Anda di halaman 1dari 12

A.

Hakikat metodologi studi islam

Metode berasal dari bahasa yunanai :metodos yang berarti cara atau
jalan. Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk mempermudah
pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Menurut ahmad yunnus, metode adalah jalan yang ditempuh oleh
seseorang untuk sampai pada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan
perusahaan atau perniagaan maupun dalam kumpulan ilmu pengetahuan
dan yang lainnya.

Dari definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa metode mengandung


urutan kerja yang terancang, sistematis dan merupakan hasil eksperimen
ilmiah untuk tujuan yang telah direncanakan.

Menutrut bahasa (etimologi), metode berasal dari bahasa yunani yaitu


meta (sepanjang dan hodos (jalan), jadi metode adalah ilmu tentang cara
atau langkah-langkah yang ditempuh dalam disiplin tertentu untuk
mencapai tujuan tertentu. Metode berarti ilmu yang menyampaikan sesuatu
kepada orang lain. metode juga disebut pengajaran atau penelitian.

Menurut istilah (terminologi), metode adalah ajaran yang memberikan


uraian, penjelasan, dan penentuan nilai. Metode bisa digunakan dalam
penelitian keilmuan. Hugo F Reading mengatakan metode adalah kelogisan
penelitian ilmiah, sistem tentang prosedur dan teknik riset.

Pengertian metodologi berasal dari bahasa yunani, yaitu metodos yang


berarti jalan dan logos yang berarti ilmu. Metodologi adalah ilmu tentang
cara untuk sampai pada tujuan. Menurut Asmuni Syukir (2001), metodologi
berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari cara-cara atau jalan yang
efektif dan efesien.

Ketika metode digabungkan dengan kata logos, maknanya berubah.


Logos berarti studi tentang atau teori tentang. Oleh karena itu, metodologi
tidak lagi sekedar kumpulan cara yang sudah diterima (well received),
tetapi berupa kajian tentang metode. Dalam metodologi diberikan kajian
tentang cara kerja ilmu pengetahuan. Ringkasnya, apabila dalam metode
tidak ada perbedaan, refleksi, dan kajian tentang cara kerja ilmu
pengetahuan, dalam metodologi terbuka luas untuk mengkaji, mendebat,
dan merefleksi cara kerja suatu ilmu. Oleh karena itu, metodologi menjadi
bagian dari sistematika filsafat, sedangkan metode tidak demikian.

Metodologi adalah ilmu cara-cara dan langkah-;langkah yang tepat untuk


menganalisis suatu penjelasan serta menerapkan cara.

Istilah metodologi studi islam digunakan ketika seseorang ingin


membahas kajian-kajian seputar beragam metode yang biasa digunakan
dalam studi islam. Misalnya kajian atas ,etode normatif, historis, filosofis,
komperatif dan sebagainya. Metodologi studi islam mengenal metode-
metodeitu sebatas teoritis. Seseorang yang mempelajarinya pun belum
menggunakan dalam praktik, tetapi masih dalam tahap mempelajari secara
teoritis bukan praktis.

B. Ruang lingkup studi islam

Secara sederhana, studi islam dapat dikatakan sebagai usaha untuk


mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan agama islam. Dengan
perkataan lain usaha sadar dan sistematis untuk mengetahuai dan
memahami serta membahas secara mendalam seluk-beluk dan hal-hal yang
berhubungan dengan agama islam, baik ajaran, sejarah maupun praktik
pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang
sejarahnya.

Studi islam adalah pengetahuan yang dirumuskan dari ajaran islam yang
dipraktikkan dengan sejarah dan kehidupan manusia. Sedangkan
pengetahuan agama adalah pengetahuan yang sepenuhnya diambil dari
ajaran-ajaran Allah dan rasulNya secara murni tanpa dipengaruhi sejrah,
seperti ajaran tentang aqidah, ibadah, membaca Alquran dan akhlak.

Apabila kita membicarakan tentang agama, maka akan dipengaruhi oleh


pandangan pribadi, juga dari pandangan yang kita anut. Untuk
mendapatkan pengertian tentang agama, religi dan diin, kita mengutip
pendapat seperti : Bozman, bahwa agama dalam arti luas merupakan suatu
penerimaan terhadap aturan-aturan dari kekuatan yang lebih tinggi dari
kekuatan manusia.

H. Moenawar Cholil (1995) dalam bukunya definisi dan sendi agama


menjelaskan kata diein itu masdar dari kata daana yadainu. Menurut
bahasa , kata dien mempunyai arti:
1. Cara atau adat kebiasaan,
2. Pereturan
3. Nasihat
4. Agama dan lain-lain

Dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa :

1. Agama, religi dan dien memiliki pengertian yang sama


2. Aktifitas dan kepercayaan agama, religi, dien mencangkup masalah
kepercayaan kepada tuhan.

Agama bertitik tolak dari adanya suatu kepercayaan terhadap suatu


yang lebih berkuasa, lebih agung, lebih mulia daripada makhluk. Agama
berhubungan dengan masalah ketuhanan, dan manusia yang
memercayainya harus menyerahkan diri kepadaNya, mengabdikan diri
sepenuh-penuhnya. Ada empat ciri zgama yang dapat kita kemukaan, yaitu:

1. Kepercayaan terhadap yang gaib, kudus dan maha agung dan


pencipta alam semesta (tuhan).
2. Melakukan hubungan dengan berbagai cara, seperti dengan cara
mengadakan upacara ritual, pemujaan, pengabdian dan doa.
3. Ajaran (doktrin) yang harus dijalankan oleh setiap penganutnya.
4. Rasul dan kitab suci yang merupakan ciri khas agama.

Agama tidak hanya untuk agama, tetapi juga untuk diterapkan dalam
kehidupan dengan segala asperknya.

Agama sebagai studi menurut M. Nurhakim (2004: 34)minimal dapat dilihat


dari tiga sisi:

1. Doktrin dari tuhan yang sebenarnya bagi para pemeluknya sudah


final dalam arti absolut, fan diterima apa adanya.
2. Gejala budaya, yang berarti seluruh semua kreasi manusia dalam
kaitannya dengan agama termasuk pemahaman orang terhadap
doktrin agamanya.
3. Interaksi sosial, yaitu realitas umat islam.

Apabila islam dilihat dari tiga sisi, ruang lingkup studi islam dapat
dibatasi dari tiga sisi tersebut. Karena sisi doktrin merupakan suatu
keyakinan atas kebenaran teks wahyu, hal ini tidak memerlukan penelitian
empiris.

C. Urgensi studi islam


Pada saat ini, ketika umat islam mengalami tantangan kehidupan dunia
dan budaya modern, studi islam menjadi sangat urgen. Urgensi islam
tersebut dapat diuraikan dan dipahami sebagai berikut.

1. Alternatif dalam mengatasi problem yang dihadapi umat islam.


Umat islam saat ini dalam kondisi problematis, yaitu dalam posisi
termaginalkan (pinggir) dan lemah dalam aspek kehidupan sosial
budaya yang harus berhadapan dengan kehidupan modern yang maju
dan canggih. Dengan demikian, umat islam harus melakukan gerakan
pemikiran yang menghasilkan konsep yang cemerlang dan operasional
untuk mengantisipasi perkembangan tersebut. Jika hanya berpegang
pada ajaran islam dan penafsiran ulama islam terdahulu yang
merupakan warisan trurun temurun yang dianggap paling benar, umat
islam akan mengalami kemandekan intelektual. Oleh karaena itu,
melalui pendekatan yang bersifat objektif rasional, studi islam mampu
memberikan alternatif dari kondisi tersebut.
Probelm lainnya dalah pesatnya perkembangan IPTEK telah membuka
era baru dalam perkembangan budaya dan peradaban umat manusia
yang dikenal dengan era global. Pada era ini, jarak hubungan serta
komunikasi antar bangsa dan budaya umat manusia semakin dekat.
Dalam suasana tersebut, umat manusia membutuhkan aturan, nilai,
norma serta pedoman dan pegangan hidup yang universal yang
semuanya dapat diperoleh dari agama, filsafat, ilmu pengetahuan dan
teknologi. Akan tetapi agama telah ditinggalkan oleh perkembangan
filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan semua itu tidak
dapat memberi pedoman bagi umat manusia.
Harord H. Titus (1976) dan yang lainnya menjelaslkan situasi
problematis tersebut, bahwa filsafat telah mencapai kekuatan yang
besar, tetapi tanpa kebijaksanaan. Saat ini manusia mempunyai
kemampuan yang sangat besar untuk menguasai alam semesta, tetapi
kemajuan yang sangat menakjubkan tersebut justru membuat pikiran
resah dan gelisah. Pengetahuan menjadi terpisah dari nilai, dan
kekuatan besar telah tercapai tanpa kebijaksanaan. Karena manusia
menggunakan perkembangan tersebut untuk maksud destruktif.

2. Meluruskan arah menuju masa depan.

Roger garaudi (1989) mengemukakan bahwa perkembangan filsafat dan


peradaban modern saat ini telah mendorong manusia pada hidup tanpa
tujuan dan membawa kematian. Hal ini merupakan akibat dari
perkembangan filsafat barat modern yang salah arah, yang berpegang pada
hal-hal berikut.

a. Konsep yang keliru tentang alam, dengan menganggapnya


sebagai milik manusia, sehingga mereka berhak
mengeksploitasinya sesuka mereka.
b. Konsep yang tidak mengenal belas kasih tentang hubungan
manusia yang didasarkan atas individualisme, tanpa kembali dan
hanya menghasilkan persaingan pasar.
c. Konsep yang menyebabkan rasa putus asa terhadap masa depan.
3. Menggali kembali ajaran islam yang asli dan murni serta bersifat
manusiawi dan universal
Di sinilah urgensi studi islam untuk menggali kembali ajaran islam yang
asli dan murni serta bersifat manusiawi dan universal, yang mempunyai
daya untuk mewujudkan dirinya sebagai rahmatan lil alamiin. Hal tersebut
harus ditransformasikan kepada generasi penerusnya agar dengan
peradaban budaya modern, mereka mampu berhadapan dan beradaptasi
sepenuhnya.
D. Paradigma studi
Paradigma srtudi islama terbagai menjadi beberapa kelompok, antara
lain.
1. Islam normatif

Islam normatif yaitu sebuah pendekatan yang lebih menekankan


aspek normatif dalam ajaran islam sebagaimana dalam Alquran dan
Sunnah. Dalam pandangan islam normatif, kemurnian islam dipandang
secara tekstual berdasarkan Alquran dan Hadist, selain itu dikatakan
bidah. Kajian nislam normatif islam, melahirkan tradisi teks, tafsir,
teologi, fiqh, tasawuf, filsafat.

a. Tafsir, tradisi penjelasan dan pemaknaan kitab suci.


b. Teologi, tradisi tentang persoalan ketuhanan.
c. Fiqh, tradisi dalam oemikiran dalam bidang tata hukum.
d. Tasawuf, tradisi pemikiran dalam pendekatan diri kepada
tuhan.
e. Filsafat, tradisi pemikirat dalam bidang hakikat kenyataan,
kebenaran dan kebaikan.
2. Islam historis

Dalam pemahan kajian islam historis, tidak ada konsep atau hukum
islam yang bersifat tetap, semua bisa berubah sesuai dengan kondisi. Kaum
historis memiliki pemahaman tentang hukum islam yang mana hukum islam
itu adalah produk dari pemikiran ulama yang muncul karena konstruk sosial
tertentu. Dalam kajian islam historis ditelkankan aspek relitivitas
pemahaman keagamaan.

Pemahaman manusia terhadap ajaran agamanya adalah bersifat


relatif dan terkait dengan konteks budaya sosial tertentu. Kajian islam
historis melahirkan tradisi atau disiplin studi empiris, antropologi agama,
sosiologi agama, psikologi agama dan sebagainya.

a. Antropologi agama, disiplin yang mempelajari tingkah laku manusia


beragama dalam hubungannya dengan kebudayaan.
b. Sosiologi agama, disiplin yang mempelajari sistem relasi sosial
masyarakat dalam hubungannya dengan agama.
c. Psikologi agama, disiplin yang mempelajari aspek-aspek kejiwaan
manusia dalam hubungannya dengan agama.
d. Perkembangan studi islam di islam.

Selama penggal sejarah timbulnya islam, peradaban dunia meliputi


dua kerajaan, yaitu sasanid persia dan bizanti roma yang bersuku badui dan
penggembala unta yang hidup dengan cara berkabilah dan
berdagang.pendidikan islam pada zaman awal dilaksanakan dimasjid-
masjid. Mahmud Yunus menjelaskan bahwa pusat-pusat studi islam klasik
adalah makkah dan madinah, basrah dan kuffah, damaskus dan palestina
dan fistat mesir. Madrasah makkah dipelopori oleh Muadz bin Jabal,
madrasah Madinah dipelopori oleh Abu Bakar, Umar dan Ustman, madrasah
basrah dipelopori oleh Abu Musa Alasyari dan Anas bin Malik, madrasah
kuffah dipelopori oleh Ali bin Abi Thalib dan Abdullah ibnu Masud, madrasah
damaskus dipelopori oleh Ubadah dan Abu Darda, madrasah Fistat mesir
dipelopori oleh Abdullah bin Amr bin Ash.

Pada zaman kejayaan islam, studi islam dipusatkan di ibu kota


negara, yaitu Bagdad. Pada zaman Almakmun (813-833), putra Harus
Arrasid, si istana bani Abbasyah didirikan bait Alhikmah sebagai pusat
pengembangan ilmu pengetahuan dengan fungsi ganda, yaitu sebagai
perpustakaan dan lembaga pendidikan (sekolah) serta sebagai tempat
penerjemahan karya-karya yunani kuno kedalam bahasa arab untuk
melakukan ekselerasi pengembangan ilmu pengetahuan.
Sementara itu, di eropa terdapat pusat kebudayaan yang nerupakan
tandingan Bagdad, yaitu Universitas Cordova, yang didirikan oleh
Abdurrahman III(929-961) dari sinasti Umayyah di Spanyol.di timur islam
(Bagdad) juga didirikan Madrasah Nizhamiah yang didirikan oleh perdana
Menteri Nizam Al-mulk, di Kairo Mesir didirikan Universitas Al-azhar yang
dinasti fatimiah dari kalangan Syiah. Dengan demikian pusat kebudayaan
juga merupakan pusat studi islam adalah Bagdad, Mesir dan Spanyol.

E. Perkembangan studi Islam di barat.

Studi islam di negara-negara non islam juga diselenggarakan, antara


lain di India, Chicago, Los Angles, London dan Kanada. Di Aligarch Univercity
India, studi islam dibagi menjadi dua, yaitu islam sebagai doktrin dikaji di
Fakultas Ushuluddin yang mempunyai dua jurusan Madzab Ahli Sunah dan
Madzab Syiah. Sementara islam dari aspek sejarah dikaji di Fakultas
Humaniora dalam jurusan Islamic studies.

Di Jamiah Millia Islamia, New Delhi, Islamic Studi Program dikaji di


fakultas Humaniora yang membawahi juga Arabic Studies, Persian Studies,
Political Science.

Di Chicago, kajian islam diselenggarakan di Chicago University.


Secara organisatoris, studi islam berada dibawah Pusat Studi Timur Tengah
dan Jurusan Bahasa, dan Kebudayaan Timur Dekat. Di lembaga ini, kajian ini
lebih mengutamakan kajian tentang pemikiran islam, Bahasa Arab, naskah-
naskah klasik, dan bahasa-bahasa non-arab.

Di Amerika, studi islam pada umumnya mengutamakan studi sejarah


islam, bahasa islam selain bahasa arab, sastra dan ilmu-ilmu sosial. Studi
islam di Amerika dibawah naungan Pusat Studi Timur Tegah dan Timur
Dekat.

Di UCLA, studi islam dibagi menjadi beberapa komponen. Pertama,


doktrin dan sejarah islam, kedua: Bahasa Arab, ketiga: ilmu-ilmu sosial
sejarah dan sosiologi. Di London, studi islam digabungkan dalam school pf
oriental and african studies (fakultas strudi ketimuran dan Afrika) yang
memiliki berbagai jurusan bahasa dan kebudayaan di Asia dan Afrika (Atang
A. Hakim dkk., 2008).
Dengan demikian, objek studi islam dapat dikelompokkan menjadi
beberapa bagian, yaitu sumber islam, ritual dan institusi islam, sejarah
islam, aliran dan pemikiran tokoh, studi kawasan dan bahasa yang semua
itu telah menjadi objek pembelajaran di perguruan tinggi di Eropa.

F. Perkembangan Studi Islam di Indonesia.

Pada saat ini, studi islam hampir berkembang di seluruh negara di


dunia, baik islam maupun non-islam. Di Indonesia, studi islam dilaksanakan
di UIN, IAIN, STAIN dan perguruan tinggui swasta lainnya yang
menyelenggarakan studi islam. Dalam meyakini studi islam sebagai upaya
yang paling mendasar dan strategis sebgai wahana penyiapan sumber daya
manusia dalam pembangunan (dalam arti luas), umat islam yang
merupakan mayoritas penduduk Indonesia, terutama kaum cendekiawan,
harus terpanggil untuk menjadi pelopor. Ada beberapa hal yang menjadi
dasar pembenaran, yaitu sebagai berikut.

Dari segi ajaran islam, islam telah menempatkan penguasaan ilmu


pengetahuan sebagai instrumen untuk meraih leunggulan hidup.
Pandangan ini ditaati oleh manusia modern dewasa ini, terutama kaum non-
muslim, yaitu untuk meraih keunggulan kehidupan duniawi. Adapun islam
lebih dari itu, yaitu bahwa penguasaan ilmu pengetahuan itu sebagai
mediator untuk keunggulan menuju dua kehidupan sekaligus, yaitu
kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi.

Dalam perkembangan sejarahnya, islam cukup memberikan acuan


dan dorongan bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Bahkan, terdapat mata
rantai yang erat antara kemajuan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh
dunia barat dewasa ini dengan kemajuan di bidang ilmu-ilmu pengetahuan
yang pernah dicapai dalam dunia islam.

Umat islam di Indonesia cukup kaya dengan lembaga pendidikannya.


Lembaga ini termasuk bank sumber daya manusia yang tidak ternilai
harganya. Adapun masalahnya ada pada umat islam sendiri , seberapa jauh
mereka mampu mengangkat ajaran islam dan sekaligus menjadikan
lembaga pendidikannya sebagai lembaga sumber daya pembangunan.
Selain itu, lembaga-lembaga pendidikan islam harus semakin menyadari
posisinya dalam membuat satu komitmen strategi, yaitu menjadikan dirinya
sebagai bank sumber daya manusia.
G. Model berpikir umum.
1. Rasional.
Secara etimologis menurut Bagus (2002), rasionalisme berasal dari kata
bahasa Inggris rationalims, dan menurut Edwards (1967) kata ini berakar
dari bahasa Latin ratio yang berarti akal, Lacey (2000) menambahkan
bahwa berdasarkan akar katanya rasionalisme adalah sebuah pandangan
yang berpegang bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan
pembenaran.
Kaum Rasionalisme mulai dengan sebuah pernyataan aksioma dasar yang
dipakai membangun sistem pemikirannya diturunkan dari ide yang menurut
anggapannya adalah jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia. Pikiran
manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui ide tersebut, namun
manusia tidak menciptakannya, tetapi mempelajari lewat pengalaman. Ide
tersebut kiranya sudah ada di sana sebagai bagian dari kenyataan dasar
dan pikiran manusia.
Kaum rasionalis berdalil bahwa karena pikiran dapat memahami
prinsip, maka prinsip itu harus ada, artinya prinsip harus benar dan nyata.
Jika prinsip itu tidak ada, orang tidak mungkinkan dapat
menggambarkannya. Prinsip dianggap sebagai sesuatu yang a priori, dan
karenanya prinsip tidak dikembangkan dari pengalaman, bahkan sebaliknya
pengalaman hanya dapat dimengerti bila ditinjau dari prinsip tersebut.
Dalam perkembangannya Rasionalisme diusung oleh banyak tokoh, masing-
masingnya dengan ajaran-ajaran yang khas, namun tetap dalam satu
koridor yang sama.
Pada abad ke-17 terdapat beberapa tokoh kenamaan rasionalis seperti Plato
sebagai pelopornya yang disebut juga sebagai rasionalisme atau
platonisme , Ren Descartes (1590 1650) yang juga dinyatakan sebagai
bapak filsafat modern. Semboyannya yang terkenal adalah cotigo ergo
sum (saya bepikir, jadi saya ada). Tokoh-tokoh lainnya adalah J.J. Roseau
(1712 1778) dan Basedow (1723 1790), Gottfried Wilhelm von Leibniz,
Christian Wolff dan Baruch Spinoza. Perkembangan pengetahuan mulai
pesat pada abad ke 18 nama-nama seperti Voltaire, Diderot dan DAlembert
adalah para pengusungnya.
2. Empiris.
Empirisme secara etimologis menurut Bagus (2002) berasal dari kata
bahasa Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar dari kata
bahasa Yunani (empeiria) dan dari kata experietia yang berarti
berpengalaman dalam,berkenalan dengan, terampil untuk. Sementara
menurut Lacey (2000) berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran
dalam filsafat yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan
atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera.
Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai
empirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus
dicari dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan
abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami,
pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan
akal.
Berdasarkan Honer and Hunt (2003) aliran ini adalah tidak mungkin
untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi bila
di dekat kita terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk meningkatkan
pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih
dapat diandalkan. Kaum empiris cukup puas dengan mengembangkan
sebuah sistem pengetahuan yang mempunyai peluang besar untuk benar,
meskipun kepastian mutlak tidak akan pernah dapat dijamin. Kaum empiris
memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh
lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang
empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata tunjukkan hal itu kepada
saya. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh
pengalamannya sendiri. Tokoh yang dianggap sebagai benih dari empisisme
adalah Aristoteles, seperti juga pada rasionalisme, maka pada empirisme
pun terdapat banyak tokoh pendukungnya yang tidak kalah populernya.
Tokoh-tokoh dimaksud di antarnya adalah David Hume, John Locke dan
Bishop Berkley.

3. Irrasional
Model berfikir irrasional beranggapan bahwa kebenaran dapat
digapai melalui perimbangan-pertimbangan emosional. Objek kajiannya
adalah hal-hal yang abstrak, dan mempunyai paradigma mistik atau ghaib.
Adapun metodenya adalah latihan terus menerus atau mengasah secara
berulang-ulang. Adapun yang menjadi ukuran adalah kepuasan hati. Karena
itu, perbedaan ketiga pemikiran ini terletak padea paradigma, metode dan
ukuran.

H. Model berpikir kajian islam.

1. bayani

Model berfikir islam secara bayani adalah pendekatan dengan cara


menganalisis teks. Sumbernya adalah teks nash (al-quran dan sunnah) dan
teks non nash (karya ulama). Objek kajian dengan pendekatan ini adalah
gramatika dan sastra (nahwu dan blaghah), hokum dan teori hokum (fikih
dan usul fiqh), filologi, teologi, dan dalam beberapa kasus dibidang ilmu-
ilmu al-quran dan hadist.

2. burhani
Model berfikir islam secara adalah, bahwa untuk mengukur benar
atau tidaknya sesuatu adalah dengan berdasarkan komponen kemampuan
alamiah manusia berupa pengalaman dan akal tanpa dasar teks wahyu
suci, yang memunculkan peripatik. Ilmu diperoleh sebagai hasil penelitian,
hasil percobaan, hasil eksperimen, baik dilaboratorium maupun dialam
nyata, baik yang bersifat social maupun alam.
Untuk menyelesaikan problem-problem sosial dan dalam studi islam
untuk memadukan keduanya yaitu bayani dan burhani.

3. irfani
Model berfikir islami secara irfani adalah pendekatan yang bersumber
pada intuisi. Langkah-langkah penelitian irfaniah adalah takhliyah, tahliyah,
dan tajliyah. Tiga teknik penelitian irfaniah adalah riadah, tariqoh, dan
ijazah.
Alasan mengapa ajaran islam perlu bagi kita penganut islam di
Indonesia. Dapat dipastikan bahwa sejak ada kehidupan manusia lebih dari
satu orang, sudah ada hokum yang mengatur kehidupan mereka, demikian
juga sejalan dengan itu, pada masyarakat yang paling tertinggal sekalipun
pasti ada hokum yang mengatur kehidupan mereka.
Hukum yang digunakan kelompok masyarakat tertinggal biasanya
apa yang dikenal dengan hokum adat (hokum yang mereka akui / sepakati
bersama, tertulis atau tidak tertulis). Terbentuknya hokum dimasyarakat ini
adalah atas dasar kesepakatan, lepas dari proses mencapai kesepakatannya
demokratis atau tidak. Dari fakta ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa hukum
tertulis muncul setelah mengalami perkembangan dari hokum tidak tertulis.
Dengan begitu sebelum adanya tradisi tulis menulis, hokum sudah
ada, yang disebut hokum tidak tertulis. Sejalan dengan adanya tradisitulis
inilah munculnya konsep hokum tertulis.