Anda di halaman 1dari 13

Praktikum Instrumentasi & Pengukuran I

Judul Modul : Pengukuran Resistansi

PENGUKURAN RESISTANSI
I. Tujuan Percobaan:
1. Mengenal dan mempelajari teknik pengukuran resistansi menggunakan metoda
Voltmeter-Ammeter, Ohmmeter, dan Jembatan Wheatstone.
2. Mengenal dan mempelajari konstruksi Ohmmeter analog tipe seri.
3. Mengetahui prosedur penggunaan Ohmmeter.

II. Dasar Teori:


Pengukuran resistansi biasanya dijumpai pada kegiatan pengujian dan trouble-shooting
rangkaian, pada pengukuran nilai resistansi komponen, dan pada penentuan variasi nilai
resistansi transducer.

Metoda Ohmmeter dan Voltmeter-Ammeter lebih populer dipergunakan untuk pengujian


dan penentuan nilai resistansi secara kasar, sedangkan jembatan Wheatstone menjadi
pilihan instrumen apabila dibutuhkan pengukuran nilai resistansi atau pemonitoran sinyal
output dari transducer yang sangat akurat.

A. Metoda Voltmeter-Ammeter

Metoda Voltmeter-Ammeter merupakan suatu cara yang populer untuk pengukuran


tahanan, karena instrumen-instrumen ini biasanya tersedia di laboratorium. Jika tegangan
Vx antara ujung-ujung tahanan dan arus Ix melalui tahanan tersebut diukur, maka tahanan
Rx yang tidak diketahui dapat ditentukan berdasarkan hukum Ohm:

Vx
Rx
Ix

Metoda Voltmeter-Ammeter pengukuran beban-beban arus lemah-tegangan tinggi, atau


resistansi tinggi diperlihatkan pada gambar berikut:

It Ix

A
Sumber tegangan

Vt V Vx Rx Beban

1
Praktikum Instrumentasi & Pengukuran I
Judul Modul : Pengukuran Resistansi
Rangkaian tersebut di atas akan menyebabkan terjadinya kesalahan pengukuran tegangan
yang hasilnya lebih besar dibandingkan dengan tegangan beban, sehingga hasil
perhitungan tahanan akan lebih besar dari pada Rx.

Metoda Voltmeter-Ammeter pengukuran beban-beban arus kuat-tegangan rendah, atau


resistansi rendah diperlihatkan pada gambar berikut:

It Ix

A
Sumber tegangan

Vt V Vx Rx Beban

Rangkaian tersebut di atas akan menyebabkan terjadinya kesalahan pengukuran arus yang
hasilnya lebih besar dibandingkan dengan arus beban, sehingga hasil perhitungan tahanan
akan lebih kecil dari pada Rx.

Ketelitian metoda Voltmeter-Ammeter ini tergantung pada pengkalibrasian, stabilitas, dan


efek pembebanan kedua alat ukur (Voltmeter dan Ammeter) tersebut. Dengan demikian
untuk mendapatkan ketelitian yang tinggi diperlukan Voltmeter dan Ammeter yang
memiliki akurasi yang tinggi pula, serta diperlukan Voltmeter dengan tahanan dalam yang
sangat besar (idealnya tak berhingga) dan Ammeter dengan tahanan dalam yang sangat
kecil (idealnya nol).

Untuk menentukan apakah suatu resistor Rx tergolong tinggi atau rendah resistansinya,
dilakukan prosedur pengujian sebagai berikut (lihat gambar di bawah ini):

A
Sumber tegangan

2 1

Rx

a. Hubungkan voltmeter terhadap Rx dengan sakelar pada posisi-1 dan amati pembacaan
ammeter.

2
Praktikum Instrumentasi & Pengukuran I
Judul Modul : Pengukuran Resistansi
b. Pindahkan sakelar ke posisi-2. Jika pembacaan ammeter tidak berubah, kembalikan
sakelar ke posisi-1. Gejala ini menunjukkan pengukuran tahanan rendah. Catat
pembacaan arus dan tegangan dan hitung Rx dengan menggunakan hukum Ohm.

c. Jika pembacaan ammeter berkurang sewaktu memindahkan sakelar dari posisi-1 ke


posisi-2, biarkan voltmeter pada posisi-2. Gejala ini menunjukkan pengukuran
tahanan tinggi. Catat pembacaan arus dan tegangan dan hitung Rx dengan
menggunakan hukum Ohm.

Pengukuran tegangan di dalam rangkaian elektronik umumnya dilakukan dengan


voltmeter rangkuman ganda atau multimeter. Apabila menggunakan voltmeter PMMC,
biasanya memiliki sensitivitas antara 20 k/V sampai 50 k/V. Dalam pengukuran daya
di mana arus umumnya besar, sensitivitas voltmeter bisa serendah 100 /V.

Tahanan ammeter PMMC bergantung pada perencanaan kumparan dan umumnya lebih
besar bagi arus skala penuh (batas ukur arus) yang rendah. Beberapa nilai khas tahanan
dalam ammeter PMMC diperlihatkan pada tabel berikut:

Batas ukur arus Tahanan dalam


50 A 1000 5000
500 A 100 1000
1 mA 30 120
10 mA 14

B. Ohmmeter analog

Ohmmeter analog biasanya menggunakan PMMC sebagai peraga datanya. Ohmmeter


analog ada dua tipe, yaitu tipe seri dan tipe shunt. Ohmmeter tipe seri merupakan disain
yang populer dan digunakan secara luas untuk pemakaian umum. Ohmmeter tipe shunt
tidak lazim digunakan, tetapi ditemukan di laboratorium khusus untuk pengukuran
tahanan-tahanan rendah. Konstruksi dasar dari suatu ohmmeter tipe seri diperlihatkan
pada gambar berikut:

R1
A
R1 = tahanan pembatas arus
R2 = tahanan pengatur nol
Vb = batere di dalam alat ukur
Rm R2 Rx Rm = tahanan dalam PMMC
Rx = tahanan yang akan diukur
Im Vb It

B
Dalam pemakaiannya, suatu resistor Rx yang akan diukur resistansinya dihubungkan ke
terminal alat ukur di titik A dan B. Jika terminal A dan B dihubungsingkatkan (short
circuit) atau Rx = 0, maka arus maksimum akan mengalir di dalam rangkaian. Dalam

3
Praktikum Instrumentasi & Pengukuran I
Judul Modul : Pengukuran Resistansi
keadaan ini tahanan shunt R2 harus diatur agar jarum penunjuk PMMC terdefleksi pada
skala penuh. Arus yang mengalir pada PMMC pada kondisi defleksi skala penuh ini
disebut arus skala penuh (Ifsd). Posisi skala penuh ini ditandai dengan 0 . Jika terminal
A dan B dalam keadaan terbuka (open circuit) atau R x = , maka tidak ada arus yang
mengalir di dalam rangkaian dan ditandai dengan pada skala. Resistansi Rx diantara
0 dan akan menyebabkan jarum penunjuk bergerak ke beberapa titik di antara
kedua harga ekstrim ini.

Apabila tegangan batere berkurang karena pemakaian dan umur, maka arus yang
mengalir di dalam rangkaian akan berkurang sehingga jarum penunjuk PMMC tidak
menunjukkan defleksi skala penuh (tidak membaca 0 ) ketika terminal A dan B
dihubungsingkatkan. Resistor variabel R2 berfungsi untuk mengembalikan posisi jarum
penunjuk ke 0 pada kondisi hubung singkat tersebut dengan cara memperbesar nilai
resistansinya. Batere harus diganti jika resistor variabel R2 tidak mampu lagi
mengembalikan posisi jarum ke 0 pada kondisi hubung singkat.

Pada pemakaiannya, ohmmeter tipe seri akan memberikan hasil pengukuran yang paling
akurat apabila pada pengukuran tahanan Rx jarum penunjuk alat ukur terdefleksi setengah
skala penuh. Defleksi setengah skala penuh ini menunjukkan bahwa nilai tahanan R x
yang diukur sama dengan nilai tahanan dalam ohmmeter tersebut (R). Pada umumnya
suatu ohmmeter analog memiliki beberapa pilihan faktor pengali untuk mengubah skala
pengukurannya. Pemilihan faktor pengali mana yang akan digunakan sangat tergantung
pada nilai resistansi Rx yang akan diukur. Pilihlah faktor pengali yang akan
mengakibatkan jarum penunjuk berada pada daerah yang paling dekat dengan setengah
skala penuh. Berdasarkan konstruksi ohmmeter tipe seri seperti tersebut di atas, nilai
tahanan dalam ohmmeter tersebut dapat dinyatakan sbb.:

R mR 2
R R1
Rm R2

Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, menurunnya tegangan batere akan


mengakibatkan arus yang mengalir di PMMC lebih kecil daripada arus skala penuh pada
saat terminal A dan B dihubungsingkatkan, sehingga jarum penunjuk ohmmeter tidak
berada pada posisi 0 . Dengan mengatur nilai resistansi R2 (diperbesar), maka arus
yang mengalir di PMMC dapat dikembalikan ke nilai skala penuhnya (posisi 0 ).
Nilai resistansi R2 yang diperlukan untuk mengembalikan posisi jarum penunjuk ke
defleksi skala penuh pada kondisi hubung singkat tersebut adalah sbb.:

I fsd R m R 1
R2
Vb I fsd (R m R 1 )

Berubahnya nilai resistansi R2 ini akan mengakibatkan berubahnya nilai tahanan dalam
ohmmeter tersebut sehingga akan mengubah kalibrasi sepanjang skala ohmmeter
tersebut. Dengan membuat nilai tahanan paralel Rm dan R2 jauh lebih kecil dibandingkan

4
Praktikum Instrumentasi & Pengukuran I
Judul Modul : Pengukuran Resistansi
dengan R1, maka perubahan nilai resistansi R2 ini tidak mengubah kalibrasi begitu
banyak.

Untuk keperluan perancangan ohmmeter tipe seri dengan tahanan dalam tertentu sesuai
dengan yang diinginkan (R), diperlukan data PMMC mengenai arus skala penuh (I fsd)
dan tahanan dalamnya (Rm), serta tegangan batere yang akan dipergunakan. Selanjutnya
dapat dihitung nilai tahanan R1 dan R2 yang dibutuhkan dengan menggunakan rumus sbb:

I fsd R m I fsd R m R
R2
I t I fsd Vb I fsd R

R mR 2 I R R
R1 R R fsd m
Rm R2 Vb

Tanda skala ohm pada peraga data dapat ditentukan dengan menghubungkan beberapa
nilai Rx yang berbeda yang telah diketahui. Ketelitian tanda-tanda skala ini tergantung
pada kepresisian alat ukur (PMMC) dan toleransi tahanan kalibrasi. Pemberian tanda
skala ohm pada peraga data juga dapat dibuat dengan cara lain, yaitu dengan
menggunakan rumus:

I fsd
R x R 1
I
m

Ketelitian tanda-tanda skala yang dibuat dengan cara ini tergantung pada ketelitian alat
ukur (PMMC) dan toleransi tahanan dalam ohmmeter yang dibuat.

Gambar di bawah ini merupakan contoh pemberian skala ohmmeter dengan tahanan
dalam (R) sebesar 30 menggunakan peraga data PMMC dengan arus skala penuh (Ifsd)
sebesar 10 mA. Terlihat bahwa skala ohm yang terdapat pada ohmmeter tidak linier (non-
linier)

Sebagai contoh, penunjukan skala arus Im sebesar 2 mA ekivalen dengan pengukuran


tahanan Rx sebesar:

5
Praktikum Instrumentasi & Pengukuran I
Judul Modul : Pengukuran Resistansi
10mA
R x 30 1 120
2mA

Penunjukan skala arus Im sebesar 5 mA ekivalen dengan pengukuran tahanan Rx sebesar:

10mA
R x 30 1 30
5mA

Penunjukan skala arus Im sebesar 8 mA ekivalen dengan pengukuran tahanan Rx sebesar:

10mA
R x 30 1 7,5
8mA

Petunjuk penggunaan Ohmmeter:

1. Jika resistansi yang akan diukur dapat diperkirakan besarnya, pindahkan saklelar
ohmmeter ke skala yang akan memberikan hasil pengukuran paling akurat. Jika
resistansi yang akan diukur tidak dapat diperkirakan sama sekali besarnya, gunakan
skala resistansi yang terbesar.
2. Sebelum menghubungkan terminal ohmmeter ke resistor yang akan diukur,
hubungsingkatkan kedua terminal ohmmeter tersebut. Atur posisi pengatur nol
hingga jarum penunjuk terdefleksi ke skala penuh (ke pembacaan 0 )
3. Lepaskan kedua terminal ohmmeter tersebut dari kondisi hubung singkat, kemudian
hubungkan kedua terminal ohmmeter tersebut ke resistansi yang akan diukur
(sebelumnya pastikan terlebih dahulu bahwa semua catu daya ke resistor yang akan
diukur dalam keadaan mati). Pindahkan saklar skala ohmmeter ke skala yang

6
Praktikum Instrumentasi & Pengukuran I
Judul Modul : Pengukuran Resistansi
mengakibatkan jarum penunjuk ohmmeter terdefleksi ke posisi yang paling dekat
dengan skala penuh (pastikan untuk melakukan pengaturan nol kembali sebelum
dilakukan pembacaan pada skala terakhir yang akan digunakan). Skala ini akan
memberikan hasil pengukuran yang paling akurat. Nilai resistansinya dapat dibaca
langsung dari angka yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk ohmmeter dikalikan
dengan faktor pengalinya (skala yang digunakan).
4. Pindahkan sakelar ke posisi off untuk menjaga batere agar tidak terkuras.
5. Apabila tahanan yang akan diukur terdapat di dalam suatu rangkaian, selain catu daya
rangkaian tersebut harus dimatikan, ada hal lainnya yang perlu diperhatikan yaitu
tentang efek penyimpanan muatan listrik di kapasitor-kapasitor yang terdapat di
dalam rangkaian tersebut dan yang terdapat di catu daya rangkaian itu sendiri. Pada
saat ohmmeter dihubungkan ke rangkaian tersebut; meskipun catu daya rangkaian
sudah dimatikan; muatan yang masih tersimpan di kapasitor-kapasitor itu perlahan-
lahan akan dikosongkan (discharge) dan akan menyebabkan kesalahan pembacaan
atau bahkan dapat menimbulkan kerusakan pada ohmmeter. Dengan demikian, hal
utama harus dilakukan sebelum melakukan pengukuran adalah mematikan semua
catu daya rangkaian dan mengosongkan muatan semua kapasitor yang ada.
6. Karena ohmmeter itu sendiri mensuplai tegangan dc yang mana polaritasnya
tergantung dari disain instrumennya, maka perlu kehati-hatian apabila akan
digunakan untuk pengukuran resistansi suatu komponen yang akan rusak apabila
mendapatkan arus tertentu (misalnya: PMMC, sekering, komponen-komponen
semikonduktor, rangkaian-rangkaian yang di dalamnya terdapat komponen-
komponen tersebut).
7. Jika dilakukan pengukuran tahanan yang terdapat di dalam suatu rangkaian, harus
diingat bahwa hasil yang ditunjukkan oleh ohmmeter tersebut adalah nilai resistansi
paralel antara tahanan yang akan diukur tersebut dengan semua komponen dc lainnya
yang terdapat di dalam rangkaian tersebut.

C. Ohmmeter digital

Keterbatasan akurasi pengukuran oleh ohmmeter analog dapat ditanggulangi oleh


ohmmeter digital. Penggunaan catu daya yang dapat diatur secara presisi akan
meningkatkan akurasi sumber tegangan yang digunakan oleh ohmmeter tersebut. Display
digital yang memiliki resolusi tinggi akan mengurangi kesalahan pembacaan jika
dibandingkan dengan pembacaan skala pada display analog. Bagian internal ohmmeter
digital menghasilkan suatu arus konstan yang akan dilewatkan ke tahanan yang akan
diukur resistansinya. Tegangan yang melintasi tahanan tersebut kemudian diukur. Karena
arus yang melewati tahanan tersebut konstan, maka tegangan terukur tersebut berbanding
lurus (linier) terhadap nilai resistansi tahanan yang akan diukur.

Suatu ohmmeter digital umumnya memiliki beberapa pilihan batas ukur. Hasil
pengukuran yang paling akurat terdapat pada penggunaan batas ukur yang paling dekat
dengan nilai resistansi tahanan yang akan diukur. Nilai resistansinya dapat dibaca
langsung dari angka yang ditunjukkan oleh display digital ohmmeter tersebut.

7
Praktikum Instrumentasi & Pengukuran I
Judul Modul : Pengukuran Resistansi

D. Jembatan Wheatstone

Jembatan Wheatstone digunakan untuk keperluan pengukuran nilai resistansi yang sangat
akurat, dari mili-ohm sampai dengan mega-ohm. Jembatan Wheatstone komersiel
umumnya memiliki akurasi sekitar 0,1 %. Dengan demikian hasil pengukuran dengan
menggunakan jembatan Wheatstone jauh lebih akurat dibandingkan dengan hasil yang
diperoleh dengan menggunakan metoda ohmmeter ataupun voltmeter-ammeter.

Rangkaian jembatan Wheatstone dc


diperlihatkan pada gambar berikut ini, dimana
Rx adalah resistansi yang akan diukur dan G
adalah suatu galvanometer yang sangat sensitif.
Prinsip kerja jembatan ini yaitu tidak ada arus
yang mengaliri galvanometer jika tidak ada beda
potensial antara kedua terminal galvanometer
tersebut. Jika tidak ada aliran arus ke
galvanometer, maka dikatakan jembatan dalam
keadaan setimbang. Kondisi setimbang ini akan
dicapai jika pembagian tegangan catu daya Vo
ke R1 dan ke R2 sama dengan pembagian catu
daya Vo ke R3 dan ke Rx. Dengan demikian titik-
b dan titik-c akan memiliki potensial yang sama
besar. Pada kondisi setimbang ini arus yang
melewati R1 akan sama dengan arus yang melewati R 2, sedangkan arus yang melewati R3
akan sama dengan arus yang melewati Rx. Pada kondisi ini berarti:

Rx R2

R 3 R1

8
Praktikum Instrumentasi & Pengukuran I
Judul Modul : Pengukuran Resistansi
Seandainya R1, R2, dan R3 diketahui nilai resistansinya, maka Rx dapat dihitung
berdasarkan persamaan:

R2
R x R3
R1

Pada umumnya perbandingan antara R2 dan R1 dapat diatur dengan menggunakan suatu
sakelar dengan rasio perbandingan faktor sepuluh. Dengan demikian rasio R 2/R1 dapat
diset pada 10-3, 10-2, 10-1, 1, 10, 102, dan 103. R3 merupakan resistor variabel yang dapat
diatur nilainya secara kontinyu. Apabila kondisi defleksi nol pada galvanometer telah
dicapai, nilai resistansinya dapat langsung dibaca pada panel penunjuk yang ada.

Petunjuk penggunaan jembatan Wheatstone:

1. Hubungkan tahanan Rx yang akan diukur ke terminal jembatan dengan baik, dengan
rapat. Ini akan meminimalkan kontak resistansi.
2. Atur skala galvanometer ke seting sensitivitas terkecil. Ini akan mencegah kerusakan
galvanometer yang disebabkan oleh arus berlebih jika terjadi ketidakseimbangan pada
jembatan.
3. Atur resistor variabel R3 hingga defleksi nol tercapai pada galvanometer.
4. Pindahkan skala galvanometer ke seting skala yang lebih sensitif, atur kembali
resistor variabel R3 agar dicapai defleksi nol kembali.
5. Lanjutkan langkah-4 tersebut diatas hingga dicapai seting skala yang paling sensitif.
6. Hitung resistansi Rx berdasarkan hubungan
R
R x R3 2
R1
atau hasilnya juga dapat langsung dibaca pada panel penunjuk yang ada.

III. Tugas Pendahuluan:

1. Jelaskan, mengapa sebelum menggunakan ohmmeter, harus dipastikan terlebih


dahulu bahwa semua catu daya ke komponen yang akan diukur resistansinya tersebut
harus dalam keadaan mati?
2. Beberapa ohmmeter menggunakan unit satuan siemens (biasanya mikro-siemens, atau
S). Apakah siemens itu, dan bagaimana kaitannya dengan unit satuan ohm.
3. Jelaskan, mengapa untuk mengukur resistansi suatu komponen yang sangat peka
terhadap arus diperlukan penggunaan ohmmeter dengan sangat hati-hati.
4. Mengapa pada ohmmeter analog hasil pengukuran dengan ketelitian tertinggi terdapat
pada daerah pembacaan sekitar setengah skala penuh?

IV.Peralatan Praktikum:

PMMC, Ifsd - 50 A
DC variable power supply 1 buah

9
Praktikum Instrumentasi & Pengukuran I
Judul Modul : Pengukuran Resistansi
Multimeter analog 2 buah
Multimeter digital 1 buah
Resistor: 47 ; 1,2 k, 18 k, 100 k
Resistor Variabel: 10 k
Kabel penghubung

V. Pelaksanaan Praktikum:

5.1 Pengukuran tahanan dalam PMMC


1. Atur setting power supply dc (Vb) pada
R
tegangan keluaran 0 volt.
2. Buat rangkaian seperti pada gambar
berikut ini dengan R = 100k. Perhatikan
polaritas power supply dc dan polaritas + +
PMMC. Gunakan voltmeter digital. +
Rm V Vb
3. Dengan hati-hati perbesar supply
tegangan dc ke rangkaian hingga jarum Im
penunjuk PMMC terdefleksi mendekati
skala penuh. Gunakan tombol pengatur
fine pada power supply untuk mendapatkan defleksi skala penuh pada PMMC
(hingga jarum penunjuk PMMC tepat di angka 50 A).
4. Baca dan catat penunjukan voltmeter digital (V), gunakan batas ukur yang
menghasilkan ketelitian paling tinggi.
5. Hitung tahanan dalam PMMC dengan menggunakan rumus:
Rm = V/(50A)

5.2 Merakit Ohmmeter analog tipe seri dengan menggunakan PMMC


1. Buat rangkaian seperti gambar Rpot Rs R1
berikut ini (A-B open circuit) A
dengan menggunakan PMMC
yang sama dengan percobaan
5.1. Gunakan Vb = 1.5 volt
(catu daya dc 1.5 volt), R2 = R R2 Rx
m
resistor 1.2 k, R1 = resistor
47 , Rs = resistor 18 k, Rpot Im Vb It
= potensio 10 k. Sebelum
semua resistor dipasang,
terlebih dulu ukurlah resistansi B
semua resistor tersebut dengan menggunakan ohmmeter digital.
2. Atur Rpot maksimum
3. Hubungsingkatkan A dengan B. Atur Rpot agar defleksi PMMC penuh (Im = 50 A).
4. Posisikan saklar Vb pada kondisi off. Lepaskan Rpot dari rangkaian. Ukur nilai Rpot
dengan menggunakan ohmmeter digital.

10
Praktikum Instrumentasi & Pengukuran I
Judul Modul : Pengukuran Resistansi
5. Dengan nilai Rm yang telah di ketahui dari percobaan 5.1, hasil pengukuran semua
resistor dan Rpot pada langkah (4) tersebut diatas, dan dianggap tahanan dalam sumber
tegangan adalah nol, hitung tahanan dalam ohmmeter tersebut (R teoritis).
6. Kembalikan Rpot pada rangkaian ohmmeter yang anda buat. Kembalikan posisi saklar
Vb pada kondisi on.
7. Pasangkan Potensio Rx 10 k pada rangkaian ohmmeter. Aturlah Rx hingga diperoleh
hasil arus PMMC sebesar setengah skala penuh ( Ifsd = 25 A).
8. Lepaskan Rx dari rangkaian, ukur nilai Rx tersebut dengan menggunakan ohmmeter
digital. Tentukan nilai tahanan dalam ohmmeter dengan cara pengukuran ini (R
pengukuran).

5.3 Pengukuran berbagai macam nilai tahanan


1. Ukurlah resistansi salah satu komponen dari berbagai macam komponen yang telah
tersedia dengan menggunakan metoda voltmeter-ammeter. Gunakan Voltmeter dan
Ammeter analog.
2. Ukurlah resistansi komponen tersebut dengan menggunakan ohmmeter digital.
3. Ukurlah resistansi komponen tersebut dengan menggunakan ohmmeter analog.
4. Ukurlah resistansi komponen tersebut dengan menggunakan ohmmeter rakitan yang
telah anda buat.
5. Gantikan komponen yang telah anda ukur tersebut dengan komponen lainnya yang
telah tersedia.

5.4 Efek penurunan catu daya


1. Ulangi percobaan 5.2 dengan menggunakan Vb = 1.2 volt (catu daya dc 1.2 volt).

VI. Tugas Laporan Praktikum:


1. Berdasarkan hasil percobaan 5.1, hitunglah nilai tahanan dalam PMMC yang anda
gunakan. Faktor apa saja yang dapat menjadi penyebab terjadinya kesalahan pada
pengukuran tahanan dalam PMMC tersebut? Mengapa pengukuran tahanan dalam
PMMC tersebut tidak menggunakan ohmmeter?
2. Berdasarkan hasil percobaan 5.2, bandingkan hasil R teoritis dan R pengukuran.
Apakah nilainya sama? Mengapa? Nilai R mana yang anda gunakan untuk
penskalaan ohm pada PMMC?
3. Berdasarkan hasil percobaan 5.3, bandingkan hasil pengukuran tahanan yang anda
dapatkan dengan menggunakan metoda voltmeter-ammeter, ohmmeter digital,
ohmmeter analog, dan ohmmeter rakitan anda. Buatlah analisa berdasarkan hasil
pengukuran yang telah anda dapatkan tersebut.
4. Berdasarkan hasil percobaan 5.4, bandingkan nilai R antara sebelum dan sesudah
terjadi penurunan tegangan catu daya. Apakah penurunan tegangan catu daya
berpengaruh terhadap nilai R ? Mengapa? Berapa prosen kesalahan pengukuran
tahanan Rx akibat penurunan tegangan catu daya tersebut?
(% Kesalahan = 100% x |R,1.5V - R,1.2V|/ R,1.5V)

11
Praktikum Instrumentasi & Pengukuran I
Judul Modul : Pengukuran Resistansi

VII. Tabel Data dan Perhitungan:

Data teknis alat ukur yang digunakan:


Nama Jenis Kode Batas ukur yang tersedia /faktor pengali tahanan
dalam
Voltmeter analog
Ammeter analog
Ohmmeter digital
Ohmmeter analog
Ohmmeter analog
rakitan

Pengukuran tahanan dalam PMMC


Im = 50 A
V = V
Rm = V/Im =

Merakit Ohmmeter analog tipe seri dengan menggunakan PMMC


Rm =
Vb = V
R1 =
R2 =
Rs =
Rpot =
R (teori) =
R (ukur) =

Nama Kode Volt-Ammeter Ohmmeter Ohmmeter Ohmmeter


Komponen digital analog rakitan

12
Praktikum Instrumentasi & Pengukuran I
Judul Modul : Pengukuran Resistansi

V (volt)

Faktor pengali
I (ampere)

Batas ukur (ohm)

Hasil (ohm)

Im (A)

(ohm)
V/I (ohm)

Hasil (ohm)

R (ohm)

R (ohm)

Rx = R{(50A/Im) 1}Hasil
Pengaruh penurunan tegangan catu daya
Rm = Rm =
Vb = 1.5 V Vb = 1.2 V
R1 = R1 =
R2 = R2 =
Rs = Rs =
Rpot = Rpot =
R (teori) = R (teori) =
R (ukur) = R (ukur) =

13