Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH FITOTERAPI

TANAMAN SAMBILOTO ( Andrographis paniculata Ness )

Kelompok 1 :

Marsella Citra Ningrum : 1720343784

Muhammad Fauzan :1720343791

Nunung Mutoharoh : 1720343800

Nur Aminatus Sholihah : 1720343801

Parabellina Cahya K : 1720343808

Rahmatul Insyirah : 1720343811

APOTEKER XXXIV

UNIVERSITAS SETIA BUDI

SURAKARTA

2017
PENDAHULUAN

Sambiloto (Andrographis pani-culata Nees) merupakan salah satu tanaman


obat herbal yang banyak dibutuhkan dalam industri obat tradisional di Indonesia.
Sambiloto adalah tanaman liar yang diduga berasal dari India. Tanaman yang sangat
pahit ini dipatenkan sebagai obat antiHIV oleh sebuah perusahaan Farmasi Jerman.
Sementara di Indonesia, Dirjen POM, Departemen Kesehatan RI, menetapkan
Sambiloto sebagai salah satu dari sembilan tanaman obat unggulan yang sudah diuji
secara klinis.
Cukup banyak klaim yang menunjukkan manfaat sambiloto dalam pengobatan
tradisional, seperti untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap infeksi kuman, anti
diare, gangguan lever, dan anti bakteri. Oleh karena itu Badan POM memasukkan
tanaman ini sebagai tanaman unggulan untuk dikembangkan dalam industri obat
fitofarmaka. Dalam industri obat tradisional Indonesia, sambiloto diman-faatkan
untuk berbagai produk, seperti jamu anti inflamasi, obat penurun tekanan darah, dan
sebagainya. Hasil survei serapan tanaman obat untuk industri obat tradisional di Jawa
dan Bali memperlihatkan bahwa sambiloto digunakan baik oleh Industri Obat Tra-
disional (IOT) maupun Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT). Jumlah serapan
sambiloto segar per tahun untuk kedua jenis industri obat tersebut adalah 471.567 kg
dan 385.840 kg, masing-masing untuk IOT dan IKOT (Kemala et al., 2004).

ASPEK TINJAUAN TANAMAN HABITAT, BUDAYA DAN


PEMANENAN

Tanaman sambiloto mempunyai nama latin Andrographis paniculata Ness


memiliki sinonim Justicia paniclata Burn; Justicia latebrosa Russ. Dengan nama
daerah : Papaitan, Ki peurat atau bidara. (Depkes, 1979)

Klasifikasi tanaman sambiloto adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Sub-kingdom : Tracheobionta
Superdivisio : Spermahopyta

Divisio : Magnoliopyta

Kelas : Magnoliopsida

Sub Kelas : Asteridae

Ordo : Scrophulariales

Familia : Acanthaceae

Genus : Andrographis

Species : Andrograpis paiculata Ness.

Tumbuhan sambiloto dapat tumbuh liar di tempat terbuka, seperti kebun kopi,
tepi sungai, tanah kosong yang agak lembab, atau di pekarangan. Merupakan daun
yang berasa pahit dan dingin. Tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 700 meter
di atas permukaan laut.

Tumbuhan sambiloto merupakan tumbuhan semusim, dengan tinggi 50-90 cm,


batang yang disertai dengan banyak cabang berbentuk segi empat. Daun tunggal,
bertangkai pendek, letak berhadapan bersilang, bentuk lanset, pangkal runcing, ujung
meruncing, tepi rata, permukaan atas daun berwarna hijau tua, bagian bawah daun
berwarna hijau muda, panjang 2-8 cm, lebar 1-3 cm. Bunga tumbuh dari ujung batang
atau ketiak daun, berbentuk tabung, kecil-kecil, warnanya putih bernoda ungu.
Memiliki buah kapsul berbentuk jorong, panjang sekitar 1,5 cm, lebar 0,5 cm, pangkal
dan ujung tajam, bila masak akan pecah membujur menjadi 4 keping. Biji gepeng,
kecil-kecil, warnanya cokelat muda. Tumbuhan ini dapat dikembangbiakkan dengan
biji atau stek batang (Yuniarti 2008).

Untuk memperbanyak tumbuhan ini dilakukan dengan menyemai biji yang


sudah tua. Daun sambiloto tumbuh tunggal dan memanjang, tersusun bersilang dan
berhadapan di batang. Ujung daunnya runcing berwaran hijau agak mengkilap, tinggi
tanaman 40-90 cm. Batang tumbuhan ini berbentuk persegi empat dan rasanya pahit.
Bunga tumbuhan ini berukuran kecil berwarna putih keunguan. Buahnya memanjang
dengan pangkal dan ujung buah yang tajam (Nazaruddin, 2009).
Produksi dan mutu simplisia sangat dipengaruhi oleh kondisi agroekologi
setempat. Pada agroekologi dataran menengah dihasilkan produksi bobot kering
sambiloto tertinggi, namun dilihat dari mutu, pertanaman di agroekologi dataran
tinggi (1500 m dpl, tanah andosol dan tipe iklim B) menghasilkan kadar sari larut air
tertinggi (Yusron dan Januwati 2004).

Berdasarkan mutu dan produksi simplisianya maka sambiloto dapat


dibudidayakan di daerah basah (Bogor) pada lahan tanpa naungan sampai naungan
sedang (0 30%). Pada naungan berat (>30%) produksi akan turun sekitar 50%.
Rendemen bobot herba (batang dan daun) segar menjadi lebih rendah. Produksi
simplisia pada umur 4 bulan diperoleh (23,43), (18,79), (19,47), dan (11,38)
g/tanaman pada masing-masing tingkat naungan (0), (20 25), (30 35), dan (40
45) %. Sedangkan mutu simplisia berdasar kadar sari diperoleh sekitar 23,73% dan
tertinggi 24,46% pada tingkat naungan 2030% (Yusron dan Januwati 2004).

Pada umumnya tanaman sambiloto diperbanyak secara generative, sehingga


diperlukan benih dengan mutu yang tinggi. Salah satu permasalahan dalam
perbanyakan sambiloto adalah benihnya bersifat dorman, yang disebabkan oleh
kerasnya kulit benih sehingga perkecambahannya lama (5 6 bulan). Salah satu usaha
untuk mengatasi dormansi benih sambiloto adalah melalui waktu panen yang tepat.
Untuk memperoleh benih yang bermutu tinggi dan seragam, maka penentuan waktu
panen perlu diketahui. Penentuan waktu panen dapat berdasarkan warna buah,
kekerasan buah, rontoknya buah/biji, pecahnya buah ataupun dengan mempelajari
proses pembentukan buah/biji mulai dari antesis (persarian) sampai benih masak
(Sadjad 1980).

Panen sebaiknya segera dilakukan sebelum tanaman berbunga, yakni sekitar 2


3 bulan setelah tanam. Panen dilakukan dengan cara memangkas batang utama
sekitar 10 cm diatas permukaan tanah. Panen berikutnya dapat dilakukan 2 bulan
setelah panen pertama. Produksi sambiloto dapat mencapai 35 ton biomas segar per
ha, atau sekitar 3 3,5 ton simplisia per ha. Biomas hasil panen dibersihkan, daun
dan batang kemudian dijemur pada suhu 40 50C sampai kadar air 10 %.
Penyimpanan ditempatkan dalam wadah tertutup sehingga tingkat kekeringannya
tetap terjaga.
ASPEK AKTIVITAS DAN KANDUNGAN KIMIA

1. Aspek Aktivitas
Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm. f.) Ness) merupakan salah satu
tanaman yang banyak digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai
penyakit. sambiloto telah dilaporkan memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi,
antibakteri, analgesik, antipiretik, dan antidiabetes (Warditiani dkk, 2014).

2. Kandungan Kimia
Sifat-sifat kimia yang dimiliki tanaman sambiloto (Andrographis paniculata
Ness ) antara lain rasa pahit, dingin, masuk meridian paru, lambung, usus besar dan
usus kecil. Daun dan percabangannya mengandung laktone yang terdiri dari
deoksiandrografolid, andrografolid (zat pahit), neoandrgrafolid, 14-deoksi-11-12-
didehidroandrografolid, dan homoandrografolid, flavonoid, alkene, keton, aldehid,
mineral (kalium,kalsium, natrium). Asam kersik, damar. Flavonoid terbanyak diisolasi
dari akar yaitu polimetatoksivaflavon, andrografin, pan, ikkulin. Mono-0-metilwhitin
dan apigenin-7,4 dimetileter. Zak aktif andrografoid terbukti berkhasiat sebagai
hepatoprotektor (melindungi sel hati dari zat toksin).
Daun Andrographis paniculata mengandung saponin, flavonoid, dan tannin juga
mengandung zat pahit andrografolida yang merupakan golongan diterpenoid (Brooke
et al., 2003).

a. Flavanoid
Kandungan yang berperan yakni senyawa flavanoid dalam penghambatan enzim
COX-2 (Antiinflamasi). Peran enzim COX-2 dapat mengkatalisis pembentukan
prostaglandin yang menyebabkan peradangan. Senyawa flavanoid berperan sebagai
inhibitor enzim COX-2 dalam menghambat pembentukan prostaglandin dan
digunakan untuk menghambat biosintesis prostaglandin, prostasiklin, dan tromboksan
melalui penghambatan aktivitas enzim siklooksigenase-2 (COX-2).

b. Terpenoid (Andrograpolida)
Andrographolida secara umum termasuk ke dalam golongan senyawa terpenoid.
Daun sambiloto yang memiliki sifat kimiawi berasa pahit, dingin, memiliki
kandungan kimia sebagai berikut: daun dan percabangannya mengandung diterpen
laktone yang terdiri dari andrographolida, neo andrographolida, deoksi-
andrographolida, dehidro androgra- pholida, flavonoid, tannin dan saponin. Senyawa
yang dominan paling aktif adalah andrograpolida.
Gambar 1. Struktur Andrographolida

Andrograpolida berkhasiat bakteriostatik pada Staphylococcus aureus,


Psedomonas aeruginosa, Proteus vulgaris, Shigella dysenteriae, dan Escherichia coli.
Herba ini sangat efektif untuk pengobatan infeksi, air rebusannya merangsang daya
fagositosis sel darah putih. Andrographolida menurunkan demam yang ditimbulkan
oleh pemberian vaksin yang menyebabkan panas.
Andrograpolida berkhasiat sebagai analgesik dan antipiretik adalah dengan
cara meningkatkan kadar betaendorfin dalam plasma, betaendorfin merupakan suatu
neurotransmitter yang dapat berefek analgesik (pereda rasa sakit) dan antipiretik
(penurun demam).
Andrograpolida juga berkhasiat sebagai antidiabetes. Dimana kondisi stres
akan dapat mengacaukan metabolisme tubuh sehingga pasien akan sulit
mengendalikan kadar gula darah dengan menurunkan aktivitas pembentukkan
glukosa dari senyawa-senyawa non karbohidrat seperti piruvat dan laktat. Dengan
begitu kadar gula darah pasien dapat dikendalikan.

ASPEK METODE ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA


AKTIF/MARKER
1. Isolasi

Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Merupakan salah satu metode yang digunakan untuk memisahkan


komponen-komponen dari sutau senyawa, berdasarkan perbedaan adsorpsi atau
partisi fase diam (adsorben) dengan pelarut pengembang (fase gerak).
Pemilihan pelarut pengembang dipengaruhi oleh jenis dan polaritas
komponen-komponen kimia dipisahkan.
Walaupun silika gel banyak digunakan, lapisan dapat pula dibuat dari
aluminum oksida, celite kalsium hidroksida, damar penukar ion, magnesium
fosfat, poliamida, sephadex , polifinil pirolidon, selulosa, dan campuran dua
bahan diatas atau lebih. Kecepatan KLT yang lebih besar disebabkan oleh sifat
penyerap yang lebih padat bila disaputkan pada pelat dan merupakan keuntungan
bila kita menelaah senyawa labil. Kepekaan KLT sedemikian rupa sehingga bila
diperlukan dapat dipisahkan bahan yang jumlahnya lebih sedikit dari ukuran g.
Dalam Kromatografi Lapis Tipis (KLT), pemisahan yang baik adalah berupa
bercak yang bundar yang merupakan tiap-tiap komponen terpisah dari suatu
senyawa. Pengekoran dapat terjadi disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
Pemisahan yang tidak baik
Terlalu tingginya konsentrasi komponen yang ditutulkan.
Tidak jenuhnya wadah/chamber oleh uap fasa gerak (larutan
pengembang) sehingga fasa gerak yang mengelusi plat KLT segera
menguap.
Ketidaktepatan pemilihan fasa gerak terhadap jenis fasa diam (absorben)
dan sampel yang digunakan.

KARAKTERISASI SENYAWA AKTIF


Karakterisasi senyawa hasil isolasi didasarkan pada metode spektroskopi yaitu
spektroskopi inframerah dan spektroskopi NMR (1H NMR dan 13C NMR). Dari data
hasil karakterisasi dapat disimpulkan bahwa senyawa yang diperoleh dari hasil isolasi
fraksi diklorometan herba sambiloto adalah suatu senyawa turunan andrografolida
yaitu senyawa 14-deoksi-11,12-didehidroandrografolida yang merupakan senyawa
dengan kerangka dasar diterpen lakton jenis ent-labdan.
Identifikasi dan karakterisasi senyawa aktif juga dapat menggunakan metode
spektrofotometri UV-Vis. Spektrofotometri UV-visible adalah pengukuran dan
interpretasi radiasi elektromagnetik (cahaya) yang diabsorpsi atau diemisikan oleh
molekul pada daerah panjang gelombang 180-780 nm. Prinsip dasar dari pengukuran
spektrofotometri UV-Visible adalah hukum Lambert Beer. Pada penelitian
menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dan spektrofotometri IR pada fraksi
air sambiloto dari hasil isolasi fraksi ekstrak air tersebut diperoleh senyawa flavonoid,
sedangkan pada fraksi ekstrak etanol Sambiloto diperoleh senyawa polifenol.

ASPEK PEMANFAATAN
EMPIRIS
Khasiat:
Secara empiris sambiloto dapat menyebuhkan penyakit serta gejala penyakit, antara
lain:
a. darah tinggi
Ramuan: daun sebanyak 5-7 lembar disedu, diminum sehari 3 kali
b. kanker paru

Ramuan: daun segar (50 gram) direbus dengan 4 gelas air. Tunggu hasil rebusan
hingga menjadi 2 gelas. Hasil rebusan disaring, diminum sehari 3 kali.

c. Diare

Ramuan: daun sambiloto (15 gram) direbus, hasil rebusan diminum 2 kali sehari.

d. Thypus

Ramuan: daun segar sambiloto (10-15 lembar) direbus, ditambah madu


secukupnya, diminum 3 kali sehari.

e. kencing nanah

Ramuan: setengah genggam daun diminum direbus dengan 4 gelas air. Tunggu
hasil rebusan hingga 2 gelas. Hasil rebusan disaring, diminum 3 kali sehari.

f. Meningkatkan daya tahan tubuh bagi penderita HIV/AIDS

ILMIAH

ASPEK PENGEMBANGAN PRODUK KOMERSIAL

Saat ini sambiloto telah ditetapkan sebagai tanaman obat yang dikembangkan
sebagai obat fitofarmaka. Salah satu syarat obat fitofarmaka adalah bahan yang
digunakan dapat dipertanggungjawabkan secara medis. Untuk itu perlu dukungan
ketersediaan teknologi yang cukup, agar dapat diha-silkan simplisia dan ekstrak
terstandar. Teknologi tersebut harus mencakup dari penyediaan bibit sampai dengan
pasca panen. Penerapan teknik budidaya yang baku diharapkan dapat menyediakan
bahan baku dalam jumlah yang memadai, mutu sesuai standar, dan kontinyuitas
pasokan bahan baku dapat dijamin.Tanaman sambiloto telah ditetapkan menjadi salah
satu komoditas tanaman obat yang dikembangkan seba-gai obat fitofarmaka. Agar
sambiloto dapat berkembang sesuai dengan program tersebut, diperlukan kebijakan
pen-dukung yang mencakup antara lain :
Penentuan simplisia dan ekstrak terstandar
Agar sambiloto dapat digunakan sebagai obat (fitofarmaka) yang dapat
dipertanggungjawabkan, diperlukan upaya untuk menghasilkan simplisia dan ekstrak
sambiloto terstandar. Hal ini dapat dilakukan dengan penerapan teknik budidaya yang
baku, sehingga diharapkan dapat menyediakan bahan baku dalam jumlah memadai,
mutu sesuai standar dan kelangsungan (kontinyuitas) ketersediaan bahan baku dapat
dijamin.

Penentuan wilayah pengembangan


Ketersediaan teknologi budidaya yang cukup merupakan dukungan awal
pengembangan sambiloto secara lebih luas. Oleh karena itu, langkah selanjutnya yang
perlu dilakukan adalah dengan menyediakan informasi wilayah yang sesuai untuk
budidaya sambiloto. Peta pewilayahan yang rinci akan sangat membantu menentukan
daerah mana saja yang sesuai untuk pengembangan sambiloto.

Pengenalan pola tumpangsari


Analisis usahatani dan tingkat keuntungan yang diperoleh dari usahatani
sambiloto merupakan faktor yang menentukan ketertarikan petani untuk
membudidayakan sambiloto secara lebih luas. Budidaya sambiloto secara
monokulktur kurang menguntungkan, oleh karena itu tanaman ini direkomendasikan
untuk dibudidaya-kan secara tumpangsari dengan jagung atau tanaman pangan
lainnya.

Pengembangan teknologi ekstraksi skala komersial


Saat ini telah diperoleh teknologi pengolahan hasil untuk mendapatkan ekstrak
kental dan ekstrak kering terstandar. Namun demikian, teknologi yang ada masih
dalam skala labora-torium. Untuk mendukung pengembangan sambiloto sebagai obat
fitofarmaka, teknologi ekstraksi tersebut perlu dikembangkan dalam skala yang lebih
besar dan komersial. Teknologi ini dapat dikembangkan melalui kerja-sama dengan
pihak industri.

Pengembangan pola kemitraan


Seperti halnya dengan komoditas bahan obat lainnya, pasar utama produk
sambiloto adalah industri obat tradisional dan obat fitofarmaka. Oleh karena itu upaya
pengembangan ini harus dilakukan melalui kerjasama saling menguntungkan antara
petani atau kelompok tani dengan industri obat tradisional dan obat fitofarmaka.
Melalui kerjasama ini diharapkan industri memperoleh bahan baku dengan mutu yang
sesuai kebutuhan dan tersedia secara kontiny u, sedangkan petani memperoleh
keuntungan dengan harga yang stabil.
Sejauh ini perkembangan produk dari sambiloto hanya sebatas sebagai jamu
yang diproduksi oleh industri obat tradisional (IOT) dan Industri Kecil Obat
Tradisional (IKOT), pengembngan produk sambiloto sebagai fitofarmaka masih
sedang diteliti sehingga sampai saat ini produk jual sambiloto sebagai fitofarmaka
belum dijumpai. Adapun berkut ini beberapa contoh dari produk komersial
sambiloto :
1. Kapsul Sambiloto (PT. IBOE)
SAMBILOTO mengandung flavonoid dan andrografolid yang efektif sebagai anti
virus, anti bakteri, stimulasi pembentukan antibodi, hepatoprotektif, menurunkan
demam dan anti radang. Kandungan lain yaitu unsur kalium dan natrium dalam
Sambiloto memiliki efek diuretik (untuk menurunkan tekanan darah).
Khasiat dan kegunaan SAMBILOTO antara lain :
- Menurunkan kadar gula darah, terutama baik untuk
penderita kencing manis.
- Mengatur dan meningkatkan sistem imunitas
- Memperbaiki fungsi hati sekaligus melindungi dari
kerusakan (hepatoprotektor)
- Mengurangi gangguan pada sistem pencernaan (diare,
maag, dll)
Komposisi :
Tiap kapsul mengandung ekstrak Sambiloto
(Andrographis paniculata) 500 mg.
Cara Pemakaian : 3 kali sehari 1 kapsul.
Perhatian :
- Jangan diberikan pada pasien yang mengkonsumsi
antikoagulan (warfarin, heparin), anti platelet
(ibuprofen).
- Sebaiknya jangan dikonsumsi oleh Ibu hamil dan
menyusui.
Kemasan : 30 kapsul / botol.
POM TR. 032323071

2. Kapsul Sambiloto (PT. Borobudur)


Andrographidis merupakan zat aktif utama dalam
sambiloto yang berfungsi untuk menurunkan kadar glukosa di
dalam darah.
Komposisi: Andrographidis Herba Extract .. 550 mg
Cara Pakai:
Diminum secara teratur 2 kali dalam sehari dengan dosis @
2 kapsul.
Perhatian:
Hanya boleh dikonsumsi oleh penderita yang sudah divonis
menderita penyakit Diabetes Mellitus oleh dokter. Selama
mengkonsumsi obet ini, konsultasikan dengan dokter secara
berkala
Isi: 100 Kapsul
Badan POM: TR 062 356 961
Produksi: PT. Industri Jamu Borobudur

3. Kapsul Sambiloto (UD. Rahma Sari)


Aturan pakai :
- Minum 3 x 1- 2 kapsul perhari untuk penyakit
Typhus abdominalis (ditambah minum madu), TBC
paru, disentri basiler, diare, flu, sakit kepala, panas,
influenza, batuk rejan (ditambah minum madu),
darah tinggi, infeksi mulut, amandel, obat demam,
kolesterol dan asam urat.
- Minum 3 x 3 kapsul perhari untuk penyakit kencing
manis.
- Minum 3 x 5 kapsul perhari untuk penyakit
influenza, radang paru, radang saluran napas, kencing
nanah (gonorrhoea).
- Kapsul diminum sebelum makan (setengah jam). Dan
dianjurkan banyak minum air putih.
Isi : 60 kapsul
Berat isi plus kemasan : 56 gram
Diproduksi oleh : UD. RAHMA SARI-Sukohajo
Didistribusikan oleh : UD. TAZZAKA- Sukoharjo
Izin Produksi: POM TR 103 309 71
Harga : 45.000

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI, 1979, Materia Medika Indonesia, Jilid III, 20, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.

Yuniarti, T, 2008. Ensiklopedia Tanaman Obat Tradisional, Cetakan Pertama MedPress,


Yogyakarta.

Nazaruddin. 2009. Tanaman Obat Tradisional. Yogyakarta: UGM Press.

Yusron M dan M Januwati. 2004. Pengaruh kondisi agroekologi terhadap produksi dan mutu
sambiloto (Andrographis paniculata Ness.). Makalah pada Seminar Nasional
Tumbuhan Obat Indonesia XXVI

Sadjad, S. 1980. Panduan pembinaan mutu benih tanaman kehutanan di Indonesia. IPB-
Bogor.
Warditiani, N.K., Larasanty, L.P.F., Widjaja, I.N.K.., Juniari, N.P.M.,Nugroho, A.E.,
Pramono, S. (2014). Identifikasi Kandungan Kimia Ekstrak Terpurifikasi Herba
Sambiloto. Bali: Universitas Udayana.