Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES ENERGI I

HVAC

Dosen Pembimbing : Yanti Suprianti, ST., MT

Oleh:

1. Annisa Fitri Shaumi (151734003)


2. Geraldy Faiq Putra (151734012)
3. Rasmohan Agni Klisme (151734023)
4. Tika Faradita A. (151734031)

D4-TEKNIK KONSERVASI ENERGI


JURUSAN TEKNIK KONVERSI ENERGI
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2017
I. TUJUAN
Setelah melakukan praktikum mahasiswa diharapkan dapat :
1. Menjelaskan prinsip kerja proses pendinginan pada sistem HVAC
2. Mengidentifikasi parameter yang terlibat dalam proses pendinginan di sistem HVAC
3. Menentukan neraca massa dan energi setiap komponen/alat proses pada sistem HVAC
sistem HVAC
sub-sistem/komponen/alat proses yang terlibat dalam sistem HVAC

II. DASAR TEORI

DEFINISI HVAC
Sistem HVAC dirancang untuk memenuhi parameter-parameter pemanasan, pendiginan
dan ventilasi dalam efisiensi energi terbaik. Untuk mencapai hal tersebut, prinsip kerja HVAC
menjadi keharusan untuk dipahami. Karakteristik kerja setiap unit sistem HVAC juga harus
dipahami dan dikelola agar mendukung secara maksimal kinerja sistem.
Sistem HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning) mengonsumsi energi yang
cukup signifikan dari total konsumsi energi pada sebuah indusri. Salah satu perangkat yang
digunakan dalam sistem HVAC adalah air conditioner (AC). Pengondisian udara mengarah
pada perlakuan terhadap udara untuk mengontrol secara serempak suhu, kandungan
kelembaban, kebersihan, bau, dan sirkulasi udara sesuai kebutuhan. Kebutuhan energi untuk
sistem HVAC pada sebuah Industri akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah
manusia yang ada di dalamnya.
Untuk mewujudkan lingkungan yang nyaman secara termal dan mengoptimalkan
pemakaian energi untuk pengondisian udara, maka diperlukan sistem cerdas untuk dapat
mendeteksi keberadaan dan persebaran manusia di dalam ruangan. Dengan adanya sistem ini
diharapkan mampu mewujudkan bangunan menjadi bangunan hijau (green building) yang
ramah lingkungan dan hemat energi, tetapi tetap nyaman bagi penghuni yang ada di dalamnya.
Saat ini sudah berkembang AC yang dapat mendeteksi keberadaan manusia di dalam
ruangan yang memanfaatkan pergerakan manusia. Akan tetapi, AC ini belum
mempertimbangkan aspek persebaran dan jumlah manusia di dalam ruangan. Oleh karena itu,
konsumsi energi yang digunakan untuk membangkitkan AC akan terbuang dengan sia-sia jika
AC menyala tetapi tidak ada manusia yang ada di dalamnya atau AC di setting menghasilkan
suplai udara yang banyak dengan beda temperatur udara di dalam dan di luar ruangan yang
besar .
FUNGSI HVAC
Secara Umum fungsi HVAC adalah fasilitas tata udara untuk menciptakan kondisi lingkungan
tempat agar mememuhi semua persyaratan teknis bagi dilaksanakannya kegiatan farmasi
antara lain :

1. Untuk mengendalikan suhu, ada kemungkinan produk yang sensitive terhadap perubahan
suhu
2. Untuk mengendalikan kelembaban, ada kemungkinan produk sensitive terhadap
kelembaban udara
3. Untuk menjaga kebersihan ruangan misalnya dilakukan dengan serangkaian system
penyaringan udara sesuai dengan tingkat kebersihan ruangan yang dipersyaratkan, serta
desain perbedaan tekanan udara untuk setiap ruangan yang berbeda kelas kebersihannya
4. untuk mencegah kontaminasi silang,
5. Pengendalian pertumbuhan mikroba, selain ditentukan oleh HVAC juga dipengaruhi oleh
cara sanitasi tepat
6. Menjaga kemungkinan terjadinya kontaminasi terhadap lingkungan, misalnya pada system
dust collector
7. Untuk keamanan personel, misalnya pada weighing booth atau lemari asam, dll

PRINSIP KERJA HVAC

Prinsip kerja HVAC tidak lain adalah prinsip bagaimana menangani heat sebagai
variabel utama yang dikendalikan dalam sistem ini. Dalam proses heating, kita perlu
memindahkan panas dari satu materi ke materi yang ingin kita panaskan. Dalam proses cooling
kita perlu membuang panas dari materi yang ingin kita dinginkan dan membuat panas tersebut
diserap oleh materi lain. Untuk membuat sistem sirkulasi udara dengan temperatur tertentu
(atau disebut sebagai proses air conditioning) kita perlu membuat sirkulasi panas agar bisa
secara terus menerus berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain (atau ruangan luar), panas di
ruangan yang kita inginkan bertahan pada kondisi steady state, selama waktu yang kita
butuhkan.

Dalam mencapai tujuan tersebut, prinsip-prinsip mekanisme perpindahan panas bekerja


baik secara independen maupun secara kolektif dalam suatu sistem. mekanisme perpindahan
seperti apa yang bekerja akan bergantung pada beberapa hal: 1 jenis materi yang ingin dipindah
panaskan; 2 alat yang digunakan; 3 jenis sirkulasi yang digunakan. Sirkulasi siklus referigerasi
menggunakan refrigerant sebagai fluida kerja pendingin dan pemanas pada sistem HVAC.

Jenis cairan yang digunakan sebagai refrigeran sebaiknya adalah cairan yang akan
menguap pada temperatur rendah dan tekanan sekitar 1 atmosfer. Dengan mempertahankan
tekanan di atas 1 atm, maka kebocoran yang terjadi lebih mudah diketahui.

KOMPONEN DASAR HVAC

Sistem HVAC memiliki lima komponen dasar (RedDot, TT), yaitu:


1. Expansion Device, sebuah bentuk halangan pada aliran fluida cair sistem. Dirancang
untuk menghasilkan penurunan tekanan (pressure drop)
2. Evaporator, alat yang memindahkan panas udara dengan cara menukarkannya dengan
refrigerant.
3. Compressor, menghasilkan energi mekanik untuk memindahkan refrigerant dan
memanipulasi tekanan. Alat ini adalah jantung dari sistem HVAC.
4. Condensor, dirancang untuk menukar panas dari refrigerant ke udara luar. Sama
dengan evaporator.
5. Drier Filter Device, wadah penyimpanan refrigerant tambahan yang biasanya memuat
dying agent yang disebut desiccant dan penyaring untuk memonitor adanya
kontaminan.

Diagram siklus refrigerasi kompresi uap ditunjukan oleh Gambar 1 dan Gambar 2.

Gambar 1 Siklus Refrigerasi Kompresi Uap Gambar 2 Diagram P-H


Keterangan:
1 2 : Proses Evaporasi . Refrigeran masuk dalam fasa cair dan tekanan rendah dan menyerap
kalor dari lingkungan sekitar. Selama proses penyerapan kalor refrigeran akan berubah fasa
dari cair menjadi gas. Pada saat keluar dari evaporator, refrigeran telah menjadi uap, dan
berlanjut menyerap panas sepanjang pipa hingga uap berda dalam kondisi superheated.

2 3 : Proses Kompresi . Uap panas lanjut ini akan masuk ke kompresor dimana tekanannya
akan ditingkatkan. Pada proses kompresi ini, temperatur juga akan meningkat akibat transfer
energi dari kerja kompresor ke refrigeran. Refrigeran keluaran kompresor memiliki temperatur
dan berada tekanan yang paling tinggi selama siklus.

3 4 : Proses Kondensasi . Uap refrigeran akan dialirkan menuju kondensor. Pada proses
kondensasi refrigeran akan melepas kalor ke lingkungan. Selama proses ini refrigeran akan
berubah fasa dari gas menjadi cair. Proses pelepasan kalor pada kondensor ini dapat dibantu
dengan aliran pendingin berupa udara ataupun air. Jumlah kalor yang dilepas di kondensor
harus sama dengan jumlah sama dengan kalor yang diserap di evaporator ditambah dengan
kerja kompresor. Adapun bila ada selisih nilai, hal itu disebabkan adanya penyerapan dan
pelepasan kalor di sepanjang pipa dan losses lainnya.
4 1 : Proses Ekspansi . Cairan refrigeran bertekanan tinggi keluaran kondensor akan dialirkan
melalui peralatan ekspansi, yang dapat berupa katup ekspansi atau pipa kapiler. Alat ekspansi
ini akan menurunkan tekanan refrigeran dan mengendalikan aliran menuju evaporator. Proses
ekspansi terjadi secara isentalpi.
PERHITUNGAN HVAC

Untuk men ngetahui performa HVAC, digunakan parameter-parameter sebagai berikut:


1. Kalor yang diserap refrigeran di evaporator

Kalor yang dilepas refrigeran di kondensor

COP (Coefficient of Performance) COP adalah nilai yang menunjukan performa dari mesin
refrigerasi. COP didapat dari perbandingan energi yang diserap di evaporator dengan kerja
kompresor. Perhitungan COP dengan pendekatan secara termodinamika disebut COP internal.
Untuk sisi pendinginan adalah sebagai berikut:

Perhitungan COP dengan pendekatan pemberi energi disebut COP eksternal. Untuk sisi
pendinginan adalah sebagai berikut:

Selain kinerja sistem, kinerja tiap subsistem yang terlibat juga dapat dianalisis, karena setiap
parameter yang terlibat dalam subsistem juga pada akhirnya akan memengaruhi kinerja sistem.
Adapun proses yang terjadi dalam subsistem terkait dengan perpindahan panas dan konversi
energi.
SISTEM KONTROL DAN MANAJEMEN ENERGI PADA SISTEM TATA UDARA
a. Sistem kontrol kapasitas pendingin direncanakan untuk mengatur operasi peralatan tata
udara dan refrigerasi di dalam rantang yang paling effisien atau hematenergi. Peralatan tata
udara dan refrigerasi yang karakteristik kapasitasnya dapat diatur "mendekati" perubahan
beban pendingin umumnyaakan dapat beroperasi dengan effisiensi yang terbaik. Sistem
control on off pada umumnya tidak dianjurkan untuk konservasi energi karena kurang
mampu mengatur kapasitas sistem tata udara agar mendekati perubahan pendingin, kecuali
pada kasus tertentu
b. Mesin refrigerasi perlu dipilih yang sudah dilengkapi dengan sistem control kapasitas, agar
dapat dioperasikan kapasitas yang cukup untuk mengatasi beban dengan masukan daya
minimum. Dalam hal digunakan lebih dari satu mesin refrigerasi pada satu sistem tata udara,
perlu dilengkapi dengan sistem kontrol yang mengatur giliran mesin refrigerasi bekerja serta
mengatur kombinasi persentase beban yang didukung oleh tiap mesin refrigerasi, sehingga
dapat diperoleh masukan energi yang minimum.
c. Pada sisi udara, pengaturan dengan laju aliran udara variabel merupakan salah satu pilihan
terbaik dari segi konservasi energi, namun pengoperasian fan pada peralatan pengolah udara
harus dicermati apakah perlu dilengkapi dengan pengaturan kecepatan putaran.
d. Pengaturan kapasitas koil juga harus dipertimbangkan dengan hati-hati, baik koil yang
dialiri refrigeran maupun yang dialiri air sejuk. Koil pendingin dialiri air sejuk yang
dilengkapi dengan katup modulasi dua jalan akan menyebabkan pompa air sejuk beroperasi
dengan laju aliran berubah dengan berubahnya beban sehingga termasuk beroperasi pada
daerah yang effisiensinya rendah. Dengan sasaran konservasi energi maka perlu dicari solusi
yang memperbaikieffisiensi pompa pada daerah operasinya.
e. Untuk sistem dengan air sejuk, perencanaan pompa dengan pengaturan
Kecepatan putaran perlu dipertimbangkan untuk mengatur kapasitan Pndinginan pada
beban parsial. Sistem semacam ini akan dapat mengoperasikan pompa di dalam daerah
pemakaian energi yang paling rendah dengan beban yang berubah.
f. Sistem manajemen energi perlu direncanakan untuk mengatur operasi Keseluruhan sistem
tata udara agar berada dalam daerah yang hemat energi. Sistem manajemen energi dapat
direncanakan bahkan dapat sampai mencakup pengaturan penyalaan lampu di dalam
ruangan serta pemasukan udara ventilasi.
III. ALAT DAN BAHAN

Tang Ampere Humidity Meter Thermometer

Pressure Gauge Stopwatch

IV. PROSEDUR PERCOBAAN

1) Nyalakan system HVAC


2) Lakukan identifikasi dan pencatatan (setiap 5 menit dalam durasi 1 jam) data
a.Temperatur:
i. Refrigeran masuk kompresor/keluar evaporator
ii. Refrigeran keluar kompresor
iii. Refrigeran keluar kondensor
iv. Refrigeran masuk evaporator
v. Udara masuk evaporator
vi. Udara keluar evaporator

b. Tekanan:
i. Refrigeran masuk kompresor
ii. Refrigeran keluar kompresor
c. Kelembapan relatif:
i. Udara masuk evaporator
ii. Udara keluar evaporator

d. Kelistrikan:
i. Arus
ii. Tegangan
iii. Cos phi

3) Setelah selesai, matikan sumber arus listrik untuk AC

Gambar Rangkaian

Gambar 1 Rangkaian sistem HVAC

Untuk keperluan praktikum Proses Energi, subsistem Heat Exchanger tidak digunakan.

V. TUGAS DAN PERTANYAAN


1) Buatlah profil setiap parameter terhadap waktu, dan interpretasi setiap grafik
yang dibuat!
2) Buatlah skematik dan perhitungan neraca massa dan energi:
a. Setiap sub-sistem
b. Sistem HVAC
3) Buatlah profil antar parameter yang saling mempengaruhi, dan analisis profil yang
telah dibuat
VI. DATA PENGAMATAN

Parameter Waktu
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60
Tout Kompresor (oC) 56,2 57,3 57,6 59,4 63,9 64,6 65,3 66,6 67,7 67,8 68,5 68,9

Tin Kondensor (oC) 26,3 26,8 27,2 27,6 27,9 27,4 28,4 28,4 28,6 28,8 28,8 29,2
Tout Kondensor (oC) 27,7 27,5 27,3 27,3 27,1 27,9 27,6 27,6 27,6 27,6 27,6 27,6
Tout katup ekspansi
26,2 26,5 26,3 26,5 26,5 26,5 26,8 26,6 26,6 26,6 26,6 26,5
(refrijeran) (oC)

Tin Kompresor
26,9 26,8 26,6 27 26,9 28,2 26,9 27,1 26,9 27 27 26,8
(refrijeran) (oC)
Tin Evaporator
29,1 28,2 28,3 28,6 28,5 28,6 28,3 29 28,4 27,7 27,4 27,6
(udara) (oC)
Tout Evaporator
18,2 18,2 18,2 18,1 18,1 18,4 18,3 18,2 17,9 17,1 17,1 17
(udara) (oC)

Rhin (%) 63,2 64,5 64,7 65,1 65,3 66,7 66,6 65 66 68,1 69,5 67,4

Rhout (%) 62,9 63,5 63,7 64,4 65,1 66,4 66,5 64,3 65,4 68 69,1 66,8
Pout Katup Ekspansi
70,3 70,3 70,3 70,3 70,3 70,3 70,3 70,3 70,3 70,3 70,3 70,3
(Psi)
Pout Evaporator (Psi) 69,7 69,7 69,5 69,5 69,5 69,5 69,5 69,3 69,2 69,2 69,2 69
Tegangan (Volt) 215 215,2 218,4 215,6 217,2 216,9 216,6 216,3 216,3 215,8 213,2 212,4
Arus (Ampere) 0,08 0,08 0,09 0,08 0,08 0,09 0,08 0,08 0,08 0,08 0,08 0,08
cos phi 0,73 0,726 0,71 0,731 0,733 0,732 0,729 0,73 0,737 0,736 0,743 0,749
Daya (kW) 0,013 0,013 0,013 0,013 0,013 0,013 0,013 0,013 0,013 0,013 0,013 0,013
VII. NERACA MASSA DAN ENERGI
VIII. ANALISA
Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan pada system HVAC. Sistem HVAC
sendiri adalah alat yang digunakan untuk mengolah udara agar profil udara sesuai yang
diinginkan. Pengaturan profil udara meliputi temperatur udara, kelembaban udara, kebersihan
udara, dan kecepatan udara di dalam ruangan. Mesin pengkondisi udara bekerja seperti mesin
refrigerasi yang lain, yaitu berusaha memindahkan kalor dari daerah bertemperatur rendah ke
daerah bertemperatur tinggi (lingkungan), yang secara spontan tidak mungkin terjadi, mengacu
pada hukum termodinamika. Untuk itu, dalam proses pemindahan energi ini dibutuhkan
tambahan energi input berupa kerja, sehingga energi input bertambah dan memungkinkan
perpindahan kalor terjadi. Penambahan energi ini dilakukan dengan memanfaatkan energi dari
kompresor berupa peningkatan tekanan fluida kerja. Dan untuk menghasilkan proses yang terus
menerus (siklus), tekanan dari keluaran kompresor perlu diturunkan lagi menggunakan
mekanisme pada katup ekspansi.
Percobaan kami dilakukan selama 60 menit dengan selang waktu 5 menit untuk
pengambilan data. Jadi kami melakukan 12 kali pengambilan data. Parameter-parameter yang
kami amati dapat dilihat pada grafik-grafik dibawah ini:

GRAFIK TEMPERATUR MASUK


EVAPORATOR (UDARA) TERHADAP
WAKTU
35
30
TEMPERATUR(0C)

25
20
15
10
5
0
0 10 20 30 40 50 60 70
WAKTU (MENIT)

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa suhu temperatur masuk evaporator(udara)
cenderung fluktuatif pada percobaan tetapi masih pada rentang yang berdekatan seiring
bertambahnya waktu.
GRAFIK TEMPERATUR KELUAR
EVAPORATOR (UDARA) TERHADAP
WAKTU
30
25
TEMPERATUR (OC)

20
15
10
5
0
0 10 20 30 40 50 60 70
WAKTU (MENIT)

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa suhu temperature keluar evaporator (udara)
cenderung menurun pada percobaan tetapi masih pada rentang yang berdekatan seiring
bertambahnya waktu.

GRAFIK TEMPERATUR MASUK


KOMPRESSOR (REFRIJERAN)
TERHADAP WAKTU
30

25
TEMPEERATUR (OC)

20

15

10

0
0 10 20 30 40 50 60 70
WAKTU (MENIT)

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa suhu temperature masuk kompresor (refrijeran)
cenderung fluktuatif pada percobaan dan meningkat agak drastis di menit ke 30 dan kembali
turun pada menit ke 35 seiring bertambahnya waktu.
GRAFIK TEMPERATUR KELUAR
KOMPRESOR TERHADAP WAKTU
80
70
TEMPERATUR (OC) 60
50
40
30
20
10
0
0 10 20 30 40 50 60 70
WAKTU (MENIT)

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa suhu temperatur keluar kompresor mengalami
peningkatan seiring bertambahnya waktu, terutama pada menit ke 20 hingga ke 60 temperatur
mengalami peningkatan yang cukup tinggi.

GRAFIK TEMPERATUR MASUK


KONDENSOR TERHADAP WAKTU
35
30
TEMPERATUR (OC)

25
20
15
10
5
0
0 10 20 30 40 50 60 70
WAKTU (MENIT)

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa suhu temperature masuk kondensor atau
cenderung akan mengalami peningkatan seiring bertambahnya waktu walaupun ada sedikit
penurunan suhu sebesar 0,50C pada menit ke 30.
GRAFIK TEMPERATUR KELUAR
KONDENSOR TERHADAP WAKTU
30

TEMPERATUR (OC) 25

20

15

10

0
0 10 20 30 40 50 60 70
WAKTU (MENIT)

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa suhu temperature keluar kondensor cenderung
fluktuatif tetapi masih pada rentang yang berdekatan dan sama di 30 menit terakhir percobaan
seiring bertambahnya waktu.

GRAFIK TEMPERATUR KELUAR


KATUP EKSPANSI (REFRIJERAN)
TERHADAP WAKTU
30

25
TEMPERATUR(OC)

20

15

10

0
0 10 20 30 40 50 60 70
WAKTU (MENIT)

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa suhu temperature keluar katup ekspansi
(refrijeran) cenderung fluktuatif pada percobaan tetapi masih pada rentang yang berdekatan
seiring bertambahnya waktu.
GRAFIK TEGANGAN TERHADAP
WAKTU
250

TEGANGAN (VOLT) 200

150

100

50

0
0 10 20 30 40 50 60 70
WAKTU (MENIT)

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa tegangan cenderung turun pada percobaan
tetapi pada rentang yang berdekatan seiring bertambahnya waktu.

GRAFIK ARUS TERHADAP WAKTU


0.1
0.09
0.08
0.07
ARUS (AMPERE)

0.06
0.05
0.04
0.03
0.02
0.01
0
0 10 20 30 40 50 60 70
WAKTU (MENIT)

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa arus cenderung stabil pada percobaan namun
ada sedikit kenaikan arus pada menit ke 15 dan menit 30 seiring bertambahnya waktu.
GRAFIK COS
TERHADAP WAKTU
0.8
0.7
0.6
0.5
COS

0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 10 20 30 40 50 60 70
WAKTU (MENIT)

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa cos cenderung naik walaupun mengalami
sedikit penurunan pada menit ke 15 pada percobaan seiring bertambahnya waktu

GRAFIK DAYA TERHADAP WAKTU


0.0130221
DAYA (KW)

0.0129948
0 10 20 30 40 50 60 70
WAKTU (MENIT)

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa daya yang kami peroleh sama dari menit
pertama hingga menit terakhir pada percobaan seiring bertambahnya waktu.
Diatas kami sudah menampilkan parameter-parameter yang diamati pada percobaan kali
ini. Memang seharusnya dalam setiap waktu parameter-parameter diatas tidak akan jauh
berubah (Besarnya perubahan temperature,daya,tegangan, arus, cos dan dll) . Adapun jika
adanya perubahan yang fluktuatif pada parameter diatas dapat disebabkan oleh beberapa hal.
Kotornya kondensor sehingga panas tidak terbuang seluruhnya, dikarena kan jumlah
panas yang dibuang dikondensor harus sama dengan jumlah panas yang diserap evaporator dan
kerja kompressor. Bila pembuangan panas pada kondensor tidak maksimal, tentu temperatur
refrijeran akan semakin naik seiring bertambahnya waktu.Sehingga bila temperatur semakin
naik maka tekanan pun cepat atau lambat akan mengalami kenaikan. Bila tekanan akan
semakin besar maka kerja kompressor akan semakin besar (Lihat di diagram p-h kalau
tekanannya naik pasti kerja kompressor akan semakin besar).
Penempatan kompresor juga harus diperhatikan bahwa kompresor harus diletakkan di
tempat dengan sirkulasi udara yang cukup, ada tempat untuk udara masuk dan udara keluar,
dan terlindung dari hujan. Namun pada kenyataannya di lab U, Kompresor diletakan di dalam
ruangan bersamaan dengan komponen lainnya hal ini menyebabkan sulitnya sirkulasi udara
pada sistem HVAC
Lalu, refrijeran bisa berlebihan maupun kekurangan. Bila refrijeran berlebih maka
tekanan di dalam sistem pun akan naik, seperti dampak yang diperlihatkan pada kerja
kompressor.
Penggunaan ruangan pada saat praktikum banyak mahasiswa yang keluar masuk
sehingga terkadang ruangan penuh dan terkadang ruangan sepi dan hal ini sangat
mempengaruhi kondisi AC karena bila keadaan penuh kalori yang dikeluarkan akan semakin
banyak.
Ukuran ruangan dan Beban pendinginan pada saat praktikum juga mempengaruhi
karena ukuran ruangan menentukan besarnya kecepatan pendinginan. Untuk beban
pendinginan dipengaruhi oleh dari jumlah penghuni, dan penggunaan penerangan, seperti
lampu, kondisi suhu pada saat praktikum.
Tetapi dalam hal ini, walaupun data praktikum kami masih bisa di tolerir karena masih
pada rentang yang berdekatan jadi bisa dianggap stabil atau sama.
Dalam pembahasan kali ini juga kami akan menjelaskan keterkaitan parameter yang
terjadi pada setiap sub system seperti dibawah ini:

Hubungan Tin Evaporator terhadap


Tout Evaporator
29

28.5
Temperatur (0C)

28

27.5

27

26.5
27 27.5 28 28.5 29 29.5
Temperatur (0C)
*Catatan: Grafik Dibaca dari kanan ke kiri
Dari data yang kami dapatkan, dapat kami simpulkan keterkaitan antara satu sub sistem
terhadap sub sistem lainnya. Karena HVAC adalah sistem pendinginan maka yang menjadi
parameter utama pada percobaan ini adalah Evaporator.Evaporator sendiri adalah alat yang
memindahkan panas udara dengan cara menukarkannya dengan refrigerant. Jika Tin udara
pada evaporator semakin turun maka Tout evaporator refrijeran juga akan semakin turun
sehingga kalor yang diserap akan semakin kecil yang dapat dilihat pada grafik diatas. Ini juga
disebabkan karena adanya perubahan kondisi refrigent dari fase cair ke fase uap maka untuk
merubahnya dari fase cair ke refrigent fase uap maka proses ini membutuhkan energi yaitu
energi penguapan, dalam hal ini energi yang dipergunakan adalah energi yang berada di dalam
substansi yang akan didinginkan.Akibatnya Tout udara akan semakin dingin.
Untuk kelembaban udara keluaran evaporator selalu lebih kecil dibandingkan
kelembapan udara masuknya. Hal ini disebabkan karena AC berfungsi mendinginkan udara,
namun mengurangi kelembabannya, Udara dialirkan melalui evaporator sehingga mengalami
pendinginan. Udara yang dialirkan ini memiliki kandungan uap air. Udara akan menuju titik
embun jika terus didinginkan. Titik embun adalah kondisi dimana udara tidak dapat
menampung uap air, sehingga uap air mengembun menjadi tetesan air. Pada evaporator ini
udara mengalami pengembunan, oleh karenanya sering terdapat kondensat (air) dialirkan
melalui saluran (selang) AC. Setelah melewati evaporator, udara dingin ini dialirakan kembali
keruangan. Ini artinya terjadi pengurangan jumlah uap air yang ada diudara pada saat melewati
evaporator, akibatnya udara menjadi lebih kering.Refrijeran keluaran evaporator merupakan
gas.

Hubungan Tin Kompresor dan Tout


Kompresor
28.4
28.2
28
Temperature (0C)

27.8
27.6
27.4
27.2
27
26.8
26.6
26.4
0 10 20 30 40 50 60 70 80
Temperatur (0C)
Selanjutnya, refrijeran yang keluar dari evaporator masuk ke kompresor. Kompresor
sendiri berfungsi menghasilkan energi mekanik untuk memindahkan refrigerant dan
memanipulasi tekanan. Alat ini adalah jantung dari sistem HVAC.Maka dari itu kompresor
akan membuat refrijeran keluaran kompresor memiliki tekanan dan temperatur yang lebih
tinggi daripada keluaran evaporator.

Hubungan Tin Kondensor dengan


Tout Kondensor
27.6

27.55
Temperatur(0C)

27.5

27.45

27.4
26 26.5 27 27.5 28 28.5 29 29.5
Temperatur(0C)

*Catatan: Grafik Dibaca dari kanan ke kiri

Lalu, refrijeran tersebut akan dikondensasi di kondensor sehingga fasanya berubah dari
gas menjadi liquid. Maka refrigent mengeluarkan kalor yaitu kalor penguapan yang terkandung
di dalam refrigent sehingga suhu fluida di kondensor akan turun.
Pada kondensor tekanan refrigent yang berada dalam pipa-pipa kondenser relatif jauh lebih
tinggi dibandingkan dengan tekanan refrigent yang berada pada pipi-pipa evaporator.
Untuk menurunkan tekanan tersebut dibutuhkan komponen berupa katup ekspansi.
Setelah itu refrijeran akan masuk kembali ke Evaporator dan akan bersiklus kembali seperti
penjelasan diatas. Dan percobaan kami secara umum sesuai dengan teori HVAC yang ada.
Penjelasan diatas juga dapat digambarkan pada diagram P-h dibawah ini

Untuk diagram diatas saya akan menjelaskan Tekanan yang berubah pada Kompresor hal
ini menunjukan bahwa pada proses ini berada pada kondisi panas lanjut. Kemudian uap
refrijeran panas lanjut masuk kedalam kondensor dalam proses ini refrijeran membuang kalor
ke lingkungan dan fasa akan berubah dari gas ke fasa cair dan kemudian refrijeran masuk ke
dalam katup ekspansi untuk menurunkan tekanan.
IX. KESIMPULAN

1. HVAC adalah alat yang digunakan untuk mengolah udara agar profil udara sesuai yang
diinginkan.
2. Didapatkan parameter Temperatur dan Tekanan pada sistem HVAC sebagai berikut:

Katup
Kompresor Kondensor Evaporator
Parameter Ekspansi
In Out In Out In Out In Out
Tekanan
Temperatur
Keterangan: : Tinggi : Rendah
Pout Kompresor > Pin Kompresor
Tout Kompresor > Tin Kompresor
Pout Kondensor Pin Kondensor
Tout Kondensor < Tin Kondensor
Pout Katup Ekspansi < Pin Katup Ekspansi
Tin Katup Ekspansi Tout Katup Ekspansi
Pout Evaporator Pin Evaporator
Tin Evaporator > Tout Evaporator

3. HVAC memiliki 4 komponen utama yaitu Evaporator,Kompresor,Kondensor dan Katup


Ekspansi yang alur prosesnya adalah sebuah siklus dan di setiap komponen memiliki fungsi
masing-masing untuk menjalankan proses yang terjadi dalam komponen tersebut,
4. Faktor faktor yang mempengaruhi pada hasil praktikum sehingga parameter yang dicatat
berfluktuasi
Penggunaan ruangan
Beban pendinginan
Penempatan AC
Ukuran ruangan
Refrijeran yang berlebihan
Kondisi Kondensor yang kotor
DAFTAR PUSTAKA

Basri,Muhammad Hasan.2009. Pengaruh Temperatur terhdap Kondensor;

http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/SMARTEK/article/view/581 [8 November 2017]

Department of Energy Mines and Resources. TT. Heating Ventilating and Air Conditioning. Ottawa:
Canada.'
Sandi,Ari. 2011. Pendingin dan Tata Udara ;
http://arisandidelta75.blogspot.co.id/2011/01/ac-sentral.html [17 November 2017]

Sukirman,Iwan. 2014. Sistem Tata Udara HVAC ;

https://www.academia.edu/6849916/SISTEM_TATA_UDARA_HVAC [8 November 2017]

Priyambodo,Bambang.2012. Proses Kerja HVAC;

https://priyambodo1971.wordpress.com/cpob/sarana-penunjang-kritis-industri-farmasi/sistem-

tata-udara-ahuhvac/ [7 November 2017]

Tim Penyusun. 2017. Modul Praktikum Proses Energi HVAC. Bandung : Politeknik Negeri Bandung
Wang, Shan K. 2000. Handbook of Air Conditioning and Refrigeration, Second Addition. New York:
McGraw Hill.
LAMPIRAN