Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH

BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teknologi Pengolahan
Limbah kepada dosen DR. Yatti Sugiarti. M.P.

Oleh:

Achmad Leksono CSR (1105913)

Amalia Dwi Lestari (1301107)

Debby Rawuh Gantina (1305950)

Nida Fadhilah (1300963)

Winni Trinita M (1304693)

Kelompok 6

PENDIDIKAN TEKNOLOGI AGROINDUSTRI

FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2014
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan ke Hadirat Illahi Rabbi karena berkat
rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan salah satu tugas Mata Kuliah
Teknologi Pengolahan Limbah.
Tidak lupa pula kami ucapkan terimakasih kepada Ibu DR. Yatti Sugiarti.
M.P. selaku dosen mata kuliah Teknologi Pengolahan Limbah yang telah
membimbing kami dalam pembuatan makalah, serta rekan-rekan yang senantiasa
memberikan dorongan dan bantuan baik berupa moril maupun materil sehingga
makalah ini dapat terselesaikan dengan lancar dan baik.
Dalam penyusunan makalah ini, kami berusaha memaparkan hasil diskusi
dan informasi dengan kemampuan yang kami miliki dengan membahas mengenai
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang kami paparkan dalam sebuah
kasus yang terjadi di Indonesia.
Semoga dengan adanya makalah ini, dapat memberikan manfaat untuk
kami dan untuk pembaca untuk lebih mengetahui mengenai Limbah B3.
Meski begitu, kami menyadari bahwa pada penyusunan makalah ini
belumlah mencapai kesempurnaan, oleh sebab itu kami mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun, sehingga makalah ini menjadi sempurna dan
dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bandung, Juli 2014

Penyusun
DAFTAR ISI

COVER

KATA PENGATAR ................................................................................................ i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ...................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................................2

1.3 Tujuan Masalah ..................................................................................................2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Limbah B3........................................................................................3

2.3 Pengelolaan Limbah B3 .....................................................................................3

2.3Peraturan Pengelolaan Limbah B3 ......................................................................3

2.4 Pengemasan dan Penyimpanan Limbah B3 .......................................................3

BAB III STUDY KASUS ......................................................................................27

BAB IV ANALYSIS KASUS ...............................................................................27

4.1 Sumber limbah B3 ...........................................................................................27


4.2 Karakteristik limbah B3 ..................................................................................27
4.3 Prinsip pengolahan limbah B3 ........................................................................27
4.4. Dampak limbah B3 ........................................................................................27

BAB V PENUTUP

3.1 Kesimpulan .....................................................................................................32

3.2 Saran ................................................................................................................32

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ iv

LAMPIRAN .............................................................................................................v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang ada didunia.


Dimana suatu negara berkembang memiliki tingkat industri yang tinggi, seperti
yang ada di Indonsia. Industri yang berkembang sangat bermacam-macam
jenisnya. Industri yang ada, identik dengan dibangunnya suatu pabrik-pabrik
industri, seperti: industi pabrik tekstil, pabrik percetakan kertas, pengecoran
minyak, pengecoran logam, industri pertanian, dan lain-lain. Suatu industri yang
telah berdiri dan beroperasi pasti akan melakukan proses kegiatan produksi. Dari
proses kegiatan produksi tersebut, akan menghasilkan suatu sisa hasil produksi
(limbah). Dimana, limbah tersebut akan dibuang ataupun diolah kembali menjadi
sesuatu yang bermanfaat. Proses pembuangan limbah dari suatu proses produksi,
ada yang dilakukan dengan baik sesuai aturan (memperhatikan kandungan yang
akan dibuang, ataupun dilakukan penyaringan atau pengolahan limbah sebelum
dibuang), dan ada yang tidak (langsung dibuang ke lingkungan).

Namun faktanya, kebanyakan limbah hasil produksi suatu industri yang


ada, akan langsung dibuang ke lingkungan, tanpa memperhatikan kandungan
limbah yang ada. Padahal sebagian besar sisa produksi yang dihasilkan,
merupakan suatu jenis limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Seperti yang
tertera pada, definisi limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan
sisa (limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya
dan beracun (B3) karena sifat (toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity)
serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak
langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan
kesehatan manusia.
Akibat dari pembuangan sisa produksi B3 yang sembarangan dan
seenaknya kelingkungan oleh suatu industri, maka akan menimbulkan suatu
gangguan kesehatan masyarakat, sumber pencemaran dan sumber kerusakan
lingkungan. Oleh karena itu, sangat perlu dan penting untuk mengelola limbah B3
yang ada sebelum dilakukan pembuangan kepada lingkungan. Upaya yang
dilakukan untuk mengelolah limbah B3 secara baik dan benar akan memberikan
dampak yang baik pula. Salah satunya dapat meminimalisir dampak yang akan
terjadi, yang dihasilkan oleh limbah B3 tersebut.
Pengelolaan limbah B3 haruslah dilakukan oleh seluruh industri baik yang
ada di Indonesia maupun dunia. Kesadaran manusia untuk melakukan pengolahan
limbah menjadi faktor utama yang harus dibentuk. Sebelum dilakukan pengolahan
limbah B3 tersebut, kita haruslah mengetahui baik sumber, karakteristik, prinsip
pengolahan, dampak yang akan ditimbulkan, dan peraturan perundang-undangan
yang berlaku untuk limbah B3. Ketika semua mengenai limbah B3 telah
diketahui, maka akan lebih mudah dan efisien dalam mengolah limbah tersebut.
Mengupayakan proses pengolahan limbah yang baik dan benarlah yang harus
dilakukan oleh semua proses produksi industri, untuk mengatasi limbah berbahaya
tersebut sebelum dibuang ke lingkungan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa sajakah sumber limbah B3 yang terkandung pada kasus tersebut?
2. Bagaimana karakteristik limbah B3 yang terkandung pada kasus tersebut?
3. Bagaimana prnsip pengolahan limbah B3 yang terkandung pada kasus
tersebut?
4. Bagaimana dampak limbah B3 yang terkandung pada kasus tersebut?

1.3 Tujuan Makalah


1. Mengetahui sumber limbah B3 yang terkandung pada kasus tersebut?
2. Mengetahui karakteristik limbah B3 yang terkandung pada kasus tersebut?
3. Mengetahui prinsip pengolahan limbah B3 yang terkandung pada kasus
tersebut?
4. Mengetahui dampak limbah B3 yang terkandung pada kasus tersebut?
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Limbah B3

Menurut Undang-Undang No.32 Tahun 2009 Pasal 1 (21) mendefinisikan


bahan berbahaya dan beracun (disingkat B3) adalah zat, energi, dan/atau
komponen lain yang karena sifat, konsentrasi dan/atau jumlahnya, baik secara
langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak
lingkungan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan serta
kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lain.

Sedangkan definisi menurut OSHA (Occupational Safety and Health of


the United State Government) adalah bahan yang karena sifat kimia maupun
kondisi fisiknya sangat berpotensi menyebabkan gangguan pada kesehatan
manusia, kerusakan properti dan atau lingkungan.

A. Klasifikasi Limbah B3
Menurut Depkes RI melalui keputusan Menkes No.
453/Menkes/Per/XI/1983 telah memberi arahan mengenai bahan berbahaya
beracun dan pengelolaannya, yang dibagi menjadi 4 (empat) klasifikasi, yaitu :
Klasifikasi I

1. Bahan kimia atau sesuatu yang telah terbukti atau diduga keras dapat
menimbulkan bahaya yang fatal dan luas, secara langsung atau tidak langsung,
karena sangat sulit penanganan dan pengamanannya
2. Bahan kimia atau sesuatu yang baru yang belum dikenal dan patut diduga
menimbulkan bahaya.
Klasifikasi II

1. Bahan radiasi
2. Bahan yang mudah meledak karena gangguan mekanik
3. Bahan beracun atau bahan lainnya yang mudah menguap dengan LD50 (rat)
kurang dari 500 mg/kg atau yang setara, mudah diabsorpsi kulit atau selaput
lender
4. Bahan etilogik/biomedik
5. Gas atau cairan beracun atau mudah menyala yang dimampatkan
6. Gas atau cairan atau campurannya yang bertitik nyala kurang dari 35oC
7. Bahan padat yang mempunyai sifat dapat menyala sendiri.
Klasifikasi III

1. Bahan yang dapat meledak karena sebab-sebab lain, tetapi tidak mudah
meledak karena sebab-sebab seperti bahan klasifikasi II
2. Bahan beracun dengan LD50 (rat) kurang dari 500 mg/kg atau setara tetapi
tidak mempunyai sifat seperti bahan beracun klasifikasi II
3. Bahan atau uapnya yang dapat menimbulkan iritasi atau sensitisasi, luka dan
nyeri
4. Gas atau cairan atau campurannya dengan bahan padat yang bertitik nyala
35oC sampai 60oC
5. Bahan pengoksidasi organic
6. Bahan pengoksidasi kuat
7. Bahan atau uapnya yang bersifat karsinogenik, tetratogenik dan mutagenic
8. Alat atau barang-barang elektronika yang menimbulkan radiasi atau bahaya
lainnya.
Klasifikasi IV

1. Bahan beracun dengan LD50 (rat) diatas 500 mg/kg atau yang setara
2. Bahan pengoksid sedang
3. Bahan korosif sedang dan lemah
4. Bahan yang mudah terbakar.
Menurut SK Menprind No. 148/M/SK/4/1985. tentang Pengamanan Bahan
Beracun dan Berbahaya di Perusahaan Industri. Pengelompokan bahan B3
berdasarkan keputusan tersebut meliputi :

a. Bahan beracun (toxic).


Pengertian beracun karena bahan tersebut dapat langsung meracuni manusia
atau mahluk hidup lain. Sifat keracunan tersebut dapat terjadi dalam jangka
pendek maupun jangka panjang. Bila sampai masuk ke lingkungan, di lokasi
pembuangan yang tidak terkontrol, bahan beracun ini dapat tercuci serta masuk
ke dalam air tanah sehingga dapat mencemari sumur penduduk di sekitarnya
dan berbahaya bagi penduduk yang menggunakan air tersebut.
b. Bahan peledak & Mudah meledak.
Bahan ini berbahaya selama penanganannya, baik pada saat pengangkutannya
maupun saat pembuangannya, karena,bahan ini dapat menimbulkan reaksi
hebat dan dapat melukai manusia serta merusak lingkungan sekitarnya.
c. Bahan mudah terbakar/menyala.
Bahan ini berbahaya bila terjadi kontak dengan bahan lain yang panas, rokok
atau sumber api lain karena dapat menimbulkan kebakaran yang tidak
terkendalikan baik saat pengangkutan,di lokasi penyimpanan/pembuangan
seperti di landfill. Disamping mudah menyala/terbakar, bahan ini umumnya
kalau sudah menyala akan terbakar terus dalam waktu yang lama, seperti sisa
pelarut yang meliputi benzene, toluene atau aseton yang berasal dari pabrik cat,
pabrik tinta, serta kegiatan lain yang menggunakan bahan tersebut sebagai
pelarut.
d. Bahan oksidator dan reduktor
Bahan pengoksidasi ini berbahaya karena dapat menghasilkan oksigen
sehingga dapat menimbulkan kebakaran, seperti sisa bahan yang banyak
digunakan di laboratorium seperti magnesium, perklorat dan metil metil keton
(MIK)
e. Bahan korosi / iritasi
Bahan penyebab korosif (corrosive waste) ini berbahaya karena dapat melukai,
membakar kulit dan mata. Bahan yang termasuk ini mempunyai keasaman
(pH) lebih rendah dari 2 atau lebih besar dari 12,5, dapat menyebabkan
nekrosia (terbakar) pada kulit atau dapat menyebabkan karat.
Contoh bahan ini, antara lain :
- asam cuka, asam sulfat yang biasa digunakan untuk membersihkan karat pada
industri baja;
- bahan pembersih produk metal sebelum dicat;
- asam untuk proses pickling pada industri kawat.
f. Gas bertekanan.
g. Bahan radioaktif.
Yaitu bahan yang dapat menyebabkan terjadinya radiasi pada makhluk hidup.
Bahan beracun dan berbahaya lainnya yang ditetapkan oleh Menteri
Perindustrian.
Sebagian dari daftar bahan berbahaya dan beracun tercantum pada
lampiran keputusan tersebut.

Sedangkan menurut Kep Menaker No. 187 tahun 1999 mengenai bahan
kimia berbahaya. Bahan kimia berbahaya adalah bahan kimia dalam bentuk
tunggal atau campuran yang berdasarkan sifat kimia dan atau fisika dan atau
toksikologi berbahaya terhadap tenaga kerja, instansi, dan lingkungan hidup.
Pada Pasal 9 disebutkan bahwa bahan tergolong B3 meliputi :

a. Bahan beracun, yaitu Bahan kimia beracun dalam hal pemajangan melalui :

- Mulut LD50 > 25 mg/kg atau 200 mg/kg

- Kulit LD50 > 25 mg/kg atau 400 mg/kg

- Pernapasan LD50 > 0,5 mg/kg atau 2 mg/kg

b. Bahan sangat beracun

Bahan kimia sangat beracun dalam hal pemajangan melalui:

- Mulut LD50 < 25 mg/kg

- Kulit LD50 < 50 mg/kg

- Pernapasan LD50 < 0,5 mg/kg

c. Cairan mudah terbakar

Cairan mudah terbakar dalam hal titik nyala > 21oC dan titik didih < 55oC
pada tekanan 1 atm.

d. Cairan sangat mudah terbakar.


Cairan sangat mudah terbakar dalam hal titik nyala < 21oC dan titik didih >
20oC pada tekanan 1 atm.

e. Gas mudah terbakar

Gas mudah terbakar dalam hal titik didih < 20oC pada tekanan 1 atm.
Seperti gas alam, hidrogen, asetilin, etilin oksida.

f. Bahan mudah meledak


g. Bahan reaktif

Bahan kimia termasuk kriteria reaktif apabila bahan tersebut :

- bereaksi dengan air mengeluarkan panas dan gas yang mudah terbakar.
Seperti: alkali (Na, K) dan alkali tanah (Ca) aluminium tribromida, CaO,
sulfuril khlorida

- bereaksi dengan asam mengeluarkan panas dan gas yang mudah terbakar,
atau beracun atau korosif. seperti : KClO3, KMnO4, Cr2O3

h. Bahan kimia termasuk kriteria oksidator

Apabila reaksi kimia atau penguraiannya menghasilkan oksigen yang dapat


menyebabkan kebakaran.

Seperti : Anorganik (ClO3- , MnO4-, Cr2O7-2, H2O2, IO3-, S2O8-2


Organik ( Bensil peroksida, Etroksida, Asetil peroksida)

Selanjutnya menurut PP No. 12/1995, limbah B3 dikelompokkan


berdasarkan sumbernyadikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu :
a. Limbah dari sumber spesifik.
Limbah B3 ini merupakan sisa proses suatu industri atau kegiatan tertentu.
b. Limbah dari sumber yang tidak spesifik.
Untuk limbah B3 ini berasal bukan dari prosesutamanya, misalnya dari
kegiatan pemeliharaan alat, pencucian, inhibitor, korosi, ada perak,
pengemasan dan lain-lain.
c. Limbah B3 dari bahan kadaluarsa tumpahan, sisa kemasan, atau buangan
produk yang tidak memenuhi spesifikasi. Limbah jenis ini tidak memenuhi
spesifikasi yang ditentukan atau tidak dapat dimanfaatan kembali, sehingga
memerlukan pengelolaan seperti limbah B3 lainnya.

2.2 Pengelolaan Limbah B3

Secara spesifik pengelolaan B3 ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah


(PP) No 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

Terkait dengan penggunaan bahan kimia organik berbahaya, maka Indonesia


telah merativikasi konvensi Stockholm melalui Undang-undang No. 19 tahun
2009 tentang Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik
yang Persisten atau Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants
(POPs). Konvensi ini bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan
lingkungan hidup dari bahan POPs dengan cara melarang, mengurangi, membatasi
produksi dan penggunaan, serta mengelola timbunan bahan POPs yang
berwawasan lingkungan.

Beberapa peraturan yang secara langsung akan mempengaruhi kualitas dan


kuantitas limbah B3 yang dihasilkan adalah peraturan-peraturan yang mengatur
masalah bahan berbahaya, yaitu :

Peraturan Pemerintah No.7/1973 tentang pengawasan atas peredaran,


penyimpanan dan penggunaan pestisida

Peraturan Menteri Kesehatan No.453/Menkes/Per/XI/1983 tentang bahan


berbahaya

Keputusan Menteri Perindustrian RI No.148/M/SK/4/1985 tentang pengamanan


bahan beracun dan berbahaya di lingkungan industri

Keputusan Menteri Pertanian No.724/Kpts/TP.270/9/1984 tentang larangan


penggunaan pestisida EDB
Keputusan Menteri Pertanian No.536/Kpts/TP.270/7/1985 tentang pengawasan
pestisida

Selain itu, Limbah radioaktif di Indonesia dikelola oleh Badan Tenaga


Atom Nasional (BATAN) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No.33
Tahun 1985 tentang Dewan Tenaga Atom dan Badan Tenaga Atom Nasional dan
Keputusan Presiden No. 82 Tahun 1985 tentang Badan Tenaga Atom Nasional.
Semua yang berkaitan dengan ketenaga atoman pada dasarnya diatur oleh
Undang-undang No. 31 Tahun 1964 tentang Ketentuan-ketentuan pokok tenaga
atom. Selanjutnya beberapa peraturan lain di bawahnya antara lain:

- Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 1975 tentang keselamatan kerja terhadap


radiasi
- Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 1975 tentang izin pemakaian zat radioaktif
dan atau sumber radiasi
- Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 1975 tentang pengangkutan zat radioaktif
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) diatur dalam PP
No.74 tahun 2001. PP74/2001 tentang pengelolaan berbahaya dan beracun terdiri
dari 15 bab yang dibagi lagi menjadi 43 pasal. Kelima belas bab tersebut adalah :

- Bab I (pasal 1- 4) : Ketentuan Umum,


- Bab II (pasal 5) : Klasifikasi B3,
- Bab III (pasal 6- 20) : Tata Laksana dan Pengelolaan B3
- Bab IV (pasal 21) : Komisi B3,
- Bab V (pasal 22 dan 23) : Keselamatan dan Kesehatan Kerja
- Bab VI (pasal 24- 27) : Penanggulangan Kecelakaan dan Keadaan Darurat
- Bab VII (pasal 28- 31) : Pengawasan dan Pelaporan
- Bab VIII (pasal 32- 34) : Peningkatan Kesadaran Masyarakat
- Bab IX (pasal 35 dan 36) : Keterbukaan Informasi dan Peran Masyarakat
- Bab X (pasal 37) : Pembiayaan
- Bab XI (pasal 38) : Sanksi Administrasi
- Bab XII (pasal 39) : Ganti Kerugian
- Bab XIII (pasal 40) : Ketentuan Pidana
- Bab XIV (pasal 41 dan 42): Ketentuan Peralihan
- Bab XV (pasal 43) : Ketentuan Penutup.
Menurut PP 74/2001: bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya
disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan
atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat
mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta
makhluk hidup lainnya (pasal 1 ayat 1). Sedangkan sasaran pengelolaan B3
adalah 'untuk mencegah dan atau mengurangi resiko dampak B3 terhadap
lingkungan hidup, kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya (pasal 2).

Pengertian pengelolaan B3 adalah kegiatan yang menghasilkan,


mengangkut, mengedarkan, menyimpan, menggunakan dan atau membuang B3
(pasal 1 ayat 2). Dalam kegiatan tersebut, terkait berbagai pihak yang merupakan
mata rantai dalam pengelolaan B3. Setiap mata rantai tersebut memerlukan
pengawasan dan pengaturan. Oleh karenanya, pasal-pasal berikutnya mengatur
masalah kewajiban dan perizinan bagi mereka yang akan memproduksi
(menghasilkan), mengimpor, mengeksport, mendistribusikan, menyimpan,
menggunakan dan membuang bahan tersebut bilamana tidak dapat digunakan
kembali. Disamping aspek yang terkait dengan pencegahan terjadinya
pencemaran lingkungan dan atau kerusakan lingkungan yang menjadi kewajiban
yang harus dilaksanakan oleh setiap fihak yang terkait, maka aspek keselamatan
dan kesehatan kerja serta penanggulangan kecelakaan dan keadaan darurat diatur
dalam PP tersebut.

2.3 Peraturan Pengelolaan Limbah B3


Pada dasarnya pengelolaan limbah B3 di Indonesia mengacu pada prinsip-
prinsip dan pedoman pembangunan berkelanjutan yang telah dituangkan dalam
peraturan perudang-undangan, khususnya Undang- undang No.32 tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 59 UU tersebut
menggariskan bahwa:

1. Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan


limbah B3 yang dihasilkannya.
2. Dalam hal B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1) telah
kedaluwarsa, pengelolaannya mengikuti ketentuan pengelolaan limbah B3.
3. Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan limbah
B3, pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain.
4. Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari Menteri, gubernur, atau
bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya.
5. Menteri, gubernur, atau bupati/walikota wajib mencantumkan persyaratan
lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan kewajiban yang harus dipatuhi
pengelola limbah B3 dalam izin.
6. Keputusan pemberian izin wajib diumumkan.
Secara spesifik pengelolaan limbah B3 telah diatur lebih lanjut dalam:

- Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan


Berbahaya dan Beracun (PP18/1999)
- Peraturan Pemerintah No 85 tahun 1999 tentang Perubahan Peraturan
Pemerintah No. 18 tahun 1999 (PP85/1999) PP 18/99 jo PP 85/99 merupakan
pengganti PP 19/94 jo PP12/95. Peraturan-peraturan lain yang mengatur
masalah limbah B3 adalah Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak
Lingkungan dari No. 01/Bapedal/09/1995 sampai No. 05/Bapedal/09/1995
yang merupakan pengaturan lebih lanjut PP19/1994 dan PP12/1995, dan tetap
masih berlaku sebagai pengaturan lebih lanjut dari PP 18/99 jo PP 85/99.
Dalam hal masalah lintas batas limbah ini, Indonesia telah meratifikasi
Konvensi Basel, yang berupaya mengatur ekspor dan impor serta pembuangan
limbah B3 secara tidak syah. Sebagai negara kepulauan dengan perairannya yang
terbuka, Indonesia sangat potensial sebagai tempat pembuangan limbah
berbahaya, baik antar pula di Indonesia, maupun limbah yang datang dari luar
negeri. Peraturan-peraturan yang langsung menangani lintas batas limbah adalah:

Keputusan Presiden RI No.61/1993 tentang Pengesahan Convension on The


Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal,

Keputusan Menteri Perdagangan RI No. 349/Kp/XI/92 tentang pelarangan impor


limbah B3 dan plastik
Keputusan Menteri Perdagangan RI No.155/Kp/VII/95 tentang barang yang
diatur tata niaga impornya

Keputusan Menteri Perdagangan RI No.156/Kp/VII/95 tentang prosedur impor


limbah

Disamping itu, PP 18/1999 jo PP 85/1995 melarang impor limbah B3


kecuali dibutuhkan untuk penambahan kekurangan bahan baku sebagai bagian
pelaksanaan daur-ulang limbah. Dengan SK Menteri Perdagangan No.
156/KP/VII/95, limbah B3 yang dapat diimpor adalah skrap timah hitam (aki
bekas), sampai jangka waktu terbatas.

Selain itu, ada pula PP 18/1999 tentang pengelolaan limbah berbahaya dan
beracun terdiri dari 8 bab yang dibagi lagi menjadi 42 pasal. Kedelapan bab
tersebut adalah :

- Bab I (pasal 1 sampai 5): Ketentuan umum,


- Bab II (pasal 6 sampai 8): Identifikasi limbah B3
- Bab III (pasal 9 sampai 26): Pelaku pengelolaan,
- Bab IV (pasal 27 sampai 39): Kegiatan pengelolaan ,
- Bab V (pasal 40 sampai 61): Tata laksana,
- Bab VI (pasal 62 sampai 63): Sanksi,
- Bab VII (pasal 64 sampai 65): Ketentuan peralihan,
- Bab VIII (pasal 66): Ketentuan penutup
2.4 Pengemasan dan Penyimpanan Limbah B3
Pengemasan (packaging) juga diatur dan perlu dicantumkan dalam surat
pengangkutan. Alat pengemas dapat berupa: drum baja, kotak kayu, drum fiber,
botol gelas dan sebagainya.
Pengemasan yang baik mempunyai kriteria:

Bahan tersebut selama pengangkutan tidak terlepas ke luar


Keefektifannya tidak berkurang
Tidak terdapat kemungkinan pencampuran gas dan uap
Terdapat 3 jenis kelompok pengemasan, yaitu:

- Kelompok I: derajat bahaya besar


- Kelompok II: derajat bahaya sedang
- Kelompok III: derajat bahaya kecil.
Pengemas dan Pewadah Limbah B3 Versi Kep No.01/Bapedal/09/1995:

Di Indonesia, ketentuan tentang pengemasan dan pewadahan limbah B3


diatur dalam Kep. No.01/Bapedal/09/1995. Ketentuan dalam bagian ini berlaku
bagi kegiatan pengemasan dan pewadahan limbah B3 di fasilitas:

a. Penghasil, untuk disimpan sementara di dalam lokasi penghasil;


b. Penghasil, untuk disimpan sementara di luar lokasi penghasil tetapi tidak
sebagai pengumpul;
c. Pengumpul, untuk disimpan sebelum dikirim ke pengolah;
d. Pengolah, sebelum dilakukan pengolahan dan atau penimbunan;
Setiap penghasil/pengumpul limbah B3 harus dengan pasti mengetahui
karakteristik bahaya dari setiap limbah B3 yang dihasilkan/dikumpulkan. Apabila
ada keragu-raguan dengan karakteristik limbahnya, maka harus dilakukan
pengujian. Bagi penghasil yang menghasilkan limbah B3 yang sama secara terus
menerus, maka pengujian dapat dilakukan sekurang-kurangnya satu kali. Apabila
dalam perkembangannya terjadi perubahan kegiatan yang diperkirakan
mengakibatkan berubahnya karakteristik limbah yang dihasilkan, maka terhadap
masing-masing limbah B3 hasil kegiatan perubahan tersebut harus dilakukan
pengujian kembali terhadap karakteristiknya.

Bentuk, ukuran dan bahan kemasan limbah B3 disesuaikan dengan


karakteristik limbah B3 yang akan dikemasnya dengan mempertimbangkan segi
kemanan dan kemudahan dalam penanganannya. Kemasan dapat terbuat dari
bahan plastik (HPDE, PP atau PVC) atau bahan logam (teflon, baja karbon,
SS304, SS316, atau SS440) dengan syarat bahan kemasan yang dipergunakan
tersebut tidak bereaksi dengan limbah B3 yang disimpannya.
Penyimpanan kemasan menurut Keputusan Bapedal
No.01/Bapedal/09/1995 dibuat dengan sistem blok. Setiap blok terdiri atas 2
(dua) x 2 (dua) kemasan, sehingga dapat dilakukan pemeriksaan menyeluruh
terhadap setiap kemasan. Dengan demikian jika terdapat kerusakan kecelakaan
dapat segera ditangani. Lebar gang antar blok minimal 60 cm untuk memudahkan
petugas melaluinya, sedang lebar gang untuk lalu lintas kendaraan pengangkut
(forklift) disesuaikan dengan kelayakan pengoperasiannya.

Penumpukan kemasan harus mempertimbangkan kestabilan tumpukan


kemasan. Jika kemasan berupa drum logam (isi 200 liter), maka tumpukan
maksimum adalah 3 lapis dengan tiap lapis dialasi palet, dan setiap palet
mengalasi 4 drum. Jika tumpukan lebih dan 3 lapis atau kemasan terbuat dari
plastik, maka harus dipergunakan rak. Jarak tumpukan kemasan tertinggi dan
jarak blok kemasan terluar terhadap atap dan dinding bangunan penyimpanan
tidak boleh kurang dari 1 m.

Penyimpanan limbah cair dalam jumlah besar disarankan menggunakan


tangki dengan ketentuan sebagai berikut:

- Disekitar tangki harus dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran pembuangan


yang menuju bak penampung.
- Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal
110% dan kapasitas maksimum volume tangki
- Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di
daerah tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain.
- Tangki harus terlindung dari penyinaran matahari dan masuknya air hujan
secara langsung.
Persyaratan bangunan penyimpanan kemasan limbah B3 adalah:

- Memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesuai dengan
jenis, karakteristik dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan/akan disimpan;
- Terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak
langsung;
- Dibuat tanpa plafon dan memiliki sistem ventilasi udara yang memadai untuk
mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruang penyimpanan, serta
memasang kasa atau bahan lain untuk mencegah masuknya burung atau
binatang kecil lainnya ke dalam ruang penyimpanan;
- Memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai untuk
operasional atau inspeksi rutin. Jika menggunakan lampu, maka lampu
penerangan harus dipasang minimal 1 meter di atas kemasan, sakelar harus
terpasang di sisi luar bangunan;
- Dilengkapi dengan sistem penangkal petir;
- Pada bagian luar tempat penyimpanan diberi penandaan (simbol) sesuai dengan
tata cara yang berlaku.
- Lantai bangunan penyimpanan harus kedap air, tidak bergelombang, kuat dan
tidak retak. Lantai bagian dalam dibuat melandai kearah bak penampungan
dengan kemiringan maksimum 1%. Pada bagian luar bangunan, kemiringan
lantai diatur sedemikian rupa sehingga air hujan dapat mengalir menjauhi
bangunan penyimpanan.
Tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan lebih dari 1
karakteristik limbah B3, mempunyai beberapa persyaratan:

- Terdiri dari beberapa bagian penyimpanan, dengan ketentuan bahwa setiap


bagian penyimpanan hanya diperuntukkan menyimpan 1 karakteristik limbah
B3, atau limbah- limbah B3 yang saling cocok.
- Antara bagian penyimpanan satu dengan lainnya dibuat tanggul atau tembok
pemisah untuk menghindarkan tercampurnya atau masuknya tumpahan limbah
ke bagian lainnya.
- Setiap bagian penyimpanan harus mempunyai bak penampung tumpahan
limbah dengan kapasitas yang memadai.
- Sistem dan ukuran saluran yang ada dibuat sebanding dengan kapasitas
maksimum limbah B3 yang tersimpan sehingga cairan yang masuk ke
dalamnya dapat mengalir dengan lancar ke tempat penampungan yang telah
disediakan.
- Sarana lain yang harus tersedia adalah: peralatan dan sistem pemadam
kebakaran, pagar pengaman, pembangkit listrik cadangan, fasilitas pertolongan
pertama, peralatan komunikasi, gudang tempat penyimpanan peralatan dan
perlengkapan, pintu darurat, dan alarm.
Persyaratan bangunan penyimpanan limbah B3 mudah terbakar:

- Jika bangunan berdampingan dengan gudang lain maka harus dibuat tembok
pemisah tahan api, berupa tembok beton bertulang (tebal minimum 15 cm) atau
tembok bata merah (tebal minimum 23 cm) atau blok-blok (tidak berongga) tak
bertulang (tebal minimum 30 cm).
- Pintu darurat dibuat tidak pada tembok tahan api.
- Jika bangunan dibuat terpisah dengan bangunan lain, maka jarak minimum
dengan bangunan lain adalah 20 meter.
- Untuk kestabilan struktur pada tembok penahan api dianjurkan digunakan
tiang-tiang beton bertulang yang tidak ditembusi oleh kabel listrik.
- Struktur pendukung atap terdiri dari bahan yang tidak mudah menyala.
Konstruksi atap dibuat ringan, dan mudah hancur bila ada kebakaran, sehingga
asap dan panas akan mudah keluar.
- Menggunakan instalasi yang tidak menyebabkan ledakan/percikan listrik
- Dilengkapi dengan: sistem pendeteksi dan pemadam kebakaran, persediaan air
untuk pemadam api, hidran pemadam api dan perlindungan terhadap hidran.
Rancang bangun untuk penyimpanan limbah B3 mudah meledak:

- Konstruksi bangunan dibuat tahan ledakan dan kedap air. Konstruksi lantai dan
dinding dibuat lebih kuat dari konstruksi atap, sehingga bila terjadi ledakan
yang sangat kuat akan mengarah ke atas dan tidak ke samping.
- Suhu dalam ruangan harus tetap dalam kondisi normal. Desain bangunan
sedemikian rupa sehingga cahaya matahari tidak langsung masuk ke ruang
gudang.
Rancang bangun khusus untuk penyimpan limbah B3 reaktif, korosif dan beracun:

- Konstruksi dinding dibuat mudah dilepas guna memudahkan pengamanan


limbah dalam keadaan darurat.
- Konstruksi atap, dinding dan lantai harus tahan terhadap korosi dan api.
Persyaratan bangunan untuk penempatan tangki:

- Tangki penyimpanan limbah B3 harus terletak di luar bangunan tempat


penyimpanan limbah
- Merupakan konstruksi tanpa dinding, memiliki atap pelindung dengan lantai
yang kedap air
- Tangki dan daerah tanggul serta bak penampungannya terlindung dari
penyinaran matahari secara langsung serta terhindar dari masuknya air hujan
langsung maupun tidak langsung
Lokasi bangunan tempat penyimpanan kemasan drum/tong, bangunan tempat
penyimpanan bak kontainer dan bangunan tempat penyimpanan tangki:

- Merupakan daerah bebas banjir, atau diupayakan aman dari kemungkinan


terkena banjir;
- Jarak minimum antara lokasi dengan fasilitas umum adalah 50 meter.
BAB III

STUDI KASUS

Salah satu perusahaan tambang di Indonesia yang banyak memberikan


kerusakan bagi lingkungan akibat limbah tailing-nya adalah PT. Freeport yang
merupakan tambang emas terbesar di dunia dengan cadangan terukur kurang lebih
3046 ton emas, 31 juta ton tembaga, dan 10 ribu ton lebih perak tersisa di
pegunungan Papua. Prediksi buangan tailing dan limbah batuan hasil pengerukan
cadangan terbukti hingga 10 tahun ke depan adalah 2.7 milyar ton. Sehingga
untuk keseluruhan produksi di wilayah cadangan terbukti, PT. Freeport Indonesia
akan membuang lebih dari 5 milyar ton limbah batuan dan tailing. Untuk
menghasilkan 1 gram emas di Grasberg, yang merupakan wilayah paling
produktif, dihasilkan kurang lebih 1.73 ton limbah batuan dan 650 kg tailing. Bisa
dibayangkan, jika Grasberg mampu menghasilkan 234 kg emas setiap hari, maka
akan dihasilkan kurang lebih 15 ribu ton tailing per hari. Jika dihitung dalam
waktu satu tahun mencapai lebih dari 55 juta ton tailing dari satu lokasi saja.

PT. FREEPORT

PT. Freeport Indonesia adalah sebuah perusahaan pertambangan yang


mayoritas sahamnya dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold
Inc.. Perusahaan ini adalah pembayar pajak terbesar kepada Indonesia dan
merupakan perusahaan penghasil konstentrat emas dan tembaga terbesar di dunia
melaluitambang Grasberg. Freeport Indonesia telah melakukan eksplorasi di dua
tempat di Papua, masing-masingtambang Erstberg (dari 1967) dan tambang
Grasberg (sejak 1988), di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika, Provinsi
Papua.

Bahan Tambang yang Dihasilkan PT. Freport adalah:tembaga, emas,


silver, molybdenum, rhenium. Selama ini hasil bahan yang di tambang tidaklah
jelas karena hasil tambang tersebut di kapalkan ke luar indonesia untuk di
murnikan sedangkan molybdenum dan rhenium adalah merupakan sebuah hasil
samping dari pemrosesan bijih tembaga.
Sumbangan Freeport terhadap bangkrutnya kondisi alam dan lingkungan
sangatlah besar. Menurut perhitungan WALHI pada tahun 2001, total limbah
batuan yang dihasilkan PT. Freeport Indonesia mencapai 1.4 milyar ton. Masih
ditambah lagi, buangan limbah tambang (tailing) ke sungai Ajkwa sebesar 536
juta ton. Total limbah batuan dan tailing PT Freeport mencapai hampir 2 milyar
ton lebih. Freeport tidak memenuhi perintah membangun bendungan
penampungan tailing yang sesuai dengan standar teknis legal untuk bendungan,
namun masih menggunakan tanggul (levee) yang tidak cukup kuat. Selain itu
Freeport mengandalkan izin yang cacat hukum dari pegawai pemerintah setempat
untuk menggunakan sistem sungai dataran tinggi untuk memindahkan tailing.

Berdasarkan analisis citra LANDSAT TM tahun 2002 yang dilakukan oleh


tim WALHI, limbah tambang (tailing ) Freeport tersebar seluas 35,000 ha lebih di
DAS Ajkwa. Limbah tambang masih menyebar seluas 85,000 hektar di wilayah
muara laut, yang jika keduanya dijumlahkan setara dengan Jabodetabek. Total
sebaran tailing bahkan lebih luas dari pada luas area Blok A (Grasberg) yang saat
ini sedang berproduksi. Peningkatan produksi selama 5 tahun hingga 250,000 ton
bijih perhari dapat diduga memperluas sebaran tailing, baik di sungai maupun
muara sungai. Freeport tidak lagi menyebutkan Ajkwa sebagai sungai, tetapi
sebagai wilayah tempatan tailing yang disetujui oleh Pemerintah Republik
Indonesia. Freeport bahkan menyebutkan Sungai Ajkwa sebagai sarana
transportasi dan pengolahan tailing hal mana sebetulnya bertentangan dengan
hukum di Indonesia.

Freeport mencemari sistem sungai dan lingkungan muara sungai, yang


melanggar standar baku mutu air sepanjang tahun 2004 hingga 2006. Dan yang
tidak kalah parah adalah membuang Air Asam Batuan (Acid Rock Drainage)
tanpa memiliki surat izin limbah bahan berbahaya beracun. Buangan Air Asam
Batuan sudah sampai pada tingkatan yang melanggar standar limbah cair industri,
membahayakan air tanah, dan gagal membangun pos-pos pemantauan seperti
yang telah diperintahkan. Kandungan logam berat tembaga (Cu) yang melampaui
ambang batas yang diperkenankan. Kandungan tembaga terlarut dalam efluent air
limbah Freeport yang dilepaskan ke sungai maupun ke Muara S. Ajkwa 2 kali
lipat dari ambang yang diperkenankan. Sementara itu untuk kandungan padatan
tersuspensi (Total Suspended Solid) yang dibuang 25 kali lipat dari yang
diperkenankan. Sistem pembuangan limbah Freeport mengancam mata rantai
makanan yang terindikasi kewat kandungan logam berat yaitu selenium (Se),
timbal (Pb), arsenik (As), seng (Zn), mangan (Mn), dan tembaga (Cu) pada
sejumlah spesies kunci yaitu: burung raja udang, maleo, dan kausari serta
sejumlah mamalia yang kadangkala dikonsumsi penduduk setempat. Sistem
pembuangan limbah Freeport menghancurkan habitat muara sungai Ajkwa secara
signifikan. Hal ini diindikasikan oleh peningkatan kekeruhan muara dan
tersumbatnya aliran ke muara. Dalam jangka panjang wilayah muara seluas 21
sampai 63 Km persegi akan rusak.
BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Sumber limbah B3

Pada study kasus PT. Freeport, sumber limbah utama yang sangat besar yaitu terdapat
pada limbah tambang tailing. Tailing adalah bahan-bahan yang dibuang setelah proses
pemisahan material berharga dari material yang tidak berharga dari suatu bijih.
4.2 Karakteristik limbah B3
KLASIFIKASI B3 menurut PP no 74 thn 2001
Pasal 5
(1) B3 dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. mudah meledak (explosive);
b. pengoksidasi (oxidizing);
c. sangat mudah sekali menyala (extremely flammable);
d. sangat mudah menyala (highly flammable);
e. mudah menyala (flammable);
f. amat sangat beracun (extremely toxic);
g. sangat beracun (highly toxic);
h. beracun (moderately toxic);
i. berbahaya (harmful);
j. korosif (corrosive);
k. bersifat iritasi (irritant);
l. berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment);
m. karsinogenik (carcinogenic);
n. teratogenik (teratogenic);
o. mutagenik (mutagenic).
(2) Klasifikasi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari :
a. B3 yang dapat dipergunakan;
b. B3 yang dilarang dipergunakan; dan
c. B3 yang terbatas dipergunakan.
(3) B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tercantum dalam Lampiran
Peraturan Pemerintah ini.
4.3 Prinsip pengolahan limbah B3
Sesuai dengan maksud dari strategi pengelolaan kualitas lingkungan
adalah cara untuk menentukan kualitas lingkungan yang lebih baik, maka ada 10
cara yang dapat dilakukan :

1. Tata Letak Lokasi Ruang


Dilihat dari lokasi penambangan utama P.T. Freeport Indonesia Blok A
Grassberg yang berada di ketinggian 4200 m di permukaan laut. Lokasi
penambangan P.T. Freeport Indonesia adalah berupa gunung cadas yang kaya
akan mineral tambang. Tetapi, dilihat dari ketinggiannya yang berada 4200 meter
di atas permukaan laut, lokasi penambangan ini tentu saja merupakan kawasan
yang ditopang oleh ekosistem di bawahnya. Jadi, apabila kawasan ini terganggu
maka akan merusak keseimbangan ekosistem yang berada di bawahnya. Jadi
seharusnya, apabila akan dilakukan penambangan di lokasi penambangan P.T.
Freeport Indonesia yang sekarang maka harus dilakukan studi mengenai dampak
kerusakan lingkungan yang akan terjadi yang dilakukan secara komprehensif dan
mendalam. Jelas, hal ini tidak dilakukan oleh P.T. Freeport maupun oleh
Pemerintah Indonesia yang dalam hal ini sebagai pemilik wilayah.

2. Penerapan Teknologi Bersih


Tentu sangat sulit menerapkan teknologi bersih dalam kasus P.T. Freeport.
Karena untuk menghasilkan 1 gram emas di Grassberg, yang merupakan wilayah
paling produktif, dihasilkan kurang lebih 1.73 ton limbah batuan dan 650 kg
tailing. Bisa dibayangkan, jika Grasberg mampu menghasilkan 234 kg emas setiap
hari, maka akan dihasilkan kurang lebih 15 ribu ton tailing per hari. Jika dihitung
dalam waktu satu tahun mencapai lebih dari 55 juta ton tailing dari satu lokasi
saja. Sejak tahun 1995, jumlah batuan limbah yang telah dibuang sebanyak 420
juta ton. Di akhir masa tambang, jumlah total limbah batuan adalah 4 milyar ton.
Di akhir masa tambang ketinggian tumpukan limbah batuan adalah 500 meter.
Diperkirakan, tambang Grasberg harus membuang 2,8 milyar ton batuan penutup
hingga penambangan berakhir tahun 2041. Melakukan efisiensi konversi bahan
dalam kegiatan pertambangan merupakan hal yang hamper mustahil dilakukan
karena pada dasarnya, kegiatan pertambangan adalah kegiatan eksploitasi sumber
daya alam besar-besaran. Dalam kasus P.T. Freeport, yang dapat dilakukan
hanyalah meyimpan lapisan tanah atas (top soil) hasil pengupasan yang dilakukan
untuk mendapatkan mineral tambang (ore) di bawahnya untuk menutup kembali
dan penghijauan lokasi pertambangan yang sudah tidak produktif lagi nantinya.

3. Sistem Pengelolaan Limbah


Sistem pengelolaan limbah yang dilakukan P.T. Freeport Indonesia saat ini
adalah limbah batuan akan disimpan pada ketinggian 4200 m di sekitar Grassberg.
Total ketinggian limbah batuan akan mencapai lebih dari 200 meter pada tahun
2025. Sementara limbah tambang secara sengaja dan terbuka akan dibuang ke
Sungai Ajkwa yang dengan tegas disebutkan sebagai wilayah penempatan tailing
sebelum mengalir ke laut Arafura. Tempat penyimpanan limbah batuan dilakukan
di Danau Wanagon. Danau Wanagon bukanlah danau seperti dalam bayangan
umum. Wanagon lebih tepat disebut basin (kubangan air besar) yang terbentuk
dari air hujan. Sejak PT Freeport Indonesia (FI) menambang mineral di Grasberg
tahun 1992, Wanagon dipilih sebagai lokasi pembuangan batuan penutup
(overburden) yang menutupi mineralnya (ore). Penggunaan Danau Wanagon
menjadi tempat penimbunan limbah batuan telah merupakan pencemaran air dan
merubah fungsi danau yang menjadi sumber air bagi masyarakat sekitarnya,
seperti dari Desa Banti/Waa. P.T. Freeport dan pemerintah Indonesia telah
melanggar peraturan yang terkait dengan pembuangan limbah tersebut ke Danau
Wanagon, diantaranya adalah :

1. UU no. 4 tahun 1982 yang telah dirubah menjadi UU no. 23 tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup

2. PP no. 20 tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air.

3. PP no. 18 tahun 1994 jo PP no. 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B3.

Dari penjelasan di atas jelas dikatakan bahwa limbah batuan Grasberg merupakan
limbah B3 karena mengandung logam berat. Dalam pasal 3 menyatakan "Setiap
orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menghasilkan limbah B3
dilarang membuang limbah B3 yang dihasilkannya itu secara langsung ke dalam
media lingkungan bidup tanpa pengolahan terlebih dahulu" dan pasal 29 ayat 2
menyatakan bahwa "Tempat penyimpanan limbah B3 sebagaimana dimaksud paa
ayat 1 wajib memenuhi syarat :

a). lokasi tempat penyimpanan yang bebas banjir, tidak rawan bencana, dan di
luar kawasan lindung serta sesuai dengan rencana tata ruang.

B). rancangan bangunan disesuaikan dengan jumlah, karakteristik limbah B3 dan


upaya pengendalian pencemaran lingkungan".

4. Kemudian berdasarkan PP 18 tahun 1994 jo PP 85 tahun 1999 jelas


pembuangan limbah batuan yang merupakan limbah B3 secara langsung ke Danau
Wanagon merupakan pelanggaran hukum. Selain itu, penggunaan Sungai Ajkwa
sebagai wilayah penempatan tailing sebelum mengalir ke laut Arafura adalah
permasalahan lainnya. Freeport tidak lagi menyebutkan Ajkwa sebagai sungai,
tetapi sebagai wilayah tempatan

tailing yang disetujui oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Freeport bahkan menyebutkan Sungai Ajkwa sebagai sarana transportasi dan


pengolahan tailing hal mana sebetulnya bertentangan dengan hukum di Indonesia.

4. Pengelolaan Media Lingkungan


Pengelolaan media lingkungan agar media lingkungan mempunyai daya
dukung lebih tinggi tidak dilakukan oleh P.T. Freeport. Penggunaan Sungai
Ajkwa sebagai ADA (Ajkwa Deposition Area) untuk mengalirkan limbah tailing
sebelum dialirkan ke Laut Arafura dan menumpuk limbah batuan (overburden) di
Danau Wanagon adalah contohnya. Tanpa melakukan modifikasi media
lingkungan dan bahkan tanpa pengolahan sedikitpun, P.T. Freeport membuang
begitu saja limbah-limbah tersebut. Sekarang, sangat sulit dan hampir tidak
mungkin untuk mengembalikan Sungai Ajkwa dan Danau Wanagon ke fungsi
ekologis seperti sediakala. Proses Sedimentasi yang terjadi di sepanjang DAS
Ajkwa dan tumpukan limbah batuan yang berada di Danau Wanagon suddah
terlalu parah. Bahkan, di Danau Wanagon saat ini yang tersisa hanyalah batuan
dan pasir. Tidak tersisa sedikitpun pemandangan yang menunjukkan kalau tadinya
Wanagon adalah suatu tempat yang mempunyai fungsi ekologis sebagai danau.
5. Perubahan Baku Mutu
Melakukan perubahan baku mutu yang dilakukan apabila daya dukung
lingkungan yang ada tidak dapat mencerna bahan-bahan luar atau limbah yang
masuk ke dalam lingkungan tersebut. Cara ini sudah tidak mungkin dilakukan
pada kasus P.T. Freeport yang sudah sedimikian rupa. Kandungan tembaga (Cu)
serta TSS (Total Suspended Solids) yang ada sudah jauh melebihi batas yang
diperbolehkan. Di bawah ini terdapat tabel yang menggambarkan parameter
pencemar di Sungai Ajkwa.

Sungai Ajkwa

Bagian Bawah (Lower Ajkwa River) mengandung 28 hingga 42 mikrogram

per liter (g/L) tembaga larut (dissolved copper), dua kali lipat melebihi batas
legal untuk air tawar si Indonesia yaitu 20 g/L, dan jauh melampaui acuan untuk
air tawar yang diterapkan pemerintah Australia, yaitu 5,5 g/L. Lebih jauh ke
hilir, kandungan tembaga larut pada air tawar sebelum Muara Ajkwa juga
melanggar batas dengan 22 25 g/L dan bisa mencapai 60 g/L.

Untuk kondisi

air laut di Muara Ajkwa Bagian Bawah, standar ASEAN dan Indonesia untuk
tembaga larut adalah 8 g/L, dan acuan pemerintah Australia adalah 1,3 g/L.
Pencemaran Freeport-Rio Tinto di daerah ini juga melebihi batas legal:
kandungan tembaga larut mencapai rata-rata 16 g/L dengan rentang tertinggi 36
g/L. Batas legal total padatan tersuspensi (total suspended solids, TSS) dalam air
tawar adalah 50 mg/L. Sedangkan tailing yang mencemari sungai-sungai di
dataran tinggi memiliki tingkat TSS mencapai ratusan ribu mg/L. Tigapuluh
kilometer masuk ke dataran rendah Daerah Pengendapan Ajkwa, tingkat TSS di
Sungai Ajkwa bagian Bawah mencapai seratus kali lipat dari batas legal. Lebih
jauh ke hilir dari ADA, di Muara Ajkwa bagian bawah, TSS mencapai 1.300
mg/L, 25 kali lipat melampaui batas. Mutu air di perairan hutan bakau di Muara
Ajkwa juga 10 kali lipat melampaui batas legal untuk TSS di lingkungan air laut
(80 mg/L), dengan TSS rata-rata 900 mg/L. Demi mencegah kerusakan
lingkungan yang lebih parah di masa datang, sekali lagi Walhi meminta
pemerintah untuk melaksanakan pengambilan sampel secara berkala dan cermat,
daripada mengandalkan laporan dari perusahaan. Pemerintah juga harus
menerbitkan semua informasi lingkungan pada masyarakat sesuai Undang-undang
Lingkungan Hidup (1997). Mengkaji ulang peraturan pajak dan royalti demi
meningkatkan keuntungan bagi komunitas yang terkena dampak, propinsi Papua,
demi mengurangi beban kerusakan lingkngan sejauh ini. Membentuk Panel
Independen untuk memetakan sejumlah skenario bagi masa depan Freeport,
termasuk tanggal penutupan, pengolahan (processing) dan pengelolaan limbah.
Kemudian pemerintah harus menyewa konsultan independen untuk mengkaji
setiap skenario dari segi sosial dan teknis secara rinci dan independen. Kajian ini
kemudian harus digunakan sebagai dasar untuk pembahasan mengenai masa
depan tambang oleh penduduk lokal dan pihak berkepentingan lainnya.

6. Pengelolaan dan Daur Ulang Limbah


Limbah, termasuk limbah berbahaya (B3) dalam jumlah kecil, dipilah-
pilah pada titik pengumpulan asal. Pengumpulan, pengemasan, penyimpanan
limbah B3 yang dihasilkan dari pekerjaan ujicoba terhadap sampel bijih logam,
laboratorium analitis, dan proses-proses lainnya dikelola dengan menaati
ketentuan Pemerintah Indonesia. Limbah B3 dipilah dan disimpan di gudang-
gudang khusus hingga pada saatnya dikirim ke instalasi pembuangan limbah
berbahaya lainnya di Indonesia yang telah disetujui. Limbah medis dipilah dari
limbah lainnya dan ditempatkan di dalam wadah khusus untuk pemusnahan akhir
pada instalasi insinerator limbah medis bersuhu tinggi yang sudah ada izinnya dan
berada di lokasi.
7. Penutupan Tambang
PT Freeport Indonesia mempunyai rencana penutupan tambang yang
merupakan analisa dan strategi terbaru untuk pengelolaan penutupan. Adapun
strategi penutupan yang dianut PT Freeport Indonesia secara keseluruhan adalah
mengidentifikasi, memantau dan mengurangi dampak, baik terhadap lingkungan
maupun sosial, melalui program-program pengelolaan yang tengah berjalan
selama tahapan operasional. Hal ini guna menjamin agar proses
decommissioning (penutupan kegiatan dan sarana), reklamasi dan kegiatan
pemantauan lingkungan yang diperlukan pada saat penutupan dan bahwa selama
tahapan pasca penutupan, seluruh kegiatan dapat dikelola dengan efektif; dampak
penutupan tambang terhadap ekonomi dan masyarakat setempat dapat dikelola
dengan baik, dan serah-terima setiap aset yang tersisa, berikut pengalihan
tanggung jawab atas kawasan tambang tersebut kepada pemerintah Indonesia
dapat berjalan lancar dan efisien.

8. Reklamasi dan Penghijauan Kembali

1. Daerah Dataran Tinggi

Kajian-kajian intensif yang telah dilakukan berhasil mengidentifikasi jenis-jenis


tanaman dataran tinggi yang dapat tumbuh subur di atas lahan reklamasi, dan
penelitian saat ini dilakukan dirancang untuk menemukan cara meningkatkan daya
tahan spesies-spesies tersebut pada kondisi yang sulit. Titik berat penelitian yang
dilakukan selama tahun 2005 adalah peran iklim setempat dalam pembentukan
lumut serta suksesi alami yang cepat pada daerah penempatan akhir overburden.
Adapun manfaat dari transplantasi diamati dari keberhasilan menumbuhkan
tanaman alami yang dihasilkan dan/atau diperkenalkan lewat transplantasi pada
daerah uji coba. Spesies-spesies asli Deschampsia klossii, Anaphalis helwigii dan
berbagai herba asli terbukti dapat diprediksi dan memilih daya tahan sangat tinggi
terhadap kondisi di Grasberg, serta mampu berkembang biak secara mandiri dan
tumbuh dengan pesat di daerah tersebut.

2. Daerah Dataran Rendah

Di daerah dataran rendah, penelitian reklamasi telah berulangkali membuktikan


keberhasilan spesies tanaman asli untuk melakukan kolonisasi secara pesat dan
alami di atas tanah yang mengandung tailing. Tanah yang mengandung tailing
sangat cocok untuk ditanami sejumlah tanaman pertanian apabila tanah tersebut
diperbaiki dengan menambahkan karbon organik. Tujuan dari program reklamasi
dan penghijauan kembali PT FI di daerah dataran rendah adalah untuk mengubah
endapan tailing pada daerah pengendapan menjadi lahan pertanian atau
dimanfaatkan sebagai lahan produktif lainnya, atau menumbuhkannya kembali
dengan tanaman asli setelah kegiatan tambang berakhir. Hingga akhir tahun 2005,
138 spesies tumbuhan berhasil ditanam di atas tanah yang mengandung tailing.
Beberapa spesies tanaman yang berhasil di uji coba hingga saat ini termasuk
tanaman kacang-kacangan penutup tanah untuk dijadikan pakan ternak; pohon-
pohon lokal seperti casuarina dan matoa; tanaman pertanian seperti nanas, melon,
dan pisang; serta sayur mayur dan bijih-bijihan seperti cabai, ketimun, tomat,
padi, buncis dan labu. Sejumlah besar spesies tanaman pangan dan buah-buahan
tersebut berhasil dipanen pada tahun 2005.

9.Pemantauan Lingkungan

Program jangka panjang pemantauan lingkungan hidup PTFI


mengevaluasi potensi dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan pertambangan,
dengan secara rutin mengukur mutu air, biologi, hidrologi, sedimen, mutu udara
dan meteorologi di dalam wilayah kegiatan. Pada tahun 2005, program
pemantauan secara keseluruhan tersebut mencakup pengumpulan hampir 7.500
sampel lingkungan hidup dan pelaksanaan lebih 52.000 analisa secara terpisah
terhadap sampel-sampel tersebut, termasuk biologi akuatik, jaringan akuatik,
jaringan tumbuhan, air tambang, air permukaan, air tanah, air limbah sanitasi,
sedimen sungai, dan tailing.

10. Audit Lingkungan

Sebuah audit independen eksternal tiga tahunan terhadap lingkungan telah


dilakukan oleh Montgomery Watson Harza dalam rangka memenuhi salah satu
komitmen PT FI yang tertuang dalam dokumen Analisa Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL) yang telah disetujui Pemerintah Indonesia pada tahun
1997. Audit tersebut menyimpulkan bahwa kegiatan pertambangan PTFI
termasuk kegiatan terbesar di dunia dengan tingkat tantangan dan kerumitan
lingkungan yang terbesar pula dan bahwa praktik -praktik pengelolaan
lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut masih tetap didasarkan atas
(dan dalam beberapa hal mewakili) praktik-praktik pengelolaan terbaik untuk
industri internasional penambangan tembaga dan emas.

4.4 Dampak limbah B3


PT.Freeport telah mematikan 23.000 ha hutan di wilayah pengendapan
tailing, mengubah bentang alam karena erosi maupun sedimentasi, meluapnya
sungai karena pendangkalan endapan tailing. Sistem pembuangan limbah Freeport
mengancam mata rantai makanan yang terindikasi lewat kandungan logam berat
yaitu Selenium (Se), Timbal (Pb), Arsenik (As), Seng (Zn), Mangan (Mn) dan
Tembaga (Cu) pada sejumlah spesies kunci yaitu burung raja udang, maleo, dan
kausari serta sejumlah mamalia yang kadangkala dikonsumsi penduduk setempat.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari studi kasus yang kelompok kami analisis mengenai Pengolahan


Limbah B3 PT.Freeport maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Sumber limbah B3 yang berasal dari PT.Freeport yaitu terdapat pada limbah
tambang tailing. Tailing adalah bahan-bahan yang dibuang setelah proses pemisahan
material berharga dari material yang tidak berharga dari suatu bijih.
2. Karakteristik limbah B3
3. Prinsip limbah B3
1. Tata letak lokasi ruang
2. Teknologi, menerapkan teknologi bersih
3. Sistem Pengelolaan limbah
4. Pengelolaan Media Lingkungan
5. Perubahan Baku Mutu
6. Pengelolaan dan Daur Ulang Limbah
7. Penutupan Tambang
8. Reklamasi dan Penghijauan Kembali
9. Pemantauan Lingkungan
10. Audit Lingkungan
4. Dampak limbah B3
PT.Freeport telah mematikan 23.000 ha hutan di wilayah pengendapan
tailing, mengubah bentang alam karena erosi maupun sedimentasi,
meluapnya sungai karena pendangkalan endapan tailing.

5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Limbah B3. [Online]. Tersedia di


http://lh.surabaya.go.id/weblh/?c=main&m=limbahb3 .diakses pada 3 Juli
2014

Damanhuri, Entri. [2011]. Pengolahan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).


[Online]. Tersedia di http://hmtl.itb.ac.id/wordpress/wp-
content/uploads/2011/03/DiktatB3_2010.pdf diakses pada 3 Juli 2014

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2001 Tentang


Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. [Online]. Tersedia di
http://jdih.menlh.go.id/pdf/ind/IND-PUU-3-2001-
PP%2074%20thn%202001.pdf diakses pada 3 Juli 2014

Radhissalhan, Ardhi. [2012]. Jurnal Freeport. [Online]. Tersedia di


http://www.academia.edu/6546494/JURNAL_FREEPORT diakses pada 3
Juli 2014