Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II

PERCOBAAN VIII

PEMBUATAN KALIUM TETRAPEROKSOKROMAT (V)

OLEH :

NAMA : HABRIN KIFLI HS.

STAMBUK : F1C1 15 034

KELOMPOK : VIII (DELAPAN)

ASISTEN : LA ODE AGUS SALIM

LABORATORIUM KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAAN ALAM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Logam kalium merupakan logam ketujuh paling banyak dan terkandung

sebanyak 2.4% di dalam kerak bumi. Kebanyakan mineral kalium tidak terlarut

dalam air dan unsur kalium sangat sulit diambil dari mineral-mineral tersebut.

Mineral-mineral tertentu, seperti sylvite, carnalite, langbeinite, dan polyhalite

ditemukan di danau purba dan dasar laut yang membentuk deposit dimana kalium

dan garam-garamnya dengan mudah dapat diambil. Kalium ditambang di Jerman,

negara bagian-negara bagian New Mexico, California, dan Utah. Deposit besar

yang ditemukan pada kedalaman 3000 kaki di Saskatchewan, Kanada diharapkan

menjadi tambang penting di tahun-tahun depan (Mohsin, 2006).

Kristal kalium dikromat dapat dibuat dengan mengkombinasikan reaksi

yang berawal dari sumber ion kromium(III) seperti larutan kromium klorida.

Tambahakan larutan kalium hidroksida untuk menghasilkan endapan hijau-biru

dan kemudian larutan hijau tua yang mengandung ion [Cr(OH) 6]3-. Harap

diperhatikan bahwa harus menggunakan kalium hidroksida. Jika menggunakan

natrium hidroksida, maka akan berakhir dengan pembentukan natrium dikromat

(VI) (Shofyan, 2010).

Hidrogen peroksida dengan rumus kimia H2O2 ditemukan oleh Louis

Jacques Thenard di tahun 1818. Senyawa ini merupakan bahan kimia anorganik

yang memiliki sifat oksidator kuat. Bahan baku pembuatan hidrogen peroksida

adalah gas hidrogen (H2) dan gas oksigen (O2). Teknologi yang banyak digunakan
di dalam industri hidrogen peroksida adalah auto oksidasi Anthraquinone. H2O2

tidak berwarna, berbau khas agak keasaman, dan larut dengan baik dalam air.

Dalam kondisi normal (kondisi ambient), hidrogen peroksida sangat stabil dengan

laju dekomposisi kira-kira kurang dari 1% per tahun. Mayoritas pengunaan

hidrogen peroksida adalah dengan memanfaatkan dan merekayasa reaksi

dekomposisinya, yang intinya menghasilkan oksigen. Pada tahap produksi

hidrogen peroksida, bahan stabilizer kimia biasanya ditambahkan dengan maksud

untuk menghambat laju dekomposisinya. Termasuk dekomposisi yang terjadi

selama produk hidrogen peroksida dalam penyimpanan. Selain menghasilkan

oksigen, reaksi dekomposisi hidrogen peroksida juga menghasilkan air (H 2O) dan

panas.

Penggunaan hidrogen peroksida atau H2O2 di industri kimia semakin

meningkat seiring dengan tuntutan lingkungan yang semakin gencar disuarakan.

Salah satu kelebihan hidrogen peroksida di bandingkan dengan bahan oksidator

lain adalah sifatnya yang ramah lingkungan. Ketika hidrogen peroksida

digunakan, ia tidak meninggalkan residu sama sekali, kecuali air (H 2O) dan gas

oksigen (O2). Berdasarkan latar belakang di atas maka dilakukan percobaan

pembuatan kalium tetrasperoksokromat (V).

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada percobaan Pembuatan Kalium Tetraperoksokromat

adalah bagaimana membuat kalium tetraperoksokromat (V)?


C. Tujuan

Tujuan yang hendak dicapai pada percobaan Pembuatan Kalium

Tetraperoksokromat adalah untuk membuat kalium tetraperoksokromat (V).

D. Manfaat

Manfaat yang diperoleh pada percobaan Pembuatan Kalium

Tetraperoksokromat adalah dapat membuat kalium tetraperoksokromat (V).


II. TINJAUAN PUSTAKA

Senyawa kompleks merupakan senyawa yang terbentuk dari ion logam

yang berikatan dengan ligan secara kovalen koordinasi. Ikatan koordinasi

merupakan ikatan kovalen dimana ligan memberikan sepasang elektronnya pada

ion logam untuk berikatan. Kestabilan senyawa kompleks dipengaruhi oleh faktor

ligan dan atom pusat. Faktor yang mempengaruhi kestabilan kompleks

berdasarkan pengaruh atom pusat antara lain besar dan muatan dari ion, nilai

CFSE (Crystal Field Stabilization Energy), dan faktor distribusi muatan (Agustina

dkk., 2013).

Penelitian yang telah dilakukan para kimiawan anorganik menunjukkan

bahwa logam-logam transisi merupakan logam yang banyak dipelajari dan

disintesa menjadi senyawa-senyawa kompleks. Hal ini mengingat logam-logam

ini bersifat inert dan stabilmembentuk senyawa kompleks dengan berbagai ligan.

Salah satu logam yang mempunyai sifat ini adalah kobalt. Logam ini pula yang

digunakan oleh Werner, seorang bapak kimia koordinasi yang mempelajari

senyawa-senyawa kompleks pertama sekali yang kemudian menghasilkan teori

koordinasi Werner yangbertahan cukup lama dan sampai sekarang masih

diperkenalkan di awal-awal mempelajari kimia koordinasi (Saria dkk., 2012).

Kalium adalah logam putih perak yang lunak. Logam ini melebur pada

63,5C. Ia tetap tak berubah dalam keadaan udara kering, tetapi dengan cepat

terkoksidasi dalam udara lembab, menjadi tertutup dengan suhu lapisan biru.

Logam ini menguraikan air dengan dahsyat sambil melepaskan hidrogen dan

terbakar dengan nyala api berwarna lembayung. Kalium biasanya disimpan dalam
pelarut nafta. Garam-garam kalium mengandung kation monovalen K +. Garam-

garam ini biasanya larut dan membentuk larutan yang tak berwarna, kecuali bila

anionnya berwarna (Svehla, 1985).


Hidrogen peroksida sering digunakan dalam dunia kesehatan sebagai

disinfektan karena tidak meninggalkan residu yang berbahaya. Bahan ini pun

digunakan sebagai antiseptik pada akuarium. Hidrogen peroksida merupakan

antiseptik yang efektif dan nontoksik. Adanya ion-ion logam yang umumnya

terdapat di dalam sitoplasma sel menyebabkan terbentuknya radikal superoksida

(.O2-) selama pembentukan oksigen yang akan bereaksi dengan gugus bermuatan

negatif dalam protein dan selanjutnya akan menonaktifkan sistem enzim yang

penting (Setiawan dkk., 2013).


Rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran

atau pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut

setelah dilarutkan dalam pelarut (solven) yang sesuai atau cocok. Ada beberapa

syarat agar suatu pelarut dapat digunakan dalam proses kristalisasi yaitu

memberikan perbedaan daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan

dengan zat pengotor, tidak meninggalkan zat pengotor pada kristal, dan mudah

dipisahkan dari kristalnya (Rositawati dkk., 2013).

III. METODOLOGI PRAKTIKUM


A. Waktu dan Tempat
Percobaan Pembuatan Kalium Tetraperoksokromat (V) dilaksanakan pada

hari Kamis, 13 April 2017 pukul 10.00-12.30 WITA dan bertempat di


Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.


B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah erlenmeyer, gelas

kimia 1000 mL, gelas kimia 100 mL, statif dan klem, corong, pipet ukur 25 mL,

filler,pipet tetes, lap kasar dan pemanas listrik.

2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah K 2CrO4, NaOH,

H2O2 30%, etanol, akuades dan es batu.

C. Prosedur Kerja

2 g K2CrO4 2 g NaOH

-Dilarutkan dengan 25 mL air dalam labu


erlenmeyer 100 mL.
- Dicelupkan labu dalam campuran es/garam
sampai ini labu memadat.
- Ditambahkan 13 mL larutan H2O2 30%.
- Diaduk secara intensif.
- Dibiarkan selama 1 jam dalam keadaan
berdiri.
- Diaduk dari waktu ke waktu.
- Dipindahkan labu dari wadah pendingin
Tidak memadat
- Dipanaskan sampai isinya meleleh
- Disaring garam merah coklat yang
mengendap dengan corong gelas.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

1. Data Pengamatan

No Perlakuan Hasil Pengamatan


.
1. 2 gram K2CrO4 + 2 gram NaOH Larut, larutan berwarna kuning
+ 25 mL akuades
2. Larutan campuran antara Larutan tidak memadat, larutan
K2CrO4 dan KOH dimasukkan tetap berwarna kuning
dalam pendingin (es batu)
3 2 gram NaOH + 2 gram
K2CrO4+ 13 mL H2O2 30 %

2. Reaksi

2K2CrO4 + 9H2O + 2KOH 2K3[Cr(O2)4] + O2 + 10H2O


B. Pembahasan

Senyawa kompleks merupakan senyawa yang terdiri dari penggabungan

antara atom pusat dengan ligannya. Ligan ini adalah atom yang menyumbangkan

pasangan elektron bebasnya pada atom pusat. Senyawa kompleks juga dapat

diartikan sebagai senyawa yang terjadi karena adanya ikatan kovalen koordinasi

dengan antara logam transisi dengan ligan. Senyawa kompleks ini sangat

berhubungan dengan teori asam basa lewis, dimana asam lewis adalah senyawa

yang dapat bertindak sebagai penerima pasangan bebas sedangkan basa lewis

adalah senyawa yang bertindak sebagai penyumbang pasangan elektron bebas.

Pembuatan kalium tetraperoksokromat (V) dilakukan dengan cara

melarutkan kalium kromat dan kalium hidroksida dengan aquades ke dalam

erlenmeyer larutan berwarna kuning. Warna yang dihasilkan merupakan warna

khas dari kalium kromat yang teroksidasi dari K+. Kalium kromat akan

memberikan unsur kromiumnya sebagai atom pusat dan ligan kalium. Sedangkan

KOH berfungsi untuk memberikan kondisi alkali kuat karena kalium

tetraperoksokromat akan terbentuk dalam larutan alkali kuat.

Percobaan kali ini, akan dilakukan pembuatan kalium tetraperoksokromat

(V) dengan mereaksikan antara K2CrO4 dan KOH dalam Erlenmeyer kemudian

dilarutkan dengan akuades. Larutan campuran tersebut dicelupkan dalam wadah

berisi air es dengan garam. Proses penambahan garam, bertujuan untuk

menurunkan titik beku es sehinga dapat mempercepat proses pendinginan.

Kemudian ditambahkan larutan H2O2 30%.


Proses pembuatan kalium tetraperoksokromat (V), dilakukan penambahan

H2O2. pada proses penambahan tersebut terjadi penggantian atom yang berikatan

dengan Cr. Dimana, atom O2 dari H2O2 akan menggatikan atom O2- yang

kemudian merubah warna larutan menjadi merah gelap dengan endapan merah

gelap.Endapan tersebut merupakan senyawa kalium tetraperoksokromat (V)

dalam bentuk garamnya, yang kemudian dikeringkan dan membentuk kristal

kalium tetraperoksokromat (V).

Percobaan ini disisi lain juga menggunakan NaOH yang menggantikan

KOH. Dengan perlakuan yang sama, dimana dengan mencampurkan K2CrO4

dengan NaOH dan penambahan H2O2 30 % ini berbanding terbalik dengan basa

KOH yaitu penambahan tersebut tidak membentuk kristal. Hal ini dikarenakan

beberapa faktor yang mempengaruhi tidak terbentuknya kristal tersebut. Secara

teori KOH merupakan reaktan memiliki sifat yang lebih cepat larut dalam air dan

pengikatan asam lebih cepat dibanding NaOH (Putri dkk., 2014). Serta ditinjau

dari rumus molekul kalium tetraperoksokromat, akan membentuk senyawa

tersebut apabila bereaksi dengan KOH dimana K2CrO4 ketika bereaksi akan

mengikat atom K dari KOH sehingga terbentuk senyawa kalium

tetraperoksokromat dengan tiga atom K. Sedangkan untuk NaOH apabila

direaksikan dengan K2CrO4 tidak akan terbentuk kalium tetraperoksokromat

dimana K2CrO4 hanya akan mengikat atom Na. Sehingga tidak terbentuk kristal

yang diinginkan atau persen rendemen pada percobaan ini adalah 0 %.


V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan, maka dapat disimpulkan bahwa

pembuatan Kalium tetraperoksokromat(V) dapat dibuat melalui reaksi hidrogen

peroksida (H2O2) dengan kalium kromat (K2CrO4)dengan bantuan larutan

NaOHyang berfungsi untuk memberikan kondisi alkali kuat karena kalium

tetraperoksokromat akan terbentuk dalam larutan alkali kuat.


DAFTAR PUSTAKA

Agustina L., Suhartana dan Sariatun, 2013, Sintesis dan Karakterisasi Senyawa
Kompleks Cu(Ii)-8-Hidroksikuinolin dan Co(Ii)-8-Hidroksikuinolin,
Chem Info, 1(1).

Rositawati A.L., Taslin C.M. dan Soetrisnanto D., 2013, Rekristalisasi Garam
Rakyat Dari Daerah Demak untuk Mencapai SNI Garam Industri, Jurnal
Teknologi Kimia dan Industri, 2(4).

Saria Y., Lucyanti, Nurlisa H. dan Aldes L., 2012, Sintesis Senyawa Kompleks
Tetra Amin Tembaga (II) Sulfat Monohidrat Cu(NH3)4.H2O dengan
Asetilasetonato, Jurnal Penelitian Sains, 15(3 C).

Setiawan D., James S. dan Iryanti E.S., 2013, Perbandingan Efektifitas


Disinfektan Kaporit, Hidrogen Peroksida, dan Pereaksi Fenton
(H2O2/Fe2+), Cakra Kimia (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry),
1(2).

Svehla G., 1985, Buku Teks Analisi Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro
Edisi Kelima, PT. Kalman Media Pusaka, Jakarta.