Anda di halaman 1dari 49

BUDIDAYA IKAN MANFISH

BUDIDAYA IKAN HIAS MANFISH

(Pterophyllum scalare)

1. PENDAHULUAN

Ikan manfish (Angle Fish) berasal dari Amerika Selatan, tetapi telah banyak dibudidayakan
di Indonesia. Ikan manfish disebut Angle Fish (Ikan Bidadari), karena bentuk dan warnanya
menarik serta gerakkannya yang tenang. Secara umum budidaya ikan manfish tidak
membutuhkan lahan yang luas, bahkan dapat dilakukan dalam aquarium atau paso dari
tanah, sehingga tidak membutuhkan investasi besar untuk budidayanya.

2. PEMIJAHAN

1) Perbedaan induk jantan dan betina

INDUK JANTAN INDUK BETINA


Ukuran relatif lebih besar dari induk Mempunyai ukuran relatif lebih kecil
betina pada umur yang sama dari induk jantan

Dilihat dari atas perut pipih atau Perut terlihat besar dan menonjol
ramping
Kepala lebih kecil
Bentuk kepala agak besar
Antara mulut ke sirip punggung
Antara mulut dan sirip punggung membentuk garis lurus, kadang-
berbentuk cembung. kadang menonjol sedikit.

2) Pemilihan Induk

a) Induk yang baik untuk dipijahkan adalah yang telah berumur lebih dari 6 bulan,
dengan panjang induk jantan + 7,5 cm dan induk betina + 5 cm

b) Untuk penentuan pasangan secara cermat, yaitu dengan cara menyiapkan induk-
induk yang telah matang telur dalam satu bak (2 x 2) meter persegi dengan
ketinggian air + 30 cm. Umumnya ikan manfish akan memilih pasangannya
masing-masing. Hal ini dapat terlihat pada malam hari, ikan yang telah
berpasangan akan memisahkan diri dari kelompoknya. Ikan yang telah
berpasangan ini segera diangkat untuk dipijahkan.

3) Cara Pemijahan

a) Tempat pemijahan dapat berupa aquarium, bak atau paso dari tanah, diisi air yang
telah diendapkan setinggi 30 - 60 cm

b) Siapkan substrat dapat berupa daun pisang, seng plastik, kaca, keramik atau
genteng dengan lebar + 10 cm dan panjang + 20 cm

c) Substrat diletakkan secara miring atau terlentang

d) Sebelum terjadi pemijahan, induk jantan akan membersihkan substrat dengan


mulutnya

e) Setelah terjadi pemijahan, telur akan menempel pada substrat. Untuk satu kali
pemijahan telur dapt berjumlah 2.000 - 3.000 butir

f) Selama pemijahan induk akan diberi makan kutu air dan cuk.

3. PEMELIHARAAN BENIH

Setelah induk memijah, penetasan telur dapat segera dilakukan. Penetasan

telur ada beberapa cara:

a) Substrat yang telah ditempeli telur diangkat, untuk dipindahkan kedalam aquarium
penetasan. Pada waktu mengangkat substrat diusahakan agar telur senantiasa
terendam air, untuk itu dapat digunakan baskom atau wadah lain yang dimasukkan
ke tempat pemijahan.

b) Cara kedua yaitu telur ditetaskan dalam tempat pemijahan. Setelah menetas (2 - 3
hari) benih yang masih menempel pada substrat dapat dipindahkan ke aquarium.
Pemindahan benih dilakukan dengan cara yang sama (a)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan benih:


a. Aquarium tempat menetaskan telur maupun pemeliharaan benih sebelumnya harus di
persiapkan dahulu, yaitu dengan mengisi air yang telah diendapkan +10 cm,
kemudian bubuhkan methyline blue beberapa tetes, untuk mencegah kematian telur
karena serangan jamur. Selanjutnya beri tambahan oksigen dengan menggunakan
pompa udara.

b) Telur dan benih yang masih menempel pada substrat tidak perlu diberi makan

c) Setelah lepas dari substrat (3 - 4 hari) dapat diberikan makanan berupa rotifera atau
kutu air yang disaring, selama 5 - 7 hari.

d) Selanjutnya benih diberi kutu air tanpa di saring

e) Setelah seminggu diberi kutu air, benih muali dicoba diberi cacing rambut.

4. PEMBESARAN

1. Setelah benih memakan cacing rambut, perlu dilakukan penjarangan di aquarium yang
lebih besar

2. Pada 1,5 bulan dapat ditebar sebanyak - 1.000 ekor benih pada bak tembok berukuran
(1,5 x 2) meter persegi dengan tinggi air 15 s.d. 20 cm

3. Selanjutnya penjarangan dilakukan 2 minggu sekali dengan membagi dua, sehingga tiap
kolam diisi 100 ekor

4. Pada keadaan terbatas kepadatan lebih dari 100 ekor, asal ketinggian air ditambah serta
diberi pompa udara

5. Pembersihan kotoran dilakukan setiap hari dengan menyiphon dan air sebagaimana
semula.

5. PENUTUP

1. Karena bentuk dan warnanya yang menarik, serta gerakan yang tenang, sehingga minat
masyarakat terhadap ikan manfish (Angle Fish) cukup besar.

2. Harga ikan Manfish pun cukup tinggi, sehingga pembudidayaannya dapat dijadikan
sebagai usaha sambilan yang dapat menambah penghasilan keluarga.
6. SUMBER

Dinas Perikanan, DKI Jakarta, Jakarta.

Dedy Donartha Sinaga (K2B004086)

diposkan oleh nartha @ 12.11 1 Komentar

bang ganteng

diposkan oleh nartha @ 11.54 0 Komentar

Minggu, 30 Desember 2007


Pemijahan Ikan Nilem (Osteocholus haselti)

PEMIJAHAN IKAN NILEM (Osteochilus haselti)

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Peluang budidaya perikanan di perairan Indonesia masih sangat memungkinkan untuk


dikembangkan. Hal ini terbukti dari aspek sumberdaya perairan yang begitu besar dengan
keragaman komoditas perikanan yang belum banyak terjamah atau terkelola secara optimal
khususnya di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Seperti di daerah Priangan, Jawa Barat hasil
produksinya mencapai 13.284,93 ton, dengan konribusinya mencapai 83,13 % dan ini hanya di kota
Priangan. Peluang ini semestinya mendapat perhatian khusus mengingat akan kebutuhan sumber
protein hewani selama ini terus meningkat baik untuk konsumen dalam negeri maupun luar negeri
(Husein, 2002).

Nilem (Osteochilus hasselti) merupakan ikan endemik (asli) Indonesia yang hidup di sungai-
sungai dan rawa-rawa. Namun, sejalan dengan perkembangan, ikan tersebut kemudian
dibudidayakan di kolam-kolam untuk tujuan komersial. Secara nasional keberadaannya kurang
begitu populer kecuali di Jawa Barat. Hampir 80 % produksi nasional ikan nilem berasal dari Jawa
Barat.

Ciri-ciri ikan nilem hampir serupa dengan ikan mas. Ciri-cirinya yaitu, pada sudut-sudut
mulutnya terdapat dua pasang sungut-sungut peraba Sirip punggung disokong oleh 3 jari-jari keras
dan 12 - 18 jari-jari lunak. Sirip ekor bercagak dua, bentuknya simetris. Sirip dubur disokong oleh 3
jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak. Sirip perut disokong oleh 1 jari-jari keras dan jari-jari lunak. Sirip
dada disokong oleh 1 jari-jari dan 13 15 jari-jari lunak. Jumlah sisik-sisik gurat sisi ada 33 36
keping Ikan nilem dapat mencapai panjang tubuh 32 cm. Bedanya, kepala ikan nilem relatif lebih
kecil. Bentuk tubuh ikan nilem agak memanjang dan pipih, ujung mulut runcing dengan moncong
(rostral) terlipat, serta bintik hitam besar pada ekornya merupakan ciri utama ikan nilem. Ikan ini
termasuk kelompok omnivora, makanannya berupa ganggang penempel yang disebut epifiton dan
perifiton (Djuhanda, 1985).

Ikan nilem selain sebagai lauk untuk makan, juga dikenal bermanfaat sebagai sumber tenaga
khususnya bagi kaum pria. Ikan nilem juga sangat diminati dan digemari dalam bentuk cemilan
seperti yang terjadi di Priangan, Jawa Barat. Ikan nilem mampu hidup dan berkembang biak secara
baik pada perairan jernih dan berpasir serta berada pada kawasan berelevasi tinggi. Dengan melihat
keunggulannya tersebut ikan ini memiliki prospek yang bagus untuk dibudidayakan, sehingga akan
sangat menunjang bagi perikanan di Indonesia meskipun informasi tentang pengandaan benih dari
pemeliharaannya yang masih sangat terbatas (Husein, 2002).

1.2. Pendekatan masalah

Salah satu faktor utama yang diperlukan untuk meningkatkan produksi benih Ikan nilem
(Osteochilus hasselti) adalah penyediaan benih yang cukup sepanjang tahun. Selama ini belum ada
yang memproduksi induk ikan nilem yang unggul, seperti ikan mas, akibatnya usaha pembudidaya
ikan nilem belum dapat berkembang dengan baik. Pemijahan biasanya dilakukan secara alami, ikan
nilem cenderung lambat dan telur yang dihasilkan terbatas. Penurunan mutu ikan lebih disebabkan
telah terjadi depresi in breeding pada pembudidayaan ikan nilem. Secara umum yang dimaksud
dengan in breeding adalah perkawinan ikan dengan saudara dekat, dan yang paling ekstrem adalah
perkawinan dengan saudara sekandung. Depresi in breeding merupakan akibat yang menimpa
keturunan dari cara perkawinan in breeding. Induk ikan nilem mempunyai usia produksi hanya 1 2
tahun.

Di lain pihak, untuk mendapatkan benih secara langsung dari tangkapan di alam semakin
sulit atau bahkan tidak mungkin. Ikan nilem hanya cocok dipelihara di daerah sejuk yang tingginya
150 1000 meter diatas permukaan laut. Tapi yang paling baik di daerah setinggi 800 m, dengan
suhu air optimum antara 18o - 28oC.

1.3.Tujuan

Praktek kerja lapangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui teknik pemijahan
ikan nilem secara alami dari mulai tahap pemberokan (memuasakan ikan), persiapan media
pemijahan, pemilihan induk, fekunditas (penghitungan jumlah telur), sampai penetasan telur untuk
mengetahui parameter kualitas air selama proses penetasan.

1.4. Manfaat

Dalam praktek kerja lapangan ini diharapkan mampu memberikan masukan yang
bermanfaat bagi dunia perikanan, dalam hal ini kaitannya dengan teknik pemijahan ikan nilem dapat
bermanfaat untuk:

1. Memberi informasi kepada masyarakat mengenai teknik pemijahan ikan nilem.

2. Untuk meningkatkan kuantitas produksi ikan nilem yang selama ini kurang dikenal dan diminati
oleh masyarakat (konsumen).

3. Meningkatkan ketrampilan dan pengalaman kerja dilapangan serta dapat menambah


pengetahuan tentang manajemen pemberian pakan yang baik pada budidaya udang vannamei

1.5. Waktu dan tempat

Praktek Kerja Lapangan (PKL) akan ini dilaksanakan pada 8 21 Agustus 2007 di Balai
Perikanan Ikan Air Tawar (PBIAT) Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Morfologi ikan Nilem

Ikan nilem (Osteochilus hasselti) menurut Saanin, 1968, diklasifikasikan dalam:

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Sub-phylum : Craniata

Class : Pisces

Sub-class : Actinopterygi

Ordo : Ostariophysi

Sub-ordo : Cyprinoidea

Famili : Cyprinidea

Genus : Osteochilus

Spesies : Osteochilus hasselti


Ikan nilem adalah salah satu spesies ikan yang masuk dalam famili Cyprinidae, sehingga
bentuk tubuh ikan nilem hamper serupa dengan ikan mas, hanya kepalanya relative lebih kecil. Pada
sudut-sudut mulutnya terdapat dua pasang sungut-sungut peraba (Djuhanda, 1985).

Sirip punggung disokong oleh 3 jari-jari keras dan 12 - 18 jari-jari lunak. Sirip ekor bercagak
dua, bentuknya simetris. Sirip dubur disokong oleh 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak. Sirip perut
disokong oleh 1 jari-jari keras dan jari-jari lunak. Sirip dada disokong oleh 1 jari-jari dan 13 15 jari-
jari lunak. Jumlah sisik-sisik gurat sisi ada 33 36 keping (Djuhanda, 1985).

Ikan nilem dapat mencapai panjang tubuh 32 cm, warna tubuhnya hijau abu-abu. Di Jawa
Barat, ikan nilem memiliki popularitas sedikit dibawah ikan mas. Diberbagai daerah lain, ikan ini
dikenal dengan ikan Lehat, Regis, Penopa (Susanto, 2006).

2.2. Habitat

Ikan nilem (Osteochilus hasselti) hidup di perairan yang jernih. Oleh karena itu, ikan ini dapat
ditemukan di sungai-sungai. Populasi ini hanya cocok dipelihara di daerah sejuk, yang tingginya
diatas permukaan air laut mulai dari 150m 1000m, tetapi yang paling baik adalah di daerah setinggi
800m, dengan suhu air optimum 180C 280C (Soeseno, 1985).

2.3. Kebiasaan makan

Ikan nilem adalah ikan organik yang artinya tidak membutuhkan pakan tambahan atau
pellet. Ikan nilem termasuk ikan pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivora).

Larva yang baru menetas biasanya memakan jenis zooplankton (hewan yang berukuran kecil
atau mikro yang hidup diperairan dan bergerak akibat arus perairan) yaitu rotifer. Sedangkan benih
dan ikan dewasa memakan tumbuh-tumbuhan air seperti chlorophyceae, characeae,
ceratophyllaceae, polygonaceae (Susanto, 2006)

2.4. Tingkat kematangan gonad

Keberhasilan dalam pembenihan ikan berkaitan dengan pemilihan calon induk ikan yang
dipijahkan. Adapun tingkat kematangan gonad adalah sebagai berikut (Cassie dan Effendie, 1979):

Tingkat kematangan gonad untuk ikan betina:

Tingkat I : Gonad seperti benang, panjang sampai depan rongga tubuh. Warna jernih,
permukaan licin

Tingkat II : Ukuran gonad lebih besar, warna lebih gelap kekuning kuningan. Telur belum
terlihat jelas dengan mata.

Tingkat III : Gonad berwarna putih. Secara morfologitelur mulai kelihatan butirnya dengan
mata.
Tingkat IV : Gonad makin besar, telur berwarna kuning mudah dipisahkan. Butir minyak tidak
tampak, mengisi setengah atau dua pertiga rongga perut, usus terdesak

Tingkat V : Ovarium mengkerut, dinding tebal, butir-butir terdapat didekat lubang


pelepasan. Banyak telur seperti pada tingkat II.

Berat rata-rata induk betina 200,7 gr. Panjang total rata-rata induk betina 28,7 cm.

Tingkat kematangan gonad pejantan.

Tingkat I : Gonad seperti benang, lebih pendek dan terlihat ujungnya dirongga tubuh. Warna
jernih.

Tingkat II : Ukuran gonad lebih besar. Warna putih seperti susu. Bentuk lebih jelas daripada
tingkat I.

Tingkat III : permukaan gonad seperti bergerigi, warna putih, gonad makin besar.

Tingkat IV : Seperti pada tingkat III, tampak lebih jelas, gonad semakin pejal.

Tingkat V : Testis bagian belakang kempis dan bagian dekat pelepasan masih berisi.

Berat rata-rata induk jantan 187,3 gr. Panjang total rata-rata induk pejantan 28,2 cm.

2.5. Kualitas air

Dalam suatu usaha budidaya ikan, kualitas air perlu diperhatikan karena kualitas air media
hidup merupakan faktor luar yang paling mempengaruhi kelangsungan hidup larva, disini terjadi
interaksi secara langsung antara biota, air, pakan dan unsur-unsur lainnya dimana antara faktor yang
satu dengan yang lain saling mempengaruhi.

Menurut Susanto (2001), untuk menentukan kualitas air parameter yang diperhatikan
adalah : temperature, derajat keasaman (pH), oksigen terlarut, karbon dioksida bebas, dan
ammonia.

2.5.1. Oksigen terlarut

Kebutuhan oksigen oleh ikan tentunya diambil dari air melalui proses pernafasan atau pertukaran
gas yang terjadi melalui insang. Oksigen masuk kedalam air melalui proses persinggungan atau difusi
dengan udara. Sedangkan oksigen di alam didapatkan dari tanaman hijau, baik tanaman tingkat
tinggi maupun tingkat rendah seperti lumut dan algae. Dengan bantuan sinar matahari dan adanya
bahan karbohidrat, tanaman hijau memproduksi oksigen melalaui proses fotosintesis, kemudian
oksigen dikeluarkan oleh tanaman hijau kelingkungan, baik di air maupun di udara (Lesmana, 2001).

Oksigen sebanyak 5 - 6 ppm yang terlarut didalam air dianggap paling ideal untuk tumbuh dan
berkembangbiak ikan. Tentunya air dengan kandungan oksigen yang rendah ini perlu dilakukan
penanganan khusus, misalnya dibuat aerasi yang masuk ke dalam bak atau akuarium sehingga
terjadi difusi oksigen dari udara bebas ke dalam air (Susanto, 2006).

3.5.2. Karbondioksida bebas

Gas kedua yang perlu diperhatikan yaitu kandungan karbondioksida dalam perairan yang sering
dikenal dengan sebutan zat asam arang. Meskipun karbondioksida ini tidak secara langsung
dibutuhkan oleh ikan, tetapi diperlukan pada proses fotosintasis media hidup kolam. Karbondioksida
ini digunakan sebagai bahan bakar untuk membuat zat pati dalam butir hijau daun tumbuhan air.
Kandungan karbondioksida dalam air untuk pemeliharaan air tenang dibutuhkan sangat banyak,
lebih banyak daripada oksigen. Kandungan karbondioksida maksimum dalam air yang masih
dianggap tidak membahayakan bagi ikan yaitu 25 ppm ( Susanto, 2006 ).

3.5.3. pH (derajat keasaman)

Keasaman air atau yang popular dengan istilah pH air sangat berperan dalam kehidupan
ikan. Umumnya, pH yang sangat cocok untuk semua jenis ikan antara 6,7 8,6. Namun, ada jenis
ikan yang dapat bertahan hidup pada kisaran pH yang buruk (rendah maupun tinggi), sekitar 4 9
karena linkungan hidup aslinya dirawa-rawa, misalnya Ikan sepat siam (Susanto, 2006).

BAB III

MATERI DAN METODE

3.1. Materi

Materi yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini adalah sebagai berikut :

1. Hewan uji

Hewan uji yang digunakan adalah induk ikan nilem yang berumur 1,5 3 tahun. Berat rata-rata
induk pejantan 163 gr dan berat rata-rata induk betina 201 gr. Panjang total rata-rata induk
pejantan 24,2 cm sedangkan panjang total rata-rata induk betina 26,6 cm. Jumlah induk pejantan
5 ekor dan jumlah induk betina 5 ekor.

2. Kolam pemberokan ikan

Kolam yang digunakan berukuran 3 x 2 meter dengan kedalaman air 0,5 m sebanyak 1 bak yang
memiliki dua saluran, yaitu saluran pemasukan dan pembuangan. Berfungsi sebagai tempat
memuasakan induk sebelum diseleksi.

3. Hapa

Hapa berfungsi sebagai tempat pemijahan. Hapa yang digunakan berukuran 100 x 50 x 100 cm
sebanyak 5 buah bak.
4. Akuarium penetasan larva

Akuarium penetasan larva yang digunakan berukuran 100 x 50 x 40 cm sejumlah 5 bak.

5. Air media

Air media yang digunakan untuk media pemijahan berasal dari air irigasi, sedangkan yang
digunakan untuk media penetasan adalah air PDAM.

3.1.1. Alat

Alat yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan ini dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Alat Pemijahan yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan (PKL)

No Alat Ketelitian Keterangan


1. Termometer Raksa 1oC Skala suhu Celsius dan
Fahrenheit. Ditemukan tahun
1742.
2. pH meter - Kertas lakmus (pH-paper).
3. Penggaris 1 mm Ketelitian 1 mm.
4. Timbangan 1 gr Merek Sartorius.
5. Aerator - Meningkatkan kandungan
oksigen dalam air.
6. Gelas ukur mL Merek A Sislem.

3.2. Metode

Metode yang digunakan pada Praktek Kerja Lapangan ini adalah metode observasi lapangan.
Metode observasi lapangan yaitu melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis
terhadap suatu objek penelitian, juga dapat dengan pengumpulan data yang diperoleh dari lapangan
maupun referensi yang membantu.

Pengumpulan data terdiri dari pengumpulan data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer
dilakukan dengan mengambil data yang ada di lapangan. Sedangkan pengumpulan data sekunder
dilakukan dalam usaha melengkapi data yang ada, yaitu wawancara dan studi pustaka guna
menunjang data-data yang didapatkan dari lapangan.

Parameter-parameter yang akan diamati dalam Praktek Kerja Lapangan meliputi:

1. Panjang dan berat induk pejantan dan betina.

2. Jumlah total telur yang dihasilkan, telur yang menetas dan HR.

3. Jumlah telur yang tidak menetas.


4. Pertumbuhan larva (melakukan pengamatan terhadap larva).

5. Panjang benih sebelum pendederan ke kolam.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil

4.1.1. Pemberokan (1 - 2 hari)

Pemberokan adalah memuasakan induk dalam jangka waktu tertentu. Pada ikan nilem dengan
memisahkan induk jantan dan induk betina selama 2 hari supaya tidak terjadi pemijahan dini.
Pemberokan dilakukan di dalam kolam beton yang berukuran 2 x 3 m, dengan tinggi air 0,5 m. Pada
kolam ini terdiri dari saluran pemasukan dan saluran pembuangan, kolam pemberokan terbuat dari
beton. Induk yang telah diberokkan selama waktu 1 2 hari siap untuk dipijahkan.

4.1.2. Persiapan media pemijahan

Proses pemijahan dilakukan di dalam kolam. Media yang dipakai adalah hapa. Pada kolam tersebut
sudah dipasangi hapa berukuran 100 x 50 x 100 cm. Pada kolam ini terdiri dari saluran pemasukan di
bagian atas dan saluran pembuangan di bagian bawah. Kolam ini terbuat dari beton yang dipasangi
keramik.

4.1.3. Seleksi induk

Sebelum proses pemijahan berlangsung, terlebih dahulu dilakukan penyeleksian induk. Induk yang
dipilih harus sudah matang gonad. Kematangan gonad induk betina dapat diketahui dengan cara
melihat alat kelaminnya. Alat kelamin betina yang telah matang gonad akan terlihat berwarna merah
dan dibagian perut akan membesar. Sedangkan pada ikan jantan bila diurut mengeluarkan sperma.
Induk yang siap dipijahkan umurnya berkisar 1,5 - 2 tahun.

Indukinduk yang sudah dipilih kemudian ditimbang dan di ukur berat serta panjang tubuhnya.

4.1.4. Pemijahan induk ikan nilem

Perbandingan induk jantan dan induk betina adalah 1 : 1. Proses pemijahan ikan nilem
berlangsung pada malam hari. Induk nilem bertelur 8 jam, kemudian telur tersebut dihitung
jumlahnya. Telurtelur tersebut dimasukkan pada akuarium penetasan, dan menetas keesokan
harinya.

4.1.5. Tingkat keberhasilan penetasan telur


Tingkat keberhasilan penetasan telur dapat dilihat pada lampiran 2. Jumlah telur yang tidak menetas
sebanyak 100.000 butir. Hal ini disebabkan karena telur dalam 3 akuarium penetasan mati. Hal ini
diduga karena aerasi yang terlalu besar dan kebersihan telur saat pemindahan kurang atau kotor.

4.1.6. Kualitas air

Hasil pengukuran kualitas air selama proses penetasan dapat diihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Data pengukuran kualitas air

Parameter Hari X Pustaka

I II III IV V VI VII
o
Suhu ( C) 28o 29o 29o 29o 30o 29o 29o 29o 18 280C

(Soeseno, 1985)
pH (ppm) 7 7 7 7 7 7 7 7 6,7 8,6

(Susanto, 2006)
Amonia - - - - - - 0.726 0.726 0,5 ppm
(ppm)
(PBIAT Muntilan,
2007)

Pengukuran parameter kualitas air pada tabel dilakukan selama tujuh kali saja, hal ini disebabkan
keterbatasan alat yang kurang serta jarak yang cukup jauh. Ketidaklayakan suhu air dalam
pengukuran ini disebabkan waktu pemijahan yang sebaiknya dilakukan pada musim penghujan,
justru kegiatan Praktek Kerja Lapangan ini berlangsung pada musim kemarau., sehingga kondisi
perairan bagi ikan nilem kurang sesuai dengan kebutuhannya.

4.2. Pembahasan

4.2.1. Pemberokan induk ikan

Kegiatan yang dilakukan sebelum persiapan media pemijahan adalah pemberokan induk
ikan. Pemberokan adalah memuasakan Induk untuk jangka waktu tertentu. Pemuasaan induk dapat
dilakukan dengan tidak diberi makan selama 1 2 hari untuk membersihkan kotoran dan
menurunkan kandungan lemak yang menutup lubang kelamin. Pemberokan juga berfungsi untuk
memisahkan induk jantan dan induk betina supaya tidak terjadi pemijahan dini. Pemberokan
dilakukan di dalam kolam beton yang berukuran 2 x 3 m, dengan tinggi air 0,5 m. Pada kolam ini
terdiri dari saluran pemasukan dan saluran pembuangan, kolam pemberokan terbuat dari beton.

4.2.2. Persiapan media pemijahan

Kegiatan yang dilakukan sebelum proses pemijahan adalah persiapan mtempat dan media
pemijahan. Proses pemijahan dilakukan di dalam kolam pemijahan. Media yang dipakai adalah hapa,
pada kolam tersebut sudah dipasangi hapa berukuran 100 x 50 x 100 cm. Pada kolam pemijahan ini
terdiri dari saluran pemasukan di bagian atas dan saluran pembuangan di bagian bawah. Kolam ini
terbuat dari beton yang dipasangi keramik. Hapa berukuran 100 x 50 x 100 cm yang dipasang di
kolam menggunakan kayu yang diletakkan di atas kolam pemijahan. Hapa ini diusahakan dekat
dengan inlet (saluran pemasukan) agar selalu mendapatkan oksigen pada saat pemijahan.

4.2.3. Seleksi induk

Pemilihan induk yang berkualitas baik merupakan tahap awal yang sangat menentukan keberhasilan
suatu usaha pembenihan. Pemilihan induk yang tepat akan memberikan dampak positif terhadap
kualitas dan kuantitas produksi telur yang dihasilkan.

Seleksi calon induk dilakukan secara langsung, kriteria induk yang akan dipijahkan di Satker PBIAT
Muntilan Magelang yaitu :

Ciriciri induk pejantan :

Perutnya mengembang dan terasa empuk ketika diraba, bila di pijat perut kearah genitalnya
induk jantan akan mengeluarka cairan seperti susu.

Ciriciri induk betina :

Bagian perut membesar dan lubang genital berwarna merah, bila diurut pelanpelan ke arah
lubang genitalnya induk betina akan mengeluarka cairan berwarna kekuningkuningan.

Induk jantan berumur 1 tahun, sedangkan induk betina berumur sekitar 2 tahun. Induk
betina terlalu tua untuk memijah. Induk ikan yang baik adalah yang berumur 1 1,5 tahun bagi
induk betina, dan 1 tahun untuk induk jantan. Induk betina yang berumur 2 tahun akan
menyebabkan penurunan kualitas telur yang dihasilkan (Susanto, 2006).

Ikan yang dipilih adalah ikan yang berkualitas baik dan bebas dari penyakit yaitu organ tubuh
yang lengkap termasuk sirip, pergerakan renang normal, tidak terdapat bintik putih dan tidak
terdapat jamur.

4.2.4. Pemijahan induk ikan nilem

Pemijahan adalah salah satu fase dari reproduksi, merupakan mata rantai siklus hidup yang
menentukan kelangsungan hidup spesies. Pada proses pemijahan, perbandingan induk jantan dan
induk betina adalah 1 : 1. Perbandingan ini dirasa cukup optimal karena ukuran induk jantan dan
induk betina mempunyai ukuran tubuh hampir sama (Effendie, 1979).

Ikan nilem memijah menjelang subuh, ikan ini memijah di bagian dangkal dekat pipa
pembuangan air. Pada proses pemijahan kali ini, ikan nilem memijah lebih cepat. Induk betina
bertelur 8 jam setelah proses penyuntikan. Telurtelur yang dikeluarkan, lalu dibuahi. Setelah itu,
telur - telur tersebut dihitung jumlahnya, kemudian telurtelur tersebut dimasukkan pada akuarium
penetasan (Susanto, 2006).
Selama proses penetasan, kebutuhan oksigen dapat dibantu dengan menggunakan aerator.
Telur akan menetas 12 18 jam sejak keluar dari induk, pada suhu 28 290C ( PBIAT Muntilan,
2007).

4.2.5. Penghitungan jumlah telur (fekunditas) dan HR (hatching rate)

Data yang didapat pada Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini adalah fekunditas dan HR. Nilai fekunditas
mencapai 148.000, sedangkan nilai HR 32.43%. Hasil ini masih perlu dilakukan pengulangan lagi
supaya dapat dibandingkan dan dicari yang terbaik, walaupun pada proses pemijahan sudah
dilakukan tahaptahap yang sesuai dengan ketentuan. Nilai fekunditas yang mencapai 148.000 butir
telur ini sudah cukup baik, untuk sepasang induk nilem didapatkan 29.600 butir telur.

Telur yang dihasilkan oleh sepasang induk nilem yang baik adalah sebanyak 15.000 30.000 butir
telur (Susanto,2006).

Nilai HR yang mencapai nilai 32.43 % ini kurang baik karena biasanya derajat penetasan telur
ikan nilem ratarata berkisar 75 80 %, Hal ini dikarenakan dalam proses pemindahan telur kedalam
akuarium penetasan tidak dibersihkan terlebih dahulu, sehingga menyebabkan kondisi airnya tidak
baik untuk wadah penetasan. Suhu air pada akuarium penetasan adalah 290C, nilai yang cukup
tinggi, selain itu aerasinya terlalu besar (Soeseno, 1985 ).

Suhu optimum untuk ikan nilem adalah 180C sampai 280C. Suhu air yang terlalu besar ini
disebabkan karena air pada malam hari cenderung lambat melepaskan kalor daripada udara. Selain
itu penetasan telur ikan nilem yang kurang baik ini disebabkan oleh induk betina yang sudah tua,
induk yang sudah tua menyebabkan nilai fekunditas menurun. Dapat disimpulkan bahwa induk ikan
nilem tersebut tidak layak dijadikan induk untuk memperoleh benih yang baik.

4.2.6. Pengelolaan kualitas air

Pengontrolan kualitas air yang dilakukan oleh Satker PBIAT Muntilan selama proses penetasan
berlangsung antara lain adalah suhu, pH, dan ammonia.

4.2.6.1. Suhu

Pengukuran suhu perairan di akuarium penetasan telur didapat suhu 290 C, nilai suhu tersebut
merupakan keadaan yang tidak layak untuk penetasan telur. Suhu optimum untuk ikan nilem adalah
180C sampai 280C (Soeseno,1985 ). Hal ini disebabkan air pada malam hari cenderung susah
melepaskan panas. Selain itu, kegiatan praktek kerja lapangan dilakukan pada musim kemarau.
Pemijahan ikan nilem sebaiknya dilakukan pada musim penghujan.

4.2.6.2. pH

Derajat keasaman ( pH ) di akuarium penetasan telur nilem termasuk optimum dan stabil yaitu 7,00
ppm. Stabilnya nilai pH di media penetasan telur sangat baik dalam proses penetasan telur.

4.2.6.3. Ammonia
Gas yang dianggap racun bagi ikan diantaranya amoniak dalam bentuk senyawaan NH3 (Susanto,
2006). Gas Ammoniak biasanya terbentuk sebagai hasil dari pembongkaran protein, misalnya
sampah organic (dedaunan). Nilai kandungan ammoniak pada air di akuarium penetasan termasuk
tidak layak yaitu 0,726 ppm. Untuk penetasan kandungan ammoniak sebesar 0,726 merupakan
angka yang besar yang dapat menghambat penetasan telur. Pada ikan ikan jenis tertentu seperti
ikan nilem (Osteochillus hasselti) angka penetasan yang baik adalah 0,5 (PBIAT Muntilan, 2007).

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang diperoleh selama Praktek Kerja Lapangan (PKL),

Maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Proses pemijahan ikan nilem secara buatan meliputi, pemberokan ikan, Persiapan media
pemijahan, Seleksi induk nilem, pemijahan induk nilem, fekunditas induk nilem, penetasan
telur nilem.

2. Nilai Fekunditas yang didapat adalah 148.000 butir, sedangkan nilai HR yang didapat
adalah 32.43 %.

3. Hasil pengukuran kualitas air. Suhu rata-rata yang didapat adalah 29C, pH rata-rata yang didapat
adalah 7,00, ammonia yang didapat adalah 0,726 ppm.

5.2. Saran

Saran yang dapat disampaikan penulis sebagai berikut :

1. Induk yang akan dipijahkan jangan terlalu tua. Kisaran umur induk yang baik adalah antara 1 2
tahun.

2. Sebelum telur dimasukkan kedalam Akuarium penetasan, sebaiknya dilakukan treatmen terlebih
dahulu.

3. Air yang digunakan dalam proses penetasan harus bersih, ditereatmen terlebih dahulu. Dapat
menggunakan biofilter.

DAFTAR PUSTAKA

Djuhanda, dan Tatang. 1981. Dunia Ikan Armiko. Bandung.

Effendie, M. I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta.

Effendie, M. I. 1997. Biologi Perikanan. Fakultas perikanan IPB. Bogor.


Fahrenheit, 1742. Termometer Air Raksa.http://id.wikipedia.org/wiki/Termometer 24 April 2007,
pukul 06:25.

Husein, 2002. Budidaya Ikan di Pekarangan . Priangan, Jawa Barat.

Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bina Cipta. Jakarta.

Soeseno, S.1985. Pemeliharaan Ikan di Kolam Pekarangan. Kanisius. Yogyakarta.

Soni, 2007. Budidaya Ikan di PekaranganJurusan Biologi FMIPA. Universitas Andalas.

Susanto, H. 2006. Budidaya Ikan di Pekarangan edisi Revisi. Penebar Swadaya.

Jakarta.

diposkan oleh nartha @ 05.57 1 Komentar

Mengenai Saya

Nama: nartha

Lokasi: semarang, Indonesia, Indonesia

saya anak ke2 dr 4 bersaudara.Aries boy.lahir di pematang raya sumut. sekarang sbg
Mahasiswa perikanan 2004 Undip. masih Jomblo

Lihat profil lengkapku

Link
Google News
Edit-Me
Edit-Me

Posting Sebelumnya
BUDIDAYA IKAN HIAS MANFISH
bang ganteng
Pemijahan Ikan Nilem (Osteocholus haselti)
my Profile

Arsip
Desember 2007
Januari 2008

Berlangganan
Entri [Atom]

Asal, Morfologi dan Kebiasaan Ikan Manfis

Manfish atau yang dikenal juga dengan istilah 'Angel fish' berasal dari perairan
Amazon, Amerika Selatan. Manfish (Pterophyllum scalare) tergolong ke dalam famili
Cichlidae, mempunyai ciri-ciri morfologis dan kebiasaan sebagai berikut:

- Memiliki warna dan jenis yang bervariasi

- Bentuk tubuh pipih, dengan tubuh seperti anak panah

- Sirip perut dan sirip punggungnya membentang lebar ke arah ekor, sehingga
tampak sebagai busur yang berwarna gelap transparan

- Pada bagian dadanya terdapat dua buah sirip yang panjangnya menjuntai sampai
ke bagian ekor.

- Menjaga dan melindungi keturunannya.

- Bersifat omnivorus

- Tergolong mudah menerima berbagai jenis makanan dalam berbagai bentuk dan
sumber
Beberapa jenis ikan Manfish yang dikenal dan telah berkembang di Indonesia antara
lain adalah: Diamond (Berlian), Imperial, Marble dan Black-White.

Diamond (Berlian) berwarna perak mengkilat sampai hijau keabuan. Pada bagian
kepala atas terdapat warna kuning hingga coklat kehitaman yang menyusur sampai bagian
punggung. Manfish Imperial mempunyai warna dasar perak, tetapi tubuhnya dihiasi empat
buah garis vertikal berwarna hitam/coklat kehitaman. Manfish Marble memiliki warna
campuran hitam dan putih yang membentuk garis vertikal. Sedangkan manfish Black-White
mempunyai warna hitam menghiasi separuh tubuhnya bagian belakang, dan warna putih
menghiasi separuh bagian depan termasuk bagian kepala.

Pengelolaan Induk

Ikan manfish dapat dijadikan induk setelah umurnya mencapai 7 bulan dengan ukuran
panjang 7,5 cm. Untuk mencapai hasil yang optimal, induk harus dikelola dengan baik
antara lain dengan pemberian pakan yang baik seperti jentik nyamuk, cacing Tubifex, atau
Chironomous. Selain itu karena induk ikan manfish sangat peka terhadap serangan penyakit,
maka perlu diberikan perlakukan obat secara periodik Obat yang biasa digunakan antara lain
Oxytetracycline dan garam.

Sebelum dipijahkan, induk manfish dipelihara secara massal ( jantan dan betina
) terlebih dahulu dalam 1 akuarium besar (ukuran 100x60x60 cm3). Setelah matang telur,
induk manfish akan berpasangan dan memisahkan dari ikan lainnya. Induk yang
berpasangan tersebut sudah dapat diambil dan dipijahkan pada tempat pemijahan.

Selain itu dapat dilakukan, yaitu dengan memasangkan induk manfish secara
langsung setelah mengetahui induk jantan dan betina. Induk jantan dicirikan dengan ukuran
tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan induk betina. Kepala induk jantan terlihat agak
besar dengan bagian antara mulut ke sirip punggung berbentuk cembung, serta bentuk badan
lebih ramping dibandingkan dengan ikan betina. Sementara induk betina dicirikan oleh
ukuran tubuh yang lebih kecil dan bentuk kepalanya yang lebih kecil dengan bagian perut
yang lebih besar/gemuk serta terlihat agak menonjol.
Teknik Pemijahan

Pemijahan dilakukan di akuarium berukuran 60x50x40 cm3 dengan tinggi air 30 cm.
Ke dalam akuarium tersebut diberikan aerasi untuk menyuplai oksigen.

Ikan manfish akan menempelkan telurnya pada substrat yang halus, misalnya
potongan pipa PVC yang telah disiapkan/ditempatkan dalam akuarium pemijahan. Karena
ikan manfish cenderung menyukai suasana yang gelap dan tenang, maka pada dinding
akuarium dapat ditempelkan kertas atau plastik yang berwarna gelap.

Induk manfish akan memijah pada malam hari. Induk betina menempelkan
telurnya pada substrat dan diikuti ikan jantan yang menyemprotkan spermanya pada semua
telur, sehingga telur-telur tersebut terbuahi. Jumlah telur yang dihasilkan setiap induk
berkisar antara 500-1000 butir. Selama masa pemijahan tersebut, induk tetap diberi pakan
berupa cacing Tubifex, Chironomous atau Daphnia.

Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva

Telur yang menempel pada substrat selanjutnya dipindahkan ke akuarium penmetasan


telur (berukuran 60x50x40 cm3) untuk ditetaskan. Pada air media penetasan sebaiknya
ditambahkan obat anti jamur, antara lain Methyline Blue dengan dosis 1 ppm. Untuk
menjaga kestabilan suhu, maka ke dalam media penetasan telur tersebut digunakan pemanas
air (water heater) yang dipasang pada suhu 27-28oC.

Telur manfish akan menetas setelah 2-3 hari, dengan derajat penetasan telur
berkisar 70-90%. Selanjutnya paralon tempat penempelan telur diangkat dan dilakukan
perawatan larva hingga berumur 2 minggu.

Pakan yang diberikan selama pemeliharaan larva tersebut berupa pakan alami
yang sesuai dengan bukaan mulut larva dan memiliki kandungan protein yang tinggi, antara
lain nauplii Artemia sp. Pakan tersebut diberikan 2 kali sehari ( pagi dan sore ) hingga larva
berumur 10 hari dan dilanjutkan dengan pemberian cacing Tubifex.

Pendederan dan Pembesaran


Setelah berumur 2 minggu, benih tersebut dapat dilakukan penjarangan untuk
kemudian dilakukan pendederan sampai ikan berumur satu bulan.

Langkah berikutnya adalah memanen benih tersebut untuk dipindahkan ke


dalam bak/wadah pembesaran. Dalam hal ini dapat digunakan bak fiber atau bak semen,
tergantung wadah yang tersedia. Selama masa pembesaran, diupayakan agar ada aliran air ke
dalam wadah pembesaran walaupun sedikit. Padat penebaran untuk pembesaran ikan
manfish berkisar 100 ekor/m2. Pakan yang diberikan berupa cacing Tubifex atau pellet
sampai benih berumur 2 bulan. Ukuran yang dicapai biasanya berkisar 3 - 5 cm. Jika
pakan dan kualitas air mendukung, sintasan pada masa pembesaran dapat mencapai 70-90%.
Selanjutnya benih manfish dapat dibesarkan lagi hingga mencapai ukuran calon induk atau
induk dengan padat penebaran yang lebih kecil.

Penyakit dan Penanggulangannya

Ikan manfish dikenal cukup peka terhadap serangan penyakit, untuk itu diperlukan
pengelolaan secara baik dengan menjaga kualitas air dan jumlah pakan yang diberikan.
Beberapa jenis parasit yang biasa menyerang benih/induk Manfish antara lain adalah :
Trichodina sp., Chillodonella sp. dan Epystilys sp. Sedangkan bakteri yang menginfeksi
adalah Aeromonas hydrophilla.

Beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk menanggulangi serangan


penyakit parasitek antara lain : Formalin 25%, NaCl 500 ppm. Sedangkan untuk penyakit
bakterial dapat digunakan Oxytetrachycline 5 - 10 ppm dengan cara perendaman 24 jam.

udidaya Ikan Manfish Segmen pecinta ikan hias di Indonesia tidak pernah surut. Sehingga
potensi usaha ikan hias masih sangatlah besar. Salah satu jenis ikan hias yang sedang naik
daun adalah ikan manfish (Angel Fish). Ikan yang berasal dari perairan Amazon ini
digemari karena bentuk dan warnanya yang unik.

Harga ikan manfish dipasaran relative stabil dibanding dengan jenis ikan hias lainya. Dari
indicator ini melakukan budidaya ikan hias jenis manfish tentunya akan menguntungkan.
Untuk melakukan budidaya jenis ikan hias juga tidak memerlukan lahan yang luas, Budidaya
Ikan Manfish bisa menggunakan aquarium.
Budidaya Ikan Manfish

Untuk sukses membudidaya ikan manfish tentunya kita harus bisa mengelola indukan agar
hasil optimal. Ikan manfish untuk indukan yang sudah berumur 7 bulan dengan panjang
kurang lebih 7,5 cm. Agar dapat berkembangbiak maksimal ikan diberi pakan jentik
nyamuk, cacing Tubifex, atau Chironomous. Dan kolam indukan diberi obat Oxytetracycline
dan garam secara teratur agar tahan terhadap penyakit.

Proses awal semua indukan manfish baik jantan maupun betina dimasukan pada 1 kolam.
Nanti induk manfish akan berpasangan dan memisahkan dari ikan lainnya. Indukan yang
sudah berpasangan bisa dipindah ke kolam pemijahan.

Bisa juga dijodohkan langsung, tetapi anda harus bisa membedakan mana jantan dan mana
betina. Ciri-ciri manfish jantan antara lain, ukuran besar, kepala jantan lebih besar dengan
bagian antara mulut ke sirip punggung berbentuk cembung, serta bentuk badan lebih
ramping.

Hal yang perlu diperhatikan dalam kolam pemijahan antara lain diberi substrat yang halus,
misalnya potongan pipa PVC yang berguna untuk menempelkan telur, dinding aquarium
diberi kertas atau plastic agar kolam menjadi gelam, hal ini karena dalam memijah ikan ini
lebih suka ditempat gelap dan Induk manfish akan memijah pada malam hari. Setiap indukan
mampu menghasilkan telur antara 500-1000 butir.

Jika sudah bertelur langkah selanjutnya pindah telur yang menempel pada substrat ke kolam
penetasan. Khusus kola mini diberi obat anti jamur dan diberi pemanas air (water heater)
yang dipasang pada suhu 27-28oC.

Telur manfish akan menetas setelah 2-3 hari, dengan derajat penetasan telur berkisar 70-
90%. Selanjutnya paralon tempat penempelan telur diangkat dan dilakukan perawatan larva
hingga berumur 2 minggu. Untuk pakan menggunakan nauplii Artemia sp 2x sehari hingga
berumur 10 hari selanjutnya bisa diberi cacing Tubifex.
Untuk menghindari penyakit dalam hal budidaya ikan hias yang perlu diperhatikan adalah
kualitas air dan jumlah pakan yang diberikan.

Posted by: deni bramNovember 12, 2015Reply

Cara Budidaya Ikan Hias Manfish ; Nampaknya penghobi ikan hias di indonesia tidak
pernah surut. Sehingga memiliki potensi bisnis ikan hias masih sangat terbuka lebar. Salah
satu jenis ikan hias air tawar yang rumayan sedang ngetren pada saat ini adalah ikan manfish
atau yang biasa di sebut Angel Fish. Ikan manfis merupakan ikan asli dari perairan Amazon
sama halnya dengan ikan discus ikan ini juga sedang sangat populer karena memiliki bentuk
serta perpduan warnanya yang unik.

Untuk harga ikan manfish sendiri dipasaran pada saat ini masih relative stabil jika dibanding
dengan jenis ikan hias air tawar lainya. Dari data pasar tersebut membuktikan bahwa
melakukan bisnis di sektor budidaya ikan hias jenis manfish pastina akan sangat
menguntungkan apalagi kalau kita sudah memiliki pasar. Untuk memulai kegiatan budidaya
jenis ikan hias manfish ini juga tidak memerlukan lahan yang terlalu luas, Budidaya Ikan
Manfish bahkan dapat menggunakan aquarium.

Agar sukses dalam memulai budidaya ikan manfish ini tentunya kita harus dapat merawat
indukan ikan manfis agar mendapatkan hasil optimal. Ikan manfish untuk indukan yang telah
berumur tujuh bulan dengan panjang kisaran 7,5 cm. Agar bisa berkembangbiak secara
maksimal ikan harus diberi asupan pakan yang mengandung protein tinggi serti jentik
nyamuk, cacing sutra, atau Chironomous. Dan untuk kolam indukan ada sebaiknya dikasih
obat Oxytetracycline terlebih daulu dengan penambahan garam secara teratur supaya ikan
dapat tahan terhadap serangan penyakit.

Dalam proses awal semua indukan ikan manfish baik yang jantan maupun yang betina agar
segera dimasukan pada 1 kolam yang sama. Supaya induk manfish dapat mencari pasanganya
masing-masing dan memisah dari klompok itu tandanya ikan manfis sudah siap untuk
dipijahkan.

Dapat juga dijodohkan secara langsung, Namun anda harus tau dulu mana ikan yang
berkelamin jantan dan mana ikan yang berkelamin betina. Untuk perbedaan manfish jantan
dan betina dapat di bedakan melalui ukuran ikan dengan melihat ciri ciri sebagai berikut.

Hal yang sangat perlu diperhatikan dalam pemijahan di dalam kolam antara lain
menempatkan substrat yang menjadi media tempat bertelur ikan manfish, misalnya potongan
pipa PVC, dinding aquarium sebaiknya diberi kertas penghalang atau juga bisa menggunakan
plastic agar kolam menjadi terlihat gelap, hal ini karena dalam memijah ikan ini lebih suka
ditempat gelap dan Induk manfish akan memijah pada saat malam hari. Setiap indukan ikan
manfish mampu menghasilkan telur antara 500-1000 butir.

Jika sudah bertelur langkah selanjutnya pindah telur yang menempel pada substrat ke kolam
penetasan. Khusus kola mini diberi obat anti jamur dan diberi pemanas air (water heater)
yang dipasang pada suhu 27-28oC.

Telur manfish akan menetas setelah 2-3 hari, dengan derajat penetasan telur berkisar 70-
90%. Selanjutnya paralon tempat penempelan telur diangkat dan dilakukan perawatan larva
hingga berumur 2 minggu. Untuk pakan menggunakan nauplii Artemia sp 2x sehari hingga
berumur 10 hari selanjutnya bisa diberi cacing Tubifex.

Untuk menghindari penyakit dalam hal budidaya ikan hias yang perlu diperhatikan adalah
kualitas air dan jumlah pakan yang diberikan.

kan Hias Manfish Dan Cara Budidaya - Ikan Hias Manfish atau banyak dikenal dengan sebutan
istilah 'Angel fish' berasal dari perairan Amazon, Amerika Selatan. Manfish (Pterophyllum scalare)
tergolong ke dalam famili Cichlidae, memiliki ciri-ciri morfologis dan juga mempunyai warna dan
jenis serta tipe yang bervariasi dan memiliki bentuk tubuh pipih dengan postur tubuh seperti anak
panah memiliki Sirip perut dan sirip punggungnya membentang lebar ke arah ekor maka akan
kelihatan seperti busur yang berwarna gelap transparan dan pada bagian dadanya terdapat dua
buah sirip yangmempunyai panjang menjuntai hingga ke bagian tubuh daerah ekor. dapat juga
Menjaga serta melindungi keturunannya serta memiliki sifat omnivorus yang Tergolong mudah
untuk menerima beraneka ragam jenis - jenis makanan dalam beraneka ragam bentuk dan sumber
dan Sehingga bagi anda yang sejauh ini sebagai seorang hobiis Ikan Hias Manfish anda juga dapat
mencoba untuk melakukan Cara Budidaya Ikan Hias Manfish atau ternak ikan manfish ini. Factor
ini dapat menjadikan anda sebagai ladang bisnis yang cukup lumayan menjanjikan bagi anda yang
benar - benar serius untuk menggeluti aspek budidaya ikan dan tentunya untuk Budidaya Ikan Hias
Manfish ini serta bisa untuk Cara mengembangbiakannya ataupun membudidayakan ikan hias
manfish ini. dan berikut Ikan Hias Manfish Dan Cara Budidaya

Type ikan Manfish yang dikenal dan juga populer sudah berkembang di Indonesia antara lain yaitu
:
- Diamond (Berlian) memiliki warna tubuh perak mengkilat hingga hijau keabuan. pada daerah
bagian kepala atas terdapat warna kuning sampai coklat kehitaman yang menyusur hingga sektor
punggung.
- Manfish Imperial memiliki warna basic perak akan tetapi bagian tubuhnya dihiasi empat buah garis
vertikal berwarna hitam/coklat kehitaman.
- Manfish Marble mempunyai warna campuran hitam dan putih yang menempa garis vertikal.
- Manfish Black-White memiliki warna hitam menghiasi separuh tubuhnya sektor belakang, & warna
putih menghiasi separuh sektor depan termasuk juga bidang kepala.

Ikan Manfish dapat kita pilih yang sudah cukup umur untuk dijadikan induk sesudah umurnya
mencapai 7 bulan dengan ukuran panjang 7,5 cm. Untuk mencapai hasil yang optimal, induk mesti
dikelola bersama dengan baik antara lain dengan pemberian pakan yang baik seperti jentik nyamuk,
cacing Tubifex, atau Chironomous. Tidak Cuma itu sebab induk ikan manfish amat sangat peka pada
serangan penyakit, sehingga butuh diberikan obat dengan cara periodik Obat yang bisa di
pergunakan antara lain Oxytetracycline dan juga garam.

Sebelum anda pijahkan, induk manfish dipelihara dengan cara massal ( jantan dan betina ) pertama -
tama dalam 1 akuarium yang besar (ukuran 100x60x60 cm3). Sesudah matang telur, induk manfish
dapat berpasangan hingga dapat memisahkan dari ikan yang lain. Induk yang berpasangan tersebut
telah bisa untuk anda ambil dan juga di pijahkan pada sebuah tempat pemijahan.

Dan di luar dari pada itu dapat anda lakukan antara lain dengan memasangkan induk Ikan Manfish
dengan cara cepat sesudah mengetahui induk jantan dan juga betina. Induk jantan di cirikan dengan
ukuran badan yang lebih besar dari betinanya . bagian Kepala induk jantan kelihatan agak lebih besar
dari indukan betina dan juga bagian tubuh antara mulut ke sirip punggung berbentuk cembung serta
bentuk tubuh lebih ramping di bandingkan dengan ikan betina.
Teknik Pemijahan

Cara Pemijahan dilakukan di akuarium berukuran 60x50x40 cm3 dengan keadaan tinggi air
30 cm. dan juga di dalam akuarium tersebut diberikan aerasi untuk menyuplai oksigen dan
Ikan manfish dapat menempelkan telurnya pada substrat yang halus, contohnya potongan
pipa PVC yang sudah anda siapkan untuk anda tempatkan dalam akuarium pemijahan.
Dikarenakan ikan manfish cenderung sangat suka tempat yang gelap dan keadaanya santai,
sehingga padap dinding akuarium dapat anda tempelkan kertas atau plastik yang berwarna
gelap.

Pemijahan Ikan Manfish


Indukan Ikan Manfish dapat memijah pada saat waktu tengah malam hari. Induk betina
menempelkan telurnya pada substrat dan diikuti ikan jantan yang menyemprotkan spermanya
pada seluruh telur, maka telur-telur tersebut terbuahi. Jumlah telur yang dapa dihasilkan oleh
tiap-tiap induk Ikan Hias Manfish berkisar antara 500-1000 butir telur. Sewaktu periode
pemijahan tersebut, induk masihlah di berikan pakan berupa cacing Tubifex, Chironomous
atau Daphnia.

Penetasan Telur Dan Pemeliharaan Larva


Telur yang banyak menempel pada substrat kemudian dipindahkan ke dalam akuarium
penetasan telur (berukuran 60x50x40 cm3) supaya bisa ditetaskan. pada air alat penetasan
sebaiknya ditambahkan obat anti jamur, antara lain Methyline Blue dgn dosis 1 ppm.untuk
dapat menjaga kestabilan suhu, sehingga ke dalam alat penetasan telur tersebut gunakan
pemanas air (water heater) yang dipasang pada suhu 27-28oC. dan Telur Ikan Hias Manfish
dapat menetas kurang lebih 2-3 hari, bersama derajat penetasan telur berkisar 70-90%.
Setelah Itu paralon ruangan penempelan telur diangkat dan juga dilakukan perawatan larva
sampai berusia 2 pekan.

Pakan Yang dapat Di Berikan

Pakan yang diberikan pada saat pemeliharaan larva Ikan Hias Manfish tersebut berupa pakan
alami yang cocok dengan bukaan mulut larva dan mempunyai kandungan protein yang cukup
tinggi, antara lain nauplii Artemia sp. Pakan tersebut diberikan 2 kali sehari ( pagi dan juga
sore ) sampai larva berumur 10 hri & dilanjutkan dengan pemberian cacing Tubifex.

Pendederan dan juga Pembesaran


Sesudah berusia 2 pekan, benih tersebut akan dilakukan penjarangan untuk setelah itu
dilakukan pendederan hingga anakan Ikan Hias Manfish berusia 1 bulan dan berikutnya
merupakan memanen benih tersebut untuk anda pindahkan ke dalam bak/wadah pembesaran.
Dalam hal tersebut yang akan dipakai bak fiber atau bak semen, tergantung wadah yang
terssedia. Tatkala periode pembesaran, di upayakan supaya ada aliran air ke dalam wadah
pembesaran meskipun sedikit. Padat penebaran untuk pembesaran anakan Ikan Hias Manfish
berkisar 100 ekor/m2. Pakan yang diberikan berupa cacing Tubifex atau pellet hingga benih
berusia 2 bln. Ukuran yang di raih rata rata berkisar 3 - 5 cm.

Penyakit Dan Juga Cara Untuk Penanggulangannya


Ikan Hias Manfish dikenal lumayan peka pada serangan penyakit oleh karena itu
dimanfaatkan pengelolaan dengan cara baik dengan menjaga mutu air dan juga jumlah pakan
yangdapat anda berikan. dan dari Sekian Banyak type parasit yang biasa menyerang
benih/induk Manfish antara lain ialah : Trichodina sp., Chillodonella sp. & Epystilys sp.
Sedangkan bakteri yg menginfeksi yaitu Aeromonas hydrophilla.

Jenis Obat Yang Dapat Di Gunakan Untuk Menanggulangi Serangan Penyakit


Parasitek Antara Lain :
- Formalin 25%, NaCl 500 ppm.
- Untuk penyakit bakteri dapat anda pakai Oxytetrachycline 5 - 10 ppm bersama
tdengan cara perendaman 24 jam.

Demikianlah untuk Ikan Hias Manfish Dan Cara Budidaya semoga dapat membantu anda
dalam hal Budidaya Ikan Hias Manfish dan dapat memberikan sedikit cara ataupun
inpormasi untuk anda supaya bisa membudidayakan ikan Hias Manfish tersebut cukup sekian
dan terimakasih.
Tata niaga

Biaya Pemasaran
1. Pengertian Biaya Pemasaran

Biaya pemasaran adalah semua biaya yang sejak saat produk selesai diproduksi dan disimpan dalam
gudang sampai dengan produk tersebut berubah kembali dalam bentuk uang tunai (Mulyadi, 1991 :
529). Menurut Kusnadi, dkk dalam bukunya Akuntansi Manajemen Komprehensif, Tradisional dan
Kontemporer, biaya pemasaran adalah biaya yang dibebankan (segala pengeluaran) didalam
penjualan suatu barang atau jasa dari keluarnya barang sampai ke tangan pembeli.

Biaya pemasaran juga dapat diartikan semua biaya yang telah terjadi dalam rangka memasarkan
produk atau barang dagangan, dimana biaya tersebut timbul dari saat produk atau barang dagangan
siap dijual sampai dengan di terimanya hasil penjualan menjadi kas (Supriyono, 1992: 201-202).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan
untuk menjual produk atau barang dagangan sampai ke tangan konsumen.

2. Penggolongan Biaya Pemasaran

Secara garis besar biaya pemasaran dapat dibagi menjadi dua golongan:
a. Biaya untuk mendapatkan pesanan (order getting cost), yaitu biaya yang dikeluarkan dalam
usaha untuk memperoleh pesanan. Contoh biaya yang termasuk dalam golongan ini adalah biaya
gaji wiraniaga (sales person), komisi penjulan, advertensi dan promosi.
b. Biaya untuk memenuhi pesanan (order filling costs), yaitu semua biaya yang dikeluarkan untuk
mengusahakan agar supaya produk sampai ke tangan pembeli dan biaya-biaya untuk
mengumpulkan piutang dari pembeli. Contoh biaya yang termasuk dalam golongan ini adalah biaya
pergudangan, biaya pembungkusan dan pengiriman, biaya angkutan, dan biaya penagihan ( Mulyadi,
1991: 530 ).

Sedangkan menurut jenis biaya, biaya pemasaran digolongkan ke dalam:


a. Hubungannya dengan kegiatan pemasaran, digolongkan menjadi:
1. Biaya pemasaran langsung
Adalah biaya pemasaran yang terjadinya atau manfaatnya dapat diidentifikasikan kepada
obyek atau pusat biaya tertentu. Misalnya kepada fungsi pemasaran atau pusat-pusat laba
tertentu didalam usaha pemasaran.

2. Biaya pemasaran tidak langsung


Adalah biaya pemasaran yang terjadinya atau manfaatnya tidak dapat diidentifikasikan
kepada obyek atau pusat biaya tertentu.
Misalnya kepada fungsi pemasaran atau pusat-pusat laba tertentu didalam usaha pemasaran.
b. Hubungannya dengan variabilitas biaya terhadap volume atau
kegiatan, dalam penggolongan ini biaya dikelompokkan:
1. Biaya pemasaran tetap
Biaya pemasaran yang jumlah totalnya tidak berubah (konstan) dengan adanya perubahan
kegiatan atau volume pemasaran sampai dengan tingkatan kapasitas tertentu. Elemen biaya tetap
misalnya: gaji manajer dan staf, biaya penyusutan, dan sebagainya.
2. Biaya pemasaran variabel
Biaya pemasaran yang jumlah totalnya berubah secara proporsional dengan perubahan
kegiatan atau volume pemasaran. Semakin besar volume atau kegiatan pemasaran semakin bersar
jumlah biaya pemasaran variabel, demikian pula sebaliknya apabila volumenya rendah.

c. Penggolongan biaya pemasaran dihubungkan dengan dapat terkendalikan atau tidaknya suatu
biaya. Dalam hal ini biaya dikelompokkan:
1. Biaya pemasaran terkendalikan
Biaya pemasaran yang secara langsung dapat dikendalikan atau dapat dipengaruhi oleh
seorang pimpinan tertentu dalam jangka waktu tertentu, berdasar wewenang yang dia miliki.
2. Biaya pemasaran tidak terkendalikan
Biaya pemasaran yang tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan tertentu berdasar
wewenang yang dia miliki, atau tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan dalam jangka waktu
tertentu (Supriyono, 1993: 205-207). Menurut Mulyadi dalam bukunya Akuntansi Biaya (1999: 530),
biaya pemasaran menurut fungsi pemasaran digolongkan sebagai berikut:
1. Fungsi penjualan terdiri dari kegiatan untuk memenuhi pesanan yang diterima dari
pelangggan. Biaya fungsi penjualan terdiri dari: gaji karyawan fungsi penjualan, biaya depresiasi
kantor, biaya sewa kantor, dll.
2. Fungsi advertensi fungsi advertensi terdiri dari kegiatan perancangan dan pelaksanaan
kegiatan untuk mendapatkan pesanan melalui kegiatan advertensi dan promosi. Biaya fungsi
advertensi terdiri: gaji karyawan fungsi advertensi, biaya iklan, biaya pameran, biaya promosi, biaya
contoh (sampel).
3. Fungsi pergudangan fungsi pergudangan terdiri dari kegiatan penyimpanan produk jadi yang
siap untuk dijual. Biaya fungsi pergudangan terdiri: gaji karyawan gudang, biaya depresiasi gudang,
dan biaya sewa gudang.
4. Fungsi pembungkusan dan pengiriman fungsi pembungkusan dan pengiriman terdiri dari
kegiatan pembungkusan produk dan pengiriman produk kepada pembeli. Fungsi pembungkusan dan
pengiriman terdiri: gaji karyawan pembungkusan dan pengiriman, biaya bahan pembungkus, biaya
pengiriman, biaya depresiasi kendaraan, biaya operasi kendaraan.
5. Fungsi kredit dan penagihan fungsi kredit terdiri dari kegiatan pemantauan kemampuan
keuangan pelanggan dan penagihan piutang dari pelanggan. Biaya fungsi kredit dan penagihan
terdiri: gaji karyawan bagian penagihan, kerugian penghapusan piutang, potongan tunai.
6. Fungsi akuntansi pemasaran fungsi akuntansi pemasaran terdiri dari kegiatan pembuatan
faktur dan penyelenggaraan catatan akuntansi penjualan. Biaya fungsi pemasaran terdiri dari: gaji
karyawan fungsi akuntansi pemasaran dan biaya kantor.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa biaya pemasaran dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Biaya untuk mendapatkan pesanan
Biaya yang dikeluarkan dalam rangka mendapatkan pesanan.
2. Biaya utnuk memenuhi pesanan
Biaya yang dikeluarkan dalam rangka memenuhi pesanan.
3. Biaya pemasaran langsung
Biaya yang berhubungan langsung dengan fungsi/kegiatan
pemasaran tertentu.
4. Biaya pemasaran tidak langsung
Biaya yang tidak memiliki hubungan yang jelas dengan fungsi atau
kegiatan pemasaran tertenu.
5. Biaya pemasaran tetap
Biaya yang tidak berubah dengan adanya perubahan kegiatan
pemasaran tertentu.
6. Biaya pemasaran variabel
Biaya yang berubah-ubah dengan adanya perubahan kegiatan
pemasaran tertentu.

3. Karakteristik Biaya Pemasaran


Biaya pemasaran memiliki karakteristik yang berbeda dengan biaya produksi. Karakteristik biaya
pemasaran adalah sebagai berikut :
a. Banyak ragam kegiatan pemasaran ditempuh oleh perusahaan dalam memasarkan produknya,
sehingga perusahaan yang sejenis produknya, belum tentu menempuh cara pemasaran yang sama.
Hal ini sangat berlainan dengan kegiatan produksi. Dalam memproduksi produk, pada umumnya
digunakan bahan baku, mesin, dan cara produksi yang sama dari waktu ke waktu.
b. Kegiatan pemasaran seringkali mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan perubahan kondisi
pasar. Disamping terdapat berbagai macam metode pemasaran, seringkali terjadi perubahan
metode pemasaran
untuk menyesuaikan dengan perubahan kondisi pasar. Karena perubahan kebutuhan konsumen
yang menghendaki pelayanan cepat, maka suatu perusahaan mungkin akan mengganti saluran
distribusinya
yang selama ini digunakan. Begitu juga kegiatan perusahaan pesaing akan mempunyai pengaruh
terhadap metode pemasaran yang digunakan oleh suatu perusahaan, sehingga metode pemasaran
produk sangat fleksibel. Hal ini menimbulkan masalah penggolongan dan interpretasi biaya
pemasaran.
c. Kegiatan pemasaran berhadapan dengan konsumen yang merupakan variabel yang tidak dapat
dikendalikan oleh perusahaan. Manajemen dapat mengendalikan biaya tenaga kerja, biaya bahan
baku, jam kerja dan jumlah mesin yang digunakan, tetapi tidak seorangpun dapat mengatakan apa
yang dilakukan oleh konsumen. Dalam kegiatan produksi, efisiensi diukur dengan melihat jumlah
biaya yang dapat dihemat untuk setiap satuan produk yang diproduksi. Sebaliknya dalam kegiatan
pemasaran, kenaikan volume penjualan merupakan ukuran efisiensi meskipun tidak setiap kenaikan
volume penjualan diikuti dengan kenaikan laba.
d. Dalam biaya pemasaran terdapat biaya tidak langsung dan biaya bersama (joint cost) yang lebih
sulit pemecahannya bila dibandingkan dengan yang terdapat dalam biaya produksi. Jika suatu
perusahaan menjual berbagai macam produk dengan cara pemasaran yang berbeda-beda diberbagai
daerah pemasaran, maka akan menimbulkan masalah biaya bersama yang kompleks ( Mulyadi, 1991
: 531 532 ).

Tugas : Biaya Pemasaran Tataniaga Hasil Pertanian

19 November 3013

BIAYA PEMASARAN

1. Pengertian Biaya Pemasaran

Biaya pemasaran adalah semua biaya yang sejak saat produk selesai diproduksi dan disimpan dalam
gudang sampai dengan produk tersebut berubah kembali dalam bentuk uang tunai (Mulyadi, 1991 :
529). Menurut Kusnadi, dkk dalam bukunya Akuntansi Manajemen Komprehensif, Tradisional dan
Kontemporer, biaya pemasaran adalah biaya yang dibebankan (segala pengeluaran) didalam
penjualan suatu barang atau jasa dari keluarnya barang sampai ke tangan pembeli.

Biaya pemasaran juga dapat diartikan semua biaya yang telah terjadi dalam rangka memasarkan
produk atau barang dagangan, dimana biaya tersebut timbul dari saat produk atau barang dagangan
siap dijual sampai dengan di terimanya hasil penjualan menjadi kas (Supriyono, 1992: 201-202).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan
untuk menjual produk atau barang dagangan sampai ke tangan konsumen.

2. Penggolongan Biaya Pemasaran

Secara garis besar biaya pemasaran dapat dibagi menjadi dua golongan:

a. Biaya untuk mendapatkan pesanan (order getting cost), yaitu biaya yang dikeluarkan dalam
usaha untuk memperoleh pesanan. Contoh biaya yang termasuk dalam golongan ini adalah biaya
gaji wiraniaga (sales person), komisi penjulan, advertensi dan promosi.

b. Biaya untuk memenuhi pesanan (order filling costs), yaitu semua biaya yang dikeluarkan untuk
mengusahakan agar supaya produk sampai ke tangan pembeli dan biaya-biaya untuk
mengumpulkan piutang dari pembeli. Contoh biaya yang termasuk dalam golongan ini adalah biaya
pergudangan, biaya pembungkusan dan pengiriman, biaya angkutan, dan biaya penagihan ( Mulyadi,
1991: 530 ).

Sedangkan menurut jenis biaya, biaya pemasaran digolongkan ke dalam:

a. Hubungannya dengan kegiatan pemasaran, digolongkan menjadi:

1. Biaya pemasaran langsung


Adalah biaya pemasaran yang terjadinya atau manfaatnya dapat diidentifikasikan kepada
obyek atau pusat biaya tertentu. Misalnya kepada fungsi pemasaran atau pusat-pusat laba
tertentu didalam usaha pemasaran.

2. Biaya pemasaran tidak langsung

Adalah biaya pemasaran yang terjadinya atau manfaatnya tidak dapat diidentifikasikan
kepada obyek atau pusat biaya tertentu.

Misalnya kepada fungsi pemasaran atau pusat-pusat laba tertentu didalam usaha pemasaran.

b. Hubungannya dengan variabilitas biaya terhadap volume atau kegiatan, dalam penggolongan ini
biaya dikelompokkan:

1. Biaya pemasaran tetap

Biaya pemasaran yang jumlah totalnya tidak berubah (konstan) dengan adanya perubahan
kegiatan atau volume pemasaran sampai dengan tingkatan kapasitas tertentu. Elemen biaya tetap
misalnya: gaji manajer dan staf, biaya penyusutan, dan sebagainya.

2. Biaya pemasaran variabel

Biaya pemasaran yang jumlah totalnya berubah secara proporsional dengan perubahan
kegiatan atau volume pemasaran. Semakin besar volume atau kegiatan pemasaran semakin bersar
jumlah biaya pemasaran variabel, demikian pula sebaliknya apabila volumenya rendah.

c. Penggolongan biaya pemasaran dihubungkan dengan dapat terkendalikan atau tidaknya suatu
biaya.

Dalam hal ini biaya dikelompokkan:

1. Biaya pemasaran terkendalikan

Biaya pemasaran yang secara langsung dapat dikendalikan atau dapat dipengaruhi oleh

seorang pimpinan tertentu dalam jangka waktu tertentu, berdasar wewenang yang dia miliki.
2. Biaya pemasaran tidak terkendalikan

Biaya pemasaran yang tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan tertentu berdasar
wewenang yang dia miliki, atau tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan dalam jangka waktu
tertentu (Supriyono, 1993: 205-207). Menurut Mulyadi dalam bukunya Akuntansi Biaya (1999: 530),
biaya pemasaran menurut fungsi pemasaran digolongkan sebagai berikut:

1. Fungsi penjualan terdiri dari kegiatan untuk memenuhi pesanan yang diterima dari
pelangggan. Biaya fungsi penjualan terdiri dari: gaji karyawan fungsi penjualan, biaya depresiasi
kantor, biaya sewa kantor, dll.

2. Fungsi advertensi fungsi advertensi terdiri dari kegiatan perancangan dan pelaksanaan
kegiatan untuk mendapatkan pesanan melalui kegiatan advertensi dan promosi. Biaya fungsi
advertensi terdiri: gaji karyawan fungsi advertensi, biaya iklan, biaya pameran, biaya promosi, biaya
contoh (sampel).
3. Fungsi pergudangan fungsi pergudangan terdiri dari kegiatan penyimpanan produk jadi yang
siap untuk dijual. Biaya fungsi pergudangan terdiri: gaji karyawan gudang, biaya depresiasi gudang,
dan biaya sewa gudang.

4. Fungsi pembungkusan dan pengiriman fungsi pembungkusan dan pengiriman terdiri dari
kegiatan pembungkusan produk dan pengiriman produk kepada pembeli. Fungsi pembungkusan dan
pengiriman terdiri: gaji karyawan pembungkusan dan pengiriman, biaya bahan pembungkus, biaya
pengiriman, biaya depresiasi kendaraan, biaya operasi kendaraan.

5. Fungsi kredit dan penagihan fungsi kredit terdiri dari kegiatan pemantauan kemampuan
keuangan pelanggan dan penagihan piutang dari pelanggan. Biaya fungsi kredit dan penagihan
terdiri: gaji karyawan bagian penagihan, kerugian penghapusan piutang, potongan tunai.
6. Fungsi akuntansi pemasaran fungsi akuntansi pemasaran terdiri dari kegiatan pembuatan
faktur dan penyelenggaraan catatan akuntansi penjualan. Biaya fungsi pemasaran terdiri dari: gaji
karyawan fungsi akuntansi pemasaran dan biaya kantor.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa biaya pemasaran dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Biaya untuk mendapatkan pesanan

Biaya yang dikeluarkan dalam rangka mendapatkan pesanan.

2. Biaya utnuk memenuhi pesanan

Biaya yang dikeluarkan dalam rangka memenuhi pesanan.

3. Biaya pemasaran langsung

Biaya yang berhubungan langsung dengan fungsi/kegiatan pemasaran tertentu.

4. Biaya pemasaran tidak langsung

Biaya yang tidak memiliki hubungan yang jelas dengan fungsi atau kegiatan pemasaran tertenu.

5. Biaya pemasaran tetap

Biaya yang tidak berubah dengan adanya perubahan kegiatan pemasaran tertentu.

6. Biaya pemasaran variabel

Biaya yang berubah-ubah dengan adanya perubahan kegiatan pemasaran tertentu.


3. Karakteristik Biaya Pemasaran

Biaya pemasaran memiliki karakteristik yang berbeda dengan biaya produksi. Karakteristik biaya
pemasaran adalah sebagai berikut :

a. Banyak ragam kegiatan pemasaran ditempuh oleh perusahaan dalam memasarkan produknya,
sehingga perusahaan yang sejenis produknya, belum tentu menempuh cara pemasaran yang sama.
Hal ini sangat berlainan dengan kegiatan produksi. Dalam memproduksi produk, pada umumnya
digunakan bahan baku, mesin, dan cara produksi yang sama dari waktu ke waktu.
b. Kegiatan pemasaran seringkali mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan perubahan kondisi
pasar. Disamping terdapat berbagai macam metode pemasaran, seringkali terjadi perubahan
metode pemasaran
untuk menyesuaikan dengan perubahan kondisi pasar. Karena perubahan kebutuhan konsumen
yang menghendaki pelayanan cepat, maka suatu perusahaan mungkin akan mengganti saluran
distribusinya
yang selama ini digunakan. Begitu juga kegiatan perusahaan pesaing akan mempunyai pengaruh
terhadap metode pemasaran yang digunakan oleh suatu perusahaan, sehingga metode pemasaran
produk sangat fleksibel. Hal ini menimbulkan masalah penggolongan dan interpretasi biaya
pemasaran.
c. Kegiatan pemasaran berhadapan dengan konsumen yang merupakan variabel yang tidak dapat
dikendalikan oleh perusahaan. Manajemen dapat mengendalikan biaya tenaga kerja, biaya bahan
baku, jam kerja dan jumlah mesin yang digunakan, tetapi tidak seorangpun dapat mengatakan apa
yang dilakukan oleh konsumen. Dalam kegiatan produksi, efisiensi diukur dengan melihat jumlah
biaya yang dapat dihemat untuk setiap satuan produk yang diproduksi. Sebaliknya dalam kegiatan
pemasaran, kenaikan volume penjualan merupakan ukuran efisiensi meskipun tidak setiap kenaikan
volume penjualan diikuti dengan kenaikan laba.

d. Dalam biaya pemasaran terdapat biaya tidak langsung dan biaya bersama (joint cost) yang lebih
sulit pemecahannya bila dibandingkan dengan yang terdapat dalam biaya produksi. Jika suatu
perusahaan menjual berbagai macam produk dengan cara pemasaran yang berbeda-beda diberbagai
daerah pemasaran, maka akan menimbulkan masalah biaya bersama yang kompleks ( Mulyadi, 1991
: 531 532 ).

MARGIN PEMASARAN

Margin tataniaga adalah selisih antara harga yang dibayarkan oleh konsumen dengan harga
yang diterima oleh petani. Margin ini akan diterima oleh lembaga tataniaga yang terlibat dalam
proses pemasaran tersebut. Makin panjang tataniaga (semakin banyak lembaga yang terlibat) maka
semakin besar margin tataniaga (Daniel, M., 2002).

Margin pemasaran merupakan perbedaan antara harga yang dibayarkan konsumen dengan
harga yang diterima petani. Komponen margin pemasaran ini terdiri dari biaya-biaya yang
diperlukan lembaga-lembaga pemasaran untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran yang disebut
biaya pemasaran (Sudioyono, 2002).

Ramadhan (2009) mengatakan bahwa, margin pemasaran dapat didefinisikan dengan dua
cara yaitu: 1) margin pemasaran merupakan perbedaan antara harga yang dibayarkan konsumen
dengan harga yang diterima petani, 2) margin pemasaran merupakan biaya dari jasa-jasa pemasaran
yang dibutuhkan sebagai akibat permintaan dan penawaran dari jasa-jasa penawaran.

Kamaluddin (2009) berpendapat bahwa, margin pemasaran dapat didefenisikan dengan dua
cara, yaitu: (1) margin pemasaran merupakan selisih antara harga yang dibayar konsumen akhir
dengan harga yang diterima petani. (2) margin pemasaran merupakan biaya dari balas jasa
pemasaran.

Daniel, M., 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Bumi aksara, Jakarta.

MARJIN PEMASARAN

Adalah selisih antara harga yang di terima produsen dengan harga yang di bayarkan oleh
konsumen.

Marjin Pemasaran ditentukan oleh :

Sifat produk
Selera dan preferensi konsumen
Memperhatikan jasa-jasa pemasaran (kualitas yang tinggi, pembungkusan dsb)
Masalah penjualan yang berkaitan dengan pemasaran
Besarnya marjin pemasaran dapat bertambah karena :

Tidak efisiennya jasa-jasa pemasaran

Prasarana pemasaran

Keuntungan para perantara dan pengolah yang tidak wajar

Adanya perbedaan kegiatan pada setiap lembaga pemasaran akan menyebabkan perbedaan
harga jual antara lembaga yang satu dengan yang lainnya. Semakin banyak lembaga pemasaran yang
terlibat dalam penyaluran suatu komoditas akan mengakibatkan biaya pemasaran yang semakin
tinggi, perbedaan harga di tingkat konsumen dengan harga di tingkat produsen semakin besar.

Harga produk pertanian : antara teori dan praktek

Asumsi dasar teori harga dalam tata niaga produk pertanian adalah bahwa produsen bertemu
langsung dengan konsumen akhir sehingga harga pasar merupakan perpotongan antara kurva
penawaran dan permintaan

Realitasnya : aliran produk pertanian dari produsen ke konsumen harus menempuh jarak dan rantai
pemasaran yang panjang

Konsep Dasar Margin Pemasaran

Dua sisi analitis : harga dan biaya pemasaran

1. Dari aspek harga produk

Margin pemasaran adalah selisih harga yang dibayar konsumen akhir dan harga yang diterima
oleh petani produsen. secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

M = Pr - Pf

Keterangan :
M : Margin Pemasaran

Pr : Harga di tingkat pengecer

Pf : Harga di tingkat petani

2. Dari Aspek Biaya Pemasaran

Margin pemasaran terdiri atas biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran. Secara sistematis
dapat dirumuskan sebagai berikut:

Mp = Bp + Kp

Keterangan :

Mp : Margin pemasaran

Kp : Keuntungan pemasaran

Bp : Biaya pemasaran

Besarnya margin pemasaran bukan hanya disebabkan biaya pemasaran, tetapi disebabkan pula oleh
keuntungan yang diambil oleh pedagang. Pedagang menetapkan harga penjualan yang dapat
memberikan sejumlah keuntungan tertentu atau harga penjualan.

Jumlah pengeluaran pedagang dalam arti biaya pemasaran merupakan komponen yang sangat
menentukan besar kecilnya margin pemasaran.

Komponen margin pemasaran :

1. functional cost;

2. profit lembaga pemasaran

Persamaan matematis :

m n

M = Cij + j

i=1 j=1

M adalah margin pemasaran

Cij adalah biaya pemasaran untuk melakukan fungsi pemasaran ke i oleh lembaga ke j

j adalah keuntungan yang diperoleh lembaga pemasaran ke j

m adalah jumlah jenis biaya pemasaran

n adalah jumlah lembaga pemasaran

BIAYA PEMASARAN
Biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pemasaran.

Dalam menyampaikan barang dari produsen ke konsumen akan dibutuhkan biaya pemasaran. Biaya
pemasaran mencakup sejumlah pengeluaran yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan
kegiatan yang berhubungan dengan penjualan hasil produksi dan jumlah pengeluaran oleh lembaga
pemasaran serta keuntungan (profit) yang diterima lembaga pemasaran.

Biaya pemasaran suatu komoditas terdiri dari jumlah pengeluaran produsen dan jumlah pengeluaran
pedagang perantara sebagai lembaga pemasaran.

Secara sistematis biaya pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut:

Bp = Bp1 + Bp2 + + Bpn

Keterangan:

Bp : Biaya pemasaran

Bp1, Bp2, Bpn : Biaya pemasaran tiap-tiap lembaga pemasaran

Besarnya biaya pemasaran antar lembaga pemasaran

berbeda satu sama lainnya, tergantung pd hal2 sbb:

Macam Komoditi

Sifat dari komoditi pertanian memerlukan penanganan pasca panen yang tepat sehingga biaya
yang dikeluarkan untuk melaksanakan fungsi pemasaran lebih besar.

Lokasi Pengusahaan

Lokasi pengusahaan komoditi pertanian yang terpencil akan mengundang tambahan biaya
pengangkutan. Hal ini akan berakibat pada bertambah besarnya biaya pemasaran.

Macam dan Peranan Lembaga Pemasaran

Lembaga pemasaran yang terlalu banyak terlibat dalam mekanisme pemasaran akan menambah
biaya pemasaran.

Efektivitas Pemasaran

Efektivitas pemasaran menyangkut efisiensi pemasaran. Biaya pemasaran yang besar akan
mengakibatkan tidak efisiennya sistem pemasaran.

KEUNTUNGAN PEMASARAN

Selisih harga yang dibayarkan produsen dan harga yang diberikan oleh konsumen disebut
keuntungan pemasaran. Masing-masing lembaga pemasaran ingin memperoleh keuntungan, maka
harga yang dibayarkan oleh lembaga pemasaran itu juga berbeda. Harga di tingkat petani akan lebih
rendah daripada harga di tingkat pedagang perantara dan harga di tingkat pedagang perantara juga
akan lebih rendah daripada harga di tingkat pengecer.
Secara sistematis keuntungan pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut:

Kp = Kp1 + Kp2 + . + Kpn

Keterangan :

Kp : Keuntungan pemasaran

Kp1, Kp2, ,Kpn : Keuntungan tiap-tiap lembaga pemasaran

Modifikasi kurva penawaran dan kurva permintaan Permintaan konsumen atas produk pertanian di
tingkat pengecer disebut permintaan primer

Permintaan produk pertanian oleh pedagang pengepul, tengkulak atau lembaga pemasaran lain di
tingkat petani disebut permintaan turunan

Penawaran produk pertanian oleh petani pada tengkulak adalah penawaran primer

Penawaran produk pertanian oleh lembaga pemasaran kepada konsumen adalah penawaran
turunan

Harga yang dibayarkan konsumen adalah harga di tingkat pengecer

Harga tersebut merupakan perpotongan antara kurva permintaan primer dengan kurva penawaran
turunan

Harga di tingkat petani merupakan perpotongan kurva permintaan turunan dengan kurva
penawaran primer
Kurva permintaan dan penawaran

Kurva permintaan primer berpotongan dengan kurva penawaran turunan membentuk harga di
tingkat pengecer (Pr)

Kurva permintaan turunan berpotongan kurva penawaran primer membentuk harga di tingkat
petani produsen (Pf)

M=Pr-Pf, dengan asumsi jumlah produk pertanian yang ditransaksikan sama besar

Nilai margin pemasaran (VM)

VM= (Pr-Pf)Q*

VM = nilai marjin pemasaran

Pr = harga di tingkat pengecer

Pf = harga di tingkat petani


Q* = jumlah produk pertanian yang ditransaksikan

Pada gambar tersebut nilai margin pemasaran = luas segi empat PrPfBA

Margin pemasaran sebagai fungsi biaya

Margin pemasaran merupakan fungsi dari biaya jasa pemasaran

Jasa pemasaran adalah fungsi dari penambahan utility (form, place, time, possesion utilities)

Produk yang berbeda memiliki VM nya berbeda sebab biaya jasa pemasarannya juga berbeda

Margin pemasaran tinggi tidak selalu mengindikasikan keuntungan yang tinggi, tergantung dari biaya
pemasaran

Distribusi margin pemasaran

Keterangan :

SBij = bagian biaya untuk melaksanakan fungsi pemasaran ke i oleh lembaga pemasaran ke j

Cij = biaya untuk melaksanakan fungsi pemasaran ke i oleh lembaga pemasaran ke k

Pr =harga di tingkat pengecer

Pf = harga di tingkat petani

Hjj = harga jual lembaga pemasaran ke j

Hbj= harga beli lembaga pemasaran ke j

Skj=bagian keuntungan lembaga pemasaran ke j

Perubahan margin pemasaran Jumlah yang dikonsumsi Qc dipengaruhi oleh variabel harga eceran
dan pendapatan konsumen

Jumlah yang ditransaksikan lembaga pemasaran dipengaruhi oleh harga di tingkat petani, harga
eceran dan variabel yang mempengaruhi perilaku tata niaga secara berkelompok

Jumlah yang ditawarkan produsen dipengaruhi oleh harga di tingkat petani dan variabel eksogenous
yang mempengaruhi produksi pertanian

Marjin Tataniaga Produk Pertanian


Posted by tabloid On January 06, 2014 0 Comment
Marjin tataniaga didefinisikan sebagai
perbedaan harga atau selisih harga yang dibayar konsumen dengan harga yang diterima
petani produsen. Dapat pula dinyatakan sebagai nilai dari jasa pelaksanaan kegiatan tataniaga
sejak dari tingkat produsen sampai ke titik konsumen akhir. Kegiatan untuk memindahkan
barang dari titik produsen ke titik konsumen membutuhkan pengeluaran baik fisik maupun
materi. Pengeluaran yang harus dilakukan untuk menyalurkan komoditi dari produsen ke
konsumen disebut biaya tataniaga.
Hammond dan Dahl (1977) menyatakan bahwa marjin tataniaga menggambarkan perbedaan
harga di tingkat konsumen (Pr) dengan harga di tingkat produsen (Pf). Setiap lembaga
pemasaran melakukan fungsi-fungsi pemasaran yang berbeda sehingga menyebabkan
perbedaan harga jual dari lembaga satu dengan yang lainnya sampai ke tingkat konsumen
akhir. Semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat semakin besar perbedaan harga
antar produsen dengan harga di tingkat konsumen.
Marjin pemasaran pada suatu saluran pemasaran tertentu dapat dinyatakan sebagai jumlah
dari marjin pada masing-masing lembaga tataniaga yang terlibat. Rendahnya biaya tataniaga
suatu komoditi belum tentu mencerminkan efisiensi yang tinggi. Salah satu indikator yang
berguna dalam melihat efisiensi kegiatan tataniaga produk pertanian adalah dengan
membandingkan persentase atau bagian harga yang diterima petani (farmers share) terhadap
harga yang dibayar konsumen akhir. Fakta menunjukkan, bagian harga yang selama ini
diterima petani cenderung lebih rendah dibandingkan mereka yang terlibat dalam saluran
pemasaran. Artinya, margin yang diterima petani cenderung lebih rendah dibandingkan
margin yang diterima para pedagang dan pemasar.
Hal ini yang sering menjadi penyebab petani menjadi pihak yang dirugikan dalam tataniaga
produk pertanian. Para petani sering menjadi pihak yang harus menanggung kerugian,
sementara para pedagang selalu aman dari risiko kerugian. Fenomena ini sering terjadi pada
musim panen raya ketika produksi melimpah dan harga jatuh. Petani terpaksa menjadi pihak
yang menanggung kerugian akibat jatuhnya harga, sedangkan para pedagang tetap saja bisa
meraih keuntungan meskipun margin keuntungan yang diperoleh cenderung berkurang.
(Windra)

B.1. Tataniaga Pertanian

Khol dan uhl (2002) mendefinisikan tataniaga sebagai suatu aktivitas


bisnis yang didalamnya terdapat aliran barang dan jasa dari titik produksi sampai
ke titik konsumen. Produksi adalah penciptaan kepuasan, proses membuat
kegunaan barang dan jasa. Kepuasan dibentuk dari proses produktif yang
diklasifikasikan menjadi kegunaan bentuk, tempat, waktu dan kepemilikan.
Pendekatan dalam tataniaga pertanian dikelompokan menjadi pendekatan kelembagaan
(institutional approach), pendekatan fungsi (fungtional approach), pendekatan barang (the
commodity approach) dan pendekatan sistem (sistim approach).
1. Pendekatan Kelembagaan (institutional approach)
Yaitu suatu pendekatan yang menekankan untuk mempelajari pemasaran
dari segi organisasi lembaga-lembaga yang turut serta dalam proses
penyampaian barang dan jasa dari titik produsen sampai titik konsumen.
Lembaga-lembaga yang terlibat dalam proses penyampaian barang dan jasa
antara lain: produsen, pedagang besar dan pedagang pengecer.
2. Pendekatan Fungsi (fungtional approach)
Adalah mengklasifikasikan aktivitas-aktivitas dan tindakan atau
perlakuan-perlakuan ke dalam fungsi yang bertujuan untuk menyampaikan
proses penyampaian barang dan jasa. Adapun fungsi pemasaran terdiri
dari tiga fungsi pokok, yaitu:
a. Fungsi pertukaran :
- Penjualan : Mengalihkan barang ke pembeli dengan harga yang memuaskan.
- Pembelian : Mengalihkan barang dari penjual dan pembeli dengan harga yang
memuaskan.
b. Fungsi pengadaan secara fisik
- Pengangkutan : Pemindahan barang dari tempat produksi dan atau tempat
penjualan ke tempat-tempat dimana barang tersebut akan terpakai (kegunaan
tempat).
- Penyimpanan : Penahanan barang selama jangka waktu antara dihasilkan atau
diterima sampai dijual (kegunaan waktu).
c. Fungsi pelancar
- Pembiayaan : Mencari dan mengurus modal uang yang berkaitan dengan transaksi-
transaksi dalam arus barang dari sektor produksi sampai sektor konsumsi.
- Penanggungan risiko : Usaha untuk mengelak atau mengurangi kemungkinan rugi
karena barang yang rusak, hilang, turunnya harga dan tingginya biaya.
- Standardisasi dan Grading : Penentuan atau penetapan dasar penggolongan
(kelas atau derajat) untuk barang dan memilih barang untuk dimasukkan ke
dalam kelas atau derajat yang telah ditetapkan dengan jalan standardisasi.
- Informasi Pasar : Mengetahui tindakan-tindakan yang berhubungan dengan
fakta-fakta yang terjadi, penyampaian fakta, menafsirkan fakta dan mengambil
kesimpulan akan fakta yang terjadi.
3. Pendekatan barang (the commodity approach)
Yaitu suatu pendekatan yang menekankan perhatian terhadap kegiatan atau
tindakan-tindakan yang diperlakukan terhadap barang dan jasa yang selama
proses penyampaiannya mulai dari titik produsen sampai ke titik konsumen.
Pendekatan ini menekankan pada komoditi yang akan diamati.
4. Pendekatan Sistem (sistim approach)
Yaitu merupakan suatu kumpulan komponen-komponen yang bekerja secara
bersama-sama dalam suatu cara yang terorganisir. Suatu komponen dari suatu
sistem, mungkin merupakan suatu system tersendiri yang lebih kecil yang
dinamakan subsistem
B.2. Saluran Tataniaga

Menurut Kotler (2002), saluran tataniaga adalah serangkaian lembaga


yang melakukan semua fungsi yang digunakan untuk menyalurkan produk dan
status kepemilikannya dari produsen ke konsumen. Produsen memiliki peranan
utama dalam menghasilkan barang-barang dan sering melakukan sebagian
kegiatan pemasaran, sementara itu pedagang menyalurkan komoditas dalam
waktu, tempat, bentuk yang diinginkan konsumen. Hal ini berarti bahwa saluran
tataniaga yang berbeda akan memberikan keuntungan yang berbeda pula kepada
masing-masing lembaga yang terlibat dalam kegiatan tataniaga tersebut.
Saluran tataniaga dari suatu komoditas perlu diketahui untuk menentukan
jalur mana yang lebih efisien dari semua kemungkinan jalur-jalur yang dapat
ditempuh. Selain itu saluran pemasaran dapat mempermudah dalam
mencari besarnya margin yang diterima tiap lembaga yang terlibat.
Menurut Kotler dan Amstrong (2001), Saluran tataniaga terdiri dari
serangkaian lembaga tataniaga atau perantara yang akan memperlancar kegiatan
tataniaga dari tingkat produsen sampai tingkat konsumen. Tiap perantara
yang melakukan tugas membawa produk dan kepemilikannya lebih dekat ke
pembeli akhir yang merupakan satu tingkat saluran. Saluran nol-tingkat (saluran
tataniaga nol-langsung) terdiri dari produsen yang menjual langsung ke konsumen
akhir. Saluran satu-tingkat terdiri dari satu perantara penjual, yaitu
pengecer. Saluran dua-tingkat dari dua perantara, seperti pedagang besar dan
pengecer. Saluran tiga-tingkat dalam saluran tataniaga barang konsumsi
memiliki tiga perantara, yaitu pedagang besar, pemborong dan pengecer.
B.3. Marjin Tataniaga

Marjin tataniaga didefinisikan sebagai perbedaan harga atau selisih harga


yang dibayar konsumen dengan harga yang diterima petani produsen atau dapat
pula dinyatakan sebagai nilai dari jasa-jasa pelaksanaan kegiatan tataniaga sejak
dari tingkat produsen sampai ke titik konsumen akhir. Kegiatan untuk
memindahkan barang dari titik produsen ke titik konsumen membutuhkan
pengeluaran baik fisik maupun materi. Pengeluaran yang harus dilakukan untuk
menyalurkan komoditi dari produsen ke konsumen disebut biaya tataniaga.
Hammond dan Dahl (1977) menyatakan bahwa marjin tataniaga
menggambarkan perbedaan harga di tingkat konsumen (Pr) dengan harga di
tingkat produsen (Pf). Setiap lembaga pemasaran melakukan fungsi-fungsi
pemasaran yang berbeda sehingga menyebabkan perbedaan harga jual dari
lembaga satu dengan yang lainnya sampai ke tingkat konsumen akhir. Semakin
banyak lembaga pemasaran yang terlibat semakin besar perbedaan harga
antar produsen dengan harga di tingkat konsumen. Secara grafis marjin tataniaga
dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Marjin pemasaran pada suatu saluran pemasaran tertentu dapat dinyatakan
sebagai jumlah dari marjin pada masing-masing lembaga tataniaga yang terlibat.
Rendahnya biaya tataniaga suatu komoditi belum tentu mencerminkan
efisiensi yang tinggi. Salah satu indikator yang berguna dalam melihat efisiensi
kegiatan tataniaga adalah dengan membandingkan persentase atau bagian
harga yang diterima petani (farmers share) terhadap harga yang dibayar
konsumen akhir.
Tingkat efisiensi tataniaga juga dapat diukur melalui besarnya rasio
keuntungan terhadap biaya tataniaga. Rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga
didefinisikan sebagai besarnya keuntungan yang diterima atas biaya tataniaga
yang dikeluarkan. Semakin meratanya penyebaran rasio keuntungan terhadap
biaya maka dari segi operasional sistem tataniaga akan semakin efisien. (Limbong
dan Sitorus, 1987)
B.4. Pemasaran
Perkembangan dunia usaha pada dewasa ini ditandai dengan makin
tajamnya persaingan. Oleh karena itu, peranan pemasaran semakin penting dan
merupakan ujung tombak setiap perusahaan. Keberhasilan usaha suatu perusahaan
ditentukan oleh keberhasilan pemasarannya. Pemasaran merupakan kunci
keberhasilan usaha perusahaan.
Dalam pemasaran komoditi pertanian terdapat pelaku-pelaku ekonomi yang
terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Proses pemasaran merupakan
proses yang sedang dan terus berlangsung dan membentuk suatu sistem. Suatu
sistem pemasaran tersusun atas beberapa sub-sistem yang saling berinteraksi satu
sama lain, yang sangat menentukan hasil akhir dari suatu sistem itu sendiri.
Dalam membahas pemasaran pertanian tidak terlepas dari konsep pasar,
pemasaran dan pemasaran pertanian. Adapun pemasaran pertanian merupakan
bagian dari ilmu pemasaran pada umumnya, tetapi dianggap sebagai suatu ilmu
yang berdiri sendiri. Anggapan ini didasarkan pada karakteristik produk pertanian
serta subyek dan obyek pemasaran pertanian itu sendiri. Dalam mendefinisikan
pasar, perlu diperhatikan adanya pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas
pemasaran.
Pasar secara sempit didefinisikan sebagai lokasi geografis, dimana penjual
dan pembeli bertemu untuk mengadakan transaksi faktor produksi, barang, dan
jasa (Sudiyono, 2004). Pasar dalam arti modern berarti suatu proses aliran barang
dari produsen ke konsumen yang disertai penambahan guna barang baik guna
tempat, waktu, bentuk dan kepemilikan.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, pasar dapat didefinisikan sebagai
tempat ataupun terjadinya pemenuhan kebutuhan dan keinginan dengan
menggunakan alat pemuas yang berupa barang ataupun jasa, dimana terjadi
pemindahan hak milik antara penjual dan pembeli.
Secara umum pemasaran dianggap sebagai proses aliran barang yang terjadi
dalam pasar. Dalam pemasaran ini barang mengalir dari produsen ke konsumen
akhir yang disertai pnambahan guna bentuk melalui proses pengolahan, guna
tempat melalui proses pengangkutan dan guna waktu melalui proses
penyimpanan.dalam mendefinisikan proses pemasaran ini sangat tergantung posisi
seseorang yang terlibat dala proses pemasaran. Ada beberapa definisi pemasaran
yang dikemukakan oleh beberapa para ahli, antara lain :
1. Menurut King
Pemasaran merupakan pengambilan keputusan dan pelaksanaan, termasuk
perencanaan dan penetapan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang
berupa barang.
2. Menurut Fisk
Pemasaran ialah segala usaha bisnis sehingga dapat memenuhi kebutuhan
barang dan jasa yang diinginkan oleh semua konsumen.
3. Menurut Schewe dan Smith
Pemasaran adalah aktivitas-aktivitas dimana badan usaha melakukan promosi
untuk menyampaikan barang dan jasa antara perusahaan dan masyarakat.
4. Menurut Downey dan Erikson
Pemasaran merupakan ilmu yang menelaah terhadap aliran produk secara
fisik dan ekonomis dari produsen melalui lembaga pemasaran kepada konsumen.
Dengan melihat beberapa definisi pasar dan pemasaran seperti di atas, maka
dapat dikemukakan definisi dari pemasaran pertanian itu sendiri, yaitu sebagai
berikut :
1. Menurut FAO (1958)
Pemasaran pertanian adalah serangkaian kegiatan ekonomi berturut-turut
yang terjadi selama perjalanan komoditi hasil-hasil pertanian mulai dari produsen
primer sampai ke tangan konsumen.
2. Menurut Breimeyer (1973)
Pemasaran pertanian adalah kegiatan-kegiatan yang terjadi diantara
usahatani dan konsumen. Definisi ini menegaskan bahwa pemasaran pertanian
terjadi setelah usaha tani (marketing post the farm) dan produksi terjadi pada
usahatani (production on the farm).
3. Menurut John Philips (1968)
Pemasaran pertanian adalah semua aktivitas perdagangan yang meliputi
aliran barang-barang dan jasa-jasa secara fisik dari pusat produksi pertanian ke
pusat konsumsi pertanian.
Tataniaga merupakan salah satu cabang aspek pemasaran yang menekankan
bagaimana suatu produksi dapat sampai ke tangan konsumen (distribusi). Tataniaga
dapat dikatakan efisien apabila mampu menyampaikan hasil produksi kepada
konsumen dengan biaya semurah-murahnya dan mampu mengadakan pembagian
keuntungan yang adil dari keseluruhsn harga yang dibayar konsumen kepada semua
pihak yang ikut serta dalam kegiatan produksi dan tataniaga. (Rahardi, 2000).
Definisi tataniaga di atas didasarkan pada konsep inti tataniaga sebagai
berikut:
1. Kebutuhan, keinginan, dan permintaan
2. Produk
3. Utilitas, nilai dan kepuasan
4. Pertukaran, transaksi, dan hubungan
5. Pasar
6. Pemasaran dan pemasar.
Tataniaga sayuran, sebagai salah satu produk pertanian, masih kurang
efisien, yaitu kurang adilnya pembagian keuntungan. Hal ini tergambar dari sangat
rendahnya harga produk sayuran di tingkat pengusaha produsen sayuran, terutama
pengusaha sayuran skala kecil (petani). Untuk menanggulangi masalah itu perlu
diketahui mata rantai distribusi beserta permasalahannya.
Dalam bisnis sayuran terdapat tiga pendukung yang memegang peranan
penting dalam sistem distribusinya. Ketiganya adalah konsumen, petani, dan
pengusaha perantara. Konsumen adalah orang terakhir atau pembeli terakhir suatu
produksi sayuran. Petani adalah pengusaha yang langsung berhubungan dengan
proses produksi sayuran. Sedangkan pengusaha perantara adalah pengusaha yang
tidak berhubungan langsung dengan proses produksi sayuran, melainkan sebagai
penyalur produksi sayuran. Berikut ini beberapa pengusaha perantara sayuran :
1. Pedagang pengumpul, yaitu pedagang yang mengumpulkan barang-barang hasil
pertanian dari petani produsen, dan kemudian memasarkannya kembali dalam
partai besar kepada pedagang lain.
2. Pedagang besar, yaitu pedagang yang membeli hasil pertanian dari pedagang
pengumpul dan atau langsung dari produsen, serta menjual kembali kepada
pengecer dan pedagang lain dan atau kepada pembeli untuk industri, lembaga, dan
pemakai komersial yang tidak menjual dalam volume yang sama pada konsumen
akhir.
Pedagang pengecer, yaitu pedagang yang menjual barang hasil pertanian ke
konsumen dengan tujuan memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dalam
partai kecil. (Rahardi, 2000).
Kebutuhan adalah suatu keadaan dirasakannya ketiadaan kepuasan dasar
tertentu. Kebutuhan merupakan kekuatan dasar yang mendorong pelanggan untuk
ambil bagian dan terlibat dalam pertukaran. Keinginan adalah kehendak yang kuat
akan pemuas yang spesifik terhadap kebutuhan yang lebih mendalam. Keinginan
mencerminkan hasrat atau preferensi seseorang terhadap cara-cara tertentu dalam
memuaskan kebutuhan dasar. Permintaan adalah keinginan akan produk yang
spesifik yang didukung oleh kemampuan dan kesediaan untuk membeliya. Oleh
karena itu, keinginan akan berubah menjadi permintaan, bilamana didukung
dengan daya beli.
Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan kepada seseorang untuk
memuaskan suatu kebutuhan atau keinginan. Dengan demikian, para produsen
harus mencurahkan perhatian baik terhadap produk maupun jasa (pelayanan) yang
diberikan oleh produk tersebut. Pelanggan membeli produk karena produk tersebut
memuaskan suatu kebutuhan. Makin dekat letak suatu produk aktual dengan
produk ideal menunjukkan tingkat utilitas (nilai kegunaan) yang semakin tinggi.
Seorang yang rasional pasti akan berusaha memaksimumkan utilitas, artinya ia
akan memilih produk yang menghasilkan utilitas yang paling besar per rupiah yang
dikeluarkannya. Nilai merupakan fungsi dari tampilan produk, jasa dan harga
instrinsik.
Kepuasan adalah manfaat yang diberikan sesuatu produk sesuai dengan yang
diharapkan atau didambakan pelanggan, baik secara fungsional dan emosional.
Pelanggan membeli manfaat, bukan produk.
Pertukaran adalah tindakan untuk memperoleh produk yang dikehendaki
dari seseorang dengan menawarkan suatu yang lain sebagai balasannya. Pertukaran
merupakan cara seseorang untuk memuaskan kebutuhan dan keinginannya.
Pertukaran terjadi di dalam pasar yang terdiri dari semua pelanggan potensial yang
mempunyai kebutuhan atau keinginan tertentu yang mungkin bersedia dan mampu
melibatkan diri dalam suatu pertukaran guna memuaskan kebutuhan dan keinginan
tersebut. Dengan adanya pertukaran, maka muncullah pemasaran. Pemasaran
adalah pengidentifikasian calon mitra pertukaran, mengembangkan penawaran,
mengkomunikasikan informasi, mengirimkan produk dan mengumpulkan
pembayaran. Pemasar adalah seseorang yang mencari sumberdaya dari orang lain
dan bersedia menawarkan sesuatu yang bernilai sebagai imbalannya.
BAB V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Hasil pertanian dari desa buntuna, berasal dari bidang perkebunan cengkeh, kelapa,
jagung, ricah, tomat, palawija dan sayur-sayuraan. Dari hasil praktikum hasil pertanian petani
sebagian besar dari perkebanuan jagung dan sayur-sayuran. Dimana hasil usaha tani ini juga
menjadi konstribusi desa dari bidang pertanian.
Dilihat dari fungsinya, tataniaga hasil pertanian dapat memperlancar pemasaran hasil
pertanian dari proses produksi, distribusi hingga ke konsumen.
Dari hasil praktikum, saluran pemasaran yang umum di gunakan dalam tataniaga hasil
pertanian produk pertanian, yaitu dari produsen ke konsumen dan dari produsen ke pedagang
pengecer kemudian di jual ke konsumen.

5.2 Saran
Dengan melihat tabel identitas dan kegiatan usaha tani responden, hasil yang di
dapatkan petani, produksi yang begitu besar di sektor pertanian dalam bidang perkebunan
jagung dan sayuran, sehingga di butuhkan peran tataniaga untuk hasil pertanian yang baik
untuk memaksimalkan hasilnya dengan marjin pemasarannya.
DAFTAR PUSTAKA

Annindita, 2004. Struktur pasar, tingkah laku dan penampilan pasar. Modul praktikum tataniaga
hasil pertanian.
Annonymous. 2010. Definisi dan Usaha Pertanian. http://pustaka.ut.ac.id. Diakses pada 24
Februari 2010.
Arvareza D, 2010. Konsep Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Dan Pertanian Agropolitan.
Fakultas pertanian, Bogor.
AT Mosher, 1965, pertanian dan pembangunan pertanian, www.google.com
Anonima. 2012. Penawaran hasil pertanian. http://agrimaniax.blogspot.com/2010/05/penawaran-
hasil-hasil pertanian.html.
C Glend Waters dalam bayu swasta, 1982. Lembaga, saluran dan fungsi-fungsi tataniaga pertanian,
pemasarannya. tingkah laku dan penampilan pasar. Modul praktikum tataniaga hasil
pertanian
Firdaus, Muhammad. 2008. Manajemen Agribisnis. Jakarta: Bumi Aksara
Farid Wajedi S.P dan Musniar S.P MSi, modul praktikum mata kuliah manajemen tataniaga hasil
pertanian, 2013.
Hernanto, F.1989. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta.
Limbbong dan soitourus (1987), definisi tataniaga pertanian. Di akses tanggal 18 januari 2013,
www.google.com
Mubyarto (1995), sector pertanian Indonesia. Di akses tanggal 18 januari 2013, www.google.com
Soekartawi, 1994. Distribusi dan pemasaran hasil pertanian. Jakarta : UI Press.
Tohir, Kaslan A. 1982. Seuntai Pengetahuan Tentang Usahatani di Indonesia. Jakarta
Zalukhu, Juniasti. 2009. Analisis Usahatani dan Tataniaga Padi Varietas Unggul Nasional (Kasus
Varietas Bondoyudo pada Gapoktan Tani Bersatu, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten
Bogor) [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.
www.google.com, materi tataniaga pertanian dan makalah hasil tataniaga pertanian, 2013.