.

A. FREE GINGIVAL GRAFTS

Free gingival grafts adalah teknik yang digunakan untuk memperluas


attach gingiva, diperkenalkan pertama kali oleh Bjorn (1963), dan Sullivan and
Atskin (1968). Pada awalnya free gingival grafts hanya digunakan untuk
memperluas attach gingiva dan memperlebar lengkung vestibulum. Selanjutnya,
free gingival grafts digunakan untuk menutupi daerah akar yang tebuka (Sullivan
dan Atkins 1968; Holbrook dan Ochsenbein 1983; Miller 1985). Teknik ini sangat
sederhana dan prediksi keberhasilannya sangat tinggi bila digunakan untuk
memperluas attach gingiva, juga bisa digunakan untuk menutupi soket
pencabutan yang terlalu luas atau osseus graft (Dibart, 2006).

Keuntungan free gingival grafts: (Sato, 2000)

1. Rata-rata keberhasilannya sangat tinggi untuk memperluas attach


gingiva dan terjadinya new attachment.
2. Dapat digunakaun pada kasus yang meliputi beberapa gigi.
3. Prosedur pelaksanaannya sangat sederhana.
4. Menghilangkan perlekatan frenulum yang abnormal.
5. Teknik ini dapat digunakan untuk menutupi akar gigi yang terbuka.

8
Kerugian free gingival grafts: (Sato, 2000)

1. Membutuhkan dua daerah operasi.


2. Meninggalkan luka terbuka pada palatal setelah pengambilan graft,
sehingga menyebabkan rasa tidak nyaman dan kemungkinan terjadi
perdarahan..
3. Kurangnya suplai darah pada graft.
4. Perbedaan warna antara gingiva dan graft (daerah graft lebih
terang dibandingkan gingiva karena jaringan palatal lebih tebal dan
berkeratin).

Indikasi free gingival grafts: (Sato, 2000)

1. Memperluas daerah attach gingiva.


2. Memperbaharui fungsi attach gingiva ketika perlekatannya mulai
berkurang.
3. Teknik variasi pedicle gingival graft dimana gingiva pada gigi
yang berdekatan kurang sebagai tempat donor.
4. Menghilangkan frenulum dan perlekatan yang abnormal.
5. Memperdalam vestibulum.
6. Menutupi akar yang terbuka.
7. Prosedur ridge augmentation.

Keberhasilan untuk menambah gingiva koronal daerah resesi (root


coverage) dengan penggunaan teknik free gingival grafts telah banyak dilaporkan
(Newman, 2012). Pada dasarnya sama teknik free gingival grafts untuk
menambah gingiva apikal daerah resesi dan free gingival grafts untuk menambah
gingiva koronal daerah resesi (root coverage). (Sato, 2000)

9
Langkah 1: Siapkan daerah penerima (Dibart, 2006)
Setelah dilakukan anastesi lokal, lakukan root planing pada daerah
resesi dengan menggunakan kuret Gracey atau back-action chisel, untuk
menghilangkan sementum yang terkontaminasi dan meratakan permukaan
akar. Jiika diperlukan pada tahap ini, cekungan dan cembungan pada
permukaan akar dihilangkan dengan menggunakan bur.

Gambar 3.22. Free gingival grafts untuk menambah gingiva koronal


daerah resesi (root coverage).

Segera setelah dilakukan root planing, lakukan pemolesan dengan


aplikasi asam sitrat jenuh menggunakan cotton pellets selama 5 menit pada
permukaan akar (Miller, 1985). Bisa juga menggunakan tetrasiklin HCL
50-100 mg/ml, untuk membuka tubulus dentin (Poison et al, 1984), dan
membuang smear layer agar terjadi perlekatan connective tissue-root
surface (Isik et al, 2000), lalu daerah tersebut dibilas, dan lakukan insisi
horizontal pada CEJ untuk melindungi interdental papil.

Insisi vertikal dipanjangkan satu gigi arah mesiodistal. Poin ini


sangat penting, karena graft tidak dapat hidup jika ditempatkan pada
daerah penerima dengan kekurangan vaskularisasi. Oleh sebab itu daerah
penerima harus selebar mungkin karena keterbatasan anatomi, daerah

10
apikal lebih dipanjangkan 3 mm. Sehingga prediksi penutupan akar akan
lebih besar.

Gambar 3.23. Mempersiapkan daerah penerima. (Dibart, 2006)

Gambar 3.24. Palatal graft dijahit pada daerah penerima menggunakan


teknik mesiodental horizontal suture dan dua circular intraperiosteal
suture.

Langkah 3 dan 4: Sama dengan teknik free gingival grafts untuk menambah
gingiva apikal daerah resesi.
Lihat teknik langkah demi langkah yang dijelaskan pada free gingival grafts
klasik sebelumnya yaitu teknik yang dipakai untuk menambah gingiva apikal
daerah resesi.

11
Gambar 3.25. Kontrol 1 tahun setelah operasi, terdapat gingiva yang berkeratin,
dan tidak ada tarikan pada frenulum labial. (Dibart, 2006).

Hasil teknik ini dapat untuk menambah gingiva koronal daerah resesi (root
coverage) tetapi mungkin ada perbedaan warna estetik dengan gingiva yang
berdekatan karena warna lebih terang. (Newman, 2006)

B. FREE CONNECTIVE TISSUE AUTOGRAFTS


Teknik free connective tissue autograft awalnya dijelaskan oleh Edel dan
didasarkan pada kenyataan bahwa jaringan ikat merupakan pembawa genetik
untuk epitel yang melapisi untuk menjadi keratin. Oleh karena itu hanya jaringan
ikat bawah keratin dapat digunakan sebagai graft (Newman, 2012).

12
Gambar 4. Free Connective Tissue Graft. A. Kurang keratinisasi, attached
gingiva insisivus tengah. B. insisi vertikal untuk mempersiapkan daerah
penerima. C. daerah penerima disiapkan. D. palatal dimana jaringan ikat akan
dilepaskan untuk jaringan donor. E. Pengambilan dari jaringan ikat. F, Donor
dijahit. G, Jaringan ikat untuk graft. H. jaringan ikat ditempatkan pada tempat
donor. I.penyembuhan setelah operasi pada hari ke 10. J. penyembuhan setelah 3
bulan (Newman, 2006).
Keuntungan dari teknik ini adalah bahwa jaringan donor diperoleh dari
permukaan bawah flap palatal yang dijahit kembali saat penutupan primer

13
sehingga penyembuhan dapat dengan sendirinya. Pasien terkadang memiliki rasa
kurang nyaman pascaoperasi di daerah donor.
Keuntungan lain dari free connective tissue autograft adalah bahwa
estetika dapat dicapai dengan baik karena perbandingan warna yang sama pada
jaringan graft ke daerah yang berdekatan. (Newman, 2006)

C. PEDICLE GRAFT

Teknik Pedicle Autograft


Teknik pedicle autograft terdiri dari laterally positioned flap dan double
papilla reposition flap. Prosedur bedah mukogingiva dengan teknik pedicle graft
membutuhkan flap yang partial thickness untuk menempatkan flap baik secara
lateral maupun koronal untuk menutup defek resesi. Teknik ini memiliki hasil
yang lebih estetik karena teknik ini menghindarkan pembentukan jaringan keloid
like serta perbedaan warna yang biasa terjadi pada teknik free gingival graft. Serta
teknik ini tidak membutuhkan biaya tambahan untuk menyertakan membran
seperti pada penggunaan GTR. Akan tetapi, teknik ini juga memiliki kekurangan,
antara lain menghasilkan vestibulum yang dangkal, jumlah dan ketebalan jarigan
keratin yang kurang adekuat, bahkan kehilangan jaringan lunak interdental (Lee,
2002).

C.1 LATERALLY POSITIONED PEDICLE FLAP

Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Grupe dan Warren pada tahun
1956, yang kemudian menjadi teknik standar selama bertahun-tahun dan sampai
sekarang masih diindikasikan untuk beberapa kasus. Laterally positioned flap ini
dapat digunakan untuk menutupi jaringan akar terisolasi dan terbuka yang
memiliki jaringan donor memadai di sebelahnya disertai dengan kedalaman
vestibulum yang memadai. Desain flap yang pertama kali diperkenalkan oleh
mereka adalah sliding flap (Gambar 3.3A), yang kemudian dimodifikasi oleh
Grupe pada tahun 1966 dengan insisi submarginal pada daerah donor untuk

14
mencegah resesi derah donor (Gambar 3.3B). Staffileno (1964), memberi solusi
dengan flap partial thickness untuk melindungi daerah donor dari terjadinya
resesi. Kemudian pada tahun itu juga, Corn memodifikasi dengan menambahkan
insisi cutback untuk mengurangi tension (Gambar 3.3C).
Pada tahun 1969, Dahlberg menggunakan prinsip rekayasa dengan
merotasi pedicle flap sehingga tidak membutuhkan insisi cutback (Gambar 3.3D).
Goldman dan smukler (1978) menambahkan simulasi flap periosteal dan tahun
1983 menyertakan flap rotasi partial-full yang melibatkan full thickness untuk
menutup permukaan akar terbuka dan partial thickness untuk menutup tulang
yang terekspos (Newman, 2006)
Keuntungan teknik ini yaitu: hanya meliputi satu pembedahan,
vaskularisasi yang lebih baik. Sedangkan kerugiannya meliputi: keterbatasan
jumlah gingiva berkeratin pada daerah sekitar defek, kemungkinan resesi pada
daerah donor, adanya dehisensi atau fenestrasi pada daerah donor, serta hanya
terbatas pada satu atau dua gigi yang resesi. Selain itu, teknik ini juga memiliki
kontraindikasi dimana teknik ini tidak boleh dilakukan pada daerah dengan poket
interdental yang dalam, resesi yang meluas, abrasi atau erosi akar yang dalam dan
luas, serta kehilangan ketinggian tulang interproksimal yang signifikan (Cohen,
2007)

Langkah-langkah prosedur laterally displaced flap ini, meliputi: (Newman, 2006;


Cohen, 2007)
1) Langkah 1 : Mempersiapkan daerah resipien
Gigi dengan resesi yang meluas sampai mukogingival junction
tanpa gingiva cekat yang tersisa, dibuat outline untuk insisi awal (a-b-c)
lalu outline untuk antisipasi insisi (d-e-f). Lalu dengan menggunakan
scalpel no. 15A dibuat insisi membentuk huruf V untuk membuang
jaringan epitel maupun jaringan ikat di sekitar permukaan akar yang
terbuka. Jaringan ikat yang terekspos akan menjadi daerah resipien untuk
laterally displaced flap. Permukaan akar harus sudah di scaling maupun
root planing.

15
Gambar 3.5 Langkah 1 prosedur teknik laterally displaced flap
(A) Gambaran resesi sampai mukogingiva junction tanpa gingiva cekat yang
tersisa, (B) Outline insisi awal a-b-c, dan insisi cutback d-e-f, (C) Insisi V pada
daerah defek, (D) Pembuangan jaringan eiptel dan jaringan ikat di sekitar defek.4

2) Langkah 2 : Mempersiapkan daerah donor


Jaringan periodontal dari daerah donor harus memiliki luas
attached gingiva yang cukup dan kehilangan tulang yang minimal, tanpa
dehisensi atau fenestrasi. Luas daerah donor minimal satu setengah kali
luas daerah resipien dengan panjang sekitar tiga kalinya. Flap full
thickness atau flap partial thickness keduanya dapat digunakan tetapi
partial thickness flap lebih disarankan karena memiliki keuntungan
berkaitan dengan penyembuhan yang cepat di daerah donor serta
mengurangi risiko kehilangan ketinggian tulang fasial, terutama jika
dicurigai tulang yang terlibat tipis atau adanya dehisensi maupun
fenestrasi.
Insisi scallop bevel internal dilakukan dengan menggunakan blade
nomor #15 dari gingiva margin sesuai outline sampai ke v-shaped outline
pada daerah defek. Insisi dilakukan hingga ke periosteum dan perluas
insisi mukosa oral sampai ke dasar tulang daerah resipien. Interdental
papila dilakukan biseksi partial secara hati-hati.

16
Insisi vertikal dibuat sepanjang margin gingiva dan papila
interdental untuk membuat flap partial atau full thickness mengunakan
blade no. 15, flap diperluas ke apikal secukupnya pada jaringan mukosa
untuk memperoleh mobiliti flap yang adekuat. Dasar flap harus luas, tetapi
tidak boleh lebih luas dari daerah koronal, untuk permeabilitas vaskuler.

Gambar 3.6 Langkah 2 prosedur teknik laterally displaced flap


(E) Insisi scallop internal bevel pada outline sampai v-shaped outline daerah
defek, (F) Insisi vertikal dan biseksi partial thickness sampai batas mukogingival.4

3) Langkah 3 : Mempersiapkan pedicle flap


Setelah dipisahkan, kemudian flap direfleksikan. Kemudian flap
dipindahkan ke daerah donor menutupi defek. Bila terjadi tarikan atau
tension, maka dilakukan inssisi kembali pada outline antisipasi d-e-f atau
insisi cutback (insisi pendek yang oblique pada mukosa laveolar pada
ujung distal flap gigi donor, mengarah ke daerah resipien). Memperluas
insisi ini kadang dibutuhkan untuk menghindari tarikan atau tension pada
dasar flap, yang mana dapat mengganggu sirkulasi ketika flap
dipindahkan. Geser flap secara lateral ke daerah resipien, pastikan flap
datar dan kuat tanpa adanya tension yang berlebihan pada dasar flap.

Posisikan pedicle flap ke koronal sekitar 1 sampai 2mm pada email


gigi resipien atau semaksimal mungkin yang dapat dicapai oleh bagian
interproksimal. Jahit flap pada gingiva dan mukosa alveolar yang
berdekatan menggunakan silk 4,0 -5,0 atau 6,0 dengan teknik interrupted
atau sling. Jahitan sling dapat dibuat disekitar gigi yang terlibat untuk
memegang flap pada gigi sehingga dapat mencegah flap bergeser ke
apikal. Tutup area operasi dengan periodontal dressing yang lunak,

17
kemudian diperluas ke interdental dan ke permukaan lingual untuk
melindungi daerah operasi. Perlu dicatat bahwa area yang terekspos adalah
daerah interradikuler antar gigi, bukan pada permukaan fasial gigi. Hal ini
dilakukan untuk menghindari terjadinya resesi pada daerah donor.

Gambar 3.7 Langkah 3 prosedur teknik laterally displaced flap


(G) Pedicle flap dengan biseksi partial thickness, (H) Pedicle flap dengan biseksi full
thickness, (I) Tension saat pemindahan flap, (J) Dilakukan insisi cutback, (K)
Penjahitan setelah pemindahan flap dari daerah donor ke daerah respien tanpa tension
dengan biseksi partial thickness, (L) Penjahitan setelah pemindahan flap dari daerah
donor ke daerah respien tanpa tension dengan biseksi full thickness.4

18
Gambar 3.8 Gambaran klinis prosedur teknik laterally displaced flap
(A) Defek resesi pre-operasi, (B) Ouline insisi yang terdiri dari v-shaped daerah resipien-
insisi daerah donor-rotated donor flap, (C) Hasil insisi v-shaped pada daerah resipien, (D)
Hasil pedicle flap dimana angulasi dari insisi mengarah ke daerah resipien, (E) Penjahitan
pedicle flap tanpa tension, (F) dua tahun paska operasi, terlihat peningkatan gingiva cekat
yang signifikan.4

C.2 Double papillae positioned flap

Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Wainberg yang kemudian


dimodifikasi oleh Cohen dan Ross pada tahun 1968. Desain ini bertujuan untuk
memperoleh daerah gingiva cekat yang adekuat untuk menutup permukaan akar
terbuka dengan menyertakan interdental papil. Teknik ini diindikasikan untuk
papila interdental yang berbatasan dengan defek cukup luas, ketika gingiva cekat
di interproksimal gigi tidak cukup untuk dilakukan teknik laterally positioned
flap, serta tidak ditemukannya poket periodontal. Teknik ini memiliki keuntungan
yang meliputi: resiko kehilangan tulang alveolar yang minimal, papila biasanya
menyediakan gingiva cekat yang cukup luas dibandingkan daerah radikular pada
permukaan akar gigi, serta prediksi klinisi terhadap hasil dari prosedur ini adalah
baik (Lindhe, 2003)
Langkah-langkah prosedur ini, meliputi: pembuatan outline insisi dimana
insisi ke lateral untuk release dibuat mengikuti garis sudut mesiofasial dan

19
distofasial dari gigi tetangga bukan pada permukaan radikuler gigi terdekat. Insisi
V-shaped dibuat untuk membuang ujung gingiva yang melapisi akar. Insisi
diperluas sejauh mungkin ke apikal untuk menghindari tension pada jaringan saat
flap dipindahkan secara bersamaan. Insisi horizontal dibuat sepanjang interdental
papil bagian atas, seluruh insisi ini dilakukan dengan menggunakan blade no.15.
Hasil insisi v-shaped dibuang, kemudian permukaan akar di scaling dan root
planing. Lalu dilakukan biseksi flap partial-thickness menggunakan blade no.15
kemudian flap dipisahkan. Lalu kedua flap disatukan dan dijahit ditengah
permukaan akar yang terbuka menutupi defek menggunakan kombinasi
interrupted dan sling, benang silk atau chromic gut ukuran 4,0-5,0-6,0.

Gambar 3.9 Prosedur teknik double papillae positioned flap


(A) Defek resesi pre-operasi, (B) Hasil insisi sesuai outline dan hasil pembuangan
jaringan pada insisi v-shaped, permukaan akar terbuka di scaling dan root planing (C)
Penyatuan flap di tengah permukaan akar terbuka pada defek dan penjahitan.4

Gambar 3.10 Gambaran klinis prosedur teknik double papillae positioned flap
(A) Defek resesi pre-operasi, (B) Hasil insisi sesuai outline dan hasil pembuangan
jaringan pada insisi v-shaped, permukaan akar terbuka di scaling dan root planing (C)
Penyatuan flap di tengah permukaan akar terbuka pada defek dan penjahitan.4

20
BAB III
KESIMPULAN

Bedah mukogingiva merupakan prosedur bedah yang dibutuhkan untuk


menutup defek resesi lokal dimana salah satu tekniknya adalah pedicle autograft.
Prosedur bedah mukogingiva ini terdiri dari free gingival graft, connective tissue
graft, dan pedicle graft yang meliputi laterally positioned flap dan double papilla
reposition flap. Pemilihan teknik untuk prosedur bedah ini berdasarkan indikasi
sehingga kasus yang tepat dapat ditangani dengan teknik bedah yang sesuai untuk
mencapai hasil yang baik.
Untuk dapat meningkatkan keberhasilan, ada beberapa faktor yang harus
diperhatikan sebelum melakukan prosedur bedah mukogingiva. Lingkup bedah
mukogingiva ini merupakan kompetensi periodontist, serta seorang periodontist
harus mampu bekerja secermat mungkin dalam penatalaksanaan kasus ini.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Newman M.G, Takei H.H, Klokkevold P.R, Carranza F.A. 2006.

Carranza`s Clinical Periodontology. 10th ed. St. Louis: Elsevier. Pp 1008-

1010.

2. Cohen ES. Atlas of Cosmetic and Reconstructive Periodontal Surgery. 3rd


ed. 2007. BC Decker Inc: Hamilton.

3. Babu H. Lateral Pedicle Grafts, A Best Alternative For Free Gingival


Autografts - A Case Report. Annals and Essences of Dentistry Journal
2011; 3(2): 47-9.

4. Lindhe J, Karring T, Lang NP. Clinical Periodontology and Implant


Dentistry. 4th ed. 2003. Iowa: Blackwell Publishing Ltd.

5. Lee YM, et al. A 3-Year Longitudinal Evaluation of Subpedicle Free


Connective Tissue Graft for Gingival Recession Coverage. J Periodontol
2002; 73(12): 1412-18.

6. Dibart S, M Karima. Practical Periodontal Plastic Surgery. 2006.


Blackwell: Munksgaar

22
23