Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH TELAAH KURIKULUM DAN PERENCANAAN

PEMBELAJARAN BIOLOGI

LANDASAN, FILOSOFI DAN PERKEMBANGAN


KURIKULUM

OLEH:

KELOMPOK

Dina Aprilla Zefira


Sakinah Qonita
Resmi Rita Ginta br. P

Dosen Pengampuh :

Dra. Mariani Natalina L, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS RIAU
2017
A. PENDAHULUAN

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memegang peranan


penting dalam kegiatan belajar mengajar. Kurikulum akan membantu kita
untuk dapat mengajar secara lebih efektif dan sistematis dengan materi serta
metode yang telah dipersiapkan.

Kita tentunya telah mengetahui, bahwa kurikulum menunjukkan semua


pengalaman belajar siswa di sekolah. Atas dasar pandangan tersebut, diperoleh
kesan bahwa sekolah dapat dipandang sebagai miniatur masyarakat, karena di
dalam lingkungan sekolah murid mempelajari segi-segi kehidupan sosial, seperti
norma-norma, nilai-nilai, adat istiadat, gotong-royong atau kerja sama, dan
sebagainya. Semua ini mirip dengan apa yang terjadi di lingkungan masyarakat.

Dengan demikian, proses pendidikan dapat diarahkan kepada


pembentukan pribadi anak secara utuh, dan ini dicapai melalui kurikulum sekolah.
Hilda Taba mencoba memandang kurikulum dari sisi lain, bahwa suatu
kurikulum biasanya terdiri atas tujuan, isi, pola belajar-mengajar, dan
evaluasi.

Dalam pengembangan kurikulum, terlebih dahulu dikaji dengan selektif,


akurat, mendalam dan menyeluruh landasan apasaja yang diperlukan untuk
merancang, mengembangkan dan mengimplementasikan kurikulum.

B. PENGERTIAN KURIKULUM
Mengenai pengertian kurikulum, banyak sekali pendapat-pendapat yang
diungkapkan oleh para ahli, diantaranya yaitu:
1. UU No. 20 Tahun 2003 Kurikulum merupakan seperangkat rencana &
sebuah pengaturan berkaitan dengan tujuan, isi, bahan ajar & cara yang
digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan nasional.
2. Dr. H. Nana Sudjana Tahun (2005) Kurikulum merupakan niat &
harapan yang dituangkan kedalam bentuk rencana maupun program
pendidikan yang dilaksanakan oleh para pendidik di sekolah. Kurikulum
sebagai niat & rencana, sedangkan pelaksaannya adalah proses belajar
mengajar. Yang terlibat didalam proses tersebut yaitu pendidik dan peserta
didik.
3. Drs. Cece Wijaya, dkk Mengartikan kurikulum dalam arti yang luas
yakni meliputi keseluruhan program dan kehidupan didalam sekolah.
4. Prof.Dr. Henry Guntur Tarigan Kurikulum ialah suatu formulasi
pedagogis yang termasuk paling utama dan terpenting dalam konteks
proses belajar mengajar.
5. Harsono (2005) Mengungkapkan bahwa kurikulum ialah suatu gagasan
pendidikan yang diekpresikan melalui praktik. Pengertian kurikulum saat
ini semakin berkembang, sehingga yang dimaksud dengan kurikulum itu
tidak hanya sebagai gagasan pendidikan, namun seluruh program
pembelajaran yang terencana dari institusi pendidikan nasional.
6. Prof. Dr. S. Nasution, M. A. Menjelaskan kurikulum sebagai suatu
rencana yang disusun untuk melancarkan proses kegiatan belajar mengajar
di bawah naungan, bimbingan & tanggunga jawab sekolah / lembaga
pendidikan.
7. H. Hasan (1992) Menurutnya kurikulum itu bersifat fleksibilitas. Yakni
sebagai suatu pemikiran kependidikan bagi diklat, sehingga dalam posisi
teoritik, harus dikembangkan dalam kurikulum sebagai sesuatu yang
terencana dan juga dianggap sebagai kaidah pengembang kurikulum.
8. Prof. Drs. H. Darkir Menyatakan bahwa kurikulum merupakan alat
dalam mencapai tujuan pendidikan. Jadi, kurikulum ialah program
pendidikan dan bukan program pengajaran, sehingga program itu
direncanakan dan dirancang sebagai bahan ajar dan juga pengalaman
belajar.
9. George A. Beaucham (1976) Kurikulum diartikan sebagai dokumen
tertulis yang berisikan seluruh mata pelajaran yang akan diajarkan kepada
peserta didik melalui pilihan berbagai disiplin ilmu dan rumusan masalah
dalam kehidupan sehari-hari.
10. Murray Print Menjelaskan bahwa kurikulum ialah ruang pembelajaran
yang direncanakan, diberikan secara langsung kepada peserta didik oleh
sebuah lembaga pendidikan dan merupakan pengalaman yang bisa
dinikmati oleh seluruh peserta didik ketika kurikulum itu diterapkan.

C. LANDASAN KURIKULUM
Landasan yang dipilih untuk dijadikan dasar pijakan dalam
mengembangkan kurikulum sangat tergantung atau dipengaruhi oleh pandangan
hidup, kultur, kebijakan politik yang dianut oleh negara dimana kurikulum itu
dikembangkan.
Menurut Robert S. Zais (1976) ada empat landasan pokok pengembangan
kurikulum, yaitu : philosophy and the nature of knowledge, sociiety and culture,
the individual, dan Learning theory. Sehingga dari keempat landasan pokok
tersebut dapat dikaji sebagai berikut :
1. Landasan filosofis
Landasan filosofis yaitu akan membahas dan mengidentifikasi landasan
filsafat dan implikasinya dalam mengembangkan kurikulum.
2. Landasan psikologis
Landasan psikologis yaitu akan membahas dan mengidentifikasi landasan
psikologis dan implikasi dalam mengembangkan kurikulum.
3. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)
Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu akan membahas dan
mengidentifikasi landasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
implikasinya dalam mengembangkan kurikulum.
4. Landasan Sosial Budaya
Kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Dengan
pendidikan diharapkan muncul masyarakat-masyarakat yang tidak asing
dengan masyarakat. Dengan pendidikan diharapkan lahir manusia-
manusia yangbermutu, mengerti, dan mampu membangun masyarakat.
Oleh sebab itu tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan
dengan kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan masyarakat.
5. Landasan Yuridis
Kurikulum pada dasaranya adalah produk yuridis yang ditetapkan melalui
keputusan menteri Pendidikan Nasional RI. Sebagai pengejawantahan dari
kebijakan pendidikan yang ditetapkan oleh lembaga legislatif yang
mestinya mendasarkan pada konstitusi/UUD. Dengan demikian landasan
yuridis pengembangan kurikulum di NKRI ini adalah UUD 1945
(pembukaan alinia IV dan pasal 31), peraturan-peraturan perundangan
seperti: UU tentang pendidikan (UU No.20 Tahun 2003), UU Otonomi
Daerah, Surat Keputusan dari Menteri Pendidikan, Surat Keputusan dari
Dirjen Dikti, peraturan-peraturan daerah dan sebagainya

D. FILOSOFI PENDIDIKAN

Filsafat pendidikan tidak lain adalah pelaksanaan pandangan dan kaedah


filsafat dalam bidanng pendidikan yang menentukan prinsip-prinsip kepercayaan
terhadap berbagai masalah pendidikan. Filsafat pendidikan sebagai salah satu
cabang dari kajian filsafat berusaha mengkaji masalah-masalah pendidikan di
mana secara filosofis, kurikulum merupakan alat pemasukan (input instrumental)
sebagai sarana terwujudnya proses kegiatan pendidikan dan berarti pula sarana
tercapainya tujuan pendidikan (Nurgianto,1988 : 29).

Menurut S.Nasution (Nasution,1989:21), dalam merumuskan sebuah


filsafat lembaga pendidikan secara tertulis setidaknya perlu memiliki
komponen-komponen seperti:
1. Alasan rasional mengenai eksistensi lembaga pendidikan itu
2. Prinsip-prinsip pokok yang mendasarinya
3. Prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi
4. Prinsip-prinsip pendidikan mengenai hakikat anak, hakikat proses
belajarmengajar, dan hakikat pengetahuan.

Berikut adalah aliran-aliran filsafat pendidikan yang pernah digunakan


dalam pengembangan kurikulum

a) Perenialisme
Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir
pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang
berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi
terhadap pendidikan progresif.Mohammad Noor Syam (1984)
mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih
banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang
telah teruji dan tangguh. Perenialisme memandang pendidikan sebagai
jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang
seperti dalam kebudayaan ideal.
Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan
perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum
perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan
kembali nilai-nilai atau prinsip prinsip umum yang telah menjadi pandangan
hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.
Dalam pendidikan, kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia
yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta mambahayakan tidak ada satu
pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta
kestabilan dalam perilaku pendidik.
Aliran ini lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran
dan keindahan dari warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Selain
itu, pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan
seharihari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada
kebenaran absolut, kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat
dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.

b) Essensialisme
Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai
kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia.
Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama
yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaan yang utama ialah dalam hal
memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas,
terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan
doktrin tertentu.
Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-
nilai yang jelas dan tahan lama dalam memberikan kestabilan, mempunyai
tata aturan yang jelas. Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa
kurikulum hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang
kuat. Herman Harrel Horne dalam bukunya mengatakan bahwa
hendaknya kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal, yaitu watak
manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal.
Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada
yang serba baik. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik
tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah
ditentukan.Bogoslousky mengutarakan di samping menegaskan supaya
kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang
satu dengan yang lain, kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah
rumah yang mempunyai empat bagian, yaitu:
a. Universum
Pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala
manifestasi hidup manusia. Di antaranya adalah adanya kekuatan-
kekuatan alam, asal usul tata surya dan lain-Iainnya. Basis
pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas.
b. Sivilisasi
Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat.
Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan
terhadap lingkungannya, mengejar kebutuhan, dan hidup a man dan
sejahtera.
c. Kebudayaan
Kebudayaan mempakan karya manusia yang mencakup di antaranya
filsafat, kesenian, kesusasteraan, agama, penafsiran dan penilaian
mengenai lingkungan.
d. Kepribadian
Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang
tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. Dalam
kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik, fisiologi,
emosional dan intelektual sebagai keseluruhan, dapat berkembang
harmonis dan organis, sesuai dengan kemanusiaan ideal.
c) Progressivisme
Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada
tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa
kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat
pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.
Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, William O. Stanley,
Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas dan Frederick C. Neff.
Filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter,
sebab pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk
hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan
sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.
Aliran ini memandang kebudayaan sebagai hasil budi manusia,
dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak beku,
melainkan selalu berkembang dan berubah. Maka pendidikan sebagai
usaha manusia yang merupakan refleksi dari kebudayaan itu haruslah sejiwa
dengan kebudayaan itu.

d) Rekontruktivisme
Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme.
Pada rekonstruksivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan.
Disamping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada
progresivisme, rekonstuktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan
masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan
untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu.
Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dan proses.

E. PERKEMBANGAN KURIKULUM
1. Kurikulum 1947
Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai
istilah dalam bahasa Belanda leer plan artinya rencana pelajaran, istilah ini
lebih popular dibanding istilah curriculum (bahasa Inggris). Perubahan
arah pendidikan lebih bersifat politis, dari orientasi pendidikan Belanda ke
kepentingan nasional. Sedangkan asas pendidikan ditetapkan Pancasila.
Kurikulum yang berjalan saat itu dikenal dengan sebutan Rentjana
Pelajaran 1947, yang baru dilaksanakan pada tahun 1950. Sejumlah
kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari
Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok: a. Daftar mata
pelajaran dan jam pengajarannya, b. Garis-garis besar pengajaran.
Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih
dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga
hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana
Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan
kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih
dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan lebih
menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka
dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Orientasi
Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pada pendidikan pikiran. Yang
diutamakan adalah: pendidikan watak, kesadaran bernegara dan
bermasyarakat. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari,
perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.

2. Kurikulum 1952, Rentjana Pelajaran Terurai 1952


Pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami
penyempurnaan. Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang
kemudian diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini
sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling
menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana
pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan
kehidupan sehari-hari.
Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut
Rencana Pelajaran Terurai 1952. Silabus mata pelajarannya jelas sekali,
seorang guru mengajar satu mata pelajaran, kata Djauzak Ahmad,
Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995. Pada masa itu
juga dibentuk kelas Masyarakat. Yaitu sekolah khusus bagi lulusan
Sekolah Rendah 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP. Kelas
masyarakat mengajarkan keterampilan, seperti pertanian, pertukangan, dan
perikanan tujuannya agar anak tak mampu sekolah ke jenjang SMP, bisa
langsung bekerja.

3. Kurikulum 1964, Rentjana Pendidikan 1964


Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari
kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat
mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD,
sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana
(Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan,
emosional/artistik, keterampilann, dan jasmani. Ada yang menyebut Panca
wardhana berfokus pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan
moral. Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi:
moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan
jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan
kegiatan fungsional praktis.

4. Kurikulum 1968
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan kurikulum 1964, yakni
dilakukan perubahan struktur kulrikulum pendidikan dari pancawardhana
menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan
khusus. Kurikulum ini merupakan perwujudan perubahan orientasi pada
pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Kelahiran
Kurikulum 1968 bersifat politis yaitu mengganti Rencana Pendidikan 1964
yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan
manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan
organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan
dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9. Djauzak menyebut
Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. Hanya memuat mata pelajaran
pokok-pokok saja, katanya. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tak
mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada
materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang
pendidikan.

5. Kurikulum Periode 1975


Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih
efisien dan efektif. Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di
bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal
saat itu, kata Drs. Mudjito, Ak, MSi, Direktur Pembinaan TK dan SD
Depdiknas. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah
satuan pelajaran, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan.
Setiap satuan pelajaran dirinci lagi dalam bentuk Tujuan
Instruksional Umum (TIU), Tujuan Instruksional Khusus (TIK), materi
pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi. Guru
harus trampil menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan
pembelajaran.

6. Kurikulum 1984, Kurikulum 1975 yang Disempurnakan


Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski
mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting.
Kurikulum ini juga sering disebut Kurikulum 1975 yang disempurnakan.
Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu,
mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut
Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).
Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr.
Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-
1986.
Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di
sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan
reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah
kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di
ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar,
dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Akhiran
penolakan CBSA bermunculan.

7. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999


Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984
dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian
waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem
caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu
tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi
siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak. Tujuan
pengajaran menekankan pada pemahaman konsep dan keterampilan
menyelesaikan soal dan pemecahan masalah. Kurikulum 1994 bergulir
lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya.
Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum
1984, antara pendekatan proses, kata Mudjito menjelaskan.
Pada kurikulum 1994 perpaduan tujuan dan proses belum berhasil
karena beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional
hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah
masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah,
dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga
mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil,
Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kehadiran
Suplemen Kurikulum 1999 lebih pada menambal sejumlah materi.

8. Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)


Kurikulum 2004, disebut juga Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK). Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus
mengandung tiga unsur pokok, yaitu: pemilihan kompetensi yang sesuai;
spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan
pencapaian kompetensi; dan pengembangan pembelajaran. Ciri-ciri KBK
sebagai berikut:
1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara
individual maupun klasikal, berorientasi pada hasil belajar (learning
outcomes) dan keberagaman.
2. Kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang
bervariasi,sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar
lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
3. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya
penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
4. Struktur kompetensi dasar KBK ini dirinci dalam komponen aspek,
kelas dan semester.
5. Keterampilan dan pengetahuan dalam setiap mata pelajaran, disusun
dan dibagi menurut aspek dari mata pelajaran tersebut.
6. Pernyataan hasil belajar ditetapkan untuk setiap aspek rumpun
pelajaran pada setiap level.
Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada
pengembangan kemampuan untuk melakukan kompetensi tugas-tugas
tertentu sesuai dengan standar performance yang telah ditetapkan. Hal ini
mengandung arti bahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan
individu yang mampu melakukan perangkat kompetensi yang telah
ditentukan. Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu kurikulum
berbasis kompetensi sebagai pedoman pembelajaran.
Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai
dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat
memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalam arti memiliki
pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu
(Puskur, 2002:55).
Kurikulum 2004 lebih keren dengan nama Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK). Setiap mata pelajaran dirinci berdasarkan kompetensi
apa yang mesti di capai siswa. Kerancuan muncul pada alat ukur
pencapaian kompetensi siswa yang berupa Ujian Akhir Sekolah dan Ujian
Nasional yang masih berupa soal pilihan ganda. Bila tujuannya pada
pencapaian kompetensi yang diinginkan pada siswa, tentu alat ukurnya
lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur sejauh
mana pemahaman dan kompetensi siswa. Walhasil, hasil KBK tidak
memuaskan dan guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya
kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum.

9. Kurikulum Periode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran)


2006
Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan, muncullah KTSP. Disusun
oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang selanjutnya
ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional melalui Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 22, 23, dan 24 tahun 2006.
Menurut Undang-undang nomor 24 tahun 2006 pasal 1 ayat 15,
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum
operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan
pendidikan. Jadi, penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan
dengan memperhatikan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang
dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Disamping itu, pengembangan KTSP harus disesuaikan dengan kondisi
satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, serta peserta didik.
Penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun
oleh BSNP dimana panduan tersebut berisi sekurang-kurangnya model-
model kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar
dan menengah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tersebut
dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi
daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan
peserta didik.
Tujuan KTSP ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta
kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan
pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh
satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan
dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Tujuan Panduan
Penyusunan KTSP ini untuk menjadi acuan bagi satuan pendidikan
SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK
dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan
pada tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan.
Dengan terbitnya permen nomor 24 tahun 2006 yang mengatur
pelaksanaan permen nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi kurikulum
dan permen nomor 23 tahun 2006 tentang standar kelulusan, lahirlah
kurikulum 2006 yang pada dasarnya sama dengan kurikulum 2004.
Perbedaan yang menonjol terletak pada kewenangan dalam
penyusunannya, yaitu mengacu pada jiwa dari desentralisasi sistem
pendidikan.
Pada kurikulum 2006, pemerintah pusat menetapkan standar
kompetensi dan kompetensi dasar, sedangkan sekolah dalam hal ini guru
dituntut untuk mampu mengembangkan dalam bentuk silabus dan
penilaiannya sesuai dengan kondisi sekolah dan daerahnya. Hasil
pengembangan dari semua mata pelajaran, dihimpun menjadi sebuah
perangkat yang dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP). Penyusunan KTSP menjadi tanggung jawab sekolah di bawah
binaan dan pemantauan dinas pendidikan daerah dan wilayah setempat.
Pada akhir tahun 2012 KTSP dianggap kurang berhasil, karena
pihak sekolah dan para guru belum memahami seutuhnya mengenai KTSP
dan munculnya beragam kurikulum yang sulit mencapai tujuan pendidikan
nasional. Maka mulai awal tahun 2013 KTSP dihentikan pada beberapa
sekolah dan digantikan dengan kurikulum yang baru.

10. Kurikulum Periode 2013


Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan, modivikasi dan
pemutakhiran dari kurikulum sebelumnya. Sampai saat ini pun saya belum
menerima wujud aslinya seperti apa. Namun berdasarkan informasi
beberapa hal yang baru pada kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 sudah diimplementasikan pada tahun pelajaran
2013/2014 pada sekolah-sekolah tertentu (terbatas). Kurikulum 2013
diluncurkan secara resmi pada tanggal 15 Juli 2013. Sesuatu yang baru
tentu mempunyai perbedaan dengan yang lama.
DAFTAR PUSTAKA

Dakir, H. 2004. Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum. Rineka Cipta. Jakarta.

Putra, Andra. 2014. Landasan dan Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum.


http://andraputraa.blogspot.co.id/2014/03/landasan-dan-prinsip-prinsip.html.
Diunduh pada tanggal 25 September 2017

Nur Irwantoro dan Yusuf Suryana. 2016. Kompetensi Pedagogik. Genta Group
Production : Sidoarjo