Anda di halaman 1dari 18

TUGAS PENGANTAR AMDAL

LIMBAH BAHAN BERBAHAYA & BERACUN (B3)


(Studi Kasus Desa Bencah, Bangka Selatan, Bangka Belitung)

Disusun Untuk Melengkapi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pengantar AMDAL

Disusun Oleh:
HAIKAL PUTRA TAMA 1113020010
RIZQI RAHAYU 1113020017
Kelas 3 SIPIL 2 PAGI

JURUSAN TEKNIK SIPIL


PROGRAM STUDI TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
DEPOK
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah S.W.T. atas segala nikmat dan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini
merupakan salah satu tugas mata kuliah Pengantar AMDAL (Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan). Didalam makalah ini berisi pembahasan kami tentang studi
kasus mengenai Limbah Bahan Berbahaya & Beracun (B3).
Makalah ini dapat terselesaikan tentunya berkat bantuan dan dukungan dari berbagai
pihak yang terlibat. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kami mengucapkan
terima kasih kepada:
1. Ibu Ir. Wahyuni Susilowati, M.Si. selaku dosen pengajar mata kuliah
Pengantar AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) Jurusan
Teknik Sipil, Politeknik Negeri Jakarta.
2. Kedua Orang Tua kami, atas Doa dan Motivasinya yang senantiasa
membantu kami dalam menyelesaikan makalah mengenai studi kasus
Limbah Bahan Berbahaya & Beracun (B3) ini dalam mata kuliah
Pengantar AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).
3. Rekan - rekan yang telah memberikan semangat dan dukungan moril.
4. Berbagai pihak lain yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Kami juga menyadari bahwa dalam penyelesaian makalah ini masih banyak
kekurangan yang dikarenakan kemampuan dan pengetahuan kami yang terbatas.
Untuk itu, kami mengharapkan berbagai kritik dan saran dari rekan - rekan pembaca
agar pada kesempatan berikutnya dapat lebih sempurna.
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan inspirasi
serta pelajaran yang berharga untuk kita semua.

Depok, Mei 2016

Penyusun

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................i

DAFTAR ISI.............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................1

1.1 Latar Belakang.............................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah........................................................................................2

1.3 Tujuan Penulisan..........................................................................................2

BAB II DASAR TEORI...........................................................................................3

2.1 Pengertian Limbah B3.................................................................................3

2.2 Identifikasi Limbah B3................................................................................3

2.2.1 Limbah B3 Berdasarkan Sumber.................................................................3

2.2.2 Limbah B3 Berdasarkan Karakteristik........................................................4

2.3 Pengelolaan Limbah B3...............................................................................6

2.4 Tujuan Pengelolaan Limbah B3...................................................................6

BAB III KASUS PENCEMARAN LIMBAH B3....................................................8

3.1 Artikel Kasus.............................................................................................8

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN.............................................................9

4.1 Pengelolaan Dan Pengolahan Limbah B3 Secara Umum............................9

4.2 Analisa dan Pembahasan Cara Menangani Pencemaran Limbah B3........10

4.3 Standar Baku Mutu Tanah.........................................................................12

BAB V PENUTUP.................................................................................................14

5.1 Kesimpulan................................................................................................14

5.2 Saran..........................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................15

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Industri di Indonesia sekarang ini berkembang dengan pesat dan baik.
Jumlahnya pun beragam. Serta saat ini Indonesia dapat dikategorikan sebagai Negara
yang perkembangan industrinya cukup tinggi dan dikategorikan sebagai Negara semi
Industri.
Meningkatnya pertumbuhan industri seperti industri pertambangan membawa
dampak terhadap meningkatnya permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh
pencemaran B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Beberapa kasus pencemaran
lingkungan yang disebabkan oleh B3 yang dihasilkan industri pertambangan telah
menjadi topik hangat di media masa. Seperti lahan persawahan di daerah Bangka
Belitung yang sudah terkontaminasi limbah B3.
B3 bagi lingkungan hidup sangat tidak baik untuk kesehatan masyarakat
umum dan makhluk hidup yang ada di lingkungan tersebut. B3 yang dihasilkan
industri-industri sangat merugikan bagi lingkungan sekitar, jika tidak diolah dengan
baik untuk menjadikannya bermanfaat. Terutama B3 logam berat yang banyak
ditemukan di sekitar lingkungan industri pertambangan.
Kegiatan industri disamping bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan,
ternyata juga menghasilkan limbah sebagai pencemar lingkungan perairan, tanah,
dan udara. Limbah cair, yang dibuang ke perairan akan mengotori air yang
dipergunakan untuk berbagai keperluan dan mengganggu kehidupan biota air.
Limbah padat akan mencemari tanah dan sumber air tanah. Limbah gas yang
dibuang ke udara pada umumnya mengandung senyawa kimia berupa SOx, NOx,
CO, dan gas-gas lain yang tidak diinginkan. Adanya SO2 dan NOx diudara dapat
menyebabkan terjadinya hujan asam yang dapat menimbulkan kerugian karena
merusak bangunan, ekosistem perairan, lahan pertanian dan hutan.
Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang sangat ditakuti adalah
limbah dari industri kimia. Limbah dari industri kimia pada umumnya mengandung
berbagai macam unsur logam berat yang mempunyai sifat akumulatif dan beracun
(toxic) sehingga berbahaya bagi kesehatan manusia (Dinkesjatim, 10 April 2011,
URL).

1
Dengan adanya permasalahan limbah B3 inilah yang melatarbelakangi
penulis untuk melakukan kajian mengenai limbah B3 sebagai salah satu unsur
perusak keseimbangan lingkungan hidup. Limbah B3 secara nyata telah menciptakan
dampak negatif bagi lingkungan hidup serta kelangsungan hidup dari semua mahluk
hidup yang ada. Agar seluruh masyarakat Indonesia dapat mengetahui mengenai
dampak negatif dari limbah B3 ini maka saya akan menyuguhkan pula contoh kasus
nyata mengenai pencemaran limbah B3 ini dan cara penanganan pengelolaan limbah
B3.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apa saja jenis dan karakteristik limbah B3?
2. Bagaimana cara menangani pencemaran limbah B3?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui jenis dan karakterikstik limbah B3.
2. Untuk mengetahui cara menangani pencemaran limbah B3.

2
2.1. BAB II

2.2. DASAR TEORI

2.1 Pengertian Limbah B3


2.3. Menurut PP No. 18 tahun 1999, yang dimaksud dengan limbah B3
adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan
atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik
secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusakan
lingkungan hidup dan atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan,
kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lain.
2.4. Definisi limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan
sisa (limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun (B3) karena sifat (toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity) serta
konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia.
2.5. Jadi, limbah B3 dapat diartikan sebagai sisa suatu usaha dan/atau
kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat
dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau
dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia
serta makhluk hidup lain.
2.6. Limbah B3 terdiri dari bermacammacam fase, yaitu: limbah B3
berupa fase cair (oli bekas), padat (baterai bekas), gas dan partikel.

2.2 Identifikasi Limbah B3

2.2.1 Limbah B3 Berdasarkan Sumber


2.7. Golongan limbah B3 yang berdasarkan sumber dibagi menjadi:
1. Limbah B3 dari sumber spesifik
2.8. Limbah B3 dari sumber spesifik adalah limbah B3 sisa proses
suatu industri atau kegiatan yang secara spesifik dapat ditentukan.
2. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik
2.9. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik adalah limbah B3 yang
pada umumnya berasal bukan dari proses utamanya:
a. kegiatan pemeliharaan alat,
b. pencucian,
c. pengemasan, dll.

3
3. Limbah B3 dari bahan kimia kedaluwarsa; tumpahan; sisa kemasan;
buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi

2.2.2 Limbah B3 Berdasarkan Karakteristik


2.10. Limbah yang termasuk limbah B3 adalah limbah yang
memiliki salah satu atau lebih dari karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1. Mudah Meledak (Explosive)
2.11. Limbah mudah meledak dalam suhu dan tekanan standar
(25C, 760 mmHg) atau limbah yang dapat merusak lingkungan
sekitarnya karena gas panas dan bertekanan tinggi sebagai akibat dari
reaksi kimia dan fisika limbah tersebut.
2. Mudah Terbakar (Flammable)
2.12. Berikut ini adalah ciri-ciri limbah B3 yang tergolong mudah
terbakar:
a. Limbah yang berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari
24% volume.
b. Pada titik nyala tidak lebih dari 60C (140F) akan menyala apabila
terjadi kontak dengan api, atau sumber nyala lain pada tekanan udara
760 mmHg.
c. Limbah yang bukan berupa cairan pada temperatur dan tekanan
standar (25C, 760 mmHg) mudah menyebabkan kebakaran melalui
percikan api, gesekan, penyerapan uap air atau perubahan kimia
secara spontan dan bila terbakar dapat menyebabkan kebakaran yang
terus menerus.
d. Merupakan limbah yang bertekanan yang mudah terbakar.
e. Merupakan limbah pengoksidasi
3. Bersifat Reaktif
2.13. Berikut ini adalah ciri-ciri limbah B3 yang tergolong sifat
reaktif:
a. Limbah yang tidak stabil.
b. Limbah yang dapat bereaksi hebat dengan air.
c. Limbah yang apabila bercampur dengan air ledakan, uap, gas dan
asap beracun.
d. Sianida, Sulfida atau Amoniak yang pada kondisi pH antara 2 dan
12,5 ledakan, uap, gas dan asap beracun.
e. Limbah yang dapat mudah meledak atau bereaksi pada suhu dan
tekanan standar (25C, 760 mmHg)

4
f. Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau
menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil
dalam suhu tinggi.
4. Beracun (Toxic Waste)
2.14. Limbah beracun adalah limbah yang mengandung pencemar
yang berkemampuan meracuni, melukai, menjadikan cacat bahkan
sampai membunuh makhluk hidup atau sakit yang serius apabila masuk
ke dalam tubuh melalui panca indera dalam jangka panjang ataupun
jangka pendek.
5. Penyebab Infeksi/Penyakit
2.15. Limbah yang menyebabkan infeksi adalah limbah
laboratorium yang terinfeksi penyakit atau limbah yang mengandung
kuman penyakit, seperti bagian tubuh manusia yang diamputasi dan
cairan tubuh manusia yang terkena infeksi sehingga nantinya dapat
menularkan penyakit dari satu orang ke orang lainnya.
6. Bersifat Korosif (Menimbulkan karat)
2.16. Berikut ini adalah ciri-ciri limbah B3 yang tergolong sifat
korosif:
a. Limbah yang menyebabkan iritasi pada kulit.
b. Menyebabkan proses pengkaratan pada baja dengan laju korosi >
6,35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55C
c. Memiliki pH 2,0 untuk limbah bersifat asam dan 12,5 untuk
yang bersifat basa.
7. Uji Toksikologi
2.17. Pengujian toksikologi yang dimaksud adalah dengan LD50
(Lethal Dose Fifty) adalah perhitungan dosis (gram pencemar per
kilogram berat badan) yang dapat menyebabkan kematian 50%
populasi makhluk hidup yang dijadikan percobaan. Apabila LD50
lebih besar dari 15 gram per kilogram maka limbah tersebut bukan
limbah B3.
2.18. Sumber Limbah B3 adalah setiap orang atau Badan Usaha
yang menghasilkan Limbah B3 dan menyimpannya untuk sementara waktu
di dalam lokasi kegiatan sebelum Limbah B3 tersebut diserahkan kepada
pihak yang bertanggung jawab untuk dikumpulkan dan diolah. Sumber
penghasil limbah B3 cukup beragam, diantaranya berasal dari rumah sakit,
PLN, Laboratorium Pengujian, dan Laboratorium Penelitian.

2.3 Pengelolaan Limbah B3

5
2.19. Pengelolaan limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencangkup
reduksi, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaataan, pengolahan dan
penimbunan B3. Pengolahaan ini bertujuan untuk mencegah dan menanggulangi
pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah B3
serata melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang telah tercemar. (PP No.18
tahun 1999 Pasal 1).
2.20. Perbedaan paling penting yang membedakan pengelolaan limbah
bahan berbahaya dan beracun (B3) dengan pengelolaan limbah lain adalah
pertanggungjawaban hukumnya (law liability). Pada limbah non-B3 hasil akhir
pengelolaan lebih penting dibandingkan dengan cara mencapai hasil tersebut.
Artinya, bila suatu perusahaan telah memenuhi baku mutu limbah, maka perusahaan
tersebut telah berhasil melakukan pengelolaan limbah. Namun, pada limbah B3,
selain hasil akhir, cara pengelolaan juga harus memenuhi peraturan yang berlaku.
Jadi, untuk berhasil mengelola limbah B3, tidak cukup hanya memenuhi baku mutu
limbah B3 saja, cara mengelola seperti pencatatan, penyimpanan, pengangkutan,
pengolahan dan pembuangan harus juga memenuhi peraturan yang berlaku. Sekali
lagi, dalam limbah B3 cara mengelola adalah suatu hal yang penting untuk
diperhatikan. Dalam tuntutan hukum, limbah B3 tergolong dalam tuntutan yang
bersifat formal. Artinya, seseorang dapat dikenakan tuntutan perdata dan pidana
lingkungan karena cara mengelola limbah B3 yang tidak sesuai dengan peraturan,
tanpa perlu dibuktikan bahwa perbuatannya tersebut telah mencemari lingkungan.
Sekali lagi, mengetahui cara pengelolaan limbah B3 yang memenuhi persyaratan
wajib diketahui oleh pihak-pihak yang terkait dengan limbah B3 (Anonim, 2007).

2.4 Tujuan Pengelolaan Limbah B3


2.21. Tujuan pengelolaan B3 adalah untuk mencegah dan
menanggulangi pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup yang
diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan
yang sudah tercemar sehingga sesuai dengan fungsinya kembali.
2.22. Dari hal ini jelas bahwa setiap kegiatan/usaha yang
berhubungan dengan B3, baik penghasil, pengumpul, pengangkut, pemanfaat,
pengolah dan penimbun B3, harus memperhatikan aspek lingkungan dan
menjaga kualitas lingkungan tetap pada kondisi semula. Dan apabila terjadi
pencemaran akibat tertumpah, tercecer dan rembesan limbah B3, harus

6
dilakukan upaya optimal agar kualitas lingkungan kembali kepada fungsi
semula.
2.23.
2.24.
2.25.
2.26.
2.27.
2.28.
2.29.
2.30.
2.31.
2.32.
2.33.
2.34.
2.35.
2.36.
2.37.

7
2.38. BAB III

2.39. KASUS PENCEMARAN LIMBAH B3

3.1 Artikel Kasus


2.40.

2.41. Artikel dari internet: http://bangka.tribunnews.com/2015/04/23/walhi-nilai-


sumber-air-di-babel-tercemar-limbah-tambang
2.42. Jumat, 24 April 2015 00:45
2.43.
2.44. Walhi Nilai Sumber Air di Babel Tercemar Limbah Tambang
2.45.
2.46. BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Direktur Walhi Babel Ratno Budi
menilai bahwa pemerintah gagal memastikan hak atas lingkungan yang baik dan
sehat.
2.47. Dia mencontohkan dilihat keberadaan aktifitas pertambangan timah di
wilayah PDAM Merawang Kabupaten Bangka.
2.48. Selain itu fakta-fakta pencemaran sumber mata air warga di Babel
yang sudah tercemar oleh limbah pertambangan timah. Bahkan, katanya beberapa
wilayah sudah terkontaminasi limbah B3.
2.49. Seperti terjadi di wilayah Desa Bencah Bangka Selatan, dimana
aktifitas pertambangan timah skala besar yang berdampingan dengan lokasi rencana
pembangunan lahan persawahan masyarakat.
2.50. "Sangat tidak masuk diakal, jika keduanya beraktifitas di dalam satu
lokasi dengan memanfaatkan satu sumber air," sesal Ratno, Kamis
(23/4/2015) kepada bangkapos.com.
2.51. Hingga kini, imbuhnya Walhi terus berkampanye tagline "Air Untuk
Semua". Dia mengulas maksud taglinenya itu bahwa privatisasi sumber daya
alam ini telah mencabut hak dasar publik dan menyebabkan semakin hari
isue ini menjadi krisis.
2.52.
2.53. Editor: Tarso
2.54.
2.55.
2.56.
2.57.

2.58. BAB IV

8
2.59. ANALISA DAN PEMBAHASAN

2.60. 4.1 Pengelolaan Dan Pengolahan Limbah B3 Secara Umum


2.61.
2.62. Bagan Pengelolaan Limbah B3 secara umum adalah sebagai berikut:

2.63.
2.64. Prinsip Pengelolaan Limbah B3 adalah:
1. Meminimalisasi limbah
2. Pengelolaan limbah dekat dengan sumber
3. Pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan
2.65. Sedangkan tujuan dari Pengolahan Limbah B3 adalah untuk
mengurangi, memisahkan, mengisolasi, dan/atau menghancurkan sifat atau
kontaminan berbahaya.
2.66. Apabila Pengelolaan dan Pengolahan Limbah B3 dilakukan dengan
tahap yang benar maka diharapkan tidak ada lagi kasus-kasus mengenai pencemaran
lingkungan akibat tercemar oleh limbah B3.
2.67.

2.68. 4.2 Analisa dan Pembahasan Cara Menangani Pencemaran Limbah


B3

9
2.69. Berdasarkan dari contoh kasus pencemaran diatas Direktur Walhi
Babel Ratno Budi menilai pemerintah gagal memastikan hak atas lingkungan yang
baik dan sehat. Dia mencontohkan adanya aktifitas pertambangan timah di wilayah
PDAM Merawang Kabupaten Bangka. Selain itu, juga terdapat fakta bahwa terdapat
pencemaran sumber mata air dan persawahan warga di Babel yang sudah tercemar
oleh limbah pertambangan timah. Pencemaran sumber mata air dan persawahan
warga terjadi akibat adanya limbah proses pertambangan timah yang proses
pengolahan limbahnya tidak memenuhi standar sehingga ketika dibuang ke
lingkungan mencemari lingkungan sekitar.
2.70. Oleh karena itu, kami akan membahas bagaimana proses pengelolaan
lingkungan yang telah tercemar limbah B3 agar kondisi kualitas lingkungannya
dapat kembali seperti fungsi sebelumnya.
2.71. Sesuai dengan tujuan dari pengelolaan limbah B3 yaitu untuk
mencegah dan menanggulangi pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup yang
diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang
sudah tercemar sehingga sesuai dengan fungsinya kembali. Maka seharusnya setiap
kegiatan/usaha yang berhubungan dengan B3, baik penghasil, pengumpul,
pengangkut, pemanfaat, pengolah dan penimbun B3, harus memperhatikan aspek
lingkungan dan menjaga kualitas lingkungan tetap pada kondisi semula. Dan apabila
terjadi pencemaran akibat tertumpah, tercecer dan rembesan limbah B3, harus
dilakukan upaya optimal agar kualitas lingkungan kembali seperti fungsi semula.
2.72. Hal tersebut jelas telah melanggar peraturan yang ada karena dalam
kegiatan penambangannya menimbulkan pencemaran pada lingkungan sekitar yang
disebabkan oleh adanya limbah proses pertambangan timah yang proses pengolahan
limbahnya tidak memenuhi standar. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya dalam
menanggulangi kasus pencemaran limbah B3 diatas agar kualitas lingkungan sekitar
dapat berfungsi seperti semula.
2.73. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kasus
pencemaran dari artikel di atas adalah dengan melakukan pengelolaan dan
pengolahan terhadap tanah yang terkontaminasi oleh logam berat yaitu Timah. Hal
ini dilakukan untuk dapat mengembalikan keadaan tanah menjadi baik seperti
semula.
2.74. Logam berat tidak dapat didegradasi, sehingga untuk melakukan
remediasi area yang tercemar oleh logam berat dilakukan secara fisik, kimawi
ataupun biologis namun metode tersebut mahal, tidak efektif dan berdampak negatif

10
bagi lingkungan (Lasat, 2002). Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan pemulihan
(remediasi) yang mudah, murah dan efisien agar lahan yang tercemar logam berat
dapat digunakan kembali untuk berbagai kegiatan dengan aman.
2.75. Salah satu metode remediasi yang dapat digunakan adalah
fitoremediasi. Fitoremediasi merupakan teknik pemulihan lahan tercemar dengan
menggunakan tumbuhan untuk menyerap, mendegradasi, mentransformasi dan
mengimobilisasi bahan pencemar, baik itu logam berat maupun senyawa organik.
Metode ini mudah diaplikasikan, efisien, murah dan ramah lingkungan (Schnoor and
McCutcheon, 2003).
2.76. Menurut Hidayati,dkk (2005) sejumlah tumbuhan terbukti dapat
beradaptasi terhadap lingkungan marginal dan ekstrim seperti tanah limbah yang
banyak terkontaminasi zat-zat beracun dan memiliki kualitas fisik, kimia maupun
biologis sangat rendah. Tumbuhan yang memiliki kemampuan untuk menyerap
logam berat dari tanah dikenal sebagai tumbuhan hiperakumulator (Hardiani,2008).
Tumbuhan yang termasuk hiperakumulator adalah Anturium merah/kuning,
Alamanda kuning/ungu, Akar wangi, Bambu air, Cana presiden merah/kuning/putih,
Dahlia, Dracenia merah/hijau, Heleconia kuning/merah, Jaka, Lidah mertua
loreng/sente/hitam, Kenyeri merah/putih, Lotus kuning/merah, Onje merah, Pacing
merah/mutih, Padi-padian, Papirus, Pisang mas, Ponaderia, Sempol merah/putih,
Spider lili, dll.
2.77. Proses penyerapan logam oleh tanaman sama seperti saat ia menyerap
unsur hara. Kebanyakan jenis tanaman menyimpan logam berat dalam akar yang
kemudian dipindahkan ke bagian lain seperti batang, tunas, dan daun. Sekali logam
berat terdapat dalam tubuh tanaman, kebanyakan logam berat membentuk endapan
karbonat, sulfat atau fosfat (Dhir, 2010). Logam berat tidak akan terlepas, kecuali
bila tanaman mati dan terdegradasi. Beberapa tanaman memiliki kemampuan untuk
menyerap kontaminan dengan konsentrasi sangat tinggi dari lingkungan. Tanaman
jenis diberi label sebagai hiperakumulator. Hiperakumulasi logam dihubungkan
dengan mekanisme hipertoleransi yang menyediakan berbagai strategi adaptasi
tanaman untuk bertahan terhadap toksisitas (Dhir, 2010).
2.78.
2.79.

2.80. 4.3 Standar Baku Mutu Tanah

11
2.81. Baku mutu tanah (soil quality standard) belum tersedia karena sulit di
definisikan dan dikuantitatifkan serta tidak dikonsumsi langsung oleh
manusia dan hewan. Akibatnya di Indonesia, pemantauan dan pemulihan
mutu lingkungan tidak terlaksana secara terpadu karena hanya ada baku mutu
udara dan air.
2.82. Masalah utama yang dihadapi dalam menentukan mutu tanah adalah
tanah mempunyai banyak fungsi sehingga kalau baku mutu tanah ditetapkan
hanya berdasarkan suatu fungsi dapat bertentangan dengan fungsi yang lain.
1. Batasan dan lingkup mutu tanah
2.83. Mutu tanah tidak dapat diukur, tetapi indikatornya dapat diukur secara
kuantitatif. Berbagai definisi indicator yang ditemukan dalam literature
intinya menekankan pada sifat tanah yang dapat diukur dan dipantau yang
mempengaruhi kemampuan tanah untuk memperagakan fungsinya.
Departemen Pertanian Amerika Serikat mendefinisikan indikator mutu tanah
sebagai sifat-sifat fisik, kimia, dan biologi serta proses dan karakteristik yang
dapat diukur untuk memantau berbagai perubahan dalam tanah. Hal ini
mengindikasikan bahwa nilai indikator mutu tanah akan menentukan
kemampuan tanah untuk memenuhi fungsinya.
2. Kriteria indikator mutu tanah
2.84. Banyak indikator potensial yang dapat digunakan untuk menetapkan
mutu tanah. Namun, perlu dipilih indicator utama sehingga dapat
diaplikasikan pada pola monitoring baik pada tingkat nasional, propinsi atau
kawasan DAS. Indikator mutu tanah harus memenuhi kriteria:
a.berkorelasi baik dengan berbagai proses ekosistem dan berorientasi
pemodelan;
b. mengintegrasikan berbagai sifat dan proses kimia, fisika, dan biologi
tanah;
c.mudah diaplikasikan pada berbagai kondisi lapang dan diakses oleh para
pengguna;
d. peka terhadap variasi pengelolaan dan iklim;
e.sedapat mungkin merupakan komponen dari basis data
3. Indikator dan indeks mutu tanah
2.85. Berdasarkan pengetahuan saat ini maka minimum data indikator mutu
tanah terdiri atas tekstur tanah, kedalaman tanah, infiltrasi, berat jenis,
kemampuan tanah memegang air, C organic, Ph, daya hantar listrik, N, P, K,
biomassa mikroba, potensi N dapat dimineralisasi, dan respirasi tanah.

12
2.86. Dalam menentukan suatu lahan terkontaminasi dikatakan bersih atau
tidaknya dari limbah B3, maka diperlukan suatu kualitas tanah sebagai pembanding
ataupun acuan. Kualitas tanah yang sangat bervariasi serta beragamnya jenis limbah
industri menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan standar
atau baku mutu tanah terkontaminasi limbah B3. Keberadaan titik referensi ataupun
acuan kualitas tanah sangat diperlukan dalam penanganan lahan tercemar limbah B3.
Standar yang dapat dipergunakan sebagai acuan tingkat keberhasilan dalam
penanganan lahan tercemar memenuhi salah satu dan atau gabungan sebagai berikut:
1. Titik Referensi
2.87. Metoda pengambilan titik referensi ini yaitu membandingkan tanah
sekitar yang belum tercemar untuk dijadikan acuan akhir. Kriteria unsur yang
perlu di analisa dari titik referensi sesuai dengan limbah B3 yang memiliki
jenis unsur atau senyawa utamanya.
2. Pendekatan Standar Penggunaan Lahan
2.88. Pendekatan standar penggunaan lahan, digunakan apabila kandungan
unsur atau senyawa utama limbah B3 pada titik acuan ataupun titik referensi
tidak dapat dicapai, karena pengangkatan limbah B3 di lahan tercemar pada
suatu lokasi dapat mengganggu fungsi air tanah , maka dapat digunakan
pendekatan standar penggunaan lahan dari di negara lain yang mendekati
kondisi tanah di Indonesia.
3. Tingkat Kajian Dasar Resiko (Risk Based Screening Level)
2.89. Tingkat Kajian Dasar Resiko (Risk Based Screening Level/RBSL) ditetapkan
berdasarkan perhitungan ilmiah, berdasarkan resiko, dan perlindungan untuk
komunitas terhadap paparan yang signifikan. Tahapan Penerapan Risk Based
Screening Level (RBSL) adalah Identifikasi Sumber atau Bahaya Racun,
Pengkajian Kandungan Racun, Pengkajian Penjalaran, identifikasi
karakteristik resiko dengan RBSL atau SSTL (Site-Specific Target Levels ).
2.90.
2.91.
2.92.
2.93.
2.94.

2.95. BAB V

2.96. PENUTUP

13
2.97. 5.1 Kesimpulan
1. Timah merupakan logam berat yang termasuk dalam kategori limbah B3.
2. Pertambangan Timah yang terjadi di Babel menghasilkan jenis limbah
kimia (limbah B3) yang memiliki karakteristik bermacam-macam yaitu
mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, penyebab
infeksi/penyakit, dan bersifat korosif (menimbulkan karat).
3. Dari kasus tersebut dapat diketahui cara menangani pencemaran limbah
B3 yang berasal dari logam berat yaitu dengan teknik fitoremediasi
secara in-situ (langsung ditempat) dan proses yang digunakan adalah
secara alamiah.

2.98. 5.2 Saran


1. Sebaiknya Perusahaan Pertambangan Timah di Babel tersebut memiliki
instalasi pengolahan limbah, sehingga nantinya limbah B3 yang
dihasilkan dari proses produksi tidak terlalu mencemari lingkungan.
2. Sebaiknya Pemerintah Daerah setempat dengan pihak Perusahaan
Pertambangan Timah dilakukan koordinasi yang lebih tepat dalam
pengelolaan limbah B3 agar tidak terjadi lagi pencemaran B3 di
lingkungan sekitar.
2.99.
2.100.
2.101.
2.102.
2.103.
2.104.
2.105.
2.106.
2.107.
2.108.

2.109.

2.110. DAFTAR PUSTAKA


2.111.
2.112. Diakses tanggal 5 Mei 2016.
2.113. http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-25782-3308100053-
Chapter1.pdf
2.114. Diakses tanggal 5 Mei 2016.
2.115. http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-5377-3306201004-chapter1.pdf
2.116. Diakses tanggal 5 Mei 2016.
2.117. https://www.academia.edu/5071765/MAKALAH_B3_BUAT_PAK_WELY

14
2.118. Diakses tanggal 5 Mei 2016.
2.119. http://dokumen.tips/documents/makalah-b3-5597941e04de0.html
2.120. Diakses tanggal 5 Mei 2016.
2.121. http://mengenalsungai.blogspot.co.id/2014/02/fitoremediasi-logam-
berat.html
2.122. Diakses tanggal 12 April 2016.
2.123. http://skpd.batamkota.go.id/dampaklingkungan/files/2012/04/Lampiran-
IV.pdf
2.124. Diakses tanggal 12 April 2016.
2.125. http://www.scribd.com/doc/53759011/Baku-Mutu-Lingkungan-Tanah
2.126. Diakses tanggal 11 April 2016
2.127. http://bangka.tribunnews.com/2015/04/23/walhi-nilai-sumber-air-di-babel-
tercemar-limbah-tambang
2.128. Diakses tanggal 5 Mei 2016
2.129. http://situsresmierzadiego.blogspot.co.id/2012/01/bahan-berbahaya-dan-
beracun-b3-padat.html?m=1

15