Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

GANGGUAN PERTUMBUHAN, PROLIFERASI DAN


DIFERENSASI SEL

Oleh :

???????????????
NIM. ?????????????

Dosen Pembimbing :

??????????????????????

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


STIKES PIALA SAKTI
PARIAMAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkah dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Gangguan
Pertumbuhan, Proliferasi dan diferensasi sel.

Dengan terselesaikannya makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih


kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan bantuan dalam
pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan
demi kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amiin.

Pariaman, April 2017

Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
........................................................................................................................
B. Identifikasi Masalah
........................................................................................................................
C. Pembatasan Masalah
........................................................................................................................
D. Tujuan
........................................................................................................................

BAB II TINJAUAN TEORI


A. Hidrosefalus
........................................................................................................................
1. Definisi
............................................................................................................
2. Patofisiologi
............................................................................................................
3. Etiologi
............................................................................................................
4. Manisfestasi Klinis
............................................................................................................
5. Komplikas
............................................................................................................
6. Pemeriksaan penunjang
............................................................................................................
7. Asuhan Keperawatan pada Hidrosefalus
............................................................................................................
B. Atrisia Bilier
........................................................................................................................
1. Definisi
............................................................................................................
2. Patofisiologi
............................................................................................................
3. Etiologi
............................................................................................................
4. Manifestasi klinis
............................................................................................................
5. Pemeriksaan diagnosis
............................................................................................................
6. Pemeriksaan terapeutik
............................................................................................................
7. Komplikasi
............................................................................................................
8. Asuhan Keperawatan pada
Atresia Bilier...........................................
............................................................................................................

BAB. III PENUTUP


A. Kesimpulan
........................................................................................................................
B. Saran
........................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan pada bayi atau anak sangat perlu

diperhatikan sejak masa konsepsi, karena apabila terjadi kelainan akan

sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan individu tersebut di

masa depan.
Dewasa ini banyak kita temui kelainan kongenital pada bayi, kelainan

kongenital itu sendiri adalah kelainan dalam pertumbuhan janin yang terjadi

sejak konsepsi dan selama dalam kandungan. Diperkirakan 10-20% dari

kematian janin dalam kandungan dan kematian neonatal disebabkan oleh

kelainan kongenital. Khusunya pada bayi berat badan lahir rendah

diperkirakan 20% diantaranya meninggal karena kelainan kongenital dalam

minggu pertama kehidupannya. Malformasi kongenital merupakan kausa

penting terjadinya keguguran, lahir mati, dan kematian neonatal.


Mortalitas dan morbiditas pada bayi pada saat ini masih sangat tinggi

pada bayi yang mengalami penyakit bawaan. Salah satu sebab morbiditas

pada bayi adalah atresia bilier, eosephalokel, hidrosephalus, fimosis,


hipospadia dan kelainan metabolik dan endokrin. Sebagian besar penyakit

bawaan pada bayi disebabkan oleh kelainan genetik dan kebiasaan ibu pada

saat hamil mengkonsumsi alkohol, rokok dan narkotika.


Melihat fenomena yang terjadi maka kelompok tertarik untuk

membahas dua diantaranya kelainan pada bayi atau anak yaitu hidrosefalus

dan atresia bilier.


B. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu
1. Mengetahui gangguan pertumbuhan sel
2. Mengetahui proliferasi sel
3. Mengetahui Diferensasi sel
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Gangguan Pertumbuhan
Gangguan pertumbuhan yang terjadi dibedakan atas berbagai hal, yaitu:
Ukuran dan/atau jumlah sel dalam jaringan
Cara Proliferasi sel
Sifat diferensiasi sel
Kelaianan dalam pertumbuhan mengakibatkan jaringan menjadi lebih
kecil atau lebih besar dari normal dan mempunyai spesialisasi fungsi yang
abnormal
Agnesis/ Aplasia
Agnesis yaitu keadaan dimana dalam proses perkembangan, rudimen
embrionik organ tidak terbentuk. Misal seorang bayi yang dilahirkan
hanya dengan satu ginjal
Aplasia yaitu keadaan dimana rudimen embrionik suatu organ sudah
terbentuk tetapi tidak tumbuh sama sekali. Misal seorang bayi yang lahir
dengan 2 ginjal tetapi satu ginjal tidak berfungsi karena tidak tumbuh

Hipoplasia
Suatu keadaan dimana rudimen embrionik terbentuk tetapi tidak pernah
mencapai ukuran definitif atau ukuran normal dewasa sehingga organ
tersebut menjadi kerdil. Misal kelainan dimana kaki seseorang tidak
tumbuh sesuai dengan ukuran dewasa

Atrofi
Keadaan dimana suatu organ tumbuh secara definitif kemudian karena
beberapa penyebab menyusut menjadi lebih kecil dari ukuran normal.
Atrofi sering dijumpai pada lansia dimana beberapa organ mengalami
penurunan fungsi misal atrofi kelenjar endokrin yang terjadi jika pengaruh
hormonal terhadap jaringan seperti kelenjar mamae terhenti.
Penyebab atrofi yang paling sering yaitu iskemik kronik
Contoh lain yaitu disuse atrophy ( atrofi yang menyerang otot rangka)

Hipertrofi
Merupakan suatu keadaan dimana jaringan atau organ mengalami
pembesaran karena adanya pembesaran sel
Hipertrofi yang paling terlihat yaitu pada otot.
Contoh:
Hipertrofi otot bisep pada atlet angkat besi
Hipertrofi miokardium
Hipertrofi pada otot polos dinding kandung kemih
Hipertrofi disertai penambahan unsur kontraktil jaringan, maka merupakan
respon adaptif.

Hiperplasia
Merupakan keadaan kenaikan jumlah absolut sel dalam jaringan yang
mengakibatkan pembesaran jaringan atau organ tersebut
Contoh:
Hiperplasia kelenjar mamae saat kehamilan
Hiperplasia pada kelenjar prostat
Kalus (penebalan kulit akibat rangsangan mekanik)

B. Proliferasi Sel
Proliferasi sel menghasilkan dua sel yang berasal dari satu sel. Keadaan
ini membutuhkan pertumbuhan sel yang kemudian diikuti oleh pembelahan
(divisi) sel. pertumbuhan sel yang tidak terkendali merupakan ciri khas
kanker. Sel kanker secara umum berisi biomolekul yang diperlukan untuk
bertahan, proliferasi, diferensiasi, kematian sel dan ekspresi tipe sel dengan
fungsi khusus (cell-typespesifics functions). Kegagalan regulasi fungsi inilah
yang menghasilkan perubahan fenotip dan kanker.
Pada jaringan normal, proliferasi sel mengarah kepada
penambahanjaringan. Dimana jumlah sel tidak hanya tergantung kepada
proliferasi sel tetapi juga oleh kematian sel. kematian sel terprogram
(apoptosis) adalah proses dikeluarkannya sel-sel yang rusak. Keseimbangan
antara produksi sel baru dan kematian sel itulah yang mempertahankan sel
yang tepat pada jaringan (homeostasis).
1. Siklus Sel
Divisi sel terdiri dari dua proses yang berurutan, terutama ditandai
dengan repikasi DNA dan segregasi kromosom yang berreplikasi menjadi
dua sel yang terpisah. Secara umum sel divisi terbagi dua tahap, yaitu :
mitosis (M) adalah proses divisi inti dan interfase yaitu fase selingan
diantara dua fase M. tahap mitosis dibagi atas profase, metaphase,
anaphase dan telofase. Tahap interfase terdiri dari G1, S dan G2. Replikasi
DNA terjadi pada fase S. Fase S didahului oleh suatu gap disebut G1, masa
ini sel bersiap-siap untuk sintesis DNA dan diikuti dengan gap yang
disebut G2, yaitu sel siap untuk mitosis. Sel pada G1, sebelum
berkomitmen repllikasi DNA, akan memasuki fase istirahat disebut G0.
Sel pada G0 berada pada keadaan tidak tumbuh atau sel tidak
berproliferasi.
Gambar Siklus sel
(Sumber: Pathologic Basis of Disease 7th ed, 2005. Kumar, Abbas, Fausto)
2. Pengaturan Siklus Sel
Perpindahan dari satu fase siklus sel ke fase berikutnya mengikuti pola
yang teratur dan diregulasi oleh protein sel yang berbeda. Protein famili
siklin merupakan kunci regulator siklus sel. Siklin berikatan dan
mengaktifkan anggota cyclin-dependent kinase (Cdk) family yang
menyebabkan progresi siklus sel. Progresi siklus sel diatur oleh level
family siklin tertentu. Siklin dibagi atas beberapa kelas yang berhubungan
dengan fase siklus sel yang diaturnya. Anggota cyclin D family adalah
siklin fase G1 yang mengatur sel dari G0 memasuki G1. Siklin D di up-
regulasi oleh faktor pertumbuhan dan signal eksternal melalui ras GTP-
ase signaling pathway. Siklin D berikatan dengan Cdk4 dan Cdk6. Cyclin
Ddependent kinases mendorong untuk memasuki fase S. Cyclin D-Cdk4
membuat hipofosforilasi protein Retinoblastoma (pRB) dan memfasilitasi
ekspresi siklin E. Siklin E dan Siklin A mampu berikatan dengan Cdk2 dan
mempromosikan progresi siklus sel melalui transisi G1/S. Siklin E-Cdk2
dan Siklin A-Cdk2 membuat hiperfosforilasi dan inaktifasi pRB. Inaktifasi
pRB menyebabkan aktifasi faktor transkripsi E2F. Siklin E menstimulasi
gabungan kompleks replikasi melalui interaksi dengan Cdc6. Siklin A
mengaktifasi sintesis DNA melalui kompleks replikasi yang baru
bergabung dan menghambat gabungan kompleks replikasi yang baru.
Siklin E menginisiasi kembali kompleks replikasi yang diblok oleh siklin
A. Siklin B1, B2 dan partner katalitiknya, Cdk1 (cdc2, p34 kinase) adalah
komponen fase M/maturing factor (MPF) factors yang meregulasi proses
yang mengarahkan gabungan mitotic spindle dan sister-chromatid pair.
Kegagalan pemantauan secara memadai terhadap keakuratan replikasi
DNA akan menyebabkannakumulasi mutasi dan transformasi ganas yang
mungkin terjadi. Oleh karena itu, sebagai contoh, pada saat DNA dirusak
(misalnya, oleh radiasi ultraviolet), protein tumor supresor gen TP53 akan
distabilkan dan menginduksi transkripsi CDKN1A (dulu p21), suatu
inhibitor CDK. Inhibitor ini menahan sel dalam fase G1 dan G2 sampai
DNA dapat diperbaiki. Pada tahap tersebut kadar TP53 menurun,
CDKN1A berkurang, sel dapat melanjutkan tahapan. Jika kerusakan DNA
terlalu luas, TP53 akan memulai suatu kaskade peristiwa untuk
meyakinkan sel agar melakukan bunuh diri (apoptosis).

3. Apoptosis
Apoptosis (berasal dari kata yang berarti meninggalkan jauh dari)
menyebabkan kematian sel terprogram. Kegagalan sel untuk mengalami
apoptosis fisiologik dapat menyebabkan perkembangan aberan, proliferasi
tumor yang tidak terkontrol, atau penyakit autoimun.
Proses apoptosis dikendalikan oleh berbagai tingkat sinyal sel, yang
dapat berasal dari pencetus ekstrinsik dan intrinsik. Yang termasuk pada
sinyal ekstrinsik adalah faktor hormon, faktor pertumbuhan, nitric oxide,
dan sitokin Semua sinyal tersebut harus dapat menembus membran plasma
ataupun transduksi untuk dapat menimbulkan respon. Sinyal intrinsik
adalah respon yang diinisiasi oleh sel sebagai respon terhadap stress dan
akhirnya dapat mengkibatkan kematian sel. Pengikatan reseptor nukleus
oleh glukokortikoid, panas, radiasi, kekurangan nutrisi, infeksi virus dan
hipoksia merupakan keadaan yang dapat menimbulkan pelepasan sinyal
apoptosis intrinsic melalui kerusakan sel.
Homeostasis antara proliferasi sel dan kematian sel yang terprogram
(apoptosis) secara normal dipertahankan untuk menyediakan integritas
jaringan dan organ.1
C. Diferensiasi / Abnormal
Semua sinyal tersebut harus dapat menembus membran plasma ataupun
transduksi untuk dapat menimbulkan respon. Sinyal intrinsik adalah respon
yang diinisiasi oleh sel sebagai respon terhadap stress dan akhirnya dapat
mengkibatkan kematian sel. Pengikatan reseptor nukleus oleh glukokortikoid,
panas, radiasi, kekurangan nutrisi, infeksi virus dan hipoksia merupakan
keadaan yang dapat menimbulkan pelepasan sinyal apoptosis intrinsic melalui
kerusakan sel.1 Homeostasis antara proliferasi sel dan kematian sel yang
terprogram (apoptosis) secara normal dipertahankan untuk menyediakan
integritas jaringan dan organ.1
Metaplasia
Diferensiasi merupakan proses dimana keturunan sel-sel induk yang
sedang membelah dikhususkan untuk melakukan tugas tertentu
Metaplasia yaitu keadaan diferensiasi sel pada keadaan yang tidak cocok,
sehingga sel yang dihasilkan tidak sesuai dengan sel daerah tersebut tapi
justru menyerupai daerah lain.
Misal: lapisal endotel serviks uteri mengalami iritasi kronik, maka bagian
epitel kolumnar diganti oleh epitel skuamosa yang mirip epidermis.
Metaplasia bersifat adaptif dan reversibel

Displasia
Merupakan kelainan diferensiasi sel-sel yang sedang berproliferasi
sedemikian rupa sehingga ukuran, bentuk dan penampilan sel menjadi
abnormal disertai gangguan pengaturan dalam sel.
Contoh displasia yaitu pada proses peradangan
Displasia ada yang reversibel tetapi ada juga yang tidak karena rangsang

yang menyebabkan displasia tidak ditemukan

NEOPLASIA
Definisi
Merupakan massa abnormal dari sel-sel yang mengalami proliferasi.
Sel neoplasma berasal dari sel yang awalnya normal, selama mengalami

perubahan neoplastik sel memperoleh derajat otonom dalam arti tumbuh

dengan kecepatan tidak terkoordinasi dengan kebutuhan dan fungsi tubuh


Pertumbuhan sel neoplastik bersifat progressif yaitu mengakibatkan

penambahan massa sel.


Tidak bersifat adaptif
Biasa dikenal dengan sebutan tumor
Sifat-Sifat Neoplasma
Neoplasma Jinak
Bersifat lokal
Batas penyebaran massa nyata
Mempunyai kapsul jaringan penyambung
Tidak menyebar ke tempat yang jauh
Pertumbuhan lamban
Neoplasma Ganas ( sering disebut kanker)
Tumbuh cepat
Penyebaran tidak teratur
Tidak berkapsul
Sulit dipisahkan dari jaringan sekitarnya
Mampu memasuki sirkulasi untuk menyebar ke tempat lain
Proses terputusnya penyebaran neoplasma ganas disebut metastasis
Akibat Neoplasma
Neoplasma Jinak mengakibatkan gangguan yang bersifat lokal, bisa ringan

ataupun berakibat fatal.misal penyumbatan jalan nafas, pencernaan, dll


Neoplasma Ganas mengakibatkan kerusakan jaringan-jaringan lokal dan

menyebar untuk membentuk metastasis yang jauh bahkan neoplasma

ganas berebut makanan sehingga penderita tampak mengalami


Perempuan :
gangguan malnutrisi berat
KulitIndeks Kanker ditinjau
Perkiraan 3% dari lokasi dan jenis kelamin
Mulut 2%
Payudara 28%
Paru-paru 11%
Kolon dan rektum 15%
Pankreas 3%
Ovarium 4%
Uterus 9%
Urinarius 4%
Leukimia 7%
Lain-lain 14%
BAB III

KESIMPULAN

Sistem peredaran darah manusia terkadang dapat mengalami suatu


gangguan. Gangguan tersebut dapat terjadi karena keturunan (genetis), penyakit,
atau karena gaya hidup individu yang bersangkutan
Beberapa gangguan pada sistem peredaran darah disebabkan oleh faktor
keturunan, kerusakan atau makanan.
Agar anda terhindar dari penyakit yang dapat mengganggu sistem
peredaran darah, disarankan memakan makanan yang seimbang, tidak berlebihan,
mengurangi makanan yang berlemak dari hewan (lemak hewani), menjaga berat
badan yang sesuai dengan umur dan tinggi badan, serta rajin-rajinlah anda
berolahraga secara rutin.
DAFTAR PUSTAKA

Abrams G.D. 1995. Gangguan Pertumbuhan, Proliferasi dan Diferensiasi Sel


(terj) dalam: Price S.A., Wilson L.M., editor: Patofisiologi: Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta: EGC. h. 114-120
Acton R.T., Barstad P.A., Zwerner, R.K. 1979. Propagation and Scaling-Up of
Suspension Cultures in: William B.J., editors: Methods in Enzymology. 58th
ed. London: Academic Press, Inc. p. 211-221
Bestantia Indraswati. 2005. Kanker Leher Rahim, Pembunuh No.1 Para Wanita
di Indonesia dalam: Sehat. No.6 / Vol.3. Jakarta: PT Mitra Media Prima. h.
15-17
Bosman F.T. 1999. Aspek-Aspek Fundamnetal Kanker (terj) dalam: Arjono,
editor: Onkologi. Edisi 5. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. h.
2,7
Cox JT Epidemiology of cervical intraepitelial neoplasm. 1995. The role of
Human Papillomavirus. Bailliere clinb Obstet gynaecol (9): 1-37
Kaur H., Silverman P. M., Iyer R. B. 2002. Diagnosis, Staging, and Surveillance
of CervicalCarcinoma. http://catalog.nucleusinc.com/imagescooked/4065W.
jpg. 22 Desember 2005
King R.J.B. 2000. Natural History: The Life of a Cancer in Cancer Biology. 2nd
ed. England: Longman Imprint. p. 16-20, 148-151
Robbins S.L., et al. 2005. Cellular Adaptations, Cell Injury, and Cell Death in:
Kumar V., Abbas A.K., Fausto N, editors: Robbins and Cotran Pathologic
Basis of Disease. 7th ed. China: Elsevier Inc. p. 16-18, 302-303, 324-325
Schneider A., Zahm D. M. 1996. New Adjunctive Methods for Cervical Cancer
Screening in: Lorincz T., Reid R., editor: Obstetrics and gynecology clinics
of
North America: HPV I. America: W. B Saunders Company. p. 657-670
Schiffman MH. 1995. HPV Infection Causes Most Cervical Neoplasia:
What Next for The Clinician. Comtenporary obsgyn: 24-40