Anda di halaman 1dari 7

DASAR TEORI ASPIRIN

Asam asetilsalisilat atau banyak dikenal sebagai aspirin adalah turunan salisilat yang
merupakan prototipe obat antiinflamasi non steroid (non steroid antiinflammatory drugs=
NSAIDs). Aspirin dan NSAIDs lainnya bekerja dengan cara menghambat siklooksigenase
(COX 1/2) yang mengakibatkan penurunan produksi prostaglandin. Berbeda dengan analgesik
opioid dan parasetamol, hal ini tidak hanya mengurangi sakit/nyeri, tetapi juga inflamasi
sehingga digunakan pada pengobatan berbagai kondisi akut dan kronik yang menimbulkan
nyeri dan inflamasi. Pada umumnya, NSAIDs menghambat COX 1/2 secara non selektif.
Penelitian menunjukkan sebagian besar efek samping NSAIDs dimediasi oleh kerja hambatan
terhadap COX-1, sedangkan efek analgesik dimediasi oleh hambatan terhadap COX-2
(Koeberle and Werz, 2009). [Koeberle A, Werz O., 2009. Inhibitors of the microsomal
prostaglandin E(2) synthase-1 as alternative to non steroidal anti-inflammatory drugs
(NSAIDs)a critical review. Curr. Med. Chem. 16 (32): 42744296.]

Asam salisilat merupakan salah satu bahan kimia yang cukup penting dalam
kehidupan sehari-hari serta mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi karena dapat
digunakan sebai bahan intermediat dari pembuatan bahan baku untuk keperluan farmasi.
Perkembangan konsumsi asam salisilat di Indonesia cenderung meningkat dari tahun-
ketahun. Hal ini didukung dengan adanya industri-industri yang menggunakan asam salisilat
sebagai bahan buku utama, seperti halnya industri pembuatan aspirin, metil salisilat,
salisilamide dan industriyang berhubungan dengan pencelupan, pembuatan karet dan resin
kimia (Rieko,2007).

[Kristian, Rieko, Panji Setya A. 2007. Asam Salisilat dari Phenol. (http://www.
rieko.files.wordpress.com/2007/12/asam-salisilat-dara-phenol.pdf). Di akses pada Rabu, 09
April, Pukul 17:05 WIB.]

Asam salisilat meningkatkan penetrasinya ke dalam kulit. Tidak dapat dikombinasi


dengan mengoksida kareana akan terbentuk garam sengsalisilat yang tidak aktif. Asam
benzoat ini dan ester hidroksinya 0,1% berkhasiat fungistasis dan bakteriostatis lemah.
Biasanyabzat ini digunakan bersamaan dengan asam salisilat (kirana, 2007).

[Rahardja, Kirana, Tan Hoan Tjay. 2007. Obat-obat Penting. Jakarta: PT Elex Media
Komputindo.]

Asam salisilat mempunyai dua radikal fungsi dalam struktur kimianya, yaitu radikal
hidroksi feanolik dan radikal karboksil yang langsung terkait pada inti benzena. Esterifikasi
radikal hidroksi fenoliknya dengan fenol diperoleh easter fenil salisilat yang dikenal dengan
nama salol, sedangkan esterifikasi radikalnya deangan asetilakloridadidapatkan ester
esetilsalisilat yang deikenal dengan aspirin salol dan banyak digunakan dalam bidang
kedokteran karena mempunyai sifat analgelik dan antipireatik (Damin, 2006).

[Sumardjo, Damin. 2006. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran
dan Program Sastra 1 Fakultas Bioeksakta. Jakarta: Buku Kedokteran.]

Ester merupakan turunan asam karboksilat yang gugus OH dari karboksilnya diganti
dengan gugus OR dari alkohol. Ester dapat dibuat dari asam dengan alkohol, atau dari
anhidrida asam dengan alkohol (Wilbraham, 1992). Suatu ester asam karboksilat ialah suatu
senyawa yang mengandung gugus -CO2R dengan R dapat berbentuk alkil maupun aril. Suatu
ester dapat dibentuk dengan reaksi langsung antara suatu asam karboksilat dan suatu alkohol,
suatu reaksi yang disebut reaksi eksterifikasi (Fessenden & Fessenden, 1986). Eksterifikasi
berkataliskan asam dan merupakan reaksi yang reversible. Anhidrida asam ialah turunan dari
asam dengan mengambil air dari dua gugus karboksil dan menghubungkan fragmen-fragmennya
(Hart dkk, 2003).
[Fessenden & Fessenden. 1986. Kimia Organik Jilid 2 Edisi 3. Penerbit Erlangga. Jakarta]
Esterifikasi atau pembentukan ester terjadi jika asam karboksilat dipanaskan bersama
alkohol primer atau sekunder dengan sedikit asam mineral sebagai katalis. Produksi ester secara
industri dilakukan dengan mereaksikan anhidrida asam dengan alkohol. Ester yang dibuat
dengan cara ini adalah asam asetil salisilat atau yang lebih dikenal dengan aspirin (Wilbraham,
1992).
[Wilbraham, Antony C dan Michael S.Matta. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati.
Penerbit ITB. Bandung.]

Asam asetilsalisilat mempunyai nama sinonim asetosal, asam salisilat asetat dan
yang paling terkenal adalah aspirin (brandname produk dari Bayer). Serbuk atau kristal asam
asetil salisilat dari tidak berwarna sampai berwarna putih. Asam asetilsalisilat stabil dalam
udara kering tapi terdegradasi perlahan jika terkena uap air menjadi asam asetat dan asam
salisilat. Nilai titik lebur dari asam asetil salisilat adalah 1350 C (Lenggana, 2010).
[Lenggana, Tirta. 2010. Validasi Penetapan Kadar Asaam Asetil Salisilat (Asetosal) Dalam
Sediaan Tablet Berbagai Merek Menggunakan Kolorimetri.
http://etd.eprints.ums.ac.id/9569/4/K10006020.pdf diakses tanggal 20 Februari 2012.]
Gambar 1. Struktur Aspirin

Asetosal adalah obat anti-nyeri tertua yang sampai saat ini paling banyak digunakan
diseluruh dunia. Zat ini juga berkhasiat anti demam kuat dan pada dosis rendah sekali (40 mg)
berdaya menghambat agregasi trombosit. Efek antimikroba ini tidak reversible dan berdasarkan
blockade enzim, siklo-oksigenase yang bertahan selama hidupnya trombosit A2 (TxA2)- yang
bersifat trombotis dan vasokontriktif-dihindarkan. Pada dosis lebih besar dari normal (diatas 5g
sehari) obat ini juga berkhasiat antiradang akibat gagalnya sintesa progtasglandin-E (PgE2).
Penggunaannya selain sebagai analgetikum, asetosal banyak digunakan sebagai alternatif
antikoagulasia sebagai obat pencegah infark kedua setelah terjadi serangan. Hal ini berkat daya
antitrombotisnya. Obat ini juga efektif untuk profilaksis serangan stroke kedua setelah
menderita TIA (Transient Ishaemic Attack = serangan kekurangan darah sementara di otak),
terutama pada pria (Tjay, 2002).
[Tjay, Drs. Tan Hoan dan Drs. Kirana Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting. Penerbit
Gramedia. Jakarta.]

Dalam industri, reaksi asetilasi biasa digunakan pada pembuatan selulosa asetat dan
pembuatan aspirin (asam asetil salisilat). Agen asetilasi yang umum digunakan untuk
industri adalah anhidrida asetat karena lebih murah, tidak mudah dihidrolisis, dan reaksinya
tidak berbahaya (Wahyuni 2004). Reaksi berkatalis asam dari suatu anhidrida dengan alkohol
atau fenol akan menghasilkan ester. Reaksi ini menggunakan anhidrida asetat yang tersedia
secara komersial (Harwood et al. 2009).

[Harwood JR, McKendrick & Heat W. 2009. At A Glance Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.]
[Wahyuni E. 2004. Pemanasan Gelombang Mikro Dalam Reaksi Asetilasi Anilin dan
Turunannya di atas Alumina. Laporan Penelitian. Bogor: Departemen FMIPA
Universitas Indonesia.]
Asilasi aromatik secara umum berlangsung dengan bantuan katalis asam Lewis.
Dalam substitusi elektrofilik, substituen yang telah ada dalam cincin mengarahkan elektrofilik
yang akan masuk pada posisi-posisi tertentu dan juga mempengaruhi laju reaksi substitusi.
Ada dua jenis substituen, yang pertama gugus aktivasi membentuk produk -orto dan -para.
Kedua merupakan gugus deaktivasi membentuk produk -meta (Sitorus 2010). Orientasi dan
laju substitusi elektrofilik pada fenol dan anisol mengarahkan pada posisi orto- dan para- atau
merupakan gugus pengaktivasi cincin

Sintesis asetilsalisilat (aspirin) dari asam salisilat dan asetat


anhidrida

COOH COOH
O O
OH O

+ H2SO4
O
+ CH3COOH
O

C4H6O3 C7H6O3
C9H8O4 C2H4O2

(120.1) (138.1)
(98.1) (180.2)
(60.1)
1.1.1 Reaksi Asilasi
Sebuah asil merupakan alkil yang terikat pada ikatan rangkap oksigen
dan karbon. Jika R mewakili alkil, maka asil mempunyai formula.
(Pudjaatmaka, 1992)

Gambar 1.2 Gugus asil (Pudjaatmaka, 1992)

Asil yang umum dipakai adalah CH3CO-. Ini disebut sebagai


etanoil. Dalam kimia, asilasi (secara formal, namun jarang digunakan
alkanoilasi) adalah proses adisi gugus asil ke sebuah senyawa. Senyawa
yang menyediakan gugus asil disebut sebagai agen pengasil. Asil
halida sering digunakan sebagai agen pengasil karena dapat
membentuk elektrofil yang kuat ketika di berikan beberapa logam katalis.
Sebagai contoh pada asilasi Friedel Crafts menggunakan asetil
klorida, CH3COCl, sebagai agen dan aluminium klorida (AlCl3) sebagai
katalis untuk adisi gugus asetil ke benzena. (Pudjaatmaka, 1992)

Gambar 1.3 Contoh reaksi asilasi (Pudjaatmaka, 1992)

Asil halida dan anhidrida asam karboksilat juga sering di gunakan


sebagai agen penghasil untuk mengasilasi amina menjadi amida atau
mengasilasi alkohol menjadi ester. Dalam hal ini, amina dan alkohol
adalah nukleofil, mekanismenya adalah adisi-eliminasi nukleofilik. Asam
suksinat juga umumnya di gunakan pada beberapa tipe asilasi yang secara
khusus disebut suksinasi. Oversuksinasi terjadi ketika lebih dari satu
suksinat di adisi ke sebuah senyawa tunggal. Contoh industri asilasi adalah
sintesis aspirin, di mana asam salisilat di asilasi oleh asetat anhidrida.