Anda di halaman 1dari 4

Kebutuhan Amonium Nitrat untuk Batubara Meningkat

Oleh : Frans Doli Hh | 22-Jul-2009, 02:55:49 WIB

KabarIndonesia - Kebutuhan Industri batubara memiliki pengaruh yang sangat signifikan atas
pertumbuhan industri Amonium Nitrat (AN) di Indonesia. Bahan industri tersebut digunakan
untuk industri batubara, selain itu juga digunakan untuk pertambangan tembaga, emas, semen
dan kontruksi. Hal ini diutarakan Direktur Utama PT Ancora Indonesia Resources Tbk, Usman
H. Darus kepada HOKI di Jakarta.

Menurut Usman H. Darus, di tahun 2008 kemarin diperkirakan kebutuhan AN di Indonesia


mencapai sebesar 350.000 ton dan jumlah ini meningkat terus seiring dengan pesatnya
pertumbuhan industri pertambangan.

Namun dari data konsumsi AN, lanjutnya, dapat dilihat bahwa kebutuhan AN meningkat dari
tahun ke tahun. Hal ini sejalan dengan peningkatan produksi industri pertambangan di
Indonesia dalam 5 tahun terakhir ini.

Hal ini khususnya dikatakan pada produksi batubara meningkat sebesar 55% pada tahun 2007
lalu dibandingkan dengan tahun 2003 kemarin. Peningkatan stripping ratio dan pembukaan
tambang batubara juga akan meningkatkan permintaan atas AN, tuturnya.

Ditegaskan Dirut PT Ancora Indonesia Resources Tbk ini,sektor komersial di Indonesia pada
umumnya digunakan untuk industri pertambangan dan semen.

"Untuk pekerjaan tambang terbuka AN digunakan untuk membakar lapisan penutup,


sedangkan pada pertambangan bawah tanah digunakan untuk membuka bongkahan batu,
terutama dalam membuat lubang atau terowongan bawah tanah," katanya.

Kemudian, untuk memenuhi permintaan pasar, selain dari produksi sendiri PT Multi Nitrotama
Kimia (MNK), juga melakukan impor AN.

Hasil produksi MNK pada tahun 2007 tercermin sebesar 22% dari jumlah penjualan MNK atau
hanya bisa mengcover 14% dari kebutuhan AN dalam negeri. Sehingga dengan rencana MNK
untuk meningkatkan kapasitas produksi diharapkan akan meningkatkan peran MNK dalam
memenuhi kebutuhan AN di masa depan.

Namun berdasarkan penjualan MNK tahun 2008 kemarin, pengguna AN terbesar adalah
disektor batubara sebesar 50%. Untuk mineral sendiri seperti emas, dan tembaga sebesar 46%.

Untuk itulah pada tahun 2008 kemarin produksi batubara di Indonesia mengalami peningkatan
jika dibandingkan dengan tahun 2007 lalu, sehingga pengguna AN MNK di sektor tambang
batubara juga ikut meningkat. Pada tahun 2009 sekarang ini, diperkirakan produksi batubara
akan naik lagi menjadi 250 juta MT.(*)
Kebutuhan Amonium Nitrat Indonesia Dipenuhi dari
Impor
Jumat, 5 Juni 2009 18:14 WIB | 1.921 Views
Pewarta: surya
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia masih mengimpor amonium nitrat sekitar
339.000 ton per tahun, kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Argo dan Hasil
Hutan Departemen Perindustrian, Benny Wahyudi.

Benny di Jakarta Jumat mengatakan, sebagian besar kebutuhan amonium nitrat


Indonesia itu dipenuhi melalui impor dari China, Australia, India, Korea, Thailand,
Jepang dan Fhilipina.

Ia mengatakan, kapasitas yang baru bisa terpenuhi dari produksi PT Multi


Nitrotama Kimia Cikampek Jawa Barat sebanyak 40.000 ton per tahun dari
kebutuhan yang mencapai 379.000 ton per tahun.

Amonium nitrat itu di Indonesia digunakan untuk campuran semen, pupuk serta
industri pertambangan.

"Kalau melihat pertumbuhan kebutuhan nasional amonium nitrat antara delapan


persen hingga 10 persen per tahun. Hal itu seiring pertumbuhan di sektor
pertambangan dan sektor lainnya," katanya.

Di dalam negeri, untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan, tengah


dibangun pabrik amonium nitrat, yaitu PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI). Pabrik
tersebut akan dibangun di Bontang Provinsi Kalimantan Timur, sedangkan
pekerjaan tahap awal telah dimulai sejak akhir 2007.

"Pembangunan infrastruktur pabrik amonium nitrat terbesar di Indonesia itu akan


di mulai pertengahan Juli 2009 dan dijadwalkan selesai pada kuartal kedua tahun
2011," kata Benny.

Pabrik tersebut berkapasitas mencapai 300.000 ton per tahun.

"Pembangunan pabrik oleh PT Kaltim Nitrate Indonesia itu merupakan


perusahaan patungan penanaman modal asing (PMA), Orica Ltd Australia dan
PT Armindo Prima dengan investasi mencapai 660 juta dolar AS," ujarnya.

Dikatakan, sumber daya alam untuk bahan tersebut di Indonesia cukup tersedia,
namun belum sepenuhnya dapat dikelola, karena untuk pengelolaannya
memerlukan teknologi mutakhir dan biaya cukup besar.
Bagi pemerintah proyek ini sangat strategis, karena dapat menghemat devisa
dari impor amonium nitrat mencapai 150 juta dolar AS per tahun atau sekitar
Rp1,54 trliun/tahun.

Pabrik tersebut dibangun di atas lahan seluas 10 hektare, dalam pekerjaan


infrastrukturnya menyerap tenaga lokal mencapai 1.000 orang.*
Kebutuhan Handak Tiap Tahun Naik
8-14 Persen
31 Oktober, 2013 - 22:28
JAWA BARAT

SUBANG, (PRLM).- Kebutuhan bahan peledak (Handak) di dalam negeri beberapa


tahun terakhir terus meningkat antara 8 - 14 persen, bersamaan dengan semakin
maraknya kegiatan usaha pertambangan dalam negeri dan meningkatnya harga
komoditas tambang di pasar internasional. Namun sayangnya pasar dalam negeri itu
lebih banyak diisi oleh produk bahan peledak impor buatan produsen luar negeri.
Kondisi itu terjadi karena kemandirian industri bahan peledak dalam negeri masih
belum tercapai, walaupun sudah menjadi prioritas pemerintah tetapi masih adanya
sejumlah kendala dan keterbatasan yang masih belum bisa diatasi.
Hal itu disampaikan Direktur Teknologi dan Industri Pertahanan Kementerian
Pertahanan, Ditjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI, Marsekal
Pertama TNI, Darlis Pangaribuan, dalam acara "2nd Indonesia Drill and Blast
Conference 2013, yang digelar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia
(PERHAPI) di Dahana Subang, Kamis (31/10/13).
"Perkiraan kebutuhan handak dalam negeri tahun 2013 sebanyak 600.000 ton,
diperkirakan akan meningkat pada tahun 2014. Kapasitas yang baru terpenuhi dari
produksi PT Multi Nitrotama Kimia (MNK) Cikampek Jawa Barat dan PT KNI di
Bontang Kaltim sebanyak 340.000 ton pertahun," ujarnya.
Dia mengatakan guna mewujudkan kemandirian industri bahan peledak, semua
pihak perlu duduk bersama untuk merealisasikannya. Hingga saat ini Kemenhan
telah mengeluarkan izin usaha handak kepada kepada 12 perusahaan, terdiri dari 10
Bandan Usaha, Satu industri handak, dan satu lagi telah mendapat izin mendirikan
pabrik Ammonium Nitrate. Dalam pengaturan kuota untuk memenuhi kebutuhan
bahan peledak tahun 2013, kemenhan telah menetapkan kuota 711.280 ton terdiri
dari kuota dalam negeri dan impor. Dari kebutuhan tahun ini, lebih dari separuhnya
dipenuhi oleh industri handak dalam negeri dan sisanya impor.
"Kuota produksi dalam negeri 432.000 ton, dan kuota impor 279.280 ton.
Pencapaian hingga semester satu dalam negeri terealisasi 41 persen, dan impor 37
persen," katanya.
Dijelaskannya, upaya antisipasi meningkatnya kebutuhan di masa mendatang, saat
ini tengah dirancang pembangunan pabrik Anomium Nitrat oleh PT Batutat Kimia
Perdana (BKP) di Lubuk Tutung Kaltim. Kapasitas produksi pabrik ini mencapai
300.000 ton per tahun. Selain itu, PT Dahana bekerjasama dengan PT Black Bear
Resources Indonesia (BBRI) membangun pabrik serupa di Bontang Kalimantan
Timur dengan kapasitas produksi 90.000 ton pertahun.
"Kehadiran kedua pabrik tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan
Anonium Nitarat dalam negeri. Sehingga ke depannya bisa bersaing dengan
produsen luar negeri," terangnya.
Sementara itu Kasubbid Sendak Bid Yanmas Baintelkam Polri, AKBP H. Kasmen
mengatakan handak komersil dapat disalahgunakan untuk bom ikan ilegal, dan
tambang liar atau digunakan oknum yang tak bertanggung jawab. "Bahan peledak
komersil perlu pengawasan adag aman dan selamat mulai proses produksi,
perjalanan, penyimpanan, penggunaan dan pemusnahan yang kadaluarsa," ujarnya.
Dijelaskannya pengawasan bahan peledak komersial cukup rumit. Sebab
ketentuannya terkait peraturan sangat komplek, serta instansi yang terlibat dalam
pengawasannya beragam. "Kompleksitas ini memerlukan suatu tatanan yang
harmonis agar bahan peledak tetap aman, selamat dan ekonomis," katanya.(A-
116/A-108)***