Anda di halaman 1dari 19

IDENTITAS PASIEN

Nama : Nn. FE
Usia : 15 tahun
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Pekerjaan : Pelajar
Status : Belum menikah
Masuk RS : 14 12 2016

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Benjolan di payudara kiri
Keluhan Tambahan :
Pasien mengatakan mulai mengetahui ada benjolan di payudara kirinya
kira-kira 6 bulan yang lalu. Benjolan terasa berubah bentuk dan membesar dari
pertama kali diketahui. Namun tidak terasa nyeri atau gatal dan tidak ada
perubahan warna kulit di sekitarnya. Pasien mengaku tidak pernah mengalami
keluar cairan dari puting payudara. Pasien juga tidak merasakan nyeri pada
benjolan saat menstruasi dan tidak mengalami penurunan nafsu makan maupun
berat badan.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Riwayat benjolan serupa sebelumnya disangkal. Riwayat memiliki
hipertensi dan DM disangkal.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Riwayat bejolan di payudara atau kelainan serupa pada keluarga disangkal.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda vital
Tekanan darah : 130/80mmHg
Nadi : 94 x/menit
Respirasi : 18 x/menit
Suhu : 37.20C

Status Generalis
Kepala :
Mata : CA (-/-), SI (-/-), pupil isokor, refleks pupil +/+
Hidung : discharge (-/-) deviasi septum (-)
Telinga: bentuk normal, otorea (-/-)
Leher : Pembesaran KGB (-) JVP tidak meningkat
Thorax :
Inspeksi : simetris dalam keadaan statis dan dinamis
Palpasi : stem fremitus kanan dan kiri simetris
Perkusi : sonor pada kedua hemithorax
Auskultasi :
Pulmo : SNV kanan = kiri normal, rhonki -/-, wheezing -/-
Cor : Bunyi jantung I/II reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : datar dan supel, distensi (-)
Palpasi : NT (-), NL (-), hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : timpani di keempat kuadran
Auskultasi : bising usus (+) normal
Status Lokalis

At regio mammae sinistra :


Inspeksi: benjolan (+) pada daerah medial puting, retraksi puting (-), discharge (-),
peau d orange (-), dimpling (-), perubahan warna kulit (-), venektasi (-)
Palpasi : teraba benjolan konsistensi keras, permukaan licin, mobile, ukuran
7 x 5 cm, nyeri tekan (-), gatal (-), nipple discharge (-)

At regio mammae dextra :


Inspeksi: benjolan (-), retraksi puting (-), discharge (-), peau d orange (-),
dimpling (-), perubahan warna kulit (-), venektasi (-)
Palpasi : benjolan (-), nyeri tekan (-)

At regio axilla dextra et sinistra :


Tidak ditemukan benjolan dan tidak ada pembesaran KGB

At regio supraklavikula dextra et sinistra :


Tidak ditemukan benjolan dan tidak ada pembesaran KGB

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium 14 Desember 2016

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan

Hematologi Rutin
Hemoglobin 11,6 g/dL 11.0 15.0
Eritrosit 5,04 jt/ul 4.2 5.4
Hematokrit 35,4 % 35 47
Trombosit 258 103/uL 150 400
Leukosit 9,3 103/ul 3,6 11,0
MCHC 32,8 % 32-36
MCV 70,2 (L) fL 82-92
RDW-CV 15,3 (H) % 11,5 14,5
RDW-SD 38,4 fL 35-47
MPV 11,5 (H) fL 6.8-10.0
PDW 14,8 (H) fL 9.0-13.0
P-LCR 35,8 %
PT 12,9
Ratio 1,02 detik 10 14
INR 1,03
APTT 33,6 detik
kontrol 31,5 detik
Golongan darah A
BT 3 27
CT 5 4 10
Kimia klinik

GDS 105 mg/dL 70 160

SGOT 14,8 U/L <31

SGPT 9,3 U/L <34

Ureum 105 mg/dL 19-44

Creatinine 0,52 (L) mg/dL 0,6-1,2

Radiologi foto thorax 14 Desember 2016

Cor : Tak membesar


Pulmo : Corakan bronkovaskular normal
Tak tampak bercak kesuraman pada kedua paru
Diafragma dan sinus kostofrenikus kanan dan kiri baik
Kesan : Cor dan pulmo dalam batas normal

DIAGNOSIS KERJA
Tumor mammae sinistra curiga jinak

PENATALAKSANAAN
Rencana Operasi eksisi biopsi

PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
Quo ad sanationam : ad bonam

Resume

Pasien perempuan berusia 15 tahun datang dengan keluhan benjolan pada


payudara kiri yang mulai diketahui kira-kira 6 bulan yang lalu. Benjolan terasa
berubah bentuk dan membesar dari pertama kali diketahui, namun tidak nyeri atau
gatal dan tidak ada perubahan warna kulit di sekitarnya. Pasien mengaku tidak
pernah mengalami keluar cairan dari puting payudara. Pasien juga tidak
merasakan nyeri pada benjolan saat menstruasi dan tidak mengalami penurunan
nafsu makan maupun berat badan. Riwayat benjolan serupa sebelumnya
disangkal. Riwayat memiliki hipertensi dan DM disangkal. Riwayat bejolan di
payudara atau kelainan serupa pada keluarga disangkal.
Pemeriksaan Fisik T: 130/80 mmHg N: 94 x/mnt R: 18 x/mnt S: 37,2 C.
Status lokalis Terdapat benjolan pada regio mammae sinistra medial dari puting
dengan konsistensi keras, permukaan licin, mobile, ukuran 7 x 5 cm. Benjolan
tidak disertai nyeri tekan, rasa gatal, nipple discharge, peau d orange, dimpling,
perubahan warna kulit, venektasi, atau pembesaran kelenjar limfe di sekitarnya.
Pemeriksaan penunjang Laboratorium darah dan foto thorax dalam batas normal

TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi mammae
Mammae (payudara) merupakan kelenjar aksesoria (kelenjar keringat yang
termodifikasi) pada kulit yang memiliki kemampuan mensekresi air susu.
Mammae terdiri dari 15 hingga 20 lobus yang dipisahkan dan disanggah oleh
berkas fibrosa dari jaringan ikat yang disebut ligamen Cooper.1,2,3 Setiap lobus
mengandung beberapa lobulus yang kemudian bercabang menjadi duktus kecil
dan berakhir di alveoli sekretorik.1 Mammae pada wanita dewasa berada pada
costae ke 2 atau 3 hingga garis inframammaria pada costae ke 6 atau 7, secara
horizontal membentang dari batas sternum hingga garis aksilaris anterior. Axillary
tail of Spence berada di sebelah lateral dari lipat aksila anterior. Kuadran atas
lateral mammae memiliki volume yang lebih besar dibandingkan jaringan pada
kuadran lain. Mammae memiliki bentuk kerucut dengan ukuran sirkular kira-kira
10 hingga 12 cm, namun ukuran mammae bervariasi pada setiap individu.
Mammae pada nulipara memiliki konfigurasi hemisferik dengan bentukan rata di
atas puting. Dengan stimulasi hormonal yang mengikuti kehamilan dan laktasi,
mammae menjadi lebih besar serta mengalami peningkatan volume dan densitas.
Sedangkan pada proses penuaan diasumsikan menjadi lebih pipih, lunak, dan
terjumbai karena terjadi penurunan volume.2,3

Gambar 1. Potongan sagital dari mammae4

Fascia yang menyelimuti mammae merupakan anatomi yang penting


dalam teknik bedah. Mammae memiliki fascia superfisial yang membaginya
menjadi 2 lapisan. Lapisan anterior mennyediakan bidang diseksi subkutan di
antara lobulus lemak subkutan yang relatif kecil, dan lobulus lemak mammaria
yang lebih besar. Lapisan posterior dari fascia superfisial berbatasan dengan fascia
profunda yang terbentuk dari otot pectoralis mayor dan serratus anterior sehingga
membentuk suatu ruang potensial yang disebut sebagai ruang retromammaria.2,3
Mammae memiliki vaskularisasi dari arteri mammaria interna (yang
merupakan cabang dari arteri subklavia) dan cabang thorakoakromial, subskapular
serta thorakik lateral dari arteri aksilaris. Pasokan utamanya adalah melalui
cabang kedua dari arteri mammaria internal yang harus dipertahankan saat
mastektomi subkutaneus dan arteri thorakik lateral. Drainase vena regional
membentuk pleksus subareolar yang mengalirkan darah melalui vena interkostal,
mammaria interna, dan aksila. 2,3

Gambar 2. Vaskularisasi mammae

Persarafan mammae terutama oleh nervus sensorik dan simpatis. Mammae


superior dipersarafi oleh nervus supraklavikula yang berasal dari cabang ke-3 dan
4 pleksus servikal. Mammae medial dipersarafi oleh cabang kutaneus lateral dari
nervus interkostalis 2-7. Papilla mammae terutama dipersarafi oleh cabang
kutaneus lateral dari nervus interkostalis 4, dan cabang kutaneus lateral dari
nervus interkostalis lain mempersarafi areola dan mammae sisi lateral. Puting
kaya akan persarafan sensorik sedangkan mayoritas persarafan simpatis berada di
parenkim mammae.2,3
Drainase limfatik mammae memiliki implikasi yang jelas dalam
penatalaksanaan kanker mammae. Distribusi limfatik mayor menemani jalur
pembuluh darah. Ahli bedah mengenal 6 kelompok kelenjar limfatik yaitu
kelompok limfatik vena aksilaris, mammaria eksterna, skapular, sentral,
subklavikular, dan interpektoral (Rotters group). Kira-kira 75 persen pembuluh
limfe mengalirkan cairan ke rata-rata 50 nodus limfe regional di depan dan bawah
dari vena aksilaris. Nodus ini dapat kelompokan ke dalam 3 kelompok besar
berdasarkan keterkaitannya dengan muskulus pectoralis minor: nodus pada level 1
berada di batas bawah (lateral) otot tersebut, kelenjar limfe level 2 berada di
belakangnya, dan level 3 berada di apeks aksila di atas (medial) otot tersebut.
Mayoritas drainase secara berurutan adalah dari level 1, 2 dan 3; sebagian kecil
mengalir ke kelompok nodus subskapular dan interpektoral. Penyebaran tumor
melalui nodus ini dapat menunjukkan kecepatan dan beratnya keterlibatan nodus
aksiler oleh metastase. Sekitar 25 persen cairan limfe mengalir ke nodus
mammaria interna di spasium interkostal kedua, tiga dan empat. Beberapa
mengalir ke mammae kontralateral dan ke bawah ke arah selubung rectus.2,3,5
Gambar 3. Aliran limfe mammae6

Fisiologi mammae
Mammae mengalami 3 macam perubahan yang dipengaruhi oleh hormon.
Perubahan pertama dimulai dari masa kanak-kanak hingga pubertas, di mana
hormon estrogen dan progesteron yang diproduksi ovarium dan hormon hipofisis
menyebabkan berkembangnya duktus dan pembentukan asinus. Perubahan kedua
mulai dari masa fertil hingga klimakterium sebelum menopause, di mana
perubahan dipengaruhi terjadi sesuai dengan siklus menstruasi yaitu terjadinya
pembesaran mammae sekitar hari ke-8 haid. Terkadang dapat pula ditemukan
benjolan yang nyeri dan tidak rata. Menjelang haid, mammae meregang dan terasa
nyeri. Gejala ini berkurang setelah menstruasi terjadi.5
Perubahan terakhir adalah terjadinya pembesaran mammae pada
kehamilan akibat proliferasi epitel duktus lobul dan duktus alveolus serta
pertumbuhan duktus baru, dan terbentuknya air susu oleh sel-sel alveolus pada
masa laktasi akibat sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior. Air susu ini
kemudian mengisi asinus dan dikeluarkan melalui duktus ke puting susu saat
terpicu oleh hormon oksitosin.5
Kelainan jinak pada mammae
Beragam kondisi dapat terjadi pada mammae, dimulai dari abnormalitas
kongenital, kondisi akibat perubahan hormonal selama kehidupan reproduktif, dan
kelainan fisiologis akibat kehamilan dan laktasi. Terdapat juga penyakit infeksi
dan proliferatif.7
Beberapa kelainan pada mammae yang bersifat jinak telah terbukti
meningkatkan risiko terbentuknya kanker mammae pada kemudian hari. Hal ini
tergantung dengan sifat lesi penyakit proliferatif (contoh adenosis sklerosis,
hiperplasia duktal, skar radial, papilloma intraduktal) meningkatkan risiko kanker
mammae, terlebih lagi apabila diikuti dengan atipia (hiperplasia atipikal). Atribut
spesifik dari pasien juga mempengaruhi risiko terbentuknya kanker mammae
(usia, riwayat keluarga, etnis, waktu lesi, dan status hormonal).7

Tabel 1. Klasifikasi kelainan jinak pada mammae2


Non-proliferatif Proliferatif tanpa atipia
Adenosis sklerosis
Kista & metaplasia apokrin Lesi sklerosis radial & kompleks
Ektasia duktus Hiperplasia epitel duktus
Hiperplasia ringan epitel duktus Papilloma intraduktal
Kalsifikasi Lesi proliferatif atipikal
Fibroadenoma & lesi terkait Hiperplasia lobular atipikal
Hiperplasia duktal atipikal

Prinsip dasar yang mendasari klasifikasi kelainan perkembangan dan


involusi normal (Aberration of normal development and involution, ANDI) dari
kondisi jinak pada mammae adalah: (a) kelainan & penyakit jinak mammae terkait
dengan proses normal kehidupan reproduktif hingga involusi; (b) terdapat
spektrum kondisi mammae mulai dari kondisi normal hingga adanya gangguan
(abnormalitas ringan) hingga berupa penyakit (anormalitas berat); dan (c)
klasifikasi ANDI mencakup keseluruhan aspek kondisi pada mammae termasuk
patogenesis dan derajat abnormalitas dengan komponen vertikal mengindikasikan
waktu terbentuknya kondisi tersebut.2
Tabel 2. Klasifikasi ANDI dari kelainan jinak mammae2
Normal Gangguan Penyakit
Masa Perkembangan Fibroadenoma Giant
reproduktif lobular fibroadenoma
awal
Perkembangan Hipertrofi remaja Gigantomastia
(15 25 thn) stromal
Eversi puting Inversi puting Abses subaerolar,
fistula duktus
mammae
Masa Perubahan siklik Mastalgia siklik Mastalgia
reproduktif menstruasi inkapasitasi
lanjut
Nodularitas
(25 40 thn)
Hiperplasia epitel Discharge puting
pada kehamilan darah
Involusi Involusi lobular Makrokista
(35 55 thn) Lesi sklerosis
Involusi duktus:
Dilatasi Ektasia duktus Mastitis periduktal
Sklerosis Retraksi puting
Pergantian epitel Hiperplasia epitel Hiperplasia epitel
dengan atipia

Massa pada mammae dapat memiliki beberapa diagnosis banding sesuai


dengan usia. Pada usia 15 25 tahun, penyebab tersering yang mungkin dari
massa mammae adalah fibroadenoma dengan ciri-ciri permukaan yang licin,
konsistensi kenyal, bentuk bulat, mobile, dan tidak nyeri tekan. Pada usia 25 50
tahun lesi dapat berupa: (1) kista dengan konsistensi lunak hingga padat, bentuk
bulat, mobile, dan dapat nyeri tekan; (2) perubahan fibrokistik yang nodular dan
seperti tambang; (3) kanker dengan bentukan irregular, konsistensi keras, dapat
mobile atau terfiksir pada jaringan sekitar. Pada usia lebih dari 50 tahun, semua
massa pada mammae dianggap sebagai massa yang ganas kecuali telah terbukti
bukan. Pada masa kehamilan dan laktasi, massa pada mammae dapat berupa kista,
adenoma, mastitis, atau kanker.8
Tabel 2. Diagnosis banding lesi jinak mammae7

Kondisi jinak Temuan klinis Temuan ultrasonografi

Fibroadenoma Soliter/multipel, tumor padat, Massa padat (echo-dense)


batas tegas, bulat/oval, mobile homogen bulat/oval, dapat
(breast mouse), pertumbuhan multipel, berbatasan jelas dari
lambat (bulan-tahun), tidak jaringan mammae di
disertai pembesaran KGB sekitarnya

Perubahan Area konsolidasi, dapat nyeri Area konsolidasi dapat


fibrokistik (akibat perubahan siklik), batas memiliki area kistik (hitam)
agak difus, tidak disertai kecil multipel, sulit dibedakan
pembesaran KGB dari jaringan mammae di
sekitarnya

Kista Massa kistik pada palpasi, Area bulat hitam batas tegas
dapat multipel, tidak disertai mudah ditemukan, terkadang
pembesaran KGB multipel, diameter mudah
dinilai

Mastitis Kemerahan, panas lokal, nyeri, Abses tampak sebagai daerah


demam, pembentukan abses, yang lebih gelap dengan batas
KGB dapat membengkak & tegas, cairan di dalam dengan
nyeri partikel yang bergerak (pus)

Papilloma Discharge puting berdarah Cairan mengelilingi papilloma


unilateral, tidak disertai sehingga tampak seperti massa
pembesaran KGB kecil pada suatu pedikel dekat
dengan area puting

Ketidak- Discharge puting jernih atau Tidak spesifik


seimbangan seperti susu, tidak disertai
hormon pembesaran KGB

Mastodynia Nyeri mammae berulang, Tidak spesifik


terkait dengan siklus
menstruasi, tidak disertai
pembesaran KGB

Pemeriksaan mammae
Pada pemeriksaan kelainan mammae, dapat dilakukan anamnesa yang
mencakup aspek sebagai berikut: perubahan bentuk atau tekstur mammae, massa
yang terpalpasi, retraksi puting, pembengkakan atau gambaran peau dorange,
perubahan ukuran, sekresi dari puting, rasa nyeri atau panas, kemerahan, riwayat
penyakit mammae sebelumnnya, riwayat keganasan, riwayat keluarga,
penggunaan obat kontraseptif, usia menarke dan menopause, tanggal terakhir
pemeriksaan mammae, dan riwayat pemeriksaan yang pernah dilakukan
sebelumnya.7
Pemeriksaan klinis mammae (clinical breast examination, CBE) dapat
dilakukan langsung setelah menstruasi. Mammae pada wanita pascamenopause
lebih mudah diperiksa dibandingkan pada wanita premenopause karena sudah
terjadi involusi.7
Ultrasonografi merupakan pemeriksaan pencitraan yang paling penting
dan paling banyak digunakan. Informasi utama yang paling mudah diperoleh
adalah untuk melihat adanya lesi kistik dengan cairan di dalamnya dari suatu lesi
padat. Pemeriksaan mammografi dapat memberikan informasi mengenai lesi yang
mencurigakan atau untuk memonitor pasien dengan riwayat kanker mammae pada
keluarga. Pemeriksaan sitologi dan mikrobiologi juga dapat memberikan petunjuk
bermakna untuk diagnosis. Sampel pemeriksaan ini dapat berupa sekresi dari
puting, aspirasi bajah halus, atau swab basah dari biopsi insisional. Namun harus
tetap diingat bahwa semua pemeriksaan hanya memberikan informasi tambahan
mengenai penyakit mammae yang ada. Diagnosis final hanya dapat ditegakkan
dengan pemeriksaan histologi.7
Mammae merupakan organ yang mudah diakses sehingga biopsi
eksisional merupakan tindakan yang sebaiknya dilakukan untuk menegakkan
diagnosis. Anestesi lokal biasanya dapat digunakan untuk lesi yang superfisial dan
anaestesi umum untuk lokalisasi yang lebih dalam. Lesi dieksisi dari insisi semi-
sirkular di atas lesi di sekitar areola. Prosedur biopsi eksisional ini merupakan
prosedur yang bersifat diagnostik sekaligus terapeutik karena massa dari mammae
dikeluarkan. Apabila pengangkatan massa secara total tidak memungkinkan maka
pengambilan sebagian kecil spesimen dari massa yang ada disebut sebagai biopsi
insisional.7
Kelainan
mamma
e

Massa Discharge
Nyeri
terpalpasi puting

Massa Terkait
Cairan echo- dengan Kemeraha Darah, Serosa,
pada USG dense menstrua n/panas unilateral bilateral
pada USG si

Ketidaksei
Kista Fibro- Mastodyni
Mastitis Papilloma mbangan
sederhana adenoma a
hormon
Gambar 4. Alur tanda-gejala yang mengarah berdasarkan diagnosis banding7

Kista mammae
Kista mammae merupakan kavitas berdinding epitel berisi cairan di dalam
mammae yang besarnya bervariasi. Kista ini dapat terpalpasi apabila isi cairan
berjumlah 20 30 ml dan ditemukan pada minimal 1 dari 14 wanita dengan 50%
merupakan kista multipel atau rekuren. Patogenesis terbentuknya kista masih
belum jelas namun diduga merupakan hasil dari destruksi dan dilatasi lobulus dan
duktulus terminalis. Penelitian mikroskopik menunjukkan adanya fibrosis pada
atau di dekat lobulus yang disertai sekresi kontinus sehingga menyebabkan
ekspansi dari kavitas yang berisi cairan. 4,5
Kista dipengaruhi oleh hormon ovarium sehingga perkembangannya
bervariasi sesuai dengan siklus menstruasi. Seringkali kista ditemukan pada
wanita di atas 35 tahun (berkisar pada usia 50 tahun) dan insidensinya terus
meningkat hingga masa menopause, kemudian menurun tajam. Pembentukan kista
pada usia yang lebih lanjut biasanya terjadi apabila sedang mendapatkan
pengganti hormon eksogen. 4,5
Keganasan dari kista sangat jarang (0.1%). Kista dapat dikonfirmasi
dengan aspirasi atau ultrasonografi. Cairan kista yang diaspirasi dapat berwarna
seperti jerami, opak, atau hijau gelap, dapat juga disertai flek atau debris. Apabila
cairan kista tidak mengandung darah dan kista tidak rekuren maka tidak wajib
dikirimkan untuk analisa sitologis. Apabila kista rekuren lebih dari 2 kali, maka
diperlukan pemeriksaan sitologi. Terapi pengangkatan tumor secara bedah
diindikasikan apabila temuan sitologis mencurigakan atau apabila kista
rekuren.2,4,5

Fibroadenoma mammae
Fibroadenoma mammae adalah tumor padat jinak pada mammae yang
terdiri dari unsur stroma dan epitel yang merupakan tumor tersering kedua setelah
karsinoma pada mammae. Insidensi tersering ditemukan pada wanita usia remaja
dan masa reproduktif (< 30 tahun) dan tidak ditemukan pada wanita
pascamenopause. Secara klinis fibroadenoma teraba sebagai massa kenyal padat
yang membesar dalam beberapa bulan, dapat berbenjol/berlobulasi, simpai licin,
dan bebas digerakkan. Biasanya massa ini tidak disertai rasa nyeri. Pemeriksaan
USG dapat secara jelas membedakan tumor ini dari kista.2,4,5
Telah ditemukan 2 subtipe dari fibroadenoma yaitu Giant fibroadenoma
yang merupakan fibroadenoma dengan ukuran yang sangan besar (>5 cm), dan
juvenile fibroadenoma yang terjadi pada remaja dan dewasa muda serta secara
histologis lebih kaya sel dibandingkan dengan fibroadenoma biasa. 4,5
Eksisi diperlukan pada kasus ini karena tumor akan terus membesar
meskipun tidak berpotensi ganas. Pada eksisi akan ditemukan massa yang
terbungkus kapsul/simpai yang mudah dilepas dari jaringan sekitarnya.
Tatalaksana kuratif dari fibroadenoma ialah pengangkatan secara bedah dengan
eksisi total tumor. 2,4,5

Perubahan fibrokistik/mastodynia
Perubahan fibrokistik terjadi akibat ketidakseimbangan hormonal dan
terkait dengan proses penuaan alami. Gejala seperti bengkak, adanya benjolan
yang kadang nyeri sentuh, pengerasan mammae sebelum periode menstruasi yang
mengganggu aktivitas sehari-hari merupakan contoh manifestasi perubahan
fibrokistik yang membawa pasien ke dokter. Biopsi dapat dilakukan apabila
pasien merasa takut dan mengehendaki. Dapat ditemukan lima belas macam
gambaran pada pemeriksaan patologis perubahan fibrokistik antara lain: adenosis,
epiteliosis, fibrosis stroma, kista multipel dengan fibrosis, dan metaplasia dan
hiperplasia epitel.5
Pada pemeriksaan mammografi, jaringan mammae tampak memadat tanpa
disertai kelainan lain. Kelainan ini tidak berbahaya, namun pasien dengan riwayat
kanker mammae pada keluarga terlebih apabila ditemukan gambaran hiperplasia
atipik perlu diwaspadai. Kelainan ini seringkali disebut sebagai mastalgia atau
mastodynia yang termasuk dalam golongan kelainan diplasia mammae.5

Abses & infeksi mammae (mastitis)


Infeksi mammae terbagi dalam 2 kategori yaitu infeksi laktasi dan infeksi
subareolar kronik yang terkait dengan ektasia duktus. Infeksi laktasi diduga terjadi
akibat masuknya bakteri melalui puting ke sistem duktal dan dicirikan dengan
demam, leukositosis, eritema, dan nyeri tekan mammae. Infeksi paling sering
disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan dapat termanifestasi sebagai
selulitis yang disebut mastitis, atau dapat juga menjadi abses. Tatalaksananya
memerlukan antibiotik dan pengosongan mammae berkala. Abses sejati
memerlukan drainase bedah karena umumnya bersifat multilokulasi.4
Pada wanita yang tidak menyusui, infeksi berulang dapat terjadi di duktus
subareolar mammae yang disebut sebagai mastitis periduktal atau ektasia duktus.
Kondisi ini tampaknya terkait dengan kebiasaan merokok dan penyakit diabetes.
Infeksi yang muncul biasanya merupakan infeksi campuran dari flora kulit
areobik dan anaerobik. Perubahan inflamatorik dapat menyebabkan pembentukan
jaringan parut dan menyebabkan retraksi atau inversi puting, terbentuknya massa
pada area subareola, dan fistula kronik dari duktus subareola ke kulit periareolar.
Massa yang terpalpasi dan perubahan mammografik yang menyerupai karsinoma
juga dapat terlihat.4,5
Infeksi subareolar awalnya dapat termanifestasi sebagai nyeri subareolar
dan eritema ringan. Apabila segera diketahui, kompres hangat dan antibiotik oral
dapat menjadi penanganan yang efektif. Insisi drainase disertai antibiotik
diperlukan apabila abses sudah terbentuk. Apabila eritema dan edema menetap
setelah penganganan lengkap dengan terapi antibiotik, karsinoma inflamatorik
harus dicurigai.4

Papilloma dan papillomatosis


Papilloma intraduktal soliter merupakan polip sejati dari duktus laktiferus
yang berdinding epitel. Papilloma soliter seringkali berlokasi dekat dengan areola
(75%) namun dapat juga ditemukan di perifer. Kebanyakan papilloma berukuran
<1 cm namun dapat juga tumbuh hingga 4-5 cm. Papilloma tidak terkait dengan
peningkatan risiko kanker mammae.4,5
Papilloma seringkali disertai discharge atau sekresi cairan berdarah dari
puting susu. Konfirmasi diagnosisnya dilakukan dengan duktografi. Tatalaksana
papilloma adalah eksisi melalui insisi sirkumareolar. 4,5
Papilloma harus dibedakan dari papillomatosis yang merupakan
hiperplasia epitel yang sering terjadi pada wanita muda dan terkait dengan
perubahan fibrokistik. Lesi papillomatosis tidak terdiri dari papilloma sejati, di
mana epitel hiperplastiknya mengisi duktus individual seperti polip sejati namun
tidak memiliki tangkai yang berupa jaringan fibrovaskular. 4,5

Kelainan jinak mammae lain


Adenosis sklerosis secara klinis teraba seperti kelainan fibrokistik dan
tergolong dalam kelainan displasia. Secara histopatologis tampak sebagai
proliferasi jinak yang sangat mirip dengan karsinoma.5
Tumor filoides (dulu disebut sebagai sistosarkoma filoides) merupakan
suatu neoplasma jinak yang berasal dari jaringan penyokong nonepitel, bersifat
infiltratif lokal dan dapat menjadi ganas (10-15%). Pertumbuhannya cepat dan
biasanya ditemukan dalam ukuran besar. Tumor ini dapat ditemukan pada segala
usia namun tersering pada sekitar usia 30 tahun. Tatalaksana tumor ini adalah
dengan eksisi luas dan mastektomi apabila tumor sudah sangat besar. Bila tumor
ternyata ganas maka dilakukan mastektomi radikal.5
Galaktokel merupakan kista retensi berisi air susu. Massa ini biasanya
ditemukan di tengah dalam mammae atau di bawah puting, berbatas tegas dan
mobile, seringkali timbul 6-10 bulan setelah berhenti menyusui. Tatalaksananya
adalah dengan aspirasi jarum untuk mengeluarkan sekret susu dan pembedahan
dilakukan apabila kista kental dan tidak dapat diaspirasi atau bila terjadi infeksi.5
Nekrosis lemak biasanya disebabkan oleh cedera atau trauma pada
mammae. Secara klinis dapat memimik kanker karena membentuk massa yang
terpalpasi dan mengandung kalsifikasi pada pemeriksaan mammografi. Secara
histologis lesi terdiri dari makrofag yang mengandung lemak/lipid, jaringan parut,
dan sel inflamatorik kronik. Massa tidak membesar dan tidak memiliki potensi
maligna.4,5

DAFTAR PUSAKA

1. Roy H. Short textbook of surgery. New Delhi: Jaypee Brothers Medical


Publishers; 2011. p274-9.

2. Brunicardi FC, et al. Schwartzs principles of surgery. 9 th ed. USA: The


McGraw-Hill companies; 2010.

3. Greenall MJ. Benign conditions of the breast. Available from: http://med-


lib.ru/english/oxford/benign_cond_br.php

4. Acosta J, et al. Townsend: Sabiston textbook of surgery. 18 th ed. Saunders


Elsevier; 2008.

5. Sjamsuhidajat R, et al. Buku ajar ilmu bedah sjamsuhidajat-de Jong. Ed 3.


Jakarta: Penerbit buku kedokteran ECG; 2013.

6. Local Staging: Imaging Options and Core Biopsy Strategies; 2015.


Available from: http://clinicalgate.com/local-staging-imaging-options-and-
core-biopsy-strategies/
7. Kantelhardt EJ. Benign disease of the breast. Available from:
https://www.glowm.com/pdf/Chap-25_Kantelhardt.pdf

8. Bickley LS, Szilagyi PG. Bates pocket guide to physical examination and
history taking. 7th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer Health; 2013.