Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

LAHAN KERING IKLIM BASAH (LKIB)


PADA DATARAN TINGGI

Disusun Oleh :
Kelompok VI

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA
PANGKALAN BUN
Oktober 2017
LAHAN KERING IKLIM BASAH (LKIB)
PADA DATARAN TINGGI

Disampaikan Guna Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Studi Lahan Kering
Pada Program Studi Agribisnis

Disusun Oleh :
Kelompok VI
1. Doni NIM.1
2. Hamsan Sidik NIM.1
3. Jeki NIM.155420103
4. Nurfadilah NIM.15542010354
5. Rahmadi Candra NIM.15542010356
6. Renata NIM.1454201
7. Soleh Anshari NIM.155420103

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANTAKUSUMA
PANGKALAN BUN
Oktober 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Karena


rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Lahan
Kering Iklim Basah (LKIB). Makalah ini ditujukan untuk memenuhi
salah satu tugas Mata Kuliah Studi Lahan Kering. Makalah ini jauh
dari sempurna, untuk itu kami mohon maaf apabila ada kekurangan
atau kesalahan penulisan pada makalah ini.

Penulis menyadari bahwa keterbatasan pengetahuan dan


pemahaman menjadi keterbatasan kami, untuk itu kami meminta kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Kami berharap, semoga
makalah ini membawa manfaat bagi pembaca, setidaknya untuk
sekedar membuka cakrawala tentang Lahan Kering Iklim Basah
(LKIB). Atas perhatiannya kami sampaikan terimakasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah ini.

Pangkalan Bun, 10 Oktober 2017

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................... i

KATA PENGANTAR....................................................................... ......... ii

DAFTAR ISI ............................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................... .................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................... 3
1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dari Pertanian Lahan Kering ................................ 4
2.2 Potensi Lahan Kering Pada Dataran Tinggi .......................... 6
2.3 Kendala Lahan Kering Pada Dataran Tinggi ......................... 6
2.4 Teknologi Pengelolaan Lahan Kering
Pada Dataran Tinggi .............................................................. 8
2.5 Strategi Pengelolaan Lahan Kering Pada Dataran Tinggi ..... 12
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ............................................................................ 20
3.2 Saran ...................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam setiap tahap pembangunan pertanian, pemerintah telah sangat

banyak memberikan perhatian pada pembangunan lahan-lahan beririgasi.

Teknologi mendukung peran tersebut seperti menggunakan benih unggul dan

pupuk kimia yang secara intensif telah diterapkan sejak REPELITA I pada

tahun 70-an dan berhasil memacu produksi cukup tinggi, namun juga

menyebabkan merosotnya kualitas dan kesuburan lahan. Selain itu terdesak

pula varietas unggul lokal dan kearifan teknologinya yang menjadi ciri dan

kebanggaan masyarakat pedesaan. Sementara itu, terkonsentrasinya

pengembangan teknologi pangan pada lahan sawah menyebabkan kurang

berkembangnya teknologi pada ekosistem lainnya seperti lahan-lahan kering.

Pada saat teknologi lahan sawah relatif stagnan maka teknologi lahan kering,

maupun agroekosistem lainnya belum mampu meningkatkan produktifitas

tanaman secara signifikan. Kebijakan pengembangan komoditas pangan yang

terfokus pada padi secara monokultur telah mengabaikan potensi

pengembangan sumberdaya lainnya terutama di lahan-lahan kering.

Melihat peranan lahan kering sangat penting dalam menunjang

kegiatan pertanian maka sangat penting pula untuk menelaah yang terkait

dengan pengembangannya secara ramah lingkungan, menata pengembangan

sumberdaya yang berkelanjutan, kesejahteraan petani serta penciptaan

lapangan kerja. Struktur pertanian lahan kering ini umumnya didominasi oleh

usaha pertanian yang berskala kecil oleh karenanya sangat membutuhkan


sentuhan teknologi tepat guna spesifik lokasi agar terjadi peningkatan nilai

tambah. Pertanian Lahan Kering merupakan aktifitas pertanian (budidaya

tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan) yang

dilakukan di lahan kering. Lahan kering ini terjadi sebagai akibat dari curah

hujan yang sangat rendah, sehingga keberadaan air sangat terbatas, suhu udara

tinggi dan kelembabannya rendah. Lahan kering sering dijumpai pada daerah

dengan kondisi antisiklon yang permanen, seperti daerah yang terdapat pada

antisiklon tropisme. Daerah tersebut biasanya ditandai dengan adanya

perputaran angin yang berlawanan arah jarum jam di utara garis khatulistiwa

dan perputaran angin yang searah jarum jam di daerah selatan garis

khatulistiwa.

Lahan kering iklim basah (LKIB) yaitu daerah yang memiliki curah

hujan diatas 2500 mm/tahun. Kondisi lahan kering tersebut mengakibatkan

sulitnya membudidayakan berbagai produk pertanian. Faktor primer yang

diperlukan tanaman untuk tumbuh adalah media tanam, air, cahaya, angin, dan

nutrisi tanaman. Semua faktor yang diperlukan tanaman untuk dapat tumbuh

dengan baik tersebut terhambat oleh kondisi daerah lahan kering yang memiliki

iklim dan cuaca ekstrim. Untuk mendukung pertanian LKIB yang

berkelanjutan, pemerintah mengeluarkan Prima Tani.

Prima Tani merupakan Program Rintisan Pemasyarakatan Inovasi

Teknologi Pertanian untuk memasyarakatkan inovasi hasil penelitian dan

pengembangan pertanian kepada masyarakat dalam bentuk laboratorium

agribisnis di lokasi yang mudah dilihat dan dikenal masyarakat petani. Tujuan

utamanya adalah untuk mempercepat waktu, meningkatkan kadar dan


memperluas prevalensi adopsi teknologi inovatif yang dihasilkan oleh Badan

Litbang Pertanian. Selain itu, juga untuk menghimpun umpan balik mengenai

karakteristik teknologi tepat-guna spesifik pengguna dan lokasi, yang

merupakan informasi esensial dalam rangka mewujudkan penelitian dan

pengembangan berorientasi kebutuhan pengguna.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan pertanian lahan kering ?

2. Bagaimana potensi lahan pada dataran tinggi di Indonesia ?

3. Apa saja kendala dari lahan kering pada dataran tinggi ?

4. Apa saja teknologi yang digunakan dalam pengelolaan lahan kering

pada dataran tinggi ?

5. Bagaimana strategi yang dilakukan dalam pengelolaan lahan kering

pada dataran tinggi ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Mengetahui pengertian dari pertanian lahan kering.

2. Mengetahui ptensi lahan kering pada dataran tinggi.

3. Mengetahui kindala lahan kering pada dataran tinggi.

4. Mengetahui teknologi yang digunakan dalam pengelolaan lahan

kering pada dataran tinggi.

5. Mengetahui strategi yang digunakan dalam pengelolaan lahan kering

pada dataran tinggi.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pertanian Lahan kering

Menurut Odum (1971) lahan kering adalah bagian dari ekosistem

teresterial yang luasnya relatif luas dibandingkan dengan lahan basah.

Kemudian menurut Hidayat dkk (2000) lahan kering adalah hamparan lahan

yang tidak pernah digenangi air atau tergenang air pada sebagian waktu

selama setahun. Lahan kering adalah lahan yang dapat digunakan untuk

usaha pertanian dengan menggunakan air secara terbatas dan biasanya hanya

mengharapkan dari curah hujan.

Kesepakatan pengertian lahan kering dalam seminar nasional

pengembangan wilayah lahan kering ke 3 di Lampung : (upland dan rainfed)

adalah hamparan lahan yang didayagunakan tanpa penggenangan air, baik

secara permanen maupun musiman dengan sumber air berupa hujan atau air

irigasi. Definisi yang diberikan oleh soil Survey Staffs (1998) dalam Haryati

(2002), lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau

digenangi air selama periode sebagian besar waktu dalam setahun. Tipologi

lahan ini dapat dijumpai dari dataran rendah (0-700 m dpl) hingga dataran

tinggi (> 700m dpl). Dari pengertian diatas, maka jenis penggunaan lahan

yang termasuk dalam kelompok lahan kering mencakup: lahan tadah hujan,

tegalan, lading, kebun campuran, perkebunan, hutan, semak, padang rumput,

dan padang alang-alang.

Lahan kering dibagi ke dalam empat kategori, yakni :


1. Hyper Arid : indeks kekeringan (rasio antara curah hujan dan

evapotranspirasi potensial 0,03), tidak ada vegetasi tanaman kecuali

hanya beberapa rumput rumput di daerah lembah, penggembalaan ternak

berpindah-pindah, hujan tahunan rendah (di bawah 100 mm/tahun), serta

hujan terjadi tidak menentu, bahkan kadang-kadang tidak terjadi hujan

sepanjang tahun. Daerah ini terdapat di pegurunan Saudi Arabia.

2. Arid : indeks kekeringan 0,03-0,20 yang ditandai dengan adanya

peternakan, kegiatan pertanian dilakukan dengan irigasi tetes dan

sprinkler, terdapat tanaman musiman dan tahunan yang letaknya terpisah-

pisah, dan curah hujan tahunan antara 100 300 mm.Terdapat di Jeddah,

Saudi Arabia dan Negara-negara Timur Tengah pada umumnya.

3. Semi Arid : indeks kekeringan 0,2-0,5 yang ditandai dengan adanya

kegiatan pertanian denga mengandalkan air hujan meski produktifitasnya

masih rendah, terdapat kegiatan peternakan komunal, dan curah hujan

tahunan 300-800 mm.Biasanya terdapat di perbatasan daerah tropis dan

sub-tropis.

4. Sub Humid: indeks kekeringan 0,5-0,75. Daerah sub humid juga

dimasukkan ke dalam area lahan kering, meski sebenarnya memiliki

karakter yang dekat dengan daerah lahan basah. Di Indonesia kawasan

timur memiliki karakter Sub-Humid.

Contoh lahan kering berdasarkan iklim terbagi menjadi 2 yaitu :

Lahan kering iklim basah (LKIB) yaitu daerah yang memiliki curah
hujan diatas 2500 mm/tahun.
Lahan kering iklim kering (LKIK) yaitu daerah yang memiliki curah
hujan dibawah 2000 mm/tahun.
2.2 Potensi Lahan Kering Pada Dataran Tinggi

Lahan kering merupakan salah satu agroekosistem yang mempunyai

potensi besar untuk usaha pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura

(sayuran dan buah- buahan) maupun tanaman tahunan dan peternakan.

Berdasarkan Atlas Arahan Tata Ruang Pertanian Indonesia skala

1:1.000.000 (Pusat Penelitian dan Pengem- bangan Tanah dan Agroklimat

2001), Indonesia memiliki daratan sekitar 188,20 juta ha, terdiri atas 148 juta ha

lahan kering (78%) dan 40,20 juta ha lahan basah (22%). Tidak semua lahan

kering sesuai untuk pertanian, terutama karena adanya faktor pembatas tanah

seperti lereng yang sangat curam atau solum tanah dangkal dan berbatu, atau

termasuk kawasan hutan. Dari total luas 148 juta ha, lahan kering yang sesuai

untuk budi daya pertanian hanya sekitar 76,22 juta ha (52%), sebagian besar

terdapat di dataran rendah (70,71 juta ha atau 93%) dan sisanya di dataran tinggi.

Di wilayah dataran rendah, lahan datar bergelombang (lereng < 15%) yang

sesuai untuk pertanian tanaman pangan mencakup 23,26 juta ha. Lahan

dengan lereng 15-30% lebih sesuai untuk tanaman tahunan (47,45 juta ha).

Di dataran tinggi, lahan yang sesuai untuk tanaman pangan hanya sekitar 2,07

juta ha, dan untuk tanaman tahunan 3,44 juta ha.

2.3 Kendala Lahan Kering pada Dataran Tinggi

1. Kesuburan Tanah

Pada umumnya lahan kering memiliki tingkat kesuburan tanah yang

rendah, terutama pada tanah-tanah yang tererosi, sehingga lapisan olah

tanah menjadi tipis dan kadar bahan organik rendah. Kondisi ini makin

diperburuk dengan terbatasnya penggunaan pupuk organik, terutama


pada tanaman pangan semusim. Di samping itu, secara alami kadar

bahan organik tanah di daerah tropis cepat menurun, mencapai 3060%

dalam waktu 10 tahun (Brown dan Lugo 1990 dalam Suriadikarta et al.

2002). Bahan organik memiliki peran penting dalam memperbaiki sifat kimia,

fisik, dan biologi tanah. Meskipun kontribusi unsur hara dari bahan or-

ganik tanah relatif rendah, peranannya cukup penting karena selain unsur

NPK, bahan organik juga merupakan sumber unsur esensial lain seperti C,

Zn, Cu, Mo, Ca, Mg dan Si (Suriadikarta et al. 2002).

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah adanya tanah masam, yang

dicirikan oleh pH rendah (< 5,50), kadar Al tinggi, fiksasi P tinggi,

kandungan basa-basa dapat tukar dan KTK rendah, kandungan besi dan

mangan mendekati batas me- racuni tanaman, peka erosi, dan miskin

unsur biotik (Adiningsih dan Sudjadi 1993; Soepardi 2001). Dari luas

total lahan kering Indonesia sekitar 148 juta ha, 102,80 juta ha (69,46%)

merupakan tanah masam (Mulyani et al. 2004). Tanah tersebut didominasi

oleh Inceptisols, Ultisols dan Oxisols dan sebagian besar terdapat di

Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Lahan kering masam di wilayah berbukit

dan bergunung cukup luas, mencapai 53,50 juta ha atau 52% dari total

tanah masam di Indonesia. Tanah masam tersebut umumnya kurang

potensial untuk pertanian tanaman pangan karena tingkat kesuburannya

rendah, lereng curam dan solum dangkal.

2. Topografi

Di Indonesia, lahan kering sebagian besar terdapat di wilayah

bergunung (> 30%) dan berbukit (1530%), dengan luas masing-masing


51,30 juta ha dan 36,90 juta ha (Hidayat dan Mulyani 2002). Lahan kering

berlereng curam sangat peka terhadap erosi, terutama bila diusahakan

untuk tanaman pangan semusim dan curah hujannya tinggi. Lahan semacam

ini lebih sesuai untuk tanaman tahunan, namun ke- nyataannya banyak

dimanfaatkan untuk tanaman pangan, sedangkan perkebunan banyak

diusahakan pada lahan datar bergelombang dengan lereng < 15%. Lahan

kering yang telah dimanfaatkan untuk perkebunan mencakup 19,60 juta ha

(Badan Pusat Statistik 2005), terutama untuk tanaman kelapa sawit,

kelapa dan karet.

2.4 Teknologi Pengelolaan Lahan Kering Pada Dataran Tinggi

1. Pengelolaan Kesuburan Tanah

Pengelolaan kesuburan tanah tidak terbatas pada peningkatan

kesuburan kimiawi, tetapi juga kesuburan fisik dan biologi tanah. Hal ini

berarti bahwa pengelolaan kesuburan tanah tidak cukup dilakukan hanya

dengan memberikan pupuk saja, tetapi juga perlu disertai dengan

pemeliharaan sifat fisik tanah sehingga tersedia lingkungan yang baik

untuk pertumbuhan tanaman, kehidupan organisme tanah, dan untuk

mendukung berbagai proses penting di dalam tanah.

Salah satu teknologi pengelolaan kesuburan tanah yang penting adalah

pe- mupukan berimbang, yang mampu memantapkan produktivitas tanah

pada level yang tinggi. Hasil penelitian Santoso et al. (1995)

menunjukkan pentingnya pemupukan berimbang dan pemantauan status

hara tanah secara berkala. Penggunaan pupuk anorganik yang tidak tepat,

misalnya takaran tidak seimbang, serta waktu pemberian dan penempatan


pupuk yang salah, dapat mengakibatkan ke- hilangan unsur hara

sehingga respons tanaman menurun (Santoso dan Sofyan 2005). Hara

yang tidak termanfaatkan tanaman juga dapat berubah menjadi bahan

pencemar. Praktek pemakaian pupuk oleh petani pada lahan-lahan mine-

ral masam, meskipun pada saat ini masih dilakukan dengan takaran rendah,

dalam jangka panjang dapat menimbulkan ke- tidakseimbangan

kandungan hara tanah sehingga menurunkan produktivitas tanaman.

Penerapan teknologi pemupukan organik juga sangat penting dalam

pe-ngelolaan kesuburan tanah. Pupuk organik dapat bersumber dari sisa

panen, pupuk kandang, kompos atau sumber bahan organik lainnya.

Selain menyum- bang hara yang tidak terdapat dalam pupuk anorganik,

seperti unsur hara mikro, pupuk organik juga penting untuk mem- perbaiki

sifat fisik dan biologi tanah. Lahan kering akan mampu menyediakan air dan

hara yang cukup bagi tanaman bila struktur tanahnya baik sehingga

men- dukung peningkatan efisiensi pemupukan.

Jenis pupuk lain yang mulai berkembang pesat adalah pupuk hayati

(biofertilizer) seperti pupuk mikroba pelarut fosfat, pupuk mikroba

pemacu tumbuh dan pengendali hama, dan mikro- flora tanah multiguna.

Pupuk hayati selain mampu meningkatkan ketersediaan hara, juga

bermanfaat untuk: 1) melindungi akar dari gangguan hama penyakit, 2)

menstimulasi sistem perakaran agar ber- kembang sempurna dan

memperpanjang usia akar, 3) memacu mitosis jaringan meristem pada titik

tumbuh pucuk, kuncup bunga, dan stolon, 4) penawar racun be- berapa

logam berat, 5) metabolit pengatur tubuh, dan 6) bioaktivator perombak


bahan organik.

Di samping pemupukan, pengapuran juga penting untuk meningkatkan

produk- tivitas tanah masam, antara lain untuk mengurangi keracunan

aluminium (Al). Cara untuk menentukan takaran kapur yang perlu

diberikan adalah dengan me- nentukan sensitivitas tanaman dan

kemudian mengukur kejenuhan Al dalam tanah dengan analisis tanah

(Dierolf dalam Santoso dan Sofyan 2005)

2. Konservasi Tanah dan Rehabilitasi Lahan

Erosi merupakan salah satu penyebab menurunnya produktivitas

lahan kering, terutama yang dimanfaatkan untuk usaha tani tanaman

semusim seperti tanaman pangan (Abdurachman dan Sutono 2005; Kurnia

et al. 2005). Hasil penelitian me- nunjukkan budi daya tanaman pangan

semusim tanpa disertai konservasi tanah menyebabkan erosi berkisar antara

46351 t/ha/tahun (Sukmana 1994; 1995).

Erosi bukan hanya mengangkut material tanah, tetapi juga hara dan

bahan organik, baik yang terkandung di dalam tanah maupun yang berupa

input pertani- an. Erosi juga merusak sifat fisik tanah. Oleh karena itu,

penerapan teknik konservasi merupakan salah satu prasyarat

keberlanjutan usaha tani pada lahan kering. Target yang harus dicapai

adalah menekan erosi sampai di bawah batas toleransi, dengan kisaran

antara 1,1013,50 t/ha/tahun, bergantung pada sifat tanah dan

substratanya (Thompson dalam Arsyad 2000). Untuk menekan erosi

sampai di bawah ambang batas toleransinya, beberapa jenis teknik

konservasi dapat diterapkan dengan memperhatikan persyaratan teknis


(Agus et al. 1999).

Teras bangku merupakan teknik konservasi yang banyak diterapkan di

Jawa dan Bali. Teknik ini telah dikembangkan secara luas sejak tahun 1975

melalui inpres penghijauan (Siswomartono et al. 1990). Teras bangku

cukup disukai petani, dan juga efektif mencegah erosi dan aliran

permukaan (Abdurachman dan Sutono).

Beberapa teknik konservasi lain dapat dijadikan alternatif, seperti

teras gulud untuk tanah yang dangkal (< 40 cm), rorak atau teknik

konservasi vegetatif seperti alley cropping dan strip rumput. Selain

murah, teknik konservasi vegetatif memiliki keunggulan lain, yaitu dapat

berfungsi sebagai sumber pakan dan pupuk hijau atau bahan mulsa,

bergantung pada jenis tanaman yang digunakan. Dalam prakteknya,

penerapan teknik konservasi mekanik sering dikombinasikan dengan

teknik vegetatif, karena efektif dalam mengendalikan erosi (Dariah et al.

2004; Santoso et al. 2004) dan lebih cepat diadopsi petani.

Pengaturan pola tanam dengan mengusahakan permukaan lahan

selalu tertutup oleh vegetasi dan/atau sisa-sisa tanaman atau serasah, juga

berperan pen- ting dalam konservasi tanah. Pengaturan proporsi tanaman

semusim dan tahunan pada lahan kering juga penting; makin curam

lereng sebaiknya makin tinggi proporsi tanaman tahunan. Pengaturan

jalur penanaman atau bedengan yang searah kontur juga berkontribusi

dalam mencegah erosi.

Pengolahan tanah secara intensif merupakan penyebab penurunan

produk tivitas lahan kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa


pengolahan tanah yang berlebihan dapat merusak struktur tanah (Larson

dan Osborne 1982; Suwardjo et al. 1989) dan menyebabkan kekahatan

bahan organik tanah (Rachman et al 2004).

Rehabilitasi lahan-lahan terdegradasi dapat mendukung optimalisasi

lahan kering, antara lain dengan menanam legum penutup tanah atau

tanaman penghasil bahan organik lainnya, khususnya yang bersifat in situ

seperti alley cropping dan strip cropping. Penggunaan bahan pembenah

tanah baik organik maupun mineral juga dapat merehabilitasi lahan

terdegradasi

2.6 Strategi Pengelolaan Lahan Kering Pada Dataran Tinggi

Pertanian lahan kering tidak memerlukan banyak air, seperti halnya budi

daya padi sawah, sementara ketersediaan lahan kering masih luas. Selain

itu, teknologi pengelolaan lahan kering cukup banyak tersedia. Namun,

pemanfaatan kedua komponen tersebut dan pelaksanaannya di lapangan

memerlukan perencanaan dan strategi yang tepat. Adapun strategi yang dapat

dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Identifikasi Lahan yang Sesuai

Cara yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi lahan yang sesuai

untuk pertanian, terutama lahan alang-alang dan semak belukar adalah

dengan mengguna- kan peta penggunaan lahan skala 1:250.000

yang ditumpangtepatkan dengan peta arahan tata ruang pertanian.

Dengan cara ini, diperoleh data tentang lahan kering cadangan seluas 22,39

juta ha, yang terdiri atas 7,08 juta ha sesuai untuk tanaman pangan semusim

dan 15,31 juta ha untuk tanaman tahunan. Untuk memperoleh data yang
lebih tepat, harus digunakan peta tanah atau peta kesesuaian dan peta

penggunaan lahan dengan skala yang lebih besar, misalnya 1:50.000 atau

lebih baik lagi skala 1:25.000. Selain itu, data biofisik lahan perlu ditunjang

dengan informasi sosial- ekonomi, terutama status kepemilikan lahan,

sehingga pengembangan pertanian tidak terbentur pada permasalahan non-

teknis, yang dapat menggagalkan pen dayagunaan lahan kering yang

telah direncanakan.

2. Seleksi Teknologi Tepat Guna

Teknologi pengelolaan lahan kering untuk pertanian tanaman pangan

telah tersedia, baik teknologi konservasi tanah, pening- katan kesuburan

tanah, pengelolaan bahan organik tanah, dan pengelolaan air. Dari

sekumpulan teknologi tersebut, perlu diseleksi teknologi yang tepat guna,

sesuai dengan kondisi lahan (tanah, air, dan iklim) dan petani. Oleh karena

itu, perlu diketahui terlebih dulu karakteristik lahan dan kondisi petani agar

teknologi yang terpilih betul-betul efektif dan dapat diadopsi petani.

Karakteristik lahan dapat diketahui melalui pemetaan skala detail

(1:50.000 atau 1:25.000), atau lebih detail, skala 1:10.000 atau 1:5.000.

Dengan menggunakan peta dengan skala sangat detail, pemilihan

komoditas dan teknologi dapat dilakukan dengan lebih tepat. Aspek

sosial-ekonomi petani dapat diketahui dengan melaksanakan survei

lapangan, misalnya dengan menggunakan metode Participatory Rural

Appraisal (PRA).
3. Diseminasi Teknologi

Diseminasi dan adopsi teknologi pada umumnya berjalan lambat,

termasuk teknologi pengelolaan lahan (tanah, air dan iklim). Teknologi

tersebut disebarkan melalui seminar, simposium, jurnal serta media cetak

dan elektronik. Namun akses penyuluh apalagi petani ke media tersebut

relatif terbatas, sehingga cara dan media penyampaian tersebut kurang

efektif. Oleh karena itu, diperlukan metode diseminasi secara langsung

kepada petani, yang lebih mendekatkan sumber teknologi dengan petani

sebagai calon pengguna teknologi.

Salah satu terobosan dalam diseminasi teknologi pertanian adalah melalui

Prima Tani (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2006), yang

bertujuan untuk mempercepat diseminasi dan adopsi teknologi inovatif,

terutama yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian. Melalui program ini,

pertanian lahan kering, termasuk pengembangan budidaya padi gogo,

palawija dan sebagainya, misalnya dengan introduksi benih unggul, pe-

mupukan, dan rotasi tanaman, dapat berkembang lebih cepat dan

mampu meningkatkan produksi bahan pangan nasional secara signifikan.

4. Peningkatan Penelitian Pertanian Lahan Kering

Penelitian padi saat ini lebih terfokus pada padi sawah, yang telah

menghasilkan berbagai varietas unggul dan teknologi budidaya seperti

pengendalian hama/ penyakit, pemupukan, dan pengairan. Penelitian dan

pengembangan padi gogo jauh tertinggal. Sejalan dengan itu, minat dan

upaya petani untuk mengembangkan padi gogo juga relatif rendah,

tercermin dari luas pertanaman setiap tahun yang jauh lebih rendah dari
luas lahan sawah. Ke depan, penelitian dan pengembangan pertanian

lahan kering perlu mendapat perhatian yang lebih besar, ter- masuk

pembiayaannya. Akan lebih baik bila penelitian diarahkan pada teknologi

pengelolaan padi gogo dan palawija sebagai bagian dari sistem usaha

tani ( farming system) yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi.

Penelitian hendaknya dilaksanakan secara kompre- hensif, dalam arti

peneliti tidak bekerja sendiri-sendiri, tetapi dalam suatu tim dari berbagai

disiplin ilmu, sehingga dapat menghasilkan teknologi yang efektif dan

menguntungkan
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah lahan kering merupakan

lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian dengan menggunakan air

secara terbatas dan biasanya hanya mengharapkan dari curah hujan. Lahan

kering berdasarkan iklim terbagi menjadi 2 yaitu :

Lahan kering iklim basah (LKIB) yaitu daerah yang memiliki curah

hujan diatas 2500 mm/tahun.

Lahan kering iklim kering (LKIK) yaitu daerah yang memiliki curah

hujan dibawah 2000 mm/tahun.

Penerapan dari lahan kering iklim basah ini terdapat pada teori

mengenai lahan kering pada dataran tinggi yang memiliki potensi besar di

Indonesia dengan jumlah daratan sekitar 188,20 juta ha, terdiri atas 148 juta ha

lahan kering (78%) dan 40,20 juta ha lahan basah (22%). Dengan adanya

potensi tersebut, tak bisa dipungkiri bahwa Lahan Kering pada dataran tinggi juga

memiliki kendala diantaranya yang dipengaruhi oleh kesuburan tanah dan topografi.

Kemudian untuk menangani masalah tersebut terdapat teknologi yang dapat

digunakan untuk menangani masalah tersebuat antara lain yaitu pengelolaan

kesuburan tanah, konservasi tanah dan rehabilitasi lahan. Selain teknologi, terdapat

pula strategi yang dapat dilakukan dalam pengelolaan lahan kering pada dataran

tinggi, antara lain yaitu identifikasi lahan yang sesuai, seleksi teknologi tepat guna,

diseminasi teknologi, dan peningkatan penelitian pertanian lahan kering.


3.2 Saran

Adapun saran untuk makalah ini yaitu perlunya dilakukan penelitian

tentang pengeloaan lahan kering di dataran tinggi agar bisa dikelola secara

efektif dan efisien. Makalah ini meskipun menurut penulis sudah lengkap,

namun pembaca mungkin dapat beranggapan lain tentang penyusunan makalah

ini. Untuk itu penulis mohon, agar pembaca dapat memakluminya karena

penulis sebagai penyusun mempunyai batas kemampuan untuk berfikir dalam

segala hal untuk penyusunan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman, A. dan S. Sutono. 2005. Teknologi pengendalian erosi lahan


berlereng. hlm. 103145. Dalam Teknologi Pengelolaan Lahan
Kering: Menuju pertanian produktif dan ramah lingkungan. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Adiningsih, J.S. dan M. Sudjadi. 1993. Peranan sistem bertanam lorong (alley
cropping) dalam meningkatkan kesuburan tanah pada lahan kering
masam. Risalah Seminar Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat. Pusat
Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Agus, F., A. Abdurachman, A. Rachman, S.H. Talaoohu, A. Dariah, B.R.


Prawiradiputra, B. Hafif, dan S. Wiganda. 1999. Teknik Konservasi
Tanah dan Air. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan
Reboi- sasi Pusat. Departemen Kehutanan, Jakarta.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2006. Pedoman Umum Prima


Tani. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.

Badan Pusat Statistik. 2005. Statistik Indonesia tahun 2005. Badan Pusat
Statistik, Jakarta.

Dariah, A., U. Haryati, dan T. Budhyastoro. 2004. Teknologi konservasi


mekanik. hlm. 109132. Dalam Konservasi Tanah pada Lahan Kering
Berlereng. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat,
Bogor.

Hidayat, A. dan A. Mulyani. 2002. Lahan kering untuk pertanian. hlm. 1 34.
Dalam A. Abdurachman, Mappaona, dan Saleh (Ed.). Pengelolaan Lahan
Kering Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.

http://googleweblight.com/?lite_url=http://fitmandia14.blogspot.com/2015/05/pen
gelolaan-lahan-kering-pada-dataran.html diakses tanggal 8 Oktober 2017
pukul 13.15

https://id.wikipedia.org/Pertanian-lahan-kering diakses tanggal 8 Oktober 2017


pukul 13.00

Larson, W.E. and G.J. Osborne. 1982. Tillage accomplishments and potential. In
Predicting Tillage Effects on Soil Physical Properties and Processes. ASA
Special Publ. No. 44.

Mulyani, A., Hikmatullah, dan H. Subagyo. 2004. Karakteristik dan potensi tanah
masam lahan kering di Indonesia. hlm. 132. Dalam Prosi- ding Simposium
Nasional Pendayagunaan Tanah Masam. Pusat Penelitian dan Pe-
ngembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Rachman, A., A. Dariah, dan E. Husen. 2004. Olah tanah konservasi. hlm.
189210. Dalam Teknologi Konservasi Tanah pada Lahan Kering
Berlereng. Pusat Penelitian dan Pe- ngembangan Tanah dan Agroklimat,
Bogor.

Santoso, D., I P.G. Wigena, Z. Eusof, and C. Xuhui. 1995. The Asian land
management of sloping lands network: Nutrient balance.

Siswomartono, D., A.N. Gintings, K. Sebayong, and S. Sukmana. 1990.


Development of con- servation farming systems, Indonesia Country Review.
Regional Action Learning Programme on the Development of Conservation
Farming Systems. Report of the Inaugural Workshop. Chiang Mai, 23
February-1 March 1990. ASOCON Report No. 2.

Soepardi, H.G. 2001. Strategi usaha tani agri- bisnis berbasis sumber daya
lahan. hlm. 3552. Prosiding Nasional Pengelolaan Sumber Daya Lahan
dan Pupuk Buku I. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan
Agroklimat, Bogor.