Anda di halaman 1dari 6

Hukum Memajang Foto Tokoh Spiritual

Nov 13, 2014Muhammad Abduh Tuasikal, MScAqidah0 Komentar

Gambar Spiritual Donlowd Foto2 Buk Nyai Habibah Memajang Foto Makanan Saat Bulan
Ramadhan Memajang Foto Makanan Dibulan Puasa Hukum Pedapuran Pakai Fhoto

Sebagian orang ada yang memajang foto tokoh spiritual atau tokoh agama (Kyai, Tengku,
Ustadz) dengan tujuan sekedar dipajang, atau dikenang, ada tujuan lainnya untuk ngalap berkah,
bahkan untuk pesugihan (cepat kaya). Bahkan bukan hanya tokoh spiritual, tokoh ghaib pun
dipajang seperti foto Nyi Roro Kidul.

Hukum Memajang Foto

Adapun secara hukum memajang foto tokoh spiritual semacam itu terlarang berdasarkan banyak
hadits.

Dalam hadits muttafaqun alaih disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,

Para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang terdapat gambar di dalamnya (yaitu gambar
makhluk hidup bernyawa) (HR. Bukhari 3224 dan Muslim no. 2106)

Dalam hadits Jabir radhiyallahu anhu dia berkata,



Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang adanya gambar di dalam rumah dan beliau
melarang untuk membuat gambar. (HR. Tirmizi no. 1749 dan beliau berkata bahwa hadits ini
hasan shahih)

Dalam hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bersabda kepadanya,

Jangan kamu membiarkan ada gambar kecuali kamu hapus dan tidak pula kubur yang
ditinggikan kecuali engkau meratakannya. (HR. Muslim no. 969)

Dalam riwayat An Nasai,

Dan tidak pula gambar di dalam rumah kecuali kamu hapus. (HR. An Nasai no. 2031. Syaikh
Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata,

Bahwa tatkala Nabi melihat gambar di (dinding) Kabah, beliau tidak masuk ke dalamnya dan
beliau memerintahkan agar semua gambar itu dihapus. Beliau melihat gambar Nabi Ibrahim dan
Ismail alaihimas ssalam tengah memegang anak panah (untuk mengundi nasib), maka beliau
bersabda, Semoga Allah membinasakan mereka, demi Allah keduanya tidak pernah mengundi
nasib dengan anak panah sekalipun. (HR. Ahmad 1: 365. Kata Syaikh Syuaib Al Arnauth
bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari dan periwayatnya tsiqoh, termasuk perowi
Bukhari Muslim selain Ikrimah yang hanya menjadi periwayat Bukhari)

Jika Dianggap Bawa Berkah

Kalau tujuannya untuk meraih berkah, maka seperti itu adalah cara yang keliru karena tidak
diajarkan dalam Islam. Karena sebagian memajang foto tokoh spiritual biar rumahnya terjaga,
biar terus maju usahanya dan kebaikan lainnya yang ingin diraih. Seperti ini masuk dalam
hukum memasang jimat. Memajang seperti itu termasuk kesyirikan.

Dari Uqbah bin Amir, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,

Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada tamimah (jimat), maka Allah tidak akan
menyelesaikan urusannya. Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada kerang (untuk
mencegah dari ain, yaitu mata hasad atau iri, pen), maka Allah tidak akan memberikan
kepadanya jaminan (HR. Ahmad 4: 154. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits
ini hasan dilihat dari jalur lain-).

Dalam riwayat lain disebutkan,

Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik (HR. Ahmad
4: 156. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy atau kuat. Syaikh
Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no.
492).

Hukum Memajang Foto Tokoh Spiritual


Semakin keras larangan memajang foto jika yang dipasang adalah foto tokoh spiritual atau
agama. Karena sebab peribadahan pada orang shalih adalah bermula dari gambar. Gambar yang
dipajang tersebut akhirnya diagungkan dan terjadilah kesyirikan di masa silam.

Dari Aisyah, ia berkata bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan tentang
gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah. Di dalamnya terdapat gambar-gambar. Mereka
menceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda,

Sesungguhnya mereka itu apabila di antara mereka terdapat orang yang shalih yang meninggal
dunia, maka mereka pun membangun di atas kuburnya masjid (tempat ibadah) dan mereka
memasang di dalamnya gambar-gambar untuk mengenang orang-orang shalih tersebut. Mereka
itu adalah makhluk yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat kelak (HR. Bukhari no. 427
dan Muslim no. 528).

Begitu pula kita dapat mengambil pelajaran dari firman Allah Taala,

Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan


kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula
suwwa, yaghuts, yauq dan nasr (QS. Nuh: 23).

Disebutkan dalam Shahih Al Bukhari,

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, beliau berkata, Patung-patung yang ada di kaum Nuh
menjadi sesembahan orang Arab setelah itu. (Patung) Wadd menjadi sesembahan bagi Bani Kalb
di Dumatul-Jandal, (patung) Suwaa bagi Bani Hudzail, (patung) Yaghuuts bagi Bani Murad dan
Bani Ghuthaif di Al-Jauf sebelah Saba, Yauuq bagi Bani Hamdaan, dan Nasr bagi Bani Himyar
dan kemudian bagi keluarga Dzul-Kalaa. Mereka adalah nama orang-orang shalih dari kaum
Nuh. Ketika mereka meninggal, maka syaithan membisikkan kepada kaum mereka (yaitu kaum
Nuh) agar meletakkan patung-patung mereka dalam majelis-majelis dimana kaum Nuh biasa
mengadakan pertemuan, sekaligus memberi nama patung-patung tersebut dengan nama-nama
mereka. Maka mereka pun melakukannya. Patung tersebut tidaklah disembah pada waktu itu.
Akhirnya setelah generasi pertama mereka meninggal dan ilmu telah dilupakan, maka patung-
patung tersebut akhirnya disembah (Diriwayatkan oleh Bukhari no. 4920).

Jadi intinya bermula dari membuat gambar atau patung, lalu dipajang, lantas beralih pada
pengagungan dan menyembahnya. Intinya, perbuatan seperti itu adalah jalan menuju kesyirikan
sehingga mesti dilarang.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. Moga Allah senantiasa membimbing kita pada
akidah yang benar.

Disusun menjelang Ashar di Darush Sholihin, 20 Muharram 1436 H (13-11-2014)

Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc

Sumber: https://rumaysho.com/9509-hukum-memajang-foto-tokoh-spiritual.html