Anda di halaman 1dari 10

FILSAFAT ILMU MANAJEMEN

EPISTEMOLOGI ILMU MANAJEMEN

Kelompok 3:

1. IG N. Aris Prasetya (1732125019)


2. Ni Luh Putu Sriastiti (1732125020)
3. Putu Indah Hapsari (1732125021)
4. Christoforus Ristan (1732125022)
5. Ida Ayu Dian Purnama Sari (1732125023)
6. Rini Putu Nur Rahayu Sujoko (1732125024)
7. I Gede Arif Gunadi (1732125025)
8. Luh Sukarini (1732125026)

Kelas: Magister Manajemen / Smt: 1

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS WARMADEWA
TAHUN 2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Epistemologi (dalam bahasa Yunani berasal dari kata episteme, yang berarti
pengetahuan, pemahaman dan logos, yang berarti kata) adalah kata pertama yang
digunakan oleh ahli filsafat Skotlandia James Frederick Ferrier untuk menggambarkan
cabang filsafat yang bersangkutan dengan teori pengetahuan. Epistemology juga bisa di
definisikan sebagai studi lapangan, alami, dan sumber pengetahuan, serta batas-batas
pemahaman manusia. Ini berkaitan dengan isu-isu seperti bagaimana pengetahuan berasal
dan bagaimana harus diuji dan divalidasi (One, 2014). Epistemologi atau yang akrab disebut
teori pengetahuan adalah salah satu dari tiga sistematika filsafat yang secara umum ada
dalam filsafat. Bila ontology mengulas hkikat segala sesautu, maka epistemologi bertugas
membicarakan pengetahuan. Bagaimana memperoleh pengetahuan, apa saja instrument
pengetahuan itu, apa dasar-dasar pengetahuan bagaimana proses mengetahui, adakah kriteria
pengetahuan disebut benar atau salah, dll (Johnson, 2003:3).
Berbicara tentang filsafat ilmu, pasti akan menjumpai istilah epistimologi, sebab
manusia tidak hanya memerlukan kebutuhan pokok saja, akan tetapi manusia juga
memerlukan informasi untuk mengetahui keadaan di lingkungan sekitar mereka. Dalam
upaya untuk memperoleh informasi, manusia seringkali melakukan komunikasi ataupun
cara-cara lain yang bisa digunakan. Salah satu informasi yang didapat dari komunikasi
adalah pengetahuan. Pengetahuan sangat diperlukan bagi kehidupan manusia karena dapat
memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan. Dalam mencari pengetahuan, tak
jarang manusia harus mempelajari Epistemologi. Epistemologi disebut juga sebagai teori
pengetahuan karena mengkaji seluruh tolak ukur ilmu-ilmu manusia, termasuk ilmu logika
dan ilmu-ilmu manusia yang bersifat gamblang, merupakan dasar dan pondasi segala ilmu
dan pengetahuan. Dari sebab itu, dalam kesempatan ini kami akan membahas tentang
Epistemologi Ilmu secara ringkas, dengan harapan agar mudah di pahami dan dimengerti.

2
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai
berikut:
1. Apa pengertian epistemologi
2. Apa saja sumber epistemologi
3. Bagaimana instrument epistemologi

C. Tujuan Penulisan
1. Memahami arti dari epistemologi
2. Mengetahui aliran-aliran dasar pengetahuan manajemen
3. Dapat memahami aliran-aliran teori dari epistemology

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Epistemologi
Dalam belajar filsafat, kita akan menemui banyak cabang kajian yang akan membawa
kita pada fakta dan betapa kaya dan beragam kajian filsafat itu. Sebenarnya yang terpenting
adalah bagaimana kita semua memahami apa saja yan menjadi kajian filsafat, cabang-
cabang ilmu filsafat. Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari benar atau
tidaknya suatu pengetahuan. Sebagai sub sistem filsafat, epistemologi mempunyai banyak
sekali pemaknaan atau pengertian yang kadang sulit untuk dipahami. Dalam
memberikan pemaknaan terhadap epistemologi, para ahli memiliki sudut pandang yang
berbeda, sehingga memberikan pemaknaan yang berbeda ketika mengungkapkannya.
Epistemologi berasal dari Bahasa Yunani Episteme dan Logos. Episteme biasa diartikan
pengetahuan atau kebenaran, dan Logos diartikan pikiran, kata, atau teori. Secara etimologi
Epistemologi dapat diartikan, teori pengetahuan yang benar, dan lazimnya hanya disebut
teori pengetahuan yang dalam bahasa Inggrisnya menjadi Theory of Knowledge. Secara
terminologi, epistemologi adalah teori atau ilmu pengetahuan tentang metode dan dasar-
dasar pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan batas-batas pengetahuan dan
validitas atau sah berlakunya pengetahuan itu.
Beberapa ahli yang mencoba mengungkapkan definisi daripada epistemologi adalah P.
Hardono Hadi. Menurut beliau epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan
mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan
dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Tokoh lain yang mencoba mendefinisikan epistemologi adalah D.W Hamlyin, beliau
mengatakan bahwa epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan
lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian pengandaian serta secara umum hal itu dapat
diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. Am Syaifudin
menyebutkan bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu
itu, dari mana asalnya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang

4
tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang
dapat kita ketahui, dan sampai manakah batassannya.

B. Aliran Dasar Pengetahuan Manajemen


Ilmu manajemen memiliki beberapa aliran sebagai dasar pemikiran yang dibagi
berdasarkan aliran klasik, aliran hubungan manusiawi, dan aliran ilmu manajemen.
1. Aliran teori manajemen klasik
a. Scientific Management (Manajemen ilmiah)
Manajemen ilmiah timbul akibat terjadinya revolusi industri di Inggris pada abad
ke-18. Revolusi industri sendiri menyebabkan meningkatnya kebutuhan suatu
pendekatan manajemen yang sistematis. Para pemikir memberikan perhatian
terhadap masalah-masalah manajemen yang timbul, baik itu dikalangan usahawan,
industry maupun masyarakat (Haryono, 2012).
Sumbangan teori manajemen ilmiah:
1) Metode - metode yang dikembangkan dapat diterapkan pada berbagai kegiatan
organisasi.
2) Teknik-teknik efisiensi (studi gerak dan waktu) telah menyadarkan para manager
bahwa gerak fisik dan alat yang digunakan dalam menjalankan tugas dapat
menjadi efisien.
3) Penekanan pada seleksi dan pengembangan karyawa dengan cara ilmiah
menunjukkan pentingnya kemampuan dan factor pelatihan dalam meningkatkan
efektivitas kerja seorang karyawan.
4) Manajemen ilmiah yang menekankan pentingnya rancangan kerja mendorong
manager mencari cara terbaik untuk pelaksanaan tugas.
5) Manajemen ilmiah tidak hanya mengembangkan pendekatan rasional dalam
memecahkan masalah organisasi, tetapi lebih dari itu manajemen ilmiah
menunjukkan jalan kearah profesionalisasi manajemen.
Keterbatasan Teori Manajemen Ilmiah:
1) Peningkatan produksi tidak disertai dengan peningkatan pendapatan.
2) Upah yang tinggi dan kondisi kerja yang baik bukan hanya disebabkan oleh
peningkatan laba perusahaan.

5
3) Hubungan manajemen dan karyawan tetap jauh.
4) Memandang manusia sebagai sesuatu yang rasional, yang hanya dapat
dimotivasi dengan pemuasan kebutuhan ekonomi dan fisik.
5) Mengabaikan kebutuhan manusia untuk mendapatkan kepuasan dari hasil
kerjanya.
b. Classical Organiation theory (Teori organisasi klasik)
Pada tahun 1916, Henry Fayol mengarang buku General and Industrial
management dengan sebutan teori manjemen klasik yang sangat memperhatikan
manajemen bagi satu organisasi yang kompleks. Sumbangan terbesar dari Fayol
berupa pandangannya tentang manajemen yang bukanlah semata kecerdasan pribadi,
tetapi lebih merupakan satu keterampilan yang dapat diajarkan dan dipahami prinsip-
prinsip pokok dan teori umumnya yang telah dirumuskan. Dalam mengembangkan
ilmu manajemen, Fayol membagi kegiatan dan operassi perusahaan ke dalan 6
macam kegiatan (Haryono, 2012):
1. Teknis (produksi)
2. Dagang (beli, jual, pertukaran)
3. Keuangan (pencarian dan penggunaan optimum atas modal)
4. Keamanan (perlindungan harga milik dan manusia)
5. Akuntansi
6. Manajerial (perencanaan, pengorganisasian, memerintah, pengkoordinasian, dan
pengendalian).
Sumbangan teori organisasi klasik:
1) Keterampilan manajerial dapat diterapkan pada semua jenis kelompok kegiatan,
jika hal lainnya tetap.
2) Beberapa prinsip yang mendasari prilaku manajerial yang efektif dan dapat
diajarkan, memberikan hal-hal praktis yang dapat diterapkan.
3) Pandangan yang membuat para manager waspada akan masalah-masalah
mendasar yang mungkin mereka temui dalam setiap organisasi.
Keterbatasan teori organisasi klasik
1) Teori yang dikemukakan dipandang tidak semuanya cocok untuk masa kini.

6
2) Prinsip-prinsip aliran ini hanya tepat apabila oganisasi berada dalam lingkungan
yang stabil dan dapat diprediksi.

2. Aliran Hubungan Manusiawi


Aliran perilaku muncul karena dalam pendekatan klasik, efisiensi produksi dan
keserasian kerja tidak dapat dicapai. Para manajer masih menghadapi kesulitan karena
karyawan tidak selalu mengikuti pola-pola perilaku yang rasional. Pada tahap aliran
perilaku atau hubunga manusiawi memandang organisasi melihat pada hakikatnya adalah
sumber daya manusia. Aliran ini memandang aliran klasik kurang lengkap karena terlihat
kurang mampu mewujudkan atau mencapai efisiensi produksi yang sempurna dengan
keharmonisan ditempat kerja. Oleh sebab itu, para manajer perlu dibantu dalam
menghadapi manusia, dari sisi perilaku karyawan melalui antar lain ilmu sosiologi dan
psikologi (Haryono, 2012).
Sumbangan aliran hubungan manusiawi
Aliran hubungan manusiawi menyadarkan pentingnya kebutuhan social. Dengan
demikian, aliran ini menyeimbangkan konsep lama yang menekankan
ekonomi/rasionalitas manusia. Suasana kerja menjadi lebih baik dibandingkan
sebelumnya. Pelatihan-pelatihan yang kemudian banyak yang memfokuskan pada upaya
memperbaiki hubungan kerja antar manager dengan karyawan. Aliran ini mempelopori
studi baru dalam bidang dinamika kelompok, dimana perhatian ditunjukkan tidak hanya
pada individu, tetapi juga pada proses dan dinamika kelompok (Haryono, 2012).
Keterbatasan aliran hubungan manusiawi
Walaupun demikian, ada beberapa kelemahan yang dinyatakan oleh orang-orang
yang beranggapan kepuasan karyawan bersifat kompleks, karena selain ditentukan oleh
lingkungan social, juga oleh factor - faktor lainnya yaitu tingkat gaji, jenis pekerjaan,
sruktur dan kultur organisasi, hubungan karyawan manajemen dan lain-lain. Konsep
manusia social yang dikembangkan ternyata tidak menjelaskan sepenuhnya perilaku
manusia. Usaha perbaikan-perbaikan kondisi kerja ternyata tidak mampu menaikan
prestasi kerja. Aliran hubungan manusia belum mampu melakukan prediksi perilaku-
perilaku manusia dengan akurat. Suatu hal yang dimengerti karena factor social
merupakan hasil emosi manusia yang lebih sulit diukur (Haryono, 2012).

7
3. Aliran Perilaku Organisasi
Masa manajemen modern berkembang melalui dua jalur yang berbeda. Jalur pertama
merupakan pengembangan aliran perilaku (perilaku organisasi) dan yang lain dibangun
atas dasar manajemen ilmiah (aliran kuantitatif). Pendekatan manusia mempelopori
tumbuhnya pendekatan baru yang yang lebih sering dikenal sebagai pendekatan/aliran
perilaku. Karena tidak ada dua orang yang persis sama, maka seorang manajer yang
efektif akan berusaha mempelajari kebutuhan-kebutuhan setiap individu agar dapat
mempengaruhi individu tersebut (Haryono, 2012).

C. Aliran Teori Epistemologi


Dalam aspek epistemologi ilmu manajemen, ada beberapa aliran-aliran teori yang
harus kita ketahui, diantaranya:
1. Aliran Teori Pengetahuan Empiris
Teori empirisme adalah sebuah orientasi filsafat yang berhubungan dengan
kemunculan ilmu pengetahuan modern dan metode ilmiah. Empirisme menekankan
bahwa ilmu pengetahuan manusia bersifat terbatas pada apa yang dapat diamati dan
diuji. Oleh karena itu, aliran empirisme memiliki sifat kritis terhadap abstraksi dan
spekulasi dalam membangun dan memperoleh ilmu. Para ilmuwan berkebangsaan
Inggris seperti John Locke, George Berkely can david Hume adalah pendiri utama
tradisi empirisme (Kusuma, 2011).
Sumbangan utama aliran empirisme adalah lahirnya ilmu pengetahuan modern
dan penerapan metode ilmiah untuk membangun pengetahuan. Selain itu, tradisi
empirisme adalah fundamen yang mengawali mata rantai evolusi ilmu pengetahuan
sosial, terutama dalam konteks perdebatan apakah ilmu pengetahuan sosial itu
berbeda dengan ilmu alam. Teori ini erat kaitannya dengan teori belajar mengajar
yang bersumber dari aliran-aliran klasik dan merupakan benang merah yang
mengubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu, kini, dan mungkin yang
akan datang.

8
2. Aliran Teori Pengetahuan Rasionalisme
Rasionalisme adalah aliran filsafat ilmu yang berpandangan bahwa otoritas rasio
(akal) adalah sumber dari segala pengetahuan. Rasionalisme juga adalah paham
filsafat yang mengatakan bahwa akal adalah alat terpenting dalam memperoleh
pengetahuan dan mengetes pengetahuan. Menurut A.R Lacey bahwa berdasarkan
akar katanya rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal
merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Rasionalisme merupakan
faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal. Selain
itu tidak ada sumber yang hakiki (Warsito, 2012:149).
Aliran rasionalisme menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan.
Manusia menurut aliran ini memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal
menagkap objek. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam
memperoleh pengetahuan, pengalam indera diperlukan untuk merangsang akal dan
memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, untuk
sampainya manusia pada kebenaran adalah semata-mata dengan akal (Q-Anees,
2003:78).
3. Aliran Teori Pengetahuan Positivisme
Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu-
satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktual-
fisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori
melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari.
Posotivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu-satunya pengetahuan
yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktual fiskal. Positivisme dalam
pengertian diatas telah dikenal sejak Yunani Kuno. Terminologi positivisme
dicetuskan pada pertengahan abad ke-19 oleh salah satu pendiri ilmu sosiologi, yaitu
Auguste Comte. Pengembangan penting dalam paham positivisme klasik dilakukan
oleh ahli ilmu alam Ernst Mach yang mengusulkan pendekatan teori secara fiksi.
Namun pengaruh yang paling utama adalah ide dalam pembentukan filosofi ilmiah
pada abad ke-20 yang disebut logika positivisme (logical positivisme) (Hardiwijono,
1980:221).

9
DAFTAR PUSTAKA
https://azharnasri.blogspot.co.id/2016/01/makalah-epistemologi-ilmu-filsafat-ilmu.html
http://hariszubaidillah.blogspot.co.id/2015/10/makalah-ontologi-epistemologi-dan.html

10